Bila di Indonesia saat ini ada sekitar 1.200 pilot yang menganggur, maka lain hal dengan di Irlandia, negara di Eropa Barat ini justru kekurangan pilot, bahkan salah satu maskapai kenamaan asal Irlandia, Ryanair baru-baru ini dikabarkan telah mengirim email kepada para mantan pilotnya dan meminta mereka untuk kembali menerbangkan pesawat.
KabarPenumpang.com yang melansir dari laman telegraph.co.uk (18/10/2017), dimana maskapai LCC tersebut terpaksa membatalkan sekitar 700 ribu penerbangannya karena banyak pilot yang tak lagi mau menerbangkan pesawat.
Baca juga: Peluang Pendapatan Baru, LCC Mulai Kenakan Biaya Untuk Bagasi Kabin
Dari pemberitaan yang beredar menyebutkan, Ryanair kekurangan pilot dan kopilot lantaran kedua awak tersebut banyak yang telah meninggalkan perusahaan. Chief executive Ryanair, Michael O’Leary awalnya membantah hal tersebut terjadi. Tetapi dalam sebuah email manager operasional Ryanair, Elaine Griffin telah meminta para mantan pilot untuk kembali bekerja ke maskapai tersebut. Untuk menarik perhatian, pihak maskapai memberikan kenaikan gaji serta jaminan kondisi kerja yang lebih baik.
“Saya harap Anda baik-baik saja sejak Anda meninggalkan Ryanair. Namaku Elaine Griffin dan aku adalah manager operasional bari di penerbangan Ryanair. Kami saat ini merupakan tim beranggotakan empat orang yang berlipat ganda menjadi delapan sebagai bagian dari dorongan Ryanair untuk secara signifikan mengubah cara kami memberi penghargaan dan berinteraksi dengan pilot kami, memperbaiki lingkungan kerja dan pengembangan karir mereka,” tulisnya.
Email itu juga berisi keterangan bahwa Ryanair sudah menaikkan tingkat gaji pilot dan kopilot sekitar 20 persen dan meingkatkan sumber daya secara signifikan dalam pengembangan percontohan, pengendalian awak, pengelolaan basis serta pelatihan.
“Kami masih memiliki banyak pekerjaan yang harus dilakukan namun kami telah melakukan perubahan signifikan dan merencanakan lebih banyak lagi untuk tahun 2018 (termasuk sistem/proses cuti tahunan yang baru) karena kami berusaha menjadikan Ryanair sebagai pilihan bagi 737 pilot di Eropa. Jika Anda tertarik untuk berbicara kembali tentang Ryanair, kami akan senang mendengarkannya,” ujar Elaine lagi pada email tersebut.
Baca juga: Terima Pesan Hoax, Eurofighter Typhoon Inggris Paksa Mendarat Ryanair
Menanggapi email tersebut, seorang pilot Ryanair yang telah bekerja di maskapai penerbangan tersebut selama hampir satu dekade mengatakan, langkah manajemen mengirim email menunjukkan pihak maskapai yang tengah putus asa untuk kembali merekrut dan menghentikan eksodus.
“Bukan karena masalah uang tetapi kontrak agar diperbaharui sehingga menjadi up to date,” ujar pilot tersebut.
Setelah mendapat suntikan dana dari segar US$15 juta dari Garuda Indonesia, Citilink semakin menunjukkan semangatnya dalam melebarkan sayap, terbukti dengan langkah LCC (Low Cost Carrier) tersebut membuka dua rute baru untuk penerbangan langsung dari Semarang. Rute penerbangan ini dari Semarang menuju ke Palembang dan Semarang ke Banjarmasin PP serta, yang kedua rute tersebut akan mulai beroperasi pada 29 Oktober mendatang.
Baca juga: Menanti Kedatangan Pesawat Ke-50, Citilink Optimis Penuhi Target di Akhir Tahun
Adanya dua rute langsung ini juga untuk mendukung ekspansi bisnis sekaligus strategi percepatan bisnis perusahaan. “Melihat besarnya potensi wisata ketiga destinasi tersebut, pembukaan kedua rute baru ini diharapkan dapat mendukung program pemerintah dalam meningkatkan potensi pariwisata lokal serta mempercepat pertumbuhan ekonomi ketiga provinsi tersebut,” kata Direktur Utama Citilink Indonesia Juliandra Nurtjahjo yang dikutip KabarPenumpang.com dari keterangan tertulisnya, Rabu (18/10/2017).
Juliandra mengatakan pembukaan rute baru ini akan mempermudah wisatawan yang ingin berkunjung ke Banjarmasin maupun Palembang melalui Semarang. Tak hanya itu, ini juga untuk membangun pertumbuhan pariwisata alam hutan hujan di Banjarmasin, sedangkan Palembang sekarang sedang berbenah untuk menyambut event internasional salah satunya Asian Games pada tahun 2018 mendatang.
Dia menjelaskan Semarang dan Palembang sama-sama memiliki kedekatan historis latar belakang dimana pengaruh kebudayaan Tiongkok terlihat sangat jelas. Ini juga dikarenakan Semarang dan Palembang dulunya menjadi jalur penjelajahan Tiongkok Laksamana Cheng Ho saat memimpin ekspedisi di Samudera Barat.
“Semarang, Palembang dan Banjarmasin memiliki destinasi wisata dengan nuansa yang unik sehingga ketiganya memiliki peranan strategis dalam pengembangan sektor pariwisata sebagai salah satu sektor unggulan Pemerintah Indonesia,” ujarnya.
Wisata sejarah serta budaya yang dimiliki ketiga kota ini diharapkan bisa mendongkrak jumlah kunjungan wisatawan lokal dan mancanegara yang bisa membantu pencapaian target Kementerian Pariwisata untuk mendatangkan 20 juta wisatawan mancanegara hingga tahun 2019. Selain itu, ketiga kota ini juga memiliki potensi untuk mendorong peningkatan industri pariwisata dari berbagai sektor yakni objek wisata hingga industri MICE (Meeting, Intensive, Conference, Exhibition) dengan skala internasional.
Diketahui, anak perusahaan Garuda Indonesia ini merupakan satu-satunya maskapai yang melayani penerbangan langsung dari Semarang menuju Palembang. Untuk rute Semarang menuju Banjarmasi, Citilink optimis mencapai target market share sebesar 47 persen.
Baca juga: Dorong Potensi Wisata, Citilink Buka Rute Baru Medan-Yogyakarta
Untuk waktu tempuhnya, Semarang menuju Palembang 1 jam 45 menit dengan kode penerbangan QG-796, dengan keberangkatan satu kali sehari dari Semarang pukul 12.05 WIB dan tiba di Palembang pukul 13.50 WIB. Sedangkan Semarang menuju Banjarmasin ditempuh dengan waktu 1 jam 25 menit dengan kode penerbangan QG-974 dengan keberangkatan pukul 08.15 WIB dan tiba 10.40 WITA di Banjarmasin. Kedua rute baru ini akan dilayani dengan pesawat Airbus A320 yang mampu menampung 180 penumpang.
Dalam beberapa hari ini, kabar tentang dunia keimigrasian tengah riuh, lantaran Pemerintah Amerika Serikat lewat US Customs and Border Protection Agency yang bagian dari US Department of Homeland Security tak mengizinkan Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo untuk menginjakan kaki di Negeri Paman Sam. Gatot Nurmantyo yang berangkat bersama istri dan delegasi TNI tak mendapatkan izin meski visa valid sudah dipegang oleh Jenderal bintang empat ini.
Baca juga: Departemen Keamanan Dalam Negeri AS Umumkan Langkah Keamanan Penerbangan BaruKabarPenumpang.com melansir dari laman abc.net.au (23/10/2017), saat itu Gatot hendak berangkat menggunakan penerbangan Emirates menuju ke Washington pada Sabtu malam. Kepergiannya ke AS pun atas undangan resmi Jenderal Amerika Serikat Joseph F Dunford Jr, Kepala Staf Gabungan AS untuk menghadiri sebuah konferernsi dalam memerangi ekstremisme dan kekerasan.
Namun, sebelum berangkat Gatot beserta istri mendapat pemberitahuan dari maskapai jika tidak diizinkan masuk ke Amerika Serikat berdasarkan Perintah dari US Customs and Border Protection Agency. Biasanya seseorang yang dilarang dan tidak diperbolehkan masuk pada suatu negara, dikarenakan visa yang mereka miliki bermasalah atau si pemilik visa merupakan anggota kawanan teroris dan pemberontak.
Tetapi, diketahui Jenderal bintang empat ini tidaklah terkena tuduhan apapun baik terorisme, pelaggaran hak asasi manusia atau hal lainnya, sehingga tidak ada alasan untuk melarang masuk ke negara tersebut. Apalagi di Februari 2016 lalu, Gatot sudah berkunjung ke Amerika Serikat dan tidak ada masalah apapun yang terjadi.
Meski hujan permintaan maaf telah dilayangkan pemerintah AS lewat Kedutaan Besar-nya di Jakarta, penolakan Panglima TNI ini terasa ‘misterius.’ Sepeerti diwartakan, boarding pass Gatot untuk rute Jakarta – Doha telah keluar, namun boarding pass Doha – Washington DC yang kemudian diketahui ‘bemasalah,’ yang kemudian pihak Emirates menyampaikan kabar tersebut saat Sang Jenderal telah tiba untuk check in di Bandara Soekarno-Hatta.
Beberapa bulan lalu, hal ini juga menimpa seorang perempuan bernama Abbey Looker yang dikabarkan tidak bisa masuk ke London, Inggris selama sepuluh tahun lantaran visa tidak keluar. Saat itu, Abbey mengajukan visa Tier Five Youth Mobility online pada 6 Mei lalu dan mengirimkan dokumen tersebut tanggal 9 Mei.
Baca juga: Visa on Arrival, Bisa Berdampak Pada Risiko Keamanan di Dalam Negeri
Abbey dijadwalkan akan berangkat pada 19 Juni menuju Inggris. Penasaran atas proses penerbitan visa, Abbey beberapa kali menelpon ke imigrasi Inggris untuk mengetahui kenapa visa yang diajukannya tidak juga sampai ke alamatnya. Diketahui, pengajuan visa memakan waktu selama dua minggu, tetapi setelah enam minggu penantian, dirinya mendapat kabar bahwa visanya sedang di proses, sedangkan dirinya telah membeli tiket pesawat dan memutuskan berangkat dan masuk ke Inggris dengan visa liburan untuk enam bulan.
Saat Looker tiba di Inggris, perempuan ini tidak menemui masalah sedikitpun dan menikmati kota London dengan nyaman dan tenang. Namun muncul masalah pada enam hari kemudian, Looker bersama sang kekasih pergi ke Spanyol untuk wisata liburan lanjutan dan diakhiri dengan rute kembali ke Inggris. Nah, saat Looker tiba dari Spanyol, munculah masalah dengan petugas imigrasi di bandara Gatwick, London, karena masalah tersebut, kini Looker dilarang masuk ke Inggris selama sepuluh tahun.
Baca juga: Gara-Gara Salah Administrasi, Perempuan Ini Tak Bisa Masuk Inggris Selama 10 Tahun
Pelarangan masuk ke dalam suatu negara biasanya dikarenakan visa yang tidak disetujui, visa yang sudah habis masa berlakunya, atau pemilik visa adalah seorang teroris atau pelaku kejahatan yang bisa merugikan negara yang dikunjunginya tersebut.
Kembali ke insiden yang menimpa Panglima TNI, besar kemungkinan pihak AS melakukan prosedur secondary check kepada seseorang yang akan menuju ke AS. Artinya meski visa sudah ditangan akan ada prosedur pengecekan keamanan yang melibatkan beberapa instansi, namun sayangnya otoritas di AS justru melakukan kekeliruan fatal pada orang nomer satu di TNI ini.
Layaknya aliansi superhero yang saling bekerja sama untuk mengalahkan lawan, dunia aviasi pun memiliki beberapa aliansi yang saling bersaing satu sama lain. Salah satu dari aliansi tersebut bernama SkyTeam, dimana aliansi tersebut terdiri dari 20 anggota maskapai internasional yang menerbangkan hampir 16.000 lebih penerbangan dalam sehari yang mengangkut hingga 612 juta tiap tahun dengan konektivitas ke 1.052 rute di 177 negara.
Baca Juga: Sesama Anggota SkyTeam, Vietnam Airlines dan Garuda Indonesia Sepakati Codeshare dan MRO
Aliansi yang didukung oleh 481.691 karyawan dan armada yang berjumlah sekitar 3.054 pesawat dengan tambahan hampir 1580 armada yang tergabung dalam anak perusahaan/afiliasi dari maskapai anggota ini menjadikan SkyTeam sebagai salah satu aliansi penerbangan terkemuka dan terdepan didunia selain Star Alliance dan Oneworld. Lalu, bagaimana para maskapai yang sejatinya saling bersaingan satu sama lain bisa menjalin kerja sama yang saling membangun?
Dilansir KabarPenumpang.com dari berbagai sumber, aliansi SkyTeam awalnya terbentuk dari penandatanganan kontrak kerjasama jangka panjang antara Air France dan Delta Air Lines pada 22 Juni 1999. Penandatanganan kontrak tersebut akan membuka kemungkinan untuk mendirikan sebuah aliansi di masa yang akan datang.
Pertemuan tersebut kembali di helat pada 22 Juni 2000 di New York, dimana CEO dari Aeroméxico, Air France, Delta Air Lines, dan Korean Air berkumpul menindaklanjuti wacana yang sebelumnya belum menemukan titik terang. Tepat di hari itu juga, keempat pemimpin maskapai ini sepakat untuk mendirikan sebuah aliansi yang diberi nama SkyTeam. Di hari pertama pembentukannya, aliansi tersebut menghubungkan 6.402 penerbangan harian ke 451 destinasi di 98 negara dunia. Sehari berselang, promosi pun mulai gencar dilakukan di seluruh dunia dengan tagline “Caring More About You”.
Bulan Oktober 2000, maskapai CSA Czech Airlines menandatangani perjanjian dengan aliansi SkyTeam sebagai langkah awal untuk bergabung ke dalam aliansi tersebut. Barulah pada tahun 2001, maskapai ini secara resmi masuk sebagai anggota kelima dari SkyTeam dan juga menambahkan jumlah rute sebanyak 14 destinasi di 21 negara.
Dekorasi Anggota Skyteam di Kantor Garuda Indonesia. Sumber: KabarPenumpang.com
Tahun 2001, Skyteam membuka hub baru yang didukung oleh Korean Airlines di Bandar Udara Internasional Incheon, Seoul. Pembukaan hub baru tersebut diharapkan bisa meningkatkan jaringan rute penerbangan di Asia dan membuka pasar baru selain di benua Amerika dan Eropa, mengingat Korean Air merupakan satu satunya maskapai Asia di SkyTeam kala itu.
Pada tanggal 27 Juli 2001, SkyTeam menerima Alitalia sebagai anggota keenamnya dan konektivitas aliansi ini pun meningkat sebanyak 21 rute di 6 negara sebagai jaringan global SkyTeam. Dua tahun berselang dari pendiriannya, Department of Transportation (DoT) Amerika mensertifikasi SkyTeam menyusul banyaknya ketidakpercayaan publik akan aliansi ini, terutama di rute trans-atlantik.
Seiring bertambahnya usia, semakin banyak maskapai tenar yang akhirnya memutuskan untuk bergabung dengan SkyTeam, sebut saja KLM, China Eastern Airlines, China Western Airlines, hingga Garuda Indonesia. Maskapai plat merah ini resmi bergabung dengan SkyTeam pada 5 Maret 2014 dan merupakan maskapai terakhir yang bergabung dengan aliansi ini.
Saling melengkapi. Inilah yang menjadi salah satu alasan Garuda Indonesia memutuskan bergabung dengan SkyTeam. Melalui Senior Manager Public Relation, Ikhsan Rosan mengatakan kepada KabarPenumpang.com pada Selasa (17/10/2017), bahwa setiap aliansi memiliki ‘kelemahannya’ masing-masing, dan Garuda akan berusaha untuk menutupi kekurangan tersebut. “Seperti misalnya SkyTeam agak lemah untuk penerbangan di wilayah Asia Tenggara dan Australia, maka Garuda Indonesia hadir mengisi kekosongan tersebut,” ujar Ikhsan Rosan.
Baca Juga: Khusus Layani Jamaah Haji Tradisional, Garuda Indonesia Andalkan Awak Kabin (Lokal)
Bergabungnya Garuda sebagai keanggotaan SkyTeam tentunya akan memudahkan penumpang yang hendak melakukan perjalanan jauh. Sebut saja bila Anda hendak terbang menuju Los Angeles menggunakan Garuda. Anda cukup membayar satu tiket, satu harga untuk bisa sampai di Los Angeles, padahal nanti Anda mesti transit terlebih dahulu di Dubai dan berganti maskapai (anggota SkyTeam lainnya) yang akan terbang menuju Los Angeles dan semuanya sudah diatur sebelumnya sehingga Anda tidak perlu luntang-lantung untuk mencari maskapai mana yang akan mengudara ke Los Angeles. Anda dipastikan tidak akan dikenakan biaya tambahan lagi untuk proses perpindahan pesawat tersebut. One price, one destination, but more than one airline. Tidak itu saja, jumlah bonus miles tetap berlaku dan dihitung antar maskapai dalam SkyTeam.
Pihak Garuda pun berharap agar Bandara Internasional Soekarno Hatta bisa menjadi hub baru bagi anggota SkyTeam yang hendak melakukan perjalanan ke bagian selatan Indonesia, seperti Australia dan Selandia Baru.
Meski berstatus maskapai penerbangan swasta, namun Lion Air sejak beberapa lama telah di dapuk sebagai maskapai nasional dengan jumlah armada terbesar di Indonesia. Bukan hanya jadi yang terbesar, kemampuan pesawat-nya pun bisa dibilang sebanding, atau bahkan lebih mumpuni ketimbang milik Garuda Indonesia. Sebagai contoh, saat Garuda Indonesia mengoperasikan Boeing 747-400 sejak 1994, Lion Air pada tahun 2009 pun mengakuisisi pesawat dengan tipe yang sama. Dan ketika Garuda Indonesia mengandalkan Airbus A330-300 untuk rute penerbangan jarak menengah – jauh, Lion Air turut mengikuti jejak Garuda Indonesia.
Baca juga:Tingkatkan Keselamatan Penerbangan, Lion Air Group Gandeng Ideagen Coruson
Yang disebut terakhir, Airbus A330-300 milik Lion Air sudah hadir sebanyak 3 unit di Indonesia, pesawat ini merupakan pesawat berbadan besar (wide body) telah dioperasikan sejak akhir 2015 lalu. Airbus A330 digadang sebagai pengganti dari Boeing 747-400 yang akan segera dipensiunkan, sebelumnya Lion Air diketahui mengoperasikan dua unit Boeing 747-400 untuk melayani rute Jakarta – Jeddah.
A330-300 yang dipesan kepunyaan Lion Air di setting dengan kapasitas besar hingga 440 kursi kelas ekonomi. Uniknya pesawat Airbus A330-300 ini menggunakan mesin Trent 700 yang diambil dari Rolls Royce karena keandalan dan teknologi fuel saving-nya serta penggunaan teknologi three spool engine sehingga cocok untuk udara beriklin panas.
“Nantinya pesawat Airbus A330-300 ini akan melayani rute penerbangan menuju dua kota salah satunya ke Timur Tengah yakni Jeddah dan satu kota di Indonesia. Penempatan satu pesawat tersebut untuk rute domestik karena besarnya pertumbuhan pasar domestik,” ujar Direktur Umum Lion Group, Edward Sirait yang dikutip KabarPenumpang.com dari siaran persnya.
Lion Air Airbus A330 sejak November 2015 sudah digunakan untk menerbangkan jemaah Haji dan Umroh Indonesia. Belum lama ini, pesawat berbadan besar milik Lion Air tersebut berada di Batam Aero Technic (BAT) dimana maintenance repair overhaul kepunyaan Lion Group di Batam, Kepulauan Riau untuk bersolek dan mengaja kelaikan terbang.
General Manager Logistic BAT, Dedeng Achmadi mengatakan ada kemungkinan karena seiring dengan meningkatnya ekonomi Cina, Lion Air Group dengan pesawat berbadan besar melakukan penerbangan ke Cina. Namun, untuk saat ini jumlah penerbangan dengan pesawat berbadan besar ke Cina belumlah banyak. Pasalnya, pesawat berbadan besar Lion Air diperuntukkan melayani musim Haji dan Umrah.
Baca juga: Lion Air, Punya Citra Buruk Soal Keterlambatan Jadwal Penerbangan
“Kami konsennya ke sana dulu (Timur Tengah – red), karena tingginya animo masyarakat untuk ibadah Haji dan Umroh. Bahkan kami ada keinginan untuk menambah pesawat karena kebutuhan Umroh sangat tinggi,” ujar Dedeng.
Tak hanya itu, baru-baru ini Lion Air bekerja sama dengan Asita Sumatera Selatan untuk membuka jalur penerbbangan Palemang – Jeddah untuk melayani para jemaah calon Umroh di daerah tersebut. Ketua Dewan Pimpinan Daerah Asosiasi Biro Perjalanan Wisata (Asita) Sumsel Anton Wahyudi mengatakan, jemaah calon Umroh daerah ini nantinya tidak perlu lagi harus transit di Jakarta atau daerah lainnya, melainkan langsung ke Tanah Suci.
“Jemaah itu nantinya bisa langsung menuju Jeddah karena kami melakukan kerja sama dengan maskapai Lion Air dan biro perjalanan,” ujar Anton yang dikutip KabarPenumpang.com dari antaranews.com (19/10/2017).
Menurut dia, dengan penerbangan langsung ini maka diharapkan calon jemaah bisa sampai lebih cepat di Jeddah. Untuk penerbangan langsung ini, pihaknya sudah menyampaikan pada Gubernur Sumatera Selatan Alex Noerdin dan setuju dengan program tersebut.
Nantinya penerbangan perdana akan diikuti sekitar 70 orang dan rencananya dilepas oleh Gubernur Sumsel pada 13 November 2017 mendatang. Pada tahap pertama, pemberangkatan akan dilaksanakan seminggu sekali dan selanjutnya melihat antusias masyarakat Sumatera Selatan yang akan menunaikan ibadah Umroh.
Sebenarnya adanya penerbangan langsung ini juga untuk memantau dan mengkoordinasi jemaah serta menghindari adanya calo atau penipuan yang bisa membuat para jemaah terlantar. “Penerbangan langsung Palembang – Jeddah itu diharapkan berjalan lancar sekaligus jamaah umrah dapat beribadah secara khusuk,” tambah Anton.
Sepertinya invasi robotika di kehidupan dewasa ini semakin menyebar luas. Setelah berhasil menginvasi Bandara Incheon di Korea dengan hadirnya robot pemandu penumpang dan robot pembersih, kini inovasi berteknologi tinggi tersebut mulai merambah ke stasiun pengisian bahan bakar di Cina. Raksasa E-Commerce milik Jack Ma, Alibaba disinyalir akan membangun sebuah stasiun pengisian bahan bakar tak berawak di kota asalnya, Hangzhou.
Baca Juga: Sambut Olimpiade Musim Dingin, LG Hadirkan Dua Robot Canggih di Bandara Incheon
Menurut lansiran KabarPenumpang.com dari laman channelnewsasia.com (10/10/2017), kendaraan yang hendak mengisi bahan bakar di sini akan dilayani oleh lengan robot setelah pelanggan memindai QR code pada mesin yang sudah disediakan. Menurut rencana, stasiun pengisian bahan bakar tersebut akan dibangun pada akhir Oktober mendatang.
Lebih lanjut,pihak Alibaba mengatakan stasiun pengisian bahan bakar cerdas termutakhir ini akan diluncurkan tahun depan. Tidak hanya mampu mengisi bahan bakar sendiri, stasiun pompa bensin ini juga akan memanfaatkan teknologi yang ada agar mampu secara otomatis merekam dan mengingat informasi tentang pengemudi dan juga mobil mereka. “Sebut saja seperti identitas, model kendaraan, hingga jenis bahan bakar yang digunakan kendaraan tersebut,” ujar salah satu juru bicara dari kelompok yang menyediakan berita dan informasi seputar keuangan dan bisnis melalui beragam media, Caixing.
Langkah ini ditempuh Alibaba sebagai bentuk persaingan sehat dengan Amazaon, pesaingnya dari kubu “Barat” yang sebagaimana diketahui bahwa raksasa E-commerce asal Amerika yang berbasis di Seattle tersebut berencana untuk menggunakan data konsumennya untuk menyediakan rangkaian layanan yang terhubung kembali ke merek yang barangnya dijual.
Sumber: digitaltrends
Bisa dibilang, Alibaba bukanlah perusahaan pertama yang menyediakan inovasi seperti ini di dunia. Jauh sebelum mereka merencanakan untuk membangun stasiun pengisian bahan bakar otomatis ini, Husky Corporation and Fuelmatics AB memamerkan Automatic Refueling System pada Januari 2014 silam. Adapun tujuan dari Husky Corporation and Fuelmatics AB menghadirkan mesin pengisian bahan bakar otomatis ini adalah untuk memangkas waktu pengisian bahan bakar hingga 30 persen dan juga untuk menjamin kebersihan tangan Anda sendiri. “Anda tidak perlu lagi bersentuhan dengan selang nosel yang kotor,” ungkap Sten Corfitsen dari Husky Corporation and Fuelmatics AB.
Baca Juga: Media Kiosk, Vending Machine Mutakhir Yang Dipasang di Pra-Sarana Transportasi
Sistem ini dirancang untuk mobil yang menggunakan cap-less fuel filler neck, seperti yang kebanyakan ditemui di kendaraan Ford modern. Sistem berbasis vakum ini juga akan berbunyi saat pengisian tangki sudah penuh.
JetBlue, maskapai penerbangan berbiaya rendah di Amerika Serikat tak berbeda dengan maskapai LCC (Low Cost Carrier) pada umumnya, yakni mengandalkan pesawat narrow body Airbus A320 sebagai andalan armadanya. Berbeda dengan prinsip di penerbangan full service, tipe maskapai LCC jelas lebih menekankan pada kemampuan membawa sebanyak mungkin penumpang, yang semuanya disatukan dalam kelas ekonomi.
Baca juga: Dilema Seat Pitch, Maskapai Tambah Untung Penumpang Merana
Dengan prinsip membawa penumpang sebanyak mungkin, maka otomatis akan mengorbankan seat pitch, yakni jarak antar kursi akan lebih sempit, yang tak jarang membuat penumpang untuk rute jarak sedang – jauh mengalami ‘penderitaan’ di udara.
KabarPenumpang.com melansir dari skift.com (29/9/2017), adanya desain ulang pada Airbus A320 milik JetBlue memang membuat kejutan baru tetapi memuat penumpang merintih. Penambahan dan perombakan yang dilakukan pihak JetBlue adalah memasang layar sentuh ukuran 10 inchi dengan 100 saluran televisi langsung dan tautan sistem WiFi, semua ditujukan untuk menambah pelayanan di kabin.
Namun, perubahan desain tak hanya pada penambahan layanan, nyatanya Airbus A320 JetBlue juga ditambahkan selusin kursi lagi yang akan berada di antara 150 kursi yang sudah ada. Kedepan, JetBlue ingin tampil lebih gaya dengan desain ulang yang bertujuan menciptakan persepsi kabin yang lebih luas dan lapang.
Upaya ini sebelumnya terlihat pada desain pesawat baru seperti jet C Series Bombardier dan tampilan modern dari pesawat jarak jauh yang lebih besar dari Airbus dan Boeing. JetBlue mengatakan bahwa proyek upgrade A320 memakan waktu sekitar tiga tahun untuk menyelesaikan dan diharapkan menghasilkan kentungan finansila US$100 juta karena adanya jumlah kursi yang lebih banyak.
Penambahan 12 kursi baru pada Airbus A320 otomatis akan mengurangi ruang di kabin utama sekitar 2 hingga 32 inchi. Nantinya jumlah kursi di Airbus A320 JetBlue menjadi 162 dengan dua kamar mandi dan dapur baru di kabin.
Penambahan dan pendesainan ulang pesawat JetBlue diberitahukan pada konferensi APEX Expo di Long Beach, California. Selain JetBlue, Airbus juga meluncurkan kabir Airspace di pesawat A350 dan A330neo sebelum mengganti desain ke pesawat single lorong.
Baca juga: Singapore Airlines Pamerkan Desain Interior Mewah di Airbus A380 Terbaru
“Konsep kabin ini didapat hampir setelah 18 bulan penelitian di bandara seluruh dunia, dimana untuk melihat apa yang bawa benar-benar di bawa penumpang ke dalam kabin,” kata Ingo Wuggetzer, wakil presiden pemasaran kabin Airbus.
Tak hanya itu, pembenahan ini juga menemukan tiga area utama yang perlu diperbaiki. Mencakup perubahan kompartemen atas kabin yang sering tidak cukup untuk baang-barang penumpang. Kemudian pintu masuk kabin yang diperbaharui lebih baik lagi sesuai keinginan maskapai. Wuggetzer mengatakan, lampu kabin akan memainkan peran, dimana sistem pencahayaan LED menawarkan 16 juta warna yang mendukung suasan hati para penumpang.
Dalam pagelaran National Business Aviation Association (NBAA) Conference and Exhibition yang dihelat di Las Vegas beberapa waktu yang lalu, salah satu produsen manufaktur pesawat terkemuka di dunia, Bombardier meluncurkan Flight Test Vehicle (FTV) keempat dari seri Global 7000. Prototipe baru yang diberi nama The Architect ini merupakan pesawat Global 7000 pertama yang dipamerkan dalam sebuah acara publik dan merupakan kendaraan uji terbang pertama yang dilengkapi dengan interior kabin.
Baca Juga: Atasi Dampak Kebisingan di Bandara, Bombardier Rilis Jet C Series
Sebagaimana yang dilansir KabarPenumpang.com dari laman businessaircraft.bombardier.com (8/10/2017), pesawat ini nantinya akan digunakan untuk memvalidasi pengalaman penumpang secara keseluruhan, termasuk sistem manajemen kabin dan pilihan hiburan. Tidak hanya itu, kursi dan fasilitas pendukung lainnya turut ditata sedemikian rupa yang diaplikasikan di empat ruang tamu yang tersedia di dalam kabin. Terdapat pula tempat istirahat kru berukuran penuh serta dapur gourmet.
Penerbangan perdana FTV4 ke Las Vegas yang diadakan pada 28 September 2017 silam berbuah manis, dimana semua kontrol dan sistem yang diuji coba dalam penerbangan tersebut berjalan sesuai dengan apa yang diharapkan. “FTV4, pesawat pertama yang dilengkapi dengan interior kabin, memiliki keunikan dalam validasi penerbangan.
Ini seolah mematenkan standar tinggi dalam segi kenyamanan dan desain interior yang tak tertandingi,” ungkap Senior Vice President program Global 7000 dan Global 8000, Michel Ouellette. “Kami telah berusaha sekuat tenaga untuk menjadikan pesawat Global 7000 sebagai jet bisnis yang beda dengan pesawat lainnya,” imbuhnya.
Baca Juga: Sukses di C Series, Bombardier Hadirkan Fitur Connected Cabin di Armada Berikutnya
Global 7000 merupakan pesawat jet yang lebih stabil ketimbang jet bisnis lainnya. Dengan menggunakan desain sayap yang lebih maju, pesawat yang hanya mampu menampung delapan penumpang ini mampu menempuh jarak 7.400 NM (Nautical Miles) atau setara dengan 13.705 km saat melaju di Mach 0,85 (647 mph atau setara dengan 1.041 km per jam). Sistem hiburan di dalam kabinnya juga bisa dibilang ciamik, ditambah dengan kecepatan koneksinya yang menggunakan Ka-band, memungkinkan penumpang untuk melakukan streaming konten High-Definition dan menikmati hiburan selama perjalanan.
Hadirnya teknologi mobil otonom atau self driving cars memang membawa perubahan besar dalam paradigma di masyarakat. Dengan label ‘otonom’ pikiran publik kadang dibuat menerawang kecanggihan mobil otonom yang kerap duperlihatkan di film-fim fiksi. Tak ada yang salah memang, karena pada dasarnya arah perkembangan teknologi otomotif akan mengarah kesana juga.
Baca juga: Audi Pasang Banyak “Mata” Untuk Sistem Auto Pilot di Armada Anyarnya
Namun, faktanya adopsi teknologi pada mobil otonom masih mengalami keterbatasan pada fase-fase urutan pencapaiannya. Seperti yang terbaru, Audi, merek otomotif mewah asal Jerman belum lama ini merilis Audi A8, dimana mobil otonom ini punya kemampuan otonom di level 3. Dengan imbuhan level pada seri terbaru Audi tersebut menyiratkan suatu tahapan kemajuan inovasi. Namun disisi lain, masih banyak warganet yang bingung dengan kebenaran tentang fitur di mobil otonom.
Dikutip KabarPenumpang.com dari brandinsider.straitstimes.com (17/10/2017), berikut ini adalah fakta dan mitos seputar teknologi mobil otonom.
1. Kendaraan yang bisa menyetir sendiri
Istilah otomom sendiri menyiratkan bahwa kendaraan bisa mengemudi sendiri dan ini hanya sebagian dari yang benar. Sebab ada lima tingkatan dalam otomom seperti yang ditentukan oleh Society of Automotive Engineers.
The Audi A8 comes with a whole array of sensors for short-range, mid-range and long-range detection (Audi)
Sebagian besar mobil yang diproduksi saat ini memiliki level 1 atau bahkan tingkat otonom di level 2. Fitur cruise control adaptif atau bantuan parkir tersedia pada model Audi A8. Kemudi juga masih dipegang oleh manusia yang juga terus memantau situasi jalan. Audi A8 baru diperkenalkan dengan kemampuan penggerak otonom di level 3. Artinya masih otomom bersyarat, dimana pengemudi sebenarnya dapat dengan aman mengalihkan perhatiannya dari kemudi untuk berkonsentrasi pada hal lain saat kondisi memungkinkan.
Inovasi terbaru yang hadir pada Audi A8 ini yakni kemudi Audi AI (Artifical Intelligent) saat macet. Hal ini memungkinkan mobil bisa mengemudi dalam kondisi lalu lintas bergerak lambat hingga 60 km per jam di jalan raya dan Undang-undang setempat sudah mengizinkan. Tetapi jika kecepatan sudah sampai batas maksimum, pengemudi akan diminta untuk mengambil alih kembali kemudi.
2. Mobil otonom membuat tak nyaman, apalagi tanpa pengemudi manusia
Ini pasti sangat mengejutkan, apalagi masih banyak yang memilih masuk mobil dengan adanya pengemudi manusia. Tapi mungkin menaiki mobil tanpa pengemudi manusia akan lebih nyaman. Sebab dari data statistik data.gov.sg, sekitar 94 persen dari 6.888 kecelakaan lalu lintas tahun 2016 disebabkan oleh kesalahan manusia.
Baca juga: Konsep Audi City Bus, Inikah Gambaran Bus Masa Depan?
Audi memperkenalkan otomom di level 3 sebenarnya untuk membantu menurunkan angka kecelakaan tersebut. Dilengkapi dengan 12 sensor ultrasonik lengkap dengan informasi jarak dekat, empat sensor radar mid range dan radar jarak jauh di depan. Audi A8 yang baru ini adalah kumpulan kedua sensor ‘mata dan telinga,’ dimana empat kamera 360 derajat memastikan bahwa tidak ada detail yang terlewatkan. Kecerdasan ini untuk menentukan apakah kondisi jalan cukup aman untuk dikendarai.
3. Mobil dikendarai manusia atau tidak, bisa saja tak bantu masalah lalu lintas
Sebenarnya masalah kemacetan lalu lintas, bisa saja karena diri sendiri. Tahun 2008, sebuah percobaan yang dilakukan oleh Society of Traffic Flow di University of Nagoya menunjukkan bahwa kemacetan lalu lintas tak bisa dihindari saat pengemudi manusia berjalan bersamaan.
Namun, di masa depan, kemacetan lalu lintas seharusnya dihilangkan karena kendaraan otonom menjadi semakin umum. Berkaitan satu sama lain melalui Internet, kendaraan otonom akan dapat dengan mudah mengalihkan rute mereka sendiri jika terjadi halangan atau kemacetan yang tak terduga.
4. Bisa gunakan mobil tanpa pengemudi
Kendaraan otonom digadang-gadang seperti obat untuk masalah yang terkait transportasi, tetapi Undang-undang belum sepenuhnya jelas terkait kendaraan ini. Kedepannya Audi akan hadir denga otonom di level 4, yakni Audi Elaine yang mampu mengubah jalur dan mengarahkan sendiri secara mandiri. Elaine juga mampu mendeteksi celah lalu lintas di pinggir jalan untuk memarkir mobilnya sendiri, mengarah ke tempat cucian mobil, pompa bensin atau bahkan ke tujuan lainnya.
Bila Jakarta dan Palembang tengah menanti beroperasinya LRT (Light Rapid Transit), maka kota Lahore di Pakistan pun juga tak lama lagi akan mengoperasikan wahana transportasi yang sama, meski jaringan relnya tidak mengusung model upperground, LRT yang diberi label Lahore Metro akan dirilis lebih dulu dibandingkan LRT Jakarta – Bekasi dan LRT di Palembang.
Baca juga: Kereta Cepat Haramain Siap Layani Tamu Allah Akhir Tahun IniKabarPenumpang.com melansir dari laman economictimes.indiatimes.com (14/10/2017), Pemerintah Provinsi Punjab selaku pemilik Lahore Metro memperkenalkan sistem angkutan cepat massal dengan sistem otomatis dan tanpa pengemudi. Rangkaian gerbong dan mesin pertama yang disebut Orange Line Metro Train (OLMT) tiba di Lahore dari Cina atas kerjasama Cina – Pakistan Economic Corridor (CPEC).
Setelah melewati serangkaian penundaan, Lahore Metro nantinya akan mulai resmi mengular pada 25 Desember 2017 dan akan diresmikan oleh Kepala Menteri Provinsi Punjab, Shahbaz Sharif.”Proyek Jalur Orange akan menyediakan fasilitas transportasi modern, aman, cepat dan terjangkau bagi para penumpang Pakistan,” kata Sharif.
Nilai proyek OLMT mencapai US$1,6 mililar dengan sokongan pinjaman dari Bank Dunia. Proyek ini diperkenalkan pertama kali pada tahun 2014 dan pembangunan infrastrukturnya dimulai pada tahun 2015. Menurut pejabat kereta Metro, proyek ini merupakan proyek jangka panjang dan diusulkan setelah pertimbangan semua kemungkinan masalah yang ada seperti populasi kota Lahore yang berpenduduk tujuh juta orang. Nantinya layanan kereta ini akan menyediakan transportasi yang mampu mengangkut hingga 250 ribu penumpang setiap harinya dan akan ditambah menjadi 500 ribu penumpang kedepanya. Setiap kereta memiliki kapasitas untuk membawa setidaknya 1.000 penumpang.
Baca juga: Al Mashaaer Al Mugaddassah Metro, MRT Unik di Kota Suci Makkah
OLMT ini akan didatangkan sebanyak 27 kereta dan akan beroperasi menempuh jarak 27 km dengan kecepatan 80 km per jamnya. Ada 26 stasiun yang nantinya akan dilintasi OLMT tersebut dan mengurangi waktu tempuh dari dua setengah jam perjalanan dengan angkutan umum lainnya hingga menjadi 45 menit setelah menggunakan kereta tersebut. Secara keseluruhan, Punjab Mass Transit Authority selaku pengelola Lahore Metro akan mengembangkan jaringan kereta sepanjang 82 km dengan tiga lintasan.
Rute kereta ini akan menghubungkan pusat perkantoran dan pendidikan di wilayah Ali, Allama Iqbal, Samanabad, Chuburji, Jalan McLeod, Lakshmi Chowk, Nicolson Road hingga Dera Gujran. “Jalur Orange bukan hanya proyek transportasi umum tapi sarana untuk memperluas penghormatan kepada warga negara dan memberikan fasilitas transportasi kelas dunia,” kata Shahbaz Sharif.
Proyek yang menjadi bagian CPEC ini hadir dengan angsuran selama 20 tahun, dimana Pakistan tak harus membayar tagihan selama tujuh tahun tersebut. Kereta ini beroperasi dengan listrik yang dipasok oleh perusahaan listrik Lahore (Lesco)