Teknologi AI Tingkatkan Pelayanan dan Jumlah Penumpang Transjakarta

Dalam menunjukkan komitmennya, PT Transportasi Jakarta (Transjakarta) menghadirkan layanan transportasi publik yang efisien, modern, dan berbasis data. Terobosan strategisnya dalah penerapan teknologi kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI).

Di mana penerapan ini terbagi dalam dua pilar utama transportasi digital yakni sistem manajemen operasional berbasis AI dan aplikasi pelanggan TJ. Dalam ajang World AI Show yang diselenggarakan di JW Marriott Jakarta pada 9 Juli 2025, Direktur Sistem Teknologi Informasi dan Pelayanan Transjakarta, Raditya Maulana Rusdi yang akrab disapa Rama Raditya menyampaikan bahwa teknologi AI bukan hanya mendukung efisiensi sistem, tetapi juga membuka peluang nyata untuk peningkatan jumlah pelanggan secara
berkelanjutan.

Rama mengatakan, Transjakarta berupaya membangun ekosistem layanan yang adaptif, berbasis data, dan berorientasi pada pelanggan. Teknologi AI menjadi salah satu enabler utama yang kami yakini dapat mendorong pertumbuhan ridership. Saat ini, pelanggan harian Transjakarta telah mencapai angka 1,4 juta, dan dengan pemanfaatan AI secara menyeluruh, kami optimistis angka ini akan terus tumbuh secara signifikan.

“Implementasi AI secara konkret dapat dirasakan melalui aplikasi TJ:Transjakarta, yang resmi diluncurkan pada 4 September 2024 dan kini telah diunduh lebih dari satu juta kali. Aplikasi ini memungkinkan pelanggan mengakses informasi layanan secara real-time, mulai dari estimasi waktu kedatangan bus, pelacakan armada, hingga fitur perencanaan perjalanan yang membantu memangkas waktu tunggu secara signifikan,” jelasnya.

Aplikasi ini telah tersedia di sistem operasi iOS dan Android, menjadikannya semakin mudah diakses oleh masyarakat luas. Dengan pendekatan customer-centric, Transjakarta menempatkan pengalaman pelanggan sebagai prioritas utama dalam setiap pengembangan teknologi. Di sisi operasional, pemanfaatan AI digunakan untuk menganalisis pola mobilitas pelanggan di setiap halte dan armada berdasarkan data historis.

Hasil analisis ini menjadi dasar algoritma penjadwalan otomatis yang memastikan armada dialokasikan secara presisi sesuai dengan kebutuhan di lapangan. Penjadwalan tersebut kemudian dikirimkan langsung ke unit on-board (OBU) pada setiap bus, menciptakan integrasi menyeluruh antara pusat komando dan operasional lapangan.

“Dengan penerapan AI, kami tidak lagi mengandalkan intuisi semata, tetapi mengambil keputusan berbasis prediksi dan data akurat. Pemandangan halte kosong dengan bus-bus kosong yang datang akan menjadi semakin langka. Distribusi armada akan jauh lebih efisien dan responsif terhadap kebutuhan masyarakat,” tambah Rama.

Efisiensi ini bukan hanya berdampak pada peningkatan layanan, tetapi juga pada pengelolaan anggaran publik yang lebih bertanggung jawab. Optimalisasi rute dan frekuensi operasional berkontribusi langsung terhadap pengurangan beban subsidi dari Pemerintah Provinsi DKI Jakarta sebagai pemegang saham utama Transjakarta.

“Teknologi AI membuka babak baru dalam pengelolaan transportasi publik yang berkelanjutan. Kami percaya, dengan inovasi yang konsisten dan kepemimpinan berbasis data, Transjakarta tingkat regional,” tutup Rama.

Serba Canggih, Halte Bus di Seoul Dilengkapi Teknologi Kecerdasan Buatan dan Panel Surya

Pernah Jadi ‘Backbone’ Armada Garuda Indonesia, Inilah Rentetan Kecelakaan yang Melibatkan Fokker F-28

Punya kemampuan lepas landas dari landasan pendek, membuat spesifikasi Fokker F-28 cocok untuk banyak bandara-bandara. Boleh dikata, pesawat buatan Belanda ini cukup banyak digunakan di Indonesia pada era 1970-an hingga awal 2000-an, terutama untuk penerbangan domestik jarak menengah dan pendek.

Namun, kecelakaan yang melibatkan Fokker F-28 sering terjadi di bandara dengan cuaca buruk, runway pendek, dan navigasi terbatas. Hingga akhirnya Indonesia menghentikan pengoperasian F-28 secara bertahap setelah tahun 2000, dan digantikan oleh pesawat yang lebih modern dan baru, seperti Boeing 737 dan ATR 72. Sementara beberapa F-28 masih terus dioperasikan setelah dihibahkan kepada TNI AU.

Berikut adalah daftar kecelakaan yang melibatkan pesawat Fokker F28 di Indonesia, khususnya oleh Garuda Indonesia dan maskapai domestik lainnya.

1. Garuda Indonesia – PK-GVE (11 Juli 1979)
Lokasi: Gunung Sibayak, dekat Medan
Rute: Palembang – Medan
Korban: 61 tewas (tidak ada yang selamat)
Penyebab: CFIT (menabrak gunung saat pendekatan)

Hari Ini 46 Tahun Lalu, Fokker F-28 Garuda Indonesia Menabrak Gunung Sibayak, Tewaskan 61 Orang

2. Garuda Indonesia – PK-GVU (20 Maret 1982)
Lokasi: Bandara Tanjung Karang, Lampung
Rute: Jakarta – Tanjung Karang
Kejadian: Pesawat tergelincir dan terbakar saat mendarat di cuaca buruk
Korban: 27 tewas dari 45 penumpang
Penyebab: Pendekatan dalam badai + runway licin

3. Merpati Nusantara Airlines – PK-GFB (10 November 1987)
Lokasi: Bandara Sultan Mahmud Badaruddin II, Palembang
Kejadian: Tergelincir dari landasan, menyebabkan kerusakan total
Korban: Tidak ada korban jiwa, tapi pesawat rusak total
Penyebab: Masalah pengereman

4. Merpati Nusantara Airlines – PK-GFU (13 Januari 1990)
Lokasi: Bandara Kupang, Nusa Tenggara Timur
Kejadian: Tergelincir saat mendarat dalam cuaca buruk
Korban: Beberapa luka ringan
Status pesawat: Rusak berat

5. Merpati Nusantara Airlines – PK-GFU (15 November 2002)
Lokasi: Bandara Wamena, Papua
Kejadian: Tergelincir saat mendarat di runway basah
Korban: Tidak ada korban jiwa
Pesawat: Rusak parah, kemudian tidak dipakai lagi

Fokker F-28, Pernah Menjadi Tulang Punggung Armada Garuda Indonesia

Hari Ini 46 Tahun Lalu, Fokker F-28 Garuda Indonesia Menabrak Gunung Sibayak, Tewaskan 61 Orang

Hari ini 46 tahun lalu, bertepatan dengan 11 Juli 1979, dikenang sebagai salah satu momen kelam dalam sejarah dirgantara Indonesia, yakni jatuhya pesawat Fokker F-28 Fellowship MK1000 PK-GVE milik Garuda Indonesia di Gunung Sibayak, Sumatera Utara. Pesawat dengan nama “Mamberamo” tujuan Bandara Polonia, Medan tersebut menabrak Gunung Sibayak pada ketinggian 1.690 meter dan menewaskan semua awak dan penumpangnya.

Fokker F-28 PK-GVE lepas landas dari Bandara Talang Betutu, Palembang, dengan tujuan Bandara Polonia, Medan. Namun, ketika mendekati Medan untuk mendarat, pesawat nahas tersebut menabrak sisi Gunung Sibayak, sebuah gunung berapi yang terletak di dekat Berastagi, Sumatera Utara.

Insiden ini terjadi saat fase pendekatan ke bandara, di ketinggian sekitar 1.690 meter di atas permukaan laut. Seluruh 57 penumpang dan empat awak pesawat tewas di tempat.

Walaupun laporan investigasi lengkap tidak dipublikasikan luas, beberapa faktor yang sering dikaitkan antara lain terkait Controlled Flight Into Terrain (CFIT) – pesawat berada dalam kendali tapi secara tidak sengaja menabrak medan (gunung) karena kesalahan navigasi atau cuaca. Kemudian ada faktor navigasi non-presisi dan minimnya alat bantu pendaratan, yang mana saat itu, banyak bandara di Indonesia memiliki keterbatasan radar atau ILS (Instrument Landing System).

Faktor alam juga ikut menjadi peenentu, Gunung Sibayak sering tertutup kabut, yang dapat menyebabkan miskalkulasi posisi pesawat. Ini merupakan salah satu kecelakaan penerbangan paling mematikan di Indonesia pada dekade 1970-an yang menewaskan total 61 orang di dalamnya.

Fokker F-28, Pernah Menjadi Tulang Punggung Armada Garuda Indonesia

Catat! Mulai 16 Juli, KA Gumarang dan KA Tegal Bahari Tidak Lagi Pakai Kelas Bisnis

Dunia Railfans dikejutkan dengan kabar yang cukup mencengangkan sekaligus menggembirakan. Kabar tersebut sebenarnya sudah digadang-gadang mengenai berita tentang rangkaian Kereta Api (KA) Gumarang. Grup aplikasi percakapan Whatsapp pun jadi bahan perbincangan, bahwa KA Gumarang akan mengganti rangkaian yang saat ini masih menggunakan kelas Bisnis dan Eksekutif.

Kabar yang beredar nantinya rangkaian KA Gumarang akan diubah menjadi kelas ekonomi. Tentu informasi yang beredar KA yang terkenal dengan julukan rangkaian panjang ini nantinya akan berganti menjadi ekonomi New Generation. Hal ini membuktikan bahwa sudah tercantumnya denah kursi pada pemesanan secara online di Access by KAI mulai tanggal 16 Juli 2025. Itu berarti masa kedinasan terutama rangkaian bisnis sudah tidak melekat pada KA Gumarang.

Tak hanya sebagai KA Gumarang rute Pasar Senen-Surabaya Pasar Turi pp. yang berjalan di malam hari, sebagai KA yang biasa disebut ‘kereta rollingan’ ini tetap dijadikan sebagai KA Tegal Bahari rute Pasar Senen-Tegal pp. K

A Tegal Bahari masih menggunakan jadwal dengan Grafik Perjalanan Kereta Api (Gapeka) 2025 yaitu pada perjalanan di siang dan sore hari. KA Tegal Bahari juga semula menggunakan rangkaian yang sama seperti KA Gumarang, yaitu 9 kereta kelas bisnis dan 5 kereta kelas eksekutif ditambah dengan 1 kereta restorasi dan 1 kereta pembangkit. Nantinya saat diganti menjadi Stainless Steel New Generation menjadi stamformasi 5 kelas ekonomi dan 4 kelas eksekutif juga ditambah 1 kereta restorasi dan 1 kereta pembangkit.

KA Tegal Bahari Kembali Muncul, Tapi Kini “Turun Tahta”

Sebagai rangkaian kereta api yang sudah di perbaharui menjadi Stainless Steel New Generation, penumpang KA Gumarang maupun Tegal Bahari tentu dimanjakan dengan fasilitas baru yang lebih baik dan lebih nyaman. Kapasitas kursi kereta ekonomi New Generation saat ini menjadi 72 kursi sehingga jarak antar kursi menjadi lebih leluasa dengan formasi 2-2. Untuk rangkaian eksekutif memiliki 50 kursi. Pada kursi new generation juga ditambahkan fitur berupa penyesuaikan kemiringan (reclining) dan dapat diputar menyesuaikan dengan arah laju kereta (revolving).

Demi memanjakan pada masyarakat sebagai pengguna setia kereta api, PT Kereta Api Indonesia (KAI) selalu meluncurkan terobosan baru yang bisa membuat masyarakat lebih nyaman dan aman.

PT KAI juga berkomitmen untuk selalu mengedepankan layanan yang lebih baik dan lebih prioritas kepada penumpang supaya menghasilkan kepuasan saat menggunakan jasa kereta api. Dengan hadirnya nanti rangkaian baru untuk KA Gumarang dan Tegal Bahari, tentunya penumpang dapat pengalaman baru yang lebih baik.

Miliki Rangkaian Terpanjang, KA Gumarang Satu-satunya yang Masih Gunakan Kelas Bisnis di Rute Jakarta-Surabaya

MRT Jakarta Kolaborasi dengan Persija Revitalisasi Kawasan Blok M

Mengikuti jejak pendahulunya PT Transportasi Jakarta (Transjakarta), PT MRT Jakarta juga ikut berkolaborasi dengan PT Persija Jaya Jakarta atau dikenal Persija. Ini adalah Persatuan Sepak Bola Indonesia Jakarta yang belum lama ini menempati kendang baru mereka di Jakarta International Stadium (JIS) di Jakarta Utara.

Dengan menggandeng Persija, MRT Jakarta berharap dapat memperluas upaya MRT Jakarta dalam mengampanyekan penggunaan transportasi publik sebagai moda transportasi sehari-hari. Direktur Pengembangan Bisnis MRT Jakarta Farchad H Mahfud mengatakan kolaborasi ini, pihaknya akan melakukan penjajakan solusi sistem tiket pertandingan yang terintegrasi dengan tiket transportasi umum.

Kemudian juga melakukan co-branding dan kolaborasi merchandise serta menyelenggarakan event Bersama dan potensi kerja sama lainnya. Farchad menyebutkan, pihaknya juga menjadikan Ratangga (kereta MRT) sebagai media memperkenalkan para pemain Persija.

“Setiap harinya 120 ribu orang menggunakan MRT Jakarta. Ini bisa menjadi media menarik untuk memperkenalkan pemain Persija. Budaya Public transport,” ungkapnya kepada KabarPenumpang.com, kamis (10/7/2025).

Farchad menambahkan, meski MRT Jakarta belum sampai ke Stasiun Kota yang dekat dengan JIS, tetapi mereka tetap berkolaborasi dengan transportasi umum lainnya. Tak hanya itu, Farchad juga mengatakan, bahwa saat ini Blok M Hub yang sudah dikelola MRT Jakarta sejak 1 Januari 2025 kemarin tengah dalam pembenahan.

“Blok M Hub itu areanya sekitar 2,8 hektare dan sudah dalam perapihan serta penertiban. Kami akan memberikan ruang pandang yang luas bagi pejalan kaki,” kata dia.

Menurutnya, revitalisasi yang saat ini tengah dilakukan MRT Jakarta, bisa memudahkan warga menikmati perjalanan mereka di terminal bus modern Blok M.

“Kami tengah bikin desain dengan team mozaik Betawi dalam beautifikasi area dan bekerja sama dengan Dulux. Revitalisasi area retail underground agar warga menikmati perjalanan mereka. Kami juga melakukan penataan ground level serta menertibkan parkir liar,” jelas Farchad.

Dia menyebutkan, pembangunan Kawasan TOD Blok M – Sisingamangaraja juga akan menumbuhkan kegiatan masyarakat perkotaan di lahan-lahan sekitarnya seperti M Bloc Space. Selain itu juga akan meneguhkan Jakarta sebagai Ibu Kota Asean.

Gubernur DKI Jakarta Sahkan Peraturan TOD Blok M-ASEAN, Fatmawati dan Lebak Bulus

Terlihat di Ujung Rel Buntu, Inilah Sejarah Panjang Buffer Stop (Sepur Badug)

Peralatan yang satu ini akrab terlihat pada setiap jalur rel buntu. Inilah buffer stop (sepur badug) yang digunakan untuk mencegah rangkaian kereta keluar dari ujung rel. Desain badug bergantung, sebagian, pada jenis alat perangkai yang digunakan pada kereta api, karena ujung alat perangkai adalah bagian pertama dari kereta yang menyentuh badug.

Baca juga: Sepur Badug Adalah Rel Buntu Untuk Cegah Kereta Keluar dari Jalur

Sejarah buffer stop pada kereta api melibatkan evolusi desain dan kebutuhan keselamatan. Pada awal abad ke-19, seiring dengan perkembangan industri kereta api, muncul kebutuhan untuk membatasi gerakan kereta di ujung jalur. Buffer stop awalnya sederhana, terbuat dari kayu atau besi, dan berfungsi untuk memberhentikan gerakan kereta dengan menyerap energi dan mengurangi kerusakan.

Pada pertengahan abad ke-19, buffer stop mulai menggunakan peredam kejut atau peredam benturan untuk meningkatkan kemampuan menyerap energi. Desain mulai berkembang, dan beberapa buffer stop dilengkapi dengan peredam kejut yang dapat digantikan untuk meminimalkan kerusakan setelah tabrakan.

Pada abad ke-20, buffer stop modern mulai menggunakan bahan-bahan seperti karet dan baja yang lebih tahan lama. Sistem peredam kejut terus ditingkatkan untuk meningkatkan kemampuan meredam dan menyerap energi, memberikan perlindungan lebih baik terhadap kerusakan pada kereta dan fasilitas stasiun.

Buffer stop modern biasanya dirancang dengan bahan-bahan yang tahan lama dan sistem peredam kejut yang canggih. Teknologi seperti sensor dan sistem otomatisasi dapat digunakan untuk memantau dan merespon gerakan kereta, memberikan pengamanan tambahan.

Railfans Harus Tahu, Ini Jawaban Mengapa Jalur 1 atau 2 di Stasiun KRL Terkadang Berlawanan Arah

Buffer stop terus menjadi bagian integral dari infrastruktur kereta api, memberikan lapisan perlindungan untuk mencegah kereta melampaui batas akhir jalur. Meskipun buffer stop umumnya dapat menyerap energi dan mengurangi kerusakan, tetapi tetap penting untuk memperhatikan faktor keselamatan dan meminimalkan kemungkinan terjadinya tabrakan di ujung jalur.

Ini Arti dan Fungsi yang Dilakukan Petugas Stasiun Lakukan ‘Tunjuk-Sebut’ Saat Kereta Api Melintas

Kita pastinya menyadari dan melihat setiap berada di stasiun kereta api manapun, tentunya petugas stasiun menunjuk bahkan menyebut saat kereta api melintas. Ya, dari segi peraturan di kereta api yang berlaku itu ada arti dan fungsinya. Aktivitas tersebut adalah Semboyan 1, dimana petugas di stasiun siap menerima kedatangan kereta api.

Baik stasiun besar maupun kecil petugas yang melayani kedatangan maupun keberangkatan kereta api, pastinya melakukan aktivitas semboyan 1 tersebut. Terlebih jika kereta api dalam keadaan setelah berhenti ataupun melintas langsung di stasiun.

Namun jangan salah, melakukan aktivitas semboyan 1 ini harus sesuai dengan Standar Operasional Pegawai (SOP) yang berlaku. Selain menunjuk saat akhir dari kereta api melintas, petugas tersebut juga harus berucap untuk memastikan keberadaan semboyan pada akhir kereta api terlihat. Biasanya petugas stasiun ini mengatakan kalimat, “21 lengkap”. Tanda bahwa semboyan 21 terlihat di akhir rangkaian kereta.

Tunjuk Sebut yang dilakukan petugas Pengatur Perjalanan Kereta Api (PPKA) saat kereta api melintas. (Foto: Dok. Istimewa)

Semboyan 1 menandakan kepada masinis bahwa jalur yang akan dilewati kereta api berstatus aman, kereta api boleh berjalan seperti biasa dengan kecepatan yang telah ditetapkan dalam peraturan perjalanan. Semboyan 1 dibagi menjadi dua yaitu semboyan 1 siang dan semboyan 1 malam. Untuk semboyan 1 siang ditandai PPKA berdiri tegak, sementara semboyan 1 malam petugas yang berdiri tegak membawa lampu semboyan berwarna hijau yang dijinjing sejajar dengan paha petugas dan tidak digerak-gerakkan.

Nah, maksud dari petugas PPKA berdiri di peron adalah untuk mengawasi kereta yang lewat terutama semboyan-semboyan yang diperlihatkan oleh kereta api tersebut. Serta untuk mengawasi kondisi rangkaian terutama peralatan yang terdapat di bawah kereta atau rangka bawah terhadap kemungkinan kerusakan yang membahayakan keselamatan perjalanan kereta api. Setelah melakukan semboyan 1, jika kereta api hampir selesai melintas seluruhnya, maka PPKA wajib menunjuk-sebut semboyan 21 yang berada pada akhir rangkaian kereta sebagai tanda bahwa rangkaian kereta api dinyatakan lengkap.

Untuk menjamin keselamatan perjalanan para penumpang, pihak PT Kereta Api Indonesia (KAI) akan selalu memastikan keamanan setiap aspek operasional dengan detail. Jadi tak perlu ragu untuk memilih kereta api sebagai perjalanan yang aman, nyaman, dan selamat sampai tujuan.

‘Tunjuk Sebut’ Selalu Dilakukan Masinis Saat Berdinas, Biar Fokus?

Sembilan Hari Pasca Penambahan Jadwal, KAI Layani 862 Ribu Pengguna LRT Jabodebek dengan Ketepatan Waktu Mencapai 99,96%

Penambahan jumlah perjalanan LRT Jabodebek yang mulai diberlakukan sejak 1 Juli 2025 telah berjalan selama sembilan hari. Hasil evaluasi menunjukkan bahwa penyesuaian jadwal tersebut memberikan dampak positif, baik dari sisi kenaikan jumlah pengguna maupun kinerja operasional yang tetap terjaga optimal. Selama periode 1–9 Juli 2025, layanan LRT Jabodebek mencatat tingkat ketepatan waktu perjalanan mencapai 99,96% serta melayani lebih dari 862.892 pengguna.

Rata-rata pengguna pada hari kerja mencapai 108.124 pengguna, sementara di akhir pekan rata-rata 53.009 pengguna per hari. Lonjakan ini menunjukkan tingginya antusiasme masyarakat terhadap transportasi publik yang nyaman, tepat waktu, dan semakin terjangkau.

Selain pertumbuhan jumlah pengguna, tingkat ketepatan waktu perjalanan atau on-time performance (OTP) juga menunjukkan konsistensi yang sangat baik, yakni 99,94% untuk keberangkatan, 99,97% untuk kedatangan, dan jika dirata-rata 99,96%.

Executive Vice President LRT Jabodebek, Mochamad Purnomosidi menyampaikan apresiasinya kepada para pengguna.

“Kami bersyukur atas kepercayaan masyarakat selama sepekan terakhir sejak penambahan jadwal diberlakukan. Kinerja operasional yang tetap terjaga ini menjadi semangat bagi kami untuk terus memberikan layanan yang prima bagi masyarakat,” ujar Purnomosidi.

Tiga stasiun dengan pengguna tertinggi selama sepekan terakhir:
• Dukuh Atas BNI: 141.301 pengguna tap in, 129.126 tap out
• Harjamukti: 97.924 tap in, 99.650 tap out
• Kuningan: 79.786 tap in, 74.867 tap out

Sebagai pengingat, mulai 1 Juli 2025, jadwal perjalanan LRT Jabodebek pada hari kerja (Senin hingga Jumat) ditingkatkan dari 366 menjadi 398 perjalanan per hari. Penambahan ini dilakukan untuk meningkatkan kapasitas layanan dan memberikan kenyamanan lebih bagi pengguna, khususnya pada jam-jam sibuk.

Informasi jadwal keberangkatan dapat diakses melalui Instagram resmi LRT Jabodebek di @lrt_jabodebek.

Penambahan jadwal ini merupakan bagian dari komitmen berkelanjutan KAI untuk menghadirkan layanan transportasi publik yang andal, efisien, dan ramah lingkungan bagi masyarakat Jabodebek.

Masih Bingung Stasiun LRT Mana yang Terhubung dengan KRL Commuter Line? Simak Penjabarannya

Terminal Tanjung Priok Kini Dikenal Sebagai Terminal Angkot

Di tengah hiruk pikuk pelabuhan dan padatnya arus kendaraan kontainer, Terminal Tanjung Priok menyimpan sejarah panjang sebagai salah satu simpul transportasi darat paling penting di ibu kota. Bagi banyak orang, nama Tanjung Priok mungkin langsung terasosiasi dengan pelabuhan terbesar di Indonesia.

Namun tak banyak yang tahu bahwa terminal bus antarkota di kawasan ini pernah menjadi denyut nadi mobilitas warga dari dan menuju Jakarta. Terminal Tanjung Priok berdiri sejak era 1980-an sebagai bagian dari pengembangan kawasan pelabuhan.

Pada masa kejayaannya, terminal ini melayani ratusan keberangkatan bus setiap harinya, terutama menuju wilayah barat dan utara Pulau Jawa, seperti Banten, Cirebon, Indramayu, hingga Semarang. Terminal ini juga menjadi titik penting bagi buruh pelabuhan, nelayan, dan warga sekitar yang menggantungkan hidup dari aktivitas ekonomi maritim.

Lokasinya yang strategis, berdampingan dengan Stasiun Tanjung Priok dan Pelabuhan Tanjung Priok, membuat terminal ini memiliki peran unik yakni menghubungkan moda laut dan darat secara langsung. Banyak penumpang kapal yang melanjutkan perjalanan dengan bus antarkota dari terminal ini.

Tak jarang juga, barang bawaan dari kapal laut ikut diboyong ke daerah-daerah lewat bagasi bus. Namun, memasuki era 2000-an, geliat Terminal Tanjung Priok mulai meredup. Perubahan rute transportasi, pembangunan jalan tol, dan pemindahan fungsi ke terminal-terminal lain seperti Terminal Pulo Gebang dan Kalideres menyebabkan arus penumpang berkurang.

Ditambah lagi dengan pembangunan infrastruktur pelabuhan yang semakin modern, terminal ini perlahan tak lagi menjadi pilihan utama. Kini, Terminal Tanjung Priok lebih dikenal sebagai terminal angkutan dalam kota dan area bagi sebagian armada bus yang tersisa serta beroperasi dari sana.

Beberapa bangunan tua masih berdiri, menjadi saksi bisu masa keemasan terminal yang pernah begitu hidup. Di sudut-sudutnya, tersisa cerita tentang pedagang kaki lima yang dulu ramai, porter yang bersahut-sahutan, dan deru mesin bus yang silih berganti.

Meski tak sepadat dulu, Terminal Tanjung Priok tetap memiliki tempat tersendiri dalam ingatan banyak warga Jakarta. Ia bukan sekadar tempat naik-turun penumpang, melainkan bagian dari sejarah mobilitas masyarakat kota pelabuhan ini.

Kini, seiring waktu, terminal ini menjadi pengingat akan pentingnya menjaga dan merawat simpul-simpul sejarah transportasi. Sebab, dari tempat seperti inilah wajah kota dan dinamika warganya terbentuk.

Setiap 17 Juni Diperingati Sebagai Hari Dermaga di Indonesia, Ternyata Berlatar Sejarah

Pelindo Mulai Terapkan Sistem e-Pass di Pelabuhan Jayapura

Pembayaran secara cashless atau non-tunai dewasa ini semakin banyak digunakan. Selain memudahkan, Anda juga tidak perlu membawa uang tunai dalam jumlah banyak lagi yang memenuhi dompet.

kehadiran pembayaran non-tunai ini, Anda hanya menggunakan kartu uang elektronik atau scan barcode dari mobile banking. Hal ini juga kemudian digunakan oleh pihak Pelabuhan untuk meningkatkan pelayanan dan kenyamanan bagi pengguna jasa Pelabuhan.

Di mana pihak Pelabuhan Jayapura kini terus mendorong penggunaan kartu uang elektronik sebagai akses masuk ke Pelabuhan. Penggunaannya baik untuk pengunjung pejalan kaki, pengantar maupun penjemput yang menggunakan kendaraan roda dua atau roda empat.

Mereka akan diarahkan untuk menggunakan system e-Pass berbasis elektronik. Dilansir dari berbagai laman sumber, General Manager PT Pelindo Regional 4 Jayapura, Ramdan Affan Kiai Demak mengatakan, penerapan system ini memberikan dampak signifikan terhadap ketertiban dan efisiensi di area pelabuhan.

“Dulu kondisinya semrawut dan padat karena banyaknya angkutan kota yang tidak teratur. Kini mulai tertata dengan lebih baik,” kata Ramdan.

Dia mengatakan, ketertiban terjadi karena para pengemudi angkutan kota (angkot) sudah dilengkapi dengan kartu uang elektronik. Sehingga pengaturan kendaraan menjadi lebih terkendali. Meski begitu, pengelola mengaku bahwa kenyamanan pengunjung masih bersifat relative.

Ramdan menyebutkan bahwa pihaknya baru menyediakan tempat menaik turunkan penumpang bukan area parkir seperti di terminal. Hal ini yang kemudian membuat kenyamanan masih bergantung pada kebutuhan dan persepsi masing-masing pengguna.

“Sistem e-Pass sangat membantu dalam pengelolaan arus kendaraan dan pencatatan data. Seluruh transaksi kini dilakukan secara non tunai, yang tidak hanya mempercepat proses masuk dan keluar, tetapi juga mempermudah pengumpulan data pendapatan secara real time dan akurat,” kata dia.

Penerapan teknologi dalam pengelolaan pelabuhan ini menjadi langkah maju dalam mewujudkan pelayanan publik yang lebih modern dan efisien.

“Kami berharap, sistem ini dapat terus disempurnakan dan diterima oleh seluruh pengguna jasa pelabuhan,” ujarnya.

Pelaksanaan tarif progresif dalam sistem e-Pass juga memberikan sejumlah manfaat nyata, antara lain adalah mengurangi kemacetan, tarif progresif mendorong pengguna untuk lebih efisien dalam menggunakan waktu, sehingga mengurangi potensi kemacetan di kawasan pelabuhan.

Meningkatkan fisiensi, di mana rus lalu lintas menjadi lebih terkelola yang secara langsung mengurangi waktu tunggu dan biaya operasional. Mengoptimalkan infrastruktur yang membuat sistem ini membantu mengatur penggunaan gerbang masuk dan keluar dengan lebih efektif, melalui pengaturan waktu kedatangan dan keberangkatan kendaraan.

Selain itu juga meningkatkan pendapatan, dengan sistem pembayaran yang lebih efektif, pelabuhan mampu meningkatkan pendapatannya secara signifikan.

Star Voyager Bersandar di Pelabuhan Kuala Tanjung, Pelindo Beri Kenyamanan Pelancong