Singapore Airlines Naikkan Biaya Pemilihan Kursi di Kelas Ekonomi dan Ekonomi Premium

0

Singapore Airlines (SIA) menghadapi reaksi keras dari netizen menyusul kenaikan biaya pemilihan kursi baru-baru ini, dengan beberapa orang menyatakan “tidak masuk akal untuk menggunakan SQ lagi.” Menurut Mainly Miles, maskapai ini memperbarui struktur biayanya mulai tanggal 1 Juli 2024, yakni dengan memberlakukan kenaikan biaya pada kursi kelas ekonomi dan kelas ekonomi premium.

Baca juga: Penumpang Wajib Tahu, Ini Tips Mendapatkan Upgrade Kelas Kursi Secara Gratis dari Pramugari!

Langkah ini dilakukan kurang dari tiga tahun setelah penyesuaian terakhir SIA terhadap biaya pemilihan kursi terakhir pada tahun 2021.Biaya yang direvisi sekarang mengkategorikan pilihan kursi ke dalam lima kelompok harga berbeda berdasarkan jarak penerbangan.

Untuk rute pendek di Asia Tenggara seperti Thailand dan Vietnam, memilih kursi standar di kelas ekonomi kini dikenakan biaya US$10 (S$13,53), naik dari US$8. Kursi dengan ruang kaki ekstra pada penerbangan ini juga mengalami peningkatan menjadi US$30, dibandingkan sebelumnya sebesar US$25.

Pada rute yang lebih jauh ke tujuan seperti Hong Kong, Cina, India, Jepang, dan Korea Selatan, biaya kursi kelas ekonomi standar meningkat menjadi US$15 dari US$10. Kursi dengan ruang kaki ekstra tetap seharga US$60.

Untuk penerbangan ke Amerika Serikat dan Kanada, biaya kursi kelas ekonomi standar meningkat menjadi US$35, naik dari US$25, sementara kursi Extra Legroom kini berharga US$130, sebelumnya US$120.

Berita mengenai kenaikan harga ini telah memicu kritik di dunia maya, dengan banyak warganet yang menyatakan ketidakpuasan atas apa yang mereka anggap sebagai kenaikan biaya yang signifikan tanpa adanya perbaikan dalam layanan.

Seorang pengguna mengeluh, “Tidak masuk akal lagi menggunakan SQ.” Salah satu komentator menyindir, “Sepertinya mereka bertahan dalam perjalanan korporat ke luar Singapura dan jelas membuat perbedaan besar antara pelancong korporat dan pelanggan “normal” yang harus membayar sendiri. Pertanyaannya adalah apakah ini strategi yang tepat?”

Enam Maskapai ini Dikenal Punya Layanan Ekonomi Premium Terbaik

Thailand Akan Menutup Duty Free Shops di Bandara Internasional

Duty free Shops atau toko-toko bebas bea di area kedatangan Bandara Internasional di Thailand akan ditutup untuk mendorong lebih banyak pengunjung berbelanja di toko-toko domestik. Langkah ini diperkirakan akan menghasilkan belanja ritel lokal baru hingga THB3,5 miliar (US$96 juta) setiap tahunnya.

Baca juga: Tak Ada Lagi ‘Duty Free Shop’ di Bandara New Delhi

Seperti dikutip Vnexpress.net, Rudklao Intawong Suwankiri, wakil juru bicara Pemerintah Thailand, mengatakan bahwa para menteri minggu ini mengakui pedoman untuk mempromosikan Thailand sebagai pusat pariwisata dan belanja, seperti yang diusulkan oleh Kementerian Keuangan.

Ia mencatat bahwa ketiga operator bisnis bebas bea masuk telah sepakat untuk menangguhkan operasi di delapan bandara internasional, yaitu Suvarnabhumi, Don Mueang, Chiang Mai, Phuket, Hat Yai, U-tapao, Samui, dan Krabi. Hal ini sejalan dengan kebijakan Pemerintah untuk mendorong belanja di toko dalam negeri.

Statistik dari Departemen Bea Cukai menunjukkan bahwa penjualan dari toko bebas bea masuk berjumlah THB3,02 miliar pada tahun 2023. Rudklao mengatakan kemampuan wisatawan untuk membeli barang dari toko bebas bea masuk mengurangi peluang belanja barang dalam negeri.

Kementerian Keuangan negara tersebut memperkirakan bahwa penutupan toko bebas bea masuk akan meningkatkan pengeluaran wisatawan asing sebesar THB570 per orang dalam setiap perjalanan.

“Duty Free” Pada Minuman Keras, Untung Yang Dihasilkan Sedikit

Joint Venture antara Singapore Airlines dan Garuda Indonesia Mendapat Lampu Hijau

Singapore Airlines dan Garuda Indonesia telah mendapat persetujuan dari Competition and Consumer Commission of Singapore (CCCS) untuk perjanjian usaha patungan komersial.

Baca juga: Garuda Indonesia dan Singapore Airlines Bentuk ‘Joint Venture’ Rute Penerbangan

Dengan persetujuan CCCS, kedua maskapai penerbangan ini akan dapat memperdalam kemitraan strategisnya dalam aktivitas komersial yang lebih luas seperti mengoperasikan penerbangan bagi hasil bersama antara Singapura dan Indonesia, mengoordinasikan jadwal penerbangan untuk menawarkan lebih banyak pilihan dan konektivitas tanpa batas kepada wisatawan, dan menjajaki penjualan bersama. dan inisiatif pemasaran.

Selain itu, kedua maskapai juga telah melakukan inisiatif termasuk memberikan anggota KrisFlyer dan GarudaMiles opsi untuk memperoleh dan menukarkan miles pada rute codeshare. Saat ini, maskapai penerbangan ini melakukan codeshare pada penerbangan antara Singapura dan kota-kota di Indonesia seperti Bali, Jakarta, Medan dan Surabaya. Mereka juga melakukan codeshare pada rute jarak jauh antara Singapura dan Johannesburg, London (Heathrow) dan Mumbai.

“Kemitraan strategis yang kuat antara Garuda Indonesia dan Singapore Airlines telah memungkinkan kami memperluas layanan codeshare selama beberapa tahun terakhir, menawarkan lebih banyak pilihan penerbangan kepada pelanggan kami. Dengan persetujuan CCCS, kami siap untuk memperdalam kolaborasi kami di cakupan aktivitas komersial yang lebih luas,” kata Goh Choon Phong, CEO Singapore Airlines.

“Seiring dengan upaya yang sedang berlangsung untuk memperkuat hubungan antara program keanggotaan frequent flyer kami, hal ini akan memberikan pelanggan kami lebih banyak pilihan dan peningkatan nilai. Kemitraan ini menggarisbawahi komitmen kedua maskapai untuk meningkatkan konektivitas antara Indonesia dan Singapura dan sekitarnya, sehingga meningkatkan bisnis keduanya. dan perjalanan rekreasi, serta berkontribusi terhadap pertumbuhan ekonomi,” tambah Goh.

“Kami sangat senang menerima persetujuan ini, karena hal ini menandai kemajuan signifikan terhadap komitmen kami untuk meningkatkan kualitas layanan serta memperluas jaringan Garuda Indonesia dan Singapore Airlines melalui kemitraan yang semakin mendalam,” kata Irfan Setiaputra, presiden dan CEO, Garuda Indonesia.

Inisiatif joint venture yang tengah dipersiapkannya saat ini menjadi salah satu strategi untuk memastikan penciptaan nilai yang luas bagi pelanggan setianya. “Memiliki persetujuan regulasi sebagai langkah awal dalam perjanjian komersial akan memberikan lebih banyak peluang untuk mengembangkan ide-ide strategis yang dijalankan dengan baik,” kata Irfan.

Singapore Airlines dan Garuda Indonesia pertama kali mengumumkan rencana untuk mengadakan perjanjian usaha patungan pada Mei tahun lalu. Pengaturan tersebut harus menunggu persetujuan regulator dan akan memperluas nota kesepahaman (MoU) yang ditandatangani kedua maskapai pada November 2021.

Saat itu, usulan usaha patungan mencakup rute antara Singapura dan Denpasar, Jakarta dan Surabaya dan memungkinkan Singapore Airlines dan Garuda Indonesia untuk mengoordinasikan jadwal, menjajaki penerapan inisiatif baru, dan banyak lagi.

Garuda Indonesia dan Singapore Airlines Kerja sama dalam Frequent Flyer Program

Hindari Dampak Turbulensi, Korean Air Hentikan Layanan Kabin Lebih Awal Jelang Pendaratan

Buntut dari beberapa insiden yang terkait turbulensi ekstrim telah membuat maskapai penerbangan internasional untuk lebih bersiap diri. Selain membuat video keselamatan baru yang lebih menarik dan tepat sasaran, langkah terbaru dilakukan oleh maskapai Korean Air, yang belum lama ini mengumumkan standar baru dalam pelayanan kabin.

Baca juga: Marak Turbulensi Ekstrim, Emirates Rilis Video Keselamatan Terbaru yang Lebih “To The Point”

Seperti dikutip Business Insider (3/7/2024), Korea Air disebut akan menghentikan layanan kabin lebih awak guna melindungi diri dari meningkatnya turbulensi. Korean Air mengumumkan pada hari Senin bahwa mereka akan menyelesaikan layanan kabin 20 menit lebih awal untuk rute jarak menengah dan jauh.

Ini artinya layanan kabin kini berakhir 40 menit sebelum mendarat. Korean Air mengatakan perubahan tersebut akan memungkinkan layanan dalam penerbangan dihentikan sebelum pesawat turun untuk mendarat.

Sebagai salah satu dari 10 maskapai penerbangan yang mendapat peringkat bintang lima oleh Skytrax, maka keputusan Korean Air dapat mempengaruhi maskapai lain untuk melakukan tindakan serupa.

Hal ini terjadi setelah Singapore Airlines – yang juga mendapat peringkat bintang lima – mengubah protokol layanan kabinnya. Hal ini menyusul insiden turbulensi parah di salah satu pesawatnya pada bulan Mei, yang menewaskan seorang pria berusia 73 tahun dan puluhan lainnya luka-luka.

Beberapa hari kemudian, Singapore Airlines mengatakan tidak akan lagi menyajikan makanan ketika lampu sabuk pengaman menyala.

Dalam pengumumannya pada hari Senin, Korean Air mengatakan turbulensi telah “menjadi masalah yang terus-menerus dan terus berkembang dalam beberapa tahun terakhir.” Ia menambahkan bahwa jumlah insiden meningkat dua kali lipat pada kuartal pertama tahun ini dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun 2019.

Maskapai ini juga menyatakan bahwa krisis iklim mempunyai dampak. “Turbulensi menjadi lebih sering terjadi, terutama saat pesawat turun, karena perbedaan suhu yang besar antar ketinggian,” katanya. Turbulensi terjadi akibat gesekan antar molekul udara yang disebabkan oleh perbedaan kecepatan angin. Iklim yang memanas memberikan lebih banyak energi ke udara, sehingga menciptakan lebih banyak gesekan.

Hal ini terutama terlihat di sekitar aliran jet, di mana turbulensi udara jernih paling sering terjadi. Dalam studi tahun 2023, para peneliti dari University of Reading menemukan turbulensi semakin sering terjadi di Atlantik Utara, di sekitar aliran jet kutub utara.

Kurangi Efek Turbulensi, Sebaiknya Pilih Kursi di Dekat Sayap

Garuda Indonesia Sajikan “Nasi Kapau” Sebagai In-Flight Meals di Rute Jakarta – Amsterdam

Nasi Kapau menjadi salah satu dari ragam pilihan menu baru program “Garuda Rasa” yang akan diperkenalkan pada pilihan menu Garuda Indonesia. Menu tersebut merupakan bagian dari improvement signature meals yang kedepannya akan dihadirkan Garuda Indonesia secara bertahap pada layanan penerbangannya.

Baca juga: Sajikan 77 Juta In-flight Meals Setiap Tahun, Inilah Strategi yang Diterapkan Emirates

Garuda Indonesia memperkenalkan ragam menu pilihan baru khas nusantara pada program bertajuk “Garuda Rasa” yang merupakan wujud komitmen berkelanjutan Perusahaan untuk memperkenalkan menu kuliner khas berbagai daerah dari Aceh sampai Papua. Terdapat 3 program dalam Garuda Rasa ini yaitu Signature Indonesia Dish (Hidangan Nusantara), Thematic Local Dish (Hidangan Khas Daerah), dan Local Snack (Kudapan Nusantara) yang nantinya akan disesuaikan dengan rute dan durasi penerbangan.

Adapun Signature Indonesian Dish yang secara bertahap mulai diperkenalkan adalah Menu Khas Sumatera, Bali dan Jawa pada rute Jakarta – Singapura dan Jakarta – Denpasar.

Salah satu menu baru inflight meals yang juga turut diperkenalkan pada rute Jakarta – Amsterdam pp di Business Class adalah “Nasi Kapau” yang mulai disajikan pada penumpang penerbangan GA 88 rute Jakarta – Amsterdam pada hari Minggu (23/6). Lebih lanjut, pilihan menu “Nasi Padang” juga turut dihadirkan pada penerbangan kembali dari Amsterdam menuju ke Jakarta melalui penerbangan GA 89. Kedepannya ragam menu khas Nusantara ini ini juga akan turut diperkenalkan pada beberapa rute internasional lainnya.

Sebelumnya Garuda Indonesia juga memperkenalkan Thematic Local Dish khas Kalimantan seperti Lontong Banjar, Ketupat Kandangan, Nasi Kuning Samarinda, dan sebagainya dengan total 12 menu yang di rotasi setiap periode pada penerbangan dari dan menuju Balikpapan sejak 15 Juni 2024.

Direktur Utama Garuda Indonesia Irfan Setiaputra mengatakan bahwa program “Garuda Rasa” tersebut merupakan wujud komitmen Garuda Indonesia sebagai national flag carrier dalam mendukung pengembangan kuliner khas nasional dengan memperkenalkan berbagai makanan daerah dalam penerbangan Garuda Indonesia baik pada penerbangan domestik maupun internasional.

“Merupakan komitmen berkelanjutan bagi kami di Garuda Indonesia sebagai national flight carrier tidak hanya dalam menyediakan layanan transportasi udara yang aman dan nyaman untuk para pengguna jasa, melainkan juga turut membawa berbagai ciri khas terbaik bangsa Indonesia sebagai bangsa yang kaya akan kebudayaan, pariwisata, kuliner, hingga produk-produk kreatif,” jelas Irfan.

Lebih lanjut, nantinya melalui program “Garuda Rasa” tersebut, Garuda Indonesia juga akan memperkenalkan Thematic Local Dish Aceh dan Sumatera Utara pada penerbangan dari dan menuju Banda Aceh dan Medan khususnya dalam menyambut pelaksanaan Pekan Olah Raga Nasional (PON) pada bulan September mendatang. Serta untuk sajian Local Snack rencananya akan dihadirkan pada rute Jakarta – Solo pp di Business Class. dengan menu-menu khas kudapan nusantara.

“Dengan mulai diperkenalkannha ragam menu khas nusantara baru dalam in-flight meals Garuda Indonesia, kami harapkan akan dapat membawa kuliner Indonesia semakin dikenal ke berbagai penjuru dunia. Kedepannya, kami akan menjajaki berbagai opsi kuliner nusantara yang dapat kami optimalkan menjadi menu signature baru dalam in-flight meals Garuda Indonesia,” tutup Irfan.

Dengan Dalih Kurangi Makanan Terbuang, JAL Tawarkan Penumpang untuk ‘Skip Meals’

Tujuh Stasiun Kereta Api dengan Fasilitas Unik di Berbagai Negara

Kereta api bukan hanya alat transportasi, tetapi juga cerminan budaya atau sejarah dari suatu negara. Beberapa stasiun kereta api di dunia memiliki fasilitas unik yang membuatnya menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan.

Berikut adalah tujuh stasiun kereta api dengan fasilitas unik di berbagai negara yang bisa Anda kunjungi.

1. Stasiun King’s Cross, London, Inggris
Stasiun King’s Cross di London adalah salah satu stasiun paling terkenal di dunia berkat Platform 9¾ yang menjadi ikonik dalam seri Harry Potter karya J.K. Rowling. Platform ini menjadi tempat dimana para penyihir muda memulai perjalanan mereka ke Hogwarts School of Witchcraft and Wizardry.

Untuk para penggemar Harry Potter, King’s Cross menawarkan pengalaman unik dengan adanya replika troli yang setengah menembus dinding, memberikan kesan troli tersebut seolah-olah menuju ke platform ajaib. Selain itu, di stasiun di Inggris ini juga terdapat toko resmi Harry Potter yang menjual berbagai macam merchandise, mulai dari tongkat sihir hingga pakaian bertema Hogwarts.

2. Stasiun Kanazawa, Jepang
Stasiun Kanazawa di Jepang terkenal dengan pintu gerbang Tsuzumi yang megah dan desain arsitekturnya yang menggabungkan elemen tradisional dan modern. Pintu gerbang ini menyerupai drum tradisional Jepang. Di dalam stasiun, terdapat taman nasional Jepang yang indah dengan kolam, air terjun, dan berbagai tanaman khas. Taman ini memberikan suasana yang tenang dan menyegarkan bagi para penumpang kereta.

Selain itu, stasiun ini juga dilengkapi dengan berbagai fasilitas modern seperti pusat perbelanjaan dan restoran yang menawarkan berbagai macam kuliner khas Jepang. Anda harus mencobanya saat berkunjung kesana.

3. Stasiun Helsinki, Finlandia
Stasiun Helsinki di Finlandia adalah salah satu contoh terbaik dari arsitektur Art Nouveau. Bangunan ini dirancang oleh Eliel Saarinen dan dibuka pada tahun 1919. Fasad stasiun yang megah dihiasi dengan patung-patung penjaga granit yang memegang bola lampu memberikan tampilan yang kuat dan kokoh.

Bagian dalam stasiun pun tak kalah menawan dengan dekorasi khas Art Nouveau yang elegan dan artistik. Stasiun ini juga menjadi pusat transportasi utama di Helsinki, menghubungkan berbagai rute kereta api domestik dan internasional.

4. Stasiun Atocha, Madrid, Spanyol
Stasiun Atocha di Madrid bukan hanya stasiun kereta api, tetapi juga rumah bagi semua taman tropis yang luas. Taman ini berada di dalam bangunan stasiun dan mencakup area lebih dari 4.000 meter persegi.

Terdapat lebih dari 7.000 tanaman dari 260 spesies yang berbeda di dalam taman ini, menciptakan suasana hijau dan segar di tengah keramaian kota. Selain itu, stasiun ini juga memiliki berbagai fasilitas seperti restoran, pusat perbelanjaan, dan area duduk yang nyaman untuk menunggu kereta.

5. Stasiun Tanggula, Tibet, China
Stasiun Tanggula di Tibet berada di ketinggian 5.068 meter diatas permukaan laut. Stasiun ini merupakan bagian dari jalur Kereta Api Qinghai-Tibet, yang menghubungkan kota-kota di China dengan Lhasa, ibukota Tibet.

Karena ketinggiannya yang ekstrim, stasiun ini dilengkapi dengan fasilitas khusus seperti sistem oksigen tambahan untuk membantu penumpang beradaptasi dengan ketinggian. Pemandangan di sekitar stasiun ini juga sangat menakjubkan, yaitu pegunungan bersalju dan lanskap alam yang spektakuler.

Tanggula, Stasiun Terbengkalai di Atas Awan

6. Stasiun Grand Central, New York, AS
Stasiun ini terkenal karena keindahan arsitekturnya. Langit-langit stasiun ini dihiasi dengan lukisan rasi bintang yang menakjubkan, memberikan suasana yang magis dan artistik.

Selain itu, stasiun ini juga dikenal dengan pasar makanan gourmet yang menawarkan berbagai pilihan kuliner dari seluruh dunia. Pasat makanan ini menjadi tempat yang populer bagi penduduk lokal maupun wisatawan untuk mencicipi makanan lezat sebelum melanjutkan perjalanan dengan kereta. Stasiun ini telah dilengkapi dengan lift penumpang untuk memastikan aksesibilitas bagi semua penumpang, termasuk mereka yang membawa barang bawaan, penumpang dengan disabilitas, dan orang tua dengan anak-anak.

Inilah Grand Central Terminal, Stasiun Kereta Terbesar di Dunia, Punya 67 Line!

7. Stasiun Semarang Tawang, Indonesia
Stasiun Semarang Tawang di Indonesia adalah salah satu stasiun tertua dan paling bersejarah di negara ini. Stasiun ini dibangun pada masa kolonial Belanda dan memiliki arsitektur khas Belanda yang elegan dan klasik. Selain melayani penumpang, stasiun ini juga memiliki sebuah museum kecil yang menampilkan berbagai artefak dan informasi tentang sejarah perkeretaapian di Indonesia.

Museum ini menjadi tempat yang menarik untuk dikunjungi bagi mereka yang ingin tahu lebih dalam tentang perkembangan transportasi kereta api di Indonesia. Stasiun ini juga memiliki fasilitas modern seperti ruang tunggu dan kios-kios penjual makanan.

Yang Unik dari Stasiun Tawang, Alunan Gambang Semarang Gantikan Bunyi Bel

Stasiun-stasiun kereta api di berbagai negara ini menunjukkan betapa beragamnya cara negara-negara merancang dan menggunakan stasiun mereka lebih dari sekadar tempat transit.

Dengan fasilitas-fasilitas unik yang diberikan, stasiun-stasiun ini tidak hanya memudahkan perjalanan tetapi juga memberikan pengalaman yang tak terlupakan bagi para penumpang. Fasilitas pendukung pada setiap stasiun ini juga menjadi daya tarik tersendiri untuk wisatawan yang datang.

Apakah Anda pecinta arsitektur, penggemar Harry Potter, atau hanya seseorang yang mencari tempat menarik untuk dikunjungi? Stasiun-stasiun ini patut untuk dimasukkan dalam daftar kunjungan Anda selanjutnya. (Arumka – Kontributor)

Dinilai Krusial Bantu Kesuksesan Maskapai, Berikut Daftar 5 Leasing Pesawat Terbesar Di Dunia

Pada umumnya, tidak semua maskapai mempunyai pesawat sendiri. Banyak dari mereka yang memilih untuk menyewa pesawat ke berbagai lessor di dunia dengan berbagai alasan. Opsi membeli ataupun menyewa pesawat sebetulnya sama-sama memiliki andil besar dalam menyokong kesuksesan bisnis maskapai. Bergantung pada bagaimana pengelolaan bisnis itu sendiri.

Baca juga: Mengapa Perusahaan Leasing ‘Diburu’ Maskapai dan Mengapa Maskapai Menyewa Pesawat? Ini Jawabannya

Wizz Air, misalnya, tidak akan mencapai pertumbuhan 253 persen dalam delapan tahun terakhir tanpa 100 persen menyewa pesawat. Belum lama ini, pertumbuhan dinamis LOT Polish Airlines, Indigo, GOL atau Vueling juga tak terlepas dari keputusan menyewa pesawat. Maskapai tersebut saat ini tercatat memiliki lebih dari 70 persen pesawat sewaan.

Di seluruh dunia, ada banyak leasing pesawat dengan capital reserves serta kepemilikan pesawat terbesar. Anehnya, CEO tiga dari lima leasing pesawat terbesar di dunia yang saat ini memimpin perusahaan masing-masing ‘lahir’ dari pelopor industri leasing pesawat, Guinness Peat Aviation, yang sejak November 1998 telah dinyatakan bangkrut. Agar lebih jelas, berikut daftar lima lessor atau leasing pesawat terbesar di dunia versi KabarPenumpang.com.

1. AerCap
Pada tahun 2017, perusahaan sewa guna usaha dan penjualan pesawat atau lebih masyhur dikenal perusahaan leasing pesawat ini memilik total pesawat sebanyak 1.566 pesawat, termasuk 970 pesawat narrowbody dan 305 widebody. Pada tahun 2019, situs statista.com mencatat perusahaan asal Irlandia itu memiliki pesawat dengan total asset mencapai 34,5 miliar dollar atau Rp486 (kurs 1 dollar = Rp13.847). Perusahaan yang dipimpin oleh Aengus Kelly, eks Guinness Peat Aviation (GPA), ini menjadi terbesar di dunia setelah mengakuisisi International Lease Finance Corp.

2. GECAS
GECAS adalah singkatan dari GE Capital Aviation Services. Dari segi jumlah pesawat, perusahaan pembiayaan dan leasing komersial Irlandia-Amerika tercatat sebagai yang terbesar di dunia. Pada tahun 2017, cucu usaha dari General Electric ini memiliki 1,035 armada narrowbody dan 168 widebody. Selain itu, GECAS juga memiliki 374 jet regional, pangsa pasar yang tak mampu dilawan seluruh kompetitornya. Perusahaan yang dipimpin oleh Greg Conlon merupakan ‘pecahan’ dari eks pelopor leasing pesawat, GPA, yang sejak November 1998 telah dinyatakan bangkrut.

3. Avolon
Avolon Leases Aircraft adalah perusahaan penyewaan pesawat yang berbasis di Dublin, Irlandia. Perusahaan ini didirikan pada tahun 2010 oleh eks pelopor leasing pesawat, GPA, Domhnal Slattery, dengan modal awal sebesar US$1.4 miliar. Mayoritas saham Avolon dimiliki oleh Bohai Leasing, perusahaan leasing (apapun, tak terbatas hanya pada leasing pesawat saja) terbesar kedua di dunia, beroperasi di 80 negara, dengan aset mencapai Rp653 triliun.

Tahun lalu, Avolon Leases Aircraft melaporkan berhasil mencatatkan laba bersih Rp10,2 triliun, naik sedikit dari tahun sebelumnya diangka yang nyaris sama, serta total kepemilikan pesawat mencapai 925. Di masa pandemi corona, dimana maskapai pada kesulitan keuangan, Avolon mengaku banyak dihubungi maskapai untuk membantu masalah keuangan sekaligus membicarakan perihal pembayaran utang kredit pesawat.

4. SMBC Aviation Capital
CEO salah satu lessor Garuda Indonesia itu, Peter Barrett, belum lama ini mengungkap bahwa capital reserves mereka sekitar US$6,1 miliar atau Rp85 triliun lebih (kurs 1 dollar = Rp13.853). Menurut praktisi hukum, dengan dana sebesar itu, mereka disebut mampu bertahan sampai sekitar sembilan bulan dengan kondisi kredit macet akibat pandemi corona. Sama seperti AerCap dan Avolon, SMBC Aviation Capital juga dipimpin oleh eks GAP.

Baca juga: Penerbangan Komersial Dilarang Beroperasi, Maskapai Penerbangan Indonesia ‘Dihantui’ Tuntutan Lessor

Meski memiliki modal besar, belum tentu lessor memiliki dana itu sendirian. Menurut statista.com sumber pendanaan utama di pasar penyewaan pesawat adalah melalui pasar modal dan hutang bank. Pendanaan juga dapat diperoleh dengan menggunakan uang tunai atau kredit ekspor. Cina adalah salah satu sumber utama hutang bank komersial yang digunakan untuk penyewaan pesawat terbesar di dunia. Pada 2019, Cina menyumbang 24 persen dari hutang bank di pasar penyewaan pesawat.

5. BOC Aviation
Menurut statista.com, pada tahun 2017, wilayah dengan armada pesawat sewaan terbesar di dunia adalah Eropa dengan 3.500 pesawat, diikuti Amerika Utara dengan 3.324 pesawat pada periode yang sama. Nah, untuk wilayah Asia-Pasifik, BOC Aviation adalah rajanya. Meskipun belum ada data spesifik, namun perusahaan yang dipimpin oleh Robert Martin ini memiliki market share tak tertandingi. Salah satu maskapai yang intens berkerjasama dengannya adalah Cathay Pacific.

Sewa Operasi (Operating Lease), Jadi Tipe Kepemilikan Pesawat Paling Populer

Setelah pada artikel sebelumnya dikupas tentang keuntungan dan tantangan dari delapan tipe kepemilikan pesawat, maka di artikel kali ini kami kupas satu di antaranya yang dikenal paling populer digunakan oleh banyak layanan penerbangan. Dalam industri penerbangan, tipe kepemilikan yang paling banyak digunakan adalah Sewa Operasi (Operating Lease). Apa yang menjadi alasannya, simak bahasannya pada tulisan ini.

Baca juga: Empat Kali Lipat dari Harga Rata-rata Global, Biaya Leasing Pesawat Bikin Garuda Indonesia Bangkrut

Banyak maskapai penerbangan komersial menggunakan sewa operasi untuk memperoleh pesawat tanpa perlu membayar biaya penuh di muka atau menanggung beban kepemilikan jangka panjang. Keuntungan yang ditawarkan dari sewa operasi seperti maskapai bisa menyesuaikan ukuran armada mereka sesuai dengan permintaan pasar tanpa komitmen jangka panjang. Kemudian dari segi biaya, tidak memerlukan investasi awal yang besar seperti pembelian pesawat langsung.

Sewa operasi memungkinkan maskapai untuk terus memperbarui armada mereka dengan pesawat yang lebih baru dan lebih efisien. Sering kali, kontrak sewa operasi termasuk layanan pemeliharaan dan dukungan dari perusahaan leasing. AerCap, GECAS (GE Capital Aviation Services), dan Air Lease Corporation adalah beberapa perusahaan leasing besar yang menyediakan pesawat untuk maskapai di seluruh dunia.

Di Indonesia, penggunaan sewa operasi juga merupakan tipe kepemilikan yang paling umum digunakan oleh maskapai penerbangan. Maskapai penerbangan Indonesia, seperti banyak maskapai lainnya di seluruh dunia, memilih sewa operasi untuk menghindari biaya awal yang tinggi yang terkait dengan pembelian pesawat baru.

Dengan sewa operasi, maskapai dapat menyesuaikan armada mereka berdasarkan fluktuasi permintaan pasar, terutama mengingat sektor pariwisata yang bisa sangat dinamis di Indonesia. Sewa operasi memungkinkan maskapai untuk memperbarui armada mereka lebih sering, yang penting untuk menjaga efisiensi operasional dan memenuhi standar keselamatan. Banyak kontrak sewa operasi yang termasuk layanan pemeliharaan dan dukungan dari perusahaan leasing, mengurangi beban operasional maskapai.

Meskipun sewa operasi menawarkan fleksibilitas dan biaya awal yang rendah, maskapai penerbangan harus mempertimbangkan kelemahan potensial seperti biaya jangka panjang yang lebih tinggi, ketergantungan pada penyedia leasing, dan keterbatasan dalam modifikasi pesawat.

Dinilai Krusial Bantu Kesuksesan Maskapai, Berikut Daftar 5 Leasing Pesawat Terbesar Di Dunia

Punya Keuntungan dan Tantangan Tersendiri, Inilah Delapan Tipe Kepemilikan Pesawat

Industri penerbangan sipil terbilang kompleks, salah satu yang dikenal adalah seputar kepemilikan pesawat, pasalnya tipe kepemilikan pesawat dapat bervariasi tergantung pada konteks dan tujuan penggunaan pesawat tersebut.

Baca juga: Takut Pesawat Disita Lessor di Luar Negeri, Maskapai Rusia Hanya Operasikan Penerbangan Domestik

Pemilihan tipe kepemilikan bergantung pada faktor-faktor seperti kebutuhan operasional, anggaran, dan preferensi pemilik atau penyewa. Berikut adalah beberapa tipe kepemilikan pesawat yang umum:

Tipe kepemilikan pesawat dapat bervariasi tergantung pada konteks dan tujuan penggunaan pesawat tersebut. Berikut adalah beberapa tipe kepemilikan pesawat yang umum:

1. Kepemilikan Penuh (Full Ownership)
Pesawat dimiliki sepenuhnya oleh satu individu atau satu perusahaan. Pemilik memiliki kontrol penuh atas pesawat dan bertanggung jawab atas semua biaya operasional, pemeliharaan, dan asuransi.

Contohnya miliarder seperti Jeff Bezos memiliki pesawat jet pribadi Gulfstream G650ER sepenuhnya untuk penggunaan pribadi dan bisnisnya.

2. Kepemilikan Bersama (Fractional Ownership)
Pesawat dimiliki oleh beberapa individu atau perusahaan yang masing-masing memiliki bagian (fraksi) dari pesawat. Pemilik fraksional memiliki hak untuk menggunakan pesawat selama jumlah jam tertentu setiap tahun, berdasarkan proporsi kepemilikan mereka. Biasanya dikelola oleh perusahaan manajemen pesawat yang mengatur operasi, pemeliharaan, dan jadwal penggunaan.

Tipe ini bisa dicontohkan dalam program NetJets yang menawarkan kepemilikan fraksional di mana beberapa klien berbagi kepemilikan pesawat seperti Cessna Citation XLS+. Setiap pemilik memiliki hak untuk menggunakan pesawat selama jumlah jam tertentu per tahun.

3. Sewa Operasi (Operating Lease)
Pesawat disewa dari perusahaan leasing untuk jangka waktu tertentu, biasanya beberapa tahun. Penyewa memiliki hak untuk menggunakan pesawat selama periode sewa tetapi tidak memiliki kepemilikan atas pesawat. Pembayaran sewa bulanan atau tahunan dan biasanya termasuk biaya pemeliharaan dan asuransi.

Tipe ini bisa dicontohkan seperti maskapai penerbangan seperti Delta Airlines menyewa pesawat Boeing 737 dari perusahaan leasing seperti AerCap untuk jangka waktu beberapa tahun tanpa memiliki kepemilikan penuh atas pesawat tersebut.

4. Sewa Modal (Finance Lease)
Serupa dengan sewa operasi, tetapi di akhir periode sewa, penyewa memiliki opsi atau kewajiban untuk membeli pesawat dengan nilai residu yang disepakati. Penyewa memiliki kontrol penuh atas pesawat selama periode sewa dan biasanya bertanggung jawab atas semua biaya operasional dan pemeliharaan.

Tipe ini seperti sebuah perusahaan korporat mungkin menyewa pesawat Bombardier Global 6000 dengan opsi untuk membeli pesawat tersebut setelah jangka waktu sewa lima tahun.

5. Penggunaan Charter (Charter Use)
Pesawat disewa untuk penerbangan tertentu atau untuk jangka waktu pendek. Penyewa memiliki akses ke pesawat untuk waktu tertentu atau penerbangan tertentu tanpa tanggung jawab jangka panjang atau biaya pemeliharaan. Contohnya perusahaan atau individu menyewa pesawat jet pribadi dari perusahaan charter seperti Flexjet untuk perjalanan bisnis atau liburan sekali-sekali tanpa komitmen jangka panjang.

6. Manajemen Pesawat (Aircraft Management)
Pemilik pesawat mempekerjakan perusahaan manajemen untuk mengelola operasi harian, pemeliharaan, dan kepatuhan regulasi. Pemilik tetap memiliki pesawat tetapi mengalihdayakan tanggung jawab operasional kepada perusahaan manajemen. Contohnya seorang pengusaha memiliki pesawat Embraer Legacy 500 tetapi mengontrak perusahaan manajemen pesawat seperti Jet Aviation untuk mengurus operasi harian, pemeliharaan, dan kepatuhan regulasi.

7. Kepemilikan Pemerintah
Dimiliki dan dioperasikan oleh instansi pemerintah atau militer, untuk keperluan operasional pemerintah, misi militer, atau layanan publik seperti pemadam kebakaran dan patroli perbatasan. Contohnya pemerintah Amerika Serikat memiliki pesawat kepresidenan seperti Air Force One (Boeing 747-200B) yang digunakan oleh Presiden Amerika Serikat untuk keperluan resmi dan perjalanan internasional.

8. Kepemilikan Maskapai
Pesawat dimiliki oleh maskapai penerbangan dan digunakan untuk operasi komersial. Penggunaan pesawat untuk penerbangan komersial yang membawa penumpang atau kargo. Contoh seperti Singapore Airlines memiliki dan mengoperasikan pesawat Airbus A380 untuk layanan penerbangan komersialnya yang membawa penumpang di rute internasional.

Apa Itu Pesawat White Tail? Berikut Penjelasannya

Marak Turbulensi Ekstrim, Emirates Rilis Video Keselamatan Terbaru yang Lebih “To The Point”

Beberapa penerbangan mengalami kejadian turbulensi ekstrim dalam waktu berdekatan, tak pelak itu menjadi momok yang mencemaskan bagi para penumpang. Pihak maskapai pun telah memberikan panduan-panduan untuk menghadapi kejadian tidak terduga yang terjadi selama penerbangan.

Baca juga: Singapore Airlines Tawarkan Kompensasi Mulai US$10.000 pada Penumpang yang Terluka dalam Insiden Turbulensi Flight SQ321

Seperti belum lama ini Emirates telah merilis video keselamatan baru yang “sungguh-sungguh”, yang menghindari hal-hal yang berlebihan dan langsung pada intinya. Kesederhanaan video ini berlawanan dengan tren industri berupa video keselamatan yang mencolok dan menarik perhatian.

Video keselamatan tersebut dibuka dengan pramugari Emirates yang memberi tahu penumpang bahwa pengarahan keselamatan “tidak akan menampilkan penari yang menyanyikan lagu, karakter dari film, atau selebritas yang mencoba melucu.” Sebaliknya, ini bertujuan untuk memberikan penjelasan langsung tentang hal-hal penting keselamatan tanpa memerlukan sesuatu yang menarik perhatian, seperti aktor terkenal atau pertunjukan tarian yang mencolok.

Pihak maskapai mengatakan, “Jika Anda mengharapkan penari, bintang film, dan penyanyi, kami menyimpannya untuk hiburan dalam penerbangan kami. Kami menjaga keselamatan Anda dengan serius. Jadi, inilah video keselamatan terbaru kami yang sungguh-sungguh untuk penerbangan Emirates Anda berikutnya.”

Video tersebut membahas informasi keselamatan biasa, seperti menyimpan tas dan mengencangkan sabuk pengaman, yang dipimpin oleh awak kabin Emirates. Hal ini juga membuat keputusan cerdas untuk memotong klip penumpang yang menjelaskan banyak bagian penting, menciptakan perasaan bahwa semua orang di dalam pesawat terlibat dalam proses keselamatan. Video diatur seluruhnya di dalam kabin dan, selain musik yang menenangkan dan suar lensa yang aneh, tidak ada yang dibuat-buat.

Saat ini, maskapai penerbangan sering kali mencoba membuat video keselamatan mereka semenarik mungkin agar dapat ditonton oleh banyak penumpang, dan hal ini menjadi semakin penting di era ponsel pintar yang ada di mana-mana. Namun, pendekatan ini dapat mengurangi rincian pesan. Kita telah melihat beberapa maskapai penerbangan – video keselamatan Air India yang baru-baru ini dirilis yang menampilkan tarian rakyat India, atau upaya British Airways dari tahun lalu, muncul dalam pikiran kita – tampil maksimal dengan video keselamatan mereka, meskipun maskapai lain, seperti Japan Airlines, telah mempertahankan standar yang lebih diremehkan.

Dan Emirates telah menjejalkan semua informasi keselamatan penting ini ke dalam video berdurasi kurang dari empat menit. Durasi ini lebih pendek dari video United yang baru (4 menit 53 detik) dan jauh berbeda dengan durasi video keselamatan beranggaran tinggi terbaru Qantas yang berdurasi 9 menit 33 detik.

Video Keselamatan di Penerbangan Korean Air Kini Dibintangi Pramugari Virtual