“HAN” Si Becak Listrik, Dibanderol Rp18 Juta, Akankah Ikut Ramaikan Transportasi Jakarta?

Ketika dilema dengan becak yang hadir kembali dan membuat ibu kota Jakarta semakin macet, putra sulung mantan ketua MPR RI Amien Rais ini justru membawa becak listrik ke Balai Kota DKI Jakarta. Becak listrik yang di bawa Hanafi Rais ini kemudian langsung diterima oleh Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan.

Baca juga: Menilik Asam Garam Becak di Ibu Kota, Sempat Tenggelam Hingga Rencana Penghidupan Kembali

Becak listrik bisa dioperasikan dengan dua cara yakni di gas ataupun di gowes seperti mengendarai sepeda. Pada bagian kemudi sebelah kanan terdapat setang gas yang dilengkapi dengan klakson, lampu dan tuas rem.

KabarPenumpang.com merangkum dari berbagai laman sumber, bahwa becak listrik tersebut diberi nama HAN. Seperti halnya sepeda listrik (Selis), becak listrik ini dilengkapi dengan dinamo sebagai penyimpanan listriknya, jika listrik tersebut habis, pengemudi becak bisa mengayuh pedal agar bisa kembali berjalan.

Hanafi mengatakan, becak listrik tersebut sudah diperkenalkan sejak tahun 2014 lalu di Yogyakarta. “Kalau risetnya sudah sejak tahun 2012. Kalau secara pembuatannya perakitannya itu untuk satu becak konvensional diubah jadi becak listrik itu cuma sebentar cuma lima hari aja,” ujar Hanafi.

Dia mengatakan, becak ini tidak menimbulkan polusi suara seperti becak motor yang beroperasi di beberapa kota di Indonesia. Untuk charging daya listrik becak ini butuh tiga jam dengan daya listrik PLN 100 W.

“Ada charger khusus untuk mengisi daya becak. Becak ini bisa menempuh jarak sekitar 40 km untuk sekali pengisian. Sekali isi daya becak ini bisa dipakai ke Ciputat bolak balik dari Balai Kota DKI,” kata Hanafi.

Kecepatan maksimal laju becak listrik sendiri bisa mencapai 25 km per jam. Untuk harga totalnya sendiri bisa mencapai Rp18 juta dan akan lebh murah jika di produksi secara massal. “Mekanikal listriknya itu kurang lebih Rp 10 juta untuk prototipe ini, tapi kalau mau produksi banyak tentu lebih murah. Kalau total kira-kira bisa Rp 18 juta,” ujar Hanafi yang juga populer sebagai politisi Partai Amanat Nasional (PAN).

Penyerahan becak listrik ini kepada Pemprov DKI Jakarta, dikarenakan rencana Anies yang akan mengoperasikan kembali becak di ibu kota. Sebelumnya, Wagub DKI Jakarta Sandiaga Uno mengatakan wacana untuk mengganti becak yang ada di jakarta dengan sepeda listrik. Menurutnya, sepeda listrik merupakan salah satu angkutan yang masuk kategori ramah lingkungan.

“Jadi kemarin kebetulan ada program bersama-sama PLN, salah satu yang disorot adalah angkutan perumahan yang ramah lingkungan dan yang diusulkan adalah sepeda listrik,” ujar Sandiaga.

Baca juga: Becak: Dikagumi di Eropa, Tersingkir di Dalam Negeri

Seorang pengamat transportasi yang juga Direktur Utama Damri, Setia N Milatia Moemin sempat mengatakan bahwa kebijakan Pemprov DKI terkait penghidupan kembali becak di Ibukota merupakan salah satu sinyal yang mengindikasikan bahwa Ibukota mengalami kemunduran. “Kalau becak sih saya melihatnya tidak manusiawi ya. Buat saya sih itu suatu kemunduran dalam hal kemanusiaan,” ungkap Tia.

Petugas Keamanan Bandara di Bangkok Curi Uang Penumpang, Diamankan Malah Tertawa

Seorang petugas keamanan bandara biasanya merupakan orang-orang terpilih, terlatih dan dapat dipercaya. Sebab meski yang ditangani adalah penumpang, tetapi mereka juga harus waspada dengan barang yang dibawa oleh para penumpang.

Baca juga: [Video] Turun dari Pesawat, Pria Mabuk Gigit Petugas Keamanan Bandara

Sehingga pemeriksaan bukan hanya pada barang bawaan melainkan penumpang juga akan diperiksa melalui mesin detektor. Tapi, apa jadinya jika seorang petugas keamanan justru mencuri barang atau uang milik penumpang?

Belum lama ini, seorang wanita yang merupakan petugas keamanan bandara di Bangkok, Thailand kedapatan mencuri uang milik penumpang. KabarPenumpang.com melansir dari laman dailymail.co.uk (13/3/2018), bahwa petugas tersebut bernama Busakorn Somkwamdee yang tertangkap kamera pengawas atau CCTV saat membuka tutup tas seorang pelancong.

Saat itu tas pelancong tersebut berada di dalam kerancang ban berjalan. Dia kemudian merogoh uang tunai senilai £450 atau sekitar Rp8,6 juta dari tas penumpang sebelum masuk mesin pemindai.

Tampang tak bersalah petugas keamanan yang tertangkap mencuri

Dengan cepat Somkwamdee mengeluarkan seikat besar uang Yuan dan memasukkan saku kanannya. Padahal saat itu ada seorang penumpang yang berdiri di sebelahnya.

Namun penumpang warga negara Cina yang ketakutan langsung menghubungi pihak bandara saat tahu uangnya hilang. Dia menyadari uangnya hilang saat duduk di ruang keberangkatan Bandara Suvarnabhumi Bangkok, Thailand.

Polisi kemudian mengamankan Somkwamdee yang tertangkap basah dengan empat ribu Yuan atau sama dengan £450 di sakunya pada Senin, (12/3/2018) sekitar pukul tiga sore waktu setempat. Tak hanya itu, pihak bandara dan polisi berpikir mungkin ada pencurian lainnya.

Somkwamdee diketahui telah bekerja di bandara Suvarnabhumi Bangkok selama dua tahun. Setelah tertangkap dia kemudian diinterogasi dan mengakui pencurian tersebut serta dikenakan skorsing.

Deputy director of the airport, Kittipong Kittikajorn mengatakan, petugas keamanan tersebut mengakui pencurian itu dan mengklaim dirinya pertama kali melakukannya.

“Pejabat bandara sedang meninjau CCTV untuk memeriksa apakah ada angggota lainnya yang mencuri barang-barang miliki penumpang. Kami percaya mungkin pencurian lain bisa terjadi karena dia melakukan ini dengan sangat profesional. Tangannya cepat dan dia tahu cara menghindari kamera CCTV,” ujar Kittipong.

Dia mengatakan jika semua bukti sudah dikumpulkan, maka petugas keamanan tersebut akan diadili. Tak hanya itu, uang yang diambilnya pun sudah dikembalikan kepada penumpang yang kehilangan yang tersebut.

Baca juga: Gegara Ada Kawanan Sapi di Landasan, Manager Bandara di Nigeria Diganjar Skorsing

“Kami telah menghubungi perusahaan keamanan yang mempekerjakan penjaga dan menginstruksikan mereka untuk memperbaiki proses penyaringan saat mempekerjakan penjaga,” tegas Kittipong.

Bandara memperketat keamanan minggu lalu setelah delapan dari penangan bagasi tertangkap mencuri barang bebas bea senilai sekitar £20 ribu atau sekitar Rp382 juta dari sebuah maskapai penerbangan.

‘Ojek Sepeda’ Kembali Hidup, Grab Menjadi Yang Kedua Beredar

Meski kini tergerus zaman dan lebih banyak terlupakan, sepeda sebagai alat transportasi pribadi atau sebagai ojek seperti di kawasan Kota Tua masih digunakan oleh beberapa pecinta sepeda. Bahkan, kini sepeda lebih banyak sebagai penunjang olah raga bukannya untuk transportasi dan menjadi minoritas dibandingkan angkutan umum lainnya yang membuat udara kota menjadi buruk karena polusi hasil dari knalpot kendaraan.

Baca juga: Populasi Ojek Online Meroket, Apakah ini Pertanda Bagus Untuk Ibu Kota?

Namun, seperti bangkit dari mati surinya, kini ojek sepeda mulai kembali merajai dunia dan berkembang kembali melalui platform ride sharing. Seperti Uber yang sudah memulainnya di San Francissco, Amerika Serikat dan bekerja sama dengan JUMP melalui layanan bike sharingnya.

Hal tersebut kemudian diikuti oleh Grab yang menghadirkan layanan GrabCycle baru-baru ini. KabarPenumpang.com melansir dari laman channelnewsasia.com (9/3/2018), hadirnya GrabCycle ini adalah jasa yang diluncurkan GrabVentures sebagai proyek pertamanya.

GrabVentures sendiri difokuskan menangani proyek vertikal diluar taksi seperti pembayaran dan transportasi. Sebenarnya dinamakan GrabCycle, karena menawarkan berbagai layanan mulai dari bike sharing sampai sekuter listrik.

Penyewaan sepeda ini Grab akan memanfaatkan GrabPay, layanan uang elektronik atau sistem pembayaranan non tunai untuk memudahkan transaksi. Head of GrabVentures Reuben Lai mengatakan, layanan GrabCycle tersebut akan dimulai pada negara Singapura untuk kawasan Asia Tenggara.

Tetapi hal ini tidak menutup kemungkinan akan menyasar semua negara di Asia Tenggara dan tak terkecuali di Indonesia.

“Fokus kami adalah mengujinya untuk memastikan kami mendapatkan konsumen di sini menyukainya. Apabila konsumen menyukainya, maka tidak ada yang menghentikan kami untuk terus mengembangkannya di seluruh Asia Tenggara,” ujar Lai.

Baca juga: Yakin, Uber Mau Rajai Operasional Bus Inggris?

Diketahui, saat ini GrabCycle di Singapura bermitra dengan empat operator yakni oBike, GBikes, Anywheel dan PopScoot. Lai mengkali, dengan GrabCycle ini bisa menjadi pelengkap jaringan transportasi umum yang telah disediakan. Adanya penyewaan sepeda juga bisa membantu penghijauan kota yang lebih asri, ramah lingkungan dan layak untuk dihuni.

“Dengan GrabCycle, kita melangkah lebih dekat ke arah visi menjadi platform dengan pilihan transportasi yang sesuai dengan kebutuhan,” tuturnya.

Kebelet Pipis, Pengemudi Uber Terpaksa Buang Air Seni di Gelas

Beragam tindakan unik yang dilakukan oleh setiap manusia dapat terjadi dimana saja dan siapa saja, tidak terkecuali pengemudi angkutan ride-sharing berbasis aplikasi, Uber. Beragam tindakan yang dilakukan oleh driver angkutan semacam ini kerap kali mengundang simpati para pengemudinya, bahkan tidak sedikit yang mengundang amarah. Namun untuk kasus yang satu ini, silakan Anda kategorikan sendiri.

Baca Juga: Lagi, Oknum Pengemudi Uber di India Coreng Nama Perusahaan

Sebagaimana yang diwartakan KabarPenumpang.com dari laman dailymail.co.uk (16/2/2018), seorang penumpang wanita yang bernama Tirhas Hailu dijemput dengan menggunakan layanan Uber yang ia pesan. Ia dijemput di Hartsfield–Jackson Atlanta International Airport dan perjalanan tersebut berjalan lancar mulanya.

Tirhas Hailu. Sumber: dailymail.co.uk

Namun ketika di tengah perjalanan, si pengemudi berusaha untuk mengambil sebuah gelas. Tirhas berasumsi bahwa si pengemudi merasa haus dan hendak minum. Alih-alih menggunakan gelas untuk minum, si pengemudi malah mengarahkan gelas tersebut ke arah pangkal pahanya. Tirhas semakin dibuat bingung ketika si pengemudi yang tidak disebutkan namanya ini mulai menurunkan ritsleting celananya.

Kondisi yang sangat hening di dalam mobil membuat Tirhas bisa dengan leluasa mendengar segala aktifitas tersembunyi yang dilakukan oleh si pengemudi. Tak lama setelah ia mendengar suara ritsleting yang diturunkan, Tirhas mendengar suara aliran air. Setelah mencari tahu sumber suara tersebut, ia menemukan si pengemudi Uber itu tengah buang air kecil di gelas tersebut.

Dapat dibayangkan jika posisi Anda berada di dalam kondisi tersebut? Mungkin Anda akan merasa jijik atau merasa dilecehkan. Melihat kejadian tersebut, Tirhas langsung berinisiatif untuk mengambil ponsel dan mengabadikan momen tersebut. “Sangat di luar dugaan. Itu satu tindakan yang seharusnya tidak terjadi,” ungkap Tirhas.

Setibanya di tujuan Tirhas menanyakan tindakan yang sudah dilakukan oleh si pengemudi tadi, dan menunjukkan bukti rekaman yang tersimpan di ponselnya. “Itu lebih baik daripada saya mengompol,” itu jawaban yang diterima Tirhas.

Baca Juga: Waspada! Pengemudi Uber Punya Trik Baru Untuk Kelabui Penumpang

Menanggapi hal tersebut, pihak Uber hanya bisa meminta maaf kepada Tirhas atas tindakan yang kurang mengenakkan tersebut. “Kami akan menindak tegas pengemudi yang tidak bisa menghargai konsumen,” jelas pihak Uber.

Ini Dia! Tips Mengemudi Aman ala National Advanced Driving Simulator Laboratories

Apakah Anda pernah mengalami gangguan ketika sedang berkendara? Nampaknya hampir semua pengendara tidak dapat menampik pertanyaan tersebut. Semua pengendara pasti pernah mengalami gangguan selama mereka tengah berkonsentrasi untuk mengemudikan kendaraannya. Tapi sepertinya pertanyaan kedua ini nampaknya akan menimbulkan banyak varian jawaban. Apa yang Anda lakukan untuk mengatasi gangguan yang datang ketika Anda tengah berkendara? Tentu setiap jawaban yang terlontar memiliki pembelaannya masing-masing.

Baca Juga: Duh! Terlalu Sering Gunakan GPS Bisa Turunkan Kinerja Otak

Ya, gangguan yang datang ketika Anda tengah berkendara bisa datang dari mana saja. Mulai dari pesan yang masuk ke ponsel Anda, mengatur ulang GPS Anda, hingga tangisan si kecil yang tidak bisa dibiarkan begitu saja. Bagi sebagian dari Anda yang memanfaatkan keterampilan Multi-Tasking ketika berkendara, tentu hal tersebut akan sangat berbahaya bagi keselamatan Anda sendiri.

Sebagaimana yang dihimpun KabarPenumpang.com dari laman thegazette.com, Direktur National Advanced Driving Simulator Laboratories, Dr. Daniel McGehee menyebutkan bahwa ada tiga jenis gangguan yang datang ketika Anda tengah berkendara: visual, manual, dan kognitif.

Segala macam gangguan yang memaksa Anda untuk memalingkan pandangan dari jalan disebut gangguan visual. Baik itu Anda mengecek ponsel untuk memperbaiki GPS, atau menenangkan si kecil yang menangis di bangku belakang.

Sementara itu, Dr. Daniel menyebutkan bahwa gangguan manual dimulai ketika Anda mulai melepaskan kemudi dari tangan Anda, untuk apapun itu masalahnya. Mulai dari memasukkan ulang koordinat GPS di ponsel hingga menggunakan make up ketika sedang terjebak macet atau berhenti di lampu lalu lintas.

Lebih lanjut, Dr. Daniel mendeskripsikan gangguan kognitif sebagai gangguan yang berasal dari pemikiran si pengemudi, seperti melamun, atau penggunaan aplikasi text-to-type dimana ponsel akan mengetik secara otomatis sesuai dengan kalimat yang Anda sebutkan. Namun menurutnya, gangguan semacam ini terbukti meningkatkan angka kecelakaan lalu lintas.

“Dengan Anda berbicara selama berkendara, itu secara tidak langsung akan memecahkan konsentrasi Anda,” tutur Dr. Daniel. “Mungkin kebanyakan dari Anda merasa percaya diri ketika melakukan segala sesuatunya secara berbarengan, namun secara tidak disadari, hal tersebut memaksa otak kita untuk mengalihkan fokus secara cepat dan lama kelamaan itu akan membuyarkan konsentrasi otak yang dampaknya akan sangat berbahaya,” imbuhnya.

Berlandaskan pada penjelasannya, Dr. Daniel mengatakan bahwa ada baiknya untuk mempersiapkan segala sesuatunya sebelum kita mulai berkendara, mulai dari mempertimbangkan untuk menggunakan kacamata hitam, menyetel posisi bangku senyaman mungkin, memasukkan koordinat GPS dengan benar, atau bahkan mematikan ponsel Anda ketika hendak berkendara. Semua itu dilakukan semata-mata untuk mengingkatkan konsentrasi selama berkendara.

Baca Juga: Penggunaan GPS Diperdebatkan, Inilah Tips Aman Menggunakannya!

Untuk gangguan dari si buah hati yang duduk dengan kursi khusus di jok belakang, persiapkanlah hal-hal yang dapat mencegah si kecil menangis selama kita sedang berkendara. “Karena dengan kesadaran akan keselamatan dan persiapan yang matang sebelum berkendara akan meningkatkan peluang Anda untuk tiba di tujuan dengan selamat.” Tutupnya.

Populasi Ojek Online Meroket, Apakah ini Pertanda Bagus Untuk Ibu Kota?

Walaupun menawarkan kemudahan kepada para penumpang, namun pada kenyataannya kehadiran moda transportasi berbasis aplikasi bukanlah menjadi jalan keluar terbaik untuk mengatasi masalah kemacetan. Ambil contoh di Jakarta, dimana hampir setiap hari ratusan pengemudi ojek online ‘mangkal’ di dekat stasiun demi lebih mendekatkan diri kepada para calon penumpangnya. Kehadirannya yang mungkin dinilai lebih mudah dijangkau oleh calon penumpang berimbas pada kemacetan di daerah sekitarnya.

Baca Juga: Riset INRIX: Setelah Jakarta, Bandung Jadi Kota Termacet Kedua di Indonesia

Padahal, kehadiran transportasi berbasis aplikasi ini pada awalnya ditujukan untuk mengurangi volume kendaraan pribadi di jalanan. Sebagaimana yang tertera di laman resmi Uber, menyebutkan bahwa lebih sedikit kendaraan menandakan bahwa lebih sedikit pula bahan bakar dan polusi udara yang dikeluarkan. Namun pada kenyataannya,kehadiran moda tranportasi berbasis aplikasi ini tidaklah membawa pengaruh positif pada volume kendaraan di Ibukota, malah sebaliknya.

Di sisi lain, kondisi transportasi berbasis massal pun bisa dibilang kurang memadai. Dapat dibayangkan Commuter Line Jabodetabek dan Bus TransJakarta yang selalu dijejali oleh penumpang dikala peak hours? Khusus untuk Bus TransJakarta, kondisi tersebut semakin diperparah dengan kemacetan yang dewasa ini sudah tidak bisa ditolerir lagi. Maka tidak heran jika kebanyakan masyarakat Jakarta dan sekitarnya lebih memilih untuk tetap menggunakan kendaraan pribadi ketimbang menggunakan moda transportasi berbasis massal.

Seperti yang diwartakan KabarPenumpang.com dari laman intelligenttransport.com (12/3/2018), sebuah penelitian yang dilakukan oleh Institute of Transportation of California menemukan bahwa peningkatan penggunaan aplikasi ride-sharing seperti Gojek, Uber, dan Grab berpengaruh pada pengurangan jumlah penumpang angkutan berbasis massal seperti Commuter Line dan Bus TransJakarta. Dengan begitu, tingkat polusi udara di kota terkait pun secara otomatis akan meningkat.

Untuk kasus pengadaan Electric Vehicles (EV) yang hingga saat ini masih digalakkan di beberapa negara di dunia nampaknya bisa menjadi solusi untuk masalah polusi udara yang sudah disebutkan di atas, namun tidak untuk masalah kemacetan. Banyak pengamat transportasi yang menilai bahwa hanya dengan beralih menggunakan transportasi umum sajalah yang mampu mengentaskan masalah kemacetan saat ini

Menurut Dirut Perum Damri yang juga merangkap sebagai pengamat transportasi, Setia N. Milatia Moemin, penggunaan sarana transportasi umum mampu menampung lebih banyak penumpnag dalam sekali perjalanan. “Semisal ada 100 orang, mungkin butuh 20 kendaraan pribadi (mobil) untuk menampung semuanya. Namun 100 orang tersebut bisa langsung berangkat dengan menggunakan satu buah LRT atau MRT,” tuturnya kepada KabarPenumpang.com, Kamis (1/3/2018) kemarin.

Baca Juga: Bicara Kemacetan Lalu Lintas, Bangalore Lebih Parah dari Jakarta!

Masalah ini benar-benar bergantung pada kesadaran seseorang untuk beralih menggunakan transportasi umum, dan bagaimana pemerintah dapat menarik minat masyarakat Ibukota untuk beralih meninggalkan kendaraan pribadinya.

Deutsche Bahn Adopsi Lampu LED ‘Luminous’ di Peron, Mudahkan Akses Penumpang Turun dari Kereta

Implementasi berbagai jenis peron di dunia perkeretaapian membuat para petugas di dalam ular besi harus memberi tahu para penumpang tentang pintu sebelah mana yang akan terbuka. Ambil contoh seperti di KRL Jabodetabek, dimana petugas akan mengumumkan pintu sebelah mana yang akan terbuka di pemberhentian selanjutnya. Semata-mata, tindakan ini dilakukan supaya penumpukkan penumpang yang terjadi di dalam kereta ketika tiba di satu stasiun dapat diminimalisir.

Baca Juga: Tanggapi Waktu Penumpang Yang ‘Terbuang,’ Deutsche Bahn Hadirkan Gym di Idea Train

Nah, sehubungan dengan hal tersebut, di Jerman, pengumuman pintu mana yang akan terbuka juga diketahui oleh penumpang yang hendak naik kereta lho! Sebagaimana yang diwartakan KabarPenumpang.com dari laman railway-technology.com (8/3/2018), operator kereta di Negeri Bavaria, Deutsche Bahn (BD) meluncurkan sistem pencahayaan peron terbaru yang dapat menunjukkan darimana penumpang dapat masuk ke dalam kereta. Bisa dibilang, sistem seperti ini merupakan yang pertama di Jerman.

Pada awal Maret 2018 kemarin, DB meluncurkan sistem pencahayaan baru ini di Stasiun Bad-Cannstatt, Stuttgart, Jerman. Sebanyak 670 lempengan beton yang dilengkapi dengan lebih dari 2.000 lampu LED dipasang di peron sepanjang 210 meter, dimana peron tersebut melayani tiga jalur S-Bahn di kota itu. Kurang lebih dua menit sebelum kereta sampai di stasiun tersebut, lampu LED yang terpasang di peron akan menyala dan membentuk simbol yang menunjukkan di mana pintu kereta dapat diakses oleh para penumpang.

Guna melancarkan proyek percontohan enam bulan ini, DB menggaet SIUT, perusahaan asal Berlin yang akan menyediakan beton ringan sebagai ‘rumah’ dari lampu-lampu LED tersebut, dan OpenCapacity, sebuah perusahaan teknologi asal Inggris yang akan mengembangkan solusi untuk mengukur hunian gerbong kereta individu.

Dalam mengembangkan sistem ini, DB mengatakan bahwa pihaknya akan menyertakan sistem pengukuran beban pada tiga armada yang diuji coba. Nantinya, alat pengukur berat  tersebut akan mengirimkan sinyal kepada sistem lampu peron dan secara otomatis, lampu peron akan menyala yang mengindikasikan bahwa di situlah peluang tertinggi para penumpang untuk bisa mendapatkan tempat duduk.

“Dengan mengukur utilisasi di kereta dengan menggunakan sinyal WLAN, kamera dan beban gandar, sistem lampu peron ini akan menampilkan kapasitas masing-masing gerbong sebelum rangkaian kereta tiba di stasiun,” ungkap pendiri SIUT, Jörn Reinhold. “Lampu akan berkelip dalam berbagai warna, dimana masing-masing warna mengindikasikan kapasitas penumpang yang berbeda-beda di setiap gerbongnya,” imbuhnya.

Baca Juga: Berlin-Munich Kini Hanya Empat Jam dengan Intercity-Express Sprinter

Hadirnya sistem seperti ini semata-mata untuk meningkatkan kenyamanan kepada para penumpang yang hendak menggunakan layanan S-Bahn. Diharapkan, sistem lampu peron ini dapat meredakan sejumlah keterlambatan kereta yang kerap terjadi dan mampu untuk membantu penumpang menemukan tempat duduknya di dalam kereta. Keren, ya!

Moratorium, Operator Taksi Online Tak Boleh Tambah Pengemudi

Pernah terpikir jika mendaftar menjadi pengemudi taksi online akan ditolak? Hal tersebut akan terjadi, sebab baru-baru ini, pemerintah telah memutuskan untuk melakukan moratorium bagi pendaftaran pengemudi taksi online. Ini artinya dimana masyarakat tidak lagi bisa mendaftar menjadi pengemudi taksi online mulai sekarang.

Baca juga: Antisipasi Tindakan Negatif, Kota Cambridge Pasang CCTV di Taksi Online

KabarPenumpang.com merangkum dari berbagai laman sumber bahwa, Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman Luhut Binsar Pandjaitan mengatakan, keputusan pemerintah untuk menghentikan sementara perekrutan pengemudi taksi online adalah untuk menjaga penghasilan para penegemudi itu sendiri.

“Iya pendaftaran kita minta dibatasi, karena jumlah berlebih. Nanti akan menimbulkan masalah,” ujar Luhut.

Hal tersebut disampaikan Luhut, agar pengemudi taksi online bisa stabil membayar cicilan mobil mereka. Sebab saat ini 70 persen pengemudi taksi online berstatus mencicil kendaraan mereka.

“Karena 70 persen dari hasil studinya kendaraan-kendaraan itu dibeli pakai kredit. Nah kalau nanti jumlah penumpang dengan jumlah kendaraan tidak seimbang nanti dia nggak bisa bayar (cicilan),” kata dia.

Tak hanya itu, Direktur Jenderal Perhubungan Darat Kementerian Perhubungan, Budi Setiyadi mengungkapkan, moratorium ini juga dilakukan lantaran jumlah pengemudi sudah melebihi kuota yang ditetapkan sebelumnya. Di Jabodetabek sendiri pengemudi taksi online sudah menembus angka 175 ribu.

“Tadi disampaikan saat ini sudah 175 ribu, makanya tadi pak Menko Maritim selaku pimpinan rapat menyampaikan sekarang berhenti semua enggak ada pendaftaran baru deh. Itu (175 ribu) satu aplikator di Jabodetabek,” kata Budi.

Pengawasan untuk menekan angka ini nantinya akan dilakukan melalui dashboard yang dijalankan oleh Kementerian Komunikasi dan Informatika sambil melakukan perbaikan sistem. Budi mengatakan, adanya informasi yang diperoleh dari dashboard taksi online yang dibuat oleh Kominfo masih kurang. Dirinya berharap dengan perbaikan sistem informasi tersebut bisa lebih baik.

Namun, penghentian sementara pendaftaran pengemudi taksi online ini belum jelas sampai kapan dilakukan.

“Pokoknya sampai ada ketetapan berikutnya, ditetapkan ada moratorium dan belum tahu sampai kapan,” ujar Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi.

Baca juga: Anda Ingin Diberi Rating 5 oleh Pengemudi Uber? Ikuti Tips Ini!

Langkah ini bukan hanya diterapkan di Jabodetabek melainkan seluruh wilayah Indonesia. Dimana semua operator taksi online yang ada dilarang menambah jumlah mitra pengemudinya.

Sebagai informasi, Kementerian Perhubungan sudah menetapkan kuota taksi online di Indonesia per daerah. Berikut jumlahnya :

1. Jabodetabek: 36.510 kendaraan
2. Jawa Barat: 15.418 kendaraan
3. Jawa Tengah: 4.935 kendaraan
4. Jawa Timur: 4.445 kendaraan
5. Aceh: 748 kendaraan
6. Sumatera Barat: 400 kendaraan
7. Sumatera Utara: 3.500 kendaraan
8. Sumatera Selatan: 1.700 kendaraan
9. Lampung: 8.000 kendaraan
10. Bali: 7.500 kendaraan
11. Sulawesi Utara: 997 kendaraan
12. Sulawesi Selatan: 7.000 kendaraan
13. Kalimantan Timur : 1.000 kendaraan
14. Yogyakarta: 400 kendaraan
15. Riau: 400 kendaraan

Total 91.953 kendaraan

Mau Tetap Cantik ke Pesta Meski Naik Kereta Komuter? Baca Tips Ini!

Kereta komuter seperti KRL (Kereta Rel Listrik) dan KRD (Kerete Rel Diesel) menjadi salah satu moda transportasi dengan ongkos murah dan juga cepat sampai ke tujuan. Namun dengan menggunakan KRL atau KRD Anda sebagai pengguna harus siap berdesak-desakan, terutama di kala jam-jam sibuk atau hari-hari tertentu di akhir pekan.

Baca juga: Antisipasi Pelecehan Seksual di KRL, Ikuti Tips Berikut Ini

Tak hanya itu, meski sudah di lengkapi dengan pendingin udara, terkadang saking penuh dan sesaknya, penumpang juga harus rela berpanas-panasan dalam gerbong. Karena hal ini penampilan justru terlihat kurang rapi setelah sampai tempat tujuan.

Baju yang kusut, tubuh berkeringat, dandanan luntur atau wajah kusam hingga rambut ‘lepek’ menjadi masalah ketika menggunakan kereta. Tetapi bagaimana ketika Anda harus menghadiri pesta dan harus naik kereta?

Bagi Anda penumpang komuter wanita, pastinya sangat ingin tetap terlihat rapi, cantik dan wangi saat menghadiri pesta tersebut. KabarPenumpang.com merangkum dari berbagai laman sumber, ada beberapa tips untuk wanita yang akan menghadiri pesta menggunakan kereta.

1. Pakai baju kasual
Untuk menghindari pakaian yang kusut karena berdesakan dalam kereta, sebaiknya gunakan pakaian kasual dan dress atau kebaya modern yang akan digunakan masukkan dalam tas. Jika tidak ingin repot bisa menggunakan legging dan setelah sampai di double dengan kain atau rok panjang.

2. Base maku up
Tidak mau make up luntur saat dikereta karena kepanasan? Bisa aplikasikan base make up seperti alas bedak, bedak dan lip gloss. Kemudian jangan lupa lengkapi alat make up di tas dan sempurnakan dandanan di toilet tempat Anda berpesta.

3. Gunakan alas kaki yang nyaman
Tidak disarankan untuk menggunakan sepatu hak tinggi saat bepergian naik kereta tak terkecuali saat ke pesta. Baiknya gunakan sepatu yang nyaman dan bawa sepatu hak tinggi Anda dalam tas, kemudian gunakan saat tiba di tujuan. Ini untuk memudahkan Anda dan membuat nyaman dalam perjalanan, apalagi jika Anda harus berdiri karena tidak mendapat tempat duduk.

Baca juga: Berkereta Lebih dari 8 Jam, Siapkan Jurus Ini Agar Anda Survive!

4. Jepit rambut dengan jedai
Seorang wanita pasti sering menggunakan jepitan untuk menjepit rambut agar tidak berantakan. Jedai alias jepitan badai bisa digunakan dan menjadi cara ampuh untuk mengantisipasi rambut lepek karena keringat. Dengan jedai juga bisa membuat rambut lebih mengembang dan ikal alami setelah jepitan dilepas. Dijamin rambut akan cetar seperti badai.

Sambut Rute Perth – London, Qantas Bantu Penumpang Atasi Jetlag dengan Coklat, Cabai dan Teh Herbal

Jetlag biasanya dirasakan penumpang yang melakukan penerbangan jarak jauh dan memiliki perbedaan waktu dari negara asalnya. Namun, jetlag sendiri bisa hilang secara normal paling lama dua hari. Maskapai plat merah Australia, Qantas yang memiliki penerbangan jarak jauh dengan rute Perth menuju London membantu mengatasi jetlag pada penumpang.

Baca juga: April 2018, Qantas Buka Penerbangan Langsung Perth – London

KabarPenumpang.com merangkum dari laman airlineratings.com (1/3/2018), para ilmuwan baru-baru ini menemukan cara untuk membantu penumpang mengatasi jetlag dengan coklat, cabai dan teh herbal. University of Sydney Charles Perkins Center dan pengalaman dalam dapur Qantas serta koki selebriti Neil Perry’s Rockpool baru saja menemukan pada Kamis (9/3/2018) kemarin.

Pilihan dan penyegaran baru pada hidangan yang bisa membantu penumpang tidur pada waktu yang optimal selama penerbangan. Salah satunya adalah teh herbal yang dikembangkan oleh produsen Qantas dan teh Dilmah dengan lemon verbena chamomile dan sereh untuk membatu dalam relaksasi.

The tuna poke salad dan Poached eggs with Kale, quinoa, grilled haloumi (Qantas)

Minuman yang baik pada malam hari adalah coklat panas atau gabungan susu dan coklat yang menghasilkan asam amino dimana mampu merangsang tidur. Ini bertujuan untuk membantu siklus tidur pada tubuh penumpang.

Hidangan yang disediakan pun bisa membantu dalam menghidrasi tubuh seperti sayur hijau, timun, stroberi, seledri dan beberapa jenis lainnya yang memiliki kandungan probiotik untuk membantu pencernaan. Makanan yang dicampur seperti salad tuna dan salad lainnya dan ditambahkan cabai sesuai waktunya menjadi makanan ringan yang bisa disantap penumpang.

Cabai sendiri sebenarnya bisa mengganggu tidur sehingga bisa dihindari pada menu makan malam, tetapi cabai juga bisa membantu orang bangun di pagi hari.

“Bekerja dengan spesialis tidur klinis, ahli gizi dan ilmuwan metabolik, kami telah merancang pilihan menu baru dengan menggunakan bahan-bahan lezat yang memiliki manfaat tambahan dari hidrasi, membantu tidur dan mengurangi jetlag. Menu yang kami uji di rute Perth ke London akan terus menawarkan pilihan favorit pelanggan namun memiliki beberapa penambahan dan pengecualian bahan khusus,” kata creative director of food, beverage & service, Perry.

Direktur akademik Charles Perkins Center Stephen Simpson mengatakan menu baru tersebut menggabungkan pengetahuan ilmiah terkini tentang nutrisi dan hidrasi. Simpson mengatakan bahwa tim pusat tersebut telah melakukan uji coba melalui literatur ilmiah untuk menemukan bukti makanan atau nutrisi dalam makanan yang dapat mendukung waktu tidur atau bantuan untuk membangunkan orang.

“Beberapa hal yang kami temukan, tampaknya didukung dengan baik oleh buktinya adalah jika Anda ingin mempromosikan awitan tidur maka kombinasi Tryptophan, yang merupakan salah satu asam amino yang ditemukan dalam protein, dengan karbohidrat adalah Cara terbaik,” katanya.

Para ilmuwan Charles Perkins Center juga ingin mengambil langkah selanjutnya yang melibatkan uji coba dengan sekelompok penumpang menggunakan teknologi serta hasilnya dapat dipakai. Teknologi ini akan digabungkan dengan aplikasi yang dirancang untuk mengumpulkan data tentang pola tidur dan aktivitas, keadaan mental, pola makan dan hidrasi sebelum, selama dan setelah penerbangan jarak jauh mereka.

Studi ini akan mempertemukan para peneliti melintasi bidang seperti nutrisi, aktivitas fisik dan tidur untuk memetakan strategi untuk melawan masalah perjalanan seperti jetlag. Ini akan melihat isu-isu seperti latihan dan gerakan on-board, desain menu dan waktu servis, persiapan pra dan pasca penerbangan serta waktu transit.

Baca juga: Atasi Jetlag, Qatar Airways Hadirkan Kabin dengan Fitur Khusus di Airbus A350-1000

Pemeriksaan lingkungan kabin juga akan melihat bagaimana faktor-faktor seperti pencahayaan dan suhu mempengaruhi penumpang. Simpson yakin ada potensi penemuan dan inovasi kesehatan, sains dan teknik yang luar biasa untuk keluar dari kemitraan yang bisa memberi banyak manfaat.