Inilah Technobus Gulliver U520, Bus Terpendek di Dunia Berkapasitas 10 Penumpang

Autotram Extra Grand dinobatkan sebagai bus terpanjang di dunia dengan 30 meter lebih dengan kapasitas 256 penumpang. Ada terpanjang, tentu ada terpendek dan bus terpendek di dunia adalah Technobus Gulliver U520 buatan Italia. Bus ini menjadi yang terpendek di dunia karena hanya memiliki panjang 5,3 meter, lebih pendek dari Toyota All New Hiace yang memiliki panjang 5,915 meter.

Baca juga: Volvo Gran Artic 300 – Bus dengan Kapasitas Angkut Terbesar, Bisa Dimuati 300 Penumpang!

Technobus Gulliver U520 adalah bus buatan Technobus SPA yang berbasis di Frosinone, Italia. Ide awal pembuatan bus terpendek di dunia tersebut untuk menghadirkan bus perkotaan di kota-kota kecil, memberikan pilihan kepada masyarakat untuk bisa naik public transport atau berjalan kaki dan naik sepeda.

Di Eropa, kota-kota kecil dengan populasi penduduk minim cukup banyak. Itu kenapa Technobus Gulliver U520 memiliki dimensi sangat mungil, hanya 5,3 meter (17,3 kaki) dan lebar 2 meter (6,8 kaki). Kapasitasnya, paling sedikit memuat 10 penumpang dan maksimal 20 penumpang.

Dilansir curbsideclassic.com, meski namanya tidak sepopuler pabrikan bus lainnya seperti Volvo, Scania, bahkan Mercedes, Technobus Gulliver U520 sudah hadir sejak tahun 1996. Bahkan, di tahun tersebut, bus mini itu sudah menggunakan tenaga baterai lead-acid sebagai penggerak. Jangkauannya sekitar 40-60 km. Sangat pendek memang, namun sesuai peruntukannya, yaitu untuk rute-rute pendek di kota-kota kecil di Eropa.

Saat baterai bus habis, biasanya operator tidak mengecasnya melainkan mengganti baterainya selama beberapa menit dan melanjutkan operasi.

Meski begitu, penumpang membutuhkan bus yang lebih tangguh alias jangkauan yang lebih jauh. Dari situ, Technobus mengembangkan Gulliver U520 dan pada pertengahan tahun 2000an merilis model baru menggunakan baterai lithium, menggantikan baterai lead-acid. Ini menambahkan jangkauan bus terpendek di dunia menjadi 120 km per sekali jalan dalam kondisi baterai penuh.

Keberadaan baterai lithium tersebut juga membuat semburan AC menjadi lebih kencang dan lebih dingin dari sebelumnya, membuat penumpang lebih nyaman.

Tak puas, Technosbus pada tahun 2017 lalu merilis model terbaru dengan mengusung teknologi sel bahan bakar yang memungkinkan jangkauan lebih dari 250 km.

Banyak kota-kota di Eropa telah membeli Gulliver sebagai angkutan perkotaan di kota-kota kecil, dimana kebanyakan masyarakat berjalan kaki, naik sepeda, atau naik mobil dalam melakukan mobilitas sehari-hari. Roma saat ini merupakan operator terbesar dengan lebih dari 50 bus.

Baca juga: Double Decker Minggir, Bus di Inggris Ada yang Sampai Empat Tingkat (Quad Decker)

Selain Italia dan Eropa, Technobus Gulliver U520 bus terpendek di dunia sudah menembus pasar ekspor lintas benua, seperti Kanada, Argentina, dan lainnya.

Di Kanada, tepatnya di kota Quebec, bus mini tersebut igunakan di distrik “Old Quebec” sebagai antar-jemput gratis.

“Tanjung Perak Tepi Laut”, Riwayat Pelabuhan Kedua Tersibuk di Indonesia

“Tanjung Perak tepi laut, siapa suka boleh ikut…..” lirik lagu yang populer dari daerah Jawa Timur ini kerap mengingatkan kita akan pelabuhan yang terletak di Surabaya. Tapi tahu kah Anda bahwa Tanjung Perak yang berada di Kelurahan Perak Timur, Kecamatan Pabean Cantikan adalah pelabuhan tersibuk kedua setelah Pelabuhan Tanjung Priok di Jakarta, dan Tanjung Perak juga menjadi pusat perdagangan menuju Kawasan Indonesia Bagian Timur.

Baca juga: Mengenal Pelabuhan Ciwandan – Pelabuhan Khusus Pemudik Motor di Lebaran 2023

Pelabuhan ini, tak hanya pelabuhan untuk penyeberangan kapal besar untuk angkutan penumpang saja, tetapi di Tanjung perak juga terdapat terminal untuk peti kemas. Ini dikarenakan Tanjung Perak memiliki letak yang strategis dan didukung oleh dataran gigir atau hinterland yang potensial. Dengan letak strategis ini membuat Tanjung Perak juga menjadi pusat pelayaran interinsulair kawasan timur Indonesia.
Ombudsman-Keluhkan-Dwelling-Time-Tanjung-Perak-SurabayaPelabuhan ini juga memiliki dermaga untuk kapal pesiar baik dari dalam maupun luar negeri. Pelabuhan penumpang ini menghubungkan Surabaya dengan kota-kota yang memiliki pelabuhan lainnya di Indonesia. Di Tanjung Perak, sama dengan pelabuhan lain yang memiliki terminal di dalamnya yang bernama Gapura Surya Nusantara.

Terminal ini menjadi terminal penumpang termewah di Indonesia. Tak heran adanya GSN menjadi terminal termewah, karena Pelabuhan Tanjung Perang memiliki dermaga untuk kapal pesiar. Fasilitas di dalam terminal ini seperti memasuki bandara internasional yang dilengkapi dengan fasilitas dua buah garbarata untuk kapal yang. Ini membuat Tanjung Perak menjadi pelabuhan pertama di Indonesia yang menyediakan fasilitas ini.

Kapal ferry yang berangkat dari Tanjung Perak memiliki dua rute yakni Surabaya-Banjarmasin dan Surabaya makasar. Tak hanya itu kapal penumpang yang berangkat dari Tajung Perak memiliki rute hingga ke Papua di ujung Timur Indonesia dan Tanjung Priok di ujung Barat Indonesia. Namun, dari Tanjung Perak tidak melayani rute kapal penumpang menuju pulau Sumatera karena rata-rata berangkat dari Tanjung Priok.
3933_2984_7-Juli-oke-Garbarata-Perak-Dulunya, sebelum menjadi pelabuhan Tanjung Perak, kapal-kapal bongkar muat barang di Selat Madura dibawa ke Jembatan Merah yang menjadi pelabuhan pertama. Pelabuhan yang berada dijantung kota Surabaya ini melintasi sungai Kalimas. Semakin lama, semakin berkembangnya lalulintas perdagangan dan meningkatnya arus barang dan transportasi membuat Jembatan Merah tak mampu lagi menampung. Hingga akhirnya tahun 1875 Ir. W. de Jonght merencanakan pembangunan Pelabuhan Tanjung Perak untuk pelayanan lebih baik. Namun, pembangunan ini ditolak karena biaya yang dikeluarkan sangat besar.

Kemudian pada 1910 pembangunan Pelabuhan Tanjung Perak akhirnya dimulai dan banyak permintaan untuk menggunakan kade/tambatan untuk kapal-kapal tersebut. semenjak adanya pelabuhan Tanjung Perak, perlahan-lahan pelabuhan di Jembatan Merah mulai di tinggalkan. Tak hanya menjadi pelabuhan baru, Tanjung Perak setelah resmi digunakan menjadi pemberi kontribusi yang cukup besar untuk perkembangan ekonomi dan memiliki peranan penting.

Baca juga: Mengapa Penumpang (Pemotor) Terus Kenakan Helm di Ruang Terminal Pelabuhan? Ini Jawabannya

Kemudian, tahun 1983, terminal Mirah selesai dibangun, terminal ini untuk penghubung antar pulau sama dengan terminal Jamrud disebelahnya. Kemudian dibanguan terminal untuk kapal ferry dengan layanan penumpang 24 jam penuh dari Surabaya-Madura, sekarang terminal ini dikenal dengan nama Pelabuhan Ujung. Kemudian dibangun terminal peti kemas bertaraf internasional dan selesai tahun 1992 dan dikenal dengan nama Terminal Peti Kemas Surabaya.

Garuda Indonesia Kerahkan Boeing 777-300 untuk Evakuasi WNI di Sudan

Garuda Indonesia mengoperasikan penerbangan evakuasi bagi Warga Negara Indonesia (WNI) yang berada di Sudan imbas situasi konflik yang terjadi sejak beberapa waktu lalu.

Penerbangan evakuasi WNI yang merupakan komitmen penuh Kementerian Luar Negeri (Kemlu) RI tersebut, tiba di Bandara Internasional Soekarno Hatta pada pukul 05.46 WIB melalui pemberangkatan Jeddah pada pukul 16.24 Local Time di mana sebelumnya secara bertahap para WNI tersebut mulai dievakuasi melalui jalan darat dari Ibu kota Sudan, Khartoum ke Port Sudan kemudian dilanjutkan perjalanan ke Jeddah baik melalui jalur laut dan udara.

Direktur Utama Garuda Indonesia Irfan Setiaputra mengungkapkan bahwa “Sebanyak 385 Warga Negara Indonesia telah tiba dengan selamat di tanah air pada pagi hari ini setelah melalui perjalanan panjang dari Khartoum, ibu kota Sudan menuju Jeddah yang kemudian melanjutkan perjalanan jalur udara menuju tanah air. Penerbangan evakuasi ini menjadi wujud kolaborasi yang dinamis antara Pemerintah serta seluruh stakeholder terkait dalam memastikan upaya pemulangan WNI berjalan dengan aman dan lancar.”

Proses pemulangan WNI ini dioperasikan dengan penerbangan GA 991 yang diterbangkan dari Jeddah dengan armada B777-300ER. Adapun penerbangan evakuasi tersebut terdapat 15 awak pesawat yang bertugas dan terdiri dari 3 cockpit crew, 1 FSM dan 13 awak kabin.

Irfan menambahkan, “Penerbangan evakuasi ini merupakan bagian dari komitmen berkelanjutan Garuda Indonesia dalam menjalankan mandat sebagai national flag carrier yang salah satunya diwujudkan melalui penyediaan aksesibilitas layanan penerbangan bagi masyarakat Indonesia yang akan kembali ke tanah di tengah situasi konflik yang terjadi saat ini di Sudan”.

Transjakarta Fasilitasi Transportasi Arus Balik di Terminal Pulogebang

Arus balik pertama 24 April hingga 25 April 2023 telah terlaksana dengan lancar. Untuk arus balik kedua akan diantisipasi dengan ketersediaan layanan dari Transjakarta dari terminal Pulogebang ke sejumlah terminal di Jakarta mulai 26 April hingga 1 Mei 2023 mulai pukul 22:00 WIB -05:00 WIB.

Baca juga: Yutong, Manufaktur Bus Terbesar di Dunia, Pernah Melayani TransJakarta

“Transjakarta menyediakan sebanyak 6 (enam) rute tambahan dari Terminal Pulogebang menuju ke terminal lainnya antara lain Terminal Senen, Tanjung Priok, Kampung Rambutan, Pasar Minggu, Kalideres, dan Pulogadung,” kata Apriastini Bakti Bugiansri
Kepala Divisi Sekretaris Perusahaan PT Transportasi Jakarta (Transjakarta).

Penyediaan layanan Transjakarta dari Terminal Pulogebang ke sejumlah terminal mulai pukul 22:00 WIB – 05:00 WIB.

Ia mengatakan, terminal Pulogebang menjadi pusat pergerakan penumpang bus. Dengan ketersediaan layanan dari Transjakarta akan memudahkan masyarakat yang tiba dari kampung halaman untuk menuju ke tujuan masing-masing dengan aman dan nyaman.

Masyarakat bisa memanfaatkan layanan Transjakarta yang beroperasi 24 jam untuk 13 koridor utama.

Jelang Musim Haji 1444H, Garuda Indonesia Siapkan 14 Unit Pesawat Berbadan Lebar

Garuda Indonesia terus memperkuat kesiapan operasional penerbangannya jelang musim Haji 1444H/ 2023, salah satunya dengan menyiapkan sedikitnya 14 armada untuk melayani calon jemaah Haji asal Indonesia.

Baca juga: Garuda Indonesia Buka-bukaan Dua Komponen Utama Biaya Haji Tahun 2023, Biang Kerok BPIH Naik?

Adapun ke-14 armada tersebut nantinya akan melayani calon jemaah Haji asal Indonesia dari dan menuju Tanah Suci mulai tanggal 24 Mei – 2 Agustus 2023, dimana pada tahun ini Garuda Indonesia mendapatkan kepercayaan untuk menghadirkan layanan penerbangan Haji bagi sedikitnya 104.172 calon jemaah Haji.

Kesiapan operasional penerbangan haji tersebut ditandai dengan penandatanganan kerja sama pengangkutan udara jemaah haji regular dan petugas penyelenggara ibadah haji kelompok terbang tahun 1444 Hijriah /2023 Masehi yang dilaksanakan langsung oleh Direktur Utama Garuda Indonesia Irfan Setiaputra dan Direktur Jenderal Penyelenggaraan Haji & Umrah Kementerian Agama RI, Hilman Latief di Kantor Pusat Kementerian Agama RI, Jakarta Pusat.

Direktur Utama Garuda Indonesia, Irfan Setiaputra mengatakan bahwa sebagai national flag carrier, dengan pengalaman melayani haji selama hampir 7 dekade, Garuda Indonesia terus mengoptimalkan komitmennya untuk menjalankan tugas penting melayani jemaah Haji asal Indonesia ke Tanah Suci dengan menghadirkan penerbangan yang aman dan nyaman.

“Komitmen tersebut salah satunya kami laksanakan dengan memastikan ketersediaan armada dimana pada tahun ini Garuda Indonesia akan mengoperasikan 14 pesawat yang 7 diantaranya disediakan melalui skema wet lease dengan pihak lessor. Kami juga memastikan bahwa seluruh pesawat berbadan lebar (wide body) yang akan digunakan untuk melayani calon jemaah haji dalam keadaan prima dan layak terbang melalui serangkaian inspeksi berlapis, termasuk perawatan menyeluruh terhadap mesin pesawat serta keseluruhan komponen vital pesawat lainnya.”, jelas Irfan.

Seluruh 104.172 calon jemaah Haji tahun ini akan dibagi ke dalam 287 kelompok terbang (kloter) dan akan diberangkatkan dari 9 (sembilan) embarkasi yaitu Aceh, Medan, Padang, Jakarta, Solo, Balikpapan, Banjarmasin, Makassar, dan Lombok. Dalam musim Haji ini Garuda Indonesia akan mengoperasikan 7 (tujuh) Boeing B777-300, 4 (empat) Airbus A330-300, 3 (tiga) Airbus A330-900.

Lebih lanjut, sebagai upaya untuk memberikan nilai tambah layanan bagi para jemaah, Garuda Indonesia akan menghadirkan berbagai pilihan hiburan In-flight Entertainment bernuansa islami selama penerbangan. Tak hanya itu, para jemaah juga akan mendapatkan inflight catering sesuai menu khas daerah embarkasi.

Pada kesempatan tersebut, Direktur Jenderal Penyelenggaraan Haji & Umrah Kementerian Agama RI, Hilman Latief turut mengungkapkan bahwa, “Kami mengucapkan apresiasi kepada Garuda Indonesia yang terus berdiskusi intensif dalam mempersiapkan kesiapan operasional penerbangan haji tahun ini. Insya Allah, Garuda Indonesia akan memberangkatkan haji regular sebanyak 104.172 yang terdiri dari 9 embarkasi.

Baca juga: Bus Lintas Medan – Aceh, “Naik Haji Bagi Para Penggemar Bus”

Hilman menambahkan, “Dapat kami sampaikan, 30 persen jemaah Indonesia tahun ini berusia diatas usia 65 tahun. Untuk itu, kebijakan pendampingan lansia harus terus ditingkatkan termasuk dukungan dari penyedia layanan penerbangan termasuk Garuda Indonesia untuk menghadirkan kemudahaan bagi kebutuhan jamaah lansia selaras dengan visi kita bersama memberikan layanan yang inklusif bagi seluruh jamaah haji”.

Secercah Cerita di Balik Jembatan Cincin Yang Melegenda

Terkenal sebagai kota yang sarat akan perguruan tingginya membuat sebuah kota kecil di Kabupaten Sumedang, Jawa Barat bernama Jatinangor ini seolah menjadi kota idaman setiap muda-mudi yang hendak melanjutkan pendidikannya ke bangku perkuliahan. Walaupun hanya ada satu main road di kota yang terletak di sebelah timur Bandung ini, tapi siapa sangka kehadiran beberapa perguruan tinggi ternama di Indonesia telah mengubah takdirnya, yang semula hanyalah sebuah kota kecil yang menjadi penghubung antara Bandung – Sumedang, kini telah berevolusi menjadi kota yang ramai oleh anak kuliahan.

Baca Juga: Glenfinnan Viaduct! Jembatan Harry Potter Yang Pernah Selamatkan Keluarga Kecil

Nah, bagi Anda yang pernah mengenyam masa pendidikan di Jatinangor, tentu sudah tidak asing lagi dengan salah satu jembatan peninggalan Belanda yang kerap diidentikkan dengan cerita mistis. Ya, Jembatan Cincin. Sebenarnya, apa sejarah yang menyelimuti jembatan yang berdiri di atas lahan persawahan warga ini? Lalu apa yang membuat para mahasiswa atau warga enggan melintasi jembatan ini ketika hari mulai gelap?

Sebagaimana yang dilansir KabarPenumpang.com dari berbagai laman sumber, jembatan ini dibangun oleh perusahaan kereta api milik Belanda, Staat Spoorwagen Verenidge Spoorwegbedrijf pada tahun 1917 silam. Tujuannya sederhana, yaitu untuk menghubungkan daerah Rancaekek dan Tanjungsari, sedangkan keretanya sendiri menunjang kelancaran akomodasi warga dan hasil komoditas utama di sana yaitu karet.

Pada awalnya, Staat Spoorwagen Verenidge Spoorwegbedrijf hanya akan membangun jalur kereta yang menghubungkan Rancaekek – Jatinangor saja yang panjangnya kurang lebih 5,25 km untuk keperluan mengangkut hasil perkebunan. Namun, pihak militer Belanda kala itu meminta agar pembangunan jalur kereta juga diperuntukkan bagi para warga. Alhasil, diperpanjanglah rencana pembangunannya hingga ke Tanjungsari dan Citali sepanjang 11,5km.

Keterbatasan dana akhirnya memaksa para penguasa kala itu untuk kembali merubah rencananya dan mengurungkan niat mereka membangun jalur kereta hingga daerah Citali. Akhirnya, jalur Rancaekek – Jatinangor – Tanjung Sari resmi beroperasi pada tahun 1921 dan digunakan untuk mengangkut teh dan hasil bumi dari daerah Sumedang Barat. Adapun stasiun yang menunjang pengoperasian di jalur ini antara lain Stasiun Rancaekek, Halte Bojongloa, Halte Jatinangor, Halte Cileles, dan Stasiun Tanjungsari.

Jembatan Cincin Jaman Doeloe. Sumber: istimewa

Lain Belanda, lain pula Jepang. Nippon yang mulai menduduki Bumi Pertiwi sejak 1942 hingga 1945 membawa dampak besar pada kehidupan Pribumi, tidak terkecuali Jembatan Cincin. Rel kereta di jembatan ini dibongkar dan dipindahkan ke Banten untuk pembangunan jalur kereta Saketi-Bayah yang desas-desusnya kaya akan batu bara. Tak ayal, hanya pondasi jembatan kereta tanpa rel yang tersisa hingga kini.

Kerasnya sistem Kerja Rodi yang diterapkan Belanda ketika membangun jembatan yang memiliki 11 tiang dan 10 lekukan seperti cincin ini tak ayal banyak menelan korban jiwa. Maka tidak heran jika Jembatan Cincin kerap dihubungkan dengan hal-hal berbau mistis. Lokasi pemakaman yang berada tepat di bawah jembatan pun makin memperkuat Urban Legend yang sebelumnya sudah beredar di kalangan warga yang tinggal di sekitar.

Baca Juga: Cikubang, Jembatan Kereta Terpanjang di Indonesia

Hanyalah memori kelam, cerita soal masa kejayaan, dan hal-hal berbau magis yang kini bersemayam menyelimuti jembatan yang fisiknya sudah mulai tergerus usia ini. Padahal, pemandangan yang disuguhkan dari atas jembatan ini sangatlah indah, mulai dari komplek Universitas Padjadjaran, Gunung Manglayang, Gunung Geulis, hingga jalur Bandung – Sumedang yang meliuk-liuk. Perawatan menyeluruh terhadap jembatan ini diyakini dapat menampik semua pemberitaan negatif di Jembatan Cincin. Sebagai bangunan yang memiliki andil besar pada masanya, alangkah bijaksananya jika kita semua turut melestarikan salah satu situs peninggalan bersejarah ini.

Jika Anda yang belum tahu dan ingin melihat langsung penampakan Jembatan Cincin dari dekat, silakan menyempatkan diri untuk mampir ke Jatinangor. Akses menuju lokasi bisa dibilang cukup mudah dan bervariasi. Anda bisa menjangkaunya melalui daerah Cisaladah, Cikuda, Gang Mawar, atau melalui jalan tembus yang dibuat warga di dalam komplek Universitas Padjadjaran. Bagaimana, apa Anda tertarik untuk mendatanginya?

“Timer,” Antara Utusan Operator Angkutan dan Pungutan Liar

Berperan sebagai pengatur waktu keberangkatan bus atau headway angkutan umum sering juga disebut dengan istilah timer. Biasanya timer mengatur jadwal keberangkatan bus agar tidak terjadi penumpukan, apalagi bila berada di jalur yang sama. Dirangkum KabarPenumpang.com dari berbagai sumber, seorang timer dulunya bukanlah hanya seorang pengatur waktu keberangkatan tetapi juga mengawasi jumlah penumpang yang ada di dalam bus.

Baca juga: Trans Jogja, Bus Rapid Transit Tanpa Separator Asli Kota Gudeg

Bus-bus yang diatur seorang timer juga bukan hanya bus antar kota antar provinsi melainkan juga angkutan dalam kota, Mikrolet, Metromini, Kopaja atau bus kota lainnya. Para timer ini adalah orang-orang yang ditugaskan khusus oleh pihak operator untuk mengontrol jumlah penumpang pada saat-saat tertentu. Sebab dengan pengontrolan seperti ini juga bisa mengontrol pendapatan pengelola.

Sayangnya, peran timer kini banyak dipersepsikan negatif, seperti ada kesan berperan sebagai kepanjangan tangan dari pungutan liar (pungli), setiap perjalanan angkutan umum para timer mencoba untuk membuat penumpang untuk naik dalam kendaraan umum dan sebelum jalan meminta jatah uang penumpang pada para pengemudi angkutan. Atau ada oknum yang bergaya ala timer meminta uang saat angkutan melintasi suatu tikungan. Miris bila dikatakan, dengan kondisi saat ini yang semakin sedikit penumpang naik kendaraan umum pastinya pendapatan berkurang lebih lagi harus membayar kepada para timer yang sesukanya.

Baca juga: TransJakarta Terintegrasi KWK dengan Kartu seharga Rp15 ribu di Jam Sibuk

Memang tidak bisa semua disalahkan, karena penggunaaan tiket manual dalam perjalanan juga bisa menjadi salah satu kecurangan dan kebocoran pendapatan operator. Namun, dengan kondisi Indonesia sebagai negara berkembang, sistem tiket berupa elektronik sudah mulai digunakan apalagi di negara maju, sistem ini justru bisa menjadi kendali atau pengawas otomatis tanpa melibatkan manusia untuk mengaturnya.

Di Indonesia saat ini, sudah dilakukan mirip dengan negara maju seperti TransJakarta dan TransJogja yang memang dimana operator tidak lagi berhubungan langsung dengan penumpang karena hanya sebatas pelayanan saja. Apalagi kendali sistem kedua moda transportasi ini dikendalikan langsung oleh pemerintah sehingga tak mengenal lagi adanya timer sebab sudah menggnakan headway yang terkontrol dan terjadwal.

Baca juga: TransPakuan, Solusi Kemacetan Bogor yang Kurang Perhatian

Diketahui, seorang timer biasanya berada di pinggir jalan atau di terminal dengan membawa catatan untuk menulis waktu keberangkatan dan passtinya seorang timer menggunakan jam agar tahu jam berapa saat kendaraan umum berangkat. Tak hanya saat kendaraan yang berjalan di terminal, saat melintas dan berhenti sejenak juga di catat oleh para timer.

Dewasa ini dengan hadirnya fasilitas GPS (Global Positioning System) di armada bus, maka monitoring dan tracking perjalanan bus dapat dipantau secara online dari pusat kendali, bahkan memungkinkan bagi pengguna jasa secara langsung untuk memantau pergerakan moda angkutan lewat aplikasi.

Sejarah PO Santoso, Ternyata Digawangi oleh Seorang Dokter

Berawal dari sebuah kota di Jawa Tengah, tepatnya di Magelang di tahun 1970-an, sebuah Perusahaan Otobus (PO) dirintis untuk membantu moda transportasi masyarakatnya. Dirintis oleh sepasang suami istri yang berprofesi sebagai dokter, yakni dr. Anwar Sani, PO Santoso memulai meluncurkan busnya di trayek buk ekonomi (bumel) Jogja-Magelang-Semarang dan Gombong-Purworejo-Magelang-Semarang.

Baca juga: “Debby,” Sebutan Kesayangan untuk Bus PO Deborah Rute Depok – Lebak Bulus

Dulunya sebelum besar seperti sekarang, ternyata PO Santoso berawal dari PO Tresno atau milik orang tua dokter tersebut dan diawariskan kepada ketiga anaknya yang terpecah menjadi PO Hidup baru (Kutoarjo-Purworejo), PO Kencana Jaya pool di Kutoarjo dan PO Santoso di Magelang. Namun dua lainnya tak bertahan lama dan PO Santoso masih meluncur di jalan untuk moda transportasi masyarakat Magelang.

Bahkan untuk memperlancar usaha PO Santoso, Anwar Sani rela tidak praktik dan tetap bekonsentrasi di bisnis ini. Tetapi, istrinya masih praktik dan selalu mengutamakan pelayanan kesehatan pada keluarga karyawannya. Kini PO Santoso diwariskan ke anaknya setelah beliau wafat.

KabarPenumpang.com merangkum dari berbagai laman sumber, PO Santoso memulai trayeknya dengan berbekal armada Mitsubishi Fusi T653 dan Mercedes Benz LP 911 yang menguasai jalur Jogja-Magelang-Semarang, Purwokerto-Magelang-Semarang dan Cilacap-Magelang-Semarang. Kemudian di awal tahun 80an, dengan bertambahnya armada, Anwar Sani lantas membangun garasi yang lebih besar di Kupatan yang merupakan sebuah kampung di ujung kota Magelang.

PO Santosa kemudian mulai fokus menggunakan armada Mercedes Benz seiring datangnya tipe baru MB OF 1112. Akhir tahun yang sama yakni 80-an, PO ini mencoba peruntungan di jalur bus malam dengan trayek ke Jakarta. Langkah imi cukup sukses dengan melayani penumpang di jalur Wonosari-Klaten-Jogja-Jakarta-Merak.

Dulu pada awal berdiri, pool PO Santoso berada di Jalan Ahmad Yani atau Pontjol dan tahun 90-an semua garasi berpidah ke kantor puast jalan Soekarno Hatta. Mencoba peruntungan di bus malam, PO ini menjual ketepatan waktu dan digawangi oleh mekanik serta pengemudi yang handal dan menjadi salah satu PO yang bertahan hingga hampir 50 tahun.

Tak hanya menjadi bus malam AKAP dan AKDP (Antar Kota Dalam Provinsi), PO ini kemudian merambah layanan pariwisata dan ekspedisi jasa pengiriman barang. Selain mengembangkan bisnisnya, PO Santoso mengembangakan juga jurusannya ke beberapa kota lain seperti Bogor, Bandung, Tangerang, Bekasi dan Surabaya. Bahkan juga merambah hingga beberapa kota di Pulau Sumatera.

Baca juga: Redbus dan PO Sinar Jaya Berkolaborasi di Layanan Jakarta Airport Connexion

Trayek Sumatera dan Jakarta ternyata tak hanya diminati masyarakat Magelang, tetapi imigran dan transmigran di wilayah sekitaran Gunung Kidul dan Klaten pun ikut merasakannya. Maka tak heran bus Santoso yang berangkat dari Wonosari dan Klaten selalu penuh dengan penumpang.

 

 

PO Raya, Sensasi Bus AKAP dengan Kursi Pesawat dan Leg Room Luas

Kemana kursi bekas pesawat saat tak lagi digunakan? Mungkin pertanyaan ini jarang muncul tapi bisa juga membuat penasaran. Ternyata kursi ini tak terbuang sia–sia, sebab salah satu perusahaan otobus (PO) di Indonesia menggunakan kembali kursi pesawat untuk kursi penumpang di armada mereka.

Baca juga: Boeing Jual Furniture dari Suku Cadang Asli Pesawat 747 hingga F-4 Phantom! Segini Harganya

Penasaran PO apa yang menggunakannya dan menjalankan trayek kemana? KabarPenumpang.com menelusuri hal ini dan data menunjukkan bahwa sebuah PO yang berbasis di Wonogiri inilah yang menggunakan kursi bekas pesawat pada armadanya. PO tersebut bernama Raya yang setia mengantarkan penumpangnya sejak 1982 lalu.

Kursi pesawat bekas digunakan pada armada PO Raya (mobil komersial.com)

PO Raya merupakan operator bus antar kota antar provinsi (AKAP) yang menjadi kebanggaan masyarakat Jawa Tengah khususnya Sukoharjo, Solo dan sekitarnya. PO yang satu ini membuka trayek bus malam Jakarta – Solo dengan mengandalkan empat armada dengan sasis dari Mercedes-Benz OF 1113.

Di mana keempat armadanya terdiri dari dua unit kelas Non AC dan AC, dua unit VIP dengan 28 kursi yang mana susunannya dua kiri dan dua kanan. Di kelas VIP inilah kursi bekas pesawat diaplikasikan dalam armada busnya. Dengan kursi lebih empuk karena memiliki busa yang cukup tebal. Bisa dikatakan, saat itu, PO Raya menjadi bus AKAP dengan kursi paling nyaman.

Hingga saat ini pun kenyamanan tersebut masih ada dan PO Raya masih setia dengan bodi buatan Laksana dan sasis dari Mercedes-Benz. Nyatanya kursi pesawat ini tak hanya ada di kelas VIP saja, tetapi di semua kelas yakni Supertop, Executive dan Junior Executive.

Karena kursi pesawat lebar, maka penumpang akan sedikit kesulitan berjalan di lorongnya. Armada bus PO Raya juga dilengkapi dengan toilet yang bisa digunakan untuk buang air kecil dan saat berjalan. Kenyamanan lainnya dari PO Raya adalah perjalanannya yang tidak ugal-ugalan.

Hal ini karena kemahiran para pengemudinya mengendarai bus kapan harus melaju dengan cepat atau tidak. Untuk diketahui, armada Junior Executive 3 menggunakan bodi Legacy SR2 HD Prime buatan karoseri Laksana yang dipasangkan ke sasis Mercedes Benz OH 1526. Armada ini memiliki 36 kursi dengan leg room terbilang sangatlah cukup di kursi paling depan.

Namun sayang, model Legacy SR2 HD Prime yang double glass, membuat pandangan ke depan agak terhalang oleh sekat atau bando. Sedangkan untuk kelas Supertop dengan susunan kursi 1-2 yang lebih lebar dari kelas Executive.

Baca juga: Koper Bekas Badan Pesawat Boeing 747 Dijual Rp38 Juta! Berminat? Cuma Ada 150 di Dunia

Awalnya, sebelum menjadi PO Raya, ditahun 1959, sang pemilik yakni Witikno dan Ranu Wijaya mendirikan bisnis truk bernama Radar. Beberapa tahun kemudian, nama PO Raya lahir dengan satu unit armada bus bekas keluaran tahun 1960 yang dibeli dari PO Suka Mulya.

PO Putera Mulya: Berawal dari Mikrobus Hingga Punya Double Decker

Perusahaan Otobus (PO) Putera Mulya memiliki perjalanan tersendiri hingga bisa sukses seperti sekarang ini. Berawal dari tahun 1985, PO ini didirikan oleh P.H Soegiyono asal Wonogiri dan hanya memiliki dua unit mikrobus kapasitas 12 penumpang.

Baca juga: Pemberian Kupon Makan oleh PO Bus, Bagaimana di Bulan Ramadhan?

Trayek mikrobusnya pun dari Ngadirojo-Jatipuro-Wonogiri-Jatisrono. Kemudian di tahun 1992, Soegiyono akhirnya memantapkan diri untuk mendirikan PO dan merintis angkutan pedesaan Antar Kota Dalam Provinsi (AKDP) dengan modal nekat, niat dan semangat.

PT Putera Mulya Sejahtera

KabarPenumpang.com merangkum dari berbagai laman sumber, pendirian PO ini sendiri setelah satu tahun sebelumnya, Soegiyono mengajukan ijin prinsip ke Bupati Karanganyar, Wonogiri dan Walikota Surkarta. Hingga akhirnya tahun 2000, PO Putera Mulya mengmbangkan sayapnya dan membuka trayek Antar Kota Antar Provinsi (AKAP) ke Jakarta hingga ke Lampung.

Trayek akap pertamanya adalah Ponorogo-Purwantoro-Wonogiri-Solo-Jakarta (PP), kemudian trayek Ponorogo-Madiun-Ngawi-Solo-Jakart-Merak-Bandar Lampung (PP). Sebelas tahun kemudian tepatnya 2011, PO Putera Mulya berganti nama menjadi Putera Mulya Sejahtera atau biasa disebut dengan PUMAS.

Tahun 2016, kemudian PUMAS memiliki enam unit Mercedes-Benz O 500 R-1836 dan empat unit Hino R-260 menjadi modal awal melayani pelanggan. Pada akhir tahun 2016 PT.Putera Mulya Sejahtera membuat gebrakan dalam dunia transportasi Indonesia dengan membeli dua unit bus Jetbus 2+ Super Double Decker bermesin Scania yang dioperasikan untuk rute Jakarta – Wonogiri.

Akhir tahun 2017 Putera Mulya Sejahtera menambah 12 armada. Hal ini untuk melanjutkan tradisi peluncuran 12 unit bus seperti saat mulai beroprasi tahun 2016. Saat ini, PUMAS sendro memiliki kurang lebih 80 agen yang berperan penting dalam kemajuannya.

Uniknya, PO Putera Mulya Sejahtera memiliki sebutan khusus untuk awaknya yakni Cokro. Mereka sudah dibekali panduan, tata tertib perusahaan yang tidak hanya mengatur agar tidak ugal – ugalan selama berkendara, tetapi juga memperhatikan kerapian dirinya sebagai ujung tombak pelayanan PUMAS.

Salah satu fasilitas yang disediakan PUMAS adalah Shuttle dimana penumpang dari agen yang tidak dilewati bus PUMAS akan diantarkan menggunakan shuttle. Contohnya dari agen Pinangranti dan Pasar Minggu akan diantarkan ke Jatiasih karena unit hanya melewati Jatiasih.

Pada awal tahun 2019 lalu juga bus asal Wonogiri, Jawa Tengah ini menjadi trending topik dengan menghadirkan bus tingkat yang resmi menjadi bus Trans Jawa. Fasilitas yang ditawarkan PUMAS pun terbilang sangat mewah, dan didukung dengan chasis bus kelas premium yang tentunya memiliki fitur keamanan yang baik.

Baca juga: Bukan Nama Wanita, Rosalia Indah Kondang Sebagai Perusahaan Otobus

Berikut ini beberapa fasilitas yang ditawarkan oleh PUMAS dibus tingkat Trans Jawa yakni AVOD, USB Charger, Toilet, Bantal & Selimut, AC, Coffee Maker, Smoking Room dan Emergency Exit. Tiket busnya pun beragam, Patas AC tarif tiketnya Rp155 ribu-Rp160 ribu, VIP Rp165 ribu-Rp180 ribu, Eksekutif Rp180 ribu-Rp190 ribu. Untuk bus double decker, deck atas diabndrol dengan tarif Rp195 ribu dan deck bawah Rp325 ribu.