Siapa tak kenal dengan Taufiq Kiemas? Nama almarhum suami dari Presiden keempat Megawati Soekarno Putri dan mantan ketua MPR RI, kini sudah menjadi nama salah satu bandara di Lampung tepatnya di Lampung Barat. Nama Bandara Muhammad Taufiq Kiemas menggantikan Bandara Pekon Serai yang sebelumnya sudah ada berdasarkan Keputusan Menteri Perhubungan KP 811 Tahun 2016.
Baca juga: Bandara Radin Inten II Semakin Keren dengan Lorong Fiberglass
Dirangkum KabarPenumpang.com dari beberapa sumber, bandara ini memiliki panjang landasan pacu 1.100 meter dan lebar 23 meter. Tahun 2016 lalu Pemerintah Daerah telah membebaskan lahan seluas 2,8 hektar untuk memperpanjang landasan pacu tersebut.
Bandara ini berada di Pesisir Barat dengan jarak 250 km dari kota Bandar Lampung. Untuk sampai ke sini menggunakan jalan darat bisa mencapai lima hingga enam jam. Tetapi bila menggunakan transportasi udara hanya akan menempuh satu jam penerbangan dari Bandara Radin Inten II, Lampung.
Baca juga: Angkasa Pura II Targetkan Runway Kedua Bandara Supadio Rampung di 2020
Tahun 2017 ini, rencananya bandara Muhammad Taufiq Kiemas, landasan pacunya akan diperpanjang oleh Kementerian Perhubungan (Kemenhub) menjadi 1.400 meter dan tahun 2018 mendatang menjadi 1600 m, ini agar bandara bisa digunakan untuk mendaratkan pesawat sekelas Boeing 737. Perpanjangan landasan pacu juga diikuti adanya kunjungan dari wisatawan mancanegara.
Hal ini karena, daerah Pesisir Barat Lampung memiliki pantai dengan ombak terbaik kedua untuk melakukan surfing setelah Hawaii. Selain itu, daerah Pesisir Barat pun akan semakin berkembang dan ekspor ikan pastinya juga akan meningkat dengan perkembangan di berbagai sektor.
Landasan pacu saat bernama Bandara Pekon Serai
Dengan panjang landas pacu 1.100 meter, sampai saat ini memang belum ada penerbangan di Bandara Muhammad Taufiq Kiemas. Tetapi sejak tahun 2014 hingga Desember 2016, bandara ini melayani penerbangan perintis dengan rute Bengkulu – Krui – Tanjung Karang dan Palembang – Krui – Tanjung Karang yang dioperatori oleh maskapai Susi Air.
Sayangnya penerbangan perintis ini tidak berkembang sehingga berhenti beroperasi. Nantinya bila perpanjang landasan pacu sudah selesai, potensi akan semakin berkembang dan turis yang datang pun akan semakin banyak. Untuk menciptakan konektivitas di daerah terpencil, terluar dan tertinggal. Diketahui hingga kini kunjungan wisatawan mancanegara ke Pesisir Barat Lampung tepatnya Krui mencapai 150 ribu orang pertahunnya.
Bila di Swedia sudah ada sistem pembayaran tiket kereta dengan implan chip di bawah lapisan kulit, maka di Indonesia yang baru merasakan sistem pembayaran tiket elektronik kereta sejak tahun 2012, juga telah menerapakan teknologi contactless. Memang tak secanggih di Swedia, tapi model gelang FeliCa yang dirilis tahun 2015 bisa menjadi solusi yang optimal untuk transaksi cepat bagi para penumpang kereta komuter Jabodetabek.
Baca juga: Microchip Implan Digunakan Untuk Pembayaran Tiket Kereta di Swedia
Felicity Card atau yang disingkat FeliCA merupakan sebuah chip khusus yang dikembangkan oleh Sony untuk memudahkan para penggunanya, dari mulai transaksi tiket elektronik, keuangan hingga administrasi seperti daftar absensi hingga pengoperasian alat-alat elektronik. Sementara FeliCa yang diadopsi oleh PT KCJ (KAI Commuter Jabodetabek) hanya dapat digunakan untuk transaksi tiket elektronik. Cara kerjanya pun tidak jauh beda dengan tiket kartu yang kebanyakan orang pakai hingga detik ini, yaitu dengan cara menyimpan saldo di dalam kartu dan mengisinya kembali ketika saldo sudah habis.
Baca Juga: E-Ticket, Antara Mempermudah Atau Memperkeruh
Dilansir KabarPenumpang.com dari railway-technology.com (5/2/2015), CEO PT KAI Commuter Jabodetabek kala itu, Tri Handoyo mengatakan KCJ ingin memanfaatkan kerja sama yang mereka jalin dengan Sony dalam penyediaan teknologi FeliCa yang diharapkan mampu memberikan pelayanan yang lebih baik kepada para penumpang.
Dilansir dari sumber lain, Tri mengaku membagikan sebuah gelang yang di dalamnya tertanam chip FeliCa kepada para penumpangnya dengan maksud sebagai ajang promosi. “Masih promo, mungkin masih free tapi terbatas saja. Jika selesai promo harganya sama saja, Rp30 ribu untuk saldo tiket dan Rp20 ribu untuk gelangnya jadi Rp50 ribu,” ujar Tri. “Kemampuan untuk membaca semua jenis chip akan memudahkan integrasi antarmodal di masa depan, karena perangkat kami dapat mengidentifikasi jenis tiket elektronik yang mungkin akan dikembangkan oleh operator transportasi lain,” tambahnya. Dengan model gelang, maka saat transaksi di gate penumpang tak perlu repot mengambil dan mengeluarkan isi dompet
Baca Juga: Kalau Sudah Lihat Ini, Masih Mau Mengeluh Mengenai Penuhnya KRL?
Dalam pengadaan gelang berisikan chip FeliCa tersebut KCJ mengaku tidak mengeluarkan biaya investasi sepeser pun. Pasalnya proyek tersebut merupakan bagian dari ekspansi bisnis perusahaan teknologi raksasa asal Jepang tersebut selaku penyedia teknologi chip tiket elektronik gaya baru tersebut.
Seakan mengamini Tri, Business Division Senior General Manager dari Sony Corporation FeliCa, Kazuyuki Sakamoto mengaku puas dengan kerja sama yang pihaknya jalin dengan PT KCJ dan meyakini invasi teknologi Sony tersebut akan berperan serta dalam meningkatkan pelayanan PT KCJ. “Kami akan memastikan bahwa kami dapat memberikan kontribusi positif untuk memperbaiki layanan KCJ untuk pengoperasian yang lebih baik lagi,” tutur Kazuyuki.
Tidak bisa dipungkiri, warga DKI Jakarta amat mensyukuri kehadiran sarana transportasi seperti KRL Jabodetabek. Selain tidak macet, tarif yang digunakan oleh PT KCJ juga bisa dibilang murah. Layaknya gula yang dikerubungi oleh semut, KRL pun akan mengalami lonjakan penumpang drastis pada peak hour.
Di tahun 2012 silam, perusahaan manufaktur asal Swiss, Stadler Rail meluncurkan double-decker multiple-unit train atau yang lebih dikenal dengan kereta dek ganda pertamanya di Erlen, Swiss. Peluncuran tersebut terkait permintaan dari Bern-Lötschberg-Simplon (BLS) railway, sebuah perusahaan kereta api asal Swiss. Pertama kali, BLS melakukan pemesanan kereta jenis CHF494m sebanyak 28 unit kereta dek ganda pada bulan Maret 2010 silam dengan harga US$542 juta.
Baca Juga: Rute Ekstrim Kereta Bergerigi di Swiss, Kemiringannya Hingga 48%
Sebagaimana diwartakan KabarPenumpang.com dari railway-technology.com (22/3/2012), adapun tujuan dibalik permintaan kereta dek ganda ini adalah untuk meningkatkan kapasitas tempat duduk bagi para penumpangnya hingga 30 persen lebih banyak daripada menggunakan gerbong biasa. Menurut sumber tertera, kereta dek ganda ini nantinya akan dioperasikan di jalur komuter Bern. Adapun perakitan kereta ini dilakukan di Stadler Rail Altenrhein.
Pemilik sekaligus CEO dari Stadler Rail, Peter Spuhler mengatakan tidak membutuhkan waktu yang terlalu lama untuk mengembangkan kendaraan yang memenuhi standar keselamatan dan kecelakaan. “Kami hanya membutuhkan sembilan bulan untuk memenuhi standar keselamatan yang tinggi, karena tidak semua kereta dapat transit melalui Base Lötschberg Tunnel,” ujar Peter. Kereta dek ganda tersebut terlebih dahulu diuji coba di Swiss bagian timur pada bulan September sebelum akhirnya mulai beroperasi pada bulan Desember.
Baca Juga:Glacier Express, Antarkan Anda Nikmati Indahnya Pemandangan Swiss
Satu rangkaian kereta ini memiliki 335 bangku, dimana 61 diantaranya berada di kelas satu, dan mampu untuk menampung lebih dari 110 penumpang berdiri. Fasilitas penunjang lainnya pun bisa dibilang cukup memadai, seperti pintu masuk dengan lantai rendah, AC, kamera pengawas, hingga banyak ruang yang tersedia untuk pengguna kursi roda, soket listrik di kelas satu, hingga toilet yang bisa diakses oleh penyandang disabilitas.
BLS mengoperasikan sistem kereta api komuter di Bern dan Lucerne West, serta beberapa layanan regional lainnya dengan total tujuh kanton. Tidak hanya melayani perjalanan kereta api, BLS juga ternyata menjalankan beberapa usaha transportasi lainnya, seperti Autoverlad Lötschberg yang bergerak di bidang transportasi darat, Schifffahrt Berner Oberland yang melayani perjalanan laut, serta bus wilayah Emmental.
Dengan tujuan meningkatkan produkttivitas dan pelayanan, serta menekan biaya operasional. Pengelola bandara kini mendapat pilihan untuk mengoptimalkan peran robot dan sistem otomatis untuk mendukung jasa pelayanan kepada calon penumpang. Seperti salah satunya dirilis Eva Air di bandara Internasional Taiwan Taoyuang, maskapai bercat hijau putih ini telah meluncurkan robot yang diberi label Pepper.
Baca juga: Mudahkan Calon Penumpang, Bandara Gatwick Adopsi Augmented Reality
Lantas apa saja kebisaan dari Pepper? Dikutip KabarPenumpang.com dari hinapost.com.tw (8/6/2017), robot ini digunakan untuk memindai boarding pass penumpang dan juga memberikan informasi tentang penerbangan dan cuaca saat mereka akan terbang.
Lebih dari itu, Pepper juga mampu memberikan informasi dalam berbagai bahasa. Untuk penggelarannya, robot ini akan beroperasi di loket check in di bandara internasional Taipei Songshan dan di lounge VIP bandara Taoyuan dalam waktu dekat.
Pepper (www.chinapost.com.tw)
Eva Air Vice President Yen Shing-Chung mengatakan, pihaknya bekerjasama dengan Perobot Co Ltd untuk mengembangkan Pepper. Perusahaan ini merupakan distributor penjual lokal Pepper dimana mesin akan diperbaharui menjadi lebih fungsional. Robot pintar ini akan memberikan informasi pelayanan dalam bahasa Inggris dan Jepang selain bahasa Cina. “Pepper akan memberi tahu kepada penumpang dimana areaa makanan, hiburan dan penjualan produk bebas bea dan area memudahkan letak area perbenlanjaan lainnya,” ujar Yeh.
Baca juga: Delta Airlines dan JetBlue Gunakan Mesin Pemindai Wajah di Bandara
Sejak Eva Air meluncurkan versi pertama Pepper pada Desembeber 2016 lalu, maskapai ini sudah berinteraksi dengan lebih dari 30.000 penumpang. Kedepannya Eva Air akan membangun database percakapan chatbot agar Pepper bisa menjawab dan berbicara dengan orang-orang.
Sebelumnya bandara Gatwick, Inggris menggunakan Augmanted Reality yang dipasang untuk membantu penumpang menemukan tujuan mereka di bandara. Di tahun 2016, Hitachi sebagai perusahaan teknologi raksasa di Jepang menguji robot Wayfinder di bandara Haneda, Tokyo.
Robot ini membantu wisatawan yang hilang dari pandangan bandara dan bisa berkomunikasi serta memberikan informasi visual melalui panel display yang ada pada robot ini.
Demi mengurangi tingkat kecelakaan yang terjadi di dunia aviasi, khususnya yang diakibatkan oleh bird strike pihak Bandara Internasional Edmonton menghadirkan sebuah robot yang diprogram khusus untuk mengusir para burung liar yang berada di sekitaran landas pacu bandara yang terletak di Alberta, Kanada tersebut. Teknologi ini menjadi pionir setelah sebelumnya belum ada yang menggunakan The Robird Drone, nama robot ini, dalam usaha meminimalisir angka kecelakaan di sekitaran landas pacu.
Baca juga: Bird Strike! Masih Jadi Momok Menakutkan dalam Dunia PenerbanganKabarPenumpang.com mewartakan dari edmontonjournal.com (19/6/2017), adapun bentuk dari The Robird Drone ini menyerupai Elang Peregrine, yang dimaksudkan untuk menakut-nakuti burung dalam kelompok besar seperti burung camar dan angsa. Kehadiran The Robird Drone ini dinilai vital lantaran Alberta Aerospace and Technology Center dan Aerium Analytics tengah fokus untuk mengembangkan teknologi pesawat tanpa awak
Managing Director dari Aerium Analytics, Jordan Cicoria mengatakan keberadaan burung-burung tersebut dapat membahayakan penerbangan komersial. Dalam sebuah konferensi pers yang diadakan Senin (19/6/2017), lebih lanjut Jordan menyampaikan fungsi lain dari The Robird Drone ini. “Robot ini juga dapat mencegah burung masuk ke oilsand tailings ponds, tempat pembuangan sampah, dan turbin angin,” jelasnya.
“Tidak hanya mencegah terjadinya kecelakaan, kehadiran The Robird Drone ini juga dapat membantu melindungi burung-burung tersebut dari bahaya dengan cara tidak mematikannya, melainkan hanya mengusirnya,” terang Jordan. The Robirds Drone ini dirancang oleh Clear Flight Solutions yang bermarkas di Belanda, yang merupakan satu-satunya produsen komersial dari drone jenis ini. Hingga saat ini, baru ada sekitar empat robot burung yang beroperasi di Edmonton, sedangkan Clear Flight Solutions masih terus memproduksi mahakaryanya untuk sesegera mungkin dipasarkan.
Baca Juga: Kembangkan Teknologi Autopilot, Boeing Tawarkan Self Flying Plane
Justin Quesnel, seorang dari Aerium Analytics lalu menjadi “pilot” pertama yang menerbangkan The Robird Drone bersama dengan Ramon Wind dari Clear Flight Solutions dalam sebuah demonstrasi uji coba. Justin kemudian melemparkan The Robird Drone ke udara dan mulai mengendalikannya menggunakan sebuah remot. Di bawah kendali Justin, The Robird Drone akan terbang berpatroli di udara. Rencananya, per bulan Juli tahun ini, Justin akan memberikan pengarahan kepada petugas yang berada di bandara yang hampir setiap hari menerbangkan pesawat tanpa awak tersebut.
Myron Keehn, wakil presiden pengembangan komersial bandara Edmonton mengatakan bahwa teknologi tersebut menambahkan lapisan pada keselamatan penerbangan. “Bukan berarti kita punya masalah; Itu hanya bagaimana kita bisa meningkatkan pelayanan menjadi lebih baik dan terus membaik, “Tutur Myron dikutip dari sumber yang sama. Lebih lanjut, Myron juga mengatakan dengan kehadiran teknologi semacam ini menandakan adanya pemikiran yang cerdas untuk mencoba suatu hal yang baru yang akan berdampak pada pengingkatan pelayanan.
Baca Juga: Pangkas Durasi Security Check, Ini yang Dilakukan Beberapa Bandara dan Maskapai
“Kami sangat senang bahwa kami dapat melakukannya lebih dulu dan saya membayangkan akan ada banyak tanggapan pada musim gugur atau musim semi berikutnya dari bandara lain yang ingin mengintegrasikan teknologi semacam ini.” tutupnya.
Seorang penumpang wanita yang menaiki pesawat America Airlines dari Atlanta tujuan Chicago di AS memaki pramugari maskapai tersebut. Dilansir kabarPenumpang.com dari dailymail.co.uk (6/7/2017), wanita tersebut sebenarnya hanya diingatkan oleh pramugari untuk menegakkan sandaran tempat duduk sebelum pesawat tinggal landas.
Baca juga: Hapus Sajian Es Sundae Sesaat, Penumpang United Airlines Ungkap Kekesalan di Media Sosial
Sebenarnya ini bukanlah hal baru lagi, sesuai aturan internasional, setiap penumpang memang wajib menegakkan sandaran tempat duduknya dan melipat meja yang berada di depan tempat duduk sebelum pesawat lepas landas. Sayangnya penumpang ini keluar dari tempat duduknya dan menemui pramugari di belakang kabin sembari memaki pramugari dengan kata-kata kasar. Tak hanya itu, anjing yang dibawanya pun terlepas di kabin. Penumpang dan awak kabin lainnya bisa mendengar si perempuan ini disuruh kembali duduk ditempatnya.
www.miamiherald.comBaca juga: Melahirkan di Dalam Pesawat, Antara Jaminan Terbang Gratis dan Isu Kewarganegaraan
“Ayo kita semua hanya ingin pulang,” kata sesama penumpang lainnya. Perempuan yang akan dikeluarkan dari pesawat America Airlines ini mengatakan, “Ibu Anda beruntung karena saya juga akan pulang kerumah karena akan ada masalah saat kembali ke Chicago.” Namun, pramugari yang mendengar ucapan si perempuan tersebut mengatakan, “Tidak, kita akan kembali ke gate. Kita tidak akan pergi ke Chicago.”
Setelah sang pramugari mengatakan akan kembali ke gate, para penumpang mengeluhkan hal tersebut dan atas kejadian keributan tersebut, penerbangan ditunda selama empat jam.
Dalam beberapa video yang tersebar, nampak wanita tersebut berjalan sembari menggendong anjingnya untuk bertemu dan memaki sang pramugari. Ada pula video yang berisikan seorang pria mengantar perempuan tersebut keluar dari pesawat American Airlines sesaat setelah pesawat kembali ke gate.
Baca juga: Penumpang Pukul Petugas Avsec Bandara Sam Ratulangi, Video Viral Kemana-mana
Perwakilan bandara Atlanta mengatakan, perempuan tersebut tidak di tangkap dan diamankan, melainkan keberangkatannya dipindahkan serta dijadawalkan ulang pada penerbangan lainnya yang menuju Chicago. Atas kejadian ini, keberangkatan menuju Chicago mengalami keterlaambatan empat jam.
Adanya wacana mengenai penggunaan alat pemindai wajah di bandara menuai tanggapan dari berbagai elemen, baik mereka mendukung hingga menyangsikan keberadaan alat ini di salah satu gerbang masuknya para pelancong. Hal ini merupakan buntut dari sebuah kongres yang mengamanatkan pemerintah federal untuk melacak warga asing saat mereka datang atau meninggalkan Amerika Serikat.
Baca Juga: Delta Airlines Siap Gunakan Pemindai Wajah Untuk Pangkas Antrean Check In
Belum jelas masa depan dari alat pemindai wajah sebagai pengganti identitas para calon penumpang tersebut, Kementerian Keamanan Dalam Negeri AS lantas mulai untuk memindai wajah masyarakat Negeri Paman Sam yang meninggalkan kampung halamannya itu, tanpa otorisasi kongres dan tanpa berkonsultasi dengan publik. Kejadian tersebut terjadi pada bulan Juni 2016 silam.
Sepintas, program pemindai wajah ini serupa dengan yang diterapkan oleh maskapai penerbangan JetBlue dan Delta Airlines, namun sedikit yang menyadari bahwa sistem ini sebenarnya adalah fase pertama program “Biometric Exit” milik Department of Homeland Security (DHS).
Untuk penerbangan internasional tertentu, contohnya dari Atlanta dan New York, DHS telah bermitra dengan Delta untuk memasang alat pemindai wajah di setiap gate. Lalu sistem Delta akan membandingkan wajah yang ditangkap oleh kamera di gerbang keberangkatan dengan manifes penumpang yang ada di database Departemen Luar Negeri. Tidak hanya memindai wajah, dengan adanya sistem ini juga membantu pihak bandara dan maskapai untuk mengetahui kewarganegaraan seseorang dan status imigrasinya.
Baca Juga: Mudahkan Calon Penumpang, Bandara Gatwick Adopsi Augmented Reality
Hal yang sama juga ditrapkan DHS ke maskapai JetBlue. Para penumpang yang akan terbang dari Boston menuju Aruba akan melalui fase pemindaian wajah terlebih dahulu. Dalam kasus JetBlue, Anda benar-benar bisa memindai wajah Anda alih-alih menggunakan tiket fisik.
Sementara sistem ini berbeda secara rinci, mereka memiliki dua kesamaan. Pertama, mereka meletakkan dasar untuk penerapan Biometric Exit yang lebih luas dan wajib di seluruh negeri. Kedua, mereka memindai wajah semua orang – termasuk warga negara Amerika.
Sebenarnya, ini adalah program yang ditujukan untuk warga negara asing. Namun pada kenyataannya, ketika Presiden AS, Donald Trump mengeluarkan perintah eksekutif menyangkut Biometric Exit pada bulan Januari lalu, yang sebenarnya merupakan terbitan ulang untuk mengklarifikasi bahwa pemindaian wajah tersebut tidak berlaku bagi warga negara Amerika.
Tantangan nyata dari sistem mutakhir ini adalah ketika sistem tersebut gagal untuk memindai wajah seseorang dan akhirnya menimbulkan kekacauan di gerbang keberangkatan. KabarPenumpang.com wartakan dari slate.com (21/6/2017), tingkat error yang bisa mencapai angka empat persen dari jumlah penerbang tentu akan menjadi pemandangan sehari-hari dimana ada seorang yang mengeluh ketika wajahnya tidak bisa dideteksi hingga isu tentang penolakan penerbangan karena data yang tidak akurat. Jika Anda mengalami hal seperti itu, maka Anda harus siap gigit jari karena Anda akan melewatkan penerbangan itu.
Baca Juga: Mantan Presiden Ini Salami Penumpang Delta, Ada Apa?
Penelitian menunjukkan, sistem pemindai wajah agak sedikit kesusahan ketika penuaan mulai terjadi, terutama jika foto yang ada di database umurnya sudah melebihi enam tahun. Penelitian lain menunjukkan bahwa sistem pengenal wajah memiliki waktu yang lebih lama untuk menyesuaikan wajah orang Afro-American, wanita, dan anak-anak.
Yang ditakutkan oleh kebanyakan orang adalah kegagalan memindai wajah sehingga mengakibatkan kerugian pada dirinya. Sejalan dengan ketakutan tersebut, muncul pemikiran, “Akankah DHS memiliki rencana sekunder apabila sistem tersebut gagal memindai wajah?” Haruskah orang Amerika benar-benar tunduk pada peraturan “abu-abu” secara terus menerus untuk terbang?
Tarif batas atas dan bawah pada taksi online telah ditetapkan berdasarkan Peraturan Menteri Perhubungan Nomor 26 Tahun 2017 per 1 Juli 2017 kemarin tentang Penyelenggaraan Angkutan Orang dengan Kendaraan Bermotor Umum Tidak Dalam Trayek. Adanya pembatasan ini, agar tidak ada perbedaan yang terlalu jauh dengan taksi konvensional yang sudah berdiri sejak lama.
Baca juga: Alasan Politik, Pemerintah Mesir Perintahkan Taksi Online Gunakan Aplikasi Pelacak
Pembatasan tarif batas bawah dan atas ini pun dibagi menjadi dua beradasarkan wilayahnya. Wilayah pertama terdiri dari pulau Sumatera, Bali dan Jawa. Sedangkan untuk wilayah dua yakni pulau Kalimantan, Nusa Tenggara, Maluku, Sulawesi dan Papua. Nantinya di wilayah satu tarif batas bawah yakni Rp3.500 perkilometernya dan tarif atasnya Rp6000.
Baca juga: Banyak Kasus Pelecehan, Inikah Momen Taksi Online Perketat Penerimaan Pengemudi?
Untuk tarif batas bawah dan atas wilayah dua yakni Rp3.700 untuk batas bawah dan Rp6.500 pada batas atasnya. Nantinya dalam pelaksaan ini, akan dilakukan evaluasi setelah enam bulan berjalan. Sebab Kementerian Perhubungan juga melakukan pengawasan dan monitoring.
KabarPenumpang.com melakukan pengecekan pada aplikasi, terlihat tidak ada kenaikan yang signifikan. Perjalanan dari Sunter Icon menuju ke Mall of Indonesia di Kelapa Gading berkisar Rp20 ribu hingga Rp25 ribu pada tanggal 29 Juni 2017, tetapi saat dicek kembali pada hari ini (6/7/2017) melalui aplikasi dengan keberangkatan dan tujuan yang sama, tarif tidak berubah masih tetap seperti tanggal 29 Juni 2017 lalu.
Sebenarnya, kenaikan ini juga bisa memberikan kenaikan pada penghasilan pengemudi-pengemudi taksi online tersebut. Tak hanya itu, dengan adanya tarif batas atas dan bawah ini, sebenarnya agar menghilangkan dari harga di jam sibuk yang terkadang melonjak sangaat tinggi. Selain dampak kepada pengemudi naiknya penghasilan, pada penumpang juga berdampak tarif sedikit lebih mahal dari biasanya.
Baca juga: Tombol SOS Dinilai Tak Ampuh Entaskan Kejahatan di Transportasi Online
Namun dengan adanya diskon dan potongan harga bila membayar dengan nontunai tarif dari taksi online bisa lebih murah dibandingkan dengan konvensional. Penetapan tarif batas ini juga untuk menjaga dampak kedepannya terkait keberlangsungan usaha. Dengan pendapatan yang rendah, pengemudi perlu melakukan cicilan setiap bulan dan juga melakukan pemeliharaan kendaraan. Sisi lainnya walaupun sudah ada pembatasan tarif, tarif taksi konvensional masih juga jauh lebih mahal dibandingkan taksi online.
Hal ini yang membuat taksi online masih banyak peminatnya dibandingkan taksi konvensional selain potongan harga dengan membayar nontunai dan adanya kupon potongan harga. Sayangnya, hingga kini belum ada keterangan lebih lanjut dari pihak operator taksi online terkait kenaikan tarif dasar atas dan bawah ini.
Apa yang Anda pikirkan setelah mendengar fake Global Positioning System (GPS) atau GPS palsu? Biasanya orang akan berfikir GPS untuk digunakan dalam sebuah permainan atau saat memposting foto dimana tempat atau posisi Anda berada. Awalnya fake GPS ini banyak sekali digunakan untuk permainan Pokemon Go, penggunaan fake GPS sendiri agar memudahkan dan membuat tipuan posisi GPS yang akan dimanfaatkan seperti saat berburu Pokemon Go.
Baca juga: Aplikasi Uber di Amerika Serikat Bakal Dilengkapi Fitur Tip
Kini setelah era Pokemon Go redup, penggunaan fake GPS bertansformasi ke hal lain yang tak ada urusan dengan gaming. Sayangnya aplikasi fake GPS yang bertebaran gratis di Play Store justru banyak digunakan oleh para pengemudi ojek dan taksi online saat ini. Salah satu yang terlihat adalah pengemudi Grab Car yang melakukan cara curang demi keuntungan semata saja. Padahal penggunaan fake GPS ini bisa merugikan penumpang yang memesan dan biasanya pengemudi berada jauh dari lokasi.
Sebagai contoh, bila Anda sedang berada di area Gedung Sarinah Thamrin, dan Anda melakukan proses pemesanan di aplikasi. Dari hasil yang dideteksi pada layar aplikasi, saat itu taksi atau ojek online yang Anda pesan menunjukkan posisi sudah dekat dengan Anda, padahal bisa saja para pengemudi tersebut berada jauh di kawasanSenayan. Biasanya perjalanan justru lebih lama menunggu pengemudi di bandingkan perjalanan yang Anda lakukan. Itu salah satu kasus dari dampak negatif penggunaan fake GPS.
Baca juga: Aplikasi ini Dirancang Untuk Sadarkan Pengemudi Lelah dan Mengantuk
Kenyataan ini bukan hanya merugikan penumpang dalam segi waktu, melainkan juga dari pengemudi lainnya yang memang berada dekat dengan Anda. Sebab, walaupun Anda berada di Sarinah dan memang memesan, justru para pengemudi di Senayan yang akan tetap dapat dan ironisnya pengemudi sekitaran (di area Gedung Thamrin) justru tak bisa mendapat order. Hal ini bisa di katakan pengemudi jujur jadi tak berarti lagi.
Atas kejadian ini, Managing Director Grab Indonesia, Rizdki Kramadibrata mengatakan, pengguna fake GPS termasuk pelanggaran kode etik karena mengakali sistem. “Karena lokasinya tidak ada di situ, jadi penumpang menunggu agak lama. Kami tidak mentolerir penggunaan fake GPS maupun fake booking. Karena itu sangat merugikan” kata Rizdki yang dikutip kabarPenumpang.com dari Kompas.com (6/7/2017). Terkait dengan maraknya penggunaan fake GPS, belum lama ini Grab memberi sanksi pencabutan akses pada 197 mitra pengemudi yang terbukti menggunakan fake GPS dan fake booking. Grab saat ini telah memasang sistem monitoring untuk memantau perilaku driver.
Baca juga: Kompas Digital, Tetap Presisi dalam Wujud Aplikasi di Smartphone
Untuk diketahui, bahwa untuk menjalankan fake GPS Location Spoofer Free Anda harus mengunduhnya di Play Store, aplikasi ini yang membuat tipuan posisi koordinat GPS. Sebenarnya dalam penggunaan fake GPS ini juga ada kendala dimana smartphone sudah harus di root. Meski begitu, ada aplikasi fake GPS yang bisa digunakan tanpa smartphone harus di root terlebih dahulu, yakni Fly GPS.
Cina baru saja memperkenalkan salah satu bullet train (kereta peluru) teranyar mereka yang diberi nama Fuxing. Ini merupakan jenis bullet train pertama yang dirancang dan diproduksi di Cina tanpa adanya ‘bantuan’ dari pihak asing. Selama kurang lebih 13 tahun, Cina mempelajari cara untuk membangun kereta berkecepatan tinggi kelas dunia dari perusahaan terkemuka di negara maju, seperti Jepang, Jerman, Prancis, dan Kanada.
Baca Juga: Melesat 200 Km Per Jam, Arlanda Express Kereta Bandara Tercepat
Sebagaimana KabarPenumpang.com lansir dari dailymail.co.uk (26/6/2017), bullet train ini dapat melaju hingga kecepatan 248 mph atau setara dengan 400 km per jam. Fuxing diperkirakan akan beroperasi antara Shanghai dan Beijing, dimana jalur tersebut merupakan jalur kereta tersibuk di Cina dan diharapkan dapat melayani 505.000 penumpang setiap harinya. Kereta yang namanya berarti peremajaan tersebut memiliki dua seri, yaitu “The Dolphin Blue” CR400AF dan “Golden Phoenix” CR400BF.
Jika dalam pengoperasian sehari-harinya, kereta ini tidak akan melaju hingga kecepatan 400 km per jam, namun hanya sekitar 350 km per jam, dimana dengan kecepatan seperti itu mampu menghubungkan Shanghai dan Beijing dalam waktu tiga jam 30 menit, atau perjalanan dari Paris menuju London akan ditempuh hanya dengan waktu 1 jam 20 menit. Sementara jika perjalanan dari Paris menuju London menggunakan kereta biasa akan memakan waktu perjalanan hingga lima jam.
Baca Juga: Cina Luncurkan ART, Kereta Otonom Tanpa Rel Untuk Kota Kecil
Tidak hanya menawarkan kecepatan, kereta yang dikenal juga dengan nama China Standardized EMU (Electric Multiple Unit) ini juga menyediakan fasilitas yang dapat membuat penumpangnya merasa nyaman, seperti jaringan WiFi (wireless fidelity) hinggga ruang gerak kaki yang lebih lega. Dilansir dari sumber terpisah, kereta ini juga memiliki sistem yang dapat melakukan pengereman otomatis jika terjadi keadaan darurat atau abnormal. Selain itu, Fuxing juga diprediksi akan memiliki umur operasional yang lebih lama dan menggunakan energi 17 persen lebih sedikit dari para pendahulunya seperti Hixie. Dalam penentuan standarisasi, kereta ini telah memenuhi 84 persen standar Cina, dan sisanya menggunakan standar internasional.
Baca Juga: Sistem Deteksi Dini Bencana Lengkapi Teknologi Kereta Cepat Jakarta – Bandung
He Huawu selaku Chief Engineer dari China Railway Communication (CRC) mengatakan teknologi EMU akan digunakan dalam proyek kereta cepat di Indonesia. Memang, proyek kereta cepat yang menghubungkan Jakarta – Bandung ini rencananya akan menggunakan CRH380A sebagai sarana transportasinya. “Selain itu, Fuxing juga akan menjadi ujung tombak kereta berkecepatan tinggi di dunia,” ujarnya.