Tak Terurus! Stasiun Mampang Makin Terlihat Kumuh dan Terlupakan

Di tengah Kota Metropolitan dengan hiruk pikuk lalu lintas dan transportasi modern saat ini ternyata masih ada bangunan stasiun kereta api yang masih dijumpai bahkan oleh masyarakat. Berada di wilayah Jakarta Selatan yang dekat bersebelahan dengan kali Ciliwung terdapat satu stasiun yang masih terlihat bangunannya hingga kini.

Meski sudah terlihat tak utuh lagi, stasiun ini masih dilengkapi peron yang jaraknya tak begitu panjang. Ya, Stasiun Mampang yang berada di petak antara Stasiun Manggarai dengan Stasiun Sudirman. Memang jika dilihat, Stasiun Mampang masih berdiri dan ada beberapa ornamen atau ciri khas yang masih utuh. Hanya saja hingga kini keberadaannya masih belum dipastikan akan diaktifkan kembali atau tidak.

Padahal Stasiun Mampang ini dioperasikan sejak tahun 1922 dan berakhir atau ditutup pads tahun 2007. Alasan penutupan Stasiun Mampang adalah minimnya penumpang yang naik maupun turun serta jarak antar petak stasiun disebelahnya cukup dekat. Hingga saat ini, stasiun masih terbengkalai dan menjadi tempat tinggal tunawisma.

Setiap harinya, Stasiun Mampang menjadi saksi bisu berbagai kereta api yang melintas salah satunya adalah rangkaian Kereta Rel Listrik (KRL). Namun sesekali rangkaian KRL tersebut berhenti di Stasiun Mampang. Tentunya bukan untuk naik dan turun penumpang, namun karena adanya antrean pergantian jalur di Stasiun Manggarai.

Sinyal blok antara juga terpasang di ujung peron Stasiun Mampang, sehingga seakan-akan rangkaian saat kereta sedang berhenti dan menunggu penumpang di peron. Padahal tentu saja rangkaian kereta sedang menunggu pergantian sinyal dari aspek merah menjadi hijau. Tentu itu menjadi hal yang cukup unik.

Sebelum stasiun ini dinonaktifkan, tentu suasana ramai menyelimuti Stasiun Mampang. Tentunya mayoritas para pedagang juga memanfaatkan stasiun ini untuk angkutan transportasi berbasis rel di Jakarta. Karena tak heran, Stasiun Mampang cukup dekat dengan Pasar Rumput yang merupakan pasar tradisional yang berada di kawasan Manggarai, Jakarta Selatan.

Meski keberadaannya hampir tak utuh lagi, namun jejak sejarah Stasiun Mampang memang tak bisa dilupakan. Apalagi bagi masyarakat yang menjadi penumpang setia kereta api yang naik dan turun di stasiun ini. Selain itu, Stasiun Mampang juga menjadi simbol perubahan wajah transportasi di Jakarta dari masa ke masa.

Meski masyarakat sudah mengetahui keberadaan Stasiun Mampang, yang jelas masih banyak misteri sejarah yang belum terjawab oleh keberadaannya. Bahkan sebagian masyarakat mungkin melihat stasiun ini hanya sekadar stasiun kecil yang tak terawat dan terbengkalai dengan minim cerita dibaliknya.

Hingga kini belum ada keterangan resmi dari PT Kereta Api Indonesia Persero (KAI) khususnya wilayah Daerah Operasi (Daop) 1 Jakarta tentang nasib Stasiun Mampang kedepannya. Jika memang tidak diperlukan lagi, mungkin area stasiun akan dibongkar atau bisa di alih fungsikan menjadi dipercantik seperti membuat penghijauan. Mengingat lokasinya berada di bantara kali Ciliwung.

Okupansi Minim dan Terlalu Dekat dengan Stasiun Manggarai, Stasiun Mampang Nonaktif Secara Permanen

Indonesia Luncurkan Dana Leasing Pesawat Mandiri, Targetkan Kelola Rp13,5 Triliun

Kabar gembira datang dari sektor pembiayaan transportasi udara nasional. Indonesia secara resmi meluncurkan platform investasi penyewaan pesawat (aviation leasing) pertama di tanah air yang dinamakan Mandiri Aviation Leasing Fund. Langkah strategis ini menandai pergeseran peran Indonesia, dari yang selama ini hanya sebagai pasar pengguna (operator), kini mulai merambah ke rantai nilai global sebagai pemilik dan penyedia aset penerbangan.

Platform ini merupakan hasil kolaborasi tiga kekuatan besar: Danantara Investment Management (DIM) sebagai investor jangkar, Mandiri Investment Management sebagai pengelola dana, dan SMBC Aviation Capital asal Irlandia (yang terafiliasi dengan Jepang) sebagai mitra operasional sekaligus salah satu lessor pesawat terbesar di dunia.

Nilai Investasi Fantastis Bukan main-main, Mandiri Aviation Leasing Fund menargetkan portofolio awal senilai US$800 juta atau setara dengan kurang lebih Rp13,53 triliun. Dana ini akan digunakan untuk mengakuisisi aset-aset aviasi berkualitas tinggi di pasar global, yang nantinya akan disewakan kembali ke berbagai maskapai, baik di dalam maupun luar negeri.

Chief Investment Officer Danantara Indonesia, Pandu Sjahrir, menyatakan bahwa kemitraan ini bukan sekadar mengejar keuntungan finansial (return), melainkan upaya membangun kapabilitas strategis jangka panjang bagi Indonesia di ekosistem pembiayaan pesawat dunia. Dengan memiliki platform sendiri, ketergantungan maskapai domestik terhadap lessor asing diharapkan bisa perlahan diseimbangkan.

Kolaborasi Teknologi dan Finansial Dalam skema ini, SMBC Aviation Capital akan menyumbangkan keahlian operasional dan manajemen aset yang telah teruji selama puluhan tahun. Sementara itu, Mandiri Investment Management akan fokus pada penataan struktur investasi kelas institusi. Sinergi ini memungkinkan investor lokal maupun global untuk masuk ke kelas aset penerbangan yang selama ini dikenal memiliki hambatan masuk (barrier to entry) yang sangat tinggi.

Dampak bagi Penumpang dan Maskapai Bagi industri penerbangan domestik, kehadiran dana leasing lokal ini diharapkan dapat memberikan alternatif pendanaan yang lebih stabil bagi maskapai-maskapai di Indonesia untuk menambah atau meremajakan armada mereka. Secara jangka panjang, efisiensi dalam biaya sewa pesawat diharapkan dapat membantu maskapai menjaga keberlangsungan operasional yang pada akhirnya berdampak pada stabilitas harga tiket bagi para penumpang.

Kehadiran Mandiri Aviation Leasing Fund menjadi sinyal kuat bahwa Indonesia siap bersaing di panggung finansial aviasi global, bersanding dengan pusat-pusat leasing besar seperti Irlandia dan Singapura.

Dinilai Krusial Bantu Kesuksesan Maskapai, Berikut Daftar 5 Leasing Pesawat Terbesar Di Dunia

 

Siapkan Kocek Lebih: Maskapai Taiwan Naikkan Fuel Surcharge Penerbangan Internasional Hingga 15,7 Persen

Kabar kurang sedap bagi para pelancong yang berencana terbang menuju atau transit melalui Taiwan. Mulai pertengahan April 2026, sejumlah maskapai utama asal Taiwan dilaporkan akan menaikkan biaya tambahan bahan bakar (fuel surcharge) untuk rute internasional. Kenaikan ini dipicu oleh fluktuasi harga minyak mentah global yang terus merangkak naik.

Berdasarkan laporan dari The Straits Times, penyesuaian biaya ini mencapai angka 15,7 persen. Keputusan ini diambil setelah otoritas penerbangan sipil Taiwan melakukan evaluasi rutin terhadap komponen biaya operasional maskapai di tengah ketidakpastian pasar energi.

Kenaikan ini akan diterapkan secara bervariasi tergantung pada jarak tempuh penerbangan. Untuk rute jarak pendek (seperti penerbangan regional di Asia), biaya tambahan akan naik dari posisi saat ini sebesar US$17,50 menjadi US$20,25 per sektor penerbangan.

Sementara itu, untuk rute jarak jauh (long-haul) seperti penerbangan menuju Amerika Utara, Eropa, atau Australia, kenaikannya jauh lebih terasa. Penumpang harus bersiap membayar tambahan sebesar US$52,50, naik dari tarif sebelumnya yang berada di angka US$45,50.

Dua raksasa penerbangan Taiwan, China Airlines dan Eva Air, dipastikan akan segera menerapkan tarif baru ini pada seluruh jaringan penerbangan internasional mereka. Maskapai bertarif rendah (LCC) seperti Tigerair Taiwan juga diperkirakan akan menyesuaikan struktur biaya mereka guna menyeimbangkan margin operasional.

Bagi calon penumpang yang sudah memegang tiket sebelum tanggal efektif pemberlakuan tarif baru ini, umumnya tidak akan dikenakan biaya tambahan susulan. Namun, bagi Anda yang baru akan melakukan pemesanan atau melakukan perubahan jadwal (reschedule) setelah kebijakan ini berlaku, maka biaya fuel surcharge terbaru akan otomatis masuk dalam komponen harga tiket. (Gilang Perdana)

Badai Harga Avtur: Korean Air Masuk Mode Darurat, Industri Penerbangan Asia Pasifik Mulai Terguncang

Gebrakan Baru KAI! Lift Tangga akan Jadi Fasilitas yang Bermanfaat Bagi Penumpang Kaum Difabel

PT Kereta Api Indonesia Persero (KAI) sangat berkomitmen kepada masyarakat pengguna kereta api sebagai prioritas utama. Berbagai fasilitas yang diberikan mampu membantu segala macam kebutuhan secara umum untuk penumpang terutama di area stasiun. Diketahui stasiun-stasiun kereta api yang telah dikelola sudah menjadi hal utama dalam memberikan fasilitas yang baik.

Tak hanya penumpang biasa, bagi penyandang difabel pun KAI tetap harus memperhatikan, mengawasi, serta menjaga agar fasilitas yang digunakan oleh penumpang tetap dipergunakan dengan baik. Khusus untuk penumpang penyandang difabel, tentu area stasiun memberikan pelayanan yang spesial. Seperti adanya fasilitas elevator (lift) untuk memudahkan menyeberang antar peron stasiun.

Namun, baru-baru ini media dibuat kagum dengan layanan lift yang tentunya untuk penyandang difabel. Lift ini cukup unik dan digadang-gadang terobosan terbaru dalam melayani penumpang khusus. Layanan yang berupa lift tangga ini dipasang pada area Stasiun Cikini. Tak hanya penumpang difabel, platform lift atau lift tangga yang membantu mempermudah akses penumpang di Stasiun Cikini bisa digunakan oleh lansia serta ibu hamil.

Tak hanya di Stasiun Cikini, ternyata ada beberapa titik lainnya yang memiliki fasilitas yang sama, yaitu Stasiun Gondangdia. Lift tangga ini senantiasa siap digunakan kapan saja jika ada pengguna KRL commuter line yang membutuhkan. Petugas keamanan stasiun di sekitar tangga yang nantinya akan membantu pengguna yang ingin menggunakan fasilitas tersebut.

Mengutip dari laman Detik, fasilitas lift tangga ini jika tidak digunakan akan berada pada posisi tertutup atau terlipat, sehingga keberadaannya pun tidak akan menggangu pengguna tangga lainnya. Ukurannya yang tak terlalu besar dengan bentuk kontak dan berwarna putih.

Penggunaan unit lift platform, tentu untuk memudahkan penumpang disabilitas naik dan turun tangga di stasiun, terutama penumpang yang menggunakan kursi roda. Sebab pada lift tangga tersebut juga tertulis imbauan agar setiap pengguna KRL commuter line yang ingin memanfaatkan fasilitas tersebut bisa menghubungi petugas di Stasiun terlebih dahulu.

Menurut VP Corporate Secretary KAI Commuter, Karina Amanda yang dilansir laman Detik menjelaskan bahwa perihal rencana pengoperasian lift platform tersebut akan menjadi fasilitas pertama di stasiun KAI. Saat ini masih dilakukan uji coba operasi dan uji teknis untuk menjamin keamanan dan keselamatan dalam operasional nantinya.

Tentunya, tujuan pemasangan lift platform merupakan salah satu inovasi layanan KAI Commuter untuk para penggunanya khususnya pengguna dengan disabilitas. Dengan adanya lift platform ini pastinya akan membantu serta memudahkan akses pengguna disabilitas khususnya pengguna kursi roda untuk menuju area lantai 1 atau peron jalur 1 dan 2 untuk naik commuter line atau sebaliknya untuk akses keluar stasiun usai naik commuter line.

Jejak Sejarah Yang Terlupakan, Stasiun Gambir Dulunya Adalah Tanah Rawa

Makin Dekat ke Papua! Garuda Indonesia Buka Rute Jakarta-Denpasar-Timika-Jayapura

Garuda Indonesia resmi memperluas jaringan penerbangannya dengan membuka rute baru yang menghubungkan Denpasar ke Jayapura melalui rute Jakarta–Denpasar–Timika–Jayapura. Pengoperasian rute ini telah dimulai sejak Minggu (29/3), sebagai langkah strategis memperkuat konektivitas antara gerbang pariwisata internasional Bali dengan kekayaan alam Papua.

Penerbangan ini menjadi solusi perjalanan yang lebih seamless, terutama bagi wisatawan mancanegara yang berada di Bali dan ingin melanjutkan petualangan ke Papua, maupun bagi pelaku bisnis. Menggunakan armada Boeing 737-800NG dengan kapasitas 12 kursi kelas bisnis dan 150 kursi kelas ekonomi, Garuda Indonesia menjadwalkan layanan ini sebanyak empat kali dalam seminggu, yakni setiap hari Selasa, Kamis, Sabtu, dan Minggu.

Jadwal Penerbangan yang Strategis Bagi para penumpang dari Jakarta, penerbangan GA652 akan bertolak dari Bandara Internasional Soekarno-Hatta pada pukul 21.25 WIB dan transit di Bali. Perjalanan kemudian dilanjutkan dari Bandara I Gusti Ngurah Rai pukul 01.05 WITA menuju Timika, sebelum akhirnya mendarat di Bandara Sentani, Jayapura, pada pukul 07.55 WIT. Jadwal tiba di pagi hari ini tentu sangat menguntungkan bagi penumpang karena memberikan waktu lebih luas untuk memulai aktivitas setibanya di Papua.

Untuk rute sebaliknya, penerbangan GA653 melayani rute Jayapura–Timika–Denpasar–Jakarta setiap hari Senin, Rabu, Jumat, dan Minggu. Pesawat diberangkatkan dari Jayapura pukul 08.50 WIT dan dijadwalkan tiba kembali di Jakarta pada sore hari pukul 15.30 WIB.

Bali Sebagai Hub Menuju Timur Pembukaan rute ini menegaskan posisi Denpasar sebagai hub internasional yang kini terintegrasi langsung dengan kawasan timur Indonesia. Dengan Bali sebagai magnet utama pariwisata dunia, rute baru ini diharapkan mampu mendorong arus kunjungan wisatawan mancanegara untuk mengeksplorasi keindahan Timika dan Jayapura.

Garuda Indonesia Rekrut 2 Pilot Perempuan Pertama asal Papua

Cuma Rp5.000 Bebas Macet! Libur Long Weekend Makin Sat-set dengan LRT Jabodebek

LRT Jabodebek menghadirkan solusi mobilitas yang praktis dan terjangkau bagi masyarakat selama periode libur long weekend pada 3–5 April 2026. Dengan tarif mulai dari Rp5.000 hingga maksimal Rp10.000, masyarakat dapat menikmati perjalanan yang efisien, nyaman, dan bebas dari kemacetan di tengah aktivitas selama libur panjang.

Momen libur Wafat Yesus Kristus dan Paskah yang bertepatan dengan long weekend diperkirakan akan mendorong peningkatan mobilitas masyarakat untuk beribadah maupun berwisata. LRT Jabodebek dapat menjadi salah satu alternatif transportasi perkotaan yang diandalkan dengan waktu tempuh yang pasti serta konektivitas antarmoda yang luas.

Manager Public Relations LRT Jabodebek, Radhitya Mardika, menyampaikan bahwa LRT Jabodebek hadir untuk memberikan kemudahan mobilitas masyarakat di tengah potensi kepadatan lalu lintas selama libur panjang. Selama periode tersebut, LRT Jabodebek beroperasi dengan 270 perjalanan setiap hari untuk mengakomodasi kebutuhan perjalanan pengguna di berbagai waktu.

“Tarif yang terjangkau mulai dari Rp5.000,- dihadirkan agar masyarakat memiliki alternatif transportasi yang efisien dan nyaman selama long weekend. Dengan layanan yang andal dan terintegrasi, LRT Jabodebek dapat menjadi pilihan untuk mendukung berbagai aktivitas masyarakat, baik untuk beribadah maupun berwisata,” ujarnya.

Berikut jadwal keberangkatan LRT Jabodebek periode Sabtu, Minggu, dan Libur Nasional:

Keberangkatan pertama:
Harjamukti – Dukuh Atas BNI: 05.35 WIB
Dukuh Atas BNI – Harjamukti: 06.28 WIB
Jatimulya – Dukuh Atas BNI: 05.25 WIB
Dukuh Atas BNI – Jatimulya: 06.21 WIB

Keberangkatan terakhir:
Harjamukti – Dukuh Atas BNI: 21.46 WIB
Dukuh Atas BNI – Harjamukti: 22.39 WIB
Jatimulya – Dukuh Atas BNI: 22.13 WIB
Dukuh Atas BNI – Jatimulya: 22.31 WIB

Layanan ini terhubung dengan sejumlah kawasan strategis dan destinasi populer seperti :

Stasiun Rasuna Said: Plaza Festival
Stasiun Setiabudi: Setiabudi One
Stasiun Cikoko: Tebet Eco Park
Stasiun TMII: Taman Mini Indonesia Indah
Stasiun Harjamukti: Taman Rekreasi Wiladatika, Trans Studio Mall Cibubur
Stasiun Bekasi Barat: Revo Mall, Pakuwon Mall

Maupun transportasi terintegrasi antarmoda yakni :
Dukuh Atas: KRL, KA Bandara, MRT Jakarta, TransJakarta, dan lainnya;
Halim: Kereta Cepat Whoosh, Bandara Halim Perdana Kusuma
Cikoko: KRL, TransJakarta

Selain itu, LRT Jabodebek juga menghadirkan fasilitas yang ramah bagi keluarga. Seluruh stasiun telah dilengkapi dengan lift serta platform screen door (PSD) untuk meningkatkan keamanan dan kenyamanan, khususnya bagi pengguna yang membawa anak. Fasilitas area bermain anak juga tersedia di Stasiun Cawang.

Untuk mendukung gaya hidup ramah lingkungan, selama periode long weekend pengguna juga diperbolehkan membawa sepeda non-lipat tanpa biaya tambahan, sehingga dapat menjadi pilihan aktivitas rekreasi di berbagai titik kota.

Ini Dia Stasiun Paling Padat di LRT Jabodebek Disaat Jam Sibuk, Mana Saja?

Makin Praktis! Bank of Korea Resmi Luncurkan Koneksi Pembayaran QR di Indonesia

Kabar gembira bagi para pelancong dan pelaku bisnis yang sering bepergian antara Indonesia dan Korea Selatan. Bank of Korea (BOK) secara resmi telah meluncurkan interkoneksi pembayaran berbasis QR di Indonesia.

Langkah strategis ini memungkinkan integrasi sistem pembayaran digital antara kedua negara, di mana wisatawan Korea kini dapat melakukan transaksi di berbagai gerai di Indonesia hanya dengan memindai kode QR melalui aplikasi perbankan atau dompet digital asal Negeri Gingseng tersebut.

Kerja sama ini merupakan tindak lanjut dari kesepakatan antara Bank Indonesia (BI) dan Bank of Korea untuk memperkuat penggunaan mata uang lokal (Local Currency Settlement) serta efisiensi transaksi lintas batas. Dengan sistem ini, nilai tukar yang digunakan menjadi lebih kompetitif dan transparan, karena transaksi dilakukan secara langsung tanpa harus melalui konversi mata uang ketiga seperti Dollar AS.

Kemudahan bagi sektor pariwisata bagi ekosistem transportasi dan pariwisata di Indonesia, kehadiran sistem pembayaran QR dari Bank of Korea ini diprediksi akan meningkatkan kenyamanan wisatawan mancanegara.

Para penumpang pesawat asal Korea Selatan kini tidak perlu lagi khawatir membawa uang tunai dalam jumlah besar atau mencari tempat penukaran uang (money changer) segera setelah mendarat di bandara. Mulai dari pembayaran transportasi bandara, kuliner, hingga belanja suvenir, semuanya bisa diselesaikan melalui satu genggaman ponsel.

Standar baru konektivitas regional Indonesia menjadi salah satu mitra kunci Korea Selatan dalam memperluas jaringan pembayaran digital di Asia Tenggara. Keberhasilan implementasi ini menempatkan Indonesia sejajar dengan negara tetangga seperti Thailand dan Singapura yang telah lebih dulu mengadopsi sistem serupa.

Bagi pemerintah Indonesia, kolaborasi ini juga memperkuat posisi QRIS (Quick Response Code Indonesian Standard) sebagai platform pembayaran universal yang ramah bagi turis asing.

Lihat Barcode atau QR Code di Tiket Anda? Inilah Maknanya!

Garuda Indonesia Group Unjuk Gigi: Armada Makin Siap, Citilink Pecah Rekor 48 Ribu Penumpang Sehari

Kabar baik datang dari maskapai pembawa bendera negara, Garuda Indonesia Group. Memasuki kuartal kedua tahun 2026, grup maskapai ini menunjukkan sinyal pemulihan yang semakin solid. Tidak hanya dari sisi finansial, penguatan fundamental ini berdampak langsung pada kenyamanan penumpang melalui kesiapan armada yang lebih baik dan ketepatan waktu (On-Time Performance) yang meningkat signifikan.

Salah satu motor penggerak pemulihan ini adalah kinerja positif PT Garuda Maintenance Facility Aero Asia Tbk (GMFI). Sebagai jantung perawatan pesawat grup, GMFI berhasil membukukan laba bersih sebesar US$33,9 juta pada tahun buku 2025. Perbaikan kinerja ini menjadi kunci utama dalam memastikan pesawat-pesawat Garuda Indonesia dan Citilink selalu dalam kondisi prima dan siap terbang (serviceable), meskipun tantangan rantai pasok global masih membayangi industri penerbangan.

Rekor Penumpang di Musim Lebaran 1447 H Bukti nyata dari pulihnya kepercayaan masyarakat terlihat pada periode peak season Idulfitri 1447 Hijriah (Maret 2026). Anak usaha Garuda, Citilink, berhasil memecahkan rekor jumlah penumpang harian tertinggi sepanjang sejarah operasionalnya. Pada 29 Maret 2026, maskapai berbiaya rendah (LCC) ini mengangkut sebanyak 48 ribu penumpang dalam satu hari.

Secara total, Garuda Indonesia Group melayani 1,1 juta penumpang selama periode Lebaran (14–29 Maret 2026). Lonjakan volume penumpang ini berhasil diimbangi dengan kualitas layanan yang mumpuni. Tingkat ketepatan waktu (On-Time Performance) grup mencatatkan angka 92,08%, sebuah capaian tertinggi dalam tiga tahun terakhir, jauh melampaui performa tahun 2024 dan 2025.

Keluar dari Pemantauan Khusus, Fokus pada Layanan Kepercayaan pasar terhadap grup ini juga semakin pulih setelah saham GMFI resmi keluar dari daftar Efek Pemantauan Khusus per 31 Maret 2026, menyusul langkah sang induk, GIAA. Direktur Utama GMF, Andi Fahrurrozi, menegaskan bahwa pencapaian ini merupakan refleksi dari pemulihan substansial, bukan sekadar administratif.

Bagi para penumpang, penguatan fundamental ini berarti kepastian jadwal yang lebih baik dan ketersediaan kursi yang lebih luas. Di tahun 2026 ini, fokus grup adalah melanjutkan reaktivasi armada dan memperluas jangkauan pasar internasional.

Dengan kondisi finansial yang lebih sehat dan operasional yang disiplin, “Burung Garuda” beserta lini maskapainya siap kembali menjadi pilihan utama mobilitas udara masyarakat Indonesia dengan standar keselamatan dan keandalan yang lebih tinggi.

Garuda Indonesia Tebar Promo Tiket Jakarta-Arab Saudi Mulai Rp4 Jutaan, Cek Syaratnya!

Selain Diambil dari Bahasa Belanda, Ternyata Ada Asal Usul Lain pada Nama ‘Lampegan’

Masyarakat tentu paham betul nama dari daerah di Cianjur Jawa Barat ini sudah sangat terkenal jika menggunakan kereta api. Ya, baik stasiun maupun terowongan legendaris, nama Lampegan sudah santer di telinga masyarakat. Apalagi yang biasa menggunakan kereta api lokal Siliwangi dengan rute Sukabumi – Cianjur – Cipatat pulang pergi.

Lampegan, Terowongan Tertua di Indonesia, Abadikan Misteri Nyi Ronggeng

Meski bangunan stasiunnya kecil dan statusnya kelas 3, namun dari segi sejarah tentu area tersebut memiliki cagar budaya yang kental. Karena selain stasiun, terowongan yang digadang-gadang memiliki sejuta kisah tersebut masih dapat dijumpai lengkap dengan ornamennya yang kokoh.

Selain kisah yang panjang dan legendaris, terowongan maupun stasiun Lampegan turut menjadi bagian penting dalam perjalanan kereta api. Masyarakat yang menggunakan kereta api yang naik dan turun di Stasiun Lampegan pun cukup ramai, karena akses dari area tersebut menuju jalan raya antar kota cukup jauh.

Selain Lampegan Jalur KA Kawasan Ciganea juga Terkenal Ekstrem, Ini Penyebabnya

Lalu, kira-kira dari mana muncul nama Lampegan tersebut? Tak lain itu berasal dari kondektur kereta api yang tiap menjelang terowongan kerap berteriak: “Lampen aan!” yang berarti “nyalakan lampu”. Di telinga orang lokal kata-kata itu seolah terdengar sebagai “lampegan”.

Saat itu ada juga yang mengatakan “Lamp a gan,” yang berarti untuk memerintahkan agar lampu segera dinyalakan untuk membantu masinis mengemudi dalam terowongan gelap itu. Versi lainnya mengatakan bahwa Lampegan merupakan perintah mandor proyek Van Beckman yang mencampurkan bahasa Indonesia dengan Inggris pada anak buahnya, “Lamp pegang! Lamp pegang!” katanya ketika hendak memasuki terowongan untuk memantau hasil kerja mereka.

Lalu versi berikutnya dalam tulisannya, Kereta Api dan Jejak Penjajahan Belanda di Priangan: Dari Tanam Paksa Hingga Plesiran Kode teriakan dari petugas stasiun pada saat selesai menyalakan lampu adalah “lampen gaan”. Lampen gaan dari kata Belanda yang artinya lampu sudah menyala. Kata-kata ini berulang terus setiap lokomotif masuk ke arah terowongan dan itu kemudian ditangkap oleh orang-orang lokal yang menyangka itu adalah seolah-olah nama dari terowongan ini. Sehingga sampai sekarang disebut dengan Lampegan.

Menurut tiga tulisan di atas, setidak ada empat versi asal-usul, yaitu: lampen aan!, lamp a gan, lamp pegang!, dan lampen gaan untuk nama terowongan yang mulai dibangun tahun 1879, yang digali dari kedua sisinya. Dari arah Sukabumi terowongan digali di daerah Bencoy, Cireunghas, dan dari arah Cianjur digali di daerah Cimenteng, Campaka.

Pada Peta Topografi yang terbit tahun 1908, terowongan kereta api pertama di Hindia Belanda ini menembus bebatuan di antara Gunung Lampegan dan Gunung Kendeng. Nama stasiunnya mengacu pada nama geografi yang sudah terlebih dahulu dibangun dibandingkan dengan tempat di ujung barat-dayanya.

Nama geografi tempat penduduk bermukim sudah ada dengan nama Lampegan, mengikuti nama Gunung Lampegan. Pemberian nama perkebunan Lampegan pun karena lokasinya berada di sekitar Gunung Lampegan, yang dijadikan penanda bumi.

Nama geografi Gunung Lampegan diambil dari nama tumbuhan yang banyak tumbuh di sana, yaitu tumbuhan lampegan, sehingga menjadi ciri bumi kawasan. Dalam Kamus Basa Sunda karya R. Satjadibrata (cetakan pertama, Jakarta, 1946), lampegan, ngaran tatangkalan leutik, nama tumbuhan kecil.

Lintasan kereta api antara Batavia sampai Buitenzorg sudah dibangun oleh pihak swasta. Karena nilai ekonomi yang sangat tinggi di kawasan antara Bogor – Sukabumi – Cianjur. Pembangunan lintasan kereta api itu untuk mendukung pengangkutan hasil dari perkebunan-perkebunan yang sudah ada lebih dulu, satu di antaranya Perkebunan Lampegan.

Artinya, nama geografi Gunung Lampegan, kemudian menjadi nama Perkebunan Lampegan, dan Kampung Lampegan, sudah ada ketika lintasan kereta api itu dibangun. Pastilah nama terowongan sepanjang 632 meter dan nama stasiunnya mengacu pada nama geografi yang sudah ada, yaitu Lampegan, bukan dari teriakan masinis, lampen aan! lamp a gan, lamp pegang!, atau lampen gaan!

Julukan KA “Argo Peuyeum” Sempat Muncul Karena Adanya Stasiun Ini

Tak Perlu Paspor Lagi! Bandara Hong Kong Luncurkan 12 ‘e-Channel’ Biometrik Terbaru untuk Akses Bebas Dokumen

Otoritas Bandara Hong Kong (AAHK) resmi meningkatkan standar pelayanan digital mereka dengan meluncurkan 12 gerbang e-Channel biometrik terbaru di terminal keberangkatan Bandara Internasional Hong Kong (HKIA). Inovasi ini memungkinkan para penumpang yang memenuhi syarat untuk melewati proses imigrasi dan pemeriksaan keamanan tanpa perlu menunjukkan dokumen fisik seperti paspor atau tiket pesawat (document-free).

Langkah ini merupakan bagian dari transformasi besar-besaran Hong Kong dalam memanfaatkan teknologi pengenalan wajah (facial recognition) guna mempercepat arus penumpang. Dengan sistem terbaru ini, identitas penumpang akan diverifikasi secara instan melalui data biometrik yang telah terdaftar, sehingga mengurangi waktu antrean secara signifikan di titik-titik krusial bandara.

Kemudahan bagi Penumpang Internasional Gerbang e-Channel baru ini tidak hanya ditujukan bagi warga lokal, tetapi juga mencakup para pelancong internasional yang telah mendaftarkan data biometrik mereka saat kedatangan.

Setelah terdaftar, penumpang cukup berjalan melewati gerbang elektronik yang akan memindai wajah mereka dalam hitungan detik. Teknologi ini memastikan tingkat akurasi yang tinggi sekaligus menjaga keamanan protokol kesehatan dengan meminimalkan kontak fisik dengan petugas maupun perangkat mesin.

Indonesia Menjadi Negara Pertama di Dunia yang Terapkan “Seamless Corridor” Biometrik

Mendukung Pemulihan Pariwisata Global Peluncuran 12 unit tambahan ini membawa total gerbang biometrik di HKIA menjadi lebih banyak dan tersebar di area-area strategis. Direktur Operasi Bandara menyatakan bahwa modernisasi ini sangat krusial dalam menghadapi lonjakan penumpang pasca-pandemi. Dengan sistem yang lebih efisien, HKIA berambisi untuk mempertahankan posisinya sebagai salah satu hub penerbangan paling canggih dan ramah pengguna di dunia.

Bagi para pengguna Kabarpenumpang.com yang berencana bepergian ke atau transit di Hong Kong, inovasi ini menjanjikan pengalaman perjalanan yang lebih cerdas dan praktis. Pastikan Anda telah memeriksa kriteria pendaftaran biometrik di situs resmi imigrasi Hong Kong untuk menikmati fasilitas bebas dokumen ini pada kunjungan berikutnya.

Terminal 2 Bandara Hong Kong Siap Beroperasi Penuh Mei 2026