English Electric Balloon, Tulang Punggung Sistem Trem di Blackpool

Bagi Anda para pecinta film Harry Potter, tentu Anda akan familiar dengan bentuk dari moda ini. Di salah satu adegan di film Harry Potter and the Prisoner of Azkaban, Harry menggunakan Knight Bus ketika dirinya hendak bertolak menuju Leaky Cauldron. Ya, kendaraan sihir yang ditunggangi Harry dan rombongan penyihir lainnya memiliki bentuk mirip dengan trem English Electric Balloon. Bedanya hanya terdapat pada desain bagian depan, jalur yang digunakan, dan jumlah tingkatnya saja.

Baca Juga: Ternyata, Tidak Hanya Bus yang Bertingkat, Trem Juga! 

Walaupun tidak sama, namun desain Knight Bus di seri ketiga Harry Potter ini dan trem English Electric Balloon sangatlah mirip, terutama pada bagian lekuk dari kedua moda ini. Nah, seperti yang dihimpun KabarPenumpang.com dari berbagai laman sumber, English Electric Balloon merupakan jenis Double-Decker Tram yang dioperasikan oleh Blackpool Tramway. Memulai operasi pertamanya pada 10 Desember 1934, moda ini menjelma menjadi tulang punggung jaringan trem di Blackpool seiring berjalannya waktu.

Lambat laun, English Electric Balloon pun makin banyak diminati oleh warga Blackpool sehingga pada tahun 2012 kemarin, otoritas setempat mengkonversi moda ini menjadi light rail network yang modern. Sama seperti kehadiran sarana transportasi publik dewasa ini, di awal kemunculannya, English Electric Balloon ditujukan untuk menggantikan peran dari mobil-mobil pribadi seperti Dreadnought yang berseliweran di Blackpool kala itu.

Millennium Cars. Sumber: wikimedia

Dari total 27 armada yang beroperasi di awal kemunculannya, 13 trem ini memiliki desain atap yang terbuka, sedangkan sisanya beratap tertutup. Hampir keseluruhan moda yang mampu menampung penumpang hingga 94 orang ini memiliki satu buah pintu masuk yang langsung terkoneksi dengan tangga menuju dek atas. Di Blackpool sendiri, rute masing-masing moda ini ditandai dengan nomor yang tertera di badan trem, semisal 226, 712, 714, dan seterusnya. Seiring berjalannya waktu, modernisasi pun terus dilakukan agar moda ini tetap mengikuti tren yang berkembang.

Jubilee Cars. Sumber: istimewa

Sebut saja Jubilee Cars, hasil peremajaan dari English Electric Balloon pada periode 70-an. Perombakkan ini terjadi karena otoritas transportasi setempat melihat bahwa pengaplikasian One-Man Operated (OMO) dapat mempengaruhi jumlah penumpang di dalamnya. Tidak bisa dipungkiri, jumlah penumpang dari moda yang mampu melesat hingga kecepatan 69 km/jam ini terus mengalami peningkatan setiap tahunnya.

Baca Juga: Ternyata, Trem Listrik di Jakarta Lebih Dulu Ketimbang di Belanda

Menyusul Jubilee Cars, ada Millennium Cars yang mengalami peremajaan direntang waktu 1998 hingga 2004. Perubahan dari moda ini terlihat dari bentuknya yang lebih memanjang sehingga dapat menampun lebih banyak penumpang di dalamnya. Di balik semua peremajaan yang dilakukan oleh operator English Electric Balloon, ada beberapa armada ayng dipertahankan keasliannya untuk berperan sebagai Heritage Cars.

Bagi Anda yang tertarik untuk mendalami sejarah dari berbagai jenis trem yang popular di Tanah Britania, Anda bisa mengunjungi National Tramway Museum yang terletak di Derbyshire, Inggris.

1 April 2018, India Wajibkan Penggunaan GPS di Angkutan Umum, Indonesia Bagaimana?

Beberapa hari ke belakang, santer beredar kabar bahwa Kepolisian Republik Indonesia melalui Kasubdit Bin Gakkum Polda Metro Jaya, AKBP Budiyanto mengatakan bahwa penggunaan Global Positioning System (GPS) ketika berkendara merupakan sebuah tindakan yang dapat mengurangi konsentrasi ketika berkendara.

Baca Juga: Demi Aman dan Nyaman, Bus di India Ini Gunakan Teknologi Pemindai Wajah

Pernyataan AKBP Budiyanto tersebut merujuk pada Pasal 106 ayat (1) Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan (LLAJ) yang menyebutkan bahwa setiap pengendara kendaraan bermotor harus berlaku wajar, penuh konsentrasi.

“Bermain handphone (termasuk menggunakan GPS), terpengaruh alkohol, konsumsi narkotika termasuk melihat video DVD itu tidak boleh. Itu melanggar Pasal 283 juncto Pasal 106 ayat (1),” ujar AKBP Budiyanto ketika dikonfirmasi wartawan, Jumat (2/3/2018).

Namun hal tersebut bertolak belakang dengan pernyataan Dirlantas Polda Metro Jaya, Kombes Halim Pagarra yang mengatakan bahwa pihaknya tidak pernah mengeluarkan larangan pengemudi untuk menggunakan GPS. “Kami tidak pernah melarang penggunaan aplikasi GPS di ponsel sebagai petunjuk arah saat berkendara,” ujarnya, dikutip dari laman Kompas.com (6/3/2018).

Dengan catatan, pengemudi menggunakan aplikasi penunjuk arah tersebut secara bijaksana dan tidak menyalahi aturan, dimana kondisi tersebut bisa saja menurunkan konsentrasi pengemudi. “Misalkan saja menggunakan aplikasi GPS sambil dipegang tangan kiri, lalu tangan kanan menyetir atau memegang stang motor. Lalu selama berkendara melihat ke layar ponsel, itu yang berbahaya,”  paparnya.

Tapi, terlepas dari polemik yang terjadi di Indonesia tentang penggunaan GPS selama berkendara, pemerintah India ternyata melakukan hal yang sebaliknya. Dilansir KabarPenumpang.com dari laman indiatimes.com (15/2/2018), pemerintah India tengah mempersiapkan segala kebutuhan demi merealisasikan  program pemasangan GPS di semua angkutan umum yang rencananya akan diberlakukan mulai tanggal 1 April 2018 mendatang. Pelaksanaan program ini dilandaskan pada upaya pemerintah untuk meningkatkan keselamatan dan keamanan penumpang yang menggunakan sarana transportasi umum.

Tidak hanya GPS, otoritas berwenang India juga menghimbau untuk melengkapi setiap sarana transportasi umum dengan sistem tombol darurat otomatis dan tampilan rincian pengemudi di dalam moda tersebut.

Dalam upayanya untuk merealisasikan program tersebut, pemerintah India mempercayakan teknologi milik Center for Development of Advanced Computing (C-DAC), dimana teknologi yang dikembangkan oleh perusahaan ini mampu menampilkan, melacak, menemukan ribuan kendaraan secara real-time.

Baca Juga: SafeDrive, Bantu Anda Hadapi Kondisi Darurat Selama Berkendara

Pemerintah negara bagian telah mengubah Peraturan Kendaraan Bermotor Kerala 1989 untuk memasukkan peraturan 151A untuk memasukkan rekomendasi pemasangan GPS tersebut, dan ketentuan yang diubah akan mulai berlaku mulai per tanggal 1 April 2018. Guna melancarkan keberlangsungan kerja sama di antara dua belah pihak, C-DAC pun mengambil langkah untuk meminta spesifikasi teknis dari teknologi GPS tersebut.

Walau dideru sejumlah masalah yang mampu menghambat peluncuran program peningkatan keselamatan dan keamanan penumpang tersebut, namun kedua belah pihak optimis bahwa rencana ini dapat terrealisasi tepat waktu dan sasaran.

India Lakukan Survei Stasiun Terbersih, Indonesia Kapan?

Dengan jumlah penduduk lebih dari 1,3 miliar jiwa, urusan kebersihan pada fasilitas umum sampai saat ini masih jadi momok tersendiri di sebagian besar wilayah India. Selain beragam terobosan yang telah digadang para teknokrat dari Negeri Anak Benua, cara lain dengan pemberian peringkat kebersihan pada stasiun bisa menjadi upaya untuk mendorong upaya kebersihan di pra sarana transportasi.

Baca juga: Stasiun Gorakhpur, Punya Peron Terpanjang di Dunia

Awal Januari 2018 ini, Ixigo salah satu lembaga survei di India melakukan penilaian terhadap kebersihan stasiun-stasiun yang tersebar di seluruh India. KabarPenumpang.com merangkum dari laman thenewsminute.com (16/1/2018), bahwa hasil survei didapatkan 40 persen atau nilai tertinggi berada pada stasiun di India bagian selatan.

Dari nilai 5 stasiun Kozhikode di Kerala mendapat nilai 4,4 dan menjadi stasiun terbersih di India. Sedangkan stasiun Hazrat Nizammudin di Delhi mendapat nilai terendah pada hasil survei. Survei yang dilakukan hasilnya berdasarkan penilaian dari para pengguna kereta api.

“Swarna Jayanti Rajdhani telah diberi nilai kereta terbersih, sementara Karnataka Express mendapat peringkat terendah,” kata hasil survei tersebut.

Ixigo mengklaim sekitar 40 persen dari stasiun kereta apai di India, nilai tertinggi untuk kebersihan berada di India bagian selatan, 20 persen India bagian Tengah, 20 persen di Barat dan sisanya di Utara. Untuk stasiun yang dinilai tidak terlalu bersih berada di Uttar Praseh, Delhi dan Rajasthan.

Stasiun terbersih lainnya yang berada di bawah peringkat Kozhikode adalah Hubli Junction di Benggala Barat, Davangere di Karnataka, Dhanbad Junction di Jharkhand, Jabalpur di Madhya Pradesh, Bilaspur Junction di Chhattisagarh, Vadodara dan Rajkot di Gujarat, Falna di Rajasthan, dan Vijayawada Junction di Andhra Pradesh.

Sedangkan stasiun lainnya yang berada di peringkat terndah adalah Muzaffarpur dan Gaya Junctions di Bihar, Mathura dan Varanasi Junctions di Uttar Pradesh, Ajmer Junction di Rajasthan, dan Bhusaval Junction di Maharashtra.

“Kereta api India telah tumbuh sebesar 6,58 persen selama beberapa bulan terakhir di tahun 2017 saja,” Ujar Aloke Bajpai, CEO dan  co-founder Ixigo.

Meski kini perkeretaapian India telah melakukan upaya untuk meningkatkan kualitas perjalanan dengan membuat stasiun kereta lebih bersih, tetapi masih ada banyak yang harus di perbaiki. Ixigo bekerja sama dengan Indian Railway Catering and Tourism Corporation untuk memfasilitasi pemesanan tiket kereta api untuk lebih dari tujuh juta pengguna di aplikasi ini.

Pada bulan Mei tahun lalu, Perkeretaapian mengumumkan stasiun Beas sebagai yang terbersih, diikuti oleh Vishakhapatnam dan Khammam, dari 407 stasiun di India. Daftar stasiun terbersih dilepaskan berdasarkan survei yang dilakukan oleh Kereta Api.

Baca juga: Stasiun Kachiguda di India, 100 Persen Lakukan Efisiensi Energi

Stasiun di Jogbani, Madhubani dan Sagauli – semua di Bihar – adalah yang paling kotor di peringkat keseluruhan. Di antara stasiun yang paling sibuk, Darbhanga di Bihar adalah yang paling kotor, diikuti oleh Bhopal di Madhya Pradesh, dan Ambala di Haryana.

India menjadi negara dengan jaringan kereta terluas sudah mampu mensurvei, Indonesia yang tak jauh berbeda apakah akan melakukan hal yang sama dan kapan lembaga survei akan menilai stasiun kereta terbersih?

Ternyata, Tidak Hanya Bus yang Bertingkat, Trem Juga!

Pada periode 80-an hingga 90-an, terdapat moda transportasi di Ibukota yang mampu menampung penumpang melebihi kapasitas bus normal, dan moda ini sempat menjadi tulang punggung transportasi Jakarta di kala masa jayanya. Ya, bus tingkat. Hadirnya bus ini terbukti ampuh untuk ‘menjaring’ penumpang lebih banyak dengan harga murah. Namun seiring berjalannya waktu, moda ini terpaksa memasuki masa pensiun setelah dianggap tidak lagi berterima di Ibukota.

Baca Juga: Si Jangkung Merah dari Inggris Pernah Jadi Primadona Transportasi Jakarta

Berbicara soal moda darat bertingkat, ternyata tidak hanya bus saja lho yang bertingkat. Ada moda darat lain yang memiliki deck tambahan pada bagian atasnya, walaupun moda ini tidak bisa kita temui di Indonesia.

Double-Decker Tram di Alexandria. Sumber: wikipedia

Ya, moda yang dimaksud adalah Double-Decker Tram. Sesuai dengan namanya, ini merupakan sebuah trem yang memiliki dua tingkat. Dilihat dari segi penampilannya, Double-Decker Tram ini sendiri terbagi ke dalam dua jenis, ada yang bagian atasnya tertutup, ada juga yang terbuka.

Double-Decker Tram di Dubai. Sumber: wikipedia

Double-Decker Tram sendiri sempat populer di beberapa kota di Benua biru, seperti Berlin, London, dan beberapa Negara Persemakmuran, termasuk Auckland, Christchurcasmania di Australia, dan beberapa negara lainnya di kawasan Asia. Namun beberapa kota seperti Hong Kong, Alexandria, Dubai, dan Blackpool masih tetap mengoperasikan Double-Decker Tram ini.

Double-Decker Tram di Hong Kong. Sumber: wikipedia

Dilansir KabarPenumpang.com dari laman Wikipedia.com, di awal kemunculannya, Double-Decker Tram ini masih belum menggunakan mesin atau bahkan tenaga listrik sekalipun, masih ditarik dengan menggunakan kuda. Ketika perkembangan jaman mulai merambah di Inggris, barulah Double-Decker Tram ini berevolusi menggunakan tenaga listrik pada tahun 1885, dan Blackpool menjadi kota pertama yang mengoperasikan sarana transportasi umum ini.

Ternyata, trem ini digandrungi oleh banyak kalangan, sampai- sampai London Transport sebagai pemangku kepentingan transportasi warga Inggris mendapat julukan sebagai operator yang paling banyak mengoperasikan Double-Decker Tram. Namun sayangnya, kedigdayaan Double-Decker Tram di jalanan Inggris hanya bertahan hingga tahun 1952 saja.

Double-Decker Tram Listrik Pertama yang Disimpan si National Tramway Museum . Sumber: wikipedia

Walaupun bentuk dan modelnya beragam, namun secara keseluruhan desain dari trem bertingkat ini bisa dibilang sama persis dengan Routemaster, ikon bus tingkat asal London. Bedanya hanya terletak pada jalur yang dilaluinya. Secara harfiah, trem masuk ke dalam kelas Light Rapid Transit (LRT), dimana angkutan umum berbasis massal ini mampu untuk mengangkut penumpang dalam jumlah banyak, namun tidak melebihi kapasitas angkut dari Mass Rapid Transit (MRT).

Baca Juga: Di Jakarta Segera Beroperasi MRT dan LRT, Tahukah Artinya?

Nah, bagi Anda yang tertarik untuk melihat secara langsung Double-Decker Tram bertenaga listrik pertama seperti yang sudah disinggung di atas, Anda bisa mengunjungi National Tramway Museum yang terletak di Derbyshire, Inggris. Di sana, Anda bisa menjumpai berbagai jenis trem dari masa ke masa!

Airbus dan Audi Kolaborasi di Konsep “Pop.Up Next,” Konvergensi Kendaraan Darat dan Udara

Bukan suatu  hal yang baru ketika dewasa ini banyak manufaktur otomotif yang mulai berupaya mencari ceruk usaha lain. Pasalnya, para pengusaha menilai bahwa penjualan mobil konvensional sebentar lagi akan menemui ‘jalan buntu’. Ya, kondisi kemacetan yang semakin tidak bisa ditolerir belakangan ini membuat para pengguna jalan seolah enggan untuk menambah koleksi kendaraan mereka.

Baca Juga: Berusaha Tetap di Arus Persaingan, Porsche pun Turut Luncurkan Taksi Udara Otonom!

Ketika pemerintah sudah berusaha untuk memperbaiki sistem angkutan umum agar volume kendaraan di jalanan dapat berkurang, namun para pengguna kendaraan pribadi tetap enggan untuk beralih menggunakan moda transportasi berbasis massal tersebut. Walhasil, kemacetan pun semakin meradang.

Sebagai salah satu perusahaan multi-nasional yang memiliki segudang pengalaman di dunia aviasi global, Airbus melihat kondisi ini sebagai satu keuntungan tersendiri untuk mereka. Dalam pemberitaan sebelumnya, Airbus diketahui tengah merancang sebuah drone otonom yang dimaksudkan sebagai angkutan futuristik. Dengan kondisi seperti yang sudah di jabarkan di atas, mereka memiliki kesempatan untuk merangkul manufaktur otomotif guna melancarkan misi bersama dan mengembangkan pasar drone.

Seperti yang diwartakan KabarPenumpang.com dari laman newatlas.com (7/3/2018), Airbus berkolaborasi dengan Audi untuk menghadirkan Pop.Up Next, sebuah moda yang dapat berjalan secara otonom di darat dan juga dapat mengudara. Ini merupakan kembangan dari konsep Pop.Up yang pernah dipamerkan Airbus di Geneva Motor Show pada tahun lalu.

Di darat, mobil mini dengan kapasitas dua penumpang ini mampu meluncur hingga mencapai top speed 100 km per jam dengan menggunakan baterai bertenaga 15 kWh untuk jarak tempuh 130 km. Jika anda terjebak macet, Anda cukup memesan salah satu drone milik Airbus yang tersedia di stasiun pengisian daya terdekat melalui aplikasi. Di sana, mobil Pop.Up Next akan diangkut menggunakan drone Airbus dengan teknologi khusus. Ketika sudah bertransformasi  menjadi moda udara, Pop.Up Next mampu menempuh jarak 50 km dengan kecepatan 540 km per jam. Keren, bukan?

Sumber: newatlas.com

Di sini, Audi berperan sebagai ‘motor’ dari Pop.Up Next versi darat. Keahliannya di bidang otomotif tidak lagi diragukan oleh dunia, termasuk bagian interiornya. Berdasarkan peta konsep yang sudah di buat, Pop.Up Next rencananya akan menyematkan sebuah layar berukuran 49 inci yang menggabungkan teknologi eye-tracking dan speech and facial recognition. Penggunaan bahan dasar Pop.Up Next versi darat juga tidak sembarangan. Audi harus menggunakan bahan se-ringan mungkin namun tidak mengesampingkan kekuatannya.

Baca Juga: Prototipe Taksi Drone Ehang 184, Sukses Uji Coba Dalam 1000 Kali Terbang

Sehubungan masih berbentuk konsep dimana potensi perubahan di segala lini masih bisa terjadi, pihak Airbus sendiri mengatakan masih melakukan pertimbangan agar ‘moda dua alam’ ini mampu meningkatkan kinerja dan menekan daya. Kedua belah pihak masih enggan berkomentar mengenai waktu peluncuran dari moda futuristik ini. Jika sudah dipasarkan kelak, apakah Anda berencana untuk memilikinya?

Wakil Dubes Australia: Permohonan Visa Bagi Wisatawan Indonesia Kini Dipermudah

Sebagai negara benua, Australia jelas merupakan surga wisata yang menarik untuk dikunjungi oleh seantero pelancong, termasuk animo wisatawan Indonesia yang terus meningkat dari waktu ke waktu. Namun dibalik daya pikat Australia, ada satu kendala yang membuat warga Indonesia ‘khawatir’ untuk berwisata ke Australia. Ini tak lain dan tak bukan karena ketatnya proses permohonan visa yang disyaratkan Imigrasi Pemerintah Australia.

Baca juga: BCA Travel Fair 2018, Tawarkan Diskon Khusus ke Berbagai Destinasi di Australia

Tak sedikit kabar permohonan visa wisata seseorang ditolak, meski dalam rombongan keluarga sekalipun. Dan alasan penolakan pun kadang tak diuraikan secara jelas, karena pemberian izin dan penolakan visa menjadi hak penuh Pemerintah Australia.

Namun disisi lain, Australian Tourism Board, maskapai penerbangan dan agen wisata sangat gencar menawarkan iming-iming paket perjalanan wisata di Indonesia, termasuk promo tiket yang menggiurkan. Pun jika terjadi kasus penolakan visa, maka risiko yang dihadapi calon wisatawan tak bisa dibilang kecil, mulai dari ongkos pembuatan visa yang tak bisa dikembalikan, sampai tiket pesawat yang ‘hangus’ jika sudah terbeli lebih dahulu.

Nah, menghadapi kegundahan sebagian kalangan wisatawan di Indonesia, KabarPenumpang.com yang datang ke BCA Australia Travel Fair 2018, menyempatkan diri bertemu Wakil Duta Besar Australia untuk Indonesia, MR Allaster Cox untuk menanyakan terkait permohonan visa ke Australia.

MR Allaster Cox yang sangat fasih berbahasa Indonesia ini mengatakan, saat ini pihak Kedutaan Besar Australia di Indonesia sudah memberikan kemudahan pada masyarakat Indonesia yang ingin mengunjungi Australia, baik itu hanya sekedar wisata atau berkunjung untuk bertemu sanak saudara yang menetap di sana.

“Visa yang dibuat saat ini sudah bisa melalui online, jadi tidak lagi perlu datang ke kedutaan untuk mengurus. Dimudahkan seperti ini visa juga bisa selesai dalam beberapa hari saja,” ujar Allaster kepada KabarPenumpang.com di Senayan City, Kamis (8/3/2018).

Dia mengatakan, dengan mempermudah pembuatan visa ini, memiliki alasan tersendiri yakni untuk mendorong minat kepariwisataan Indonesia ke Australia. Hal lainnya, Allaster menjelaskan, adanya kemudahan pembuatan visa secara online ini juga meminimalisir kegagalan dalam pembuatan visa itu sendiri.

Allaster juga menegaskan, kemudahan ini diberikan kepada masyarakat Indoensia karena, warga Indonesia yang berkunjung ke Australia hampir 98 persennya kembali. “Untuk wisatawan Indonesia sendiri, kami mudahkan, karena bila bicara dunia, wisatawan dari India, Malaysia dan lainnya berbeda sekali dengan Indonesia. Kalau orang Indonesia, berkunjung mereka selalu kembali pulang dan tidak menetap,” jelasnya.

Baca juga: Khusus ke Pulau Jeju, Bertandang ke Korea Selatan Memang Tak Perlu Visa

Tak hanya itu, kini untuk visa yang diberikan Australia adalah multiple entry visa selama tiga tahun. Hal ini tentu sangat memudahkan kunjungan orang Indonesia ke Australia, apalagi bagi mereka yang memiliki anak dan sekolah di Australia.

Terjebak di Kereta Karena Salju, Penumpang Southeastern Tarik Alarm Darurat dan Melompat Turun

Antara kereta dengan salju nampaknya kini sedang kurang akrab, setelah kabar dari Kanada yang menyebutkan penumpang terjebak selama delapan jam di gerbong akibat longsoran salju. Kini kasus yang mirip juga terjadi di Inggris, dimana perjalanan kereta terganggu hingga berjam-jam dikarenakan salju yang menumpuk dan kereta yang tiba-tiba tak bisa berjalan.

Baca juga: Delapan Jam Terjebak Salju, Penumpang Kereta di Kanada Kedinginanan dan Kekurangan Air!

KabarPenumpang.com melansir dari laman dailymail.co.uk (2/3/2018), bahwa banyak penumpang yang turun akibat jenuh karena kereta yang ditumpangi terjebak salju. Sebenarnya turun dari kereta saat terjebak salju merupakan tindakan kriminal.

“Secara teknis melompat keluar dari kereta yang terjebak salju adalah pelanggaran. Tetapi kami tidak menangkap mereka. Namun, jika penyelidikan berkembang akan menjadi masalah baru para petugas investigasi,” ujar Kepolisian Transportasi Inggris.

Mereka mengatakan, telah melihat sejumlah insiden evakuasi diri dari kereta yang terjebak cuaca yang luar biasa. Sementara hal teraman saat cuaca ekstrem adalah tetap tinggal di dalam gerbong kereta.

“Mengevakuasi diri bukanlah ide yang bagus, karena bisa membuat penumpang mendapatkan resiko,” jelas pihak kepolisian.

Sebenarnya penundaan perjalanan kereta tersebut bisa lebih cepat jika para penumpang itu tidaklah mengevakuasi diri mereka keluar dari kereta. Pihak kepolisian mengatakan, salah seorang penumpang menarik alarm darurat kemudian saat pintu terbuka langsung melompat keluar dan diikuti penumpang lainnya.

Dari video yang tersebar, terlihat para penumpang tersebut berjalan dan berlari melintasi jalur kereta. Petugas pemadam kebakaran dan polisi dipanggil untuk memastikan apakah para penumpang yang keluar tersebut aman.

Padahal pihak Southeastern telah mengatakan, agar penumpang tetap di kereta, karena mereka akan secepatnya bergerak jika penumpang tidak mencoba melompat dari dalam kereta. Sebelum pukul 19.30 waktu setempat, Southeastern mengatakan jalur sudah dibersihkan dan kereta api kembali bergerak.

“Kami terjebak sekitar satu jam, kemudian seseorang menarik alarm darurat sehingga mereka bisa keluar. Padahal ada pengumuman yang memperingatkan kalau keluar dan melewati jalur kereta bisa tersengat listrik. Namun mereka tetap saja melakukan hal tersebut. Polisi yang mengamankan sudah banyak, tetapi orang yang keluar kereta lebih banyak lagi,” ujar Amy Walker salah seorang penumpang.

Saat terjebak sekitar empat jam kemudian seseorang kembali menarik alarm darurat dan banyak penumpang yang marah. Namun, setelah perjuangan yang cukup panjang Walker mengatakan kereta akhirnya kembali jalan dan lima jam kemudian tiba di Hither Green setelah terjebak.

Southeastern and Network Rail akan menunjuk seorang penyidik ​​independen untuk melakukan tinjauan penuh atas kejadian tersebut. Meskipun kejadian alam ini sangat jarang terjadi, pihaknya bertekad untuk mempelajari pelajaran yang dapat di terapkan di semua tingkat untuk mencegah dan mengurangi kejadian di masa depan.

Baca juga: Kereta Terperangkap Salju, 400 Penumpang JR East Terdampar dalam Suhu Estrem

“Kami juga telah menginformasikan kepada Cabang Investigasi Kecelakaan Kereta independen dan mengundang mereka untuk melakukan penyelidikan mereka sendiri. Kami juga ingin mendengar dari penumpang yang berada di kereta yangkarena terdampar tadi malam, kami meminta mereka menghubungi kami dengan menghubungi layanan pelanggan kami. Kami akan memberikan kompensasi untuk orang-orang yang terkena dampak langsung pada kereta tersebut,” ujar seorang juru bicara Southeastern.

Tergerus Zaman, Tradisi Bawa Bekal dan Berbagi Makanan di Kereta India Mulai Hilang

Perjalanan kereta jarak jauh biasanya memakan waktu yang cukup lama. Di Indonesia sendiri bisa memakan waktu 14 jam untuk sampai ke Malang berangkat dari Jakarta. Mungkin waktu 16 jam masih lebih cepat dibandingkan dengan di India yang melakukan perjalanan kereta hingga 36 jam lamanya, seperti dari New Delhi ke Chennai.

Baca juga: Tinggalkan Makanan Beku, Kereta di India Tawarkan Menu Siap Saji dari Resto Ternama

Pada perjalanan yang cukup memakan waktu lama ini, penumpang India lebih sering membawa makanan mereka dari rumah dibandingkan membeli saat berada di dalam gerbong. Hal ini dikarenakan makanan khas India yang dibuat dari rumah lebih beragam dibanding membeli di kereta.

KabarPenumpang.com merangkum dari npr.org, dimana penumpang yang berada di dalam gerbong kereta biasanya membawa berbagai macam. Ada makanan asin seperti kudapan atau gorengan yang dibuat dari tepung beras, keripik, kacang rebus yang dicampur dengan rempah-rempah serta makanan lainnya.

Para penumpang yang berasal dari berbagai kota ini, sering bertukar makanan dengan penumpang lainnya. Bahkan minuman pun biasanya mereka bawa sendiri seperti teh atau kopi. Tetapi jika menjual minuman berkarbonasi, beberapa dari antar penumpang juga ada yang membelinya untuk merasakan sensasi soda sembari menikmati perjalanan mereka.

Sebenarnya di kereta India sendiri terdapat kafe atau dapur, dimana penumpang bisa membeli makanan. Namun banyak yang berpikir hal itu terkadang tidaklah higienis dibandingkan membawanya dari rumah.

Biasanya selain kudapan atau makanan ringan, orang India juga membawa makan berat seperti nasi, kentang goreng, kari, bahkan daging untuk dimakan saat perjalanan. Tak jarang juga jika hendak melewati salah satu stasiun dimana ada saudara yang tinggal dan mereka tahu, akan dikirimkan makanan dari stasiun tersebut.

Namun, semakin berkembangnya dunia modern saat ini, budaya membawa dan berbagi makanan di dalam kereta mulai pudar. Seperti saat ini terlihat masyarakat kelas menengah di India yang beralih dengan memesan makanan di kereta. “Pada 20 tahun lalu, membawa makanan sendiri saat di kereta menuju suatu tempat dan berbaginya dengan penumpang lain adalah hal yang sangat lumrah. Tapi tidak untuk sekarang,” ujar seorang koki asal Mumbai, Kurush Dalal.

Baca juga: Delapan Jam Terjebak Salju, Penumpang Kereta di Kanada Kedinginanan dan Kekurangan Air!

Perubahan sosial ini sangat signifikan, karena hanya dalam satu generasi. Salah satu contoh makanan kereta yang paling di sukai penumpang adalah potongan daging ayam yang disajikan dalam Gitanjali Express dari Mumbai menuju Kolkata.

Meski banyak yang memesan, tetapi beberapa penumpang masih dalam tradisi lama dengan membawa makanan sendiri dari rumah. Selain lebih higienis juga lebih irit dibandingkan harus membeli di dalam gerbong kereta.

BCA Travel Fair 2018, Tawarkan Diskon Khusus ke Berbagai Destinasi di Australia

Perjalanan untuk meinkmati suasana baru ke Negeri Kangguru semakin dekat dalam pandangan. Pasalnya per tanggal 8-11 Maret 2018 di Senayan City, Tourism Australia bersama dengan Bank Central Asia (BCA) menggelar BCA Australia Travel Fair 2018.

Baca juga: Pasar Terus Melonjak, Garuda Indonesia Lanjutkan Kemitraan dengan Tourism Australia

Hal ini membuat masyarakat yang ingin berlibur atau mengunjungi keluarga di Australia bisa menikmati harga termurah dan berbagai macam potongan lainnya. BCA Travel Fair sendiri ini sudah terlaksana untuk yang kedua kalinya.

Region General Manager, South and South East Asia, Tourism Australia Brent Anderson mengatakan, BCA Travel Fair 2018 ini menampilkan Australia sebagai destinasi yang unik dan menarik bagi wisatawan Indonesia.

Keramaian pelangga yang antusisa pada BCA Travel Fair 2017 (KabarPenumpang.com)

“Tahun 2017 kemarin, lebih dari 193 ribu wisatawan Indonesia berkunjung ke Australia. Ini meningkat sebanyak 7,2 persen dari tahun sebelumnya,” ujar Brent yang ditemui KabarPenumpang.com di acara Travel Fair BCA 2018.

Dia mengatakan, pertumbuhan jumlah wisatawan ini merupakan hasil kerja sama pihaknya dengan para mitra yang ada di Indonesia. Brent menjelaskan pihaknya senang bekerjasama dengan BCA untuk menggelar pameran wisata dan perjalanan tersebut bukan hanya dengan penawaran menarik melainkan memberi pengunjung sedikit pengalaman nyata yang unik di Australia.

Senior Vice President Transaction Banking Business Development BCA I Ketut Alam Wangsawijaya mengatakan, kerja sama pihaknya dengan Tourism Australia sangat bermanfaat sebagai wadah one stop shop untuk pengunjung yang ingin melakukan perjalanan ke Australia.

“Selain paket menarik, kami juga menyediakan cashback Rp1,5 juta, voucher belanda dan cicilan BCA nol persen dengan kartu kredit BCA selama enam bulan,” ujar Ketut.

Tak hanya Tourism Australia dengan BCA, tetapi acara ini juga didukung penerbangan maskapai baik langsung maupun transit dari Indonesia menuju Australia yakni Garuda Indonesia, Singapore Airlines, Virgin Airlines dan Qantas. Kemudian juga bersama dengan beberapa agen perjalanan besar.

Baca juga: Antisipasi Terorisme, Bandara-Bandara di Australia Dihimbau Perketat Keamanan

Uniknya, travel fair kali ini dibatasi hanya 75 orang pelanggan per harinya. Harga yang ditawarkan setiap maskapai dengan promo juga hanya berlangsung saat pameran. Sedangkan untuk pembelian di gerai milik masing-masing maskapai maupun online harga tiket adalah harga normal.

Soal higienis? Makan di Kereta dan Pesawat Tak Jauh Berbeda

Sebagai makanan yang disajikan dalam kemasan, maka makanan di kereta mungkin tak jauh berbeda dengan makanan di pesawat. Hanya saja cita rasa masakannya lebih nikmat karena indera pengecap Anda tidak menurun fungsinya. Namun, tetap saja makanan yang di jual di kereta tetaplah bukan makanan segar melainkan makanan yang dipanaskan dalam microwave atau makanan cepat saji.

Baca juga: Update Terbaru Aplikasi KAI Access, Tawarkan Fitur Check In Online dan Pesan Meals

Sejak era standarisasi layanan dan kebersihan diterapkan di kereta api, gerbong restorasi tak lagi menawarkan makanan dengan cara di masak di dapur. Dengan begitu makanan yang disajikan menjadi lebih higienis. Namun tetap saja ada beberapa alasan alasan yang membuat makanan di kereta sama tidak higienisnya dengan makanan pesawat. Berikut ini beberapa alasan berpikir lagi sebelum memilih makanan di kereta dan cara yang tepat untuk mengubahnya menjadi lebih baik.

1. Kebersihan gerbong makan (Restoran kereta)
Ini sangat penting, karena menentukan makanan yang tersimpan masih dalam kualitas baik atau tidak. Jika gerbong makan kotor, mencerminkan makanan yang di jual tidak higienis meski tertutup.

2. Pembagian jenis makanan
Jika di Indonesia makanan kereta di jual dan dibedakan tempatnya sesuai jenis makanan. Di India lain lagi dengan membeli tiket kereta penumpang sudah mendapat makan. Di India, akan di bagi antara makanan vegetarian dan tidak. Namun, jika tidak ada pendingin, makanan seperti salad tidak akan bertahan lama dan tidak layak lagi untuk dimakan penumpang vegetarian.

3. Standarisasi
Kadang makanan yang ada di kereta bisa saja dibawah standarisasi kesehatan yang ditentukan. Tapi apa daya, karena makanan yang ada biasanya sudah lebih dari 2 hari karena beku dan akan dihangatkan jika ada yang membeli atau akan dibagikan ke penumpang.

4. Tidak ada penyimpanan makanan
Di kereta tidak ada kulkas atau freezer untuk menyimpan makanan, melainkan hanya ada box es atau chiller manual yang digunakan untuk meletakkan makanan beku tersebut sebelum dipanasakan dalam microwave. Sebenarnya jika ada mungkin makanan akan bertahan lebih lama.

5. Makanan Sisa
Ini terkadang jadi bahan pemikiran dan pertanyaan, kemana makanan beku yang tak di makan? Di Indonesia sendiri sekitar 7 hari makanan beku bertahan tetapi setelahnya tidak jelas di kemanakan. Sedangkan di India, makanan yang tak termakan dan masih bagus di sumbangkan ke panti asuhan atau lembaga amal lainnya.

Dengan alasan ini, sebenarnya, ada solusi yang bisa memudahkan para penumpang membeli makanan atau tidak. Setidaknya ada dua hal yang bisa menjadi solusi dalam pilihan ini.

Baca juga: Tinggalkan Makanan Beku, Kereta di India Tawarkan Menu Siap Saji dari Resto Ternama

1. Makanan sendiri
Bila tidak suka makanan yang dipanaskan, penumupang bisa membawa sendiri dari rumah. Selain lebih higienis, makanan yang dibawa dari rumah juga lebih sehat dan terjamin kualitasnya.

2. Pesan melalui aplikasi
Kini, baik Indonesia maupun India, sudah bisa memesan makanan untuk di kereta secara online. Makanan ini bisa lebih fresh meskipun makanan cepat saji, karena di ambil oleh pihak penyedia jasa sebelum Anda berangkat. Selain mudah, makanan juga akan langsung diantar ke kursi tempat Anda duduk.