Menguak Sejarah Stasiun Legendaris di Kota Batik

Berada di wilayah Daerah Operasi 4 Semarang, siapa yang tak mengenal dengan stasiun yang satu ini. Ya, berada di jalur utara dan paling terkenal dengan sebutan Kota Batik. Inilah Stasiun Pekalongan yang merupakan stasiun besar tipe C yang tentunya memiliki sejarah yang melegenda.

Stasiun Kereta Api (KA) yang terletak di Jl. Gajah Mada, Bendan, Pekalongan Barat, Kota Pekalongan, Jawa Tengah ini, berada di tempat yang sangat strategis karena persis berada di Jalan Pantura. Semua kereta api yang melintas tentu berhenti di Stasiun Pekalongan, kecuali rangkaian KA Argo Bromo Anggrek.

Rangkaian kereta api memasuki Stasiun Pekalongan. (Foto: Dok. Istimewa)

Selain stasiunnya yang memiliki bangunan yang besar, tentunya memiliki sejarah yang panjang dan melegenda. Stasiun Pekalongan mulai dibuka untuk umum sejak 1 Februari 1899. Pembukaan itu sekaligus peresmian lintas seksi terakhir Pekalongan–Pemalang sejauh 33,8 Kilometer dari total keseluruhan pembangunan jalur trem uap Cirebon-Pekalongan-Semarang.

Sepanjang tahun-tahun awal operasional stasiun,penggunaannya lebih banyak ditujukan untuk tempat mengumpulkan hasil panen tanaman ekspor sebelum dikirim ke pelabuhan Semarang.

Sebelum direnovasi, Stasiun Pekalongan lama hanya terdiri dari bangunan utama, yaitu ruang administrasi stasiun yang terbuat dari bangunan bata sederhana dengan atap genteng dan kanopi tang kayu untuk tempat penumpang dan bongkar barang.

Stasiun Kota Pekalongan Sementara, seiring pergantian abad,kritikan kaum liberal terhadap sistem tanam paksa (1830-1870) mengubah pola pikir sebagian orang Belanda tentang tanggung jawan moral mereka terhadap kesejahteraan bangsa pribumi di Indonesia.

Pada proyek peningkatan jalan Trem Cirebon-Pekalongan-Semarang menjadi jalur kereta api (1912-1921), stasiun Pekalongan turut direnovasi besar. SCS membongkar stasiun lama dan membangun stasiun baru yang lebih megah. Peresmian stasiun baru Pekalongan dilaksanakan pada tahun 1919.

Arsitekturnya pun dibuat untuk menyambut lebih ramah kepada penumpang, Kanopi yang menaungi peron penumpang dibuat berbahan genteng merah. Adapun desain bangunan-bangunan di bawah kanopi itu masih ada pengaruh gaya Yunani kuno, tetapi lebih banyak bernuansa “Art Nouveau” yaitu sederhana dan sedikit ornamen.

Campuran kesederhanaan bangunan bawah kanopi dan pemandangan kerumitan balok-balok kayu saling tersambung pada bagian bawah atap kanopi justru memberikan kesan megah kepada orang yang melihatnya.

Stasiun Pekalongan menjadi daya tarik wisatawan karena lokasinya yang strategis dekat dengan berbagai kawasan wisata, salah satunya adalah Museum Batik Pekalongan yang berlokasi di Jl. Jetayu No. 3, Panjang Wetan, Pekalongan Utara, dan diresmikan pada 12 Juli 2006.

Bangunan museum tersebut memiliki arsitektur kolonial Belanda dari tahun 1920. Dahulu, bangunan ini pernah digunakan sebagai kantor keuangan pabrik gula, kantor walikota, dan kantor Badan Perencanaan Pembangunan Daerah.

Keberadaan sebuah stasiun kereta api, apalagi stasiun besar di suatu daerah adalah nikmat yang wajib hukumnya untuk disyukuri. Warga Pekalongan harus sadar akan hal itu karena tidak semua daerah di Jawa punya stasiun sebesar, sesibuk, dan bersejarah termasuk Stasiun Pekalongan.

[Video] Stasiun Plabuan – Stasiun Aktif di Indonesia yang Berdiri Kokoh di Tepi Laut Jawa

Seni Terbang Tanpa Goyah: Mengapa Manuver Pesawat Terasa ‘Normal-Normal Saja’ Bagi Penumpang

Saat Anda menatap ke luar jendela dan melihat sayap pesawat miring tajam (disebut banking atau roll), Anda mungkin berpikir akan merasakan sentakan keras ke samping. Namun, yang terjadi justru sebaliknya, penerbangan terasa mulus, dan minuman Anda tetap stabil di meja baki.

Sensasi “normal-normal saja” ini bukanlah kebetulan, melainkan hasil dari penerapan prinsip fisika aeronautika yang sangat canggih yang disebut Penerbangan Terkoordinasi (Coordinated Flight).

Dalam penerbangan komersial, pilot (atau sistem autopilot) tidak hanya membelokkan roda kemudi (rudder) atau memiringkan sayap. Mereka melakukan penyesuaian yang sangat hati-hati.

Bila di darat, seperti saat mobil berbelok, Anda merasa terlempar ke luar karena adanya Gaya Sentrifugal (gaya yang mendorong Anda menjauhi pusat belokan), maka pada pesawat komersial, pilot secara cerdas menggunakan sudut kemiringan sayap (bank angle) untuk menghasilkan gaya yang menyeimbangkan gaya sentrifugal ini secara sempurna.

Ketika sayap dimiringkan, gaya angkat (lift) pesawat tidak hanya mengarah ke atas, tetapi juga memiliki komponen horizontal yang menarik pesawat masuk ke dalam belokan. Gaya yang menarik ke luar (sentrifugal) diimbangi oleh gaya yang menarik ke dalam (komponen lift horizontal).

Lima Manuver Pesawat yang Membentuk Gambar di Langit Selama Pandemi Covid-19, Nomor 4 “Jorok”

Karena gaya samping (sideways force) dinetralkan, satu-satunya gaya signifikan yang tersisa dan dirasakan penumpang adalah gaya resultan ke bawah (tegak lurus terhadap lantai kabin).

Dengan kata lain, Anda hanya merasa sedikit lebih “berat” atau “tertekan” ke kursi (seperti sensasi saat naik di roller coaster saat memasuki belokan yang dirancang mulus), bukan didorong ke samping. Hal ini membuat belokan terasa seperti Anda sedang terbang lurus.

Pesawat jet komersial adalah mesin raksasa dengan inersia (kecenderungan untuk mempertahankan keadaan gerak) yang sangat besar. Bobot dan ukuran pesawat yang besar bertindak sebagai peredam alami terhadap gerakan kecil. Manuver sekecil apa pun akan terasa lebih lembut dan kurang mendadak daripada di mobil atau pesawat kecil (seperti Cessna).

Manuver pada pesawat komersial dilakukan secara bertahap dan halus, meminimalkan gerakan mendadak yang dapat menimbulkan ketidaknyamanan bagi penumpang.

Pesawat modern dilengkapi dengan sensor canggih yang secara konstan memantau percepatan samping, seperti autopilot dirancang untuk memastikan bahwa setiap belokan dilakukan dengan sempurna, meminimalkan “slip” atau “skid” (gerakan menyamping yang tidak perlu) yang dapat menimbulkan goncangan samping.

Pada dasarnya, rasa smooth yang Anda rasakan adalah bukti keberhasilan ilmu fisika. Pilot atau autopilot melakukan pekerjaan yang luar biasa untuk menyeimbangkan gaya sentrifugal dengan komponen gaya angkat secara presisi, sehingga pengalaman Anda di dalam kabin tetap nyaman dan “normal” meskipun Anda sedang berbelok di udara.

Jangan Lagi Takut Turbulensi, Teknologi ini Bisa Buat Pesawat Nyaris Terbang Mulus

Selimut di Kereta Api Ternyata Dikelola Higienis dengan Standar Tinggi

Dalam upaya menjaga kenyamanan serta memenuhi standar layanan kepada penumpang kereta api, KAI Services memperkuat pengelolaan selimut kereta melalui proses pencucian yang higienis, modern, dan terkontrol. Sepanjang Januari hingga Oktober 2025, KAI Services telah mengelola dan mencuci sedikitnya 3,6 juta selimut yang digunakan penumpang selama perjalanan.

Seluruh proses pencucian tersebut didukung oleh 44 SDM terlatih yang tersebar di berbagai wilayah kerja. Para petugas menjalankan proses operasional berbasis standar industri, mulai dari pencucian, pengeringan, hingga pengemasan, sehingga memastikan selimut yang diberikan kepada penumpang selalu dalam kondisi bersih, aman, dan nyaman.

Untuk menjaga kapasitas layanan tetap optimal, KAI Services mengoperasikan rangkaian peralatan laundry yang berstandar industri. Saat ini, KAI Services memiliki total 28 unit washer, terdiri dari 9 washer berkapasitas 20 kg dan 19 washer berkapasitas 40 kg. Pada proses pengeringan, tersedia 14 dryer listrik yang mencakup 4 unit berkapasitas 16 kg, 8 unit berkapasitas 40 kg, dan 2 unit berkapasitas 60 kg. Selain itu, kapasitas operasional juga diperkuat oleh 27 dryer gas, yang terdiri dari 7 unit berkapasitas 16 kg dan 20 unit berkapasitas 40 kg, serta 2 unit roll ironer untuk memastikan hasil akhir kain tetap rapi dan higienis.

Seluruh peralatan ini ditempatkan strategis di sejumlah regional untuk memastikan efisiensi operasional dan kecepatan layanan, yaitu di Jakarta, Bandung, Cirebon, Semarang, Purwokerto, Yogyakarta, Solo, Surabaya, Malang, Banyuwangi, Medan, Palembang, Tanjung Karang, dan Lubuk Linggau. Secara keseluruhan, terdapat 14 lokasi pengelolaan laundry yang beroperasi setiap hari dan didukung oleh peralatan yang handal untuk memastikan proses pencucian, pengeringan, dan penyetrikaan berjalan dengan standar tinggi.

Sebagai langkah peningkatan layanan, KAI Services akan menambah mesin laundry heavy-duty guna mempercepat proses pencucian dan meningkatkan kapasitas harian, terutama pada periode dengan volume perjalanan yang meningkat.

Manager Corporate Communication KAI Services, Nyoman Suardhita, menegaskan bahwa peningkatan fasilitas dan proses laundry merupakan bagian dari komitmen KAI Services dalam mendukung layanan PT Kereta Api Indonesia (Persero).

Dengan pengelolaan selimut yang terstandar dan modern, KAI Services berupaya memperkuat keandalan layanan serta menghadirkan pengalaman perjalanan kereta api yang semakin nyaman dan terpercaya bagi seluruh pelanggan.

Enam Kereta dengan Perjalanan Paling Romantis Bersama Pasangan

KA Argo Wilis, Turangga, dan Parahyangan Kini Gunakan Gerbong Stainless Steel New Generation

Awal Desember memang yang paling dinantikan bagi yang tengah merasakan kereta api (KA) yang dijuluki ‘raja selatan’ ini. Ya, KA Argo Wilis dan KA Turangga resmi gunakan rangkaian jenis stainless steel New Generation buatan PT Industri Kereta Api (INKA) Madiun. Dari semua rangkaian kelas argo maupun eksekutif utama dilintas lainnya sudah di prioritaskan gunakan new generation.

Hal ini tentu berpeluang pada peningkatan okupansi penumpang karena pelanggan akan semakin nyaman dengan inovasi yang meningkatkan kenyamanan penumpang dan alternatif pilihan kelas kereta pun bertambah. Rangkaian baru ini pun menambah daftar baru sebagai rangkaian new generation di lintas selatan Pulau Jawa sebagai kereta unggulan.

Masyarakat yang ingin mencoba perjalanan KA Argo Wilis dan KA Turangga dengan sarana terbaru ini dapat melakukan pemesanan tiket KA baik melalui aplikasi Access by KAI, laman kai.id, serta melalui semua saluran resmi pemesanan tiket kereta api lainnya yang telah bekerja sama dengan KAI.

Ternyata tak hanya KA Argo Wilis dan KA Turangga saja yang gunakan jenis new generation ini. Diketahui bahwa KA Parahyangan juga turut andil menggunakan rangkaian new generation. Pasalnya rangkaian yang digunakan KA Parahyangan termasuk rangkaian KA Argo Wilis maupun KA Turangga yang selesai masa dinasnya.

Seperti yang pernah di jelaskan pada laman kabarpenumpang.com, mengatakan bahwa KA Parahyangan kini sudah tak punya rangkaian sendiri alias menggunakan rangkaian yang ‘nganggur’. Jadi masyarakat yang ingin menggunakan KA Parahyangan new generation bisa memilih jadwal keberangkatan pada jam berikut ini:

Jadwal KA Argo Wilis, KA Turangga, dan KA Parahyangan gunakan rangkaian stainless steel new generation.

Diketahui bahwa kereta Stainless Steel New Generation memiliki fresh look interior dengan tempat duduk berjenis captain seat sehingga akan meningkatkan kenyamanan bagi pelanggan KA ketika melakukan perjalanan dengan waktu tempuh yang panjang.

Interior kereta new generation didesain dengan nuansa interior yang lebih cerah dengan foot rest dan legroom yang lega. Tersedia juga electric socket dan USB port di tiap kursi. Tak hanya itu, modifikasi juga dilakukan pada toilet dengan penggunaan toilet duduk dilengkapi wastafel dan hand dryer. Selain itu tersedia tempat ibadah di kereta restorasi.

Dengan ketersediaan rangkaian kereta new generation, KAI akan terus meningkatkan kenyamanan para pelanggan KA. Minat masyarakat tentu akan semakin besar dalam menggunakan transportasi massal kereta api yang selamat, aman, nyaman, dan tepat waktu serta mendukung kelestarian lingkungan untuk keberlanjutan.

Selain Kenyamanan, Ini Alasan Lainnya KAI Perbanyak Kelas Ekonomi New Generation

Vietjet Tawarkan eSIM SkyFi Gratis Hingga 31 Desember 2025 

Vietjet menghadirkan kejutan menarik di musim liburan bagi para wisatawan internasional. Mulai saat ini hingga 31 Desember 2025 mendatang, Vietjet menyediakan eSIM SkyFi secara gratis untuk semua penumpang mancanegara yang terbang ke Vietnam demi memastikan perjalanan mereka lebih nyaman dan tetap terhubung sejak kedatangan.

Wisatawan yang memesan tiket penerbangan internasional, termasuk empat rute penerbangan langsung yang menghubungkan Jakarta, Bali dengan Ho Chi Minh City dan Hanoi melalui situs resmi www.vietjetair.com atau aplikasi Vietjet Air akan memperoleh eSIM SkyFi gratis dengan kuota data berkecepatan tinggi sebesar 500MB yang berlaku selama 31 hari setelah kedatangan (syarat dan ketentuan berlaku).

Untuk mendapatkannya, penumpang cukup memilih opsi eSIM pada tahap layanan tambahan saat melakukan pemesanan. eSIM kemudian akan dikirim ke email mereka dan dapat langsung diaktifkan dengan pemindaian cepat.

Penawaran ini juga memudahkan wisatawan untuk tetap terhubung saat menjelajahi beragam keindahan alam dan kota-kota penuh semarak di Vietnam, mulai dari dinamika Kota Ho Chi Minh, kesejukan Hanoi di akhir tahun, hingga ketenangan pantai Phu Quoc. SkyFi eSIM memastikan akses data tetap lancar untuk melakukan navigasi, komunikasi, berbagi di media sosial, dan berbagai kebutuhan digital lainnya.

 

Mengapa Jendela Harus Dibuka dan Kursi Ditegakkan? Aturan Keselamatan Penerbangan Wajib Saat Takeoff dan Landing

Pramugari selalu mengingatkan penumpang untuk membuka penutup jendela dan menegakkan sandaran kursi sesaat sebelum lepas landas (takeoff) dan mendarat (landing). Aturan ini bukanlah sekadar masalah kenyamanan, melainkan bagian integral dari protokol keselamatan darurat global yang dirancang untuk menyelamatkan nyawa dalam hitungan detik.

Alasan utama di balik aturan membuka penutup jendela berfokus pada asesmen kondisi darurat yang cepat, baik oleh kru maupun penumpang.

Pramugari adalah mata dan telinga pertama kru kokpit di kabin. Dengan jendela terbuka, mereka dapat dengan cepat melihat kondisi di luar, seperti adanya api di mesin (engine fire), asap di sayap, atau kerusakan pada badan pesawat, yang mungkin terjadi selama proses takeoff atau landing yang berisiko tinggi.

Jika terjadi insiden, keputusan untuk menggunakan pintu keluar tertentu harus dibuat dalam waktu singkat. Jendela yang terbuka memungkinkan kru dan penumpang di dekat pintu darurat untuk melihat apakah di luar terdapat bahaya (misalnya puing-puing, api, atau air) sebelum membuka pintu tersebut, sehingga mencegah bahaya baru.

Jika kecelakaan terjadi di siang hari, membuka penutup jendela memungkinkan mata penumpang beradaptasi dengan cahaya terang di luar, sehingga mereka dapat melihat dengan jelas segera setelah meninggalkan pesawat. Adaptasi ini menghemat waktu kritis yang mungkin hilang karena mata harus beradaptasi dengan perubahan cahaya tiba-tiba.

Sementara tentang aturan sandara kursi, menegakkan sandaran kursi juga sepenuhnya terkait dengan kecepatan evakuasi dan pengurangan risiko cedera.

Sandaran kursi yang direbahkan, meskipun hanya sedikit, dapat menghalangi akses ke lorong, terutama bagi penumpang yang panik.

Penting! Kenapa Penumpang Wajib Tinggalkan Bagasi di Pesawat Saat Evakuasi?

Ketika sandaran kursi tegak, lorong kabin menjadi jalur lurus dan tidak terhalang. Hal ini memastikan bahwa penumpang di belakang dapat segera berdiri dan bergerak menuju pintu keluar tanpa harus tersandung atau kesulitan melewati sandaran kursi yang miring.

Sandaran kursi yang tegak melindungi penumpang yang duduk di belakangnya saat terjadi benturan keras. Kursi yang tegak juga memudahkan penumpang di kursi belakang untuk mengambil posisi brace (posisi merunduk untuk perlindungan) yang tepat dan aman.

Dalam kondisi pendaratan keras atau tabrakan mendadak, sandaran kursi yang direbahkan dapat menciptakan bahaya bagi penumpang di belakangnya, karena kepala atau tubuh mereka dapat menghantam bingkai kursi yang keras. Menegakkan kursi memaksimalkan ruang buffer dan meminimalisir cedera akibat dampak benturan.

Secara keseluruhan, kedua aturan ini adalah bagian dari “90-detik Rule,” yaitu standar industri penerbangan yang mewajibkan pesawat harus bisa dievakuasi secara total dalam waktu 90 detik di kondisi darurat, dan setiap detik dalam proses itu sangatlah berharga.

Jangan Lupa, Ada Aturannya Saat Turunkan Sandaran Kursi Pesawat

Penyesuaian Perjalanan Kereta Api Dimulai Awal Desember 2025, Apa Dampaknya?

Perjalanan kereta api (KA) saat ini sangat ditentukan oleh kecepatan di setiap wilayah. Jika wilayah yang memiliki area datar biasanya ditempuh hingga kecepatan maksimum 120 km/jam, namun jika memiliki dataran tinggi seperti tanjakan, turunan, bahkan tikungan tajam maka kecepatan akan dibatasi hingga 50 km/jam.

PT Kereta Api Indonesia Persero (KAI) akan melakukan penyesuaian jadwal dan pola perjalanan kereta api mulai 1 Desember 2025. Hal ini dilakukan untuk meningkatkan keselamatan, efisiensi operasional dan kenyamanan pelanggan. Penerapan penyesuaian perjalanan ini berlaku di semua Daerah Operasi (Daop).

Penyesuaian perjalanan di gadang-gadang adanya penurunan kecepatan kereta api di beberapa titik untuk kenyamanan yang lebih nyaman. KAI selalu menghimbau bagi penumpang yang menggunakan kereta api dari awal keberangkatan hingga ke tempat tujuan untuk selalu memeriksa kembali jadwal di tiket kereta api yang sudah dipesan.

Berikut hal-hal yang perlu diperhatikan kepada penumpang bagi yang ingin menggunakan perjalanan kereta api, yang terangkum dari laman Detik:

– Mulai 1 Desember 2025, terdapat beberapa perjalanan kereta api yang waktu keberangkatannya maju atau mundur dari jadwal sebelumnya.

– Terdapat penyesuaian stasiun perhentian di beberapa perjalanan kereta api.

– Jadwal keberangkatan KA yang tertera pada tiket Anda, “sudah disesuaikan” dengan jadwal baru pada pemberlakuan 1 Desember 2025.

Pelanggan juga diimbau untuk memastikan kembali jam keberangkatan, sesuai dengan yang tertera di tiketnya.

Dari dampak akibat penyesuaian perjalanan kereta api ini sebetulnya tidak terlalu signifikan. Yang ada hanyalah waktu tempuh kereta api dari stasiun keberangkatan hingga stasiun tujuan sedikit lambat beberapa menit dari biasanya.

KAI juga mengingatkan kepada calon penumpang yang sudah memiliki tiket untuk meluangkan waktu atau datang ke stasiun keberangkatan lebih awal dari jadwal yang sudah tertera pada tiket yang dimiliki masing-masing.

Sementara itu, Vice President Public Relations KAI, Anne Purba, menyampaikan bahwa pembaruan ini merupakan bagian dari upaya untuk menghadirkan perjalanan yang lebih andal dan tepat waktu. “KAI memastikan seluruh proses penyesuaian berjalan dengan baik agar perjalanan pelanggan tetap aman, nyaman, dan tepat waktu,” ujar Anne.

Cara Mudah Pelajari Kodefikasi Batas Kecepatan Kereta Api

Kenapa Pilot Pakai Kacamata Hitam? Ternyata Gegara Hal Ini

Saat dalam penerbangan di kokpit, pilot lazim memakai kacamata hitam. Bagi orang awam, mungkin itu sekadar artistik saja atau tak lebih dari sekedar bergaya. Nyatanya tidak demikian. Pilot memakai kacamata hitam saat bertugas memuliki fungsi kesehatan dan lebih dari itu berhubungan erat dengan keselamatan dan keamanan penerbangan.

Baca juga: 10 Barang Bawaan Penting Bagi Pilot, Nomor 7 Tak Dibawa, Gagal Terbang!

Menurut mantan pilot Angkatan Laut AS, David Tussey, seperti dikutip di Quora, kacamata hitam merupakan salah satu barang bawaan wajib dan menjadi kebutuhan pilot saat terbang.

Mengingat itu wajib dan menjadi sebuah kebutuhan, tentu saja kacamata hitam pilot yang dikenakan selama bertugas, khususnya saat cruising di ketinggian jelajah, memiliki sederet manfaat.

Disebutkan, pesawat komersial umumnya terbang antara 37 ribu kaki sampai 43 ribu kaki di atas permukaan laut. Di atas itu, pesawat akan mengalami apa yang disebut sebagai Coffin Corner. Tentu saja tergantung pesawatnya.

Sepanjang sejarah dirgantara dunia, ada satu pesawat komersial yang diizinkan terbang di atas 43 ribu kaki dan itu menjadi pesawat komersial tertinggi di dunia yang terbang di ketinggian 60 ribu kaki lebih.

Pesawat itu adalah pesawat supersonik Concorde dan Concorde dari Rusia, Tupolev Tu-144. Ada beberapa hal yang membuatnya mampu dan diizinkan terbang di ketinggian tersebut, mulai dari efisiensi hingga teknologi.

Di ketinggian tersebut, 37 ribu kaki – 43 ribu kaki bahkan 60 ribu kaki lebih, sinar matahari sangat menyilaukan dan tingkat radiasi mataharinya jauh lebih tinggi dari di darat. Ini tentu sangat berbahaya bagi pengelihatan.

David Tussey bahkan menyebut andai tidak menggunakan kacamata hitam, pilot mungkin akan mengalami kebutaan bila terus memaksa melihat keluar kokpit. Itu berarti pilihannya pilot perlu memejamkan mata dan ini tentu saja bukan pilihan terbaik.

Karenanya, pilot wajib membawa kacamata. Kacamatanya pun bukan sembarang kacamata melainkan kacamata khusus yang bisa melindungi dari paparan sinar ultraviolet hingga radiasi.

Baca juga: Apakah Pilot Pernah Bosan Melihat Keluar Jendela Selama Penerbangan Jarak Jauh?

Tak cukup sampai di situ, kacamata hitam pilot juga tidak boleh berlensa karena polarisasi. Pilot juga harus memastikan bahwa kacamata hitam yang dipakai bisa mengurangi mata lelah dan bisa meminimalisir perubahan warna. Jadi, betul-betul kacamata khusus pilot dan harganya pun tak main-main, seperti aksesoris pendukung kerja pilot lainnya, mulai dari jam tangan, headset, dan lainnya.

Meski begitu, David Tussey mengakui, terlepas dari fungsi medisnya, pilot memakai kacamata hitam lebih sering karena untuk meningkatkan citra seorang pilot agar terlihat keren, menumbuhkan kepercayaan diri, dan sedikit sikat ego atau sombong.

Terkait Grounded Armada A320, Ini Update Terbaru dari Airbus

Terkait dengan kabar grounding akibat isu radiasi Matahari pada armada pesawat jet komersial A320, hari ini, pihak Airbus memberikan update informasi terbaru. Menyusul penerbitan Alert Operators Transmission (AOT) pada 28 November yang menyerukan tindakan pencegahan segera terhadap sejumlah pesawat dari keluarga A320 yang sedang beroperasi, Airbus memberikan informasi terbaru tentang status penerapan langkah-langkah ini di seluruh armada global.

Dari total sekitar 6.000 pesawat yang berpotensi terdampak, sebagian besar kini telah menerima modifikasi yang diperlukan. “Kami bekerja sama dengan maskapai pelanggani untuk mendukung modifikasi kurang dari 100 pesawat yang tersisa guna memastikan pesawat-pesawat tersebut dapat kembali beroperasi,” ujar juru bicara Airbus dalam siaran pers.

Darurat Keselamatan Penerbangan: 38 Airbus A320 di Indonesia Wajib Grounding Akibat Isu Radiasi Matahari

Airbus memohon maaf atas segala tantangan dan keterlambatan yang dialami penumpang dan maskapai akibat kejadian ini. Perusahaan berterima kasih kepada para pelanggan, pihak berwenang, karyawan, dan seluruh pemangku kepentingan terkait atas dukungan mereka dalam menerapkan langkah-langkah ini, dan atas pengertian mereka terhadap keputusan Airbus untuk mengutamakan keselamatan di atas semua pertimbangan lainnya.

Isu ini berakar dari cacat kritis yang ditemukan pada sistem kendali penerbangan pesawat Airbus A320 Family (meliputi A319, A320, dan A321). Masalah berpusat pada komponen vital yang disebut Elevator Aileron Computer (ELAC), khususnya unit dengan batch tertentu (ELAC B L104). Komputer ini bertanggung jawab mengirimkan perintah dari sidestick pilot ke kendali penerbangan utama (elevator dan aileron).

Kondisi darurat ini dipicu oleh insiden yang melibatkan pesawat JetBlue A320 pada 30 Oktober 2025. Dalam insiden tersebut, pesawat mengalami pitch-down (hidung menukik) secara tiba-tiba dan tidak terduga, yang kemudian ditelusuri terkait dengan malfungsi ELAC. EASA memperingatkan, dalam skenario terburuk, kondisi ini dapat menyebabkan pergerakan elevator yang tidak terkendali, berpotensi melebihi batas struktural pesawat.

Dari total 143 unit pesawat A320 Family yang aktif beroperasi di Indonesia, 38 unit (sekitar 26%) terdampak langsung oleh perintah perbaikan ini.

Petugas ATC Tertidur, Airbus A320 Air Corsica Terpaksa Terbang Berputar-putar di Udara Selama 1 Jam

Mukhtara Air Siap Mengudara Januari 2026: Maskapai Full Service Arab Saudi di Langit Nusantara

Industri penerbangan di Indonesia akan segera kedatangan pemain baru yang berfokus pada layanan penuh (full service), yaitu Mukhtara Air. Maskapai ini, yang merupakan investasi besar dari Arab Saudi, menargetkan penerbangan komersial perdana dapat dilakukan paling lambat pada Januari 2026, setelah tuntas mengantongi sertifikat operasional utama (Air Operator Certificate atau AOC) dari Direktorat Jenderal Perhubungan Udara.

Kehadiran Mukhtara Air di Indonesia ditandai dengan pendaratan pesawat pertama mereka, Airbus A320, di Bandara Halim Perdanakusuma, Jakarta, pada akhir November 2025 sebagai langkah awal untuk proses perizinan dan persiapan operasional.

Mukhtara Air bernaung di bawah payung perusahaan induk Manazil Al Mukhtara Company Holding yang berbasis di Madinah, Arab Saudi. Perusahaan ini sudah dikenal luas sebagai pemain utama di sektor Haji, Umrah, dan Perhotelan di Arab Saudi, khususnya di kota suci Madinah dan Jeddah.

Dipimpin oleh Chairman Sami Al Harbi, perusahaan induk ini melihat Indonesia sebagai pasar strategis yang sangat besar, terutama mengingat volume jemaah umrah dan haji yang selalu tinggi. Mukhtara Air diposisikan sebagai maskapai full service internasional yang menjanjikan layanan premium bagi jemaah maupun penumpang umum yang bepergian. Kantor pusat operasional Mukhtara Air di Indonesia telah didirikan di Komplek Perkantoran CBC dekat Bandara Soekarno-Hatta, Tangerang.

Dalam strategi operasionalnya, Mukhtara Air berencana mengadopsi model hub and spoke, menggunakan armada Airbus yang beragam untuk melayani rute domestik dan internasional.

Untuk fase awal operasionalnya, maskapai ini akan menggunakan Airbus A320 (dengan rencana awal dua unit, dan akan ditambah menjadi empat unit pada tahun 2026) untuk melayani rute-rute domestik atau feeder. Pesawat A320 ini dikonfigurasi dengan 152 kursi, yang mencakup delapan kursi Bisnis dan 144 kursi Ekonomi.

Sementara itu, untuk rute internasional jarak jauh, Mukhtara Air akan mengandalkan armada Airbus A330, di mana mereka menargetkan penambahan dua hingga enam unit sepanjang tahun 2026. Secara keseluruhan, maskapai ini menargetkan memiliki total 10 unit pesawat pada akhir tahun pertama operasinya.

Strategi rute Mukhtara Air dirancang untuk mengoptimalkan potensi pasar perjalanan ibadah. Rute-rute mereka akan menghubungkan berbagai kota besar di Indonesia sebagai titik kumpul sebelum terbang ke Arab Saudi.

Di sektor domestik, rute yang diprioritaskan meliputi Jakarta (sebagai bandara penghubung utama) menuju Surabaya, Denpasar (Bali), dan Kualanamu (Medan). Rute domestik ini berfungsi vital sebagai pengumpul jemaah dari berbagai pulau di Indonesia.

Di sektor internasional, rute utamanya adalah dari Jakarta menuju Jeddah, Madinah, dan Thaif. Penerbangan internasional ini akan berjalan secara reguler, tidak hanya berfokus pada musim haji, melainkan melayani penumpang umum dan perjalanan umrah sepanjang tahun, sekaligus menawarkan pilihan layanan full service baru di jalur Timur Tengah.

Dengan komitmen investasi dan fokus pada layanan premium, kehadiran Mukhtara Air diharapkan dapat meningkatkan standar layanan penerbangan, khususnya bagi jemaah umrah dan haji di Indonesia.

Berapa Banyak Maskapai yang Teregistrasi di Singapura?