Gunakan Ballasted dan Non Ballasted Track, Panjang Rel MRT Jakarta Mencapai 36 Ribu Meter

Bentang rel MRT (Mass Rapid Transit) dari Stasiun Lebak Bulus hingga ke Stasiun Bunderan Hotel Indonesia nantinya mencapai 16 kilometer. Dan sampai saat ini, sudah 3 persen jalur rel yang terpasang, atau kurang lebih sekitar 1.300 meter. Tapi tahukah Anda, bahwa total panjang rel yang akan ditanamkan PT MRT Jakarta dalam pembangunan fase I ini mencapai 36 ribu meter.

Baca juga: Sejak 2013, Proyek MRT Jakarta Telah Menyerap Dana Rp5 Triliun

Silvia Halim, direktur konstruksi PT MRT Jakarta dalam acara Forum Jurnalis dan Blogger September 2017 menyebutkan, bahwa total panjang rel 36 ribu meter dibutuhkan untuk jalur rel utama sepanjang 16 ribu meter dan kebutuhan rel di depo Lebak Bulus yang mencapai 6 ribu meter. “Keseluruhan rel masih didatangkan dari Jepang, namun untuk bantalan rel 60 persen sudah dapat dipasok oleh industri di dalam negeri,” ujar Silvia Halim kepada KabarPenumpang di Balai Kota (28/9).

Lebih jauh, wanita lulusan Nanyang Technological University Singapore jurusan Teknik Sipil ini juga memaparkan tentang jenis struktur track yang digunakan pada proyek MRT Jakarta. Dalam penjelasannya disebutkan ada tiga lokasi penempatan track, yakni di depot, struktur layar dan struktur bawah tanah. Untuk gelar track di kawasan depot mengadopsi ballasted track, serupa dengan adopsi rel yang telah digunakan pada jalur track milik PT KAI.

Sementara yang berbeda ada di struktur layar dan struktur bawah tanah, yaitu mengusung non ballasted track. Yang disebut terakhir ini menjadi sesuatu yang baru di Indonesia, elemen track tanpa ballast ini terdiri dari rel, fastening system, insulator, rail pads, sleeper dan resilient yang terpasang pada struktur beton, dek beton (viaduct) atau pada stuktur beton bawah tanah (non ballasted track). Teknologi ini sudah diaplikasikan di Jepang sejak tahun 1980-an.

Baca juga: Ingin Menikmati Sensasi Kereta Cepat, Bentang Lebar Rel Harus Diganti

ballasted track.

Sebaliknya untuk sistem ballasted track yang sudah umum dipakai PT KAI, balas berfungsi untuk meneruskan dan menyebarkan beban bantalan ke tanah dasar, mengkokohkan kedudukan bantalan dan meloloskan air sehingga tidak terjadi genangan air di sekitar area yang dapat mengakibatkan kerusakan struktur bawah jalan. Agar ada sinergitas dengan layanan moda berbasis rel milik PT KAI, lebar rel (gauge) atau lebar poros roda yang digunakan pada jalur MRT Jakarta adalah 1.067 mm.

Tingkatkan Keselamatan Penerbangan, Lion Air Group Gandeng Ideagen Coruson

Sebagai salah satu penyedia layanan penerbangan terbesar di Indonesia, Lion Air Group diketahui tengah berusaha untuk meningkatkan manajemen keselamatan penerbangannya. Dalam usahanya tersebut, Lion Air Group menggaet Ideagen, sebuah perusahaan yang menelurkan perangkat lunak berbasis cloud, Ideagen Coruson dari Inggris.

Baca Juga: Gandeng BMKG, UnDip dan Lion Group, KNKT Kembangkan Sistem Informasi/Peringatan Dini di Bandara

Seperti yang dilansir KabarPenumpang.com dari laman enterpriseinnovation.net (21/9/2017), nantinya perangkat lunak ini akan diimplementasikan sebagai solusi keselamatan, pelaporan masalah, dan manajemen risiko secara menyeluruh. Ideagen Coruson akan memberikan Lion Air Group wewenang pengawasan di enam Air Operator’s Certificate (AOC) yang berafiliasi dengannya dan memberikan data kinerja secara terperinci. Data tersebut berisikan himbauan agar perusahaan terkait segera menyoroti kelemahan dan resiko keamanan potensial, seperti yang terkait dengan kasus faktor kebugaran pilot atau insiden selama penerbangan.

Coruson akan menggantikan sistem pendahulunya, membantu memperkokoh budaya keselamatan penerbangan melalui fungsi kekinian, seperti smart form, penandaan GEO, dan penggunaan aplikasi seluler untuk pelaporan terperinci. “Ideagen Coruson akan menjadi solusi keamanan yang berkualitas dan akan melayani fungsi yang dapat memperluas jangkauan area di suatu daerah, terutama pelaporan keselamatan dan manajemen resiko,” ungkap Jose Fernandez, Group Safety and Quality Director Lion Air Group.

“Sistem kami saat ini tidak menawarkan cara mudah untuk mengukur kinerja keselamatan di seluruh afiliasi kami, yang mengakibatkan kesulitan saat mencoba menilai kinerja maskapai secara keseluruhan. Ideagen Coruson merupakan jawaban dari semua kekurangan tersebut,” imbuh Jose. Diketahui, Lion Air Group sendiri memiliki lebih dari 182 rute penerbangan, baik dalam maupun luar negeri. Untuk penerbangan luar negeri, perusahaan yang berbasis di Jakarta ini membuka jalur menuju Singapura, Malaysia, Australia, India, Cina, dan Arab Saudi.

Baca Juga: Lion Air, Punya Citra Buruk Soal Keterlambatan Jadwal Penerbangan

“Coruson dapat diukur dan nilai utama yang akan kita lihat dari sistem ini adalah skalabilitas dan kemudahan penyebarannya di tiga negara dan enam AOC yang kami miliki saat ini,” kata Jose. Sehubungan dengan perkembangan penerbangan di dalam negeri yang terus berkembang dengan pesat, Jose mengatakan pihak Lion Air Group akan berusaha untuk mengimbangi laju perkembangan tesebut.

“Jumlah layanan yang bisa kami tawarkan akan terus bertambah karena pasar penerbangan di Indonesi terus berkembang,” tuturnya. “Kami rasa, perangkat lunak ini akan cocok dengan rencana pertumbuhan Lion Air Group yang ambisius.” Tutup Jose. Diketahui, Ideagen saat ini memiliki lebih dari 300 klien penerbangan di seluruh dunia, termasuk Emirates, International Airlines Group, Ryanair, Thomas Cook, Flybe dan KLM. Selain Lion Air Group, maskapai AirAsia dari Malaysia diketahui juga menggunakan jasa aplikasi dari Ideagen Coruson.

Kereta Peluru Fuxing Akhirnya Kembali Merajai Dunia Kereta Api Cina

Otoritas layanan transportasi di Cina baru-baru ini kembali meluncurkan kereta peluru yang beroperasi antara Beijing dan Shanghai pada Kamis lalu. Kecepatan kereta ini mencapai 350 kilometer per jam atau 217 mil per jamnya. Dilansir dari rt.com (21/9/2017), kereta ini disebut Fuxing atau peremajaan kembali dan menawarkan fitur baru yang melengkapi kursi kereta seperti port listrik, port USB dan jaringan WiFi gratis.

Baca juga: “Drone” Jatuh di Lintasan Rel, Kereta Cepat 300 Km Per Jam Aktifkan Rem Darurat

“Kereta ini sangat sangat populer sehingga tiket untuk pelayanan hari ini terjual habis seminggu yang lalu,” ujar salah seorang pejabat Cina Railway Corporation (CR), Huang Xin. Kereta ini menghubungkan Ibu Kota Cina di Utara yakni Beijing dengan pusat bisnis utama di Selatan yaitu Shanghai dengan penumpang sekitar 100 juta orang per tahunnya. Fuxing sendiri menempuh jarak 1.200 kilometer hanya dalam waktu empat setengah jam dan lebih cepat dua jam bila dibandingkan dengan kereta peluru generasi sebelumnya.

“Kereta api berkecepatan tinggi Beijing – Shanghai ini dibangun dengan standar tertinggi di dunia. Kereta Fuxing dirancang untuk perjalanan pada kecepatan 350 kilometer per jam. Mengoperasikan Fuxing pada rute ini dengan kecepatan 350 km per jam tanpa adanya pertanyaan keamanan, kehandalan dan kenyamanan,” ujar General Manager CR, Lu Dongfu.

Diketahui, kereta ini akhirnya kembali beroperasi setelah enam tahun lalu pengoperasiannya di batasi, karena pada Agustus 2008, saat pertama dioperasikan dengan kecepatan 350 km per jam, terjadi tabrakan dua kereta yang menewaskan 40 orang. Sehingga tahun 2011, kereta ini hanya bisa berjalan dengan kecepatan 250 – 300 km per jam.

Baca juga: The Dolphin Blue dan Golden Phoenix, Kereta Peluru Terbaru Tembus 400Km Per Jam

Tidak hanya dibatasi kecepatannya saja, perusahaan pembuat kereta api terbesar kedua Cina yaitu China CNR Corp Ltd menarik kembali 54 kereta api cepatnya dengan alasan keamanan penumpang. Saat ini, Cina sudah memiliki layanan kereta cepat dengan jalur khusus lebih dari 20 ribu km dan tahun 2020 mendatang ditargetkan akan menambah 10 ribu kilometer.

Hingga kini, dari kabar yang beredar di media lokal, Cina telah menjual kereta berkecepatan tinggi ini ke Rusia, Iran dan India. Pihak CR sendiri mengklaim bahwa kereta Fuxing ini dapat digunakan di iklim yang ekstrem, sehingga membuat mereka lebih kompetitif di pasar global. Kabarnya CR juga akan memasok kereta cepat untuk jalur Jakarta – Bandung.

Sejak 2013, Proyek MRT Jakarta Telah Menyerap Dana Rp5 Triliun

Proyek pembangunan jalur MRT (Mass Rapid Transit) oleh PT MRT Jakarta sudah dimulai sejak tahun 2013. Dengan segala hiruk pikuknya, warga Jakarta pun sepakat bahwa inilah proyek megastruktur terbesar yang pernah dilangsungkan di DKI Jakarta. Dan secara terbuka, manajemen PT MRT Jakarta dalam Forum Jurnalis dan Blogger hari ini (26/9) menyebutkan bahwa secara keseluruhan proses pembangunan infrasktur sudah mencapai 80,1 persen. Dan akan dikejar hingga level 90 persen sampai akhir tahun ini.

Baca juga: Merespon Tanggapan Masyarakat, MRT Jakarta Gandeng Qlue Indonesia

Hal tersebut diungkapkan direktur utama PT MRT Jakarta William P. Sabandar. Lebih detail Ia mengakatan pencapaian 80,1 persen terdiri dari dua elemen, yakni pengerjaan elevated section, di permukaan tanah dan jalan layang mencapai 70,16 persen. Dan selanjutnya pengerjaan underground section, yang terdiri dari jalur terowongan dan stasiun bawah tanah yang sudah mencapai 90,22 persen.

Dengan besarnya pencapaian yang telah dilakukan, tentu menjadi pertanyaan menarik, berapa dana yang telah digelontorkan untuk menggarap mega proyek ini? Kesan ‘wah’ memang terasa, mengingat sebagian besar komponen pada proyek ini masih harus diimpor, terutama rangkaian kereta (rolling stock) dan rel yang masih harus didatangkan langsung dari Jepang.

“Semenjak proyek MRT ini berjalan di tahun 2013, sampai saat ini dana yang telah terserap mencapai Rp5 triliun, dan sampai akhir tahun ini kami akan menyerap hingga mencapai Rp8 triliun,” ujar William P. Sabandar. Ia menambahkan secara keseluruhan pada pembangunan jalur di fase I dibutuhkan dana sampai Rp16 triliun. Sumber pendanaan MRT Jakarta sendiri berasal dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) dan pinjaman dari Japan International Cooperation Agency (JICA). Pada kesempatan temu media, William dan jajarannya berkomitmen untuk mulai mengoperasikan MRT pada Maret 2019.

Baca juga: Lintasi Tol JORR, Inilah “Special Bridge,” Jembatan Unik di Jalur MRT Fatmawati

Di pembangunan fase II yang akan menghubungkan antara Stasiun Bunderan HI sampai Stasiun Kampung Bandan, gelontoran dana yang dibutuhkan akan lebih besar lagi, yakni mencapai total Rp25,1 triliun, mengingat jalur ini secara keseluruhan di bangun di bawah tanah, dan penggarapan terowongan kereta sebagian besar berada di bawah Sungai di Jalan Gajah Mada.

Aktivitas Magma Gunung Agung Meningkat, Angkasa Pura I Siap Antisipasi Dampak Erupsi

Dalam beberapa waktu terakhir, aktivitas magma Gunung Agung di Karangasem, Bali terus mengalami peningkatan, ditandai dengan aliran magma menuju ke permukaan. Menyikapi kondisi tersebut, PT Angkasa Pura I (Persero) selaku pengelola Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai telah menyatakan kesiapannya dalam mengantisipasi dampak erupsi Gunung Agung.

Baca juga: Operasional Bandara Ngurah Rai di Bawah Bayang-Bayang Erupsi Gunung Agung

Salah satunya yaitu manajemen Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai telah menggelar rapat koordinasi mitigasi potensi dampak erupsi Gunung Agung bersama dengan pemangku kepentingan terkait pada tingkat lokal di Bali sejak 22 September 2017 ketika status ‘awas’ diberlakukan. Rapat koordinasi ini melibatkan antara lain Kepolisian Daerah Bali, TNI AU Lanud Ngurah Rai, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Bali, Perum LPPNPI Bali, dan Otoritas Bandar Udara Wilayah IV.

“Jika potensi terjadinya erupsi Gunung Agung makin tinggi dan kondisi mendesak, Bandara I Gusti Ngurah Rai akan menyiapkan sejumlah langkah mitigasi dampak, seperti menyiapkan posko tanggap darurat bencana di bandara, menyiapkan fasilitas dan penunjang seperti layanan hotline contact center, help desk airlines untuk penumpang maskapai, media center untuk media massa, dan menyiapkan kendaraan bus atau roda empat untuk mengantar penumpang jika ingin mengganti rencana perjalanan via darat atau laut,” ujar Corporate Secretary PT Angkasa Pura I (Persero) Israwadi, dalam siaran pers yang diterima KabarPenumpang.com hari ini.

Bentuk kesiapan lainnya, lanjut Israwadi, adalah prosedur operasional standar Airport Disaster Management Plan (AMDP) yang disosialisasikan kepada anggota Airport Emergency Committee (AEC) yang terdiri dari pemangku kepentingan terkait seperti TNI, Perum LPPNPI, Kepolisian Daerah setempat, maskapai, imigrasi, karantina, dan ground handling. “Sosialisasi ini memberitahukan mengenai tugas dan tanggung jawab agar apabila terjadi bencana, semua pihak sudah paham hal-hal apa saja yang harus dilakukan oleh masing-masing pihak,” imbuh Israwadi.

Selanjutnya jika teridentifikasi muncul volcanic ash atau abu vulkanik, maka Bandara I Gusti Ngurah Rai akan ditutup dan penerbangan akan dialihkan (divert) ke bandara sekitar, seperti Bandara Juanda Surabaya yang dapat menampung 12 slot penerbangan, Bandara Internasional Lombok yang dapat menampung 2 penerbangan, dan Bandara Adi Soemarmo Solo yang dapat menampung 30 slot penerbangan.

Baca juga: Abu Vulkanik, Musuh Besar Dalam Dunia Penerbangan

Selain Bandara I Gusti Ngurah Rai, Bandara Internasional Lombok juga telah melakukan sosialiasi AMDP kepada anggota AEC Lombok pada Senin (25/9/2017) pagi, sebagai lanjutan dari kegiatan koordinasi penanggulangan bencana yang sebelumnya pada 19 September 2017. Namun kali ini dengan penambahan ditambah pengecekan fasilitas penunjang dan simulasi latihan kejadian.

Keluar Bandara Ini, Wisman Dilarang Menggunakan Kantong Plastik, Kenapa Ya?

Jika Anda berencana untuk berkunjung ke Kenya, bersiaplah untuk menghadapi salah satu peraturan unik di sana, yaitu pelarangan penggunaan kantong plastik. Tercatat, Kenya merupakan salah satu negara di Afrika yang menganut peraturan pelarangan tersebut, lainnya adalah Rwanda, Kamerun, Guinea-Bissau, Mali, Tanzania, Uganda, Ethiopia, dan Malawi. Ini merupakan bentuk tindak lanjut dari upaya pencegahan pencemaran lingkungan, karena sifat plastik sendiri yang sulit diurai.

Baca Juga: Yang Tabu Saat Anda Berada di Bandara

Sebagaimana yang dihimpun KabarPenumpang.com dari laman the-star.co.ke (28/8/2017), Otorita Lingkungan dan Manajemen Nasional mengatakan bagi setiap wisatawan yang datang ke Kenya dan ketahuan membawa kantong plastik, maka mereka wajib meninggalkannya di bandara. Yang dimaksud adalah Jomo Kenyatta
International Airport yang berlokasi kota Nairobi. Hal ini mengikuti putusan pihak Pengadilan Tinggi yang melarang penggunaan kantong plastik yang dinilai kurang efektif di negara tersebut. Pelarangan ini tidak berlaku di daerah yang berada di luar teritori negara Kenya.

Keputusan tersebut membuat Kenya menjadi negara terakhir di Afrika yang memperkenalkan larangan penggunaan kantong plastik setelah Mauritania, yang diketahui memberlakukan peraturan serupa sejak tahun 2013 silam. Selain itu, ini merupakan kali ketiga pemerintah mengeluarkan peraturan yang sama, setelah sebelumnya gagal di tahun 2007 dan 2011.

Meski begitu, Kenya Association of Manufacturers mengatakan larangan tersebut belum berdampak signifikan pada perputaran roda produksi. “Kami ingin mengklarifikasi bahwa, sebagai asosiasi produsen, kami tidak pernah menentang maksud dari larangan tersebut, yaitu untuk membersihkan negara kita, untuk meningkatkan kualitas hidup semua warga negaranya,” ungkap CEO eksekutif pabrik, Phyllis Wakiaga dalam menanggapi hasil putusan pengadilan tersebut. “Kami hanya berbeda dengan cara pelaksanaannya saja, yang tidak memperhitungkan hasil konsultasi dengan pemangku kepentingan secara memadai,” imbuhnya.

Ironi mulai muncul manakala isu tentang pergantian kantong plastik dengan tas ramah lingkungan. Banyak yang beranggapan bahwa tas ramah lingkungan tersebut akan menjadi tidak higienis ketika digunakan berulang kali untuk membuang sampah, hal tersebut dikhawatirkan akan menimbulkan masalah sosial baru di Kenya.

Untuk memastikan kelancaran transisi dari kantong plastik, pihak pabrikan yang tergabung dalam sebuah asosiasi tersebut meminta pemerintah untuk melibatkan mereka dalam mengembangkan langkah-langkah yang bisa menjadi alternatif. Sebagai alternatif pelarangan, asosiasi tersebut telah mengembangkan dan mempresentasikan solusi pengelolaan limbah kepada Kementerian Lingkungan Hidup dan Sumber Daya Alam.

Baca Juga: 85% Kecelakaan Lalu Lintas di Kenya Karena Human Error

Proposal tersebut mencakup strategi bagaimana mengelola limbah di negara tersebut dan juga proses menciptakan lebih banyak lapangan kerja bagi masyarakat Kenya. “Kami meminta Kementerian Lingkungan untuk meninjau proposal ini karena potensinya akan berimbas pada pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan,” tutur Phyllis.

Diketahui, saat ini terdapat lebih dari 176 perusahaan manufaktur plastik di dalam negeri, yang secara langsung mempekerjakan 2,89 persen dari seluruh warga Kenya atau lebih dari 60.000 orang. Jika pelarangan penggunaan plastik ini diterapkan, maka secara otomatis roda produksi akan terhenti dan karyawan di manufaktur tersebut akan kehilangan pekerjaannya. Tidak hanya karyawan, pendapatan negara juga otomatis akan berkurang karena penutupan manufaktur kantong plastik.

Citilink Raup Penjualan Rp3,99 Miliar di GATF Fase II

Dalam ajang Garuda Indonesia Airlines Travel Fair (GATF) fase dua yang digelar 22-24 September 2017 kemarin, dikabarkan bahwa anak perusahaan Garuda Indonesia, yakni Citilink berhasil mencatatkan penjualan sebesar Rp3,99 miliar. Jumlah ini lebih besar dari fase pertama tanggal 10-12 Maret 2017 lalu, yang mencatatkan penjualannya sebesar Rp3,27 miliar.

Baca juga: Garuda Indonesia Travel Fair Fase II, Roadshow ke 22 Kota

Sebagai maskapai low cost carrier (LCC), Vice President Corporate Communication Citilink Indonesia Benny S Butarbutar mengatakan, pencapain ini meningkat 22 persen dari fase pertama.

“Nilai transaksi penjualan periode kedua ini mengalami peningkatan 22 persen dari GATF periode pertama, yang menunjukan peningkatan minat masyarakat untuk bepergian menggunakan Citilink Indonesia sebagai pilihan transportasi udara,” ujar Benny S Butarbutar yang dikutip KabarPenumpang.com dari tribunnews.com (25/9/2017).

Dari dua fase GATF 2017 yang diselenggarakan jumlah total penjualan tiket Citilink sebesar Rp7,26 miliar. Tujuan penerbangan yang laris pada fase kedua ini adalah Denpasar, Medan dan Yogyakarta.

Sedangkan pada fase pertama pengunjung banyak membeli tiket Citilink tujuan Denpasar, Lombok, Yogyakarta, Medan dan Malang. Pada GATF fase kedua ini Citilink menawarkan promo seperti diskon 15 persen dan juga menawarkan keanggotaan Supergreen Garuda Miles yang terintegrasi dengan Garuda Indonesia serta promo lainnya seperti paket perjalanan dan jaringan hotel di Indonesia.

Melalui pencapaian Citilink ini, target untuk megangkut 14,7 juta penumpang sepanjang tahun 2017 pastinya bisa tercapai. Tak hanya itu juga dengan jumlah armada yang terus bertambah dan ekspansi rute ke kawasan timur Indonesia serta regional akan menjadi kekuatan Citilink untuk mencapai target tahun 2017.

Baca juga: Dorong Potensi Wisata, Citilink Buka Rute Baru Medan-Yogyakarta

Penambahan armada baru Citilink Indonesia yakni enam pesawat Airbus A320 dimana ada lima unit A320Neo dan satu unit A320Ceo. Dengan penambahan enam pesawat ini melengkapi jajaran Armada Citilink menjadi 50 unit.

Diketahui jumlah pengguna jasa angkutan udara pada tahun 2017 diproyeksikan akan sedikit lebih baik dibanding tahun 2016, meski laju pertumbuhan ekonomi nasional 2017 diprediksi sebesar 5,1 persen atau sama dengan target akhir tahun 2016.

Data Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2016 menunjukkan bahwa jumlah penumpang angkutan udara mengalami kenaikan paling besar dibandingkan mode transportasi lainnya. Jumlah penumpang penerbangan domestik tercatat mencapai 80,4 juta Orang atau naik 16,97 persen dibanding tahun 2015.

Operasional Bandara Ngurah Rai di Bawah Bayang-Bayang Erupsi Gunung Agung

Gunung Agung di Karangasem, Bali saat ini berstatus awas atau berada di level IV dan menjadi salah satu gunung aktif paling eksplosif di Indonesia, yang kabarnya melebihi Gunung Merapi di Yogyakarta dan Gunung Sinabung di Sumatera Utara. Gunung Agung sendiri memiliki ketinggian 3.142 meter di atas permukaan laut dan dari puncaknya, para pendaki bisa melihat puncak Gunung Rinjani di Lombok.

Baca juga: Bandara Blimbingsari, Andalkan Konsep Green Airport dan Kearifan Lokal

KabarPenumpang.com merangkum dari berbagai sumber, yang menyatakan gunung ini merupakan gunung yang disakralkan oleh masyarakat Hindu Bali. Berbagai macam upacara adat sering kali dilaksanakan untuk menghormati gunung tertinggi di Bali tersebut.

Sayangnya, Gunung Agung tidak memberikan catatan yang detail tentang letusan yang pernah terjadi. Adapun catatan awal Gunung Agung meletus tahun 1808 yang disertai dengan uap dan abu vulkanik. Letusan kedua terjadi tahun 1821, ini menjadi lanjutan aktivitas tahun 1808.

Namun letusan tahun 1821 tidak terekam dengan jelas dan berlangsung normal. Tahun 1843, Gunung Agung kembali meletus dengan diawali aktivitas kegempaan. Kemudian tahun 1963 atau tepatnya 120 tahun setelah letusan terakhir, Gunung Agung memulai aktivitasnya kembali pada 18 Februari 1963 dengan letusan dahsyat yang mengakibatkan 1.148 orang meninggal dunia dan 296 orang luka.

Seperti halnya di di Merapi, korban tewas mayoritas terkena awan panas yang menerjang permukaan dengan lebar 70 km per segi. Letusan ini cukup dahsyat dan baru berakhir pada 27 Januari 1964. Tapi berbeda dengan ini, kala itu di Bali belum terlalu menjadi daerah tujuan wisata utama. Jalur penerbangan juga belum terlalu di perhatikan, pasalnya Bandara I Gusti Ngurah Rai yang dibangun Belanda pada tahun 1930 baru berstatus sebagai bandara internasional pada 10 Agustus 1966 atau tiga tahun setelah pengembangan proyeknya di tahun 1963.

Baca juga: Apa Kabar Fasilitas “Khusus” Bagi Penumpang?

Penyelesaian Pengembangan Pelabuhan Udara Tuban ditandai dengan peresmian oleh Presiden Soeharto pada tanggal 1 Agustus 1969, yang sekaligus menjadi momen perubahan nama dari Pelabuhan Udara Tuban menjadi Pelabuhan Udara Internasional Ngurah Rai (Bali International Airport Ngurah Rai).

Kepala Bidang Mitigasi Gunungapi, Pusat Vulkanologi Dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), Badan Geologi, Kementerian Energi Dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Gede Suantika mengatakan, penerbangan tahun itu memang terganggu dan awan panas sampai ke daerah Jawa Timur. “Terganggu iya, tetapi data jelasnya tidak tahu berapa lama. Itu bisa ditanyakan pada bagian yang menangani penerbangan,” ujar Gede saat dihubungi KabarPenumpang.com (25/9/2017).

Saat ini, Gunung Agung dengan status awasnya, Gede menambahkan, di perkirakan letusan akan besar dan bisa mengganggu penerbangan karena awan panasnya. Tapi faktanya, aktivitas bandara Ngurah Rai sampai tulisan ini diturunkan belum ada gangguan sama sekali dan masih dipastikan jalur penerbangan berjalan normal.

Berdasarkan pengukuran dari Google Maps, jarak antara Bandara Ngurah Rai di Denpasar dan Gunung Agung sekitar 75,2 kilometer, atau jika ditempuh dengan mengendarai mobil dalam kondisi lancar bisa dicapai dalam 2,5 jam. Posisi yang jelas tidak terlalu jauh, dan bila terjadi erupsi abu vulkanik, arah angin lah yang akan menentukan operasional di Bandara I Gusti Ngurah Rai.

Jerman Datangkan Saksi Bisu Pembajakan Lufthansa 1977, Indonesia Juga Punya Sejarah Yang Mirip

Tahun 1977, menjadi tahun bersejarah bagi maskapai Lufthansa. Pasalnya, Boeing 737-200 yang tengah dalam perjalanan dari Majorca menuju Frankfurt dibajak oleh sekumpulan teroris pada bulan Oktober 1977. Kini, kejadian yang hampir genap 40 tahun itu menyisakan kenangan bagi semua orang yang merasakan ketegangan di dalam penerbangan nahas tersebut. Dan sebagai salah satu saksi bisu drama tersebut, sosok pesawat Boeing 737-200 yang dibajak kembali menunjukkan batang hidungnya.

Baca Juga: Pembajakan Pesawat Terlama, 39 Hari Kelam Penumpang El Al Flight 426

Seperti yang dilansir KabarPenumpang.com dari laman dailymail.co.uk (23/9/2017), rencananya pesawat tersebut akan menjadi etalase salah satu sudut di Museum Dornier, Jerman. Sebagaimana yang kita ketahui bersama, tragedi pembajakan tersebut bermula ketika Boeing 737-200 milik maskapai Lufthansa baru saja bertolak dari Majorca (kini dikenal dengan Mallorca), pulau terbesar di Kepulauan Balearic, yang merupakan bagian dari Spanyol, menuju Frankfurt, Jerman.

Pembajakan tersebut terjadi pada 13 Oktober 1977 pukul 11.00 waktu setempat, dimana penerbangan Lufthansa LH 181 tengah mengangkut 86 penumpang dengan lima awak pesawat di dalamnya. Setelah berlabuh di berbagai kota untuk mengisi bahan bakar, akhirnya drama pembajakan tersebut berakhir di kota Mogadishu, Somalia pada 18 Oktober 1977. Dalam kejadian bersejarah ini, pembebasan para sandera di dalam pesawat tidak lepas dari peran pasukan anti teror Jerman, Grenzschutzgruppe 9 (GSG 9).

Selain berhasil membebaskan para sandera, insiden pembajakan ini juga merupakan misi pertama dari Police Tactical Unit milik Kepolisian Federal Jerman ini. Walaupun pilot Jürgen Schumann dan beberapa orang lainnya tewas dalam kejadian ini, namun operasi tersebut bisa dibilang berhasil dan menorehkan sejarah baru di dunia aviasi. Mengingat berharganya peristiwa kelam tersebut, maka otoritas setempat sepakat untuk megabadikan benda bersejarah tersebut.

Sumber: dailymail.co.uk

Menteri Luar Negeri Jerman, Sigmar Gabriel, memutuskan untuk membeli bangkai pesawat tersebut seharga £20.000 (setara Rp361 juta) dan membawanya kembali pulang ke Jerman dari Brasil. Selama bertahun-tahun, Landshut, nama pesawat tersebut, bermukim di Fortaleza Airport tanpa ada penanganan khusus. Maka tidak heran jika badan pesawat tersebut nampak usang dan mulai termakan usia. “Ini akan menjadi simbol masyarakat bebas yang menolak menyerah pada ancaman terorisme,” ungkap Sigmar.

Jürgen Vietor. Sumber: dailymail.co.uk

Pesawat tiba di kota Friedrichshafen dan disambut oleh sejumlah wartawan dan saksi hidup dari kejadian mengerikan tersebut, tidak terkecuali sang co-pilot, Jürgen Vietor. Pesawat narrow body tersebut diangkut menggunakan Antonov An-124, dengan bagian sayap dan ekor yang dilepas untuk memudahkan pemindahan.

Jangan hanya terpaku dengan sejarah yang ditorehkan di luar negeri, Indonesia sendiri pernah mengalami hal serupa. Kala itu, 28 Maret 1981, pesawat McDonnell Douglas DC-9-32 milik maskapai Garuda Indonesia mengangkut sekitar 57 penumpang hendak bertolak dari Jakarta pada pukul 08.00 WIB, transit di Palembang, dan akan terbang ke Medan dengan perkiraan sampai pada pukul 10.55 WIB. Pembajakan yang dikenal sebagai Peristiwa Woyla ini berawal ketika Garuda Indonesia Penerbangan 206 menyertakan beberapa teroris yang menyamar menjadi penumpang. Aksi tersebut dilakukan oleh lima orang teroris yang dipimpin Imran bin Muhammad Zein, dan mengidentifikasi diri sebagai anggota kelompok Islam ekstremis “Komando Jihad”.

McDonnell Douglas DC-9-32 Dalam Peristiwa Woyla. Sumber: istimewa

Pembajakan ini dilatarbelakangi oleh tuntutan agar para rekan sang teroris yang ditahan pasca Peristiwa Cicendo di Bandung, Jawa Barat, supaya dibebaskan. Drama pembajakan berakhir pada 31 Maret 1981 di Bandara Don Mueang, Bangkok. Dalam peristiwa ini juga, nama Komando Pasukan Khusus (Kopassus) yang semula bernama Kopassandha mulai naik pamor setelah sukses melakukan operasi kilat pembebasan pesawat. Satu anggota Kopassus, pilot, dan empat pembajak gugur dalam kejadian ini.

Baca juga: DC-9 Garuda Indonesia, Andalan Penerbangan Jet Domestik Era 80-an

Jika ditarik benang merahnya, Peristiwa Woyla dan Pembebasan Boeing 737-200 milik Lufthansa di Mogadishu memiliki beberapa kesamaan. Ketika otoritas berwenang Jerman berusaha untuk mengabadikan sejarah kelam dunia penerbangan mereka, lalu bagaimana dengan otoritas Indonesia yang mungkin lupa akan sejarah ini? Akankah mereka mendatangkan pesawat McDonnell Douglas DC-9-32 milik maskapai Garuda Indonesia yang menjadi saksi bisu kejadian kelam tersebut dan menjadikannya monumen agar generasi muda dapat mengingat sejarah?

Liam Neeson Suguhkan Aksi Thriller Terbarunya di Kereta Amtrak

Usianya sudah tergolong paruh baya, namun setiap aksi Liam Neeson yang kini berusia 65 tahun selalu dinanti para penggemar film action thriller. Dan ikut melengkapi deretan film Hollywood dengan latar cerita di kereta api, Neeson di film terbarunya “The Commuter” akan tampil mengejutkan penuh ketegangan dari atas gerbong kereta Amtrak.

Baca juga: Saat Kereta Ikut Kondang Sebagai Latar Film Box Office

KabarPenumpang.com melansir dari laman mensfitness.com (22/9/2017), dalam film ini Liam berperan sebagai seorang salesman asuransi yang selalu disibukkan dengan segala aktivitasnya yang sama hampir setiap hari. Liam menggunakan commuter sebagai alat transportasinya sebab selain cepat, juga lebih murah dibanding dengan yang lainnya.

Dalam film The Commuter, Liam dihadapkan pada situasi dimana ada sebuah rencana mematikan sedang berlangsung dan tanpa sadar terjebak dalam persekongkolan kriminal. Dimana nyawa para penumpang serta dirinya sendiri sebagai taruhan.

(Youtube)

Seperti kisah pembunuhan di film Orient Express tetapi dengan kekerasan yang jauh lebih banyak. Liam harus bertarung nyawa dengan meloncat pada kereta yang melaju kencang.

Tak hanya itu, dalam potongan trailer The Commuter juga terlihat Liam harus bertaruh nyawa dengan kecepatan kereta keluar dari rel sebelum kereta tersebut menggilas dirinya. Memang, terlihat sangat menegangkan dan mengerikan dimana Liam harus melakukannya dengan cepat sebelum tewas terlindas.

The Commuter merupakan film garapan sutradara Jaume Collet Sera diketahui menggunakan kereta Amtrak sebagai set film The Commuter yang akan tayang pada Januari 2018 mendatang. Kereta Amtrak sendiri sudah digunakan pada film Hollywood seperti Under Siege 2: The Dark Teritory (1995), Polar Express (2004) dan Mission Impossible (1996).

Selain The Commuter, film yang menggunakan kereta api sebagai latar belakangnya juga sudah ada dari tahun 1970-an. Film tersebut yakni Murder on the Orient Express (1974), Mr Bean Holiday (2007), Midnight Meat Train (2008), Last Passanger (2013) dan Train to Busan (2016).

Baca juga: Serba-Serbi Amtrak, Kereta Jarak Jauh Yang Sering Mejeng di Film Hollywood

(Youtube)

Tak hanya itu Amtrak menghubungkan lebih dari 500 destinasi dari 46 wilayah yang berbeda di Amerika Serikat dan tiga wilayah di Kanada. Setiap harinya, kereta dengan ciri khas berwarna silver kaleng dengan beberapa lekukan pada bagian sampingnya mengoperasikan sekitar 300 kereta dengan total jarak tempuh kurang lebih 34.000 km.

Adanya film The Commuter ini juga menambah panjang deretan film-film Hollywood dengan latar belakang kereta api.