Virgin Hyperloop One Bangun Pusat Penelitian di Andalusia

Demam Hyperloop kian mewabah. Setelah Dubai, Cina, dan beberapa negara lainnya yang telah menandatangani kontrak kerja sama dengan beberapa perusahaan yang menggeluti pengembangan moda bertenaga magnetic levitation (maglev) ini, sekarang giliran Negeri Matador yang baru saja bersinergi dengan Virgin Hyperloop One besotan Sir Richard Brenson. Perusahaan tersebut telah mencapai kesepakatan dengan pemerintah setempat untuk membuka pusat penelitian di wilayah Andalusia, Spanyol dalam waktu dekat ini. Baca Juga: Akhirnya! Hyperloop Transportation Technologies Canangkan Uji Coba Skala Penuh Adapun pusat pengembangan moda yang didasari oleh ide Elon Musk ini ditandatangani langsung oleh CEO Virgin Hyperloop One, Rob Llyod. Dikutip KabarPenumpang.com dari laman newatlas.com (8/8/2018), perusahaan menargetkan pembangunan pusat pengembangan yang terletak di Desa Bobadilla ini akan menelan dana sekitar US$500 juta atau yang setara dengan Rp7,3 triliun. Hadirnya moda Hyperloop di daerah Andalusia kelak tidak hanya membawa angin segar terhadap sektor transportasi di sana, melainkan perusahaan juga menjamin penyerapan sejumlah tenaga kerja baru. “Rencananya kami akan mempekerjakan 200 hingga 300 tenaga profesional untuk mengembangkan Hyperloop,” tutur Rob. Nantinya, pusat pengembangan ini akan menduduki lahan seluas 19.000 meter persegi dan akan digunakan untuk mengembangkan dan menguji berbagai komponen sistem Hyperloop yang memiliki ciri khas meluncur dengan kecepatan suara di dalam tabung hampa udara ini. “Hadirnya pusat pengembangan ini akan mengarahkan pada berbagai peluang komersial bernilai tinggi dan akan meningkatkan pertumbuhan ekonomi di kawasan tersebut,” tutur Administrador de Infraestructuras Ferroviarias (badan perkeretaapian Spanyol), dalam sebuah pernyataan tertulis. Menanggapi pernyataan Virgin Hyperloop One yang akan mempekerjakan sejumlah tenaga kerja lokal, BUMN tersebut mengatakan hal ini merupakan kesempatan besar untuk meraup ilmu baru. “Ini (perjanjian dengan Virgin Hyperloop One) akan sangat membantu kami untuk memperdalam ilmu tentang penggunaan teknologi baru, dimana itu akan berimplikasi pada kesiapan penerapan di skala internasional,” tandasnya. Baca Juga: Setelah Dubai, Giliran Cina Hadirkan Moda Maglev dari Hyperloop Transportation Technology Terlepas dari perjanjian kerja sama ini, Co-Founder dan Chief Technology Officer, Virgin Hyperloop One Josh Giegel mengatakan bahwa kelak, “Keselamtan penumpang merupakan prioritas kami dalam melakukan pelayanan. Secara keseluruhan, hyperloop harus menjadi moda yang layak secara komersial, aman, dan dapat diandalkan. Dengan begitu, pembangunan pusat pengembangan ini akan membantu kami untuk mendorong tiga faktor utama tadi.”    

Bawa Pistol Kaliber 25, Seorang Kakek Diamankan di Bandara Richmond

Membawa pistol dalam sebuah penerbangan selain dianggap berbahaya, pemiliknya juga bisa dianggap sebagai teroris. Meski sebenarnya pistol sebagai alat perlindungan. Tapi apa jadinya jika yang membawa pistol tersebut seorang kakek? Baca juga: Bawa Pistol Pink, Seorang Wanita Diamankan Petugas TSA Bandara Internasional Richmond Baru-baru ini seorang penumpang berusia 80 tahun membawa pistol saat akan berangkat melalui Bandara Internasional Richmond di Sandston, Virginia, Amerika Serikat. KabarPenumpang.com melansir dari laman theprogressnews.com (15/8/2018), bahwa kakek ini ditangkap saat kedapatan membawa pistol dalam tas jinjingnya. Pistol kaliber 25 yang berisi penuh dengan peluru ini disembunyikan dalam sebuah majalah. Juru bicara bandara Troy M. Bell mengatakan, kakek itu ditangkap dan dituduh membawa senjata api yang disembunyikan saat masuk ke dalam terminal melalui kemanan. “Ini termasuk pelanggaran ringan. Kami tidak akan mengidentifikasi penumpang sampai adanya dakwaan,” ujar Bell. Bell mengatakan, dengan penahanan kakek tersebut, tahun ini Bandara Richmond sudah mengamankan sebanyak delapan orang. Tahun lalu, rekor terbanyak adalah 17 senjata api yang disita petugas dari para pelancong di Bandara Richmond dan tahun 2016 ada 10 senjata api yang diamankan petugas. Tak hanya itu, bulan Mei 2018 kemarin, seorang wanita diamankan juga dibandara Richmond karena kedapatan membawa pistol berwarna merah muda di tas jinjingnya. Pistol miliknya terdeteksi saat melalui mesin pemindai di pemeriksaan keamanan Transportation Security Administration (TSA). Wanita dengan tujuan Bandara Internasional Jhon F Kennedy di New York ini memiliki pistol 9 milimeter dengan muatan delapan peluru. Meski memiliki warna yang cerah, pistol apapun tetap saja dilarang masuk dalam tas jinjing. Baca juga: Acungkan Pistol Karena Disalip, Remaja Tanggung ini Diancam Teroristik Sebab, sebenarnya pistol diizinkan dibawa bepergian tetapi harus dikemas dalam kotak yang terkunci, masuk dalam tas yang akan dibawa ke bagasi kargo, memiliki sertifikat atau terdaftar dan terpisah dengan amunisi atau pelurunya. Peraturan ini jelas ada di situs web milik TSA untuk pembawa senjata. Nantinya jika senjata ditemukan dalam tas atau barang lain maka penumpang akan dikenakan denda hingga US$13 ribu atau sekita Rp18,3 juta. Tak hanya itu jika penumpang membawa senjata dan tidak memiliki izin jelas maka bisa dikenakan sanksi hukuman penjara.

Gelombang Kedua, 4 Rangkaian Kereta MRT Jakarta Tiba di Tanjung Priok

Setelah gelombang pertama pengiriman rangkaian MRT tiba di Indonesia pada 4 April 2018, kini gelombang kedua pengiriman yang terdiri dari empat rangkaian/set kereta MRT tiba di Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta pada hari Sabtu, 18 Agustus 2018. Baca juga: Kereta Pertama MRT Jakarta Sukses Uji Coba Hingga ke Stasiun Cipete Gelombang kedua kereta MRT Jakarta ini tiba setelah mengarungi lautan menggunakan kapal pengangkut SE Potentia selama kurang lebih 14 hari sejak diberangkatkan dari Toyohashi Jepang pada tanggal 4 Agustus 2018. Setiap rangkaian/set Kereta MRT Jakarta terdiri dari 6 kereta (car), sehingga dalam pengiriman kali ini terdapat 24 kereta (car). Dikutip dari siaran pers MRT Jakarta, setelah dilakukan pemeriksaan terlebih dahulu, mulai pukul 14:00 WIB, satu per satu kereta baru yang diproduksi oleh Nippon Sharyo Jepang untuk MRT Jakarta tersebut mulai diturunkan dari kapal. Direncanakan pada 19 Agustus malam hingga 27 Agustus malam rangkaian kereta tersebut akan dikirimkan dari pelabuhan menuju Depo MRT Jakarta di Lebak Bulus, dengan 4 kereta (car) untuk tiap pengiriman per malam. Kedatangan 4 rangkaian/set kereta ini menyusul 2 rangkaian kereta lainnya yang saat ini tengah digunakan dalam System Acceptance Test (SAT). Dengan demikian rangkaian/set Kereta MRT Jakarta saat ini telah berjumlah 6 rangkaian/set. Untuk fase 1 MRT Jakarta (Lebak Bulus – Bundaran HI) akan menggunakan 16 rangkaian/set kereta, dimana 14 dioperasikan sedangkan 2 menjadi cadangan. Baca juga: Lima Wanita Tangguh Jadi Masinis MRT Jakarta Secara bertahap, rangkaian-rangkaian kereta akan terus dikirimkan ke Jakarta hingga memenuhi jumlah tersebut dengan jadwal pengiriman rangkaian kereta terakhir pada November 2018. Nantinya pada Maret 2019 mendatang, MRT Jakarta fase 1 akan beroperasi dari pukul 05.00 hingga 24.00 WIB. Untuk rentang waktu kedatang antar kereta di stasiun sekitar lima menit saat jam sibuk dan sepuluh menit di waktu biasa.

Trem Listrik, Mantan Primadona Transportasi Arek Suroboyo

Semisal selama ini pemberitaan di media selalu dihiasi dengan perkembangan moda transportasi modern, maka kali ini kami akan membahas tentang sejarah salah satu moda yang sudah punah di Indonesia – namun tengah digalang untuk diaktifkan kembali. Ya, moda tersebut adalah trem. Munculnya para pesaing yang lebih efisien dalam segala hal membuat keberadaan trem makin hari kian tersingkir. Baca Juga: Trem Kuda Riwayatmu “Doeloe” Dilansir KabarPenumpang.com dari berbagai laman sumber, salah satu trem tertua di Indonesia ada di Surabaya – yang mulai beroperasi pada paruh kedua abad-19. Kala itu, kolonial Belanda yang berkuasa ingin memodernisasi transportasi yang ada di Kota Pahlawan, dengan tujuan untuk kepentingan ekonomi. Berbekal izin pada tahun 1886, akhirnya Ooster Java Stoomtram Maatschappij (OJS) menjadi perusahaan pengelolanya. Adapun trayek awal dari trem ini meliputi tiga jalur: Ujung – Sepanjang, Mojokerto – Ngoro , dan Gemekan – Dinoyo. Tepatnya, trem ini mulai beroperasi pada tahun 1889 dengan interval waktu keberangkatan 30 menit sekali. Perkembangan pun mulai menggeliat seiring dengan pertumbuhan jumlah populasi Kota Surabaya – terutama penambahan jalur di dalam kota. Tercatat antara tahun 1913 hingga tahun 1916, jalur sisi barat ke pusat kota dibuka. Beberapa persimpangan jalur lalu dibuat untuk menghubungkan wilayah-wilayah yang terpisah, seperti dari Wonokromo dan Boulevard Darmo ke Willemspein (kini Jembatan Merah). Tidak berhenti sampai di situ. Trem Surabaya kembali ‘dimodifikasi’ oleh OJS dengan cara mengubah jenisnya menjadi trem listrik. Pengerjaan ini dimulai pada tahun 1911 dan rampung pada 1924. Perubahan menjadi trem listrik dinilai lebih efisien dan ramah lingkungan – tak ayal seperti banyaknya moda listrik yang berkembang pesat belakangan ini. Kedigdayaan trem listrik ini mulai mencapai puncak pada tahun ketiga pengoperasiannya. Tercatat, sebanyak 11,4 juta kolaborasi Arek Suroboyo dan Kolonial Belanda telah menggunakan trem listrik pada tahun 1927 – sedangkan pengguna trem uap hanya 5,2 juta penumpang saja. Namun masa kejayaan trem listrik harus segera diakhiri manakala kemunculan mobil yang tidak lama berselang setelah moda yang sangat mirip seperti kereta ini mencapai puncak kejayaan. Merosotnya popularitas trem makin terasa ketika Jepang mulai menduduki Surabaya. Mereka sempat berhenti beroperasi akibat pemboman Sekutu terhadap instalasi listrik di dekat Malang yang merupakan pemasok listrik untuk Surabaya. Baca Juga: Ternyata, Trem Listrik di Jakarta Lebih Dulu Ketimbang di Belanda Pasca kemerdekaan, trem diambil alih kepemilikannya oleh Djawatan Kereta Api (DKA). Alih-alih meraup keuntungan, trem ini malah semakin merugi akibat banyaknya penumpang yang tidak membayar. Ditambah, buruknya manajamen DKA membuat keberadaan trem akhirnya “hidup segan mati tak mau”. Persaingan ketat dengan moda transportasi lain yang lebih modern, akhirnya membuat trem di Surabaya mati pada 1970-an.  

Jual Official Merchandise Sebelum Beroperasi, MRT Jakarta Ingin Tumbuhkan Fanatisme?

Membeli official merchandise yang dijajakan oleh perusahaan penyedia layanan transportasi memang menjadi kepuasan tersendiri bagi sebagian orang. Selain otentik, ternyata hampir semua barang yang dijual oleh para perusahaan tersebut tidak bisa kita jumpai di sembarang toko – baik toko online maupun store. Baca Juga: Sambut Pengoperasian, MRT Jakarta Rilis Mobile Application dan Maskot nan Lucu! Ambil contoh maskapai asal Malaysia yang terkenal dengan ribuan promo penerbangannya, AirAsia. Jika Anda pernah mengudara menggunakan AirAsia, tentu Anda pernah mendapatkan penawaran khusus dari awak kabin tentang official merchandise yang bisa Anda beli selama penerbangan. Barang-barang yang dijajakan pun tentu saja berlabel AirAsia dan bersifat eksklusif karena tidak dijual di luaran sana. Selain dapat membeli ketika pesawat telah mengudara, Anda juga bisa melakukan pemesanan terlebih dahulu melalui laman resmi dari AirAsia. Setelah melakukan pembelian pra-pesan, nantinya barang yang Anda beli tersebut akan diantarkan menuju seat sesuai dengan keterangan yang sudah Anda masukan sebelumnya. Trik penjualan semacam ini bisa dibilang wajar karena AirAsia telah terlebih dahulu melakukan operasi penerbangan ketimbang menjual official merchandise – berbanding terbaik dengan MRT Jakarta. Dalam acara peluncuran maskot “Marti” dan pelucuran mobile application MRT-J di Grand Indonesia pada Rabu (15/8/2018) kemarin, perusahaan yang ditunggangi oleh William Sabandar cs. ini mengumumkan beberapa fitur yang dapat diakses melalui aplikasi tersebut – salah satunya adalah pembelian official merchandise. “Pembelian official merchandise hanya bisa dilakukan melalui aplikasi MRT-J,” tutur William di sela-sela acara yang turut dihadiri pula oleh Menteri Komunikasi dan Informatika, Rudiantara dan Puteri Indonesia 2002, Melanie Putria tersebut. Tentu saja, penjualan official merchandise yang dilakukan oleh MRT Jakarta bisa dibilang cukup unik, mengingat belum dimulainya pengoperasian dari jaringan metro pertama di Indonesia ini. Dapat diasumsikan, ini merupakan cara yang ditempuh perusahaan untuk membangun fanatisme dan kecintaan masyarakat terhadap MRT Jakarta. Ditambah lagi dengan penggunaan tagar #IloveMRTJakarta di berbagai platform media sosial semakin mempertajam hipotesa tersebut. Baca Juga: Kereta Pertama MRT Jakarta Sukses Uji Coba Hingga ke Stasiun Cipete Jika dikaji lebih mendalam, sebenarnya penjualan official merchandise yang dilakukan oleh perusahaan penyedia jasa layanan transportasi merupakan cara mereka untuk menorehkan kenangan di setiap orang yang pernah menggunakan jasanya (memorabilia). Didukung dengan pelayanan maksimal, bukan tidak mungkin para penumpang tersebut akan kembali menggunakan jasa yang ditawarkan. Untuk varietas barang yang dijajakan oleh MRT Jakarta sendiri bisa cukup variatif dan tidak melulu menunjang berkendara menggunakan MRT. Sebut saja mug, payung, topi, kaos, hingga neck pillow bergambar sang maskot, Marti dapat Anda lihat di aplikasi MRT-J yang dapat diunduh melalui Google Play atau Apple Store. Mengingat banyaknya variasi barang yang dijual, maka ada beberapa barang yang mesti Anda pesan terlebih dahulu (pre-order).  

Inilah 5 Operator Kereta Mancanegara dengan Pendapatan Spektakuler

Melayani jaringan kereta di Pulau Jawa dan Sumatera, puluhan juta penumpang diangkut oleh PT KAI setiap bulannya. Tak itu saja, PT KAI juga punya jasa lain, seperti angkutan logistik, angkutan pertambangan dan jasa restorasi. Ditambah sebagai pemain tunggal dalam jasa angkutan kereta di Tanah Air, maka terbesit pertanyaan, berapakah pendapatan yang diterima oleh BUMN tersebut? Baca Juga: Tidak Hanya dari Tiket, Inilah ‘Ladang-Ladang’ PT MRT Jakarta Raup Keuntungan Bila merujuk laporan labar bersih pada akhir tahun 2017, disebutkan pendapatan bersih PT KAI mencapai Rp1,4 triliun, dan besar harapan di akhir 2018 dapat meningkat menjadi Rp1,7 triliun. Secara nominal keuntungan memang besar, namun bagaimana jika dibandingkan antara keuntungan PT KAI dengan perusahaan-perusahaan kereta api mancanegara, khususnya yang sudah punya nama besar di industri kereta global. Berikut KabarPenumpang.com himpun lima operator kereta dengan revenue terbesar tahun 2018, dikutip dari laman railway-technology.com (13/8/2018). East Japan Railway Company (JR East) Jaringan perkeretaapian di sebelah Timur Jepang ini mencatatkan pertumbuhan pendapatan keseluruhan sebesar 2,4 persen year-on-year. Angka tersebut didorong oleh pertumbuhan pendapatan sebesar 1,6 persen year-on-year di sektor transportasi. Alhasil, JR East memperoleh US$27,76 miliar atau yang setara dengan Rp404,57 triliun! Indian Railways Kendati terkenal akan kondisi perkeretaapiannya yang semerawut, namun nama Indian Railways berhasil muncul di urutan ke empat operator kereta api di dunia dengan pendapatan terbesar versi railway-technology.com. Operator kereta India ini berhasil membukukan pendapatan sebesar US$28,8 atau yang setara dengan Rp419,73 triliun – meningkat 13,38 persen dibanding tahun 2016 silam. JSC Russian Railways Perkeretaapian di Negeri Beruang Merah berhasil mencatatkan diri sebagai salah satu operator kereta yang memiliki pendapatan tertinggi di dunia. Peningkatan penumpang yang terjadi selama tahun 2017 (1,11 miliar penumpang per-tahun) dan volume kargo yang meningkat ke angka 1,26 miliar ton per-tahun menjadi beberapa faktor meningkatnya pendapatan sang operator yang meraih US$39,04 miliar atau yang setara dengan Rp568,97 triliun. SNCF Hampir sama dengan JSC Russian Railways, operator kereta asal Perancis ini juga mengalami peningkatan pesat di jumlah penumpang dan kargo yang mereka kirimkan. Dengan begitu, SNCF unggul tipis atas JSC Russian Railways dengan total pendapatan US$40,12 miliar (Rp584,71 triliun) – naik 4,2 persen dibanding tahun 2017 kemarin. Baca Juga: Ternyata! Pendapatan Petugas ATC Jauh Lebih Tinggi dari Seorang Pilot Deutsche Bahn Berada di posisi puncak, sang operator asal Negeri Bavaria ini unggul jauh ketimbang para pesaingnya yang lain. Deutsche Bahn mencatat pertumbuhan pendapatan senilai 5,2 persen dibandingkan dengan tahun 2017 lalu. Pertumbuhan tersebut berasal dari berbagai usaha yang dilakukan oleh sang operator yang berbasis di Berlin. Alhasil, keuntungan senilai US$51,14 miliar atau berkisar Rp745,31 triliun berhasil dikantongi sang operator di tahun 2018 ini.  

Tarif Kereta Cepat Shenzhen – Guangzhou Akan Diturunkan 10 Persen!

Setelah melewatkan proses negosiasi selama berbulan-bulan lamanya, akhirnya MTR Corporation selaku operator dari layanan kereta cepat Guangzhou – Shenzhen – Hong Kong secara resmi menurunkan tarif perjalanannya. Negosiasi yang dilakukan bersama China Railway Corporation ini berujung pada satu titik terang, dimana tarif tersebut akan diturunkan lebih dari 10 persen dari harga sebelumnya. Baca Juga: Guangshen’gang XRL Hubungkan Hong Kong – Guangzhou dengan Kecepatan 350 Km Per Jam Seperti yang diwartakan KabarPenumpang.com dari laman scmp.com (14/8/2018), baik MTR Corporation maupun China Railway Corporation masih enggan membeberkan tarif yang sudah kena diskon tersebut. “Tidak hanya sebatas potongan 10 persen per perjalanan saja,” tutur salah satu narasumber. Lebih lanjut, sang narasumber yang identitasnya tidak mau dibongkar ini mengatakan sudah memiliki jadwal resmi operasi perdana dari proyek yang bernilai US$10,7 miliar atau yang setara dengan Rp156,4 triliun ini. “Pengoperasian perdana mulai tanggal 23 September, sedangkan opening ceremony akan dilakukan sehari sebelumnya (22 September),” terangnya. Petugas perbatasan pun mengaku sudah menerima kabar tentang pengoperasian perdana ini dan menyatakan siap untuk melancarnkan pengoperasiannya. Sempat tersebar pula isu yang mengatakan bahwa dengan beroperasinya jaringan kereta ini kelak, maka itu akan mengganggu proyek paling mahal yang tengah digarap Cina, yaitu jaringan kereta yang menghubungkan Sha Tin dengan Central. Kendati tarif perjalanannya sudah diturunkan sebesar 10 persen, namun Biro Transportasi dan Perumahan masih meminta MTR Corporation untuk kembali mempertimbangkan perkara besaran tarif tersebut. “Semoga tarif tersebut tidak flat, dalam artian ada beban ekstra yang harus dibayarkan wisawatan mancanegara,” tutur salah satu juru bicaranya. Menanggapi permintaan tersebut, Chief Executive MTR Corporation Carrie Lam Cheng Yuet-ngor berharap pemerintah pun dapat turun serta mempertimbangkan usulan tersebut. “Usulan tersebut akan dipertimbangkan pemerintah jika diperlukan,” tutur Carrie. Baca Juga: Tembus Pegunungan Qinling, Cina Luncurkan Kereta Cepat Lintasi Wilayah Utara dan Selatan Seperti yang sudah diberitakan sebelumya, kereta ini akan menghubungkan Guangzhou dan Shenzhen yang terpaku jarak 143km hanya dalam waktu 14 menit saja. Rataan kecepatan dari kereta ini sendiri mencapai 350km/jam.  

Bus Low Deck Terbaru Hadir di Apron Bandara Internasional Soekarno-Hatta

Bus baru dengan apron sasis rendah atau low deck kini menghiasi Bandara Internasional Soekarno-Hatta. Bus ini nantinya akan memberi kenyamanan lebih kepada penumpang yang harus menjangkau pesawat dan melintasi apron bandara. Baca juga: Mulai 8 Juni 2018, Damri Operasikan Bus ke Bandara Kertajati dari Empat Kota Kehadiran bus ini sendiri ternyata sudah beroperasi sejak Kamis (9/8/2018) kemarin. Direktur PT JAS Airport Service Adji Gunawan menjelaskan kehadiran bus apron lower deck ini upaya mereka membenahi armada Ground Support Equipment (GSE). KabarPenumpang.com merangkum dari berbagai laman sumber, bahwa bus ini dioperasikan sesuai dengan Peraturan Dirjen Perhubungan Udara KP 635 tahun 2015 tentang standar peralatan penunjang pelayanan darat pesawat udara GSE dan kendaraan operasional yang beroperasi di sisi udara. “Kita berada di bandara internasional yang juga melayani berbagai maskapai internasional, maka sudah sepatutnya mengikuti standar internasional,” ujar Adji. Bus ini dilengkapi dengan delapan pintu, memiliki CCTV dan suspensi udara canggih dengan kemampuan miring sampai level tertentu untuk memudahkan para penyandang disabilitas naik dan turun. Mampu menampung 105 orang dan berfungsi melayani proses pemindahan penumpang dari pesawat ke terminal atau sebaliknya terutama pada Asian Games yang terlaksana pada Agustus 2018 dan Paragames Asia di Oktober 2018 mendatang. Ada lima bus yang beroperasi dan merupakan bus sasis rendah pertama yang beroperasi di bandara Indonesia dengan tinggi sasis sekitar 20 cm dari permukaan jalan. Sedangkan bus yang ada sebelumnya adalah dengan sasis setinggi 40 cm dan merepotkan bagi lansia, ibu hamil dan penyandang disabilitas. Memiliki panjang 13,8 meter, lebar 3 meter dan tinggi 3,1 meter. Struktur bodi monokok dan dilengkapi dengan interior tahan api seperti plat aluminium, PVC, alat pemadam kebakaran, tombol darurat di dalam dan luar pintu dan lainnya. Baca juga: Hino Motors Kembangkan Bus Mini Otonom di Bandara Haneda Bus low deck ini juga memiliki sistem anti terjepit pada pintu dan tidak akan melaju bila pintu massih terbuka. Selain untuk penumpang, bila pengemudi yang mengemudikan bus melebihi kecepatan maka akan ada sistem peringatan. Adji menambahkan, bus apron tersebut juga sudah digunakan bandara-bandara internasional dan para pemain global seperti Termina 4 Changi dan Swissport.

FDTJ Bagikan 2.000 Peta Transportasi Massal Terintegrasi

Menjelang perhelatan akbar Asian Games 2018, Forum Diskusi Transportasi Jakarta (FDTJ), sebuah komunitas yang fokus pada isu transportasi, Kamis 16 Agustus 2018 membagikan peta transportasi massal terintegrasi. Pembagian peta perdana ini dilakukan di Halte Trotoar Tosari ICBC mulai pukul 08.00 – 09.00 WIB, sebanyak 2.000 peta, dan sisanya sebanyak 18.000 akan dibagikan secara bertahap. Baca juga: Jelang Asian Games 2018, FDTJ Rilis Peta Transportasi Massal Terintegrasi Peta ini merupakan peta pertama yang menggabungkan semua moda transportasi populer dan menyesuaikan dengan kondisi Jakarta terkini per Agustus 2018, antara lain bus TransJakarta, kereta commuterline Jabodetabek, dan transportasi berbasis rel di Bandara Internasional Soekarno – Hatta. Peta transportasi massal terintegrasi ini juga diharapkan akan bermanfaat bagi penduduk kota-kota penyangga yang sehari-hari beraktivitas di Ibu Kota, termasuk 17.000 tamu pendatang dan 11.000 jurnalis yang hendak menikmati dan meliput Asian Games 2018. Setelah pembagian perdana , selanjutnya FDTJ akan mendistribusikan peta ini melalui gerai Jenius BTPN, halte-halte transportasi umum, stasiun kereta bandara Railink, travel agent melalui JakartaGoodGuide, hotel, dan co-working space Ke:Kini. FDTJ terbuka untuk kolaborasi pendistribusian peta. Baca juga: Jurus Selamat Hindari Aksi Pencopetan di Moda Transportasi Massa Dikutip dari siaran pers FDTJ, disebutkan pendanaan untuk pencetakan peta ini sepenuhnya hasil dari crowdfunding melalui kitabisa.com dan kolaborasi beberapa sponsor antara lain BTPN Jenius karena menganggap ide ini #benar2jenius, MRT Jakarta yang terus mengampanyekan penggunaan transportasi publik dengan #UbahJakarta dan GMM Print sebagai rekanan percetakan.

Akibat Adu Mulut di Dalam Kereta, Berlanjut Adu Jotos di Peron

Pertengkaran mulut terjadi antara seorang wanita yang menuduh seorang pria menghinanya. Dalam video yang sempat viral di Inggris, pria dan wanita tersebut berkelahi di dalam kereta api Hammersmith yang berjalan melalui East London menuju Barking. Baca juga: Akibat Kabel Charger, Kondektur Kereta Sampai Layangkan Bogem ke Penumpang Saksi yang melihat mengklaim pertengkaran tersebut terjadi sekitar Stasiun Mile End yang berlanjut pada Plaistow pada Sabtu (11/8/2018) malam. Si pria sempat bertanya kepada wanita itu, “Apakah Anda rasis? Apa yang baru saja Anda katakan adalah rasis”, dan wanita tersebut mengatakan, “Ini tidak ada hubungannya dengan Anda.” Saat kereta tiba di West Ham, wanita itu mendengar teriakan dengan umpatan kata kasar dan dia mengtakan “Jangan pernah menyebut saya seperti itu”. Seorang pria yang menemani si perempuan tersebut berusaha menahan tetapi dia juga akhirnya ikut dalam perkelahian itu. Pria itu terjatuh ke lantai dan ada penumpang lain yang berteriak “Cukup, cukup.” Ini terjadi sebelum banyak orang keluar dari kereta di Plaistow. Dalam rekaman itu juga menunjukkan kedua pria tersebut melanjutkan perkelahian mereka, dimana salah seorang diantaranya mencekik yang lainnya hingga penumpang lain ngeri melihat kejadian tersebut. KabarPenumpang.com melansir dari laman thesun.co.uk (14/8/2018), dari rekaman tersebut terlihat kerumunan di peron. Video itu diketahui direkam oleh seorang dokter gigi berusia 35 tahun sekitar 12.30 siang waktu setempat. Pria tersebut mengatakan, perilaku tersebut benar-benar tidak dapat diterima dan memalukan. Baca juga: Adu Jotos Ketika Mabuk, Dua ‘Pegulat Amatir’ ini Nyaris Tertabrak Kereta! Sebab membuat ratusan orang berisiko dan menyusahkan perjalanan mereka. “Saya meninggalkan adegan itu dengan sangat gemetar. Saya benar-benar ketakutan karena sepertinya saya akan mendapatkan pukulan berikutnya.” “Para petugas dipanggil ke stasiun Bawah Tanah Plaistow London pada pukul 12.19 pagi hari Minggu setelah adanya laporan pertikaian di stasiun itu. Petugas membuat pertanyaan tentang keadaan kejadian ini. Belum ada penangkapan yang dilakukan. Dipercaya bahwa perkelahian terjadi antara dua kelompok laki-laki sekitar pukul 12.15 pagi di atas kereta Jalur Distrik. Pertarungan kemudian berlanjut ke peron.