Suksesnya PT Kereta Api Indonesia Persero (KAI) melakukan uji coba dinamis kereta wisata mewah Heritage Class bernama Jaka Lalana dengan rute Gambir, Manggarai, Bogor, Sukabumi, hingga Cianjur pada Rabu (10/12). Dalam uji coba tersebut, rangkaian kereta terdiri dari dua kereta heritage, kereta makan, kereta pembangkit, serta dua kereta kelas eksekutif.
Dua Kereta Heritage Class yang diuji membawa nomor IW-38221 dan IW-38222, menampilkan desain glossy dengan warna dominan hijau emerald dan krem berpadu ornamen emas. Interiornya didominasi hijau emerald dan cokelat hangat, dilengkapi bangku konfigurasi dua-dua di sisi kanan dan kiri.
Dinding kereta dibalut ornamen kayu cokelat dengan sentuhan emas, diterangi lampu tempel gaya klasik, serta gorden senada di tiap jendela. Kereta mewah ini menawarkan pengalaman perjalanan bernuansa heritage dengan kenyamanan premium, menyusuri jalur selatan yang asri dan bersejarah.
Namun, kabar yang sudah beredar bahwa peluncuran perdana KA Wisata Jaka Lalana akan dilakukan pada 14 Desember kemarin. Tapi hal tersebut tidak jadi dilakukan. Menurut Wakil Wali Kota Sukabumi Bobby Maulana menyampaikan kabar terbaru terkait peluncuran kereta wisata Jaka Lalana. Ia memastikan agenda peresmian yang semula dijadwalkan pada Minggu, 14 Desember 2025, resmi diundur.
Informasi itu diterimanya langsung dari Kepala Dinas Perhubungan (Dishub) Kota Sukabumi, hasil berkoordinasi dengan sejumlah pihak, termasuk stasiun. Peluncuran yamg semula dilakukan pada 14 Desember 2025 akan diundur menjadi tanggal 18 Desember 2025.
Penundaan ini juga menjadi kabar baru bagi publik, mengingat sebelumnya Jaka Lalana disebut tinggal selangkah lagi meluncur di jalur rel. Kereta wisata berkonsep heritage itu digadang-gadang akan membuka pengalaman baru menyusuri lanskap eksotis Jakarta–Bogor–Sukabumi–Cianjur.
Selain itu nantinya Jaka Lalana akan menempuh waktu sekitar 4 jam 45 menit dari Stasiun Gambir ke Stasiun Cianjur dan sebaliknya. Kereta melewati 17 stasiun melalui rute: Gambir – Manggarai – Cawang – Pasar Minggu – Depok – Citayam – Bogor – Bogor Paledang – Cicurug – Cibadak – Cisaat – Sukabumi – Gandasoli – Cireungas – Lampegan – Cibeber – Cianjur.
Hadirnya Kereta Jaka Lalana diharapkan meningkatkan sektor pariwisata Jawa Barat, terutama Sukabumi dan Cianjur. Wali Kota Sukabumi Ayep Zaki menyambut baik layanan baru ini dan menyebutnya sebagai motor penggerak baru untuk meningkatkan kunjungan wisata dan perekonomian daerah.
Meskipun bandara internasional sering digambarkan sebagai gerbang dunia yang tak pernah berhenti berdenyut, pada kenyataannya, banyak hub penerbangan terbesar di dunia terpaksa menutup sementara operasinya di malam hari. Keputusan ini, yang dikenal sebagai penerapan jam malam (curfew), didorong oleh konflik antara kebutuhan operasional maskapai dan hak masyarakat sekitar untuk mendapatkan lingkungan yang damai dan bebas polusi suara.
Di Eropa, Bandara Internasional Frankfurt (FRA) di Jerman menjadi salah satu contoh paling ekstrem dalam hal pembatasan operasional malam hari. Sebagai salah satu hub tersibuk di benua tersebut, Frankfurt dikenal memiliki larangan lepas landas dan pendaratan yang sangat ketat. Larangan ini umumnya berlaku antara pukul sebelas malam hingga pukul lima pagi.
Pembatasan ini adalah hasil dari litigasi dan tekanan komunitas yang panjang, menjadikan Frankfurt tolok ukur regulasi kebisingan di Eropa, dan memaksa maskapai merancang ulang jadwal penerbangan mereka agar tidak melanggar jendela sunyi ini.
Tidak jauh berbeda, London Heathrow (LHR), salah satu bandara tersibuk di dunia dan pintu gerbang utama Inggris, juga menerapkan jam malam yang ketat. Meskipun volume lalu lintas udara di LHR sangat padat sepanjang hari, mereka harus mematuhi aturan yang melarang sebagian besar pergerakan pesawat antara pukul 23:30 hingga 06:00. Aturan di Heathrow sangat ketat, bahkan menetapkan kuota khusus untuk pergerakan pesawat yang menghasilkan kebisingan rendah pada jam-jam transisi.
Sementara itu, di Pasifik, Bandara Sydney (SYD) di Australia menerapkan undang-undang jam malam yang mungkin termasuk yang paling ketat dan paling lama di dunia. Sydney diatur oleh undang-undang federal yang melarang pergerakan jet komersial besar antara pukul 23:00 hingga 06:00.
Undang-undang ini dibuat untuk melindungi penduduk kota dari kebisingan jet dan hanya mengizinkan sejumlah kecil pergerakan kargo khusus atau penerbangan kritis dengan slot yang dikontrol ketat. Hal ini mencerminkan komitmen kuat pemerintah Australia terhadap kualitas hidup warganya, meskipun konsekuensinya adalah hilangnya potensi pendapatan bandara pada jam-jam tersebut.
Bahkan di Asia, di mana bandara dikenal lebih fleksibel, pembatasan tetap ada. Bandara Internasional Narita (NRT) di Jepang, meskipun tidak sekeras jam malam di Sydney, memiliki batasan operasional yang umumnya mengakhiri penerbangan sekitar tengah malam. Pembatasan ini telah diperlonggar dari waktu ke waktu, tetapi tetap menunjukkan adanya kebutuhan untuk menyeimbangkan pertumbuhan lalu lintas dengan ketenangan bagi komunitas di sekitar bandara.
Bagaimana dengan Bandara Internasional Soekarno-Hatta (CGK) di Indonesia? Secara teknis, CGK tidak memiliki jam malam resmi yang melarang total penerbangan komersial, menjadikannya bandara yang beroperasi 24 jam. Namun, meskipun landasan pacu secara fisik terbuka, lalu lintas penerbangan komersial sangat minim antara pukul 01:00 hingga 04:00 dini hari.
Minimnya aktivitas ini bukan karena regulasi kebisingan yang ketat, melainkan lebih didorong oleh efisiensi operasional dan permintaan pasar. Maskapai cenderung menghindari slot penerbangan di waktu tersebut karena rendahnya jumlah penumpang domestik dan untuk meminimalkan biaya shift malam. Selain itu, pada jam-jam sepi ini, otoritas bandara sering menggunakan kesempatan tersebut untuk melakukan perawatan penting pada landasan pacu dan infrastruktur penting lainnya dengan gangguan minimal.
Secara kolektif, bandara-bandara ini membuktikan bahwa operasional 24 jam bukanlah norma universal. Keputusan untuk menutup sebagian atau seluruh operasi malam hari adalah hasil dari kompromi yang sulit antara kepentingan ekonomi global, tuntutan efisiensi, dan kesejahteraan lingkungan serta kesehatan masyarakat yang tinggal berdekatan dengan landasan pacu.
Bagi sebagian besar pelancong, bandara internasional adalah pusat aktivitas yang tak pernah tidur. Namun, jika kita melihat jadwal penerbangan di banyak hub global ternama, kita akan menyadari adanya jeda sunyi, periode malam hari di mana aktivitas lepas landas dan pendaratan mendadak mereda. Fenomena ini, yang sering disebut jam malam atau curfew, mengungkap konflik antara ambisi ekonomi bandara dan kebutuhan lingkungan serta komunitas di sekitarnya.
Alasan utama mengapa sebagian besar bandara internasional tidak dapat beroperasi penuh 24 jam sehari bukanlah karena keterbatasan teknologi atau kurangnya permintaan, melainkan tiga hambatan mendasar: regulasi kebisingan, kebutuhan pemeliharaan infrastruktur, dan perhitungan biaya operasional yang ketat.
Lingkungan vs Ekonomi: Dilema Kebisingan
Faktor paling dominan yang memaksa bandara menerapkan jam malam adalah tuntutan mitigasi kebisingan. Bandara-bandara besar di Eropa, Amerika Utara, dan Australia, seperti London Heathrow atau Sydney, seringkali dikelilingi oleh pemukiman padat. Suara menderu dari mesin jet, terutama saat lepas landas atau pendaratan, dapat mengganggu tidur dan kesehatan ribuan warga.
Sebagai respons, otoritas lingkungan dan pemerintah daerah memberlakukan peraturan ketat yang melarang penerbangan komersial—terutama pesawat yang menghasilkan kebisingan tinggi—untuk beroperasi selama jam-jam tertentu, biasanya antara larut malam hingga subuh. Aturan ini bukan sekadar rekomendasi; pelanggaran dapat berujung pada denda yang sangat mahal, efektif menghentikan operator untuk menjadwalkan penerbangan pada “jendela sunyi” tersebut.
Baca juga: Redam Kebisingan, Bandara San Francisco Luncurkan Teknologi GBASWaktu Krusial untuk Perawatan
Selain masalah kebisingan, waktu henti operasional sangat penting untuk menjaga integritas fisik infrastruktur bandara. Landasan pacu adalah aset bandara yang paling vital dan paling sering mengalami tekanan. Ratusan pendaratan dan lepas landas setiap hari menyebabkan keausan yang signifikan.
Untuk melakukan perawatan rutin seperti menambal keretakan, mengecat ulang marka landasan, atau melakukan pengecekan mendalam pada sistem pencahayaan dan peralatan navigasi kritis (seperti ILS), landasan pacu harus ditutup dan bebas dari lalu lintas udara. Jam-jam larut malam, ketika volume penerbangan berada pada titik terendah, adalah satu-satunya kesempatan yang memungkinkan tim maintenance bekerja tanpa mengganggu ribuan jadwal penerbangan siang hari.
Biaya dan Efisiensi Bisnis
Dari sudut pandang bisnis, menjalankan operasi 24 jam sering kali tidak efisien secara finansial. Permintaan penumpang untuk penerbangan yang berangkat antara pukul 01:00 hingga 05:00 umumnya sangat rendah, kecuali untuk penerbangan kargo atau jarak ultra-jauh.
Mengoperasikan terminal, mengerahkan petugas keamanan, staf ATC, dan kru darurat—yang semuanya seringkali digaji lebih tinggi pada shift malam—untuk melayani segelintir penerbangan tidak akan menutupi biaya yang dikeluarkan. Oleh karena itu, kecuali bandara tersebut berfungsi sebagai hub kargo utama global atau berada di lokasi terpencil tanpa masalah kebisingan (seperti Bandara Internasional Hong Kong yang dibangun di atas pulau buatan), keputusan untuk tidak beroperasi 24 jam adalah keputusan bisnis yang pragmatis.
Secara keseluruhan, meskipun idealisme modern mendorong bandara untuk selalu terbuka, realitas regulasi, lingkungan, dan ekonomi mendikte sebaliknya. Jam malam adalah kompromi yang memastikan keberlanjutan hidup masyarakat sekitar, keselamatan operasional landasan, dan efisiensi finansial bandara.
Hari ini, 16 tahun lalu, bertepatan dengan 15 Desember 2009, Boeing 787 Dreamliner sukses terbang perdana. Meskipun mampu mengeruk pasar twinjet jarak jauh dan turut andil mempercepat Airbus A380 pensiun, namun, Dreamliner rupanya sempat digadang bakal menghadapi masa-masa terakhirnya atau stop produksi di penghujung tahun ini.
Baca juga: Di Ketinggian 35.000 Kaki, Boeing 787-900 Virgin Atlantic Berhasil Tembus Kecepatan Mach 1
Dilansir laman resmi Boeing, 787 Dreamliner lahir sebagai jawaban perusahaan terhadap teknologi industri ke depan. Dalam pandangan produsen pesawat asal Amerika Serikat (AS) itu, maskapai penerbangan di seluruh dunia menginginkan pengalaman baru perjalanan udara untuk para penumpang namun tetap mencapai efisiensi tinggi.
Di samping itu, maskapai juga relatif menginginkan pesawat yang tak terlalu besar, namun juga tak terlalu kecil untuk melayani penerbangan jarak jauh antar benua.
Oleh karenanya, Boeing pun mengembangkan pesawat dengan kriteria tersebut sehingga munculah 787 Dreamliner. Efisiensi bahan bakar yang tak tertandingi dan fleksibilitas jangkauan pesawat menjadi jualan utama Dreamliner yang memungkinkan maskapai untuk membuka rute baru, mengoptimalkan kinerja armada, dan jaringan.
Bagi penumpang, 787 Dreamliner dikalim memberikan pengalaman lebih, dengan menawarkan kenyamanan dan sebaliknya sedikit kelelahan.
Sejak memasuki tahun layanan pada 2011 silam, keluarga Boeing 787 (787-8, 9, dan 10), yang mengusung mesin twinjet (dua mesin) serta konfigurasi penumpang dikisaran 240-336 penumpang, telah menerbangi lebih dari 1.900 rute dan telah memungkinkan maskapai membuka lebih dari 235 rute baru setiap tahunnya.
Disebutkan, saat ini, dari ratusan maskapai di seluruh dunia, keluarga Boeing 787 Dreamliner telah dioperasikan sekitar 69 maskapai; meliputi Air Canada, Air China, Air France-KLM, ANA, Qatar Airways, Singapore Airlines, dan British Airways.
Meskipun berhasil digandrungi banyak maskapai di seluruh dunia, Boeing 787 Dreamliner bukan tanpa masalah. Hingga kini, bahkan, maskapai-maskapai yang menggunakannya harus memutar otak akibat permasalahan pada mesin Rolls-Royce Trent 1000.
Boeing 787 specs. Foto: Tangkapan layar
Di antaranya ada Air New Zealand’s yang menangguhkan layanan penerbangan Auckland ke Shanghai dengan menggunakan Dreamliner. Ada juga British Airways yang biasa menerbangkan 787-9 ke Beijing dan Shanghai. Kemudian LOT Polish Airlines menggunakan Dreamliner untuk penerbangan ke Beijing dari Tallinn (ibukota Estonia) dan Warsawa (ibukota Polandia) hingga Virgin Atlantic Airways yang mengoperasikan penerbangan hariannya ke Shanghai dengan 787-9.
Terkait masalah mesin Rolls Royce, mungkin Dreamliner masih bisa mengandalkan varian mesin lainnya, GEnx-1B. Tetapi, perlu diingat, jauh sebelum permasalah pada mesin muncul, Boeing 787 Dreamliner juga pernah memiliki riwayat permasalahan pada sistem oksigen.
Sistem ini bekerja untuk tetap memasok oksigen bagi penumpang dan awak, saat tekanan udara dalam kabin turun (dekompresi). Masker udara akan turun dari langit-langit pesawat untuk memasok oksigen dari tabung gas. Tanpa sistem ini, siapa pun yang ada di pesawat akan lumpuh.
Baca juga: ‘Berkat’ Wabah Corona, Boeing 787 Dreamliner Air Tahiti Nui Pecahkan Rekor Penerbangan Terjauh
Pada ketinggian 35.000 kaki (sekitar 10.600 meter), kurang dari semenit penumpang akan pingsan. Pada ketinggian 40.000 kaki, mereka akan pingsan kurang dari 20 detik. Ini bisa disusul dengan kerusakan otak, bahkan kematian. Dekompresi sebetulnya jarang terjadi, tetapi bukan tidak pernah.
Bulan April 2018, jendela pesawat Southwest Airlines meledak, sesudah terhantam serpihan mesin yang rusak. Seorang penumpang yang duduk di samping jendela cedera parah dan kemudian meninggal dunia. Adapun penumpang lain bisa meraih oksigen darurat dan selamat. Masalah tersebut, walaupun tidak masif, namun cukup membuktikan bahwa permasalahan Dreamliner yang dilaporkan oleh John Barnett, eks manajer pengendalian kualitas di pabrik Boeing, benar adanya.
Polemik penumpang menginap di stasiun hingga berharap perjalanan KRL beroperasi 24 jam memang ramai diperbincangkan. Ya, beberapa waktu lalu penumpang berharap kalau perjalanan KRL bisa 24 jam, mengingat adanya pekerja lembur yang setiap harinya menggunakan KRL.
Pihak dari PT Kereta Api Indonesia Persero (KAI) mengemukakan bahwa wacana tersebut tentu harus dalam tahap kajian. Direktur Utama KAI pun turut buka suara terkait dengan wacana pengoperasian KRL Commuter Line hingga 24 jam. Wacana ini mencuat lantaran banyaknya pihak yang harus menginap di stasiun kereta demi menunggu kereta pagi.
Menurut Direktur Utama KAI, Bobby Rasyidin menyebutkan bahwa dari sisi pelayanan pelanggan tentu merupakan hal yang positif, tapi tentunya KAI harus mengkalkulasi secara keseluruhan karena pengoperasian kereta itu tidak mudah dan dipaksakan. Selain itu harus diperhatikan juga perawatan rangkaian dan aliran listrik termasuk kabel yang paling sering di gunakan.
Namun demikian, Bobby mengatakan bahwa pihaknya akan tetap melakukan kajian lebih jauh terkait dengan hal ini dengan melakukan koordinasi dengan kementerian perhubungan. Ada tiga aspek penting yang menyangkut pengoperasian perjalanan kereta yaitu keselamatan tentunya berkaitan juga dengan perawatan, sarana dan prasarananya. Kemudian dari aspek operasionalnya, lalu tentunya kenyamanan buat pelanggan.
Saat ini, operasional KRL juga sudah cukup sesuai standar dengan terakhir beroperasi di sekitar jam 24.00 dan kembali beroperasi di pukul 04.00 untuk dilakukan pemeliharaan. Jam operasi seperti ini juga sudah lumrah terjadi di kota besar lainnya seperti Tokyo.
Panjangnya jam operasional tersebut sering membuat sebagian calon pengguna masih memiliki kesempatan mengejar keberangkatan. Meski begitu, tak sedikit pula yang terkadang tertinggal kereta terakhir. Situasi inilah yang kemudian menjadi perhatian KAI Commuter untuk menjaga keamanan, kenyamanan, serta ketertiban layanan di setiap stasiun.
Pihak KAI terus menghimbau bahwa salah satu hal yang ditekankan adalah larangan untuk tidur di area stasiun, baik di lantai stasiun maupun bangku tunggu. Selain demi menjaga estetika dan kenyamanan, hal ini juga berkaitan erat dengan keselamatan dan kelancaran persiapan operasional stasiun menjelang hari berikutnya.
Setiap malam setelah Commuter Line terakhir berangkat, area setelah gate-in hingga peron akan dilakukan sterilisasi. Proses ini mencakup pembersihan menyeluruh dan pemeliharaan fasilitas agar seluruh pengguna dapat menikmati layanan yang optimal pada pagi hari.
Demi kelancaran proses tersebut, pengguna diminta menunggu di area luar stasiun atau area sebelum gate-in. KAI Commuter menegaskan bahwa petugas keamanan akan tetap bersiaga sehingga keamanan pengguna tetap terjamin meski menunggu di luar area operasional malam hari.
Masyarakat pengguna Comnuter Line kini semakin banyak dan antusias. Selain praktis, menggunakan Kereta Rel Listrik (KRL) tentu bisa menghemat biaya dan waktu. Terlihat ramainya masyarakat pengguna KRL lebih dominan di tiga jalur utama, yaitu lintas Bogor (red line), lintas Cikarang (blue line), dan lintas Rangkasbitung (green line).
Namun saat ini semakin ramainya penumpang KRL terlihat pada jalur Rangkasbitung. Setiap harinya pada stasiun keberangkatan yakni Stasiun Tanah Abang, Parungpanjang, dan Rangkasbitung sudah terlihat kepadatan penumpang. Pasalnya pada jalur ini transportasi berbasis rel ini sangat diperlukan. Mengingat banyaknya penumpang mayoritas warga Banten banyak yang menggunakan KRL.
Dari padatnya penumpang yang terlihat di jalur tersebut ternyata ada kabar baik yang beredar di media sosial. KAI Commuter baru-baru ini mengumumkan penyesuaian jadwal perjalanan Commuter Line untuk rute Tanah Abang – Parung Panjang yang akan dimulai pads Sabtu, 13 Desember 2025 mendatang.
Penyesuaian Grafik Perjalaban Kereta Api (Gapeka) 2025 yang diterapkan Sabtu mendatang secara spesifik mencakup beberapa poin utama. Di antaranya adalah penambahan 2 perjalanan Commuter Line Rangkasbitung untuk relasi Tanah Abang – Parung Panjang pada jam sibuk sore hari.
Adapun perjalanan tambahan tersebut adalah KA 7100, relasi Tanah Abang – Parung Panjang dengan jadwal keberangkatan pukul 18.40 WIB. Dan KA 7101, relasi Parung Panjang – Tanah Abang dengan jadwal keberangkatan pukul 20.40 WIB.
Penambahan perjalanan di lintas Rangkasbitung akan menambah jumlah rangkaian yang beroperasi menjadi 19 rangkaian. Tentunya estimasi jarak kedatangan maupun keberangkatan KRL jadi lebih singkat. Kedepannya, selain di jalur Rangkasbitung, penyesuaian jadwal juga akan berlaku pada layanan KRL blue line atau lintas Cikarang.
Mulai 13 Desember, perjalanan Commuter Line Cikarang akan mengalami penyesuaian jadwal pemberangkatan lebih cepat sekitar 3-6 menit dari jadwal yang berlaku saat ini. KAI Commuter mengimbau para pengguna yang hendak menggunakan Commuter Line Rangkasbitung dan Commuter Line Cikarang mulai 13 Desember untuk menyesuaikan kembali jadwal keberangkatannya.
KAI Commuter mengimbau seluruh pengguna untuk memeriksa kembali waktu keberangkatan sebelum bepergian. Pengecekkan jadwal dapat dilakukan melalui aplikasi Access by KAI, sosial media Commuter Line, atau laman situs resmi commuterline.id.
Menyandang status sebagai stasiun tua peninggalan Belanda kerap diidentikan dengan nuansa horor. Tak salah jika muncul anggapan tersebut, maklum keberadaan stasiun yang dimaksud telah melewati pergantian beberapa zaman, mungkin diantaranya termasuk periode masa-masa kelam. Dan salah satu yang disebut angker atau horor adalah Stasiun Manggarai, stasiun terbesar di Jakarta ini berdiri pada tahun 1914.
Cerita seran di stasiun Manggarai tentu yang paling kondang adalah tentang fenomena kereta hantu, disebut kereta hantu lantaran ada sosok kereta KRL Jabodetabek yang ‘bisa’meluncur sendiri dari Stasiun Bogor hingga Manggarai. Meski posisi Bogor lebih tinggi dari Jakarta, seandainya pun kereta bisa meluncur karena gaya gravitasi, semestinya kereta tidak akan mampu meluncur sejauh itu, dimana jarak antara Stasiun Bogor dan Stasiun Manggarai ada dikisaran 55 km.
Baca juga: Terowongan Stasiun Manggarai, Optimalkan Keselamatan Calon Penumpang
Karena kisah kereta hantu Manggarai cukup kondang diperbincangkan, para sineas pun ikut ambil bagian dan mengisahkan tentang kereta hantu yang ada di stasiun ini. KabarPenumpang.com merangkum dari berbagai sumber yang ada, cerita kereta hantu di stasiun Manggarai ini pun sudah tidak bisa dibedakan antara fakta dan mitos.
Sebab bila ditelusuri dari beberapa cerita yang ada, kereta ini nyata dan banyak saksi mata yang menceritakannya. Biasanya kereta ini berjalan diatas jam kereta beroperasi atau sudah tidak ada lagi kereta yang melintas. Ada cerita tentang kereta yang hilang setelah penumpangnya turun dan yang terakhir adalah kejadian dimana kereta tersebut terlihat secara fisik oleh mata siapapun.
Kereta listrik (KRL) misterius ini terjadi hampir sepuluh tahun yang lalu dimana jadwal terakhir kereta beroperasi pukul 22.00 WIB tidak seperti sekarang yang melitas sampai 24.00 WIB. Kereta misterius ini berjalan sendiri tanpa adanya masinis dan penumpang dari arah Bogor hingga ke stasun Manggarai.
Hal ini dituturkan oleh beberapa warga dan petugas penjaga lintasan KA. Saat itu perlintasan Bukit Duri, Jakarta Selatan masih beroperasi dan tiba-tiba sirene pintu perlintasan kereta berbunyi serta mengagetkan petugas yang menjaga malam.
Diketahui saat itu masih pukul 04.00 WIB dan harusnya belum ada jadwal kereta beroperasi sebab jadwal operasi KRL biasanya pukul 05.00 WIB. Tak lama sirene berbunyi melintas rangkaiaan kereta dengan empat gerbong dengan kecepatan 60-80 km per jamnya. Uniknya kereta ini berjalan tanpa pasokan listrik dengan kondisi gelap gulita bagian dalam gerbognya dan berhenti di tanjakan arah stasiun Cikini.
Dengan adanya cerita ini, membuat para sutradara mengangkat cerita tentang kereta hantu Manggarai. Ada dua film yang diproduksi dengan genre horor, pertama judulnya Kereta Hantu Manggarai yang dirilis tahun 2008 lalu dan Kereta Setan Manggarai rilis tahun 2009.
Baca juga: Manggarai, dari Tempat Budak Hingga Menjadi Stasiun Terbesar di Jakarta
Kereta Hantu Manggarai disutradarai oleh Nayato Fio Nuala dan Kereta Setan Manggarai di sutradarai oleh Nanang Istiabudi. Untuk film Kereta Setan Manggarai, sutradara mengangkat dari kisah nyata yang pernah ada.
Menggunakan kereta api tak cuma menikmati perjalanan dan keunggulan dari ketepatan waktu saja. Tapi sebagai penumpang, kita harus selalu disiplin saat naik kereta maupun saat memasuki stasiun. Salah satu disiplin yang harus dipatuhi adalah memiliki tiket. Tentunya penumpang kereta api yang selalu memiliki tiket bisa digunakan untuk tujuan yang diinginkan, seperti saat menggunakan Kereta Rel Listrik (KRL) Commuter Line.
Nah, yang selama ini kita gunakan berupa kartu elektronik yang dapat diisi ulang dimanapun selama kita berada di stasiun KRL Jabodetabek. Tarif pengisiannya pun bisa dimulai dari Rp10.000 hingga Rp1.000.000. Pengisiannya pun bisa melalui mesin otomatis maupun loket-loket stasiun yang telah tersedia. Petugas loket yang selalu stanby dan berjaga, melayani penumpang yang ingin mengisi ulang saldo yang ada di tiket elektronik tersebut.
Nah, petugas loket tersebut memang bertugas melayani penumpang dalam membantu mengisi ulang kartu elektronik atau yang biasa disebut KMT (Kartu Multi Trip). Tahukah kalian ternyata pekerjaan sebagai petugas loket tersebut tak senyaman yang kita lihat, lho. Memang mereka itu hanya tinggal duduk manis kemudian menggesek/mengetap kartu di mesin isi ulang yang tersedia setelah itu transaksi.
Menurut informasi yang dikutip laman Kompas mengatakan bahwa petugas yang bekerja delapan jam sehari tersebut selalu berjibaku ‘bermain’ tap kartu setiap harinya. Pekerjaannya juga tak cuma soal tap kartu isi ulang penumpang saja, tapi soal ketelitian, kesabaran, dan terkadang diplomasi level sedang.
Tak hanya itu, petugas loket juga tenyata selalu melakukan “ritual” sebelum melakukan tugasnya. Ritualnya adalah sebelum membuka loket, petugas selalu memastikan penampilan rapi, tubuh siap, pikiran fokus. Menghilangkan pikiran yang membuatnya jenuh itu wajib dilakukan karena kerjaannya bersentuhan langsung dengan uang dan sistem transaksi yang sensitif.
Sudah pasti jangan sampai gagal fokus. Satu kesalahan kecil saja bisa bikin penumpang ribut, antrean macet, dan operasional tersendat. Misalnya salah input, bisa bikin penumpang panik dan proses jadi berbelit. On time, sudah pasti dan harus kuat mental karena bertatap langsung dengan berbagai macam sifat manusia.
Walaupun risiko keselamatan utama ada di peron dan dipegang oleh satpam atau passenger service, petugas loket tetap siap membantu kalau ada penumpang yang kebingungan atau butuh pertolongan. Bisa diketahui bahwa di stasiun, semua unsur operasional bekerja kayak satu tim. Mereka menghadapi tekanan antrean, memproses transaksi sensitif, mengelola sistem, menghadapi penumpang baru hingga penumpang yang lagi bad mood, dan tetap harus senyum.
Intinya kita sebagai penumpang juga harus menjaga kepribadian yang baik saat mengantre untuk mengisi ulang kartu di loket. Sabar dan ikuti alur keadaan agar semua jadi lancar. Usahakan untuk memberikan senyum kembali. Ingat, mereka bukan robot, mereka manusia yang setiap hari membantu kita sampai ke tujuan.
Nama Liverpool tidak hanya dimiliki oleh kota pelabuhan ikonik di Merseyside, Inggris, tetapi juga oleh sebuah suburb penting di barat daya Sydney, Australia. Inti dari suburb Australia ini adalah Stasiun Liverpool, sebuah simpul transportasi vital yang berdiri sebagai pengingat abadi akan sejarah kolonial New South Wales.
Penamaan suburb Liverpool dan stasiunnya berawal dari era kolonial awal. Pada tahun 1810, Gubernur New South Wales saat itu, Lachlan Macquarie, menamai wilayah tersebut untuk menghormati Robert Banks Jenkinson, Earl of Liverpool, yang kala itu menjabat sebagai Menteri Perang dan Koloni di Inggris (dan kemudian menjadi Perdana Menteri Inggris).
Stasiun kereta api Liverpool sendiri dibuka pada tahun 1869, menjadikannya salah satu stasiun tertua yang masih beroperasi di wilayah Sydney. Pembukaan stasiun ini menandai perluasan jaringan kereta api dari pusat Sydney ke kawasan barat daya yang saat itu masih berupa daerah pertanian.
Meskipun letaknya jauh dari pusat Central Business District (CBD) Sydney, Stasiun Liverpool memiliki peran yang sangat penting, jauh lebih signifikan daripada banyak stasiun pinggiran kota lainnya, yaitu berfungsi sebagai titik persimpangan utama di Jalur South Line dan Inner West & Leppington Line. Semua layanan kereta api ke barat daya Sydney melewati atau berakhir di stasiun ini.
Stasiun Liverpool adalah pusat utama bagi area komersial dan pemerintahan di wilayah South-Western Sydney. Kehadiran stasiun ini telah mendorong pertumbuhan Liverpool sebagai pusat perkotaan regional yang mandiri. Di masa lalu, stasiun ini sangat penting untuk mengangkut produk pertanian dari wilayah tersebut ke Sydney. Saat ini, perannya bergeser menjadi arteri vital bagi ribuan komuter harian.
Stasiun Liverpool telah mengalami banyak perubahan, tetapi bagian dari arsitektur platform aslinya, yang khas era Victoria, masih terlihat.
Salah satu kisah menarik terkait stasiun ini adalah perannya selama Perang Dunia I dan II. Karena lokasinya yang strategis, Stasiun Liverpool menjadi simpul penting untuk mengangkut pasukan militer Australia (termasuk unit yang berbasis di Casula) ke pelabuhan Sydney sebelum mereka dikirim ke luar negeri. Stasiun ini menjadi saksi bisu perpisahan emosional keluarga dan tentara yang berangkat menuju medan perang.
Dengan perpaduan antara sejarah kolonial, peran komersial regional, dan arsitektur bersejarahnya, Stasiun Liverpool, Sydney, membuktikan bahwa namanya memiliki arti penting yang setara dengan ‘rekan-nya’ di Inggris dalam konteks sejarah Australia.
Stasiun transit yang satu ini termasuk stasiun yang cukup ramai dengan penumpang baik dari Jakarta maupun Bekasi. Stasiun ini juga terkenal dengan keunikan sejak dulu karena memiliki jalur atas dan bawah.
Ya, Kampung Bandan sebetulnya bukan hanya soal stasiun kereta nan unik, namun juga kisah asal-usulnya yang berkelindan dengan perkembangan Jakarta sebagai sebuah kota. Nama Kampung Bandan tak luput disebut dalam sejarah Jakarta sejak era kolonial Belanda.
Sejarah singkat mengatakan bahwa asal-usul Kampung Bandan menjadi sorotan dengan berbagai versi cerita. Ada yang menyebut bahwa nama Kampung Bandan berasal dari pulau Banda di Maluku.
Sementara versi lain menyebutkan bahwa kata “banda” diambil dari Bahasa Jawa yang berarti “ikatan”. Interpretasi lain mengaitkannya dengan kata “pandan”, mengacu pada pohon pandan yang dulunya tumbuh subur di kawasan ini.
Tak hanya sejarah yang dimiliki stasiun ini, ternyata ada hal lain yang dimiliki Kampung Bandan. Selain stasiun sebuah masjid tua yang dibangun akhir abad XVIII, Masjid Kampung Bandan, juga masih berdiri dengan pemandangan jalan tol ke arah bandara.
Di antara kekumuhan, kondisi tak sehat, kotor, berantakan, kawasan ini tetap layak menjadi tujuan wisata karena menyisakan stasiun dan masjid dari abad 19. Kampung Bandan dalam peta kawasan Kota Tua sesuai dengan Peraturan Gubernur No 34 tahun 2006 adalah batas bagian Timur. Jadi tempat ini pun masuk dalam program revitalisasi Kota Tua.
Sampai sekarang Stasiun Kampung Bandan tak hanya melayani penumpang, namun hingga kini masih berfungsi sebagai stasiun keberangkatan kereta barang yang melayani jurusan Jakarta-Surabaya pp. Tapi dari megahnya stasiun ini ternyata masih minim keamanan dan keselamatan bagi penumpang.
Ya, seperti yang terlihat pertama di stasiun ini banyaknya anak tangga untuk penyeberangan menuju ke peron lainnya. Ada total 5 jalur di Stasiun Kampung Bandan. Jalur 1 sampai dengan 3 melayani perjalanan KRL rute Jakarta Kota, Manggarai, maupun Cikarang. Sedangkan jalur 4 dan 5 atau berada di lantai atas untuk rute Jakarta Kota maupun Tanjung Priok.
Di tengah padatnya arus penumpang yang setiap hari berganti antara jalur yang disebutkan masih memiliki fasilitas yang minim membuat perjalanan di stasiun ini terasa seperti uji napas bagi banyak orang. Tentunya keluhan yang tak bisa dihindari saat ingin berpindah peron.
Tanpa eskalator, tanpa lift, dan tanpa jalur ramah difabel, keseharian penumpang di Kampung Bandan berubah menjadi pertaruhan kenyamanan bahkan keselamatan. Tentu ini berdampak pada penumpang lansia, disabilitias, ibu menggendong anak, hingga penumpang yang membawa barang lebih.
Harapan untuk Stasiun Kampung Bandan ini sangatlah besar apalagi menyangkut kenyamanan dan keamanan pengguna KRL. Dan sekali lagi, Stasiun Kampung Bandan bukan sekadar titik pemberangkatan. Stasiun ini menjadi jalur transit dari berbagai arah Jakarta Kota, Tanjung Priok, Angke, Duri, Pasar Senen, hingga Manggarai. Setiap hari, penumpang silih berganti memadati peron atas dan bawah.
Jika sudah tersedia fasilitas penunjang yang memudahkan penumpang untuk keselamatan, tentu merasa sangat terbantu. Apalagi Stasiun Kampung Bandan berusia sudah sangat lama serta penumpang yang transit sudah cukup padat. Dan jika ada fasilitas yang ramah akan penumpang lansia maupun disabilitas, tentu hal ini menjadi kabar baik bagi seluruh penumpang KRL. Kita tunggu saja!