Inilah Beragam Metode Boarding di Bandara, Nomer 3 Paling Unik

Di bandara internasional yang menampung pergerakan ribuan penumpang, maka pengaturan penumpang menjadi tantangan tersendiri, terkhusus di ruang boarding, bagaimana mengatur masuknya penumpang ke dalam kabin pesawat, adalah seni tersendiri. Bukan perkara mudah bila yang dihadapi ratusan penumpang dengan berbagai latar belakang dan kepentingan.

Baca juga: Padahal Sudah Pegang Tiket, Ini Sebab Calon Penumpang Rela Antre di Depan Gate Boarding

Nah, secara teori ada ada beberapa jenis sistem boarding yang digunakan di bandara untuk memfasilitasi proses masuknya penumpang ke dalam kabin pesawat. Beberapa sistem boarding yang umum digunakan adalah:

1. Boarding dengan Nomor Urut Kursi
Ini adalah metode paling umum di mana penumpang memasuki pesawat sesuai dengan nomor urut kursi mereka. Misalnya, penumpang diberi nomor urut tiket seperti “Grup 1,” “Grup 2,” atau “Baris 30 ke atas” untuk mengatur urutan masuk ke pesawat.

2. Boarding dengan Zona
Bandara sering mengatur penumpang menjadi zona atau kelompok kecil, dan penumpang dalam zona yang sama diminta untuk masuk ke pesawat bersama-sama. Ini dapat membantu menghindari kerumunan di pintu masuk pesawat.

3. Boarding Terbalik
Dalam metode ini, penumpang dengan kursi jendela masuk terlebih dahulu, diikuti oleh penumpang dengan kursi tengah, dan akhirnya penumpang dengan kursi lorong. Ini membantu mengurangi gangguan saat penumpang mencari tempat duduk.

4. Boarding Berdasarkan Kelas atau Status
Penumpang dalam kelas yang lebih tinggi atau dengan status khusus, seperti pemegang kartu keanggotaan program loyalitas, biasanya diberi prioritas untuk masuk ke pesawat lebih awal.

5. Boarding Acak
Beberapa maskapai juga mencoba metode boarding acak di mana penumpang dipanggil untuk masuk tanpa memperhatikan urutan kursi mereka. Tujuan dari metode ini adalah untuk mengurangi antrian dan kerumunan.

6. Boarding dengan Pintu Khusus
Di beberapa bandara, ada pintu khusus untuk penumpang kelas bisnis atau penerbangan pertama. Penumpang yang masuk melalui pintu ini memiliki akses terpisah ke pesawat.

Baca juga: Ini Uniknya Boarding di Beberapa Maskapai Dunia

Setiap maskapai mungkin memiliki prosedur boarding yang berbeda, dan metode yang digunakan dapat bervariasi berdasarkan ukuran pesawat, kapasitas bandara, dan preferensi maskapai. Tujuan utama dari sistem boarding adalah untuk memastikan proses berjalan lancar, aman, dan efisien, serta meminimalkan waktu tunggu penumpang.

Pilih Boarding Terakhir Masuk Pesawat, Ini Beberapa Alasan yang Mengemuka

Dalam penerbangan jarak jauh, kerap kita melihat banyak penumpang untuk masuk terakhir ke dalam pesawat. Saat penumpang lain tengah antri, beberapa penumpang malah terlihat santai duduk-duduk di ruang boarding. Faktanya, banyak penumpang memilih untuk masuk pesawat terakhir karena beberapa alasan yang berkaitan dengan kenyamanan dan preferensi pribadi.

Baca juga:

1. Mengurangi Waktu Tunggu di Dalam Pesawat
Penumpang yang naik terakhir tidak perlu menunggu lama dalam antrian boarding, mengurangi waktu yang dihabiskan berdiri dan menunggu. Penumpang bisa menghabiskan lebih banyak waktu di ruang tunggu yang nyaman daripada duduk di kursi pesawat yang mungkin lebih sempit dan kurang nyaman.

2. Kebebasan Bergerak Lebih Lama
Penumpang dapat tetap aktif dan bergerak di sekitar terminal lebih lama, yang bisa lebih nyaman daripada duduk di pesawat untuk waktu yang lama sebelum lepas landas. Mereka bisa menggunakan fasilitas di bandara, seperti kamar mandi atau kios makanan, sampai detik terakhir.

3. Menghindari Kekacauan di Kabin
Boarding terakhir memungkinkan penumpang menghindari kerumunan dan kekacauan saat penumpang lain mencoba menyimpan bagasi mereka di kompartemen atas. Dengan boarding terakhir, mereka dapat duduk dengan lebih nyaman tanpa harus berdiri atau bergerak ketika orang lain menata bagasi mereka.

4. Bagasi Kabin
Penumpang yang naik terakhir mungkin tidak khawatir tentang ruang bagasi di kompartemen atas karena mereka merencanakan untuk menaruh barang bawaan di bawah kursi di depan mereka atau mereka bepergian dengan tas yang lebih kecil. Penumpang dengan status prioritas atau yang tidak membawa banyak barang mungkin merasa tidak perlu tergesa-gesa untuk mencari ruang bagasi di atas.

5. Preferensi Pribadi
Beberapa penumpang mungkin hanya merasa lebih nyaman dan santai dengan masuk terakhir, sebagai bagian dari rutinitas perjalanan mereka. Penumpang yang pernah mengalami penantian panjang di dalam pesawat mungkin lebih suka menghindari pengalaman tersebut dengan boarding terakhir.

Masuk Kabin Pesawat Lebih Awal, Beri Penumpang Banyak Kebebasan

Memilih untuk masuk pesawat terakhir adalah pilihan yang seringkali didasarkan pada kenyamanan, preferensi pribadi, dan keinginan untuk mengurangi waktu menunggu di dalam pesawat. Setiap penumpang memiliki alasan unik yang mendorong mereka untuk memilih strategi boarding yang sesuai dengan kebutuhan dan preferensi mereka.

 

Biar Tak Kelelahan dan Aman, Begini 4 Aturan Kerja FAA Bagi Pilot

Meski sudah banyak dibantu teknologi canggih di pesawat, pilot tetap saja rawan mengalami kelelahan. Karenanya, Administrasi Penerbangan Federal Amerika Serikat (FAA) telah merancang sejumlah aturan untuk mencegah terjadinya fatigue pilot.

Baca juga: (1) Hidup Bak ‘Raja’, Inilah Rincian Umum Sistem Gaji Pilot! Pantas Saja Bergelimang Harta

Setidaknya ada empat aturan yang dikeluarkan FAA. Aturan-aturan tersebut, seperti dikutip dari work.chron.com, berlaku untuk semua penerbangan, baik internasional maupun domestik, dan fokus pada istirahat, waktu istirahat, dan membatasi waktu yang dihabiskan di udara.

1. Flight Time Limitations

FAA mendefinisikan waktu penerbangan sebagai periode dimana pesawat mempunyai kekuatan dan cukup mampu untuk bergerak. Jadi, tidak terbatas pada saat meluncur di runway dan cruising di udara saja, melainkan berbagai proses sebelum dan setelah itu, seperti taxiing, deicing, dan waiting time di apron. Selama itu (taxiing, deicing, dan waiting time di apron) menyalakan mesin, maka itu disebut waktu penerbangan.

Flight time limitations atau batasan waktu penerbangan pilot -jika hanya ada satu pilot dalam sebuah penerbangan- adalah sembilan jam. Jika ada tiga pilot dalam satu penerbangan itu diperpanjang jadi 13 jam. Empat pilot lebih panjang lagi jadi 17 jam.

2. Flight Duty Limitations

Berbeda dengan waktu penerbangan, tugas penerbangan dimulai saat pilot melapor persiapan sebuah penerbangan sampai pesawat terparkir rapi di apron pada penerbangan terakhirnya.

Baca juga: (2) Hidup Bak ‘Sultan,’ Inilah Rincian Umum Sistem Gaji Pilot! Pantas Saja Bergelimang Harta

Di luar itu, selama pilot memiliki waktu istirahat yang cukup sesuai standar FAA, maka, berbagai aktivitas non-terbang seperti stand by di bandara, pelatihan, terbang sebagai penumpang untuk mengambil sebuah penerbangan di bandara lain dihitung sebagai tugas penerbangan.

Flight duty limitation atau batasan tugas penerbangan didasarkan pada waktu penerbangan pertama di hari tersebut, jumlah pilot (kru kokpit) dalam sebuah penerbangan, number of legs on the flight, dan jenis fasilitas istirahat yang tersedia di pesawat.

Bagi single kokpit atau penerbangan satu pilot, batas tugas penerbangan berkisar sembilan sampai 14 jam. Lebih dari itu, flight duty limitation antara 13 sampai 19 jam.

3. Rest Periods

Rest periods atau waktu istirahat harus setidaknya 10 jam setiap habis melaksanakan tugas penerbangan. Dari 10 jam, delapan jam di antaranya harus digunakan untuk tidur.

Waktu istirahat dimulai saat pilot bebas dari tugas dan berakhir saat pilot melapor untuk sebuah penerbangan. Aturan ini juga termasuk mengharuskan maskapai untuk memastikan pilot bebas dari tugas apapun selama minimal 30 jam berturut-turut per pekan.

Baca juga: Saat Pesawat ‘Terpaksa’ Return to Base dan Divert Landing, Pilot Harus Penuhi Empat Syarat Ini

4. Cumulative Limitations

Cumulative limitations atau batasan kumulatif adalah aturan membatasi pilot maksimal hingga 60 jam tugas penerbangan per pekan atau 168 jam berturut-turut. Dalam periode 28 hari berturut-turut, seorang pilot tidak diperbolehkan melebihi 290 jam dan diizinkan di bawah 100 jam (terhitung sebagai waktu penerbangan).

Di bawah Code of Federal Regulations FAA, selama 365 hari berturut-turut, pilot tidak boleh melebihi 1.400 jam waktu penerbangan.

 

Vietjet Tambahkan Rute Penerbangan Baru, Jangkau Lebih Banyak Destinasi di Asia-Pasifik

Vietjet saat ini mengoperasikan empat jalur penerbangan yang menghubungkan Vietnam dan Indonesia: Jakarta ke Ho Chi Minh City, Jakarta ke Hanoi, Bali ke Ho Chi Minh City, dan Bali ke Hanoi. Wisatawan Indonesia yang ingin mengunjungi Xi’an dapat memilih untuk terbang dari Jakarta atau Bali dengan melakukan transit di Ho Chi Minh.

Baca juga: Vietjet Luncurkan Penerbangan Langsung Hanoi – Melbourne, 8 Juni 2024 Buka Rute Langsung ke Sydney

Selain itu, wisatawan yang ingin melanjutkan perjalanan dari destinasi pantai populer di Vietnam, Nha Trang, ke Daegu dapat mengambil penerbangan dari Jakarta atau Bali, melakukan transit di Ho Chi Minh City, dan kemudian melanjutkan dengan penerbangan langsung dari Nha Trang ke Daegu.

Rute-rute baru ke Asia Timur Laut ini akan memperluas jaringan internasional Vietjet, sehingga memberikan kesempatan bagi wisatawan untuk menjangkau lebih banyak destinasi di Vietnam, Asia Tenggara, dan seluruh wilayah Asia-Pasifik. Langkah ekspansi ini juga merupakan respons terhadap lonjakan permintaan yang signifikan dalam penerbangan penumpang dan kargo udara internasional di Asia-Pasifik, yang didorong oleh pertumbuhan aktivitas ekonomi global yang pesat. Menurut Association of Asia Pacific Airlines (AAPA), seluruh maskapai penerbangan di kawasan ini telah mengangkut 27,9 juta penumpang pada bulan Mei lalu, atau meningkat 23,9% dari tahun sebelumnya.

Wisatawan yang terbang bersama Vietjet dapat menikmati berbagai hidangan khas Vietnam dan internasional, seperti Pho (sup mie Vietnam), Banh Mi (baguette Vietnam), dan Ca Phe Sua Da (es kopi susu Vietnam), yang disajikan oleh awak kabin yang profesional di dalam pesawat yang modern dan ramah lingkungan.

Vietjet Raih ‘Best Ultra Low-Cost Airline’ dan ‘Best Low-Cost Airline Onboard Hospitality’ 2024

Ada Insiden Return to Base (Lagi), Garuda Indionesia Siapkan Pesawat Pengganti untuk Pulangkan Jemaah Haji

Garuda Indonesia memastikan kesiapan pesawat pengganti imbas peristiwa Return to Base (RTB) pada penerbangan GA-6239 dengan rute penerbangan Solo – Jeddah yang menggunakan pesawat Airbus 330-300, salah satu pesawat sewaan yang dipersiapkan untuk melayani penerbangan haji pada tahun ini.

Baca juga: Angkut Jamaah Haji, Boeing 747-400 Garuda Indonesia GA-1105 Return to Base di Makassar

Pesawat tersebut sedianya dipersiapkan untuk melayani penerbangan dari Jeddah pada fase pemulangan jemaah haji Indonesia menuju Tanah Air. Adapun penyebab RTB tersebut dikarenakan adanya masalah teknis pada salah satu engine pesawat sehingga diharuskan dilakukan pengecekan kembali dan tindak lanjut prosedur perawatan armada.

Penerbangan GA-6239 tersebut berangkat dari Solo setelah menjalani prosedur inspeksi pesawat rutin oleh pihak lessor maupun tim terkait. Sesaat setelah pesawat lepas landas, Pilot in Command (PIC) menemukan adanya indikator cockpit yang menunjukan kondisi salah satu engine pesawat yang memerlukan pengecekan lebih lanjut, sehingga PIC selanjutnya secara cepat memutuskan untuk melakukan prosedur RTB ke Solo.

Pesawat dengan nomor registrasi T7-MMM yang mengangkut 14 awak pesawat yang terdiri dari 3 cockpit crew dan 11 awak kabin tersebut telah kembali ke Bandara Adi Sumarmo, Solo pada pukul 21.07 waktu setempat. Adapun awak pesawat melakukan proses disembark sesuai dengan ketentuan prosedur safety yang berlaku.

Garuda Indonesia juga telah berkoordinasi dengan otoritas penerbangan terkait guna memastikan tindak lanjut penanganan pesawat termasuk prosedur penarikan pesawat menuju parking stand guna memastikan tidak ada dampak operasional atas peristiwa RTB tersebut.

Saat Pesawat ‘Terpaksa’ Return to Base dan Divert Landing, Pilot Harus Penuhi Empat Syarat Ini

Sebelum Naik Bus, Cek Dulu Terminalnya Tipe Apa?

Ada kabar bahwa Kementerian Perhubungan akan membangun terminal bus tipe A di Demak, Jawa Tengah. Pembangunan ini merupakan salah satu upaya peningkatan pelayanan transportasi jalan. Rencananya pembangunan yang akan menghabiskan dana sekitar Rp3,5 miliar tersebut akan selesai dalam waktu tiga tahun.

Baca juga: Jejak Sejarah Stasiun Muntilan, Kini Berubah Jadi Terminal Bus Prajitno

Berangkat dari kabar ini, ternyata tidak hanya bandara dan stasiun yang memiliki kelas atau tipe. Ternyata terminal juga  punya tipe tersendiri untuk melayani bus dan angkutannya. KabarPenumpang.com merangkum dari berbagai laman sumber, bahwa tipe terminal sendiri terbagi tiga yakni A, B dan C.

Kini yang jadi pertanyaan, apa perbedaan ketiga terminal ini? Pembagian tipe terminal sendiri ternyata dipisahkan kewenangannya menjadi milik Pemerintah Pusat, Pemerintah Provinsi dan Pemerintah Daerah. Pembagian ini juga didasari UU No.23/2014 tentang Pemerintah Daerah yang hanya membagi berdasarkan kewenangan pengelolaan terminal. Untuk menelisiknya lebih lanjut, berikut ini akan dibahas perbedaan dari tiga tipe terminal bus.

Terminal penumpang tipe A
Terminal tipe A ini juga disebut terminal induk yang berfungsi melayani kendaraan umum baik secara nasional maupun internasional seperti angkutan antarkota antarprovinsi atau angkutan lintas batas negara, angkutan antar kota dalam provinsi, angkutan kota dan angkutan pedesaan.

Biasanya terminal tipe A terletak di ibu kota Provinsi, Kotamadya atau Kabupaten dan terletak di jalan arteri dengan kelas jalan minimal kelas IIIA. Jumlah arus kendaraannya 50-100 per jamnya, memiliki luas 5 hektar di Pulau Sumatera dan Jawa, serta 3 hektar di pulau lainnya. Memiliki akses jalan masuk di Pulau Jawa 100 meter dan 50 meter untuk pulau lainnya. Penentuan lokasi pembangunannya pun dilaksanakan Direktur Jenderal setelah mendengar pendapat Gubernur.

Terminal penumpang tipe B
Terminal ini juga biasa disebut dengan terminal regional yang melayani kendaraan umum untuk angkutan antar kota dalam provinsi, angkutan kota dan angkutan pedesaan. Terminal tipe B sendiri letaknya di Kotamadya atau Kabupaten dan mencakup jaringan trayek angkutan kota dalam provinsi. Terletak di jalan arteri dengan kelas sekurang-kurangnya kelas IIIB. Memiliki jumlah arus kendaraan 25-50 per jamnya.

Terminal tipe ini memiliki luas di Pulau Jawa dan Sumatera seluas 3 hektar dan dipulau lainnya 2 hektar. Terminal tipe B memiliki akses masuk dengan jarak 50 meter untuk Pulau Jawa dan 30 meter untuk pulau lainnya. Penentuan lokasi pembangunannya pun dilakukan oleh Gubernur setelah mendapat persetujuan dari Direktur Jenderal.

Terminal penumpang tipe C
Terminal tipe C bisa dikatakan sebagai subterminal yang melayani kendaraan umum kelas kecil seperti angkutan kota dan angkutan pedesaan. Letaknya di dalam wilayah Kabupaten Daerah Tingkat II dan dalam jaringan trayek angkutan desa, tak hanya itu terminal tipe C juga berada di jalan lokal dengan kelas jalan paling tinggi IIIA. Arus kendaraannya pun tak banyak hanya 25 per jamnya. Sedangkan luas dan akses jalan masuk ke terminalnya pun tergantung kebutuhan Kabupaten itu sendiri. Untuk penentuan lokasi dan letaknya dilaksanakan oleh Bupati Kepala Daerah/Walikotamadya Daerah Tingkat II setelah mendapat persetujuan Gubernur.

Baca juga: Wales Bangun Terminal Bus Terpadu, Sinergikan Ritel dan Perkantoran

Meski ada pembagian, terminal tipe A dan B minimal harus memiliki jalur pemberangkatan kendaraan umum, jalur kedatangan kendaraan umum, tempat tunggu kendaraan umum, tempat istirahat sementara kendaraan umum, bangunan kantor terminal tempat tunggu penumpang atau pengantar, menara pengawas, loket penjualan karcis, rambu-rambu dan papan informasi, yang memuat petunjuk jurusan, tarif dan jadwal perjalanan, pelataran parkir kendaraan pengantar dan taksi.

Selain itu juga harus dilengkapi dengan toilet, musholla, kios/kantin, ruang pengobatan, ruang infromasi dan pengaduan telepon umum serta tempat penitipan barang
Taman. Adapula kegiatan sirkulasi penumpang, pengantar, penjemput, sirkulasi barang dan pengelola terminal.

Tak Kenal Maka Tak Sayang, Yuk Kenali Sosok Train Attendant PT KAI

Setiap mendengar kata pramugari atau pramugara, Anda pasti langsung berpikir cantik/tampan, tinggi dan biasa berada di kabin pesawat terbang. Tapi, jangan salah, pramugari/pramugara juga ada di kereta atau disebut train attendant. Adanya train attendant merupakan terobosan baru yang dibuat olah PT Kereta Api Indonesia (KAI) dan dibawah naungan anak perusahaannya yakni PT Reska Multi Usaha (RMU).

Baca juga: Update Terbaru Aplikasi KAI Access, Tawarkan Fitur Check In Online dan Pesan Meals

Train attendant ini pun hadir melengkapi di keseluruhan layanan armada kereta PT KAI, baik di kelas ekonomi AC, bisnis maupun eksekutif. Tugas train attendant adalah melayani kebutuhan penumpang selama perjalanan, seperti halnya flight attendant. Tetapi, sebelum bertugas di dalam kereta, train attendant ini juga membantu penumpang untuk memberikan petunjuk letak gerbong saat masih berada di peron stasiun.

Kostum pramugari PT KAI (d/h PJKA) tempo dulu (Instagram)

Pelayanan yang diberikan train attendant ini seperti kebutuhan makan dan minum, penanganan penumpang sakit, memberikan bantal dan selimut serta menjawab pertanyaan penumpang kereta. Biasanya dalam tiap rangkaian kereta akan ada dua pramugari dan dua pramugara.

Sistem kerja train attendant hampir mirip dengan flight attendant dimana jika dalam perjalanan jarak jauh yakni menggunakan shift atau tukar ganti jaga. Meski memiliki tugas yang tak jauh berbeda, tapi gaji yang diterima train attendant dan flight attendat terpatut cukup jauh.

Diketahui gaji pokok untuk train attendat sendiri Rp4 juta per bulan dan jika ditotal dengan tunjangan serta insentif lainnya menjadi Rp7 juta. Syarat untuk menjadi seorang train attendant baik pria maupun wanita berusia minimal 18 tahun dan maksimal 27 tahun tergantung dari tahun lamaran dibuka.

Pendidikan minimal SMA atau sederajat dengan rata-rata nilai Ujian Nasional 6, sehat rohani dan jasmani. Untuk pria minimal tinggi 170 cm dan wanita 160 cm dengan berat badan ideal. Keterangan sehat dari klinik kesehatan kereta api, tidak memiliki tato dan tidak bertindik bagi pelamar pria. Mendapatkan surat SKCK dari pihak kepolisian, tidak buta warna, masih single dan bersedia untuk tidak menikah selama menjadi train attendant dan bersedia ditempatkan diseluruh wilayah kerja baik Jawa maupun Sumatera.

Setiap train attendat jika memiliki kemampuan berbahasa asing minimal bahasa Inggris akan menjadi nilai tambah. Ini dikarenakan penumpang kereta api tidak hanya masyarakat lokal melainkan juga wisatawan mancanegara.

Baca juga: Mau Jadi Awak Kabin? Standar Tinggi Badan Masih Jadi Syarat Utama!

Sebelum bertugas di kereta, pramugari dan pramugra harus melalui pendidikan ala  militer yang dilakukan di Rindam Jaya untuk menumbuhkan kedisiplinan, tanggungjawab dan kepemimpinan sekaligus membangun fisik dn mental dan juga meningkatkan rasa cinta Tanah Air.

KA Ekonomi Siliwangi, Tawarkan Keindahan Alam di Rute Sukabumi-Cianjur

Siliwangi, nama ini mungkin tak asing di telinga Anda. Tapi, tahukah Anda nama salah satu Prabu di Jawa Barat ini dipakai untuk nama kereta tujuan Sukabumi-Cianjur? Ya, kereta ini merupakan kereta api perintis lokal atau kereta kelas ekonomi AC.

KA Siliwangi diresmikan Gubernur Jawa Barat, Ahmad Heryawan pada 19 Februari 2016 lalu. Kemudian pengoperasian KA Siliwangi dilaksanakan oleh PT kereta Api Indonesia (KAI) yang ditunjuk oleh Kementerian Perhubungan terhitung sejak 1 Januari hingga 31 Agustus 2016 dengan nilai kontrak sebesar Rp9,5 miliar, namun di perpanjang hingga akhir tahun 2017 ini.

Baca juga: Lampegan, Terowongan Tertua di Indonesia, Abadikan Misteri Nyi Ronggeng

KabarPenumpang.com merangkum dari berbagai sumber, bahwa tiket kereta Siliwangi tak bisa dibeli secara online, sebab harga tiket ini cukup murah dan bisa didapatkan di stasiun Sukabumi dengan tarif sebesar Rp3 ribu. Memang tak banyak memiliki gerbong hanya ada lima gerbong dengan empat untuk penumpang dan satu gerbong makan.

Walaupun hanya mengangkut sedikit gerbong, tetapi kereta tersebut mampu mengangkut 472 penumpang. Harga tiket yang cukup murah ini membawa Anda dengan kereta Siliwangi menempuh jarak sepanjang kurang lebih 38,6 km.

Pemandangan di jalur Sukabumi-Cianjur yang dilintasi kereta Siliwangi (Kompas)

Perjalanan kereta ini memakn waktu selama 90 menit berangkat dari Sukabumi menuju Cianjur dan memberikan Anda kenikmatan pemandangan alam yang didominasi dengan pegunungan dan persawahan hijau. Setiap hari kereta relasi Sukabumi-Cianjur (PP) ini melayani tiga trip perjalanan.

Kereta Siliwangi akan melewati beberapa stasiun dan salah satunya adalah stasiun Lampegan dengan terowongannya yang penuh sejarah sebelum sampai di stasiun Cianjur. Selain stasiun Lampegan kereta Siliwangi akan melalui stasiun Gandasoli, Cireungas, Cibeber, Cilaku dan terakhir staisun Cianjur.

Baca juga: Rute KA Bogor – Sukabumi – Cianjur, Masih Eksis Meski Terlupakan

Hadirnya KA Siliwangi sebenarnya dibuat untuk memudahkan masyarakat lebih menggunakan transportasi umum dibandingkan dengan mobil. Apalagi ketika situasi lalu lintas padat, karena tiket kereta Siliwangi cukup ramah untuk kantong masyarakat Sukabumi dan Cianjur.

Diketahui, jalur kereta ini sempat diperbaiki dengan penggantian rel bantalan kayu menjadi bantalan besi antara stasiun Lampegan-Cibeber sepanjang sekitar 21,6 km. Selain itu juga ada perbaikan jalan kereta api yang longsor, manteling dinding terowongan, peningkatan persinyalan, penanganan longsor dengan Retaining Wall Beton dan penanggulangan badan jalan kereta yang longsong akibat erosi aliran sungai.

KA Siliwangi berangkat pertama dari Sukabumi pukul 05.45 dan tiba pukul 07.10. Keberangkatan kedua pukul 10.20 dan tiba pukul 11.45. Sedangkan keberangkatan ketiga pukul 15.50 dan tiba pukul 17.15. Untuk kereta keberangkatan dari Cianjur pertama pukul 08.15 dan tiba pukul 09.40. Keberangkatan kedua pukul 13.50 dan tiba pukul 15.15. Keberangkatan terakhir pukul 18.15 dan tiba pukul 19..40.

Cisomang, Serba-Serbi Jembatan Kereta Tertinggi di Indonesia

Sebagian dari Anda pasti sudah pernah melakukan perjalanan menggunakan kereta api dari Jakarta menuju Bandung. Pemandangan indah yang tersaji sepanjang perjalanan  membuat perjalanan tersebut menjadi tidak terasa. Namun tahukah Anda, jalur kereta tersebut memiliki beberapa catatan rekor serta cerita suram dibalik keindahan alamnya? Tidak bisa dipungkiri, terbentangnya rel kereta api rute Jakarta-Bandung ini juga turut memegang andil penting dalam mengubah kehidupan sosial dan ekonomi di kota Bandung hingga mengalami masa kejayaannya pada saat tol Cipularang belum beroperasi.

Baca juga: Chenab, Jadi Kondang Karena Ada Jembatan Kereta Tertinggi di Dunia

Perjalanan sejauh kurang lebih 166 km ini ternyata dihiasi oleh beberapa lokasi yang memegang catatan rekor, seperti jembatan kereta api aktif terpanjang di Indonesia dipegang oleh Jembatan Cikubang dengan panjang 300 m, dan jembatan kereta aktif tertinggi di Indonesia yang dipegang oleh Jembatan Cisomang dengan ketinggian lebih dari 100 meter. Selain dua jembatan tersebut, ada juga terowongan Sasaksaat yang memiliki panjang sekitar 950 meter.

Diantara tiga lokasi yang telah disebutkan di atas, nama Cisomang-lah yang mungkin tidak terlalu asing di telinga Anda, mengingat beberapa waktu ke belakang, jembatan tol ini sempat bergeser dan membuat perjalanan via tol Cipularang mengalami kelumpuhan sementara. Namun, cerita dibalik nama Jembatan Cisomang sendiri menarik untuk diulas lebih dalam. Jembatan kereta api yang terletak di Desa Cisomang, Kecamatan Darangdan, Kabupaten Purwakarta, Jawa Barat ini dibangun pada tahun 1894 dan selesai pada tahun 1922.

Baca juga: Dari Mulai Tanjakan, Hingga Jembatan, 10 Jalur Ekstrim Ini Ada Di Indonesia

Namun, berhubung umur jembatan yang sudah lebih dari 100 tahun dan sudah tidak layak lagi untuk digunakan, pada tahun 2000 beberapa pihak terkait setuju untuk menggaet para ahli konstruksi jembatan kereta api dari Austria, Voesp MCE untuk membangun jembatan Cisomang baru yang terletak persis di samping jembatan yang lama. Lalu pada 3 Agustus 2004, Presiden Megawati Soekarnoputri meresmikan penggunaan jembatan Cisomang tersebut. Sedikit berbeda dengan jembatan pendahulunya, Jembatan Cisomang baru memiliki rel ganda antara Stasiun Cisomang dengan Stasiun Cikadongdong.

Jembatan Cisomang lama bercirikan pilar besi baja yang menjulang tinggi, dengan pondasi beton tertanam 3 meter lebih di kedalaman tanah kini sudah tidak dipergunakan lagi sebagai jalur yang menghubungkan Kabupaten Purwakarta dengan Kabupaten Bandung Barat ini. Jembatan tersebut seolah dibiarkan menua dengan besi penyangga kokoh yang mulai berkarat. Namun, terbengkalainya jembatan ini tidak menyurutkan antusias warga sekitar untuk memanfaatkan prasarana transportasi yang sudah tidak terpakai ini.

Sumber: tribunjabar

Ketika sore menjelang, banyak muda-mudi yang menghabiskan waktu di jembatan ini untuk sekedar bercengkrama satu sama lain hingga menjadikan jembatan ini sebagai objek foto. Tidak jarang juga warga sekitar menggunakan jembatan yang sudah berlubang tersebut sebagai akses untuk menjangkau daerah yang terletak diseberang jembatan.

Tercatat, pada Jumat (30/5/2014) malam, kereta Argo Parahyangan anjlok persis di mulut Jembatan Cisomang. Seperti yang KabarPenumpang.com lansir dari laman kompas.com, salah seorang penumpang dalam kereta nahas tersebut menjabarkan kengerian yang terjadi sesaat setelah kereta tersebut anjlok. “Ngeri sekali tadi. Sampai gerbong ketiga dari loko sempat miring, dengan kecepatan cukup tinggi,” ungkap salah seorang penumpang. “Maju sedikit lagi, tidak tahu deh (apa jadinya) karena dalam sekali (dasar ceruk di bawah jembatan),” tambahnya. Masih dalam kesempatan yang sama, ia mengatakan bala bantuan segera datang ke lokasi kejadian dan mengevakuasi para penumpang menuju stasiun Cisomang. “Pakai angkutan desa dan ojek, kami mau dibawa ke Stasiun Cisomang,” tutupnya.

Stasiun Labuan, Pernah Jadi Stasiun di Paling Ujung Barat Pulau Jawa

Bila di ujung paling timur Pulau Jawa terdapat Stasiun Banyuwangi Baru, maka sebaliknya di ujung paling barat Pulau Jawa ada yang namanya Stasiun Labuan. Namun bila ditanya, stasiun apakah yang aktif di ujung paling barat Pulau Jawa? Maka jawabannya saat ini adalah Stasiun Merak, lantaran Stasiun Labuan berstatus stasiun non aktif.

Baca juga: “Banyuwangi Baru,” Stasiun di Paling Ujung Timur Pulau Jawa

Salah satunya adalah Stasiun Labuan (LBN) yang berada di desa Labuan, Kecamatan Labuan, Pandeglang Provinsi Banten. Stasiun ini sendiri sudah nonaktif sejak tahun 1982 lalu karena kalah saing oleh moda transportasi lainnya. Stasiun yang berada di ketinggian +12 meter diatas permukaan laut tersebut merupakan stasiun paling barat di Daop I Jakarta jalur Labuan-Rangkasbitung.

KabarPenumpang.com merangkum dari berbagai laman sumber, Stasiun Labuan dibangun tahun 1906 silam oleh Staatsspoorwegen (SS) yang merupakan salah satu perusahaan kereta api Hindia Belanda. Tahun 1945, stasiun ini kemudian diambil oleh Djawatan Kereta Api Republik Indonesia (DKARI) yang kini PT KAI.

Stasiun yang berada paling barat di Pulau Jawa tersebut pada masa jayanya dulu merupakan stasiun yang sibuk karena melayani naik dan turun penumpang sebanyak 53 ribu hingga 136 ribu penumpang per tahunnya. Selain itu untuk barang hampir tujuh ribu ton per tahunnya. Salah satu komoditi yang dibawa adalah ikan untuk dijual ke Tanah Abang dan mengangkut garam yang dikirim ke Stasiun Labuan.

Meski sudah 37 tahun tak beroperasi, stasiun ini masih terlihat bentuk jelas stasiun karena terpasang papan nama Stasiun Labuan di depannya. Namun, sayangnya kini bangunan itu tidak terlalu terawat. Tetapi, di belakang stasiun dekat bekas rel jalur Labuan-Rangkasbitung terdapat sebuah rumah tinggal penjaga stasiun tersebut.

Bagian depan stasiun ini ditutup menggunakan pagar bambu dan ruang tunggu kini dijadikan garasi mobil oleh penjaga. Bagian loket masih jelas terlihat dan menjadi sebuah kamar. Kursi tunggu penumpang di staisun ini pun masih kokoh untuk digunakan duduk. Lantainya beberapa sudah diganti dengan keramik yang dulunya hanya lantai semen.

Baca juga: Jalur Kereta Rangkasbitung-Saketi-Labuan Kembali Direaktivasi

Stasiun Labuan sendiri dulunya memiliki turn table dan kini lokasinya sudah menjadi pasar dan ada sebuah alat pengisi air yang masih terlihat jelas bekasnya. Namun untuk tower airnya kini sudah tidak ada lagi. Rumah kepala stasiun yang tidak jauh dari stasiun ini masih ditinggali keturunan namun bentuknya kurang baik.