‘Kereta Ekonomi Kerakyatan’ Siap Beroperasi Sebagai KA Tambahan Lebaran, Tarif Promonya Segini

Terobosan yang dibuat oleh Balai Yasa Manggarai memang patut di apresiasi. Ya, rangkaian kereta api yang telah dimodifikasi ini nantinya akan digunakan sebagai angkutan Lebaran 2026. Dinamakan Kereta Ekonomi Kerakyatan, tentunya rangkaian kereta ini akan digunakan sebagai layanan kelas ekonomi namun memiliki interior yang berbeda dari kelas ekonomi biasa. Bukan fasilitas premium, namun tentunya jika melihat dan merasakan kereta ini seperti mengingat kembali pada masa jayanya kereta kelas bisnis. Disebut-sebut kelas bisnis karena pada bagian kursi dibuat senyaman mungkin. Meskipun konfigurasi kursi adalah 2+3 tapi keunikannya pada kursi tersebut memiliki kenyamanan yang bisa dirasakan penumpang. Kini rangkaian Kereta Ekonomi Kerakyatan dapat dinikmati masyarakat pada arus mudik Lebaran 2026 nanti. PT Kereta Api Indonesia Persero (KAI) membuka penjualan tiket Kereta Ekonomi Kerakyatan mulai 25 Februari 2026 pukul 00.00 WIB untuk periode keberangkatan 11 Maret hingga 1 April 2026. Menurut Vice President Corporate Communication KAI Anne Purba yang dikutip laman Detik menyampaikan bahwa pengoperasian sarana ini disiapkan untuk menjawab kebutuhan mobilitas masyarakat pada periode mudik Lebaran. Kereta Ekonomi Kerakyatan dihadirkan untuk memperluas akses perjalanan Lebaran. Kapasitas yang bertambah, kenyamanan yang meningkat, dan tarif terjangkau, merupakan bagian dari strategi untuk menjaga keseimbangan antara daya angkut dan kualitas perjalanan saat permintaan Lebaran meningkat. Kereta ini bakal dirangkaikan pada KA Tambahan relasi Pasarsenen – Lempuyangan dengan komposisi lima kereta eksekutif dan empat sarana kereta ekonomi kerakyatan. Total kapasitas kereta eksekutif sebanyak 250 tempat duduk dan ekonomi kerakyatan sebanyak 372 tempat duduk. Rangkaian tersebut beroperasi pada KA 7039 Tambahan Lempuyangan. Berangkat dari Stasiun Lempuyangan pukul 06.00 WIB dan tiba di Stasiun Pasar Senen pukul 13.56 WIB. Serta, KA 7040 Tambahan Lempuyangan keberangkatan dari Stasiun Pasarsenen pukul 15.25 WIB dan tiba di Stasiun Lempuyangan pukul 22.57 WIB. Masyarakat kini sudah bisa memesan tiket perjalan Kereta Ekonomi Kerakyatan melalui aplikasi Access by KAI atau laman resmi kai.id. Untuk harga tiket yang diberikan, KAI memberlakukan harga promo untuk rute Pasarsenen – Lempuyangan maupun sebaliknya. Harga promo tersebut mulai dari Rp133.000 – Rp175.000. Sarana ini merupakan hasil modifikasi kereta ekonomi AC package generasi sebelumnya yang dikerjakan Insan Balai Yasa Manggarai. Penyesuaian difokuskan pada interior serta konfigurasi kursi untuk meningkatkan pengalaman perjalanan jarak jauh. Setiap unit memiliki 93 kursi yang lebih ergonomis dan lebih lapang dibandingkan susunan sebelumnya yang berkapasitas 106 kursi. Fitur reversible memungkinkan arah kursi disesuaikan dengan laju kereta api sehingga meningkatkan kenyamanan pelanggan.
KAI Segera Hadirkan ‘Kereta Ekonomi Kerakyatan’, Siap Beroperasi saat Lebaran 2026

Meski Ditutup, Penumpang Justru Merasa Nyaman dengan Akses Pintu Baru di Stasiun Pondok Cina

Stasiun Pondok Cina yang kita ketahui merupakan stasiun yang sangat strategis dan sangat mudah diakses bagi masyarakat. Posisinya yang berdekatan dengan universitas terkenal di Kota Depok apalagi banyak kuliner yang membuat stasiun ini dibilang tak pernah sepi. Ya, akses Stasiun Pondok Cina sangat diminati masyarakat, bahkan untuk senyaman saat naik Kereta Rel Listrik (KRL) Commuter Line. Saat ini Stasiun Pondok Cina sudah memiliki akses baru yaitu melalui pintu masuk maupun keluar melalui bangunan apartemen. Tak heran informasi yang sudah beredar di media sosial bahwa akses pintu masuk maupun keluar stasiun ini sudah dialihkan. Bahkan penumpang yang biasanya melewati pintu tersebut terpaksa harus melalui akses pintu baru. Diketahui bahwa akses lama sisi timur Stasiun Pondok Cina ditutup sejak Sabtu, 21 Februari 2026. Bahkan hingga saat ini pengguna diarahkan masuk lewat akses masuk yang terhubung dengan apartemen Mahata di Pondok Cina. Melalui pintu tersebut sebenarnya lebih dimudahkan untuk menggunakan fasilitas yang disediakan. Bahkan, fasilitas yang sudah ada justru lebih mudah dan sangat ramah bagi kaum disabilitas dan lansia. Pintu masuk baru ini berada tak jauh dari area parkir stasiun sehingga mudah dijangkau penumpang yang datang dari arah tersebut. Penumpang yang turun dari KRL di Stasiun Pondok Cina bisa langsung diarahkan menuju pintu masuk bangunan baru. Tentunya, petugas juga berjaga tepat di beberapa titik termasuk di depan pintu masuk. Petugas tersebut tentunya selalu memberi arahan kepada setiap penumpang yang datang. Untuk mencapai hall utama di lantai dua, pengguna perlu menggunakan lift sebanyak dua kali sebelum berjalan menuju area tap in. Setelah melakukan tap in, penumpang dapat langsung turun menuju peron sesuai tujuan perjalanan, baik arah Bogor maupun arah Jakarta Kota. Tangga pun tersedia untuk masing-masing jalur. Secara keseluruhan, waktu tempuh dari pintu masuk hingga ke peron diperkirakan sekitar empat hingga tujuh menit, tergantung kepadatan. Sejumlah penumpang mengaku masih menyesuaikan diri dengan alur baru tersebut. Mereka menilai perubahan ini membuat perjalanan sedikit berbeda dibanding sebelumnya. Arahan dari petugas ternyata sangat membantu para penumpang terutama yang turun dari perjalanan KRL. Bahkan dari informasi yang dikabarkan, penumpang merasa lebih nyaman melewati pintu baru melalui apartemen. Mereka merasa lebih aman dan nyaman untuk akses tersebut. Apalagi, alur di dalam bangunan cukup jelas setelah mendapatkan arahan. Sebelumnya, akses di bangunan lama Stasiun Pondok Cina digunakan penumpang untuk pintu keluar dan masuk. Kini, arus pengguna dialihkan ke bangunan baru di lantai 2 sisi timur melalui arah Apartemen Pondok Cina. Langkah tersebut diambil untuk menekan risiko kecelakaan saat penumpang berpindah peron. Sementara itu, akses dari sisi barat stasiun tetap beroperasi seperti biasa.
Masa Lalu Stasiun Bekasi, Sempat Berstatus Sebagai Halte Besar

Tak Kenal Maka Tak Sayang, Inilah Makna di Balik Penamaan Armada Airbus

Setiap perusahaan yang bergerak di bidang manufaktur moda, mesti memiliki cerita tersendiri di balik penamaan moda yang mereka ciptakan. Jika pada artikel sebelumnya sudah sedikit diceritakan mengenai serba-serbi penamaan armada dari raksasa aviasi Amerika, Boeing, maka kali ini giliran rival utamanya, Airbus. Ya, perusahaan yang bermarkas di Leiden, Belanda ini juga memiliki cerita tersendiri di balik penamaan armada burung besinya. Baca Juga: Inilah Alasan, Mengapa Boeing Menggunakan Angka 7 di Produk Jet Komersialnya Sebenarnya, penamaan armada burung besi ini lebih kepada kode yang merepresentasikan armada itu sendiri. Seperti yang dilansir KabarPenumpang.com dari laman travelandleisure.com, mayoritas armada Airbus ini diawali oleh alfabet A, yang merujuk pada perusahaan Airbus itu sendiri. Lalu setelah alfabet A tersebut, Airbus menggunakan kombinasi tiga hingga enam angka yang memiliki artiannya masing-masing. Sebut saja model pertama yang dirakit oleh perusahaan adalah A300. Angka 300 di sini merepresentasikan kapasitas murni dari pesawat yang melakukan first maiden pada 28 Oktober 1972 silam. Namun setelah melewati berbagai pertimbangan, akhirnya pihak Airbus menyadari bahwa mengudara dengan hanya membawa 260 penumpang itu lebih baik ketimbang mengangkut 300 penumpang – mungkin dipengaruhi oleh load factor yang kala itu belum setinggi sekarang. Alih-alih mengganti nama pesawat tersebut menjadi A260 – karena hanya berisikan 260 seat untuk penumpang, Airbus lalu mengambil keputusan untuk mengubah nama armada yang jumlah bangkunya sudah direduksi tersebut menjadi A300B. Sejak saat itu, perusahaan mulai menerapkan pakem dalam urusan penamaan armadanya – dimana Airbus akan menggunakan angka kelipatan 10 untuk menamai armadanya (A300, A310, A320, A330, A340, A350, hingga A380). Ada alasan tersendiri mengapa perusahaan melompati angka A360 dan A370, dimana alih-alih perusahaan berubah pikiran dan ingin merakit kembali pesawat yang memiliki ukuran di antara A350 dan A380. Ya, A380 merupakan pesawat jet penumpang terbesar saat ini. Baca Juga: Beberapa Hal Yang Terlupakan dari Nama Besar Boeing Lalu, bagaimana dengan A320-231? Apakah ada makna tersendiri di balik penggunaan tiga digit angka terakhir? Sederhananya seperti ini, contoh di atas merupakan bagian dari keluarga A320. Digit pertama (angka 2) merepresentasikan seri kedua dari armada jenis ini (A320-200). Sedangkan digit terakhir merepresentasikan jenis mesin yang digunakan oleh pihak Airbus. Secara garis besarnya, tiga digit angka yang ada di belakang tanda baca strip ini merupakan minor upgrades yang dilakukan oleh perusahaan.  

Nama Kereta Api Favorit Ini Berasal dari Nama Sungai Terkenal di Indonesia, Apa Saja?

Tak sekadar pelayanan dan fasilitas terbaik yang menjadi prioritas utama, namun dibalik nama-nama kereta api yang sering digunakan masyarakat berasal dari nama sungai yang terkenal di Indonesia. Banyak kereta api favorit masyarakat bahkan sebagai perjalanan setia menuju destinasi unggulan ke berbagai kota yang dilewati kereta api tersebut. Identitas kereta api di Indonesia tentu banyak yang diambil dari alam nusantara. Jika selama ini kita akrab dengan nama gunung seperti KA Lawu dan Argo Semeru, ada juga beberapa nama kereta api yang diambil dari nama tempat di kota tersebut bahkan dijadikan singkatan. Nah, selain itu nama sungai yang digunakan sebagai nama kereta api pun ada berbagai macam yang tentunya dilewati kereta api tersebut. Berikut ini daftar nama-nama sungai yang digunakan pada beberapa nama kereta api. 1. Kereta Api Logawa (Purwokerto-Jember) Kereta api Logawa merupakan kereta api penumpang kelas bisnis dan ekonomi dengan rute Purwokerto–Jember. Kereta yang sudah beroperasi sejak 21 April 1999 tersebut pernah melaju sampai Stasiun Cilacap sampai tahun 2011. Sementara itu, nama Logawa diambil dari salah satu sungai di Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah, yakni Kali Logawa dan merupakan salah satu anak Kali Serayu. 2. Kereta Api Progo (Lempuyangan–Pasar Senen) KA Progo, kereta ekonomi rute Lempuyangan–Pasar Senen, ternyata punya sejarah panjang. Beroperasi sejak 2002, kereta ini dulunya merupakan bagian dari layanan KA Senja tahun 1970-an. Namanya diambil dari Sungai Progo yang membelah tiga kabupaten di Daerah Istimewa Yoguakarta (DIY), yaitu Sleman, Kulon Progo, dan Bantul. 3. Kereta Api Bengawan (Purwosari-Pasar Senen) Kereta api Bengawan merupakan kereta api dengan layanan ekonomi dengan rute Stasiun Purwosari, Surakarta sampai Stasiun Pasar Senen. Bengawan adalah sungai di Jawa Tengah, yang menjadi sungai terpanjang di Pulau Jawa. Dalam sekali jalan, KA Bengawan menempuh perjalanan selama 9 jam 28 menit. 4. Kereta Api Brantas (Blitar–Pasar Senen) Memiliki rute perjalanan dari Blitar sampai Pasar Senen dengan penumpang kelas eksekutif dan ekonomi. Umur kereta ini termasuk sudah tua karena telah dioperasikan sejak 1 Oktober 1998 dengan relasi Kediri–Tanahabang via Manggarai. Nama kereta ini diambil dari Kali Brantas yang merupakan sungai terpanjang kedua di Pulau Jawa yang mengalir melewati satu kota dan empat kabupaten di Jawa Timur. 5. Kereta Api Serayu (Purwokerto-Pasar Senen) Nama kereta api yang terinspirasi dari sungai di Indonesia berikutnya adalah KA Serayu. Kereta ini melayani rute dari Purwokerto ke Pasar Senen dan telah beroperasi sejak 15 November 1990. Kereta api Serayu diambil dari nama Sungai Serayu yang terletak di Jawa Tengah dan membelah Kabupaten Banyumas, Kabupaten Cilacap dan Kabupaten Purbalingga. 6. Kereta Api Bogowonto (Lempuyangan-Pasar Senen) Memiliki rute lintas Jawa Tengah dengan relasi perjalanan dari Stasiun Lempuyangan sampai Pasar Senen. Kereta tersebut melayani penumpang kelas eksekutif dan ekonomi premium, sejak 3 September 2010. Nama Bogowonto yang digunakan sebagai diambil dari Sungai Bogowonto yang mengalir melalui Kabupaten Wonosobo dan Purworejo, Jawa Tengah hingga bermuara di Samudera Hindia.
Yuk, Kenali Terowongan Kereta Api Terpanjang di Dunia, Ada yang Hampir 60 Km

Ini Penjelasan KAI Kembali Kirim 12 Lokomotif dari Pulau Sumatra ke Jawa

Perjalanan kereta api kini semakin ramai dengan berbagai destinasi tujuan yang sudah diberlakuksn. Apalagi menjelang musim libur Lebaran 2026, berbagai perjalanan kereta api tambahan pun telah dipersiapkan. Ya, seperti yang dikabarkan di media sosial bahwa PT Kereta Api Indonesia Persero (KAI) tengah siap siaga untuk selalu melakukan pengecekan baik rangkaian kereta maupun lokomotif. Tak hanya itu persiapan yang justru paling utama adalah pada lokomotif penarik rangkaian kereta khususnya penumpang jelang arus mudik nanti. Sejumlah lokomotif yang berada di jalur Pulau Jawa dipersiapkan untuk mengantisipasi jika terjadi adanya lonjakan penumpang dan mengharuskan untuk menjalankan tambahan. Selain itu lokomotif yang tersedia juga diantisipasi sebagai posko atau posisi standby jika ada masalahnya yang terjadi, salah satunya adalah gangguan pada mesin. KAI juga tengah mengirim armada lokomotif penarik dengan seri CC 206 dari jalur Sumatra. Tentunya dalam rangka memperkuat kesiapan operasional Angkutan Lebaran 2026. Sebanyak 12 unit lokomotif dikirim dari Pulau Sumatra ke Pulau Jawa. Pengiriman ini menjadi bagian dari dukungan perusahaan terhadap kelancaran mobilitas masyarakat. Pengiriman dilakukan melalui layanan KALOG Pro pada segmen Project Logistics yang secara khusus memiliki kapabilitas dalam penanganan pengiriman kebutuhan logistik heavy cargo. Sebanyak 12 unit lokomotif tipe CC 206 dengan total bobot mencapai 1.056 ton. Setiap unit memiliki berat sekitar 88 ton dikirim secara bertahap dengan perencanaan teknis yang komprehensif serta koordinasi lintas fungsi yang terintegrasi. Dirangkum dari laman Detik, Direktur Komersial KAI Logistik, Fahdel Akbar, menyampaikan bahwa pengiriman ini merupakan wujud komitmen perusahaan dalam mendukung dan menjadi ekosistem dalam penyelenggaraan angkutan lebaran yang andal. Dengan bobot dan nilai aset yang signifikan, setiap tahapan dirancang secara presisi untuk menjamin keamanan dan ketepatan waktu. Diketahui bahwa distribusi lokomotif dimulai sejak 18 Februari 2026, dengan rute pengiriman dari Depo Gerbong Rejosari Divisi Regional (Divre) 4 Tanjungkarang menuju Stasiun JICT wilayah Daerah Operasi (Daop) 1 Jakarta. Proses pengiriman ditargetkan selesai sesuai rencana operasional, dengan peluang percepatan melalui pola kerja yang optimal dan efisien. Fleksibilitas ini memungkinkan pemilihan moda transportasi yang paling efektif, mulai dari pengangkutan menggunakan kereta api hingga trucking, termasuk penggunaan trailer untuk gerbong datar serta truk multi axle untuk pengiriman lokomotif. Skema tersebut memastikan kelancaran distribusi sekaligus menjaga standar keselamatan selama proses berlangsung. Sebelumnya KAI telah berkontribusi dalam pengiriman sarana perkeretaapian sejumlah 7 lokomotif pada periode Angkutan Natal dan Tahun Baru 2025/2026. Diketahui, seluruh proses pengiriman tentunya dilindungi asuransi sebagai langkah mitigasi risiko atas barang bernilai tinggi, serta diawasi melalui mekanisme joint inspection saat keberangkatan dan penerimaan guna memastikan kondisi lokomotif tetap sesuai standar.
INKA CC300, Mampu Lintasi Banjir, Inilah Lokomotif Diesel Karya Anak Bangsa

Tiga Negara Asia Tenggara Masuk Daftar Hotspot Penipuan Taksi Terburuk Dunia

Bagi banyak wisatawan, menggunakan taksi di negara asing sering kali menjadi pilihan transportasi yang paling praktis. Namun, sebuah laporan terbaru yang dirilis oleh platform asuransi perjalanan Inggris, Quotezone.co.uk, memberikan peringatan serius bagi para pelancong yang berencana mengunjungi Asia Tenggara. Berdasarkan ulasan dari ribuan wisatawan, tiga negara di kawasan ini masuk dalam daftar sepuluh besar tujuan wisata dunia dengan insiden penipuan taksi (taxi scam) tertinggi di dunia. Thailand menempati posisi teratas sebagai negara dengan jumlah keluhan penipuan taksi terbanyak di Asia Tenggara, dan menduduki peringkat kedua secara global tepat di bawah Turki. Isu utama yang sering dikeluhkan oleh turis di Negeri Gajah Putih ini adalah praktik pengemudi taksi yang menolak menggunakan argometer atau sengaja mengambil rute yang lebih jauh demi menaikkan tarif. Selain Thailand, dua negara tetangganya yakni Vietnam dan Filipina juga masuk dalam daftar hitam ini, masing-masing menempati posisi ke-6 dan ke-10 di tingkat dunia. Di Vietnam, para wisatawan sering kali melaporkan modus penipuan yang melibatkan manipulasi tarif pada layar meteran atau pengalihan rute secara sepihak ke hotel atau toko tertentu di mana pengemudi mendapatkan komisi. Sementara itu, di Filipina, masalah klasik berupa pengenaan harga tetap (fixed price) yang jauh di atas tarif normal masih menjadi momok bagi para turis, terutama di titik-titik transportasi utama seperti bandara dan terminal bus. Laporan ini disusun dengan menganalisis frekuensi kata kunci “penipuan taksi” atau “tarif mahal” dalam ulasan wisatawan di lima destinasi wisata populer di setiap negara. Meskipun data ini mencerminkan tingginya keluhan, para ahli perjalanan menekankan bahwa angka tersebut juga dipicu oleh tingginya volume kunjungan turis ke negara-negara tersebut. Semakin populer sebuah destinasi, semakin besar pula peluang munculnya oknum pengemudi yang mencoba mengambil keuntungan tidak sah dari ketidaktahuan pendatang. Untuk meminimalisir risiko menjadi korban, para pelancong disarankan untuk lebih cerdas dalam memilih moda transportasi. Penggunaan aplikasi ride-hailing atau transportasi daring sering kali menjadi solusi paling aman karena tarif sudah ditentukan sejak awal dan rute perjalanan terpantau secara digital. Jika harus menggunakan taksi konvensional, pastikan untuk selalu meminta pengemudi menyalakan argometer sebelum kendaraan bergerak atau melakukan riset singkat mengenai estimasi tarif normal dari titik keberangkatan ke tujuan. Kesadaran akan risiko ini bukan berarti harus menyurutkan niat untuk menjelajahi keindahan Asia Tenggara. Dengan tetap waspada dan memanfaatkan teknologi transportasi yang ada, wisatawan tetap dapat menikmati pesona eksotis Thailand, Vietnam, dan Filipina tanpa harus terjebak dalam perangkap biaya yang membengkak akibat ulah oknum tidak bertanggung jawab.
Pertama Kali Mau Naik Taksi di Luar Negeri? Sebelumnya Baca Tips Ini

Kereta Api Supas Probolinggo Resmi Beroperasi 1 Maret 2026, Cek Cara Beli Tiket Online

Perjalanan kereta api lokal di wilayah Daerah Operasi (Daop) 8 Surabaya akhirnya membuahkan hasil. Digadang-gadang kereta lokal tersebut permintaan dari masyarakat khususnya Surabaya maupun Probolinggo nantinya sudah bisa menggunakan layanan tersebut. Ya, kabar baik ini akan dijalankan sesuai dengan persetujuan khususnya dari pemerintah Kota Probolinggo akan menjalankan rangkaian kereta api lokal dengan rute Surabaya – Probolinggo pulang pergi. Diketahui kereta api lokal yang dikelola oleh PT KAI Commuter ini memiliki rute Surabaya Kota – Pasuruan pulang pergi yang berhenti tiap-tiap stasiun, seperti: Surabaya Gubeng, Wonikromo, Waru, Gedangan, Sidoarjo, Tanggulangin, Porong, Bangil dan Pasuruan. Harga tiket yang diberikan pun relatif murah yakni Rp6.000 sekali jalan. Peminat Supas pun cukup variatif. Jika saat hari biasa pagi dan sore cukup ramai oleh penumpang, namun saat hari libur kereta ini digunakan olej masyarakat yang ingin menghabiskan waktu di Kota Surabaya. Informasi mengenai jadwal Commuter Line Supas diperpanjang hingga Stasiun Probolinggo pun beredar di media sosial Instagram maupun Tiktok PT Kereta Api Indonesia Persero (KAI). Ya, baru-baru ini jadwal perpanjangan rute tersebut sudah ketok palu dan resmi dijalankan sebagai rangkaian Commuter Line Supas. Adapun jadwal perjalanan Commuter Line Supas adalah sebagai berikut: • KA 453B berangkat Surabaya Kota: 01.50 WIB – tiba Probolinggo: 03.45 WIB • KA 454B berangkat Probolinggo: 04.10 – tiba Surabaya Kota: 06.42 WIB • KA 459B berangkat Surabaya Kota: 18.10 WIB – tiba Probolinggo: 20.57 WIB • KA 460B berangkat Probolinggo: 21.22 – tiba Surabaya Kota: 23.36 WIB Sebagai catatan bahwa perjalanan perdana akan dijalankan sebagai rangkaian uji coba mulai tanggal 1 Maret 2026. Tentunya perjalanan awal ini bisa masyarakat gunakan dengan cara memesan tiket melalui aplikasi online Access by KAI atau melalui laman resmi kai.id. jadwal ini memungkinkan bisa menjadi alternatif masyarakat yang melakukan aktivitas baik di Kota Surabaya maupun Kota Probolinggo. Karena jarak yang ditempuh kereta ini sangat praktis dan tak memakan banyak waktu. Sebelumnya Wali Kota Probolinggo Aminuddin menyebut, kehadiran Commuter Line Supaspro menjadi jawaban atas kebutuhan transportasi massal yang terjangkau dan terintegrasi. Selain itu, adanya moda ini dapat mendorong pertumbuhan ekonomi dan pariwisata daerah. Ia berharap, masyarakat dapat memanfaatkan layanan tersebut. Menurutnya, tarif yang murah dan waktu tempuh yang pasti akan menjadikan Commuter Line Supaspro, sebagai alternatif transportasi utama. Sementara itu Direktur Utama KAI Commuter, Mochamad Purnomosidi, menjelaskan, akan berkomitmen mendukung layanan transportasi publik berbasis kebutuhan masyarakat. Tarif perjalanan direncanakan maksimal Rp8.000 sekali jalan, menyesuaikan ketentuan tarif kereta dengan jarak tempuh di atas 85 kilometer. ‎Meski demikian, tarif tersebut masih menunggu persetujuan resmi dari Kementerian Perhubungan. Tentunya pembelian tiket nantinya tetap dilakukan secara online.
Mengenal Kereta Api Lokal yang Super Murah dan Wajib Kalian Tahu

Hari Ini 61 Tahun Lalu, Douglas DC-9 Terbang Perdana, Jadi Cikal Bakal Lahirnya Boeing 717

Pada hari ini, 57 tahun lalu, bertepatan dengan 25 Februari 1965, pesawat Douglas DC-9 sukses terbang perdana. Pesawat ini dengan cepat menjadi primadona bagi maskapai dan penumpang, menjadikannya sebagai salah satu pesawat tersukses di kelas yang segenerasi dengannya.

Baca juga: Inikah Lokasi Pesawat Bersejarah DC-9 “Woyla” PK-GNJ Garuda Indonesia Berada Saat Ini?

Dilansir dari berbagai sumber, pengembangan pesawat Douglas DC-9 telah direncanakan perusahaan sejak dekade 50-an. Ketika itu, Douglas ingin membuat pesawat dengan kapasitas dan jangkauan yang lebih dari pendahulunya DC-8.

Berbagai opsi pun muncul, termasuk membuat pesawat dengan empat mesin. Namun, saat rencana ini disampaikan ke maskapai, responnya kurang memuaskan dan otomatis opsi tersebut gugur. Perusahaan pun sempat buntu terkait pengembangan pesawat baru.

Pada tahun 1962, studi pengembangan pesawat baru kembali dilanjutkan. Setelah beberapa waktu, desain pesawat dengan kapasitas 63 penumpang pun lahir. Desain ini kemudian diubah menjadi desain pesawat DC-9 versi awal. Douglas juga memberikan persetujuan memproduksi DC-9 pada tanggal 8 April 1963.

Desain DC-9 versi awal ini seluruhnya serba mutakhir dan sangat berbeda dengan DC-8. DC-9 didesain menggunakan dua mesin turbofan Pratt & Whitney JT8D yang dipasang di belakang, sayap yang relatif kecil, efisien, dan T-tail. Pesawat ini mampu menampung 80 – 135 penumpang tergantung versi dan konfigurasi tempat duduk.

DC-9 dirancang beroperasi di rute-rute pendek dan menengah dengan runway yang lebih pendek dan infrastruktur yang lebih sedikit daripada bandara utama di sebuah negara. Karenanya, tak heran bila pesawat dilengkapi dengan airstairs untuk memudahkan penumpang turun di bandara yang tak memiliki garbarata.

Desain engine yang dipasang di ekor diklaim memiliki banyak kelebihan, di antaranya membuat flap pesawat lebih panjang, engine blast di trailing edge, dan tidak terhalang oleh pod di leading edge. Desain yang lebih simple juga meningkatkan aliran udara pada kecepatan rendah, memungkinkan kecepatan lepas landas dan approach yang lebih rendah, sehingga memberikan berbagai keuntungan.

Kentungan lain dengan desain mesin di bagian belakang pesawat adalah berkurangnya kemungkinan foreign object damage atau kerusakan akibat benda asing yang terhisap dari runway dan apron. Namun demikian, posisi mesin di bagian belakang badan pesawat memungkinkannya menghisap es yang terbentuk di sayap.

 

DC-9 pertama akhirnya sukses terbang perdana pada 25 Februari 1965. DC-9 kedua terbang beberapa minggu kemudian. Total, ada lima DC-9 yang sukses terbang perdana sampai bulan Juli, sebagai bagian dari uji coba. Kelima pesawat tersebut dilaporkan terbang cukup mulus dan tidak ada perbaikan berarti, yang membuatnya bisa dengan segera melalui uji sertifikasi.

Terbukti, pada 23 November 1965 atau beberapa bulan setelah uji coba pesawat kelima DC-9 dilakukan, sertifikasi berhasil didapat dan beberapa pekan kemudian atau tepatnya pada 8 Desember, DC-9 resmi memasuki tahun layanan untuk pertama kalinya bersama Delta Airlines.

Sejak saat itu, DC-9 menjadi primadona baik di kalangan maskapai maupun penumpang. Sampai tahun 1982 ketika produksi berakhir, setidaknya ada 976 yang berhasil dibangun Douglas atau McDonnell Douglas (setelah merger).

Baca juga: Hari Ini, 23 Tahun Lalu, Pesawat turunan dari Douglas DC-9, MD-95 Muncul Sebagai Boeing 717

Bila cakupannya diperluas, ada sekitar 2441 unit keluarga DC-9 yang berhasil dibangun; terdiri dari 976 DC-9, 1191 MD-80, 116 MD-90, dan 155 Boeing 717 setelah McDonnell Douglas resmi merger dengan Boeing pada 2 Juli 1997.

Setelah puluhan tahun, pesawat DC-9 masih terus diandalkan beberapa maskapai di dunia, salah satunya Aeronaves TSM. Maskapai kargo asal Meksiko itu diketahui memiliki delapan pesawat DC-9 aktif produksi tahun 1967.

Mengulik Fakta! Inilah Sejarah Istilah Kata ‘Semoet’ di Stasiun Surabaya Kota

Bagi masyarakat Kota Surabaya tentu sangat identik dengan kereta api untuk melakukan perjalanan ke berbagai wilayah di Jawa Timur. Tak hanya kereta api lokal, berbagai kereta api rute jarak jauh pun banyak di gandrungi masyarakat tersebut dengan keberangkatan dari beberapa stasiun besar di Surabaya, salah satunya adalah Stasiun Surabaya Kota. Keadaan Surabaya yang makin sibuk merupakan salah satu pusat perekonomian dan pemerintahan yang mendorong adanya pembangunan infrastur kereta api di kota tersebut. Nah, Stasiun Surabaya Kota merupakan stasiun pertama di Surabaya. Pembangunannya pun dimulai pada tahun 1870 dan resmi dibuka pada 16 Mei 1878. Bangunan Stasiun Surabaya Kota kemudian diperluas dengan dua bangunan sudut dari tahun 1880 dan selesai dibangun pada tahun 1889. Awalnya, stasiun ini dirancang untuk mengangkut hasil bumi dan perkebunan dari Malang ke pelabuhan Tanjung Perak. Seiring meningkatnya penggunaan kereta api pada akhir abad ke-19, bangunan lama stasiun tidak lagi memadai. Pada 1899, stasiun lama dirobohkan dan digantikan dengan bangunan baru berarsitektur Neo-Klasik. Lokasinya bergeser sekitar 200 meter ke arah barat dari tempat sebelumnya. Perubahan ini bertujuan untuk memperluas fasilitas demi mengakomodasi peningkatan jumlah penumpang dan barang. Nama stasiun yang sebelumnya dikenal sebagai Soerabaia kemudian resmi berubah menjadi Surabaya Kota pada pertengahan 1900. Namun, suatu keunikan bahwa Stasiun Surabaya Kota juga dinamaksn sebagai Stasiun ‘Semut’. Sebagai titik sentral transportasi, Stasiun Semut menjadi saksi perjalanan panjang perkeretaapian di Pulau Jawa dan evolusinya dari zaman kolonial hingga modern. Ternyata penyebutan nama Stasiun Semut, jika ditelusuri sejarahnya terpapar dalam dua buku literasi kuno. Yaitu Spoorwegstations op Jawa karya Michiel Van B De Jong dan Gedenboek Van Staatspoer en Tramwegen van Nederlands Indie 1875-1925 tulisan S.A Reitsma. Dalam buku tersebut dituliskan bahwa pada zaman kolonial pernah ada perkemahan militer Belanda yang bermukim di dekat stasiun dengan nama ‘Semoet.’ Sehingga, kemudian nama stasiun di tepi Kalimas ini dikenal dengan nama Stasiun Semut. Namun demikian, pemerintah Gemeente Soerabaja (Pemkot Surabaya) secara resmi mengakui stasiun ini dengan nama Stasiun Soerabaja Kota. Tak hanya di era kolonial, keberadaan Stasiun Semut selama periode kemerdekaan Indonesia memegang peran vital dalam menyatukan kota Surabaya dengan daerah-daerah di sekitarnya. Namun pada 13 Juli 2012, Stasiun Semut mulai dipugar untuk dikembalikan ke bentuk aslinya setelah kesepakatan yang didapatkan dari beberapa pihak terkait, seperti Pemerintah Kota Surabaya, Balai Pelestarian Purbakala (BP3) Jatim dan Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan. Saat ini, Stasiun Semut telah ditetapkan sebagai bangunan cagar budaya berdasarkan Peraturan Menteri Kebudayaan dan Pariwisata Nomor: PM 23/PW007/MkP/2007 tentang Penetapan Stasiun Kereta Api Semut Surabaya sebagai Bangunan Cagar Budaya yang dilindungi Undang-Undang No 11 Tahun 2010 tentang Cagar Budaya. Tidak hanya sebagai pusat transportasi, Stasiun Semut juga mencerminkan kehidupan sehari-hari masyarakat sekitar. Kemudian, perkembangannya pun bukan hanya tempat naik dan turun penumpang, Tetapi juga menjadi saksi bisu perubahan sosial, ekonomi dan politik di Surabaya.
Gubeng, Angkut Hasil Bumi Hingga Serdadu Belanda, Inilah Stasiun Kebanggaan Arek Suroboyo!

Kenapa Kereta Api Pakai Nama ‘Argo’? Ternyata Ini Sejarah dan Artinya

Sebagai pengguna setia kereta api, tentu sudah tahu tentang nama-nama kereta api mulai dari kelas ekonomi hingga eksekutif. Tak hanya penamaan pada kereta api, tetapi pelayanan di setiap kelas pun berbeda-beda. Bahkan untuk kereta api kelas eksekutif sekalipun. Pada penamaan kelas eksekutif, pasti sudah mendengar dengan nama kelas ‘argo’. Ya, kata ‘argo’ ini merupakan nama-nama kereta yang diberikan oleh PT Kereta Api Indonesia Persero (KAI). Beberapa kereta api yang menggunakan kata ‘argo’ ini biasanya diberi nomor unggulan, sebagai contoh Kereta Api Argo Bromo Anggrek, Argo Lawu, Argo Muria, Argo Merbabu, dan sebagainya. Rata-rata pelayanan kereta kelas eksekutif argo ini memiliki pelayanan yang sangat memuaskan. Tapi, tahukah kalian bahwa kata Argo tersebut ternyata berasal dari bahasa Jawa Kuno? Nah, dalam bahasa Jawa Kuno, kata Argo memiliki arti gunung. Sehingga tak heran sebagian besar nama KA dengan kata Argo akan diikuti oleh nama gunung yang ada di Indonesia. Seperti yang disebutkan tadi, misalnya Argo Bromo Anggrek, Argo Semeru, Argo Wilis, Argo Muria, Argo Lawu dan Argo Merbabu. Namun jika diperhatikan lebih seksama, memang tidak semua nama kereta yang diawali kata Argo akan diikuti dengan nama gunung. Selain itu, kereta-kereta yang memiliki awalan kata Argo umumnya memiliki waktu tempuh yang lebih cepat, atau stasiun pemberhentiannya lebih sedikit ketimbang KA lainnya di rute atau relasi yang sama. Selain itu, kereta-kereta Argo dulunya disematkan pada kereta dengan layanan eksekutif yang juga menjadi kelas layanan tertinggi KAI. Kereta-kereta unggulan yang menggunakan kata argo ini juga memiliki tarif kelas atas dibanding dengan kereta api kelas lain dibawahnya. Begitu pula layanan pada ruang restorasi yang dibuat elegan layaknya restoran mewah yang memiliki suasana sangat nyaman. Hingga kini kereta api dengan layanan kelas argo ini cukup diminati masyarakat. Selain pelayanan yang nyaman, ketepatan waktu juga harus dimiliki layanan kelas ini. Kini kereta kelas eksekutif argo ini telah melintas sejak lama setelah peluncuran perdana Kereta Api Argo Bromo Anggrek dan Argo Gede pada tahun 90-an dilakukan. Bahkan masyarakat tak segan menjadi kereta ini menjadi favorit perjalanan ke berbagai macam destinasi di jalur kereta api khususnya Pulau Jawa.
KA Serayu: Acuan Para Pelancong via Selatan dari Warga di Ibu Kota