Emirates Terima Unit Pertama Airbus A350-900 dari Total 65 Unit yang Dipesan

Emirates, maskapai papan atas dari Uni Emirat Arab, mengumumkan telah menerima pesawat A350-900 pertamanya, yang menandai langkah penting dalam strategi pertumbuhan armada Emirates.

Hal ini menandai kemitraan jangka panjang antara Emirates dan Airbus yang dibangun atas dasar inovasi, efisiensi, dan keunggulan operasional. A350 akan meningkatkan operasi jarak menengah dan jauh Emirates di luar jaringan maskapai yang sudah ada.

Emirates memesan total 65 unit A350-900 sebagai bagian dari rencana maskapai yang lebih luas untuk mendukung Agenda Ekonomi Dubai, yang bertujuan untuk menambahkan 400 kota ke peta perdagangan luar negeri Dubai selama dekade berikutnya. A350 akan memainkan peran penting dalam membangun hub besar Dubai World Central (DWC) yang baru diumumkan, yang selanjutnya memperkuat posisi Dubai sebagai pemimpin penerbangan global.

Emirates A350-900 akan memiliki tiga kelas kabin yang luas dan nyaman, yang dapat menampung 312 penumpang (32 kelas bisnis, 21 kelas ekonomi premium, dan 259 kursi kelas ekonomi yang luas). Emirates juga akan menjadi maskapai penerbangan pertama di Timur Tengah yang memperkenalkan solusi konektivitas satelit HBCplus baru dari Airbus, yang menawarkan konektivitas global berkecepatan tinggi dan lancar.

Airbus A350 adalah pesawat berbadan lebar paling modern dan efisien di dunia dan terdepan dalam kategori 300-410 tempat duduk. Desainnya yang bersih mencakup teknologi canggih, aerodinamika, material ringan, dan mesin generasi terbaru yang bersama-sama memberikan keuntungan 25% dalam pembakaran bahan bakar, biaya pengoperasian, dan emisi CO₂.

Kabin Airspace A350 adalah yang paling senyap dari semua lorong ganda di langit yang menampilkan pengurangan jejak kebisingan sebesar 50% dibandingkan dengan pesawat generasi sebelumnya.

Seperti halnya semua pesawat Airbus, pesawat A350 sudah dapat beroperasi dengan hingga 50% Bahan Bakar Penerbangan Berkelanjutan (SAF). Airbus menargetkan pesawatnya memiliki kemampuan SAF hingga 100% pada tahun 2030.

Pada akhir Oktober 2024, Keluarga A350 telah memenangkan lebih dari 1.340 pesanan pasti dari 60 pelanggan di seluruh dunia.

Pacu Konektivitas Daerah, Pesawat N219 Siap Mengangkasa di Kepulauan Riau

Dalam rangka mendukung Transformasi Ekonomi Nasional dan peningkatan konektivitas wilayah Kepulauan Riau (Kepri), Direktur Utama PT Dirgantara Indonesia (PTDI), Gita Amperiawan bersama Gubernur Provinsi Kepri, Ansar Ahmad, Deputi Bidang Ekonomi Kementerian PPN RI/Bappenas, Amalia Adininggar Widyasanti, dan CEO PT Indo Aviasi Perkasa (PT IAP) mengadakan pertemuan strategis di Tanjung Pinang pada hari Senin (25/11). Pertemuan yang berlangsung di Kantor Gubernur Kepri ini berfokus pada langkah-langkah komersialisasi pesawat N219 buatan PTDI, termasuk implementasi subsidi block seat yang dirancang untuk memperkuat konektivitas di wilayah tersebut.

Sebagai pesawat hasil karya anak bangsa, N219 dirancang untuk menjawab kebutuhan transportasi udara di wilayah kepulauan dengan aksesibilitas terbatas. Dengan kapasitas 19 penumpang dan kemampuan lepas landas di landasan pendek, N219 diharapkan menjadi solusi unggulan untuk melayani jalur-jalur strategis di Kepri seperti Tanjung Pinang ke Tambelan, Dabo Singkep ke Batam, dan Letung ke Ranai. Gubernur Kepri mendukung penuh inisiatif ini dan telah menginstruksikan jajarannya untuk segera memfinalisasi mekanisme subsidi block seat dalam waktu dekat, guna memastikan harga tiket terjangkau bagi masyarakat sekaligus menjamin keberlanjutan operasional pesawat.

Selain digunakan untuk angkutan penumpang, N219 juga direncanakan untuk pengangkutan kargo, khususnya hasil laut dari Kepri yang memiliki produksi ikan tangkap lebih dari 320.000 ton per tahun. Hal ini sejalan dengan target peningkatan ekspor komoditas unggulan daerah dan pengembangan ekonomi lokal melalui penguatan sektor logistik.

Deputi Bidang Ekonomi Bappenas menekankan pentingnya realisasi Letter of Intent (LoI) antara PTDI dan PT IAP menjadi kontrak pembelian pada akhir tahun 2024. “Kami berharap pada akhir tahun 2026 pesawat N219 sudah dapat beroperasi untuk mendukung program konektivitas nasional di Kepri,” jelasnya.

Sebagai produsen pesawat satu-satunya di Asia Tenggara, PTDI telah memastikan seluruh aspek teknis untuk komersialisasi N219 di Kepri berjalan sesuai rencana. “Kami terus berkoordinasi dengan seluruh pemangku kepentingan untuk memastikan kesiapan operasional N219, termasuk pelatihan teknis SDM lokal di fasilitas AMTO1 PTDI dan ATO2 operator lokal, serta bekerja sama dengan penyedia layanan perawatan pesawat (MRO) lokal,” ujar Gita Amperiawan, Direktur Utama PTDI.

Kolaborasi ini menegaskan komitmen PTDI untuk mendukung pembangunan berkelanjutan melalui inovasi teknologi penerbangan. Dengan dukungan penuh dari Pemprov Kepri, Bappenas, dan operator dalam negeri, pesawat N219 diharapkan tidak hanya menjadi solusi transportasi, tetapi juga katalisator pertumbuhan ekonomi dan pemerataan pembangunan di wilayah Kepulauan Riau.

Pilkada 27 November Ditetapkan Sebagai Libur Nasional, Naik LRT Jabodebek Maksimal Hanya Rp10.000

Dalam rangka mendukung pelaksanaan Pilkada serentak pada Rabu, 27 November 2024, pemerintah telah menetapkan hari tersebut sebagai libur nasional. Sejalan dengan itu, LRT Jabodebek akan mengoperasikan pola weekend dengan 270 perjalanan, serta tarif yang lebih terjangkau—mulai dari Rp5.000 hingga maksimal hanya Rp10.000.

Sebagai informasi, tarif maksimal Rp10.000 ini merupakan tarif LRT Jabodebek pada saat weekend. Sedangkan pada hari kerja (weekday), tarif yang berlaku mulai dari Rp5.000 hingga maksimal Rp20.000. Kebijakan tarif ini dirancang untuk memberikan kemudahan bagi masyarakat dalam memilih moda transportasi yang hemat biaya dan tetap nyaman di berbagai kondisi.

Adapun jadwal keberangkatan pertama pada relasi LRT Jabodebek selama libur nasional Pilkada adalah sebagai berikut:
• Dukuh Atas BNI – Harjamukti: pukul 06.28 WIB
• Dukuh Atas BNI – Jatimulya: pukul 06.21 WIB
• Harjamukti – Dukuh Atas BNI: pukul 05.35 WIB
• Jatimulya – Dukuh Atas BNI: pukul 05.25 WIB

Sementara keberangkatan terakhir selama libur nasional Pilkada adalah sebagai berikut:
• Dukuh Atas BNI – Harjamukti: pukul 22.39 WIB
• Dukuh Atas BNI – Jatimulya: pukul 22.31 WIB
• Harjamukti – Dukuh Atas BNI: pukul 21.46 WIB
• Jatimulya – Dukuh Atas BNI: pukul 22.13 WIB

Manager Public Relations LRT Jabodebek, Mahendro Trang Bawono, menyampaikan bahwa kebijakan ini diambil untuk memudahkan masyarakat dalam menjalankan hak pilih mereka dengan memanfaatkan moda transportasi massal yang terjangkau.

“Dengan tarif maksimal hanya Rp10.000, kami ingin memastikan LRT Jabodebek menjadi pilihan masyarakat pada hari libur nasional. Kami berharap langkah ini tidak hanya mendukung mobilitas yang nyaman dan aman, tetapi juga meringankan masyarakat yang bepergian selama Pilkada,” ujar Mahendro.

Melalui kebijakan ini, LRT Jabodebek terus hadir memberikan layanan terbaik, mendukung momen-momen penting masyarakat, dan memperkuat perannya sebagai moda transportasi massal yang aman, nyaman, dan mengutakan keselamatan.

Jelang Nataru 2024, KAI Services Gelar Training Sales dan Hospitality untuk Prama Prami 

Menghadapi masa Liburan Natal dan Tahun Baru (Nataru) 2024, KAI Services melakukan berbagai persiapan, salah satunya dengan melakukan Training Sales dan Hospitality untuk prama prami kereta api di ruang Auditorium Kantor Pusat KAI Services, Stasiun Mangga Besar, Jakarta, pada Rabu (20/11). Training ini dilakukan selama 5 hari mulai tanggal 18 November 2024 hingga 22 November 2024 dan diikuti 150  orang prama prami.

Materi-materi yang disampaikan dalam training ini antara lain, materi Hospitality dimana peserta diberikan materi personal seperti Basic Service Excellence Attitude, Body Language, Appearance, Communication, Knowledge, dan Personal Approach. Selain teori, peserta juga melakukan praktik bagaimana melakukan pelayanan yang excellence untuk para penumpang.

Selain itu, pengajar yang terdiri dari Tim Sales dan Hospitality juga memberikan materi mengenai SOP (Rule and Regulation), Product Knowledge, serta ⁠standar dan dan strategi waktu penyajian makanan. Sementara untuk materi sales, peserta diberikan materi mengenai Selling Time, teknik penjualan, dan pengoperasian sistem trainmart.

Sementara, Director of Consumer Business KAI Services, Lies Permana Lestari, dalam penyampaian materi, mengingatkan kepada prama dan prami yang mengikuti training akan pentingnya service excellence dalam melakukan pelayanan kepada penumpang. Dihadapan para peserta training, Lies menyampaikan pesan untuk memiliki komitmen dalam memberikan pelayanan yang melampaui ekspetasi pelanggan (beyond customer’s expectation), menciptakan kepuasan, dan loyalitas, agar terciptanya hubungan yang berkelanjutan.

“Pelanggan yang puas dengan pelayanan kita akan lebih cenderung untuk kembali dan merekomendasikan KAI Services kepada keluarga, kerabat, dan teman-temannya. Hal ini tentunya dapat menciptakan pengalaman (customer experience) juga merupakan destinasi yang memuaskan dan dapat membangun hubungan jangka panjang dengan penumpang” ujar Lies.

Lies menambahkan, dengan memberikan service excellence ini, KAI Services ingin membangun reputasi dan citra perusahaan yang baik dimata pelanggan. Tidak hanya itu, dengan pelayanan luar biasa yang diberikan KAI Services tentunya dapat menciptakan pelanggan setia yang lebih tahan terhadap kompetisi. Kedepannya, pertumbuhan bisnis KAI Services juga diharapkan akan menjadi lebih baik lagi.

“Training ini menjadi persiapan KAI Services untuk menghadapi masa Nataru 2024 bulan depan. Kita akan mempersiapkan dengan sebaik-baiknya untuk memberikan service excellence kepada para pelanggan kami” ujar Lies.

Fokus utama dalam Service Excellence antara lain meningkatan kualitas interaksi dengan pelanggan, memahami dan memenuhi kebutuhan pelanggan secara konsisten, serta menciptakan pengalaman yang memuaskan dan membangun hubungan jangka Panjang. Adapun elemen kunci dalam service excellence antara lain, kepuasan pelanggan, kualitas layanan, konsistensi, empati, personalisasi, dan komunikasi yang jelas.

NASA Gelontorkan US$11,5 Juta untuk Bantu Ciptakan Desain Pesawat Generasi Berikutnya

Lembaga Penerbangan dan Antariksa Amerika Serikat, NASA tengah mempercepat upaya untuk merevolusi penerbangan komersial dengan inisiatif berani yang bertujuan untuk mengurangi dampak lingkungan dan meningkatkan efisiensi. Badan tersebut telah menugaskan lima studi desain inovatif di bawah program Advanced Aircraft Concepts for Environmental Sustainability (AACES) 2050, yang menyatukan konsep-konsep mutakhir untuk membentuk masa depan perjalanan udara.

Dengan total pendanaan sebesar US$11,5 juta, NASA mendukung konsep-konsep visioner dari lima organisasi terkemuka: Aurora Flight Sciences (perusahaan Boeing), Electra, Georgia Institute of Technology, JetZero, dan Pratt & Whitney. Setiap studi berfokus pada pendekatan unik untuk mengatasi tantangan lingkungan penerbangan yang mendesak, mulai dari bahan bakar alternatif hingga sistem propulsi generasi berikutnya.

Bob Pearce, administrator asosiasi NASA untuk Direktorat Misi Penelitian Aeronautika, menyoroti visi strategis program tersebut, dengan mengatakan:

“Melalui inisiatif seperti AACES, NASA diposisikan untuk memanfaatkan serangkaian perspektif yang luas tentang cara untuk lebih meningkatkan efisiensi pesawat, mengurangi dampak lingkungan penerbangan, dan meningkatkan daya saing teknologi AS pada tahun 2040-an, 2050-an, dan seterusnya.”

Proyek ini mewujudkan visi transformatif program, dengan semua desain menargetkan tujuan emisi penerbangan nol bersih pada tahun 2050.

Desain pesawat yang muncul dari AACES dapat beroperasi dalam waktu 25 tahun, menciptakan peta jalan untuk penerbangan yang lebih bersih dan lebih efisien. Program ini juga memperkuat kepemimpinan AS dalam penerbangan berkelanjutan, seperti yang dicatat oleh Nateri Madavan, direktur Program Kendaraan Udara Canggih NASA:

“Proposal yang dipilih berasal dari serangkaian organisasi yang beragam yang akan memberikan eksplorasi yang menarik dan luas tentang skenario, teknologi, dan konsep pesawat yang akan memajukan penerbangan menuju tujuan keberlanjutan transformatifnya.”

Dengan mendorong kolaborasi antara akademisi, perusahaan swasta, dan lembaga penelitian, NASA memastikan para pemikir dan ide terbaik bersatu untuk mendorong industri penerbangan menuju masa depan yang lebih berkelanjutan.

Lightfoot – Skuter Listrik dengan Sumber Tenaga dari Panel Surya, Satu Kali Charge Bisa Tempuh 60 Km

Skuter listrik banyak ditawarkan dipasaran, namun yang mengusung pasokan dari tenaga surya (solar panel) masih terbilang jarang. Salah satu yang baru saja meluncur adalah skuter Lightfoot, yang sisi-sisinya dilapisi panel yang dilaporkan memberikan jangkauan tambahan hingga 18 mil per hari.

Diciptakan oleh insinyur Australia Saul Griffith, Lightfoot diproduksi oleh perusahaan rintisan Otherlab di San Francisco, AS. Kendaraan untuk dua pengendara ini digerakkan oleh dua motor hub 750 watt tanpa sikat – satu di setiap roda 10 inci – yang pada gilirannya ditenagai oleh baterai lithium-ion 48V/1,1 kWh.

Satu kali pengisian daya baterai tersebut di stopkontak diklaim dapat menempuh jarak sejauh 37 mil (60 km). Meski demikian, jarak tempuhnya dilaporkan dapat diperpanjang hingga 18 mil (29 km) per hari melalui dua panel surya 120 watt pada skuter. Angka ini didasarkan pada penggunaan sehari-hari, saat Lightfoot sering kali diparkir di bawah sinar matahari yang cerah. Menurut Otherlab, satu jam paparan “sinar matahari puncak” menghasilkan jarak tempuh tambahan sekitar 3 mil (5 km).

Panel surya tidak akan cukup panas untuk membakar bagian dalam kaki pengendara. Namun, salah satu panel dapat dibuka dengan gaya sayap camar untuk mengakses ruang penyimpanan tahan cuaca berukuran 1,5 kaki kubik (45,2 liter) yang dapat dikunci di dalamnya.

Ruang kargo Lightfoot dapat menampung beban maksimum 33 pon (15 kg). Lightfoot memiliki kecepatan tertinggi 20 mph (32 km/jam), dapat dikendarai di jalan raya dan jalur sepeda, dan tidak memerlukan lisensi untuk mengoperasikannya. Daya tahan baterai, kecepatan saat ini, dan informasi lainnya ditampilkan pada layar sentuh LCD 2,8 inci yang kedap air.

Beberapa fitur skuter lainnya meliputi lampu depan dan belakang Lezyne (2.000 lumen di depan); rem cakram hidrolik Tektro; shock depan dan belakang pegas koil merek sendiri; dan klakson elektrik 120 desibel. Keseluruhannya diklaim seberat 137 pon (62 kg), dan dapat menampung pengendara dengan tinggi mulai dari 5 kaki, 2 inci hingga 6 kaki, 2 inci (157,5 hingga 188 cm).

Baterai skuter dapat terisi hingga 80% dalam 90 menit Kabarnya, skuter Lightfoot akan dijual seharga US$4.995, dengan pengiriman diharapkan dimulai pada bulan Januari 2025.

Hari Ini 15 Tahun Lalu, Pesawat Jet Bisnis Populer Gulfstream G650 Terbang Perdana

Siapa yang tak kenal Gulfstream G650, inilah salah satu tipe jet bisnis yang sangat populer di pasar pebisnis, petinggi pemerintahan sampai korporat. Tapi tahukah Anda, bahwa hari ini 15 tahun lalu, adalah momen bersejarah dengan penerbangan perdana Gulfstream G650 produksi Gulfstream Aerospace pada 25 November 2009.

Dari beberapa literasi, dikatakan penerbangan perdana dilakukan dari Savannah-Hilton Head International Airport, yang juga merupakan lokasi markas besar Gulfstream Aerospace di Savannah, Georgia, AS. Penerbangan berlangsung selama 1 jam 12 menit. Selama penerbangan, tim penguji mengevaluasi kinerja dasar pesawat, termasuk kontrol penerbangan, stabilitas, dan sistem utama.

Penerbangan tersebut dipimpin oleh Jake Howard, Chief Test Pilot Gulfstream, dan didampingi oleh Tom Horne, Senior Flight Test Engineer. Tujuan penerbangan ini dimaksudkan untuk memverifikasi sistem dasar pesawat dan Menguji stabilitas aerodinamis dan performa mesin pada kecepatan serta ketinggian rendah.

Setelah serangkaian uji coba, G650 akhirnya mendapatkan sertifikasi dari FAA (Federal Aviation Administration) dan EASA (European Union Aviation Safety Agency) pada tahun 2012, sebelum mulai dikirim ke pelanggan pada Desember 2012.

Gulfstream G650 merupakan salah satu pesawat jet bisnis paling populer dan prestisius di pasaran. Pesawat ini sering menjadi pilihan bagi kalangan korporat, pejabat tinggi, dan individu kaya karena fitur unggulannya yang menggabungkan kecepatan, jangkauan, dan kenyamanan.

G650 memiliki jangkauan hingga 7.500 mil laut (13.890 km), memungkinkan penerbangan non-stop antara kota-kota besar seperti New York ke Tokyo atau London ke Buenos Aires. Dengan jangkauan ini, G650 memenuhi kebutuhan perjalanan jarak jauh tanpa perlu banyak pengisian bahan bakar.

G650 adalah salah satu jet bisnis tercepat, dengan kecepatan jelajah maksimum Mach 0.925 (hampir mendekati kecepatan suara). Kecepatan ini memberikan keuntungan besar dalam efisiensi waktu.

Kabin G650 dikenal sangat luas, dengan tinggi 1,91 meter, lebar 2,49 meter, dan panjang hingga 14 meter, memberikan kenyamanan seperti di ruang tamu. Kapasitas hingga 19 penumpang dan kemampuan untuk menyediakan ruang tidur bagi hingga 10 orang. Kabin dilengkapi dengan teknologi tekanan rendah, yang mengurangi kelelahan dan memberikan suasana yang lebih nyaman untuk perjalanan jarak jauh.

G650 diperkenalkan pada 2008 dan mulai diproduksi massal pada 2012. Popularitasnya memicu pengembangan versi lebih baru, seperti G650ER, yang memiliki jangkauan lebih jauh (7.500 mil laut ke 7.750 mil laut). Gulfstream G650ER namanya sempat ramai disebut netizen di Indonesia, setelah pesawat tersebut digunakan untuk membawa  putra Presiden Jokowi, Kaesang Pangarep bersama istri Erina Gudono, dalam perjalanan liburan yang kontroversial ke Amerika Serikat.

Gulfstream G650ER – Jet Bisnis Ultra Long Range yang Diduga Ditumpangi Kaesang ke AS, Bisakah Terbang Langsung dari Halim?

Hari Ini 115 Tahun lalu, Wright Company Produsen Pesawat Pertama di AS Berdiri

Pada hari ini, 115 tahun lalu, bertepatan dengan Minggu, 22 November 1909, perusahaan pembuat pesawat pertama di Amerika Serikat (AS), Wright Company, resmi berdiri. Perusahaan itu didirikan dengan modal awal sebesar US$1 juta dan mendirikan pabrik pertama di Miami Chapel, West Dayton, AS.

Baca juga: Hari Ini, 111 Tahun Lalu, DELAG Maskapai Pertama di Dunia Asal Jerman Resmi Berdiri

Dikutip dari wrightstories.com, pabrik tersebut memiliki kapasitas produksi sebanyak empat pesawat per bulan, menjadikannya sebagai pabrik pesawat terbesar di dunia. Di awal berdiri, Wright Company berhasil memproduksi pesawat Model B atau biasa juga disebut Wright Model B, melalui tangan dingin puluhan karyawan.

Pesawat yang digadang sebagai yang pertama dan terbaik di dunia tersebut dibanderol dengan harga US$7.500, cukup mahal untuk ukuran waktu itu. Meski mahal, nyatanya produsen pesawat pertama di AS itu mendapat banyak pesanan dan sempat kewalahan dibuatnya.

Pesanan terbanyak tentu datang dari sekolah penerbangan Wrights, di daerah Huffman Prairie, yang saat ini menjadi bagian dari Taman Sejarah Nasional Dayton Aviation Heritage, Dayton, Ohio, AS. Tempat tersebut dahulu adalah lokasi penerbangan eksperimental awal Wrights di Dayton setelah penerbangan pertama mereka yang sukses di Kitty Hawk, North Carolina, AS, pada tahun 1903. Sekarang tempat itu menjadi bagian dari pangkalan Angkatan Udara Wright-Patterson serta national historical park.

Uniknya, karena terbatasnya moda transportasi untuk mengangkut pesawat dengan cepat dan aman, disebutkan, sebanyak sembilan pesawat Wright Model B diangkut menggunakan kereta kuda dari pabrik ke sekolah tersebut. Pengiriman selalu dilakukan pada malam hari untuk menghindari keramaian.

Di awal berdirinya Wright Company, Wilbur Wright pernah menyurati sang idola, Octave Chanute -seorang insinyur sipil dan perintis penerbangan Perancis-Amerika yang banyak menginspirasi ilmuan penerbangan dunia- bahwa dirinya akan banyak menghabiskan waktu di sana. Terbukti, dalam struktur perusahaan, ia menjabat sebagai presiden.

Hanggar Wright bersaudara. Foto: Wright-Brothers.org

Akan tetapi, pada pelaksanaannya, fungsi tersebut lebih sering dijalankan saudaranya, Orville Wright. Sebab, Wilbur disibukkan dengan pelanggaran hak paten oleh sejumlah oknum di AS dan dunia sejak 1906 atau sebelum perusahaan berdiri.

Hingga tahun 1912, Willbur, yang merupakan seorang pebisnis ulung dan visioner, berbeda dengan Orville yang merupakan teknisi sejati, kemudian terjangkit demam tifoid dan akhirnya meninggal dunia. Tentu ini menjadi pukulan telak bagi Wright Company.

Sebaliknya, kematian Willbur menjadi berkah bagi para kompetitor yang diduga telah melanggar hak paten Wright bersaudara. Salah satunya Glenn Curtiss, founder produsen pesawat lainnya di AS, Curtiss Aeroplane and Motor Company.

Kematian Willbur benar-benar menjadi petaka buat Wright Company. Sederet masalah, seperti manajemen yang buruk, kualitas pesawat yang kian menurun, masalah teknis, hingga lemahnya inovasi, membuat pesawat-pesawatnya mulai ditinggalkan pembeli.

Setelah sukses membuat pesawat ratusan Wright Model B, Wright Model C, Wright Model F, dengan masing-masing kelebihan dan kekurangannya, Wright Company di bawah pimpinan Orville mengalami kesulitan keuangan hebat. Ia akhirnya melepas seperempat saham perusahaan yang baru berusia enam tahun itu ke sekelompok investor New York seharga US$250.000 pada 26 Agustus 1915.

Baca juga: Hari Ini, 89 Tahun Lalu, Kapal Induk Terbang Pertama di Dunia USS Akron ZRS-4 Mulai Beroperasi

Di tahun berikutnya, Wright Company merger dengan perusahaan Glen L. Martin dan berubah menjadi Wright-Martin. Pada 1917, perusahaan berkembang menjadi Wright Aeronautical Corporation. Pada 1920-an, perusahaan ini bergabung dengan rival lama, Glenn Curtiss, untuk membentuk Curtiss-Wright Corporation dan terbagi ke dalam 10 divisi.

Divisi Penerbangan Curtiss-Wright kemudian dijual ke North American Aviation (NAA) pada tahun 1946. Rockwell International Corporation kemudian berdiri menggantikan NAA pada 1973. Rockwell International Corporation pada tahun 1996 bergabung dengan Boeing dan terus eksis sampai saat ini. Dengan begitu, bisa dibilang, saat ini, Wright Company masih terus berkarya di dunia bersama Boeing.

Hari Ini 61 Tahun Lalu, Presiden Kennedy Ditembak Mati-Jadi Hari Terburuk Air Force One

Pada hari ini, 61 tahun lalu, bertepatan dengan 22 November 1963, suasana pesawat Air Force One menjadi sangat genting. Itu terjadi setelah Presiden Amerika Serikat (AS) ke-35, John F. Kennedy, ditembak mati di Dallas, Texas. Di tengah kegentingan itu, Wakil Presiden Lyndon Baines Johnson (LBJ) diambil sumpah menjadi Presiden AS ke-36 di samping istri mendingan JFK di dalam pesawat Air Force One pertama.

Baca juga: Ketika Hibah Pesawat DC-3 Presiden AS Jadi Sebab Lahirnya Maskapai Saudia

Dilansir airspacemag.com, ketika itu, detik-detik jelang pembunuhan Presiden Kennedy, tidak ada yang membayangkan situasi akan berubah 180 derajat. Umumnya, seluruh orang terdekat presiden sedang menikmati gagasan dari Jackie Kennedy, istri dari Presiden Kennedy, untuk menghadirkan pesawat kepresidenan pertama AS dengan nomor seri SAM 26000.

Ada dua pesawat kepresidenan AS SAM 26000 yang berbasis Boeing VC-137C Angkatan Udara Amerika Serikat, versi militer dari Boeing 707.

Akan tetapi, setelah pukul 12.30, waktu dimana Presiden JFK ditembak mati, situasi di dalam pesawat Air Force One pertama AS itu seketika berubah. Ketika itu, 28 orang memadati pesawat tersebut guna menyaksikan Wakil Presiden LBJ, berdiri di samping Jackie Kennedy, diambil sumpah jabatan menjadi Presiden AS.

Turut juga di bagian belakang pesawat tersebut peti mati Presiden Kennedy, yang tiga jam sebelum kejadian, masih menumpangi pesawat tersebut untuk pertama kalinya dalam keadaan sehat sentosa usai didaulat sebagai pesawat kepresidenan. Detik-detik pengambilan sumpah jabatan terhadap LBj pun berhasil terekam sempurna oleh fotografer Gedung Putih, Cecil Stoughton.

Wakil Presiden LBJ saat diambil sumpah di dalam pesawat Air Force One pertama. Foto: LBJ Library

Disebutkan, ketika penembakan terhadap Presiden JFK terjadi, situasi sangat kacau. Pengamanan sangat ketat. Bahkan sekelas fotografer Gedung Putih sekaliber dirinya sekalipun tak bisa mendapat informasi pasti agenda selanjutnya usai penembakan terjadi.

Salah satu informannya menyebut Presiden JFK akan diterbangkan ke Washington. Itu adalah sebuah petunjuk valid bahwa Presiden Kennedy sudah wafat.

Secepat kilat, ia langsung bergegas ke Love Field, tempat Air Force One SAM 26000 berada. Sesampainya di sana, ia hampir saja ditembak mati oleh Secret Service lantaran menerobos masuk ke steril tanpa adanya permit dari petugas berwenang. Namun, garis tangannya masih menuntunnya untuk terus hidup.

Baca juga: Ketika Korean Air Flight 902 Ditembak Jet Uni Soviet, Ehh Malah Soviet Minta Ganti Rugi Operasional

Stoughton lantas memberi kode ke pilot Air Force One yang ia kenal, Jim Swindal, untuk kemudian diizinkan masuk ke dalam pesawat.

Di dalam pesawat, sekitar 28 orang memadati kabin dan ketika ia datang prosesi pengambilan sumpah baru saja akan dimulai. Ia datang tepat pada waktunya. Dari hasil karyanya itulah salah satu momen paling bersejarah di abad ke-20 berhasil terekam sempurna dalam balutan Hari Terburuk Air Force One.

 

Ini Dia! Alasan Kenapa Pesawat Harus Terbang Tinggi!

Pernahkah terlintas di benak Anda, berapa ketinggian sebuah pesawat ketika tengah mengudara? Atau pernahkah Anda berpikir mengapa sebuah pesawat komersial harus terbang tinggi selama melakukan perjalanan?

Sebagai informasi awal, sebuah pesawat komersial terbang di ketinggian jelajah 35.000 kaki atau setara dengan 10.600 meter. Berikut, KabarPenumpang.com ulas beberapa alasan mengapa sebuah pesawat harus terbang di ketinggian 35.000 kaki, disarikan dari laman traveller.com.au.

Baca Juga: Selain Mesin, Yuk Kenali Arti Suara-Suara di Dalam Kabin Pesawat

Semakin Tinggi, Semakin Baik
Salah satu alasan utamanya adalah kapasitas udara yang semakin menipis. Dengan begitu, pesawat akan lebih mudah bergerak dan lebih cepat, sehingga penggunaan bahan bakar akan jauh lebih irit dan menghemat ongkos perjalanan. Titik ideal sebuah pesawat untuk mengudara adalah di antara 35.000 hingga 42.000 kaki. Berdasarkan hukum fisika, semakin tipis pasokan oksigen di ketinggian, maka semakin ringan pula beban pesawat, sehingga pesawat akan lebih mudah bergerak.

“Setiap pesawat memiliki ketinggian yang optimal, biasanya berdasarkan pada bobot pesawat itu sendiri,” ujar Peter Terry, seorang pilot dari penerbangan komersial. “Concorde bisa terbang di ketinggian 50.000 hingga 60.000 kaki, dimana pesawat lain tidak bisa menjangkau ketinggian tersebut,” tambahnya.

Bagaimana Cuaca di Atas Sana?
Mengudara dengan ketinggian puluhan ribu kaki di atas permukaan tanah akan menghindarkan pesawat dari gangguan cuaca buruk, seperti hujan atau badai. Jadi, pemandangan yang akan Anda lihat hanyalah hamparan langit biru. Khusus untuk maskapai, akan lebih ideal untuk mengudara di sekitaran stratosfer (20.000 meter) karena akan mengurangi getaran yang ditimbulkan akibat turbulensi.

Baca Juga: Pembajakan Pesawat Terlama, 39 Hari Kelam Penumpang El Al Flight 426

Menghindari Lalu Lintas Udara yang Padat
Terbang tinggi juga akan menghindari pesawat dari padatnya lalu lintas udara, khususnya untuk pesawat yang terbang rendah, seperti helikopter, dan juga menghindari “bentrokan” dengan hewan seperti burung.

Memiliki Banyak Opsi Ketika Kondisi Darurat
Jika terjadi sesuatu yang buruk selama mengudara, seperti mesin yang kehilangan tenaga, maka pilot memiliki lebih banyak waktu untuk menentukan langkah apa yang selanjutnya akan diambil. Tanpa sokongan tenaga dari mesin, setiap pesawat masih dapat dikendalikan dan bisa mendarat dengan aman.

Seberapa Dingin di Atas Sana?
Semakin tinggi Anda mengudara, maka semakin dingin pula udara di luarnya. Jika di darat suhunya hanya 20 derajat celcius, maka pada ketinggian 40.000 kaki, suhunya akan menjadi -57 derajat celcius.

Baca Juga: Lima Mitos Yang Keliru Seputar Dunia Penerbangan

Berapa Ketinggian Maksimal Sebuah Pesawat Saat Mengudara?
Sebenarnya, tidak ada ketinggian maksimum untuk terbang, bagaimanapun, mesin akan berjuang saat tingkat oksigen turun, dan komunikasi dengan tanah akan menjadi tantangan yang lebih besar. Hingga saat ini, rekor sebuah pesawat dapat mengudara dengan ketinggian maksimum adalah 123.520 kaki atau setara dengan  37.648.896 meter yang ditempuh oleh pesawat tempur Uni Soviet (Rusia) MiG-25M.

Hanya sekedar informasi tambahan, baru-baru ini sebuah raksasa digital multi platform, Google menerbangkan kerumunan balon dengan misi menyediakan akses internet ke daerah pedesaan dan terpencil, yang diberi nama Project Loon. Balon penyebar sinyal internet ini digalang-galang akan berada di ketinggian sekitar 18 km hingga 25 km di atas permukaan tanah, sehingga keberadaannya tidak akan mengganggu pesawat komersil yang tengah mengudara.