Penumpang, pengemudi dan operator bus merupakan satu kesatuan dalam sebuah sistem angkutan umum. Dalam masa pengangkutan mudik lebaran ini, beberapa operator bus salah satunya Big Bird bakal menurunkan lebih dari 200 unit bus, baik bus besar, sedang dan tipe Elf.
Manager Bus Operasional Blue Bird, Bambang Kusumo Wijoyo mengatakan, bus yang ada di pool Blue Bird yakni Big Bird dari berbagai ukuran turun untuk digunakan oleh perusahaan swasta mengangkut karyawannya mudik. Dia menambahkan, sampai saat ini yang menggunakan bus milik Blue Bird baru dari swasta saja.
“Pengguna armada kami saat ini masih dari perusahaan swasta. Untuk pemerintahan sendiri belum ada sama sekali,” Jelas Bambang yang ditemui KabarPenumpang.com (6/6/2017). Tak hanya itu, diketahui saat ini armada bus Big Bird sudah dilengkapi oleh kamera pengawas atau CCTV, GPS Tracking, seatbelt di setiap tempat duduknya, alat pemadam kebakaran atau APAR hingga kotak P3K. Adanya penambahan GPS Tracking dan CCTV untuk memudahkan pool mengetahui hal-hal yang mengakibatkan bus miliknya jika terjadi kecelakaan dalam perjalanan.
Dalam sosialisasinya di Blue Bird, Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) juga tetap membahas pada waktu istirahat pengemudi yang mengemudikan bus. Namun, tak hanya masalah tempat istirahat yang di bahas, KNKT juga membahas seatbelt atau sabuk pengaman tambahan.
Hal ini dikarenakan, beberapa waktu lalu terjadi kecelakaan bus yang membuat sebagian penumpangnya terlempar dari tempat duduk sebab tidak ada yang mampu menahan penumpang di tempat duduknya. Kepala KNKT Surjanto mengatakan setiap bus harus dilengkapi dengan seatbelt pada tempat duduk penumpang bukan hanya pada pengemudi.
“Sebenarnya, dengan ada seatbelt ini membuat penumpang lebih aman kalau-kalu terjadi kecelakaan. Dimana penumpang tidak akan terlempar kedepan bila rem di injak dadakan oleh pengemudi saat menghindari terjadinya kecelakaan,” jelas Surjanto.
Menanggapi hal ini, General Manager Blue Bird, Agus Subroto menegaskan bahaw pihaknya ssudah melengkapi seatbelt pada kursi penumpang. Sebab bus Big bird milik mereka banyak disewa oleh sekolah-sekolah internasional.
“Karena banyak digunakan oleh sekolah internasional, maka bus kami ini juga sudah dilengkapi dan memiliki standar internasional,” ujarnya. Sehingga, untuk penumpang yang menggunakan armadanya akan merasakan lebih aman dibanding sebelumnya.
Komite Nasional Keselamatan Trasportasi (KNKT) melakukan sosialisasi kepada operator bus angkutan lebaran, salah satunya adalah Primajasa. Kepala KNKT Surjanto mengatakan, dalam tiga tahun terakhir kecelakaan bus sering sekali terjadi.
Baca juga: Jelang Angkutan Lebaran, KNKT Himbau Penyedia Transportasi Darat Tinjau Standar Kelayakan
Menurutnya, faktor utama adalah lelahnya para pengemudi yang mengemudikan bus apalagi saat libur lebaran yang sebentar lagi tiba. Dengan adanya seperti ini, pihak KNKT konsen kepada waktu istirahat pengemudi yang bisa meminimalisir kecelakaan angkutan lebaran.
“Para pengemudi harus banyak istirahat saat berpuasa yakni dua jam sekali, memang perjalanan akan lebih lama tetapi yang penting adalah selamat sampai tujuan,” jelas Surjanto saat ditemui KabarPenumpang.com di pool Primajasa (6/6/2017).
Surjanto menambahkan, saat ini para pilot yang berpuasa tidak diperbolehkan menerbangkan pesawat. Hal ini disebabkan karena saat berpuasa, kadar gula di dalam tubuh menurun dan membuat konsentrasi bisa menurun dalam mengedarai kendaraan.
Selain itu, pihak KNKT juga berharap agar para operator bus bisa melakukan pengecekan rutin untuk kendaraan yang digunakan untuk angkutan lebaran. Selain itu, pihak operator bus Primajasa juga mengatakan, bahwa setiap perjalanan selalu melakukan pengecekan pada kendaraan.
Baca juga: Tumpangi Truk Karena Gratis? Lebih Baik Tidak Daripada Celaka
Kepala wilayah pool Jakarta, Endang mengatakan, untuk para pengemudi sendiri sudah disiapkan tempat beristirahat yang layak di dalam pool. Ini untuk memudahkan pengemudi mendapatkan istirahat yang cukup. “Kami menyediakan tempat yang layak untuk pengemudi untuk beristirahat. Kami juga melakukan pengecekan pada bus yang datang ke pool atau yang akan berangkat,” ujarnya.
Endang menambahkan, pihaknya juga menambahkan pengemudi cadangan untuk menggantikan para pengemudi yang kelelahan. Hal ini, agar tidak ada pengemudi yang kelalahan dalam perjalanan.
“Setiap pengemudi, kami menyediakan cadangannya baik di pool yang Jakarta atau di daerah tujuan Primajasa lainnya. Para pengemudi kami juga tidak akan langsung berangkat lagi bila sampai di pool Jakarta atau tujuaan,” tambah Endang.
Hal ini dikarenakan banyak bus yang lebih dahulu sampai dan bus lainnya akan berangkat setelah bus lainnya yang duluan sampai kembali berangkat dan pengemudi bus yang baru tiba di tujuan bisa beristirahat. Sayangnya, setiap terminal tempat tujuan bus-bus ini belum di sediakan ruang istirahat yang layak untuk pengemudi, bahkan terkadang tidak ada sama sekali.
Siapa yang tak kenal Lampung, Provinsi paling selatan di Pulau Sumatera? Bukan hanya terkenal dengan kota kopi dan pelabuhan Bakauheni serta pintu masuk menuju provinsi lain di Sumatera. Lampung sekarang juga terkenal dengan bandaranya yang baru saja menjadi Bandara Internasional yang awalnya hanya bandara domestik saja.
Bandara Lampung diberi nama Radin Inten II yang menjadi salah seorang Pahlawan Nasional asal Lampung. Bandara ini dikelola dan dimiliki oleh Kementerian Perhubungan, padahal bandara Radin Inten II masuk dalam kawasan PT Angkasa Pura II (Persero). Pada tahun 2016 lalu, bandara ini diperbesar agar bisa menjadi embarkasi haji tahun 2017 dan menerima pesawat dengan body yang lebar untuk.
Tak hanya itu, bandara ini pada Januari 2017 yang sudah berbenah infrastruktur salah satunya adalah lorong sepanjang 120 meter menghubungkan gedung terminal kedatangan – keberangkatan dengan gedung parkir empat lantai. Bentuknya yang unik seperti ular yang panjang dan berwarna cerah menarik perhatian masyarakat.
Lorong fiberglass dari terminal kedatangan-keberangkatan menuju tempat parkir
Lorong ini dibuat dari fiberglass warna warni sehingga banyak penumpang yang menyempatkan diri untuk berfoto karena bentuknya yang unik. Tak hanya lorong kedatangan – keberangkatan saja, lahan parkir pun mampu memuat 400 kendaraan. Selain itu, landasan pacu yang sebelumnya hanya 2.500 meter diperpanjang menjadi 3.200 meter.
Adapun saat ini setelah di perbaharui, bandara Radin Inten II mampu melayani penerbangan hingga 8000 penumpang perhari atau tiga juta penumpang pertahunnya. Bandara di bawah naungan Kementerian Perhubungan ini dilayani maskapai-maskapai Indonesia seperti Garuda Indonesia tujuan Batam, Jakarta (Bandara Soekarno-Hatta), Garuda Indoensia/ Explore Garuda tujuan Palembang. Batik Air tujuan Jakarta (Halim Perdana Kusuma) dan Medan, Lion Air tujuan Jakarta (Bandara Soekarno-Hatta) dan Wings Air tujuan Bandung dan Palembang.
Bandara Radin Inten II juga melayani penerbangan Express Air tujuan Bandung dan Palembang, Sriwijaya Air tujuan Batam, Jakarta (Soekarno-Hatta), Surabaya dan Yogyakarta. Nam Air tujuan Jakarta (Soekarno-Hatta) dan Susi Air tujuan Krui.
Semakin besar bandara Radin Inten II, aktivitasnya pun semakin banyak, dengan terminal kedatangan dan keberangkatan yang semakin mewah. Ini membuat Lampung bisa menjadi salah satu tujuan wisata bagi wisatawan domestik maupun internasional, sebab bandara sudah bisa melayani pesawat dengan body lebar. Tak hanya itu, bandara Radin Inten II menambah banyak bandara yang diperluas.
Dalam membangun sistem dan fasilitas MRT (Mass Rapid Transit), PT MRT Jakarta berkewajiban untuk menyediakan Transit Oriented Development (TOD) di Area Depo Lebak Bulus. Dan dengan proses pembangunan struktur yang terus berjalan, PT MRT Jakarta telah melakukan penandatanganan Nota Kesepahaman dengan PT Wijaya Karya (Persero) untuk studi pengembangan dan pembangunan kawasan berorientasi transit atau TOD.
Baca juga: Lihat Dampak Pada Kota, iCity-CATT Akan Tinjau Teknologi Pada Mobil Otonom
“Kerja sama ini merupakan tindak lanjut dari penugasan kepada PT MRT Jakarta oleh Pemerintah Provinsi DKI Jakarta sesuai dengan Peraturan Gubernur No. 53 Tahun 2017 tentang Penugasan Kepada Perseroan Terbatas MRT Jakarta untuk penyelenggaraan prasarana dan sarana Mass Rapid Transit, yang di dalamnya mencakup penugasan untuk pengembangan kawasan TOD. Studi pengembangan dan pembangunan ini sejalan dengan misi kami yaitu menghidupkan kembali lingkungan perkotaan melalui pengembangan transit perkotaan ternama.” jelas William Sabandar, dikutip KabarPenumpang.com dari siaran pers (5/6/2017).
Nota kesepahaman studi pengembangan dan pembangunan kawasan berorientasi transit ini meliputi:
1. Studi Penyiapan skema dan model/bentuk kemitraan joint venture yang ideal untuk rencana Pengembangan dan Pembangunan Kawasan Berorientasi Transit atau Transit Oriented Development (TOD) di Area Depo Lebak Bulus MRT Jakarta
2. Menyusun basis implementasi Studi Pengembangan dan Pembangunan Kawasan Berorientasi Transit atau Transit Oriented Development (TOD) di Area Depo Lebak Bulus MRT Jakarta dan gedung-gedung terkait yang berada di dalam dan di antaranya
3. Bersama-sama menyiapkan studi perancangan area interkoneksi gedung komersial dan fasilitas umum sekitar area Stasiun Lebak Bulus MRT Jakarta dan gedung-gedung terkait lainnya yang berada di antaranya, termasuk penataan arus penumpang dan pejalan kaki ke Stasiun Lebak Bulus MRT Jakarta.
4. Bersama-sama mengupayakan dan mendorong agar peraturan ketataruangan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta lebih berorientasi dan mendukung integrasi dan pembangunan gedung berorientasi transit.
Baca juga: Metro Malaga, Pembangunan Jalur MRT yang Tak Kunjung Usai
“Ini menunjukkan kepercayaan bagi Wika. Semoga kajian-kajian yang dihasilkan mampu menjadi acuan dalam pengembangan kawasan baru yang didukung oleh transportasi publik sebagai pilihan utama. Ini tantangan yang kami percaya sangat penting untuk diwujudkan demi menunjang mobilitas masyarakat dan perekonomian di masa depan,” ucap Direktur Utama WIKA, Bintang Perbowo.
Dalam melakukan MoU ini, PT MRT Jakarta akan melibatkan pihak independen yang akan membantu dalam pengerjaan studi ini dalam rangka mewujudkan MRT sebagai salah satu solusi mengurai kemacetan lalu lintas di Jakarta. Wika sendiri merupakan BUMN yang bergerak di bidang Engineering, Procurement & Construction (EPC) dan investasi yang salah satu kegiatannya adalah pengembangan kawasan termasuk sarana dan prasarannya, pembangunan dan penjualan di bidang realti serta melakukan pengusahaan dan pengelolaan di bidang properti.
Saat ini Wika yang tergabung dalam Konsorsium SOWJ (Shimizu – Obayashi – Wijaya Karya – Jaya Konstruksi) mendapatkan kepercayaan untuk mengerjakan Proyek MRT Underground Tahap 1, yaitu: Paket CP 104 CP dan 105. Selain itu, WIKA juga mengerjakan proyek MRT elevated CP 101 dan 102 bersama Tokyu Corporation
Imbas dari jalur kereta yang telah mati memunculkan stasiun-stasiun tua yang tak lagi beroperasi, karena stasiun yang tak lagi digunakan, maka kegunaan stasiun sudah banyak yang beralih fungsi. Tak sedikit stasiun yang kemudian hancur karena tak dirawat, namun tak sedikit juga yang mampu mengolah lahan tidur menjadi sesuatu yang berdaya guna. Contohnya seperti beberapa stasiun tua di Yogyakarta yang kini berubah fungsi menjadi bengkel dan warung makan.
Sampai saat ini setidaknya ada tiga stasiun di Yogyakarta yang beralih fungsi di jalur Yogya – Palbapang, yakni stasiun Bantul, Dongkelan dan Ngabean. Merujuk ke sejarahnya, jalur sepur Yogya – Palbapang sendiri dioperasikan oleh Perusahaan Jawatan Kereta Api (PJKA) atau sekarang bernama PT Kereta Api Indonesia (KAI) Daerah Operasional (Daop) VI Yogyakarta. Jalur ini awalnya dilintasi kereta api uap yang berbahan bakar batu bara. Pembangunan jalur kereta ini bertahap dari tahun 1895 dan 1915 oleh perusahaan swasta kereta api Hindia Belanda atau Nederlands-Indische Spoorweg Maatschappij (NIS). Pembangunan ini selain utnuk transportasi masyarakat, juga untuk pengangkutan komoditi pertanian hingga angkutan pabrik gula yang ada di Yogyakarta.
Baca juga: Pembangunan (Kembali) Jalur KA Yogyakarta – Magelang, Hidupkan Nostalgia Era 70-anTampak depan Stasiun Bantul yang sudah menjadi bengkel dan warung makan (KabarPenumpang.com)
Dari pengamatan yang dilakukan KabarPenumpang.com saat bertandang ke Yogyakarta pada awal Juni 2017, walaupun ketiga stasiun sudah beralih fungsi, tetapi bentuk bangunan stasiun masih terlihat dengan jelas. Ketiga stasiun ini mulai ditutup pada 1973 oleh PJKA akibat kalah saing dengan angkutan umum dan kendaraan pribadi yang semakin banyak di Yogyakarta, terbakar hingga pelebaran jalan. Beberapa jalur rel pun masih ada yang bisa terlihat di sekitaran Bantul. Awalnya, KabarPenumpang.com melakukan pengamatan dari stasiun Bantul yang terletak tidak jauh dari pasar Bantul. Bangunan ini masih berdiri kokoh sejak tahun 1895 hingga tahun 2017 meski sudah berubah fungsi.
Baca juga: Nagreg, Mengenal Stasiun Kereta Aktif Tertinggi Di Indonesia
Semenjak ditutup, fungsi stasiun Bantul menjadi warung makan dan sekarang menjadi sebuah bengkel dengan nama “Stasiun”. Nama stasiun diberikan juga tak jelas dengan alasan apa, atau bisa jadi dikarenakan bekas stasiun maka di beri nama seperti itu. Padahal, di stasiun Bantul sudah tidak terlihat sama sekali bekas-bekas seperti rel, alat persinyalanan hingga tiang telegraf.
Tampak belakang Stasiun Bantul yang menjadi bengkel (KabarPenumpang.com)Baca juga: KA Kuda Putih, Menapaki Jejak Kereta Rel Diesel Pertama di Indonesia
Sedangkan stasiun Dongkelan yang saat ini terlihat adalah replika dari stasiun aslinya. Sebab bangunan yang dulu sudah hangus terbakar. Stasiun Dongkelan sendiri dibangun menghadap jalan Bantul dan persis berada di depan Pasar Satwa dan Tanaman Hias Yogyakarta (Pasty). Saat ini, bangunan replika dari stasiun Dongkelan sendiri sudah berubah menjadi tempat makan dan jajanan seperti food court kecil di depan Pasty.
Bangunan Stasiun Dongkelan saat ini menjadi tempat makan (KabarPenumpang.com)Baca juga: Menapaki Sentuhan Belanda di 10 Stasiun Tua di Indonesia
Tak jauh dari bekas stasiun Dongkelan, KabarPenumpang.com menemukan stasiun Ngabean yang tepat berada di jalan Wahid Hasyim. Stasiun ini masih jelas terlihat karena namanya yang terpampang di sisi kiri dan kanan tembok bangunannya yakni Ngabean +100 m, artinya lokasi stasiun berada di ketinggian 100 meter diatas permukaan laut. Bangunan stasiun ini belum lama dicat menjadi warna biru cerah dan masih terlihat bekas-bekas rel dan sinyal kereta. Dulunya stsaiun ini memiliki jalur cabang menuju Pundong, Bantul.
Jalur ini memiliki keunikan, yaitu salah satu jalur menggunakan gauge (lebar rel standar) 1435 mm. Sayangnya jalur ini kemudian di bongkar oleh pemerintah Jepang dan rel keretanya dipakai untuk membangun jalur kereta api romusha dari Saketi menuju Bayah.
Tampak samping Stasiun Ngabean +100m (KabarPenumpang.com)
Kondisi stasiun Ngabean sekarang sudah menjadi terminal untuk bus pariwisata rombongan menuju alun-alun ataupun Kraton Yogya. Persinyalannya sendiri masih berupa tipe Alkmaar yang masih bisa dilihat yakni di halaman Kantor Camat Ngampilan dan di pinggir jalan Letjend Soeprapto. Sedangkan bangunannya menjadi kantor Sekretariat Forum Komunikasi Kawasan Ngabean (FKKN) Yogyakarta.
Sebenarnya masih ada tiga stasiun lainnya yakni Staiun Winogo, Cepit dan Palbapang yang tidak sempat ditelusuri KabarPenumpang.com. Hingga kini, walaupun sudah tiadak aktif, keenam stasiun ini masih milik PT KAI dan belum berpindah tangan ke siapa pun.
Seluruh penumpang yang berada di pesawat Virgin Airways degan nomor penerbangan VA1174 terpaksa dievakuasi setelah petugas keamanan maskapai tersebut menemukan sepucuk surat di toiletnya. Salah seorang penumpang yang berada di maskapai dengan rute perjalanan Sydney – Albury itu pun turut diamankan oleh pihak berwajib karena dituduh bertanggung jawab atas penemuan surat yang berisikan ancaman bom tersebut.
Baca Juga: Tangkal Terorisme, Larangan Bawa Laptop ke Dalam Kabin Dipandang Tak Efektif
Akibat dari penemuan sepucuk surat tersebut, awak kabin memerintahkan kepada seluruh penumpang untuk segera melompat keluar tidak lama setelah pesawat mendarat. Padahal, pesawat tersebut belumlah berhenti secara sempurna. Pintu pesawat dibuka secara paksa dari luar oleh pihak berwenang dan penumpang diperintahkan untuk meninggalkan barang bawaan mereka dan melompat dari ketinggian sekitar 1,2 meter. Pesawat Turboprop ATR-72 dengan 68 bangku tersebut mendarat di Bandara Albury, New South Wales pada Selasa (6/6/2017) pukul 09.35 waktu setempat.
Seperti yang KabarPenumpang.com wartakan dari stuff.co.nz, petugas kepolisian New South Wales yang tengah menyelidiki kasus ancaman ini mengatakan surat tersebut ditulis di atas sebuah kantung mabuk udara. “Itu hanyalah bualan yang dilakukan oleh seseorang,” tutur juru bicara kepolisian New South Wales. “Bukanlah sebuah ancaman bom sama sekali, bukan juga sebuah teror. Kami khawatir akan terjadi apa-apa sehingga kami melakukan penyisiran untuk memastikan semuanya berada dalam kondisi aman,” tambahnya.
Sumber: BorderMail
Alhasil, seorang penumpang pria yang dicurigai menulis surat tersebut digiring ke kantor polisi Albury untuk dimintai keterangan lebih lanjut. Beberapa penumpang yang duduk disekitarnya pun turut dimintai keterangan. Salah satu saksi yang berada di samping tersangka mengatakan ia cukup tenang selama perjalanan. “Ia hanya membaca novel, dan sekali ke toilet,” tutur salah seorang saksi. Tidak lupa petugas kepolisian juga mengapresiasi tindakan yang dilakukan oleh pihak maskapai yang telah cepat tanggap dalam melaporkan kejadian itu.
Baca Juga: Lima Penyebab Umum Terjadinya Kecelakaan Pesawat
Inspektur Hancock Evan Quarmby mengatakan semua yang berada di dalam penerbangan dalam kondisi selamat, dan terkendali. Lebih lanjut, Quarmby juga turut mengapresiasi tindakan yang dilakukan oleh penumpang. Walaupun ketika para penumpang turun di Bandara Albury, mereka sedikit ketakutan dengan banyaknya polisi serta pihak berwenang lain. Akibat adanya penyisiran pesawat ini, area Bandara Albury terpaksa ditutup sebagian guna mencegah hal tidak diinginkan terjadi.
Dalam keterangan yang didapatkan oleh pihak kepolisian dari para saksi, terdapat beberapa keterangan yang tidak sesuai dengan kejadian yang terjadi. Keterangan lain yang didapatkan dari para saksi juga membenarkan mengenai teriakan yang menyuruh mereka untuk segera meninggalkan pesawat dan meninggalkan barang bawaan mereka.
Baca Juga: Sydney Central, Eksotisme Stasiun Tua Diantara Deru Penumpang Metropolitan
Sementara itu, pihak dari Virgin Airways masih memilih untuk bungkam ketika ditanya mengenai kebenaran berita yang mengatakan para penumpang untuk meninggalkan semua barang bawaannya di kabin.
Keterbatasan fisik yang dialami oleh seseorang tentu bukanlah menjadi suatu penghalang baginya untuk beraktifitas normal layaknya kebanyakan orang pada umumnya, walaupun mereka yang mengalami keterbatasan fisik tersebut mesti ditunjang oleh alat bantu seperti kursi roda ataupun sebuah tongkat. Berdasarkan kesetaraan itulah yang akhirnya membuat beberapa produsen bus menyediakan akses khusus bagi para penyandang disabilitas. Namun, tidak sedikit kasus yang menunjukkan masih adanya intimidasi yang dialami oleh para penyandang disabilitas tersebut.
Baca Juga: Mei 2017, PT KCJ Tambah Portable Ramp di 74 Stasiun
Penyediaan ruang khusus bagi para penyandang disabilitas ini didukung oleh Ketua Equality and Human Rights Commission (EHRC), David Isacc. Seperti KabarPenumpang.com dari laman theguardian.com, David mengatakan perusahaan bus mesti menyediakan ruang khusus yang dapat menunjang perjalanan mereka. “Perusahaan bus memiliki tugas untuk memungkinkan pengguna kursi roda melakukan perjalanan secara normal, mengingat betapa pentingnya penyediaan ruang ini bagi orang-orang tersebut (penyandang disabiltas,” tutur David.
Pernyataan tersebut didukung oleh Chief Executive dari EHRC, Rebecca Hilsenrath. Dikutip dari sumber yang sama, ia mengatakan perusahaan bus harus menjunjung tinggi keterbatasan yang mereka idap dengan menyediakan sebuah ruang yang dikhususkan untuk pengguna kursi roda. “Kami tahu sebagian besar orang akan pindah ke kursi lain jika pengguna kursi roda membutuhkan ruang tersebut,” katanya. “Layanan bus umum digunakan oleh banyak orang untuk beragam aktifitas seperti berangkat kerja hingga bepergian ke fasilitas publik, dan dengan tidak tersedianya ruang khusus tersebut tentu akan menyusahkan para penyandang disabilitas untuk dapat bepergian menggunakan fasilitas umum tersebut,” tambah Rebecca.
Baca Juga: Teknologi Low-Floor Mudahkan Penumpang Difabel Naik Bus
Namun, fakta yang dihimpun dari lapangan menunjukkan sesuatu yang bertolak belakang dengan kebijakan penyediaan ruang khusus tersebut. Seperti kasus yang dialami oleh Kirsty Shepherd, seorang penyandang disabilitas yang seolah ditolak untuk menaiki bus oleh pengemudinya karena ruang khusus tersebut sudah terlebih dahulu diisi oleh seorang Ibu yang menggunakan kereta bayi. Kejadian tersebut terjadi ketika Kirsty hendak menggunakan bus tujuan Wakefield dan Leeds di West Yorkshire pada 23 Januari 2017 silam. Padahal, sang Ibu yang membawa kereta bayi tersebut sudah memberikan tempatnya, namun sang pengemudi tetap menolak Kirsty untuk turut serta dalam perjalanan tersebut. Kejadian ini lalu mengundang Arriva, sebuah perusahaan transportasi publik multinasional, untuk melakukan investigasi guna menuntaskan kasus berbau intimidasi tersebut.
Sumber: thesun.co.uk
Kasus yang hampir serupa dialami oleh Kerdesan Gallardo yang mendapat perlakuan tidak semestinya dari penumpang lain. Kerdesan yang hendak naik bus dari Shepherd’s Bush, London Barat pada bulan Januari lalu, namun ketika hendak masuk ke dalam bus, Ia dihalangi oleh penumpang lain yang mengatakan ruang khusus penyandang disabilitas sudah diisi oleh dua kereta bayi yang sudah terlebih dahulu terparkir di ruang tersebut. Padahal, kereta bayi tersebut kosong dan Kerdesan menganggap ruang khusus tersebut sudah disalahgunakan. Namun perdebatan yang sempat terekam kamera tersebut tidak berlangsung lama setelah salah satu wanita yang menghalangi jalannya tersebut mengalah dan menyuruh Kerdesan untuk segera masuk sehingga bus tersebut bisa kembali melanjutkan perjalannnya.
Hal-hal sepele seperti tidak bisa bertoleransi inilah yang akhirnya membuat beberapa golongan terpaksa melakukan suatu tindakan tegas agar dapat mengatur sesuatu yang seharusnya sudah menjadi kesadaran setiap insan. Sikap saling menghargai sesama pengguna jasa transportasi publik dinilai amat penting guna menunjang perjalanan mereka. Tidak hanya itu, mematuhi peraturan yang berlaku di dalam transportasi publik juga sangat penting, karena setiap perusahaan penyedia jasa transportasi tentu sudah mempertimbangkan secara matang mengenai hal-hal tidak terduga yang bisa saja terjadi pada moda mereka.
Seorang pria paruh baya asal Ryton-on-Dunsmore, Inggris bernama Elvis Gaskin terpaksa merasakan dinginnya tembok hotel prodeo setelah dirinya digelandang oleh polisi dalam percobaannya untuk melakukan pelecehan seksual terhadap seorang penumpang kereta pada 11 Mei 2017 lalu. Elvis yang tengah dalam perjalanan di jalur Talbot – Cardiff melakukan aksinya sendirian dengan target seorang wanita yang juga tengah melakukan perjalanan sendirian.
Baca Juga: Antisipasi Pelecehan Seksual di KRL, Ikuti Tips Berikut Ini
Dalam melancarkan niat bejatnya, Elvis mencoba untuk mengucapkan beberapa kata kotor secara eksplisit kepada korban sebelum akhirnya berusaha untuk menariknya ke dalam toilet. Elvis pun sudah berjaga-jaga jikalau niatnya tersebut tidak bisa terlampiaskan. Ia membekali dirinya dengan sebuah pisau lipat yang bisa saja digunakan untuk mengancam alih-alih sang korban menolak ataupun melakukan perlawanan.
Merasa diri korban yang tidak disebutkan namanya tersebut berada di dalam ancaman, Ia lalu memutuskan untuk berpindah kereta, menyalakan alarm, dan melaporkan percobaan pelecehan yang baru saja Ia dapat kepada petugas. Malang, alih-alih menggiring wanita incarannya tersebut ke dalam toilet, Elvis malah digelandang oleh pihak keamanan setempat untuk dimintai keterangan atas tindakan yang Ia lakukan.
Elvis Gaskin. Sumber: walesonline.co.uk
Dalam pemeriksaannya, pihak kepolisian menemukan pisau lipat yang Ia gunakan untuk melancarkan niatnya. Penemuan barang bukti tambahan tersebut seolah memojokkan posisi Elvis dan membuatnya tidak bisa mengelak di hadapan polisi. Keesokan harinya, Elvis mengakui perbuatannya di depan Hakim di Pengadilan Cardiff. Atas kesalahannya, Ia terpaksa mendekam di balik jeruji besi selama empat bulan dengan denda £ 115 dan biaya pengadilan sebesar £ 85.
Ceri Frost dari British Transport Police memuji tindakan korban yang berani untuk melaporkan tindakan pelecehan tersebut. “Ini merupakan percobaan pelecehan yang menakutkan,” tutur Ceri seperti yang KabarPenumpang.com lansir dari laman coventrytelegraph.net, Jumat (2/6/2017). “Tidak seorangpun ingin menjadi sasaran perilaku seksual, tidak hanya di kereta api, melainkan di manapun itu,” tambahnya.
Baca Juga: Tangkal Pelecehan Seksual, Taksi dan Ojek Perempuan Bisa Jadi Solusi
Menurut Ceri, wajar saja jika korban kaget dengan tindakan yang ia terima dari Elvis, mengingat si korban tidak melakukan suatu hal yang dapat memancing Elvis melakukan percobaan tindakan tidak senonoh tersebut. Ceri juga menambahkan kondisi korban kini masih mengalami trauma, terutama jika bepergian sendiri. “Dia sangat trauma dengan insiden kala itu dan akibatnya, Ia tidak lagi merasa nyaman bepergian sendiri.” Jelas Ceri.
Lebih lanjut, Ceri menghimbau kepada seluruh pengguna jasa layanan kereta api untuk tidak segan melaporkan jika ada temuan berbau kriminal sepanjang perjalanan. Sedikit banyaknya, hal semacam ini menjadi tugas para penyedia jasa layanan perjalanan berbasis massa untuk lebih memperhatikan segi keamanannya. Selain dapat mencegah terjadinya tidak kriminal, penempatan personil keamanan juga dapat menambah rasa percaya dari para konsumennya. Pada akhirnya, Ceri beserta jajarannya akan selalu bekerja keras untuk menegakkan keadilan dan keamanan. “Kami akan menerima setiap laporan dan akan selalu bekerja tanpa kenal lelah untuk menegakkan keadilan.” Tutupnya.
Aliansi negara-negara di Timur Tengah, yakni Arab Saudi, Mesir, Bahrain, Yaman, dan Uni Emirat Arab pada Senin kemarin (5/6/2017) secara mendadak telah memutuskan hubungan diplomatik dengan Qatar. Buntut pemutusan hubungan diplomatik didasarkan pada tuduhan Qatar sebagai pendukung dan penyandang dana bagi kelompok teroris, seperti ISIS, Al Qaida dan Ikhwanul Muslimin. Meski langsung mendapat bantahan dari Pemerintah Qatar, tak pelak pemutusan hubungan diplomatik pada Qatar, terlebih atas alasan terorisme memicu kecemasan bagi banyak penumpang internasional.
Baca juga: Tak Lagi Gunakan Airbus A380, Qatar Airways Ganti Armada Tujuan Atlanta
Seperti halnya Uni Emirat Arab yang menjadi hub transit penerbangan internasional di Abu Dhabi, maka Qatar pun punya status yang sama, Qatar juga punya Hamad International Airport di Doha, bandara yang masuk sebagai bandara termegah di dunia ini juga dikenal sebagai hub transit banyak maskapai internasional, terutama dari wilayah Eropa dan Asia, begitu pula sebaliknya. Ditambah lagi Qatar punya maskapai raksasa, Qatar Airways yang melayani puluhan rute strategis internasional di lima benua.
Setiap pemutusan hubugan diplomatik dipastikan akan membawa dampak pada banyak hal, tak terkecuali pada sektor transportasi. Dalam waktu singkat, reaksi yang terasa adalah maskapai UEA Etihad Airways, Emirates dan Flydubai mengatakan mereka akan menghentikan semua penerbangan ke dan dari ibu kota Qatar, Doha mulai Selasa ini (6/6/2017).
Baca juga: Qatar Airways dan Beberapa Maskapai Timur Tengah Sewakan Laptop Pada Penumpang
Tiga negara Teluk mengatakan mereka menutup wilayah udara mereka dari penerbangan Qatar Airways. Penutupan ruang udara ini yang diyakini langsung berdampak buruk, pasalnya lintasan terbang pesawat komersial dari Qatar menuju beragam destinasi akan melintasi ruang udara dari negara-negara pemutus hubungan diplomatik tersebut. Qatar Airways sendiri adalah maskapai kelas dunia yang mengoperasikan armada jet berbadan lebar paling canggih di dunia, mulai dari Airbus A380 dan Boeing 787 Dreamliner. Dari segi peringkat, Skytrax dalam penghargaan World Airline Awards 2017 menobatkan Qatar Airways sebagai maskapai kedua terbaik di dunia, diurutan pertama adalah Emirates, dan Garuda Indonesia ada diurutan ke-11.
Dasar dari ketegangan Qatar dengan sejumlah negara di Timur Tengah muncul setelah kantor berita Qatar menyebut Emir Qatar Sheikh Tamim bin Hamid al-Thani meminta negara-negara Teluk bekerja sama dengan Iran, yang menjadi negara musuh nomer satu diantara aliasi negara-negara Teluk. Ironisnya Pemerintah Qatar menyebut laporan itu muncul karena kantor berita mereka diretas, tapi hal itu tak membuat Arab Saudi dan negara-negara Teluk lain melunak. Qatar yang menjadi tuan rumah Piala Dunia Sepak Bola tahun 2022 menyatakan pihaknya adalah korban dari konspirasi.
Dikutip KabarPenumpang.com dari TheGuardian.com (6/6/2017), dampak secara sosial langsung dirasakan warga akibat pemutusan hubungan diplomatik dan blokade dari negara-negara Teluk, yang langsung terasa adalah panic buying warga Qatar untuk membeli kebutuhan pangan, mengingat 40 persen jalur pasokan pangan ke Qatar akan terdampak dari blokade negara-negara Teluk.
Vancouver International Airport baru-baru ini mengganti sistem pencahayaan mereka dengan Light-Emitting Diode (LED). Musco Lighting ditunjuk sebagai perusahaan yang dipercaya untuk menangani pergantian sistem pencahayaan di bandara dengan kode YVR ini. Sebagaimana KabarPenumpang.com kutip dari airport-technology.com, Jumat (26/5/2017), sistem pencahayaan baru ini diharapkan dapat membantu mengurangi konsumsi daya listrik bandara, memperluas cakupan pencahayaan, serta meningkatkan keamanan bagi seluruh kru bandara, mulai dari pilot hingga petugas di lapangan.
Baca Juga: Layani Penerbangan Malam, ILS Wajib Terpasang di Runway Bandara
Dengan dipasangnya lampu LED tersebut, maka bandara yang terletak di Sea Island, Richmond, British Columbia, Kanada ini berhak mendapatkan penghargaan sebagai bandara pertama di wilayah Amerika Utara yang menerapkan sistem peredupan adaptif berdasarkan penggunaan gerbang, yang artinya tingkat pencahayaan akan meningkat dan menurun berdasarkan jadwal gerbang untuk menghemat daya saat tidak digunakan. Wakil Presiden Bagian Teknik Otoritas Bandara Vancouver, Don Ehrenholz mengatakan tujuan utama dari pergantian sistem tersebut adalah untuk mengoperasikan serta memelihara bandara agar tetap aman, nyaman, dengan energi berkelanjutan.
“Sistem pencahayaan yang kami ganti di landasan beton secara signifikan mengurangi konsumsi energi listrik dari bandara YVR, selain itu juga dapat memangkas biaya operasi, serta dapat memperluas cakupan wilayah terang di lapangan sehingga secara otomatis meningkatkan keamanan,” ujar Don Ehrenholz.
Di sisi lain, sistem pencahayaan anyar yang terpasang pada struktur Bandara Vancouver menawarkan distribusi pencahayaan yang seragam, namun dilengkapi dengan sebuah teknologi yang memungkinkan adanya pengaturan untuk mengontrol silau, namun pencahayaan tersebut masih memiliki kualitas tinggi. Selain itu, lampu berkualitas tinggi mulai diterapkan hanya bila diperlukan. Terpasangnya teknologi semacam ini juga akan meningkatkan efisiensi operasional, sebagaimana hal tersebut yang menajdi salah satu tujuan dibalik pergantian sistem pencahayaan ini.
Baca Juga: Hanya Dengan Single Runway, Bandara di Mumbai Layani 837 Penerbangan Per Hari
Pergantian sistem pencahayaan menjadi LED yang ditawarkan oleh pihak Musco sudah bida dibilang lengkap, terbukti dengan komponen struktural dan komponen listrik yang saling berkesinambungan. Wakil Presiden dari Musco Lighting, Jeff Rogers mengatakan setiap proyek yang berhubungan dengan penerangan amatlah unik. “Pertimbangan untuk penerangan di bandara harus ditinjau berulang-ulang, karena semua itu amat tergantung dari ukuran bandara dan cakupannya,” tutur Jeff. “Semakin besar bandara maka semakin besar pula tantangannya,” tambahnya.
Dengan adanya pergantian sistem pencahayaan ini, diharapkan sistem LED dapat menghemat sekitar 715.000KW/jam per tahun, atau setara dengan memasok listrik ke 72 rumah setiap tahunnya. Pergantian sistem pencahayaan ini merupakan salah satu bentuk pengaplikasian nyata dari empat rencana bandara Vancouver dalam rentan waktu 2015-2019. Adapun keempat rencana yang tengah diusahakan oleh pihak bandara adalah mengurangi emisi gas rumah kaca; Mengurangi limbah; Mengurangi konsumsi air minum; Serta meningkatkan kesehatan ekosistem.