Keindahan alam Indonesia kembali lagi dipamerkan di kancah internasional melalu gambar di bus-bus Eropa. Kali ini, Rusia sebagai tuan rumah Piala Dunia 2018, juga ikut mempromosikan pariwisata Indonesia melalui livery pada bus hop on hop off dengan logo Wonderful Indonesia di Moskow.
Baca juga: Kampanye “Wonderful Indonesia” Meriahkan Transportasi di Paris
Dilansir KabarPenumpang.com dari laman tempo.co (5/6/2018), bus-bus ini terparkir di Red Square yang bersebelahan dengan Gran Kremlin Palace. Menampilkan salah satu keajaiban dunia yang ada di Indonesia yakni Candi Borobudur dan juga terkait Asian Games 2018 yang akan berlangsung di Jakarta-Palembang, bus ini akan mengambil rute di jalan utama pada 1-20 Juni 2018 kemarin.
Namun, tenang saja, ternyata bus dengan logo Wonderful Indonesia yang menunjukkan tempat wisata lainnya seperti Bali juga akan beroperasi di seluruh kota. Selain itu, papan iklan dengan Wonderful Indonesia juga akan menyapa Moskow dan pelancong di dua tempat strategis yaitu Novy Arbat dan Yerevan Plaza selama sebulan dari 15 Juni-16 Juli 2018.
Program Wonderful Indonesia ini juga diiklankan di salah satu tujuan utama dunia dan kota terbesar kedua Rusia, St Petersburg. Dikota ini akan ada 17 bus besar yang akan menampilkan pariwisata Indonesia dan akan mulai beroperasi pada 18 Juni hingga 9 September 2018 mendatang.
Empat bus besar lainnya pada 18 Juni-9 Agustus 2018 serta empat minibus pada 18 Juni-15 Juli 2018 yang akan berkeliling di jalur utama dan tersibuk St Petersburg. Duta Besar Indonesia untuk Rusia dan Republik Balarus, M Wahid Supriyadi mengatakan, promosi ini sendiri dilakukan terus menerus di Rusia yang ditetapkan sebagai tuan rumah Piala Dunia pada Juni-Juli 2018.
Baca juga:Ada Gambar Penari Bali di Metro Caracas, Ada Apa Ya?
“Kami berharap orang-orang dan turis Rusia akan tergoda dan tertarik untuk mengunjungi Indonesia melalui Indonesia Luar Biasa ini. Dan juga, Festival ketiga Indonesia akan diadakan di Moskow pada 3-5 Agustus tahun ini,” ujar Wahid sembari mengenang beberapa acara yang diadakan pada April hingga Mei 2018 lalu di Rusia.
Rusia sendiri ternyata adalah negara potensial untuk pariwisata Indonesia. Jumlah pelancong Rusia yang telah masuk ke Indonesia pada 2017 lalu sebanyak 110.529 orang dan meningkat 37,28 persen dibanding tahun 2016 lalu sebanyak 80.514 orang.
Jalur kereta api dengan cerita menyeramkan selama pembangunannya tidak hanya lekat di Indonesia, tetapi di Negeri Gajah Putih juga punya ‘segudang’ cerita yang menyeramkan dalam pembangunannya. Salah satunya adalah “Death Railway,” warga Thailand yang antusias pun membutuhkan waktu satu hari untuk ‘mengenang’ sejarah Death Railway tersebut.
Baca juga: Jalur Nagreg: Meski Banyak Isu Gaib , Tetap Favorit Saat Musim MudikKabarPenumpang.com merangkum dari laman tielandtothailand.com, Death Railway merupakan julukan saat pembangunan kereta api dari Thailand menuju Burma (sekarang – Myanmar) yang dilakukan atas perintah penguasa Jepang saat Perang Dunia II. Julukan Death Railway didapat karena lebih dari seratus ribu pekerja tewas selama 16 bulan konstruksi antara tahun 1942 hingga 1943.
Kemudian setelah selesai pembangunan pada 1945, ternyata para pekerja pembangunan jalur kereta ini juga bertambah. Jalur kereta ‘maut’ ini membentang 250 mil (402,3 km) dari Ban Pong, Thailand ke Thanbuyuzayat di Burma.
Para pekerja pembangunan jalur tersebut sebagian besar meninggal karena kelelahan, disentri, infeksi dan malnutrisi. Mereka diantaranya 80 persen warga Burma, Melayu dan Tamil, sedangkan 20 persen lainnya berasal dari tahanan perang asal Amerika Serikat, Australia, Inggris, Belanda dan India.
(www.tielandtothailand.com)
Untuk menyusuri jejak sejarah jalur ini, Thailand membuka tur atau wisata Death Railway. Memulai dari Kota Kanchanaburi, wisata ini dari Sungai Kwai, Pemakaman Perang Kanchanaburi, Museum Death Railway, sungai yang menghadap ke Stasiun Tham Kra Sae dan museum Hellfire Pass Memorial.
Dalam perjalanan tersebut, jembatan di atas Sungai Kwai ini juga memiliki kereta kecil yang melayani pelancong untuk menikmati pemandangan disisi lain sungai. Saat berada di pemakaman perang Kachanaburi, pemakaman ini tempat peristirahatan terakhir dari 7.000 orang Australia, Inggris dan Belanda yang meninggal selama pembangunan Death Railway.
Awalnya para pekerja ini di kuburkan disepanjang rel kereta api, tetapi setelah ditemukan, dipindahkan pada pemakaman ini. Setelah itu, tur ini berlanjut ke Death Railway Museum dan pusat penelitian.
Dalam museum ini terdapat pameran kereta yang menghubungkan Thailand dengan Burma pada waktu itu. Pendirinya, Rod Beattie telah menhadirkan sejarah kereta api yang di Thailand.
Baca juga: Kim Jong Un Mulai Membuka Diri, Jalur Kereta Trans Siberia Diharapkan Bisa Berakhir di Seoul
Tak hanya kereta, ratusan foto hitam putih, artefak pembangunan jalur kereta api dari pekerja dan lainnya ada di sini. Sayangnya para pengunjung museum ini tidak diizinkan untuk mengambil gambar dan cukup menikmatinya untuk diri sendiri.
Hellfire Pass dan Walking Trail merupakan jalur kereta api yang dipotong tanpa bantuan alat berat melainkan dengan palu, sekop dan dinamit. Sayangnya yang tersisa hanya lorong batu ini sebagai salah satu bukti Death Railway.
Sebagai salah satu bentuk pengimplementasian dari kerja sama bilateral dengan Nepal, Cina diketahui akan segera membangun jalur kereta api yang menghubungkan wilayah barat Tibet dengan negara yang memiliki populasi terbanyak di dunia ini. Rencana pembangunan tersebut diumumkan pada Jumat (22/6/2018), setelah pada beberapa waktu yang lalu, Perdana Menteri Nepal Khadga Prasad Oli menyambangi Beijing untuk menandatangani nota kesepakatan kerja sama.
Baca Juga: Tembus Pegunungan Qinling, Cina Luncurkan Kereta Cepat Lintasi Wilayah Utara dan Selatan
Sebagaimana yang dihimpun KabarPenumpang.com dari sejumlah laman sumber, nantinya jalur kereta tersebut akan menghubungkan Kota Xigaze di Tibet dengan Ibukota Nepal, Kathmandu. Tidak hanya satu, melainkan kurang lebih ada sekitar 10 perjanjian yang ditandatangani oleh kedua belah pihak, termasuk kerja sama di bidang teknologi, transportasi, infrastruktur, “hingga kerja sama politik antar kedua negara,” ujar Pemerintah Cina, dikutip dari laman China Daily.
“Jaringan konektivitas lintas Himalaya via jalur penerbangan, perdagangan peabuhan, jalan raya, dan telekomunikasi pun turut dikembangkan oleh kedua belah pihak,” ungkap Perdana Menteri Cina, Li Keqiang.
Di sisi lain, Perdana Menteri Khadga menegaskan bahwa konektivitas lintas batas ini merupakan prioritas utama Nepal, “Kami juga berharap kedua negara dapat bekerja sama untuk membangun kembali pembangkit listrik tenaga air di Nepal,” ungkapnya.
Diketahui, Nepal telah membatalkan kesepakatan senilai US$2,5 miliar atau yang setara Rp35,2 triliun dengan perusahaan milik negara Cina, Gezhouba Group untuk membangun fasilitas pembangkit listrik tenaga air di bagian barat negara itu.
Baca Juga: Tak Sampai 24 Jam, Cina Rampungkan Pembangunan Stasiun Ini!
Dilansir dari laman sumber lain, sebelumnya, baik Cina dan Nepal telah memberikan sinyal untuk memperluas jaringan kereta apinya sampai keluar perbatasan Nepal pada 2016 silam, namun belum ada kesepakatan yang diambil pada saat itu.
Guna menindaklanjuti kerja sama yang telah terjalin, otoritas Cina dikabarkan akan melakukan uji kelayakan pada bulan Agustus mendatang, sedangkan laporan persiapan proyek akan terbit dua tahun berselang. Jika tidak meleset, otoritas Negeri Tiongkok tersebut memprediksi pembangunan jalur kereta tersebut akan rampung dalam waktu lima tahun. “Kami percaya, jalur rel akan mencapai perbatasan Nepal pada tahun 2022 mendatang,” ungkap salah satu juru bicara otoritas Cina.
Selama ini yang diketahui dari Banten hanya Anyer, Ujung Kulon, Tanjung Lesung dan lainnya sebagai daerah wisata saaat berlibur. Tapi ternyata di daerah Cilegon juga memiliki beberapa tempat wisata yang menarik untuk di kunjunginya.
Baca juga: Loket Gabungan di Pelabuhan Merak, Mudahkan Transaksi Tiket Rombongan Wisata
Mungkin yang diketahui pelancong Cilegon hanya Pelabuhan Merak untuk penyeberangan dari Pulau Jawa menuju Pulau Sumatera. KabarPenumpang.com baru-baru ini mendapatkan beberapa destinasi yang bisa dikunjungi baik dekat Pelabuhan Merak atau Kota Cilegon hanya dengan menggunakan kereta api.
Sebagai pelancong yang juga gemar menggunakan kereta, untuk sampai ke sini, hanya menggunakan kereta dari Stasiun Tanah Abang turun di Stasiun Rangkas Bitung menggunakan KRL dan menyambung dengan kereta ekonomi biasa sampai di Stasiun Merak. Penasaran ada apa saja yang bisa di kunjungi di Pelabuhan Merak dan sekitarnya?
1. Pulau Merak Kecil
Pulau ini letaknya hanya 200 meter dari Pelabuhan Merak dan perjalanan menyeberanginya hanya sekitar lima menit dengan perahu nelayan. Sayangnya pulau ini tak bisa digunakan untuk menginap dan hanya untuk menikmati pemandangan saja. Untuk mencapai Pulau Merak Kecil, pelancong bisa menggunakan perahu nelayan dari Pantai Mabak.
Batu Lawang, Cilegon (Istimewa)2. Pulau Merak Besar
Letaknya tepat di depan pelabuhan penyeberangan Merak-Bakauheni dengan luas sekitar 20 hektar. Pulau ini merupakan Pulau Hutan Lindung yang dilestarikan dan berfungsi sebagai pelindung pelabuhan dan terminal terpadu Merak. Pulau ini juga sebagai penahan gelombang yang menuju Pelabuhan Merak. Untuk sampai ke sini, pelancong juga bisa menggunakan kapal nelayan dengan membayar sekitar Rp20 ribu-Rp30 ribu. Meski begitu baik Pulau Merak Besar dan Merak Kecil, keduanya tidak bisa ditinggali karena tidak ada penginapan.
3. Pantai Merak
Saat tiba di Stasiun Merak, pelancong bisa menemukan pantai yang letaknya tidak jauh dari Pelabuhan Merak. Pantai Merak sendiri berada di Hotel Merak di jalan utama Pelabuhan Merak. Sebagai penikmat senja atau yang biasa di sebut sunset (waktu matahari tenggelam) tempat ini sangat cocok.
Baca juga: Loket Gabungan di Pelabuhan Merak, Mudahkan Transaksi Tiket Rombongan Wisata4. Batu Lawang
Letaknya sekitar 25 menit dari pusat Kota Cilegon. Bagi pelancong yang menggunakan kereta bisa turun di Stasiun Merak kemudian menyambung dengan angkutan kota (angkot) dan turun di jalan menuju ke Cilegon. Kemudian naik ojek untuk masuk ke dalam dengan biaya Rp20 ribu-Rp25 ribu. Batu Lawang ini terletak di atas bukit di daerah Merak. Pemandangan perbukitan hijau serta panorama Kota Cilegon menjadi keunggulan tempat ini. Dari Batu Lawang, terlihat siluet Gunung Pinang di Kramatwatu, menara Masjid Agung Cilegon, Waduk Krenceng, bahkan siluet Gunung Karang di Pandeglang.
Jadi, kalau ke Merak jangan hanya menumpang untuk menyeberang dengan kapal ferry menuju Pelabuhan Bakauheni di Lampung. Sesekali, nikmati alam indah yang masih jarang tersentuh pelancong.
Kendati libur Hari Raya telah usai, namun suasana dan nuansa liburan masih kental terasa. Tidak sedikit juga warga Indonesia yang merencanakan waktu berliburnya pasca pulang kampung kemarin. Nah, berbicara soal liburan, Yogyakarta memiliki salah satu wahana ekstrem yang mengharumkan nama bangsa. Kira-kira apa ya wahana tersebut?
Baca Juga: Pulau Sentosa, Eks Benteng Militer Yang Mendunia Karena Wisata
Bagi Anda semua yang hobi memacu adrenalin, tampaknya wahana flying fox sudah masuk ke dalam daftar permainan yang tidak boleh Anda lewatkan, terutama yang ada di Kota Gudeg. Pasalnya, wahana flying fox yang terdapat di Green Village Gedangsari ini disinyalir menjadi yang terpanjang di Asia Tenggara. Wow!
Dihimpun KabarPenumpang.com dari sejumlah laman sumber, para pengunjung dapat merasakan sensasi meluncur di atas sebuah tali sepanjang 625m dengan kecepatan mencapai 80km/jam. Anda hanya membutuhkan waktu kurang lebih satu menit untuk sampai di ujung lintasan flying fox ini. Selain terkenal dengan wahana flying fox terpanjangnya ini, nama Green Village Gedangsari sendiri sudah mahsyur sejak pertengahan tahun 2016 silam, karena para pengunjung akan disuguhkan pemandangan ciamik dari lokasi yang berada di daerah Gunungkidul ini.
https://www.youtube.com/watch?v=G0CLwMrye3Y
“Ini salah satu flying fox terpanjang di Asia Tenggara, baru diresmikan Agustus 2017 kemarin,” kata Manajer Green Village Gedangsari, Riyadi, dikutip dari laman detik.com. Selama berada di atas wahana ngebut ini, Anda juga dapat menyaksikan secara langsung wilayah Klaten yang berada di Jawa Tengah, lho!
Walaupun kesan ektrem tidak bisa dipisahkan dari wahana flying fox ini, namun Anda semua tidak perlu khawatir dengan poin keselamatannya. Tidak tanggung-tanggung, peralatan dengan standar internasional ‘dipekerjakan’ di wahana yang menjadi daya tarik wisatawan ini. “Ini juga (sarana) flying fox kami ngambil dari luar semua, termasuk lintasannya. Makanya kami berani menjamin aman,” tandas Riyadi.
Baca Juga: Lima Daerah Reklamasi Ini Jadi Magnet Wisatawan Mancanegara
Bagaimana, apakah adrenalin Anda sudah mulai terpanggil? Bagi Anda yang tertarik untuk menjajal wahana ini, cukup sediakan Rp100 ribu untuk WNI dan Rp150 ribu untuk WNA. Perlu dicatat, Anda harus menyediakan kocek Rp50 ribu tambahan jika Anda ingin merekam pengalaman naik flying fox ini.
Akses menuju lokasinya pun tidak terlalu sulit. Dari Kota Yogyakarta, Anda bisa mengambil rute Yogyakarta – Wonosari menuju arah Patuk Gunungkidul. Sesampainya di sana, cukup ikuti papan penunjuk arah menuju Kecamatan Gedangsari dan tinggal mengikuti rute menuju Green Village. Selamat memacu adrenalin!
Untung Tak Dapat Diraih, Malang Tak Dapat Ditolak, mungkin peribahasa ini tepat untuk menggambarkan situasi yang menimpa seorang wanita asal Chesterfield di Kings Dominion Amusement Park, Virginia beberapa waktu yang lalu. Alih-alih menikmati wahana yang disediakan oleh pihak taman bermain, wanita yang diketahui bernama Reann Mayfield ini malah harus menerima tiga jahitan di keningnya pasca terkena hantaman sebuah ponsel. Lho, kok bisa?
Baca Juga: Rollercoaster Mati di Ketinggian 4,8 Meter, Penumpang Minta Tolong Polisi
Dihimpun KabarPenumpang.com dari laman fox8live.com (14/6/2018), Reann terkena hantaman ponsel ketika dirinya tengah menaiki Twisted Timbers, sebuah wahana roller coaster pada Minggu (10/6/2018) lalu. Beruntung bagi Reann karena itu merupakan kali pertamanya ia naik wahana yang menjadi salah satu ikon dari Kings Dominion Amusement Park, namun itu semua berubah 180 derajat ketika dirinya melihat sebuah objek hitam melayang menghampirinya.
“Pada awalnya semua berjalan normal, hingga pada satu masa, saya melihat sebuah benda hitam melayang dan menghantam dahi saya dengan sangat keras,” kenang Reann. Sejurus sesaat, ia mulai merasakan peluh hangat mulai mengalir dan tersadar bahwa darah segar telah membanjiri kening dan wajahnya. “Ada banyak darah dimana-mana, awalnya saya sempat tidak menyadari apa yang terjadi,” tutur Reann.
Sumber: fox8live.com
Ketika wahana roller coaster tersebut berhenti, Reann langsung mendapatkan pertolongan pertama dan Juru Bicara Kings Dominion Amusement Park, Maggie Sellers mengatakan, “sebenarnya kami menyediakan loker di pintu masuk taman bermain,” Hal yang diutarakan Maggie tersebut menyiratkan bahwa ada baiknya para pengunjung Kings Dominion Amusement Park untuk tidak membawa alat komunikasi ke dalam wahana permainan.
Setelah mendapatkan pertolongan, sorang pria yang mengaku sebagai pemilik ponsel tersebut menghampiri Reann dan meminta maaf atas kejadian yang terjadi. ”Dia mengatakan telah memasukkan ponselnya ke dalam tas dan telah menutup tasnya, namun pada kenyataannya tasnya tidak tertutup dan kejadian ini terjadi,” terang Reann.
Kondisi sempat memanas tatkala terjadi perbedaan pendapat diantara Reann dan Maggie. Reann menganggap pihak Kings Dominion Amusement Park tidak menawarkan rujukan ke rumah sakit, sedangkan Maggie mengatakan bahwa pihak taman bermain telah menawarkan bantuan untuk ke rumah sakit. “Ia menolak tawaran tersebut dan pergi meninggalkan Kings Dominion Amusement Park sendiri,” terang Maggie.
Baca Juga: Priiit..! Dilarang Selfie di Tempat-Tempat Berikut Ini
Reann pun tetap pada pendiriannya yang menyimpulkan bahwa pihak taman bermain telah melakukan sebuah blunder dan patut bertanggungjawab atas kejadian yang menimpanya. “Seseorang harus bertanggungjawab akan luka permanen di wajah saya. Saya tidak akan kembali lagi ke sana (Kings Dominion Amusement Park), saya takut,” tuturnya.
Menyoal luka yang dialami, pihak rumah sakit yang menangani Reann mengatakan, “Ia mengalami gegar otak ringan,”
Duh, ada-ada saja ya!
Masih ingat dengan cerita tentang anak autis yang tidak senang berkendara menggunakan kereta? Ya, pada artikel sebelumnya, disebutkan bahwa sembilan dari sepuluh anak autis mengalami perubahan tak terduga dalam diri mereka ketika naik kereta, dimana perubahan tersebut berdampak pada peningkatan rasa cemas dalam diri mereka. Nah, bagaimana dengan satu lainnya? Ternyata mereka nampak menikmati perjalanan bersama si ular besi ini.
Baca Juga: Bagi Penderita Autis, Ternyata Naik Kereta Merupakan ‘Cobaan’ Berat
Seperti yang dilansir KabarPenumpang.com dari laman telegraph.co.uk (19/6/2018), ternyata bagi sebagian anak penderita autis, perjalanan menggunakan kereta api memberikan hasrat yang besar bagi mereka. Berbanding terbalik dengan hasil survei yang dilakukan oleh Fiona McGrevey dari The National Autistic Society Scotland yang mengemukakan bahwa sekitar 52 persen penderita autis mengatakan takut untuk menggunakan jasa transportasi umum seperti bus atau kereta api.
Mungkin mereka takut akan getaran tidak stabil yang ditimbulkan, hingga ruangan sempit yang membatasi pemandangan mereka (claustrophobia/fobia terhadap ruang sempit). Namun nyatanya tidak, Tony Charman, seorang profesor psikologi anak di King’s College London yang juga spesialis dalam ruang lingkup autisme mengatakan bahwa dirinya melontarkan beberapa pertanyaan pada anak autis seputar kereta api. “Apakah kamu suka Thomas (salah satu serial kartun dengan karakter utama sebuah kereta api)? Tentu saja pertanyaan semacam ini terdengar klise, namun terbukti ampuh dalam mendiagnosa pandangan mereka terhadap kereta api,” ungkapnya.
Minat anak-anak yang menjawab suka terhadap karakter Thomas inilah yang akhirnya dikembangkan oleh Profesor Tony untuk mendorong rasa keingintahuan para anak-anak penderita autis ini. “Bagi sebagian anak, moda transportasi seperti kereta ini merupakan sesuatu yang unik dan berbeda dengan mobil yang biasa mereka temukan di kehidupan sehari-hari,” tandas sang profesor.
Baca Juga: Apa Kabar Fasilitas “Khusus” Bagi Penumpang?
Pada akhirnya, semua kembali kepada masing-masing individu si penyandang autisme. Mungkin sebagian dari mereka benci dan merasa tersiksa ketika berkendara menggunakan kereta api, tapi tidak sedikit juga yang malah merasa antusias dengan sensasi berkendara bersama si ular besi ini.
Perkembangan di sektor transportasi memang tidak melulu mengedepankan aspek kecepatan, teknologi, hingga keselamatan. Salah satu yang menjadi bukti perkembangan tersebut adalah terletak di segi kenyamanan moda yang dikendarai. Ya, tentu masih ingat di benak Anda semua tentang kejayaan layanan kereta malam di Eropa bertahun-tahun silam, namun apa kabarnya kini? Masihkah menjadi primadona di setiap kalangan yang hendak melakukan mobilitas? Atau keberadaannya mulai tergantikan oleh moda lain?
Baca Juga: Terdesak Kereta Cepat, Parlemen Eropa Tinjau Kelayakan Bisnis Kereta Malam
Sebetulnya, keberadaan kereta malam di Eropa bisa dibilang sudah hampir ‘punah’ karena tergusur kedigdayaan moda udara yang belakangan ini semakin diminati oleh banyak penumpang di seluruh dunia. Alasan paling vokal yang melatarbelakangi tergerusnya layanan kereta malam ini adalah efisiensi waktu. Bayangkan saja, semisal Anda membutuhkan waktu sekitar 10 jam berkereta dari titik A menuju titik B, sedangkan jika menggunakan pesawat Anda hanya membutuhkan waktu dua hingga tiga jam saja.
Dari gambaran abstrak itu saja, sudah terbayang bukan berapa banyak waktu yang tersita semisal Anda berkendara menggunakan kereta ketimbang pesawat? Belum lagi dari urusan tarif yang bisa dibilang tidak terlalu jauh selisihnya, maka tidak heran jika lebih banyak penumpang yang menambatkan hatinya kepada si burung besi.
Dilansir KabarPenumpang.com dari laman trainline.eu, operator kereta Eurolines France menyediakan tiket perjalanan kereta dari London menuju Berlin dengan harga berkisar antara €64 hingga €499 (Rp1,1 juta hingga Rp8,2 juta) dengan durasi perjalanan sembilan hingga 10 jam paling lama. Sementara dengan mengudara menggunakan penerbangan langsung, penumpang hanya membutuhkan waktu sekitar dua jam dari Heathrow menuju Berlin Tegel (Jerman).
Tidak hanya pesawat saja, keberadaan kereta malam pun semakin tergusur dengan hadirnya saudara muda di dunia perkeretaapian, bullet train (kereta peluru). Tetap, fokus dari menurunnya daya pikat dari kereta malam adalah efisiensi waktu dan sialnya, bullet train mampu memenuhi keinginan dari para penumpangnya itu.
Baca Juga: 10 Tips Menikmati Perjalanan dengan Kereta di Eropa
Kendati begitu, bukan berarti pasar kereta malam hilang begitu saja. Dilansir dari laman sumber lain, sebuah data mencatat bahwa hingga tahun 2016 kemarin, tercatat hanya ada 11 negara di Uni Eropa yang masih menggunakan layanan kereta malam ini. Walaupun terbilang sedikit, namun dengan eksistensi 11 layanan kereta malam tersebut seolah membuktikan bahwa moda ini tidak kehilangan ‘penggemar’.
Terlebih dengan ide pengalihfungsian kereta malam ini menjadi kereta tur oleh sejumlah kelompok pecinta kereta Eropa. Ide ini muncul menyusul pernyataan dari European Parliament’s Committee on Transport & Tourism yang tengah menimbang kelanjutan dari pengoperasian kereta malam.
Enam hari puncak Lebaran telah berlalu, dan tercatat dari trafik Pelabuhan Bakauheni di Lampung, bahwa 609.099 pemudik dan 128.557 unit kendaraan yang sudah kembali ke Pulau Jawa. Sementara jumlah pemudik yang tercatat menyeberang dari Pulau Jawa ke Pulau Sumatera tercatat saat momen Lebaran mencapai 970.327. Hal tersebut mengindikasikan masih ada sekitar 361.228 orang penumpang atau 37 persen lagi yang belum kembali ke Jawa.
Baca juga: Dibanding 2017, Trafik Kendaraan via ASDP di Musim Mudik 2018 Naik Tipis
Direktur Utama PT ASDP Indonesia Ferry (Persero) Ira Puspadewi dalam siaran pers (22/6/2018) mengatakan, diperkirakan arus balik penumpang dan kendaraan masih akan terus mengalir hingga Sabtu (23/6) dan Minggu (24/6).
Dari laporan ASDP Cabang Pelabuhan Bakauheni, tercatat jenis kendaraan roda dua yang kembali ke Jawa sebanyak 57.126 unit atau sudah 68 persen dari total yang menyeberang dari Jawa ke Sumatera sebanyak 83.845 unit pada arus mudik kemarin. Sehingga masih ada sekitar 26.719 unit pemudik motor atau 32 persen lagi yang akan kembali ke Jawa pada arus balik ini.
Untuk mobil pribadi, tercatat sudah 66.631 unit yang sudah meninggalkan Sumatera atau sekitar 67 persen dari total yang menyeberang dari Jawa ke Sumatera pada mudik kemarin sebanyak 99.294 unit mobil pribadi.
“Pemudik masih ada yang memaksimalkan waktu libur Idul Fitri atau mengambil cuti tahunan untuk berlibur bersama keluarga. Kami perkirakan akhir pekan ini trafik mobil pribadi masih akan mengalir, karena masih ada sekitar 32.663 unit mobil pribadi atau 33 persen lagi yang belum kembali ke Jawa,” ujarnya merinci.
Sementara dari lintasan yang menghubungkan Jawa-Bali dilaporkan bila dibandingkan dengan total jumlah pemudik yang menyeberang dari Pelabuhan Gilimanuk ke Pelabuhan Ketapang pada H-8 hingga H-1 maka jumlah pemudik yang telah kembali dari Jawa ke Bali pada H+1 hingga H+5 dari Pelabuhan Ketapang ke Pelabuhan Gilimanuk sebanyak 230.123 orang atau 53 persen dari total penumpang 436.258 orang yang menyeberang ke Jawa pada arus mudik kemarin.
Diikuti kendaraan roda dua sebanyak 33.206 unit atau 37 persen dari total 88.839 unit dan kendaraan roda empat/lebih sebanyak 28.364 unit atau 57 persen dari total kendaraan yang menyeberang sebanyak 49.989 unit pada arus mudik kemarin.
Dewasa ini, kemampuan admin akun media sosial telah menjadi ujung tombak bagi perusahaan untuk menyampaikan komunikasi dan berinteraksi dengan pelanggan netizen di jagad maya. Terlebih pada perusahaan yang menyediakan jasa angkutan publik sekelas PT KAI. Menjadi admin medsos seperti Twitter dan Facebook, selain dituntut cerdas dan punya wawasan luas, jadi admin pun harus sabar dalam menghadapi pertanyaan dan respon dari netizen.
Baca juga: Serba-Serbi Pilih Kursi ‘Panas’ di Kereta Ekonomi Premium
Seperti yang baru-baru ini terjadi, saat admin Twitter PT KAI @KAI121, menghadapi pertanyaan netizen yang jawabannya kemudian menimbulkan polemik. Yang ditanyakan adalah seputar layanan kereta ekonomi premium. Dimana tempat duduk kereta terbagi yakni pada bagian tengah berhadap-hadapan dan lainnya mengikuti kursi di depannya.
Ternyata ada beberapa pelanggan kereta api yang bertanya melalui akun Twitter resmi milik PT KAI yakni @KAI121 terkait posisi kursi kereta saat ini. “Selamat pagi min @KAI121 , Pak Edi Sukmoro & Pak @BudiKaryaS , saya mau tanya, alasan tempat duduk ada yang hadap depan & hadap belakang apa ya?, menurut saya hadap depan semua pun kapasitas tetap sama. Bayarnya sama tapi dapat tempat duduk hadap belakang itu sakit pak. Thank,” ujar akun @Zepuh92 milik Fajar Triyadi.
Kemudian, admin @KAI121 mengatakan, pemilihan kursi menyesuaikan dengan kelas kereta api yang dipilih. Akun tersebut juga menambahkan jika penumpang ingin duduk searah perjalanan kereta api, maka bisa menggunakan kereta kelas eksekutif atau bisnis.
Jawaban dari admin Twitter PT KAI tersebut justru menuai respon yang beragam dari warganet. Beberapa ada yang menganggap jawaban tersebut tidak menjawab pertanyaan dan ada pula yang menganggap tidak masalah dengan jawaban tersebut.
“@KAI121 harusnya dijelaskan kenapa bisa beda-beda menghadap, bukannya disuruh ganti kelas. perusahaan bumn, adminnya begini? @BudiKaryaS menurut bapak jawaban seorang pelayan publik harus begini?” tweet akun @mrhiphops.
Lain lagi dengan akun @asmaraism yang mentweet tentang contoh kereta dari Brussel Belgium menuju ke Amsterdam yang memiliki pola tempat duduk sama. Akun tersebut menganggap hal itu biasa saja sehingga tidak perlu untuk memention Menteri.
Adanya pertanyaan dan respon beragam dari warganet terkait pertanyaan kursi tersebut, pihak KAI yang diwakilkan oleh Kepala Humas PT KAI Agus Komaruddin bahwa jawaban admin tidak salah. Sebab pengaturan tempat duduk memang menyesuaikan pilihan kelas kereta api.
“Sebenarnya jawaban tersebut tidak salah, karena lebih ke pilihan untuk kelas kereta api. Itu penjelasan berdasarkan kelas, ya memang kalau kelas ekonomi seperti itu. Mungkin tidak secara detail saja,” ujar Agus yang dikutip dari laman Kompas.com.
Lebih lanjut, Agus menjelaskan, pengaturan tempat duduk dengan kelas kereta api di desain seperti itu untuk efisiensi jumlah seat agar memuat lebih banyak penumpang. Dia mengatakan, dengan desain seperti itu, satu gerbong bisa memuat 80 seat.
Baca juga: Kereta Sleeper Berada di Rangakaian KA Argo Bromo Anggrek, Ini Fasilitas Mewahnya
Sehingga dengan demikian, penumpang yang menggunakan kereta api kelas ekonomi terlebih yang premium, akan merasakan duduk searah dengan jalannya kereta dan ada yang akan membelakangi jalannya kereta.
“Sebenarnya untuk kelas ekonomi prinsip sama seat dua arah, karena duduk satu sandaran saling membelakangi. Jadi kalau KA (kereta api) jalan, ada yang searah pergerakan kereta (maju), ada posisi duduk mundur,” kata Agus.
Agus juga menyampaikan, bahwa pihaknya meminta maaf jika penjelasan admin di media sosial kurang memuaskan dan mengatakan PT KAI sudah melakukan upaya yang maksimal untuk kenyamanan para penumpangnya.