Jalur Stasiun Nambo Punya Pemandangan Yang Manjakan Mata

Stasiun kereta api Nambo merupakan stasiun yang baru kembali dioperasikan pada 1 April 2015 untuk melayani kereta listrik (KRL) Commuter Line yang memberangkatkan sembilan kali dalam sehari dengan dua rangkaian kereta rute Nambo ke Depok/Angke. Stasiun Nambo sendiri terletak di Bantar Jati, Bogor.

Baca juga: Lempuyangan, Sejarah Panjang Stasiun KA Ekonomi di Yogyakarta

Diresmikan tahun 1997, Stasiun Nambo sebenarnya direncanakan akan dibuat jalur lingkar mulai dari Cikarang hingga Parung Panjang. Sayangnya rencana ini terpaksa ditunda karena krisis ekonomi yang terjadi tahun 1997 tak lama setelah di resmikan. Kemudian, tahun 2002, PT Kereta Api Indonesia kemudian mengoperasikan Kereta Disel Listrik (KRD) tujuan Tanah Abang – Nambo.

Sayangnya KRD ini hanya bertahan lima tahun hingga 2007, sebab rangkaian keretanya yang sudah sangat tua. Kemudian tahun 2012, PT KAI mulai kembali memperbaiki jalur ini dan dipasang gardu listrik serta tiang LAA (Listrik Aliran Atas) agar KRL bisa melintas di jalur ini. Kemudian setelah adanya perbaikan jalur, selain untuk pengoperasian KRL, stasiun ini juga kembali mengoperasikan kereta api barang angkutan tujuan Kalimas.

Pengoperasian kereta api barang ini berangkat pada pagi hari dan sampai di Surabaya pada malam harinya, pemberangkatan pagi agar tidak mengganggu perjalanan KRL setiap harinya. Stasiun Nambo sendiri diketahui memiliki delapan jalur kereta api yang semuanya dalam kondisi baik.

Jalur satu digunakan untuk KRL dan kereta langsir. jalur dua, tiga dan empat untuk kereta langsir serta menumpan gerbong datar atau untuk parkir gerbong semen yang sudah selesai loading. Jalur lima dan enam digunakan untuk proses loading semen. Sedangkan jalu tujuh dan delapan merupakan jalur baru yang rencananya akan digunakan untuk jalur kereta batu bara dari Ciganding.

Bangunan stasiun ini sendiri mirip dengan sebuah villa. Arsitekturnya pun mirip dengan stasiun Cibinong. Walaupun bernama stasiun Nambo, tapi tidak berada di desa Nambo melainkan desa Bantar Jati.

Baca juga: Mengenal Walahar Express, Kereta “Odong-Odong” dari Purwakarta

Sepanjang jalur kereta ini dari Citayam – Cibinong – Nambo ini berbeda degan jalur KRL di Jabodetabek pada umumnya. Sebab dengan melintasi jalur ini, pandangan mata Anda akan dimanjakan dengan pemandangan khas pedesaan yang spektakuler. Sungai yang besar melintasi dibawah jalur kereta hingga sawah yang membentang dan jajaran bukit pegunungan yang terhampar bisa terlihat dari jalur ini.

Hubungkan Amaravati dan Vijayawada, India Terbawa Eforia Pengadaan Hyperloop?

Setelah serangkaian negara menunjukkan ketertarikannya terhadap Hyperloop, kini wabah tersebut mulai menyebar di negara penghasil film Bollywood, India. Hal tersebut ditandai dengan penandatanganan nota kesepakatan kerja sama antara Hyperloop Transportation Technologies (HTT) dengan negara bagian Andhra Pradesh untuk menghadirkan moda berkecepatan super tersebut untuk menghubungkan dua kota besarnya, Amaravati dan Vijayawada.

Baca Juga: Elon Musk Pertegas Eksistensinya Dalam Kompetisi Pengadaan Moda Futuristik

Dilansir KabarPenumpang.com dari laman newatlas.com (7/9/2017), adapun waktu tempuh antara dua kota tersebut kurang lebih sekitar 1 jam menggunakan mobil, dan hanya memakan waktu enam menit saja jika menggunakan Hyperloop. Pihak HTT akan memulai studi kelayakan selama enam bulan terhitung sejak Oktober mendatang. Tidak hanya studi kelayakan, HTT juga sembari menentukan jalur pemasangan tabung yang cocok di antara dua kota tersebut.

Jika tidak menemukan hambatan, pihak HTT mengaku siap untuk memulai pembangunan. “Platform transportasi seperti Hyperloop akan memperkaya infrastruktur transportasi di sini, yang juga mempengaruhi perkembangan IT di Andhra Pradesh,” tutur Nara Lokesh, Menteri Kabinet untuk Teknologi Informasi. “Kehadiran Hyperloop juga akan mempengaruhi penggunaan teknologi dan perangkat lunak di Amarvati, sekalian membantu menguatkan citra kota ini dan menjadikannya pemimpin di kelas sains dan teknologi,” tambahnya.

Patut dicatat, diantara tiga perusahaan yang menawarkan jasa layanan transportasi serupa, yaitu HTT, Hyperloop One, dan Arrivo, HTT merupakan perusahaan yang menjadi cikal bakal tercetusnya ide Hyperloop sekaligus menjadi perusahaan yang perkembangannya paling terlambat.

Baca Juga: Uji Coba Perdana, Hyperloop One Sukses Meluncur 112 Km Per Jam

Berbeda dengan saingan utamanya, Hyperloop One yang sudah memulai uji coba skala penuh dalam beberapa waktu ke belakang di Gurun Nevada. Padahal, pada tahun 2015 silam, pihak HTT mengumumkan bahwa pihaknya akan menggelar uji coba peluncuran sejauh 5 mil di Quay Valley, California. Namun itu semua hanyalah sebatas rencana yang hingga kini belum terealisasikan.

HTT berdalih tengah melakukan studi kelayakan di beberapa negara, seperti Slovakia, Abu Dhabi, Prancis, dan yang terakhir adalah Indonesia. Sementara itu, Hyperloop One pun melakukan hal yang sama, yaitu studi kelayakan di Rusia, Finlandia, dan Abu Dhabi. Diketahui, pemerintah Korea Selatan pada bulan Juni kemarin baru saja menjalin sebuah kemitraan dengan HTT untuk membangun sistem Hyperloop skala penuh pertama di dunia.

Travis Kalanick dan Garrett Camp, Dua Inovator Dibalik Nama Besar Uber

Siapa yang tidak kenal dengan salah satu perusahaan yang menyediakan jasa layanan transportasi berbasis online, Uber. Kepopuleran namanya bahkan sudah mendunia, termasuk di Indonesia. Sebagai salah satu breakthrough di dunia transportasi berbasis online, kehadiran Uber banyak menginspirasi perusahaan-perusahaan lain untuk mengikuti jejaknya. Terbukti dengan hadirnya Grab dan Go-Jek di Indonesia, seolah menjadi penanda besarnya pengaruh Uber dalam dunia transportasi.

Baca Juga: Hindari Penyalahgunaan Nomer Ponsel, Uber Siapkan Fitur Chat di Dalam Aplikasi

Lalu, siapakah orang yang ada di balik lahirnya Uber? Perkenalkan, Travis Kalanick dan Garrett Camp, dua orang entrepreneurs yang menjadi kunci kesuksesan Uber di dunia. Lahir di Calgary, Alberta, Kanada pada 4 Oktober 1978, Garrett Camp memilih jalan hidupnya sebagai pebisnis dan investor untuk sejumlah perusahaan. Terlahir dari Ibu yang berprofesi sebagai pekerja seni dan ayah seorang ekonom. Pasangan tersebut lalu memutuskan untuk banting stir dan bekerja sama membangun sebuah usaha yang bergerak di bidang residental. Maka tidak heran jika orang tua Garrett menularkan jiwa bisnisnya kepada anak mereka.

Garrett Camp. Sumber: bwbx.io

Garrett mengenyam bangku sekolah dasar di sebuah sekolah kecil yang hanya memiliki 150 siswa saja. Pada tahun 1996, Garrett memilih University of Calgary sebagai tempat untuk mengenyam pendidikan tingkat tingginya. Kala itu ia mengambil jurusan teknik elektro. Selang setahun kemudian, ia pindah ke Montreal untuk magang di Nortel Networks dimana ia mengerjakan proyek teknologi pengenalan suara. Selama menjalani waktu magangnya di Montreal, Garrett juga mengikuti kursus di Concordia University.

Pada tahun 2000, ia kembalik ke Calgary untuk menyelesaikan perkuliahannya yang sempat tertunda. Diketahui, Garrett lalu mulai mengerjakan Masters in Software Engineering dan meneliti sistem kolaboratif, algoritma evolusioner, dan pencarian informasi. Pada tahun 2002, Garrett bersama rekannya, Geoff Smith membuat sebuah mesin pencarian yang bernama StumbleUpon. Ini merupakan kesuksesan besar pertama Garrett dan telah mengakuisisi lebih dari 25 juta pengguna terdaftar dalam waktu sepuluh tahun sejak pembentukannya. StumbleUpon telah terdaftar di 50 Website Terbaik versi TIME.

Walaupun hanya berperan sebagai co-founder, campur tangan Garrett di Uber mampu melebarkan sayap hingga ke lebih dari 300 kota dari 58 negara di seluruh dunia.

Travis Kalanick. Sumber: stz.india.com

Sedangkan partnernya, Travis Cordell Kalanick lahir di Los Angeles, California pada 6 Agustus 1976. Buah hati dari pasangan Bonnie Horowitz Kalanick dan Donald Edward Kalanick ini menghabiskan masa kecilnya seperti kebanyakan anak sepantarnya. Ia menghabiskan masa pendidikannya di Granada Hills High School dan melanjutkan pendidikan tingginya di University of California, Los Angeles, jurusan teknik komputer.

Baca Juga: Di Kanada Uber Jadi Transportasi Umum Dengan Trayek Khusus

Jangan sangka pendidikan Travis berjalan mulus. Ia sempat dropout dari kampusnya karena lebih memilih untuk bekerja di perusahaan file sharing miliknya, bernama Scour. Batu sandungan kembali menjegal langkahTravis di awal karirnya bersama Scour, dimana startup tersebut mengalami kebangkrutan. Namun ia segera bangkit dan mulai mendirikan startup baru bernama Red Swoosh.

Titik balik Travis terjadi ketika ia bertemu dengan Garrett Camp dan bersinergi untuk merintis Uber bersama-sama. Modal awalnya pun bisa dibilang cukup ekonomis, hanya US$800 yang kemudian mereka gunakan untuk merekrut beberapa driver yang sebagian lainnya merupakan teman-teman mereka. Namun sifat buruk Travis memaksa dirinya untuk mengorbankan posisi tertinggi di Uber kepada Dara Khosrowshahi, sebagai CEO dari perusahaan penyedia jasa layanan antar jemput tersebut.

Staf Bandara Changi Resmi Gunakan Kacamata Augmented Reality

Bandara Changi Singapura Jumat (8/9/2017) ini telah memperbaharui teknologinnya dengan penggunaan Augmented Reality atau realitas tertambah. Penggunaan kacamata Augmented Reality ini diumumkan oleh Singapore Airport Terminal Services (SATS) sebagai pihak pengelola bandara. Nantinya Augmented Reality ini akan digunakan oleh 600 staf bandara untuk memberikan informasi secara real time atau pada waktu itu juga tentang bandara atau hal penting lainnya kepada calon penumpang dan pengunjung.

Baca juga: Dengan Canopy Park, Bandara Changi Siapkan Atraksi Spektakuler

KabarPenumpang.com melansir dari lonelyplanet.com (8/9/2017), bandara Changi berharap dengan adanya teknologi Augmented Reality yang digunakan bisa meningkatkan efisien penanganan bagasi dan mempersingkat waktu muatan selama 15 menit. Sehingga hal ini bisa mempermudah penumpang yang ada di Changi dalam penanganan bagasi atau memiliki waktu tunggu yang lebih pendek dari biasanya baik saat akan berangkat atau tiba.

Pada kacamata Augmented Reality ini sudah menggunakan teknologi baru yang memudahkan para petugas darat dalam memindai penanda visual atau sama seperti memindai kode QR pada bagasi dan muatan para penumpang. Tujuannya yang jelas untuk mencari tahu informasi seperti berat barang dan nomor unit barang tersebut.

Tak hanya memudahkan dalam penanganan bagasi, kacamata ini juga membantu petugas pusat untuk mengontrol serta memantau segala penangan yang ada di bandara secara lebih praktis.

“Inovasi ini secara langsung akan menguntungkan pekerja bandara kami, meningkatkan produktivitas dan membuat tempat kerja mereka lebih aman. Ini adalah cara untuk memanfaatkan teknologi agar bandara dan maskapai penerbangan kita tetap berada di depan persaingan mereka,” kata Khaw Boon Wan, Menteri Koordinator Infrastruktur dan Transportasi Singapura.

Baca juga: 7 Tips Belanja Indah di Bandara Changi

Augmented Reality ini sempat di coba oleh petugas bandara pada Juni lalu dengan empat operator termasuk Singapore Airlines. Kacamata AR ini, nantinya akan diluncurkan secara bertahap. Teknologi AR diharapkan bisa di implementasikan sepenuhnya pada pertengahan tahun 2018 mendatang.

SATS juga berencana meluncurkannya dalam pengoperasian di luar negeri seperti Hong Kong dan Indonesia. Proyeksi teknologi pintar ini dikembangkan dalam kemitraan dengan Civil Aviation Authority of Singapore (CAAS).

“Drone” Jatuh di Lintasan Rel, Kereta Cepat 300 Km Per Jam Aktifkan Rem Darurat

Bukan perkara mudah bagi kereta peluru yang melesat 300 km per jam untuk berhenti dalam moda darurat, bila salah prosedur kecelakaan fatal bisa terjadi. Inilah yang menimpa kereta cepat Fuxing di daerah Luan, Provinsi Hebei di Cina bagian utara. Pangkal musabab pemberhentian darurat kereta rute Beijing-Tianjin ini karena jatuhnya sebuah drone di perlintasan rel.

Baca juga: Jalan di Tempat, Proyek Kereta Cepat Jakarta-Bandung (Masih) Terbelit Pembebasan Lahan

Pihak kepolisian menganggap kejadian tersebut sebagai sesuatu yang serius, pasalnya secara langsung mengancam keselamatan penumpang di dalam kereta. Dikutip KabarPenumpang.com dari South China Morning Post (3/9/2017), tidak disebutkan waktu kejadian insiden ini, pun seberapa dekat antara lokasi jatuhnya drone dengan posisi kereta tidak disebutkan. Namun dari hasil investigasi, telah ditetapkan seorang tersangka yang berprofesi sebagai petani di desa terdekat, di gunung Qinglong.

Masih dari sumber yang sama, pria yang tak disebutkan identitasnya ini dikabarkan tengah menerbangkan drone dalam rangka uji coba, sayangnya aksi coba-coba tersebut dilakukannya di dekat perlintasan kereta cepat. Sebagai kereta cepat, jalur Beijing-Tianjin adalah jaringan rel yang eksklusif dan dilengkapi jalur listrik bertegangan tinggi.

Menurut pilot drone amatir tersebut, dirinya kehilangan kendali atas pesawatnya, dan menyebabkan pesawat mini dengan kendali remote ini jatuh di tengah lintasan rel. Jatuhnya benda asing di tengah lintasan secara otomatis memicu aktivasi alarm di dalam sistem keamanan kereta, dan secara otomatis kereta berhenti mendadak dengan rem darurat. Akibat jatuhnya drone ini jadwal perjalanan sempat tertunda selama 20 menit.

Atas perbuatannya, tersangka terkena ancaman Undang-Undang Keamanan Publik, dengan sanksi penjara selama beberapa tahun. Meski media Cina menyebutkan yang jatuh adalah drone, namun dari penampakan di foto yang terlihat justru serpihan pesawat remote control yang dikendalikan lewat radio. Berbeda dengan drone, pesawat remote tidak punya kemampuan terbang otonom, dan tak mempunyai kemampuan untuk mencegah manuver berbahaya.

Baca juga: Sebuah Drone Hambat Aktifitas Bandara Indira Gandhi Hingga 40 Menit

Menyimak dari kejadian ini, pelatihan pilot (operator) drone menjadi sesuatu yang penting, apalagi jika menerbangkan drone di daerah yang beresiko menyebabkan kecelakaan. Setelah pembatasan drone di kawasana bandara, apakah nantinya drone juga dilarang terbang di dekat jalur rel kereta? Semoga ada regulasi yang jelas untuk keselamatan bersama.

Supaya Tak Kehujanan Saat Bersepeda, Payung Under Cover Solusinya

Tidak melulu sebuah inovasi melibatkan penggunaan teknologi yang rumit. Sebut saja Kickstarter yang baru saja merilis sebuah inovasi yang bisa dibilang unik, simpel, namun sangat berguna bagi setiap orang, khususnya pada saat musim hujan tiba. Inovasi yang diluncurkan oleh seorang penemu asal Jerman ini menggabungkan payung dan sepeda. Kira-kira apa ya?

Baca Juga: Kolaborasi Google dan Levi’s Buahkan Jaket Pintar, Apa Saja Kelebihannya?

Dilansir KabarPenumpang.com dari laman newatlas.com (6/9/2017), Thomas Schmidt  menciptakan Under Cover, sebuah payung yang akan dipasangkan di bagian depan sepeda ketika hujan. Lalu, bagaimana sang pengemudi bisa mengemudikan sepeda sedangkan di bagian depannya ada payung yang menghalangi? Memiliki bentuk yang hampir sama dengan kebanyakan payung biasa, yang membedakan hanya lubang di bagian atas yang berguna agar pengemudi tetap bisa melihat ke depan.

Sumber: newatlas.com

Butuh waktu dua tahun bagi Thomas untuk mengembangkan inovasi ini. Menurut Thomas, tubuh Anda akan kepanasan ketika menggunakan jas hujan. Ia menilai, menggunakan dan melepas jas hujan akan merepotkan seseorang, walaupun dapat melindungi tubuh kita dari terpaan air hujan. Jika hujan sudah berhenti, Anda bisa memperlakukan Under Cover seperti payung, cukup lipat dan masukkan ke dalam tempat yang tersedia. Jika Anda malas memasukkannya ke dalam tas, Anda bisa mengikatnya di kerangka sepeda.

Sumber: newatlas.com

Lalu, apa kelebihan dari Under Cover? Selain terhindar dari hujan, pengguna juga tidak akan merasa kepanasan seperti halnya menggunakan jas hujan. “Walaupun Anda akan merasa sedikit kikuk untuk menggunakannya dalam situasi tertentu,” terang Thomas. “Disarankan untuk tidak menggunakan Under Cover ketika hujan angin, karena dikhawatirkan payung akan menutup karena tertiup angin,” tambahnya.

Baca Juga: Ford Hadirkan Layanan Bike Sharing, Kok Bisa?

Jangan khawatir Under Cover akan mengganggu sistem navigasi Anda, karena payung khusus untuk para pesepeda ini dipasangkan di kerangka tengah sepeda dan menutupi keseluruhan stang, dan sama sekali tidak mengganggu kemudi. Untuk mendapatkannya, Anda harus merogoh kocek sekitar USD $46 atau setara dengan Rp 612.000. Harga tersebut merupakan harga pra-produksi. Rencananya, harga tersebut akan berlipat ganda jika sudah masuk tahap produksi massal.

Entaskan Masalah Sosial, Sleepbus Layani Tunawisma Tidur di Bus

Di Indonesia sleeper bus hadir secara terbatas, dan tergolong ‘mewah’di kelas bus AKAP (Antar Kota Antar Provinsi), tapi lain halnya dengan di Australia, pengalaman adalah guru terbaik. Mungkin peribahasa ini cocok untuk menggambarkan apa yang dialami oleh Simon Rowe, pendiri dan CEO dari Sleepbus. Pengalaman masa mudanya, dimana ia terpaksa tinggal di jalanan akibat tidak memiliki tempat tinggal seolah menuntun hati nuraninya untuk membantu kaum tunawisma yang sering ia lihat setiap harinya. Rencananya, Simon akan melakukan pengumpulan dana untuk memuluskan niat baiknya tersebut.

Baca Juga: Cabin Tawarkan Layanan Sleeper Bus Full Service

Seperti yang diwartakan KabarPenumpang.com dari laman techrepublic.com (28/8/2017), Simon mengaku terinspirasi dari anak-anaknya untuk membantu orang-orang yang memiliki nasib kurang beruntung tersebut. “Ketika saya bercerita kepada anak-anak mengenai kaum tunawisma di jalanan, mereka mengatakan agar saya dapat membantunya, jadi saya memutuskan untuk membantunya,” ungkap Simon.

Diketahui dari Homelessness Australia, ada sekitar 105.237 tunawisma di Australia, dan 17.845 di antaranya berusia di bawah 10 tahun. Dari situ, Simon lalu mendirikan Sleepbus, sebuah bus yang disulap menjadi tempat tinggal khusus kaum tunawisma. “Konsepnya sederhana, kami akan berusaha untuk menyediakan tempat tidur yang nyaman, tidur yang berkualitas, dan membiarkan mereka untuk merenungkan langkah-langkah apa yang mesti mereka tempuh agar tidak lagi hidup di jalanan seperti ini,” ungkap Simon.

“Kami percaya bahwa dengan tidur nyenyak, maka kaum tunawisma ini bisa sedikit melihat titik terang untuk mengubah jalan hidupnya,” tambahnya. Rencananya, badan amal terdaftar di Australia ini akan memenuhi kebutuhan tidur para tuna wisma dalam waktu enam tahun ke depan. Selain dilengkapi dengan televisi, setiap pod juga akan dilengkapi dengan pintu magnetik dan kameran pemantau yang terhubung langsung ke control room, agar para donatur yang turut serta dalam program amal ini dapat melihat aliran dana yang mereka sumbangkan.

Sumber: huffingtonpost.com.au

Selain dengan kamera pengawas, Sleepbus juga mengedepankan sistem transparansi dalam beramal yang diwujudkan dengan cara mengakses melalui situs resmi mereka dan melihat rincian dana sumbangan yang telah para donator berikan. Adapun kelengkapan dari bus yang mampu membawa 22 orang ini adalah tempat tidur lengkap dengan bantal, guling, dan selimut, AC, serta USB port.

Baca Juga: Teknologi Low-Floor Mudahkan Penumpang Difabel Naik Bus

Namun bukan berarti para kaum tunawisma ini dapat berlaku seenaknya di dalam bus, mereka harus mentaati peraturan yang berlaku. “Bus ini akan ditutup pada pukul 20.00, ketika ada seorang yang hendak keluar di atas jam 20.00, mereka bisa saja melakukannya, namun tidak bisa kembali lagi ke dalam rangkaian bus,” ujar Simon.

“Begitu pun jika ada yang mabuk, kami tidak terlalu mempermasalahkannya, selama ia masih bisa menghargai sesama dengan tidak membuat onar,” tambahnya.

Bicara Dimensi dan Bobot, Lima Pesawat Ini Masih Juara

Dengan beragam kebutuhan, pesawat banyak diciptakan dalam ukuran yang tak biasa, salah satunya untuk menunjang muatan (payload) dalam jumlah besar, sosok pesawat diwujudkan dalam desain raksasa. Bicara tentang pesawat berukuran gambot tentu tak melulu untuk misi sipil, pesawat militer juga ikut ambil bagian dalam mewujudkan megastruktur di angkasa ini.

Dari beragam pesawat berukuran tambun yang pernah dirilis, berikut ini KabarPenumpang.com menghimpun lima jenis pesawat dengan ukuran body jumbo versi laman flights.com.

Baca Juga: Berdasarkan Luas Lahan,10 Bandara Ini Jadi Yang Terbesar di Dunia

B-36, The Peacemaker

Sumber: acesflyinghigh

Pesawat ini merupakan strategic bomber yang dirakit oleh Convair dan dioperasikan oleh United States Air Force (USAF) sejak tahun 1949 hingga 1959. Pesawat yang pertama kali mengudara pada 8 Agustus 1946 ini merupakan pesawat berbasis piston terbesar yang diproduksi secara massal. Pesawat ini memiliki bentang sayap terlebar di kelas pesawat tempur yang pernah dibangun sebelumnya, kurang lebih sekitar 230 kaki atau setara dengan 70,1 m. Diketahui, pesawat ini pernah menjadi tumpuan Strategic Air Command (SAC) untuk mengirimkan pasokan senjata nuklir. Sayangnya, pesawat ini harus mengakhiri perjalannya di udara pada tahun 1955 karena posisinya digantikan oleh Boeing B-52 Stratofortress dengan tenaga jetnya.

Caproni Ca.60

Caproni Ca.60

Pernahkah Anda melihat pesawat dengan sembilan sayap? Jika belum, maka cobalah tengok Caproni Ca.60 atau yang biasa disebut Noviplano yang memiliki arti sembilan sayap. Caproni Ca.60 adalah prototipe dari sebuah flying boat bersayap sembilan terbesar yang ditujukan untuk melayani perjalanan transatlantik yang mampu mengangkut 100 penumpang dalam sekali perjalanan. Pesawat ini memiliki delapan mesin dengan tiga tumpuk sayap di setiap sisinya. Namun, pesawat yang pertama kali mengudara pada paruh pertama tahun 1921 ini tinggal kenangan. 4 Maret 1921, tak lama setelah lepas landas, pesawat ini jatuh ke permukaan air dan hancur berkeping-keping setelah sebelumnya kehilangan kontrol. Caproni, manufaktur perakit pesawat ini lantas meninggalkan proyek flying boat-nya karena biaya yang sangat besar.

Airbus A380

Airbus A-380

Hingga saat ini, pesawat double-deck wide-body buatan Airbus ini masih digunakan oleh beberapa maskapai besar, seperti Emirates, Singapore Airlines, Qantas, Qatar dan Lufthansa. Pesawat ini pertama kali mengudara dalam sebuah uji coba pada 27 April 2005 dan melayani penerbangan komersil perdananya untuk Singapore Airlines pada 25 Oktober 2007. Pesawat yang mampu menampung 525 penumpang dalam konfigurasi tiga kelas dan 853 penumpang dalam konfigurasi all-economy class ini masih menjadi primadona bagi beberapa maskapai yang melayani rute antar benua.

Terhitung sejak Agustus 2017, pihak Airbus telah menampung 317 pesanan dan telah menyelesaikan 215 di antaranya. Sebagai pelanggan setia A380, Emirates merajai pemesanan pesawat ini dengan total 142 unit, 97 di antaranya telah dikirimkan.

Baca Juga: Tak Lagi Gunakan Airbus A380, Qatar Airways Ganti Armada Tujuan Atlanta

Solar Impulse 2

Solar Impulse 2

Adalah proyek pesawat terbang jarak jauh bertenaga surya eksperimental asal Swiss. Pada tahun 2014, Solar Impulse 2 digalang-galang sebagai suksesor dari pendahulunya, Solar Impulse 1 dengan kapasitas sel surya yang lebih banyak serta motor yang lebih bertenaga. Proyek yang didanai oleh pihak swasta ini dipimpin oleh seorang insinyur asal Swiss, André Borschberg dan Bertrand Piccard, seorang balloonist.

Adapun tujuan utama dari proyek ini adalah untuk mengelilingi dunia menggunakan pesawat terbang bertenaga sel surya agar tidak mencemari udara. Diketahui pada 9 Maret 2015, André dan Bertrand memulai perjalanan mereka dari Abu Dhabi untuk mengelilingi dunia menggunakan Solar Impulse 2.

Dalam perjalanan multi-tahap tersebut, diagendakan pesawat akan mengakhiri ekspedisinya pada Agustus 2015. Juli 2015, pesawat sel surya tersebut mencatatkan rekor pribadinya sendiri dengan melakukan penerbangan terjauh, yaitu dari Jepang menuju Hawaii. Walaupun selama perjalanan tersebut, baterai pesawat sempat mengalami kerusakan termal yang mengharuskannya beristirahat selama beberapa bulan untuk diperbaiki.

Antonov An-225 Mriya

Antonov An-225 Mriya

Terlepas dari soal bobot terberat atau sayap terlebar, hanya ada satu yang layak menjadi penyandang gelar pesawat terbesar di dunia, inilah Antonov An-225 Mriya. Pesawat yang diproduksi pada tahun 1985 ini memiliki bobot yang luar biasa, yaitu 640 ton dan didukung dengan enam mesin turbofan. Antonov An-225, yang pada awalnya dikembangkan untuk tugas pengangkutan pesawat ruang angkasa Buran, merupakan proyek pembesaran dari Antonov An-124 yang telah meraih sukses.

Dalam penerbangan komersial, pesawat ini mampu menampung muatan hingga 247 ton. Satu fakta yang patut di garisbawahi dari pesawat sepanjang 84 meter dengan bentang sayap 88,4 meter ini, ternyata hanya ada satu Antonov An-225 Mriya yang pernah dibuat.

Nunggu Bus di Halte ini Bisa Bikin Tambah Pintar, Lho!

Apa yang Anda lakukan untuk menghabiskan waktu selama menunggu bus? Mungkin sebagian orang akan sibuk dengan smartphone masing-masing, sedangkan yang lainnya akan lebih memfokuskan diri terhadap situasi di sekitar. Terlalu lama menunggu juga akan membuat banyak orang merasa bosan dan terutama jika jam pulang kerja, tentu hal ini akan terasa sangat lama. Namun, melihat fenomena yang terjadi di lapangan, sebuah halte bus dirancang sedemikian rupa sehingga dapat memanjakan setiap penggunanya.

Baca Juga: Parade Halte Unik Dengan Sokongan Promosi dan CSR

Di Singapura, tepatnya di daerah Jurong, ada sebuah halte bus yang mengadaptasi konsep smart shelter, dimana rancangan tersebut merupakan bentuk pengaplikasian dari Smart City yang tengah digembleng oleh otoritas setempat. Selain demi mewujudkan program Smart City yang tengah diupayakan oleh pemerintah, kehadiran smart shelter tersebut juga ditujukan agar setiap calon penumpang bus tidak cepat merasa bosan ketika terpaksa menunggu lama.

Seperti yang dilansir KabarPenumpang.com dari laman cnbc.com (7/3/2017), beberapa fasilitas yang tersedia di sana akan merangsang minat membaca setiap orang, seperti jaringan WiFi gratis, perpustakaan mini, tablet yang bisa digunakan untuk mengunduh e-Book dengan menggunakan QR Code, spot untuk mengisi ulang daya smartphone, hingga sebuah ayunan yang ditujukan untuk anak-anak. Tidak hanya itu, sebuah layar yang menunjukkan jadwal pemberangkatan bus, hingga kondisi cuaca.

Tidak sampai di situ saja, atap yang digunakan oleh halte ini juga dilengkapi dengan sistem panel surya yang akan mengimbangi biaya listrik dari halte tersebut. Dalam pengadaannya, Otoritas Pengembangan Perkotaan Singapura dan sejumlah agensi lainnya merangkul beberapa arsitek dari DP Architects untuk bekerja sama membangun halte yang menjadi inisiatif tanggung jawab sosial itu.

Baca Juga: 10 Halte Bus Ini Jelas Tidak Biasa

Hadirnya smart shelter ini seolah menunjukkan bahwa infrastruktur transportasi dapat memegang peran ganda, selain sebagai sarana untuk menunggu bus, halte ini juga diharapkan dapat mencerdaskan setiap pengunjungnya. Selain menjadi viral gegara smart shelternya, Jurong juga terkenal sebagai lokasi uji coba dari kendaraan self-driving, smart street lighting, dan juga sensor otomatis pembuangan sampah.

Namun sayangnya, pemerintah hanya akan mengoperasikan halte ini selama satu tahun. Kedepanya, jika inovasi tersebut mendapat respon positif dari masyarakat, maka otoritas setempat akan mempertimbangkan pembangunan halte serupa di titik-titik lain di kota.

Ngarai Sianok, Patahan Lempeng yang Indah Dipandang Mata

Perjalanan ke Sumatera Barat tidak sah kalau tak mampir di Ngarai Sianok yang berada di perbatasan kota Bukittinggi tepatnya di kabupaten Agam. Lembah ini bentuknya memanjang dan berkelok sebagai garis batas kota dari selatan ngarai Koto Gadang sampai ke nagari Sianok Anam Suku dan berakhir di kecamatan Palupuh.

Baca juga: Desa Pelangi, Ubah Wilayah Padat dan Kumuh Jadi Tujuan Wisata

Ngarai Sianok memiliki pemandangan yang sangat indah dan saat ini menjadi salah satu objek wisata andalan Sumatera Barat. Memiliki kedalaman jurang 100 meter dan membentang sepanjang 15 kilometer dengan lebar sekitar 200 meter, Ngarai Sianok merupakan bagian patahan yang memisahkan pulau Sumatera menjadi dua bagian memanjang disebut Patahan Semangko. Sepanjang patahan yang dindingnya sangat curam serta tegak lurus ini membentuk lembah hijau yang merupakan hasil sinklinal (gerakan turunnya kulit bumi).

KabarPenumpang.com merangkum dari berbagai sumber bahwa, Ngarai Sianok merupakan bentuk yang paling jelas dari aktivitas pergerakan lempengan bumi dari pulau Sumatera. Proses terbentuknya patahan tersebut menghasilkan sebuah kawasan yang subur dengan panorama yang indah. Patahan Ngarai Sianok membentuk dinding curam dan juga membentuk lembah hijau yang terbentuk secara alami yaitu melalui gerakan turunnya kulit bumi dan dialiri dengan batang atau Sungai Sianok.

Sebenarnya, Ngarai Sianok punya nama lain yakni Lembah Pendiam, nama ini diberikan karena suasananya begitu tenang dan damai. Pada zaman Belanda, Ngarai Sianok juga disebut sebagai Kerbau sanget karena banyaknya kerbau liar yang berada di dasar Ngarai.

Udara yang dihasilkan di Ngarai Sianok pun masih bersih dan sejuk karena masih banyak pohon. Selain itu, disini pula bagi Anda yang ingin melepas beban berat pikiran dan menghilangkan rasa lelah dari rutinitas seahri-hari Ngarai Sianok bisa menjadi tempat yang cocok dengan kicauan burung, suara gemercik air sungai membuat ketenangan pada pikiran Anda.

Tak hanya menikmati udara segarnya saja, Ngarai Sianok dapat dinikmati dengan menjelajahi Sungai Sianok. Hal ini bisa dilakukan dengan menggunakan kano atau kayak sebagai sarananya. Rute yng akan dilalui adalah dari Nagari Lambah hingga Jorong Sitingkai Nagari Palupuh dengan waktu tempuh sekitar 3,5 jam.

Pada bagian tepi Ngarai, dapat dijumpai berbagai flora dan fauna, di antaranya tanaman obat-obatan dan bunga langka yakni Rafflesia. Faunanya antara lain monyet ekor panjang, tapir, macan tutul, simpai dan masih banyak lagi. Hal ini semakin menambah keindahan Ngarai Sianok.

Ternyata tak hanya pelancong dari luar kota saja, masyarakat Sumatera Barat sendiri tepatnya warga Bukittinggi mengisi akhir pekan mereka dengan berolahraga disekitaran ngarai ini. Biasanya mereka melakukan aktivitas seperti trekking, bersepeda atau sekedar berjalan-jalan melepas kepenatan.

Untuk sampai disini, bila Anda berangkat dari bandara bisa menggunakan ojek menuju pertigaan jalan raya Padang-Bukittinggi dengan ongkos sekitar Rp10 ribu dan melanjutkan perjalanan dengan menggunakan mobil travel ke Bukittinggi. Sebelum sampai di kota Bukittinggi, Anda masih bisa menyempatkan diri untuk merasakan air terjun lembah Anai dengan ketinggian 30 meter, ongkos travel sekitar Rp15 ribu. Sayangnya mobil travel ini tak semua langsung sampai kota Bukittinggi melainkan ke terminal aur kuning sehingga untuk sampai ke Jam Gadang, atau pusat kota Bukittinggi harus menggunakan angkot dengan Rp2 ribu sudah bisa sampai. Sedangkan untuk sampai ke Ngarai Sianok sendiri, Anda bisa berjalan kaki sejauh 500 meter.

Baca juga: Lima Negara Ini Dianggap “Berbahaya” Bagi Pelancong Perempuan

Ini digunakan untuk para pelancong yang mau menikmati banyak wisata sebelum sampai ke Ngarai Sianok. Bagi Anda yang mau lngsung tiba ke Ngarai Sianok, berangkat dari Padang, untuk menuju ke Bukittinggi Anda bisa menggunakan transportasi darat dengan angkutan umum. Waktu tempuh kurang lebih sekitar 2 jam. Setibanya di Bukittinggi, perjalanan dilanjutkan dengan angkutan umum yang banyak dijumpai menuju ke objek Ngarai Sianok. Untuk kenyamanan Anda, disarankan lebih baik menggunakan mobil pribadi atau agen travel.

Sebenarnya untuk masuk ke Ngarai Sianok Anda perlu membayar retribusi Rp4 ribu perorangnya. Untuk Anda yang berencana menginap, Ngarai Sianok ini terletak tidak jauh dari pusat kota sehingga banyak dijumpai penginapan villa dan hotel yang nyaman di sekitarnya. Untuk makanan, banyak warung yang menjual makanan, Anda akan dimanjakan dengan masakan khas Padang yang beraneka macam. Namun, Nasi Kapau merupakan menu makanan yang sangat menarik untuk Anda coba. Anda bisa mencobanya di Warung yang berada di Pasar Lereng.