Dengan tujuan meningkatkan produkttivitas dan pelayanan, serta menekan biaya operasional. Pengelola bandara kini mendapat pilihan untuk mengoptimalkan peran robot dan sistem otomatis untuk mendukung jasa pelayanan kepada calon penumpang. Seperti salah satunya dirilis Eva Air di bandara Internasional Taiwan Taoyuang, maskapai bercat hijau putih ini telah meluncurkan robot yang diberi label Pepper.
Baca juga: Mudahkan Calon Penumpang, Bandara Gatwick Adopsi Augmented Reality
Lantas apa saja kebisaan dari Pepper? Dikutip KabarPenumpang.com dari hinapost.com.tw (8/6/2017), robot ini digunakan untuk memindai boarding pass penumpang dan juga memberikan informasi tentang penerbangan dan cuaca saat mereka akan terbang.
Lebih dari itu, Pepper juga mampu memberikan informasi dalam berbagai bahasa. Untuk penggelarannya, robot ini akan beroperasi di loket check in di bandara internasional Taipei Songshan dan di lounge VIP bandara Taoyuan dalam waktu dekat.
Pepper (www.chinapost.com.tw)
Eva Air Vice President Yen Shing-Chung mengatakan, pihaknya bekerjasama dengan Perobot Co Ltd untuk mengembangkan Pepper. Perusahaan ini merupakan distributor penjual lokal Pepper dimana mesin akan diperbaharui menjadi lebih fungsional. Robot pintar ini akan memberikan informasi pelayanan dalam bahasa Inggris dan Jepang selain bahasa Cina. “Pepper akan memberi tahu kepada penumpang dimana areaa makanan, hiburan dan penjualan produk bebas bea dan area memudahkan letak area perbenlanjaan lainnya,” ujar Yeh.
Baca juga: Delta Airlines dan JetBlue Gunakan Mesin Pemindai Wajah di Bandara
Sejak Eva Air meluncurkan versi pertama Pepper pada Desembeber 2016 lalu, maskapai ini sudah berinteraksi dengan lebih dari 30.000 penumpang. Kedepannya Eva Air akan membangun database percakapan chatbot agar Pepper bisa menjawab dan berbicara dengan orang-orang.
Sebelumnya bandara Gatwick, Inggris menggunakan Augmanted Reality yang dipasang untuk membantu penumpang menemukan tujuan mereka di bandara. Di tahun 2016, Hitachi sebagai perusahaan teknologi raksasa di Jepang menguji robot Wayfinder di bandara Haneda, Tokyo.
Robot ini membantu wisatawan yang hilang dari pandangan bandara dan bisa berkomunikasi serta memberikan informasi visual melalui panel display yang ada pada robot ini.
Demi mengurangi tingkat kecelakaan yang terjadi di dunia aviasi, khususnya yang diakibatkan oleh bird strike pihak Bandara Internasional Edmonton menghadirkan sebuah robot yang diprogram khusus untuk mengusir para burung liar yang berada di sekitaran landas pacu bandara yang terletak di Alberta, Kanada tersebut. Teknologi ini menjadi pionir setelah sebelumnya belum ada yang menggunakan The Robird Drone, nama robot ini, dalam usaha meminimalisir angka kecelakaan di sekitaran landas pacu.
Baca juga: Bird Strike! Masih Jadi Momok Menakutkan dalam Dunia PenerbanganKabarPenumpang.com mewartakan dari edmontonjournal.com (19/6/2017), adapun bentuk dari The Robird Drone ini menyerupai Elang Peregrine, yang dimaksudkan untuk menakut-nakuti burung dalam kelompok besar seperti burung camar dan angsa. Kehadiran The Robird Drone ini dinilai vital lantaran Alberta Aerospace and Technology Center dan Aerium Analytics tengah fokus untuk mengembangkan teknologi pesawat tanpa awak
Managing Director dari Aerium Analytics, Jordan Cicoria mengatakan keberadaan burung-burung tersebut dapat membahayakan penerbangan komersial. Dalam sebuah konferensi pers yang diadakan Senin (19/6/2017), lebih lanjut Jordan menyampaikan fungsi lain dari The Robird Drone ini. “Robot ini juga dapat mencegah burung masuk ke oilsand tailings ponds, tempat pembuangan sampah, dan turbin angin,” jelasnya.
“Tidak hanya mencegah terjadinya kecelakaan, kehadiran The Robird Drone ini juga dapat membantu melindungi burung-burung tersebut dari bahaya dengan cara tidak mematikannya, melainkan hanya mengusirnya,” terang Jordan. The Robirds Drone ini dirancang oleh Clear Flight Solutions yang bermarkas di Belanda, yang merupakan satu-satunya produsen komersial dari drone jenis ini. Hingga saat ini, baru ada sekitar empat robot burung yang beroperasi di Edmonton, sedangkan Clear Flight Solutions masih terus memproduksi mahakaryanya untuk sesegera mungkin dipasarkan.
Baca Juga: Kembangkan Teknologi Autopilot, Boeing Tawarkan Self Flying Plane
Justin Quesnel, seorang dari Aerium Analytics lalu menjadi “pilot” pertama yang menerbangkan The Robird Drone bersama dengan Ramon Wind dari Clear Flight Solutions dalam sebuah demonstrasi uji coba. Justin kemudian melemparkan The Robird Drone ke udara dan mulai mengendalikannya menggunakan sebuah remot. Di bawah kendali Justin, The Robird Drone akan terbang berpatroli di udara. Rencananya, per bulan Juli tahun ini, Justin akan memberikan pengarahan kepada petugas yang berada di bandara yang hampir setiap hari menerbangkan pesawat tanpa awak tersebut.
Myron Keehn, wakil presiden pengembangan komersial bandara Edmonton mengatakan bahwa teknologi tersebut menambahkan lapisan pada keselamatan penerbangan. “Bukan berarti kita punya masalah; Itu hanya bagaimana kita bisa meningkatkan pelayanan menjadi lebih baik dan terus membaik, “Tutur Myron dikutip dari sumber yang sama. Lebih lanjut, Myron juga mengatakan dengan kehadiran teknologi semacam ini menandakan adanya pemikiran yang cerdas untuk mencoba suatu hal yang baru yang akan berdampak pada pengingkatan pelayanan.
Baca Juga: Pangkas Durasi Security Check, Ini yang Dilakukan Beberapa Bandara dan Maskapai
“Kami sangat senang bahwa kami dapat melakukannya lebih dulu dan saya membayangkan akan ada banyak tanggapan pada musim gugur atau musim semi berikutnya dari bandara lain yang ingin mengintegrasikan teknologi semacam ini.” tutupnya.
Seorang penumpang wanita yang menaiki pesawat America Airlines dari Atlanta tujuan Chicago di AS memaki pramugari maskapai tersebut. Dilansir kabarPenumpang.com dari dailymail.co.uk (6/7/2017), wanita tersebut sebenarnya hanya diingatkan oleh pramugari untuk menegakkan sandaran tempat duduk sebelum pesawat tinggal landas.
Baca juga: Hapus Sajian Es Sundae Sesaat, Penumpang United Airlines Ungkap Kekesalan di Media Sosial
Sebenarnya ini bukanlah hal baru lagi, sesuai aturan internasional, setiap penumpang memang wajib menegakkan sandaran tempat duduknya dan melipat meja yang berada di depan tempat duduk sebelum pesawat lepas landas. Sayangnya penumpang ini keluar dari tempat duduknya dan menemui pramugari di belakang kabin sembari memaki pramugari dengan kata-kata kasar. Tak hanya itu, anjing yang dibawanya pun terlepas di kabin. Penumpang dan awak kabin lainnya bisa mendengar si perempuan ini disuruh kembali duduk ditempatnya.
www.miamiherald.comBaca juga: Melahirkan di Dalam Pesawat, Antara Jaminan Terbang Gratis dan Isu Kewarganegaraan
“Ayo kita semua hanya ingin pulang,” kata sesama penumpang lainnya. Perempuan yang akan dikeluarkan dari pesawat America Airlines ini mengatakan, “Ibu Anda beruntung karena saya juga akan pulang kerumah karena akan ada masalah saat kembali ke Chicago.” Namun, pramugari yang mendengar ucapan si perempuan tersebut mengatakan, “Tidak, kita akan kembali ke gate. Kita tidak akan pergi ke Chicago.”
Setelah sang pramugari mengatakan akan kembali ke gate, para penumpang mengeluhkan hal tersebut dan atas kejadian keributan tersebut, penerbangan ditunda selama empat jam.
Dalam beberapa video yang tersebar, nampak wanita tersebut berjalan sembari menggendong anjingnya untuk bertemu dan memaki sang pramugari. Ada pula video yang berisikan seorang pria mengantar perempuan tersebut keluar dari pesawat American Airlines sesaat setelah pesawat kembali ke gate.
Baca juga: Penumpang Pukul Petugas Avsec Bandara Sam Ratulangi, Video Viral Kemana-mana
Perwakilan bandara Atlanta mengatakan, perempuan tersebut tidak di tangkap dan diamankan, melainkan keberangkatannya dipindahkan serta dijadawalkan ulang pada penerbangan lainnya yang menuju Chicago. Atas kejadian ini, keberangkatan menuju Chicago mengalami keterlaambatan empat jam.
Adanya wacana mengenai penggunaan alat pemindai wajah di bandara menuai tanggapan dari berbagai elemen, baik mereka mendukung hingga menyangsikan keberadaan alat ini di salah satu gerbang masuknya para pelancong. Hal ini merupakan buntut dari sebuah kongres yang mengamanatkan pemerintah federal untuk melacak warga asing saat mereka datang atau meninggalkan Amerika Serikat.
Baca Juga: Delta Airlines Siap Gunakan Pemindai Wajah Untuk Pangkas Antrean Check In
Belum jelas masa depan dari alat pemindai wajah sebagai pengganti identitas para calon penumpang tersebut, Kementerian Keamanan Dalam Negeri AS lantas mulai untuk memindai wajah masyarakat Negeri Paman Sam yang meninggalkan kampung halamannya itu, tanpa otorisasi kongres dan tanpa berkonsultasi dengan publik. Kejadian tersebut terjadi pada bulan Juni 2016 silam.
Sepintas, program pemindai wajah ini serupa dengan yang diterapkan oleh maskapai penerbangan JetBlue dan Delta Airlines, namun sedikit yang menyadari bahwa sistem ini sebenarnya adalah fase pertama program “Biometric Exit” milik Department of Homeland Security (DHS).
Untuk penerbangan internasional tertentu, contohnya dari Atlanta dan New York, DHS telah bermitra dengan Delta untuk memasang alat pemindai wajah di setiap gate. Lalu sistem Delta akan membandingkan wajah yang ditangkap oleh kamera di gerbang keberangkatan dengan manifes penumpang yang ada di database Departemen Luar Negeri. Tidak hanya memindai wajah, dengan adanya sistem ini juga membantu pihak bandara dan maskapai untuk mengetahui kewarganegaraan seseorang dan status imigrasinya.
Baca Juga: Mudahkan Calon Penumpang, Bandara Gatwick Adopsi Augmented Reality
Hal yang sama juga ditrapkan DHS ke maskapai JetBlue. Para penumpang yang akan terbang dari Boston menuju Aruba akan melalui fase pemindaian wajah terlebih dahulu. Dalam kasus JetBlue, Anda benar-benar bisa memindai wajah Anda alih-alih menggunakan tiket fisik.
Sementara sistem ini berbeda secara rinci, mereka memiliki dua kesamaan. Pertama, mereka meletakkan dasar untuk penerapan Biometric Exit yang lebih luas dan wajib di seluruh negeri. Kedua, mereka memindai wajah semua orang – termasuk warga negara Amerika.
Sebenarnya, ini adalah program yang ditujukan untuk warga negara asing. Namun pada kenyataannya, ketika Presiden AS, Donald Trump mengeluarkan perintah eksekutif menyangkut Biometric Exit pada bulan Januari lalu, yang sebenarnya merupakan terbitan ulang untuk mengklarifikasi bahwa pemindaian wajah tersebut tidak berlaku bagi warga negara Amerika.
Tantangan nyata dari sistem mutakhir ini adalah ketika sistem tersebut gagal untuk memindai wajah seseorang dan akhirnya menimbulkan kekacauan di gerbang keberangkatan. KabarPenumpang.com wartakan dari slate.com (21/6/2017), tingkat error yang bisa mencapai angka empat persen dari jumlah penerbang tentu akan menjadi pemandangan sehari-hari dimana ada seorang yang mengeluh ketika wajahnya tidak bisa dideteksi hingga isu tentang penolakan penerbangan karena data yang tidak akurat. Jika Anda mengalami hal seperti itu, maka Anda harus siap gigit jari karena Anda akan melewatkan penerbangan itu.
Baca Juga: Mantan Presiden Ini Salami Penumpang Delta, Ada Apa?
Penelitian menunjukkan, sistem pemindai wajah agak sedikit kesusahan ketika penuaan mulai terjadi, terutama jika foto yang ada di database umurnya sudah melebihi enam tahun. Penelitian lain menunjukkan bahwa sistem pengenal wajah memiliki waktu yang lebih lama untuk menyesuaikan wajah orang Afro-American, wanita, dan anak-anak.
Yang ditakutkan oleh kebanyakan orang adalah kegagalan memindai wajah sehingga mengakibatkan kerugian pada dirinya. Sejalan dengan ketakutan tersebut, muncul pemikiran, “Akankah DHS memiliki rencana sekunder apabila sistem tersebut gagal memindai wajah?” Haruskah orang Amerika benar-benar tunduk pada peraturan “abu-abu” secara terus menerus untuk terbang?
Tarif batas atas dan bawah pada taksi online telah ditetapkan berdasarkan Peraturan Menteri Perhubungan Nomor 26 Tahun 2017 per 1 Juli 2017 kemarin tentang Penyelenggaraan Angkutan Orang dengan Kendaraan Bermotor Umum Tidak Dalam Trayek. Adanya pembatasan ini, agar tidak ada perbedaan yang terlalu jauh dengan taksi konvensional yang sudah berdiri sejak lama.
Baca juga: Alasan Politik, Pemerintah Mesir Perintahkan Taksi Online Gunakan Aplikasi Pelacak
Pembatasan tarif batas bawah dan atas ini pun dibagi menjadi dua beradasarkan wilayahnya. Wilayah pertama terdiri dari pulau Sumatera, Bali dan Jawa. Sedangkan untuk wilayah dua yakni pulau Kalimantan, Nusa Tenggara, Maluku, Sulawesi dan Papua. Nantinya di wilayah satu tarif batas bawah yakni Rp3.500 perkilometernya dan tarif atasnya Rp6000.
Baca juga: Banyak Kasus Pelecehan, Inikah Momen Taksi Online Perketat Penerimaan Pengemudi?
Untuk tarif batas bawah dan atas wilayah dua yakni Rp3.700 untuk batas bawah dan Rp6.500 pada batas atasnya. Nantinya dalam pelaksaan ini, akan dilakukan evaluasi setelah enam bulan berjalan. Sebab Kementerian Perhubungan juga melakukan pengawasan dan monitoring.
KabarPenumpang.com melakukan pengecekan pada aplikasi, terlihat tidak ada kenaikan yang signifikan. Perjalanan dari Sunter Icon menuju ke Mall of Indonesia di Kelapa Gading berkisar Rp20 ribu hingga Rp25 ribu pada tanggal 29 Juni 2017, tetapi saat dicek kembali pada hari ini (6/7/2017) melalui aplikasi dengan keberangkatan dan tujuan yang sama, tarif tidak berubah masih tetap seperti tanggal 29 Juni 2017 lalu.
Sebenarnya, kenaikan ini juga bisa memberikan kenaikan pada penghasilan pengemudi-pengemudi taksi online tersebut. Tak hanya itu, dengan adanya tarif batas atas dan bawah ini, sebenarnya agar menghilangkan dari harga di jam sibuk yang terkadang melonjak sangaat tinggi. Selain dampak kepada pengemudi naiknya penghasilan, pada penumpang juga berdampak tarif sedikit lebih mahal dari biasanya.
Baca juga: Tombol SOS Dinilai Tak Ampuh Entaskan Kejahatan di Transportasi Online
Namun dengan adanya diskon dan potongan harga bila membayar dengan nontunai tarif dari taksi online bisa lebih murah dibandingkan dengan konvensional. Penetapan tarif batas ini juga untuk menjaga dampak kedepannya terkait keberlangsungan usaha. Dengan pendapatan yang rendah, pengemudi perlu melakukan cicilan setiap bulan dan juga melakukan pemeliharaan kendaraan. Sisi lainnya walaupun sudah ada pembatasan tarif, tarif taksi konvensional masih juga jauh lebih mahal dibandingkan taksi online.
Hal ini yang membuat taksi online masih banyak peminatnya dibandingkan taksi konvensional selain potongan harga dengan membayar nontunai dan adanya kupon potongan harga. Sayangnya, hingga kini belum ada keterangan lebih lanjut dari pihak operator taksi online terkait kenaikan tarif dasar atas dan bawah ini.
Apa yang Anda pikirkan setelah mendengar fake Global Positioning System (GPS) atau GPS palsu? Biasanya orang akan berfikir GPS untuk digunakan dalam sebuah permainan atau saat memposting foto dimana tempat atau posisi Anda berada. Awalnya fake GPS ini banyak sekali digunakan untuk permainan Pokemon Go, penggunaan fake GPS sendiri agar memudahkan dan membuat tipuan posisi GPS yang akan dimanfaatkan seperti saat berburu Pokemon Go.
Baca juga: Aplikasi Uber di Amerika Serikat Bakal Dilengkapi Fitur Tip
Kini setelah era Pokemon Go redup, penggunaan fake GPS bertansformasi ke hal lain yang tak ada urusan dengan gaming. Sayangnya aplikasi fake GPS yang bertebaran gratis di Play Store justru banyak digunakan oleh para pengemudi ojek dan taksi online saat ini. Salah satu yang terlihat adalah pengemudi Grab Car yang melakukan cara curang demi keuntungan semata saja. Padahal penggunaan fake GPS ini bisa merugikan penumpang yang memesan dan biasanya pengemudi berada jauh dari lokasi.
Sebagai contoh, bila Anda sedang berada di area Gedung Sarinah Thamrin, dan Anda melakukan proses pemesanan di aplikasi. Dari hasil yang dideteksi pada layar aplikasi, saat itu taksi atau ojek online yang Anda pesan menunjukkan posisi sudah dekat dengan Anda, padahal bisa saja para pengemudi tersebut berada jauh di kawasanSenayan. Biasanya perjalanan justru lebih lama menunggu pengemudi di bandingkan perjalanan yang Anda lakukan. Itu salah satu kasus dari dampak negatif penggunaan fake GPS.
Baca juga: Aplikasi ini Dirancang Untuk Sadarkan Pengemudi Lelah dan Mengantuk
Kenyataan ini bukan hanya merugikan penumpang dalam segi waktu, melainkan juga dari pengemudi lainnya yang memang berada dekat dengan Anda. Sebab, walaupun Anda berada di Sarinah dan memang memesan, justru para pengemudi di Senayan yang akan tetap dapat dan ironisnya pengemudi sekitaran (di area Gedung Thamrin) justru tak bisa mendapat order. Hal ini bisa di katakan pengemudi jujur jadi tak berarti lagi.
Atas kejadian ini, Managing Director Grab Indonesia, Rizdki Kramadibrata mengatakan, pengguna fake GPS termasuk pelanggaran kode etik karena mengakali sistem. “Karena lokasinya tidak ada di situ, jadi penumpang menunggu agak lama. Kami tidak mentolerir penggunaan fake GPS maupun fake booking. Karena itu sangat merugikan” kata Rizdki yang dikutip kabarPenumpang.com dari Kompas.com (6/7/2017). Terkait dengan maraknya penggunaan fake GPS, belum lama ini Grab memberi sanksi pencabutan akses pada 197 mitra pengemudi yang terbukti menggunakan fake GPS dan fake booking. Grab saat ini telah memasang sistem monitoring untuk memantau perilaku driver.
Baca juga: Kompas Digital, Tetap Presisi dalam Wujud Aplikasi di Smartphone
Untuk diketahui, bahwa untuk menjalankan fake GPS Location Spoofer Free Anda harus mengunduhnya di Play Store, aplikasi ini yang membuat tipuan posisi koordinat GPS. Sebenarnya dalam penggunaan fake GPS ini juga ada kendala dimana smartphone sudah harus di root. Meski begitu, ada aplikasi fake GPS yang bisa digunakan tanpa smartphone harus di root terlebih dahulu, yakni Fly GPS.
Cina baru saja memperkenalkan salah satu bullet train (kereta peluru) teranyar mereka yang diberi nama Fuxing. Ini merupakan jenis bullet train pertama yang dirancang dan diproduksi di Cina tanpa adanya ‘bantuan’ dari pihak asing. Selama kurang lebih 13 tahun, Cina mempelajari cara untuk membangun kereta berkecepatan tinggi kelas dunia dari perusahaan terkemuka di negara maju, seperti Jepang, Jerman, Prancis, dan Kanada.
Baca Juga: Melesat 200 Km Per Jam, Arlanda Express Kereta Bandara Tercepat
Sebagaimana KabarPenumpang.com lansir dari dailymail.co.uk (26/6/2017), bullet train ini dapat melaju hingga kecepatan 248 mph atau setara dengan 400 km per jam. Fuxing diperkirakan akan beroperasi antara Shanghai dan Beijing, dimana jalur tersebut merupakan jalur kereta tersibuk di Cina dan diharapkan dapat melayani 505.000 penumpang setiap harinya. Kereta yang namanya berarti peremajaan tersebut memiliki dua seri, yaitu “The Dolphin Blue” CR400AF dan “Golden Phoenix” CR400BF.
Jika dalam pengoperasian sehari-harinya, kereta ini tidak akan melaju hingga kecepatan 400 km per jam, namun hanya sekitar 350 km per jam, dimana dengan kecepatan seperti itu mampu menghubungkan Shanghai dan Beijing dalam waktu tiga jam 30 menit, atau perjalanan dari Paris menuju London akan ditempuh hanya dengan waktu 1 jam 20 menit. Sementara jika perjalanan dari Paris menuju London menggunakan kereta biasa akan memakan waktu perjalanan hingga lima jam.
Baca Juga: Cina Luncurkan ART, Kereta Otonom Tanpa Rel Untuk Kota Kecil
Tidak hanya menawarkan kecepatan, kereta yang dikenal juga dengan nama China Standardized EMU (Electric Multiple Unit) ini juga menyediakan fasilitas yang dapat membuat penumpangnya merasa nyaman, seperti jaringan WiFi (wireless fidelity) hinggga ruang gerak kaki yang lebih lega. Dilansir dari sumber terpisah, kereta ini juga memiliki sistem yang dapat melakukan pengereman otomatis jika terjadi keadaan darurat atau abnormal. Selain itu, Fuxing juga diprediksi akan memiliki umur operasional yang lebih lama dan menggunakan energi 17 persen lebih sedikit dari para pendahulunya seperti Hixie. Dalam penentuan standarisasi, kereta ini telah memenuhi 84 persen standar Cina, dan sisanya menggunakan standar internasional.
Baca Juga: Sistem Deteksi Dini Bencana Lengkapi Teknologi Kereta Cepat Jakarta – Bandung
He Huawu selaku Chief Engineer dari China Railway Communication (CRC) mengatakan teknologi EMU akan digunakan dalam proyek kereta cepat di Indonesia. Memang, proyek kereta cepat yang menghubungkan Jakarta – Bandung ini rencananya akan menggunakan CRH380A sebagai sarana transportasinya. “Selain itu, Fuxing juga akan menjadi ujung tombak kereta berkecepatan tinggi di dunia,” ujarnya.
Baru-baru ini kembali viral video pemukulan terhadap petugas Aviation Security (Avsec) beredar luas di media sosial. Kali ini seorang petugas Avsec perempuan bernama Elizabeth Monica Wehantow di Bandara Sam Ratulangi, Manado di pukul oleh seorang wanita berinisial JW. Pemukulan ini sebenarnya terjadi karena saat petugas Avsec inisial AM menyuruh ibu tersebut melepas jam tangan saat melewati pemeriksaan Walk Through Metal Detector (WTMD) di Security Check Point (SCP).
Baca juga: Kencing di Botol, Pemuda Ini Langsung Diamankan Saat Mendarat
Awalnya, saat si ibu tersebut melewati alat detektor, alarm berbunyi karena mendeteksi unsur logam, sebenarnya bila sesuai dengan prosedur penumpang harus melepaskan jam tangan dan kembali diperiksa melalui mesin detektor tersebut. Sayangnya sang ibu tidak mau mendengar permintaan tersebut dan memarahi petugas hingga memukul dan menampar.
Saat itu, sang ibu mengaku dirinya seorang istri jenderal dan baik si ibu dan petugas Avsec sama-sama melaporkan tindakan tersebut kepada pihak yang berwajib. Menanggapi kejadian diatas, Danang S. Baskoro, Direktur Utama PT Angkasa Pura I, yang bertindak sebagai pengelola Bandara Sam Ratulangi menyebutkan, “Segala aktivitas Angkasa Pura I sebagai salah satu pemangku kepentingan dalam industri penerbangan diatur oleh undang-undang, khususnya Undang-Undang Nomor 1 tentang Penerbangan. Angkasa Pura I berkepentingan untuk menegakkan peraturan khususnya untuk memastikan keamanan dan keselamatan penumpang pesawat udara. Oleh karena itu kami menyesalkan tindak kekerasan seorang penumpang terhadap petugas Avsec kami yang tengah menjalankan tugas dan tanggung jawabnya untuk memastikan keamanan dan keselamatan penumpang.”
Baca juga: Exruptive Tawarkan Teknologi Scanner X Ray Terbaru di Bandara
Danang melanjutkan bahwa dalam Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2009 pasal 335 dinyatakan bahwa terhadap penumpang, personil pesawat udara bagasi kargo, dan pos yang akan diangkut harus dilakukan pemeriksaan dan memenuhi persyaratan keamanan penerbangan. Oleh karena itu seluruh penumpang berkewajiban menaati peraturan ini. “Oleh karena itu penumpang diwajibkan untuk mengikuti arahan yang dilakukan oleh petugas Avsec seperti memasukkan seluruh barang bawaan ke dalam mesin x-ray termasuk jam tangan, ponsel, melepas ikat pinggang dan jaket,” kata Danang.
Baca juga:Pukul Kru Pesawat Pakai Teko Kopi, Penumpang Ini Terpaksa Diikat Kabel Ties
Tak hanya kejadian di bandara Sam Ratulangi, tahun 2016 lalu tepatnya bulan Oktober, seorang protokoler Jenderal TNI melakukan pemukulan pada petugas. Kejadiannya pun tak jauh berbeda hanya saja, saat itu, Jenderal bintang dua tersebut menggunakan ikat pinggang yang harusnya dilepas saat melewati mesin detektor.
Dari kejadian ini diperkirakan saat memberitahukan ada perkataan yang tidak sopan sehingga protokoler mengajak berkelahi para petugas Avsec tersebut.
Petugas berinisial A terkena pukulan dua kali di perut dan satu kali di wajah. Namun bisa dilerai setelah adanya Polisi Militer TNI AU.
Untuk internasional, dua orang penumpang perempuan dipukul oleh petugas bandara di Islamabad pada April 2017. Ini terlihat dari sebuah video yang viral dimana menunjukkan penumpang dan The Federal Investigation Agency (FIA) terlibat pertengkaran satu sama lainnya. Dari laporan yang ada menunjukkan salah seorang perempuan yang dipukuli tersebut mengalami luka serius dan harus dilarikan ke rumah sakit.
Baca juga:(Lagi), Awak Pesawat Gunakan Kabel Ties Untuk Lumpuhkan Penumpang
Permasalahan awalnya ternyata karena tidak ada tisu di toilet sehingga para penumpang wanita ini mengadu dan pecahlah perkelahian tersebut. Sebenarnya, perkelahian antar penumpang dan petugas bandara tak perlu terjadi bila penumpang juga mengikuti aturan yang sudah tertera dan wajib dilaksanakan. Biasanya karena hal kecil justru mampu menimbulkan masalah besar yang seharusnya tak terjadi.
Karena dipandang punya potensi membahayakan penerbangan komersial, belum lama ini menerbangkan balon udara menjadi topik bahasan yang serius. Bahkan jika otoritas penerbangan di Indonesia tak bisa mengatasi, konon bakal ada sanksi dari internasional. Lepas dari kontroversinya, sejatinya menerbangkan balon memang sudah jadi tradisi di Jawa Tengah sejak masa penjajahan Belanda dan dilakukan oleh warga Indo-Eropa yang menetap di kota Pekalongan. Biasanya penerbangan balon ini dilakukan tak hanya di Pekalongan melainkan Wonosobo juga dan penerbangan hingga H+7 lebaran.
Baca juga: Bird Strike! Masih Jadi Momok Menakutkan dalam Dunia Penerbangan
Dirangkum Kabarpenumpang.com dari berbagai sumber, sebenarnya tradisi ini sudah berjalan cukup lama, balon-balon udara ini juga dibuat secara gotong royong dengan sumbangan para warga saat masa Lebaran. Waktu penerbangan balon yang dibuat dari bahan plastik dan kertas warna warni ini pukul enam sampai delapan pagi.
Diketahui, ukuran balon-balon ini pun bervariasi bisa hingga enam meter dengan diameter empat meter. Balon-balon ini pun bisa terbang tingga ketinggian 28 ribu kaki, atau sekitar 8.534 meter. Sayangnya kegiatan penerbangan balon udara ini berdampak negatif apalagi untuk dunia penerbangan ditengarai bisa menimbulkan kecelakaan pesawat. AirNav Indonesia kemudian menerbitkan Notice To Airmen (NOTAM) untuk penerbangan yang melintasi Jawa Tengah karena adanya penerbangan balon-balon udara gas ini.
Baca juga: Setelah 2 Jam Alami Guncangan Hebat, Airbus A330 AirAsia X Kembali ke Perth
NOTAM dengan nomor ‘A2115/17 NOTAMN’ ini diterbitkan sejak 25 Juni 2017 dan berlaku hingga tanggal 2 Juli 2017 kemarin. Adanya NOTAM yang dikeluarkan oleh AirNav Indonesia ini untuk daerah-daerah yang terdeteksi balon udara seperti Wonosobo, Cilacap, Kebumen dan Purworejo, selain itu dikarenakan wilayah udara pulau Jawa sangat sering dilintasi oleh pesawat terbang.
NOTAM dikeluarkan lantaran balon-balon udara yang diterbangkan ini, arah dan kecepatannya tidak diketahui sehingga sangat sulit bagi pesawat yang akan melintasi langit bila terdapat balon udara. Bila terbang hanya ketinggian 100 meter, mungkin tidak akan bermasalah namun, terbangnya balon ini bisa 25 ribu hingga 28 ribu kaki, maka lintasan balon udara akan satu level dengan jalur ketinggian pesawat udara.
Baca juga: Selain Mesin, Yuk Kenali Arti Suara-Suara di Dalam Kabin Pesawat
NOTAM sendiri merupakan pemberitahuan yang berisi informasi mengenai penetapan, kondisi atau perubahan disetiap pelayanan, prosedur atau kondisi bahaya, berjangka waktu pendek dan bersifat penting untuk diketahui oleh para personel operasi penerbangan. Tujuannya yakni memberikan informasi dalam upaya menjamin kelancaran operasional hingga keselamatan penerbangan.
Sehingga, bila masyarakat ingin menerbangkan balon-balon udara ini hendaknya memberitahukan kepada polisi atau pemerintah setempat sebelum melakukan penerbangan. Diketahui, Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2009 tentang Penerbangan menyebutkan bahwa barang siapa yang melepas pesawat udara, termasuk balon udara yang membahayakan pesawat lain, membahayakan penumpang dan membahayakan masyarakat diancam pidana 2 tahun penjara dan denda Rp500 juta. Sebagai tindak lanjut, belum lama berselang, aparat keamanan telah melakukan upaya penyitaan pada balon udara yang akan diterbangkakan oleh warga.
Proyek kereta cepat Jakarta – Bandung yang kini masih berkutat dengan masalah pembebasan lahan menimbulkan rasa penasaran yang tinggi pada sebagian orang, entah mereka penasaran dengan sensasi perjalanannya atau hanya sekedar ingin mencicipi naik kereta listrik jarak jauh saja. Dalam pengerjaannya, Indonesia menggaet Cina guna mensukseskan salah satu proyek moda transportasi masa depannya ini. Namun di balik itu semua, tahukah Anda jika kereta yang nantinya digunakan dalam proyek ini merupakan kereta listrik tercepat kedua di dunia?
Baca Juga: Sistem Deteksi Dini Bencana Lengkapi Teknologi Kereta Cepat Jakarta – Bandung
Adalah CRH380A, sebuah kereta listrik cepat asal Cina yang dikembangkan oleh CSR Corporation Limited dan saat ini diproduksi oleh CSR Qingdao Sifang Locomotive & Rolling Stock Co Ltd. sebagai kelanjutan dari program CRH2-350. Baik CRH380A dan CRH2-350 merupakan produk lanjutan dari teknologi luar negeri bernama CRH2, dimana keduanya memiliki kecepatan yang jauh melebihi CRH2. CRH380A dirancang untuk beroperasi pada kecepatan 350 km/jam (217 mph) dan dapat menempuh kecepatan maksimum pada angka 380 km/jam (236 mph) untuk layanan komersial.
CRH380A adalah satu dari empat rangkaian kereta Cina yang dirancang khusus untuk kecepatan operasi standar 380 km/jam pada jalur kereta kecepatan tinggi utama di Cina. Selain itu, CRH380A merupakan satu-satunya kereta yang tidak bertumpu pada desain luar negeri. Walaupun standar kecepatan kereta ini adalah 380 km per jam, namun sebuah rekor tercatat tatkala CRH380A berhasil menembus kecepatan 486,1 km per jam pada saat uji coba di jalur antar kota Shanghai-Hangzhou pada Desember 2010.
Baca Juga: Ingin Menikmati Sensasi Kereta Cepat, Bentang Lebar Rel Harus Diganti
Selain kecepatan, keunggulan lain dari kereta cepat ini adalah desainnya yang futuristik dan elegan. Tidak hanya itu, kereta ini juga digalang-galang tidak menimbulkan getaran sedikitpun saat tengah melaju membawa penumpang.
Di negeri asalnya, kereta ini beroperasi di jalur Shanghai – Nanjing dan Shanghai – Hangzhou di rel khusus kereta berkecepatan tinggi sejak Oktober 2010. Dua bulan berselang, CRH380A mulai membuka jalur operasi baru, yaitu Wuhan – Guangzhou. Walaupun tengah melaju dalam kecepatan tinggi, teknologi pengedap suara juga turut dipasang di kereta ini, seperti yang kebanyakan ditemukan di model transportasi serupa. Para penumpang dijamin dapat merasa aman dan nyaman selama bepergian menggunakan kereta berteknologi canggih ini.
Baca Juga: Jepang Tawarkan Teknologi Kereta Cepat Malaysia – Singapura
Untuk bagian dalam kereta, Anda akan dimanjakan dengan berbagai lounge dan memiliki kompartemen enam kursi deluxe. Selain itu, terdapat juga zona VIP yang terletak di dekat kabin kemudi. Di sana, para penumpang bisa menekan tombol yang berfungsi untuk membuka tirai kaca elektronik yang akan menyajikan pemandangan menakjubkan selama perjalanan. Fasilitas untuk para penyandang disabilitas juga tersedia di dalam CRH380A, seperti toilet khusus yang menggunakan tombol untuk membuka pintunya. Jadi, apakah Anda masih sabar menunggu kehadiran kereta futuristik ini di Tanah Air?