Dalam suatu kondisi, Bandara Melbourne di Negara Bagian Victoria, Australia digadang bakal mampu menampung 100 juta pergerakan penumpang per tahunnya. Hal ini dikarenakan kota tersebut mengalami pertumbuhan penduduk yang sangat besar dan semakin tingginya permintaan untuk bepergian. Apalagi jika jaringan kereta api bandara telah diluncurkan dan dapat menghubungkan langsung ke Central Business Distric (CBD).
Baca juga: Demand Melonjak, Garuda Indonesia Tambah Jadwal Penerbangan Denpasar-Melbourne
Seiring dengan pesatnta pertumbuhan penumpang di bandara, otoritas kota Melbourne juga tengah memikirkan lalu lintas di Tullamarine Freeway, yakni akses jalan raya utama yang menghubungkan antara bandara dan CBD. Tahun 2016 lalu, Bandara Melbourne diketahui menangani lebih dari 35 juta penumpang dan diperkirakan akan melampaui 60 juta penumpang pada tahun 2033 mendatang.
KabarPenumpang.com melansir dari laman heraldsun.com.au (22/10/2017), nantinya akan ada sebuah terminal baru, area shopping yang ditingkatkan dan sistem perekaman keamanan yang berteknologi tinggi untuk setiap penumpang di bandara Melbourne. CEO Bandara Melbourne Lyell Strambi mengatakan bahwa Bandara Melbourne memiliki dua kali lipat dari massa di Bandara Heathrow London Inggris. Sehingga ada kemungkinan pada akhirnya bisa menangani 100 juta penumpang per tahun.
“Orang akan berharap pada tahap itu kita akan memiliki jalan lingkar luar, kami mungkin akan membangun terminal bandara di sebelah barat, itu akan menjadi bangunan yang berbeda dengan apa yang ada sekarang. Bukan untuk generasi saya dan bukan untuk manajer bandara yang mengikutiku, tapi akan diperuntukkan bagi generasi masa depan, dan ini semua untuk kepentingan warga Victoria,” ujarnya.
Saat ini diketahui, cetak biru perencanaan negara untuk membangun bandara utama lain di tenggara Melbourne sudah ada. Namun, Strambi mengatakan bahwa akan lebih banyak keuntungan untuk memiliki satu pusat penerbangan yang efisien untuk sebuah kota. “Bandara Melbourne saat ini berjarak hanya 26 km dari pusat kota. Bila Anda harus melakukan perubahan ke bandara kedua, itu menambah banyak biaya,” katanya.
Bandara Melbourne pada akhir tahun ini akan menyelesaikan pembangunan sebuah kawasan ritel mewah pada Terminal 2 nya. Dimana tahap pertama transformasi ritel akan menghabiskan biaya US$50 juta yang sudah mencakup ruang arsitektur unik dengan menampilkan patahan pada langit-langitnya.
Nantinya area penjualan ini sudah mulai beroperasi pada Natal dan klaim bagasi kedelapan di daerah kedatangan internasional juga akan menyimpan cukup banyak tas untuk melayani dua pesawat berbadan lebar. Selain itu, pada bandara ini juga akan ditambahkan terminal kelima yang letaknya dekat dengan terminal 4 pada tahun 2033 mendatang.
Strambi, mantan eksekutif senior Qantas, mengatakan bahwa bandara tersebut bekerja sama dengan bandara dan maskapai lain untuk menentukan tingkat penyaringan keamanan berikutnya.
“Sayangnya ancaman teror itu tidak akan hilang dan ini tentang bagaimana Anda terus berevolusi untuk mencocokkannya. Jika Anda bisa melakukan ID positif pada orang-orang yang menggunakan biometrik tapi tanpa memberlakukan antrian besar untuk melakukan kecocokan ID tersebut, Anda akan mendapatkan hasil keamanan yang lebih baik dan Anda tidak mengalami masalah lain, lebih banyak orang yang berdiri di sekitar massa besar. yang bisa diserang di luar petugas keamanan. Tujuan kami adalah untuk membuat orang aman dan diskrining dan melalui lingkungan yang aman secepat mungkin,” jelasnya.
Baca juga: Antisipasi Terorisme, Bandara-Bandara di Australia Dihimbau Perketat Keamanan
Pemerintah Negara Bagian belum berkomitmen untuk membangun jalur kereta api bandara, namun ada indikasi bahwa mereka bersedia bekerja dengan Pemerintah Federal untuk mendapatkan opsi. Strambi mengatakan sekarang adalah waktunya untuk mulai merencanakan rute dan kasus bisnis.
“Mungkin sekitar delapan tahun atau lebih untuk membangun, dan Anda perlu melakukan penelitian yang benar-benar bagus untuk memastikan Anda mengerti apa yang ingin Anda capai, karena ini bukan hanya tentang lalu lintas ke kota. Ini harus menjadi bagian dari solusi kemacetan yang jauh lebih besar untuk Melbourne,” kata dia.
Nama Fokker F-27 di Indonesia populer sebagai pesawat angkut sedang yang dioperasikan TNI AU. Lain dari itu, pesawat dengan dua mesin turbo propeller ini juga pernah dioperasikan beberapa maskapai untuk melayani rute perintis, sebut saja Sempati Air, AirMarck Cargo, Trigana Air, Kalstar dan Merpati Nusantara Airlines (MNA), adalah nama-nama maskapai yang dahulu pernah menggunakan pesawat yang menyandang label “Friendship.” Sebagai pengguna terbesarnya di Indonesia adalah MNA yang pernah mengoperasikan 11 unit.
Baca juga: Fokker F-28, Pernah Menjadi Tulang Punggung Armada Garuda Indonesia
Sampai tahun 2005, diketahui MNA masih mengoperasikan Fokker F-27, namun tahukah Anda, bahwa maskapai plat merah Garuda Indonesia juga pernah menggunakan F-27 untuk melayani rute domestik. Berdasarkan catatan sejarah, Fokker F-27 dioperasikan Garuda Indonesia bersamaan dengan masa penggunaan Fokker F-28.
Garuda Indonesia mulai menggunakan Fokker F-27 pada tahun 1969. Oleh Dirut Garuda saat itu, Wiweko Soepono, F-27 dimaksimalkan sebagai mesin uang yang keuntungannya digunakan untuk pengadaan armada baru. Pengabdian F-27 di Garuda Indonesia berakhir pada tahun 1977, dan sejak itu Garuda Indonesia fokus menggunakan armada pesawat jet untuk penerbangan domestik, selain mengandalkan Fokker F-28, untuk misi penerbangan domestik dan regional BUMN tersebut mempercayakan pelayanan pada pesawat jenis Douglas DC-9.
Sebelum dioperasikan untuk angkut penumpang komersial, Fokker F-27 sudah digunakan PT Pertamina pada tahun 1966. Selama dioperasikan Pertamina, F-27 digunakan sesuai fungsi asasinya pesawat transport. Paling sering ke Medan, Palembang dan Sorong. Termasuk ketika Pepera (Pengumpulan Pendapat Rakyat) di Irian Barat tahun 1969.
Sementara TNI AU baru mulai menggunakan F-27 sejak 8 Agustus 1976. Kabarnya, salah satu alasan minat TNI AU pada F-27 adalah kesan positif KSAU saat itu, Marsekal Saleh Basarah ketika diundang ke Belanda. Dalam suatu perjalanan dinas, Saleh Basarah diterbangkan menggunakan F-27 VIP. Total delapan pesawat dibeli untuk TNI AU. Berbeda dengan versi sipil yang diberi label Friendship, versi sipil F-27 disebut Troopship, dengan penekanan pada kemampuan penerjunan pasukan lintas udara.
Baca juga: Anthony Fokker – Pria Kelahiran Blitar Yang Jadi Legenda di Dunia Dirgantara
Meski disebut-sebut Garuda Indonesia mengoperasikan beberapa unit F-27, namun mengutip dari planelogger.com, hanya ada dua unit F-27 yang terekam ‘jejaknya,’ yaitu F-27 600 PK-GFJ dan PK-GFP. Setelah Garuda tak lagi mengoperasikan F-27, pesawat yang ada kemudian dialihkan untuk memperkuat armada MNA.
Dari spesifikasi, Fokker F-27 dengan mesin 2x Rolls-Royce Dart Mk.532-7 mampu melaju dengan kecepatan jelajah 460 km per jam, sementara jarak tempuhnya mencapai 2.600 km. Untuk angkut penumpang, F-27 bisa di setting untuk 48-56 kursi.
Satu lagi ruang lingkup kerja manusia yang akan tergerus oleh perkembangan jaman, yaitu pengatur lalu lintas udara (Air Traffic Controller/ATC). Pada awal tahun 2017 kemarin, manukfaktur asal Swedia yang terkenal sebagai pemasok sistem senjata mutakhir, Saab AB merilis sebuah teknologi yang memungkinkan pemangkasan karyawan di dunia pemantauan lalu lintas udara, yaitu Digital Air Traffic Solutions.
Baca Juga: Digital Air Traffic Solutions, Saatnya Menara ATC Dikendalikan Secara Remote
Tentu saja, bukan hal yang aneh ketika teknologi mulai merangsek masuk, maka performa dari ATC itu sendiri akan meningkat. Sebut saja seperti jarak pandang si pengatur lalu lintas akan diperpanjang menggunakan perangkat kamera yang terpasang di sebuah tiang yang di simpan di lokasi strategis. Maka, secara otomatis peran manusia dalam sektor ini akan tergeser oleh teknologi, dan para petugas pengatur lalu lintas udara pun tidak harus berada dekat atau di dalam area bandara.
Digital Air Traffic Solutions menggunakan layar 360 derajat, sehingga petugas pengatur lalu lintas tidak membutuhkan waktu lama untuk beradaptasi dengan teknologi baru ini. Prinsip dasarnya mirip dengan sebuah simulator. Penggunaan kamera ber-resolusi tinggi dan sensor High Definition (HD) yang terpasang di bandara akan memungkinkan petugas untuk mendapatkan kualitas visual gambar video real time.
Berbasis kamera canggih, petugas malah dapat mendeteksi keberadaan benda-benda yang mencurigakan di area lintasan pesawat, termasuk ketajaman visual pada malam hari. Bila ada obyek yang kurang jelas dilihat, petugas pun tinggal melakukan digital zooming.
Sebagaimana yang dihimpun KabarPenumpang.com dari laman airport-technology.com (12/10/2017), Saab Digital Air Traffic Solutions telah memenangi kontrak kerja sama yang dilayangkan oleh pihak Cranfield University, Inggris, untuk menerapkan sistem kontrol lalu lintas udara digital tersebut di Bandara Cranfield, Inggris.
Wakil Rektor dan Profesor Eksekutif di Cranfield University, Peter Gregson mengatakan bahwa menara kontrol digital tersebut akan memberikan dorongan signifikan terhadap Bandara Cranfield dan menunjang kemampuan riset universitas yang ia naungi. “Mengkombinasikan fasilitas yang ada dengan yang baru akan memperkuat Cranfield sebagai rumah fasilitas penelitian kedirgantaraan terkemuka di Eropa,” ujar Peter.
Baca Juga: Mengenal SkyTeam, Aliansi Penerbangan Internasional Garuda Indonesia
Secara keseluruhan, teknologi ini menggabungkan pemantauan citra dengan sistem lain, seperti tampilan radar, alat bantu navigasi, dan informasi tentang rencana penerbangan serta kondisi cuaca, dimana semua hal tersebut saling berkesinambungan dan dibutuhkan untuk menangani lalu lintas udara. Hingga saat ini, baru Bandara Cranfield saja yang menggunakan teknologi semacam ini di dunia.
Singapore Airlines, maskapai penerbangan kedua terbesar di dunia dalam aspek permodalan, dikabarkan baru-baru ini telah mengadakan kesepakatan untuk membeli armada pesawat baru dari Boeing dengan nilai total mencapai US$13,8 miliar. Kesepakatan ini ditandatangani di Gedung Putih pada Senin (23/10/2017).
KabarPenumpang.com melansir dari laman finance.yahoo.com (24/10/2017), Singapore Airlines secara keseluruhan membeli 39 unit pesawat jenis wide body untuk penerbangan jarak jauh, terdiri dari 20 unit Boeing 777-9 dan 19 unit Boeing 787-10 Dreamliner, yang kedua perusahaan dibuat di basis produksi di kota Seattle. Sampai saat ini Boeing sendiri sudah memiliki pesanan untuk 30 Dreamliner. Rencananya tahun depan, pesanan pertama Boeing 787 Dreamliner untuk Singapore Airlines akan mulai dikirimkan.
Karena merupakan pesanan dengan nilai fantastis, penandatanganan pembelian di Gedung Putih secara langsung disaksikan Presiden Amerika Serikat Donald Trump dan Perdana Menteri Republik Singapura Lee Hsien Loong. Betapa tidak, proyek pesanan Singapura ini sangat menyenangkan Trump, mengingat akan menciptakan 70.000 lapangan kerja baru di AS. Dalam momen penandatanganan, dari pihak Singapore Airlines hadir CEO Singapore Airlines Goh Chon Phong dan Kevin McCalister, Presiden dan CEO Boeing Commercial Airplanes.
Baca juga: Singapore Airlines dan Grab Integrasikan Layanan Ridesharing di Satu Aplikasi
Bulan Oktober ini, Boeing sendiri ternyata meluncurkan seri yang pertama dari pesawat Boeing 787-10 di fasilitas Final Assembly-nya yang ada di South Carolina.
Minggu lalu, saat Trump menjadi tuan rumah untuk kehadiran Perdana Menteri Yunani Alexis Tsipras di Gedung Putih, Ia mengatakan bahwa negara Eropa tersebut sedang mencari cara untuk membeli pesawat tambahan dari Boeing dan pemerintah Amerika Serikat akan membantu dalam proses pembeliannya.
Baca juga: Singapore Airlines Pamerkan Desain Interior Mewah di Airbus A380 Terbaru
Sebenarnya, kesepakatan yang dilakukan bersama Singapura terjadi saat Boeing berada ditengah perselisihan perdangangan dengan manufaktur pesawat asal Kanada, Bombardier. Saat itu juga produsen kedirgantaraan Amerika Serikat menuduh pesaingnya menjual jet single board Series C baru dengan harga yang jauh lebih rendah di pasar Amerika Serikat.
Hal ini mengakibatkan Departemen Perdagangan Amerika Serikat lebih berperihak pada Boeing dan menempatkan tarif 300 persen pada Bombardier yang akan membuat jet di fasilitasnya di Alabama. Baru-baru ini, Airbus sebagai pesaing terbesar Boeing di industri pesawat terbang mengumumkan bahwa mereka akan mengambil saham mayoritas dalam program Seier C tersebut.
Dalam jagad maskapai Tanah Air, hanya dua perusahaan penerbangan yang memiliki pesawat berbadan lebar (wide body), yang pertama jelas Garuda Indonesia (GIA) dan kedua adalah Lion Air. Yang disebut terakhir bisa dibilang serasa tak ingin kalah dalam loncatan yang diraih GIA. Selain telah di dapuk sebagai maskapai dengan jumlah armada terbesar di Indonesia, dalam supremasi kepemilikan jumbo jet, Lion Air tak ingin ketinggalan dari GIA. Dan terbukti, operator Boeing 747-400 adalah GIA dan Lion Air.
Baca juga: Sepi Pesanan, Boeing 747 Beralih dari “Queen of the Skies” Jadi “Flying Truck”
Di dekade 90-an hingga awal tahun 2000, kepemilikan Boeing 747-400 atau yang kondang disebut Queen of The Skies merupakan prestis bagi setiap maskapai yang melayani rute internasional. Kala itu, GIA mengarahkan 747-400 untuk rute jarak jauh ke Eropa, sementara Lion Air menyasar penggunaan 747-400 untuk rute Umroh ke Arab Saudi. Dengan konfigurasi kelas ekonomi secara keseluruhan, Boeing 747-400 dalam sekali terbang bisa membawa 506 penumpang.
Pesawat yang memiliki empat mesin dan dapat terbang pada kecepatan Mach 0.85 atau 909 kilometer per jam, serta mampu terbang dengan jarak maksimum 13.570 km sampai 15.000 km. Dan 747-400 menjadi salah satu pesawat wide body pertama yang memggunakan winglet, sehingga aerodinamika pesawat meningkat dan ada penghematan dalam konsumsi bahan bakar.
Meski begitu di damba pada era 90-an dan secara teknologi masih memadai, toh akhirnya “end lifetime” jumbo jet ini sudah terasa sejak beberapa tahun belakangan. Permintaan pasar pada seri 747-400 merosot tajam, lantaran maskapai lebih menginginkan pesawat dengan kemampuan jarak jauh dengan ukuran yang tidak terlampau besar, seperti Airbus A330, Airbus A350, Boeing 777 dan Boeing 787 Dreamliner. Kondisi ini dipicu dari berkurangnya tingkat okupansi penumpang pada penerbangan jarak jauh.
Dan mengikuti kondisi pasar, GIA belum lama ini telah menyatakan resmi memensiunkan Boeing 747-400 PK-GSG setelah mengabdi selama 23 tahun. Kali ini pun langkah GIA juga diikuti oleh Lion Air yang akan memensiunkan keseluruhan dari dua unit 747-400 yang ada. Hanya saja ada perbedaan antara 747-400 GIA dan Lion Air, yakni GIA membeli pesawat jumbo jet gress dari pabrik, sementara Lion Air membeli 747-400 dengan status bekas pakai dari maskapai lain. GIA mulai menerima kedatangan tiga unit armada 747-400 (PK-GSH, PK-GSG dan PK-GSI) pada tahun 1994, sementara Lion Air baru mengoperasikan 747-400 sepuluh tahun kemudian.
Baca juga: 23 Tahun Mengangkasa, Boeing 747-400 Garuda Indonesia Akhiri Masa Tugas
Dikutip KabarPenumpang dari airfleets.net, dua unit Boeing 747-400 diberi nomer PK-LHF dan PK-LHG. Dan merujuk dari sejarahnya, kedua unit 747-400 Lion Air awalnya dioperasikan maskapai Singapore Airlines (1989) dan lewat beberapa kali proses jual beli dengan maskapai lain, sebelum digunakan Lion Air, kedua 747-400 adalah bagian dari armada Oasis Hong Kong Airlines, maskapai yang telah bangkrut sejak tahun 2008. Demikianlah sekilas sejarah pesawat wide body pertama milik swasta di Indonesia. Pasca pensiunnya Boeing 747-400, Lion Air kini mengandalkan Airbus A330-300 untuk melayani penerbangan ke Timur Tengah.
AirAsia akan memindahkan seluruh operasinya di Bandara Changi Singapura, yang saat ini berada di Terminal 1 ke Terminal 4 pada 7 November mendatang. Nantinya semua penerbangan dan pelayanannya baik kedatangan maupun keberangkatan di Terminal 4 tidak akan terjadi perubahan jadwal penerbangan dengan adanya kepindahan ini.
Baca juga: Tingkatkan Pelayanan, AirAsia Gaet Inmarsat Untuk Pengadaan On Board BroadbandKabarPenumpang.com merangkum dari siaran pers (19/10/2017), dengan adanya perpindahan, para penumpang maskapai berbiaya murah ini harus sampai di bandara kurang lebih tiga jam sebelum jadwal keberangkatan. Hal ini agar para penumpang memiliki waktu yang cukup untuk proses melalui terminal baru.
CEO AirAsia Logan Velaitham megatakan bahwa langkah ini sejalan dengan visi pengangkutan untuk menjadi maskapai penerbangan digital.
“Tahun ini fokus di Singapura adalah menerapkan layanan Fast and Seamless Travel (FAST). Kami berkolaborasi dengan Changi Airport Group untuk mengotomatisasti dan berinovasi pada pengalaman check in,” ujar Velaitham.
Di Terminal 4, AirAsia akan menyediakan 19 meja check in, 14 mesin drop kargo, dua loket cek dokumen dan dua loket pembayaran di Line 4 serta layanan check in untuk kelompok (grup) berada di jalur 5. Untuk diketahui, bagi pengguna AirAsia, yang bepergian menggunakan MRT dapat berjalan ke arah area kedatangan Terminal 2 dan akan ada bus antar jemput 24 jam yang disediakan gratis serta beroperasi setiap sepuluh menit sekali untuk tiba ke Terminal 4.
Terminal 4 ini merupakan terminal yang akan dibuka pada 31 Oktober 2017. Memiliki dua lantai, Terminal 4 merupakan terminal terkecil di bandara Changi yang ukuran besarnya setengah dari Terminal 3. Kapasitas penampungannya hingga 16 juta penumpang per tahun dan jika ditotal dengan keseluruhan penumpang yang bisa dihadirkan di bandara Changi menjadi 82 juta penumpang per tahunnya.
Baca juga: Staf Bandara Changi Resmi Gunakan Kacamata Augmented Reality
Nantinya pada hari dibuka, Cathay Pasific dan Korean Air akan menjadi yang pertama beralih pada Terminal 4. Dimana keberangkatan dan kedatangan pertama merupakan penerbangan dari dan ke Hong Kong yang dioperasikan oleh Cathay Pasific.
Selain itu Cebu Pasific, Spring Airlines dan Vietnam Airlines akan menyusul bersaman AirAsia pada 2 dan 7 November 2017 mendatang ke Terminal 4. Terminal 4 bandara Changi ini sejak selesai pembangunannya pada Desember 2016 lalu, telah melakukan 100 percobaan dengan melibatkan 2500 staff dan 1500 relawan.
Sebagai pengelola 13 bandara di Indonesia Tengah dan Timur, PT Angkasa Pura I (Persero) selain mendapat penghargaan dari Airports Council International (ACI) juga akan terus mengembangkan ke 13 bandaranya yang ada saat ini. Hal ini dikatakan oleh Direktur Utama AP I Danang S Baskoro yang ditemui saat konferensi pers di Graha Angkasa Pura I, Selasa (24/10).
Baca juga: Bebaskan Landing Fee Bagi Maskapai Baru, Angkasa Pura I Dukung Sektor Wisata NTT
Dalam pengembangannya ini, Danang mengatakan, akan mengacu pada sembilan bandara lainnya terlebih dahulu, yakni Yogyakarta, Surabaya, Solo, Semarang, Banjarmasin, Manado, Lombok, Ambon dan Balikpapan. Pengembangan pada sembilan bandara tersebut mencakup bagian di terminal, landasan pacu dan area komersialnya, serta pemindahan bandara seperti Adisutjipto ke Kulon Progo yang akan beroperasi pada 2019 mendatang, tepatnya sebelum pemilihan Presiden.
Alasan rencana pengembangan dipicu area komersial bandara saat ini sangat dinikmati oleh penumpang dan mereka merasakan kenyamanan dibandingkan hanya menunggu di ruang tunggu. Tak hanya sembilan bandara tersebut, dua bandara lainnya yakni Frans Kaisiepo di Biak dan Eltari di Kupang masih dalam proses pengembangan.
“Biak dan El Tari akan kita kembangkan setelah yang sembilan bandara tersebut selesai. Kita kembangkan karena potensi Timur Indonesia luar biasa untuk dijangkau wisatawan,” ujar Danang yang di wawancarai KabarPenumpang.com usai konferensi pers.
Baca juga: Dua Bandara Angkasa Pura I Raih Penghargaan Prestius Tingkat Internasional dari ACI
Dia mengatakan, pengembangan dua bandara lainnya ini mengikuti traffic di lapangan. Sebab diketahui, untuk bandara Biak dan Eltari traffic tertinggi ada pada siang dan malam hari sedangkan di siang hari bandara tidak ada aktivitas alias sepi.
“Siang itu kalau di El Tari sangat sepi, karena padatnya ya pagi sama malam. Profil penumpangnya itu seperti pejabat dan pebisnis dimana mereka berangkat pagi ke Jakarta dan kembali sore. Sama kaya orang Jakarta ke sana juga begitu sampainya pagi, sore pulang, makanya aktivitas siang itu tidak ada,” jelas Danang.
Danang menegaskan, kejadian ini tidak sama dengan Bali dan Lombok. Karena Bali dan Lombok memiliki traffic yang berbeda, penumpang sudah mulai ramai di pagi, siang dan malam hari dengan penerbangan. Kedepannya, semua bandara yang dikelola AP I akan disamaratakan pengembangannya dengan Bali dan Makassar, Danang memastikan tahun 2020 kesemuanya sudah selesai.
Pertanyaan mengenai PT KAI yang selama ini jarang menggunakan produk dari PT INKA terjawab sudah. Ini dibuktikan dengan pemesanan gerbong kereta sebanyak 438 unit untuk menggantikan gerbong tua yang sudah kurang layak pakai. Tentunya, peremajaan gerbong yang dilakukan oleh PT KAI ini secara tidak langsung akan meningkatkan pelayanan mereka kepada para pelanggan setianya.
Baca Juga: Terima Tawaran dari Taiwan, PT INKA Siap-Siap Kembali “Kebanjiran” Order
Sebagaimana yang dihimpun KabarPenumpang.com dari berbagai sumber, Didiek Hartantyo selaku Direktur Keuangan PT KAI mengatakan bahwa peremajaan tersebut dilakukan karena saat ini ada banyak gerbong yang usianya sudah mencapai 3 dasawarsa lebih. “Banyak kereta yang usianya 30 tahun. Tahun ini kami pesan 438 kereta dari INKA,” kata Didiek dikutip dari laman kompas.com, Kamis (19/10/2017).
Sehubungan dengan kemampuan PT INKA yang masih terbatas dan jumlah pesanan dari PT KAI yang bisa dibilang tidak sedikit, maka Didiek mengatakan peremajaan tersebut akan dilakukan secara bertahap. “Kami semua pesan ke sana kan (INKA-red), kereta Bandara 10 trainset dari mereka, LRT Palembang pesan dari mereka,” imbuhnya.
Semakin ketatnya persaingan di dunia transportasi dewasa ini merupakan salah satu latar belakang PT KAI untuk meningkatkan pelayanannya kepada para penumpang. Tampaknya, PT KAI sudah mulai berhasil merebut hati para warga Ibu Kota yang hendak bertolak menuju luar kota pada akhir pekan. Pantauan langsung KabarPenumpang.com di lapangan, PT KAI sampai-sampai harus mengadakan perjalanan tambahan dari Jakarta Gambir menuju Bandung pada Jumat (20/10/2017) kemarin, begitupun sebaliknya.
Baca Juga: INKA CC300, Mampu Lintasi Banjir, Inilah Lokomotif Diesel Karya Anak Bangsa
Ini merupakan sinyal bagus yang diterima oleh PT KAI, dimana peningkatan keseluruhan layanan mereka berbuah manis. “Supaya pelayanan masyarakat bisa makin bagus, kalau kereta makin bagus kan senang. Kenyamanan dan keselamatan juga seperti itu, efisiensi bagi kami juga. Kereta yang di atas 30 tahun sudah waktunya kami ganti kereta yang baru,” tegas Didiek.
Sumber: HaloMalang.com
Bisa jadi, peremajaan kereta ini erat kaitannya dengan kenaikan tarif kereta api yang rencananya mulai diberlakukan per 1 Januari 2018 mendatang. Kenaikan tarif tersebut sesuai dengan Peraturan Menteri Perhubungan RI No. 42 tahun 2017 tentang Perubahan Kedua atas Peraturan Menteri Perhubungan No. 35 Tahun 2016 tentang Tarif Angkutan Orang dengan Kereta Api Pelayanan Kelas Ekonomi untuk Melaksanakan Kewajiban Pelayanan Publik (PSO). Penyesuaian tarif ini akan berlaku bagi 20 rute kereta ekonomi jarak jauh bersubsidi.
PT Garuda Indonesia Tbk, menargetkan return to profit pada tahun 2018 setelah mengalami kerugian di tahun 2017 ini karena tengah berupaya untuk mengurangi pengeluaran dan memperbaiki struktur biaya operasionalnya. Maskapai plat merah ini memang memprediksi memperoleh keuntungan sebesar US$75 juta di semester kedua yang berakhir pada Desember 2017.
Baca juga: Mengenal SkyTeam, Aliansi Penerbangan Internasional Garuda Indonesia
Namun, sayangnya ini tidak akan mampu membukukan keuntungan untuk periode 12 bulan setelah kerugian yang terjadi lebih besar pada semester pertama di tahun ini. Chief Executive Officer Pahala Mansury mengatakan, kerugian di semester pertama 2017 mencapai US$284 juta.
Mansury menambahkan pengusaha Indonesia meningkatkan utilitas pesawat dengan mengurangi waktu penerbangan dan pemotongan biaya, dimana langkah-langkah ini yang akan membantu Garuda Indonesia menghasilkan keuntungan tahun depan. “Kami telah meningkatkan tingkat utilisasi pesawat terbang kami dan akan terus melakukannya. Ini akan menjadi faktor kunci untuk menentukan apakah kita menguntungkan di masa depan dan apakah keuangan kita memperbaiki,” kata Mansury yang dilansir KabarPenumpang.com dari laman bloomberg.com (23/10/2017).
Saat ini sebagai perbandingan, biaya per kursi yang tersedia di seluruh grup Singapore Airlines, yang juga mencakup anggaran Scoot adalah 6,83 sen Singapore dalam kuarter fiskal yang berakhir pada bulan Juni. Sedangkan Garuda Indonesia saat ini sedang berada dalam diskusi untuk merencanakan penundaan pengiriman pesawat terbang. Mansury mengatakan, pada tahun 2015 lalu maskapai berkomitmen untuk memiliki 60 pesawat dari Boeing senilai US$10,9 miliar pada daftar dan 30 pesawat dari Airbus senilai US$9,1 miliar sebelum diskon.
“Perusahaan merestrukturisasi Citilink dengan biaya rendah dan mengubah hutang di unit menjadi ekuitas,” kata Mansury.
Selain itu, Garuda berencana untuk meningkatkan pendapatan dari bisnis lain yang menunjang penerbangan, seperti perawatan pesawat terbang dan perhotelan. Mansury mengatakan, Garuda memanfaatkan posisi geografis Indonesia untuk mendapatkan lebih banyak pelanggan dari luar negeri. Pendapatan dari penerbangan internasional meningkat hampir 15 persen di semester pertama dari tahun sebelumnya, sementara pangsa dari perjalanan domestik turun.
Saham Garuda Indonesia mengalami kenaikan sebanyak 1,8 persen menjadi Rp334 pada hari Senin (23/10/2017), memangkas penurunan year to date menjadi 1,2 persen. Itu dibandingkan dengan kenaikan 24 persen di Bloomberg Asia Pacific Airlines Index pada 2017.
Baca juga: Khusus Layani Jamaah Haji Tradisional, Garuda Indonesia Andalkan Awak Kabin (Lokal)
Mulai bulan depan, maskapai ini akan terbang tanpa henti ke London dari Jakarta setelah bertahun-tahun mengalami kemunduran, yang memungkinkannya untuk menarik sekitar 700.000 penumpang yang melakukan perjalanan antara Australia dan Inggris setiap tahun dengan apa yang disebut sebagai rute Kangaroo. Garuda Indonesia menargetkan margin laba bersih 1 persen menjadi 2 persen pada 2018, dibandingkan dengan 0,21 persen tahun lalu. “Situasi Garuda Indonesia telah membaik,” kata Mansury.
Sebagai negara berpredikat populasi terbesar di dunia dengan 1.386.100.000 penduduk atau setara dengan 18,6% total penduduk di dunia per 22 Oktober 2017 silam, maka tidak heran jika Cina saat ini merupakan sumber penumpang inbound asing terbesar di Bandara Sydney, Australia (Kingsford Smith Airport). Maka dari itu, pihak bandara meluncurkan sebuah peta elektronik di dalam ruang terminal internasional T1, dengan tujuan meningkatkan pengalaman perjalanan penumpang yang lebih baik, terutama kepada para penumpang yang berasal dari Negeri Tirai Bambu.
Baca Juga: Bandara-Bandara Tertinggi di Dunia, Sebagian Besar Berada di Cina
Dilansir KabarPenumpang.com dari laman airport-technology.com (4/10/2017), Bandara Sydney bekerja sama dengan Baidu, salah satu perusahaan internet terbesar di dunia yang berbasis di Kampus Baidu, Haidian District, Beijing. Adapun alasan bandara ini memilih Baidu sebagai partnernya adalah klaim yang menyatakan bahwa perusahaan internet ini merupakan penyedia informasi terbesar di Cina.
Dengan diperkenalkannya layanan baru ini, maka Bandara Sydney menjadi organisasi pertama di luar Cina yang menggunakan platform tersebut. Dalam platform anyar tersebut, menampilkan beberapa spot penting di dalam bandara dengan menggunakan bahasa Cina, seperti gerbang dan loket check-in, beragam fasilitas dan gerai ritel di berbagai lantai. Tidak hanya itu, platform tersebut juga menawarkan navigasi real-time kepada para penumpang dan pengunjung di terminal T1 di Bandara Sydney.
“Kami senang dapat bekerja sama dengan Baidu Maps sehingga kami dapat meningkatkan pelayanan kami terhadap para penumpang, terutama bagi mereka yang berdomisili di Cina,”ungkap Direktur Pelaksana dan CEO dari Sydney Airport, Kerrie Mather. “Ini tampak seperti rangkaian tambahan, mengingat beberapa bulan ke belakang, kami baru saja memperkenalkan Google Maps di seluruh terminal kami,” imbuhnya.
Sumber: Twitter
Dalam tampilan peta tersebut, Baidu menggunakan konsep 3D yang mencakup tata letak dan fungsi baru dari bandara. Baidu juga mengandalkan perbesaran granularitas dan fungsi pencarian, sehingga akan lebih memudahkan para penggunanya. Bagi pengguna yang merasa kurang nyaman dengan fitur ini, mereka juga bisa melayangkan feedback melalui aplikasi.
Peluncuran teknologi baru tersebut merupakan bagian dari strategi open data Sydney Airport, menyusul implementasi Google Maps di ketiga terminalnya yang sudah dipasang pada awal tahun 2017 kemarin. Tidak hanya menawarkan fitur peta di ruang tunggu, diketahui bandara ini juga telah meluncurkan beberapa inisiatif lain untuk meningkatkan pelayanan yang lebih baik kepada para penumpang yang berasal dari Cina.
Baca Juga: Di 2019, Cina Siap Operasikan Bandara Internasional Terbesar di Dunia!
Inisiatif tersebut meliputi Duta Besar Bandara Mandarin, papan nama dan informasi yang tersedia dalam bahasa Cina yang disederhanakan, ketersediaan gerai ritel yang disesuaikan, hingga yang paling mencolok adalah dukungan bandara tatkala Tahun Baru Imlek. Unik ya!