Mengenal Sistem Penopang Roda, Tanpa ini Pesawat Tak Bisa Mendarat

Sumber: indailytimes.com

Bagi sebagian orang, pendaratan pesawat merupakan satu momen yang bisa meningkatkan detak jantung secara signifikan. Hantaman yang keras antara roda pesawat dan landas pacu bakal membuat penumpang tersentak dan ini merupakan awal dari pikiran buruk yang biasanya menghantui pikiran setiap penumpang – mulai dari pesawat tergelincir, penopang roda yang patah, dan kejadian menyeramkan lainnya. Namun di sini kami tidak akan membahas mengenai hal menakutkan tersebut, melainkan tentang penopang roda yang ada di pesawat.

Baca Juga: Selain Mesin, Yuk Kenali Arti Suara-Suara di Dalam Kabin Pesawat

Ketika telah meninggalkan landasan, roda pesawat akan ditekuk masuk ke dalam badan pesawat – pun ketika pesawat hendak mendarat, maka roda akan kembali dikeluarkan. Nah khusus untuk proses landing, peranan suspensi pada penopang roda ini menjadi sangat penting karena proses landing memberikan gaya dorong ke bawah yang sangat besar (karena beban dari pesawat ditambah penumpang dan kargo).

Itu baru dari pesawat komesial, lalu apa jadinya dengan jenis pesawat lain? Berikut KabarPenumpang.com sarikan empat jenis sistem penopang (landing gear) yang terkenal di sektor aviasi global, dikutip dari laman boldmethod.com.

Rigid Struts

Rigid struts. Sumber: boldmethod.com

Bisa dibilang, rigid struts merupakan penopang paling mendasar yang ada di sektor aviasi global, karena umumnya, penopang roda semacam ini terpasang pada jenis-jenis pesawat kuno. Sistem penopang ini belum menggunakan suspensi, atau dengan kata lain, pendaratan yang kasar dan keras akan selalu mewarnai akhir penerbangan.

Touchdown (roda pesawat pertama kali menyentuh daratan) yang keras akan menghasilkan daya kejut yang keras pula. Absennya sistem suspensi pada penopang jenis ini akan mengakibatkan penumpang dan pilot merasakan hentakan yang keras juga.

Spring Steel Struts

Spring steel struts. Sumber: boldmethod.com

Penopang roda semacam ini biasanya ditemui di pesawat-pesawat berukuran kecil, seperti Cessna. Penopang pegas baja tergolong sederhana secara mekanis, tidak membutuhkan banyak perawatan, dan biasanya ringan. Ketika sistem pegas atau suspensi sudah tersematkan, maka pendaratan pun tidak akan sekeras rigid struts.

Bungee Cords

Bungee cord. Sumber: boldmethod.com


Tidak seperti dua penopang di atas, bungee cords agak jarang ditemui di pesawat. Salah satu pesawat yang menggunakan sistem penopang ini adalah Piper Cub. Sistem penopang ini hanyalah berupa kabel elastis yang terlilit di antara roda pesawat dan badan pesawat – dimana penggunaan sistem penopang ini ditujukan untuk mencegah beban pantul yang dihasilkan oleh pesawat ketika landing tidaklah terlalu besar.

Baca Juga: Lima Poin Ini Jadi Kunci Keselamatan Saat Pesawat Alami Crash Landing

Shock Struts

Shock struts. Sumber: Boldmethod

Yang terakhir merupakan penopang roda yang paling banyak ditemukan di pesawat terbang komersial. Dengan menggunakan nitrogen dan cairan hidrolik, sistem pegas yang ‘tersaji’ pada shock struts akan mampu meminimalisir daya kejut ketika pesawat mendarat secara signifikan – setidaknya jauh lebih halus dari tiga varian di atas.

Daya kejut yang dihasilkan ketika pesawat touchdown akan senantiasa tereduksi dengan hadirnya dua silinder yang akan meminimalisir daya kejut.

Jadi, sekarang sudah paham kan jenis-jenis penopang roda yang ada di pesawat?