Elon Musk, CEO SpaceX Ini Paparkan Ide Entaskan Masalah Kemacetan

Banyak masyarakat yang mempertanyakan ide yang dicetuskan oleh pendiri sekaligus CEO dari SpaceX, Elon Musk mengenai perusahaan barunya yang bernama The Boring Company yang ia cuitkan di akun Twitter pribadinya. Dengan “pengemasan” yang apik sehingga menjadikannya viral di media sosial seakan menjadi bukti bahwa Musk tidak bermain-main dalam hal ini. Belakangan ini, wajah laman situs The Boring Company sudah diperbaharui dengan menambahkan penjabaran lebih lanjut mengenai visi-misi Musk tentang jaringan terowongan bawah tanah, hingga penjelasan gamblang mengenai tantangan teknologi yang mungkin akan mereka hadapi dimasa yang akan datang. Seperti yang KabarPenumpang.com wartakan dari laman newatlas.com, Rabu (17/5/2017) kemarin, Musk mengatakan solusi kemacetan di jalan yang utama bukanlah pengadaan mobil terbang atau kendaraan futuristik lainnya, melainkan sistem jalan yang harus diperbaiki. “Terowongan dengan jaringan jalan yang besar dalam berbagai tingkat akan memperbaiki kemacetan di kota mana pun, tidak peduli seberapa besar pertumbuhan kota tersebut (terus menambahkan level),” ungkap Musk. Baca Juga: Bertha, Mesin Bor Raksasa Yang Pernah Terperangkap di Bawah Tanah Seattle Dalam sebuah acara yang diadakan di Vancouver, Jerman bulan lalu, Musk mengatakan pembangunan proyek ini bisa saja berjalan walaupun anggarannya diminimalisir, namun tidak mengendurkan estimasi pengerjaannya. Musk mengatakan, alih-alih menggali terowongan dengan lebar 28 kaki untuk satu jalur, maka ia bersama timnya akan lebh memilih untuk menggali terowongan dengan ukuran 14 kaki dengan menambahkan moda antar-jemput disepanjang stasiun kereta cepat. Lebih lanjut, ia memperkirakan proyek seperti ini akan meminimalisir biaya pembangunan sekitar tiga hingga empat kali. Baca Juga: Proyek MRT: Mulai 20 Mei 2017 Ada 4 Tahap Rekayasa Lalu Lintas di Jalan Panglima Polim Namun, tentu saja akan ada hambatan yang siap menahan laju dari ide Musk ini, ya masalah kecepatan mesin pengebor. “Bahkan sebuah bekicot mampu berjalan 14 kali lebih cepat dari mesin pengebor ini. Ambisi kami saat ini adalah untuk menyusul bekicot tersebut,” kelakar Musk. Dibalik pendapat Musk tersebut, dirinya dan tim sudah mempersiapkan lima cara yang mesti dilakukan agar dapat mempercepat laju dari mesin bor tersebut, diantaranya adalah memaksimalkan daya dari Tunnel Boring Machines (TBM), pemasangan sistem pendingin yang sesuai, hingga mengotomatisasi TBM. Baca Juga: Proyek MRT: Bor Mustikabumi Telah Tiba di Stasiun Setiabudi Diantara lima cara yang disiapkan Musk di atas, cara yang terakhir ini bisa dibilang cukup banyak menyita perhatian, yaitu The Boring Company mulai menyelidiki sebuah teknologi yang dapat mengubah kotoran yang digali mejadi pondasi untuk membangun struktur tersebut. Dengan ini, maka secara otomatis akan memangkas kebutuhan tenaga untuk membuang tanah hasil galian, dan mengurangi ketergantungan pada penggunaan beton, dimana beton merupakan salah satu penyumbang emisi yang cukup besar. Layaknya TBM terbesar di dunia, Bertha, salah satu kendala yang akan dihadapi oleh Musk dan timnya adalah air, karena keberadaan air sangat mempengaruhi proses penggalian. Dengan adanya air, maka proses penggalian akan lebih mudah, sedangkan jika terlalu banyak  kandungan airnya maka tanah yang hendak dikeruk akan berubah menjadi lumpur yang akan menghambat laju dari Gondot, sebutan untuk mesin TBM Musk. Bersama dengan timnya, Musk mulai menggali di markas SpaceX di dekat Los Angeles, dimana Musk menggambarkan pengeboran tersebut sebagai titik awal untuk perlombaan melawan bekicot. Tambahnya, perlombaan ini akan memakan waktu lama, namun akan tetap diawasi.

Punya Penyakit Celiac, Penumpang ANA Hanya diberi Satu Buah Pisang

Hal konyol terjadi pada seorang penumpang maskapai All Nippon Airways (ANA) dalam penerbangan dari Tokyo, Jepang menuju Sydney, Australia. Seorang penumpang bernama Martin Pavelka penderita celiac yang mengharuskan dirinya memakan makanan bebas gluten. Namun, dalam penerbangan selama sembilan jam itu, Pavelka hanya diberi sebuah pisang untuk sarapan. Dilansir KabarPenumpang.com dari dailymail.co.uk (4/5/2017), Pavelka mengatakan untuk menuju Sydney dari Tokyo menghabiskan uang untuk menaiki penerbangan ANA sebanyak £1.200 dan mendapat pisang sebagai sarapan. Pria 32 tahun ini, kaget dengan hanya diberi satu buah pisang selama penerbangan dan mengaku kecewa dengan pelayanan ANA. Padahal sebelumnya dirinya tidak pernah mendapatkan perlakuan seperti ini setiap memesan makanan bebas gluten setiap perjalanan penerbangannya. Baca juga: Kenali Jenis Makanan Khusus dalam Penerbangan Saat penerbangan tersebut, penumpang lainnya diberikan makanan penuh ala Inggris untuk sarapan. “Saya didatangi seorang pramugari, di berkata ‘Kami menyediakan makanan spesial untuk Anda,’ dan saat itu saya mendapat kan pisang,” ujar Pavelka.
www.dailymail.co.uk
Kemudian dia bertanya kepada pramugari “Apakah ini sebuah lelucon?” dan pramugari hanya berkata , “Saya benar-benar minta maaf, itu makanan bebas gluten.” Menurut Pavelka, dengan sebuah pisang tidak akan membuatnya kenyang, apalagi dalam penerbangan jarak jauh. Dirinya juga mengaku telah melakukan pengaduan kepada maskapai, tetapi belum mendapat tanggapan. “Penumpang lain melihat dan menertawakan saya. Saya pikir pramugari menyadari hal yang tidak beres. Kesalahannya pasti ada di satu bagian manajemen,” ujarnya. Baca juga: Nikmati Perjalanan dengan Makanan dan Minuman Sehat Dalam menanggapi kasus ini, All Nippon Airwasy (ANA), mengatakan bahwa pisang adalah makanan ringan bebas gluten yang disediakan dalam penerbangan, tetapi bukan makanan untuk Pavelka. Juru bicara ANA mengatakan, pihaknya sangat bangga dalam memberikan pengalaman yang baik bagi semua penumpang apalagi untuk Pavelka.
Makanan yang ada di All Nippon Airways
“Kami telah meminta maaf kepadanya secara pribadi dan sebagai hasil dari pengalamannya, kami meninjau kebijakan kami mengenai pilihan bebas gluten dan bagaimana layanan mereka. Selama penerbangan internasional di rute Tokyo-Sydney, ada dua layanan makanan. Pelayanan pertama adalah makanan lengkap satu jam setelah keberangkatan dan yang kedua adalah layanan kudapan dua jam sebelum kedatangan”, ujar juru bicara ANA. Baca juga: Mau Jadi Penumpang Sempurna? Sebaiknya Baca Ini Pihaknya mengatakan, untuk mengakomodasi berbagai kebutuhan makanan penumpang, sebenarnya ada beberapa pilihan makana termasuk bebas gluten yang bisa penumpang pilih saat membeli tiket. Seperti contoh masalah Pavelka yang memesan makanan bebas gluten dan makanan ringannya yang juga bebas gluten. Saat itu, Pavelka memilih pisang untuk makanan bebas gluten. “Kami berusaha semaksimal mungkin untuk memenuhi kebutuhan penumpang dan dalam situasi ini, kami mengakomodasi permintaan makanan tambahan tamu kami dengan menyediakan makanan reguler tambahan serta hidangan pembuka dari menu reguler untuk makanan ringannya. Untuk menyiratkan bahwa ANA hanya melayani pisang untuk penerbangan dengan panjang ini tidak benar,”ujar juru bicara ANA.

Alami Kendala Teknis, Maskapai JetStar “Panggang” Penumpangnya

Seram, mungkin kata ini cocok untuk menggambarkan kondisi  maskapai asal Australia, JetStar ketika pesawat tersebut terpaksa “menelantarkan” penumpangnya akibat masalah teknis yang terjadi. Seperti yang KabarPenumpang.com lansir dari laman smh.com.au, Sabtu (13/5/2017) silam, pesawat yang dijadwalkan berangkat dari Bandara Phuket, Thailand pada pukul 22.20 waktu setempat terpaksa menunggu lebih dari dua jam akibat gangguan yang terjadi pada bagian mesinnya. Seolah berada di dalam sebuah pemanggang, para penumpang mulai kepanasan karena pendingin ruangan yang berada di dalam pesawat tidak bisa menyala. Maka tidak heran jika perjalanan yang harusnya bisa digunakan untuk istirahat, berubah menjadi suasana yang mengerikan dalam kurun waktu lebih dari dua jam. Tidak sedikit penumpang yang pingsan  dan beberapa balita hanya berbalutkan sebuah popok karena suhu udara di dalam kabin pesawat tersebut sangatlah panas.
Sumber: newsapi.com.au
Suasana menjadi semakin mengerikan ketika mulai terdengar teriakan, tangisan, serta panjatan doa dari para penumpang yang merasa takut pada waktu itu. Pasalnya, kedua “kubu” sama-sama membutuhkan perhatian lebih dari pihak penerbangan, ketika mesin yang rusak butuh perbaikan, dan penumpang yang terlantar butuh kenyamanan ketika menunggu pesawat tersebut diperbaiki. Bukan tidak mau membuat penumpangnya merasa nyaman dalam menghabiskan waktu perbaikan, namun salah satu masalah yang terjadi pada pesawat tersebut bersinggungan langsung  dengan sistem pendingin ruangan, sehingga dengan terpaksa membuat para penumpangnya seolah berada di dalam sebuah pemanggang. Baca Juga: Kerjasama Jetstar dengan Doku, Mudahkan Pelanggan Membeli Tiket Menanggapi hal tersebut, pihak JetStar melalui sebuah pernyataan resmi mengatakan bahwa awak kabin mencoba membuat pelanggan senyaman mungkin dengan menyediakan air dingin. Sedangkan para teknisi berkutat untuk memperbaiki pesawat yang rusak. Namun para penumpang yang kesal di dalam kabin pesawat tersebut memiliki cerita berbeda dengan menyatakan bahwa perjalanan malam itu menggunakan maskapai JetStar merupakan perjalanan paling buruk yang pernah mereka lalui. Ada juga yang mengatakan pelayanan dari pesawat tersebut amat buruk. Semua keluh kesah para penumpang ini disampaikan di laman utama Facebook JetStar. Kejadian menyeramkan tersebut tentu akan melekat erat di benak para penumpang JetStar, salah satunya adalah Laura Beach-Mahoney yang mengatakan tidak ada kepastian yang diberikan oleh pihak maskapai terkait insiden tersebut. Semakin lama mereka menunggu, semakin banyak pula korban yang jatuh. “Para bayi hanya mengenakan popok, maskapai tersebut mulai kehabisan stok air, dan kami kekurangan oksigen lebih dari dua  jam,” kenang Laura. “Kejadian tersebut semakin menyeramkan ketika seorang gadis belia terserang asma dan ibu-ibu yang ada di sana mulai mengipasinya dengan harapan akan membantunya bernapas. Ditambah lagi dengan seorang lansia yang memerlukan tabung oksigen  untuk membantunya bernapas. Baca Juga: Dukung Target 15 Juta Wisman, Angkasa Pura Airports Implementasi Collaborative Destination Develoment Lanjutnya, setelah lebih dari dua jam melewati kejadian mengerikan tersebut, akhirnya para penumpang yang berada di pesawat dengan nomor penerbangan Jetstar flight JQ18 diperkenankan keluar dan penerbangan tersebut dijadwal ulang pada pukul 04.00 waktu setempat. “Kami bahkan tidak diberitahu akomodasi yang terdekat dari bandara,” ucap Laura. Ia juga menyanyangkan sikap yang ditunjukkan baik oleh pihak maskapai maupun bandara yang seakan tidak acuh dengan tidak memberitahu alasan dari keterlambatan tersebut. “Jika para penumpang tidak berkumpul, mungkin kami akan menghabiskan malam itu di bandara,” tambahnya.

Pukul Kru Pesawat Pakai Teko Kopi, Penumpang Ini Terpaksa Diikat Kabel Ties

Ada-ada saja memang ulah penumpang, seperti yang terjadi maskapai Air Canada pada awal minggu lalu dimana seorang penumpang berusaha untuk membuka pintu kabin ketika pesawat tengah mengudara. KabarPenumpang.com melansir dari stuff.co.nz, Kamis (18/5/2017), sumber menyebutkan bahwa maskapai yang bertolak dari Montego Bay, Jamaika menuju Toronto terpaksa menepi di Orlando, Florida setelah mendapati penumpangnya yang melakukan penyerangan terhadap kru pesawat dengan menggunakan sebuah teko kopi sebelum akhirnya berusaha untuk membuka pintu kabin. Baca Juga: Terlibat Adu Jotos di Dalam Kabin, Penumpang Ini Terpaksa Diturunkan Diwartakan, insiden ini dimulai ketika pesawat mengalami turbulensi dan pilot mulai memerintahkan para penumpangnya untuk mengencangkan sabuk pengaman. Tak lama berselang, seorang penumpang asal Kanada bernama Brandon Michael Courneyea, mulai berteriak pada penumpang lain setelah dirinya merasa tidak nyaman dengan tatapan dari penumpang tersebut. Guna mengantisipasi kemungkinan kekerasan yang akan terjadi, kru pesawat mencoba untuk menenangkan Brandon, namun usaha mereka sia-sia. Brandon mulai beranjak dari bangkunya dan mulai mondar-mandir di atas maskapai yang tengah mengudara tersebut. Ia kemudian kembali dengan membawa sebuah teko kopi yang ia dapatkan dari dapur pesawat dan mulai menganyunkan teko kopi tersebut ke arah kru pesawat sembari berkata bahwa hanya butuh satu orang untuk menurunkan pesawat dan Brandon ingin membawa semua orang bersamanya. Saat dihadapkan dengan seorang pramugari, Brandon menerjang pintu keluar kabin belakang dan mulai menarik tuas pintu hingga pintu tersebut terbuka. Baca Juga: Pengamat Menjawab 6 Permasalahan Antara Penumpang dan Maskapai Penerbangan “Ia kemudian ditahan oleh kru pesawat dan penumpang lainnya yang ada di dalam pesawat tersebut,” menurut saksi yang melayangkan sebuah komplain. Guna mencegah Brandon melakukan tindakan nekat lainnya, para kru kapal dan penumpang lainnya mengikatnya di bangku dengan menggunakan kabel ties.
Sumbre: ctvnews.ca
Juru bicara dari Air Canada mengatakan membuka pintu pesawat ketika mengudara merupakan hal yang mustahil dilakukan. Berdasarkan laporan yang diterima, insiden tersebut terjadi sekitar 45 menit. Setelah maskapai tersebut menepi di bandara Orlando, Brandon kemudian ditindaklanjuti oleh agen federal setempat dengan dakwaan melakukan sebuah interfensi terhadap kru pesawat dan penumpang yang berada di dalam maskapai tersebut. Setelah Brandon ditinggalkan di Orlando guna menjalani pemeriksaan terkait kejahatan federal yang dilakukannya, pesawat tersebut kembali melanjutkan perjalanan menuju Toronto tanpa ada halangan. Baca Juga: Duh! Dokter ini Diseret di Lorong Kabin Pesawat, Kenapa ya? Insiden kekerasan seperti ini seolah mengingatkan tentang kejadian yang dialami oleh salah satu maskapai terkemuka asal negeri Paman Sam, United Airlines, dimana seorang dokter bernama David Dao mendapat perlakuan tidak layak dari kru pesawat, yaitu diseret keluar kapal hingga mengalami geger otak ringan akibat terbentur bangku pesawat. Ditambah lagi dengan dua orang pemuda yang beradu jotos pada maskapai All Nippon Airways beberapa waktu yang lalu semakin menambah panjang rentetan kejadian perkelahian yang terjadi di pesawat.

Tampomas II, Ingatkan Tragedi di Perairan Masalembo

Sabtu, 20 Mei 2017 menjadi hari kelabu dalam dunia pelayaran di Tanah Air, kapal ferry RoRo KM Mutiara Sentosa I mengalami musibah terbakar di Perairan Masalembo, dalam kejadian tersebut lima penumpang dilaporkan tewas dan 192 penumpang lainnya berhasil menyelamatkan diri. Masih di perairan yang sama, 25 Januari 1981, pelayaran Indonesia digemparkan dengan tragedi KM Tampomas II yang berangkat dari Pelabuhan Tanjung Priok menuju Makassar. Baca juga:  Berusia 30 Tahun, KM Mutiara Sentosa I Makan Korban Jiwa Flash back ke kejadian 36 tahun lalu, KM Tampomas II terbakar di sekitaran kepulauan Masalembo. Kejadian ini mengakibatkan 431 orang tewas termasuk nakhoda kapal Abdul Rivai dengan 288 penumpang hilang bersama kapal dan 753 orang berhasil diselamatkan. Pada waktu itu, diketahui KM Tampomas II mengangkut 1.055 penumpang terdaftar dengan 82 awak kapal dan terdapat 191 mobil dan 200 motor di dalam kapal. Saat itu bila ditotal dengan penumpang gelap, jumlah penumpang KM Tampomas II sekitar 1442 orang. Sebelum terjadi kebakaran, memang KM Tampomas II mengalami kerusakan pada salah satu mesin kapal. Namun dalam perjalanan, hingga 24 Januari malam, tidak terjadi apapun walaupun kondisi salah satu mesin rusak. Tetapi, saat itu ombak bulan Januari sangat besar dibandingkan bulan lainnya yakni sekitar 7-10 meter dengan kecepatan angin 15 knots dan sangat wajar terjadi. Pada 25 Januari pagi, keadaan KM Tampomas II pun berlangsung seperti biasa. Nahas, 25 Januari malam tepatnya pukul 20.00 WITA, laut tengah terjadi badai yang hebat, beberapa mesin mengalami kebocoran bahan bakar dan puntung rokok dari ventilasi menyebabkan percikan api. Kru yang melihat kejadian ini, mencoba memadamkan dengan tabung pemadam portabel tetapi gagal. Api justru semakin menjalar dan menyebabkan selama dua jam tenaga utama mati serta generator darurat pun gagal sehinggaa usaha pemadaman dihentikan karena tidak memungkinkan apalagi ditambah bahan bakar yang masih ada di setiap kendaraan. Sayangnya pemberitahuan kepada penumpang, terlambat untuk memberitahukan arah dan lokasi sekoci. Karena hanya ada satu jalan untuk menuju sekoci dan penumpang ribuan, membuat banyak dari mereka (penumpang) yang terjun bebas kelaut dan sisanya menunggu pertolongan dengan panik. Baca Juga: Rute Tol laut Tanjung Priok-Panjang, Akankah Berdampak Pada Lintasan Merak-Bakauheni? Karena adanya kebakaran ini, KM Sangihe yang dalam perjalanan dari Pare-Part menuju Surabaya dan dilanjut dengan KM ILmamui pada pukul 21.00 langsung membantu. Kemudian disusul empat jam kemudian kapal tangker Istana IV dan masih berdatangan kapal lainnya yakni Adhiguna Kurnia dan KM Sengata datang untuk membantu menyelamatkan korban. Tanggal 27 Januari, tepatnya dua hari setelah KM Tampomas II terbakar, terjadi ledakan di ruang mesin dan membuat kapal miring hingga 45 derajat dan pada pukul 13.45 WITA akhirnya KM Tampomas II tenggelam ke dasar Laut Jawa dengan 288 korban tewas di dek bawah. Baca Juga: Kereta Ferry, Sensasi Naik Kereta di Tengah Laut KM Tampomas II awalnya bernama MV Great Emerald diproduksi tahun 1956 oleh Mitsubishi Heavy Industries di Shimonoseki, Jepang, tergolong jenis Kapal RoRo (Roll On-Roll Off) dengan tipe Screw Steamer berukuran 6139 GRT (Gross Registered Tonnage) dan berbobot mati 2.419.690 DWT (Dead-Weight Tonnage). Kapal ini berkapasitas 1250-1500 orang penumpang, dengan kecepatan maksimum 19.5 knots. Memiliki lebar 22 meter dan Panjang 125,6 meter. Kemudian kapal ini dibeli oleh PT. PANN (Pengembangan Armada Niaga Nasional) dari Pihak Jepang, Comodo Marine Co. SA seharga US$8.3 Juta. Kemudian di beli oleh PT PELNI dengan cara mengangsur. Pertama kali di operasikan di Indonesia, kapal ini melaju melayani rute Jakarta – Padang dan Jakata – Ujung Pandang (Makassar) yang memang padat. Selesai berlayar, kapal ini diberi waktu beristirahat selama empat jam sebelum kembali berlayar. Perbaikan dan perawatan rutin terhadap mesin dan perlengkapan kapal pun hanya dapat dilaksanakan sekadarnya saja, padahal mengingat usianya yang sudah cukup berumur, seyogyanya kapal ini perlu mendapat perawatan yang jauh lebih cermat. Baca Juga: Tanjung Perak Tepi Laut, Riwayat Pelabuhan Kedua Tersibuk di Indonesia Kejadian terbakarnya KM Tampomas II di Kepulauan Masalembo mengingatkan kejadian baru terjadi pada 19 Mei 2017, dimana KM Mutiara Sentosa I terbakar di perairan Masalembo. Tak hanya itu kejadian di Kepulauan Masalembo yakni di perairan Majene pada 1 Januari 2007 atau sekitar 10 tahun lalu.

Rute Tol laut Tanjung Priok-Panjang, Akankah Berdampak Pada Lintasan Merak-Bakauheni?

Jalur tol laut dari Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta menuju Pelabuhan Panjang, Lampung sudah resmi beroperasi sejak 22 Juni 2016 lalu. Tol laut ini juga menarik perhatian masyarakat dan disambut dengan baik. Karena rute ini sebenarnya memudahkan para pemudik yang akan pulang dari Jakarta menuju Lampung atau sebaliknya dan tidak perlu lagi untuk berdesakan di Pelabuhan Merak, Banten ataupun Bakauheni, Lampung. Sebenarnya selain memudahkan penumpang dari arah Jakarta dan Jawa Barat, rute ini juga digadang mampu mengurangi kemacetan arus mudik di jalur tol menuju Merak. Hingga saat ini, rute Tanjung Priok – Panjang dilayani dengan tiga kapal ferry RoRo (Roll On Roll Off) dengan operator PT Atosim Lampung Pelayaran (ALP) yakni KM Mutiara Sentosa II, KM Mutiara Sentosa III dan KM Mutiara Timur I. Baca Juga: Mengenal Bakauheni, Pelabuhan Utama Penghubung Transportasi ke Sumatera Untuk jadwal perjalannnya sendiri, tiga kali sehari yakni pukul 07.00, 15.00 dan pukul 23.00 WIB. Sebagai perbandingan, dalam sekali perjalanan ferr dari Pelabuhan Merak menuju PelabuhanBakauheni memakan waktu tiga hingga tiga jam setengah jam, tergantung pada kondisi cuaca dan arus. Sedangkan dari Pelabuhan Tanjung Priok menuju ke Pelabuhan Panjang memakan waktu delapan hingga sepuluh jam perjalanan. Ini wajar adanya mengingat jarak yang lebih jauh untuk ditempuh kapal ferry. Tak hanya waktu tempuh, harga tiketnya sendiri pun lumayan jauh untuk penumpang sendiri dari Merak – Bakauheni hanya Rp15 ribu sedangkan dari Tanjung Priok – Panjang Rp55 ribu. Memang terlihat lebih murah dan menghemat uang tol sendiri. Uniknya untuk golongan X di Merak – Bakauheni tidak ada tetapi di Tanjung Priok – Panjang ada untuk dan harga tiketnya berdasarkan nego antar pengelola dan pengemudinya. Baca Juga: Tarif Naik , ASDP Janjikan Peningkatan Kualitas Layanan di 14 Lintasan Sayangnya, untuk dermaga kapal RoRo ini jaraknya sangat berjauhan, berbeda dengan di Merak – Bakauheni yang jaraknya tidak jauh dari satu dermaga ke dermaga lainnya. Setiap pengguna jasa akan lebih dimudahkan dengan adanya penyeberangan dari Tanjung Priok, beberapa pengamat transportasi menyebut beroperasinya lintasan ini tidak menutup kemungkinan akan berdampak pada lintasan ferry Merak – Bakauheni yang kini dioperasikan BUMN PT ASDP Indonesia Ferry. Dari info yang KabarPenumpang.com dapatkan saat ini, jalur Tanjung Priok – Panjang juga relarif bersih dari pungli atau pungutan yang tidak jelas. Meski begitu, faktanya masih banyak pengguna yang lebih memilih jalur Merak – Bakauheni dikarenakan waktu penyeberangan yang cukup cepat. Kemudian, harga tiket yang lebih murah hampir tiga kali lipat dibandingkan Tanjung Priok – Panjang. Dan pastinya, lintasan Merak – Bakauheni dilayani selama 24 jam oleh puluhan armada kapal ferry. Baca juga: Mengenal Pelabuhan Merak, Gerbang Penyeberangan Tersibuk di Indonesia Dikutip KabarPenumpang.com dari tribunnews.com, tarif penumpang pejalan kaki dewasa sebesar Rp 55 ribu, sementara anak-anak dikenakan Rp 35 ribu. Sedangkan, tarif kendaraan dibagi menjadi 10 golongan. Berikut daftar tarifnya. 1. Golongan I jenis sepeda, Rp 90 ribu. 2. Golongan II jenis motor roda dua, Rp 115 ribu. 3. Golongan III jenis motor roda tiga atau motor roda dua di atas 250 cc, Rp 180 ribu. 4. Golongan IV penumpang jenis sedan, jeep, dan sejenisnya, Rp 475 ribu. 5. Golongan IV barang jenis pikap, mobil box, Rp 450 ribu. 6. Golongan V penumpang jenis bus kecil, Rp 965 ribu. 7. Golongan V barang jenis truk sedang, Rp 825 ribu. 8. Golongan VI penumpang jenis bus besar, Rp 1.455.000. 9. Golongan VI barang jenis truk besar, Rp 1.275.000. 10. Golongan VII jenis tronton, Rp 1.720.000. 11. Golongan VIII jenis trailer 20 feet, Rp 2.115.000. 12. Golongan IX jenis trailer 40 feet/ truk gandeng, Rp 3.305.000. 13. Golongan X jenis alat berat, tarif nego.

Berusia 30 Tahun, KM Mutiara Sentosa I Makan Korban Jiwa

Sejak awal 2017, KM Mutiara Sentosa I mengalami banyak musibah yang membuat penumpang merasakan penderitaan di mulai dari kapal yang kehabisan bahan bakar hingga terbakar beberapa hari lalu. Kejadian pada KM Mutiara Sentosa I berawal pada 3 Februari 2017, saat itu KM Mutiara Sentosa I yang berangkat dari Balikpapan menuju Surabaya terombang-ambing kehabisan bahan bakar di perairan sekitar Kepulauan Madura sejak pukul 01.00 WIB. Sayangnya saat kejadian kehabisan bahan bakar, pihak nakhoda dan operator kapal tidak langsung melaporkan kejadian ini ke otoritas pelabuhan setempat, sehingga otoritas pelabuhan dan tim SAR tidak bisa langsung bergerak untuk membantu. Akibat kejadian tersebut, penumpang dan awak kapal merasakan dehidrasi karena bahan makanan dan minuman telah habis. Apalagi terombang ambing selama 18 jam tanpa makanan dan minuman. Baca juga: Spesifikasi KMP Port Link, Kapal Ferry Teranyar dan Terbesar Tak hanya penumpang lemas karena dehidrasi, saat itu tercatat ada delapan orang dewasa dan dua anak-anak yang sedang sakit. Dari manifes jumlah penumpang dan awak pada KM Mutiara Sentosa I ada 180 orang. Belum lepas dari insiden di Perairan Madura, baru-baru ini tepatnya 20 Mei 2017 kemarin, KM Mutiara Sentosa I terbakar di Perairan Masalembo dengan korban tewas lima orang dan 192 lainnya selamat, padahal manifes penumpang berjumlah 187 orang. Penumpang dan awak kapal yang selamat langsung dibawa menuju ke Puskemas di Pulau Masalembo untuk mendapat perawatan untuk korban yang luka-luka. Adapun KM Mutiara Sentosa I ini juga membawa kendaraan yakni dua sepeda motor, 21 unit mobil, sepuluh unit truk sedang dan 47 unit truk besar. Kebakaran terjadi pukul 18.00 WIB dan saat itu KM Mutiara Sentosa I berada sekitar 17 mil jauhnya dari Pulau Masalembo. Kapal penumpang KM Mutiara Sentosa I ini, diketahui beradai dibawah kepemilikan PT Atosim Lampung Pelayaran (APL). Awalnya sebelum terbakar, kapal ini berangkat dari Pelabuhan Tanjung Perak pada Kamis (18/5) pukul 23.41 WIB menuju Balikpapan. Baca juga: 10 Kapal Misterius Ini Ditemukan Tanpa Awak Kejadian ini lagi-lagi terjadi di perairan Masalembo yang mengingatkan dengan kejadian terbakarnya kapal Tampomas II di perairan tersebut 36 tahun silam yang mengakibatkan ratusan penumpang tewas dan hilang. Saat itu KM Tampomas II berangkat dari Jakarta menuju Makassar tahun 1981. Dikutip KabarPenumpang.com dari vesselfinder.com, disebutkan KM Mutiara Sentosa I dibangun pada tahun 1988, kapal ini mempunyai panjang 127 meter dan lebar 21 meter. Bobot kotor kapal ferry RoRo (Roll On Roll Off) ini mencapai 12.365 ton. Hingga tulisan ini diturunkan, pihak Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) masih akan melakukan penyelidikan terkait terbakarnya KM Mutiara Sentosa. Sementara pihak KNKT masih menunggu laporan resmi dari pihak Badan SAR Nasional (BASARNAS).

Mau Jadi Penumpang Sempurna? Sebaiknya Baca Ini

Sebagai seorang penumpang, pastinya Anda ingin merasakan perjalanan yang sempurna. Apalagi sebagai penumpang sebuah taksi baik itu konvensional maupun online ataupun penumpang pada mobil pribadi yang dikendarai pengemudi. Terkadang, melihat pengemudi dengan tuntutan tinggi untuk mengantar Anda sampai ke tempat tujuan membuat Anda berpikir juga menjadi seorang penumpag yang baik di dalam kendaraan tersebut. Baca juga: Selain Cegah Hujan, Payung Juga Bisa Lawan Tindakan Kriminal Tapi pernahkan Anda terpikir tentang tekanan untuk menjadi seorang penumpang yang sempurna di dalan taksi? Dilansir KabarPenumpang.com dari thesun.co.uk (18/5/2017), seorang pengemudi haruslah memiliki konsentrasi yang penuh sehingga penumpang didalamnya tidak banyak komplenan terhadap pengemudi dan menjadi satu kesatuan dengan penumpang dalam mengemudikan kendaraan. Berikut ada beberapa hal agar Anda menjadi seorang penumpang yang sempurna. 1. Pastikan tahu tujuan Sebagai seorang penumpang, Anda harus bisa menjelaskan lokasi tujuan walaupun pengemudi sudah menggunakan peta. Hal ini memudahkan pengemudi dan menurunkan tingkat stressnya. Apalagi bila pengemudi belum begitu tahu tentang lokasi yang Anda tuju. 2. Bawa kudapan Dalam membawa kendaraan juga dibutuhkan energi untuk tetap menjaga konsentrasi pengemudi. Bila Anda membawa makanan baiknya tawarkan kepada pengemudi, ini bisa membuat pengemudi nyaman dalam berkendara. Berikan makanan yang mudah dimakan. Kalau anda memberikan makanan kecil seperti kue atau snack lainnya buka pembungkusnya dan berikan kepada pengemudi. Jangan membawa makanan yang berbau menyegat dalam kendaraan, ini akan membuat konsentrasi pengemudi terganggu.
www.thesun.co.uk (memberi makana ringan pada pengemudi)
3. Setel musik Bila di mobil pengemudi menyetel lagu baik itu radio ataupun yang lainnya biarkan, karena ini membuat pengemudi bahagia, optimis dan penuh energi selama perjalanan. Anda juga boleh memilih lagu bila memang ingin juga menikmati lagu lainnya. Baca juga: Pengamat Menjawab 6 Permasalahan Antara Penumpang dan Maskapai Penerbangan 4. Biarkan Mereka marah Bila terjadi kemacetan secara tiba-tiba dan pengemudi marah saat terjebak serta seperti gagal mengantar Anda tepat waktu, biarkan mereka berteriak. Sebab teriakan kemarahan bisa melepaskan ketegangan dari sang pengemudi dan bisa menghilangkan stress dari sedikit kegagalan mengantar Anda dengan sempurna sampai tujuan dan tepat waktu. 5. Jangan tertidur Hal terburuk yang mungkin dilakukan penumpang adalah tertidur dan meninggalkan pengemudi sendirian, di jalan raya yang lurus dan membosankan. Minta kopi sebelum Anda berangkat dan terus mengobrol untuk menemani pengemudi agar tidak mengantuk juga.
NgeHits.net

Lebar Bentang Rel Menjadi Ciri Khas Jalur KRL Jabodetabek

Jalur kereta komuter sudah lumrah hadir di beberapa daerah di Tanah Air, namun yang menjadi maskot dan barometer nasional adalah jalur KRL (Keret Rel Listrik) Jabodetabek yang dikelola olehPT KAI Commuter Jabodetabek (KCJ). Banyak cerita yang menarik seputar KRL yang telah beroperasi sejak tahun 1976 ini, diantaranya ada fakta bahwa jalur rel KRL Jabodetabek hanya bisa digunakan oleh rangkaian kereta asal Jepang. Ini bukan terkait monopoli atas pengadaan dan lain-lain, melainkan menyangkut lebar rel yang urusannya berhubungan dengan sejarah panjang kereta api di Indonesia. Baca juga: Antisipasi Pelecehan Seksual di KRL, Ikuti Tips Berikut Ini Dirunut dari sejarah, pada tahun 1864 Pemerintah Hindia Belanda memulai proyek untuk membangun lintasan kereta dari Jakarta ke Bogor (d/h Batavia ke Buitenborg). Dari sejak proyek dimulai, namun pembangunan jalur rel baru dimulai pada tahun 1869. Ada jeda implementasi selama lima tahun, apakah kucuran dana tersedat? Baca juga: Ingin Menikmati Sensasi Kereta Cepat, Bentang Lebar Rel Harus Diganti Dikutip KabarPenumpang.com dari buku “The Untold Story of E-Ticketing – Kisah di Balik Modernisasi KRL Jabodetabek,” disebutkan bahwa jeda lima tahun dicurahkan hanya untuk mengkaji lebar rel (spoorwijdte). Awalnya lebar rel dirancang dan dipasang selebar 1.435, yakni jenis track standar yang paling banyak digunakan di seluruh dunia, sebagaimana dirancang oleh George Stephenson, Bapak Perkeretaapian Dunia. Lebar rel 1.435 mm pun sudah diterapkan di jalur kereta api Semarang, Surabaya, dan Yogyakarta. Namun, Menteri Urusan Jajahan Belada De Wall pada 27 September 1869 justru memutuskan lebar rel mengadopsi standar 1.067 mm, atau dikenal sebagai track Afrika Selatan dan juga digunakan oleh Jepang. Baca juga: Anda Mau “Survive” di Dalam Gerbong KRL? Yuk Ikuti Tipis Berikut Ini Mengapa De Wall memutuskan penggunaan lebar rel 1.067 mm? Ini ternyata sudah melalui penelitian insinyur perkeretaapian JA Kool dan guru besar sekolah politeknik di Delft, NH Henket. Untuk jalur Jakarta – Bogor, bila tetap menggunakan lebar rel 1.435 mm, maka diperlukan dana 4 juta gulden, atau 68.259 gulden per kilometer. Namun dengan lebar rel 1.067 mm dapat dihemat 0,80 juta gulden, dengan total biaya hanya 3,19 juta gulden atau 43.600 per kilometer. Baca juga: Mei 2017, Jumlah Penumpang KRL Jabodetabek Tembus 1 juta Per hari Pada akhirnya, lintasan kereta Jakarta – Bogor resmi dioperasikan pada 31 Januari 1873. Dan sampai saat ini, lebar rel lintasan Jakarta – Bogor tetap 1.067 mm. Entah menjadi berkat atau sekaliknya, yang jelas lintasan KRL Jabodetabek hanya bisa dipasok KRL dari Jepang, negara yang sama-sama mengadopsi rel dengan lebar 1.067 mm. Seandainya dahulu yang diadopsi adalah standar lebar rel 1.435 mm, maka laju kereta bisa lebih tinggi, dan tak sulit bila nantinya ingin mentransformasikan penggunaan kereta cepat.

BC Ferries Operasikan Kapal Ferry Pertama dengan Bahan Bakar Ganda

British Columbia Ferries atau biasa disebut BC Ferries memiliki kapal pertama yang menggunakan bahan bakar ganda salah satunya dengan LNG yakni kapal ferry Salish Orca. Kapal ini juga menjadi salah satu di antara tiga kapal bertenaga gas milik operator Kanada yang diperintahkan oleh kantor pusat pembuatan kapal di Polandia. Salish Orca milik BC Ferries ini akan melayani rute Comox menuju ke Power River. Untuk penyambutan kapal baru, Presiden dan CEO Mark Collins memotong pita dalam acara seremonial untuk menandai kapal Salish Orca menjadi yang pertama menggunakan bahan bakar LNG. Dilansir KabarPenumpang.com dari passengership.info, Salish Orca adalah yang pertama dari tiga kapal kelas Salish baru yang sudah menggunkan bahan bakar ganda. Selain itu, kapal Salish Orca ini juga mampu beroperasi dengan gas alam atau diesel belerang dengan ultra rendah untuk laut. Dengan penggunaan gas alam, BC Ferries mengatakan, kapal-kapal yang berlayar akan mengurangi sekitar 9000 metrik ton karbon dioksida atau kira-kira sama dengan 1900 kendaraan penumpang di jalan pertahunnya. Kapal ini diperkirakan mampu menampung kendaraan hingga 145 deng penumpang hingga 600 orang sudah termasuk awak kapalnya sendiri. Selain itu Salish Orca dilengkapi dengan dua sistem evakuasi laut yakni detektor asap serta sistem penanggulangan kebakaran yang mutahkir dan rakit keselamatan. Kapal ferry Salish Orca memiliki panjang 107 meter secara keseluruhan dan mampu melaju hingga kecepatan 15,5 knot. “Dengan kapal baru ini, kami terus bergerak menuju standarisasi armada kami, yang menawarkan kemampuan pengoperasian dan pengoperasian awak interoperabilitas dan rendah, dan juga meningkatkan keamanan,” ujar Collins. Setelah adanya Salish Orca, BC Ferries akan mempensiunkan armada Queen of Nanaimo dan the Queen of Burnaby serta menggantikannya dengan kapal kelas Salish yang dijadwalkan beroperasi 2017 ini. Diketahui adalah perusahaan publik yang dikelola secara independen dan menyediakan semua layanan ferry penumpang dan kendaraan untuk masyarakat pesisir dan pulai di provinsi British Columbia, Kanada. Perusahaan ini beerdiri tahun 1960 dan menjadi jalur ferry untuk penumpang terbesar di Amerika Utara dan kedua terbesar di dunia. Saat ini diketahui, BC Ferries memiliki sebanyak 35 armada kapal ferry dengan melayani 47 lokasi di pesisir British Columbia.