Akankah Proyek Kereta Cepat Jakarta-Surabaya Mangkrak Seperti Pendahulunya?

Rencana proyek kereta cepat yang menghubungkan Jakarta dan Surabaya diketahui akan memasuki tahap finalisasi dalam waktu dekat ini. Budi Karya Sumadi selaku Menteri Perhubungan menargetkan finalisasi itu dapat selesai dalam jangka waktu 1-2 minggu ke depan. Jika tahap finalisasi sudah rampung, maka berbagai hal yang menyangkut proyek ini seperti jenis kereta yang akan digunakan, sarana dan prasarana, pemetaan lintasan kereta, dan lainnya bisa segera diputuskan, sebelum semuanya dilaporkan kepada Presiden RI, Joko Widodo. Baca Juga: Jalan di Tempat, Proyek Kereta Cepat Jakarta-Bandung (Masih) Terbelit Pembebasan Lahan “Kereta Cepat Jakarta-Surabaya akan kita finalisasi dalam 1-2 minggu ini karena berkaitan dengan menggunakan apa (jenis kereta), bagaimana prasarananya dan juga berkaitan dengan lintasan yang mana,” ungkap Budi seperti yang KabarPenumpang.com kutip dari laman kumparan.com (6/9/2017). “Jadi kita sedang finalisasi alternatif itu nanti baru kita usulkan ke Presiden. Presiden yang akan putuskan mana yang dipilih, moda yang mana, jenis yang mana,” tambahnya. Adapun percepatan finalisasi rencana proyek kereta cepat Jakarta-Surabaya ini adalah karena adanya desakan dari pihak Jepang untuk segera menentukan lokasi mana yang akan digunakan sebagai jalur kereta cepat ini. Diketahui, Jepang merupakan mitra kerja Indonesia dalam proyek kereta cepat Jakarta-Surabaya. Terlepas dari semua masalah yang membelit proyek ini, salah satu masalah yang paling menonjol adalah soal penggunaan jalur. Dalam rapat internal yang dilakukan bersama Wapres RI, Jusuf Kalla dan Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR), Basuki Hadimuljono beberapa hari yang lalu, Budi mengaku diarahkan untuk menggunakan jalur yang sudah ada sebelumnya (existing). “Ada satu arahan yang menurut saya baik adalah, pertama Jakarta-Surabaya, diarahkan di jalur existing,” tutur Budi dilansir dari sumber terpisah. Ia menambahkan, keuntungan dari menggunakan jalur yang sudah ada akan mempercepat pembangunan proyek tersebut. Kecurigaan pihak Jepang mulai tumbuh kembali ketika mereka berasumsi bahwa Indonesia akan menyerahkan proyek ini (lagi) ke pihak Cina. “Beberapa pemberitaan di Jepang akhir-akhir ini sangat kuat menuliskan kemungkinan Cina akan mendapatkan kembali proyek kereta api cepat Jakarta-Surabaya, tidak diberikan ke Jepang nantinya,” ungkap seorang pejabat pemerintah Jepang dilansir dari sumber terpisah. Baca Juga: Tidak Gunakan APBD, Pembangunan Kereta Cepat Tersandung Masalah Pembebasan Lahan Tidak melulu soal penggunaan rel, soal perlintasan sebidang pun kerap muncul ke permukaan, memperkeruh suasana. Dapat dibayangkan ratusan bahkan ribuan perlintasan sebidang yang mesti ‘dilumpuhkan’ jika benar kereta cepat ini akan segera beroperasi. Secara tidak langsung, penutupan perlintasan sebidang akan berdampak pada kondisi lalu lintas di sekitarnya. Diprediksi, jalur perlintasan sebidang tersebut akan diganti dengan sebuah jembatan atau sebuah Under-Pass yang memakan biaya investasi lebih mahal. Tidak sedikit juga warga Indonesia yang memandang proyek ini dengan sebelah mata. Mereka berkaca pada proyek kereta cepat Jakarta-Bandung yang hingga kini masih belum rampung juga. Kendala yang terus dijadikan tameng oleh para kontraktor adalah soal pembebasan lahan yang alot. Akankah proyek kereta cepat Jakarta-Surabaya berjalan mulus dan tidak mangkrak seperti Jakarta-Bandung?

William Boeing, Eks Pengusaha Kayu Yang Bawa Pengaruh Besar di Dunia Aviasi

Siapa yang tidak tahu Boeing? Salah satu perusahaan multinasional ini tidak hanya menggeluti bidang produksi pesawat terbang, tapi juga merancang dan menjual mahakaryanya kepada penyedia jasa layanan penerbangan. Diketahui, Boeing juga memproduksi pesawat rotor, roket, hingga satelit. Tidak heran jika perusahaan yang didirikan pada 15 Juli 1916 ini disebut-sebut sebagai salah satu produsen pesawat terbesar di dunia. Baca Juga: Igor Sikorsky, Kini Jadi Nama Bandara di Dua Negara Ternyata, penamaan Boeing sendiri diambil dari pendiri perusahaan yang bermarkas di Chicago, Illinois ini, yaitu William Boeing. Lahir di Detroit, Michigan, Amerika Serikat, pada 1 Oktober 1881, pria dengan nama lengkap William Edward Boeing ini berasal dari kalangan keluarga yang berada. Diusianya yang menginjak delapan tahun, Boeing terpaksa menerima kenyataan pahit ketika sang Ayah, Wilhelm Böing meninggal karena penyakit influenza, dan Ibunya, Marie M. menikah lagi setelah ditinggal mendiang suaminya.
William Edward Boeing. Sumber: washington.edu
Boeing sempat mengenyam bangku pendidikan di Vevey, Swiss sebelum akhirnya ia kembali ke Amerika. Yale University lalu menjadi pelabuhan Boeing selanjutnya untuk melanjutkan masa pendidikannya. Namun pada tahun 1903, Boeing memutuskan untuk mengakhiri masa kuliahnya dan mulai memasuki dunia bisnis kayu. Ternyata, Dewi Fortuna berada di pihak Boeing, terbukti dengan suksesnya usaha kayu yang ia jalankan, dan menjadikannya seorang kaya raya, terlebih ketika ia membangun perusahaan perkayuannya sendiri di Grays Harbour.
Boeing Model 1. Sumber: flyingmachines.ru
Meskipun sudah mendulang kekayaan, itu sama sekali tidak membuatnya cepat puas dan pongah. Oleh karena itu, saat dirinya menjadi direktur utama dari Greenwood Logging Company, Boeing yang selama ini sering sekali bereksperimen dengan desain pesawat memutuskan untuk pindah ke Seattle. Kepindahannya ke Seattle ternyata membuka asa baru bagi Boeing. Di sinilah minatnya akan pesawat terbang mulai tumbuh, terutama dari segi bisnis. Untuk mewujudkan mimpinya di dunia aviasi, Boeing memutuskan untuk mengambil kelas di Glenn L. Martin Flying School di Los Angeles dan membeli salah satu pesawat milik Glenn. Dihimpun KabarPenumpang.com dari laman wikipedia.com, salah seorang pilot dari Glenn L. Martin Flying School, James Floyd Smith diketahui membantu Boeing untuk merakit hydroaeroplane dan mengajarkannya cara untuk terbang. Bermodalkan sebuah hanggar sewaan di tepi Danau Union, keduanya saling bahu membahu untuk merakit pesawat tersebut. Setelah hydroaeroplane itu rampung, uji coba pun dilakukan oleh Herb Munter, seorang pilot uji coba. Namun sayangnya, kendala teknis dialami saat uji coba dan memaksa pesawat tersebut kembali masuk ke dalam hanggar. Tidak berhenti sampai di situ, Boeing  juga dipaksa menunggu berbulan-bulan untuk mendatangkan suku cadang penggantinya.
William Boeing dan Eddie Hubbard. Sumber: disciplesofflight.com
Ia lalu berkonsultasi dengan George Conrad Westervelt, rekannya yang juga berprofesi sebagai salah satu teknisi ahli dari Angkatan Laut A. S. dan mengatakan bahwa keduanya akan bersinergi untuk kembali membangun pesawat terbang yang lebih baik dengan masa pengerjaan yang lebih singkat. Setelah memperhitungkan berbagai kemungkinan, pada tahun 1916 mereka mendirikan industri pesawat terbang yang saat itu diberi nama Pacific Aero Products. Produk pertama yang mereka hasilkan adalah seaplane yang diberi nama Boeing Model 1 (B & W Seaplane). Setahun berselang, tepatnya ketika Amerika terlibat dalam Perang Dunia 1, Pacific Aero Products lalu mengganti namanya menjadi Boeing Airplane Company. Sebagai perusahaan yang baru berdiri, Boeing bisa dibilang beruntung dengan jumlah pesanan 50 pesawat dari Angkatan Laut A. S. Berakhirnya masa Perang Dunia 1 menjadi titik balik bagi Boeing yang mulai menaruh perhatian serius untuk membangun pesawat layanan komersial. Baca Juga: Beberapa Hal Yang Terlupakan dari Nama Besar Boeing Hingga pada tahun 1934, pemerintah Amerika Serikat menuduh William Boeing melakukan praktik monopoli. Di tahun yang sama, Air Mail Act memaksa perusahaan tersebut untuk memisahkan operasi penerbangan dari sektor pengembangan dan manufaktur. Dari situ, Boeing terpaksa memecah perusahaannya menjadi tiga entitas, yaitu United Aircraft Corporation (sekarang menjadi United Technologies Corporation), Boeing Airplane Company (sekarang menjadi The Boeing Company), dan United Air Lines. Di masa tuanya, Boeing lebih memilih untuk mengembangkan bisnis properti dan pengembangbiakkan kuda ras. Pada 28 September 1956, tepat tiga hari sebelum ia merayakan ulang tahunnya yang ke 75, Boeing meninggal akibat serangan jantung. Itu berarti Boeing meninggal setahun sebelum penerbangan Boeing 707, yang menjadi salah satu pesawat jet komersial jarak jauh tersukses kala itu. Kini, mantan pengusaha kayu tersebut sudah mengguratkan banyak tinta emas dan berpengaruh besar di dunia penerbangan internasional. Selamat jalan, Boeing!

Variomobil Wujudkan Impian Anda Tidur Bersama Kendaraan

Salah satu motorhomes terbesar dan termahal di dunia baru saja dirilis di Düsseldorf Caravan Salon akhir pekan kemarin. Variomobil Signature 1200, sebuah kendaraan yang besarnya hanpir setara dengan bus ini bertenagakan 523 horsepower dengan mesin Mercedes yang tertanam di dalamnya. Moda ini juga bisa menarik beban tambahan hingga 450 horsepower atau yang setara dengan Mercedez V8. Selain itu, Variomobil Signature 1200 juga bisa memasukkan sebuah mobil ke dalam garasi yang terletak di bagian belakang. Baca Juga: Konsep Audi City Bus, Inikah Gambaran Bus Masa Depan? Sebagaimana yang dilansir KabarPenumpang.com dari laman newatlas.com (7/9/2017), garasi yang terletak di bagian belakang Variomobil Signature 1200 mampu memuat city car, seperti Mercedes SL roadster, Porsche 911, hingga Mini Cooper. Jadi, Anda bisa memarkirkan motorhome ini dan mulai berkeliling menggunakan mobil yang Anda parkirkan di dalamnya. Percayalah, Variomobil Signature 1200 memang kendaraan yang benar-benar besar. Variomobil dikenal sebagai perancang kendaraan besar asal Jerman, dan Signature 1200 akan masuk ke dalam jajaran moda yang siap untuk dipasarkan. Adapun spesifikasi dari motorhome ini adalah: Tinggi moda mencapai 12m, tiga poros, 6×2 Mercedes Actros yang mempesona, hingga turbo diesel 6-silinder 523-hp yang dapat bandel di segala medan. Variomobil Signature 1200 juga dilengkapi dengan gardu penggerak steerable sehingga moda ini dapat bermanuver lebih baik. Ada juga air suspension, fitur driver-assistance, active braking assist, dan kamera yang dapat mengawasi 360 derajat keadaan di sekitar moda.
Sumber: newatlas
Diantara itu semua, yang paliing mengesankan dari moda ini adalah garasi yang ada di bagian belakang yang menggunakan pintu hidrolik. Diketahui, Variomobil memiliki tiga varian berdasarkan ukuran garasi, yang paling kecil mampu menampung mobil seukuran Smart fortwo, dan yang paling besar mampu menampung Porsche 911, Mercedes SL atau Mini Cooper. Layaknya sebuah van wisata, interior di bagian dalamnya pun bisa dibilang cukup lengkap dan elegan.  Sebut saja TV LED, kulkas, tempat mencuci piring, kamar mandi lengkap dengan wastafelnya, sistem audio Bose, bangku yang dilapisi oleh kulit, dan sejumlah kelengkapan lainnya.
Sumber: newatlas
Ruang tidurnya sendiri mampu menampung empat hingga enam orang, termasuk juga tempat tidur portable yang disimpan di atas kabin pengemudi. Untuk masalah elektronika, Variomobil Signature 1200 menggunakan sistem listrik berbasis baterai 170-Ah, panel surya 450 watt, dan generator diesel. Terdapat juga sebuah tangki air yang mampu menampung hingga 500L, water heater, sistem penghangat ruangan, dan AC. Baca Juga: Teknologi Low-Floor Mudahkan Penumpang Difabel Naik Bus Jika Anda tertarik untuk memiliki Variomobil Signature 1200, harga yang ditawarkan oleh pihak produsen adalah USD $922.000 atau setara dengan Rp12,1 miliar rupiah. Apa Anda tertarik?

Jalur Stasiun Nambo Punya Pemandangan Yang Manjakan Mata

Stasiun kereta api Nambo merupakan stasiun yang baru kembali dioperasikan pada 1 April 2015 untuk melayani kereta listrik (KRL) Commuter Line yang memberangkatkan sembilan kali dalam sehari dengan dua rangkaian kereta rute Nambo ke Depok/Angke. Stasiun Nambo sendiri terletak di Bantar Jati, Bogor. Baca juga: Lempuyangan, Sejarah Panjang Stasiun KA Ekonomi di Yogyakarta Diresmikan tahun 1997, Stasiun Nambo sebenarnya direncanakan akan dibuat jalur lingkar mulai dari Cikarang hingga Parung Panjang. Sayangnya rencana ini terpaksa ditunda karena krisis ekonomi yang terjadi tahun 1997 tak lama setelah di resmikan. Kemudian, tahun 2002, PT Kereta Api Indonesia kemudian mengoperasikan Kereta Disel Listrik (KRD) tujuan Tanah Abang – Nambo. Sayangnya KRD ini hanya bertahan lima tahun hingga 2007, sebab rangkaian keretanya yang sudah sangat tua. Kemudian tahun 2012, PT KAI mulai kembali memperbaiki jalur ini dan dipasang gardu listrik serta tiang LAA (Listrik Aliran Atas) agar KRL bisa melintas di jalur ini. Kemudian setelah adanya perbaikan jalur, selain untuk pengoperasian KRL, stasiun ini juga kembali mengoperasikan kereta api barang angkutan tujuan Kalimas. Pengoperasian kereta api barang ini berangkat pada pagi hari dan sampai di Surabaya pada malam harinya, pemberangkatan pagi agar tidak mengganggu perjalanan KRL setiap harinya. Stasiun Nambo sendiri diketahui memiliki delapan jalur kereta api yang semuanya dalam kondisi baik. Jalur satu digunakan untuk KRL dan kereta langsir. jalur dua, tiga dan empat untuk kereta langsir serta menumpan gerbong datar atau untuk parkir gerbong semen yang sudah selesai loading. Jalur lima dan enam digunakan untuk proses loading semen. Sedangkan jalu tujuh dan delapan merupakan jalur baru yang rencananya akan digunakan untuk jalur kereta batu bara dari Ciganding. Bangunan stasiun ini sendiri mirip dengan sebuah villa. Arsitekturnya pun mirip dengan stasiun Cibinong. Walaupun bernama stasiun Nambo, tapi tidak berada di desa Nambo melainkan desa Bantar Jati. Baca juga: Mengenal Walahar Express, Kereta “Odong-Odong” dari Purwakarta Sepanjang jalur kereta ini dari Citayam – Cibinong – Nambo ini berbeda degan jalur KRL di Jabodetabek pada umumnya. Sebab dengan melintasi jalur ini, pandangan mata Anda akan dimanjakan dengan pemandangan khas pedesaan yang spektakuler. Sungai yang besar melintasi dibawah jalur kereta hingga sawah yang membentang dan jajaran bukit pegunungan yang terhampar bisa terlihat dari jalur ini.

Hubungkan Amaravati dan Vijayawada, India Terbawa Eforia Pengadaan Hyperloop?

Setelah serangkaian negara menunjukkan ketertarikannya terhadap Hyperloop, kini wabah tersebut mulai menyebar di negara penghasil film Bollywood, India. Hal tersebut ditandai dengan penandatanganan nota kesepakatan kerja sama antara Hyperloop Transportation Technologies (HTT) dengan negara bagian Andhra Pradesh untuk menghadirkan moda berkecepatan super tersebut untuk menghubungkan dua kota besarnya, Amaravati dan Vijayawada. Baca Juga: Elon Musk Pertegas Eksistensinya Dalam Kompetisi Pengadaan Moda Futuristik Dilansir KabarPenumpang.com dari laman newatlas.com (7/9/2017), adapun waktu tempuh antara dua kota tersebut kurang lebih sekitar 1 jam menggunakan mobil, dan hanya memakan waktu enam menit saja jika menggunakan Hyperloop. Pihak HTT akan memulai studi kelayakan selama enam bulan terhitung sejak Oktober mendatang. Tidak hanya studi kelayakan, HTT juga sembari menentukan jalur pemasangan tabung yang cocok di antara dua kota tersebut. Jika tidak menemukan hambatan, pihak HTT mengaku siap untuk memulai pembangunan. “Platform transportasi seperti Hyperloop akan memperkaya infrastruktur transportasi di sini, yang juga mempengaruhi perkembangan IT di Andhra Pradesh,” tutur Nara Lokesh, Menteri Kabinet untuk Teknologi Informasi. “Kehadiran Hyperloop juga akan mempengaruhi penggunaan teknologi dan perangkat lunak di Amarvati, sekalian membantu menguatkan citra kota ini dan menjadikannya pemimpin di kelas sains dan teknologi,” tambahnya. Patut dicatat, diantara tiga perusahaan yang menawarkan jasa layanan transportasi serupa, yaitu HTT, Hyperloop One, dan Arrivo, HTT merupakan perusahaan yang menjadi cikal bakal tercetusnya ide Hyperloop sekaligus menjadi perusahaan yang perkembangannya paling terlambat. Baca Juga: Uji Coba Perdana, Hyperloop One Sukses Meluncur 112 Km Per Jam Berbeda dengan saingan utamanya, Hyperloop One yang sudah memulai uji coba skala penuh dalam beberapa waktu ke belakang di Gurun Nevada. Padahal, pada tahun 2015 silam, pihak HTT mengumumkan bahwa pihaknya akan menggelar uji coba peluncuran sejauh 5 mil di Quay Valley, California. Namun itu semua hanyalah sebatas rencana yang hingga kini belum terealisasikan. HTT berdalih tengah melakukan studi kelayakan di beberapa negara, seperti Slovakia, Abu Dhabi, Prancis, dan yang terakhir adalah Indonesia. Sementara itu, Hyperloop One pun melakukan hal yang sama, yaitu studi kelayakan di Rusia, Finlandia, dan Abu Dhabi. Diketahui, pemerintah Korea Selatan pada bulan Juni kemarin baru saja menjalin sebuah kemitraan dengan HTT untuk membangun sistem Hyperloop skala penuh pertama di dunia.

Travis Kalanick dan Garrett Camp, Dua Inovator Dibalik Nama Besar Uber

Siapa yang tidak kenal dengan salah satu perusahaan yang menyediakan jasa layanan transportasi berbasis online, Uber. Kepopuleran namanya bahkan sudah mendunia, termasuk di Indonesia. Sebagai salah satu breakthrough di dunia transportasi berbasis online, kehadiran Uber banyak menginspirasi perusahaan-perusahaan lain untuk mengikuti jejaknya. Terbukti dengan hadirnya Grab dan Go-Jek di Indonesia, seolah menjadi penanda besarnya pengaruh Uber dalam dunia transportasi. Baca Juga: Hindari Penyalahgunaan Nomer Ponsel, Uber Siapkan Fitur Chat di Dalam Aplikasi Lalu, siapakah orang yang ada di balik lahirnya Uber? Perkenalkan, Travis Kalanick dan Garrett Camp, dua orang entrepreneurs yang menjadi kunci kesuksesan Uber di dunia. Lahir di Calgary, Alberta, Kanada pada 4 Oktober 1978, Garrett Camp memilih jalan hidupnya sebagai pebisnis dan investor untuk sejumlah perusahaan. Terlahir dari Ibu yang berprofesi sebagai pekerja seni dan ayah seorang ekonom. Pasangan tersebut lalu memutuskan untuk banting stir dan bekerja sama membangun sebuah usaha yang bergerak di bidang residental. Maka tidak heran jika orang tua Garrett menularkan jiwa bisnisnya kepada anak mereka.
Garrett Camp. Sumber: bwbx.io
Garrett mengenyam bangku sekolah dasar di sebuah sekolah kecil yang hanya memiliki 150 siswa saja. Pada tahun 1996, Garrett memilih University of Calgary sebagai tempat untuk mengenyam pendidikan tingkat tingginya. Kala itu ia mengambil jurusan teknik elektro. Selang setahun kemudian, ia pindah ke Montreal untuk magang di Nortel Networks dimana ia mengerjakan proyek teknologi pengenalan suara. Selama menjalani waktu magangnya di Montreal, Garrett juga mengikuti kursus di Concordia University. Pada tahun 2000, ia kembalik ke Calgary untuk menyelesaikan perkuliahannya yang sempat tertunda. Diketahui, Garrett lalu mulai mengerjakan Masters in Software Engineering dan meneliti sistem kolaboratif, algoritma evolusioner, dan pencarian informasi. Pada tahun 2002, Garrett bersama rekannya, Geoff Smith membuat sebuah mesin pencarian yang bernama StumbleUpon. Ini merupakan kesuksesan besar pertama Garrett dan telah mengakuisisi lebih dari 25 juta pengguna terdaftar dalam waktu sepuluh tahun sejak pembentukannya. StumbleUpon telah terdaftar di 50 Website Terbaik versi TIME. Walaupun hanya berperan sebagai co-founder, campur tangan Garrett di Uber mampu melebarkan sayap hingga ke lebih dari 300 kota dari 58 negara di seluruh dunia.
Travis Kalanick. Sumber: stz.india.com
Sedangkan partnernya, Travis Cordell Kalanick lahir di Los Angeles, California pada 6 Agustus 1976. Buah hati dari pasangan Bonnie Horowitz Kalanick dan Donald Edward Kalanick ini menghabiskan masa kecilnya seperti kebanyakan anak sepantarnya. Ia menghabiskan masa pendidikannya di Granada Hills High School dan melanjutkan pendidikan tingginya di University of California, Los Angeles, jurusan teknik komputer. Baca Juga: Di Kanada Uber Jadi Transportasi Umum Dengan Trayek Khusus Jangan sangka pendidikan Travis berjalan mulus. Ia sempat dropout dari kampusnya karena lebih memilih untuk bekerja di perusahaan file sharing miliknya, bernama Scour. Batu sandungan kembali menjegal langkahTravis di awal karirnya bersama Scour, dimana startup tersebut mengalami kebangkrutan. Namun ia segera bangkit dan mulai mendirikan startup baru bernama Red Swoosh. Titik balik Travis terjadi ketika ia bertemu dengan Garrett Camp dan bersinergi untuk merintis Uber bersama-sama. Modal awalnya pun bisa dibilang cukup ekonomis, hanya US$800 yang kemudian mereka gunakan untuk merekrut beberapa driver yang sebagian lainnya merupakan teman-teman mereka. Namun sifat buruk Travis memaksa dirinya untuk mengorbankan posisi tertinggi di Uber kepada Dara Khosrowshahi, sebagai CEO dari perusahaan penyedia jasa layanan antar jemput tersebut.

Staf Bandara Changi Resmi Gunakan Kacamata Augmented Reality

Bandara Changi Singapura Jumat (8/9/2017) ini telah memperbaharui teknologinnya dengan penggunaan Augmented Reality atau realitas tertambah. Penggunaan kacamata Augmented Reality ini diumumkan oleh Singapore Airport Terminal Services (SATS) sebagai pihak pengelola bandara. Nantinya Augmented Reality ini akan digunakan oleh 600 staf bandara untuk memberikan informasi secara real time atau pada waktu itu juga tentang bandara atau hal penting lainnya kepada calon penumpang dan pengunjung. Baca juga: Dengan Canopy Park, Bandara Changi Siapkan Atraksi Spektakuler KabarPenumpang.com melansir dari lonelyplanet.com (8/9/2017), bandara Changi berharap dengan adanya teknologi Augmented Reality yang digunakan bisa meningkatkan efisien penanganan bagasi dan mempersingkat waktu muatan selama 15 menit. Sehingga hal ini bisa mempermudah penumpang yang ada di Changi dalam penanganan bagasi atau memiliki waktu tunggu yang lebih pendek dari biasanya baik saat akan berangkat atau tiba. Pada kacamata Augmented Reality ini sudah menggunakan teknologi baru yang memudahkan para petugas darat dalam memindai penanda visual atau sama seperti memindai kode QR pada bagasi dan muatan para penumpang. Tujuannya yang jelas untuk mencari tahu informasi seperti berat barang dan nomor unit barang tersebut. Tak hanya memudahkan dalam penanganan bagasi, kacamata ini juga membantu petugas pusat untuk mengontrol serta memantau segala penangan yang ada di bandara secara lebih praktis. “Inovasi ini secara langsung akan menguntungkan pekerja bandara kami, meningkatkan produktivitas dan membuat tempat kerja mereka lebih aman. Ini adalah cara untuk memanfaatkan teknologi agar bandara dan maskapai penerbangan kita tetap berada di depan persaingan mereka,” kata Khaw Boon Wan, Menteri Koordinator Infrastruktur dan Transportasi Singapura. Baca juga: 7 Tips Belanja Indah di Bandara Changi Augmented Reality ini sempat di coba oleh petugas bandara pada Juni lalu dengan empat operator termasuk Singapore Airlines. Kacamata AR ini, nantinya akan diluncurkan secara bertahap. Teknologi AR diharapkan bisa di implementasikan sepenuhnya pada pertengahan tahun 2018 mendatang. SATS juga berencana meluncurkannya dalam pengoperasian di luar negeri seperti Hong Kong dan Indonesia. Proyeksi teknologi pintar ini dikembangkan dalam kemitraan dengan Civil Aviation Authority of Singapore (CAAS).

“Drone” Jatuh di Lintasan Rel, Kereta Cepat 300 Km Per Jam Aktifkan Rem Darurat

Bukan perkara mudah bagi kereta peluru yang melesat 300 km per jam untuk berhenti dalam moda darurat, bila salah prosedur kecelakaan fatal bisa terjadi. Inilah yang menimpa kereta cepat Fuxing di daerah Luan, Provinsi Hebei di Cina bagian utara. Pangkal musabab pemberhentian darurat kereta rute Beijing-Tianjin ini karena jatuhnya sebuah drone di perlintasan rel. Baca juga: Jalan di Tempat, Proyek Kereta Cepat Jakarta-Bandung (Masih) Terbelit Pembebasan Lahan Pihak kepolisian menganggap kejadian tersebut sebagai sesuatu yang serius, pasalnya secara langsung mengancam keselamatan penumpang di dalam kereta. Dikutip KabarPenumpang.com dari South China Morning Post (3/9/2017), tidak disebutkan waktu kejadian insiden ini, pun seberapa dekat antara lokasi jatuhnya drone dengan posisi kereta tidak disebutkan. Namun dari hasil investigasi, telah ditetapkan seorang tersangka yang berprofesi sebagai petani di desa terdekat, di gunung Qinglong. Masih dari sumber yang sama, pria yang tak disebutkan identitasnya ini dikabarkan tengah menerbangkan drone dalam rangka uji coba, sayangnya aksi coba-coba tersebut dilakukannya di dekat perlintasan kereta cepat. Sebagai kereta cepat, jalur Beijing-Tianjin adalah jaringan rel yang eksklusif dan dilengkapi jalur listrik bertegangan tinggi. Menurut pilot drone amatir tersebut, dirinya kehilangan kendali atas pesawatnya, dan menyebabkan pesawat mini dengan kendali remote ini jatuh di tengah lintasan rel. Jatuhnya benda asing di tengah lintasan secara otomatis memicu aktivasi alarm di dalam sistem keamanan kereta, dan secara otomatis kereta berhenti mendadak dengan rem darurat. Akibat jatuhnya drone ini jadwal perjalanan sempat tertunda selama 20 menit. Atas perbuatannya, tersangka terkena ancaman Undang-Undang Keamanan Publik, dengan sanksi penjara selama beberapa tahun. Meski media Cina menyebutkan yang jatuh adalah drone, namun dari penampakan di foto yang terlihat justru serpihan pesawat remote control yang dikendalikan lewat radio. Berbeda dengan drone, pesawat remote tidak punya kemampuan terbang otonom, dan tak mempunyai kemampuan untuk mencegah manuver berbahaya. Baca juga: Sebuah Drone Hambat Aktifitas Bandara Indira Gandhi Hingga 40 Menit Menyimak dari kejadian ini, pelatihan pilot (operator) drone menjadi sesuatu yang penting, apalagi jika menerbangkan drone di daerah yang beresiko menyebabkan kecelakaan. Setelah pembatasan drone di kawasana bandara, apakah nantinya drone juga dilarang terbang di dekat jalur rel kereta? Semoga ada regulasi yang jelas untuk keselamatan bersama.

Supaya Tak Kehujanan Saat Bersepeda, Payung Under Cover Solusinya

Tidak melulu sebuah inovasi melibatkan penggunaan teknologi yang rumit. Sebut saja Kickstarter yang baru saja merilis sebuah inovasi yang bisa dibilang unik, simpel, namun sangat berguna bagi setiap orang, khususnya pada saat musim hujan tiba. Inovasi yang diluncurkan oleh seorang penemu asal Jerman ini menggabungkan payung dan sepeda. Kira-kira apa ya? Baca Juga: Kolaborasi Google dan Levi’s Buahkan Jaket Pintar, Apa Saja Kelebihannya? Dilansir KabarPenumpang.com dari laman newatlas.com (6/9/2017), Thomas Schmidt  menciptakan Under Cover, sebuah payung yang akan dipasangkan di bagian depan sepeda ketika hujan. Lalu, bagaimana sang pengemudi bisa mengemudikan sepeda sedangkan di bagian depannya ada payung yang menghalangi? Memiliki bentuk yang hampir sama dengan kebanyakan payung biasa, yang membedakan hanya lubang di bagian atas yang berguna agar pengemudi tetap bisa melihat ke depan.
Sumber: newatlas.com
Butuh waktu dua tahun bagi Thomas untuk mengembangkan inovasi ini. Menurut Thomas, tubuh Anda akan kepanasan ketika menggunakan jas hujan. Ia menilai, menggunakan dan melepas jas hujan akan merepotkan seseorang, walaupun dapat melindungi tubuh kita dari terpaan air hujan. Jika hujan sudah berhenti, Anda bisa memperlakukan Under Cover seperti payung, cukup lipat dan masukkan ke dalam tempat yang tersedia. Jika Anda malas memasukkannya ke dalam tas, Anda bisa mengikatnya di kerangka sepeda.
Sumber: newatlas.com
Lalu, apa kelebihan dari Under Cover? Selain terhindar dari hujan, pengguna juga tidak akan merasa kepanasan seperti halnya menggunakan jas hujan. “Walaupun Anda akan merasa sedikit kikuk untuk menggunakannya dalam situasi tertentu,” terang Thomas. “Disarankan untuk tidak menggunakan Under Cover ketika hujan angin, karena dikhawatirkan payung akan menutup karena tertiup angin,” tambahnya. Baca Juga: Ford Hadirkan Layanan Bike Sharing, Kok Bisa? Jangan khawatir Under Cover akan mengganggu sistem navigasi Anda, karena payung khusus untuk para pesepeda ini dipasangkan di kerangka tengah sepeda dan menutupi keseluruhan stang, dan sama sekali tidak mengganggu kemudi. Untuk mendapatkannya, Anda harus merogoh kocek sekitar USD $46 atau setara dengan Rp 612.000. Harga tersebut merupakan harga pra-produksi. Rencananya, harga tersebut akan berlipat ganda jika sudah masuk tahap produksi massal.

Entaskan Masalah Sosial, Sleepbus Layani Tunawisma Tidur di Bus

Di Indonesia sleeper bus hadir secara terbatas, dan tergolong ‘mewah’di kelas bus AKAP (Antar Kota Antar Provinsi), tapi lain halnya dengan di Australia, pengalaman adalah guru terbaik. Mungkin peribahasa ini cocok untuk menggambarkan apa yang dialami oleh Simon Rowe, pendiri dan CEO dari Sleepbus. Pengalaman masa mudanya, dimana ia terpaksa tinggal di jalanan akibat tidak memiliki tempat tinggal seolah menuntun hati nuraninya untuk membantu kaum tunawisma yang sering ia lihat setiap harinya. Rencananya, Simon akan melakukan pengumpulan dana untuk memuluskan niat baiknya tersebut. Baca Juga: Cabin Tawarkan Layanan Sleeper Bus Full Service Seperti yang diwartakan KabarPenumpang.com dari laman techrepublic.com (28/8/2017), Simon mengaku terinspirasi dari anak-anaknya untuk membantu orang-orang yang memiliki nasib kurang beruntung tersebut. “Ketika saya bercerita kepada anak-anak mengenai kaum tunawisma di jalanan, mereka mengatakan agar saya dapat membantunya, jadi saya memutuskan untuk membantunya,” ungkap Simon. Diketahui dari Homelessness Australia, ada sekitar 105.237 tunawisma di Australia, dan 17.845 di antaranya berusia di bawah 10 tahun. Dari situ, Simon lalu mendirikan Sleepbus, sebuah bus yang disulap menjadi tempat tinggal khusus kaum tunawisma. “Konsepnya sederhana, kami akan berusaha untuk menyediakan tempat tidur yang nyaman, tidur yang berkualitas, dan membiarkan mereka untuk merenungkan langkah-langkah apa yang mesti mereka tempuh agar tidak lagi hidup di jalanan seperti ini,” ungkap Simon. “Kami percaya bahwa dengan tidur nyenyak, maka kaum tunawisma ini bisa sedikit melihat titik terang untuk mengubah jalan hidupnya,” tambahnya. Rencananya, badan amal terdaftar di Australia ini akan memenuhi kebutuhan tidur para tuna wisma dalam waktu enam tahun ke depan. Selain dilengkapi dengan televisi, setiap pod juga akan dilengkapi dengan pintu magnetik dan kameran pemantau yang terhubung langsung ke control room, agar para donatur yang turut serta dalam program amal ini dapat melihat aliran dana yang mereka sumbangkan.
Sumber: huffingtonpost.com.au
Selain dengan kamera pengawas, Sleepbus juga mengedepankan sistem transparansi dalam beramal yang diwujudkan dengan cara mengakses melalui situs resmi mereka dan melihat rincian dana sumbangan yang telah para donator berikan. Adapun kelengkapan dari bus yang mampu membawa 22 orang ini adalah tempat tidur lengkap dengan bantal, guling, dan selimut, AC, serta USB port. Baca Juga: Teknologi Low-Floor Mudahkan Penumpang Difabel Naik Bus Namun bukan berarti para kaum tunawisma ini dapat berlaku seenaknya di dalam bus, mereka harus mentaati peraturan yang berlaku. “Bus ini akan ditutup pada pukul 20.00, ketika ada seorang yang hendak keluar di atas jam 20.00, mereka bisa saja melakukannya, namun tidak bisa kembali lagi ke dalam rangkaian bus,” ujar Simon. “Begitu pun jika ada yang mabuk, kami tidak terlalu mempermasalahkannya, selama ia masih bisa menghargai sesama dengan tidak membuat onar,” tambahnya.