KAI Lengkapi Sistem Keamanan LRT Jabodebek dengan 1.129 Unit CCTV di Rangkaian Kereta dan Stasiun

KAI melengkapi sistem keamanan dan keselamatan pengguna melalui pemasangan 1.129 unit CCTV yang tersebar di seluruh rangkaian kereta dan stasiun. Penguatan pengawasan ini menjadi bagian dari komitmen KAI menghadirkan layanan transportasi yang aman, nyaman, dan tertib.

Total 434 unit CCTV terpasang di seluruh rangkaian kereta LRT Jabodebek. Setiap rangkaian kereta LRT Jabodebek memiliki 14 unit CCTV, terdiri dari 2 CCTV di setiap kereta (car) yang ditempatkan di ujung depan dan belakang untuk memantau situasi, ditambah 2 CCTV tambahan di area kabin untuk memantau petugas train attendant serta kondisi jalur.

Sementara itu, 695 unit CCTV lainnya dipasang di 18 stasiun LRT Jabodebek dengan cakupan area yang luas dan strategis, mulai dari pintu masuk, loket, area parkir, peron, jalur evakuasi, hingga titik-titik rawan yang membutuhkan pengawasan khusus.

Semua unit CCTV tersebut, terhubung secara real time dan diawasi selama 24 jam dari Operation Control Centre (OCC) sehingga memungkinkan seluruh insiden dapat dideteksi dan ditangani lebih cepat oleh petugas keamanan stasiun maupun petugas di rangkaian kereta.

Pengawasan CCTV juga berperan penting dalam menjaga kelancaran arus naik-turun penumpang di peron. Rekaman CCTV membantu petugas memastikan proses naik-turun penumpang berlangsung tertib, terutama saat jam sibuk. Selain itu, bukti rekaman juga sangat membantu dalam penyelidikan jika terjadi insiden, baik terkait keamanan maupun operasional,” lanjutnya.

Penempatan CCTV di stasiun dan rangkaian kereta LRT Jabodebek ini merupakan bagian dari sistem pengamanan objek vital nasional dengan memanfaatkan teknologi sehingga membantu petugas keamanan untuk bekerja lebih efektif.

KCI Langgar Aturan Terkait CCTV di KRL? Belajar dari Kasus Pemerkosaan Wanita di Kereta Komuter AS

Dubai Metro: Efisiensi Transportasi Driverless dari Gurun ke Kota Global

Dubai Metro adalah backbone dari sistem transportasi publik di Uni Emirat Arab, terkenal sebagai jaringan kereta metro tanpa masinis (driverless) terpanjang dan tersibuk di kawasan Timur Tengah. Dibangun sebagai respons terhadap kemacetan yang meningkat pesat, metro ini melambangkan lompatan Dubai menuju kota masa depan yang efisien dan berkelanjutan.

Proyek Dubai Metro diprakarsai oleh Otoritas Jalan dan Transportasi (RTA) Dubai pada pertengahan tahun 2000-an. Tujuan utamanya bukan hanya mengurangi kemacetan, tetapi juga mendukung visi Dubai sebagai pusat bisnis dan pariwisata global.

Pekerjaan konstruksi Dubai Metro dimulai pada tahun 2005. Dubai Metro dirancang sebagai sistem Automated Train Operation (ATO) atau tanpa masinis sepenuhnya, yang mengoptimalkan efisiensi dan mengurangi biaya tenaga kerja. Jaringan ini sebagian besar berada di atas tanah, menawarkan pemandangan kota yang spektakuler.

Jalur Merah (Red Line) diresmikan pada 09 September 2009 (09/09/09) oleh Sheikh Mohammed bin Rashid Al Maktoum, menandai dimulainya era baru transportasi massal di Dubai.

Saat ini, jaringan Dubai Metro terdiri dari dua jalur utama yang melayani kawasan lama dan kawasan modern di Dubai. Jalur Merah (Red Line) diresmikan tahun 2009, melintasi Dubai dari Timur Laut ke Barat Daya, sebagian besar mengikuti jalan raya Sheikh Zayed Road. Jalur ini merupakan jalur metro tanpa masinis terpanjang di dunia (sekitar 52 km). Stasiun ikonik pada jalur ini adalah Burj Khalifa/Dubai Mall, Mall of the Emirates, Dubai Marina, dan Bandara Internasional Dubai (DXB).

Jalur Hijau (Green Line) diresmikan tahun 2011, melayani area Dubai yang lebih tua, termasuk Deira dan Bur Dubai. Stasiun ikonik pada jalur ini adalah Al Ghubaiba (pusat transportasi air), Gold Souk, dan Creek.

Kedua jalur ini bertemu di dua stasiun transfer utama: Union dan BurJuman. Selain itu, pada tahun 2021, Red Line diperpanjang melalui Route 2020 untuk melayani kawasan Expo 2020.

Kereta yang digunakan di Dubai Metro dirancang untuk menghadapi kondisi iklim panas gurun, dengan mengedepankan efisiensi, kenyamanan, dan tampilan futuristik. Keretanya diproduksi oleh konsorsium kontraktor yang dipimpin oleh Mitsubishi Corporation, bersama Kinki Sharyo, Thales, dan Kajima.

Setiap rangkaian kereta terdiri dari lima gerbong, sementara kapasitas mampu menampung sekitar 643 penumpang per rangkaian kereta. Dubai Metro bukan hanya solusi kemacetan, tetapi juga tolok ukur global untuk integrasi teknologi mutakhir dalam transportasi massal perkotaan.

Hubungkan Abu Dhabi – Dubai dengan Kereta Cepat, Etihad Rail Mulai Layani Penumpang di Tahun 2026

Kisah Ganjil Four Seasons Australia: Hotel Terapung Mewah yang Berakhir di Tangan Kim Jong Un, Korea Utara

Pada tahun 1988, dunia menyaksikan kelahiran konsep pariwisata yang revolusioner, hotel terapung permanen pertama di dunia. Dibangun dengan biaya jutaan dolar dan diposisikan di salah satu lokasi paling indah di planet ini, The John Brewer Reef Floating Hotel (atau dikenal sebagai Four Seasons Barrier Reef Resort) seharusnya menjadi masa depan liburan mewah.

Namun, hanya dalam waktu satu tahun, hotel mewah ini memulai pelayaran aneh yang membawanya dari surga kapitalis Australia, menuju Vietnam, dan berakhir di kawasan resor Gunung Kumgang, Korea Utara, di bawah kendali rezim Kim Jong Un.

Hotel terapung ini dibangun di Singapura dan Manila oleh pengembang properti Australia, Doug Tarca. Strukturnya sepanjang 90 meter, memiliki 200 kamar mewah, diskotek, bar, bioskop, helipad, dan bahkan lapangan tenis terapung.

Lokasi awal John Brewer Reef berada di lepas pantai Townsville, Queensland, Australia. Hotel ini dibuka pada tahun 1988 dan dikelola oleh jaringan hotel mewah global, Four Seasons.

Terlepas dari konsepnya yang menarik, hotel ini menghadapi bencana finansial dan logistik. Biaya operasional di lokasi terpencil sangat mahal. Selain itu, sensitivitas lingkungan di Great Barrier Reef, ditambah kerusakan akibat badai topan yang mengancam struktur hotel, membuat pengunjung enggan datang.

Setelah hanya 12 bulan beroperasi, pemiliknya menyatakan kebangkrutan, dan hotel terapung tersebut ditarik untuk dilelang.

Pada tahun 1989, hotel apung ini dibeli oleh investor Jepang dan dipindahkan ribuan kilometer ke Asia Tenggara. Hotel itu ditambatkan di Sungai Saigon, Kota Ho Chi Minh, Vietnam.

Di Vietnam, hotel ini dengan nama barunya, Saigon Floating Hotel (atau populer disebut “The Float”), menemukan kesuksesan yang gagal ia raih di Australia. Berada di lokasi yang mudah diakses dan strategis di pusat kota, The Float menjadi landmark yang populer, pusat hiburan mewah bagi ekspatriat dan kelas atas Vietnam selama hampir satu dekade.

Kapal Penumpang Tertua di Dunia ‘Berlabuh’ di Bintan, Disulap Jadi Hotel oleh Pengusaha Singapura

Namun, seiring pembangunan hotel-hotel darat modern di Ho Chi Minh City, daya tarik The Float mulai memudar, dan kapal tersebut dijual lagi pada tahun 1997.

Pelayaran terakhir kapal ini membawanya ke tujuan paling aneh, yaitu Gunung Kumgang (Gunung Berlian), Korea Utara. Perusahaan Hyundai Asan dari Korea Selatan, yang beroperasi di Korea Utara, membeli hotel tersebut sebagai bagian dari proyek pariwisata ambisius di Gunung Kumgang, sebuah kawasan wisata yang dirancang untuk menarik wisatawan Korea Selatan.

Hotel ini berfungsi sebagai akomodasi bagi ribuan wisatawan Korea Selatan yang mengunjungi Korut melalui darat.

Pada tahun 2008, proyek pariwisata Gunung Kumgang dihentikan total setelah seorang tentara Korea Utara menembak mati seorang turis Korea Selatan. Hotel Haegumgang pun ditutup dan ditinggalkan.

Pada tahun 2019, nasib hotel itu menemui titik akhir yang ironis. Pemimpin Korea Utara, Kim Jong Un, mengunjungi resor tersebut dan secara terbuka mengecam desain Hotel Haegumgang. Ia menyebutnya “lusuh” dan “berbau kapitalis Selatan” yang harus dihancurkan dan diganti dengan struktur yang sesuai dengan “sentimen estetika nasional” Korut.

Meskipun Kim Jong Un memerintahkan pembongkaran, sanksi internasional dan kesulitan logistik, serta pandemi Covid-19, menunda proses penghancuran tersebut. Saat ini, Hotel Haegumgang masih berdiri, menjadi monumen bisu dari ambisi pariwisata yang gagal, terdampar jauh dari pantai tropis tempat ia seharusnya menjadi simbol kemewahan.

Korea Utara Berencana Buka Resor Wisata untuk Pelancong Asing yang Bernyali

Ternyata Ini Alasan Spanduk Himbauan Penutupan Pintu Masuk Selatan Stasiun Bekasi Dicopot

Ramai di media sosial mengenai rencana penutupan pintu selatan Stasiun Bekasi yang mengarah ke Jalan Ir. H. Juanda beragam komentar dari warganet. Tak sedikit dari mereka yang berkomentar bahwa akan menyulitkan penumpang untuk naik kereta ke Stasiun Bekasi semakin jauh.

Ya, polemik penutupan pintu selatan tersebut menjadikan masyarakat merasa kesulitan. Bahkan dirasa membuang waktu karena harus memutar melalui pintu masuk bagian utara Stasiun Bekasi yang melalui Jalan Perjuangan. Hal tersebut menurut masyarakat justru menambah kemacetan.

Pasalnya, arus lalu lintas yang akan masuk dan parkir di Stasiun Bekasi harus berada di area utara. Jika ini tetap dilakukan, seluruh area parkir di pintu selatan stasiun akan ditutup. Penumpang masih bisa menggunakan area selatan Stasiun Bekasi hanya untuk membeli makan dan minuman karena terdapat mini market.

Namun, baru-baru ini spanduk yang berisi himbauan mengenai penutupan akses pintu selatan tersebut sudah tidak terpampang di lantai 2 maupun di pagar Stasiun Bekasi sudah tidak terlihat. Tim kabarpenumpang sempat bertanya kepada petugas di stasiun bahwa sedang dalam pengkajian ulang. Pengkajian ulang tersebut dilakukan oleh Dinas Perhubungan Kota Bekasi tentang hal tersebut.

Hingga kini, informasi atau himbauan mengenai penutupan pintu selatan Stasiun Bekasi masih belum adanya kepastian lebih lanjut. Terlebih informasi yang diberikan sudah beredar beberapa hari yang lalu dan membuat tak sedikit wargnet berkomentar berisi kritikan.

Sebelumnya, PT Kereta Api Indonesia Persero (KAI) Daerah Operasi (Daop) 1 Jakarta akan menutup akses keluar/masuk pintu selatan, Jalan Ir Juanda depan Stasiun Bekasi, Jumat 28 November 2025 pukul 00.01 WIB. Jalan alternatifnya, warga disarankan menggunakan Jalan Perjuangan dan Pusdiklat di pintu utara Stasiun Bekasi.

Keputusan ini merupakan langkah lebih lanjut untuk melakukan evaluasi terhadap kondisi lalu lintas di Jalan Juanda yang sering mengalami kepadatan, terutama saat jam-jam sibuk berlangsung. Pasalnya kepadatan ini terjadi lantaran banyaknya kendaraan yang berhenti di ruas jalan sisi selatan Stasiun Bekasi, sehingga diperlukan rekayasa lalu lintas dan penataan ulang untuk menciptakan, ketertiban, dan kelancaran mobilitas masyarakat.

Dalam postingan yang disampaikan Dishub Kota Bekasi, melalui akun Instagram resminya @dishubbekasikota mengatakan bahwa pintu akses Stasiun Bekasi melalui Jalan Ir. H. Juanda akan ditutup pekan depan Jumat 28 November 2025. Selama penutupan berlangsung, akses masuk–keluar penumpang serta area parkir motor Stasiun Bekasi dialihkan sepenuhnya ke Jalan Raya Perjuangan (Pintu Utama Stasiun Bekasi); dan Jalan Pusdiklat.

Masa Lalu Stasiun Bekasi, Sempat Berstatus Sebagai Halte Besar

MD-11, Tak Berusia Panjang, Inilah Kado Ulang Tahun Garuda Indonesia Ke-43

Sebagai maskapai nomor Wahid di Tanah Air, nampaknya sudah lumrah untuk Garuda Indonesia selalu melakukan perubahan untuk meningkatkan kepuasan para penumpangnya. Bukan hanya dari segi pelayanan secara keseluruhan, tapi Garuda juga telah banyak sekali melakukan modernisasi pada armada yang mereka gunakan.

Sebut saja ada Convair 990, Lockheed L-118 Electra, DC-9, Fokker F28, Airbus A300, Boeing 737, dan McDonnell Douglas MD-11. D iantara pesawat-pesawat tadi, nama MD-11 menjadi menarik karena pernah menjadi kado ulang tahun ke-43 Garuda Indonesia.

Baca Juga: DC-9 Garuda Indonesia, Andalan Penerbangan Jet Domestik Era 80-an

Kembali ke 9 Januari 1992, dimana MD-11 pertama kali menginjakkan rodanya di Bumi Pertiwi setelah menempuh perjalanan ferry langsung dari pabrik McDonnell Douglas di Long Beach, California. Ya, inilah pesawat anyar wide-body yang ditunggu-tunggu oleh pihak Garuda Indonesia sebagai kado ulang tahun ke-43 maskapai berplat merah tersebut. Sekilas, penampakan MD-11 ini hampir mirip dengan DC-10, hanya panjangnya saja yang beda 18 kaki 6 inchi, serta ada winglet pada sayapnya.

Diketahui, pesawat MD-11 tersebut merupakan satu dari enam pesanan Garuda Indonesia untuk memperkuat ke-64 pesawat badan lebar armada barunya yang konon menelan investasi senilai USD$3,6 miliar atau setara dengan Rp49 triliun kurs sekarang. Sebenarnya, Garuda memesan 10 MD-11 kala itu, namun diturunkan menjadi enam unit saja. Seperti yang dikutip KabarPenumpang.com dari majalah Angkasa edisi Januari 1992, tidak ada yang mengetahui secara persis penurunan jumlah pesanan tersebut, namun kuat dugaan performa MD-11 yang jauh dari ekspektasi.

Terbukti dengan pengalaman Swissair yang merasa bobot penerbangan semakin bertambah yang disebabkan oleh modifikasi flaps. Pihak McDonnell Douglas pun tidak memungkiri komplain tersebut, namun mereka menggaris bawahi bahwa Swissair pun turut memegang andil dari meningkatnya bobot penerbangan tersebut. Selain itu, MD-11 juga bisa dibilang gagal mencapai target jarak dan konsumsi bahan bakar seperti yang diinginkan oleh banyak maskapai.

Terlepas dari alasan pengurangan pemesanan tersebut, kehadiran MD-11 di keluarga Garuda Indonesia kala itu untuk menggantikan peran dari enam armada DC-10 yang sudah mulai termakan usia untuk melayani rute penerbangan Denpasar – Jakarta – Hong Kong PP. Pesawat bermesin GE CF6-80C2D1 F milik Garuda Indonesia ini memiliki konfigurasi kabin tiga kelas, termasuk 12 kursi first class, 53 kelas bisnis, dan 235 kelas ekonomi.

Patut diketahui, Garuda Joint Venture (GJV) merupakan sebuah perusahaan leasing melalui kerjasama antara Garuda Indonesia dengan Guinnes Peat Aviation (GPA), dimana perusahaan ini merupakan otak dibalik pemesanan MD-11. Sayangnya, umur GJV tidak cukup panjang, manakala Garuda memilih untuk memulangkan tiga unit pesawat MD-11 kepada GPA pada tahun 1996 dan 1997. Untuk menutupi kekosongan yang ada, Garuda mendatangkan tiga unit MD-11ER pada bulan Desember 1996, Mei 1997, dan November 1997.

Baca Juga: DC-10 30, Kenangan Pesawat Trijet Jarak Jauh di Era Keemasan Garuda Indonesia

Seperti tidak diijinkan untuk mengoperasikan MD-11, krisis finansial di negara-negara Asia Pasifik pada waktu itu berimbas kepada industri penerbangan. Hasilnya, rasionalisasi terhadap keenam unit MD-11 pun dilakukan dan berbuntut pada dikembalikannya semua armada MD-11 Garuda Indonesia ke sebuah perusahaan leasing bernama Boeing Capital Corporation pada bulan Juni dan Juli 1998. Dengan begitu, padam pula karir MD-11 di industri kedirgantaraan Tanah Air.

Catat! Ini Daftar Nama Kereta Api yang Mendapat Diskon 30 Persen dari Stasiun Pasar Senen

Jelang Natal dan Tahun Baru (Nataru) 2025/2026 tak sedikit masyarakat menghabiskan waktu untuk melakukan perjalanan menuju destinasi tujuan dengan kereta api. Ya, perjalanan menggunakan kereta api menuju berbagai kota di Pulau Jawa ternyata tak menyulutkan minat masyarakat untuk berlibur bersama.

Pemesanan tiket kereta api pun sebenarnya sudah bisa dilakukan pada akhir November ini untuk keberangkatan akhir Desember 2025 hingga awal Januari 2026. Namun ada juga masyarakat yang menunggu untuk mendapatkan diskon yang diberikan oleh PT Kereta Api Indonesia Persero (KAI) di jelang libur Nataru.

Ya, Setidaknya ada 32 kereta api keberangkatan dari stasiun Pasar Senen yang mendapatkan diskon tiket 30 persen dari PT Kereta Api Indonesia (KAI). Seperti diketahui, KAI memberikan diskon tiket kereta sebesar 30 persen untuk kelas ekonomi komersial dalam menyambut masa libur Natal 2025 dan tahun baru 2026.

Penumpang kereta api di Stasiun Pasar Senen. (Foto: Dok. KAI)

Diskon kereta api 30 persen bisa dipesan sejak pada Jumat (21/11/2025) dan berlaku untuk keberangkatan mulai 22 Desember 2025 sampai dengan 10 Januari 2026. Pemesanan tiket kereta api diskon tersedia melalui kanal resmi KAI, termasuk aplikasi Access by KAI, situs web, dan mitra penjualan yang terhubung dengan sistem KAI.

Nah, berikut adalah daftar nama kereta api yang mendapat diskon 30 persen, dengan keberangkatan dari Stasiun Pasar Senen:

1. Fajar Utama Solo (KA 74): Pasar Senen – Solo Balapan
2. Mataram (KA 76): Pasar Senen – Solo Balapan
3. Jaka Tingkir (KA 256): Pasar Senen – Solo Balapan
4. Progo (KA 258): Pasar Senen – Lempuyangan
5. Bogowonto (KA 104): Pasar Senen – Lempuyangan
6. Gajahwong (KA 106): Pasar Senen – Lempuyangan
7. Senja Utama Yogyakarta (KA 108): Pasar Senen – Yogyakarta
8. Fajar Utama Yogyakarta (KA 110): Pasar Senen – Yogyakarta
9. Menoreh (KA 176): Pasar Senen – Semarang Tawang
10. Tawang Jaya (KA 260): Pasar Senen – Semarang Tawang
11. Tawang Jaya Premium (KA 178 dan 180): Pasar Senen – Semarang Tawang
12. Sawunggalih (KA 112, 114, 116): Pasar Senen – Kutoarjo
13. Madiun Jaya (KA 144): Pasar Senen – Madiun
14. Singasari (KA 150): Pasar Senen – Blitar
15. Brantas (KA 152): Pasar Senen – Blitar
16. Brantas Tambahan (KA 7016): Pasar Senen – Blitar
17. Bangunkarta (KA 162): Pasar Senen – Jombang
18. Gumarang (KA 164): Pasar Senen – Surabaya Pasar Turi
19. Jayabaya (KA 92): Pasar Senen – Surabaya Pasar Turi
20. Gaya Baru Malam Selatan (KA 90): Pasar Senen – Surabaya Gubeng
21. Dharmawangsa Ekspres (KA 166): Pasar Senen – Surabaya Pasar Turi
22. Jayakarta (KA 252): Pasar Senen – Surabaya Gubeng
23. Kertajaya (KA 254): Pasar Senen – Surabaya Pasar Turi
24. Kertanegara (KA 168): Pasar Senen – Surabaya Pasar Turi
25. Majapahit (KA 246): Pasar Senen – Malang
26. Matarmaja (KA 270): Pasar Senen – Malang
27. Tegal Bahari (KA 204): Pasar Senen – Tegal
28. Blambangan Ekspres (KA 146): Pasar Senen – Ketapang (Banyuwangi)
29. Kertajaya Tambahan (KA 7018): Pasar Senen – Blitar
30. Kutojaya Utara Tambahan (KA 7028): Pasar Senen – Kutoarjo
31. Tambahan PSE-SLO (KA 7026): Pasar Senen – Solo Balapan
32. Tambahan PSE-LPN (KA 10240): Pasar Senen – Lempuyangan.

Rute relasi kereta api tersebut diatas berlaku untuk sebaliknya, atau untuk tujuan keberangkatan ke Pasar Senen. Bagaimana, tertarik naik kereta api pakai harga diskon 30 persen?

Jangan Sampai Nyasar! Yuk, Simak Panduan Naik KRL ke Stasiun Pasar Senen

Shoei GT-Air 3 Smart: Helm Augmented Reality (AR) Terintegrasi Pertama di Dunia

Merek helm premium asal Jepang, Shoei, baru saja mendefinisikan ulang makna helm pintar. Dalam langkah revolusioner di industri sepeda motor, Shoei memperkenalkan GT-Air 3 Smart, helm full-face pertama di dunia yang hadir dengan teknologi Augmented Reality (AR) terintegrasi secara penuh.

Alih-alih menambahkan hardware eksternal yang besar dan canggung, Shoei bekerja sama dengan perusahaan spesialis Head-Up Display (HUD) asal Perancis, EyeLights, untuk menanamkan semua teknologi canggih langsung ke dalam cangkang helm.

Fitur paling mencolok dari GT-Air 3 Smart adalah Visor HUD terintegrasi yang mampu memproyeksikan data berkendara langsung ke garis pandang pengendara. Dengan teknologi generasi ketiga dari EyeLights, informasi penting seperti kecepatan saat ini, navigasi GPS belokan demi belokan, informasi panggilan telepon dan peringatan radar. Semua data itu diproyeksikan seolah-olah berada pada jarak tiga meter di depan pengendara. Konsepnya sederhana, membiarkan mata pengendara tetap fokus pada jalan, bukan pada dashboard atau ponsel yang terpasang di stang.

EyeLights mengklaim bahwa dengan meminimalkan pergerakan mata dan reaksi untuk mengecek informasi, teknologi HUD ini dapat memangkas waktu reaksi hingga lebih dari 32%. Angka yang sangat signifikan dalam situasi darurat di jalan.

Menyadari masalah utama pada banyak teknologi HUD, EyeLights menggunakan layar nano-OLED beresolusi Full HD. Teknologi ini memastikan bahwa proyeksi tetap jelas dan mudah dibaca, bahkan ketika helm diterpa sinar matahari langsung.

GT-Air 3 Smart tidak hanya fokus pada visual. Helm ini juga dilengkapi dengan fitur komunikasi yang superior, seperti Sistem Interkom Universal, menawarkan jangkauan yang diklaim “tidak terbatas” dan kompatibel dengan hampir semua merek interkom lain (universal). Interkom ini bekerja dalam mode online maupun offline mesh.

Ada juga Audio Kit Premium, termasuk mikrofon dengan Active Noise Cancellation (ANC) atau peredam bising aktif. Pengendara juga dapat menggunakan asisten suara seperti Siri dan Google Assistant. Kit audio ini menjanjikan daya tahan baterai lebih dari 10 jam.

Forcite, Helm Futuristik yang Siap Manjakan Para Bikers!

Semua komponen, mulai dari baterai, proyektor, speaker, mikrofon, hingga kabel, terintegrasi sepenuhnya ke dalam cangkang helm Shoei, menjaga tampilan tetap rapi tanpa ada hardware besar yang menonjol keluar.

Meskipun memiliki teknologi smart canggih, helm ini tetap mempertahankan standar keamanan bintang lima Shoei, menggunakan komposit multi-lapisan AIM (Advanced Integrated Matrix), dan telah memenuhi standar keselamatan DOT dan ECE 22.06.

Helm Shoei GT-Air 3 Smart dibanderol dengan harga US$1.199 (sekitar Rp19 jutaan). Harga ini hampir dua kali lipat dari harga GT-Air 3 versi standar. Namun, bagi para penggemar yang mencari combo antara keselamatan premium Shoei dan teknologi Augmented Reality terdepan di dunia, harga tersebut sebanding dengan statusnya sebagai pelopor teknologi berkendara.

Helm Feher, Hadirkan Pendingin Udara Bagi Para Bikers

Serba Serbi Perjalanan KA Walahar yang Sangat Diminati Masyarakat

Perjalanan dari Cikarang menuju Purwakarta maupun sebaliknya memang tak luput dari incaran masyarakat. Setiap hari rangkaian kereta api (KA) selalu dipadati penumpang dari stasiun keberangkatan maupun dari stasiun yang dilewati. Ya, beginilah kondisi KA lokal yang sangat terjangkau itu dinamakan Walahar.

KA Walahar merupakan kereta api lokal kelas ekonomi yang melayani rute Cikarang – Purwakarta dan sebaliknya, dengan tarif Rp4.000 dan dilengkapi pendingin udara serta rak bagasi. Nama “Walahar” diambil dari Bendungan Walahar di Karawang, dan kereta ini dulunya bernama KA Cilamaya. Rute ini melalui beberapa stasiun penting, seperti Karawang dan Cikampek.

Dengan bagian interior yang terdiri dari 106 tempat duduk membuat penumpang yang naik bisa menempati kursi secara bebas tanpa harus sesuai dengan nomor kursi yang tertera di kereta. Terlebih batas maksimal penumpang KA Walahar adalah 150 persen, itu berarti penumpang yang tidak kebagian tempat duduk harus rela berdiri.

Siap-siap, Beli Tiket KA Jatiluhur dan Walahar akan Dilakukan Secara Online

Perjalanan KA Walahar memakan waktu lebih dari satu setengah jam, tergantung pada jam-jam tertentu. Karena ada sebagian jadwal KA Walahar ini berhenti di beberapa stasiun dengan cukup lama akibat disusul dengan kereta api jarak jauh. Meski begitu penumpang yang biasa menggunakan KA Walahar sudah biasa menunggu di stasiun yang cukup lama, bahkan mereka pun tahu jadwal mana yang harus menunggu dengan cukup lama.

 

KA Walahar berhenti di semua stasiun, mulai dari Stasiun Cikarang, Stasiun Lemah Abang, Stasiun Kedunggedeh, Stasiun Karawang, Stasiun Klari, Stasiun Kosambi, Stasiun Dawuan, Stasiun Cikampek, Stasiun Cibungur, dan berakhir di Stasiun Purwakarta.

Mengintip sejarah sebelum dioperasikan dengan nama ‘Walahar’, kereta ini diberi julukan ‘odong-odong’. Padahal istilah tersebut merujuk nama kereta lokal dengan rute Jakarta Kota/Tanjung Priok sampai dengan Cikampek pulang pergi. Uniknya lagi rangkaian kereta tersebut menggunakan jenis KRD (Kereta Rel Diesel). Tapi kereta ini sudah tidak lagi sebagai KRD, kereta ekonomi biasa yang ditarik lokomotif.

Nah, KA Walahar ini sempat terhenti pengoperasian sejak 24 April 2020 karena Pandemi Covid-19. Tapi saat mulai 1 Januari 2021 KA Walahar kembali dioperasikan. Tidak lupa PT Kereta Api Indonesia Persero (KAI) mengingatkan kepada masyarakat yang ingin menggunakan layanan KA Lokal Walahar dapat melakukan pemesanan tiket melalui Aplikasi KAI Access H-7 sebelum keberangkatan.

Pastikan juga masyarakat memastikan jadwal KA Walahar tersebut melihat melalui aplikasi KAI Accees di ponsel atau bisa datang langsung ke stasiun yang disinggahi kereta tersebut. Namun, bagi masyarakat yang ingin membeli KA Walahar di stasiun, sudah tidak bisa dilakukan. Mengingat adanya perubahan peraturan kepada penumpang agar membeli melalui pemesanan di aplikasi KAI melalui ponsel.

Mengenal Walahar Express, Kereta “Odong-Odong” dari Purwakarta

[Hari ini 22 Tahun Lalu] Penerbangan Terakhir Concorde Pasca Polemik di Belakangnya

Tentu Anda semua sudah tidak asing lagi dengan nama Concorde, bukan? Ya, ini merupakan pesawat penumpang bertenaga supersonik buatan perusahaan Inggris – Perancis. Nama Concorde menjadi sangat terkenal hingga saat ini karena kecepatan maksimumnya yang sangat fantasis, menembus dua kali kecepatan suara atau yang berkisar 2.180 km per jam.

Namun sayang, umur pesawat ini tidaklah lama, hanya 27 tahun saja. Ya, pesawat yang pertama kali dipamerkan ke publik pada 21 Januari 1976 ini mengakhiri masa tugasnya pada 24 Oktober 2003 – dan tahukah Anda, bahwa hari ini, 26 November, persis 22 tahun yang lalu, Concorde melakukan penerbangan terakhirnya.

Seperti yang dirangkum KabarPenumpang.com dari berbagai laman sumber, penerbangan terakhir dari Concorde yang jatuh pada tanggal 26 November 2003 ini terjadi manakala sang pesawat supersonik hendak kembali ke pangkalan udara yang berada di dekat Bristol, sebelah barat daya Inggris dari London Heathrow.

Lekang dalam ingatan, ada dua maskapai kenamaan dunia yang menggunakan jasa dari Concorde – Air France dan British Airways. Concorde sendiri tercatat mengalami beberapa kecelakaan, namun satu yang menjadi titik balik dari pesawat ini adalah manakala Concorde Air France (AF) 4590 jatuh beberapa saat setelah pesawat tinggal landas dari Bandara Charles de Gaulle Paris, Perancis pada 25 Juli 2000.

Kala itu, pesawat hendak bertolak menuju New York, Amerika Serikat dan sekitar 56 detik setelah mengudara, mesin nomor 2 dari pesawat ini terbakar dan jatuh di sebuah hotel di daerah Gonesse, dekat Paris , sekitar 2,7 km dari Bandara Charles de Gaulle Paris. Walhasil, sebanyak 100 penumpang, 9 awak pesawat, dan 4  orang lainnya yang ada di  darat menjadi korban tewas dari insiden ini.

Ya, kecelakaan ini merupakan awal dari runtuhnya era penerbangan supersonik di dunia.

Pasca kecelakaan ini, seluruh pesawat Concorde yang ada dilayanan ditarik oleh pihak operator dan beragam upaya coba dilakukan oleh pihak pengembang agar pesawat ini bisa kembali mengudara. Ya, Concorde memang sempat dinyatakan sudah layak terbang pada November 2001, namun kepercayaan penumpang mulai pudar seiring gaung kecelakaan AF 4590 semakin melebar.

Belum lagi biaya pengoperasian yang sangat besar membuat pihak maskapai seolah enggan untuk ‘mempekerjakan’ pesawat ini kembali. Mimpi buruk bagi Concorde muncul ketika pada 31 Mei 2003, pihak Air France menghentikan seluruh pengoperasian dari pesawat ini, menyusul British Airways pada 24 Oktober 2003.

Dan kembali pada pokok permasalahan di atas, last-ever flight dari Concorde ini jatuh pada 26 November, 16 tahun silam. Terima kasih Concorde atas kenangan penerbangan supersonik yang sangat berkesan!

Pramugari Tolak Beri Upgrade Gratis, Penumpang Emirates Ini Justru Nikmati Penerbangan 14 Jam Sendirian

Pengalaman terbang sendirian di pesawat komersial, apalagi dalam penerbangan jarak jauh, adalah mimpi bagi setiap pelancong. Inilah yang dialami seorang penumpang wanita dalam penerbangan Emirates dari Brisbane, Australia, menuju Dubai. Namun, ada kejutan yang terjadi ketika ia meminta upgrade ke kelas yang lebih tinggi.

Wanita tersebut, yang terbang di kelas ekonomi, menemukan bahwa pesawat yang ia tumpangi—yang memiliki kapasitas ratusan kursi—hampir seluruhnya kosong. Dalam video yang ia bagikan, terlihat jelas deretan demi deretan kursi di depan dan belakangnya benar-benar tidak berpenghuni. Perjalanan 14 jam itu, menurutnya, terasa seperti “mimpi” karena ia memiliki kebebasan ruang tak terbatas.

Tertidur Sepanjang Perjalanan, Penumpang Air Canada Terbangun dalam Kabin Gelap dan Kosong

Ditawari ‘Poor-Man’s Lie-Flat’ Gratis
Merasa mendapatkan kesempatan emas, penumpang tersebut berniat meminta upgrade ke kelas bisnis (Business Class) atau kelas satu (First Class), bahkan ia bersedia membayar atau menggunakan poin miles yang dimilikinya.

Namun, di sinilah keunikan pelayanan maskapai Emirates terjadi. Ketika permintaannya disampaikan, salah satu pramugari justru memberikan saran yang tidak biasa. Pramugari tersebut menyarankan penumpang untuk tidak membuang-buang uang untuk upgrade.

Alasannya sederhana, dengan ruang yang begitu melimpah di kelas ekonomi, penumpang bisa mendapatkan manfaat utama dari kursi kelas bisnis—yaitu tempat tidur yang rata (lie-flat)—secara gratis dengan merebahkan diri melintasi deretan kursi kosong.

Kebahagiaan Kursi Kosong
Penumpang tersebut kemudian memutuskan untuk mengikuti saran pramugari tersebut. Alih-alih mendapatkan kenyamanan eksklusif suite kelas atas, ia menikmati kemewahan ruang: merebahkan tubuhnya melintasi tiga hingga empat kursi kosong di kelas ekonomi.

Pengalaman ini sering dijuluki oleh para frequent flyer sebagai “poor-man’s lie-flat seat” (kursi datar versi ‘orang miskin’). Berkat ruang yang tak terbatas, ia bisa tidur nyenyak sepanjang penerbangan 14 jam tersebut dan tiba di Dubai dalam keadaan segar dan beristirahat penuh.

Meskipun Emirates memiliki kebijakan upgrade yang ketat dan tidak memberikan upgrade gratis dengan mudah, dalam kasus ini, pramugari memilih memberikan solusi praktis. Kisah ini menjadi pengingat bahwa terkadang, ruang kosong di kelas ekonomi bisa memberikan pengalaman yang sama berharganya dengan kursi mahal di kelas bisnis.

Apakah Pramugari Izinkan Penumpang Tidur di Kursi Pesawat yang Kosong Bak di Kasur?