Hindari Berebut Masuk KRL, PT KCJ Buat Garis Batas Antrean di Stasiun

Membludaknya peminat layanan kereta komuter KRL Jabodetabek membawa dampak tersendiri, terlebih pada jam sibuk, di stasiun-stasiun tak asing terlihat ratusan penumpang kereta saling beradu badan guna menerobos masuk ke dalam gerbong. Sementara disisi dalam kereta, ada begitu banyak penumpang yang akan keluar dari gerbong. Nah, yang terjadi mudah untuk ditebak, akibat saling dorong jatuh korban akibat kena siku dan terjebak diantara dua arus penumpang.

Baca juga: FeliCa, Gelang Ajaib Berbasis Chip Untuk Transaksi Komuter Jabodetabek

Seperti halnya moda transportasi massal lainnya, sudah ada pakem bahwa harus didahulukan penumpang yang akan turun, baru kemudian penumpang yang akan naik. Namun berangkat dari tekanan jumlah penumpang yang besar, plus budaya warga yang jauh dari tertib, pakem diatas kerap dilupakan, salah satunya yang terjadi di kereta KRL.

Berangkat dari fenomena diatas, pihak pengelola layanan, yakni PT KAI Commuter Jabodetabek (KCJ) mengasah otak untuk menertibkan penumpang yang kerap tak sabar hingga bertabrakan di peron, solusinya adalah dengan membuat garis batas antre di peron stasiun yang dilengkapi dengan tanda panah untuk memandu arus penumpang, untuk saat ini baru diterapkan di Stasiun Juanda.

Warna garis batas antre ini hijau dengan tanda panah berwarna merah. Tapi untuk apa sih sebenarnya tanda panah dan garis batas antre ini? KabarPenumpang.com merangkum dari berbagai sumber pemasangan garis batas antre berwarna hijau ditunjukkan agar pengguna jasa yang akan naik KRL bisa memberi kesempatan dan tidak menutupi jalur penumpang yang akan turun saat KRL tiba di stasiun.

Ruang untuk penumpang naik dibuat lebih kecil dengan posisinya berada di sisi kanan dan sisi kiri ruang untuk penumpang turun. Sedangkan untuk penumpang turun dibuat lebih besar dan posisinya berada di tengah. Vice President (VP) Communication PT KCJ Eva Chairunisa mengatakan, garis sengaja dibuat agar arus keluar masuk penumpang lebih teratur. “Jadi penumpang yang mau naik KRL antre pada batas tersebut sehingga orang yang mau turun flow-nya tidak terhalangi,” kata Eva, yang dikutip KabarPenumpang.com dari kompas.com (8/8/2017).

Adanya garis batas ini juga bisa memperkecil resiko bahaya penumpang terjatuh dan terdorong akibat berebut saat naik atau turun kereta. “Untuk saat ini masih diingatkan petugas. Ya kami harapkan untuk kenyamanan bersama penumpang dapat mengikuti ketentuan yang ada terkait batas antre. Mudah-mudahan bisa mengeduksi penumpang,” kata Eva.

Baca juga: Mei 2017, PT KCJ Tambah Portable Ramp di 74 Stasiun

Sebenarnya, garis batas antre ini sudah banyak digunakan di stasiun-stasiun negara lain, tetapi bagi Indonesia ini adalah hal baru. Kedepannya dalam satu hingga dua bulan semua stasiun yang melayani KRL akan dipasangi garis batas antre.

5 Mitos Seputar Online Travel Agents yang Terbantahkan

Pada awal kemunculannya di rentang tahun 2011 hingga 2012, Online Travel Agents (OTA) tidak sekonyong-konyong meraup keuntungan besar. Layaknya industri lain, mereka juga mengalami masa terseok-seok akibat jenis bisnis yang masih terbilang baru waktu itu. Walaupun kehadirannya terbukti memudahkan para pelancong untuk bepergian, tidak hanya di dalam negeri melainkan ke luar negeri.

Baca Juga: Intip Yuk 10 Tujuan Wisata Favorit Versi Pinterest!

OTA awalnya dipandang sebagai jalan pintas menuju peningkatan margin dan pertumbuhan keuntungan tanpa benar-benar menambah nilai bagi industri perjalanan dan pariwisata. Namun, dengan meningkatnya pemesanan online via media sosial dan teknologi mobile, OTA telah menetapkan diri sebagai tolak ukur bagaimana sebuah perusahaan perjalanan online dapat dan harus beroperasi di pasar perjalanan global saat ini.

Meskipun OTA telah mempertegas posisinya di industri perjalanan, banyak mitos yang masih berkecamuk mengenai fungsi hingga nilai yang mereka berikan kepada pelanggan di industri perjalanan modern ini. Beberapa mitos ini berasal dari kesalahpahaman sederhana tentang peran OTA di sektor e-commerce. Berikut, KabarPenumpang.com lansir beberapa mitos mengenai OTA versi dcsplus.net.

OTA Kerap Kali Tidak Memperdulikan Tingkat Layanan Terhadap Pelanggan
Di awal kemunculannya, agen-agen perjalanan wisata online ini mungkin masih sedikit agak kaku dengan mekanisme yang berjalan, karena OTA ini seolah menjadi anak bungsu di industri pariwisata. Tapi semua itu sudah berubah seiring berjalannya waktu. Terbukti dengan penawaran layanan tingkat tinggi melalui aplikasi seluler, situs web yang responsif, kampanye melalui email, hingga platform di media sosial. OTA yang sekarang sudah banyak belajar dari masa lalu. Semakin melebarnya sayap mereka menjadi satu momen penting dimana ajang promosi bukanlah menjadi sebuah penghalang bagi mereka untuk terus mengembangkan bisnis ini.

Agen Perjalanan Konvensional Mulai Sekarat, OTA Akan Segera Menyusul
Sebenarnya, agen perjalanan konvensional telah melihat kebangkitan dari OTA dalam beberapa tahun terakhir. Memang, OTA menawarkan kemudahan dalam hal pemesanan tiket melancong, namun itu semua tidak menjadikan agen perjalanan konvensional semakin surut, karena masih banyak orang yang sedikit ragu untuk memesan tiket perjalanan via online. American Society of Travel Agents (ASTA) melaporkan lebih dari 30 persen pelancong menggunakan jasa agen perjalanan konvensional dalam kurun waktu 12 bulan terakhir terhitung sejak akhir tahun 2015. Menurut ASTA, OTA yang diketahui memiliki persentase hampir sama dengan agen perjalanan konvensional dinilai akan terus mengalami pertumbuhan dalam jangka waktu beberapa tahun mendatang.

OTA Tidak Dapat Mengakomodir Pengalaman Pemesanan Tiket Sesuai Kemauan Wisatawan
Mitos ini jelas terbantah dengan kemajuan jaman. Sebut saja proses geomapping yang canggih, kemampuan untuk melakukan pencarian kembali, serta alogaritma rekomendasi yang sebenarnya dapat memungkinkan para pelanggan untuk menyesuaikan pemesanan tiket para pelancong dengan spesifikasi yang bisa dibilang akurat. Selain itu, OTA juga memanfaatkan perkembangan di sektor komunikasi yang memungkinkan mereka untuk segera melaporkan kepada pengguna jasa jika terjadi kesalahan dan mengkonsultasikannya melalui pembicaraan one-on-one via telepon.

Baca Juga: Nah Ini! Trik Unik Buat Cari Tiket Pesawat Murah

Kesulitan Pihak OTA Untuk Memecahkan Masalah Kesalahan, Perubahan, atau Pembatalan Pemesanan
Hal ini masih terkait dengan poin sebelumnya, dimana OTA benar-benar memanfaatkan perkembangan telekomunikasi. Karena pada dasarnya layanan OTA tersedia 24/7, maka hampir tidak mungkin jika pihak OTA tidak melaporkan masalah tersebut. Justru dengan perkembangan jaman seperti sekarang ini akan mempercepat penyebaran informasi tersebut. Pencarian jalan keluar pun dapat dilakukan cukup melalui telepon atau media komunikasi lainnya. Dengan begitu, para pemesan dapat lebih tenang jika terjadi suatu hal yang tidak diharapkan.

OTA Adalah Tren Sesaat yang Akan Segera Memudar
Pemesanan global melalui agen perjalanan online telah berkembang pesat dalam kurun waktu beberapa tahun terakhir, dan para ahli di industri serupa memperkirakan kenaikan ini akan terus berlanjut hingga tahun 2020. Layaknya melakoni bisnis dengan pesaing yang kian hari kian menjamur, pihak OTA harus selalu melakukan inovasi agar namanya tetap eksis dan tidak terkubur para pesaingnya. Inovasi tersebut tentu bisa dilakukan dari banyak aspek, ambil contoh dari segi pemasaran, karena dari segi inilah biasanya para pebisnis di bidang perjalanan wisata menuangkan ide-ide kreatif mereka.

Agar Proses Imigrasi Lebih Cepat, Yuk Manfaatkan Autogate di Bandara Soekarno-Hatta

Fasilitas yang satu ini sudah terpasang cukup lama di Bandara Soekarno-Hatta (Soetta), tapi jika diperhatikan belum banyak calon penumpang pesawat yang memanfaatkannya. Entah karena belum banyak yang tahu, atau mungkin kurang sosialisasi, namun autogate di Bandara Soetta menjadi etalase yang membedakan bandara ini dengan bandara lain yang ada di Tanah Air.

Apasih Autogate? Ini sebuah pertanyaan yang masih mengambang bagi kebanyakan orang yang bertandang ke Soetta, pasalnya tak ada kewajiban bagi calon penumpang untuk menggunakan fasilitas ini. Di Bandara Internasional Soetta, Autogate ini sudah digunakan untuk terminal internasional dan domestik. Autogate adalah sarana pemeriksaan keimigrasian melalui pintu perlintasan otomatis bagi setiap Warga Negara Indonesia (WNI) yang akan masuk dan keluar wilayah Indonesia, persisnya untuk membuka pintu tersebut terlebih dahulu diperlukan prosedur pemindaian paspor dan sidik jari yang tersedia pada sensor khusus di Autogate.

Baca juga: Gandeng BMKG, UnDip dan Lion Group, KNKT Kembangkan Sistem Informasi/Peringatan Dini di Bandara

KabarPenumpang.com merangkum dari berbagai sumber salah satunya soekarnohatta.imigrasi.go.id, sistem Autogate ini diberikan kepada warga negara yang menggunakan paspor elektronik maupun paspor non elektronik yang sudah terpasang di bandara Soetta. Keuntungan bagi pemegang paspor elektronik dimana langsung bisa menggunakan fasilitas layanan ini.

Sementara untuk pengguna paspor non elektronik diperlukan proses registrasi terlebih dahulu dengan pemindaian paspor dan sidik jari yang tersedia di area imigrasi baik di pintu keberangkatan maupun kedatangan Bandara Soetta. Untungnya, untuk proses ini hanya diperlukan satu kali selama paspor berlaku dan melintasi Autogate, tetapi bila paspor Anda sudah diganti dengan yang baru atau perpanjangan, maka akan dilakukan registrasi kembali untuk menggunakan fasilitas Autogate.

Kepala Biro Humas Ditjen Imigrasi Kemenkumham Heriyanto mengatakan, sistem Autogate ini sudah mulai diterapkan sejak tahun 2013. “Autogate kan ada yang sudah pakai paspor elektronik. Kalau elektronik sudah berjalan seperti biasa tidak perlu lagi registrasi. Sedangkan yang non elektronik kan ada daftar lagi tuh. Kalau paspor elektronik langsung keluar verifikasi. Kalau non elektronik dia harus registrasi lagi,” jelas Heriyanto.

Pada 24 Juli 2016 lalu, PT Angkasa Pura II telah mengoperasikan pemindai otomatis atau Autogate boarding pass di Terminal 1C Bandara Soetta. Secara bertahap, sistem pemeriksaan boarding pass diperlintasan menuju naik pesawat akan diganti dengan sistem Autogate. Nantinya pengguna jasa diminta untuk memindai boarding pass secara mandiri di enam mesin yang telah disiapkan. Tetapi, dalam masa transisi ini tetap akan disiapkan petugas untuk membantu pengguna jasa mengalami kesulitan.

“Sistem ini merupakan sistem terintegrasi mulai dari sistem check in sampai dengan sistem pemindaian otomatis yang bertujuan untuk menscreening dan merekam data penumpang secara otomatis serta memudahkan sistem pemeriksaan,” terang Branch Communication Manager PT Angkasa Pura II, Bandara Soekarno-Hatta, Dewandono Prasetyo Nugroho, dalam keterangan tertulis.

Dia mengatakan, untuk boarding pass dalam bentuk fisik sesuai SKEP Dirjen nomor 2765/XII/2010 tentang Tata Cara Pemeriksaan Penumpang, Personel Pesawat Udara dan Barang Bawaan yang diangkut dengan Pesawat Udara dan Orang Perseorangan. Kedepan sistem ini telah mengakomodasi seluruh bentuk perangkat digital atau smartphone. Nantinya setelah Terminal 1C, Terminal 1A dan 1B saat ini dalam proses instalasi yang diharapkan dapat segera beroperasi tahun 2017 ini. “Setelah check-in, menuju ke pemeriksaan kedua atau security check point kedua. Setiap penumpang yang telah mendapat boarding pass, kini melakukan sendiri scanning barcode yang tertera di boarding pass,” tutur Prasetyo.

Baca juga: Frekuensi Melonjak, ATC Bandara Soekarno-Hatta Peringatkan Risiko Keselamatan Penerbangan

Berikut ini adalah manfaat sistem Autogate, meningkatkan kualitas pelayanan publik, mempermudah, mempercepat dan menyederhanakan proses pemeriksaan keimigrasian, memperbaiki tata kerja imigrasi yakni akuntabilitas serta meminimalisir interaksi petugas dengan masyarakat.

Selain itu ini dia tiga langkah mudah untuk menggunakan Autogate:

1. Proses Registrasi Autogate
– Registrasi scan paspor
– Scan Paspor
– Registrasi_scanjari
– Sidik Sidik Jari

2. Simulasi Penggunaan Autogate (Simulasi ini boleh tidak dilakukan, hanya memastikan bahwa data seorang yang didaftarkan telah masuk ke dalam database Sistem Autogate)
– Simulasi scan paspor
– Scan Paspor
– Simulasi scan jari
– Scan Sidik Jari

3. Proses Penggunaan Autogate
– Penggunaan scan paspor
– Scan Paspor
– Penggunaan scan jari
– Scan Sidik Jari

Pagi Ini! Pilot Airbus A380 Emirates Minta Siaga Pendaratan di Bandara Melbourne

Kamis pagi ini, diberitakan pilot Emirates meminta bantuan untuk mendarat di Bandara Melbourne sebelum pukul 06.00 waktu Melbourne, Australia. Pesawat yang diketahui dari jenis Airbus A380 dengan nomor penerbangan EK406 melakukan pendaaratan normal pukul 05.25 setelah lepas landas dari Bandara Dubai (DXB) di Uni Emirat Arab.

Baca juga: Penumpang Emirates Kini Bisa Mandi Shower Selama Penerbangan, Khusus Kelas Satu Lho!

“Pilot minta siaga pendaratan, tetapi bukan keadaan darurat,” ujar juru bicara bandara Melbourne yang dikutip KabarPenumpang.com dari heraldsun.com.au (24/8/2017). Drew Loney yang saat itu berada dalam pesaway mengatakan, bahwa awak kabin memberitahukan tentang perubahan prosedur sebelum mendarat. “Kami diberitahukan bahwa ketika mendarat akan mengalami sedikit rutinitas yang berbeda. Saat mendarat, layanan bandara akan memeriksa pesawat dan pesawat kemudian akan ditarik,” ujarnya.

Loney mengatakan, saat itu ada dua truk pemadam kebakaran sedang menunggu dan menempatkan lampu sorot di bawah pesawat. Dia menambahkan, setelah sampai di landasan pacu untuk mendarat, semua lampu dimatikan dan tidak tahu apakah ini masalah rem atau hal lainnya. “Yang bisa saya bayangkan adalah mungkin lampu peringatan atau sesuatu tentang rem,” jelasnya.

Baca juga: Dehidrasi Buat Penumpang Emirates Cedera Serius

Juru bicara bandara mengatakan, sesaat setelah pendaratan, pesawat ditarik dan penumpang ditahan 10 menit sebelum turun dari pesawat. Diketahui, pesawat tersebut dijadwalkan untuk melanjutkan penerbangan ke Auckland, Selandia Baru pada pukul 10.30 waktu Melbourne, tetapi penerbangan dilaporkan telah dibatalkan.

Atas kejadian ini Emirates telah dihubungi oleh media setempat, dan belum ada komentar atau rilis resmi yang dikeluarkan pihak maskapai. Yang pasti pesawat masih dalam penyelidikan layanan darurat. Bila dilihat dari situs flightstats.com, penerbangan dalam status delayed, dan sampai tulisan ini dibuat telah berlangsung selama 3,5 jam. Seharusnya Emirates EK406 akan tiba di Auckland pada pukul 16.05 waktu setempat.

Jaringan 5G Untuk Sistem Transportasi, Dianggap Masih Terlalu Mahal

Masih sekitar dua tahun lagi hingga jaringan mobile broadband 5G diluncurkan secara komersial. Meski begitu serangkaian uji coba telah dilakukan oleh vendor jaringan dan operator seluler. Apa yang ditawarkan 5G memang terbilang super, kecepatan akses yang digelontorkan bisa mencapai 40 – 50 kali lebih cepat dari jaringan 4G yang kini telah menjadi keseharian.

Seperti halnya saat kemunculan 3G dan 4G, maka 5G pun digadang mampu membawa kontribusi pada dunia transportasi. Namun yang jadi pertanyaan, apakah 5G nantinya benar-benar ideal untuk menunjang sistem transportasi? Sebagai teknologi baru, jelas di awal implementasi 5G tidak akan murah. Dilansir KabarPenumpang.com dari eurotransportmagazine.com (24/7/2017), Direktur Pengelola GoMedia Roger Matthews mengatakan terkait prospek teknologi 5G dan bagaimana hal ini mungkin belum menjadi jawaban bagi para operator transportasi.

Baca juga: Tahun 2020, Dipercaya 14.419 Pesawat Komersial Gunakan Akses WiFi di Kabin

Alasannya untuk jaringan 4G yang kini sudah tersedia, faktanya masih banyak di bagian dunia lain yang belum terlayani 4G. Terlebih kini 5G pengembangannya masih sangat terbatas karena belum ada standar atau spesifikasi yang harus diterapkan. Jaringan 5G memiliki kecepatan yang jauh lebih cepat dibanding 4G dimana respon dan kemampuan untuk berjalan di miliaran mesin serta perangkat. Selain itu, jaringan 5G ini juga lebih hemat energi.

Sayangnya, ini pun masih dipertanyakan, apakah operator transportasi memusatkan perhatian pada penyedia infrastruktur WiFi yang bisa digunakan dalam kendaraan mereka? Sebenarnya jawabannya teknologi 5G akan jauh lebih baik di area urban daripada pedesaan. Tetapi jaringan ini tidak terlalu bagus bila sudah berada di luar dari kota. Tak seperti jaringan 4G yang masih bisa memberikan konektivitas baik walaupun masuk ke dalam terowongan atau bangunan tinggi mengelilinginya.

Sebenarnya ada keuntungan dimana kendaraan yang dilengkapi dengan on board WiFi dibanding yang tidak. Apalagi saat jaringan nirkabel tidak ada, penumpang masih bisa menikmati berbagai layanan menonton video, musik, berbelanja, mencari informasi hingga membaca bacaan digital.

Jaringan 5G menjadi teknologi yang lebih maju dan diperlukan peningkatan sinyal termasuk antena yang disempurnakan dan bandwidth gelombang radio. Sayangnya, jaringan 5G ini sangat mahal, bukan hanya dari sisi penyiapan infrastruktur, melainkan hingga pengguna akhir. Ini dikarenakan teknologinya yang masih dalam pengembangan dan tidak ada fakta atau angka konkret yang terkait dengan biaya. Masalah besar lainnya adalah 5G membutuhkan banyak pemancar agar bisa berjalan dengan baik.

Bisa dikatakan, saat ini pengguna individu akan enggan menggunakan jaringan 5G dan lebih menggunakan jaringan 4G untuk menghindari hilangnya data pribadi. Hal tersebut bisa membuat para operator transportasi menyadari kebutuhan penumpang untuk tetap terhubung dalam bus tanpa harus menghabiskan kuota mereka. Sebagian besar penumpang menggunakan perangkat tambahan serta smartphone, termasuk iPad, tablet dan laptop. Teknologi mobile saat ini tidak kompatibel dengan banyak perangkat ini. Kecuali 5G dapat beroperasi di beberapa perangkat dan mesin, ini merupakan batasan yang signifikan karena pengguna yang lebih sedikit dapat memanfaatkan teknologi ini.

Baca juga: Internet of Things Tunjang Transportasi Berbasis Bus

Bagi operator transportasi dengan layanan WiFi on board, penumpang yang menggunakan konektivitas 3G/LTE/5G daripada layanan on-board, mewakili dua masalah. Pertama, dibutuhkan bandwidth yang tidak sesuai yang digunakan oleh layanan WiFi unit transportasi backhaul. Kedua, mereka tidak berada dalam lingkungan digital operator transportasi sendiri dan karena itu merupakan kesempatan yang hilang untuk peluang pendapatan tambahan dan statistik kepuasan.

215 Penumpang Air Transat Tak Temukan Koper Saat Tiba di Birmingham

Kekecewaan terjadi pada 215 penumpang Air Transat saat tiba di Birmingham, Inggris tanpa barang bawaan mereka setelah menunggu lama di karosel (ban berjalan). Hal ini terjadi karena pihak Air Transat mengatakan adanya kesalahan teknis di bandara Pearson Internasional, Toronto, Kanada.

Baca juga: Terlambat 2 Jam, Bagasi Penumpang Malindo Air Tak Kunjung Tiba Setelah 5 Jam Menanti

Dilansir KabarPenumpang.com dari itv.com (18/8/2017), dalam penerbangan tersebut sebenarnya ada 300 penumpang dan 85 penumpang mendapatkan barang bawaanya. Kekecewaan sebenarnya terjadi bukan hanya karena barang bawaaan yang tidak ditemukan saat tiba di Birmingham, tetapi awalnya penerbangan tersebut sudah terlambat selama enam jam dan ada penundaan tiga jam karena masalah teknis dengan sistem bagasi.

Karena masalah ini, salah seorang penumpang bernama Damon Brown dari Bedworth, Warwickshire sampai menuduh maskapai berbohong dan mengatakan hanya ada tiga orang staf yang berada di Birmingham untuk menangani keluhan barang bawaan tersebut. “Jika saya tahu barang bawaan saya tidak diangkut sebelum lepas landas, saya akan melakukan penerbangan dengan maskapai lainnya,” ujar Brown mengeluhkannya.

Penumpang yang menunggu barang bawaannya yang tertinggal di bandara Toronto (itv.com)

Dia mengatakan bahwa dirinya bersama sang istri ke Toronto untuk acara pernikahan, dimana semua pakaian terbaiknya berada di dalam koper yang dibawanya. Brown menjelaskan, ada dua koper Samsonite dengan harga mahal dan tidak terbawa saat mereka tiba di Brimingham. “Maskapai ini memang sengaja tidak memberitahukan bila barang bawaan kami tidak di muat dalam pesawat,” keluhnya.

Karena masalah ini, Brown menuliskan pada media sosial untuk melampiaskan amarahnya dan berharap adanya kompensasi dari perusahaan penerbangan tersebut. Salah seorang juru bicara Air Transat memita maaf atas keterlambatan dan kiriman barang tersebut. dia mengatakan, ada masalah parah di Pearson karena hitches teknis dan banyak penerbangan kami termasuk penerbangan Mr Brown TS164 terganggu.

Baca juga: Peluang Pendapatan Baru, LCC Mulai Kenakan Biaya Untuk Bagasi Kabin

“Ada penundaan tiga jam di Toronto sementara kami mencoba menyelesaikan masalah ini, tapi keadaannya kacau dan situasinya terus berubah. Kami akan menyarankan semua penumpang menunggu barang bawaan mereka untuk tetap berhubungan dengan Bandara Birmingham yang akan memberi tahu mereka segera setelah bagasi tiba di Inggris,” ujar juru bicara tersebut.

Dijual! Rumah Lengkap Dengan Bandara Plus Dua Antonov An-2

Dewasa ini banyak rumah yang dilengkapi dengan fasilitas mewah, seperti kolam renang, sebuah garasi yang mampu menampung banyak mobil, hingga air terjun buatan. Tidak sedikit juga rumah yang memilki konsep yang tidak biasa, seperti rumah dengan konsep kerajaan, gotik, dan masih banyak lagi. Tapi pernahkah terlintas di benak Anda mengenai keberadaan rumah yang memiliki sebuah landas pacu pribadi? Tentu saja rumah tersebut memiliki pekarangan yang sangat luas, sehingga bisa memuat sebuah landas pacu.

Baca Juga: Wow! Bekas Menara ATC ini Disulap Jadi Penthouse

Seperti yang dilansir KabarPenumpang.com dari laman businessinsider.com (21/8/2017), ada sebuah rumah yang terletak di Gothenburg, sebelah barat pantai Swedia, dimana sang empunya rumah memiliki sebuah private airport, lengkap dengan dua buah pesawat Antonov An-2. Dilihat dari letak geografisnya, mungkin rumah ini lebih tepat disebut villa, karena lokasinya yang jauh dari kota dan lingkungan sekitar yang sangat sepi.

Sumber: businessinsider.com

Dengan latar belakang hutan pinus, dan suasana asri khas pedesaan, villa ini cocok bagi Anda yang hendak menghabiskan waktu santai bersama orang-orang terdekat. Untuk bagian dalamnya sendiri, villa berwarna merah muda tersebut dilengkapi dengan sebuah kolam renang yang terletak di tamannya, serta interior rumah yang modern. Sofa yang empuk, ruang tengah yang nyaman, serta kaca yang mengelilingi villa ini seakan memaksa Anda untuk tinggal di sini untuk waktu yang lebih lama.

Jangan lupakan bagian dapurnya, di sini Anda akan dimanjakan dengan desain ekslusif dari Mobalpa, sebuah perusahaan yang menekuni bidang furnitur. Villa yang dibangun pada tahun 2003 silam ini memilki luas sekitar 172 meter persegi. Kembali, keberadaan landas pacu sepanjang 440 meter inilah yang menjadi daya tarik utamanya. Sangat jarang sekali sebuah villa memiliki landas pacu pribadi, atau bisa dibilang ini merupakan satu-satunya villa di dunia yang memiliki landas pacu sendiri.

Sumber: businessinsider.com

Sang pemilik biasanya menyimpan dua pesawat Antonov tersebut di dalam sebuah hanggar berukuran 500 meter persegi yang letaknya tidak terlalu jauh  dari villa. Cukup menggiurkan bukan mendengar semua kelebihan mengenai villa ini? Ternyata, villa ini masuk ke dalam salah satu list penjualan property yang dilakukan oleh m2. Villa tersebut dijual oleh salah seorang makelarnya yang bernama Amanda Settefelt. Untuk harga yang ditawarkan, Anda dapat menukarkan US$ 2,5 juta atau setara dengan Rp33,3 miliar untuk bisa memiliki villa ini, lengkap dengan dua buah pesawat Antonov An-2 .

Baca Juga: Swedia Bebaskan Rakyatnya Pilih Nama Sebuah Kereta

“Ini merupakan bandara pertama yang saya jual,” ungkap Amanda. Ia juga mengaku banyak orang yang sudah mulai menunjukkan ketertarikannya terhadap villa ini, baik dari Swedia sendiri hingga dari luar negeri. Walaupun kesempatan untuk memiliki villa yang lengkap dengan bandara dan pesawatnya terbuka lebar untuk orang-orang berduit, namun tetap saja mereka harus memiliki lisensi penerbangan khusus untuk bisa mengajak si pesawat Antonov berjalan-jalan. Apa Anda tertarik untuk memilikinya?

Pintu Kabin Terbuka Saat Mengudara, Mengerikan Tapi Bukan Akhir Dari Segalanya

Mungkin beberapa dari Anda ada yang ingat mengenai tragedi seorang teroris yang mengancam akan membuka pintu pesawat Lufthansa ketika tengah mengudara di rute penerbangan Frankfurt, Jerman menuju Belgrade, Serbia pada 6 Desember 2015 silam. Untungnya pria tersebut berhasil diamankan sehingga pintu pesawat tidak jadi dibuka olehnya. Namun terbayangkah oleh Anda jika pintu pesawat benar-benar dibuka? Apa yang akan terjadi selanjutnya?

Baca Juga: Masker Oksigen, “Penyambung Nyawa” Saat Kabin Kehilangan Tekanan

Mungkin yang selama ini Anda lihat di film-film tentang dekompresi terlalu berlebihan, walaupun tidak bisa dipungkiri akan ada daya hisap yang cukup kuat dari arah pintu yang terbuka selama mengudara. Dari situlah kita bisa mengetahui salah satu fungsi safety belt selama penerbangan. Sebagai salah satu elemen vital, pintu pesawat tentu akan mendapatkan proteksi khusus.

Mungkin karena menjadi ‘titik’ yang dikhawatirkan banyak orang, membuat beberapa kali ada upaya teror yang dilakukan untuk membuka paksa pintu pesawat. Tidak hanya kejadian di atas,salah satu peristiwa teror yang terkait upaya membuka paksa pintu pesawat belum lama ini dialami oleh maskapai Australia, Qantas Airlines dengan pesawat Airbus A380 QF12 dalam perjalanan dari Los Angeles menuju Sydney pada 28 Mei 2017 kemarin. Namun, untungnya pintu yang hendak dibuka oleh pria tersebut adalah pintu darurat, yang memang tidak akan bisa dibuka saat pesawat berada di ketinggian jelajahnya, tekanan kabin akan menyulitkan pintu tersebut untuk dibuka.

Ketika KabarPenumpang.com melansir dari laman rd.com, proses yang akan terjadi ketika seseorang berusaha untuk membuka pintu pesawat ketika tengah menjelajah udara adalah terlempar ke luar. “Siapa pun yang berdiri di dekat pintu keluar akan terpental ke langit,” ungkap seorang pilot bernama Patrick Smith. Proses dekompresi yang terjadi juga akan menurunkan suhu kabin dengan sangat cepat, dan yang paling parah adalah ketika kaca-kaca pesawat yang mulai pecah dan menambahkan lubang baru.

Baca Juga: Sejumlah Fakta dari Proses Emergency di Pesawat Terbang

Ketika suasana mulai mencekam seperti ini, masker oksigen akan turun dari bagian atas penumpang. Karena ketika proses dekompresi, oksigen secara otomatis akan tersedot keluar dan penumpang akan mengalami sulit bernapas. “Anda memiliki waktu 15 hingga 20 detik untuk tetap bertahan secara sadar untuk mengenakan masker oksigen,” tambah Patrick.

Lebih lanjut, Patrick mengatakan sebisa mungkin pilot akan menerbangkan pesawat di ketinggian 10.000 kaki, karena di ketinggian tersebutlah orang-orang masih bisa bernafas secara normal dan pesawat bisa melakukan persiapan untuk pendaratan darurat. Kembali, penting bagi kita semua untuk mendengarkan instruksi yang senantiasa diingatkan oleh awak kabin dan display informasi sebelum berlangsungnya penerbangan. “Gunakan Masker Oksigen Terlebih Dahulu, Baru Bantu Orang Lain.”

Kwek-Kwek! Bebek ini Bikin Heboh Subway di Brooklyn

Membawa jalan-jalan binatang peliharaan tentu merupakan hal yang menyenangkan bagi semua orang. Ketika era 90-an, banyak orang yang menggendong beragam reptil di bahu mereka, mulai dari iguana hingga ular sekalipun. Untuk anjing, memang sudah lumrah untuk diajak lari berkeliling komplek, atau mengendara bersama di mobil. Tapi pernahkah Anda melihat seekor bebek yang dijadikan peliharaan oleh majikannya?

Baca juga: Bebek Ini Bantu Atasi Stress Pasca Trauma

Layaknya ayam, di Indonesia, bebek umumnya dijadikan hewan ternak yang menjanjikan. Bebek juga dianggap bisa menggantikan peran anjing untuk menjaga rumah, karena diketahui bebek akan terus mengeluarkan suara khasnya jika melihat kehadiran orang asing yang tidak ia kenali. Berbeda dengan anjing yang masih bisa “didiamkan” dengan bermodal tulang.

Di New York, ada pemandangan yang sedikit unik manakala seorang pengguna jejaring sosial Instagram mengabadikan momen seekor bebek yang berjalan-jalan menggunakan tali pengikat bersama majikannya. Dalam postingannya tersebut, nampak ungags yang identic dengan tokoh kartun Donald Duck tersebut merasa kurang nyaman dibelenggu menggunakan tali pengikat oleh majikannya.

Sebagaimana yang dilansir KabarPenumpang.com dari laman nypost.com (22/8/2017) kejadian yang terjadi pada Senin (21/8/2017) ini sontak mencuri perhatian semua orang yang berada di kereta G, layanan kereta bawah tanah di New York City. Terlihat si bebek mengacak-acak bulunya, menandakan ia kurang nyaman dengan keadaan sekitarnya.

Maximillian Kirchoff, pengguna Instagram yang mengunggah video bebek di kereta bawah tanah tersebut awalnya mengira suara yang dihasilkan oleh si bebek merupakan suara anak anjing yang dibawa oleh salah satu penumpang di dalam layanan kereta tersebut. “Saya melihat ke sekitar untuk mencari sumber suara. Ternyata binatang yang awalnya saya kira anjing tersebut adalah seekor bebek putih. Ia digendong oleh seorang wanita,” ungkap Maximillian. “Jaraknya juga sangat denkat dengan saya, mungkin hanya beberapa meter saja,” tambahnya.

Baca juga: Niat Ambil Barang di Ban Berjalan, Penumpang Malah Temukan Kepiting Hidup

“Sang majikan juga membiarkan si bebek itu berkwek-kwek ria di lantai kereta. Tentu ini membuat orang-orang di sekitarnya sedikit menjauh untuk memberi ruang terhadap bebek itu,” tukas Maximillian yang diketahui naik dari stasiun Williamsburg. Lebih lanjut, seorang penumpang di kereta yang sama menanyakan perihal si bebek berparuh kuning tersebut kepada majikannya. “Ini peliharaan saya,” jawab wanita itu pendek. “Saya sudah merawatnya sejak ia masih sangat kecil.” Tutup wanita yang identitasnya tidak diketahui tersebut.

Patut diketahui bahwa bebek merupakan salah satu binatang yang masuk jajaran “Native or Exotic Wildlife” versi Big Apple, julukan untuk New York City.

Atasi Ketimpangan Ekonomi, Kemenhub Proyeksikan 8 Bandara Baru di Selatan Jawa

Dengan dibukanya ruang udara di Selatan Jawa untuk penerbangan sipil, menjadi babak baru dalam upaya pembangunan wilayah bagian selatan Pulau Jawa yang cenderung tertinggal dari kawasan utara Pulau Jawa. Dengan niatan mendorong industri dan wisata, Pemerintah lewat Kementerian Perhubungan telah memproyeksikan pembukaan beberapa bandara baru di Selatan Jawa.

Beberapa proyek bandara di Selatan Jawa memang kini telah rampung atau berstatus operasional dengan pengembangan, seperti Bandara Blimbingsari di Banyuwangi dan Notohadinegoro di Jember. Dua bandara tersebut masih sebagian kecil dan masih ada enam lainnya yang akan dibangun, yaitu di Sukabumi, Tasikmalaya, Yogyakarta tepatnya di Kulon Progo, Purbalingga, Kediri dan Tulungagung. Kedelapan daerah ini masuk dalam rencana pengembangan untuk perkembangan ekonomi di daerahnya.

Baca juga: Bandara Blimbingsari, Andalkan Konsep Green Airport dan Kearifan Lokal

Direktur Jenderal Perhubungan Udara Kemenhub Agus Santoso mengatakan, pengembangan bandara baru atau yang sudah ada di selatan Jawa menjadi bagian dari upaya pemerintah untuk mengurangi ketimpangan ekonomi. “Selama ini Jawa sebelah utara itu menjadi pusat pertumbuhan ekonomi. Sedangkan tengah ke selatan terlupakan, sehingga perkembangan ekonomi menjadi timpang sekali,” katanya yang dikutip KabarPenumpang.com dari bisnis.com (21/8/2017).

Hal ini juga yang membuat pengembangan bandara di wilayah selatan Jawa menjadi salah satu solusinya. Bila berjalan lancar, Kemenhub berharap bandara-bandara tersebut bisa dimulai pengerjaannya pada tahun 2018 dan 2019 mendatang. Saat ini bandara Kulon Progo dan Blimbingsari sudah lebih dulu dikembangkan. Sedangkan Bandara Notohadinegoro yang berada di Jember juga mulai dalam perencanaan pengembangan.

Kepala Bagian Perencanaan Direktorat Perhubungan Udara Kemnhub Syamsu Rizal mengatakan, pengembangan selatan Jawa ini ada beberapa yang masih dalam tahap penentuan lokasi untuk bandara. “Kami masih menentukan titik-titik mana saja yang perlu dibangun bandara guna menjadi pusat pertumbuhan ekonomi baru. Ini tidak mudah, karena banyak hal yang harus selesai lebih dulu,” tuturnya.

Adapun tantangan yang dihadapi pada pembangunan bandara di selatan Jawa yakni bentuk daratan (terrain) yang terlalu tinggi dan luas pembebasan lahan yang terlalu besar serta dukungan infrastruktur jalan. Karena masalah ini, pemerintah kemudian melakukan pengkajian secara teknis agar bandara yang dibangun tetap memenuhi aspek keamanan dan keselamatan penerbangan sipil sesuai dengan standar internasional.

“Kami juga tidak tahu secara pasti kapan kajian itu selesai, namun yang pasti target dalam RPJMN 2019 itu ada. Namun, titik yang mana itu belum. Mungkin beberapa saat lagi, kita akan sampaikan,” ujar Syamsu. Dikatakan Syamsu, proses pengembangan bandara di selatan Jawa saat ini sudah cukup baik dimana terlihat dengan mulai dipublikasikannya jalur udara baru untuk penerbangan komersial di selatan Jawa. Sebagai catatan, jalur udara penerbangan komersial di Jawa selatan resmi dipublikasikan ke Aeronautical Information Publication (AIP) pada 17 Agustus 2017. Sesuai dengan regulasi penerbangan, jalur udara tersebut akan efektif pada 56 hari ke depan.

Baca juga: Tahun 2019, Bandara Notohadinegoro Siap Didarati Boeing 737

“Alhamdulillah, jalur udara untuk penerbangan komersial di Jawa selatan sudah diresmikan. Tentunya, setelah jalur udaranya rampung, sekarang tinggal mengurus titik-titik mana saja yang akan dibangun bandara,” kata Syamsu.