Atasi Ketimpangan Ekonomi, Kemenhub Proyeksikan 8 Bandara Baru di Selatan Jawa

Dengan dibukanya ruang udara di Selatan Jawa untuk penerbangan sipil, menjadi babak baru dalam upaya pembangunan wilayah bagian selatan Pulau Jawa yang cenderung tertinggal dari kawasan utara Pulau Jawa. Dengan niatan mendorong industri dan wisata, Pemerintah lewat Kementerian Perhubungan telah memproyeksikan pembukaan beberapa bandara baru di Selatan Jawa.

Beberapa proyek bandara di Selatan Jawa memang kini telah rampung atau berstatus operasional dengan pengembangan, seperti Bandara Blimbingsari di Banyuwangi dan Notohadinegoro di Jember. Dua bandara tersebut masih sebagian kecil dan masih ada enam lainnya yang akan dibangun, yaitu di Sukabumi, Tasikmalaya, Yogyakarta tepatnya di Kulon Progo, Purbalingga, Kediri dan Tulungagung. Kedelapan daerah ini masuk dalam rencana pengembangan untuk perkembangan ekonomi di daerahnya.

Baca juga: Bandara Blimbingsari, Andalkan Konsep Green Airport dan Kearifan Lokal

Direktur Jenderal Perhubungan Udara Kemenhub Agus Santoso mengatakan, pengembangan bandara baru atau yang sudah ada di selatan Jawa menjadi bagian dari upaya pemerintah untuk mengurangi ketimpangan ekonomi. “Selama ini Jawa sebelah utara itu menjadi pusat pertumbuhan ekonomi. Sedangkan tengah ke selatan terlupakan, sehingga perkembangan ekonomi menjadi timpang sekali,” katanya yang dikutip KabarPenumpang.com dari bisnis.com (21/8/2017).

Hal ini juga yang membuat pengembangan bandara di wilayah selatan Jawa menjadi salah satu solusinya. Bila berjalan lancar, Kemenhub berharap bandara-bandara tersebut bisa dimulai pengerjaannya pada tahun 2018 dan 2019 mendatang. Saat ini bandara Kulon Progo dan Blimbingsari sudah lebih dulu dikembangkan. Sedangkan Bandara Notohadinegoro yang berada di Jember juga mulai dalam perencanaan pengembangan.

Kepala Bagian Perencanaan Direktorat Perhubungan Udara Kemnhub Syamsu Rizal mengatakan, pengembangan selatan Jawa ini ada beberapa yang masih dalam tahap penentuan lokasi untuk bandara. “Kami masih menentukan titik-titik mana saja yang perlu dibangun bandara guna menjadi pusat pertumbuhan ekonomi baru. Ini tidak mudah, karena banyak hal yang harus selesai lebih dulu,” tuturnya.

Adapun tantangan yang dihadapi pada pembangunan bandara di selatan Jawa yakni bentuk daratan (terrain) yang terlalu tinggi dan luas pembebasan lahan yang terlalu besar serta dukungan infrastruktur jalan. Karena masalah ini, pemerintah kemudian melakukan pengkajian secara teknis agar bandara yang dibangun tetap memenuhi aspek keamanan dan keselamatan penerbangan sipil sesuai dengan standar internasional.

“Kami juga tidak tahu secara pasti kapan kajian itu selesai, namun yang pasti target dalam RPJMN 2019 itu ada. Namun, titik yang mana itu belum. Mungkin beberapa saat lagi, kita akan sampaikan,” ujar Syamsu. Dikatakan Syamsu, proses pengembangan bandara di selatan Jawa saat ini sudah cukup baik dimana terlihat dengan mulai dipublikasikannya jalur udara baru untuk penerbangan komersial di selatan Jawa. Sebagai catatan, jalur udara penerbangan komersial di Jawa selatan resmi dipublikasikan ke Aeronautical Information Publication (AIP) pada 17 Agustus 2017. Sesuai dengan regulasi penerbangan, jalur udara tersebut akan efektif pada 56 hari ke depan.

Baca juga: Tahun 2019, Bandara Notohadinegoro Siap Didarati Boeing 737

“Alhamdulillah, jalur udara untuk penerbangan komersial di Jawa selatan sudah diresmikan. Tentunya, setelah jalur udaranya rampung, sekarang tinggal mengurus titik-titik mana saja yang akan dibangun bandara,” kata Syamsu.

Diskriminasi Penumpang Israel, El Al Tolak Turunkan Dana Kompensasi

Sebuah pengadilan di Paris, Perancis telah memenangkan gugatan penurunan dana kompensasi sebesar 900 euro atau setara dengan Rp14 juta untuk penumpang Israel El Al Israel Airlines Ltd. yang penerbangannya mengalami penundaan. Putusan yang dimenangkan oleh situs Belgia, ClaimIt tersebut sekali lagi menekankan bahwa pihak El Al secara hukum sama sekali tidak berhak untuk mendiskriminasikan penumpang dengan domisili Israel.

Baca Juga: Ben Gurion, Bandara Paling Aman dengan Standar Keamanan Tertinggi di Dunia

Dihimpun KabarPenumpang.com dari laman globes.co.il (1/8/2017), pihak El Al berargumentasi bahwa pengadilan tersebut beroperasi sesuai dengan hukum Israel, yang mengharuskan para penumpang diberi kompensasi hanya jika penerbangan ditunda delapan jam atau lebih. El Al sendiri lebih memilih hukum Israel karena undang-undang Uni Eropa mengharuskan penumpang diberi kompensasi jika penerbangan ditunda selama tiga jam meskipun juga mencakup maskapai asing yang mengoperasikan penerbangan ke dan dari Uni Eropa. Kompensasi senilai 250 – 600 euro harus dibayar tergantung jarak penerbangan.

Operator El Al berusaha semaksimal mungkin untuk menghindari pembayaran kompensasi tersebut dengan alasan seperti “keadaan khusus” yang mencakup perang, serangan teror, cuaca ekstrem atau serangan tak terduga. Dalam hal ini, pihak El Al gagal mencoba trik ini.

Sebelumnya, pihak ClaimIt telah memenangkan perkara soal kompensasi untuk penumpang Israel dalam kasus serupa di Jerman dan Belanda. Dalam ketiga kasus tersebut, El Al telah sepakat untuk menurunkan dana kompensasi untuk warga Uni Eropa pada penerbangan yang tertunda namun bukan untuk orang Israel.

Kasus terbaru di Perancis ini melibatkan penerbangan pada bulan September 2015 yang ditunda lebih dari tiga jam dalam penerbangan dari bandara Charles de Gaulle, Paris ke bandara Ben Gurion di Tel Aviv. Undang-undang Eni Eropa mensyaratkan operator penerbangan untuk membayar kompensasi masing-masing penumpang 400 euro (untuk penerbangan 3.500 kilometer).

Sebaliknya El Al menolak klaim kompensasi dengan alasan bahwa itu adalah penerbangan Tel Aviv – Paris – Tel Aviv yang tunduk pada hukum Israel dan bukan undang-undang Uni Eropa dan meminta penumpang tersebut membayar biaya pengadilan sebesar 1.000 dollar. Pengadilan tersebut menolak klaim El Al dengan alasan bahwa ini adalah penerbangan dari Paris ke Tel Aviv dan memerintahkan El Al untuk membayar kompensasi penumpang sebesar 400 euro dan biaya pengadilan sebesar 500 euro. Claimit mengambil biaya 30 persen untuk menangani kasus pengadilan.

Baca Juga: Pembajakan Pesawat Terlama, 39 Hari Kelam Penumpang El Al Flight 426

CEO ClaimIt, Ralph Pais mengatakan pihaknya bekerja sama dengan puluhan perusahaan penerbangan di seluruh dunia dan siap membela maskapai manapun yang dirasa sudah menyelewengkan wewenang. “Dari sudut pandang kami, pihak El Al tidak menghormati hak penumpangnya,” tuturnya.

ClaimIt mengatakan bahwa pihaknya memiliki lebih banyak tuntutan hukum dari penumpang Israel karena penerbangan yang tertunda tersebut melibatkan penerbangan lain di Kroasia, Hungaria dan Bulgaria. Ralph menambahkan, “Kami akan terus menyeret El Al ke pengadilan sampai maskapai tersebut menyadari bahwa mereka tidak diizinkan untuk melakukan diskriminasi terhadap penumpang Israel,” ucap Ralph.

Menanggapi tuntutan yang diajukan oleh ClaimIt, pihak El Al membantah telah melanggar undang-undang yang berlaku. “Kami memprotes klaim yang diajukan oleh CEO ClaimIt dan tidak terlalu mempedulikannya. El Al beroperasi sesuai dengan undang-undang penerbangan yang berlaku di seluruh dunia,” tutup pihak El Al santai.

Gandeng Merek-Merek Ternama, Wonderful Indonesia Lebarkan Sayap

Wonderful Indonesia, merupakan brand dari Kementerian Pariwisata untuk mengenalkan Indonesia pada masyarakat Indonesia dan dunia. Belum lama ini, Kemenpar kembali meningkatkan kerjasama Wonderful Indoneisa co-branding Forum (WICF) dengan beberapa perusahaan Indonesia. Diketahui, saat ini ada beberapa perusahaan yang sudah bekerjasama yakni Garuda Food, Paptonk dan Boun Gout.

Baca juga: Tourist Information Center, Mudahkan Wisman saat tiba di Bandara Soetta

Tahun 2017 ini, merupakan pertama kalinya WICF diselenggarakan dan akan dilakukan secara berkala oleh Kemenpar sebagai upaya mengajak brand besar, menengah maupun kecil di Indonesia untuk berkolaborasi melalui co-branding partnership dengan brand Wonderful Indonesia atau Pesona Indonesia. Kemudian, tahun ini Kemenpar mengundang 16 produk Indonesia untuk menandatangani kepesakatan dengan menempatkan brand Wonderful Indonesia ke dalam produk mereka. Penandatanganan ini dilakukan pada Wnderful co-branding Forum di Gedung Sapta Pesona pada 10 Agustus 2017 kemarin.

“Sekitar 100 perusahaan dan merek ditetapkan untuk menghadiri acara tersebut. Sejauh ini 16 merek telah sepakat untuk menandatangani MoU tersebut. Prakarsa co-branding dilakukan setiap tiga bulan sekali, “jelas Deputi Pengembangan Pemasaran Nusantara Esthy Reko Astuti yang dikutip KabarPenumpang.com dari thejakartapost.com.

Diantara 16 brand tersebut yakni Achilles, Garuda Food, Polygon, Sahid Group, Tiket.com, Alleira Batik & Gaia, Sunpride, Sarinah, Sekar Group, Krisna Oleh-oleh, Taman Rahasia, Sababay Wine, Bon Gout, Martha Tilaar, Malang Strudle Dan Batik Trusmi.

“Penandatanganan MoU tersebut akan dihadiri oleh Menteri Pariwisata Arief Yahya dan perwakilan merek, seperti Teuku Wisnu, Martha Tilaar, Gusti Ngurah Anom, Hardianto Atmadja, Dian Sastrowardoyo sebagai pendiri Freamtrip dan masih banyak lagi,” tambah Departemen Strategi Pemasaran Pariwisata Asisten pembantu Hariyanto.

Inisiatif kolaborasi co-branding bertujuan untuk mencapai tiga tujuan strategis yaitu mendongkrak brand equity dari brand Wonderful Indonesia di pasar global dan brand Pesona Indonesia di pasar domestik. Mengembangkan penetrasi pasar dan memperluas exposure brand tersebut dengan memanfaatkan market network yang dimiliki oleh brand atau perusahaan terkait dan terwujudnya sharing resources antara kedua brand yang ber-cobranding.

“Branding pariwisata Indonesia tidak bisa dilakukan secara sendirian oleh Kemenpar. Untuk mewujudkan brand WI di pasar global dan brand PI di pasar domesik dibutuhkan kebersamaan dan sinergi seluruh elemen bangsa dalam kerangka Indonesia Incorporated”, kata Menteri Pariwisata Arief Yahya.

Menurutnya, co-branding akan menghasilkan penghematan biaya promosi yang substansial karena dengan berpartner maka biaya promosi akan ditanggung secara bersama. “Anggaran dari APBN terbatas, karena itu kami ingin berkolaborasi dengan brand atau perusahaan agar terjadi efisiensi biaya promosi,” ujarnya.

Diminati Investor, Angkasa Pura I Raih Kembali Peringkat Triple A dari Pefindo

Tidak sekedar mencetak laba, kinerja positif perusahaan juga tercermin langsung dari laporan keuangan, dan pada hari ini BUMN pengelola 13 bandara di kawasan Indonesia Tengan dan Indonesia Timur, yakni PT Angkasa Pura I (Angkasa Pura Airports) diwartakan telah meraih meraih peringkat (rating) idAAA (Triple A) dari PT Pemeringkat Efek Indonesia (Pefindo) dengan outlook stabil untuk periode 7 Agustus 2017 sampai dengan 1 Agustus 2018.

Baca juga: Semester I 2017, Laba PT Angkasa Pura I Naik 61 Persen

Dikutip KabarPenumpang.com dari siaran pers hari ini, Pefindo juga menetapkan kembali peringkat idAAA dan idAAAsy terhadap Obligasi I Angkasa Pura I Seri A, Seri B, Seri C tahun 2016 senilai Rp2,5 triliun serta Sukuk Ijarah I Angkasa Pura I Seri A, Seri B, Seri C Tahun 2016 senilai Rp500 miliar untuk periode yang sama dengan periode rating secara korporasi, yaitu 7 Agustus 2017 hingga 1 Agustus 2018.

Peringkat tersebut diberikan Pefindo berdasarkan data dan informasi dari perusahaan serta Laporan Keuangan Tidak Diaudit per 30 Juni 2017 dan Laporan Keuangan Audit per 31 Desember 2016. Seperti diketahui, idAAA merupakan peringkat tertinggi yang diberikan Pefindo dimana peringkat ini menunjukkan kemampuan penerbit obligasi (obligor) yang superior dalam memenuhi komitmen jangka panjangnya.

Direktur Keuangan dan Teknologi Informasi PT Angkasa Pura I (Persero) Novrihandri mengatakan bahwa peringkat tertinggi obligasi AP I yang diberikan dalam rangka pemantauan tahunan itu menggambarkan secara singkat menariknya obligasi Angkasa Pura I bagi investor. “Hal ini juga menandakan bahwa risiko gagal bayar sangat rendah sehingga dapat memberikan gambaran kepada calon investor bahwa obligasi yang dikeluarkan Angkasa Pura I ini memiliki prospek yang baik untuk investasi,” ungkap Novrihandri.

Baca juga: Tingkatkan Akselerasi Perusahaan, Angkasa Pura Airports Tambah Direksi Baru

Selain itu, peringkat-peringkat tersebut mencerminkan dukungan pemerintah yang kuat kepada Angkasa Pura I karena peran strategis bandara, keunggulan kompetitif yang kuat dari ekonomi wilayah yang dilayani, dan marjin profitabilitas yang stabil. Namun, peringkat tersebut dibatasi oleh leverage keuangan yang tinggi dalam jangka pendek ke menengah.

Sebagai informasi, dana yang diperoleh dari Obligasi dan Sukuk Ijarah ini setelah dikurangi dengan biaya-biaya emisi, sekitar 75 persen akan digunakan Angkasa Pura I untuk mengembangkan lima bandaranya yaitu, Bandara Yogyakarta Baru, Bandara Ahmad Yani Semarang, Bandara Syamsudin Noor Banjarmasin, Bandara Juanda Surabaya, dan Bandara Sultan Hasanuddin Makassar. Sisanya digunakan untuk investasi rutin.

Sebuah Drone Hambat Aktifitas Bandara Indira Gandhi Hingga 40 Menit

Operasi penerbangan di Bandara Internasional Indira Gandhi di New Delhi, India pada Minggu (20/8/2017) sempat terhambat akibat penemuan sebuah drone di salah satu landas pacunya. Pada awalnya, dua orang pilot dari dua maskapai yang berbeda menemukan kejanggalan di landas pacu yang seharusnya masuk ke dalam kategori clear area. Akibat kejadian ini, beberapa maskapai mengalami keterlambatan penerbangan.

Baca Juga: The Robird Drone, Robot Penangkal Bird Strike di Bandara Edmonton

Dilansir KabarPenumpang.com dari laman hindustantimes.com (21/8/2017), seorang pilot penerbangan internasional menyadari ada sebuah benda terbang pada pukul 11.20 waktu setempat. Lalu seorang pilot AirAsia juga menyadari hal serupa pada 12.20 waktu setempat, lalu melaporkan kejadian tersebut pada ground crew dan ATC. Kebijakan pun ditempuh oleh pihak bandara untuk membekukan aktifitas di landas pacu sementara guna mengidentifikasi benda tersebut.

Proses identifikasi gabungan pun dilakukan untuk kembali menormalkan aktifitas bandara. Central Industrial Security Force (CISF), Kepolisian New Delhi, dan pihak keamanan bandara langsung bergegas ke lokasi kejadian guna mengungkap identitas dari pesawat tidak dikenal ini. Namun hingga berita ini diturunkan, pihak kepolisian masih belum bisa menjelaskan mengenai identitas dari drone nyasar tersebut.

Diketahui, dua penerbangan Air India dilaporkan dialihkan ke Lucknow dan Ahmedabad. Tidak hanya itu, maskapai GoAir dan satu penerbangan IndiGo dialihkan ke Jaipur di Rajasthan selama gangguan operasi penerbangan yang memakan waktu kurang lebih 40 menit tersebut.

Wakil komisaris polisi di bandara, Sanjay Bhatia mengatakan pihaknya telah menerima keluhan dari bandara mengenai gangguan penerbangan tersebut. “Kami melihat kasus ini dan akan mengambil tindakan hukum guna menuntaskan kasus ini,” ungkapnya.

Drone yang Jatuh di Pantai Rancabuaya, Garut. Sumber: Antara

Ternyata, kejadian drone nyasar seperti ini tidak hanya terjadi di India. Dilansir dari sumber berbeda, sebuah pesawat tanpa awak juga ditemukan warga di bibir Pantai Rancabuaya, Desa Purbayani, Kecamatan Caringin, pada Minggu (20/08/2017) pagi. Kepala Satuan Polisi Air dan Udara Polres Garut, AKP Tri Andri mengungkapkan bahwa bangkai pesawat tanpa awak tersebut langsung dilaporkan ke aparat kepolisian dan TNI setempat guna mendapati penanganan lebih lanjut.

“Ditemukan sudah tidak utuh, bagian depan rusak, yang terlihat utuh hanya bagian belakang dan bagian dalamnya saja. Jadi belum bisa dipastikan ini drone atau pesawat intai,” jelas Tri. Diduga, drone sepanjang tiga meter dengan balutan warna oranye tersebut merupakan objek tembak (target drone) dari sebuah rudal, mengingat Kementerian Pertahanan sempat melakukan uji coba peluncuran roket di sekitar pantai selatan Garut, beberapa hari sebelumnya.

Baca Juga: Ketika Dunia Transportasi “Teracuni” Perkembangan Jaman

Jika Kementerian Pertahanan menyatakan pesawat tersebut bukan milik mereka, maka drone dengan tulisan “target” pada bagian sayapnya tersebut akan diserahkan ke pihak yang berwenang untuk diidentifikasi lebih lanjut.

Sopir Bus SMRT Singapura Keder, Penumpang Pun Berperan Sebagai Navigator

Serba teratur dan tertib, itulah ciri transportasi di Singapura, selain kondang dengan keberadaan kereta komuter MRT (Mass Rapid Transit), transportasi di Negeri Pulau tersebut juga akrab dengan eksistensi bus kota yang dikelola SMRT Busus Ltd, maklum tetap dibutuhkan bus untuk mennjangkau rute-rute ‘pedalaman’ kota yang tak terjamah jaringan kereta. Dan baru-baru ini, SMRT dikabarkn membuka rute baru, namun bus di rute baru ini sempat membuat penumpangnya mengalami gejolak, lantaran ada kesalahan sistem pada navigasi yang menandu sopir.

Baca juga: Bus Singapura Gunakan Aroma Terapi Sebagai Tanda

Kejadian tersebut berlangsung pada jam puncak, yakni Kamis malam dan Jumat pagi lalu, dimana penumpang wajib merencanakan kepergian mereka pada Jumat malam. Dilansir KabarPenumpang.com dari mothership.sg (19/8/2017), jalur bus SMRT yang bermasalah tersebut melayani antar jemput gratis dari stasiun MRT North Line – South Line. Ironisnya saat itu sopir tidak tahu harus pergi kearah mana, bukan karena sopir tidak hafal jalan, melainkan sopir mengalami kebingungan dengan rute baru, akibat panduan GPS dari pusat operasi mengalami masalah dalam transmisi data.

Salah seorang reporter CNA, Justin Ong yang saat itu berada di bus tersebut langsung menyadari kesulitan yang dialami sopir. Saat itu, Ong menaiki bus SMRT dari Bishan MRT dan berbicara pada pengemudi saat tiba di stasiun Braddell MRT. Sopir mengaku dirinya ditunjuk untuk pertama kalinya dalam 22 tahun mengemudi melakukan perjalanan tanpa mengenal daerah Bishan dan Toa Payoh. Dia mengatakan, awalnya pusat kendali SMRT akan memberi arahan pada dirinya melalui interkom.

Ong mengatakan, kejadian tersebut belum pernah terjadi sama sekali dan ini untuk pertama kalinya mendegar suara panduan lewat radio HT kepada sopir bus, dari pusat kendali di kantor pusat, diingatkan untuk perhentian terakhir di stasiun Network MRT. “Bisakah kamu memperlambat agar bus di belakang bisa menyusul? Mereka juga tidak tahu jalurnya,” ujar Ong menirukan suara dari komunikasi radio di SMRT. Ini menyiratkan bahwa ada beberapa sopir SMRT yang mengalami masalah serupa.

Sang sopir yang membawa Ong dan penumpang lainnya masih mengikuti instruksi hingga akhirnya turun di Novena. Tanpa sadar Ong sebagai penumpang memiliki inisiatif menjadi naigator atau “GPS manusia” untuk melakukan navigasi ke tujuan berikutnya. “Perjalanan ini diserahkan kepada saya dan akan saya arahkan ke Newton,” ujar Ong dalam komunikasi radio ke pusat kendali.

Sebagai navigator, Ong harus berhati-hati memberikan rute kepada sopir, berlaku layaknya staf SMRT dadakan, Ong mengumumkan pada penumpang bahwa SMRT tidak berhenti di halte bus reguler dan hanya berhenti di stasiun-stasiun kereta aja. “Saat mendekati Far East Plaza, seorang penumpang membunyikan bel untuk berhenti, tetapi sopir mengabaikannya,” kata Ong. Diketahui penumpang tersebut berteriak karena pengemudi tidak memberhentikan busnya. Ong menjelaskan pada penumpang tersebut bahwa perhentian hanya di stasiun dan si penumpang akhirnya mengerti.

Ternyata bukan Ong saja yang berperan sebagai navigator bus, melainkan ada tiga bus SMRT lainnya yang juga dipandu oleh penumpangnya. “Sebagai bagian dari rencana pemulihan dan kontinjensi SMRT, sopir bus atau disebut Kapten Bus (BC) kami mengikuti pelatihan untuk mempelajari beberapa rute layanan pemadu moda di sepanjang jalur LRT Utara, Jalur Timur-Barat, Lingkaran dan LRT Panjang Panjang. BC harus mempelajari rute-rute ini, selain rute reguler yang mereka lalui setiap hari, dan pelatihan penyegaran dilakukan agar BC terbiasa dengan rute tersebut,” ujar Wakil Presiden untuk Komunikasi Korporat SMRT, Patrick Nathan.

Baca juga: Bus 3 Pintu, Calon Primadona Masyarakat Singapura

Ketika diminta untuk menyediakan layanan bus pemadu moda (feeder) untuk membantu penumpang yang terkena gangguan layanan MRT, BC mungkin diminta untuk melewati rute yang kurang mereka kenal. Tugas mereka yang mendorong layanan bus feeder ini lewat bus guide onboard, atau jarak jauh melalui komunikasi radio dengan service controllers di Bus Operations Control Center, yang membantu mereka untuk bernavigasi. “BC kami selalu siap melayani dan membantu komuter, dan melakukan yang terbaik untuk memastikan agar para penumpang komuter mencapai tujuan mereka dengan selamat. Situasi ini dinamis dan bisa membuat stres bagi BC kita. Kami menyadari bahwa ada ruang untuk perbaikan, dan kami terus berupaya memperbaiki upaya pemulihan layanan,” kata Nathan.

Spektakuler! Utrecht Bangun Fasilitas Parkir Sepeda Terbesar di Dunia

Bagi Anda yang pernah mengunjungi negeri Kincir Angin, Belanda, mungkin Anda akan menggelengkan kepala manakala melihat “kegilaan” penduduk setempat terhadap transportasi roda dua ramah lingkungan. Ya, pengguna sepeda di negara ini memang begitu dominan. Tidak hanya dengan tujuan untuk berolahraga semata, melainkan beberapa lapisan masyarakat di sini juga memilih menggunakan sepeda sebagai sarana transportasi untuk beraktifitas sehari-hari, seperti berangkat ke sekolah hingga bekerja.

Baca Juga: Sarana dan Pra Sarana Transportasi Termutakhir, Tidak Semuanya Mewah Loh!

Dilansir KabarPenumpang.com dari laman newatlas.com (18/8/2017), keberadaan pengguna sepeda tidak sebanding dengan lahan penyimpanan yang tersedia. Maka dari itu otoritas di kota Utrecht menyulap sebuah parkiran bawah tanah di stasiun kereta setempat menjadi sebuah tempat penyimpanan sepeda yang diberi nama The Stationsplein Bicycle Parking. Para pesepeda di Utrecht, yang terkenal sebagai kota pelajar, sudah mulai menggunakannya sejak pekan lalu, padahal lahan parkir ini belum diresmikan. Menurut laman sumber, peresmian lahan parkir ini baru akan diadakan tanggal 21 Agustus ini.

Dapat dibayangkan, lahan yang bisa dikatakan setengah jadi saja sudah dimanfaatkan oleh banyak orang sebagai tempat penyimpanan sepeda. Lahan ini mampu menampung ribuan sepeda, dan dicanangkan akan menjadi parkir sepeda terbesar di dunia. Dihimpun dari laman sumber, fasilitas tempat parkir sepeda tiga lantai ini mampu menampung hingga 6.000 sepeda. Rencananya akan ada penambahan kapasitas sebanyak 1.500 lagi ruang dalam beberapa bulan mendatang. Tapi angka tersebut hanyalah separuh dari kapasitas maksimal yang diharapkan dapat rampung pada akhir tahun depan, yaitu 12.500 sepeda.

Sepeda-Sepeda ini Disewakan Lho! Sumber: newatlas.com

Para pesepeda dapat mengakses fasilitas ini 24 jam sehari, dan tujuh hari dalam seminggu. Itu artinya parkiran ini dapat diakses kapanpun pesepeda membutuhkannya. Selama mereka memiliki sebuah kartu chip transportasi umum, para pesepeda ini dapat menggunakan fasilitas parkir secara gratis. Sebuah sistem digital juga telah dipasang untuk membebas-biayakan penggunaan lahan parkir ini. Untuk ragam sepeda pun tidak memiliki masalah, karena otoritas setempat menyadari para pesepeda ini memiliki modelnya masing-masing. Sebut saja seperti sepeda dengan stang lebar dapat parkir di zona khusus.

Sumber: newatlas.com

Tidak hanya itu, bagi warga yang tidak memilki sepeda pun dapat memanfaatkan layanan penyewaan sepeda yang tersedia di parkiran ini. Untuk masalah keamanan dan tata penggunaan parkiran pun Anda tidak perlu khawatir, karena akan ada petugas yang berpatroli di sini untuk memastikan semuanya berada dalam kondisi yang kondusif. Lalu, bagaimana jika sepeda Anda rusak? Tenang, parkiran serba lengkap ini juga menyediakan layanan perbaikan dan perawatan sepeda. Sangat lengkap bukan?

Jika melihat secara keseluruhan, sekitar 22.000 lahan parkir sepeda akan disediakan otoritas Utrecht dan menjadikannya sebagai pusat transportasi di sana, sehingga para pesepeda dapat dengan mudah mencari tempat yang aman dan tepat untuk memarkirkan sepeda mereka, tanpa harus lelah mengayuh.

Baca Juga: Ford Hadirkan Layanan Bike Sharing, Kok Bisa?

Mungkin ini merupakan suatu aksi nyata yang dilakukan oleh pemerintah Utrecht dalam menekan tingkat polusi udara yang ditimbulkan oleh kendaraan bermotor. Jika ditelaah lebih jauh, bersepeda juga dapat menyehatkan tubuh lho! Jadi, masih mau merusak lapisan ozon kita yang semakin hari semakin menipis ini?

Hadirkan Trem Listrik, Walikota Surabaya: “Tahun Depan Bisa Lebih Mahal”

Pemerintah Surabaya melalui walikotanya, Tri Rismaharini memutuskan untuk kembali menggenjot rencana pengadaan trem bertenaga listrik. Rencana tersebut akan masuk ke dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBN) tahun 2017 ini. Mulai padatnya kendaraan di kota Surabaya membuat pemerintah mengambil langkah untuk menambah sarana transportasi publik, dengan harapan agar warganya dapat meninggalkan kendaraan pribadi dan mulai menggunakan transportasi publik yang sudah disediakan.

Baca Juga: Tak Terasa Sudah 150 Tahun Sistem Perkeretaapian Belanda di Indonesia

Dihimpun KabarPenumpang.com dari laman TheJakartaPost.com (9/6/2017), pemerintah pusat setuju untuk mengalokasikan dana sebesar Rp2,7 triliun dari Obligasi Syariah Negara dan sukuk untuk mendanai proyek tersebut. Diketahui, proyek ini ditargetkan selesai pada tahun 2019 mendatang. “Kementerian Perhubungan mengatakan dalam pertemuan tersebut bahwa pemerintah akan mengalokasikan dana sebesar Rp100 miliar dari APBN tahun ini untuk trem listrik Surabaya,” Pungkas Walikota yang akrab disapa Risma tersebut. “Tahun depan anggaran akan jauh lebih besar dari itu,” tambahnya singkat.

Tidak main-main, otoritas setempat mulai bergerak dalam mewujudkan pengadaan transportasi baru tersebut. Diketahui, sejumlah bangunan yang dianggap menghalangi jalur dari trem tersebut mulai dihancurkan menggunakan alat berat. Pundi-pundi rupiah pun mulai dikocorkan pemerintah sebagai dana kompensasi untuk warga yang tempat tinggalnya terusik akibat penggusuran lahan ini.

Pemerintah sepakat untuk memulai proyek ini di jalur Utara/Selatan terlebih dahulu. Rencananya, pembangunan ini akan dimulai dari Jl. Tunjungan menuju Stasiun Joyoboyo, dimana kedua titik tersebut terpisah jarak kurang lebih sejauh 11,4 km. Nantinya, Stasiun Joyoboyo akan pula dijadikan sebagai depot bagi 25 trem listrik yang akan beroperasi di jalur ini. Sementara itu, tahap kedua administrasi akan memulai proyek dari jl. Tunjungan menuju Jembatan Merah yang terbentang sejauh 6,8 km.

Baca Juga: Ternyata, Trem Listrik di Jakarta Lebih Dulu Ketimbang di Belanda

Lebih lanjut, Risma mengaku akan berkoordinasi dengan pihak PT KAI untuk menghidupkan kembali pengoperasian Stasiun Joyoboyo. Tidak hanya dengan PT KAI, Risma juga akan berkoordinasi dengan Dewan Legislatif Surabaya untuk memutuskan tarif trem dan subsidi pemerintah.

Seperti yang diketahui sebelumnya, rencana pembangunan trem ini sudah ada sejak lama. Pada Desember tahun lalu, Menteri Perhubungan, Budi Karya Sumadi mengatakan pembangunan trem ini sudah tidak bisa ditunda lagi. Budi juga mengaku proyek ini bisa segera dijalankan tanpa harus menunggu Perpres. “”Tak perlu Perpres untuk Pembangunan Trem. Nanti akan dilelang terbuka,” tutur Budi. Ia juga mengaku optimis kehadiran trem listrik di Surabaya dapat memecah kemacetan yang semakin mengular. “Di Eropa masih menggunakan trem. Mudah-mudahan Surabaya menjadi percontohan angkutan massal Trem.” Tutupnya dilansir dari sumber terpisah.

Bisnis LCC Tak Selalu Mulus, Kasus Air Berlin Menjadi Contoh

Ditengah ketatnya kompetisi dunia penerbangan, meski dengan margin keuntungan yang tipis, layanan penerbangan berbiaya rendah atau LCC (Low Cost Carrier) umumnya sanggup bertahan ditengah himpitan. Namun faktanya tak semua LCC dapat berkibar, buktinya LCC asal Jerman, Air Berlin pada hari Selasa lalu telah ‘melempar handuk’ alias menyatakan bangkrut.

Baca Juga: Inilah Fakta di Balik Berhentinya Produksi Boeing 747-8 Intercontinental

Sebagaimana yang dikutip KabarPenumpang.com dari laman skift.com (17/8/2017), pihak Air Berlin dinyatakan bangkrut pada Selasa (15/8/2017) karena sang pemegang saham, Etihad Airways menilai pihak Air Berlin sama sekali tidak memberikan keuntungan dan terlihat hanya akan mengandalkan pinjaman pemerintah untuk terus memperpanjang masa “terbangnya” dalam kurun waktu tiga bulan ke depan.

Dihimpun dari sumber lain, alasan vokal dibalik bangkrutnya Air Berlin adalah liltan hutang yang semakin mencekik. Terhitung, maskapai ini menanggung total kerugian sebesar 782 juta euro pada tahun 2016 silam. Tidak hanya masalah finansial, tidak disiplinnya Air Berlin juga menjadi faktor pendukung runtuhnya maskapai ini. Terlalu sering terlambat memberangkatkan penumpang (delay) membuat pelanggannya enggan untuk menggunakan jasa mereka kembali. Dari masalah tidak displin ini akhirnya kembali mengarah ke segi finansial dimana pihak maskapai wajib menggelontorkan dana ganti rugi kepada para penumpang dan denda kepada pengelola bandara.

Lufthansa nampaknya menjadi salah satu perusahaan yang serius untuk membantu beberapa bisnis Air Berlin. Ini terbukti dengan peran Lufthansa yang mengambil beberapa slot untuk memberikan kesempatan untuk benar-benar membantu pertumbuhan unit Eurowings yang terkenal dengan penerbangan berbiaya rendah (LCC). Langkah ini juga dapat mendompleng pengenalan rute menuju Amerika bagian Utara. Ini juga merupakan celah bagi Lufthansa mengingat kebangkrutan Air Berlin Plc yang dapat membuka jalan bagi Deutsche Lufthansa AG untuk membuka jalur penerbangan antar benua baru.

EasyJet Plc, LCC asal Inggris juga akan turut serta dalam membantu pertumbuhan unit Eurowings dengan mengedepankan diskon-diskon yang akan mengundang banyak pelanggan. Dengan begitu, Eurowings dapat membuka kesempatan untuk kembali menawarkan penerbangan LCC jarak jauh menggunakan armada milik Lufthansa yang hingga saat ini rute penerbangan mereka sangat terbatas, hanya dari Cologne menuju Bonn di Jerman. Pada saat yang bersamaan, slot penerbangan jarak pendek di Berlin dapat membantu EasyJet bersaing dengan kompetitornya, Ryanair di pasar ekonomi di Benua Biru.

Baca Juga: Load Factor Rendah, Maskapai-Maskapai Ini Tak Lagi Mendarat di Jakarta

Dilansir dari sumber yang sama, pihak Lufthansa mengungkapkan bahwa perusahaan yang berbasis di Cologne, Jerman ini tengah melakukan perbincangan serius mengenai pembelian suku cadang dari saingan nasionalnya, sementara itu EasyJet juga menunjukkan ketertarikannya dalam hal serupa. Kesempatan untuk mengakuisisi Air Berlin sangat dijadikan momentum oleh pihak Lufthansa, dimana perusahaan tersebut dapat meraup 8.600 tenaga kerja tanpa terikat kontrak. Hal tersebut diungkapkan oleh seorang analis dari Sanford C. Bernstein & Co. Tidak hanya itu, ia juga mengatakan alasan strategis yang dilihat dari pergerakan EasyJet dalam mengembangkan model bisnisnya.

Sebelumnya, pihak Air Berlin berencana untuk melepaskan unit Niki sendiri dari Austria, yang memiliki 21 buah jet Airbus A321, dengan menggabungkannya dengan 14 pesawat dari TUI AG, salah satu operator tur terbesar di Eropa. Meskipun rencana tersebut mengalami kemunduran pada bulan Juni ketika TUI gagal menyetujui persyaratan dengan Etihad, pada hari Selasa mengatakan bahwa pihak TUI AG menyatakan siap untuk berpartisipasi dalam restrukturisasi Air Berlin.

Dirunut dari sejarahnya, Air Berlin berdiri sejak 1971, pada masanya maskapai ini pernah menjadi yang terbesar kedua di Jerman setelah Lufthansa. Bahkan di tahun 2012, Air Berlin yang melayani 52 rute penerbangan domestik dan internasional menempati posisi ketujuh maskapai terbesar di Eropa.

Gara-Gara Salah Administrasi, Perempuan Ini Tak Bisa Masuk Inggris Selama 10 Tahun

Urusan membuat visa bisa dikata gampang-gampang susah, selain kelengkapan dokumen, ada beragam faktor yang menyertai keberhasilan visa dikeluarkan oleh pihak Kedutaan Besar. Terlebih bila yang ingin disambangi adalah negara-negara dengan prosedur keamanan super ketat, seperti Amerika Serikat, Inggris dan Australia. Maka akan ada beragam prosedur yang ekstra untuk proses pembuatan visa.

Baca juga: Mudahkan Calon Penumpang, Bandara Gatwick Adopsi Augmented Reality

Dan terkait dinamika penerbitan visa, baru-baru ini dialami oleh Abbey Looker, perempuan asal New Plymouth, Selandia Baru yang dikabarkan tidak bisa masuk ke London, Inggris selama periode sepuluh tahun, lantaran visa yang tidak keluar. KabarPenumpang.com merangkum dari stuff.co.nz (20/7/2017), diceritakan bahwa Looker mengajukan visa Tier Five Youth Mobility online pada 6 Mei lalu dan mengirimkan dokumen tersebut tanggal 9 Mei. Looker dijadwalkan akan berangkat pada 19 Juni menuju Inggris. Penasaan atas proses penerbitan visa, Looker beberapa kali menelpon ke imigrasi Inggris untuk mengetahui kenapa visa yang diajukannya tidak juga sampai ke alamat Looker.

“Biasanya aplikasi visa memakan waktu dua minggu untuk diproses, tetapi saya sudah enam minggu belum mendengar kabar apapun,” ujar Looker. Sayangnya, Looker justru mendapat kabar bahwa pada 17 Juni atau dua hari sebelum keberangkatan dirinya ke London visa tersebut dikonfirmasi masih dalam proses. Tetapi, karena tiket pesawat sudah dibeli dan dibayar, dirinya memutuskan tetap berangkat dari Selandia Baru pada tanggal 19 Juni dan masuk ke Inggris dengan visa liburan enam bulan.

Saat Looker tiba di Inggris, perempuan ini tidak menemui masalah sedikitpun dan menikmati kota London dengan nyaman dan tenang. Namun muncul masalah pada enam hari kemudian, Looker bersama sang kekasih pergi ke Spanyol untuk wisata liburan lanjutan dan diakhiri dengan rute kembali ke Inggris. Nah, saat Looker tiba dari Spanyol, munculah masalah dengan petugas imigrasi di bandara Gatwick, London.

“Saya ditahan karena imigrasi menganggap saya berniat untuk tetap tinggal di visa liburan enam bulan saya,” kata Looker. Karena kejadian tersebut, Looker dikirim kembali (deportasi) ke Spanyol dan akhirnya dirinya berangkat ke Berlin untuk tinggal dengan teman-temannya. Dari informasi yang dirinya dapatkan, aplikasi visa kerja Tier Five telah ditolak karena dia telah ditahan di Gatwick.

Karena masalah tersebut, kini Looker dilarang masuk ke Inggris selama sepuluh tahun. “Ini adalah kesalahan administratif yang bisa memberi efek besar pada masa depan saya. Saya tidak berbohong pada dokumen saya dan saya berharap bisa membuktikan ini dan menghapus tuduhan penipuan dan larangan tersebut,” ujarnya.

Baca juga: Sejumlah Kalangan Desak Penghapusan Gerbong Kelas Satu dari Layanan Metro Inggris

Mungkin bagi Anda jadi penasaran, apa yang dimaksud dengan visa Tier Five Youth Mobility, visa ini khusus dikeluarkan oleh pemerintah Inggris untuk para pemuda dan pelajar dari negara Australia, Kanada, Jepang, Selandia Baru, Monako, Selandia Baru, Republik Korea dan Taiwan. Visa ini mengijinkan pemohon untuk tinggal dan bekerja di Inggris selama 2 tahun setelah wisuda.

Pengacaranya mengatakan bahwa ini bisa menjadi kasus sederhana, atau mungkin prosesnya panjang dan berlarut-larut. “Saya sudah diberitahu itu akan segera diputuskan, tapi butuh waktu lama. Ini adalah pengalaman yang mengerikan, saya diperlakukan seperti penjahat dan saya tidak melakukan kesalahan, saya hanya mengikuti peraturan,” jelas Looker. Menanggapi hal ini, ayah Looker, Grant Looker mengatakan, bahwa situasi ini sangat menggelikan. “Dia sekarang terdampar di Berlin karena pejabat imigrasi yang tidak kompeten.”