[Bagian 3] Jalur Kereta Jawa Pra Kemerdekaan – Lokomotif Mallet Jawara di Jalur Curam

0
(Instagimg)

Setelah bisa mengurangi waktu perjalanan 29 jam menjadi sekitar 13 jam, pada dekaede 30-an atau masa pra kemerdekaan, kereta api di Pulau Jawa telah menggunakan lokomotif Mallet. Lokomotif Mallet adalah lokomotif uap dengan dua bogie yang berdekatan satu sama lain, salah satu ciri lokomotif ini mempunyai tenaga besar untuk melintasi jalur yang dianggap berat. Seperti di daerah Bandung digunakan Mallet dengan konfigurasi 2-8 + 8-0 yakni dengan dua set roda delapan kopling yang independen.

Baca juga: [Bagian 1] Jalur Kereta Jawa Pra Kemerdekaan – Hanya Beroperasi Sampai Pukul 6 Sore

Selain itu juga sepasang roda idle di ujung cerobong yang mana lokomotif ini memiliki cerobong ganda dan mutakhir dalam peralatan mereka. Lokomotif ini dibuat di Amerika dan Belanda serta mampu menarik kereta barang seberat 1500 ton.

Sedangkan jalur Padalarang sendiri mengikuti rute utama lainnya yang menembuh jalur memutar dari Batavia melalui Buitenzorg (Bogor). Pada lereng curam antara Bogor dan Bandung menggunakan lokomotif Mallet tipe 2-6 + 6-0.

Seperti yang dirangkum KabarPenumpang.com dari mikes.railhistory.railfan.net, saat menuju ke arah timur dan berangkat dari Bandung, maka kereta-kereta penghubung dijalankan. Kemudian sebagai pengganti layanan jalur utama yang asli untuk terhubung dengan kereta ekspres Batavia-Surabaya ada di Kroya.

Stasiun Cibatu pada masa lalu

Baca juga: Stasiun Cibatu, Nuansa Vintage Yang Tak Lekang Ditelan Zaman

Pada rute Bandung menuju Cicalengka yang dibangun oleh Staatsspoorwegen (SS), digunakan lokomotif tangki 4-6-4 digunakan untuk menarik kereta ekspres, sedangkan lokomotif Mallet megambil alih muatan menuju ke Banjar. Rute ini melalui pegunungan yang curam, berkelok-keluk dengan kurva yang tajam.

Dengan jalur seperti ini, beberapa lokomotif tangki unik yang memiliki tidak kurang dari enam as berpasangan pernah melaluinya, tetapi keausan rel pada kurva dengan alasan wheelbase berpasangan panjang membuatnya menjadi kompleks dan membuat lokomotif Mallet diganti sehingga keausan berkurang.

Pertengahan antara Bandung, Banjar adalah Cibatu yang mana ada kemiringan jalur di cabang yang menuju ke selatan arah Garut hingga Cikajang yang berada di ketinggian empat ribu kaki diatas permukaan laut.

Charlie Chaplin saat menyambangi stasiun Cibatu

Sedangkan antara Cibatu dan Banjar dengan jalur utama dari Bandung ke Surabaya memiliki jalur menurun 1900 kaki. Bandung berada di 2.332 kaki di atas permukaan laut. Selain kantor pusat administrasi kereta api ada juga sekolah pensinyalan bagi karyawan, sebagian karena peralatan pensinyalan jalur utama yang mutakhir membuat kecepatan tinggi kereta api di Jawa telah dimungkinkan.

Faktor kontribusi lainnya adalah keunggulan trek dan standar perawatannya yang tinggi; rel yang digunakan berbobot 81 pon ke halaman. Beban gandar lokomotif tidak diizinkan melebihi dari dua belas hingga lima belas ton per gandar, dan ini juga membantu menjelaskan popularitas lokomotif Mallet, yang menyebarkan gaya traktif lokomotif yang kuat ke sejumlah besar gandar.

Baca juga: [Bagian 2] Jalur Kereta Jawa Pra Kemerdekaan – Perjalanan Jadi Lebih Cepat Setelah Perang Dunia I Berakhir

Lokomotif mallet diciptakan oleh Anatole Mallet, seorang insinyur Swiss. Mallet merasa uap yang dikeluarkan dari kuk silinder (cylinder cocks) terbuang percuma, padahal uap tersebut masih panas dan dapat dimanfaatkan. Maka Mallet menciptakan lokomotif mallet yang intinya adalah menggunakan kembali uap yang seharusnya dikeluarkan dari kuk silinder untuk selanjutnya menggerakkan tabung silinder di depannya.

Leave a Reply