Sejarah Merger KLM-Air France pada 5 Mei 2004: Gegara Open Skies

Tepat hari ini, 5 Mei 2023, menandakan 19 tahun sudah group maskapai KLM-Air France berdiri sebagai salah satu maskapai penerbangan terbesar di dunia dari segi omset dan salah satu grup maskapai penerbangan terbesar di Eropa.

Baca juga: Gelukkige Verjaardag dan Joyeux Anniversaire untuk KLM Air France yang Ke-10 dan 187 Tahun

Dilansir laman resmi grup perusahaan, sejarah merger KLM-Air France tidak bisa lepas dari dorongan kebijakan open skies sejak dekade 80-an. Ketika itu, keterbukaan ruang udara untuk penerbangan sipil membuat maskapai putar otak. Karena keterbatasan jangkauan dan finansial, tercetuslah ide untuk beraliansi.

Pada tahun 1989, untuk pertama kalinya dalam sejarah transportasi udara dunia, sebuah aliansi terbentuk antara Koninklijke Luchtvaart Maatschappij atau yang biasa disingkat KLM dengan maskapai asal Amerika Serikat (AS) Northwest Airlines.

Dua tahun berselang atau pada tahun 1991, perjanjian open skies pertama antara Belanda dan AS pun tercapai dan memungkinkan kedua maskapai mengoperasikan masing-masing slot penerbangan antara kedua negara tersebut melalui basis usaha patungan mulai tahun 1993.

Air France, yang sudah berpengalaman dalam hal kerjasama internasional, salah satunya bersama British Airways dalam mengoperasikan pesawat supersonik Concorde, juga turut melakukan berbagai kerjasama. Merger sana sini dengan UTA, Air Inter, sampai akhirnya saham induk perusahaan Air France tercatat di Bursa Efek Paris untuk pertama kalinya pada 22 Februari 1999.

Di dekade 2000an, dunia semakin terbuka. Persaingan penerbangan semakin ketat. Menyikapi itu, Air France melakukan aksi korporasi besar-besaran dengan mencaplok banyak maskapai regional Perancis, seperti Regional Airlines, Flandre Air, Proteus, BritAir, dan CityJet.

Tak berhenti sampai di situ, Air France juga menguatkan jaringan internasionalnya dengan mempelopori pembentukan aliansi SkyTeam untuk angkutan penumpang dan SkyTeam Cargo untuk angkutan kargo. Pada tahun 2000, aliansi SkyTeam resmi diluncurkan oleh empat maskapai pelopor, Air France, Aeromexico, Delta Airlines dan Korean Air.

SkyTeam terus mendapat tambahan anggota, seperti Alitalia dan CSA Czech Airlines pada 2001, diikuti oleh KLM dan mitra Amerikanya Northwest Airlines dan Continental Airlines pada tahun 2004, maskapai nasional Rusia Aeroflot pada 2006, China Southern Airlines yang menjadi maskapai Cina pertama gabung ke aliansi maskapai, Air Europa, Kenya Airways, maskapai Rumania TAROM, dan Vietnam Airlines.

Menariknya, jajaran petinggi Air France menganggap, aliansi saja tidak cukup. Harus ada kerjasama yang jauh lebih erat lagi secara internasional. Inilah yang pada akhirnya mendorong merger KLM-Air France pada tanggal 5 Mei 2004 untuk membentuk Group Air France-KLM dalam kesepakatan senilai €800 juta dan menjadikannya sebagai maskapai penerbangan terbesar di dunia dari segi omset.

Berdirinya Group Air France-KLM juga ditandai dengan melantainya (IPO) saham perusahaan di Paris Euronext dan pasar Amsterdam serta di New York Stock Exchange.

Baca juga: Sejarah Merger Boeing dengan McDonnell Douglas, Sempat Ditentang Eropa sampai Presiden AS Turun Tangan

Group Air France-KLM dimiliki oleh pemegang saham, di mana negara Perancis adalah yang terbesar, dengan 28,6 persen saham, sedangkan negara Belanda saat ini memegang 9,3 persen.

Group Air France-KLM setiap tahun sedikitnya mengangkut lebih dari 77 juta penumpang. Mereka mengoperasikan 548 pesawat ke 318 destinasi di 118 negara.

Walau Listrik PLN Padam, LRT Jabodebek Tetap Bisa Meluncur Sampai Stasiun Terdekat: Penumpang Tidak Akan Terjebak

LRT Jabodebek dilengkapi sederet teknologi canggih. Salah satunya adalah fitur dimana kereta akan tetap terus berjalan sampai tiba di stasiun walaupun listrik PLN padam. Dengan begitu, penumpang tidak akan terjebak di dalam kereta atau terpaksa keluar dari rangkaian LRT Jabodebek sebelum sampai di stasiun. Ini tentu berbeda dibanding teknologi pada moda berbasis rel lainnya.

Baca juga: Diundur Terkait Faktor Keamanan Penumpang, LRT Jabodebek Beroperasi Juni 2023

Masih segar dalam ingatan, saat terjadi pemadaman listrik massal atau black out di Jakarta atau kawasan Jawa-Bali pada Agustus 2019 silam, seluruh moda berbasis rel ketika itu seketika berhenti. Kereta dan penumpang MRT Jakarta bahkan terjebak di bawah tanah. Karenanya, hal itu tidak akan terjadi di LRT Jabodebek.

“Saat terjadi shutdown dari PLN, kereta akan tetap berjalan sampai ke stasiun tujuan. Ini sudah diatur by sistem,” jelas Manajer Humas Divisi LRT Jabodebek, Kuswardoyo, saat ditemui KabarPenumpang.com di kantornya, Kamis (4/5/2023).

Setibanya di stasiun, kereta LRT Jabodebek akan ada dua kemungkinan. Kemungkinan pertama train set atau rangkaian kereta tetap bisa beroperasi dengan cadangan baterai yang ada di kereta, didukung dengan catu daya yang ada di stasiun untuk mendukung operasi kereta.

Kemungkinan kedua adalah kereta stop operasi untuk sementara sampai aliran listrik dari PLN kembali normal. Rangkaian LRT Jabodebek akan kembali beroperasi setelah pusat kendali operasi atau Operation Control Center (OCC) mengunggah kembali jadwal perjalanan kereta sehingga kereta akan berjalan mengikuti jadwal tersebut secara otomatis.

“Jadi ada kemungkinan shutdown semuanya ketika PLN-nya shutdown, tapi ada kemungkinan bisa operasikan dengan kemampuan catu daya yang ada,” tambahnya.

Baca juga: Kalau LRT Jabodebek Selesai, Apa Saja Sih yang Bakal Diuntungkan?

“Cuma yang jelas, (saat dalam kondisi listrik padam) kereta akan tetap sampai ke stasiun terdekat dengan selamat,” tegasnya.

Selain teknologi di atas, LRT Jabodebek juga dilengkapi dengan teknologi yang disebut Automatic Train Protection (ATP) sebagai sistem keselamatan. Dengan adanya ATP, LRT Jabodebek terlindungi dari over speed dan jaminan pengereman yang andal. Teknologi tersebut juga mencegah kereta menabrak objek yang terdeteksi berada di lintasan.

Teknologi yang mendukung fitur keselamatan LRT Jabodebek juga termasuk track balise atau sensor pergerakan kereta di lintasan, yang menjadi satu kesatuan sistem dengan ATP dan perangkat ruang kemudi di lokomotif.

Selain itu, lanjut Kuswardoyo, terdapat teknologi excel counter persinyalan dan automatic tranpotektor, sehingga ketika terjadi satu hal yang tidak diinginkan akan berfungsi sebagai peringatan.

“Jadi kalau kita liat secara teknologi, teknologi ini (pada LRT Jabodebek) adalah yang paling aman saat ini yang kita punya. Karena pengamananya berlapis, dari mulai akselerasi ditentukan by sistem, kapan di jalan sudah sistem yang tentukan, ketika ada gangguan juga sistem yang kerjakan,” tutup manager Humas LRT Jabodebek yang sebelumnya menjabat Manager Humas PT KAI Daop 2 Bandung tersebut.

Baca juga: Tuntas Direvitalisasi, 4 Halte Transjakarta yang Terintegrasi KRL dan LRT Jabodebek Mulai Beroperasi

LRT Jabodebek akan dioperasikan menggunakan sistem Communication-Based Train Control (CBTC) dengan Grade of Automation (GoA) level 3. Sistem CBTC adalah pengoperasian kereta berbasis komunikasi, sehingga sistem dapat mengoperasikan kereta dan memproyeksikan jadwal secara otomatis serta disupervisi juga secara otomatis dari pusat kendali operasi.

Bila tak ada aral melintang, LRT Jabodebek akan trial run pada bulan Juni dan akan beroperasi secara komersial mulai 12 Juli 2023 mendatang.

Bikin Heboh, Maskapai Nasional Israel El AL Ajukan Izin Layanan Penerbangan Haji

Berita yang satu ini boleh jadi akan menuai perhatian publik di Indonesia dan internasional, pasalnya maskapai plat merah Israel, El AL tengah mengajukan izin untuk mengopersikan penerbangan Haji ke Arab Saudi. Persisnya, Pemerintah Israel telah mengeluarkan permintaan resmi dan mengatakan sedang dibahas secara bilateral.

Baca juga: Bukan Nama Anak Artis, Ini Dia Fakta Unik Seputar El Al Airlines

Dikutip dari Simple Flying, Israel berharap pihak berwenang di Arab Saudi akan mengizinkan maskapai penerbangan Israel untuk mengoperasikan penerbangan langsung ke Arab Saudi, yakni guna melayani warga muslim di wilayah Israel yang ingin menunaikan ibadah Haji, yang notabene akan berlangsung bulan depan.

Berbicara tentang masalah di Yerusalem kemarin, Menteri Luar Negeri Israel, Eli Cohen, mengatakan kepada wartawan bahwa permintaan resmi telah diajukan dan saat ini sedang dalam pembahasan intens.

Jutaan Muslim di seluruh dunia melakukan perjalanan setiap tahun ke Mekkah di Arab Saudi, untuk menunaikan ibadah Haji, ziarah yang mengikuti tindakan Nabi Muhammad 1.377 tahun yang lalu.

Permintaan resmi tersebut mengikuti persetujuan Arab Saudi untuk menjalin hubungan dengan Israel dengan negara Teluk lainnya, termasuk Uni Emirat Arab dan Bahrain, pada tahun 2020. Meskipun demikian, Kerajaan sejauh ini telah menunda untuk mengikutinya.

Sejauh ini, belum ada konfirmasi resmi dari para menteri yang berbasis di Riyadh, ibu kota Saudi, terkait permintaan penerbangan Haji oleh maskapai Israel.

Penerbangan langsung terkait haji antara kota-kota Israel dan Arab Saudi dipandang penting untuk memungkinkan 1,7 juta populasi muslim yang kuat di negara itu (Israel) untuk menunaikan ibadah Haji. Jumlah penduduk muslim menyumbang sekitar 18 persen dari total populasi Israel.

Saat ini, umat muslim dari Israel dan wilayah Palestina harus melakukan perjalanan ke Mekkah melalui negara pihak ketiga, yang berarti tambahan biaya dan waktu yang dikeluarkan untuk perjalanan keluar dan pulang untuk menunaikan ibadah Haji.

Sejak 2020, Arab Saudi telah mengizinkan maskapai penerbangan Israel untuk menggunakan wilayah udaranya untuk terbang ke Uni Emirat Arab dan Bahrain, negara-negara di kawasan yang telah menjalin hubungan lebih baik belakangan ini. Koridor ini telah diperluas oleh Arab Saudi dan tetangganya Oman untuk memasukkan tujuan lain.

Baca juga: Di Balik Penerbangan Bersejarah ke Uni Emirat Arab, Boeing 737 El Al 971 Israel Dibekali Sistem Anti Rudal 

Israel dan Arab Saudi sejauh ini tidak memiliki hubungan diplomatik. Namun, kedua pemerintah masing-masing telah membuat kemajuan bertahap menuju normalisasi hubungan antara negara-negara tersebut sejak 2020, sebagai bagian dari dorongan yang disponsori AS agar Israel berdamai dengan negar-negara di Teluk.

Boeing Akan Gunakan Sayap Ultra Tipis di Prototipe Pesawat Transonik

Salah satu raksasa manufaktur pesawat, Boeing dikabarkan telah mengambil kesimpulan dari konsep sayap ultra tipis baru yang dirancang untuk meningkatkan kinerja pesawat transoniknya. Penggunaan sayap ultra tipis ini memungkinkan pesawat untuk ngebut hingga kecepatan Mach 0,8 atau yang setara dengan 955 km per jam. Selain itu, versi terbaru dari Transonic Truss-Braced Wing (TTBW) juga dapat mengudara lebih tinggi dan lebih cepat dari varian sebelumnya berkat dukungan truss yang dioptimalkan dan sudut sapuan sayap yang disesuaikan.

Baca Juga: Suksesor Concorde ini Tetap Dihantui Bayangan Kelam Pendahulunya

Seperti yang dilansir KabarPenumpang.com dari laman newatlas.com, wacana tentang angkutan udara berkecepatan supersonik – atau bahkan hipersonik memang tengah dimatangkan oleh sejumlah produsen pesawat, tetapi ujung tombak nyata dalam teknik kedirgantaraan saat ini adalah dalam penerbangan transonik. Hampir semua yang terbang di luar lingkaran militer (sipil) terjadi di dunia subsonik, artinya, kecepatan di bawah Mach 0,8 atau yang setara dengan 980 km per jam. Namun, di dunia yang sangat kompetitif dari angkutan penumpang dan kargo, itu semua tidak cukup.

Mungkin Anda akan bertanya-tanya, jika kecepatan suara adalah Mach 1 (1.235 km per jam), mengapa kecepatan subsonik berada di bawah Mach 0,8? Jawabannya sederhana, karena rentang antara Mach 0,8 dan Mach 1,2 adalah apa yang dikenal sebagai transonik. Artinya, rentang kecepatan sesaat sebelum menembus penghalang suara, dan tepat setelah itu ditandai dengan peningkatan hambatan udara dan faktor-faktor lain yang bisa membuat pesawat terguncang.

Para insinyur ingin mendekati kecepatan transonik sedekat mungkin tanpa mendorong penghalang suara, namun itu jauh dari kata mudah – tidak hanya sekedar meningkatkan ‘kasta’ pesawat subsonik menuju transonik. Ketika sebuah pesawat mendekati titik transisi (contohnya subsonik menuju transonik), maka ada beberapa bagian pesawat yang akan melampaui batas, sementara bagian yang lain akan tertinggal dibelakangnya (perubahan struktur dan bentuk pesawat harus menyeluruh dan tidak bisa hanya sekedar mengganti mesinnya saja).

Baca Juga: Tupolev “Concordski” T-114 – Jiplakan Concorde Yang Kalah Digdaya

Menurut pihak Boeing sendiri, TTBW pada awalnya dirancang untuk beroperasi dalam kisaran Mach 0,70 hingga 0,75 (835 hingga 895 km per jam). Tetapi ketika menggunakan rangka (airframe) baru, bentang sayap yang beda dan lebih tipis, dan desain yang terintegrasi, maka memungkinkan peningkatan kinerja di segi kecepatan dan ketinggian yang lebih baik. Sebagai informasi tambahan, sayap yang digunakan Boeing untuk TTBW ini dikembangkan oleh NASA sebagai bagian dari program Subsonic Ultra Green Aircraft Research (SUGAR).

 

 

 

Q1 2023: Garuda Indonesia Group Bukukan Pendapatan Usaha Hingga 72 Persen

Garuda Indonesia secara grup berhasil membukukan pertumbuhan pendapatan usaha hingga 72% pada Kuartal 1 – 2023 menjadi US$ 602,99 juta jika dibandingkan dengan catatan pendapatan usaha pada 3 bulan pertama di tahun 2022 sebesar US$ 350,15 juta. Pertumbuhan pendapatan usaha ini selaras dengan peningkatan trafik penumpang yang berhasil dicatatkan Garuda Indonesia Group pada Kuartal 1-2023 yang sedikitnya berjumlah 4,5 juta penumpang atau tumbuh sekitar 60 persen jika dibandingkan periode yang sama pada Kuartal 1-2022 sebesar 2,7 juta penumpang.

Baca juga: Upaya Kurangi Emisi Karbon, Garuda Indonesia Gelar Program Carbon Offsetting

Direktur Utama Garuda Indonesia Irfan Setiaputra mengungkapkan bahwa pertumbuhan pendapatan usaha Garuda Indonesia pada Kuartal 1-2023 ini menjadi outlook positif tersendiri bagi kinerja usaha di sepanjang tahun 2023. Di tengah periode awal tahun yang dikenal sebagai periode low season bagi sektor industri penerbangan, Garuda Indonesia berhasil mencatatkan kinerja solid pada pendapatan usahanya dengan kinerja operasional yang semakin komprehensif melalui pembukuan arus kas positif (cash flow) di mana perusahaan berhasil mencatatkan komposisi pencatatan kas masuk yang lebih besar dibandingkan beban operasi.

“Capaian ini menjadi langkah berkesinambungan dan awal transformasi kinerja yang secara konsisten menunjukan outlook positif dari upaya perbaikan kinerja usaha yang terus dilakukan secara berkelanjutan. Hal ini juga menjadi tindak lanjut dari dirampungkannya tahapan restrukturisasi perusahaan pada tahun 2022 lalu, dimana atas capaian restrukturisasi tersebut Garuda Indonesia secara kinerja operasi juga membukukan kinerja positif dalam kaitan laba usaha yang turut dikontribusikan oleh pencatatan laba buku hasil restrukturisasi”, jelas Irfan.

Adapun pertumbuhan pendapatan usaha Garuda Indonesia pada Kuartal 1 – 2023 tersebut ditunjang oleh capaian pendapat penerbangan berjadwal US$ 506,82 juta yang tumbuh sebesar 87% serta komposisi pendapatan lainnya yang tumbuh sebesar 50% menjadi US$ 83,35 juta pada tiga bulan pertama di tahun 2023 ini. Lebih lanjut hingga Maret 2023, Garuda Indonesia turut mencatatkan pertumbuhan EBITDA hingga 92% yakni menjadi US$ 71 juta atau membaik dibandingkan dengan EBITDA pada periode yang sama di tahun 2022 sebesar US$ 37 juta.

Lebih lanjut, pada Kuartal 1-2023 ini, Garuda Indonesia juga mencatatkan penurunan rugi bersih sebesar 50,91 % menjadi US$110,03 juta dari Kuartal 1-2023 lalu sebesar US$224,14 juta. Adapun pencatatan rugi bersih pada tahun kinerja berjalan ini dipengaruhi oleh penerapan standar akuntansi PSAK 73 yang mengatur tentang pembukuan transaksi sewa pada beban operasi.

“Terlepas dari adanya penerapan PSAK tersebut, Garuda Indonesia secara fundamen operasional kinerja terus mencatatkan kinerja yang positif. Hal ini terlihat dari sejumlah indikator penting pada kinerja usaha baik dari sisi EBITDA, cash flow hingga peningkatan trafik penumpang,” jelas Irfan.

Sejalan dengan kinerja usaha yang semakin solid tersebut, Garuda Indonesia pada akhir Maret 2023 lalu juga telah menyelesaikan pemenuhan kewajiban terhadap kreditur yang termasuk dalam klasifikasi kreditur dengan nilai tagihan hingga Rp255 juta. Pemenuhan kewajiban tersebut sejalan dengan Perjanjian Perdamaian PKPU yang sebelumnya telah disahkan melalui putusan homologasi PN Jakarta Pusat, dan dalam implementasinya turut diselaraskan dengan fokus misi transformasi yang berjalan. Penyelesaian kewajiban Garuda Indonesia tersebut telah dirampungkan terhadap 254 kreditur yang memiliki nilai tagihan hingga Rp255 juta, dengan total nilai tagihan yang dibayarkan mencapai hingga Rp15.432.720.782.

Irfan memaparkan, “Dirampungkannya pemenuhan kewajiban Garuda Indonesia terhadap kreditur dengan nilai tagihan hingga Rp255 juta tersebut menjadi penanda penting atas capaian akselerasi kinerja usaha yang semakin solid, khususnya dalam menjalankan misi transformasi menjadi entitas bisnis yang semakin agile dan adaptif serta memenuhi kewajiban usahanya kepada seluruh kreditur. Hal tersebut yang ke depannya akan terus kami selaraskan dengan komitmen terhadap kreditur sebagai bagian dari implementasi perjanjian perdamaian di mana Perusahaan juga telah membukukan ketersediaan sinking fund yang proporsional sebesar US$61 juta hingga akhir Kuartal 1-2023 dalam kaitan pemenuhan kewajiban usaha seperti yang tertuang dalam Perjanjian Perdamaian PKPU. Secara bertahap kami juga berupaya mengakselerasikan pemenuhan kewajiban usaha untuk kreditur dengan klasifikasi lainnya selaras terhadap komitmen implementasi perjanjian perdamaian dapat terus berjalan on the track sesuai dengan kesepakatan yang telah dicapai bersama.”

Lebih lanjut, dari aspek operasional Garuda Indonesia sebagai mainbrand juga terus mencatatkan pertumbuhan signifikan pada angkutan penumpangnya yang tercatat tumbuh sebesar 98,2% pada Kuartal 1-2023 menjadi 1,8 juta penumpang. Lebih lanjut, Garuda Indonesia turut mencatatkan pertumbuhan angkutan penumpang penerbangan internasional yang signifikan tumbuh lebih dari 438 % dimana pada Kuartal 1-2023 ini, Garuda Indonesia mencatatkan angkutan penumpang penerbangan internasional sebesar 363 ribu orang dari sebelumnya berjumlah 66 ribu penumpang pada kuartal 1-2022. Sedangkan untuk penumpang penerbangan domestik Garuda Indonesia sebagai mainbrand mencatatkan pertumbuhan lebih dari 72% menjadi 1,4 juta penumpang.

Baca juga: Garuda Indonesia dan Ditjen Imigrasi Luncurkan “Special Lane” Keimigrasian di Bandara Soetta dan Ngurah Rai

“Di tengah fase transformasi kinerja yang terus dioptimalkan, kami optimistis outlook kinerja yang saat ini terefleksikan melalui capaian kinerja usaha di Kuartal 1-2023 ini dapat menjadi fondasi penting atas langkah akseleratif kinerja usaha yang kedepannya akan terus kami optimalkan memaksimalkan momentum transformasi kinerja secara on the track. Tentunya langkah transformasi ini akan terus dilakukan secara bertahap dan terukur dengan turut memaksimalkan momentum pertumbuhan penumpang maupun peningkatan Kapasitas produksi,” tutup Irfan.

Inggris Kembangkan Pesawat Penumpang Hipersonik, Hubungkan New York dan London dalam Satu Jam

Seiring penggunaan rudal balistik yang mampu melesat dengan kecepatan hipersonik, maka secara tidak langsung membawa pengaruh pada pengembangan wahana transportasi. Bila di era Concorde, pengguna jasa penerbangan pernah dimanjakan dengan kecepatan pesawat di level supersonik, maka proyeksi selanjutnya adalah menghadirkan pesawat penumpang di level hipersonik.

Baca juga: Pesawat Terbesar di Dunia The Roc Sukses Terbang Perdana Bawa Pesawat Uji Hipersonik

Bukan sekedar proyeksi tanpa kalkulasi, Badan Antariksa Inggris (UK Space Agency) mengumumkan rencananya untuk membangun “pesawat luar angkasa” yang dapat melakukan perjalanan antara New York dan London dalam satu jam. UK Space Agency memperkirakan bahwa pesawat ini dapat terbang pada tahun 2030-an.

Dikutip dari traveller365.com, disebutkan pesawat penumpang ini dapat terbang dengan kecepatan di Mach 5.4, atau lima kali kecepatan suara.

CEO UK Space Agency dalam konferensi pers di Wales mengungkapkan bahwa pesawat atau roket ulang-alik berteknologi tinggi ini akan ditenagai oleh mesin hipersonik. Kemampuan kecepatan ini akan mengubah perjalanan udara, mampu menempuh lima menit dengan kecepatan suara.

Dan yang cukup mengejutkan, mesin SABRE (Synergetic Air-Breathing Rocket Engine) yang akan digunakan, dilengkapi dengan sistem pendingin yang kompleks, jauh melampaui apa yang dibawa oleh pesawat pada umumnya. Mesinnya tidak buruk bagi lingkungan, kabarnya akan menjadi opsi perjalanan hipersonik untuk penumpang komersial. Yang utama adalah menyalakan mesin seperti hibrida roket dan mesin aero yang berbahan bakar kombinasi Oksigen, hidrogen, sehingga memungkinkan roket menghirup udara. SABRE seharusnya lebih hijau dan lebih murah daripada perjalanan udara saat ini.

Menurut Program Director Shaun Driscoll dari Reaction Engines pada konferensi tersebut diungkapkan, bahwa panas telah menjadi faktor pembatas. Pra-pendingin sangat penting dalam pengembangan pesawat karena mengandung helium cair yang dapat mendinginkan mesin lebih dari 10.000 derajat Celcius ke suhu kamar dalam seperduapuluh detik.

SABRE dimaksudkan untuk memberikan sistem propulsi yang ringan dan efisien untuk membuat pesawat ruang angkasa yang menarik Oksigen ke dalam mesin untuk digunakan untuk pembakaran dari lepas landas hingga mencapai lebih dari 4000 mph.

SABRE diklaim dapat membawa mesin roket yang jauh lebih ringan dan nyaman karena akan membawa lebih sedikit oksidan bahan bakar dan mesin 50 persen lebih cepat daripada Concorde turbojet supersonik.

Sejauh ini, Pemerintah Inggris telah menginvestasikan US$74 juta dalam program SABRE. Sebaliknya, mesin Reaction terus menggunakan mesin eksperimental pesawat ruang angkasa hingga mencapai 25 kali kecepatan suara untuk memasuki ruang angkasa.

Baca juga: Kenapa Jendela Pesawat Supersonik Concorde Sangat Kecil? Ini Rahasianya

Namun, perusahaan tersebut bertujuan untuk menciptakan kendaraan yang dapat digunakan kembali yang menggunakan bahan bakar secara efisien, seperti mesin jet dengan tenaga roket. Pesawat hipersonik berusaha untuk mencocokkan model supercepat Rolls-Royce, BAR Systems, dan Boeing untuk membawa orang atau kargo ke luar angkasa dan kembali hanya dengan sebagian kecil dari biaya saat ini.

Hari ini Dalam Sejarah, Boeing 747SP Pecahkan Rekor Terbang Keliling Dunia Selama 46 Jam

Hari ini, 47 tahun lalu yang bertepatan dengan 3 Mei 1976, diperingati sebagai momen besar dalam sejarah dunia kedirgantaraan, khususnya pada keluarga pesawat jumbo jet “Queen of The Skies” Boeing 747, di mana saat itu Boeung 747SP “Liberty Bell Express” Pan Am, melakukan penerbangan keliling dunia dalam waktu 1 hari 22 jam.

Baca juga: Operasi Solomon, “Queen of The Skies” Israel Pecahkan Rekor Dunia, Angkut 1.082 dalam Sekali Terbang!

Rute keliling dunia dimulai dari penerbangan ke arah timur dari Bandara New York JFK (Jon F Kennedy) dalam waktu singkat antara 1 – 3 Mei 1976.

Boeing 747SP Pam Am dengan 98 penumpang berangkat dari New York JFK. Pada saat mendarat kembali di Big Apple, pesawat itu menjadi pemegang rekor dunia. Bagian pertama pengembaraannya membawanya ke timur ke New Delhi, India. Menurut This Day In Aviation, itu menempuh jarak 13.000 kilometer dengan kecepatan rata-rata 870 km per jam (470 knot).

Etape berikutnya, mengambil penerbangan ke Bandara Tokyo Haneda, 12.130 km jauhnya. Penerbangan ditunda beberapa jam karena pemogokan di ibu kota Jepang, tetapi ini tidak mencegahnya membuat sejarah. Penerbangan kembali langsung dari Tokyo ke New York dengan kecepatan rata-rata 912,5 km per jam (493 knot).

Etape ketiga dan terakhir ini menempuh jarak 12.100 km (6.530 NM). Setelah 37.230 km (20.080 NM) terbang, ‘Liberty Bell Express’ mendarat di JFK lebih dari 46 jam setelah berangkat. Saat ini, Boeing mengonfirmasi kemarin di Twitter bahwa ia terbang selama 39 jam, 25 menit, dan 53 detik. Ini mengalahkan rekor Flying Tiger Line lebih dari 16 jam.

Pan Am melaporkan bahwa ‘Clipper Liberty Bell’ adalah salah satu dari beberapa nama yang dikenakan oleh 747SP yang memecahkan rekor selama berada di maskapai tersebut.

Pesawat itu memiliki registrasi N533PA, dan, menurut Planespotters.net, melayani Pan Am kurang dari satu dekade. Setelah tiba pada Maret 1976, akhirnya berangkat dari maskapai ke United Airlines yang bermarkas di Chicago pada Februari 1986.

Di sini, ia memakai konfigurasi tiga kelas, 244 kursi (18 kelas satu, 62 kelas bisnis, 164 kelas ekonomi). Setelah lebih dari satu dekade di United sebagai N143UA, akhirnya dibubarkan di Bandara Ardmore Municipal, Oklahoma, pada Desember 1997.

Baca juga: Boeing 747SP, Varian “Queen of the Skies” yang Hanya Bertahan Seumur Jagung

Pesawat ini sayangnya tidak memiliki karir yang panjang atau termasyhur seperti 747SP yang memecahkan rekor. Itu menghabiskan lebih dari empat tahun dengan Pan Am, antara Agustus 1987 dan November 1991, sebelum pindah ke Delta. Pada tahun 1994. pesawat bersejarah ini telah bergabung dengan TAROM, dan mengalami insiden tragis jatuh setelah meninggalkan Bucharest pada Maret 1995, menewaskan semua 60 penumpang dan awaknya.

“Garuda Miles” Raih Best Airline Customer Service Dalam Freddie Awards 2023

Program loyalitas pelanggan Garuda Indonesia, GarudaMiles, pada Jumat (28/4) lalu berhasil menerima penghargaan dalam ajang Freddie Awards 2023 yang diselenggarakan di Washington DC, Amerika Serikat, sebagai “Best Airline Customer Service” terbaik di wilayah Timur Tengah dan Asia/Oseania dengan rating 9.31.

Baca juga: Garuda Indonesia Kerahkan Boeing 777-300 untuk Evakuasi WNI di Sudan

Raihan kategori “Best Airline Customer Service” tersebut melengkapi sejumlah predikat lainnya yang diperoleh Garuda Indonesia pada ajang tersebut yakni Best Elite Program: (Rank 3), Best Promotion (Rank 3), Best Redemption Ability (Rank 2), Best Loyalty Credit Card (Rank 2), dan Program of The Year (Rank 3).Lebih lanjut, rekoginisi penghargaan terhadap GarudaMiles tersebut didasarkan pada hasil akhir dari survei yang dibuka pada 15 Februari sampai dengan 31 Maret 2023 lalu bagi seluruh frequent flyer global.

Adapun Freddie Awards sendiri merupakan ajang penghargaan tahunan untuk program loyalitas dunia dalam industri travel loyalty yang telah terselenggara sejak tahun 1988.

Direktur Utama Garuda Indonesia Irfan Setiaputra menyampaikan, “Capaian penghargaan GarudaMiles di ajang Freddie Awards tahun 2023 ini merupakan sebuah kebanggaan tersendiri sekaligus sebagai dorongan bagi kami untuk terus melakukan perubahan yang menyesuaikan dengan kebutuhan para pelanggan setia Garuda Indonesia terutama dari sisi manfaat berkelanjutan yang dirasakan oleh anggota GarudaMiles.”

“Apresiasi yang diberikan selama dua tahun berturut-turut dalam ajang Freddie Awards, di mana di tahun sebelumnya GarudaMiles memperoleh predikat sebagai “The 210 Awards: Best Up and Coming Program” di wilayah Timur Tengah & Asia/Oseania menjadi bukti dukungan dan kepercayaan masyarakat di Indonesia khususnya yang senantiasa memilih layanan penerbangan Garuda Indonesia dalam kaitan kenyamanan mobilitas dengan transportasi udara,” tambah Irfan.

Baca juga: Jelang Musim Haji 1444H, Garuda Indonesia Siapkan 14 Unit Pesawat Berbadan Lebar

“Kami berharap melalui penghargaan ini juga dapat merefleksikan komitmen berkelanjutan Garuda Indonesia sebagai national flag carrier untuk senantiasa menghadirkan layanan penerbangan terbaik secara menyeluruh, di tengah berbagai kondisi dan situasi selaras dengan visi untuk untuk selalu mengedepankan perspektif pengguna jasa dalam seluruh lini layananan kami termasuk didalamnya program loyalitas pelanggan GarudaMiles” tutup Irfan.

Pramugari Cantik Bagikan Tips Isi Daya Ponsel di Hotel Tanpa Charger

Tips seputar traveling jumlahnya mungkin mencapai ribuan, tetapi selalu saja ada yang baru dan unik untuk disimak. Dan terkadang tips yang disampaikan begitu sederhana, namun luput dari perhatian. Seperti berikut adalah tips jenius dari pramugari cantik dari maskapai KLM Belanda, yang kerap terbang dan menginap di hotel mancanegara dalam status layover.

Baca juga: Akibat Kabel Charger, Kondektur Kereta Sampai Layangkan Bogem ke Penumpang

Seperti dikutip dari irishmirror.ie (25/4/2023), Esther Sturrus, seorang pramugari berusia 22 tahun yang bekerja untuk maskapai Belanda KLM, telah menyampaikan beberapa tips terbaik yang dia pelajari selama kariernya.

Tips jenius pramugari berambut pirang ini adalah tentang cara mengisi daya ponsel tanpa pengisi daya (charger) di kamar hotel mana pun. Seorang pramugari yang berkeliling dunia memiliki kiat jenius tentang cara mengisi daya ponsel Anda tanpa pengisi daya di kamar hotel mana pun.

Saat bepergian ke negara baru, acap kali pramugari terlupa membawa charger atau adaptor steker, dan pada situasi tersebut, maka dapat menemukan diri Anda dalam situasi tanpa cara untuk mengisi daya (charge) ponsel. Sementara untuk membeli charger atau adaptor, umumnya tidak murah, dan akan menguras isi dompet.

Esther yang memiliki lebih dari 180.000 pengikut di TikTok, turun ke platform media sosial untuk berbagi retasan untuk menyelesaikan ini – yang dia gambarkan sebagai salah satu “paling inovatif” yang dia tahu dan dapat membantu banyak orang dalam kesulitan dengan perangkat pengisi daya mereka.

Kuncinya disini adalah selama Anda memiliki kabel pengisi daya (kabel charge atau kabel data), maka ini bisa menjadi solusi. Dalam sebuah video di TikTok, dia menulis: “Konektor perjalanan dunia rusak? Gunakan kabel USB Anda dan isi daya di TV!”

Baca juga: Apakah Pilot Dibayar Maskapai Selama Layover dalam Penerbangan Internasional?

Agar tips ini berfungsi, yang perlu Anda lakukan hanyalah kabel yang dapat menghubungkan ponsel atau tablet Anda dan port USB TV, yang akan berfungsi sebagai sirkuit pengisian daya. Meski waktu pengisian daya ke ponsel bakal membutuhkan waktu lebih lama, tapi setidaknya tips ini bisa menjadi solusi dalam kondisi ‘kepepet.’

Swedia Bangun E-Motorway – Jalan Tol Listrik Pertama di Dunia, Mengisi Daya Kendaraan Elektronik Saat Tengah Melaju

Segmen kendaraan listrik mengalami kemajutan pesat dengan beragam inovasi yang bermunculan. Seperti dari Skandinavia, Swedia dikabarkan sedang membangun jalan tol listrik pertama di dunia yang memungkinkan mobil dan truk mengisi ulang daya saat mengemudi.

Baca juga: Tunjang Mobilitas di Masa Depan, Seres SF5 Gabungan Kendaraan Listrik dengan Konektivitas Mutakhir

Disebut sebagai ‘E-Motorway’, jalur ini akan dibangun sepanjang 13 mil dari rute Eropa E20 yang menghubungkan Hallsberg dan Örebro, terletak di antara tiga kota besar Swedia Stockholm, Gothenburg dan Malmö. Pengembangan E-motorway dilakukan setelah Uni Eropa mengeluarkan undang-undang bulan lalu yang mewajibkan semua mobil baru yang dijual memiliki emisi CO2 nol mulai tahun 2035.

Direktur Pengembangan Strategis di administrasi transportasi Swedia Jan Pettersson menyambut baik perkembangan tersebut dan mengatakan elektrifikasi jalan tol sangat penting untuk ‘dekarbonisasi sektor transportasi’.

Sebelumnya pada tahun 2018, Swedia menguji rel pengisian daya pertama di dunia untuk kendaraan listrik di sepanjang jalan sepanjang 1 mil antara Bandara Arlanda, Stockholm, dan Rosersberg.

Dikutip dari dailymail.co.uk, proyek E-Motorway sedang dalam tahap pengadaan dan diharapkan akan dibangun pada tahun 2025. Metode pengisian untuk jalan tol belum diputuskan tetapi ada tiga jenis metode pengisian: sistem catenary, sistem induktif, dan sistem konduktif.

Sistem catenary hanya dapat digunakan untuk kendaraan tugas berat karena menggunakan kabel di atas kepala (pantograf) untuk menyediakan listrik ke jenis bus atau trem khusus.
Sementara pengisian konduktif berfungsi seperti pengisi daya nirkabel untuk ponsel cerdas dengan kendaraan listrik yang menerima energi dari bantalan atau pelat di jalan.

Sementara sistem pengisian induktif menggunakan peralatan yang terkubur di bawah jalan yang mengirimkan listrik ke koil di kendaraan listrik.

Baca juga: Tilang Elektronik Mulai Berlaku di Jalan Tol, Tujuh Kamera Siap Capture Kendaraan yang Melanggar

Swedia memiliki 310.685 mil jalan tetapi hanya berencana untuk melistriki jalan sepanjang 1.900 mil pada tahun 2045 dan telah bermitra dengan Jerman dan Prancis untuk bertukar pengalaman melalui kolaborasi penelitian. Swedia dan Jerman telah memiliki fasilitas percontohan di jalan umum selama beberapa tahun dan Perancis berencana untuk mengadakan bagian percontohan dengan jalan listrik.