Korean Fried Chicken Jadi Hidangan Utama Pelancong Asing di Luar Seoul

Pelancong yang berkunjung ke Korea Selatan (Korsel) menghabiskan lebih banyak uang untuk menyantap ayam goreng Korea (Korean Fried Chicken) daripada makanan lain selama mereka tinggal di luar Seoul.

Baca juga: Mulai 1 Mei, Kereta Peluru KTX Cheong-ryong Resmi Beroperasi – Seoul – Busan Ditempuh 2 Jam 10 Menit

Hal tersebut diungkapkan BC Card, pada hari Minggu lalu, perusahaan pemrosesan pembayaran terbesar di negara itu mengatakan ayam goreng Korea adalah hidangan paling populer di antara 15 makanan Korea yang dipilih sebagai hidangan lokal untuk masing-masing wilayah.

Kementerian Kebudayaan, Olahraga, dan Pariwisata dan Organisasi Pariwisata Korea bersama-sama membuat daftar 15 makanan khas musim panas ini untuk enam wilayah di luar ibu kota negara tersebut. Daftar tersebut mencakup total 33 hidangan, makanan ringan, bahan, dan minuman beralkohol yang mewakili tradisi kuliner masing-masing wilayah.

Enam wilayah tersebut adalah Korea timur laut, tengah, tenggara, dan barat daya, sebelah barat Seoul, dan Pulau Jeju paling selatan di negara itu.

Ayam goreng Korea, yang dipilih sebagai hidangan yang paling mewakili Daegu di Korea tenggara, menduduki peringkat teratas dalam hal pembayaran yang dilakukan wisatawan internasional untuk hidangan lokal selama tiga tahun dari 2022 hingga 2024, kata BC Card.

Daegu adalah rumah bagi beberapa waralaba ayam goreng lokal. Namun, BC Card tersebut tidak memberikan rincian lain, seperti angka penjualan.

Disebutkan pula bahwa jajangmyeon, mi Cina ala Korea yang diberi saus kacang hitam, menduduki peringkat ke-2 selama tiga tahun yang sama. Jajangmyeon terdaftar sebagai salah satu hidangan paling representatif di wilayah barat Seoul, atau wilayah yang meliputi Provinsi Gyeonggi dan Incheon. Incheon adalah rumah bagi Pecinan terbesar di negara tersebut.

Juga dari wilayah barat Seoul, kepiting yang diasinkan dengan kecap asin menempati posisi ketiga, naik dari posisi keenam pada tahun 2022.

BC Card menilai peningkatan peringkat kepiting yang diasinkan dengan kecap asin patut dicatat karena sebelumnya tidak termasuk makanan yang umum dicoba karena rasa dan penampilannya, selain alasan lainnya.

“Peningkatan penjualan kepiting yang diasinkan dengan kecap asin ini terkait dengan popularitas drama, film, dan media Korea lainnya di dunia, yang menampilkan berbagai hidangan Korea dan mengundang rasa ingin tahu penonton internasional,” kata BC Card.

Di antara makanan khas lain yang sebelumnya kurang populer tetapi dengan cepat menarik perhatian wisatawan internasional adalah tahu lembut dari Korea timur laut dan sup nasi babi dari Korea tenggara.

BC Card mengatakan lebih banyak wisatawan asing yang mengonsumsi makanan khas lokal dan pengeluaran rata-rata mereka untuk makanan ini 4,8 kali lebih tinggi daripada orang Korea yang merupakan penduduk asli daerah tersebut.

Buntut Kebakaran yang Hanguskan 40 Kendaraan, Korea Selatan Pertimbangkan Larangan Mobil Listrik Parkir di Basement

Masa Depan ‘Visa Schengen’ Terancam, Jerman Berlakukan Kontrol Perbatasan Ketat di Perbatasan

Konflik yang berkecamuk di Ukraina telah membawa perubahan pada standar keamanan di negara-negara Eropa. Sebagai buntutnya, banyak negara yang berseberangan secara politik dengan Rusia mulai mengambil langkah pengamanan ketat pada perbatasannya.

Baca juga: Sebaiknya Anda Tahu, Era Stempel Paspor di Negara Schengen Berakhir pada 10 November 2024

Dan keputusan Jerman untuk memperketat kontrol di setiap perbatasan daratnya, disebut dapat membahayakan persatuan di Uni Eropa dan bisa berdampak pada kelangsungan program visa Schengen.

Sepert dikutip The Guardian (10/9/2024), keputusan kontrol ketat pada perbatasan tampaknya didorong oleh aspek politik, yang sulit dibenarkan secara hukum dan memberikan pukulan berat bagi kebebasan bergerak yang sangat berharga di Eropa, dan dapat menguji persatuan UE secara serius.

Berlin mengatakan pada hari Senin bahwa kontrol yang diberlakukan di perbatasannya dengan Austria sejak 2015, dan sejak tahun lalu dengan Polandia, Republik Ceko, dan Swiss, akan diperluas minggu depan ke Perancis, Luksemburg, Belgia, Belanda, dan Denmark.

Langkah tersebut akan mengekang migrasi dan “melindungi dari bahaya akut yang ditimbulkan oleh terorisme dan kejahatan serius,” kata Nancy Faeser, menteri dalam negeri Jerman.

Serangan pisau mematikan terbaru yang melibatkan pencari suaka, di Solingen bulan lalu, terjadi beberapa hari sebelum pemilihan daerah yang genting di Jerman timur yang mengakibatkan partai sayap kanan anti-imigrasi Alternatif untuk Jerman (AfD) mencetak keberhasilan bersejarah di dua negara bagian.

Jajak pendapat menunjukkan migrasi juga menjadi perhatian terbesar para pemilih di Brandenburg, yang akan menyelenggarakan pemilihannya sendiri dalam dua minggu lagi – dengan partai Sosial Demokrat kiri-tengah Olaf Scholz diperkirakan akan berada di belakang partai sayap kanan.

“Tujuan pemerintah tampaknya adalah untuk menunjukkan secara simbolis kepada warga Jerman dan calon migran bahwa mereka tidak lagi diinginkan di sini,” kata Marcus Engler dari Pusat Penelitian Integrasi dan Migrasi Jerman.

Faeser mengatakan kontrol baru akan mencakup skema yang memungkinkan lebih banyak orang untuk ditolak langsung di perbatasan, tetapi menolak untuk menjelaskan secara rinci. Para pejabat dan diplomat di Brussels telah menyatakan kekecewaan, menyebut langkah itu “transparan” dan “jelas ditujukan untuk audiens domestik”.

Posisi sentral Jerman di Uni Eropa dan statusnya sebagai ekonomi terbesar di blok tersebut, berarti kontrol tersebut, yang akan mulai berlaku pada 16 September untuk enam bulan pertama, dapat berdampak jauh melampaui para pemilih di negara tersebut.

Pada prinsipnya, wilayah Schengen bebas paspor di Eropa, yang dibentuk pada tahun 1985 dan sekarang mencakup 25 dari 27 negara anggota UE ditambah empat negara lainnya termasuk Swiss dan Norwegia, memungkinkan pergerakan bebas di antara mereka semua tanpa kontrol perbatasan.

Pemeriksaan sementara diizinkan dalam keadaan darurat dan keadaan luar biasa untuk mencegah ancaman tertentu terhadap keamanan internal atau kebijakan publik, dan biasanya diberlakukan setelah serangan teror, untuk acara olahraga besar, dan selama pandemi.

Selain Jerman, anggota Schengen yang saat ini menjalankan kontrol di perbatasan tertentu termasuk Austria, yang mengutip ancaman keamanan terkait Ukraina dan tekanan pada suaka untuk memeriksa kedatangan dari Slowakia, Republik Ceko, Slovenia, dan Hongaria.

Denmark, mengutip ancaman teror terkait perang di Gaza dan risiko spionase Rusia, melakukan pemeriksaan pada transit darat dan laut dari Jerman, dan Perancis memeriksa kedatangan zona Schengen dengan alasan meningkatnya ancaman teror. Italia, Norwegia, Swedia, Slovenia, dan Finlandia juga mengoperasikan pemeriksaan perbatasan, dengan berbagai alasan aktivitas teroris, perang di Ukraina dan Timur Tengah, aktivitas intelijen Rusia, peningkatan arus migrasi, dan kejahatan terorganisasi di Balkan.

Mengapa Proses Pengurusan Visa Kadang Butuh Waktu Lama? Ini Sebabnya!

Garuda Indonesia Sajikan Menu Baru Khas Aceh dan Sumatera Utara

Garuda Indonesia Sumatmemperkenalkan ragam kekayaan kuliner nusantara di berbagai rute penerbangan yang dilayani melalui program Garuda Rasa yang kali pertama diperkenalkan pada bulan Juli lalu.

Baca juga: Garuda Indonesia Sajikan “Nasi Kapau” Sebagai In-Flight Meals di Rute Jakarta – Amsterdam

Adapun pengenalan kuliner khas nusantara tersebut, salah satunya kembali dihadirkan dalam sajian tematik khas Aceh dan Sumatera Utara untuk penerbangan rute Jakarta – Aceh pp dan Jakarta – Medan pp yang diimplementasikan sejak pekan lalu.

Direktur Utama Garuda Indonesia Irfan Setiaputra mengatakan bahwa program Garuda Rasa merupakan kelanjutan dari pengembangan layanan penerbangan dengan mengedepankan konsep Indonesian Hospitality di seluruh touch point layanan, termasuk di menu sajian in-flight meals baik rute domestik maupun internasional yang akan diterapkan secara bertahap.

“Program Garuda Rasa dirancang untuk memberikan kesan otentik untuk merasakan menu khas Indonesia di udara yang diharapkan dapat menjadi pengalaman tersendiri bagi pengguna jasa merasakan secara utuh sentuhan Indonesia mulai dari pre-flight, in-flight, hingga post-flight,” jelas Irfan.

Lebih lanjut, terdapat beberapa pilihan menu khas Aceh yang akan diimplementasikan pada penerbangan Jakarta – Banda Aceh pp seperti Mie Aceh Daging Sapi, Nasi Kuning Ikan Aceh, Nasi Ayam Kurma, Nasi Ayam Kari, Nasi Ayam Peulemak Nangka, Nasi Goreng Aceh Ayam Tangkap, Nasi Ikan Bumbu Kuning, dan Mie Aceh Ayam.

Sementara untuk pilihan menu khas Sumatera Utara yang akan diimplementasikan pada penerbangan Jakarta – Medan pp di antaranya adalah Nasi Goreng Medan, Nasi Lemak, Mie Gomak, Lontong Medan, Nasi Ayam Ungkep Medan, Nasi Empal Balado, Nasi Ayam Andaliman, Nasi Ikan Pepes Medan, Nasi Kalio Daging, Nasi Ikan Arsik, Nasi Daging Cabe Hijau, dan Nasi Ayam Tangkap.

Irfan menambahkan, “Sebelumnya, Garuda Rasa juga telah menghadirkan Thematic Local Dish khas Kalimantan pada penerbangan dari dan menuju Balikpapan, serta peluncuran Signature Indonesia Dish dengan menu khas Sumatera Barat yaitu Nasi Padang dan Nasi Kapau yang diperkenalkan pada penerbangan Business Class rute Amsterdam – Jakarta.”

Lebih lanjut, di dalam program Garuda Rasa tersebut, Garuda Indonesia menghadirkan hidangan makanan dan minuman melalui 4 (empat) konsep penyajian in-flight catering yaitu Garuda Signature Dish yang merupakan hidangan eksklusif untuk penerbangan internasional; Garuda Thematic Dish yakni hidangan tematik yang unik untuk penerbangan domestik; Garuda Kudapan Nusantara menyajikan pilihan kudapan tradisional Indonesia, dan ke depannya juga akan diperkenalkan konsep Garuda Chef in the Sky di mana nantinya akan terdapat Chef di dalam penerbangan untuk memberikan pengalaman gourmet di udara.

Seberapa Amankah Bandara yang Terletak di Pesisir Laut dari Ancaman Bencana Alam?

Kondisi landas pacu di Bandara Internasional Kansai, Jepang yang basah kuyup memaksa sebagian penumpang untuk menunda keberangkatan mereka hingga waktu yang belum ditentukan beberapa waktu yang lalu. Tentu saja, ini menjadi perhatian sebagian kalangan mengingat perubahan iklim yang dapat berdampak buruk bagi dunia aviasi global – terutama bagi bandara yang ‘bersandar’ dekat dengan garis pantai. Kendati berbahaya dari segi geografisnya, namun apakah bandara-bandara tersebut dapat bertahan dari terpaan bencana alam?

Baca Juga: Bandara Luxembourg Siap Adopsi Sistem Keamanan Baru nan Canggih

Mundur sedikit ke bulan September 2018, dimana Topan Jebi meluluh-lantakkan infrastruktur yang ada di Negeri Sakura dan setidaknya menewaskan 10 orang. Tentu saja ini menjadi malapetaka bagi Bandara Internasional Kansai, dimana bandara ini digadang-gadang sebagai pusat penerbangan internasional yang terletak di sebuah pulau buatan manusia di Teluk Osaka.

Sebuah studi yang dilakukan oleh Eurocontrol pada tahun 2008 silam mengindentifikasi bahwa sekiranya ada 34 bandara yang dapat terkena dampak negatif dari kenaikan permukaan air laut tadi. Ditambah lagi dengan survei yang dilakukan oleh US National Climate Assessment, dimana mereka menyebutkan bahwa sekiranya ada 13 bandara di Amerika yang memiliki landas pacu yang rentan terhadap gelombang sedang hingga tinggi.

Lalu dengan adanya dua survei di atas sebagai contoh, dan puluhan survei lain terkait dengan letak geografis bandara, mengapa kebanyakan bandara berada di pesisir laut? Dirangkum KabarPenumpang.com dari laman airport-technology.com, jawaban untuk pertanyaan di atas sangatlah sederhana – karena pada dasarnya bandara harus berdiri di lahan luas, dan pesawat dapat lepas landas tanpa harus menabrak bangunan atau tebing pegunungan yang berada di depannya. Pertimbangan lain, kemungkinan pendaratan darurat dapat dilakukan di atas permukaan air.

Pengurukan lahan guna membangun bandara tentu saja akan menurunkan tingkat ketinggian dari lahan tersebut dan semakin mendekati ketinggian dari garis laut – sebut saja Bandara Internasional Kansai yang berada di ketinggian 3,4 meter di atas permukaan laut. Lebih ekstrem lagi, Bandara Internasional Schipol di Amsterdam, Belanda, yang berada di ketinggian 3 meter di bawah permukaan laut. Menurut US National Oceanic and Atmospheric Administration, permukaan laut global rata-rata naik 2,6 inci antara tahun 1993 dan 2014 dan angka tersebut terus mengalami kenaikan sekitar seperdelapan inci per tahun.

Dengan demikian, apakah bandara dapat menjamin para penumpangnya agar tetap mengudara dengan jadwal yang sudah ditentukan sebelumnya kendati bencana alam tengah menerjang? Jika mengandalkan sistem drainase saja, maka langkah ini tidak dapat menjamin landas pacu atau perangkat di tarmak lainnya dapat aman dari ancaman banjir atau bencana alam yang berkaitan dengan air lainnya.

Baca Juga: Bandara Tribhuvan Kathmandu, Salah Satu Bandara Terburuk di Dunia

Namun jika dibarengi dengan pembangunan tanggul, gerbang pasang surut, kolam penahanan dan stasiun pompa untuk mengelola volume besar banjir diperkirakan dapat meminimalisir sebuah bandara terdampak bencana alam dan perubahan iklim yang ekstrem. Kendati sebagian kota di dunia sudah berhasil merelokasi bandara mereka ke daerah yang lebih aman, namun menilik nominal yang dikeluarkan, rasanya hampir mustahil untuk melakukan hal tesebut – alih-alih dana dengan nominal serupa digunakan untuk meningkatkan fasilitas bandara terkait.

 

Japan Airlines Tanda Tangani Kontrak A350 Virtual Procedure Trainer

Japan Airlines (JAL) menjadi operator A350 pertama di dunia yang menandatangani kontrak dengan Airbus untuk mendapatkan A350 Virtual Procedure Trainer (VPT) berbasis komputer. Alat pelatihan canggih ini menawarkan lingkungan pelatihan yang sangat imersif dan interaktif untuk mempraktikkan berbagai prosedur penerbangan penting dan skenario darurat.

Baca juga: Evacuation Slide Jadi “Penyambung Nyawa” pada Insiden A350 JAL516 , Ternyata Punya Sejarah Panjang

Adopsi A350 VPT oleh JAL dilakukan seiring dengan perluasan kemitraan maskapai ini dalam penggunaan rangkaian produk MATe (Mobile Airbus Training experience) untuk pelatihan dan praktik penggunaan sistem. Dengan integrasi ini, JAL kini mendapatkan manfaat penuh solusi pelatihan penerbangan Airbus, memanfaatkan konsep dan teknologi pelatihan terbaru untuk meningkatkan efisiensi pelatihan dan retensi pengetahuan peserta.

Kelompok pertama peserta pelatihan A350 VPT maskapai ini terdiri dari dua belas pilot. Inisiatif yang telah dikontrakkan untuk lima tahun ke depan ini menegaskan komitmen teguh JAL dalam menjaga standar keselamatan dan keunggulan operasional.

VPT yang dikembangkan Airbus menyediakan lingkungan virtual realistis yang disesuaikan dengan model pesawat spesifik dari maskapai penerbangan tersebut, sehingga sangat berguna untuk meningkatkan kemahiran dan kesiapsiagaan pilot. Fleksibilitasnya memungkinkan pelatihan dijalani kapan pun dan di mana pun, mengurangi potensi gangguan dan menawarkan efisiensi biaya yang signifikan dengan meminimalkan biaya pelatihan dan waktu henti pesawat.

Flight Training Vice President di JAL, Hiroshi Horikawa mengatakan, “Integrasi A350 VPT ke dalam kurikulum pelatihan kami akan secara signifikan meningkatkan kualitas pelatihan awak pesawat dan meningkatkan komitmen JAL terhadap keselamatan. Kami sangat antusias menyambut babak baru dalam kolaborasi kami dengan Airbus.”

Airbus Head of Commercial Services for APAC, Balinda Zhang menambahkan, “Kami sangat senang dapat mendukung JAL dalam implementasi A350 VPT. Airbus berkomitmen untuk memberikan dukungan penuh selama proses integrasi untuk memastikan transisi yang mulus. Tujuan kami adalah untuk memberikan solusi pelatihan yang tidak hanya memenuhi tetapi juga melampaui harapan JAL, sehingga berkontribusi pada kelangsungan keunggulan maskapai ini dalam hal pelatihan awak kabin.”

Perjanjian penting ini menegaskan kembali posisi Airbus sebagai pemimpin dalam solusi pelatihan penerbangan yang inovatif, dan menyoroti komitmen JAL dalam memelopori penggunaan teknologi pelatihan yang canggih.

Hingga Agustus 2024, JAL telah mengoperasikan 15 pesawat A350-900 dan lima pesawat A350-1000, dengan backlog pesanan sebanyak 23 pesawat A350-900 dan delapan pesawat A350-1000.

Pasca Insiden Kebakaran Mesin, EASA Perintahkan Pemeriksaan pada Airbus A350

Setelah 30 Tahun, Sistem Navigasi BeiDou Milik Cina Kini Setara Dengan GPS

Dalam kurun waktu lebih dari 30 tahun sejak kapal Cina Yinhe terdampar di perairan internasional, setelah GPS (Global Position System)-nya diretas oleh Amerika Serikat, Cina sebagai kekuatan ekonomi terbesar kedua di dunia telah mengembangkan jaringan navigasi satelitnya sendiri untuk menguasai pangsa pasar yang sangat menguntungkan dan berteknologi tinggi itu – dan memastikan insiden semacam itu tidak akan pernah terulang.

Baca juga: Satelit GPS III Generasi Ke-4 Buatan Lockheed Martin Resmi Meluncur, Ini Deretan Manfaatnya

Seiring dengan berkembangnya jangkauan sistem dalam negerinya dan mulai menyamai jangkauan pesaingnya dari Amerika, ambisi Beijing pun ikut tumbuh. Beijing ingin BeiDou – yang dinamai berdasarkan tujuh bintang terang di langit utara yang digunakan sebagai penunjuk arah pada masa sebelum adanya satelit – menarik cukup banyak pengguna internasional sehingga sistem itu dapat mengalahkan dominasi jaringan GPS yang dikelola AS selama puluhan tahun.

Dengan promosi layanan yang apik ke badan-badan internasional, rencana untuk memperkuat kekuatan sinyal di luar negeri, dan serentetan investasi, subsidi, dan donasi yang memberi insentif bagi adopsi BeiDou oleh negara-negara berkembang, promosi sistem oleh Cina hanya kalah oleh tingkat jangkauan jaringan itu sendiri.

Banyak rintangan yang menghalangi perubahan besar tersebut, kata para analis. Namun, dengan menggelontorkan miliaran dolar untuk pengembangan BeiDou dan menawarkannya sebagai layanan gratis, Beijing melakukan investasi jangka panjang dalam sistem tersebut – dan nilainya dalam konteks geopolitik yang lebih luas.

“Ada bidang-bidang di mana Beijing dapat memberi insentif bagi adopsi di luar negeri – dalam keselamatan maritim dan penerbangan global dan di negara-negara berkembang yang kurang berpihak pada Barat – untuk memajukan kepentingan Cina,” kata Michael Shin, seorang profesor teknologi geospasial di University of California, Los Angeles (UCLA).

Otoritas Penerbangan Sipil Perancis Tuduh Rusia Ganggu Sistem Navigasi Berbasis Satelit

Jadwal LRT Jabodebek Agustus Terbaru, Keberangkatan Terakhir Jam 11 Malam

KAI terus berkomitmen untuk meningkatkan kualitas pelayanan kepada para pengguna LRT Jabodebek. Pada bulan Agustus, KAI mencatat pencapaian positif dengan jumlah pengguna LRT Jabodebek mencapai 1.987.817, dengan rata-rata pengguna pada hari kerja sebanyak 76.044 pengguna, naik 0,5 persen dibandingkan dengan rata-rata pada hari kerja bulan Juli yang berjumlah 75.694 pengguna.

Baca juga: Dikunjungi Bos Kereta Api se-ASEAN, LRT Jabodebek Luncurkan KMT Khusus edisi ARCEOs’ Conference

Sebagai upaya untuk meningkatkan kenyamanan dan fleksibilitas perjalanan bagi pengguna, KAI telah memperpanjang jam operasional dengan mengoperasikan 8 perjalanan tambahan pada hari kerja, sehingga total perjalanan meningkat dari 350 menjadi 358 perjalanan setiap hari.

Penambahan ini dioperasikan khusus pada akhir jam operasional setiap hari Senin hingga Jumat, dengan jadwal keberangkatan terakhir untuk beberapa lintas utama mengalami perubahan, seperti rute Dukuh Atas – Harjamukti yang kini berangkat pada pukul 22.55, dan rute Dukuh Atas – Jatimulya yang berubah menjadi pukul 22.50. Langkah ini diambil untuk mengakomodasi kebutuhan pengguna yang membutuhkan perjalanan di luar jam kerja reguler.

Manager Public Relations LRT Jabodebek Mahendro Trang Bawono mengatakan untuk meningkatkan kenyamanan pengguna, KAI juga telah memperkenalkan teknologi Crowd Detection System.

Baca juga: KAI Perpanjang Jam Operasional LRT Jabodebek, Jadi 358 Perjalanan per Hari

Teknologi tersebut, lanjut Mahendro, memungkinkan pengguna untuk melihat secara real-time kepadatan di setiap trainset melalui aplikasi, sehingga mereka dapat memilih gerbong yang kurang padat dan menikmati perjalanan yang lebih nyaman.

“Kami sangat berterima kasih atas dukungan dan kepercayaan masyarakat terhadap LRT Jabodebek. Kami akan terus berupaya meningkatkan kualitas pelayanan dan kenyamanan bagi seluruh pengguna,” tutupnya.

Pelancong Wajib Tahu! Empat Negara Eropa ini Terkenal Mudah Berikan Persetujuan Visa Schengen

Jika Anda memimpikan liburan ke Eropa pada tahun 2024, maka mendapatkan visa Schengen adalah pintu gerbang Anda untuk menjelajahi banyak negara. Namun, proses persetujuan visa dapat sangat bervariasi antar negara, yang memengaruhi rencana perjalanan Anda.

Baca juga: Sebaiknya Anda Tahu, 10 Negara ini Jarang Tolak Pengajuan Visa Schengen

Mengetahui negara mana yang memiliki tingkat penerimaan visa Schengen yang lebih tinggi dapat membantu Anda menghindari hambatan dan memastikan perjalanan yang lebih lancar. Panduan dari Travelo Biz berikut ini dapat memberikan wawasan tentang proses aplikasi visa Schengen yang termudah untuk meningkatkan peluang persetujuan visa Schengen Anda.

Bagi pelancong yang ingin memaksimalkan peluang persetujuan visa mereka, mengajukan permohonan melalui negara-negara tertentu dapat menguntungkan. Islandia, Swiss, Latvia, dan Italia adalah beberapa pilihan utama untuk proses aplikasi yang bebas repot, berkat tingkat persetujuan di negara-negara tersebut sangat tinggi:

Islandia
Dikenal karena bentang alamnya yang menakjubkan, Islandia memiliki tingkat persetujuan yang tinggi sebesar 97,8%, menjadikannya negara Schengen termudah bagi pemohon visa.

Swiss
Terkenal dengan pegunungannya yang menakjubkan dan danau-danau yang tenang, Swiss berada di urutan kedua dengan tingkat persetujuan sebesar 89,3%.

Latvia
Permata tersembunyi di Baltik, Latvia memiliki tingkat persetujuan sebesar 88,3%, yang menawarkan jalur yang mudah bagi para pelancong.

Italia
Sebagai rumah bagi berbagai bangunan bersejarah dan garis pantai yang indah, Italia menikmati tingkat persetujuan sebesar 88%, yang menjadikannya pilihan populer bagi para pemohon visa.

Memilih salah satu negara ini dapat secara signifikan meningkatkan peluang Anda untuk memperoleh visa Schengen tanpa penundaan yang tidak perlu.

Pria Ini Rayakan Saat Meraih Visa Schengen, Setelah Ditolak Enam Kali Beruturut-turut

Turki Uji Lintasan Kereta Cepat Produksi Dalam Negeri di Tahun 2025

Kereta cepat pertama yang diproduksi di dalam negeri di Turki akan memulai uji lintasan dinamis pada kuartal terakhir tahun 2025. Uji coba akan dilakukan setelah selesainya uji statis pabrik, Menteri Transportasi dan Infrastruktur Abdulkadir Uraloğlu mengatakan dalam sebuah pernyataan tertulis.

Baca juga: 14 Tahun Beroperasi, Kereta Berkecepatan Tinggi di Turkiye Angkut 72 Juta Penumpang

Kereta cepat tersebut akan mencapai kecepatan hingga 225 km per jam dan akan memiliki total kapasitas 584 penumpang di delapan gerbong di setiap rangkaian.

Kereta ini akan diproduksi oleh Turkish Railway Vehicles Industries Inc. (TURASAŞ), konstruksi kereta saat ini sedang berlangsung dengan sumber daya dalam negeri sepenuhnya. Fase desain diharapkan selesai pada kuartal terakhir tahun ini, setelah itu fase perakitan akan dimulai.

“Kami memulai layanan penumpang dengan rangkaian kereta listrik nasional kami pada 27 Mei 2023, dan sekarang kami maju dengan kereta cepat nasional kami,” kata Abdulkadir Uraloğlu.

“Kereta akan dilengkapi dengan teknologi layar hantu terintegrasi di dalam ruangan dan dinding partisi, meja lipat dengan stasiun pengisian cepat nirsentuh, desain kursi kulit dan kain yang nyaman, area bistro dengan teknologi layar hantu 3D, sistem pencahayaan tidak langsung, dan desain interior yang luas,” jelasnya.

Proyek ini juga bekerja sama dengan Institut Teknologi Transportasi Rel Dewan Riset Ilmiah dan Teknologi Turki (TÜBITAK). Semua proses desain proyek, yang menurut Uraloğlu dilakukan sesuai dengan standar internasional, diharapkan akan selesai pada kuartal terakhir tahun 2024, setelah itu fase perakitan akan dimulai.

Mengapa Benua Eropa dan Afrika Tidak Terhubung Jembatan atau Kereta Bawah Laut?

Bruce Dickinson, Pentolan Iron Maiden yang Menyandang Lisensi Pilot Pesawat Komersial

Bagi Anda penggemar ranah musik metal, tentu sudah tidak asing lagi dengan band asal Leyton, Inggris yang melantunkan lagu “The Trooper”, “Fear of the Dark”, “Hallowed Be Thy Name”, hingga “Wasted Years”. Ya, Iron Maiden merupakan band bergenre heavy metal yang mulai aktif sejak tahun 1975 silam. Kelompok yang menyandang predikat sebagai new wave of British heavy metal ini memiliki sejumlah cerita yang unik untuk dibahas, salah satunya berasal dari pentolannya, Bruce Dickinson.

Baca Juga: Frank William Abagnale Jr. – Pilot ‘Gadungan’ yang Sukses Berkeliling Dunia Secara Gratis!

Lahir di Worksop, Nottinghamshire pada 7 Agustus 1958, Bruce tidak hanya terkenal sebagai frontman dari Iron Maiden saja, melainkan juga sebagai entrepreneur, penulis, broadcaster, hingga seorang pilot! Karir Bruce di sektor aviasi dimulai setelah ia mulai terkenal sebagai vokalis Iron Maiden.

Sekira tahun 1990-an, Bruce mulai belajar untuk mengemudikan si burung besi di Florida untuk sebuah penerbangan rekreasi. Tidak hanya sebatas ingin menerbangkan sebuah pesawat saja, Bruce ternyata memiliki kecintaan tersendiri terhadap sektor aviasi, sehingga ia memutuskan untuk terus mendalami ilmu sebagai seorang pilot.

Bruce Dickinson ketika tengah mengenakan seragam pilot. Summber: abc.net.au

Singkat cerita, ia berhasil mendapatkan lisensi pilot dan sejak saat itu, ia mulai rutin menerbangkan pesawat Boeing 757 milik maskapai penerbangan carteran asal Inggris, Astraeus. Berperan sebagai kapten penerbangan di sejumlah rute yang pernah ia operasikan, Bruce pun lambat laun diangkat menjadi Direktur Pemasaran Astraeus pada 16 September 2010 – menyandang dua peran vital sekaligus dalam kehidupannya (Vokalis Iron Maiden dan Direktur Pemasaran Astraeus).

Salah satu peran kunci yang dimainkan oleh Bruce dalam meraih salah satu posisi prestisius di Astraeus adalah ketika ia mempromosikan layanan pesawat carteran tersebut dengan cara meningkatkan jumlah video promosinya, dimana hal ini mengarah kepada UK Civil Aviation Authority.

Sayang, Astraeus yang terpaksa gulung tikar membuat Bruce memutuskan untuk membangun maskapainya sendiri yang berbasis di Wales, Cardiff Aviation pada 1 Mei 2012. Upaya Bruce untuk terus melebarkan sayap bisnisnya ini membuahkan hasil, dimana pada Agustus 2015, Cardiff Aviation menandatangani perjanjian untuk memberikan bantuan terhadap maskapai Air Djibouti.

Di sini, Bruce berperan sebagai kapten penerbangan pada first maiden Cardiff Aviation dari Cardiff menuju Djibouti.

Baca Juga: Ellen Church, Pramugari Pertama di Dunia yang Juga Punya Lisensi Pilot

Sebagai pilot, Bruce bisa dibilang cukup banyak melakoni penerbangan yang cukup bergengsi, diantaranya Bruce pernah menerbangkan Rangers FC dalam sebuah partai tandang di Israel pada tahun 2007, dan Liverpool FC untuk bertandang ke Italia pada tahun 2010.

Boeing 747 yang juga pernah dicarter Iron Maiden ketika melakoni tour. Sumber: loudersound.com

Tidak hanya itu, kepiawaian Bruce dalam mengemudikan pesawat ternyata dimanfaatkannya untuk membawa serta rekan-rekan band-nya ketika menjalani sejumlah tur. Sebut saja dalam “Somewhere Back in Time World Tour” yang diadakan pada tahun 2008-2009, Bruce bertindak sebagai pilot untuk pesawat Boeing 757 carteran yang lalu dimodifikasi dengan menggunakan livery Iron Maiden dan diberi nama Ed Force One.