Tak Sekadar Warna, Stasiun Layang di ‘Red Line’ Ini Memiliki Makna Unik Tersendiri

Jalur Kereta Rel Listrik (KRL) Commuter Line tentu menyimpan keunikan tersendiri pada masing-masing jalur. Apalagi berbagai stasiun yang disinggahi KRL memiliki ciri khas tersendiri yang membuat masyarakat tentu mengetahuinya. Seperti pada stasiun-stasiun jalur KRL yang berada di jalur Bogor – Jakarta. Jalur KRL Bogor – Jakarta atau biasa disebut Red Line ini merupakan jalur tertua yang terhubung menuju Sukabumi hingga Kota Bandung. Stasiun Bogor merupakan batas akhir dari perjalanan KRL begitu pun hingga Stasiun Jakarta Kota. Selama di jalur tersebut berbagai bangunan stasiun yang memiliki ciri khas tersendiri. Mulai dari bentuk bangunan hingga ciri khas warna stasiun tersebut. Mendekati kawasan Jakarta Pusat jalur KRL berada pada jalur layang dari Stasiun Manggarai hingga Stasiun Jayakarta. Nah, sebelum Stasiun Manggarai dibuat jalur layang, Stasiun Cikini yang terlebih dahulu mengawali pembangunan stasiun layang. Pada masa awal pembangunannya, jalur kereta api dikembangkan secara bertahap. Setelah Batavia, jalur diperluas menuju wilayah seperti Jatinegara, Jayakarta, hingga Bandung, lalu diteruskan ke Surabaya. Jalur ini menjadi salah satu urat nadi penting mobilitas di Pulau Jawa. Tak heran jika pembangunan kereta api pada masa itu dianggap sebagai proyek besar yang menandai kemajuan infrastruktur kolonial. Jalur KRL Bogor – Jakarta Kota melewati jalur layang yang diresmikan tahun 1992, dikutip dari akun Instagram commuterline. Rute ini melewati Stasiun Cikini, Gondangdia, Juanda, Sawah Besar, Mangga Besar, dan Jayakarta hingga sampai di Jakarta Kota. Ciri khas stasiun-stasiun lama dapat dikenali dari desain bangunannya yang kokoh dan penggunaan warna-warna tertentu. Warna-warna ini bukan sekadar estetika, tetapi juga memiliki fungsi praktis, yakni membantu penumpang tetap waspada dan tidak mengantuk. Warna biru, merah, dan kombinasi lainnya digunakan sebagai penanda visual yang mudah dikenali, terutama pada masa ketika perjalanan kereta masih memakan waktu panjang. Berikut nama-nama di stasiun layang yang mempunyai beraneka warna dan memiliki makna yang dirangkum dari laman Detik: • Stasiun Cikini Dinding berwarna cokelat ini bukan sekadar estetika tanpa makna namun melambangkan elegansi, kehangatan, kegembiraan, dan energi. Stasiun di Cikini, Jakarta Pusat ini juga menggunakan kombinasi keramik abu-abu dari lobi hingga tangganya. • Stasiun Gondangdia Stasiun Gondangdia dengan warna kuning telur pada dinding, keramik lantai, hingga tangganya. Warna kuning cerah dipadukan dengan abu-abu di lantai stasiun sebagai kombinasi sekaligus menegaskan kesan positif. Semangat ini diharapkan ada pada tiap penumpang KRL, meski harus berjibaku dengan padatnya KRL dan waktu tempuh tidak sebentar. • Stasiun Juanda Menyajikan pemandangan serba biru langit mulai dari peron, tangga lobi, hingga pintu keluar berbeda dengan stasiun sebelumnya. Untuk lantai, Stasiun Juanda menggunakan keramik warna abu-abu putih yang tak sama dengan dinding. Dikutip dari Instagram @commuterline, warna biru pada dinding Stasiun Juanda memberikan kesan ketenangan, kedamaian, dan kesejukan bagi para pengguna. • Stasiun Sawah Besar Warna yang sama digunakan untuk lantai yang dipadukan dengan keramik warna abu-abu. Warna ungu di Stasiun Sawah Besar memberikan kesan lembut dan nyaman dilihat penumpang. Terkait mobilitas penumpang, stasiun menyediakan empat tangga dengan masing-masing punya 52 anak tangga, serta dua eskalator untuk naik dan turun. • Stasiun Mangga Besar Warna oranye di stasiun ini memberi kesan cerah, modern, dan energik yang diharapkan bisa dirasakan para penumpang KRL. Dinding Stasiun Mangga Besar dilapisi keramik oranye, dan di samping jendelanya diletakkan tanaman hias yang menambah kesan elegan. Lantainya berwarna cokelat, berjajar dari pintu masuk hingga keluar dengan 42 anak tangga. • Stasiun Jayakarta Ciri khas stasiun ini adalah penggunaan panel warna pink dan kuning muda pada bangunannya. Warna merah muda begitu mendominasi, hingga Stasiun Jakarta sekilas seperti serba pink. Stasiun Jayakarta yang terletak di Mangga Dua Selatan, Jakarta Pusat ini bernuansa modern dengan warna yang tak pernah diubah sejak awal berdiri. Jayakarta dilengkapi dengan empat tangga untuk naik turun penumpang dari peron, masing-masing terdiri atas 47 anak tangga.
Seutas Cerita di Balik Kelamnya Stasiun Kampung Bandan

Tantangan Transit: Bandara Internasional dengan Jarak Antar Terminal Berjauhan

Perkembangan pesat industri penerbangan global telah melahirkan banyak hub besar yang dirancang untuk menangani jutaan penumpang dan ribuan penerbangan setiap hari. Namun, perluasan ini seringkali menghasilkan kompleks bandara yang membentang luas, di mana jarak antar terminal dapat menjadi kendala serius bagi penumpang transit. Chicago O’Hare International (ORD), Amerika Serikat Salah satu contoh klasik adalah Bandara Internasional O’Hare di Chicago. Bandara ini memiliki empat terminal utama (Terminal 1, 2, 3, dan 5). Meskipun Terminal 1, 2, dan 3 saling berdekatan dan terhubung melalui area airside (area setelah pemeriksaan keamanan), Terminal 5 (Terminal Internasional) terpisah jauh dari terminal domestik. Penumpang yang tiba dari penerbangan internasional di Terminal 5 dan harus melanjutkan perjalanan domestik dari Terminal 1-3 wajib keluar dari area keamanan, naik Airport Transit System (ATS)—kereta people mover yang panjang—dan melewati pemeriksaan keamanan lagi di terminal domestik mereka. Jarak dan kebutuhan untuk melewati imigrasi/bea cukai membuat transit di O’Hare memerlukan alokasi waktu yang sangat panjang. London Heathrow (LHR), Inggris Bandara Heathrow di London dikenal karena kompleksitas transitnya. Meskipun beberapa terminal telah ditutup, LHR kini fokus pada empat terminal utama (2, 3, 4, dan 5). Khususnya, Terminal 4 dan Terminal 5 memiliki lokasi yang cukup berjauhan dari Terminal 2 dan 3. Untuk berpindah antara Terminal 5 (yang digunakan eksklusif oleh British Airways) dan terminal lainnya (terutama Terminal 4), penumpang harus menggunakan Heathrow Express atau Shuttle Train Bawah Tanah atau shuttle bus khusus. Meskipun layanan ini efisien, jarak tempuh, ditambah proses pemeriksaan keamanan jika berpindah dari airside ke landside, seringkali memakan waktu 20 hingga 40 menit secara keseluruhan, menjadikannya kurang ideal untuk transit cepat.
Senyapnya Langit Dini Hari: Mengapa Bandara Internasional Jarang Beroperasi Penuh 24 Jam
Paris Charles de Gaulle (CDG), Perancis Bandara Charles de Gaulle di Paris adalah salah satu bandara dengan tata letak yang paling tersebar di Eropa. Bandara ini terbagi menjadi Terminal 1, Terminal 2 (yang terdiri dari sub-terminal 2A hingga 2G), dan Terminal 3. Jarak fisik antara terminal-terminal ini sangat signifikan. Misalnya, untuk berpindah dari Terminal 1 ke bagian terjauh dari Terminal 2 (seperti 2G), penumpang harus menggunakan sistem CDGVAL (kereta otomatis bandara) yang berjalan di sepanjang area bandara. Diperlukan waktu yang cukup lama untuk menavigasi dari satu ujung ke ujung lain, dan terkadang shuttle bus diperlukan untuk terminal tertentu seperti 2G, yang dapat melintasi landasan (tarmac), menambah waktu tunggu dan durasi perjalanan secara keseluruhan.
Bandara Charles de Gaulle dan Soekarno-Hatta Ternyata Sama-sama Gunakan Kereta Shuttle dengan Roda Ban
Frankfurt Airport (FRA), Jerman Bandara Frankfurt memiliki Terminal 1 dan Terminal 2 yang merupakan dua struktur besar. Meskipun ada Skyline people mover yang menghubungkan keduanya, Terminal 2 terletak cukup jauh melintasi area parkir pesawat dari Terminal 1. Bagi penumpang yang transit antara penerbangan Lufthansa (yang berpusat di Terminal 1) dan maskapai mitra (banyak di Terminal 2), perpindahan ini terasa lama. Jarak fisik yang membentang luas ini, ditambah dengan kebutuhan untuk melintasi area bandara yang sangat sibuk, membuatnya wajib mengalokasikan waktu transit yang memadai. Dubai International Airport (DXB), Uni Emirat Arab DXB memiliki tiga terminal (Terminal 1, 2, dan 3) yang menangani volume penumpang internasional terbesar di dunia. Meskipun Terminal 3 (eksklusif untuk Emirates) dan Terminal 1 terhubung melalui kereta otomatis dan koneksi airside yang cukup baik, Terminal 2 (yang melayani sebagian besar maskapai regional dan penerbangan bertarif rendah) terletak jauh di ujung yang berlawanan dan terpisah sepenuhnya dari T1 dan T3.
Bukan Hanya Kuwait, Inilah Negara-negara yang Berlakukan Visa Transit Meski Penumpang Tak Keluar Bandara
Perpindahan ke dan dari Terminal 2 harus dilakukan menggunakan layanan shuttle bus resmi bandara yang melintasi jarak yang signifikan di area tarmac bandara. Hal ini memerlukan waktu tambahan sekitar 20–30 menit, membuatnya menjadi titik hambatan yang signifikan bagi penumpang yang transit melalui Terminal 2. Pada umumnya, bandara-bandara ini berusaha mengatasi tantangan jarak dengan menyediakan solusi transportasi seperti people mover (kereta antar terminal otomatis), shuttle train bawah tanah, atau shuttle bus yang berjalan cepat. Meskipun begitu, tantangan tetap ada karena layanan shuttle seringkali tidak dapat sepenuhnya mengimbangi kecepatan berjalan kaki di terminal yang terhubung langsung (airside connection). Oleh karena itu, bagi penumpang yang melakukan transit di bandara-bandara besar ini, selalu disarankan untuk mengalokasikan waktu transit minimal dua jam atau lebih.

Hari Ini, 122 Tahun Lalu, Cikal Bakal Penerbangan Modern Dimulai Wright Bersaudara

Pada hari ini, 122 tahun lalu, bertepatan dengan 17 Desember 1903, Wilbur Wright dan Orville Wright atau lebih dikenal dengan Wright Bersaudara berhasil terbang dengan mesin secara terkendali untuk pertama kalinya di dunia sejauh 36,5 meter setinggi 3 meter selama 12 detik di kaki bukit pasir Big Kill Devil Hills, dekat Kitty Hawk, North Carolina, AS. Dari situlah cikal bakal penerbangan modern berasal.

Baca juga: Ada Andil Wright Bersaudara, Inilah Sejarah FAA, Regulator Penerbangan Sipil ‘Dunia’

Tak puas melihat penerbangan Orville Wright yang hanya 12 detik, Wilbur Wright mencobanya lagi dan lagi.

Pada penerbangan keempat, Wilbur berhasil menempuh jarak 852 kaki dan pesawat Wright Flyer atau biasa juga disebut Flyer 1 megudara selama 59 detik, menjadikannya sebagai orang pertama yang mendemonstrasikan penerbangan menggunakan pesawat berbobot lebih berat dari udara pertama di awah kendali penuh pilot.

Dilansir loc.gov, pertemuan Wright bersaudara dengan mesin terbang pertama kali pada tahun 1878. Ketika itu, ia bersama ayahnya Milton Wright dan ibunya Susan Catherine Koerner tengah tinggal di Cedar Rapids, Lowa, Amerika Serikat (AS).

Suatu hari, sang ayah pulang dengan membawa sebuah helikopter besutan perintis penerbangan asal Perancis, Alphonse Pénaud. Helikopter tersebut dibuat dari bambu, kertas, gabus, dan karet gelang untuk memberi daya pada rotor. Wright bersaudara kemudian memainkan helikopter itu sampai akhirnya rusak dan coba membuat helikopter serupa versi Wright bersaudara.

Senang helikopter buatannya digemari orang lain (Wright bersaudara) Alphonse Pénaud pun tak segan melanjutkan mimpinya membuat pesawat yang cukup besar bagi seorang pria untuk terbang di udara. Sayangnya, akibat tak mendapat banyak dukungan, ia pun memilih untuk mengakhiri hidup.

Sebelum mulai membuat pesawat, Wright bersaudara banyak belajar pada makalah-makalah ilmuan ternama Italia, Leonardo da Vinci. Setelah dirasa cukup menimba ilmu dari Leonardo da Vinci, Wright bersaudara pun memutuskan mulai melakukan penerbangan glider, di sebuah pantai di Kitty Hawk, North Carolina.

Pantai dipilih karena dinilai memiliki angin yang cukup untuk membantu gaya lift pada pesawat buatannya.

Maklum, pada tahun 1902, Wright bersaudara belum mendapat sokongan mesin dari pabrikan besar di dunia untuk menerbangankan pesawat. Jadi, masih mengandalkan angin untuk terbang. Terbukti, angin di pantai Kitty Hawk mampu membawa Wright bersaudara melakukan penerbangan glider sebayak 700 kali.

Tak juga kunjung mendapat dukungan mesin dari pabrikan otomotif dunia, Wright bersaudara pun memberanikan diri untuk membuat mesin sendiri.

Dengan dibantu Charlie Taylor, keduanya mampu membuat mesin berpendingin air empat silinder segaris yang mampu menghasilkan 12 tenaga kuda. Menariknya, dudukan mesin tersebut terbuat dari alumunium untuk mengurangi beban yang membuatnya sebagai yang pertama kali dalam sejarah.

Mesin sudah, Wright bersaudara pun mulai menyempurnakan pesawat yang kemudian diberi nama Wright Flyer dan siap diuji coba.

Persyaratan penerbangan pertama pada 17 Desember 1903 hampir sempurna dengan hembusan angin hingga 27 mil per jam. Sekitar pukul 10.30 pagi itu, Orville Wright berbaring di sayap pesawat dan menghidupkan mesinnya.

Baca juga: Hari Ini, 111 Tahun lalu, Wright Company Produsen Pesawat Pertama di AS Berdiri

Menggunakan sistem rel yang membentang sejauh 60 kaki, pesawat lepas landas dan terbang selama 12 detik di ketinggian delapan kaki dengan kecepatan 6,8 mph. Uji coba penerbangan kedua malah lebih jauh, mencapai jarak 200 kaki. Tanpa roda pendaratan, Wright Flyer dirancang untuk mendarat di pasir lembut Outer Banks.

Sayangnya, Wright Flyer yang berbobot sekitar 274 kg harus rusak karena hembusan angin kencang yang membuatnya terpontang-panting. Pesawat rusak dan harus direparasi terlebih dahulu hingga pada akhirnya saat ini pesawat diabadikan di Museum Smithsonian di Washington DC, AS.

Yang Ditunggu-tunggu, Akhirnya KRL Buatan INKA Resmi Angkut Penumpang Hari Ini

Lengkap sudah perjalanan Kereta Rel Listdik (KRL) Commuter Line kali ini. Seri terbaru KRL CLI.225 buatan PT Industri Kereta Api (INKA) Madiun ini resmi beroperasi mengangkut penumpang di lintas Jabodetabek. Ya, sejak awal Maret 2025, sarana KRL baru buatan INKA ini telah dilakukan FAT (Factory Acceptance Test) sebelum dilakukan uji coba dinamis di lintas Yogyakarta-Solo. Setelah lakukan pengujian di Yogya-Solo, tahap pertama pengiriman rangkaian sarana KRL baru PT INKA ini sudah tiba di Depo KRL Depok pada Kamis, 17 April 2025. Rangkaian yang dikirim terdiri dari enam unit, lalu kemudian pada 20 April telah tiba lagi sebanyak enam unit sehingga menjadi satu trainset dengan 12 unit KRL. Kedatangan satu trainset tersebut merupakan bagian dari penyelesaian kontrak pengadaan KRL. Tahap pertama pengiriman KRL baru ini terdiri dari enam kereta, selanjutnya untuk tahap kedua sebanyak juga telah dikirim sebanyak enam kereta. Rangkaian ini akan dirangkaikan menjadi satu trainset (satu trainset berjumlah 12 kereta) untuk selanjutnya akan dilakukan uji dinamis sejauh 4.000 km di lintas Jabodetabek, sama halnya seperti sarana KRL baru buatan CRRC.
Interior KRL INKA rute Bogor ~ Jakarta Kota. (Foto: Dok. Istimewa)
Hingga akhirnya pada hari ini, Selasa (16/12) rangkaian tersebut sudah bisa digunakan untuk angkutan masyarakat dengan rute Depok – Jakarta Kota – Bogor – Depok. Rangkaian KRL CLI.225 ini dijalankan sedikitnya 2 trainset yang masing-masing trainset terdiri dari 12 kereta. Adapun jadwal KRL yang berjalan pada hari ini adalah: • Trainset I (loop 20) – KA 1021 rute Depok 09:39 – Manggarai 10:15 – KA 1022 rute Manggarai 10:28 – Bogor 11:31 – KA 1299 rute Bogor 11:42 – Jakarta Kota: 13:11 – KA 1296 rute Jakarta Kota 13:24 – Depok 14:22 • Trainset II (loop 22) – KA 1251 rute Depok 09:34 – Jakarta Kota 10:33 – KA 1248 rute Jakarta Kota 10:49 – Bogor 12:16 – KA 1027 rute Bogor 12:25 – Manggarai 13:28 – KA 1028 rute Manggarai 13:36 – Depok 14:12 Diketahui bahwa KRL ini menggunakan komponen produksi dalam negeri maupun luar negeri. Pada bagian sistem kelistrikan dan penggerak, KRL ini menggunakan komponen yang diproduksi oleh Toyo Denki Seizo. Sedangkan pada sistem pengereman, KRL ini menggunakan komponen yang diproduksi oleh Nabtesco KRL seri iE305 atau CLI 225 ini memiliki formasi 12 unit kereta pada setiap rangkaian, dan kesemuanya berkedudukan di Depo KRL Depok. Bersama dengan KRL seri SFC120-V, iE305 beroperasi di Commuter Line Jabodetabek, utamanya di Commuter Line Bogor dan Commuter Line Cikarang. Kedepannya berharap KRL buatan anak bangsa ini bisa terus melaju dan memenuhi kebutuhan transportasi masyarakat khususnya Jabodetabek. Tentunya agar masyarakat bisa terus menggunakan transportasi umum seperti KRL dengan waktu yang efisien, tarif yang murah meriah dan dapat menempuh di tempat tujuan dengan aman dan nyaman.
Jejak Sejarah Yang Terlupakan, Stasiun Gambir Dulunya Adalah Tanah Rawa

Biar Tak Penasaran, Seberapa Awal Pilot Harus Tiba di Bandara?

Bagi calon penumpang yang akan melakukan perjalanan udara, tentu diperlukan standar untuk waktu tiba di bandara, lantaran ada proses check-in, boarding pass, bagasi dan rangkaian pemeriksaan keamanan. Lantas bagaimana dengan pilot dan awak kabin? Baca juga: Apakah Pilot dan Pramugari Harus Menjalani Pemeriksaan Ketat di Bandara Seperti Penumpang Karena terkait dengan layanan dan rencana penerbangan, sudah barang tentu mereka mempunyai prosedur yang ketat untuk waktu jadwal ketibaan di bandara. Nah, yang menjadi pertanyaan, seperti apakah prosedur yang berlaku untuk awak pesawat? Maklum, tanpa kehadiran dan kesiapan pilot di bandara, maka tidak akan berlangsung penerbangan. Seperti halnya penumpang, pilot harus mempertimbangkan kedatangan mereka tepat waktu di bandara. Dikutip dari Simpleflying.com, untuk pilot yang memulai perjalanan jarak pendek dari bandara asalnya, maka waktu yang diminta untuk check-in pilot biasanya antara 30 menit hingga satu jam sebelum jadwal keberangkatan. Waktu tersebut dilakukan pilot untuk meninjau dokumen dan cuaca sebelum penerbangan, dan menyiapkan pesawat untuk keberangkatan. Beberapa maskapai mengizinkan pilot untuk check-in di perangkat seluler mereka, sementara perusahaan lain mewajibkan pilot untuk check-in di crew center. Pilot dan kru jarak jauh internasional cenderung memiliki waktu masuk lebih awal. Tidak hanya ada lebih banyak informasi untuk dibahas selama diskusi pra-penerbangan, tetapi maskapai juga ingin melindungi pendapatan dan kinerja tepat waktu yang terkait dengan penerbangan jarak jauh. Maskapai harus ‘memanggil’ pilot cadangan untuk menutupi jika salah satu anggota kru tidak dapat melakukan waktu check-in, dan maskapai penerbangan ingin memastikan bahwa slot kedatangan mereka yang berharga dipatuhi saat terbang ke tujuan yang jauh. Poin tambahan yang perlu dipertimbangkan adalah beberapa pilot muncul di bandara tanpa mengetahui apakah mereka akan terbang hari itu. Pilot ini dikenal sebagai “reservists.” Pilot cadangan siap untuk melindungi ketika kolega mereka jatuh sakit, melaporkan bahwa mereka lelah, terjebak dalam lalu lintas yang buruk, atau miskoneksi dari penerbangan. Baca juga: Apakah Pilot Pernah Bosan Melihat Keluar Jendela Selama Penerbangan Jarak Jauh? Beberapa maskapai memiliki sejumlah pilot yang duduk di bandara, sementara yang lain memiliki pilot cadangan dalam waktu “panggilan” tertentu dari bandara (biasanya 2 jam adalah waktu tersingkat, tetapi bisa selama 18 jam).

Bikin Betah! Live Cooking Terus Berlanjut di KA Ini, Penumpang Serasa Nongkrong di Kafe

Live cooking. Ya, itulah penyebutan memasak secara langsung yang dilakukan koki saat di perjalanan kereta api (KA). Memang tak semuanya hidangan atau menu makanan yang dimasak secara langsung. Makanan di kereta yang kita ketahui biasanya lebih sering dipanaskan atau jika yang berkuah biasanya hanya ditambahkan air panas. Sedikit mengenang jaman dimana setiap menu makanan di kereta api seluruhnya dimasak secara langsung. Tak hanya kereta kelas eksekutif, bahkan kelas bisnis maupun ekonomi pasti ada juru masak berada di kereta makan (restorasi). Ya, berbagai menu makanan yang tersedia pasti dimasak terlebih dahulu tentunya membuat penumpang merasa nikmat saat memakannya. Namun beberapa tahun berikutnya, live cooking yang dilakukan di setiap kereta pun dihilangkan. Mengingat sempat terjadi insiden kebakaran saat aktivitas memasak yang membuat bagian interior kereta makan hampir 100 persen terbakar. Dari insiden tersebut, memasak secara langsung pun dihentikan dan diganti dengan pemanas makanan (oven). Tapi mengingat permintaan penumpang ingin merasakan makanan yang benar-benar hangat, maka PT Kerera Api Indonesia Persero (KAI) mengabulkan permintaan tersebut. Layanan live cooking di KAI ini terus berlanjut di 2025, terutama di kereta eksekutif seperti Argo Bromo Anggrek, Argo Lawu, Taksaka, dan Argo Wilis, menawarkan pengalaman memasak langsung hidangan seperti Nasi Goreng, Mie Godog, dan Selat Solo oleh koki profesional di kereta makan, yang bisa dipesan lewat aplikasi KAI Access atau WhatsApp. Tentunya layanan ini dapat mengobati kerinduan para penikmat perjalanan kereta api serta memberikan pengalaman berkesan saat berkuliner. KAI pun terus melakukan inovasi salah satunya dengan memberikan customer experience berbeda. Selain waktu tempuh beberapa kereta api dibuat jauh lebih cepat, KAI terus memberikan pelayanan yang jauh lebih baik. Dalam rangkaian KA-KA tersebut, di kereta makan KAI menghadirkan koki pilihan yang memasak secara langsung. Tentunya dengan menu makanan terpilih dan terbaik yang disediakan di kereta api. Enak, sudah pasti. Bahkan penumpang bisa merasakan kenyamanan di kereta makan serasa di kafe. Dengan ornamen khas yang membuat penumpang betah, akses Wifi yang diberikan pun semakin menambah pelayanan yang memuaskan. Salah satu kuliner yang menjadi pilihan favorit pelanggan kereta api yaitu nasi goreng parahyangaan. Menu tersebut merupakan kuliner legendaris yang selalu dicari. Kondimen yang lengkap dan rasa khas menjadikan menu tersebut selalu ditanyakan saat pelanggan bepergian. Menu lain yang tidak kalah favorit yaitu nasi ayam geprek dengan sensasi pedas menggoda dan train chicken yang disajikan dengan nasi ataupun kentang. Ada juga menu baru yang wajib dicoba yaitu nasi sei sapi. Selain rasanya yang unik, pelanggan juga dapat menyaksikan langsung bagaimana kuliner tersebut diolah. Jadi pelanggan bisa menikmati pengalaman kuliner berbeda sambil menikmati pemandangan di kereta makan. Kira-kira sudah berapa kali, nih kalian menikmati makanan langsung dimasak dari koki berpengalaman di kereta api?
Bikin Kamu Ngeces, Ini Deretan Kuliner Mewah di Perjalanan Kereta Klasik

Boeing 737-400 A-7308 TNI AU eks Lion Air Tuntas Jalani Check D

Boeing 737-400 dengan nomor registrasi A-7308 dari Skadron Udara 17 berhasil menyelesaikan pemeliharaan berat Check D, yaitu program perawatan berkala tingkat tinggi yang memiliki interval delapan tahun. Pemeliharaan jenis ini merupakan tahapan paling komprehensif yang memastikan seluruh aspek struktur, sistem, dan kelayakan terbang pesawat berada dalam kondisi terbaik untuk mendukung tugas negara. Pelaksanaan Check D terhadap pesawat dengan nomor registrasi A-7308 berlangsung selama enam bulan penuh di Satuan Pemeliharaan 14 Depohar 10. Para teknis melaksanakan tugasnya  secara teliti oleh teknisi berpengalaman, mulai dari pemeriksaan struktur pesawat secara menyeluruh, pembongkaran komponen vital, pengujian sistem avionik, hingga penilaian integritas rangka pesawat. Kompleksitas pekerjaan ini menjadi bukti kualitas profesionalisme Sathar 14 Depohar 10 dalam menjaga keandalan armada strategis TNI AU. Usai pemeliharaan, A-7308 tampil dengan wajah baru. Pesawat yang sebelumnya berwarna putih kini berganti dengan livery abu-abu modern, selaras dengan standar pewarnaan pesawat Falcon 8X dan C-130J. Pada bagian tengah badan pesawat, terdapat aksen minimalis bernuansa merah putih yang menegaskan identitas kedirgantaraan Indonesia. Tampilan baru ini memberikan kesan tegas, elegan, sekaligus mencerminkan kesiapan pesawat dalam menjalankan misi kenegaraan. Sebagai pesawat andalan Skadron Udara 17 yang bermarkas di Lanud Halim Perdanakusuma, B-737-400 A-7308 memegang peran penting dalam misi angkut VIP/VVIP. Pesawat ini kerap digunakan untuk mendukung mobilitas Presiden, Wakil Presiden, pejabat tinggi negara, serta berbagai kegiatan resmi pemerintahan, baik di dalam maupun luar negeri. Dengan rampungnya Check D, pesawat kembali siap memberikan dukungan transportasi udara yang aman, nyaman, dan tepat waktu. Selain menjalankan misi VVIP, 737-400 TNI AU juga digunakan untuk mendukung pergeseran personel TNI dalam operasi tertentu serta pengangkutan logistik skala menengah. Fleksibilitas ini menjadikan pesawat sebagai aset strategis yang dapat diandalkan dalam berbagai kondisi, termasuk operasi gabungan antar matra. Pesawat A-7308 juga memiliki peran signifikan dalam misi kemanusiaan. Dengan konfigurasi yang dapat disesuaikan, pesawat ini dapat dialihfungsikan untuk evakuasi, pengiriman bantuan bencana, maupun distribusi logistik darurat. Kemampuan ini membuatnya menjadi salah satu komponen penting dalam operasi tanggap darurat nasional yang membutuhkan mobilitas cepat dan kapasitas angkut besar.
“Pre-Flight Check”, Inilah Lima Inspeksi Wajib yang Dilakukan Sebelum Pesawat Lepas Landas
Untuk mendukung tugas-tugas tersebut, 737-400 telah menjalani modifikasi standar VIP/VVIP yang meliputi interior kabin khusus bagi pejabat negara, sistem komunikasi aman untuk kebutuhan pemerintahan, serta sejumlah fasilitas kenyamanan tambahan. Dengan selesainya Check D dan seluruh modifikasi yang dipertahankan sesuai standar, pesawat A-7308 kini kembali siap mengemban berbagai misi penting TNI AU, mulai dari penerbangan kenegaraan, dukungan diplomasi, hingga operasi kemanusiaan skala nasional maupun internasional. Boeing 737-400 dengan nomor registrasi A-7308 didatangkan lewat program hibah, persisnya pesawat ini berasal dari hibah (donasi) dari Lion Air Group pada tahun 2016. Sebelum beralih menjadi aset TNI AU, pesawat ini diketahui menggunakan kode registrasi sipil, PK-LIW.
Profil Boeing 737-400 TNI AU Hibah dari Garuda Indonesia yang Evakuasi WNI di Kabul

Bandara Internasional Presidente Nicolau Lobato (DIL): Gerbang Utama Timor Leste

Terletak di jantung ibu kota, Bandar Udara (Bandara) Internasional Presidente Nicolau Lobato (DIL) di Dili bukan sekadar fasilitas transportasi; ia adalah simbol kedaulatan dan saksi bisu dari seluruh fase sejarah Timor Leste. Bandara ini menjadi gerbang udara terbesar dan paling krusial bagi negara yang baru merdeka ini. Sejarah bandara ini mencerminkan pergolakan politik negara. Selama periode integrasi dengan Indonesia, bandara ini dikenal sebagai Bandar Udara Internasional Comoro. Selama kurang lebih 24 tahun, Comoro adalah jalur udara utama, melayani penerbangan domestik maupun internasional terbatas, dengan koneksi vital ke berbagai kota di Indonesia, terutama Denpasar (Bali). Hubungan ini menjadi sangat krusial, baik untuk administrasi, perdagangan, maupun pergerakan warga. Namun, setelah restorasi kemerdekaan pada tahun 2002, bandara ini dinobatkan ulang dengan nama Presidente Nicolau Lobato, untuk menghormati pahlawan kemerdekaan yang gigih. Pergantian nama ini menandai babak baru, di mana bandara ini bertransformasi menjadi gerbang resmi Republik Demokratik Timor Leste ke dunia global.
Qantas Buka Penerbangan Internasional Terpendek ke Dili Timor Leste
Keterkaitan bandara ini dengan Indonesia tetap menjadi poin penting. Bahkan hingga hari ini, rute Dili–Denpasar adalah salah satu rute internasional tersibuk yang menghubungkan Timor Leste ke jaringan maskapai global melalui hub Bali. Maskapai Indonesia, seperti Citilink dan Sriwijaya Air, serta maskapai pendahulu, telah lama menjadi tulang punggung konektivitas Dili. Selama masa krisis dan transisi, bandara ini juga memainkan peran logistik kunci untuk bantuan dan pasukan penjaga perdamaian. Meskipun menyandang predikat “Internasional,” Bandara DIL tergolong kecil dibandingkan standar regional. Landasan pacunya memiliki panjang sekitar 1.850 meter, sebuah batasan signifikan. Panjang ini cukup ideal untuk pesawat jet berbadan sempit (narrow-body) populer seperti Boeing 737 dan Airbus A320 yang melayani rute regional (Darwin, Denpasar, Singapura). Namun, batasan ini berarti DIL tidak dapat menampung pesawat berbadan lebar (wide-body) untuk penerbangan jarak jauh. Hal ini memaksa Timor Leste untuk bergantung pada penerbangan transit melalui negara tetangga, membatasi potensi pariwisata dan logistik kargo langsung. Saat ini, layanan utamanya adalah rute internasional ke Darwin, Denpasar, dan Singapura, dengan penerbangan domestik terbatas ke Oecusse dan Baucau. Pemerintah Timor Leste mengakui bahwa Bandara DIL adalah kunci pembangunan ekonomi. Oleh karena itu, prioritas pembangunan saat ini adalah memperpanjang landasan pacu. Perpanjangan ini akan membuka peluang rute langsung dari Asia Timur dan Australia bagian timur, yang secara dramatis dapat meningkatkan sektor pariwisata dan perdagangan, serta memperkuat posisi Dili sebagai simpul penting di kepulauan Asia Tenggara. Pada akhirnya, Bandar Udara Internasional Presidente Nicolau Lobato adalah cerminan dari Timor Leste itu sendiri: kecil namun bersemangat, dengan sejarah yang kompleks, dan dipenuhi visi besar untuk masa depan.
Mulai 24 Agustus 2022, Batik Air Buka Penerbangan Denpasar – Dili Timor Leste

Terbantu! Jasa Perjalanan Wisata Bakal Hadir Untuk Wisatawan KA Jaka Lalana

Masih perbincangan hangat soal Kereta Api (KA) Wisata Jaka Lalana yang segera hadir rute Jakarta (Gambir) – Cianjur pp. Masyarakat dibuat antusias dengan hadirnya KA tersebut karena menawarkan fasilitas kenyamanan saat diperjalanan apalagi jalur yang dilalui merupakan jalur kereta api tertua rute Jakarta – Bandung. Ya, sempat terjadi pembatalan perjalanan KA Jaka Lalana pada 14 Desember kemarin karena pihak dari PT Kereta Api Indonesia Persero (KAI) memfokuskan penanganan jalur kereta yang terdampak sampai tuntas dilakukan, dan setelahnya baru direncanakan kembali pengoperasian KA Wisata Jaka Lalana yang sudah dilakukan uji coba membawa lima rangkaian sampai Stasiun Cianjur. Sehingga pihaknya memastikan KA Wisata Jaka Lalana sudah layak beroperasi dengan lima rangkaian yang rencananya akan beroperasi awal dengan jadwal saat akhir pekan, disesuaikan permintaan akan dilakukan evaluasi untuk dijadwalkan setiap hari. Belum sempat beroperasi, ternyata banyak dari agen travel wisata perjalanan di Kota Cianjur sudah menawarkan beberapa paket untuk wisatawan yang menggunakan KA Jaka Lalana. Menurut kabar dari berbagai sumber, Pemerintah Kabupaten Cianjur, Jawa Barat, bekerja sama dengan Asosiasi Perusahaan Perjalanan Wisata Indonesia menyiapkan sejumlah paket wisata. Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Cianjur Reza Addairobi di Cianjur, Minggu, mengatakan kerjasama juga dilakukan dengan Persatuan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Cianjur guna menawarkan paket perjalanan wisata bagi wisatawan yang berlibur ke Cianjur. Pemerintah daerah merasa terbantu dengan beroperasinya KA Jaka Lalana karena dapat mengenalkan atau mempromosikan berbagai destinasi wisata penunjang mulai dari Gunung Padang, air terjun atau Curug Cikondang dan destinasi wisata penunjang lainnya ketika turun di Stasiun Lampegan. Termasuk destinasi wisata di tengah kota Cianjur seperti Bumi Ageung, Taman Alun-alun Cianjur, Bomero Citywalk yang terletak hanya beberapa ratus meter dari Stasiun Cianjur, dapat menjadi pilihan bagi wisatawan yang datang. Masih belum diketahui pasti kapan KA Jaka Lalana ini akan dioperasikan. Tapi beberapa informasi mengatakan bahwa KA Jaka Lalana rencana akan diluncurkan pada Kamis, 18 Desember 2025. untuk sementara kereta wisata ini hanya beroperasi pada akhir pekan, tetapi jika peminatnya tinggi maka akan beroperasi setiap hari. Sejak diwacanakannya kereta wisata tersebut, Pemkab langsung berkomunikasi dengan berbagai jasa wisata untuk membuat beberapa paket. Termasuk KA yang berhenti di Stasiun Lampegan, nantinya bisa berkunjung ke Situs Megalitikum Gunung Padang dan Curug Cikondang. Sedangkan di wilayah perkotaan rencananya dilakukan wisata ke Bumi Ageung, Alun-alun, Bojongmeron Citiwalk, dan Kampung Pandangwangi.
Lampegan, Terowongan Tertua di Indonesia, Abadikan Misteri Nyi Ronggeng

Ellen Church, Pramugari Pertama di Dunia yang Juga Punya Lisensi Pilot

Pernah terpikir oleh Anda siapakah yang menjadi pramugari pertama dalam penerbangan? Bila Anda pernah memikirkannya, pada tahun 1930 silam, seorang wanita muda yang menjadi seorang perawat adalah pramugari pertama diperusahaan Boeing Air Transport. Baca juga: Ternyata, Boeing dan United Airlines Dulu Adalah Satu Perusahaan, Lho! Untuk mengenal lebih lanjut pramugari pertama dunia ini, KabarPenumpang.com sudah merangkum dari worldhistory.us. Bernama Ellen Churh, pramugari yang awalnya ingin menjadi seorang pilot maskapai komersial. Lahir di Iowa sebuah pertanian dekat Cresco, Ellen lahir pada 22 September 1904. Awalnya sebelum menjadi seorang pramugari, ternyata Ellen terpesona dengan pesawat terbang yang dilihatnya semasa kecil. Bahkan dia punya impian tidak menjadi seorang istri petani karena dirinya menginginkan kehidupan yang penuh petualangan. Kemudian dia memulai karirnya dengan menempuh pendidikan di University of Minnesota dan mendapat gelar keperawatan tahun 1926. Ellen sendiri sempat bekerja menjadi pengajar perawat di salah satu rumah sakit di Prancis. Kemudian dirinya mengambil pelajaran terbang hingga menjadi seorang pilot yang memiliki lisensi terbang. Namun sayangnya dia tahu bahwa sebagai seorang perempuan akan sulit mendapat pekerjaan sebagai pilot. Selain dari eksploitasi perempuan, penerbangan komersial di masa itu masih di dominasi oleh laki-laki. Akhirnya Ellen kemudian menuju ke San Francisco dimana kantor Boeing Air Transport (BAT) pada Februari 1930 untuk menjadi bagian dari industri penerbangan komersial baru. Pada musim dingin itu dia bertemu dengan manajer Steve Stimpson dan mendiskusikan tentang idenya. Bahkan bisa dikatakan pada tahun itu, kebanyak orang masih takut terbang karena banyaknya kecelakaan terjadi. Apalagi pesawat komersial di kala itu terbang dengan ketinggian rendah daripada saat ini yakni hanya sekitar enam ribu kaki bila dibandingkan saat ini yang 35 ribu kaki. Hal ini berarti pesawat mengudara melalui cuaca buruk dan banyak penumpang yang mabuk udara. Ellen yang memiliki pikiran panjang kemudian melontarkan kemungkinan perawat wanita yang bisa merawat penumpang lebih baik, apalagi bagi mereka yang sering sakit dan takut dengan perjalanan pesawat. Stimpson awalanya hanya memberikan pernyataan Ellen kepada atasannya dan awalnya hal itu di tolak. Namun kemudian pihak BAT berubah pikiran dan setuju untuk masa percobaan tiga bulan. Hal ini kemudian membuat Stimpson dan Ellen menyaring pelamar hingga pada akhir musim semi di tahun itu ada delapan pramugari dengan salah satunya Ellen sebagai keberhasilan yang menggembirakan dan semakin banyak wanita yang bekerja sebagai pramugari. Setelahnya BAT bergabung dengan dua perusahaan kecil dan membentuk United Airlines dimana Ellen mengudara bersama maskapai tersebut dari Oakland menuju Chicago. Sayangnya karir pramugari pertama ini tidak lama hanya 18 bulan. Baca juga: Capai Usia 102 Tahun, Delta Airlines Rayakan Ulang Tahun Pramugari Pertamanya! Ini dikarenakan Ellen mengalami kecelakaan mobil dan meski begitu dirinya memiliki karir yang terkenal sebagai perawat dalam Perang Dunia II. Dia bertugas sebagai perawat penerbangan di Korps Perawat Angkatan Darat, dan mendapatkan medali udara. Dia meninggal dalam kecelakaan menunggang kuda yang tragis pada tahun 1965.