Bukan Sekadar Makan, Inilah Layanan Kereta Api dengan Kuliner Terbaik di Dunia

Bagi sebagian orang, perjalanan dengan kereta api adalah tentang efisiensi waktu, namun bagi penikmat kemewahan, kereta api adalah tentang merayakan perjalanan itu sendiri. Berbeda dengan hidangan pesawat yang seringkali terbentur keterbatasan ruang dan tekanan udara yang memengaruhi indra perasa, layanan kuliner di kereta api kelas dunia menawarkan pengalaman fine dining yang otentik.

Di sini, dapur bukan sekadar tempat menghangatkan makanan, melainkan ruang kreasi koki profesional yang menyajikan bahan-bahan segar dari wilayah yang dilalui kereta saat itu juga.

Jika berbicara mengenai layanan makanan terbaik, nama Belmond Venice Simplon-Orient-Express di Eropa seringkali menempati posisi puncak. Di dalam kereta legendaris ini, makan malam adalah sebuah ritual formal yang mewah. Para koki menyiapkan hidangan seperti lobster dari Brittany atau daging domba dari Salt Marsh yang dimasak secara a la minute.

Keunikannya terletak pada pergantian menu yang mengikuti rute perjalanan; jika Anda melintasi Italia, Anda akan mencicipi bahan-bahan lokal terbaik Italia yang disajikan di atas meja dengan taplak linen putih, kristal, dan perak, menciptakan suasana restoran bintang lima yang terus bergerak.

Orient Express, ‘Berjuta Cerita’ dari kereta Mewah Legendaris Eropa

Beralih ke belahan bumi selatan, The Blue Train di Afrika Selatan menawarkan pengalaman yang tak kalah spektakuler. Kereta ini dikenal sebagai “hotel bintang lima berjalan” yang menyajikan hidangan gourmet dengan fokus pada kekayaan hasil bumi Afrika. Salah satu menu andalannya adalah daging rusa Springbok dan tiram segar, yang dipasangkan dengan koleksi anggur pemenang penghargaan dari kebun-kebun anggur di wilayah Cape. Di sini, setiap hidangan adalah perpaduan antara tradisi kolonial yang elegan dan cita rasa lokal yang kuat, disajikan dalam gerbong makan yang berhiaskan kayu mahoni yang hangat.

Sementara itu di Asia, Jepang mendefinisikan ulang kemewahan melalui Seven Stars in Kyushu. Layanan makanan di kereta ini sangat eksklusif karena mereka bekerja sama dengan koki-koki terbaik di seluruh pulau Kyushu. Setiap hidangan yang disajikan mencerminkan filosofi shun atau penggunaan bahan sesuai musimnya.

Oriental Desert Express, Sensasi Kereta Mewah Pelintas Padang Pasir

Penumpang bisa menikmati sashimi yang baru ditangkap dari laut sekitar atau daging sapi wagyu Bungo yang terkenal. Tak hanya rasa, presentasi makanannya pun menyerupai karya seni, disajikan dalam wadah keramik buatan pengrajin lokal yang sangat indah, menjadikan setiap suapan sebagai bentuk penghormatan terhadap budaya Jepang.

Terakhir, bagi mereka yang mencari pemandangan alam liar sambil bersantap, Rocky Mountaineer di Kanada menawarkan layanan GoldLeaf yang legendaris. Meski tidak memiliki gerbong tidur, layanan makan siangnya adalah salah satu yang terbaik. Penumpang dapat menikmati salmon Sockeye panggang atau tulang rusuk pendek sapi Alberta sambil memandang pegunungan salju melalui atap kaca transparan.

Pengalaman kuliner di atas rel ini membuktikan bahwa makan di perjalanan bukan lagi sekadar pengganjal perut, melainkan sebuah simfoni rasa yang menyatukan pemandangan indah di luar jendela dengan kelezatan mahakarya di atas piring.

Soal higienis? Makan di Kereta dan Pesawat Tak Jauh Berbeda

Airbus Helicopters Resmikan Pusat Logistik Regional Baru di Singapura

Airbus Helicopters secara resmi membuka pusat logistik regional barunya di Singapura, menandai perluasan besar jejak dukungan dan layanannya di Asia-Pasifik. Pusat keunggulan baru ini dirancang untuk menyederhanakan rantai pasokan, menyediakan distribusi suku cadang yang lebih cepat dan andal kepada pelanggan di 21 negara dan wilayah yang dilayaninya.

“Pusat logistik regional baru ini menandai tonggak penting, memposisikan Singapura di jantung jaringan dukungan global kami,” kata Vincent Dubrule, Wakil Presiden Senior Asia-Pasifik di Airbus Helicopters. “Membangun kemampuan ini di sini lebih dari sekadar memperluas jejak kami. Ini tentang membangun rantai pasokan logistik yang gesit. Pusat ini mewakili investasi jangka panjang dalam keberhasilan misi pelanggan kami, memberikan dukungan yang lebih cepat, andal, dan dapat diprediksi di seluruh Asia-Pasifik hingga masa depan.”

Pusat Singapura berfungsi sebagai jaringan logistik regional unggulan yang mencakup pusat distribusi suku cadang tambahan di Hong Kong dan Perth, Australia. Bersama-sama, lokasi-lokasi ini mendukung 12 pusat pelanggan yang dilengkapi dengan tim dukungan material dan logistik khusus yang mengelola suku cadang, perbaikan, pesawat yang sedang tidak beroperasi (AOG), dan program HCare.

Dengan luas hampir 2.000 m², fasilitas ini memiliki empat area bongkar muat dan menyimpan lebih dari 20.000 nomor suku cadang untuk suku cadang baru serta perawatan, perbaikan, dan perombakan (MRO).

Untuk memaksimalkan efisiensi, pusat logistik ini dilengkapi dengan empat modul pengangkat vertikal (VLM) – sistem penyimpanan otomatis dengan kepadatan tinggi yang menggunakan ekstraktor pusat dan kolom baki vertikal untuk menyimpan dan mengambil barang, mengirimkannya langsung ke titik akses yang ditentukan operator. Integrasi teknologi VLM memungkinkan optimalisasi ruang lantai dan waktu pengambilan yang jauh lebih cepat untuk komponen-komponen penting, mulai dari barang habis pakai kecil hingga rakitan yang lebih besar.

Pusat logistik ini juga mencakup ruang elastomer khusus seluas 55 m² yang dirancang untuk melindungi inventaris yang paling sensitif. Menyadari bahwa material berbahan karet rentan terhadap degradasi, kisaran suhu terkontrol antara 5°C dan 25°C dipertahankan di dalam ruang khusus tersebut.

Struktur ‘gudang di dalam gudang’ ini memberikan perlindungan yang lebih baik hingga 2.000 komponen penting, memastikan keandalan jangka panjang dan integritas operasional.

Fasilitas ini diluncurkan dengan inventaris awal sebesar EUR10 juta, dengan rencana untuk menggandakannya seiring dengan tercapainya kapasitas operasional penuh.

Airbus Helicopters Kirim ACH130 Edisi Aston Martin ke Crazy Rich di Filipina

Stasiun Jatake Sudah Layani Ribuan Penumpang Naik dan Turun KRL, Berikut Datanya

Kehadiran Stasiun Jatake di lintas Tanah Abang – Rangkasbitung ternyata cukup membantu bagi penumpang yang domisili berada di area tersebut. Sebelum dibangun dan dioperasikannya Stasiun Jatake, masyarakat lebih dominan memilih naik dan turun Commuter Line di Stasiun Parung Panjang maupun Cicayur. Hal tersebut membuat cukup kerepotan terutama kendala jarak dan waktu yang cukup lama.

Stasiun Jatake yang resmi beroperasi pada 28 Januari 2026 lalu memang masih belum terlihat kepadatan, padahal peresmian tersebut dibuka pada saat jam kerja. Hal ini berguna bagi masyarakat yang akan menggunakan Commuter Line dari Stasiun Jatake dengan lokasi hunian masyarakat yang berada di kawasan BSD Tangerang.

Pantauan awal bahwa aktivitas penumpang di stasiun baru tersebut, warga Tangerang pun belum menunjukkan lonjakan signifikan, meski kereta rel listrik (KRL) sudah berhenti setiap lima menit sekali. Jumlah penumpang yang naik dan turun di Stasiun Jatake pun masih tergolong sedikit.

Vice President Corporate Communication KAI Anne Purba dalam peresmian lalu mengatakan, Stasiun Jatake dirancang untuk mempermudah akses masyarakat Pagedangan dan sekitarnya menuju pusat aktivitas ekonomi dengan waktu tempuh yang lebih efisien dan biaya transportasi yang terjangkau.

Namun, hingga 5 hari setelah peresmian Stasiun Jatake mulai ada sedikit peningkatan penumpang naik dan turun. KAI Commuter mencatat pengguna layanan Stasiun Jatake sebanyak 5.016 orang penumpang. Tentunya, stasiun ini melayani pengguna di lintas Tanahabang – Rangkasbitung.

VP Corporate Secretary KAI Commuter, Karina Amanda, dilansir dari laman Detik mengatakan stasiun ini melayani pengguna sebanyak 649 orang di hari perdananya. Kemudian jika diakumulasi, pengguna layanan KAI Commuter di stasiun tersebut mencapai lima ribu lebih penumpang.

Berdasarkan data volume pengguna Commuter Line naik dan turun di Stasiun Jatake dari tanggal pertama beroperasi secara berurutan, jumlah pengguna terus meningkat. Adapun rinciannya, pada Rabu sebanyak 649 orang, Kamis 1.410 orang, Jumat 1.014 orang, dan Sabtu 1.944 orang.

Sedangkan untuk jumlah perjalanan commuter line per hari yang melalui Stasiun Jatake sebanyak 192 perjalanan dari total perjalanan lintas Tanahabang – Rangkasbitung sebanyak 206 perjalanan per hari. Karina mengimbau kepada pengguna untuk tetap mengutamakan keselamatan dan mengecek kembali jadwal perjalanan commuter line.

Diketahui, Stasiun Jatake dibangun di atas lahan seluas 2.500 m2 dengan fasilitas stasiun seluas seluas 4.000 m2. Gedung terdiri dari tiga stasiun dimana lantai dasar sebaga area lobby dan aktivitas penumpang, lantai satu sebagai area komersial dan lantai tiga merupakan kantor dan peron kereta.

Sejumlah fasilitas lain juga sudah tersedia seperti fasilitas parkir kendaraan roda dua, roda empat, dan sepeda telah disiapkan, serta tersedia lahan pengembangan lanjutan seluas sekitar 4.000 meter persegi untuk mendukung integrasi antarmoda. Adapun stasiun ini dirancang melayani hingga 20.000 penumpang per hari.

Menjadi Saksi Sejarah Perang Kemerdekaan, Stasiun Rangkasbitung juga Sebagai Tombak Perekonomian

Mimpi Kereta Cepat Afrika Selatan: Antara Ambisi Besar dan Realitas yang Tertunda

Pada tahun 2019, Presiden Afrika Selatan Cyril Ramaphosa memukau publik dengan sebuah visi futuristik yang sangat ambisius. Dalam pidato kenegaraan saat itu, ia membayangkan sebuah negara di mana kota-kota baru bermunculan, dihubungkan oleh jaringan kereta cepat atau “bullet train” yang membelah Johannesburg hingga Musina, dan menyambungkan Buffalo City dengan eThekwini.

Mimpi itu bukan sekadar soal transportasi, melainkan simbol modernitas demokrasi baru Afrika Selatan. Namun, seiring berjalannya waktu hingga awal tahun 2026 ini, gema proyek raksasa tersebut perlahan meredup, menyisakan pertanyaan besar tentang kapan realisasinya akan benar-benar terjadi.

Target awal yang sempat dicanangkan pemerintah untuk meluncurkan layanan kereta penumpang berkecepatan tinggi pada akhir tahun 2025 kini resmi terlewati tanpa hasil nyata. Fokus pemerintah kini bergeser ke rencana yang lebih spesifik namun dengan lini masa yang lebih jauh, yaitu koridor Gauteng-Limpopo.

Departemen Transportasi (DoT) memproyeksikan layanan kereta cepat pertama yang menghubungkan kedua provinsi tersebut baru akan beroperasi pada tahun 2030. Rencana ini mencakup jalur sepanjang 500 kilometer dari Pretoria menuju Musina, melewati kota-kota strategis seperti Polokwane dan Louis Trichardt, dengan fase pertama pembangunan difokuskan pada rute Pretoria-Polokwane.

Secara spesifik, proyek Gauteng-Limpopo ini menjanjikan efisiensi waktu yang signifikan bagi para pelaju. Kereta ini ditargetkan mampu menempuh jarak antara ibu kota provinsi dalam waktu hanya 90 menit, jauh lebih cepat dibandingkan perjalanan darat dengan mobil yang biasanya memakan waktu dua setengah jam melalui jalan tol N1.

Untuk mencapai target tersebut, kereta harus melaju dengan kecepatan rata-rata 177 km/jam dan mencapai kecepatan puncak setidaknya 200 km/jam di segmen tertentu. Meski angka ini masih di bawah rekor kereta peluru Jepang yang mencapai 320 km/jam, standar ini sudah cukup untuk memasukkan Afrika Selatan ke dalam jajaran negara dengan layanan kereta cepat.

Namun, di balik optimisme teknis tersebut, terdapat ketidakpastian administratif yang membayangi. Rencana Induk Kereta Api Nasional (National Rail Masterplan) yang seharusnya difinalisasi pada akhir 2025 sebagai kerangka kerja utama proyek ini, hingga kini belum terlihat hilalnya. Ketidakjelasan dokumen kebijakan ini berdampak pada kepastian pendanaan dan integrasi rute jarak jauh lainnya, seperti koridor Johannesburg-Durban yang juga sempat dipertimbangkan. Padahal, Presiden Ramaphosa sebelumnya menegaskan bahwa rencana induk tersebut akan menjadi kunci untuk merevitalisasi transportasi kereta api, baik di dalam kota maupun antar-pusat ekonomi utama.

Masalah pendanaan juga menjadi titik krusial dalam keberlanjutan mimpi ini. Meskipun pemerintah Afrika Selatan menyatakan ambisinya untuk mendanai proyek ini secara mandiri, Cina telah secara terbuka menunjukkan ketertarikan untuk menanamkan modal. Tanpa langkah konkret dalam memulai konstruksi yang dijadwalkan tahun ini dan tanpa kepastian dokumen rencana induk, proyek kereta cepat ini terancam tetap menjadi “mimpi di siang bolong” yang terus tertunda. Afrika Selatan kini berada di persimpangan jalan: antara membuktikan kedaulatan infrastrukturnya atau membiarkan visi besar tahun 2019 itu terkubur oleh birokrasi dan keterbatasan dana.

Pelayanan Buruk, Presiden Afrika Selatan ‘Terperangkap’ Selama 3 Jam di Kereta Komuter

Kuda Lepas Masuk Jalur Rel, Layanan Kereta Api Inggris Lumpuh Total di Jam Sibuk

Sistem transportasi kereta api di Inggris baru saja menghadapi kendala operasional yang tidak biasa, yang membuktikan bahwa gangguan perjalanan tidak selalu disebabkan oleh masalah teknis atau cuaca buruk. Layanan kereta api di jalur utama antara London dan wilayah tenggara terpaksa dihentikan sementara setelah seekor kuda dilaporkan lepas dan berjalan dengan santai di atas rel.

Kehadiran hewan besar itu di area terlarang tersebut memicu protokol keamanan darurat yang berdampak pada ribuan penumpang yang sedang melakukan perjalanan pada jam sibuk.

Insiden ini bermula ketika petugas pengawas jalur mendeteksi adanya aktivitas hewan di dekat stasiun, yang kemudian dikonfirmasi sebagai seekor kuda yang tersesat di jalur aktif. Mengetahui risiko fatal jika kereta tetap melaju, operator kereta api Southeastern dan Network Rail segera mengambil keputusan untuk mematikan aliran listrik pada rel ketiga (rel bertenaga listrik) guna memastikan keselamatan hewan tersebut sekaligus mencegah kecelakaan kereta. Langkah ini seketika menyebabkan penumpukan jadwal dan pembatalan sejumlah perjalanan di rute-rute utama yang menghubungkan London Victoria dan stasiun-stasiun di wilayah Kent.

Proses evakuasi kuda tersebut menjadi tantangan tersendiri bagi petugas di lapangan. Tim dari Network Rail bersama otoritas setempat harus bekerja ekstra hati-hati untuk menggiring hewan tersebut menjauh dari jalur kereta tanpa membuatnya panik, yang bisa membahayakan petugas maupun kuda itu sendiri. Selama proses penyelamatan berlangsung, para penumpang terjebak di dalam gerbong maupun di peron stasiun, sementara petugas terus memberikan pembaruan informasi mengenai upaya pembersihan jalur dari “penghambat” yang tidak terduga ini.

Setelah beberapa jam yang penuh ketidakpastian, kuda tersebut akhirnya berhasil diamankan dalam kondisi selamat dan dibawa ke area yang jauh dari jangkauan rel. Meskipun jalur kemudian dinyatakan aman dan aliran listrik kembali dinyalakan, efek domino dari gangguan ini tetap terasa hingga sisa hari, dengan jadwal keberangkatan yang berantakan dan keterlambatan yang cukup signifikan.

Pihak otoritas kini tengah menyelidiki bagaimana kuda tersebut bisa menembus pagar pengaman dan masuk ke area rel, sebagai bagian dari upaya evaluasi untuk mencegah kejadian serupa terulang kembali di masa depan.

Inggris Kembangkan Teknologi Kecerdasan Buatan untuk Memprediksi ‘Timbunan’ Daun di Atas Rel Kereta

Tak Perlu Khawatir, Perjalanan Malam Commuter Line Bandung Kini Diperpanjang

Sebagai pengguna Commuter Line, tentu sudah pasti terbantu dengan adanya layanan tersebut. Apalagi jika waktu yang sesuai dengan kebutuhan di stasiun-stasiun dengan volume penumpang yang cukup banyak. Seperti halnya Commuter Line lintas Bandung Raya ini. Tiap waktu, perjalanan kereta tersebut selalu ramai pada jam-jam tertentu dengan aktivitas masyarakat yang beragam.

Seperti informasi yang disampaikan oleh KAI Commuter, bahwa layanan KA Commuter Line Bandung Raya akhirnya diperpanjang hingga Stasiun Cicalengka. Pemberlakuan sudah dilakukan sejak 1 Februari 2026 kemarin. Kebijakan ini dilakukan sebagai upaya berkelanjutan untuk meningkatkan kualitas layanan transportasi publik serta memberikan pilihan perjalanan yang lebih fleksibel bagi masyarakat di wilayah Bandung Raya.

Jadwal baru perjalanan Commuter Line Bandung Raya.

Seperti dilansir dari laman Majalah Lintas bahwa Perpanjangan layanan tersebut merupakan bagian dari penyesuaian Grafik Perjalanan Kereta Api (GAPEKA) yang telah mendapatkan persetujuan Direktorat Jenderal Perkeretaapian (DJKA) Kementerian Perhubungan.

Persetujuan itu tertuang dalam Keputusan Direktur Jenderal Perkeretaapian Nomor KP-DJKA 154 Tahun 2025 tentang Persetujuan Penambahan Frekuensi Perjalanan Kereta Api pada lintas layanan yang sama PT Kereta Commuter Indonesia.

KAI Commuter telah melakukan penyesuaian pada perjalanan KA 399 Commuter Line Bandung Raya relasi Kiaracondong – Padalarang yang sebelumnya berangkat pukul 22.50 WIB dari Stasiun Kiaracondong. Perjalanan tersebut dibatalkan dan dialihkan ke layanan lain. Sebagai pengganti, penumpang akan dilayani oleh KA 357 Commuter Line Bandung Raya dengan rute Cicalengka – Padalarang yang berangkat dari Stasiun Cicalengka pukul 22.25 WIB.

Direktur Lalu Lintas dan Angkutan Kereta Api Kemenhub, Arif Anwar, memastikan perpanjangan relasi dan penyesuaian jadwal tersebut tetap memenuhi aspek keselamatan, keamanan, dan keandalan operasi. Tarif Commuter Line Bandung Raya pun tetap disubsidi pemerintah melalui skema Public Service Obligation (PSO).

Dengan skema PSO tersebut, tarif Padalarang–Kiaracondong (20 km) dan Kiaracondong–Cicalengka (22 km) tetap Rp4.000, sementara lintas Padalarang–Cicalengka sejauh 42 km dikenakan tarif Rp5.000. Arif berharap penyesuaian layanan ini dapat mendorong semakin banyak masyarakat beralih ke transportasi publik berbasis kereta api.

KAI pun mengimbau kepada para penumpang agar cermati kembali jadwal terbaru agar perjalanan tetap terencana dengan baik. Tiket Commuter Line Bandung Raya untuk perjalanan mulai 1 Februari 2026 dan seterusnya sudah dapat dipesan sejak H-7 atau mulai 26 Januari 2026 melalui aplikasi Access by KAI. Informasi lengkap juga tersedia melalui media sosial resmi @commuterline serta layanan pelanggan di (021) 121.

“Warung Bandrek,” dari Tempat Minum Sampai Jadi Nama Stasiun Kereta

Helikopter Aurus Ansat: Limusin Udara Mewah dengan Teknologi Canggih dari Rusia

Melengkapi lini transportasi mewah yang sebelumnya telah diisi oleh mobil limusin Senat dan Aurus Business Jet, Rusia turut menghadirkan solusi mobilitas udara jarak pendek melalui Aurus Ansat. Helikopter ini bukan sekadar alat transportasi, melainkan sebuah “limusin udara” yang dirancang khusus untuk memberikan kenyamanan maksimal bagi para eksekutif dan pejabat tinggi dalam perjalanan antar kota atau menuju bandara. Kehadiran varian ini menegaskan posisi merek Aurus sebagai penyedia ekosistem transportasi mewah yang komprehensif, mulai dari darat hingga udara.

Proyek ambisius ini melibatkan Kazan Helicopters, anak perusahaan dari raksasa Russian Helicopters yang berada di bawah naungan perusahaan negara Rostec. Kerja sama ini memadukan keandalan teknis helikopter ringan Ansat yang sudah teruji di medan berat dengan sentuhan estetika premium dari tim desain Aurus.

Para insinyur dan desainer bekerja sama untuk memastikan bahwa identitas visual Aurus—yang dikenal melalui penggunaan material kulit berkualitas tinggi, aksen kayu asli, dan pencahayaan kabin yang elegan—terintegrasi secara sempurna ke dalam ruang kabin helikopter yang kompak.

Platform yang digunakan dalam proyek ini adalah helikopter Ansat, sebuah helikopter ringan bermesin ganda (twin-engine) yang memiliki reputasi sebagai salah satu yang paling andal di kelasnya. Dalam varian Aurus, kabin penumpang dirombak total untuk hanya menampung lima orang dengan konfigurasi kursi yang sangat lega. Kursi-kursi ini dirancang dengan ergonomi tinggi untuk mengurangi kelelahan selama penerbangan dan dilengkapi dengan sistem peredam getaran serta kebisingan yang canggih.

Selain itu, kabin ini juga dilengkapi dengan panel kontrol sentuh untuk mengatur suhu ruang, pencahayaan, dan sistem hiburan, serta jendela kaca yang dapat menggelap secara otomatis (electrochromic glass) untuk menjaga privasi penumpang.

Dari sisi performa dan keselamatan, Aurus Ansat didukung oleh dua mesin turboshaft yang memberikan daya angkut dan kecepatan yang stabil. Salah satu keunggulan utama platform Ansat adalah penggunaan sistem kontrol fly-by-wire digital, yang merupakan teknologi langka untuk helikopter di kelas ringan ini. Teknologi ini memungkinkan stabilitas terbang yang jauh lebih baik, bahkan dalam kondisi cuaca buruk, sehingga memberikan rasa aman dan kenyamanan lebih bagi penumpang VIP.

Dengan jangkauan terbang hingga 500 kilometer dan kecepatan jelajah mencapai 250 km/jam, Aurus Ansat menjadi pilihan ideal bagi mereka yang mengutamakan kecepatan waktu tanpa mengorbankan kemewahan dan gengsi yang setara dengan mobil limusin mereka.

Bell Textron Serahkan Helikopter ‘Mewah’ Bell 429 Designer Series Pertama di Indonesia

Mengenal Aurus Business Jet: Jet Pribadi Mewah Rusia Berbasis Sukhoi Superjet 100

Rusia kini tidak hanya dikenal melalui lini mobil kepresidenan mewahnya, tetapi juga telah melebarkan sayap ke industri penerbangan kelas atas melalui merek Aurus. Mengikuti kesuksesan limusin Aurus Senat, diperkenalkanlah Aurus Business Jet (ABJ), sebuah kantor terbang mewah yang dirancang untuk memenuhi standar kenyamanan para pemimpin negara dan pebisnis elit global.

Jet bisnis ini pertama kali diperkenalkan secara internasional pada ajang Dubai Airshow 2021 dan langsung mencuri perhatian sebagai kompetitor baru di pasar pesawat VIP dunia.

Kehadiran Aurus di industri dirgantara melibatkan sinergi strategis antara beberapa raksasa industri Rusia. Platform utama pesawat ini diproduksi oleh United Aircraft Corporation (UAC), induk perusahaan kedirgantaraan Rusia yang menaungi merek-merek ikonik seperti Sukhoi dan Yakovlev. Sementara itu, untuk urusan estetika dan kenyamanan kabin, kolaborasi dilakukan dengan merek mobil mewah Aurus.

Salah satu aspek unik dari jet ini adalah pengerjaan interiornya yang melibatkan Tulpar Interior, spesialis kabin VIP asal Kazan, yang berhasil mengubah pesawat komersial menjadi “limusin terbang” dengan sentuhan material premium seperti kulit berkualitas tinggi dan aksen kayu mewah.

Platform pesawat yang digunakan untuk Aurus Business Jet adalah Sukhoi Superjet 100 (SSJ100), tepatnya varian jarak jauh yang dikenal dengan seri Long Range (SSJ100-95LR). Penggunaan basis pesawat penumpang regional ini memberikan keuntungan berupa volume kabin yang sangat luas jika dibandingkan dengan jet bisnis tradisional dari Bombardier atau Gulfstream.

Dengan volume kabin mencapai 118 meter kubik dan tinggi langit-langit lebih dari 2 meter, penumpang dapat bergerak dengan bebas tanpa merasa sesak. Ruang interiornya dibagi menjadi beberapa zona fungsional, mulai dari ruang rapat yang bisa berubah menjadi ruang makan, area santai dengan sofa dan panel LCD, hingga kamar mandi pribadi yang dilengkapi dengan fasilitas shower.

Selain kemewahan, Aurus Business Jet juga membawa peningkatan performa yang signifikan dari versi standarnya. Berkat pemasangan sistem bahan bakar tambahan, jarak jelajah pesawat ini meningkat hampir dua kali lipat menjadi sekitar 7.200 kilometer. Kapasitas ini memungkinkan Aurus Business Jet terbang nonstop dari Moskow ke Vladivostok atau dari London ke New York.

Pesawat ini juga dilengkapi dengan tangga (gangway) internal otomatis, sehingga penumpang dapat naik dan turun di bandara kecil yang tidak memiliki fasilitas garbarata atau tangga eksternal. Dengan kombinasi teknologi radar modern dan sistem hiburan berkecepatan tinggi, Aurus Business Jet hadir sebagai simbol baru kemandirian industri teknologi tinggi Rusia di kancah internasional.

Menghadapi Sanksi, Rusia Luncurkan Superjet 100 Versi Import-Substitution dengan Mesin PD-8

Mengenal Incat Hull 096: Kapal Ferry Listrik Terbesar di Dunia yang Memulai Uji Coba Pelabuhan

Dunia transportasi maritim sedang bersiap menyambut tonggak sejarah baru seiring dengan kemajuan pesat kapal Incat Hull 096, sebuah ferry bertenaga baterai listrik murni yang diklaim sebagai yang terbesar di dunia. Dibangun oleh produsen kapal ternama asal Tasmania, Incat,

kapal ini bukan sekadar kendaraan air biasa, melainkan simbol pergeseran industri menuju dekarbonisasi total. Baru-baru ini, kapal raksasa ini berhasil melewati tahap krusial berupa uji coba pelabuhan (harbor trials), di mana sistem propulsi dan integrasi baterainya diuji untuk pertama kalinya di perairan terbuka sebelum nantinya dikirim untuk melayani rute internasional.

Secara desain, Incat Hull 096 adalah mahakarya teknik berbahan aluminium ringan yang memiliki panjang mencapai 130 meter. Penggunaan aluminium menjadi kunci utama karena bobotnya yang jauh lebih ringan dibandingkan baja, sehingga memungkinkan kapal membawa beban berat tanpa menguras energi baterai secara berlebihan.

Kapal ini dirancang untuk mampu menampung hingga 2.100 penumpang dan 225 kendaraan dalam sekali perjalanan. Keunikan utamanya terletak pada lambung kapal yang didesain untuk meminimalisir hambatan air, memastikan efisiensi energi tetap maksimal meski kapal melaju dengan kecepatan tinggi di atas samudera.

Sistem propulsi dan penyimpanan energinya adalah bagian yang paling mencengangkan. Incat Hull 096 dibekali dengan sistem baterai raksasa berkapasitas sekitar 40 MWh, yang menjadikannya sistem penyimpanan energi terbesar yang pernah dipasang di sebuah kapal.

Tenaga dari baterai ini dialirkan ke delapan jet air bertenaga listrik yang mampu memberikan dorongan halus namun sangat bertenaga. Dengan konfigurasi ini, kapal dapat mencapai kecepatan operasional yang kompetitif tanpa menghasilkan emisi gas buang sedikit pun, suara bising mesin yang mengganggu, ataupun getaran berlebih yang biasanya ditemukan pada kapal diesel konvensional.

Keberhasilan uji coba di Hobart, Tasmania, menandai bahwa sistem manajemen daya yang kompleks pada kapal ini telah berfungsi dengan sinkron. Setelah semua pengujian selesai, kapal ini dijadwalkan untuk dikirim ke Amerika Selatan untuk dioperasikan oleh perusahaan Buquebús. Di sana, Incat Hull 096 akan melayani rute antara Argentina dan Uruguay, membuktikan kepada dunia bahwa perjalanan laut jarak jauh dengan nol emisi bukan lagi sekadar impian masa depan, melainkan realitas yang siap diimplementasikan secara komersial hari ini.

Kapal Ferry Listrik Terbesar di Dunia Berlayar Dua Tahun Lagi, Bisa Angkut 2100 Penumpang dan 226 Kendaraan

Podcars: Ide Kendaraan Masa Depan Yang Diambil dari Imajinasi Masa Lalu

Bila model BRT alias Bus Rapid Transit sudah demikian mengakar di Indonesia, salah satunya lewat layanan TransJakarta, maka lain hal dengan PRT (Personal Rapid Transit). Meski namanya asing di telinga, PRT sejatinya adalah podcars, yakni moda kendaraan yang menggabungkan keunggulan kendaraan pribadi dan jalur kereta api. Meski implementasi PRT terbilang sepi, sejatinya model podcars sudah ada sejak  tahun 1975 di Morgantown, West Virginia. Bahkan di Banglore, India, PRT digadang sebagai jawaban untuk mengatasi kemacetan di mase depan.

Baca juga: Autonomous Rail Rapid Transit, Pelampiasan Cina Setelah Gagal Dengan Straddling Bus?

Selain itu, Belanda tepatnya di Rotterdam sudah menggunakan PRT sejak tahun 1999, Masdar City di Abu Dhabi sudah menggunakan PRT sejak 2010, Bandara Heathrow London tahun 2011 dan Sungcheon Bay di Korea Selatan tahun 2014 lalu. KabarPenumpang.com merangkum dari laman citylab.com bahwa, peningkatan podcars ini terlihat dalam 15 tahun terakhir.

Podcars yang ada di Belanda biasanya digunakan untuk menghubungkan perkantoran di pinggir kota ke stasiun kereta dengan sebuah jalur yang tidak eksklusif di sepanjang jalan. Sedangkan yang ada di Heathtrow merupakan alternatif yang bisa digunakan orang-orang di bandara.

Belum lama, Tel Aviv juga menjadi salah satu pengguna podcars. Namun, sampai saat ini podcars yang paling mengesankan adalah yang berada di Morgantown tepatnya Universitas West Virginia dan melewati lima stasiun dengan lebih dari delapan mil (12 km) untuk jalur khusus. Dalam satu podcars mampu menampung delapan orang dan terhitung untuk satu tahun pelajaran ada sekitar 15 ribu orang yang menggunakan. Sistem di Morgantown menunjukkan janji transit cepat yang telah berlangsung lama.

Sebenarnya dengan adanya podcars bisa mengurangi potensi penggunaan mobil pribadi di kota. Dimana dengan menggunakan PRT seperti milik pribadi yang mengantarkan perjalanan langsung ke tujuan sehingga sampai di transportasi umum tanpa hal yang menganggu.

Sayangnya, sistem tersebut tidak cukup untuk menangani banyaknya orang dikala jam sibuk. Tak hanya itu, sistem ini juga belum bisa mengalahkan layanan yang ditawarkan oleh jaringan taksi.

Sebenarnya sistem PRT sudah ada di kota hanya saja kurang efektif dalam penggunaannya, sehingga kota yang memiliki jaringan tersebut masih menanggung biaya signifikan. Mineta Transportation Institute memperkirakan biaya US$10 hingga US$20 juta per mil untuk sistem transit cepat pribadi berkapasitas menengah.

Namun, hanya sedikit perusahaan manufaktur yang mau terlihat dalam proyek PRT, lantaran pasar pengguna yang dianggap masih sepi. Faktor dalam overruns biaya yang tak terelakkan dari mega proyek, dan podcars menjadi sumber daya transit yang berharga.

Baca juga: Gunakan Rel Virtual, Autonomous Rail Rapid Transit Siap Mengular di Zhuzhou

Untuk bandara dan kota baru, PRT dapat melengkapi sistem angkutan massal lainnya dengan lebih baik dan mendorong orang untuk menjalani gaya hidup bebas kargo dengan menyediakan layanan tujuan-ke-tujuan dengan berjalan kaki minimal dari stasiun. Di lingkungan yang baru dibangun, PRT dapat dibangun dengan harga murah dan bisa dipasang sedemikian rupa sehingga tidak mengganggu lingkungannya.