Boeing 707 dan Douglas DC-8 – Dua Pesawat Legendaris Ikon Penerbangan Jarak Jauh Era 60/70-an

Rute penerbangan jarak jauh saat ini dilayani oleh beragam jenis pesawat wide body dengan kemampuan direct flight lintas samudera, sebuat saja ada Airbus A330/A350/A380 series dan Boeing 777/787 series, namun bagaimana dengan penerbangan jarak jauh di era 60/70-an, jenis pesawat jet tentu sudah dikenal, tapi pada saat itu hanya ada dua jenis pesawat yang mendominasi pasar penerbangan jarak jauh.

Baca juga: Kala Kolaborasi Boeing 707 dan American Airlines Ubah Peta Penerbangan AS 62 Tahun Silam

Kedua pesawat tersebut adalah Boeing 707 dan Douglas DC-8, keduanya merupakan pesawat bermesin empat narrow body (satu lorong). Boeing 707 dan Douglas DC-8 dianggap sebagai ikon pesawat penerbangan jarak jauh pada awal tahun 1970-an, kedua pesawat memiliki kemampuan untuk terbang jarak jauh tanpa perlu melakukan perhentian, yang pada saat itu merupakan suatu hal yang luar biasa. Mereka menjadi simbol dari era penerbangan jet jarak jauh yang baru.

Boeing 707 dan DC-8 memiliki kecepatan yang relatif tinggi untuk pesawat komersial pada masanya, yang memungkinkan penerbangan yang lebih cepat dan efisien untuk rute-rute jarak jauh.

Kedua pesawat ini menawarkan standar kenyamanan dan kemewahan yang tinggi bagi penumpang, dengan kursi yang lebih luas dan fasilitas yang lebih baik dibandingkan dengan pesawat propeler pada masanya.

Jejak Boeing 707 di Indonesia: Pernah Dioperasikan 4 Maskapai Hingga Jadi Pesawat Kepresidenan

Boeing 707 dan DC-8 juga memiliki pengaruh budaya yang besar, sering kali muncul dalam film, iklan, dan media populer lainnya sebagai simbol dari penerbangan internasional yang mewah dan modern.

Pesawat-pesawat ini banyak digunakan oleh maskapai penerbangan utama pada masanya, termasuk Pan American World Airways (Pan Am) yang menggunakan Boeing 707 dan United Airlines yang menggunakan DC-8, sehingga memperkuat citra dan reputasi mereka sebagai pesawat penerbangan jarak jauh yang terpercaya dan efisien.

Boeing 707 Lebih Populer
Boeing 707 lebih populer dibandingkan dengan Douglas DC-8 karena beberapa alasan, seperti diperkenalkan lebih awal daripada DC-8, dengan penerbangan perdana pada tahun 1957, sementara DC-8 pada tahun 1958. Hal ini memberikan Boeing keunggulan pertama dalam memasuki pasar penerbangan jet komersial.

Pan Am menjadi pelanggan pertama dan pengguna utama Boeing 707, yang memberikan pesawat ini visibilitas dan reputasi yang besar sebagai pesawat penerbangan jet komersial pertama yang sukses secara komersial. DC-8, sementara itu, awalnya kurang populer di Amerika Serikat karena Pan Am memilih Boeing 707.

Desain dan Performa: Boeing 707 dianggap memiliki desain yang lebih inovatif dan performa yang lebih baik daripada DC-8 pada awalnya, meskipun perbedaannya tidak terlalu signifikan. Boeing 707 juga memiliki keunggulan dalam hal jangkauan, yang membuatnya lebih cocok untuk rute transatlantik yang panjang.

Boeing memiliki kampanye pemasaran yang lebih agresif untuk 707 dan berhasil membangun citra merek yang kuat untuk pesawat tersebut. DC-8, sementara itu, mungkin kurang dikenal secara luas di luar industri penerbangan.

Douglas DC-8: Lambang Supremasi Penerbangan Jarak Jauh Garuda Indonesia di Era 60/70-an

Boeing 707 memiliki lebih banyak varian yang berbeda dan terus menerus diperbarui dengan teknologi baru, seperti mesin yang lebih efisien. DC-8, sementara itu, memiliki kurang varian dan tidak mengalami pembaruan teknologi yang sama secara teratur. Meskipun DC-8 tidak sepopuler Boeing 707, kedua pesawat ini tetap menjadi ikon dalam sejarah penerbangan komersial dan memainkan peran penting dalam mengubah dinamika penerbangan internasional.

Garuda Indonesia dan Bank Mandiri Gelar Online Travel Fair, Tawarkan 10.500 Kursi dengan Diskon Sampai 80%

Garuda Indonesia menghadirkan Garuda Indonesia Online Travel Fair (GOTF) Anniversary edition 2024 yang menghadirkan potongan harga special hingga 80% baik untuk perjalanan domestic maupun internasional untuk periode pemesanan mulai 19-28 Februari 2024 dengan periode perjalanan mulai 15 Februari 2024 hingga 14 Februari 2025.

Hadirkan N219 Virtual Reality (VR), PT DI Targetkan Kontrak Lebih Tinggi N219 di Singapore Airshow 2024

Pameran dirgantara terbesar di Asia, Singapore Airshow 2024 akan dibuka sepanjang tanggal 20-25 Februari 2024 di Changi Exhibition Centre dan PT Dirgantara Indonesia (PTDI) akan hadir menyoroti beragam produk pesawatnya, produk komersial N219, serta produk pertahanan CN235 dan NC212i.

Baca juga: PT DI dan Bappenas Optimalkan Pesawat N219 untuk Pariwisata Bali

Keberadaan PTDI di pameran tersebut akan menggarisbawahi komitmennya dalam perluasan pasar dan komersialisasi pesawat N219, juga pesawat N219 Amphibious sebagai program pengembangan lanjutan untuk memenuhi kebutuhan pariwisata, yang dalam pelaksanaannya PTDI bersama partner strategisnya mendorong lokalisasi produk nasional dan pengembangan ekosistem industri nasional.

Sebagai wujud upaya PTDI dalam meningkatkan kekuatan pasar dan kehadiran pesawat N219 di kawasan Asia Pasifik, sebelumnya PTDI telah mengikat kesepakatan dengan Linkfield Technology perusahaan lokal di Cina untuk melakukan penjualan 25 unit pesawat N219 yang akan dilengkapi dengan konfigurasi tertentu disesuaikan dengan kebutuhan operasional end user di Cina.

Disampaikan oleh Direktur Utama PTDI, bahwa Singapore Airshow 2024 merupakan salah satu ajang penting bagi PTDI untuk memamerkan beberapa pesawat unggulan produksi Indonesia, khususnya pesawat N219, “Pada tahun 2023 lalu, Kementerian Pertahanan RI telah menyepakati pembelian pesawat N219 untuk mendukung misi TNI AD dan kami percaya bahwa momentum di Singapore Airshow 2024 ini akan menjadi tonggak penting bagi PTDI untuk perluasan pasar N219 dan memperoleh kontrak yang lebih tinggi di tahun 2024,” kata Gita Amperiawan.

N219 cocok dioperasikan di daerah terpencil dan pegunungan sehingga akan meningkatkan konektivitas dan aksesibilitas antar kota dan antar pulau, tidak hanya di Indonesia tetapi juga di negara-negara yang memiliki karakteristik wilayah dan kepentingan yang serupa, seperti pemerataan distribusi kargo, evakuasi medis dan pertahanan negara. Pesawat komuter kategori CASR 23 ini telah memperoleh Type Certificate (TC) dari Direktorat Jenderal Perhubungan Udara Indonesia pada bulan Desember 2020 dan akan segera disertifikasi oleh EASA (Eropa) yang didukung oleh Airbus Group.

Dengan TKDN 44,69 Persen, Pesawat Turboprop N219 Raih Sertifikasi dari DKPPU Kemenhub

Pada perhelatan ini, PTDI bekerja sama dengan PT Falah Inovasi Teknologi menyediakan N219 Virtual Reality (VR) untuk visualisasi cockpit dan area cabin pesawat secara imersif dan menjadikan pesawat N219 dapat dirasakan dalam dunia tiga dimensi dengan visual yang menakjubkan dan fitur yang akurat. Adapun pada kesempatan ini, PTDI juga menyepakati perjanjian Nota Kesepahaman dengan PT Falah Inovasi Teknologi tersebut untuk pengembangan simulator dan VR untuk kegiatan training dan Maintenance, Repair & Overhaul (MRO) pesawat terbang produk PTDI.

PT DI dan Bappenas Optimalkan Pesawat N219 untuk Pariwisata Bali

Sebagaimana rencana strategis yang diluncurkan oleh Kementerian PPN RI/Bappenas pada tahun 2021 untuk mengembangkan sektor ekonomi di Bali, PT Dirgantara Indonesia (PTDI) sebagai satu-satunya industri kedirgantaraan nasional mengambil perannya dalam pengembangan ekosistem industri kedirgantaraan di Provinsi Bali dalam rangka mendukung Transformasi Ekonomi Kerthi Bali.

Baca juga: Dengan TKDN 44,69 Persen, Pesawat Turboprop N219 Raih Sertifikasi dari DKPPU Kemenhub

Kolaborasi pengembangan ekosistem industri kedirgantaraan di Provinsi Bali tersebut dikukuhkan melalui penandatanganan dokumen Kesepakatan Bersama oleh Deputi Bidang Ekonomi Bappenas, Amalia Adininggar Widyasanti, Pj. Gubernur Bali, Sang Made Mahendra Jaya, Pj. Bupati Buleleng, Ketut Lihadnyana dan Direktur Utama PTDI, Gita Amperiawan di Gedung Wisma Sabha, Kantor Gubernur Bali (16/2).

Bali merupakan wilayah kedua dimana PTDI diberikan kesempatan oleh Bappenas untuk berpartisipasi dalam program transformasi ekonomi nasional melalui optimalisasi pemanfaatan pesawat N219 produksi PTDI setelah sebelumnya di Kepulauan Riau, dimana untuk pengembangan ekosistem industri dirgantara di Bali kali ini akan dimulai dengan mengusung konsep Aviation Training Tourism.

“Kegiatan ini akan memberikan nilai tambah bagi Provinsi Bali, khususnya dalam mendorong penciptaan lapangan kerja yang diharapkan berdampak positif pada pertumbuhan ekonomi Bali, serta yang tidak kalah pentingnya adalah meningkatkan kualitas SDM, khususnya dalam bidang high-tech aviation,” jelas Gita Amperiawan, Direktur Utama PTDI.

Pada kesempatan ini, PTDI yang diwakili Direktur Niaga, Teknologi & Pengembangan, Moh Arif Faisal juga tanda tangani kesepakatan kerja sama pengembangan pusat pelatihan kedirgantaraan dengan Bali International Flight Academy (BIFA); pembangunan fasilitas MRO untuk pesawat terbang dengan PT Mulya Sejahtera Technology (MS Tech); pembangunan fasilitas MRO untuk engine & propulsi pesawat terbang dengan Anak Perusahaannya, dalam hal ini PT Nusantara Turbin & Propulsi (PT NTP); dan pengembangan tourism flight di Bali dengan PT Wisarada Sarana Aviasi (Wise Air).

Adapun N219 merupakan pesawat terbang 100% buatan anak bangsa, hasil kerja sama PTDI dengan Badan Riset & Inovasi Nasional (sebelumnya LAPAN) yang pada tanggal 16 Agustus 2017 telah melakukan uji terbang perdana dan pada tanggal 10 November 2017 diberi nama “Nurtanio” oleh Presiden RI, Joko Widodo, hingga akhirnya berhasil memperoleh Type Certificate (TC) pada tanggal 22 Desember 2020 yang diterbitkan oleh Direktorat Kelaikudaraan & Pengoperasian Pesawat Udara (DKPPU), Kementerian Perhubungan RI, dengan nilai TKDN (Tingkat Komponen Dalam Negeri) sebesar 44,69% yang kemudian akan terus ditingkatkan, sehingga dapat memberikan dampak pertumbuhan (spin-over) terhadap ekosistem industri dalam negeri, termasuk industri di daerah, salah satunya dalam hal pengoperasian maupun kegiatan maintenance/pemeliharaan pesawat.

Pesawat komuter kategori CASR 23, N219 dikembangkan secara khusus untuk dapat mendukung pembangunan konektivitas dan aksesbilitas daerah 3TP (Tertinggal, Terpencil, Terluar dan Perbatasan) dengan kemampuan Short Take Off Landing di landasan yang panjangnya kurang dari 800 meter dan tidak beraspal.

Dalam pemanfaatannya, pesawat N219 dapat digunakan dengan berbagai konfigurasi sesuai kebutuhan pengguna, baik untuk angkut penumpang, logistik, maupun medical evacuation dan flying doctor.

Tiga Tahun Setelah Bernama “Nurtanio,” Inilah Progres Sertifikasi Pesawat N219

Pengembangan ekosistem kedirgantaraan di Bali merupakan langkah awal yang strategis dalam mensukseskan komersialisasi pesawat N219, terlebih dengan pengembangan lanjutan pesawat N219 versi basic menjadi versi amphibious yang akan dimulai pada awal tahun 2024 dengan dukungan penuh dari Bappenas, yang kemudian kedua versi pesawat tersebut akan memiliki peran penting dalam peningkatan konektivitas wilayah Bali, khususnya sebagai hub pariwisata Indonesia.

Sajikan 77 Juta In-flight Meals Setiap Tahun, Inilah Strategi yang Diterapkan Emirates

Sebagai salah satu maskapai terbesar di dunia yang melayani lebih dua per tiga negara di dunia, maka dapat dipastikan penanganan pada jasa layanan penumpang akan menjadi sesuatu yang sangat krusial. Dalam satu tahun operasi, setidaknya Emirates menyajikan 77 juta makanan di dalam pesawat (in-flight meals).

Baca juga: Jaga Rasa Masakan Tetap Lezat di Ketinggian 35.000 Kaki, Inilah yang Dilakukan Para Koki

Menurut Cirium, sebuah perusahaan analisis penerbangan, Emirates telah menjadwalkan hampir 171,000 penerbangan pada tahun ini. Dan belum lama ini, Emirates telah mengungkapkan apa saja yang diperlukan untuk memberi pasokan makan penumpang dalam jumlah sedemikian besar dengan kualitas terbaik.

Selama ini Emirates menyajikan lebih dari 77 juta makanan dalam penerbangan kepada penumpangnya setiap tahun. Untuk membaginya menjadi angka yang lebih kecil, maka setara dengan 215.000 makanan dalam 490 penerbangan setiap hari, dan sekitar 149 setiap menit.

Untuk operasi semacam itu, maka Emirates memerlukan jasa 1.400 koki, dan sebagian besar pekerjaan dilakukan di Fasilitas Katering Penerbangan Emirates di kantor pusatnya di Dubai. Namun, operator ini juga mengambil inspirasi dari tempat lain dan menyajikan, misalnya, 40 juta keping coklat buatan tangan setiap tahunnya dari penyedia di seluruh dunia.

Di tempat lain, Emirates menggunakan sekitar 3,5 juta botol minyak zaitun Monte Vibiano Italia untuk sekali saji setiap tahunnya, serta 14.000 kg keju feta Persia Varra Valley dari Australia. Sedikit lebih dekat dengan rumah, 2,3 juta kantong teh Dilmah Sri Lanka disajikan setiap tahun, serta 250.000 kurma Bateel dari negara asal operator tersebut, Uni Emirat Arab.

Mengingat reputasinya sebagai maskapai papan atas, Emirates juga mempunyai persediaan makanan yang lebih mewah. Yang paling menonjol, penumpang kelas satu maskapai ini mengonsumsi 10.350 kg kaviar tahun lalu, dengan para penumpang dan tamu kelas bisnis ini secara kolektif mengonsumsi 1,2 juta steak.

Selera Makan Berubah dalam Penerbangan? Inilah Sebabnya

Lebih dari 2.200 resep digunakan Emirates setiap bulannya, ayam segar termasuk yang paling banyak jumlahnya, dengan sekitar enam juta kilogram disajikan dalam setahun. Daging sapi dan salmon masing-masing memiliki berat 350.000 dan 366.000 kilogram. Dari segi karbohidrat, disajikan 2,2 juta kilogram kentang dan 3,1 juta kilogram roti dan kue kering.

Dikutip Simple Flying, kualitas makanan adalah suatu hal yang penting, namun hal tersebut harus dibarengi dengan layanan berkualitas untuk memperkuat kredibilitas sebuah maskapai penerbangan. Hal ini tentu saja diterapkan Emirates, dan maskapai penerbangan tersebut menjelaskan dalam pernyataan hari ini bahwa “awak kabin menjalani pelatihan ekstensif mengenai praktik terbaik layanan, penyajian makanan, rekomendasi pemasangan wine, layanan teh dan kopi termasuk layanan kopi Arab, dan banyak lagi.”

General Electric CC206, Generasi Lokomotif Termodern PT KAI

Meski telah memiliki banyak armada dan layanan kereta api, sampai saat ini untuk urusan kecepatan, PT KAI paling banter baru mampu menghadirkan kereta ‘tercepat’ di level kecepatan 120 km per jam, yang predikatnya dipegang oleh Argo Bromo Anggrek. Kereta rute Gambir – Surabaya Pasar Turi ini dapat menempuh jarak 725 km dengan waktu 9,5 jam. Bila dirata-ratakan, kecepatan maksimal dari kereta kebanggaan Daop VIII Surabaya ini dapat menyentuh angka 120 km per jam.

Baca juga: Beda dengan Mobil dan Pesawat, Inilah Alasan Mesin Lokomotif Diesel Listrik Tidak Pernah ‘Mati”

Dalam roadmap-nya, PT KAI tidak mau ketinggalan trend soal kereta cepat, terbukti dengan datangnya kabar soal rencana proyek kereta api Trans Sulawesi yang dicanangkan menjadi kereta api tercepat di Indonesia. Mengapa demikian? Karena kereta Trans Sulawesi ditaksir dapat mencapai kecepatan maksimum hingga 200 km per jam. Rencananya, proyek ini akan rampung pada tahun 2017 ini.

Sembari menunggu realisasi kereta cepat PT KAI yang mampu mencapai 200 km per jam, PT KAI kini terus memodernisasi armada lokomotifnya, dan sebagai yang terbaru adalah lokomotif CC206. Lokomotif diesel elektrik ini dibeli dari General Electric Transportation, Amerika Serikat. Rencana KAI untuk menambah armada lokomotif ini sebenarnya sudah muncul sejak tahun 2010, namun baru terealisasi pada tahun 2012. Tidak tanggung-tanggung, sebanyak 100 unit CC206 dipesan tanpa bogie.

Bogie atau kaki-kaki roda dirakit oleh PT. Barata Indonesia dimana nantinya akan dipasang di Balai Yasa Yogyakarta. Pembelian CC206 ini sebenarnya dilandasi oleh PT. KAI yang menginginkan kereta api yang sudah dipadukan dengan teknologi komputer, berkabin ganda, dan tentu saja kuat. Dari segi layar display, PT. KAI menginginkan kereta api dengan layar display yang jauh lebih baik dari armada sebelumnya, CC204. CC206 memiliki kabin ganda yang memungkinkan lokomotif dapat berputar tanpa harus berada di atas pemutar rel (turntable).

Pada awalnya, lokomotif CC206 ini dikhususkan sebagai lokomotif penarik barang saja, namun karena jumlahnya yang terus bertambah, akhirnya lokomotif ini pun digunakan sebagai penarik kereta penumpang semua kelas hingga kereta barang.

Ciri khas lokomotif ini memiliki 2 bogie dengan konfigurasi C-C (Co’Co’), yaitu 3 buah roda penggerak di setiap bogie-nya. Perbedaan dengan lokomotif diesel elektrik General Electric lainnya dengan jenis yang sama adalah lokomotif ini memiliki 2 kabin masinis di ujung muka dan belakang seperti halnya lokomotif di Eropa pada umumnya. Dapur pacu lokomotif ini disokong mesin GE 7FDL-8 versi terbaru yang emisinya setingkat dengan emisi lokomotif Dash-9 di Amerika Serikat, dengan daya mesin sebesar 2250 hp dan punya kecepatan maksimum 120 km per jam.

Baca juga: Rack Railway System, Mudahkan Lokomotif Lintasi Medan Terjal

Sedangkan untuk perangkat elektroniknya menggunakan komputer GE BrightStar Sirius yang dipadukan dengan layar monitor GE Integrated Function Display (GE IFD) seperti yang ada di lokomotif Dash-9. Ini menjadikan CC206 merupakan lokomotif dengan layar monitor komputer kendali kedua di Indonesia setelah CC205, dan lokomotif GE pertama di Indonesia dengan teknologi layar display tersebut.

Lokomotif ini juga menggunakan klakson yang berbeda dari lokomotif sebelumnya, yang membuat lokomotif ini dijuluki “Si Puong”. Kuada Besi asal Negeri Paman Sam ini punya daya tarik mencapai 30 gerbong barang, dan 16 gerbong penumpang untuk satu lokomotif penarik.

Progress Rail Pasok 54 Unit Lokomotif ‘Ramah Lingkungan’ CC205 ke PT KAI

PT Kereta Api Indonesia (Persero) bersama Progress Rail melakukan penandatanganan Kontrak Kerja Sama pengadaan 54 lokomotif di Gedung Jakarta Railways Center, Jakarta Pusat. Penandatanganan perjanjian ini dilakukan oleh Direktur Niaga KAI Hadis Surya Palapa dan Area Sales Director Asia Pacific and South East Asia Progress Rail Matthew Dunwoodie dan disaksikan oleh Direktur Jenderal Perkeretaapian Mohamad Risal Wasal, Commercial Attaché Kedutaan Besar Amerika Serikat Melissa A. Marszalek, serta Direktur Utama KAI Didiek Hartantyo.

Baca juga: General Electric CC206, Generasi Lokomotif Termodern PT KAI

“Penandatanganan kontrak ini adalah sebagai wujud nyata kehadiran pemerintah dalam menyediakan transportasi kereta api untuk masyarakat melalui layanan KAI. Lokomotif ini dilengkapi dengan teknologi terbaru dan fitur-fitur yang ramah lingkungan. Sehingga mampu untuk mencapai standar yang tinggi dalam mendukung keberlangsungan lingkungan,” ujar Didiek di Jakarta, Kamis (15/2), seperti dikutip Koran Jakarta.

Kesepakatan ini merupakan salah satu langkah strategis KAI dalam rencana pengembangan angkutan barang di Sumatera Selatan. Pengadaan sarana sejumlah 54 lokomotif baru ini, merupakan kelanjutan dari pembelian 91 lokomotif sebelumnya yang telah KAI terima sejak tahun 2011.

Lokomotif yang akan didatangkan tersebut berjenis GT38AC atau yang dikenal di Indonesia sebagai CC205. Kemampuan menarik kereta atau gerbong yang besar dari jenis lokomotif ini telah memberikan dampak yang signifikan dalam hal efisiensi dan emisi karbon yang dikeluarkan.

“Lokomotif jenis ini dirancang khusus untuk lingkungan Asia Tenggara dan telah terbukti beroperasi secara baik dengan menggunakan bahan bakar biodiesel (B35) yang ramah lingkungan. Fitur-fitur lokomotif ini di antaranya memiliki mesin 710 delapan silinder, motor traksi AC yang kuat dan tahan lama, serta rancangan kabin dan bodi lokomotif yang mendukung visibilitas masinis,” katanya.

Ke-54 lokomotif tersebut akan datang secara bertahap mulai April 2025 hingga April 2026. Pengadaan lokomotif tersebut akan mendukung target 85 juta ton angkutan batu bara di Sumatera Bagian Selatan di tahun 2026, dimana pada 2023 telah tercapai sebanyak 51 juta ton. Pembelian lokomotif ini juga dimaksudkan untuk mendukung pertumbuhan energi domestik dan memenuhi permintaan energi di dunia internasional yang terus meningkat.

Lokomotif CC205 Batch 3 Tiba di Indonesia, Dukung Mobilitas Kereta Barang dan Penumpang

Progress Rail
Progress Rail adalah anak perusahaan dari Caterpillar yang fokus pada solusi transportasi rel, termasuk pembuatan dan perawatan lokomotif, serta layanan terkait lainnya. Progress Rail telah berkembang menjadi salah satu pemain utama dalam industri transportasi rel, dengan menyediakan berbagai produk dan layanan untuk mendukung operasi rel di seluruh dunia.

Kantor pusat Progress Rail terletak di Albertville, Alabama, Amerika Serikat. Progress Rail juga memiliki kantor cabang dan fasilitas produksi di berbagai lokasi di seluruh dunia untuk mendukung operasinya dalam industri transportasi rel.

Hari Ini dalam Sejarah, Helikopter BO-105 Terbang Perdana, Ikut Jadi Kebanggaan di Indonesia

Hari ini, 57 tahun lalu yang bertepatan dengan 16 Februari 1967, menjadi momen bersejarah dalam industri helikopter dunia, yakni merupakan tanggal penerbangan perdana (first flight) BO-105 oleh Messerschmitt-Bölkow-Blohm (MBB), pabrikan dirgantara asal Jerman Barat.

Baca juga: Mengenal Jasa Penerbangan Charter di Indonesia

Menyebut nama BO-105 tentu tak asing lagi, diproduksi secara lisensi oleh PT Dirgantara Indonesia (d/h PT IPTN), helikopter ini lekat dengan label NBO-105 dan secara luas digunakan oleh institusi militer, kepolisian, pemerintahan dan swasta.

BO-105 adalah helikopter ringan bermesin ganda yang dikembangkan oleh Bölkow dari Ottobrunn, Jerman Barat. Debut yang melekat pada BO-105 pada saat diperkenalkan adalah sebagai helikopter bermesin ganda ringan pertama di dunia, dan helikopter pertama yang dapat melakukan manuver aerobatik seperti loop terbalik – yang pernah diperlihatkan dalam Indonesia AirShow 1986.

BO-105 menampilkan sistem rotor tanpa engsel yang revolusioner dan menjadi inovasi perintis dalam segmen helikopter ketika diperkenalkan ke dalam layanan pada tahun 1970. Fasilitas produksi utama BO-105 berlokasi di Jerman dan Kanada. Namun, karena tingkat penjualan ekspor yang meningkat, maka jalur produksi tambahan didirikan di Spanyol, Indonesia, dan Filipina.

MBB kemudian menjadi bagian dari Eurocopter pada tahun 1991, yang melanjutkan produksi BO-105 series hingga tahun 2001. BO-105 secara resmi diganti dalam rangkaian produk Eurocopter dengan seri Eurocopter EC135 yang lebih baru. Sejak diproduksi tahun 1967 sampai tahun 2001, total 1.500 unit BO-105 telah diproduksi dalam berbagai varian.

Lisensi atas produksi NBO-105 pada tahun 1976, menjadikan kebanggaan tersendiri bagi Indonesia, khususnya PT IPTN. Meski jalur produksinya kini telah dihentikan, namun, total PT IPTN telah memproduksi 123 unit NBO-105, bahkan ada satu unit yang diekspor ke Yordania.

Varian yg diproduksi oleh PT IPTN adalah NBO-105 CB, NBO-105 CBS (versi yang diperpanjang mulai produksi pada helikopter ke 101 dan seterusnya) dan NBO 105S (versi yang diperpanjang juga). Dari keseluruhan helikopter, hanya rotor dan transmisi yg disuplai oleh Jerman.

Baca juga: Ternyata! British Airways Pernah Operasikan Helikopter Angkut Berat CH-47 Chinook

Pengguna utamanya di Indonesia adalah TNI AD, TNI AL dan Polri. Namun, NBO-105 juga digunakan oleh instansi sipil seperti Kementerian Kehutanan RI, PT ATS (AIR Transport Services), Surya Air (PT Gudang Garam), Basarnas dan Pelita Air Service

Sajian Makanan di Pesawat Wajib Ekstra Bumbu, Inilah Alasannya!

Apa yang Anda rasakan saat menyantap makanan dalam pesawat di penerbangan layanan penuh alias full service? Kebanyakan orang menyebut ada sesuatu yang terasa berbeda dari makanan yang biasanya Anda santap kala di daratan, padahal bisa disebut makanan yang Anda santap serupa nama menunya.

Baca juga: Selera Makan Berubah Dalam Penerbangan? Inilah Sebabnya

KabarPenumpang.com merangkum dari menshealth.com.sg (12/6/2017), pangkal musababnya di ketinggian 30 ribu kaki (9,1 km), biasanya selera dan indera penciuman Anda adalah hal yang pertama berubah. Sebab, semakin tinggi pesawat, maka semakin tinggi pula tekanan udara dan kelembaban di kabin akan menurun.

Biasanya kelembaban dalam kabin hanya 20 persen yakni lebih rendah 10 persen dari di rumah Anda. Director of the National University of Singapore’s (NUS) food science and technology programme, Profesor Zhuo Weibiao mengatakan, bau dan selera Anda akan berubah relatif karena tekanan lingkungan dan kelembaban yang berbeda di udara. Tak hanya itu, kebisingan dan guncangan juga sedikit memengaruhi selera makan.

Tahun 2010 lalu, sebuah penelitian dilakukan oleh Institut Fraunhofer Jerman yang ditugaskan oleh maskapai Jerman Lufthansa, menemukan bahwa kombinasi kekeringan dan tekanan rendah bisa mengurangi kepekaan rasa pada makanan manis dan asin sekitar 30 persen. Karena tekanan udara yang turun, memaksa cairan tubuh naik.

Baca juga: Gandeng Merek Restoran Ternama, Dongkrak Popularitas Layanan Penerbangan

Berkurangnya tingkat kelembaban, bisa membuat tenggorokan Anda sedikit kering dan membuat tekanan udara dan sensor bau ke otak dan indera perasa mengalami perbedaan. Ini membuat Anda seperti sedang flu dimana saat merasa dingin, lendir pada hidung akan mengering dan mengurangi bau serta indera perasa.

Selain kelembaban dan tekanan udara, para psikolog juga menemukan hal baru yakni, dimana kebisingan bisa memengaruhi selera makan Anda dalam pesawat. Studi yang dilakukan tahun 2015 pada labratorium Makan dan Minuman Cornell Univesity menunjukkan bahwa persepsi seseorang tentang perubahan rasa dalam kabin pesawat yang memiliki kebisingan lebih dari 85 desibel.

Guncangan pesawat juga bisa menstimulasi saraf telinga tengah dan membuat intensitas rasa manis menurun. Umami, adalah rasa yang sering disebut selera makan kelima untuk cita rasa gurih sehingga menjadi lebih terkonsentrasi.

Saat ini, untuk mengatasi selera makan yang berubah, maskapai penerbangan menemukan solusi-solusi menarik. British Airways, menggunakan soundtrack pada headphone agar sesuai dengan makanan yang disajikan. Sealin itu penambahan bumbu juga diperlukan untuk membuat makanan memiliki rasa dan tidak hambar saat dimakan.

Baca juga: Ada ‘Sesuatu’ di Hidangan Full Service, Antara Fakta dan Sensasi dalam Penerbangan

Sebenarnya, penambahan garam dan gula yang berlebih pada makanan, untuk membuat lidah Anda merasakan nikmatnya makanan bisa membuat makanan menjadi kurang sehat dari nilai gizi. Peneliti merekomendasikan agar katering maskapai menambah bumbu untuk membuat makanan dalam penerbangan lebih enak. Seperti kari, yang cenderung lebih bertahan dengan baik dan memiliki kelembaban lebih banyak dari bumbu lainnya.

Baca juga: Sajikan Hidangan Khas Menu di Pesawat, Air New Zealand Buka Restoran Pop Up

Beberapa koki penerbangan juga tampil dengan menu yang kaya akan umami (penyedap rasa), yang tidak terpengaruh oleh ketinggian. Inilah sebabnya mengapa banyak menu dalam penerbangan menampilkan hidangan dengan jamur, tomat dan kecap berbasis kecap. Makanan dalam penerbangan juga menjadi percobaan sains, dengan perusahaan penerbangan menguji makanan di lingkungan yang meniru kabin pesawat.

Penyedia katering penerbangan, Sats, yang dioperasikan oleh Singapore Airlines, memiliki kabin pesawat simulasi di pusat katering in-flight mereka di Bandara Changi, dimana makanan dimasak dan diuji dalam kondisi tekanan rendah. Banyak piring dalam penerbangan telah dikembangkan oleh perusahaan penerbangan berdasarkan penelitian di fasilitas ini. Rasa anggur diketahui juga terasa berbeda dalam penerbangan.

Outflow Valve, ‘Penyambung Nyawa Penumpang’ dari Perubahan Tekanan Kabin Pesawat

Mungkin Anda pernah mendengar insiden adanya perubahan tekanan udara yang tiba-tiba pada kabin. Tentu itu kondisi yang sangat rawan bagi keselamatan penumpang. Meski penyebabnya bisa karena beberapa faktor, namun salah satunya bisa terjadi terkait dengan outflow valve. Nah, mengingat peran vital dari outflow valve, maka ada baiknya Anda mengenal perangkat ini.

Baca juga: Bila Awak Kabin Lupa Mengatur Tekanan Udara, Inilah yang Akan Terjadi Pada Penumpang!

Dari definisi, outflow valve adalah sebuah komponen pada pesawat yang mengatur aliran udara keluar dari kabin. Fungsinya adalah untuk menjaga tekanan udara di dalam kabin agar tetap stabil selama penerbangan. Outflow valve akan membuka atau menutup sesuai dengan perintah dari sistem pengatur tekanan kabin untuk mempertahankan tekanan udara yang aman dan nyaman bagi penumpang dan awak pesawat.

Outflow valve sangat penting bagi penumpang pesawat karena berperan dalam menjaga keseimbangan tekanan udara di dalam kabin selama penerbangan. Tanpa outflow valve yang berfungsi dengan baik, tekanan udara di dalam kabin dapat berubah secara tiba-tiba, yang dapat menyebabkan ketidaknyamanan bagi penumpang, seperti sakit telinga atau tekanan pada tubuh.

Sementara, jika outflow valve mengalami kerusakan atau tidak berfungsi dengan baik, hal ini dapat menyebabkan beberapa masalah dalam kabin pesawat, antara lain:

Perubahan tekanan udara yang tiba-tiba
Tanpa pengaturan yang tepat dari outflow valve, tekanan udara di dalam kabin dapat berubah secara tiba-tiba. Hal ini dapat menyebabkan ketidaknyamanan bagi penumpang, seperti sakit telinga atau tekanan pada tubuh.

Kondisi tidak aman
Jika tekanan udara di dalam kabin tidak teratur, hal ini dapat menciptakan kondisi yang tidak aman bagi penumpang dan awak pesawat. Perubahan tekanan udara yang tiba-tiba juga dapat menyebabkan kerusakan struktural pada pesawat.

Kehilangan kontrol tekanan kabin
Outflow valve juga berperan dalam menjaga tekanan udara yang sesuai di dalam kabin. Jika outflow valve tidak berfungsi, maka kontrol tekanan udara di dalam kabin menjadi sulit, yang dapat membahayakan keselamatan penerbangan.

Pada Kondisi Darurat Ini, Masker Oksigen Akan Turun Secara Otomatis di Kabin Pesawat

Karena itu, outflow valve harus selalu dalam kondisi baik dan berfungsi dengan optimal untuk menjaga keseimbangan tekanan udara di dalam kabin pesawat selama penerbangan. Apabila terjadi kerusakan atau masalah dengan outflow valve, maka perlu dilakukan perbaikan atau penggantian segera untuk mencegah potensi masalah keselamatan dan kenyamanan bagi penumpang.