Setelah MPV Everest Gagal, Justru KRI Spica 934 Berhasil Temukan CVR Lion Air JT-610

Setelah menanti hampir 2,5 bulan sejak jatuhnya pesawat Boeing 737 Max 8 Lion Air JT-610 PK-LQP di Perairan Karawang pada 29 Oktober 2018, maka berbagai upaya keras dilakukan guna menemukan salah satu bagian black box – CVR (Cockpit Voice Recorder), dan akhirnya pada pagi hari ini (14/1), perangkat elektronik yang paling dicari ini berhasil ditemukan dan telah diangkat ke permukaan oleh Komando Pasukan Katak (Kopaska) dan Dinas Penyelam Bawah Air (Dislambair) I pada pukul 09.10 WIB.

Baca juga: Sedih! Pencarian CVR Lion Air JT-610 oleh MPV Everest Tak Membuahkan Hasil

Serangkaian upaya sistematis di lapangan telah diupayakan oleh berbagai pihak untuk menemukan CVR, seperti pihak Lion Air yang telah menggelontorkan dana Rp38 miliar untuk menyewa kapal riset dan evakuasi bawah laut, MPV Everest. Selama 10 hari berturut-turut, kapal berbendera Belanda tersebut melakukan pencairan dengan peralatan canggih, namun pada 29 Desember 2018, pencarian berbiaya tinggi tersebut dihentikan, dan tidak ada hasil yang diperoleh.

Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) sebagai lembaga yang diberi kewengan untuk melakukan investigasi kecelakaan JT-610 nyatanya tak menyerah atas hasil nihil MPV Everest. Dengan deadline 29 Januari 2019, dimana merupakan tanggal terakhir beam CVR akan memancar, lantas diupayakan untuk meminta bantuan dari pihak Dinas Hidro Oseanografi (Disihidros) TNI AL, dengan mengerahkan kapal riset bawah air yang tergolong canggih, KRI Spica 934.

Dikutip dari tribunnews.com (14/1), Kepala Dinas Penerangan Komando Armada (Koarmada) I Letkol Laut (P) Agung Nugroho membenarkan adanya penemuan CVR tersebut. Penemuan CVR selama ini mengalami kesulitan, lantaran CVR yang ditemukan ternyata terbenam 8 meter di bawah dasar laut. “Jadi 8 meter di dalam lumpur. Kedalaman laut itu 30 meter ditambah lumpur 8 meter, jadi 38 meter,” jelas Agung.

Dilansir dari Indomiliter.com, KRI Spica 934 merupakan kapal survei dan pemetaan yang canggih karena dilengkapi dengan peralatan survei hidro-oseanografi terbaru, yang dapat digunakan untuk pengumpulan data sampai dengan laut dalam (deep water). Kapal ini dibangun oleh galangan OCEA di Perancis. Resminya golongan kapal dengan kemampuan seperti ini disebut OSV (Oceanographic Offshore Support Vessel).

Kapal dengan awak 40 personel ini dilengkapi dengan ROV (Remotely Operated Vehicle), yaitu robot bawah air yang dilengkapi kamera bawah air, sehingga dapat memberikan informasi visual kondisi di dalam laut, serta mampu mengambil contoh material dasar laut sebagai bahan penelitian, dengan kemampuan sampai dengan kedalaman 1000 meter.

Baca juga: Lanjutkan Pencarian Korban dan CVR JT-610, Lion Air Kucurkan Rp38 Miliar untuk Sewa MPV Everest

Dalam melaksanakan manuver kapal ini dilengkapi dengan Dynamic Position, Auto Pilot 70 dan stabilitas kapal menggunakan Anti Rolling Tank. Selain KRI Spica 934, TNI AL juga memiliki kapal sejenis dengan nama KRI Rigel 933. Kapal dengan panjang 60 meter dan bobot 515 ton ini dapat berlayar terus-menerus selama 20 hari.