Sempat Bikin Panik, Kopilot Air China Hisap Vape Dalam Penerbangan
Kepanikan melanda penumpang Air China dengan pesawat Boeing 737, saat tiba-tiba masker oksigen keluar dari panel di atas kepala. Kejadian ini terjadi pada Selasa (10/7/2018) pada pesawat dengan tujuan Hong Kong menuju Dalian, salah satu kota pelabuhan utama di Selatan Cina.
Baca juga: Unik! Penumpang ini Sandera Awak Kabin Air China Menggunakan Pena
KabarPenumpang.com melansir dari laman independent.co.uk (14/7/2018), dimana pesawat tiba-tiba terbang rendah 6.500 meter dibawah ketinggian seharusnya. Para penyelidik mengatakan, kopilot pesawat tersebut berusaha menyembunyikan dirinya merokok dan secara tidak sengaja mematikan AC.
Sehingga oksigen dalam kabin menjadi turun dan menyebabkan masker oksigen keluar. Namun untungnya tidak lama hal itu terjadi dan pesawat kembali ke posisi seharunya. Karena kejadian ini, pesawat hampir saja melakukan pendaratan daurat.
Diketahui dari pemeriksaan awal oleh Administrasi Penerbangan Sipil Cina atau Civil Aviation Administration of China (CAAC) bahwa kopilot tersebut berusaha mematikan kipas untuk mengentikan asap mencapai kabin penumpang tanpa berkoordinasi dengan kapten penerbangan tersebut. Namun ternyata dirinya salah menekan tombol dan mematikan unit pendingin udara.
Kemudian petugas keamanan regulator Qiao Yibin mengatakan, kru pesawat pun langsung melakukan tindakan darurat dengan menurunkan masker oksigen sampai pokok masalahnya diketahui. Setelah mengetahui masalah berada pada tombol AC yang dimatikan, kru kabin pun kembali menyalakan dan mengembalikan pesawat ke ketinggian semestinya.
CAAC melanjutkan penyelidikan dan menganalisisi perekaman data penerbangan serta perekam suara kokpit untuk mendapatkan hasil akurat penyebab insiden itu. Maskapai Air China sendiri menyatakan tidak akan memberi toleransi pada perilaku awak penerbangannya.
Baca juga: Hisap Vape dalam Lavatory, Penumpang Batik Air Digelandang Petugas Keamanan Bandara
Hal tersebut tertulis di akun media sosial mereka di Weibo (Twitternya Cina). Diketahui peraturan penerbangan Cina melarang awak pesawatnya untuk merokok dalam semua fase operasional. Tahun 2006 lalu mereka juga melarang penumpang untuk menggunakan rokok elektronik.
Pada 2015, Radio Nasional China yang dikelola pemerintah mengatakan empat penumpang dalam penerbangan Air China dari Hong Kong ke Beijing mencium asap kuat yang datang dari kabin. Tahun berikutnya yakni 2016, AS melarang penggunaan rokok elektronik pada penerbangan komersial.
Tak Kunjung Rampung, LRT Jabodebek Lintasan Kuningan-Dukuh Atas Terganjal Masalah!
Pekerjaan pembangunan jalur Light Rapid Transit (LRT) yang menghubungkan Jakarta, Bogor, Depok Bekasi (Jabodebek) masih terus berjalan. Namun lintasan yang menghubungkan kawasan Kuningan menuju kawasan Dukuh Atas saat ini pengerjaannya masih tertahan di Jalan H.R Rasuna Said Kuningan.
Baca juga: Sambut Asian Games 2018, LRT Jakarta Siap Beroperasi 10 Agustus Mendatang
Dari pantauan yang dilakukan KabarPenumpang.com beberapa hari lalu, sudah mulai terlihat pengerjaan. Apalagi bisa dikatakan lintasan Kuningan menuju Dukuh Atas merupakan yang paling baru dalam umur pengerjaannya.
Adapun pengerjaan yang ada adalah sebagian bentangan panjang jalur LRT di Jalan Rasuna Said sudah terpasang dan sebagian lainnya masih dalam tahap pembangunan pondasi dan pengamanan pengerjaan. Sebab pengerjaan lintasan Kuningan-Dukuh Atas sendiri berada tepat di tengah jalur jalan Rasuna Said.
Meski progres terlihat, namun masih tertahan dikarenakan belum selesainya penetapan lokasi untuk jalur yang dilalui dari Setiabudi sampai ke Dukuh Atas.
“Sinkronisasi trase di Setiabudi sampai ke Dukuh Atas yang masih belum selesai sehingga belum bisa kita lakukan konstruksinya,” ujar Direktur Operasi II Adhi Karya Pundjung Setya Brata yang diutip KabarPenumpang.com dari detik.com, Selasa (17/7/2018).
Brata mengatakan, penetapan lokasi masih belum rampung karena tertahan penentuan posisi lokasi stasiun yang ada di DUkuh Atas. Ini seperti yang diketahui bahwa Dukuh Atas sendiri akan menjadi pusat dari segala transportasi massal yang ada di Jakarta nantinya seperti MRT, KRL, TransJakarta, LRT baik Jakarta maupun Jabodebek sendiri.
“Apakah di sisi utara atau selatan. Ada dua alternatif yang masih perlu disepakati oleh pihak Kemenhub sama Pemprov DKI,” ujarnya.
Baca juga: Viral Suzuki Jimny Nongkrong di Atas Rel LRT Sumatera Selatan. Ada Apa?
Bila penetapan lokasi yang akan dikeluarkan oleh Peprov DKI Jakarta sudah diputuskan, maka pihak Adhi Karya akan langsung melanjutkan pekerjaan menuju Dukuh Atas. Progres pekerjaan jalur LRT Jabodebek lintasan Kuningan-Dukuh Atas sendiri saat ini baru mencapai 25,6 persen. Sementara untuk lintasan secara total progresnya 41 persen.
Selain kemacetan, salah satu dampak dari pembangunan jalur LRT juga terlihat dengan dibangunnya halte TransJakarta baru yang diakibatkan oleh jalan yang menyempit.
Viral! Video Pria Gunting Kuku Kaki di Kabin Pesawat
Kelakuan penumpang pesawat banyak sekali yang unik, bahkan terbilang aneh pun ada. Seperti membuka celana dan menaikkan kaki ke bangku depan, berteriak, menangis, tidak mau mendengarakan perintah awak kabin dan lainnya.
Baca juga: Pramugari Virgin Atlantic Pergoki Sepasang Remaja Lakukan ‘Adegan Dewasa’ di Toilet Pesawat!
Baru-baru ini KabarPenumpang.com mendapatkan dari laman news.com.au (11/7/2018), dimana seorang penumpang tertangkap sedang memotong kuku kakinya. Kelakuan penumpang ini terjadi dalam penerbangan maskapai berbiaya hemat AirAsia yang berangkat dari Kuala Lumpur menuju Hanoi pada Mingggu sore.
Jade Thomas dan kekasihnya, Trong Nguyen melihat seorang penumpang di seberang lorong tempat duduknya tidak menggunakan sepatu dan kaos kaki. Kemudian semakin mengesalkan saat pria tersebut mengangkat kakinya yang kotor ke kursi di depannya.
Pria tersebut memotong kuku kaki dan menjatuhkan potongan tersebut ke lantai kabin. Perlakuan penumpang pria yang tak diketahui namanya tersebut sepertinya tidak sadar akan kuman yang bisa menyerang penumpang lain di pesawat Airbus A320 tersebut dari potongan kuku kakinya.
“Saya kembali dari perjalanan ke Bali bersama pacar saya ketika kami mengamati beberapa perilaku buruk. Ada teriakan, bersendawa keras dan tidak mengikuti permintaan staf maskapai misalnya semua orang berdiri dan mulai mendapatkan tas tangan mereka sebelum tanda sabuk pengaman dimatikan. Kemudian tentu saja, ada beberapa orang yang tidak memakai sepatu,” ujar Jade.
Baca juga: Spektakuler! Penumpang Ini Jemur Celana Dalam di Pendingin Kabin Pesawat
Masalah bau kaki karena tidak menggunakan alas tersebut bukanlah hal yang mudah untuk di tangani. Ini membuat seorang pramugari yang juga seorang blogger penerbangan baru-baru ini membuat permohonan publik bagi penumpang untuk tetap menjaga kaki mereka tertutup di lantai. “Dalam karir 15 tahun saya sebagai seorang pramugari, saya telah melihat peningkatan dalam insiden yang berkaitan dengan bau kaki.”
Sambut Asian Games 2018, LRT Jakarta Siap Beroperasi 10 Agustus Mendatang
Laga pembukaan Asian Games 2018 rencananya akan dibuka pada 18 Agustus mendatang, dan ada kabar baik terkait prasarana transportasi, bahwa pada 10 Agustus 2018 jaringan LRT (Light Rapid Transit) sudah dapat dioperasikan untuk mendukung mobilitas para atlet dan kru dari manca negara.
Hal tersebut disampaikan Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi saat meninjau fasilitas jaringan Light Rapid Transit (LRT) Jakarta pada 15 Juli kemari. Senada dengan Menteri Budi – pada kesempatan yang sama – Direktur Utama PT Jakarta Propertindo yang baru, Dwi Wahyu Daryoto pun meyakini bahwa pembangunan LRT dapat diselesaikan oleh Wijaya Karya (Wika) pada akhir bulan Juli ini.
Baca Juga: Hitung Mundur, LRT Jakarta Optimis Bisa Beroperasi Saat Asian Games 2018
Setelah sejumlah otoritas terkait mulai membocorkan tanggal rilis dari salah satu moda yang akan dibanggakan Indonesia pada pagelaran Asian Games 2018 ini, satu fase akhir yang tidak boleh dilewatkan adalah uji kelayakan. Menyinggung soal ini, Menteri Budi mengatakan bahwa LRT Jakarta akan mendapatkan ijin operasi pada awal Agustus.
“Saya sudah tugaskan Direktur Prasarana lakukan sertifikasi secara berangsur. Kita utamakan apa yang sudah kita kerjakan, disertifikasi. Direncanakan kurang lebih 1-10 agustus selesai,” ungkap Menteri Budi, dikutip dari laman TribunNews.com (15/7/2018).
Nah, pasti banyak dari Anda semua yang penasaran dengan gambaran sarana dan pra-sarana LRT Jakarta rute Kelapa Gading – Velodrome Rawamangun ini, bukan? Dilansir KabarPenumpang.com dari sejumlah laman sumber, nantinya akan ada empat trainset yang akan beroperasi, walaupun tercatat LRT Jakarta sendiri sudah memiliki delapan trainset. Waktu operasinya sendiri mulai pukul 05.00 WIB hingga pukul 22.00 WIB.
Projects Managers Sarana LRT Jakarta, Aditya Kesumanegara mengatakan bahwa perusahaan sudah mengantongi 24 nama yang siap menjalankan moda ini. Uniknya, beberapa dari masinis ini berjenis kelamin perempuan. “Sekitar 24 orang masinis, jam operasional jam 5 atau 6 pagi sampai jam 10 malam,” kata Aditya, dikutip dari laman liputan6.com (15/7/2018). Aditya menambahkan bahwa satu trainset terdiri dari dua gerbong yang mampu mengangkut hingga 270 penumpang.
Suasana di dalam gerbongnya pun sangat nyaman, dengan perpaduan warna merah putih yang mendominasi dan deretan bangku menyamping berbahan plastik seperti yang ada di MRT siap menemani perjalanan Anda.
Baca Juga: Di Jakarta Segera Beroperasi MRT dan LRT, Tahukah Artinya?
Kereta buatan Hyundai Rotem asal Korea Selatan ini menggunakan sistem articulated boogie yang memungkinkan kereta dapat melaju dengan aman dan luwes mengikuti kontur jalur trek pada tikungan tajam. Selain itu, produsen kereta pun mengatakan bahwa armadanya mampu mengular nyaris tanpa getararan dan juga lebih kedap suara.
Sedangkan dari segi pra-sarananya sendiri, LRT Jakarta sudah menyiapkan yang terbaik dari yang terbaik. Sebut saja Stasiun Kelapa Gading yang akan dibekali dengan elevator, lift, toko retail, dan coffee shop yang siap memanjakan setiap penumpang. Kendati pembangunan Stasiun Kelapa Gading baru rampung 90 persen, namun Aditya yakin bahwa stasiun ini bisa selesai pada akhir Juli mendatang. “Kami sedang menunggu elevator yang nantinya akan dipasang di samping tangga manual.” Tutup Aditya.
Dari 234 Unit Pesanan, Batik Air Terima Airbus A320-200CEO ke-41
Sebagai maskapai penerbangan terbesar di Indonesia, Lion Air Group baru saja menerima pesawat tipe Airbus A320-200CEO (A320) yang langsung diterbangkan dari pabriknya di Toulouse, Perancis untuk melengkapi Batik Air. Armada ini merupakan pesawat ke-41 dari total pesanan A320-200CEO sebanyak 234 unit pesawat.
Baca juga: Telat Sosialisasi, Batik Air Buka Penerbangan Jakarta ke Kinabalu
A320 untuk kode penerbangan ID tersebut memiliki nomor registrasi PK-LZI. Pesawat tersebut tiba di Bandara Internasional Soekarno-Hatta setelah menempuh perjalanan selama 19 jam 20 menit dengan transit di Bandara internasional Abu Dhabi dan Bandara Internasional Kuala Lumpur.
Pesawat tersebut akan melengkapi armada yang sudah dioperasikan Batik Air yakni 40 Airbus A320-200CEO (12 kelas bisnis dan 144 kelas ekonomi), enam Boeing 737-900ER (12 kelas bisnis dan 168 kelas ekonomi) serta delapan Boeing 737-800NG (12 kelas bisnis dan 150 kelas ekonomi).
“Kami sangat senang dengan menerima pesawat terbaru yang tiba sesuai jadwal. Kehadiran PK-LZI ini merupakan wujud komitmen dalam menyediakan pelayanan terbaik dan menambahkan tingkat kenyamanan pelanggan saat berada di pesawat (in-flight services). Kami mengharapkan, Batik Air semakin meningkatkan pengalaman terbang bagi pelanggan di kelas premium services. Batik Air memiliki keseriusan dalam menyediakan service berkonsep pre-flight, in-flight serta post-flight,” ujar Capt. Achmad Lutfie, Chief Executive Officer Batik Air yang dikutip KabarPenumpang.com dari keterangan tertulis, Senin (16/7/2018).
“Airbus sangat senang keluarga pesawat A320 telah berperan penting dalam membantu Batik Air mengembangkan jaringan rute domestik dan internasionalnya. Kami juga turut merasa bangga atas kemitraan yang sangat kuat dengan Lion Air Group dan kami berharap untuk dapat terus mendukung pertumbuhan maskapai ini di masa depan,” ujar Jean-Francois Laval, Airbus Executive Vice President, Customer Affairs, Asia.
A320 merupakan salah satu keluarga pesawat lorong tunggal yang menjadi bagian dari pilihan Batik Air dalam mengembangkan konsep full-service. Dengan pesawat ini, Batik Air telah menyesuaikan ukuran pesawat dengan permintaan pasar dan pelanggan, yang didasarkan jarak rute penerbangan, kepadatan penumpang, frekuensi terbang per hari serta operasional bandar udara.
Capt. Lutfie mengatakan, Batik Air akan mendatangkan armada terbaru dengan mengoperasikan pesawat kategori lorong kabin tunggal (single aisle) yang disesuaikan perkembangan teknologi. Upaya ini selain memberikan layanan terbaik kepada pelanggan, juga untuk meningkatkan kapasitas angkut penumpang dan barang, memperkuat layanan rute yang sudah ada serta mendukung rencana pengembangan jaringan perusahaan seperti pembukaan rute baru.
“Batik Air memiliki pandangan bisnis yang tajam ke depan yang didukung berbagai strategi tepat, dengan tujuan agar operasional penerbangan berada pada level terbaik. Hadirnya pesawat baru ini, diharapkan berdampak positif terhadap tingkat ketepatan waktu penerbangan (on time performance/ OTP) per hari. Saat ini, Batik Air mencatatkan rata-rata OTP 88 persen hingga 90,3 persen,” papar Capt. Lutfie.
Baca juga: Lion Air Group Jadi 5 Maskapai Teratas Pembawa Penumpang Terbanyak ke Singapura
Hingga saat ini Batik Air melayani 40 destinasi domestik dan internasional (Singapura; Kuala Lumpur, Kinabalu, Malaysia; Chennai, India; Perth, Australia) dengan frekuensi mencapai lebih dari 350 penerbangan perhari. Untuk pengaturan operasional, Batik Air memiliki utilisasi 12 jam per hari, dua pesawat menjalani perawatan (schedule maintenance) serta satu pesawat sebagai cadangan (stand by).
Penumpang Blue Bird ‘Dipaksa’ Turun di Bandara Ahmad Yani, Ini Tanggapan Angkasa Pura I
Belum lama ini ada kejadian yang tidak menyenangkan terjadi di Bandara Internasional Ahmada Yani, Semarang. Nathalie, penumpang yang baru saja mendarat dan menumpangi taksi Blue Bird, pada 15 Juli lalu mengalami penurunan paksa setelah kendaraan berjalan sekitar 10 – 15 meter. Kejadian yang berada di lingkungan bandara tersebut lantas menjadi viral di kalangan netizen.
Baca juga: Stiker “Taksi Bandara,” Apa Guna dan Manfaatnya Buat Penumpang?
Kabar yang menyinggung citra pengelola bandara tersebut lantas direspon langsung oleh PT Angkasa Pura I. Israwadi, Corporate Secretary PT Angkasa Pura I dalam siaran pers (17/7/2018) menyebutkan bahwa pihaknya akan menginvestigasi kejadian ini dan menindak oknum tersebut sesuai dengan alur dan prosedur yang berlaku. Disebutkan bila penghadangan terjadi pada taksi Blue Bird non resmi bandara yang ditumpangi Nathalie.
Diurunut dari kejadian, sekitar pukul 12.30 WIB Sdri. Nathalie yang baru tiba dari Surabaya dan mencari taksi untuk pulang. Ketika itu Nathalie hendak meninggalkan bandara menggunakan taksi Blue Bird. Setelah taksi yang ditumpangi jalan sekitar 10-20 meter, ternyata ada seorang pria menghadang dan meminta Nathalie turun. Sopir Blue Bird pun diminta menurunkan barang-barang milik Nathalie.
Nathalie kemudian menghampiri petugas customer service bandara untuk mengadukan peristiwa yang dialaminya itu. Berdasarkan laporan itu, pengelola Bandara Ahmad Yani, melalui petugas customer service dan Airport Duty Manager berusaha memberikan penjelasan dan meminta Nathalie untuk mengisi formulir complaint ticket.
Pengisian formulir complaint tersebut diperlukan agar pihak bandara mengetahui identitas lengkap pengguna jasa bandara sehingga pengelola bandara dapat mengabarkan tindak lanjut keluhan tersebut kepada pengguna jasa tersebut. Namun sayangnya Nathalie tidak mengisi formulir tersebut.
Baca juga: Biar Tak Bingung, Ini Panduan Pilih Taksi di Bandara
Terkait transportasi di Bandara Ahmad Yani Semarang, sebenarnya telah ada peraturan dan kerjasama. Hingga saat ini yang bisa mengangkut penumpang dari bandara tersebut adalah Taksi Bandara Primer Koperasi Taksi Angkatan Darat (Primkopad) S-16, Bus Trans Semarang, dan rental mobil dari TRAC serta Blue Bird.
The Solo, Electric Vehicle Roda Tiga yang Ramah Lingkungan nan Nyentrik
Ketika ditanya, “Moda apa yang bergerak dengan menggunakan tiga roda?”, mungkin kebanyakan dari Anda akan bajaj, bemo, atau becak. Tidak ada yang salah dengan semua jawaban tersebut. Tapi, kini jaman sudah berkembang dan tidak hanya tiga moda tersebut yang memiliki tiga roda. Pasalnya, induk perusahaan dari Intermeccanica International Inc., Electra Meccanica telah merancang sebuah moda futuristik yang mampu berjalan dengan menggunakan tiga roda.
Baca Juga: EMBATT, Baterai Mobil Yang Dapat Menempuh Jarak 1000 Km
Alih-alih menggunakan bahan bakar fosil seperti bajaj dan bemo atau tenaga manusia seperti becak, The Solo – mobil tiga roda karya Electra Meccanica – menggunakan listrik sebagai motor utama moda berbentuk unik ini. Dilansir KabarPenumpang.com dari laman newatlas.com (13/7/2018), moda seberat 675 kg ini mampu melesat pesat hingga menyentuh angka 82 mph atau yang setara dengan 132 km per jam.
Menggunakan baterai berkapasitas 17,3 kWh, moda ini mampu menempuh jarak hingga 161 km dalam sekali charge. Untuk bagian interiornya sendiri, The Solo memiliki fitur yang tidak jauh dengan mobil konvensional kebanyakan. Sebuah bangku single seat, AC, reverse camera, pemutar musik berteknologi stereo Bluetooth, kaca spion, wiper, hingga bagasi berkapasitas 285 liter. Keunikan terdapat pada fitur keyless yang memungkinkan pengguna berkendara tanpa menggunakan kunci.
Ketika masterpiece dari moda ini sudah berhasil mengundang decak kagum dari berbagai kalangan, kini waktunya Electra Meccanica untuk mulai memproduksinya secara massal. Dalam rencananya untuk memproduksi kendaraan futuristik ini dalam skala besar, perusahaan menggandeng Zongshen Industrial Group, manufaktur otomotif asal Cina yang sudah menandatangani kesepakatan kerja sama pada bulan Oktober tahun lalu.
Baca Juga: Serap Pengguna Mobil Listrik Lebih Banyak, Queensland Gratiskan Electric Super Highway
Dengan menggaet Zongshen Industrial Group, Electra Meccanica berharap bisa menembus target produksi sebanyak 75.000 kendaraan dalam jangka waktu tiga tahun ke depan. Adapun rincian pembuatannya terbagi ke dalam tiga sesi: 5.000 armada dalam satu tahun pertama, 20.000 armada di tahun yang kedua, dan 50.000 sisanya di tahun ketiga.
Bagaimana, apakah Anda tertarik untuk menimang salah satu dari mobil ramah lingkungan ini? Bagi Anda yang tertarik, Electra Meccanica mematok harga US$15.000 atau yang setara dengan Rp216 juta untuk satu unit The Solo. Mengingat produksi yang masih inden, maka Anda bisa memesannya terlebih dahulu dengan dana awal US$250 (Rp3,6 juta).
BlackFly, Moda VTOL Personal dengan Fleksibilitas Tinggi
Produksi pesawat Vertical Take Off Landing (VTOL) kini kian menjamur. Tidak hanya digandrungi oleh produsen pesawat raksasa seperti Boeing saja, bisnis ini juga tak pelak dilakoni oleh Opener Inc., sebuah perusahaan penerbangan yang berbasis di Kanada. Sebenarnnya, moda ini hanya dikhususkan untuk satu penumpang saja, tidak seperti produksian VTOL lain yang mampu mengangkut lebih dari satu penumpang. Lalu, apa kelebihan dari moda berjenis Personal Aerial Vehicle (PAV) ini?
Baca Juga: Cormorant, Satu-Satunya Unmanned Aerial Vehichle yang Diakui NATO
Sebagaimana yang dilansir KabarPenumpang.com dari laman newatlas.com (14/7/2018), adapun moda yang diberi nama BlackFly ini menggunakan delapan motor listrik yang terpasang di sayap depan dan belakang. Dengan kecepatan maksimum yang mencapai 100 km per jam, moda ini mampu menempuh jarak 40 km dalam sekali charge.
Dalam video yang diunggah pihak Opener Inc. ke jejaring sosial Youtube, tampilan dari dalam kokpit BlackFly ini hampir mirip dengan pesawat tempur, dimana sang pilot mampu melihat 360 derajat kondisi di sekelilingnya melalui sebuah kaca berbentuk oval. “BlackFly dirancang dan dibangun untuk dunia transportasi tiga dimensi yang baru,” tutur pihak Opener Inc.
Kelebihan BlackFly ketimbang moda udara lainnya terletak pada tombol Automatic Return-to-Home. Sesuai dengan namanya, fungsi dari tombol ini adalah untuk mengembalikan pesawat secara otomatis ke titik awal penerbangan. Kehadirannya sangat berguna bagi pengguna yang tersasar atau kehilangan titik koordinat. Tentunya jika si pengemudi sudah menghabiskan daya dari BlackFly, fungsi dari tombol futuristik ini pun akan dipertanyakan. Apakah ada kapasitas daya cadangan yang mampu diakses semisal daya dari BlackFly habis atau tidak.
Selain tombol tersebut, tingkat kebisingan dari moda ini pun bisa dibilang rendah. Itu menandakan bahwa perpaduan tenaga listrik yang digunakan dan tingkat kebisingan yang dihasilkan mampu menjadikan BlackFly sebagai salah satu moda VTOL yang sangat ramah lingkungan.
Kehadiran fitur parasut balistik darurat juga menjadi tambahan nilai jual BlackFly sendiri, yang mengindikasikan Opener Inc. tidak hanya memperhatikan inovasi, melainkan keselamatan tetaplah yang utama. “Keselamatan telah menjadi tujuan utama kami dalam pengembangan teknologi baru ini,” tutur pihak Opener Inc. “Selama sembilan tahun mengembangkan BlackFly, kami telah melakukan lebih dari 1.000 kali uji terbang dan menawarkan redundansi tiga modular untuk tingkat keamanan yang lebih besar,” imbuhnya.
Baca Juga: Didukung Intel Capital, Joby Aviation Siap Ramaikan Industri Taksi Udara
Mungkin diantara semua kelebihan BlackFly, poin inilah yang menjadi daya jual utamanya. Ya, pengguna BlackFly tidak membutuhkan lisensi penerbangan untuk mengoperasikannya. Hal tersebut dilatarbelakangi oleh kemampuan dari BlackFly sendiri yang masih bisa dibilang terbatas. Kendati demikian, pihak perusahaan akan memberikan serangkaian, “ujian tertulis FAA Private Pilot. Selain itu, para calon pembeli juga wajib untuk mengetahui seluk-beluk dari BlackFly dan mengikuti pelatihan penerbangan yang sudah menjadi ketentuan dari kami.” Ujar pihak Opener Inc.
Selain Kualitas Layanan, Nilai Aset di Dunia Transportasi Tak Bisa Dikesampingkan
Selain penting bagi perekonomian dan masyarakat di suatu daerah – tanpa disadari – jaringan transportasi juga berpengaruh terhadap kualitas orang-orang yang hidup di dalam lingkaran tersebut, dimana mereka bisa memiliki keleluasaan untuk bepergian dari satu titik menuju titik lainnya. Layaknya teknologi, jaringan transportasi pun akan terus mengalami perkembangan, yang pada akhirnya, itu semua mampu meningkatkan pengalaman perjalanan para penggunanya.
Baca Juga: Riyadh Metro, Inilah Serba-Serbi LRT Pertama di Arab Saudi
Selain perkembangan teknologi yang juga memegang andil dalam dunia transportasi, soal polusi juga turut mencuat ke permukaan. Wajar saja jika setiap operator transportasi mengupayakan sebuah moda yang aman, cepat, andal, dan ramah lingkungan untuk ‘memindahkan’ penumpang dan barang. Banyak yang menilai bahwa perjalanan menggunakan kereta api itu 50 persen lebih ramah lingkungan, dan sembilan kali lebih aman ketimbang moda darat lainnya.
Namun untuk mempertahankan penilaian tersebut, para pelaku industri ini harus memastikan keamanan aset, memberikan layanan terbaik yang telah dijanjikan sebelumnya, dan memaksimalkan kinerja aset. Keamanan aset di sini mencakup menghindari kecelakaan, cidera, atau bahkan kematian para pekerjanya. Sedangkan memaksimalkan kinerja aset di sini maksudnya adalah memberikan solusi yang paling ekonomis dalam setiap pertimbangan, tanpa mengesampingkan soal keselamatan dan keamanan.
Dilansir KabarPenumpang.com dari laman constructionweekonline.com (12/6/2018), laporan McKinsey & Company berjudul Imagining Construction’s Digital Future yang diterbitkan pada tahun 2016 menunjukkan bahwa industri konstruksi belum sepenuhnya mengadopsi platform terintegrasi, yang mencakup perencanaan, desain, konstruksi, operasi, dan pemeliharaan proyek. Akibatnya, sebagian besar organisasi kehilangan sumber informasi yang terkait dengan desain, biaya, dan jadwal proyek, atau kondisi aset selama operasi.
Hingga saat ini, membangun atau mengadopsi standar Building Information Modelling (BIM) dan proses untuk mengatasi tantangan ini telah menjadi fokus penting organisasi infrastruktur rel dan profesional di seluruh dunia. Dan ketika masa seperti ini, Bentley Systems hadir bak pahlawan dengan beragam penawaran yang diharapkan bisa menjadi jawaban dari masalah BIM tersebut.
Baca Juga: Ternyata, Ini Yang Harus Dilakukan Pilot Saat Terjadi Malfungsi Rem!
Sebagai contoh, salah satu produk Bentley Systems yang bernama ComplyPro memungkinkan penggunanya — termasuk Riyadh Metro di Arab Saudi — untuk secara jelas mendefinisikan, mencatat, dan mengelola persyaratan proyek melalui daftar berbasis cloud, yang memungkinkan setiap persyaratan untuk diakui dan dikelola secara efisien. Jadi, bukan melulu soal keselamatan, tapi juga aset merupakan salah satu nilai penting yang tidak boleh dianak-tirikan.
