Bandara Abu Dhabi Bangun Mega Terminal

Bandara Abu Dhabi di Uni Emirat Arab akan membuka fasilitas terbesarnya pada tahun 2019 mendatang. Fasilitas ini adalah mega terminal baru yang nantinya mampu menampung 84 juta penumpang per tahun dan saat ini sudah rampung 86 persen.

KabarPenumpang.com melansir dari laman gulfnews.com (9/11/2017), terminal yang mengabiskan biaya hingga Dh10 miliar UEA ini akan bisa dilihat desainnya pada kuartal terakhir tahun 2019. Tak hanya mampu menampung 84 juta penumpang, bagasi yang mampu di tampung 19.200 buah per jamnya dan memiliki 35 ribu meter persegi toko bebas bea, restoran serta hiburan.

Baca juga: Selama Ramadhan, Dirlantas Abu Dhabi Larang Truk dan Bus Beroperasi Saat Peak Hour

Dari tampilannya, terminal ini akan memiliki fasilitas yang super besar dengan ikon yang canggih. Terminal ini juga akan meningkatkan sektor penerbangan Abu Dhabi untuk memenuhi lonjakan permintaan dan membantu diversi ekonomi.

“Ini (bandara-red) adalah masa depan Abu Dhabi tampil dan berubah menjadi bangunan bandara terminal terbesar di dunia di bawah satu atap. Ini terminal adalah kebanggaan Abu Dhabi,” kata Abdul Majeed Al Khoori, chief executive petugas di Bandara Internasional Abu Dhabi.

Dia mengatakan, jika sesuai jadwal yang sudah disepakati dengan kontraktor, terminal ini akan siap pada akhir 2019. Sebab pihaknya percaya dengan tim kontraktor yang membangun terminal tersebut.

Mega terminal bandara Abu Dhabi (The National)

Dalam pembuatan mega terminal ini Al Khoori mengaku tantangannya yakni karena ukuran terminal yang super besar dan keterlibatan sistem di dalamnya.

“Tujuannya adalah menjadi yang nomor satu di dunia dalam arti customer service. Saat ini, kami adalah nomor satu di Timur Tengah dalam layanan pelanggan, tahun lalu kami mengambil bandara terbaik di Timur Tengah untuk layanan pelanggan,” tambahnya.

Sulaiman D Al Siksek, kepala staf program aksi di Bandara Internasional Abu Dhabi, juga menegaskan bahwa proyek tersebut sedang dalam proses penyelesaian setelah ditunda.

Baca juga: Bandara Abu Dhabi Cabut Larangan Elektronik Masuk Amerika Serikat

“Kami sedang membangun bangunan ikonik, ini bukan bangunan sederhana, ini adalah bangunan mutakhir. Begitu selesai, itu akan menjadi bangunan yang fantastis, tapi dengan itu banyak tantangan. Di sinilah kita sebagai tim proyek harus duduk dengan semua konsultan, kontraktor, dan semua subkontraktor untuk menjaga momentum berjalan. Ya, kami memiliki tantangan, tapi kami dapat mengatasi tantangan yang memiliki beberapa dampak pada jadwal kami. Kita sekarang bergerak maju ke penyelesaian gedung, “tambahnya.

Diketahui, selain mampu menampung 84 juta penumpang pertahun, mega terminal ini memiliki luas 742 ribu meter persegi, mampu menangani 11 ribu penumpang per jamnya dan lebih dari 15 ribu pekerja terlibat konstruksi.

Grab Singapura Uji Coba “Bus On Demand” dengan Aplikasi GrabShuttle Plus

Penyedia transportasi berbasis online, Grab, baru-baru ini memulai uji coba untuk layanan berbasis permintaan (on demand) di Punggol, Singapura setelah empat bulan Land Transport Authority (LTA) mengumumkan untuk mencari pelayanan bus seperti ini. Layanan baru ini diluncurkan Rabu 11 November 2017 kemarin yakni GrabShuttle Plus.

Baca juga: Singapore Airlines dan Grab Integrasikan Layanan Ridesharing di Satu Aplikasi

KabarPenumpang.com merangkum dari straitstimes.com (8/11/2017), para pengguna yang melakukan pemesanan pada aplikasi di smartphone kini dapat mengharapkan sebuah bus antar jemput yang tiba sekitar lima sampai sepuluh menit sebelumnya dan bisa membawa mereka ke stasiun sekitar Punggol.

Wahana GrabShuttle Plus ini tersedia antara pukul 06.00 pagi dan 22.00 dan tarif yang dikenakan S$1,20. GrabShuttle terbaru ini berbeda dari yang sebelumnya diluncurkan, ini adalah kolaborasi Government Technology Agency of Singapore, yang hanya beroperasi pada rute dan timing tetap.

Kepala GrabShuttle Singapura, Mr James Ong, mencatat bahwa Grab mengambil bagian dalam tender untuk bus on demand LTA. Uji coba Punggol, nantinya akan membantu mengumpulkan wawasan untuk memberikan layanan yang superior jika dipilih.

James mengatakan dengan adanya ini akan melengkapi jaringan transportasi umum yang lebih luas. “Kami memiliki kepercayaan yang sama dengan LTA bahwa layanan bus dinamis dapat memberikan pengalaman perjalanan yang lebih baik dan mengoptimalkan sumber daya dan biaya operasional,” tambahnya.

James menggambarkan Punggol sebagai testbed alami untuk layanan baru ini yang mencatat bahwa penghuninya adalah pengguna Grab biasa. Tak hanya Punggol, kedepannya jika Grab terpilih, maka layanan baru ini akan mencakup wilayah lain juga.

Saat ini Grab sedang fokus membuat lebih banyak orang menggunakan layanan ini sehingga bisa mempelajari pola perjalanan untuk layanan bus dinamis ini. Aplikasi GrabShuttle Plus terbaru ini akan tersedia di iOS dan Android dengan didukung oleh teknologi Kanada dari Startup RideCo yang menawarkan layanan serupa di Ontario, Kanada.

Baca juga: Di Kanada Uber Jadi Transportasi Umum Dengan Trayek Khusus 

James mengatakan, Rideco menyediakan platform yang memungkinkan Grab untuk mempelajari perilaku pengguna dengan penyempurnaan teknologi minimal pada bagiannya. “Kami akan merambah secara global dengan mitra operator transportasi lokal, berkat skala Grab dan pengetahuan pasar lokal membuat solusi ini menjadi kombinasi yang sempurna,” kata pendiri RideCo, Prem Gururajan.

Dia mengatakan bahwa RideCo ingin memperluas jangkauannya di Asia Tenggara, dan mengharapkan untuk meluncurkan lebih banyak layanan di wilayah ini dalam beberapa bulan mendatang. Sedangkan para pengamat mengatakan mereka tidak terkejut dengan layanan terbaru Grab.

Bus on demand seperti layanan ride sharing GrabShare atau Uberpool on steroids, kata dosen senior Ilmu Pengetahuan Universitas Singapura Park Byung Joon, yang mengkhususkan diri pada transportasi perkotaan. Dr Lee Der Horng, seorang peneliti transportasi dengan National University of Singapore, mengatakan dengan pengalamannya dalam menawarkan layanan penyewaan, Grab memiliki lebih banyak pengalaman dalam menangani big data dan juga penanganan permintaan komuter.

Azmi Mohamed, seorang penumpang mengatakan bahwa layanan bus on demand bukanlah pengganti yang menarik untuk layanan bus pengumpan, yang sudah sangat biasa dan murah, dengan tarif dibatasi 77 sen per perjalanan. Tetapi spesialis IT mencatat bahwa layanan bus on demand semacam itu bisa menjadi keuntungan saat bepergian di antara tempat-tempat yang berada di dekatnya, namun tidak dilayani oleh layanan bus konvensional.

 

‘Kejar Setoran’, PT MRT Jakarta Larang Pengunjung Tengok Perkembangan Proyek

Manajemen PT MRT Jakarta telah memberlakukan kebijakan menutup kunjungan ke lokasi proyek MRT per 1 Januari 2018. Kunjungan lapangan yang rutin dilakukan setiap hari Kamis akan ditutup untuk masyarakat dalam rangka percepatan penyelesaian pekerjaan konstruksi MRT Jakarta Fase I yang membentang dari Lebak Bulus hingga Bundaran HI.

Baca Juga: Punya Desain Unik, MRT Jakarta Beri Warna Berbeda di Tiap Stasiun

Kebijakan ini diterapkan di sepanjang lokasi proyek MRT Jakarta dari Lebak Bulus-Bundaran HI. Selain faktor percepatan pekerjaan konstruksi, adapun faktor keselamatan dimana kondisi lapangan yang sudah tidak memungkinkan untuk dilakukan kunjungan oleh masyarakat, dikarenakan adanya sejumlah aktivitas pekerjaan konstruksi yang semakin meningkat di masing-masing lokasi proyek.

Pekerjaan konstruksi yang dimaksud diantaranya seperti pekerjaan pemasangan rel di sepanjang jalur dan stasiun MRT, pekerjaan mechanical/electrical, pekerjaan arsitektural stasiun, dan sebagainya.

Baca Juga: Box Girder MRT Jakarta Terakhir Sambungkan Jalur Lebak Bulus-Bundaran HI

PT MRT Jakarta sangat berterima kasih atas besarnya minat dan dukungan masyarakat selama ini dan mengharapkan pengertian dan kerja sama dari masyarakat untuk terus mendukung pelaksanaan proyek ini demi mencapai komitmen operasional pada bulan Maret 2019.

Uber Donasikan US$5 Juta Untuk Cegah Pelecehan dan Kekerasan Seksual

Sebagai salah satu perintis layanan transportasi berbasis online, Uber berniat untuk menyumbangkan US$5 juta untuk mencegah penyerangan seksual dan kekerasan dalam rumah tangga selama lima tahun. Usaha Uber ini sama seperti memperbaiki perusahaan untuk tujuan yang baik. Tak hanya itu, perusahaan yang saat ini memiliki pendapatan lebih dari US$60 miliar itu harus bisa berbuat baik dan membersihkan citra buruknya.

Baca juga: Rencana Rilis Layanan Bus, Uber Ogah Bentrok Dengan Transportasi Umum (Lagi)

KabarPenumpang.com melansir dari laman engadget.com (6/11/2017), sumbangan ini akan akan diberikan selama lima tahun ke organisasi yang membantu mencegah penyerangan seksual dan kekerasan dalam rumah tangga. Salah satu organisasi yakni A Call to Men yang merupakan Jaringan Nasional untuk mengakhiri kekerasan dalam rumah tangga, tidak ada lagi dan fokus pada mengatasi kesenjangan pendanaan yang kritis di masyarakat tersingkir.

“Sebagai hasil dari kolaborasi yang sedang berlangsung ini, kami telah mulai melakukan perubahan penting secara internal dan akan berkomitmen untuk menggunakan cakupan dan visibilitas Uber untuk membantu mendorong kesadaran, pendidikan, dan pencegahan kekerasan seksual dan kekerasan dalam rumah tangga terhadap jutaan orang di seluruh dunia,” kata pengumuman Uber.

Hal ini bisa dilihat sebagai gerakan hubungan masyarakat dimana Uber memiliki reputasi seksisme yang meluas dalam jajarannya dan masalah dengan pengemudi. Hal ini dimana pengemudi melakukan segala sesuatu mulai dari pelecehan hingga pemerkosaan dan ini dapat memperbaiki citra Uber.

Skandal yang pernah terjadi di Uber adalah kejadian Harvey Weinsten dan telah mendorong banyak orang untuk maju dan bercerita tentang kekerasan seksual dan pelecehan yang terjadi. Karena masalah ini Uber tidak mau tetap tutup mulut dan maju dengan tidak tuli terhadap masalah ini.

Namun pada saat yang sama, hal ini mencerminkan usaha Uber untuk memperbaiki semuanya apalagi sejak Travis Kalanick mengundurkan diri. Dengan adanya ini, perusahaa kemudian mengambil langkah nyata untuk mengatasi seksisme, pelecehan dan penyerangan.

Baca juga: Uber Berlakukan Sistem Denda Bagi Penumpang yang Terlambat

Selain itu Uber juga memberikan pelatihan kesadaran untuk para eksekutif dan perwakilan pelanggan serta perekrutan yang ditujukan khusus untuk memperbaiki budaya perusahaan. Di tahun-tahun sebelumnya, janji ini tak pernah terealisasikan dan sekarang setidaknya mencerminkan apa yang ingin Uber lakukan dan akan terus menjadi yang lebih baik jika di masa yang akan datang.

Dampak Proyek Terowongan Metro, Ribuan Tikus Banjiri Jalanan di Melbourne

Kota Melbourne di Negara Bagian Victoria, Australia sedang berbenah diri dengan membangun Metro Tunnel atau terowongan Metro bawah tanahnya. Sebagai dampak dari pembangunan tersebut, habitat atau tempat hidup tikus-tikus di bawah tanah nyatanya ikut terganggu.

KabarPenumpang.com melansir dari laman abc.net.au (8/11/2017), karena hal ini, tikus-tikus tersebut seperti berada di ‘ajang perlombaan’ yang diadakan kota Melbourne. Walikota Melbourne Robert Doyle mengatakan, tikus-tikus saat ini lebih banyak berkeliaran di jalanan kota dari biasanya.

Baca juga: Mau Naik Kereta Bawah Tanah? Ternyata Ada Etikanya

Sebab tempat tinggal tikus-tikus tersebut terganggu oleh pembangunan terowongan Metro sehingga hewan pengerat ini mau tak mau mencari tempat tinggal baru dan naik ke jalanan kota. Diketahui, saat ini ada lima stasiun bawah tanah baru yang akan dibangun di pusat kota Melbourne sebagai bagian dari terowongan kereta api baru.

Nantinya lima stasiun yang akan dibangun ini akan menghubungkan jalur Cranbourne dan Peknham dengan jalur Sunbury. CR Doyle mentakan, kadang kala satwa liar yang tinggal dibawah CBD (Central Business Dictrict) mengejutkan orang-orang.

“Ada semacam eksistensi sub fauna, seperti tikus, rubah dan ular. Ketika ada pekerjaan penggalian yang besar, seperti yang kita lihat di sekitar kota saat ini, hal itu mendorong mereka dari kehidupan bawah tanah agar terlihat,” ujarnya. Cr Doyle mengatakan hal tersebut bukan bagian dari wabah, dan kini sedang dilakukan cara pembasmian yang tepat. Untuk pembasmian secara alami, petugas anti hama di Melbourne akan menggunakan metode umpan.

Menteri Transportasi Umum Victoria, Jacinta Allan mengatakan bahwa otoritas kereta Metro Melbourne akan bekerja dengan perusahaan yang terkena dampak untuk melakukan pengendalian hama. Dia mengatakan, tak menyangka ada peningkatan hama dan hewan pengerat yang muncul ke permukaan jalan terutama di tahun ini.

Menurut Victoria, tikus memiliki resiko yang tinggi bagi pemilik properti. Sebaliknya pembasmi hama Ryan Mulcaire mengatakan, bahwa jumlah tikus di CBD tidak lebih tinggi dari biasanya. “Mereka benar-benar tidak dalam proporsi wabah, mereka hanya ingin bergerak,” katanya.

Baca juga: Inilah 10 Kereta Bawah Tanah Paling Keren di Dunia!

Dia mengatakan, sementara manusia dan tikus hidup berdampingan, satu cara yang paling mudah adalah melakukan pemusnahan untuk menjaga populasi tikus tetap terjaga. Mulcaire mengatakan, tikus mirip dengan kelinci untuk cara berkembang biaknya. Tikus merupakan resiko bagi pemilik properti karena mereka memakan pipa ledeng dan kabel listrik.

 

Gandeng Uber, NASA Siap Dorong Proyek Taksi Udara Otonom di Tahun 2020

Mengingat jalur darat kini sudah bisa dibilang tidak kondusif lagi untuk dilalui, salah satu oenyedia jasa layanan transportasi berbasis aplikasi, Uber tengah memastikan diri untuk meluncurkan salah satu layanan terbarunya, taksi udara. Pada awalnya, layanan taksi udara bernama Uber Elevate ini tertuang dalam proposal setebal 97 halaman pada tahun 2016 silam. Diyakini, ini merupakan salah satu opsi terbaik untuk mengentaskan masalah kemacetan yang semakin meradang.

Baca Juga: Selangkah Lagi, Uber Akan Operasikan Taksi Udara

Seperti yang dilansir KabarPenumpang.com dari laman newatlas.com (9/11/2017), Uber mengungkapkan bahwa taksi udara dengan tipe Vertical Take-Off Landing (VTOL) ini akan mengubah secara mendasar bagaimana orang-orang bergerak di sekitar kota. Bukan tanpa saingan, Uber akan menghadapi Airbus dengan proyek CityAirbus-nya yang baru saja menguji Volocopter (moda udara otonom yang akan digunakan Airbus) pertamanya di Dubai pada bulan September kemarin, dan baru saja menjalani melakukan uji coba di Eropa.

Melihat ini merupakan peluang besar, badan antariksa Amerika Serikat, NASA mencoba untuk ikut bergabung untuk meramaikan bisnis pelayanan jasa modern seperti ini. Di sini, NASA menggaet Uber untuk saling bahu membahu melayani penumpang dengan menggunakan moda udara modern ini. Tujuan kerja sama ini diutarakan NASA adalah untuk saling melengkapi kekurangan yang dimiliki oleh kedua perusahaan tersebut.

Dilansir dari sumber yang berbeda, Uber mengumumkan kesepakatan dengan badan antariksa tersebut pada hari Rabu (8/11/2017) untuk membantu mengembangkan sistem manajemen taksi udara otonom untuk mengatasi persaingan yang sudah mulai muncul. Diketahui, NASA sudah mengerjakan sistem serupa untuk moda tak berawak, dan mulai mengujinya tahun lalu.

Baca Juga: AirMap, Platform Pengatur Lalu Lintas Drone di Udara

Terlepas dari latar belakang yang membuat NASA dan Uber bekerja sama, satu titik baru ditambahkan oleh pihak Uber untuk menguji coba taksi otonomnya pada tahun 2020 mendatang, yaitu di Los Angeles. Dengan begitu, Dallas, Dubai, dan Los Angeles akan menjadi saksi penerbangan perdana taksi udara hasil kerja sama NASA dan Uber.

“Menggabungkan keahlian Uber dalam rekayasa perangkat lunak dengan pengalaman luas NASA di sektor udara untuk mengatasi kekurangan yang ada di layanan lain, merupakan langkah penting bagi Uber Elevate untuk terus berkembang,” ujar chief product officer Uber, Jeff Holden.

N-219 Nurtanio, Digadang Sebagai Jawara Penerbangan Perintis di Papua

Bertepatan dengan momen Hari Pahlawan, pada 10 November 2017 bertempat di Base Ops, Lanud Halim Perdanakusuma, prototipe pesawat pertama N-219 karya anak bangsa hasil kerjasama PT Dirgantara Indonesia (PT DI) dan LAPAN diberikan nama oleh Presiden Republik Indonesia, Joko Widodo. Pemberian nama “Nurtanio” diambil dari nama Laksamana Muda Udara (Anumerta) Nurtanio Pringgoadisuryo yang telah merintis pembuatan pesawat terbang di Tanah Air sejak tahun 1946.

Baca juga: Akhirnya! Prototipe N-219 Sukses Terbang Perdana Hari Ini

Nurtanio Pringgoadisuryo dikenal sebagai salah seorang perintis berdirinya industri pesawat terbang yang bekerja di Biro Perencana Konstruksi Pesawat di lingkungan Tentara Republik Indonesia berkedudukan di Madiun yang merupakan cikal bakal lahirnya industri dirgantara di Indonesia.

Harapannya setelah diberikan nama “Nurtanio” oleh Presiden Jokowi, seluruh proses sertifikasi prototipe pesawat N-219 dapat berjalan dengan lancar sehingga pesawat N-219 dapat menjadi solusi distribusi logistik nasional untuk mendukung program jembatan udara logistik nasional sebagaimana dituangkan dalam Perpres No. 70 Tahun 2017 tentang Penyelenggaraan Kewajiban Pelayanan Publik Untuk Angkutan Barang Dari Dan Ke Daerah Tertinggal, Terpencil, Terluar dan Perbatasan.

Program tol laut selama ini dinilai masih belum mampu menjangkau distribusi barang hingga ke daerah pegunungan Papua. Disparitas harga masih terjadi di kawasan yang hanya bisa diakses dengan transportasi udara mengingat masih banyaknya Kota dan Kabupaten di Papua dan Papua Barat yang hanya bisa dijangkau dengan transportasi udara karena keterbatasan akses jalur darat dengan kondisi bandara yang terletak pada elevasi yang cukup tinggi dengan panjang landasan ± 600 m. N-219 digadang secara khusus dirancang untuk daerah pegunungan Papua diharapkan dapat mendukung program Jembatan Udara karena dapat menjangkau daerah dengan kondisi georafis berbukit-bukit dengan landasan pendek dan tidak dipersiapkan.

Baca juga: Lima Maskapai Ini Kondang Untuk Rute Perintis

Pesawat N-219 dapat menjadi solusi untuk membuka aksesibilitas dan konektivitas wilayah terdepan, tertinggal dan terluar di pegunungan Papua dan Papua Barat, sehingga program satu harga Pemerintah dapat terwujud. Dalam pengembangannya, pihak LAPAN bahkan telah merancang desain N-219 versi amfibi yang dapat melakukan pendaratan di air.

PT DI telah sukses melakukan uji terbang perdana pesawat N-219 pada tanggal 16 Agustus 2017, pesawat N219 merupakan pesawat penumpang dengan kapasitas 19 orang dengan dua mesin turboprop yang mengacu kepada regulasi CASR Part 23. Proses rancang bangun, pengujian, sertifikasi hingga nantinya akan dilakukan proses produksi adalah hasil karya anak bangsa. Pesawat N219 memiliki kemampuan lepas landas di landasan pendek yang tidak dipersiapkan sehingga akan menjadi konektivitas antar pulau terutama di wilayah perintis.

Angkasa Pura II dan Telkomsel Hadirkan Airport ePayment

Airport epayment sistem merupakan layanan pembayaran non tunai di lebih dari 800 tenant yang berada di bandara-bandara yang dikelola PT Angkasa Pura II (Persero). Ini adalah bisnis baru yang dirambah AP II melalui penerapan konsep smart airport di bandara-bandara yang dikelola AP II khususnya Bandara internasional Soekarno-Hatta.

Baca juga: ‘Self Check In Kiosk’ Kini Hadir di Terminal 1C Bandara Soekarno-Hatta

Layanan Airport ePayment sistem ini bekerjasama dengan pihak ketiga salah satunya adalah dengan Telkomsel melalui TCash dan kedepannya dengan GoPay dan menyusul merek lainnya. Konsep smart airport lain yang diusung AP II juga akan memudahkan atau memberikan lebih banyak pilihan transportasi darat bagi penumpang pesawat misalnya di bandara Soetta yang sudah tersedia booth bagi penumpang yang memesan transportasi online GrabNow.

“Konsep smart airport melalui digitalisasi di bandara AP II daat ini tidak lagi hanya pada improving customer experience dan increasing operating efficiency, namun lebih dari itu kini sudah mulai masuk ke new revenue stream AP II ini memang baru tumbuh yang kami targetkan pendapatan kami mendapai Rp35 miliar pada 2018. Namun akan memiliki prospek sangat baik kedepannya dalam mendukung pendapatan perusahaan,” ujar Direktur Utama PT AP II Muhammad Awaluddin yang dikutip KabarPenumpang.com dari siaran pers (8/11/2017).

Dia mengatakan AP II optimis bisnis digital ini akan berkembang pesat setelah melakukan berbagai pertimbangan dari berbagai sisi yakni melihat pertumbuhan pasar, kemampuan perusahaan serta keunggulan industri itu sendiri. Awaluddin mengatakan, pihaknya juga telah melakukan analisis, dimana AP II memiliki peluang besar untuk meraih pendapatan dari bisnis baru yakni Airport epayment, Arport Big Data dan Airport ecommerce.

Penerapan smart airport melalui digitalisasi di bandara-bandara AP II dengan bandara Soetta menjadi pilot project karena infrastruktur yang sudah mendukung di samping bandara ini merupakan yang terbesar dan tersibuk di Indonesia.

Adapun jumlah fasilitas berbasis digital yang sukses diterpakan bandara Soetta kini juga sudah diimpelementasikan di Bandara Internasional Silangit meskipun memiliki kapasitas yang tidak terlalu besar, namun epayment untuk pembelanjaan di tenant komersial, bus ticketing vending machine, tourism information kiosk, smart baggage, self check in kiosk, airport bus schedule display dan lainnya.

Baca juga: Dengan Infrastruktur Baru, Bandara Silangit Kini Siap Terima Penumpang Internasional

Dalam waktu dekat AP II juga resmi memasuki binis Big Data melalui kerjasama dengan mitra usaha. Bisnis ini akan memanfaatkan besarnya potensi data pergerakan penumpang sekitar 100 juta pada tahun 2017 yang dimilik AP II mejadi lebih bernilai sehingga menciptakan lini bisnis atau pendapatan baru.

“Di era sekarang data merupakan aset baru dimana penguasaan terhadap data dan kemampuan mengekstraksi data menjadi informasi berniali memiliki manfaat cukup besar. AP II mempunyai data terkait dengan penerbangan yang begitu cepat berubah atau terbarui serta sangat beragam. Diperlukan pengelolaan data dan sistem analisis yang kompleks agar data mentah tersebut dapat menjadi bernilai. Secara umum data tersebut dapat meningkatkan nilai industri pariwisata, komersial dan lain sebagainya,” jelas Awaluddin.

‘Self Check In Kiosk’ Kini Hadir di Terminal 1C Bandara Soekarno-Hatta

Tepat di Hari Pahlawan 10 November 2017, Terminal 1C Bandara Soekarno-Hatta menghadirkan layanan baru berupa self check in kiosk yang terletak di lobi. Hadirnya self check in kiosk memudahkan bagi penumpang rute domestik yang hanya membawa bagasi kabin. Pengadaan self check in kiosk ini dibuat PT Angkasa Pura II (Persero) untuk mempercepat dan mempermudah proses keberangkatan bagi maskapai Batik Air dan Citilink.

Baca juga: Agar Proses Imigrasi Lebih Cepat, Yuk Manfaatkan Autogate di Bandara Soekarno-Hatta

KabarPenumpang.com merangkum dari siaran pers (9/11/2017), AP II selaku pengelola bandara Soetta sudah menyediakan 12 self check in kiosk di Terminal 1C sejak 3 November 2017 kemarin. Tak hanya itu, untuk membantu penumpang yang kesulitan menggunakan self check in kiosk, di lobi juga disiagakan personil bandara.

Self check ini kiosk ini tidak dapat digunakan oleh ibu hamil, membawa bayi, penumpang dengan gerakan terbatas, penumpang dengan kebutuhan khusus, penumpang dibawah 16 tahun, penerbangan transfer internasional dan jumlah penumpang lebih dari satu kali pemesanan. Penumpang dengan kriteria ini bisa melakukan check in di konter yang juga terdapat di Terminal 1C.

Direktur AP II Muhammad Awaluddin mengatakan self check in kiosk merupakan salah satu upaya AP II untuk meningkatkan pelayanan kepada para penumpang tiket domestik Batik Air dan Citilink. Pihaknya optimis dengan kebijakan baru ini akan mengurangi antrian di check in konter yang juga berdampak semakin mudah dan cepatnya proses keberangkatan bagi penumpang sehingga on time performance (OTP) bandara maupun maskapai semakin baik.

“Check in konter di Terminal 1C mulai tanggal 10 November nanti hanya tersedia bagi penumpang dengan bagasi untuk dimasukkan ke lambung pesawat dan juga penumpang dengan kasus tertentu seperti ibu hamil, penumpang berkebutuhan khusus, penumpang dengan bayi dan lainnya dimana kriteria penumpang dengan kasus-kasus tertentu itu dinyatakan di self check in kiosk maupun di area keberangkatan Terminal 1C,” jelas Awaluddin.

AP II mengatakan, menurut survei yang dilakukan SITA untuk pre journey experience, 57 persen responden mengatakan mereka memilih self check in kiosk ketika ingin terbang. Kebijakan AP II dalam penggunaan self check in kiosk ini nantinya juga akan diimplementasikan pada Terminal 1A dan 1B serta di seluruh bandara yang dikelola AP II serta merupakan bagian dari implementasi konsep pre journey smart airport untuk menghadirkan pengalaman perjalanan yang baik bagi para penumpang pesawat.

Untuk pre journey experience, AP II juga berencana mengimplementasikan eboarding pass dalam waktu dekat untuk maskapai-maskapai yang beroperasi di bandara AP II. Layanan perdana ini akan mulai dimanfaatkan Garuda Indonesia dimana nantinya bisa mendapatkan eboarding pass di smartphhone melalaui aplikasi Indonesian Airports yang dikelola AP II.

Baca juga: PT Angkasa Pura II Mudahkan Parkir Inap dengan Aplikasi “Parkir Inap Angkasa Pura II”

Selain implementasi smart airport pada proses pre journey, AP II juga telah mengimplementasikan beberapa konsep smart airport untuk proses on journey dan juga post journey pada aplikasi Indonesian Airports dimana penumpang bisa melihat detail penerbangan mereka serta gate keberangkatan dan juga penumpang bisa membook tiket taksi serta melihat jadwal bus, skytrain, shuttle bus dan memesan layanan parkir inap. Kedepannya, jadwal layanan kereta bandara juga akan menjadi fitur yang ada pada aplikasi Indonesian Airports.

Hady Syahrean – Sukses Hantarkan Layanan Haji Garuda Indonesia

Gantunglah mimpimu setinggi langit dan jangan pernah lelah untuk mengejarnya dan berdoa, maka kamu akan mendapatkannya. Nampaknya untaian kata bijak tersebut sudah dibuktikan oleh banyak orang sukses di muka bumi, salah satunya adalah Vice President SBU Umrah & Hajj Garuda Indonesia, Hady Syahrean. Impian awal dari pria kelahiran Medan, 18 April 1961 ini bisa dibilang tidak terlalu muluk-muluk, yaitu Ia hanya ingin bekerja di Garuda Indonesia.

Baca Juga: Benny S Butarbutar – Meski Jadi Orang Airlines, Profesi Wartawan Tetap di Hati

“Saya ada saudara juga yang kerja di Garuda, saya lihat kok enak banget sebulan sekali sebulan dua kali bisa pulang,” kenang Hady ketika ditanya soal cita-cita pertamanya oleh KabarPenumpang.com, Rabu (8/11/2017). “Awalnya saya melamar di bagian administrasi, tapi karena waktu tesnya tidak pas, saya coba buat ngelamar lagi sampai akhirnya diterima,” imbuhnya seraya mengenang masa lalunya.

Akhirnya pada November 1981, pria yang pernah mengenyam bangku pendidikan tinggi di Universitas Krisnadwipayana selama beberapa semester ini pertama kali ditetapkan sebagai karyawan Garuda Indonesia di bagian reservasi. Empat tahun berselang, Ia dipromosikan untuk bekerja di bagian Ticketing Office. Hanya bertahan beberapa bulan di tahun yang sama, Ia lalu dipindahkan ke divisi Government Desk Garuda Indonesia.

Singkat cerita, ia diangkat menjadi General Manager Saudi Arabia dan Middle East Garuda Indonesia pada pertengahan tahun 1998. 6,5 tahun Hady lewati menjabat posisi sebagai orang nomor satu Garuda Indonesia di Arab Saudi. Banyak dinamika masalah yang bertubi menyerangnya dari berbagai sisi, namun hal tersebut tidak membuat kekuatan Hady melemah. Justru dinamika tersebut dijadikan Hady sebagai pelajaran berharga yang akhirnya membuat pria berpostur tegap ini kembali mendapatkan kenaikan jabatan menjadi Vice President SBU Umrah & Hajj Garuda Indonesia, terhitung sejak Mei 2005.

Terhitung, sudah lebih dari 12 tahun Hady menempuh suka dukanya menjadi seorang Vice President. Tentu waktu tersebut tidak bisa dibilang sebentar dan banyak problematika yang menderunya. “Jika ditanya tantangan terbesar, ya dinamika tersebutlah tantangan kami. Sebut saja regulasi di Timur Tengah setiap tahunnya kerap berubah. Ambil contoh ketika isu terorisme merebak, secara otomatis pengamanan di sana (Timur Tengah) menjadi lebih ketat,” paparnya.

“Tahun 1997 kami menerapkan sistem city check in yang terbukti ampuh untuk mengurai kepadatan penumpang di imigrasi, namun sistem tersebut diberhentikan pada tahun 2015 kemarin,” tambah Hady. ‘Masalah-masalah membangun’ lainnya tidak hanya datang dari sesama pemangku kepentingan saja, penumpang pun kerap kali berkontribusi terhadap perkembangan tubuh Garuda Indonesia sendiri.

“Bisa dibilang, 80 persen Jemaah Haji asal Indonesia belum pernah travelling,” ungkapnya. Tentu hal tersebut akan menjadi sebuah tantangan tersendiri bagi Garuda Indonesia, yang di depannya akan menjadi pelajaran tersendiri dalam menangani beragam jenis penumpang. Buah kerja keras Hady seolah terbayar dengan prestasi Garuda Indonesia mencatatkan level On Time Performance terbaik di Musim Haji 2017.

Baca juga: Garuda Indonesia Klaim ‘On Time Performance’ Embarkasi Haji 2017 Adalah Yang Terbaik

“Hidup hanya sekali, nikmatilah. Perbanyak menolong dan memberi.” Itulah sepenggal kata mutiara dari seorang Hady Syahrean, seorang pekerja keras yang tidak pernah menyerah. Memang, tidaklah mudah untuk menduduki sebuah posisi yang tinggi di dalam suatu institusi. Diperlukan kerja keras, doa, dan tidak cepat putus asa. Semua hal tersebut sudah dibuktikan oleh Hady Syahrean, jadi, tetaplah bekerja keras untuk menggapai cita-cita!