Taksi Donggala, Transportasi Alternatif yang Mulai Dilirik Wisatawan dan Warga Lokal

Donggala, Sulawesi Tengah, tidak hanya dikenal dengan pesona lautnya yang memikat, seperti Pantai Tanjung Karang dan Labuan Cermin. Tetapi juga dengan dinamika transportasi lokalnya yang terus berkembang.

Salah satu moda yang kini mulai dilirik masyarakat maupun wisatawan adalah layanan taksi. Meski jumlahnya tidak sebanyak di kota besar, kehadiran taksi di Donggala memberi warna baru dalam mobilitas warga.

Taksi konvensional biasanya beroperasi di sekitar pusat kota Donggala hingga jalur menuju Palu. Kehadirannya menjadi solusi di tengah terbatasnya angkutan umum, terutama bagi penumpang yang membutuhkan perjalanan cepat dan nyaman.

Beberapa pengemudi taksi lokal mengakui, permintaan meningkat di akhir pekan atau musim liburan. Wisatawan yang berkunjung ke Donggala kerap memilih taksi untuk menuju destinasi wisata pantai, pelabuhan, hingga penginapan.

Tidak sedikit pula yang memesan perjalanan menuju Bandara Mutiara SIS Al-Jufrie di Palu, dengan waktu tempuh sekitar satu jam. Selain taksi konvensional, layanan berbasis aplikasi online juga mulai masuk.

Walau belum sebanyak di kota besar, keberadaannya memberi pilihan lebih fleksibel bagi masyarakat. Tarif yang bisa dipantau langsung melalui aplikasi membuat penumpang merasa lebih aman dari risiko negosiasi harga.

Namun, ada tantangan tersendiri, jumlah armada masih terbatas, sehingga penumpang terkadang perlu menunggu lama. Di sisi lain, persaingan dengan kendaraan pribadi dan jasa travel juga menjadi kendala keberlangsungan taksi di Donggala.

Meski begitu, keberadaan taksi tetap membawa angin segar bagi transportasi di wilayah pesisir ini. Bagi warga lokal, taksi membantu mobilitas harian dan bagi wisatawan, taksi menjadi teman perjalanan menjelajahi keindahan Donggala yang menawan.

Nah, ini juga ada tip buat Anda yang akan naik taksi Donggala. Berikut sudah KabarPenumpang.com rangkum tips pelancong menggunakan taksi di Donggala.

Gunakan aplikasi jika tersedia
Dengan aplikasi, maka pelancong lebih mudah memantau tarif dan memastikan ketersediaan armada.

Pastikan nomor kontak
Jika menggunakan taksi konvensional, simpan nomor pengemudi untuk memudahkan pemesanan kembali.

Tanyakan tarif di awal
Jika menggunakan taksi non aplikasi, pastikan kesepakatan harga sebelum berangkat seperti menggunakan argo atau tarif yang sudah disepakati di awal.

Pilih taksi resmi
Utamakan taksi dengan identitas jelas untuk menghindari risiko keamanan.

Siapkan uang tunai
Meski ada pembayaran digital, di beberapa area Donggala sinyal internet terbatas sehingga transaksi tunai lebih lancar.

Pesan lebih awal
Saat akhir pekan atau musim liburan, armada terbatas, jadi sebaiknya lakukan pemesanan lebih cepat.

Dengan persiapan sederhana, pengalaman menggunakan taksi di Donggala bisa lebih aman, nyaman, dan menyenangkan.

Yuk, Jelajahi Stasiun Lawang yang Merupakan Stasiun ‘Tertinggi’ di Wilayah Malang

Berada di jalur yang menghubungkan Stasiun Malang sampai dengan Stasiun Bangil, ternyata ada stasiun yang tidak begitu megah bangunannya namun semua kereta api (KA) yang datang ke stasiun ini wajib berhenti. Ya, iniilah Stasiun Lawang yang berada di wilayah Daerah Operasi (Daop) 8 Surabaya.

Bagi sebagian orang mungkin masih mendengar atau bahkan tahu mengenai Stasiun Lawang ini. Karena posisi stasiun berada arah utara dari Stasiun Malang atau melewati dua stasiun dari Malang yakni Stasiun Blimbing dan Singosari. Sesuai namanya, Stasiun Lawang Malang terletak di Kecamatan Lawang, Kabupaten Malang, Jawa Timur.

Stasiun ini menjadi stasiun kereta api kelas I yang tertua dengan sejarah panjang sejak didirikan pada tahun 1887 di wilayah Malang tersebut. Cuma itu, Stasiun Lawang juga tercatat sebagai stasiun tertinggi di wilayah Malang yang juga dikelola Daerah Operasi (Daop) 8 Surabaya yaitu dengan ketinggian +491 meter diatas permukaan laut.

Stasiun Lawang. (Foto: Dok. Istimewa)

Stasiun ini menyimpan sejarah panjang dalam dunia perkeretaapian Indonesia, terutama melalui proyek pembangunan jalur kereta api Bangil-Sengon-Malang yang dilaksanakan oleh Staatsspoorwegen (SS), perusahaan kereta api milik Pemerintah Kolonial Belanda, antara tahun 1878 hingga 1879.

Sejak resmi dibuka pada 20 Juli 1879, Stasiun Lawang telah menjadi saksi penting perjalanan perdagangan di Jawa Timur, terutama hasil pertanian dan perkebunan dari Malang yang dikirim ke Surabaya sebagai pusat perdagangan. Meski telah melalui banyak perubahan, bangunan Stasiun Lawang tetap mempertahankan gaya arsitektur kolonial Belanda yang klasik.

Dan hingga kini Stasiun Lawang masih terawat keaslian bangunannya yang hingga kini sebagai Bangunan Cagar Budaya (BCB) yang dimiliki PT Kereta Api Indonesia Persero (KAI) sesuai dengan Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2010 tentang Cagar Budaya.

Sebagai stasiun kelas I, sudah tak heran setiap harinya, Stasiun Lawang melayani berbagai jenis kereta api, termasuk kelas eksekutif, ekonomi-bisnis, dan ekonomi. Semua kereta api yang melewati stasiun ini wajib berhenti di sini. Namun, masih cukup disayangkan peron ditiap jalur Stasiun Lawang masih gunakan peron rendah dan tidak begitu panjang.

Sama halnya seperti stasiun pada umumnya, fasilitas di Stasiun Lawang Malang ini cukup lengkap, seperti lahan parkir, toilet, mushola, loket tiket online, ruang tunggu, hingga warung makan di sekitar area stasiun yang sangat dekat dengan Jalan Raya Malang – Gempol.

Meski bangunan terlihat tak begitu megah, namun kombinasi antara fasilitas, lokasi strategis, dan layanan yang beragam membuat Stasiun Lawang tetap menjadi pilihan utama bagi masyarakat yang bepergian menggunakan kereta api.

Unik dan Nyaman, Suroboyo Bus Bagai Shuttle Maskapai Penerbangan

Sebelum adanya Trans Semanggi Suroboyo, di Kota Pahlawan ini sudah memiliki bus raya terpadu (BRT) sejak 2018 silam. BRT ini Namanya Suroboyo Bus yang dikelola oleh Dinas Perhubungan (Dishub) kota Surabaya melalui UPTD Pengelolaan Transportasi Umum.

Suroboyo Bus ini memiliki empat rute layanan yakni koridor R1/R2 dengan relasi Terminal Purbaya-Rajawali yang diluncurkan 7 April 2018. Layanan ini beroperasi ejak pukul 05.30 sampai 21.00 WIB dengan tarif Rp5 ribu.

Meski disebut sebagai BRT, tetapi Suroboyo Bus tidak bisa dikategorikan sebagai Bus Rapid Transit (BRT) karena tidak memenuhi beberapa standar yang disusun oleh Institute for Transportation and Development Policy (ITDP). Berbeda dengan pembayaran bus lainnya, hal unik untuk penumpang membayar tiket merek adalah dengan menukarkan sampah botol plastik.

Suroboyo Bus memiliki desain low entry sehingga memudahkan penumpang dengan kebutuhan khusus. Armada Suroboyo Bus dilengkapi dengan berbagai fasilitas canggih nan modern. Sehingga membuat para penumpang nyaman serta memberikan rasa aman bagi penumpang.

Adapun fasilitas yang terdapat di dalam bus, sebanding dengan fasilitas mewah yang dimiliki oleh shuttle bus maskapai penerbangan lokal. Setiap bus pun ada jelper atau pramusapa yang bertugas sekaligus sebagai kondektur tiket.

Selain itu, bus dilengkapi dengan GPS yang terhubung dengan Surabaya Intellegent Urban Transport System (SITS). SITS ini mempunyai kantor pusat kendali di Terminal Bratang. SITS merupakan sistem cerdas untuk mendukung manajemen transportasi dengan pemanfaatan teknologi (Informasi, Komunikasi, Sensor, Kontrol dan Komputerisasi) untuk membangun sistem informasi dan manajemen trasportasi secara otomatis.

SITS menjamin kelancaran dan keselamatan lalu lintas bus selama perjalanan berlangsung. Bus berkapasitas 67 penumpang ini mempunyai tiga jenis kursi. Ketiga warna kursi tersebut memiliki fungsi yang berbeda-beda.

Kursi berwarna merah muda diperuntukkan penumpang perempuan. Kursi berwarna merah diperuntukkan penumpang lansia dan disabilitas. Sedangkan kursi berwarna jingga diperuntukkan penumpang umum (laki-laki atau perempuan).

Pembedaan penggunaan kursi dimaksudkan untuk meminimalkan tindak pelecehan seksual di dalam bus. Selain itu, bus ini menyediakan pegangan bus bagi penumpang berdiri, serta terdapat area khusus pengguna kursi roda bagi pengguna difabel.

Untuk dikehatui, Suroboyo Bus juga memiliki layanan pengumpan yaitu Wirawiri Suroboyo. Bus yang memiliki total panjang 11,7 m ini mempunyai fitur modern seperti pintu sensor otomatis, pendingin ruangan (AC), 12 CCTV (luar dan dalam), alarm darurat, glass breaker, alat APAR, serta pengisi daya.

Abadikan Kuliner Warisan Pecel Semanggi, Ini Cikal Bakal Nama Trans Semanggi Suroboyo

Superjet SJ-100 Terbang Perdana, Pesawat Komersial Pertama Rusia dengan Komponen Full Produksi Dalam Negeri

Pesawat Superjet pertama Rusia yang sepenuhnya dibangun di dalam negeri, Yakovlev (d/h Sukhoi) Superjet SJ-100 telah menyelesaikan uji terbang perdananya pada hari Jumat lalu. Hal tersebut diumumkan konglomerasi industri pertahanan dan perusahaan strategis Rusia, Rostec.

Penerbangan ini merupakan lanjutan dari uji terbang prototipe Superjet substitusi impor sebelumnya pada bulan April dan Juni, yang memastikan pengoperasian sistem buatan dalam negeri yang stabil. Rostec menyatakan program ini kini memasuki fase produksi massal.

Sukhoi (bagian dari Rostec) menyatakan bahwa SJ-100, sebagaimana merek pesawat ini sekarang, telah menggantikan “puluhan” komponen asing, termasuk badan pesawat, sistem kendali penerbangan, dan roda pendaratan.

Kejar Sertifikasi, Rusia Terbangkan Yakovlev Superjet 100 dengan Suku Cadang Produksi Lokal

Pusat Produksi Yakovlev di Komsomolsk-on-Amur memiliki 24 unit SJ-100 yang berada dalam “berbagai tahap penyelesaian,” kata Rostec. Jet-jet tersebut sedang menunggu penerbangan sertifikasi dan persetujuan dari otoritas penerbangan sipil Rusia sebelum pengiriman.

Penerbangan uji coba hari Jumat berlangsung sekitar satu jam, mencapai kecepatan sekitar 500 kilometer per jam (310 mil per jam) dan ketinggian 3.000 meter (9.800 kaki), menurut Rostec.

United Aircraft Corporation Rusia, yang mengambil alih proyek ini tahun lalu setelah penundaan produksi dan masalah keselamatan, menyatakan bahwa SJ-100 akan membutuhkan 200 penerbangan uji coba pada akhir tahun 2025 sebelum dapat disertifikasi untuk produksi massal.

Jet regional berkapasitas 100 kursi ini merupakan inti dari upaya Rusia untuk mengembangkan industri penerbangan komersial domestik setelah sanksi Barat membatasi aksesnya ke teknologi asing.

Pesawat Regional Jet SJ-100 Memulai Uji Penerbangan Tanpa Mesin Baru Rusia

Abadikan Kuliner Warisan Pecel Semanggi, Ini Cikal Bakal Nama Trans Semanggi Suroboyo

Trans Semanggi Suroboyo layanan transportasi bus raya terpadu yang beroperasi di kawasan metropolitan kota Surabaya. Layanan ini usianya masih cukup muda yakni empat tahun, karena baru diresmikan tanggal 29 Desember 2021.
Nama Semanggi sendiri mengabadikan kuliner pecel semanggi dan salah satu warisan budaya kuliner tradisional khas Surabaya. Kuliner ini menggunakan bahan baku daun semanggi yang menjadi cikal bakal nama Trans Semanggi Suroboyo.
Surabaya menjadi kota kesepuluh di Indonesia yang menerapkan angkutan massal berbasis jalan dengan sekma pembelian layanan atau buy the service. Trans Semanggi Suroboyo sendiri hadir setelah ada penandatanganan nota kesepahaman dengan Wali Kota Surabaya pada pasa itu Tri Rismaharini pada 22 Oktober 2020.
Setelah nota kesepahaman itu, Surabaya mendapat hibah 104 unit bus dari Kementerian Perhubungan (Kemenhub) RI yang kemudian digunakan pada enam koridor berbeda. Bus ini sendiri operasionalnya dilaksanakan oleh konsorsium PT Seduluran Bus Suroboyo dan Perum Damri.
Meski diresmikan pada Desember 2021, tetapi awal operasionalnya dimulai pada 1 Februari 2022 secara gratis. Kemudian mulai berbayar per 31 Oktober 2022.
Tarif Trans Semanggi Suroboyo sendiri adalah Rp6.200. Tarif termahal dibandinkan dengan layanan serupa di Sembilan kota lainnya.
Layanan ini terkoneksi dengan moda angkutan perkotaan non bus seperti agkutan kota (bemo) dan Wirawiri Suroboyo di beberapa titik lokasi pada kawasan perkotaan Surabaya. Selain itu juga Beberapa koridor akan menggantikan layanan bus perkotaan eksisting seperti bus kota reguler atau Suroboyo Bus.
Untuk diketahui, enam koridor Trans Semanggi Suroboyo menjangkau sebagai besar jalan arteri primer pada Kawasan dalam kota. Di mana empat sebelumnya sudah terlayani engan koridor eksisting Suroboyo bus.
Sedangkan dua koridor baru lainnya merupakan pengembangan atau rintisan jalur bus perkotaan yang mengjangkau Kecamatan Pakal dan daerah sekitar kampus Universitas Airlangga. Adapun koridor-koridor Trans Semanggi Suroboyo adalah sebagai berikut
Koridor 1
Terminal Purabaya–Ujung Baru via Darmo
Koridor 2
Lidah Wetan–Pakuwon City Mall
Pakuwon City Mall–Universitas Negeri Surabaya
Koridor 3
Terminal Purabaya–Kenjeran Park via MERR
Gunung Anyar–Kenjeran Park
Koridor 4
Stadion Gelora Bung Tomo–Jajar Tunggal
Koridor 5
Terminal Benowo–Tunjungan Plaza
Koridor 6
Terminal Purabaya–Universitas Airlangga

Meski Ramai dan Strategis, Ternyata Stasiun Depok Baru Belum Ramah Disabilitas

Commuter Line di Jalur Bogor memang terkenal dengan paling ramainya perjalanan Kereta Rel Listrik (KRL). Selain itu masyarakat yang berdomisili disekitaran perhentian stasiun-stasiun KRL di jalur Bogor ini pun sudah semakin padat baik saat hari biasa maupun hari libur biasa terlebih lagi pada saat hari besar.

Selain stasiun akhir seperti Bogor dengan padatnya penumpang yang hendak ke wilayah Jabodetabek maupun sebaliknya, kabapenumpang kali menyoroti Stasiun Depok Baru. Ya, stasiun yang memiliki bangunan bertingkat ini juga ramai dengan penumpang yang sebelumnya dipadati di Stasiun Depok (Depok Lama).

Sekilas sejarah, Stasiun Depok Baru ternyata sudah ada ketika Presiden Ke-2 RI Bpk H.M. Soeharto dengan menggunakan KRL dari Jakarta menuju Depok (berhenti di Stasiun Depok Baru) sekaligus secara langsung meresmikan penggunaaan KRL Jakarta-Bogor pada 12 Agustus 1976 bersamaan dengan peresmian Perumahan Nasional Depok I (sekarang Perumnas Depok Jaya) yang merupakan proyek perumahan nasional pertama di Indonesia. Dengan peresmian tersebut, beroperasilah KRL Jakarta Bogor mulai tanggal 1 September 1976.

Stasiun Depok Baru era tahun 1980-an. (Foto: Dok. Perpusnas)

Seiring perubahan, bangunan Stasiun Depok Baru di renovasi. Renovasi yang selesai pada tahun 1992 tersebut sekaligus penambahan jalur yang semula hanya memiliki 2 jalur menjadi 3 jalur lintasan. Pada masanya, Stasiun Depok Baru merupakan stasiun dengan pendapatan tertinggi dan terpadat di Jabodetabek (Jakarta-Bogor-Depok-Tangerang-Bekasi) dengan omzet tidak kurang dari Rp2 Milyar per bulan. Tentu saja omzet tersebut merupakan omzet dari penumpang kereta layanan Commuter Line yang telah ada sejak 2013 menggantikan layanan KRL Jabodetabek.

Saat ini bangunan 2 lantai Stasiun Depok Baru tersebut masih terlihat hingga sekarang. Namun sangat disayangkan, masyarakat beranggapan bahwa stasiun ini kurang ramah terhadap disabilitas. Ya, dari pantuan tim kabarpenumpang, stasiun ini masih kurang nyaman untuk penumpang disabilitas terutama yang berkursi roda. Jarak antar peron 1 hingga peron 3 cukup berjauhan dan tidak memiliki penyebrangan khusus untuk penyandang disabilitas.

Untuk menyeberang dari peron jalur 1 ke peron jalur 2 maupun sebaliknya hanya memanfaatkan tangga menuju bawah tanah. Ya, sejak dulu Stasiun Depok Baru memang sangat identik dengan jalan kolongnya untuk penumpang yang ingin pindah antar peron. Sedangkan untuk lantai 2 stasiun saat ini tidak digunakan lagi, karena waktu itu sempat digunakan juga untuk alternatif bagi penumpang yang ingin pindah peron.

Bangunan Stasiun Depok Baru juga terlihat sedikit memperihatinkan di beberapa titik terutama bagian atap yang terlihat adanya lubang. Pun karena stasiun ini adalah kelas 1 dengan ramai penumpang, stasiun ini tidak memiliki elevator (lift) ataupun eskalator. Jadi penumpang yang ingin naik dan turun pun harus terima fasilitas yang telah disediakan di Stasiun Depok.

Harapan masyarakat tentu fasilitas yang ada di Stasiun Depok Baru lebih diprioritaskan lagi khususnya untuk ramah disabilitas, agar masyarakat yang naik dan turun di Stasiun Depok Baru lebih nyaman.

Stasiun UI Depok Hadirkan Konsep Ruang Tunggu Layaknya Ruang Tamu Rumah

Susuri Perjalanan Panjang, Ini Sensasi Naik Bus dari Sumatera ke Bali

Perjalanan darat lintas pulau kerap dianggap melelahkan. Namun bagi sebagian orang, naik bus dari Sumatera menuju Bali justru menjadi pengalaman yang penuh warna, menawarkan cerita di balik jendela kaca, persinggahan di terminal, hingga momen melewati selat dengan kapal feri.

Dari Andalas ke Dewata
Dirangkum KabarPenumpang.com dari berbagai laman sumber, rute bus antar kota antar provinsi (AKAP) dari Sumatera menuju Bali biasanya berangkat dari kota-kota besar seperti Medan, Palembang, Jambi, atau Padang. Penumpang akan melewati perjalanan panjang ribuan kilometer dengan menyusuri jalur lintas Sumatera, menyeberang melalui Pelabuhan Bakauheni–Merak, melintasi Pulau Jawa dari barat ke timur, hingga akhirnya tiba di Pelabuhan Ketapang, Banyuwangi, lalu menyeberang menuju Gilimanuk di Bali.

Durasi perjalanan bisa mencapai 2–4 hari, tergantung titik keberangkatan. Meski panjang, setiap etape perjalanan menghadirkan cerita tersendiri. Dari hamparan sawah dan perkebunan di Lampung, hiruk-pikuk kota besar di Jawa, hingga suasana laut di Selat Bali yang menyambut dengan angin asin dan pemandangan kapal lalu lalang.

Pesona Terminal dan Ferry
Di tengah perjalanan, bus akan singgah di berbagai terminal besar seperti Terminal Rajabasa (Lampung), Terminal Tirtonadi (Solo), hingga Terminal Mengwi (Bali). Setiap persinggahan adalah kesempatan menikmati kuliner lokal mulai dari pempek Palembang, gudeg Yogyakarta, hingga sate lilit Bali.

Momen paling ditunggu tentu saat bus masuk ke lambung kapal ferry. Penumpang bisa turun, menikmati hembusan angin laut, duduk di dek sambil melihat matahari terbenam, atau sekadar menyeruput kopi di kantin kapal. Bagi banyak orang, ini menjadi highlight perjalanan yang jarang ditemui jika naik pesawat.

Tips Nyaman Perjalanan Panjang
Meski menarik, perjalanan panjang lintas pulau ini tetap membutuhkan persiapan. Berikut beberapa tips agar tetap nyaman:

1. Pilih kursi yang tepat
Kursi di bagian tengah biasanya lebih stabil dan tidak terlalu terguncang. Jika tersedia, pilih bus dengan leg rest agar kaki bisa lebih rileks.

2. Bawa perlengkapan pribadi
Sediakan bantal leher, selimut tipis, serta earphone untuk mengusir kebosanan. Masker tidur juga membantu saat ingin beristirahat di malam hari.

3. Persiapan makanan ringan
Walau bus singgah di rumah makan, ada baiknya membawa camilan sehat, air minum cukup, dan obat pribadi untuk mencegah mabuk perjalanan.

4. Manfaatkan waktu transit
Saat bus berhenti di rest area atau terminal, gunakan waktu untuk peregangan otot, berjalan sebentar, dan menghirup udara segar.

5. Jangan lupa dokumen penting
KTP, tiket, hingga dompet digital harus selalu mudah dijangkau, apalagi saat akan naik kapal feri atau memasuki terminal besar.

Lebih dari Sekadar Transportasi
Naik bus dari Sumatera menuju Bali bukan hanya tentang berpindah dari satu pulau ke pulau lain. Ia adalah perjalanan penuh cerita: melihat Indonesia dari dekat, mendengar logat berbeda di setiap daerah, hingga menikmati ragam kuliner lokal sepanjang jalur.

Bagi para penumpang yang sabar dan siap menikmati setiap detik perjalanan, bus lintas Sumatera–Bali adalah cara terbaik memahami betapa luas dan kayanya negeri ini.

Sejarah ALS, Perusahaan Otobus dengan Trayek Terjauh Lintas Jawa-Sumatera

Wow! Sepanjang September, Naik Kereta Api Cuma Bayar 80% Aja, Simak Penjelasannya

Sebagaimana diketahui bahwa Bulan September ini merupakan bulan yang sangat spesial bagi PT Kereta Api Indonesia Persero (KAI). Ya, bertepatan 28 September 2025 nanti PT KAI akan merayakan ulang tahunnya yang ke-80. Selain merayakan, pasti ada informasi spesial untuk masyarakat pengguna setia kereta api. Salah satunya adalah tebar diskon hingga 20%.

Tak tanggung-tanggung, diskon 20 persen dari KAI berlaku untuk berbagai kelas kereta, mulai dari ekonomi, bisnis, eksekutif, luxury, hingga compartment. Perjalanan KAI selama delapan dekade pastinya penuh tantangan. Akan tetapi, dukungan dari masyarakat memungkinkan KAI terus berinovasi dalam pelayanan. Promo diskon ini menjadi bentuk apresiasi KAI kepada para penumpang yang telah setia memilih kereta api.

Berikut ketentuan yang ingin memanfaatkan diskon 20%, berikut ini:

• Periode pembelian tiket: 1–30 September 2025
• Periode keberangkatan: 1–30 September 2025
• Pembelian tiket dapat melalui aplikasi Access by KAI, website kai.id, atau mitra resmi/agen perjalanan yang bekerja sama dengan KAI
• Diskon tidak berlaku untuk tarif khusus dan tidak dapat digabung dengan promo atau reduksi lainnya
• Tiket diskon dapat dibatalkan atau diubah jadwal sesuai aturan yang berlaku

Selain meramaikan HUT KAI ke-80, masyarakat bisa memanfaatkan kesempatan ini untuk merasakan perjalanan nyaman dengan kereta api. Serta pilihan kereta api tetap menjadi moda transportasi publik pilihan yang aman, nyaman, dan ramah lingkungan.

Penumpang dapat mengecek daftar kereta api yang mendapatkan diskon melalui aplikasi Access by KAI. Tersedia 38 perjalanan kereta yang mendapat potongan harga tiket 20 persen sepanjang bulan ini:
• Argo Dwipangga
• Argo Lawu
• Batavia
• Banyubiru
• Banyubiru Expres
• Bogowonto
• Fajar Utama Solo
• Fajar Utama YK
• Gajahwong
• Jaka Tingkir
• Joglosemarkerto
• Lodaya
• Manahan
• Mataram
• Sancaka
• Senja Utama Solo
• Senja Utama YK
• Taksaka
• Sancaka Utara
• Argo Semeru
• Argo Wilis
• Bangunkarta
• Bima
• Gajayana
• Gaya Baru Malam Selatan
• Jayakarta
• Kertanegara
• Madiun Jaya
• Malabar
• Matarmaja
• Malioboro Ekspres
• Mutiara Selatan
• Pasundan
• Ranggajati
• Singasari
• Turangga
• Wijayakusuma.

 

Sejarah Singkat Stasiun Telawa yang Berusia Lebih dari Satu Abad

Siapa yang belum mengetahui bahwa Boyolali itu memiliki stasiun Kereta Api (KA), lho. Nah, tepatnya adalah Stasiun Telawa adalah satu-satunya stasiun kereta api antarkota yamg ada di Boyolali. Stasiun ini dibuka oleh Nederlandsch-Indische Spoorweg Maatschappij (NIS) pada 10 Februari 1870. Walaupun umurnya sudah 155 tahun, bangunan stasiunnya masih asli dan terawat dengan baik.

Stasiun Telawa

Stasiun yang kini berada di wilayah PT Kereta Api Indonesia Persero (KAI) Daerah Operasional (Daop) 4 Semarang itu dulunya masih satu paket pembangunan jalur Semarang-Voorstenlanden. Voorstenlanden atau jika diartikan dalam bahasa Indonesia sebagai tanah para raja mengacu pada wilayah Kerajaan Mataram atau daerah Solo dan Yogyakarta masa kini.

Dulunya daerah di sekitar stasiun merupakan penghasil kayu jati, bahan bakar terbaik bagi lokomotif uap, dan komoditas andalan di wilayah tersebut, sehingga menjadi titik vital untuk dibangun jalur kereta api.

Berada di ketinggian 63 meter di atas permukaan laut, Stasiun Telawa juga masih mempertahankan bentuk asli dari arsitekturnya dan hanya mengalami renovasi minor. Stasiun Telawa membawa arsitektur Indische Stijl, yang menggabungkan elemen arsitektur Eropa dengan adaptasi terhadap iklim tropis di Indonesia. Terlihat bentuk bangunan yang sederhana seperti jendela dan ventilasi yang besar untuk sirkulasi udara .

Tak jauh dari Stasiun Telawa, terdapat sebuah bangunan Belanda atau dikenal dengan Loji Papak untuk rumah administratur perkebunan. Loji Papak semacam ini di Jawa Tengah cukup langka karena hanya ada di Gundih, Telawa, dan Salatiga.

Seiring berjalannya waktu, fungsi Stasiun Telawa berkembang dari yang semula hanya melayani angkutan barang menjadi melayani perjalanan penumpang. Perkembangan ini terjadi seiring dengan meningkatnya permintaan transportasi umum bagi masyarakat yang tinggal di daerah sekitarnya.

Walaupun namanya Telawa, namun letaknya tak persis di Desa Telawa, namun di Desa Pilangrejo, Juwangi. Sehingga stasiun ini juga dikenal sebagai Stasiun Juwangi. Di Stasiun Telawa ada beberapa perjalanan kereta api antarkota yang berhenti, yaitu KA Banyubiru, Joglosemarkerto, Matarmaja dan Majapahit. KA-KA ini telah memudahkan masyarakat Boyolali untuk bermobilitasi ke kota-kota lain, seperti: Solo, Semarang, Yoguakarta, sampai Jakarta.

“Tanggung,” Stasiun Kedua Tertua di Indonesia, Masih Beroperasi dan Jadi Cagar Budaya

Makan Pizza Rasa Rumahan? Di Kuba Ada Restoran dari Bus Sekolah Bekas

Pizza menjadi salah satu makanan favorit banyak orang dan bisa dinikmati di restoran Italia atau Amerika tergantung kesukaan Anda. Bila biasanya restoran pizza berada di mall atau gedung tersendiri, bagaimana kalau dijual di dalam bus?

Di Kuba, Anda bisa menikmati pizza di dalam sebuah bus yang sudah di ubah menjadi restoran di kawasan Grand Rapids. Tepatnya restoran pizza bernama Montejo’s Cookhouse tersebut di buka di Wyoming di 1540 28th St SW dekat Burlingame Avenue.

Pemiliknya adalah Jazmin Montejo Bersama sang suami. Pizza yang dijual dibus sekolah ini layaknya pizza tipe Amerika yang disertai keju renyah dan dimakan seperti taco yang terlipat dua.

Bus yang dulunya bus sekolah ini didapatkan Montejo setelah dirinya dan suami memiliki ide untuk menawarkan sesuatu bagi komunitas mereka.

“Kami makan pizza setiap hari di rumah selama sekitar satu atau dua bulan selama melakukan percobaan untuk resep kami. Kami buat ini untuk berbagi rasa dengan komunitas kami,” ujar Montejo.

Pasangan dengan lima Anak ini menghabiskan Waktu sekitar satu tahun untuk mengubah bus sekolah bekas menjadi ruang makan untuk restoran pizza mereka. Montejo sendiri mengaku banyak dibantu oleh anggota gereja mereka dalam pembuatan meja untuk diletakkan di dalam bus.

Mereka juga membantu membuat logo di meja kayu yang ada di dalam bus.

“Itu berarti banyak bagi kami, seperti komunitas ingin terlibat dalam ini,” kata Montejo.

Restoran pizza dari bus bekas ini pun akhirnya selesai pada akhir Juli 2025 kemarin dan merayakan pembukaannya secara besar-besaran. Dikatakan Montejo, para pelanggan mengaku bahwa pizza yang mereka santap seperti makan di rumah.

“(Pelanggan) seperti keluarga bagi kami, dan kami selalu ingin memberikan yang terbaik bagi mereka,” kata Montejo.

Untuk diketahui, pizza yang dijuan merupakan pizza keju tradisional dengan topping pepperoni, Hawaiian, udang, dan Meksiko. Penggunaan bus sekolah ini pun dipilih setelah berjualan dengan tenda tidak berhasil dengan baik karena hujan dan angin.

Street Gourmet, Bus Kuliner dan Wisata Sejarah di Bandung