Ini Tujuh Fakta Seputar Shinkansen yang Kamu Harus Tahu

Sebagai salah satu kereta peluru terkenal di dunia, shinkansen menjadi transportasi favorit pelancong ketika berkunjung ke Jepang. Sebab ketika naik shinkansen, pelancong akan mendapatkan WiFi gratis, bisa menikmati makanan bento yang menarik hingga pemandangan jendela yang spektakuler.

Baca juga: Melepas Lelah, Para Pekerja Bisa Nikmati Shinkansen Sambil Merendam Kaki

Kereta shinkansen yang terkenal cepat ini dapat membawa pelancong ke mana pun yakni Kyoto ke Hiroshima atau Tokyo ke lereng ski Yamagata. Nah, KabarPenumpang.com merangkum timeout.com, ada tujuh fakta menyenangkan untuk mendapatkan perjalanan terbaik di dunia dengan kereta shinkansen.

Diluncurkan bertepatan Olimpiade Tokyo 1964
Shinkansen dianggap sebagai salah satu puncak teknologi Jepang modern, tetapi sudah ada selama lebih dari setengah abad. Kereta peluru pertama di dunia diluncurkan di jalur Tokaido Shinkansen yang menghubungkan Tokyo dan Osaka pada 1 Oktober 1964 dan hanya beberapa hari menjelang Olimpiade Tokyo yang pertama.

Kecepatan 320 km per jam
Shinkansen sendiri bisa meroperasi dengan kecepatan 320 km per jam dan ini meningkatkan ekonomi nasional sehingga membuatnya lebih cepat. Sebab ini menjadi kontribusi besar bagi kemajuan kota-kota terbesar di Jepang. Pada tahun 2015, Japan Railways Group (JR) memecahkan rekor kecepatan kereta api dunia setelah kereta maglev Seri L0 yang dikembangkan dan diuji oleh perusahaan selama beberapa tahun terakhir mencapai kecepatan 603km per jam. JR berencana untuk maju dengan maglev pemecah rekornya dengan mengintegrasikannya ke dalam transportasi sehari-hari untuk masa depan.

Transportasi paling aman
Perjalanan udara secara luas dianggap sebagai bentuk transportasi teraman karena rendahnya jumlah kecelakaan dibandingkan dengan kereta api atau mobil tetapi kereta peluru tidak seperti lokomotif masa lalu. Dalam 57 tahun sejak peluncuran kereta peluru pertama di dunia, Jepang tidak memiliki kasus kematian akibat tergelincir atau bertabrakan dengan shinkansen.

Sangat tepat waktu, waktu tunda rata-rata kurang dari satu menit
Semua orang tahu bahwa perusahaan kereta api Jepang bangga akan ketepatan waktu, di mana shinkansen yang berangkat dari peron 24 detik lebih awal dari yang dijadwalkan akan menjadi berita utama nasional. Tetapi bahkan pada kesempatan langka ketika mereka tidak muncul tepat waktu, Anda tidak akan menyadari keterlambatannya. Menurut laporan tahunan 2020 yang dirilis Japan Railways, rata-rata waktu tunda Tokaido Shinkansen pada 2019 hanya 12 detik.

Punya fitur tahan gempa
Salah satu penyebab terbesar penundaan atau penghentian sementara adalah gempa bumi sesekali yang dapat mengganggu sumber listrik yang memberi makan kereta peluru. Berkat baterai lithium-ion baru yang dikembangkan pada tahun 2019, kereta peluru sekarang dapat berjalan dengan sumber daya independen yang memungkinkan kereta bergerak perlahan dan mantap menuju terowongan yang aman.

Ramah lingkungan
Shinkansen hanya mengkonsumsi 12,5 persen dari energi yang dibutuhkan pesawat dan menghasilkan sekitar 92 persen lebih sedikit emisi karbon per kursi. Selain itu JR juga tengah mencari cara untuk lebih meningkatkan persentase ini dengan mengembangkan kereta api yang lebih hemat energi di masa depan.

Baca juga: Spektakuler! Video Kereta Cepat Shinkansen Terabas Salju di Stasiun Kurikoma-Kogen

Standar dari Jepang untuk kereta peluru
Ketika shinkansen perdana Jepang melakukan perjalanan dari Tokyo ke Osaka pada tahun 1964 dengan kecepatan 204 km per jam, itu adalah kereta tercepat yang pernah ada di dunia. Sekarang, kereta peluru serupa telah bermunculan di berbagai belahan dunia, memanfaatkan teknologi berkecepatan tinggi untuk mendorong masa depan yang lebih cerah.

Pesona Stasiun Shimonada Jepang: Stasiun Pinggir Laut Tercantik yang Wajib Dikunjungi

Apa saja sih yang biasanya Anda lihat di dalam peron ketika tengah menunggu kereta tiba? Bagi para komuter, semuanya akan serempak menjawab kerumunan penumpang yang tengah mengantre. Nah, bagi Anda yang sudah penat, mungkin Anda mengidam-idamkan untuk bisa melihat ‘Lukisan Sang Pencipta’ saat tengah menunggu si ular besi.

Baca Juga: Di Jepang, Burung Gagak ini Juga Ikut Beli Tiket Kereta Lho!

Pemandangan hamparan laut lepas lengkap dengan desir angin dan aroma laut yang khas seolah menjadi khayalan para komuter yang tengah menunggu kereta. Tapi tunggu dulu, jika Anda kebetulan tengah menyambangi Negeri Matahari Terbit, Jepang, Anda bisa menunggu kereta sembari merasakan sensasi yang sudah dijabarkan di atas.

Sumber: goinjapanesque.com

Dilansir KabarPenumpang.com dari laman goinjapanesque.com, Stasiun Shimonada merupakan sebuah stasiun kecil yang terletak di Prefektur Ehime, dimana stasiun ini dilalui oleh layanan Yosan Line yang dioperatori oleh JR Shikoku. Termasuk stasiun kecil karena fisik bangunannya sendiri yang tidak menyerupai stasiun kebanyakan dan jumlah penumpangyang hilir mudik dari stasiun ini pun bisa terbilang sangat minim, hanya sekitar beberapa lusin saja setiap harinya.

Sumber: goinjapanesque.com

Pun dengan jumlah layanan yang berhenti di stasiun ini, terhitung hanya sekitar 10 layanan saja setiap harinya, dengan jeda waktu pemberangkatan satu hingga satu setengah jam sekali. Selain terkenal dengan pemandangannya yang eksotis, Shimonada Station pun menyabet gelar sebagai sebagai stasiun dengan jarak rel dan laut paling dekat di dataran Jepang, dimana kini gelar tersebut berhasil dicuri oleh Omigawa Station di Niigata.

Baca Juga: Stasiun Tokyo, Merangkap Jadi Museum dan Saksi Bisu Pembunuhan Dua PM Jepang

Stasiun yang dibuka pada tahun 1889 ini diketahui sebagai stasiun nirawak yang didukung oleh peron tunggal. Mahsyur akan pemandangan indahnya dari dalam stasiun, sampai-sampai dijadikan latar beberapa serial drama televisi di Jepang, seperti Otoko wa Tsurai yo!, HERO, dan beberapa anime seperti Beyond the Boundary dan Neko Monogatari. Sangat unik ya stasiun yang satu ini! Dunia perkeretaapian Jepang memang penuh dengan kejutan yang siap membelalakkan mata setiap penumpangnya.

Mengenal Aerobag: Teknologi Airbag Pintar untuk Keamanan Pembalap Sepeda

Kecepatan tinggi dalam balap sepeda profesional selalu membawa risiko cedera serius, terutama saat terjadi kecelakaan massal di medan menurun yang tajam. Menjawab tantangan tersebut, sebuah inovasi revolusioner bernama Aerobag kini hadir untuk memberikan perlindungan ekstra bagi para pembalap profesional tanpa mengorbankan performa aerodinamis mereka.

Aerobag adalah sistem keselamatan berupa rompi airbag yang dirancang khusus untuk memenuhi standar ketat kompetisi balap sepeda dunia (UCI). Berbeda dengan perlindungan tradisional yang cenderung kaku dan berat, Aerobag menggunakan teknologi sensor cerdas untuk mendeteksi tanda-tanda kecelakaan sebelum tubuh pembalap menghantam aspal.

Sistem ini bekerja dengan algoritma canggih yang memantau pergerakan pembalap ribuan kali per detik menggunakan sensor gyroscope dan accelerometer. Ketika sistem mendeteksi pola gerakan yang tidak wajar (seperti jatuh tiba-tiba atau kehilangan keseimbangan ekstrem), airbag akan mengembang hanya dalam hitungan milidetik.

Saat mengembang, rompi ini melindungi area tubuh yang paling rentan, termasuk dada, perut, punggung, dan yang paling krusial adalah area bahu serta tulang selangka—lokasi cedera paling umum di dunia balap sepeda.

Salah satu hambatan terbesar dalam memperkenalkan alat pelindung di balap sepeda adalah masalah hambatan udara (drag). Para atlet profesional sangat sensitif terhadap berat dan bentuk pakaian mereka. Aerobag menjawab tantangan ini dengan desain yang sangat ramping dan terintegrasi di balik jersey balap. Saat tidak mengembang, rompi ini hampir tidak terlihat dan tidak menambah beban yang signifikan, sehingga pembalap tetap bisa memacu sepedanya dengan efisiensi maksimal.

Inovasi ini muncul di tengah meningkatnya tuntutan akan keselamatan atlet setelah beberapa kecelakaan fatal di turnamen besar dunia. Dengan adanya Aerobag, diharapkan angka cedera patah tulang selangka dan trauma dada dapat ditekan secara drastis. Meskipun saat ini masih difokuskan untuk kalangan profesional, teknologi ini diprediksi akan segera merambah pasar sepeda antusias (hobi) demi keamanan berkendara di jalan raya.

Dainese Luncurkan Rompi Pintar dengan Sistem Perlindungan Airbag

Tragedi Peron Stasiun: Mengapa Kasus Kecelakaan dan Bunuh Diri di Jalur Kereta Api Masih Menghantui?

Kabar duka kembali menyelimuti transportasi publik ibu kota. Pada Rabu, 21 Januari 2026, seorang wanita berusia 18 tahun dilaporkan mengakhiri hidupnya dengan meloncat ke jalur rel saat kereta akan masuk di Stasiun Gondangdia, Jakarta Pusat. Tragedi ini menambah daftar panjang kasus serupa yang terjadi di peron kereta api, memicu diskusi publik mengenai keamanan penumpang dan perlindungan kesehatan mental di ruang publik.

Peristiwa di Gondangdia tersebut bukan sekadar angka statistik, melainkan alarm keras mengenai kerentanan peron terbuka. Lantas, mengapa peron kereta api kerap menjadi lokasi kecelakaan dan aksi nekat, serta apa yang menghalangi operator untuk memasang sistem pengaman otomatis di seluruh stasiun?

Banyak faktor yang menyebabkan peron kereta api menjadi lokasi berisiko tinggi. Selain faktor psikologis seperti niat bunuh diri yang spontan akibat tekanan hidup, faktor teknis dan perilaku penumpang juga memainkan peran besar:

Kepadatan Berlebih (Overcrowding): Pada jam sibuk, peron yang sempit sering kali penuh sesak. Kurangnya ruang gerak meningkatkan risiko penumpang terdorong atau terpeleset ke celah peron.

Gangguan Konsentrasi: Penggunaan ponsel pintar dan earphone membuat penumpang kurang waspada terhadap pengumuman petugas atau kedatangan kereta.

Akses Terbuka: Tidak adanya pembatas fisik antara area tunggu dan rel memungkinkan siapa saja untuk masuk ke area berbahaya dalam hitungan detik.

Langkah paling efektif untuk mencegah kejadian ini adalah pemasangan Platform Screen Doors (PSD) atau pintu tepi peron otomatis, seperti yang sudah digunakan di MRT Jakarta. Namun, bagi operator besar seperti KAI atau KCI (Commuter Line), tantangannya sangat kompleks:

Berbeda dengan MRT yang memiliki tipe kereta seragam, Commuter Line melayani berbagai jenis rangkaian kereta dengan letak pintu yang berbeda-beda. Menyesuaikan pintu otomatis di peron agar presisi dengan setiap jenis pintu kereta adalah tantangan teknis yang sangat sulit.

Platform Screen Doors Alami Kendala, Penumpang MRT Singapura Terjebak Delay Dua Jam!

Banyak stasiun kereta di Indonesia merupakan bangunan tua yang struktur peronnya tidak dirancang untuk menahan beban berat dari sistem PSD yang terbuat dari baja dan kaca. Memasang PSD berarti harus melakukan renovasi total pada fondasi peron.

Biaya pengadaan PSD sangat tinggi, mencapai miliaran rupiah per stasiun. Selain itu, biaya pemeliharaan agar sensor tetap sinkron dengan pengereman kereta memerlukan teknologi tinggi yang terus-menerus harus diperbarui.

Untuk menggunakan PSD, kereta harus berhenti dengan akurasi sentimeter. Ini memerlukan sistem Automatic Train Operation (ATO), sementara sebagian besar kereta konvensional masih mengandalkan pengereman manual oleh masinis.

Namun, kejadian di Stasiun Gondangdia mengingatkan kita bahwa keamanan transportasi bukan hanya soal teknis, melainkan juga kepedulian sosial. Edukasi mengenai kesehatan mental dan kesadaran penumpang untuk saling menjaga di area publik tetap menjadi kunci utama di samping pembangunan infrastruktur yang lebih aman.

Waspada ‘Chikan dan Butsukariya’ – Masalah Sosial di Jaringan Kereta Komuter Jepang

Tidak Hanya Nama Pelawak, “Indro” Ternyata Juga Nama Stasiun!

“Gile lu, Ndro!” Anda tentu tidak asing dengan penggalan frasa tadi. Ya, frasa tersebut kerap kali diucapkan oleh alm. Kasino ketika salah satu temannya, Indro melakukan tindakan yang bisa dibilang konyol dalam serial Warkop DKI.

Baca Juga: “Tanggung,” Stasiun Kedua Tertua di Indonesia, Masih Beroperasi dan Jadi Cagar Budaya

Ngomong-ngomong soal Warkop DKI, ternyata ada lho stasiun kereta yang namanya sama persis dengan salah satu lawan main dari alm. Dono dan alm. Kasino. Ya, Stasiun Indro! Tapi ingat, jangan cari Stasiun Dono atau Stasiun Kasino ya, karena stasiun ini sama sekali tidak ada hubungannya dengan Indro yang ada di Warkop DKI.

Seperti yang diwartakan KabarPenumpang.com dari berbagai laman sumber, stasiun dengan kode IDO ini berada di atas ketinggian +8 meter dan masuk ke dalam teritori Daerah Operasi (Daop) VIII Surabaya. Stasiun yang memiliki enam jalur dengan jalur 2 sebagai sepur lurus ini terletak di Sidorukun, Gresik. Seiring berjalannya waktu, kini hanya jalur 1-4 saja yang masih dipergunakan untuk menunjang pengoperasian kereta di Daop VIII Surabaya tersebut.

Sebelah utara Stasiun Indro terdapat percabangan jalur kereta api, yaitu ke Pabrik Semen Gresik dan PT Petrokimia. Jalur yang melingkari Kota Gresik hingga bertemu dengan jalur utama di Stasiun Sumari, dan jalur yang menuju ke Stasiun Gresik di daerah Pelabuhan Gresik. Ada sesuatu yang unik di jalur ini, dimana jalur ini mempunyai kemiringan (gradient) yang cukup terjal, yaitu naik atau turun kira-kira 24 meter tiap 1 kilometer karena Stasiun Indro berada di atas sebuah bukit sedangkan Stasiun Gresik berada di dekat laut.

Sayangnya, Anda tidak bisa menggunakan layanan yang ada di Stasiun Indro ini, karena layanan yang ada di stasiun yang masuk ke dalam kategori kelas III atau stasiun kecil ini hanyalah kereta api barang angkutan peti kemas/kontainer. Stasiun yang dikelola oleh KALOG ini sebelumnya sempat dinon-aktifkan karena kontrak kereta angkutan semen dari Semen Gresik habis dan tidak diperpanjang lagi.

Namun pada 9 September 2016 silam, Executive Vice President Daop VII Surabaya, Wiwik Widyawanti mengatakan bahwa sudah ada perusahaan logistik yang mau bekerjasama dengan PT KAI Logistik (KALOG) untuk mengangkut barangnya menggunakan kereta api, yaitu PT Richmount Agro Chem.

Baca Juga: Butuh? Ternyata Ini Nama Stasiun Lho!

Salah seorang juru bicara dari PT Richmount Agro Chem sendiri mengaku bahwa dibukanya kembali jalur kereta barang menuju Stasiun Indro sendiri dapat menghemat biaya angkut logistik hingga 50% serta menghemat waktu tempuh angkutan barang, sebuah pemikiran yang ekonomis. Dirinya juga mengatakan bahwa apabila logistik diangkut lewat jalur darat bisa memakan waktu hingga satu bulan lamanya, sedangkan dengan menggunakan kereta api bisa dipersingkat jadi hanya sehari.

Satu pertanyaan besar yang hingga kini masih menggelayuti pikiran adalah, apa sejarah yang melatarbelakangi penamaan dari Stasiun Indro ini?

Lokomotif Ringsek, Tabrakan KA Menoreh vs Truk Tangki Terasa Mencekam Bagi Warga Sekitar

Peristiwa yang memilukan dialami pada rangkaian Kereta Api (KA) Menoreh dengan nomor KA 177 rute Semarang Tawang – Pasar Senen. Kejadian yang berlangsung pada Rabu, 21 Januari 2026 pukul 02:47 WIB ini berada di km 201+400 petak jalan Babakan – Waruduwur. Lokomotif dengan nomor sei CC 201 89 06 terlihat ringsek dibagian kabin.

Pada jam-jam tengah malam di lokasi tersebut kondisi jalan relatif sepi dan jarak pandang pun terbatas. Secara tiba-tiba benturan keras antara kereta dan truk membuat suara dentuman terdengar hingga radius ratusan meter. Sontak pasca peristiwa benturan tersebut sampai membangunkan warga sekitar.

Dari keterangan Kasatlantas Polresta Cirebon Kompol Mangku Anom Sutresno menjelaskan, kecelakaan bermula saat sebuah truk tangki pengangkut air hendak melintasi perlintasan sebidang. Saat berada tepat di tengah rel, truk mengalami mogok dan tidak dapat melanjutkan perjalanan. Sopir truk sempat berupaya memindahkan kendaraannya keluar dari jalur kereta.

Informasi yang dikutip dari laman Metro TV, menerangkan bahwa sopir truk mengalami luka-luka karena berusaha menyelamatkan kendaraannya dari tabrakan. Akibat peristiwa tersebut, truk tangki terseret sekitar 500 meter dari lokasi kejadian. Benturan keras juga menyebabkan lokomotif KA Menoreh anjlok.

Peristiwa kecelakaan itu sempat terekam kamera warga dan dengan cepat menyebar luas di sejumlah grup WhatsApp. Dalam video yang beredar, terlihat KA Menoreh melaju dengan kecepatan tinggi sebelum menghantam truk yang berada di tengah lintasan rel. Usai tabrakan, bagian depan kereta tampak mengalami kerusakan, sementara truk terpental dan hancur di sekitar perlintasan. Asap dan serpihan kendaraan terlihat berserakan, menandakan kerasnya benturan yang terjadi.

Minimnya fasilitas keselamatan di lokasi perlintasan menjadi sorotan utama dalam insiden ini. Warga setempat menyebut perlintasan tersebut kerap dilalui kendaraan tanpa pengamanan memadai. Meski telah lama dikeluhkan, perlintasan itu masih beroperasi tanpa palang pintu dan penjagaan. Menurut keterangan warga bahwa kejadian tersebut sangat cepat, dan tiba-tiba ada benturan keras.

Pihak kepolisian saat ini tengah melakukan penyelidikan untuk memastikan penyebab pasti kecelakaan, termasuk memeriksa saksi, rekaman video, serta kondisi teknis kendaraan dan kereta. Insiden di Cirebon ini menambah daftar panjang kecelakaan di perlintasan sebidang, sekaligus menjadi peringatan keras bagi semua pihak akan pentingnya keselamatan di jalur kereta api. Dan bagi warga sekitar, tragedi dini hari itu menjadi pengalaman mencekam yang sulit dilupakan.

Yuk, Kenalan dengan Djoko Tingkir – Sang Kereta Penolong

Memiliki Peran Krusial, Stasiun Sepanjang Menjadi yang Tersibuk pada Masa Kolonial Belanda

Tak hanya sekadar namanya yang unik, stasiun ini ternyata memiliki sejarah penting dalam dunia perkeretaapian. Saat ini jalur antara Stasiun Sepanjang menuju Stasiun Wonokromo masih menggunakan satu jalur, itu berarti Stasiun Sepanjang adalah batas akhir jalur ganda dari arah Jakarta. Tak heran, selain melayani penumpang kereta api lokal, stasiun ini juga melayani persilangan dan penyusulan antarkereta api.

Diketahui bahwa Stasiun Sepanjang ternyata sebagai salah satu ikon penting di Kabupaten Sidoarjo, stasiun ini menjadi titik temu jalur kereta api yang menghubungkan berbagai kota besar di Pulau Jawa, seperti Malang, Pasuruan, dan Surabaya. Tak hanya itu, sejarah yang tak terlupakan pada stasiun ini juga sangat melegenda.

Stasiun yang hanya 1 km di selatan Kota Surabaya ini menyimpan sejarah panjang perjalanan kereta api di Jawa Timur. Sejak dibangun pada akhir abad ke-19, tepatnya pada tahun 1897, Stasiun Sepanjang memainkan peran krusial dalam jalur transportasi kereta api yang menghubungkan Surabaya dengan kota-kota di Jawa Tengah dan Jawa Barat.

Proyek yang digagas oleh Staatsspoorwegen (SS) ini bertujuan untuk mempercepat akses transportasi dari arah barat, mengurangi waktu perjalanan yang semula melalui jalur Tarik – Tulangan yang lebih panjang.

Pada masa itu, jalur ini menjadi sangat vital, mengingat Surabaya adalah pelabuhan utama yang mengangkut hasil perkebunan. Mobilitas kereta api hingga 180 hingga 200 gerbong setiap harinya membuat Stasiun Sepanjang ini menjadi titik strategis yang sangat sibuk.

Stasiun Sepanjang tidak hanya penting dalam konteks sejarah transportasi, tetapi juga memiliki peran dalam pengaturan lalu lintas kereta api. Salah satu komponen penting di stasiun ini adalah rumah sinyal.
Rumah sinyal yang ada di sini, meski kini sudah digantikan oleh sistem sinyal elektrik, dulu memiliki fungsi untuk mengatur jalannya kereta. Dengan sistem mekanik, petugas yang mengatur perjalanan kereta api, dengan cara menarik tuas sinyal maupun wesel yang terhubung oleh kawat baja yang berada di samping rel kereta api.

Meskipun banyak fasilitas lama yang sudah tidak digunakan lagi, Stasiun Sepanjang dan rumah-rumah sejarah yang ada di sekitarnya tetap menjadi saksi bisu perkembangan transportasi kereta api di Indonesia. Kini Stasiun Sepanjang tetap menjadi tempat yang menyimpan memori penting, menghubungkan masa lalu dan masa kini dalam jejak kereta api kolonial.

KA Jenggala, Kereta Komuter Plus “Wisata” Rute Mojokerto-Sidoarjo

Menguak Peran Penting Sejarah Stasiun Sidoarjo di Era Kolonial Belanda

Berada di wilayah Daerah Operasi (Daop) 8 Surabaya, Stasiun Sidoarjo merupakan stasiun pemberhentian terakhir Kereta Commuter Line Jenggala dengan rute Surabaya – Sidoarjo. Stasiun Sidoarjo merupakan stasiun kereta api kelas I yang berada di kelurahan Lemahputro, Kecamatan Sidoarjo, Kabupaten Sidoarjo, Jawa Timur. Stasiun ini berada di ketinggian +4 meter di atas permukaan laut.

Stasiun Sidoarjo juga merupakan stasiun tertua di Jawa Timur dan salah satu peninggalan kolonial Belanda dalam bentuk arsitektur yang banyak dipertahankan fungsinya hingga saat ini. Pada abad 18, Sidoarjo merupakan salah satu sentra produksi gula. Hal ini ditandai dengan berdirinya 10 pabrik gula di sidoarjo.yaitu ada di beberapa tempat yakni Ketegan, Taman, Gedangan, Buduran, Candi, Tulangan, Krembung, Wonoayu, Krian, dan Watu Tulis.

Kota Sidoarjo pada masa itu merupakan daerah industri gula yang potensial di Nusantara. Sebagai konsekuensi dari pembukaan pabrik gula tersebut, pemerintah kolonial Belanda juga menyiapkan sarana dan prasarana untuk mengangkut hasil gula dari Sidoarjo menuju ke Pelabuhan atau kota lain.

Gula merupakan komoditas primadona yang diminati di daerah Eropa. Sehingga, pemerintah Belanda merasa penting untuk membuka jaringan jalan kereta api (rel). Pembangunan jalur kereta api dari Surabaya hingga Pasuruan yang membelah Sidoarjo, dikerjakan oleh Staats Spoorwegen lebih dari tiga tahun, dan diresmikan pada 16 Mei 1878.

Stasiun Sidoarjo sebagai bangunan bersejarah (cagar buday) yang dilestarikan, tetap mempertahankan elemen-elemen arsitektur yang ada. Elemen pintu dan jendela pada stasiun memiliki peran yang penting sebagai jalur sirkulasi. Pengaruh gaya arsitektur kolonial Belanda di Indonesia pada pertengahan abad ke-18 hingga awal abad ke-19 dikenal dengan sebutan Indische Empire.

Elemen pintu dan jendela stasiun kereta api sidoarjo yang masih terjaga keasliannya dapat menjadi bahan masukan apabila dilakukan perbaikan maupun penggantian pada elemen tersebut. Hal ini dilakukan agar kelestarian bangunan bersejarah seperti stasiun ini dapat tetap terjaga.

Stasiun Sidoarjo memiliki kelengkapan sesuai standar bangunan stasiun yang berada di kota atau kabupaten pada umumnya, yakni memiliki halaman depan, bagian hall yang ada di bangunan stasiun, peron, dan emplasemen. Stasiun ini juga tergolong sebagai stasiun besar yang memiliki fungsi sebagai tempat kereta api berheni, tempat kereta api berangkat, dan tempat kereta api bersilang, menyusul atau disusul.

Yuk, Jelajahi Stasiun Lawang yang Merupakan Stasiun ‘Tertinggi’ di Wilayah Malang

Terkait Adanya Perbaikan Sistem Aplikasi dan Web Selama 4 Jam, KAI Imbau kepada Masyarakat untuk Lakukan Hal Ini

Pengguna kereta api hingga saat ini tetap menjadi transportasi andalan walaupun tengah dilanda keterlambatan dan pembatalan. Namun bagi masyarakat yang melakukan perjalanan singkat dan praktis, terkadang mereka tetap bertahan sampai datangnya kereta yang mereka pesan.

Pemesanan tiket kereta api yang makin mudah baik melalui aplikasi Access by KAI maupun website kai.id sudah bisa di akess manapun, meskipun hanya melalui ponsel atau pun gadget lainnya. Jadwal kereta api, jam keberangkatan, serta rute yang ditempuh merupakan pilihan masyarakat yang ingin melakukan perjalanan hingga ke destinasi tujuan.

Namun, ada kabar yang mungkin sedikit mengganggu kenyamanan penumpang terutama yang ingin memesan tiket kereta api melalui aplikasi maupun website. Ya, kedua sistem tersebut sementara waktu tidak bisa diakses pada malam ini. PT Kereta Api Indonesia Persero (KAI) akan melakukan migrasi dan penguatan kapasitas Rail Ticketing System (RTS) pada Rabu, 21 Januari 2026, pukul 00.00 hingga 04.00 WIB.

Langkah ini mencakup seluruh sistem pemesanan tiket, baik Kereta Api Jarak Jauh (KAJJ) maupun KA Lokal (KAI & KAI Commuter), guna memastikan keandalan layanan menjelang masa Angkutan Lebaran. Peningkatan infrastruktur ini dilakukan untuk memastikan seluruh kanal pemesanan tiket memiliki performa yang stabil dan responsif.

Vice President Corporate Communication KAI Anne Purba dalam keterangannya, Selasa (20/1/2026) yang dikutip laman CNBC mengatakan bahwa sistem tersebut akan migrasi ke infrastruktur yang lebih modern agar seluruh kanal pemesanan. Hal ini sangat penting agar masyarakat dapat memesan tiket mudik dengan lebih lancar tanpa kendala teknis.

Tentunya, selama proses migrasi yang berlangsung empat jam tersebut, seluruh layanan pemesanan, pembayaran, hingga pembatalan tiket secara online melalui aplikasi Access by KAI, situs web kai.id, serta kanal eksternal/mitra resmi lainnya tidak dapat diakses sementara.

Mengingat tetap adanya aktivitas perjalanan kereta api pada jam tersebut, KAI memastikan pelayanan kepada penumpang tetap berjalan. Untuk pelayanan pemesanan tiket, bagi calon penumpang yang ingin membeli tiket secara mendadak (go-show) atau melakukan transaksi darurat, pelayanan tetap dialihkan secara manual melalui loket stasiun (offline).

Untuk penyimpanan tiket baik di aplikasi maupun di website dan berangkat pada periode migrasi, diimbau kepada masyarakat untuk menyimpan dengan cara screenshot (tangkapan layar) tiket/kode booking dari aplikasi atau mengecek kode booking di email untuk memperlancar proses boarding.

KAI menegaskan bahwa seluruh data pelanggan dan riwayat transaksi dipastikan tetap aman selama proses transisi berlangsung. Perencanaan matang dan pengujian berlapis telah dilakukan untuk memastikan sistem kembali beroperasi normal tepat pada pukul 04.00 WIB.

Jejak Sejarah Yang Terlupakan, Stasiun Gambir Dulunya Adalah Tanah Rawa

Begini Detik-detik Pengambilan ‘Satu-satunya’ Foto Concorde Saat Melesat Mach 2

Baru-baru ini Presiden Rusia, Vladimir Putin, mengklaim bahwa negaranya telah berhasil mengujicoba rudal balistik terbarunya yang memiliki kemampuan supersonik. Jika ditelisik lebih lanjut, mungkin hal tersebut tidaklah mengherankan, mengingat Rusia sejak medio 60-an mengembangkan teknologi yang melebihi kecepatan suara tersebut. Salah satu mahakaryanya adalah pesawat Tupolev Tu-144.

Baca juga: Tupolev “Concordski” Tu-114 – Jiplakan Concorde Yang Kalah Digdaya 

Akan tetapi, walaupun Tupolev Tu-144 menjadi pesawat penumpang dengan teknologi supersonik pertama di dunia, persisnya  lahir dua bulan lebih dahulu dibanding Concorde, namun pesawat buatan Tupolev bersaudara tersebut tetap saja kalah pamor dibanding dengan Concorde.

Meskipun Concorde sudah sejak lama pensiun, namun foto-fotonya masih beredar luas di internet. Namun, dari sekian banyak foto-foto yang beredar, rupanya, hanya ada satu momen dimana pesawat yang lahir pada 2 Maret 1969 berhasil didokumentasikan saat sedang mengudara dengan kecepatan supersonik.

Dilansir theaviationgeekclub.com, momen didokumentasikannya pesawat Concorde saat sedang mengudara dengan kecapatan supersonik terjadi pada bulan April 1985. Gambar tersebut berhasil diabadikan oleh fotografer berkebangsaan Inggris. Meskipun terdengar mudah, sekedar memotret pesawat Concorde yang tengah melintas, faktanya, proses tersebut tidaklah mudah.

Disebutkan, mula-mula, pesawat Royal Air Force (RAF) Tornado yang ditumpangi Adrian terbang lebih dahulu hingga akhirnya berpapasan dengan Concorde di atas Laut Irlandia. Meskipun pesawat Tornado dapat menyamai kecepatan daya jelajah Concorde, namun, hal tersebut hanya berlangsung selama beberapa menit mengingat besarnya konsumsi bahan bakar.

Menyiasati hal tersebut, pesawat Concorde kemudian mengurangi kecepatan. Dari semula Mach 2 menjadi Mach 1.5 – Mach 1.6 atau sekitar 1.000 mph. Bila diubah menjadi satuan kilometer, 1.000 mph berarti 1.609 kilometer per jam atau tiga kali lipat kereta super cepat. Luar biasa cepat bukan? Dalam keadaan tersebutlah, selama empat menit, pesawat Tornado dan Concorde berada dalam posisi hampir sejajar untuk kemudian diambil gambar dari beberapa sudut. Dari situlah kemudian satu-satunya momen pesawat Concorde saat sedang mengudara dengan kecepatan supersonik berhasil diabadikan.

Sebagai informasi, pesawat Concorde mengukuhkan diri menjadi pesawat supersonik setelah berhasil melahap penerbangan dari Bandara Jhon F. Kennedy di New York menuju Bandara Heathrow di London dalam tempo 2 jam 52 dan 59 detik.

Baca juga: Satu Dekade Lebih ‘Terlantar,’ The Last Concorde Akhirnya Huni Rumah Barunya

Dengan kecepatan rata-rata mencapai Mach 2.04 (2.180 kilometer per jam), Aerospatiale-BAC Concorde melayani penumpang secara reguler dari Bandara Heathrow London dan Bandara Charles de Gaulle Paris ke Bandara John F Kennedy New York, Bandara Internasional Washington Dulles, dan Bandara Internasional Grantley Adams di Barbados selama 27 tahun.

Walapun dijual dengan tiket yang cukup mahal (berkisar 23 juta rupiah atau 140 juta rupiah kurs hari ini) dalam setiap penerbangannya, rata-rata Concorde dipenuhi sekitar 92 hingga 128 penumpang. Concorde akhirnya resmi mengehentikan opersionalnya pada tahun 2003 setelah serangkaian kecelakaan dan permasalahan teknologi yang tak kunjung terpecahkan.