Bandara Soekarno-Hatta Kini Dilengkapi AOCC Sebagai Command Center Real Time

Pendirian Airport Operation Control Center (AOCC) untuk mendukung Bandara Internasional Soekarno-Hatta (Soetta) menjadi smart connected airport telah dilakukan dan diresmikan penggunaannya oleh PT Angkasa Pura II (Persero) Senin (11/9/2017) kemarin. AOCC adalah hasil kolaborasi dengan para pemangku kepentingan di bandara yang terdiri dari empat unsur yakni Airport Operator, Airline Operator, Air Navigation dan Authorities seperti karantina, bea cukai, imigrasi, kepolisian dan lainnya.

Baca juga: Airport Digital Cinema, Teknologi Baru Angkasa Pura II

Dalam pendirian AOCC, stakeholder terlibat karena mengintegrasikan pengelolaan seluruh sumber daya di bandara Soetta agar bisa beroperasi secara efektif dan efisien sehingga mengakomodir terwujudnya keselamatan, keamanan, pemenuhan atas regulasi dan pelayanan. Secara umum, fungsi AOCC yakni sebagai command center dalam mengawasi operasional di sisi udara dan darat serta mencakup seluruh aktivitas kedatangan dan keberangkatan di bandara.

“AOCC merupakan salah satu upaya AP II dalam mengimplementasikan sistem teknologi informasi di bandara atau kami sebut dengan pembangunan soft infrastructure. Pembangunan soft infrastructure ini guna mengimbangi pembangunan hard infrastructure seperti pembangunan terminal, apron, dan sebagainya yang telah kami lakukan. AOCC juga membutuhkan integrasi dari sistem yang dimiliki masing-masing stakeholder bandara sehingga dapat berjalan secara maksimal,” ujar Direktur Utama PT AP II Muhammad Awaluddin yang dikutip KabarPenumpang.com dari siaran pers (11/9/2017).

Awaluddin mengatakan, pendirian AOCC sendiri didasari dari pertumbuhan industri yang cukup signifikan setiap tahunnya dan membuat dinamika operasional semakin beragam. Dengan adanya AOCC maka seluruh aktivitas bandara bisa di pantau secara real time dari pusat kendali.

“Karena real time, kami optimis seluruh aspek berjalan dengan lancar sesuai regulasi disertai terciptanya ketepatan waktu atau punctuality pada operasional yang berujung pada peningkatan pelayanan kepada maskapai dan juga penumpang pesawat,” ujar Awaluddin.

AOCC di Bandara Soetta dilengkapi sejumlah modul seperti Airport Operation Database (AODB), Airport Management System (AMS), Resources Management System (RMS), Network Management System (NMS), Airport Security System (ASS), dan Facility Engineering Management System (FEMS). Dapat disampaikan, AODB berfungsi menyimpan data operasi kebandarudaraan, lalu AMS dan RMS berfungsi memonitor dan mengendalikan operasional bandara beserta pengaturan penggunaan resources seperti parking stands, boarding lounge, dan check-in counter.

Baca juga: Agar Proses Imigrasi Lebih Cepat, Yuk Manfaatkan Autogate di Bandara Soekarno-Hatta

Sementara itu, NMS menampilkan kinerja jaringan dan perangkat teknologi informasi dalam mengelola serta mendistribusikan data operasi ke sejumlah stakeholder, dan FEMS berfungsi untuk memonitor, mengendalikan dan mengelola kehandalan fasilitas-fasilitas utama bandara. Di samping modul-modul tersebut, fasilitas yang terdapat di AOCC antara lain CCTV room, Emergency Situation Room, Meeting Room, dan Airport People Movers System Control Room.

“AOCC juga merupakan pusat koordinasi seluruh stakeholder bandara seperti maskapai, imigrasi, bea dan cukai, karantina, otoritas bandara, tenant, kepolisian, transportasi antarmoda, operator kargo, dan sebagainya, sehingga sesuai dengan konsep dalam industri bandara dikenal dengan Airport Collaboration Decision Making atau A-CDM,” kata Awaluddin.

Sementara itu Direktur Keselamatan, Keamanan, dan Standardisasi AirNav Indonesia, Yurlis Hasibuan mengatakan, AirNav mendukung penuh pembentukan AOCC ini dan pihaknya siap mengintegrasikan sistem yang dimiliki Airnav dengan sistem di AOCC guna mendukung keselamatan dan keamanan.

Kasubdit Penyelenggaraan dan Pelayanan Bandara Udara Kementerian Perhubungan Agustono mengatakan, “AOCC perlu menyatukan SOP di antara stakeholder, kami juga akan mendukung dari sisi regulasi terkait dengan pendirian AOCC ini.”

Bandara Internasional Soekarno-Hatta dengan jumlah penumpang pesawat mencapai sekitar 60 juta orang per tahun merupakan bandara tersibuk di Indonesia, di mana saat ini AP II tengah melakukan berbagai pengembangan di bandara tersebut guna meningkatkan daya saing diantara bandara-bandara lain di kawasan Asean. Pengembangan yang dilakukan di samping pembangunan secara fisik juga mencakup pembangunan sistem teknologi informasi guna menjadikan bandara ini sebagai Smart Airport.

Baca juga: Frekuensi Melonjak, ATC Bandara Soekarno-Hatta Peringatkan Risiko Keselamatan Penerbangan

Sebanyak 1.300 pergerakan pesawat per hari atau 76 pergerakan pesawat per jam dengan jumlah penumpang sekitar 170.000 per hari, dan akan semakin tumbuh ke depannya, Bandara Internasional Soekarno-Hatta membutuhkan pendekatan dari sisi teknologi informasi guna memastkan kelancaran operasional dan tetap terjaganya pelayanan sehingga prioritas pembangunan AOCC ada di bandara ini.

Mau Naik Kereta Bawah Tanah? Ternyata Ada Etikanya

Pada Maret 2019, rencananya warga DKI Jakarta sudah dapat menikmati layanan MRT (Mass Rapid Transit) di Jakarta. Itu artinya untuk pertama kali dalam sejarah 72 tahun Republik ini, ada kereta bawah tanah untuk melayani penumpang secara komuter. Sebagai angkutan yang bakal happening, animo masyarakat dipecaya akan sangat besar pada MRT, terlebih bila nanti tarif yang dikenakan terbilang kompetitif dan pas dengan kocek kebanyakan warga.

Baca juga: Jadi Ajang Kampanye Produk, Pegangan Tangan di Angkutan Umum Dibuat Unik

Sebagai negara di Asia Tenggara yang baru akan memulai menggunakan kereta bawah tanah, ada etika yang harus dijaga oleh para pengguna jasa. Etika yang ada pun pastinya akan berbeda negara yang satu dengan yang lain. KabarPenumpang.com merangkum dari gentlemansgazette.com (4/8/2017), ada beberapa etika khusus untuk pengguna jasa kereta bawah tanah yang bisa dicontoh oleh warga Jakarta nantinya.

1. Punya tiket yang bisa langsung digunakan
Sebelum masuk ke gerbang tiket, Anda harus memiliki tiket sebelumnya. Bila Anda membeli di mesin tiket dan tidak mengerti, berpindah dan jangan sungkan untuk bertanya pada petugas agar tidak salah. Anda juga bisa bertanya pada petugas tentang rute yang akan Anda tuju sebelum salah membeli tiket. Untuk MRT Jakarta nantinya mestinya tidak akan ada kesulitan ini, mengingat tidak ada interchange station, karena tahap pertama MRT Jakarta baru melayani rute Lebak Bulus – Bunderan HI.

2. Berada di sebelah kanan saat di eskalator
Untuk menunggu baiknya ada di sebelah kanan saat berada di eskalator stasiun bawah tanah. Karena bila berada di sebelah kiri, justru akan membuat Anda kesusahan dan mengganggu akses orang lain yang terburu- buru dan bisa dianggap menghalangi jalan mereka.

3. Berada di baris sesuai keberangkatan kereta
Pastikan Anda berada di baris yang tepat untuk menunggu kereta bawah tanah Anda.

4. Tunggu sebelum masuk kereta bawah tanah
Di banyak kota besar dunia, ada jutaan penumpang yang mencoba masuk ke kereta bawah tanah sebelum penumpang yang dari dalam akan turun. Anda baiknya tunggu sampai penumpang dari dalam kereta turun baru naik ke kereta. Sebab, bila Anda memaksa bukannya aman bisa-bisa malah terjatuh dan tegeser jauh dari pintu.

5. Saling mendorong
Kejadian ini banyak terjadi di kereta bawah tanah, contohnya Jepang yang memiliki pengguna kereta bawah tanah sampai tidak bisa masuk dan akhirnya petugas mendorong penumpang yang padat tersebut agar pintu bisa tertutup.

6. Biarkan pintu tertutup
Jangan pernah menahan pintu kereta untuk menunggu orang yang sedang berlari menuju kereta. Jika Anda sempat melakukan hal tersebut, ini akan mengganggu dan menunda keberangkatan kereta Anda dan kereta berikutnya.

7. Gunakan tempat duduk sesuai fungsinya
Tempat duduk sebelah Anda adalah hak orang lain. Jangan letakkan tas Anda untuk menghalangi orang lain untuk duduk.

8. Pertimbangkan orang lain
Saat Anda duduk, ternyata ada orangtua, anak kecil ataupun penyandang disabilitas. Baiknya Anda berikan tempat duduk, tawarkan dengan Anda berdiri dan mengisyaratkan agar mereka bisa duduk di tempat Anda.

Baca juga: Inilah 10 Kereta Bawah Tanah Paling Keren di Dunia!

9. Jangan buang sampah sembarangan dan jaga bau badan
Sebagai seorang penumpang, baiknya jangan pernah meninggalkan apapun di kereta biak itu sampah dan bekas makanan, koran atau hal lainnya. Bila Anda tahu bahwa bau badan, gunakan deodorant sebelum naik kereta.

10. Bicara dengan volume lebih kecil
Saat menggunakan headphone, kecilkan suaranya jangan sampai orang lain mendengarnya. Sebab, bisa saja orang yang mendengar terganggu dengan suara tersebut. Bila Anda mengangkat telepon di dalam kereta, baiknya Anda juga mengecilkan suara agar tidak di cap sebagai penumpang yang tidak tahu sopan santun.

11. Tidak tidur
Biasanya, akibat perjalanan jauh atau kelelahan, banyak penumpang yang tertidur dalam kereta. Jangan juga menjadikan kereta bawah tanah ini bukanlah rumah tetapi alat transportasi massal yang digunakan banyak orang. Untuk kasus MRT Jakarta, jarak antara Stasiun Lebak Bulus hingga Bunderan HI hanya memakan waktu sekitar 30 menit.

12. Jangan merokok
Ini larangan paling besar bagi Anda perokok. Sebab, kereta yang menjadi transportasi umum adalah tempat yang bersih dan bebas asap rokok.

Perangi Polusi, Australia Selatan Manfaatkan Energi Terbarukan dari Hidrogen

Sebagai bentuk aksi nyata dalam memerangi masalah polusi, Negara Bagian Australia Selatan berencana untuk menggunakan hidrogen sebagai energi terbarukan untuk bahan bakar kendaraan di sana. Setelah sebelumnya berencana untuk menghadirkan jalan tol khusus electric vehicle, kini negara bagian dengan ibu kota Adelaide ini kembali mendobrak dengan ide briliannya. Bahkan, ide pengunaan energi terbarukan tersebut menuai pujian dari Tesla.

Baca Juga: Serap Pengguna Mobil Listrik Lebih Banyak, Queensland Gratiskan Electric Super Highway

Seperti yang dilansir KabarPenumpang.com dari laman gizmodo.com.au (10/9/2017), pemerintah negara bagian mencetuskan idenya untuk menghadirkan “Hydrogen Roadmap”. Roadmap dirancang untuk mempercepat investasi di bidang infrastruktur hidrogen dan teknologi di negara bagian. Mereka menyatakan, hidrogen dapat dihasilkan dari sumber terbarukan, seperti angin atau matahari, melalui proses yang disebut elektrolisis. Berarti, sudah jelas bahwa energi terbarukan dan produksi hidrogen akan memperkuat masa depan energi di Australia Selatan.

Roadmap menunjukkan bagaimana aset energi terbarukan negara dapat digunakan untuk menarik investasi internasional dalam produksi hidrogen. Pemerintah mengatakan hadirnya Roadmap akan mempercepat transisi Australia Selatan ke pasar ekonomi zero carbon. Selain itu, hal ini juga akan menargetkan pasar ekspor luar negeri, dan menetapkan Australia Selatan sebagai tempat uji coba untuk teknologi hidrogen.

Menteri Energi Negara Bagian Australia Selatan, Tom Koutsantonis mengatakan hidrogen juga membuka kesempatan untuk menciptakan industri baru di Australia Selatan. “Jika kita mulai bergerak dari sekarang, maka Australia Selatan dapat menjadi pelopor di dunia dalam transisi menuju pasar ekonomi hidrogen yang lebih bersih, aman dan berkelanjutan,” ungkap Tom dilansir dari sumber lain.

Baca Juga: Ternyata! Jakarta Dijadikan Panutan Dalam Program Pengurangan Polusi di Sydney

Menurut Tom, penumpang bus di Adelaide juga akan dapat menikmati moda bertenaga hidrogen seperti bus yang menggunakan bahan bakar lokal dalam kurun waktu dua tahun ke depan. “Rencananya, dalam jangka waktu sepuluh tahun ke depan, seluruh warga di negara bagian Australia Selatan yang hendak berkendara dari Ceduna ke Mt. Gambier sudah menggunakan kendaraan berbahan bakar hidrogen. Stasiun pengisian bahan bakar hidrogen pun nantinya akan kami siapkan di seluruh negara bagian,” tambahnya.

Mendukung pernyataan yang dirilis oleh Roadmap, CEO Siemens Australia dan NZ, Jeff Connolly mengatakan bahwa hidrogen dapat dibuat dengan kapasitas energi berlebih yang didorong oleh energi terbarukan. “Jika Australia dapat menemukan cara untuk mengekspor energi terbarukan, maka kita juga bisa mengaplikasikannya di bisnis ekspor batubara dan gas. Selain itu, kita juga bisa mempertahankan peran kita sebagai negara adidaya pengekspor energi di masa yang akan datang.” Tutup Jeff.

Inilah Para Pengguna Augmented Reality di Industri Dirgantara

Berangkat dari prototipe beberapa tahun lalu, kini Augmented Reality (AR) atau realitas tertambah telah mulai diadaptasi oleh industri dirgantara, tidak hanya menyangkut pelayanan penumpang oleh petugas di bandara dan awak kabin, pihak manufaktur pesawat yang membangun struktur, desain dan penanganan masalah ikut pula menjadi pemanfaat AR. Penggunaan AR saat ini menyoroti beberapa cara dimana industri penerbangan menggunakan dan mengevaluasi kasus teknologi realitas yang diperluas dan virtual.

AR sendri sebenarnya teknologi yang disempurnakan dengan komputer ke dunia nyata pengguna, seperti membaca panel kokpit. Penggunaan AR ini biasanya digunakan seperti visual menikmati kacamata biasa. Dan sampai saat ini, sudah ada sembilan perusahaan penerbangan yang saat ini sudah memanfaatkan teknologi AR dalam mempermudah perkerjaannya.

Baca juga: Identifikasi Kebutuhan Penumpang, Awak Kabin Air New Zealand Adopsi Augmented Reality

1. Pratt & Whitney Canada
Perusahaan pembuat mesin jet pesawat ini sejak tahun 2002 telah mengumumkan kesepakatan dengan IBM dan Dassault System untuk menjadi perusahaan pertama di industri penerbangan untuk mengembangkan mesin dengan teknologi digital selama proses perencanaan dan pembuatan. Pada April 2017, United Techologies Research Center meluncurkan kolaborasi dengan Divisi Pelatihan Pelanggan Pratt & Whitney untuk berinvestasi dalam pelatihan pemeliharaan mesin virtual reality untuk para mekanik penerbangan.

Menurut Bruce Hall, general manager divisi pelatihan pelanggan Pratt, perusahaan saat ini melakukan pengujian beta di lingkungan kelas penggunaan headset dan kontrol sensor tangan yang memungkinkan mekanika hampir berjalan di dalam mesin GTF untuk memeriksa bagian dan melihat mesin yang sedang berjalan di gerakan.

2. Aero Glass
Perusahaan penerbagan yang satu ini memiliki headset yang dapat digunkan oleh pilot untuk melihat informasi dan kontrol kokpit seperti cara membaca altimeter, tekanan bahan bakar, suhu dan oli dalam layar yang berada di bagian layar headset. Pada Oktober 2016 lalu, Aero Glass menjadi berita utama saat pihak Airbus Bizlab memilih teknologi mereka sebagai salah satu solusi untuk membantu proposi bisnis.

3. Air France
Pada 1 Agustus lalu, Air France mulai menguji sistem hiburan immersive dengan menggunakan headset AR yang bisa digunakan penumpang untuk menonton film 3D, 2D hingga serial televisi. Headset ini merupakan hasil kemitraan maskapai milik Perancis ini dengan SkyLights. Percobaan penggunaan headset ini di penerbangan dengan Airbus A340 dari bandara Charles de Gaulle menuju St Martin. Akhir uji coba ini nantinya baru bisa dilucurkan pada penerbangan lain di bulan berikutnya.

4. Air New Zealand
Air New Zealand, bekerja sama dengan IT-provider-provider Dimension Data, sedang menguji beta penggunaan HoloLens untuk awak kabinnya. Maskapai ini membayangkan masa depan dimana awak kabin yang memakai headset HoloLens dapat menampilkan informasi penumpang pada headset seperti rincian penerbangan, waktu sejak terakhir dilayani dan bahkan keadaan emosional penumpang.

5. Bell Helicopter
Pada ajang Heli Expo 2017, Bell Helicopter secara terbuka mengumumkan untuk pertama kalinya helikopter konsep FCX-001 futuristiknya, dengan framework yang dibuat dari bahan yang berkelanjutan, sistem tenaga hibrida, sistem kecerdasan pilot buatan dan bilah rotor morphing, berubah agar sesuai dengan penerbangan yang berbeda. Deskripsi Bell tentang fitur kokpit virtual mencatat bahwa perusahaan melihat pilot masa depan mengendalikan helikopter dengan bantuan AR dan sistem bantuan komputer intelijen buatan. Ini akan menempatkan pilot helikopter masa depan dalam peran sebagai petugas keselamatan, dengan sistem bantuan komputer terbang bersama mereka. Bell melihat konsep kokpit virtual sebagai batu loncatan untuk moda helikopter nirawak di maa depan.

6. TAE Aeroscape
Maret lalu, TAE Aeroscape dari Australia menerima penghargaan Inovasi Industri Sipil Aerospace untuk teknologi Fountx, sebuah solusi yang memungkinkan teknisi penerbangan untuk berkolaborasi dengan ahli produk dari jarak jauh. Fountx menggunakan sistem audio visual secara real time yang terdiri dari headset operator dan panduan relay mengenai penyelesaian tugas tertentu. Teknologi ini bisa memberikan bantuan, misalnya kepada Royal Malaysian Air Force dan Royal Thai Navy dalam memperbaiki mesin turbin, yang keduanya merupakan klien TAE. TAE juga baru-baru ini terpilih untuk memberikan dukungan bagi mesin jet tempur F-35 yang beroperasi di kawasan Asia Pasifik.

7. Airbus
Airbus mendanai tes penerbangan untuk mengevaluasi sistem kesadaran situasi (situation awareness) DS Electronis and Brober Security SFERION yang menggunkan operasional SferiSense 500 Lidar pada tahun 2016 kemarin. Sistem ini dipasang pada helikopter Mi-2 dengan menggandeng pihak University of Iowa’s Operators Performance Laboratory (OPL) Tujuannya untuk mendemonstrasikan dan menguji sistem terpadu dalam uji coba penerbangan pada situasi khusus di Yuma Proving Ground.

8. Boeing
Boeing telah mengumumkan dua investasi terakhir untuk armada HorizonX yang didirikan awal tahun ini untuk berinvestasi di perusahaan pemula, lantaran teknologi penerbangan baru yang disebut-sebut menimbulkan gangguan. Posisi investasi terbaru Boeing dalam kelompok investor mendanai video immersive C360 Technologies yang berbasis di Pittsburgh. Boeing hanya memberikan sedikit rincian tentang penggunaan kemampuan C360 di masa depan, namun menyatakan bahwa hal itu merupakan “aplikasi ruang angkasa yang potensial,” mencakup “sistem otomasi yang lebih mumpuni dan platform lanjutan lainnya.

Baca juga: Staf Bandara Changi Resmi Gunakan Kacamata Augmented Reality

9. Japan Airlines
Japan Airlines pertama kali menguji penggunaan Google Glass untuk operasi perawatan mereka di stasiun Honolulu pada tahun 2014 dengan tujuan untuk meningkatkan efisiensi kerja. Selama uji coba, staf pemeliharaan dapat menerima saran dan instruksi melalui audio selama operasi serta informasi real-time foto atau video yang dapat dibagi dengan rekan kerja dari lokasi.

Namun, ketika Google memindahkan Google Glass dari pasar komersial, maskapai Jepang tersebut pindah dan menemukan penggunaan baru untuk headset HoloLens Microsoft tahun lalu. Jepang menggunakan headset realitas virtual HoloLens untuk melatih mekanik mesin baru dan awak pesawat.

Anda Malu Ngorok di Angkutan Umum? Begini Cara Mengatasinya!

Tidur di kendaraan umum karena perjalanan yang cukup memakan waktu dan melelahkan sudah jadi hal yang lumrah. Namun bagaimana kala tidur Anda terkombinasi dengan suara mendengkur atau mengorok? Bila pancaran suara ngorok cukup keras tentu saja akan mengganggu kenyamanan penumpang lain, dan pastinya membuat malu Si Pengorok, terlebih jika ada yang dengan iseng merekam dan mengunggahnya di sosial media.

Baca juga: Tips Kenalan “Ampuh” di Moda Transportasi, Intinya Tidak Boleh Dipaksakan!

Sebenarnya, tidur ngorok berarti tidur Anda tidak nyenyak karena suara yang ditimbulkan berasal dari aliran udara saat bernafas tidak lancar alias terhambat. KabarPenumpang.com merangkum dari berbagai sumber, ternyata banyak masyarakat yang penasaran penyebab tidur ngorok dan ada juga yang beranggapan tidur ngorok berkaitan dengan penyakit.

Memang beberapa mengatakan, orang mengorok sebenarnya tidak semua karena penyakit, melainkan terkait dari masalah sederhana yang tidak berbahaya dan akhirnya harus ditangani dokter. Penyebab orang mengorok bisa dikarenakan struktur mulut, memiliki pangkal lidah yang tebal akan beresiko tidur ngorok karena saluran udara menjadi sempit.

Orang obesitas atau kelebihan berat badan pun bisa menjadi ngorok karena jaringan di bagian belakang tenggorokan menghambat aliran udara. Minuman alkohol pun bisa menjadi penyebabnya bila dikonsumsi terlalu banyak. Jika Anda memiliki penyakit sinusitis dan amandel bisa juga menyebabkan tidur ngorok, sebab saluran pernafasan terganggu karena hidung tersumbat atau saat amandel membengkak.

Namun, tidak perlu khawatir, sebenarnya ada beberapa hal yang bisa dilakukan agar saat tidur dalam moda transportasi Anda tidak mengorok. Berikut ini ada beberapa hal yang bisa mencengah agar Anda tidak mengorok.

Baiknya atur posisi tidur Anda, buat kepala tetap tegak. Karena mengingat posisi tidur pastinya tidak bisa dikontrol apalagi saat duduk. Anda bisa menggunakan bantal leher untuk menjaga agar kepala tidaklah nunduk dan posisi tidur aman.

Tak hanya menjaga posisi kepala, Anda juga harus terhidrasi dengan baik. Setiap kali tubuh manusia yang kekurangan cairan (dehidrasi), cairan dari bukal dan hidung menjadi lebih lengket atau kental, yang berkontribusi pada pemblokiran jalan napas dan suara mendengkur keras. Minum banyak cairan akan menghindari hal ini terjadi. Asupan cairan harian yang direkomendasikan adalah sekitar 2,5 liter untuk pria dan 2,0 liter untuk wanita.

Bila kursi Anda cukup luas untuk berbaring, pastikan tidak terlalu tidur telentang. Sebab saat Anda berbaring, lidah bisa mundur kebelakang dan memblokir saluran udara yang menyebabkan Anda ngorok.

Baca juga: Kentut di Tempat Umum Ternyata Ada Aturannya!

Saat naik pesawat, Anda mungkin tidak ingin duduk tegak selama penerbangan tiga jam atau lebih. Namun, Anda perlu mengetahui bahwa semakin Anda berbaring, maka semakin mungkin Anda akan mendengkur.

Inggris Tetapkan Standar Koneksi WiFi on Train 1 Mbps

WiFi on train sudah menjadi standar pelayanan di kereta kelas dunia, pun lewat serangkaian uji coba, di Tanah Air PT KAI juga tengah mengupayakan hadirnya akses WiFi di layanan gerbong penumpang kelas eksekutif. Boleh dibilang mengadaptasi akses WiFi on train adalah gampang-gampang susah. Gampangnya, di sepanjang jalur rel sudah masuk dalam coverage sinyal operator seluler. Sementara susahnya adalah menjaga kualitas dan stabilitas koneksi internet di dalam kereta itu sendiri.

Baca juga: Sulitnya Menghadirkan Free WiFi di Atas Kereta, Inilah Alasan PT KAI

Perlu dicatat, koneksi WiFi dari hotspot yang diberikan di kompartemen bakal ‘disedot’ oleh banyak penumpang, sedangkan pancaran sinyal dari BTS operator seluler belum bisa disebut stabil, apalagi jika kereta melaju dengan kecepatan tinggi, belum lagi persoalan jika kereta masuk di wilayah rural atau pedesaan yang coverage selular-nya lebih renggang. Bisa saja menggunakan jalur satelit, tapi toh perusahaan kereta harus wanti-wanti, pasalnya antena satelit akan menjadi masalah tatakala kereta masuk ke dalam terowongan.

KabarPenumpang.com melansir globalrailwayreview.com, tantangan yang dihadapi untuk jaringan WiFi pada kereta tidaklah sama dengan koneksi yang digunakan untuk di rumah atau perkantoran. Seperti di Inggris misalnya, titik awalnya adalah melihat apa yang disyaratkan oleh Department for Transport (DfT) kepada setiap perusahaan pengelola kereta api untuk menawarkan penumpang mereka dalam konektivitas on board melalui lima kunci indikator performa.

Nantinya bila ini berjalan ideal, maka setiap penumpang bisa menerima standar kecepatan koneksi 1 Mbps saat terhubung ke sistem WiFi dalam kereta. Sedangkan pada saat ramai, koneksi internet setidaknya tersedia untuk 95 persen kapasitas dalam perjalanan.

Ada beberapa layanan yang nantinya bisa digunakan penumpang saat tersambung dengan WiFi di kereta yakni, email, browsing, media sosial, menonton film atau mendengarkan musik. Namun sebenarnya untuk menonton film atau mendengarkan musik melalui konektivitas WiFi akan menyerap banyak bandwidth dibanding mengecek email atau browsing biasa.

Nomad Digital, sebagai inovator di bidang on board WiFi awalnya menanggapi dan berpikir seperti kembali pada tahun 2002, dimana penumpang bisnis kereta saat itu menggunakan waktu perjalanan mereka menuju tujuan untuk pekerjaan yang produktif. Sayangnya waktu telah berubah dan penumpang sekarang jauh lebih menuntut pada lingkungan digital dan layanan yang terkait dengan multimedia. Jeremy Haskey, Global Engineering Director & Chief Solutions Architect untuk Nomad Digital mengatakan, produk dan solusi yang mereka miliki sudah merespon dan menyesuaikan dengan permintaan penumpang.

Baca juga: Mobile Broadband di Atas Rel Kereta

“Mengikuti pertumbuhan eksponensial dalam dunia konsumsi komunikasi massa saat ini, khususnya selama dua hingga tiga tahun terakhir dengan masifnya penggunaan aplikasi video dan game, akhirnya kami dibatasi oleh cakupan koneksi seluler yang diterima kereta api, dan throughput tertinggi yang ditawarkan oleh penyedia layanan jaringan seluler di lingkungan pedesaan dan perkotaan. Kami sangat menyadari bahwa cakupan (coverage) bisa menjadi solusi tambal sulam,” ujarnya.

Dari aspek teknologi yang diusung, rasanya sulit untuk mengadopsi akses data via satelit, mengingat antena satelit yang menonjol akan bermasalah saat kereta memasuki terowongan. Sebagai gantinya, ada satu aplikasi yang dikatakan cukup menarik, bahwa bisa ditaruh dalam sebuah modul di tiap gerbong. Dengan sinyal yang rendah, teknologi ini dirasa cukup memungkinkan dipasang pada rangkaian kereta yang ada. Saat ini hotspot WiFi suda tersedia di KA Gajayana, namun internetnya masih belum berjalan.

 

Mau Tidur Nyenyak dalam Penerbangan? Ini Dia Tips dari Awak Kabin!

Sebagai seorang pelancong, Anda akan berpikir untuk tidur di dalam penerbangan sebelum tiba di tempat tujuan, terlebih bagi Anda yang menjalani penerbangan jarak jauh. Selain untuk mengurangi kantuk dan lelah, bisa tidur dengan nyaman dapat membuat Anda bisa lebih segar.

Baca juga: Terbang Jarak Jauh? Don’t Worry Ikuti Tips Ini

KabarPenumpang merangkum dari cheatsheet.com (5/9/2017), bahwa awak kabin ataupun pramugari mengungkapkan rahasia untuk merasakan tidur yang nyenyak dalam kabin. Berikut ini ada beberapa tips dari awak kabin agar Anda tidur nyenyak dalam setiap penerbangan yang Anda lakukan.

1. Gunakan pakaian yang nyaman
Baiknya gunakan kaos dengan celana yang nyaman. Jangan gunakan pakaian sebanyak tiga lapis, kecuali Anda nyaman saat tidur dengan kondisi seperti itu. Pakai juga kaus kaki dan sepatu yang nyaman. Jauhkan segala aksesoris, sebab semakin sedikit aksesoris yang digunakan, akan membuat tidur Anda semakin nyaman dan nyenyak.

2. Pilih duduk dekat jendela
Kursi dekat jendela adalah pilihan bagus karena akan lebih nyeyak tidur. Sebab bila Anda mendapat kursi di dekat lorong, justru tidak akan nyenyak, selain teman sebaris Anda bisa saja keluar masuk untuk ke toilet, langkah kaki penumpang lain juga mengganggu kekusyukan Anda tidur. Tak hanya itu, duduk di jendela juga membuat Anda sedikit tenang, karena tidak perlu takut menyender pada orang lain sebab ada jendela yang bisa Anda senderi untuk tidur.

3. Gunakan bantal leher
Agar leher tidak kaku saat tidur, gunakan bantal leher untuk menyangga. Baiknya hindari penggunaan bantal leher seperti biasa, tetapi lingkarkan kebagian depan leher Anda untuk menyangga kepala saat tidur Anda agak condong kedepan.

4. Gunakan barang bawaan untuk pijakan kaki
Tempat yang sempit terkadang membuat Anda sulit untuk tidur dengan nyenyak. Tidak banyak ruang untuk Anda meringkuk atau berbaring di pesawat, apalagi untuk berselonjor kaki. Jika membaw tas jinjing bisa digunakan untuk sandaran kaki.

5. Jangan terlalu banyak makan
Makanan dengan banyak gula dan minuman berkafein bisa mengganggu pola tidur Anda. Bukannya nyenyak, justru Anda akan terjaga. Makanlah kacang-kacangan atau buah serta minum teh herbal 30 menit sampai satu jam sebelum Anda tidur.

6. Jauhkan dan katakan tidak pada alkohol
National Sleep Foundation mengatakan, minum alkohol tidak lama sebelum tidur akan mengganggu tidur nyenyak Anda, yang merupakan bagian yang sangat penting dari siklus tidur.

Baca juga: Biar Nyaman di Penerbangan Kelas Ekonomi Jarak Jauh, Baca Ini!

7. Tertidur dengan bantuan suara
Biasanya banyak penumpang yang bisa tertidur dengan bantuan musik untuk masuk dalam kenyenyakannya. Musik lewat headset yang mengalunkan lagu ini bisa membantu otak memblokir dari suara-suara lain yang mengganggu.

Akankah Proyek Kereta Cepat Jakarta-Surabaya Mangkrak Seperti Pendahulunya?

Rencana proyek kereta cepat yang menghubungkan Jakarta dan Surabaya diketahui akan memasuki tahap finalisasi dalam waktu dekat ini. Budi Karya Sumadi selaku Menteri Perhubungan menargetkan finalisasi itu dapat selesai dalam jangka waktu 1-2 minggu ke depan. Jika tahap finalisasi sudah rampung, maka berbagai hal yang menyangkut proyek ini seperti jenis kereta yang akan digunakan, sarana dan prasarana, pemetaan lintasan kereta, dan lainnya bisa segera diputuskan, sebelum semuanya dilaporkan kepada Presiden RI, Joko Widodo.

Baca Juga: Jalan di Tempat, Proyek Kereta Cepat Jakarta-Bandung (Masih) Terbelit Pembebasan Lahan

“Kereta Cepat Jakarta-Surabaya akan kita finalisasi dalam 1-2 minggu ini karena berkaitan dengan menggunakan apa (jenis kereta), bagaimana prasarananya dan juga berkaitan dengan lintasan yang mana,” ungkap Budi seperti yang KabarPenumpang.com kutip dari laman kumparan.com (6/9/2017). “Jadi kita sedang finalisasi alternatif itu nanti baru kita usulkan ke Presiden. Presiden yang akan putuskan mana yang dipilih, moda yang mana, jenis yang mana,” tambahnya.

Adapun percepatan finalisasi rencana proyek kereta cepat Jakarta-Surabaya ini adalah karena adanya desakan dari pihak Jepang untuk segera menentukan lokasi mana yang akan digunakan sebagai jalur kereta cepat ini. Diketahui, Jepang merupakan mitra kerja Indonesia dalam proyek kereta cepat Jakarta-Surabaya.

Terlepas dari semua masalah yang membelit proyek ini, salah satu masalah yang paling menonjol adalah soal penggunaan jalur. Dalam rapat internal yang dilakukan bersama Wapres RI, Jusuf Kalla dan Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR), Basuki Hadimuljono beberapa hari yang lalu, Budi mengaku diarahkan untuk menggunakan jalur yang sudah ada sebelumnya (existing). “Ada satu arahan yang menurut saya baik adalah, pertama Jakarta-Surabaya, diarahkan di jalur existing,” tutur Budi dilansir dari sumber terpisah. Ia menambahkan, keuntungan dari menggunakan jalur yang sudah ada akan mempercepat pembangunan proyek tersebut.

Kecurigaan pihak Jepang mulai tumbuh kembali ketika mereka berasumsi bahwa Indonesia akan menyerahkan proyek ini (lagi) ke pihak Cina. “Beberapa pemberitaan di Jepang akhir-akhir ini sangat kuat menuliskan kemungkinan Cina akan mendapatkan kembali proyek kereta api cepat Jakarta-Surabaya, tidak diberikan ke Jepang nantinya,” ungkap seorang pejabat pemerintah Jepang dilansir dari sumber terpisah.

Baca Juga: Tidak Gunakan APBD, Pembangunan Kereta Cepat Tersandung Masalah Pembebasan Lahan

Tidak melulu soal penggunaan rel, soal perlintasan sebidang pun kerap muncul ke permukaan, memperkeruh suasana. Dapat dibayangkan ratusan bahkan ribuan perlintasan sebidang yang mesti ‘dilumpuhkan’ jika benar kereta cepat ini akan segera beroperasi. Secara tidak langsung, penutupan perlintasan sebidang akan berdampak pada kondisi lalu lintas di sekitarnya. Diprediksi, jalur perlintasan sebidang tersebut akan diganti dengan sebuah jembatan atau sebuah Under-Pass yang memakan biaya investasi lebih mahal.

Tidak sedikit juga warga Indonesia yang memandang proyek ini dengan sebelah mata. Mereka berkaca pada proyek kereta cepat Jakarta-Bandung yang hingga kini masih belum rampung juga. Kendala yang terus dijadikan tameng oleh para kontraktor adalah soal pembebasan lahan yang alot. Akankah proyek kereta cepat Jakarta-Surabaya berjalan mulus dan tidak mangkrak seperti Jakarta-Bandung?

William Boeing, Eks Pengusaha Kayu Yang Bawa Pengaruh Besar di Dunia Aviasi

Siapa yang tidak tahu Boeing? Salah satu perusahaan multinasional ini tidak hanya menggeluti bidang produksi pesawat terbang, tapi juga merancang dan menjual mahakaryanya kepada penyedia jasa layanan penerbangan. Diketahui, Boeing juga memproduksi pesawat rotor, roket, hingga satelit. Tidak heran jika perusahaan yang didirikan pada 15 Juli 1916 ini disebut-sebut sebagai salah satu produsen pesawat terbesar di dunia.

Baca Juga: Igor Sikorsky, Kini Jadi Nama Bandara di Dua Negara

Ternyata, penamaan Boeing sendiri diambil dari pendiri perusahaan yang bermarkas di Chicago, Illinois ini, yaitu William Boeing. Lahir di Detroit, Michigan, Amerika Serikat, pada 1 Oktober 1881, pria dengan nama lengkap William Edward Boeing ini berasal dari kalangan keluarga yang berada. Diusianya yang menginjak delapan tahun, Boeing terpaksa menerima kenyataan pahit ketika sang Ayah, Wilhelm Böing meninggal karena penyakit influenza, dan Ibunya, Marie M. menikah lagi setelah ditinggal mendiang suaminya.

William Edward Boeing. Sumber: washington.edu

Boeing sempat mengenyam bangku pendidikan di Vevey, Swiss sebelum akhirnya ia kembali ke Amerika. Yale University lalu menjadi pelabuhan Boeing selanjutnya untuk melanjutkan masa pendidikannya. Namun pada tahun 1903, Boeing memutuskan untuk mengakhiri masa kuliahnya dan mulai memasuki dunia bisnis kayu. Ternyata, Dewi Fortuna berada di pihak Boeing, terbukti dengan suksesnya usaha kayu yang ia jalankan, dan menjadikannya seorang kaya raya, terlebih ketika ia membangun perusahaan perkayuannya sendiri di Grays Harbour.

Boeing Model 1. Sumber: flyingmachines.ru

Meskipun sudah mendulang kekayaan, itu sama sekali tidak membuatnya cepat puas dan pongah. Oleh karena itu, saat dirinya menjadi direktur utama dari Greenwood Logging Company, Boeing yang selama ini sering sekali bereksperimen dengan desain pesawat memutuskan untuk pindah ke Seattle. Kepindahannya ke Seattle ternyata membuka asa baru bagi Boeing. Di sinilah minatnya akan pesawat terbang mulai tumbuh, terutama dari segi bisnis. Untuk mewujudkan mimpinya di dunia aviasi, Boeing memutuskan untuk mengambil kelas di Glenn L. Martin Flying School di Los Angeles dan membeli salah satu pesawat milik Glenn.

Dihimpun KabarPenumpang.com dari laman wikipedia.com, salah seorang pilot dari Glenn L. Martin Flying School, James Floyd Smith diketahui membantu Boeing untuk merakit hydroaeroplane dan mengajarkannya cara untuk terbang. Bermodalkan sebuah hanggar sewaan di tepi Danau Union, keduanya saling bahu membahu untuk merakit pesawat tersebut. Setelah hydroaeroplane itu rampung, uji coba pun dilakukan oleh Herb Munter, seorang pilot uji coba. Namun sayangnya, kendala teknis dialami saat uji coba dan memaksa pesawat tersebut kembali masuk ke dalam hanggar. Tidak berhenti sampai di situ, Boeing  juga dipaksa menunggu berbulan-bulan untuk mendatangkan suku cadang penggantinya.

William Boeing dan Eddie Hubbard. Sumber: disciplesofflight.com

Ia lalu berkonsultasi dengan George Conrad Westervelt, rekannya yang juga berprofesi sebagai salah satu teknisi ahli dari Angkatan Laut A. S. dan mengatakan bahwa keduanya akan bersinergi untuk kembali membangun pesawat terbang yang lebih baik dengan masa pengerjaan yang lebih singkat. Setelah memperhitungkan berbagai kemungkinan, pada tahun 1916 mereka mendirikan industri pesawat terbang yang saat itu diberi nama Pacific Aero Products.

Produk pertama yang mereka hasilkan adalah seaplane yang diberi nama Boeing Model 1 (B & W Seaplane). Setahun berselang, tepatnya ketika Amerika terlibat dalam Perang Dunia 1, Pacific Aero Products lalu mengganti namanya menjadi Boeing Airplane Company. Sebagai perusahaan yang baru berdiri, Boeing bisa dibilang beruntung dengan jumlah pesanan 50 pesawat dari Angkatan Laut A. S. Berakhirnya masa Perang Dunia 1 menjadi titik balik bagi Boeing yang mulai menaruh perhatian serius untuk membangun pesawat layanan komersial.

Baca Juga: Beberapa Hal Yang Terlupakan dari Nama Besar Boeing

Hingga pada tahun 1934, pemerintah Amerika Serikat menuduh William Boeing melakukan praktik monopoli. Di tahun yang sama, Air Mail Act memaksa perusahaan tersebut untuk memisahkan operasi penerbangan dari sektor pengembangan dan manufaktur. Dari situ, Boeing terpaksa memecah perusahaannya menjadi tiga entitas, yaitu United Aircraft Corporation (sekarang menjadi United Technologies Corporation), Boeing Airplane Company (sekarang menjadi The Boeing Company), dan United Air Lines.

Di masa tuanya, Boeing lebih memilih untuk mengembangkan bisnis properti dan pengembangbiakkan kuda ras. Pada 28 September 1956, tepat tiga hari sebelum ia merayakan ulang tahunnya yang ke 75, Boeing meninggal akibat serangan jantung. Itu berarti Boeing meninggal setahun sebelum penerbangan Boeing 707, yang menjadi salah satu pesawat jet komersial jarak jauh tersukses kala itu. Kini, mantan pengusaha kayu tersebut sudah mengguratkan banyak tinta emas dan berpengaruh besar di dunia penerbangan internasional. Selamat jalan, Boeing!

Variomobil Wujudkan Impian Anda Tidur Bersama Kendaraan

Salah satu motorhomes terbesar dan termahal di dunia baru saja dirilis di Düsseldorf Caravan Salon akhir pekan kemarin. Variomobil Signature 1200, sebuah kendaraan yang besarnya hanpir setara dengan bus ini bertenagakan 523 horsepower dengan mesin Mercedes yang tertanam di dalamnya. Moda ini juga bisa menarik beban tambahan hingga 450 horsepower atau yang setara dengan Mercedez V8. Selain itu, Variomobil Signature 1200 juga bisa memasukkan sebuah mobil ke dalam garasi yang terletak di bagian belakang.

Baca Juga: Konsep Audi City Bus, Inikah Gambaran Bus Masa Depan?

Sebagaimana yang dilansir KabarPenumpang.com dari laman newatlas.com (7/9/2017), garasi yang terletak di bagian belakang Variomobil Signature 1200 mampu memuat city car, seperti Mercedes SL roadster, Porsche 911, hingga Mini Cooper. Jadi, Anda bisa memarkirkan motorhome ini dan mulai berkeliling menggunakan mobil yang Anda parkirkan di dalamnya. Percayalah, Variomobil Signature 1200 memang kendaraan yang benar-benar besar.

Variomobil dikenal sebagai perancang kendaraan besar asal Jerman, dan Signature 1200 akan masuk ke dalam jajaran moda yang siap untuk dipasarkan. Adapun spesifikasi dari motorhome ini adalah: Tinggi moda mencapai 12m, tiga poros, 6×2 Mercedes Actros yang mempesona, hingga turbo diesel 6-silinder 523-hp yang dapat bandel di segala medan. Variomobil Signature 1200 juga dilengkapi dengan gardu penggerak steerable sehingga moda ini dapat bermanuver lebih baik. Ada juga air suspension, fitur driver-assistance, active braking assist, dan kamera yang dapat mengawasi 360 derajat keadaan di sekitar moda.

Sumber: newatlas

Diantara itu semua, yang paliing mengesankan dari moda ini adalah garasi yang ada di bagian belakang yang menggunakan pintu hidrolik. Diketahui, Variomobil memiliki tiga varian berdasarkan ukuran garasi, yang paling kecil mampu menampung mobil seukuran Smart fortwo, dan yang paling besar mampu menampung Porsche 911, Mercedes SL atau Mini Cooper. Layaknya sebuah van wisata, interior di bagian dalamnya pun bisa dibilang cukup lengkap dan elegan.  Sebut saja TV LED, kulkas, tempat mencuci piring, kamar mandi lengkap dengan wastafelnya, sistem audio Bose, bangku yang dilapisi oleh kulit, dan sejumlah kelengkapan lainnya.

Sumber: newatlas

Ruang tidurnya sendiri mampu menampung empat hingga enam orang, termasuk juga tempat tidur portable yang disimpan di atas kabin pengemudi. Untuk masalah elektronika, Variomobil Signature 1200 menggunakan sistem listrik berbasis baterai 170-Ah, panel surya 450 watt, dan generator diesel. Terdapat juga sebuah tangki air yang mampu menampung hingga 500L, water heater, sistem penghangat ruangan, dan AC.

Baca Juga: Teknologi Low-Floor Mudahkan Penumpang Difabel Naik Bus

Jika Anda tertarik untuk memiliki Variomobil Signature 1200, harga yang ditawarkan oleh pihak produsen adalah USD $922.000 atau setara dengan Rp12,1 miliar rupiah. Apa Anda tertarik?