Rancang Ruang Bagasi Unik, Kelompok Mahasiswa Hong Kong Raih Penghargaan dari Airbus

Pernahkah Anda merasa kerepotan ketika hendak memasukkan barang bawaan ke dalam bagasi kabin? Apalagi jika terlambat dan terpaksa menyimpan hand carry di posisi yang cukup jauh  dari tempat duduk Anda, tentu ini merupakan hal yang sedikit banyaknya akan membuat Anda jengkel. Pengalaman itulah yang menjadi dasar sekelompok mahasiswa dari University of Hong Kong untuk membuat sebuah inovasi penyimpanan hand carry pribadi. Baca Juga: University of Liege Sabet Gelar Juara Perhelatan Desain Kapal Ferry di New York Seperti yang dihimpun KabarPenumpang.com dari laman cnn.com (22/5/2017), sekelompok pelajar yang menamai diri mereka Tim DAELead ini berhasil menjuarai kompetisi Fly Your Ideas yang diselenggarakan oleh manufaktur aviasi multinasional, Airbus. Dalam perhelatan yang diadakan di Markas Airbus di Toulouse pada bulan Mei kemarin, Tim DAELead berhasil membawa  pulang hadiah sebesar $33.700 berkat ide inovatif mereka, yaitu menciptakan ruang penyimpanan hand carry pribadi  di bawah bangku penumpang yang ada di depannya, tanpa mengambil ruang penyimpanan kaki Anda. Adapun cara kerja dari inovasi ini adalah menyimpan sebuah kotak di bawah permukaan lantai karpet setiap bangku penumpang. Ukuran kotak tersebut pun tidak lebih besar dari luas alas bangku penumpang. Kotak tersebut disambungkan dengan menggunakan engsel ke lantai kabin, membuatnya bisa dibuka-tutup kapan pun Anda mau (push to open). Dengan begitu, ruang penyimpanan kaki Anda tidak terganggu, walaupun Anda menyimpan hand carry Anda di bawahnya. Para juri dalam kompetisi tersebut kagum dengan inovasi ini. Disampaikan langsung oleh Tim DAELead, nantinya inovasi ini akan dipasang di seluruh maskapai penerbangan setelah melewati serangkaian uji teknis, kelayakan, dan keamanan. “Para juri terkesan dengan gagasan inovatif yang dituangkan oleh Tim DAELead. Ini bisa jadi solusi sederhana namun efektif untuk perjalanan udara yang lebih baik,” tulis sebuah pernyataan di laman Fly Your Ideas. Baca Juga: Gelar “Sayembara”, Hyperloop Akan Saring 10 Ide Jalur Terbaik Tercatat, hampir 5.500 siswa terdaftar dari seluruh dunia yang terbagi ke dalam 356 tim berbeda untuk mengikuti kompetisi ini. Lima tim terpilih akan diundang ke acara puncak di Toulouse, Perancis untuk mengembangkan prototip mereka di hadapan para ahli dari Airbus. Diketahui, Runner Up dalam kompetisi ini, Aquarius dari Royal Melbourne Institute of Technology (RMIT), mengembangkan sebuah ide untuk mengubah pesawat militer A400M menjadi sebuah mesin pemadam kebakaran. Sejak kompetisi Fly Your Ideas ini pertama kali dihelat pada tahun 2008 silam, dikalkulasikan ada lebih dari 20.000 siswa dari lebih dari 650 universitas di lebih dari 100 negara di seluruh dunia telah mengambil bagian dalam perhelatan ini.

Tahan Terpaan Bencana Alam, Jepang Perkenalkan Jembatan Darurat Multifungsi

Mengingat potensi bencana alam yang bisa datang kapan saja, dimana saja, dan dalam bentuk yang beragam, beberapa periset dari Hiroshima University merancang sebuah struktur jembatan darurat yang dipercaya dapat tahan dari terpaan bencana alam seperti badai, banjir, gempa bumi, hingga tsunami. Dapat dibayangkan jika salah satu pra-sarana transportasi ini lumpuh akibat bencana dan memutus akses evakuasi, tentunya bencana alam tersebut akan memakan lebih banyak korban. Baca Juga: Cikubang, Jembatan Kereta Terpanjang di Indonesia Sebagaimana yang dilansir KabarPenumpang.com dari laman viatechnik.com, tidak hanya berperan sebagai jalur evakuasi ketika bencana datang, tapi jembatan juga dapat menjadi akses regu penyelamat untuk memasok kebutuhan medis para korban selamat. Selain itu, jembatan juga harus memiliki banyak jalur untuk memungkinkan kendaraan bantuan melintas. Maka dari itu, periset dari Hiroshima University membuat struktur jembatan darurat yang berbentuk seperti gunting untuk menguji keefektifannya terhadap lalu lintas kendaraan yang terpaksa melintasi sungai. Jembatan yang diberi nama Mobile Bridge Version 4.0 ini memiliki desain yang bisa dilipat, diatur, dan di naik turunkan dengan cepat dan mudah. Dr. Ichiro Ario dari Institute of Engineering di Hiroshima University mengaku bahwa desain jembatan ini terinspirasi dari Origami, seni melipat kertas dari Jepang. “Dibutuhkan sekitar satu jam untuk merakit jembatan darurat ini hingga siap digunakan,” ungkap Dr. Ichiro. Untuk mengangkut jembatan darurat ini pun tidak dibutuhkan sebuah kendaraan khusus, cukup mobil trailer sederhana. Dr. Ichiro mengatakan Mobile Bridge Version 4.0 ini merupakan jembatan yang kuat, ringan, dan mudah untuk dibongkar-pasang. Ketika ia bersama timnya menguji coba jembatan ini, hasil positif pun dituai. Kendaraan yang melintas di atasnya tidak mengalami masalah dan hanya membutuhkan sedikit orang untuk memasangnya. Dr. Ichiro percaya bahwa Mobile Bridge Versin 4.0 merupakan salah satu opsi hemat biaya ketika terjadi bencana, pasalnya untuk memasang jembatan ini pun tidak membutuhkan pembangunan pondasi sebelumnya, penggunaan kendaraan berat untuk mengangkutnya, dan tenaga kerja yang banyak, seperti yang sudah dijabarkan di atas. Baca Juga: Lintasi Tol JORR, Inilah “Special Bridge,” Jembatan Unik di Jalur MRT Fatmawati “Kami akan terus melakukan pengembangan terhadap Mobile Bridge Version 4.0 ini agar lebih kuat, lebih tahan lama, lebih ringan, dan mempersingkat waktu pemasangan di masa yang akan datang,” terang Dr. Ichiro. “Kehadiran jembatan ini juga dapat mendorong pengembangan teknologi konstruksi infrastruktur secara global,” imbuhnya. Tidak hanya digunakan dalam kondisi darurat, jembatan ini juga bisa digunakan untuk mengurai kepadatan arus lalu lintas di suatu daerah. “Bisa dijadikan sebagai rute alternatif,” tukas Dr. Ichiro. Diketahui, sejumlah perusahaan lain juga tengah mengembangkan inovasi yang hampir serupa, seperti Jembatan Mabey di South Wales, Jembatan Acrow di New Jersey, dan Unibridge di Sydney, Australia. Jika ditinjau dari segi penggunaan non-daruratnya, apakah bisa jembatan ini menjadi salah satu solusi kemacetan di Indonesia, khususnya Jakarta?

Bandara Internasional Tegel, Berlin: Terus Beroperasi Atau Berubah Jadi Pusat Bisnis

Selain dikenal sebagai bandara internasional utama di Berlin, Bandara Tegel yang juga menjadi saksi sejarah dari Perang Dunia II selain Bandara Tempelhof. Dengan kata lain, bandara yang terletak 8 km di sebelah barat laut pusat kota Berlin ini sudah cukup berumur untuk dijadikan bandara internasional utama di kota yang memiliki jumlah jembatan lebih banyak dari Venesia ini. Namun, dalam waktu dekat, bandara tersibuk keempat di Jerman ini akan dipensiunkan dari tugasnya dan digantikan oleh Berlin Brandenburg Airport. Di Berlin sendiri, tercatat ada empat bandara, dimana dua diantaranya masih beroperasi, yaitu Tegel dan Schönefeld. Lalu ada Berlin Brandenburg Airport yang masih dalam pembangunan, dan Tempelhof yang sudah dinon-aktifkan sejak tahun 2008 silam. Baca Juga: Bandara Tempelhof, Megastruktur NAZI Yang Kini Jadi Taman Kota Besar di Berlin Perdebatan mulai muncul ketika rencana tersebut mencuat ke permukaan. Sebagian orang seolah tidak rela Bandara Tegel digantikan perannya oleh Berlin Brandenburg Airport, sedangkan yang lainnya bahkan mengutuk Tegel karena dinilai terlalu berisik dalam pengoperasiannya. Dihimpun KabarPenumpang.com dari laman Bloomberg.com (19/9/2017), seorang politikus lokal, Sebastian Czaja dengan lantang menolak perpindahan gelar bandara internasional utama di Berlin yang semula dipegang oleh Bandara Tegel. Sebagai bentuk penolakannya, ia membuat referendum tidak terikat dengan mengeluarkan sebuah petisi yang berisikan pengumpulan 250.000 tanda tangan untuk menolak rencana tersebut. Kelompok Free Democrat yang berdiri di belakang Sebastian mengangkat perdebatan mengenai Bandara Tegel sebagai isu utama kampanyenya di Berlin, dengan jargon “Tegel-saver” yang terpampang di seluruh papan reklame di kota tersebut. Langkah berani ini ditempuh untuk menujukkan perlawanan terhadap proyek infrastruktur besar yang tengah dijalankan, yakni proyek pembangunan Berlin Brandenburg Airport yang tak kunjung usai sejak tahun 2011 silam. Sementara itu, Greens yang diketahui sebagai rival dari Kelompok Free Democrat juga tidak mau kalah. Mereka memasang banyak poster yang berisikan kecaman terhadap Bandara Tegel yang dinilai menjadi salah satu sumber polusi suara di Berlin. Terlepas dari konteks perdebatan yang terjadi diantara kedua kubu tersebut, Berlin Brandenburg Airport atau yang umumnya dikenal dengan BER memang sempat melewati fase molor. Tidak tanggung-tanggung, sudah enam tahun pembangunan bandara tersebut tak kunjung rampung. Baca Juga: Yasser Arafat International Airport, Saksi Bisu Kekejaman Militer Israel Pembangunan bandara ini pertama kali dilakukan ditahun 2006 dan dicanangkan selesai pada tahun 2011 kemarin. Namun, banyak masalah yang ditemui dalam pembangunan bandara tersebut membuat target yang sudah ditetapkan di awal meleset. Lebih parahnya lagi, keterlambatan tersebut berdampak pada penggandaan nominal dana yang harus ditebus untuk menyelesaikan proyek itu, menjadi sekitar US$6 miliar. Tersiar kabar bahwa BER akan dibuka pada tahun 2019 mendatang, dan Bandara Tegel akan dijadikan Tech Business Park, dimana dapat dipastikan akan tumbuh puluhan gedung perkantoran dan apartemen di sana. Sementara itu, Kanselir Angela Merkel, yang mencalonkan diri untuk masa jabatan keempat dalam pemilihan, mengatakan undang-undang yang berlaku saat ini mengharuskan Bandara Tegel ditutup sesaat setelah BER terbuka. “Itulah situasi hukum yang berlaku.” tukasnya dilansir dari laman yang sama.

Bandara Internasional Hong Kong Sabet Predikat “Bintang Lima” dari Skytrax

Bandara Internasional Hong Kong saat ini mendapatkan sertifikat penghargaan kualitas bintang lima dari Skytrax. Peringkat bintang lima menjadi level tertinggi bandara yang dilihat dari aspek layanan dan profesionalitas staf di berbagai kategori penilaian berbeda yang ada di lingkungan bandara. Baca juga: 10 Bandara Ini Disebut Sebagai Yang Tersibuk KabarPenumpang.com merangkum dari airlinequality.com (19/9/2017), bandara Hong Kong bisa mendapat peringkat bintang lima karena terus berinovasi untuk memberikan standar kualitas produk dan layanan yang sangat tinggi kepada para pelanggannya. Pencapaian bintang lima ini diberikan kepada bandara Hong Kong melalui efisiensi pengalaman pelanggan yang sangat baik, mulai dari saat kedatangan, keberangkatan ataupun pelayanan penumpang transit. Tak hanya itu, bandara ini juga mendukung fasilitas perbelanjaan, makanan dan minuman yang tersebar di seluruh area terminal. Tahun 2017 para pelancong menyebutkan di World Airport Awards bahwa bandara Hong Kong merupakan bandara dengan tempat makan terbaik di dunia. Pasalnya, bandara Hong Kong menawarkan hampir 70 merek makanan dan minuman yang berbeda, bahkan terbagi beberapa pilihan baik lokal maupun internasional. Sebagai bandara yang juga menjadi tempat transit semua pelancong dunia, bandara Hong Kong juga menghadirkan restoran lokal ternama, yakni Michelin. Sebagai bandara bintang lima, bandara Hong Kong memiliki transportasi umum yang terkoneksi ke sekitaran kota Hong Kong dan Cina Daratan dengan sangat baik dan menjadi bagian mendasar dari kesuksesannya. Dalam waktu dekat juga akan membuat koneksi jalan baru menuju Makau dan Delta Sungai Mutiara dari bandara untuk memudahkan akses bagi jutaan penumpang. Dalam 12 bulan terakhir, bandara internasional Hong Kong telah memperkenalkan sistem informasi dengan fasilitas baru dan meningkatkan branding serta visibilitas untuk pilihan perbelanjaan dan tempat makan yang luas. Dari hasil audit rating, yang paling terlihat dan menjadi perhatian adalah standar kebersihan di sekitar bandara. Baca juga: Adopsi Airport City, Tujuh Bandara Ini disebut Sebagai Ternyaman di Dunia Bandara Hong Kong mempertahankan standarnya dengan maksimal sembari terus memperbaharui dekorasi dan interior untuk tetap menjadi bandara bintang lima dari tahun ke tahun. Skytrax menyelesaikan evaluasi auidt kualitas bandara internasional Hong Kong pada Juli 2017 kemarin dan memeriksa semua area produk dan layanan di seluruh fasilitas operasional terminal secara rinci. Adapun penilaian yang dilakukan Skytrax pada bandara untuk memberikan peringkat lima yakni mencapai kinerja Kualitas keseluruhan tertinggi dan mengenali bandara-bandara yang menyediakan fasilitas terbaik untuk pelanggan, kemudian dikombinasikan dengan layanan staf bandara berkualitas tinggi. Rangkuman Kualitas Bandara mencakup area garis depan untuk keberangkatan, kedatangan dan transfer (transit), termasuk fasilitas bandara, layanan pelanggan, keamanan, imigrasi, gerai toko dan fasilitas makanan serta minuman. World Airport Rating adalah program peringkat kualitas bandara global yang dioperasikan oleh Skytrax, organisasi pemeringkat udara internasional. Penilaian ditentukan melalui analisis kualitas standar langsung dan profesional, dan Rating Bintang Bandara diakui sebagai patokan global standar bandara. Skytrax World Airport Rating, diperkenalkan pada tahun 1999, adalah sistem penilaian Bandara internasional terkemuka yang mengklasifikasikan bandara dengan kualitas standar produk dan layanan terdepan. Airport Rating mulai dari bintang satu hingga ke bandara bintang lima bergengsi. Sedangkan untuk peringkat Bandara Regional bintang lima diperkenalkan oleh Skytrax pada akhir tahun 2016, untuk memungkinkan pengakuan yang benar terhadap bandara yang lebih kecil, dan bandara-bandara yang fokus terutama pada operasi rute regional. Sementara bukan hub mega global, ini adalah bandara yang memberikan tingkat kualitas tertinggi kepada pelanggan mereka dan memenuhi persyaratan bintang yang ketat. Bandara Regional bintang lima pertama (Bandara Chubu Centrair Nagoya) diumumkan pada bulan Februari 2017. Berikut ini beberapa bandara yang mendapatkan predikat bandara dengan bintang lima dari Skytrax – Bandara Haikou Meilan (Regional 2017) – Bandara Internasional Hamad – Bandara Internasional Hong Kong – Bandara Munich – Bandara Nagoya Chubu Centrair (Regional 2017) – Bandara Internasional Seoul Incheon – Bandara Changi Singapura – Bandara Internasional Haneda Tokyo

PO Kramat Djati, Ternyata Awalnya Perusahaan Angkutan dan Ternak

Nama Kramat Djati rasanya sudah lekat dalam benak ingatan pengguna transportasi bus antar kota antar provinsi. Berlogo siluet roda dengan cat dasar warna putih telah menjadi identitas kuat perusahaan bus yang usianya ternyata telah mencapai 49 tahun. Tapi tahukah Anda tentang sejarah Kramat Djati? Apakah ada kaitan dengan wilayah Kramat Jati di Jakarta Timur yang terkenal dengan Pasar Induknya. Baca juga: Keluar dari Zona Nyaman, Apple Coba Peruntungan Rancang Bus Otonom Dari hasil penelusuran, justru alamat kantor pusat perusahaan bus ini berada di Jalan Ambon, Bandung, Jawa Barat. Meski begitu, Kramat Djati memang memiliki pool armada bus di Jalan Raya Bogor, Kramat Jati. Merujuk ke sejarahnya, Kramat Djati sebelumnya dikenal sebagai Sumber Djaja, yakni perusahaan transportasi yang bergerak dalam bidang angkutan dan ternak. Kramat Dajti berdri pada tahun 1968 oleh Arief Budiman dengan membuka satu jurusan yaitu Bandung-Jakarta. Kemudian pada tahun 1970 menambah lagi jurusan baru yaitu jurusan Jakarta. Pada tahun 1975 membuka jurusan lagi yaitu jurusan Bandung – Merak. Tahun demi tahun perusahaan Kramat Djati semakin maju dan berkembang. Pada tahun 1986 Kramat Djati membuka layanan baru yaitu dengan adanya busmalam cepat yang menjangkau 3 propinsi, yakni Jawa Tengah, Jawa Timur dan Yogyakarta. Jurusan Bandung – Bali dibuka pada tahun 1990. Akhirnya pada tahun 1995 Kramat Djati melakukan perubahan bentuk perusahaan menjadi perseroan terbatas dan menambah nama yaitu menjadi Kramat Djati Asri Sejati. Setelah itu Kramat Djati juga menembus pasar Sumatera dengan tujuan Lampung, Palembang, Pekanbaru dan Bengkulu pada tahun 1996, kemudian pada tahun 2000 memperluas pasar kesebelah timur dengan membuka jurusan Bandung – Mataram. Baca juga: Bus Berkonsep Alam di Taipei Tuai Banyak Pujian dari Netizen Dengan beberapa kali perubahan, Kramat Djati berkembang dan meningkatkan kualitas pelayanannya, dimulai dari satu jurusan pada tahun 1968 sekarang telah memiliki lebih dari 70 jurusan yang menjangkau Bali, Jawa, dan Sumatera. Kini Kramat Djati tak sebatas sebagai PO (Perusahaan Otobus), masih tetap dalam bisnis yang terkait layanan bus, lewat Kramat Djati Group juga menaungi layanan bus pariwisata, layanan kargo, dan layanan sewa/charter bus dalam label anak perusahaan. Di bawah bendera Pakar Wisata, PO Kramat Djati sejak tahun 2015 menjadi mitra penyediaana layanan bus kampus di Universitas Indonesia. Tak mau ketinggalan zaman, Kramat Djati juga telah melayani pemesanan tiket secara online, bahkan Kramat Djati sudah menghadirkan aplikasi pemesanan tiket di Google Play Store.

British Airways Canangkan Daur Ulang Limbah Rumah Tangga Untuk Bahan Bakar Pesawat

Maskapai kebanggaan Britania Raya yang bermarkas di Harmondsworth, British Airways berencana untuk menjadikan limbah rumah tangga menjadi bahan bakar untuk armada jetnya. Diketahui, British Airways tengah menjalin sebuah kerja sama dengan perusahaan bahan bakar terbarukan, Velocys. Rencana penggunaan bahan bakar terbarukan ini merupakan bagian dari program pengurangan emisi seluruh moda kendaraan pada tahun 2040 kelak. Baca Juga: British Airways Flight 9, Guratan Kelam Dunia Aviasi Akibat Abu Vulkanik Sebagaimana yang dilansir KabarPenumpang.com dari laman newatlas.com (19/9/2017), maskapai tersebut mengatakan bahwa langkah pertama yang akan dilakukan oleh pabrik daur ulang limbah adalah mengumpulkan ratusan ton limbah rumah tangga setiap tahunnya. Pabrik daur ulang limbah tersebut harus bergerak cepat sebelum sampah-sampah rumah tangga dilebur di tempat pembuangan akhir. Adapun limbah-limbah tersebut mencakup popok bayi, wadah makanan plastik, hingga bungkus cokelat. Menurut perhitungan, bahan bakar yang dihasilkan diharapkan dapat meminimalisir produksi gas rumah kaca hingga 60 persen jika dibandingkan dengan penggunaan bahan bakar fosil saat ini. Itu berarti, mereka berusaha untuk mengurangi emisi CO2 hingga 60.000 ton per tahunnya. Dalam sebuah rilis resmi, British Airways mengatakan pabrik daur ulang limbah tersebut direncanakan akan menghasilkan bahan bakar yang cukup untuk mengoperasikan semua penerbangan Boeing 787 Dreamliner dari London ke San Jose, California dan New Orleans, Louisiana selama periode satu tahun penuh. “Kami berencana untuk memasok lebih banyak pesawat jet berbahan bakar berbasis limbah pada dekade berikutnya.” Baca juga: Atasi Masalah Polusi, Inggris Larang Mobil Diesel dan Bensin di Tahun 2040 Proyek ini tidak semata-mata dicetuskan oleh pihak British Airways. Pekan lalu, Departemen Transportasi Inggris menerbitkan sebuah perubahan peraturan pada Renewable Transport Fuels Obligation. Perubahan tersebut merujuk pada penggunaan bahan bakar pesawat jet berkelanjutan, dalam upaya untuk mempromosikan penerbangan yang lebih bersih. Jika ditelaah lebih jauh, British Airways seolah menepati penyataannya yang pernah dilontarkan oleh Willie Walsh, chief executive perusahaan induk British Airways IAG di tahun 2014 silam. Pada kesempatan tersebut, pihak British Airways berencana untuk mengubah sebuah eks kilang minyak menjadi markas untuk proyek Green Sky yang akan dibuka pada tahun 2017 mendatang.

Pelabuhan Bojonegara, Mungkinkah Jadi “Pesaing” Pelabuhan Ferry Merak?

Pelabuhan Bojonegara di Cilegon Banten dalam beberapa waktu lalu sempat disebut sebagai pesaing utama layanan penyebarangan di Pelabuhan Merak dalam angkutan barang menuju ke Lampung. Berbeda dengan Pelabuhan Merak yang mengoperasikan kapal ferry, di Pelabuhan Bojonegara belum terdapat fasilitas dermaga yang memadai, layanan pelayaran menggunakan kapal jenis Landing Craft Tank (LCT) yang digunakan untuk menyeberangkan kendaraan-kendaraan bertonase besar. Baca juga: Mengenal Pelabuhan Merak, Gerbang Penyeberangan Tersibuk di Indonesia Dari legalitasnya, Pelabuhan Bojonegara berada di bawah manajemen PT Pelindo II dengan pengoperasian armada LCT oleh PT Bandar Niaga Raya (BNR). KabarPenumpang.com merangkum dari berbagai sumber, ternyata tarif kendaraan-kendaraan besar untuk menyeberang pada lintasan Bojonegera – Muara Pilu (Lampung) memiliki perbedaan tarif dengan yang digunakan PT ASDP di lintasan Merak  – Bakauheni. Adanya perbedaan tarif ini dikarenakan Pelabuhan Merak kini sudah menggunakan sistem tiket otomatis atau automatic ticketing, dimana semua transaksi pembayaran dari pengguna jasa dapat dilihat secara transparan. Sedangkan pelabuhan Bojonegara masih mengadopsi pembayaran tiket secara manual. Hal ini yang membuat banyak pengemudi kendaraan-kendaraan berat mulai beralih ke Pelabuhan Bojonegara untuk mendapat harga yang lebih murah, terlebih bila terjadi antrian panjang menuju Pelabuhan Merak. Kendaraan-kendaraan besar seperti truk yang menggunakan jasa di Pelabuhan Bojonegara bisa disandingkan dengan golongan V sampai dengan IX pada penetapan tarif kapal ferry oleh PT ASDP. “Kalau golongan yang dominan di pelabuhan Bojonegara kendaraan barang mulai dari golongan V sampai dengan IX,” ujar Branch Manager PT Mata Pensil Globalindo Cabang Merak, Muhamad Hakim yang dihubungi KabarPenumpang.com (19/9/2017). PT Mata Pensil Globalindo adalah mitra kerja PT ASDP untuk penyediaan layanan automatic ticketing di Pelabuhan Merak dan Bakauheni. Sebagai ilustrasi Gol V-B Truck Sedang dikenakan tarif Rp645.000 oleh PT ASDP.
Foto: Beritatrans
Dari beberapa sumber yang diperoleh, tarif golongan kendaraan besar di Pelabuhan Bojonegara bila kelebihan 10 cm pada tahun 2015 akan dikenakan sekitar Rp500 ribu lebih murah dibandingkan dengan tarif di Pelabuhan Merak. Tetapi untuk tahun ini beberapa sumber mengatakan perbedaan tarif hingga Rp200 ribu lebih murah dari tarif di Pelabuhan Merak. Baca juga: Landing Craft Tank Mulai Gerus Pendapatan Pengusaha Kapal Ferry Namun, karena tarif yang berbeda terlalu jauh, Gabungan Pengusaha Nasional Angkuutan Sungai, Danau dan Penyeberangan (Gapasdap) meminta pada Kementerian Perhubungan agar tarif disamaratakan antara Pelabuhan Bojonegara dengan Pelabuhan Merak. Sebab dua pelabuhan ini menyeberang melalui Selat Sunda yang juga diatur dalam regulasi Kemenhub, walaupun tujuannya dari Merak menuju Bakauheni dan Bojonegara menuju Muara Pilu. Bila permasalahan ini tak kunjung dipecahkan, maka jasa penyeberangan melalui jalur Pelabuhan Merak akan terancam. Tetapi jika regulasi dijadikan satu pintu dengan tarif yang sama kedua pelabuhan ini akan bisa berjalan dengan lancar dan lebih baik. Pelabuhan Bojonegara dahulu menginduk pada regulasi yang ditetapkan Direktorat Jenderal Perhubungan Laut, sementara Pelabuhan Ferry Merak menginduk pada regulasi dari Direktorat Jenderal Perhubungan Darat. Tidak adanya ketentuan batas ketinggian barang bawaan pada truk menjadi daya pikat tersendiri bagi pengemudi truk untuk beralih ke jasa LCT. Padahal tidak adanya ketentuan batas ketinggian pada truk yang dibawa berbuntut pada masalah standar keselamatan dan mengganggu stabilitas kapal. Karena tak dirancang dengan standar keselamatan yang baik, kelengkapan seperti “life jacket”, “inflatable life raft” (ILR), dan sprinkler di setiap geladak juga tidak ada .Dari sisi keamanan LCT tidak dilengkapi dengan CCTV dan tenaga keamanan.        

Berevolusi, Black Cab London Akan Gunakan Semi-Electric Vehicle

Dalam upaya untuk mengatasi masalah polusi udara yang semakin meradang, London Electric Vehicle Company (LEVC) akan menyediakan armada baru untuk TX Black Cab yang digadang akan berjalan dengan nol emisi pada tahun 2018 mendatang. Untuk masalah bentuk, salah satu ikon London ini tetap mempertahankan gaya retro-nya, walaupun ada sedikit perubahan, dan tentu saja dengan balutan warna hitam yang menjadi ciri khas dari taksi yang dikenal juga dengan nama Hackney Carriage ini. Baca Juga: Hampir Hilang dari Peradaban, Black Cab Malah Pasang Stiker Visit Indonesia Dihimpun KabarPenumpang.com dari laman standard.co.uk (17/9/2017), mikrofon interkom akan ditempatkan di pilar jendela di depan bangku belakang, bukan lagi di langit-langit mobil. Perubahan titik pemasangan mikrofon tersebut akan memudahkkan penumpang untuk berkomunikasi dengan pengemudi. Selain itu, moda tersebut juga akan dilengkapi dengan empat buah port USB berdaya 230V serta on-board WiFi. TX Black Cab ini sendiri akan menggunakan alumunium ringan sebagai bahan dasar pembuatan rangka dan body-nya, sebagaimana yang sudah ditetapkan sebelumnya oleh Transport for London (TfL). Tenaga dari Electric Vehicle dihasilkan dari motor listrik 145bhp, menggunakan mesin bensin tiga silinder 1,3 liter yang dikembangkan oleh Volvo sebagai generator untuk baterai besar dan motor listrik. Dengan begitu, moda ini bisa menempuh jarak total hingga 400 mil (643 km), atau dengan rentang jarak EV murni mencapai 70 mil (112 km) dari total jarak tersebut. Dengan spesifikasi seperti itu, diperkirakan rata-rata pengemudi bisa berkeliling hingga 120 mil (193 km) dalam sehari, dan dapat menghemat hingga 100 poundsterling per minggu untuk bahan bakar. Perhitungan tersebut didasarkan pada pengemudi yang mulai mengoperasikan taksinya di pagi hari dan memberlakukan tarif flat. Direncanakan, sekitar 300 stasiun pengisian daya akan tersedia di penghujung tahun 2018 mendatang. Rata-rata, taksi tersebut membutuhkan waktu 30 menit untuk mengisi daya mobil sebesar 80 persen. Baca Juga: Routemaster, Si Double Decker Merah Ikon Kota London Diketahui, The London Taxi Company pernah dipinang oleh produsen mobil Cina, Geely pada tahun 2012 silam, dan juga turut menginvestasikan dana sebesar 275 juta poundsterling. Hal tersebut bertujuan untuk memasok taksi berbahan bakar bensin – listrik di London, jauh sebelum TfL memperkenalkan undang-undang mengenai emisi yang baru. CEO dari LEVC, Chris Gubbey mengatakan pengembangan kendaraan listrik ini tengah dilakukan di sejumlah kota di Eropa. “Penting bahwa ini juga akan diluncurkan di seluruh Eropa, karena ada investasi yang cukup besar untuk proyek ini,” kata Chris. “Pemasaran ini mungkin agak sedikit alot, namun kamu sebagai warga London terus berusaha untuk memperbaiki kualitas udara di sini,” imbuh Chris.

Qatar Airways, KLM dan Bandara Heathrow Sabet Penghargaan di Future Travel Experience Awards

Dalam pagelaran Future Travel Experience Awards yang diadakan di Mandalay Bay Resort, Las Vegas pada 6-8 September 2017, menelurkan sejumlah bandara dan maskapai yang dianggap sukses menghadirkan beragam produk inovatif dalam pelayanannya terhadap para penumpang. Beragam kriteria pun tidak luput dari penilaian dalam perhelatan tersebut. Diharapkan, dengan adanya acara ini, pihak maskapai dan bandara lainnya dapat mencontoh atau bahkan melebihi pencapaian para pemenang dalam event tahunan ini. Baca Juga: 20 Bandara Ini Dipercaya Punya Akses WiFi Terbaik di Dunia Dilansir KabarPenumpang.com dari laman thestar.com.my (13/9/2017), maskapai Timur-Tengah, Qatar Airways berhasil menyabet dua penghargaan dari dua kategori yang berbeda, yaitu best baggage initiative dan “best up in the air” initiative. Tidak lupa, QSuite milik Qatar juga dinobatkan sebagai layanan tempat tidur ganda pertama di industri aviasi untuk kelas bisnis. Suite yang dapat disesuaikan tersebut digambarkan sebagai game-changer saat mengawali debutnya di awal tahun 2017 kemarin, karena kemampuannya untuk merubah konfigurasi empat tempat duduk menjadi tempat tidur double, begitupun sebaliknya. Masing-masing suite memiliki pintunya masing-masing, lengkap dengan pencahayaan dan TV movable. Beralih ke pra-sarana, Bandara Heathrow di Inggris berhasil membawa pulang penghargaan untuk teknologi facial recognition yang mereka aplikasikan di terminal 5-nya. Sebanyak 36 gerbang self-boarding biometrik terbukti ampuh untuk membantu mempercepat proses boarding para penumpang domestik yang hendak bepergian menggunakan maskapai British Airways. Rencananya, pihak Bandara Heathrow akan memasang teknologi ini di lebih dari 300 gerbang pada tahun depan. Tidak mau kalah dengan kompetitornya, maskapai asal Negeri Kincir Angin, KLM juga turut turun ke panggung untuk menerima penghargaan di kategori Best Passenger Assistance Initiative karena penggunaan sosial media dalam membantu penumpang selama melakukan perjalanan, dari mulai pemesanan tiket hingga perjalanan berakhir. Penumpang dapat mengkonfirmasi pesanan, pemberitahuan check-in, mendapatkan boarding pass, hingga mendapatkan update berita terbaru seputar penerbangan mereka yang tersedia dalam 10 bahasa. Mereka dapat mengakses itu semua melalui jejaring sosial Facebook, Twitter, hingga WeChat dan para penumpang dapat pula menghubungi pihak maskapai 24/7 melalui jejaring sosial tersebut. Baca Juga: Bandara Kopenhagen Tempati Peringkat Teratas Untuk Pemeriksaan Keamanan Dan pemenang untuk kategori Sustainable and Green Initiatives diraih oleh Bandara Oslo di Norwegia. Bandara ini juga digalang-galang memiliki desain terminal bandara terbaik. Pada awal musim semi ini, Bandara Oslo rencananya akan meresmikan sebuah bangunan terminal baru yang dilengkapi dengan panoramic curved glass windows sepanjang 300m, lengkap dengan tema “hijau” yang erat melekat. “Ini merupakan bandara pertama yang mendapat predikat sangat bagus di dunia,” tulis Building Research Establishment Environmental Assessment Method (BREEAM) dalam sebuah rilis.

Sulit Diamankan Secara Maksimal, Bus dan Kereta Jadi Sasaran Utama Serangan Teroris

Dengan kemudahan akses, angkutan umum di Eropa dan Amerika Serikat kini menjadi momok tersendiri. Lantaran terbuka untuk segala akses publik, moda angkutan umum seperti bus dan kereta bawah tanah saat ini menjadi wahana yang paling rentan terkena serangan bom dari teroris, maklum pengamanan di stasiun, terminal dan jalur bus tak seketat yang diberlakukan di bandara. Baca juga: Antisipasi Terorisme, Bandara-Bandara di Australia Dihimbau Perketat Keamanan Belum lama berselang, publik dikejutkan dengan bom di terowongan kereta bawah tanah London. Sementara indisen teror bom paling mematikan terjadi pada 11 Maret 2004 di Madrid, Spanyol. Kala itu beberapa ledakan terjadi di dalam empat kereta komuter cercanías (semacam kereta api Jabotabek) di Madrid, Spanyol. Peristiwa ini terjadi dini hari 11 Maret 2004, terdapat 192 korban jiwa dan 2.050 korban luka-luka. Setidaknya ada 387 serangan terhadap kereta api, kapal feri, dan bus di Amerika Utara dan Eropa sejak 1970. Sementara Asia Selatan menghadapi 1.287 serangan, lalu Timur Tengah dengan 801 serangan. Stasiun dan kereta adalah sasaran yang paling umum dan serangan di lingkungan tertutup seperti stasiun kereta bawah tanah adalah yang paling mematikan. Di Eropa, sekitar 75 persen korban dari serangan teroris terjadi di stasiun kereta bawah tanah, meskipun ini baru mencapai sekitar 13 persen daris erangan secara keseluruhan. KabarPenumpang.com melansir dari post-gazette.com (18/9/2017), sebuah laporan baru-baru ini menyebutkan teroris tertarik untuk melakukan teror di angkutan umum lantaran diketahui moda ini sangat sulit untuk diamankan secara maksimal. Beberapa bukti menunjukkan bahwa meningkatnya pengawasan dengan adanya respons yang lebih cepat secara bertahap dapat mengurangi potensi serangan di London antara tahun 1970 dan 2000. Sayangnya, tindakan tersebut tak bisa mencegah pemboman tahun 2005, dimana penyerang atau teroris tidak memiliki rasa takut, sebab mereka sendiri adalah bomnya alias bom dipasang pada tubuh teroris (bom bunuh diri). Dengan seperti ini, bukan berarti masyarakat dan petugas tak berdaya, sebab dari 300 insiden diseluruh dunia, sebelum bom meledak, petugas menemukan waktu yang tersisa adalah 11 persen dari waktu sebelum ledakan. Tak hanya London, Beijing yang juga memiliki kereta bawah tanah tersibuk, setelah serangan teroris tahun 2014 lalu, memaksa para penumpangnya melakukan sistem pemeriksaan mirip check in di bandara. Penumpang dan tas mereka melewati detektor logam dan penjagaan dimana-mana serta menjadi hal yang tidak biasa di Beijing. Sedangkan London mempelopori adanya infrastruktur anti teror, seperti membuat tempat sampah dengan bahan plastik transparan, dimana bila terlihat hal yang mencurigakan maka mudah untuk melakukan identifikasi. Baca juga: Antisipasi Teror, British Transport Police Hadirkan Petugas Bersenjata Laras Panjang Israel sebagai negara sasaran teror telah menggunakan detektor logam dan mesin sinar X di beberapa stasiun bus. Ditambah lagi bus yang beroperasi dilengkapi lapisan anti peluru serta ditambah dengan sistem pelacakan GPS plus kamera CCTV untuk memudahkan monitoring dalam kondisi darurat. Amerika Serikat yang juga rajin menjadi incaran teroris, telah menerapkan standar keamanan tinggi di semua kota, terkhusus di area bandaranya. Seperti otoritas di New York menurunkan petugas keamanannya dan berpatroli di setiap pemberhentian bus transit.