Optimalkan Pelayanan, PT Angkasa Pura I Luncurkan Concordia Lounge Card

Keberadaan executive lounge tak bisa dilepaskan dari sistem pelayanan di suatu bandara, maka tak heran bila fasilitas jelang keberangkatan ini selalu ditingkatkan untuk memanjakkan penumpang. Dan bertempat di Flores Room Hotel Borobudur, Jakarta (15/5) PT Angkasa Pura Hotel yang merupakan anak perusahaan dari PT Angkasa Pura I (Persero) mengadakan Partners Gathering sebagai upaya optimalisasi penggunaan fasilitas Concordia Lounge dengan mitra perbankan, airlines, tour & travel dan instansi lain yang terkait dalam bisnis perusahaan. Mengusung tema “Work Together in Harmony” Angkasa Pura Hotels mengajak para mitra untuk bekerja bersama-sama dengan semangat goodwill dan konsisten memberikan pelayanan yang terbaik bagi konsumen. Pada kesempatan tersebut turut hadir Direktur Utama Angkasa Pura I Danang S. Baskoro, Direktur Komersial & Pengembangan Usaha Angkasa Pura I M. Asrori, Direktur Keuangan & TI Angkasa Pura I Novrihandri, Direktur Teknik Angkasa Pura I Polana B. Pramesti dan Corporate Secretary Angkasa Pura I Israwadi. Baca juga: Pilah-Pilih Lounge Eksekutif di Bandara Direktur Utama Angkasa Pura Hotels Danny P. Thaharsyah dalam sambutannya mengatakan bahwa Angkasa Pura Hotels sebagai anak perusahaan dari Angkasa Pura I siap untuk memberikan layanan terbaik dalam penggunaan fasilitas Concordia Lounge bagi mitra usaha guna mendukung peningkatan pelayanan bagi pengguna jasa bandar udara. Dikutip KabarPenumpang.com dari siaran pers hari ini, Direktur Utama Angkasa Pura I sekaligus Pemegang Saham Mayoritas Angkasa Pura Hotel Danang S. Baskoro dalam sambutannya mengharapkan kemitraan bisnis Angkasa Pura Hotel dapat berjalan semakin bagus hingga dapat mendukung pelayanan di bandara yang dikelola oleh Angkasa Pura I. “Kedepan kami berharap hospitality sebagai core bisnis Angkasa Pura Hotels dapat semakin meningkat hingga dapat menjadi kebanggan kita bersama, masyarakat Indonesia dan masyarakat internasional,” ujar Danang S. Baskoro. Baca juga: Sebelum Lebaran, Aplikasi Angkasa Pura Airports Siap Meluncur Dalam Momen tersebut juga dimanfaatkan oleh Angkasa Pura Hotel dan Angkasa Pura I untuk meluncurkan Customer Loyalty Concordia Lounge Card yang terdiri dari Privilege Card dan VIP Card untuk mendukung layanan promosi, pemasaran, poin rewards, member card, discount card, e-voucher serta e-coupon (electronic stamp) dengan menggunakan smart card (RFID) diseluruh Concordia Lounge bandara Angkasa Pura I. Loyalty Concordia Lounge Card bekerjasama dengan Ezeelink dapat digunakan juga untuk mendapatkan poin dipuluhan merchant yang bergabung dengan Ezeelink. Baca juga: Bos Angkasa Pura I Siapkan Kuda-Kuda Jelang Mudik Lebaran Customer Loyalty Concordia Lounge Card dapat dimiliki hanya dengan melakukan transaksi jumlah tertentu di seluruh Concordia Lounge. Setelah itu Customer akan mendapatkan e-Coupon dalam jumlah tertentu yang akan langsung dapat digunakan pada transaksi berikutnya. Dengan memiliki Customer Loyalty Concordia Lounge Card Customer akan dimanjakan oleh fasilitas full service lounge dengan standar pelayanan hotel berbintang yang telah disediakan pada Concordia Lounge seperti Food & Beverages, Coffee Bar, Free Wi-fi, Internet Corners, Praying Room, Baggage Handling, Reflexology, Check in Assistence, VIP Room, Rest Room, Shower Roo, dan Nursery Room. Concordia Lounge Angkasa Pura Hotel telah hadir di 5 bandara PT Angkasa Pura I yaitu Concordia Lounge Syamsudin Noor Banjarmasin, Concordia Premier Lounge Terminal 2 Internasional Juanda Surabaya, Concordia Bluesky Premium Lounge Terminal 2 Domestik Juanda Surabaya, Concordia Lounge Terminal A & B Adi Sutjipto Yogyakarta, Concordia Lounge El-Tari Kupang, Concordia Lounge SAMS Sepinggan Balikpapan.

Ini Dia Alasan Ojek Online Belum “Naik Kelas”

Semakin menjamurnya transportasi umum berbasis aplikasi membuat Direktur Jenderal Perhubungan Darat, Pudji Hartanto semakin getol mengadakan perbincangan serius dengan berbagai pihak terkait munculnya usulan mengenai ojek online yang akan dijadikan sebagai kendaraan umum. “Kami masih menjajaki kegiatan yang sifatnya FGD (Focus Group Discussion) dan juga kegiatan-kegiatan ilmiah. Itu kami lakukan terkait dengan revisi Undang-Undang (Nomor 22 Tahun 2009 Tentang lalu Lintas dan Angkutan Jalan) itu. Khususnya sepeda motor yang digunakan untuk angkutan orang,” ungkap Pudji seperti yang KabarPenumpang.com wartakan dari laman Tempo.co, Jumat (12/5/2017) kemarin. Apabila usulan tersebut disetujui, maka Undang-Undang tersebut akan kembali direvisi dengan memasukkan kendaraan roda dua sebagai salah satu sarana transportasi umum. Baca juga: Jadi “Boncengers” Ojek Itu Harus Nyaman dan Aman Sehubungan dengan masih panjangnya perjalanan masalah ini untuk dibawa ke hadapan DPR, mantan Kapolda Sulawesi Selatan periode 2015-2016 ini menyebutkan dirinya masih mendiskusikan naiknya derajat sarana transportasi berbasis aplikasi ini bersama tokoh-tokoh terkait. “Kami masing-masing mempelajari dan mengumpulkan saran dari tokoh masyarakat, termasuk (kelompok) masyarakat transportasi Indonesia,” terangnya. Tak pelak, merambahnya bisnis transportasi berbasis aplikasi merupakan salah satu dampak dari perkembangan jaman, dimana masyarakat pengguna jasa tersebut merasa amat terbantu mobilitasnya dengan adanya sarana transportasi semacam itu. “Karena itu merupakan kebutuhan masyarakat pastinya mereka menginginkan itu (ojek online) masuk (sebagai kendaraan umum). Tapi itu kan harus dikaji lagi,” tambah Pudji. Baca juga: Tangkal Pelecehan Seksual, Taksi dan Ojek Perempuan Bisa Jadi Solusi Walaupun moda berbasis aplikasi ini sudah berjalan cukup lama, namun hingga kini belum ada payung hukum yang tepat untuk mengakomodir aturan mengenai operasionalnya. Dalam kesempatan yang terpisah, Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi mengatakan payung hukum berbentuk Peraturan Menteri tidak dimungkinkan, sebab belum ada undang-undang yang mengatur tentang moda berbasis aplikasi tersebut. Ia juga mengatakan pihaknya tidak mau gegabah dalam mencari bentuk payung hukum yang mengatur moda-moda tersebut, karena menyangkut mata pencaharian seseorang dan banyaknya orang yang menggunakan jasa mereka. Kehati-hatian tersebut juga dilandasi oleh maraknya aksi protes yang dilakukan oleh transportasi umum lainnya yang merasa terusik dengan kehadiran moda berbasis aplikasi ini. Layaknya anak emas, moda berbasis aplikasi ini memang menjadi tumpuan baru dalam dunia transportasi. Kehadiran moda berbasis aplikasi yang lebih banyak dicari daripada moda transportasi pendahulunya membuat sebagian kalangan merasa iri karena angkutannya tidak ramai seperti sedia kala. Baca juga: Blue Bird dan Go-Jek, Dari Berkompetisi Kini Jadi Berkolaborasi Ambil contoh insiden yang terjadi di Tangerang, 8 Maret 2017 kemarin dimana seorang driver gojek ditabrak oleh angkot. Kejadian tersebut berbarengan dengan demo sejumlah sopir angkot yang menolak kehadiran ojek online di daerah mereka. Tidak hanya demo, para sopir angkot tersebut juga melakukan penyisiran terhadap moda berbasis online yang berbuah korban luka. Tentu saja, kalangan terkait tidak menginginkan hal semacam ini terulang kembali. Maka dari itu, kehati-hatian dalam mengambil keputusan menjadi salah satu faktor belum rampungnya ojek online yang hendak “naik kelas”.

Ingin Menikmati Sensasi Kereta Cepat, Bentang Lebar Rel Harus Diganti

Antara kecepatan kereta dan lebar bentang rel faktanya terkait langsung, bahkan ukuran bentang rel juga langsung berhubungan dengan faktor keamanan. Secara teori, semakin lebar bentang rel maka kecepatan luncur kereta dapat kian dioptimalkan, kereta dapat melesat lebih cepat. Perihal kecepatan kereta dan lebar bentang rel inilah yang masih menjadi momok dalam dunia perkembangan dunia perkeretaapian di Tanah Air. Baca juga: Sistem Deteksi Dini Bencana Lengkapi Teknologi Kereta Cepat Jakarta – Bandung Jika ditelisik dari fakta, Lebar rel (atau lebar poros roda) kereta di Indonesia hanya 1.067 mm, dan tidak berubah sejak lintasan rel dibangun pada zaman pendudukan Belanda. Pada masa itu gerbong-gerbong penumpang memang ukurannya lebih pendek, ramping, dan sebagian besar karoserinya terbuat dari kayu. Kecepatan kereta di masa itu tidak lebih dari 80 km/jam. Ukuran bentang rel (gauge) yang ada di Indonesia disebut juga sebagai Narrow gauge dan dipandang cocok untuk daerah yang bergunung-gunung karena trak yang lebar membutuhkan biaya besar dan pembangunannya lebih sulit. Narrow gauge juga dikenal sebagai trak Afrika Selatan, yang juga digunakan pada wilayah Taiwan, Filipina, Selandia Baru, dan sebagian Australia. Secara keseluruhan panjang lintasan rel jenis ini mencapai 112 ribu kilometer di seluruh dunia. Baca juga: Melesat 200 Km Per Jam, Arlanda Express Kereta Bandara Tercepat Berkaca dalam kondisi saat ini, lokomotif dan gerbong modern dari PT KAI sudah dirancang untuk melaju kencang, bahkan mampu melesat diatas kecepatan 100 km per jam. Ukuran gerbong yang beroperasi di Indonesia saat ini mengacu pada ukuran standard Eropa dan Amerika yang lebih besar dalam dimensi maupun beratnya. Dirunut dari kemampuannya, lebar poros rel (roda) kereta di Eropa dan Amerika adalah 1.435 mm yang berarti lebih lebar 368 mm dari pada lebar bentang rel yang ada di Indonesia. Ironisnya lebar gerbong di Indonesia sama dengan di Eropa dan Amerika, yaitu 3.150 mm. Di samping itu, ukuran penampang batang rel KA di Indonesia juga lebih kecil dibandingkan dengan batang rel KA di Eropa. Meskipun ada ketidaksesuaian antara ukuran gerbong dan lebar poros roda, kereta api yang dioperasikan di Indonesia secara overload meluncur dengan kecepatan 100 km per jam; bahkan di jalur-jalur tertentu melaju dengan kecepatan di atas 100 km per jam. Lebar bentang rel 1.435 mm disebut juga sebagai trak standar, dan justru digunakan di lebih banyak negara dengan panjang lintasan sejauh 720 ribu kilometer di seluruh dunia, bisa disebut 60 persen jalur kereta di dunia mengadopsi trak standar ini. Dengan perbedaan antara kapasitas kereta dan dukungan spesifikasi rel, maka kerap memicu beberapa insiden, seperti kereta anjlok, terguling, dan tergelincir keluar rel. Anjlok maupun tergelincirnya kereta terjadi apabila berat lokomotif dan gerbongnya melampaui batas daya dukung rel sehingga membuat batang rel menggeliat (melintir atau melengkung). Tergulingnya kereta umumnya lebih disebabkan oleh gaya sentrifugal di saat membelok/menikung. Semakin besar kecepatan di saat membelok, semakin besar pula gaya sentrifugal yang di alaminya. Kecepatan di saat membelok serta ketidaksesuaian antara lebar poros roda dengan lebar gerbong/lokomotif inilah yang diduga menjadi penyebab utama tergulingnya kereta api oleh gaya tersebut. Insiden kereta anjlok sempat terdengar menimpa kereta eksekutif Argo Bromo yang ditarik dengan lokomotif modern terbaru PT KAI. Dengan kondisi diatas, maka wajar adanya bila kereta jarak jauh PT KAI tidak bisa diajak ngebut secara konstan pada tiap lintasan. Untuk mengupayakan perbaikan dari aspek kecepatan, mutlak dilakukan penggantian rel, dan jika itu dilakukan akan terbentur anggaran yang besar dan mengganggu jadwal perjalanan reguler. Guna menyiasati kebutuhan kereta cepat dalam arti sebenarnya, maka dibutuhkan pembangunan jalur rel baru, dan ini telah diputuskan dalam development kereta cepat Jakarta – Bandung. Dalam proyeksinya, lebar bentang rel kereta cepat Jakarta – Bandung akan menggunakan trak standar 1.435 mm, dengan begitu kereta nantinya dapat melesat hingga 350 km per jam.

Sistem Tiket di-Hack, Metro di San Francisco Terpaksa Gratiskan Perjalanan

Menyeruaknya pemberitaan mengenai virus Ransomware belakangan ini memang menyita banyak perhatian publik. Virus yang terkenal dengan latar belakang tindak pemerasan ini juga pernah mengancam dunia transportasi modern, dimana semua akses untuk menggunakan layanan transportasi sudah terintergasi komputerisasi. Adalah sarana transportasi darat di San Francisco yang datanya pernah “ditawan” oleh pihak hacker dan meminta tebusan untuk mengembalikan data-data tersebut. San Francisco Municipal Transportation Agency (SFMTA), perusahaan penyedia jasa layanan transportasi yang pernah menjadi “tawanan” dari virus Ransomware. Akibat virus yang dikendalikan oleh hacker tersebut, sistem ticketing milik SFMTA tersebut tidak dapat berfungsi. Baca Juga: Ransomware WannaCry, Virus Pemeras yang Turut Mengguncang Dunia Transportasi Para pengguna jasa layanan transportasi yang tergabung dalam jaringan SFMTA dapat merasakan langsung imbas dari serangan malware tersebut. Tercatat, pada beberapa stasiun yang dioperasikan oleh SFMTA, sebuah pesan langsung dari hacker terpampang pada display komputer yang ada di stasiun-stasiun terkait. ”Anda dihack, semua data terenkripsi.” Tidak hanya sampai di situ, hacker tersebut juga meminta sejumlah uang tebusan untuk membebaskan data yang terenkripsi. Tebusan yang diminta oleh hacker tersebut tidak sedikit, seperti yang KabarPenumpang.com kutip dari laman arstechnica.com (28/11/2016) silam, mencapai angka US$73.000 atau setara Rp988 juta. Berasarkan pada informasi yang dihimpun dari berbagai sumber, ransomware ini merupakan jenis malware dari Mamba dan HDDCryptor yang juga dikenal sebagai salah satu generasi awal ransomware yang ditemukan oleh Morphus Labs dan sebuah perusahaan multinasional yang bergerak di bidang perangkat lunak asal Jepang, Trend Micro.
Sumber: extremetech.com
Malware ini memiliki kemampuan untuk mengenkripsi seluruh jaringan dan menggunakan perangkat yang disebut dengan nama DiskCryptor. Akibat adanya serangan virus ini, sistem ticketing tidak bisa berjalan dengan normal selama beberapa hari. Untungnya, para penumpang masih diperbolehkan untuk menggunakan jasa transportasi tersebut dengan cuma-cuma. Di sisi lain, mesin tiket memperlihatkan pesan out of order atau tiket yang tidak tersedia. Hal ini terjadi pada rentan waktu dua hari, yaitu antara tanggal 25 hingga 26 November 2016. Dapat dibayangkan jika salah satu tumpuan transportasi masyarakat San Francisco tersebut mengalami kelumpuhan, tentu saja akan menghambat aktifitas warga yang secara tidak langsung menjadi korban dari tindakan hacker tersebut. Menanggapi serangan hacker tersebut, juru bicara SFMTA, Kirsten Holland menyebutkan serangan hacker tersebut sama sekali tidak mengganggu aktifitas perjalanan para penumpang bus dan Muni Metro. Ia juga menambahkan, perjalanan para penumpang tetap dinyatakan aman walaupun dengan sistem yang tengah mendapatkan serangan. “Kami akan tetap memprioritaskan pemulihan sistem, agar dapat kembali beroperasi secara normal,” tutur Kirsten. Pihak SFMTA menolak untuk membeberkan penjelasan mengenai sistem yang kembali dapat dioperasikan. Terdapat dua kemungkinan yang bisa terjadi. Pertama, SFMTA memenuhi permintaan hacker dan mengirimkan uang sebesar Rp988 juta, atau mereka melakukan pemulihan dari data cadangan yang ada. “Ini bukan waktu yang tepat untuk memberikan rincian mengenai sistem yang sudah kembali normal saat ini,” bebernya.

Toilet Tiga Dimensi Ada di Bandara Sepinggan Balikpapan

Metode gambar tiga dimensi saat ini marak dimana-mana, apalagi dikalangan pecinta seni rupa, mural hingga desain interior. Penggabungan gambar dengan konsep yang membuatnya lebih matang sehingga menghasilkan yang terlihat seperti aslinya. Hal ini juga dilakukan oleh PT Angkasa Pura I (Persero) untuk toilet di Bandara Sepinggan Balikpapan. Dilansir KabarPenumpang.com dari siaran pers yang diberikan Angkasa Pura I (15/5/2017), toilet ini membuat penggunanya seperti berada di alam terbuka dan bisa merasakan suasana pantai dan pemandangan laut. Tak hanya di dekat westafel dan pintu toilet, di bagian dalamnya pun akan merasakan sensasi sendiri saat buang air. Dengan gambar ini, membuat toilet di bandara Sepinggan menjadi toilet pertama dengan tema tiga dimensi. Diketahui, toilet dengan konsep dan nuansa tiga dimensi ini berada di lantai tiga terminal keberangkatan Bandara Sultan Aji Muhammad Sulaiman (SAMS) Sepinggan, Balikpapan tepatnya di depan gate 10.
Angkasa Pura I
“Toiletnya bersih dan unik! Saya suka motifnya. Baru pertama kali saya lihat toilet seperti ini. Luar biasa!” ungkap Rudi, salah satu penumpang Lion Air yang hendak menuju Surabaya. Konsep tiga dimensi ini sendiri, sengaja dihadirkan oleh pengelola bandara untuk meningkatkan kenyamanan pengguna bandara SAMS Sepinggan, Balikpapan yang berada dalam pengelolaan PT Angkasa Pura I. Efek tiga dimensi ini juga ditampilkan di depan toilet dan tepat di bawah skylight. Selain meningkatkan kenyamanan, adanya konsep ini membuat pengguna bandara bisa berfoto ria. Spot ini melengkapi spot swafoto lain yang sebelumnya juga sudah ada bandara Terbaik di Indonesia 2016 versi Bandara Awards ini.
Angkasa Pura I
“Inovasi ini merupakan salah satu upaya untuk menghadirkan pengalaman baru di bandara, sekaligus sebagai wujud peningkatan pelayanan kepada para pengguna jasa. Diharapkan pengguna jasa bandara akan semakin merasa nyaman dan tidak merasa bosan ketika berada di bandara,” ujar Pujiono, General Manager Bandara SAMS Sepinggan Balikpapan. Diketahui, Bandara SAMS menjadi satu dari enam bandara terbaik di Indonesia menghadirkan konsep gaya modern menjadikan bandara ini menarik perhatian selain Bali dan Makassar.

Airavat, Bus AKAP dengan Fasilitas Mini Bar dan Toilet Kering

Mungkin Anda tidak asing ketika mendengar sebuah bus memiliki toilet di dalamnya, karena toilet-toilet tersebut dapat Anda temui di bus-bus Antar Kota Antar Provinsi (AKAP). Namun, toilet yang biasanya ditemui di dalam bus tersebut merupakan toilet basah, dimana masih menggunakan sistem flush. Nah, manufaktur otomotif multinasional raksasa asal Swedia, Volvo dipinang oleh The Karnataka State Road Transport Corporation (KSRTC) di Bangalore, India untuk menyanggupi pengadaan bus yang dilengkapi dengan pantry dan toilet kering.
Sumber: deccanherald.com
Adalah Airavat, nama yang dipilih Volvo untuk menjawab tantangan yang diajukan oleh pihak KSRTC. Ini tidaklah sama dengan bus reguler yang sudah menjajal jalan-jalan di Bangalore, Airavat dilengkapi dengan Airavat Superia dan Airavat Bliss. Airavat Superia adalah sistem toilet kering yang diaplikasikan Volvo pada bus ini, dimana diadopsi dari sistem toilet yang digunakan oleh pihak penerbangan atau kerap kali ditemukan pada sebuah konser atau di tempat-tempat umum. Sedangkan Airavat Bliss merupakan dapur mini yang lengkap dengan perlengkapan dapur pada umumnya.
Sumber: indiatimes.com
Dengan terpasangnya sejumlah perangkat penunjang tadi, maka Airavat bus seakan siap untuk melakukan perjalanan jarak jauh berkelas dengan target utama penumpang yaitu anak-anak dan orang tua. Seperti yang KabarPenumpang.com lansir dari laman indiatimes.com, pejabat KSRTC mengatakan bahwa toilet akan mendapat perlakuan “spesial” dari staf pemeliharaan KSRTC dan makanan yang tersedia merupakan tanggung jawab dari pihak vendor swasta. Layaknya sebuah bus kelas VIP, interior bus yang dapat menampung 41 penumpang ini mampu membuat para penumpangnya betah berlama-lama berada di dalam bus ini. Jarak antar bangku yang terbilang cukup jauh akan memberikan keuntungan bagi penumpang yang merasa kelelahan karena bisa meregangkan kakinya. Ditambah lagi dengan dua fitur utama dari bus ini, Airavat Bliss dan Superia yang seolah memindahkan nuansa rumah ke dalam kabin bus. Bukan hanya itu, suspensi yang digunakan oleh pihak Volvo sendiri juga memegang peranan penting di sini. Penggunaan suspensi yang jauh lebih empuk daripada bus lainnya merupakan suatu hal tidak luput dari pertimbangan Volvo, ditambah lagi dengan tersedianya dapur mini pada moda darat ini. Tentu saja Volvo sudah memikirkan matang-matang bagaimana caranya penumpang dapat menikmati hidangan dalam bus tanpa harus terganggu dengan kondisi jalan yang tidak mulus. Selain sistem suspensi yang mumpuni, kondisi jalan juga menjadi faktor lain yang dapat menunjang kenyamanan dari bus ini, walaupun tidak bisa dipungkiri kendala pada pra-sarana transportasi ini juga yang dialami oleh moda darat lainnya. Kondisi jalan yang tidak rata hingga berlubang akan mengganggu kenyamanan Anda dalam berkendara, terutama jika Anda tengah menyantap hidangan di dalam bus Airavat.

Ransomware WannaCry, Virus Pemeras yang Turut Mengguncang Dunia Transportasi

Beberapa hari ke belakang, tepatnya pada Jumat (12/5/2017) kemarin, Indonesia dibuat kalang kabut dengan adanya sebuah virus yang menyerang komputer di dua rumah sakit terkemuka di Ibu Kota, yaitu Rumah Sakit Harapan Kita dan Rumah Sakit Dharmais. Kedua rumah sakit tersebut terinfeksi virus Ransomware Wanna Decryptor (Wannacry), sebuah malicious software yang polanya adalah mengunci komputer dan mengenkripsi semua data, sehingga komputer tidak dapat dibuka kecuali pengguna komputer tadi mengirimkan ‘tebusan’ senilai US$300 dengan mata uang Bitcoin kepada pemilik virus. Varian Wannacry yang tren sejak kemarin ini merupakan bagian dari alat yang dikembangkan oleh National Security Agency (NSA) yang berhasil diretas hacker berkode Shadow Brokers dan kemudian disebarkan melalui GitHub, salah satu platform pengembangan perangkat lunak terkemuka di dunia. Pertama kali serangan ini dialami oleh British National Health Service (NHS) yang mana menjadikan sistem komputer menolak pasien, menjadwal ulang janji temu pasien, hingga membatalkan operasi. Serangan pada Jumat kemarin menargetkan titik lemah pada sistem operasi Windows. Microsoft mengatakan bahwa mereka merilis update Windows untuk melindungi pengguna terhadap serangan. Berkaitan dengan merebaknya pemberitaan tentang virus Ransomware Wannacry yang sudah menjangkitkan kurang lebih 99 negara tersebut, Direktur Jenderal Kementerian Komunikasi dan Informasi Indonesia (KOMINFO), Semuel Pangerepan mengatakan pihaknya tengah bekerja sama dengan beberapa lembaga terkait lainnya dalam memberantas virus yang menjurus pada tindakan kriminal ini. “Upaya pelokalan server yang terinfeksi sedang dilakukan untuk mencegah penyebaran peralatan perang tersebut,” tuturnya. Sementara itu, dunia transportasi juga menjadi salah satu aspek yang terkena imbas dari penyebaran virus tersebut. Di Rusia, virus tersebut menyerang Russian Railway, salah satu sarana transportasi vital yang menghubungkan Rusia dengan daerah-daerah di sekitarnya. Hal tersebut diungkapkan oleh pihak Russian Railway yang mengatakan sistem IT perkereta-apian di Rusia telah terserang virus yang dimana virus tersebut kini sudah berhasil diisolasi. “Kini kami tengah berupaya untuk menghilangkan virus tersebut dan meng-upgrade sistem anti virus yang sudah ada,” katanya pada rt.com (13/5/2017), sebagaimana yang dilansir oleh KabarPenumpang.com. Masih pada kesempatan yang sama, pihak perkereta-apian Rusia mengatakan serangan virus tersebut tidak mengganggu layanan transportasi di sana. Kejadian seperti ini tentunya mengingatkan mengenai virus yang menyerang sistem perkereta-apian di San Francisco pada tahun 2016 silam, dimana para penumpang tidak bisa membeli tiket kereta yang biasanya mereka beli via komputer. Semua komputer tersebut berstatus offline dalam kurun waktu satu hari. Dalam kasus ini, hacker meminta tebusan senilai 100 Bitcoin atau senilai US$70.000 atau setara Rp946 miliar untuk jaminan.

Inilah Alasan PT Angkasa Pura I Berganti Jadi “Angkasa Pura Airports”

Sebagian dari penumpang transportasi udara mungkin sudah mahfum dengan nama PT Angkasa Pura I (Persero), inilah BUMN yang mengelola 13 bandara di wilayah Tengah dan Timur Indonesia. Namun berbeda dengan koleganya PT Angaksa Pura 2 (Persero), PT Angkasa Pura I lebih sering disebut dengan label “Angkasa Pura Airports.” Tidak sedikit yang bertanya-tanya kenapa nama tentang nama PT Angkasa Pura I berganti menjadi Angkas Pura Airports. Padahal nama Angkasa Pura I sudah cukup terkenal apalagi di dunia penerbangan baik domestik maupun internasional. Memang nama Angkasa Pura I sedikit ambigu dengan Angkasa Pura II, karena memiliki nama yang sama-sama menggunakan Angkasa Pura. Bahkan banyak yang mengatakan Angkasa Pura I dan Angkasa Pura II sama. Bila dilihat dengan nama memang sama, tetapi wilayah operasi kedua Badan Usaha Milik Negara (BUMN) ini berbeda. Dimana AP I memegang 13 bandara di wilayah tengah ke timur Indonesia sedangkan AP II memegang bandara wilayah tengah ke Barat Indonesia. Tak hanya itu, dengan kesamaan nama ini, dunia penerbangan internasional juga terkadang ‘bingung’ untuk membedakannya. “Tidak ada yang berubah sebenarnya dari PT Angkasa Pura I (persero), hanya saja nama Angkasa Pura Airports digunakan untuk branding di dunia penerbangan,” ujar Direktur Utama AP I Danang S Baskoro kepada KabarPenumpang.com, Jumat (12//5/2017) di Kantor Pusat PT Angkasa Pura I . Dengan pencantuman kata dalam bahasa Inggris akan memudahkan perusahaan untuk dikenal di lingkup internasional. Danang mencontohkan pada momen perhelatan bandara-bandara internasional di Incheon, Korea Selatan, branding dengan Angkasa Pura Airports terbukti cukup pas. Meski keluar dengan brand Angkasa Pura Airports, namun secara legal perusahaan tetap menyandang nama PT Angkasa Pura I sesuai anggaran dasar, bahkan alamat website perusahaan tetap menyebutkan nama ap1.co.id. Kami juga mengganti logo, agar bisa di bedakan dengan Angkasa Pura II. Kadang di dunia internasional bingung dengan PT Angkasa Pura I. Karena di dunia penerbangan internasional makanya agar memudahkan kami menggunakan Angkasa Pura Airports,” tambah Danang. Tak hanya nama dan logo yang menjadi branding AP I, Danang menambahkan, akan menambah lima bandara yang ada di bagian tengah dan timur Indonesia untuk masuk dalam layanan AP I. Bandara-bandara tersebut yakni yang ada di Labuan Bajo Kalimantan Utara tepatnya di Tarakan, Palu, Sentani di Papua dan Bangai di Sulawesi. “Nantinya dengan penambahan bandara ini Angkasa Pura I memiliki 18 bandara yang dilayani oleh kami,” tutur Danang.

Lagi dan Lagi, Nama United Airlines Tercoreng

Lagi, nama United Airlines menjadi sorotan publik dunia setelah seorang penumpang maskapai tersebut mengeluhkan perlakuan kurang mengenakkan yang menimpa dirinya. Adalah Nicole Harper, seorang penumpang yang hendak bertolak dari Houston pada 10 April 2017 silam terpaksa buang air kecil di sebuah gelas setelah interupsinya untuk ke toilet ditolak oleh kru pesawat. Kejadian tersebut terjadi sehari setelah Dr. David Dao diseret secara tidak manusiawi oleh kru United Airlines.
Sumber: washtimes.com
Seperti yang KabarPenumpang.com wartakan dari laman news.com.au, Kamis (11/5/2017), Nicole mengatakan pramugari tidak memperkenankan penumpangnya meninggalkan tempat duduk sebelum sang kapten menyelesaikan intruksi mengenai sabuk pengaman. Nicole tidak tinggal diam dan mencoba untuk menjelaskan kepada pramugari. “Setelah menjelaskan bahwa saya memiliki kandung kemih yang terlalu aktif dan perlu menggunakan kamar kecil atau kencing di cangkir, lalu saya diberi sebuah cangkir oleh petugas pramugari,” tulis Harper di Facebook. Keluhan Nicole yang ia unggah ke media sosial Facebook sontak menyambar dunia maya. Menanggapi hal tersebut, pihak United Airlines sendiri mempunyai pembelaan terhadap tindakan yang dilakukan oleh pramugarinya tersebut. “Kami mengikuti peraturan Federal Aviation Administration (FAA) yang berlaku,” ungkap pihak United Airlines dalam sebuah keterangan tertulis. “Anda akan berpikir buang air kecil di sebuah cangkir di dalam pesawat di hadapan keluarga saya dan orang asing akan menjadi bagian terburuk dari kejadian ini. Tapi perlakuan yang saya terima dari pramugari tersebutlah yang menjadi bagian paling buruk,” tutur Nicole. Baca Juga: Duh! Dokter Ini Diseret di Lorong Kabin Pesawat, Kenapa Ya? Tidak bisa dipungkiri, nama United Airlines sejak sebulan belakangan ini seolah mencuri perhatian dunia. Terhitung sejak kasus Dr. David Dao yang diseret orleh kru maskapai karena enggan memberikan tempat duduknya kepada kru maskapai lainnya yang hendak ikut dalam penerbangan tersebut. Kemudian permintaan maaf United Airlines kepada Dr. David Bao yang dinilai tidak serius. Ditambah lagi dengan kasus Lucie Bahetoukilae, seorang wanita yang salah menaiki maskapai hingga akhirnya Ia berada di San Francisco padahal tujuan akhirnya di Prancis. Dan yang terakhir adalah kasus yang menimpa Nicole Harper dimana ia terpaksa menggunakan sebuah cangkir untuk buang air kecil daripada harus pergi ke toilet. Baca Juga: Salah Menerbangkan Penumpang, United Airlines Harus Minta Maaf (Lagi) Kejadian yang akhirnya membuat saham United Airlines turun tersebut terkesan disengaja guna mendompleng nama maskapai asal negeri Paman Sam tersebut. Sebenarnya, jika hal yang dilakukan oleh pihak United Airlines tersebut benar adanya, maka strategi Black Campaign dengan tujuan untuk meningkatkan Brand Awareness yang dilakukan oleh pihak United Airlines bisa dibilang berhasil, walaupun banyak orang mengenal United Airlines dengan image maskapai yang penuh prahara. Sedangkan, jika semua kejadian yang menyangkut dengan penumpang tersebut dilakukan tanpa ada motif black campaign, maka pihak united airlines harus lebih berhati-hati lagi dalam melayani penumpangnya, sehingga tidak akan terulang kembali kejadian miris seperti David Dao, Lucie Bahetoukilae, dan Nicole Harper.

Jatuh Dari Balon Udara Hingga Tersengat Listrik, Gadis Belia Ini Tetap Selamat

Sebuah kejadian miris terekam kamera dimana seorang wanita melakukan selfie sebelum balon udara yang Ia tumpangi menghantam sebuah kabel listrik bertegangan tinggi. Walaupun kejadian tersebut terjadi pada tahun lalu, namun Rebecca Fry, korban jatuhnya balon udara tersebut tidak bisa melupakan momen dimana tubuhnya menghantam tanah dari ketinggian di daerah Northamptonshire, Inggris. Seperti yang KabarPenumpang.com lansir dari laman bbc.com (11/5/2017), Rebecca mengatakan dirinya mengalami luka serius sehingga harus menerima perawatan intensif di salah satu rumah sakit terdekat. “Saya ingat semuanya, saya ingat ketika balon udara menghantam kabel listrik, tubuh saya tersengat, hingga akhirnya terbakar,” tutur Rebecca.
Sumber: bbc
Pada tanggal 22 Mei 2016 silam, Rebecca menjadi penumpang satu-satunya penumpang dalam balon udara nahas tersebut. Dilansir dari sumber yang sama, pihak kepolisian setempat mengatakan pengemudi dari balon udara tersebut tidak mengalami cidera serius, namun tidak dengan Rebecca. Bagaimana tidak, kabel listrik bertegangan 33.000 volt mengaliri tubuh Rebecca dan membuatnya menderita luka bakar yang sangat parah.
Sumber: itv.com
Akibat kejadian tersebut, kurang lebih 2.000 rumah mengalami putus listrik sementara. Menurut saksi mata dari kejadian tersebut, kondisi Rebecca sangatlah mengkhawatirkan, dimana sekujur tubuhnya melepuh akibat sengatan listrik. Selaku korban dari kejadian itu, Rebecca sendiri masih ingat persis apa yang ia rasakan kala itu. “Saya berpikir akan mati, dan saya ingat betul bagaimana sakitnya. Saya amat takut waktu itu,” kenang Rebecca. Hebatnya, Rebecca masih tetap dalam kondisi sadar pasca kejadian. “Saya masih sadar kala itu,” tambahnya. Regu penyelamat berdatangan menuju lokasi kejadian dan langsung membawa Rebecca yang terluka parah menuju Rumah Sakit Queen Elizabeth di Birmingham dengan menggunakan ambulans udara. Ini bertujuan agar Rebecca bisa cepat mendapatkan pertolongan sehingga nyawanya dapat diselamatkan.
Sumber: bbc
Salah satu regu penyelamat yang turut membantu proses penyelamatan tersebut, Dr Rupert Hurry mengatakan ketakutan terbesar yang ia dan regu penyelamat rasakan kala itu adalah Rebecca tidak mampu bertahan hidup. Bagaimana tidak, Rebecca jatuh dari ketinggian, tubuhnya terbakar, serta kemungkinan meninggal setelah tersengat listrik. Namun ia tetap berusaha agar nyawa wanita 22 tahun tersebut tetap tertolong. Rebecca membutuhkan waktu kurang lebih 1 bulan untuk masa penyembuhan luka bakar yang dideritanya.  Tidak hanya itu, ia juga mendapatkan perawatan khusus untuk gangguan stres pascatrauma untuk waktu yang cukup lama. Sebuah momen dramatis terjadi ketika Dr Rupert Hurry mengunjungi kediaman Rebecca beberapa waktu lalu. Ia bertujuan untuk melihat perkembangan Rebecca setelah kejadian nahas tersebut. Kekhawatirannyalah yang mendorong Dr Rupert untuk menyambangi kediaman Rebecca.”Saya jarang sekali menemui pasien yang telah saya tangani,” tutur Dr Rupert. “Ia terlihat amat segar, dan bahagia sekarang. Saya amat bersyukur ketika Ia masih hidup sekarang dan kami bisa saling berbincang,” pungkas Dr Rupert.