Moda Transportasi di Bandara Ngurah Rai dan Hasanuddin, Antara Fakta dan Harapan

Apa yang ada dipikiran Anda saat berbicara mengenai bandara? Mungkin Anda lebih berpikir mengenai penanganan keberangkatan dan kedatangan seperti di konter check in atau pelayanan maskapai saat klaim bagasi. Lain dari itu yang kerap pengguna jasa bayangkan adalah seberapa modern si bandara yang mau disambangi.

Nah menyangkut ‘kadar’ modern diantaranya seperti apa fasilitas yang disediakan seperti tempat makan, nursery, ruang tunggu dan moda transportasi penunjang dari dan ke bandara tersebut. Yang disebut terakhir yakni moda transportasi penunjang di bandara menjadi bahasan menarik, pasalnya meski ada beragam update dan upaya peningkatan fasilitas, masih ada beberapa faktor yang masih menjadi pekerjaan rumah yang harus dituntaskan operator bandara. Kali ini KabarPenumpang.com mengulas terkait masalah moda transportasi yang ada di Bandara I Gusti Ngurah Rai di Denpasar dan Sultan Hasanuddin di Makassar.

Baca juga: Usai Kembangkan 9 Bandara, Angkasa Pura I Canangkan Benahi Infrastruktur di El Tari dan Frans Kaisiepo

Bandara Ngurah Rai 
Bandara internasional andalan PT Angkasa Pura I ini belum lama telah menyabet penghargaan The 3rd World Best Airport 2016, namun masih satu tingkat di bawah Cina. Kenapa? Ternyata pangkal musababnya karena di Ngurah Rai belum tersedianya kereta bandara.

Co GM Commercial Bandara I Gusti Ngurah Rai Bali, Rahadian D Yogisworo mengatakan, Bali merupakan daerah yang unik dimana tidak ada transportasi massa seperti angkutan umum, apalagi kereta. Sebab Bali tidak dirancang dengan moda transportasi kereta. Menurut Yogi, ini dikarenakan Bali lebih di dukung dengan rental mobilnya.

“Sebenarnya ada Damri, selain rental mobil, tetapi hanya sampai ke Denpasar dan Terminal Ubung. Apalagi bandara di Bali ini kan dekat dengan jalan, moda online juga banyak jadi penumpang banyak yang pilih itu,” jelasnya saat ditemui KabarPenumpang.com di Graha Angkasa Pura I, (24/10/2017).

Sedangkan untuk turis asal luar negeri, Yogisworo mengatakan, sudah ada jemputan langsung dari pihak tour dan travel yang menyelenggarakan atau kembali menggunakan taksi yang ada di bandara. “Untuk turis asal luar negeri biasanya mereka di jemput pakai bus. Makanya untuk transportasi lain kita menjalankan yang kerjasama dengan Angkasa Pura I saja saat ini dan tidak banyak hanya taksi dan Damri saja,” tambahnya. Untuk moda berbasis online belum bisa masuk bandara, sebab pihak operator bandara masih mengikuti amanat dari undang-undang yang berlaku saat ini dan menyesuaikan tempat parkir yang ada.

Bandara I Gusti Ngurah Rai

Ciri khas dari Bandara Ngurah Rai lainnya, lokasi bandara dekat sekali dengan jalan raya dan memiliki akses transportasi yang lebih mudah. Tetapi, memang untuk pengguna jasa sendiri lebih banyak yang menggunakan mobil rental.

Bandara Hasanuddin
Bandara yang berstatus internasional dan juga berada di bawah manajemen PT Angkasa Pura I ini telah mendapatkan penghargaan The Most Improved Airport in Asia-Pasific 2016 dari Airport Council International (ACI) dalam ajang ASQ Award 2016.

Selain Bali, Makassar juga menyediakan bus Damri dan bekerjasama dengan 15 operator taksi yang ada di Makassar. GM Bandara Sultan Hasanuddin Makassar, Cecep Marga Sonjaya mengatakan, Damri yang ada di bandara ini memiliki rentang waktu keberangkatan 30 menit sampai satu jam sekali untuk akses dari bandara menuju kota.

Sehingga menurutnya, transportasi yang ada di bandara Makassar bisa dikatakan banyak pilihan. Sebab, berbeda dengan Bali yang jaraknya tak jauh dengan jalan raya, bandara Sultan Hasanuddin memiliki jarak sekitar tiga kilometer untuk sampai ke jalan raya.

Baca juga: Bandara Silangit Terintegrasi Shuttle Bus Menuju Pulau Samosir

“Jaraknya dari bandara ke jalan raya itu cukup jauh sekitar tiga kilometer, bus dan taksi inilah yang digunakan sebagai penghubung dari bandara ke kota atau mobil rental. Tergantung pilihan penumpangnya sendiri,” ujarnya.

Cecep menegaskan, bandara Sultan Hasanuddin yang bekerjasama dengan 15 operator taksi dan  sudah menggunakan metode digital untuk mendapatkan taksi. Menurutnya, metode ini lebih mudah dibandingkan dengan adanya kontak manusia. “Dulu problem yang kita hadapai itu ramai dengan konter taksi, sekarang sudah ada sistem digital, jadi penumpang bisa memilih taksi yang mana dan kami mengurangi kontak dengan orang tetapi perbanyak kontak dengan mesin. Ini untuk memudahkan penumpang,” jelasnya.

Cecep menambahkan, dengan adanya era digital di bandara Makassar, penumpang jadi memiliki pilihan yang lebih baik. Sebab tidak semua penumpang ingin menggunakan taksi mewah, ada juga yang masih menggunakan bus. Ia mengatakan bila tahun depan ada kereta yang melalui bandara, pilihan moda penumpang pastinya lebih banyak lagi. Adapun taksi berbasis online, menurut Cecep, saat ini hanya bisa mendrop penumpang di bandara dan tidak diperolehkan untuk mengambil penumpang.

“Taksi online bisa masuk tapi hanya menurunkan dan tidak bisa mengambil penumpang. Karena kan kita sudah bekerjasama dengan 15 operator taksi yang sudah terorganisir. Kalau nantinya taksi online bergabung bisa saja dan akan kembali ke sistem, soalnya aturan pemerintah belum ada, nah kalau ada mungkin bisa,” tutur Cecep.

 

 

 

 

 

 

Atasi Kebosanan Selama Penerbangan, Emirates Rancang Program Khusus Untuk Anak

Anak-anak memiliki tingkat kebosanan yang cukup tinggi, apalagi dengan perjalanan yang cukup jauh dan melelahkan dengan menggunakan pesawat. Biasanya mereka jenuh karena perjalanan dilakukan dalam jangka waktu lama serta tak banyak yang bisa dilakukan di tempat duduknya.

Baca juga: Nasehat Baik Saat Bawa Anak Jalan-Jalan dengan Pesawat

Tak hanya itu, orangtua yang membawa anak mereka dalam penerbangan pun merasa khawatir dengan kebosanan yang terjadi pada anak. Hingga ada yang memutuskan beberapa keluarga menghindari penerbangan.

KabarPenumpang.com merangkum dari paddleyourownkanoo.com (25/10/2017), Emirates salah satu maskapai penerbangan yang berbasis di Dubai bisa membantu orangtua dan anak-anak mereka merasakan pengalaman penerbangan yang nyaman. Bekerja sama dengan seorang Psikolog dan spesialis kebosanan dari University of Central Lancashire, dr Sandi Mann, sudah melakukan penelitian yang melibatkan 2000 orangtua di Inggris dengan anak mereka yang berusia di bawah 12 tahun.

Dalam penelitian ini, Emirates bersama Mann membantu membuat sebuah penerbangan panjang menjadi tak begitu terasa untuk anak-anak. Dari hasil penelitian sebenarnya para orangtua memiliki kekhawatiran dimana resiko saat anak-anak bosan dan berpikir, mereka akan mengganggu penumpang lain saat bermain.

Sedangkan seperempat orangtua justru khawatir anak mereka tidak terhidrasi dengan baik di lingkungan kabin pesawat yang dingin dan kering.

“Kami tahu bahwa orang tua sering takut jika bepergian dengan anak-anak yang akan merasa cepat bosan. Bila hal ini terjadi, awak kabin siap membantu,” ujar Jade Cobbs salah satu anggota awak kabin Emirates.

Emirates mengatakan, dari hasil penelitian didapat bahwa seorang anak dibawah 12 tahun bisa tidak merasakan bosan hingga 49 menit dari pertama memasuki sebuah penerbangan. Untuk melawan kebosanan yang terjadi pada anak-anak, Emirates bersama dr Sandi Mann merancang Child Boredom Quotient (CBQ).

Baca juga: Ingin Bawa Anak Naik Pesawat? Perhatikan Beberapa Poin Penting Ini

Ini merupakan sebuah tabel sederhana yang menyediakan daftar aktivitas dimana harus membuat anak-anak terhibur selama penerbangan yang panjang. Mann mengatakan, CBQ sendiri membagi aktivitas dengan kategori aktif, pasif, interaktif, kreatif dan sensori.

Jadi jika aktivitas pasif terjadi pada anak saat mereka menontot film atau mendengarkan musik. Sedangkan kegiatan interaktif seperti membaca buku dan aktivitas sensori dapat disegarkan dalam bentuk makanan berat atau makanan ringan dalam penerbangan.

Perlakuan seperti ini banyak sekali dilakukan orag tua yang memiliki banyak pengalaman. Sebenarnya 41 persen orangtua mengatakan bahwa mereka merayu anak-anak dengan permen, coklat ataupun makanan ringan agar berperilaku dengan baik.

Sedangkan 33 persen orangtua memberikan anak mereka pengasuh elektronik seperti tablet agar menonton film anak-anak dan tak mengganggu sekitar. Dengan adanya CBQ, bisa menyarankan urutan yang benar untuk mengenalkan aktivitas baru agar anak-anak terhibur.

Mann mengatakan, kebosanan pada seorang anak bukanlah hal yang harus dianggap buruk. “Jangan takut mereka bosan, seperti yang ditinggalkan perangkat mereka sendiri dengan bahan dasar. Mereka akan menemukan cara kreatif yang melibatkan otak mereka.”

Peringati HUT Ke-30, Enam Armada MRT di Taipei Tampilkan Nuansa Theater

Dalam memperingati hari jadinya yang ke-30, Mass Rapid Transit (MRT) di Taiwan yang dalam pengoperasiannya diawasi langsung oleh Taipei Rapid Transit Co. (TRTC) melakukan sedikit perubahan pada beberapa armadanya. Perubahan tersebut tentu bukanlah bersifat permanen, melainkan hanya berlaku dalam kurun waktu tertentu.

Baca Juga: Seni Tingkat Tinggi Siap Hiasi Stasiun-Stasiun di Ottawa

Sebagaimana yang dilansir KabarPenumpang.com dari laman focustaiwan.tw (3/10/2017), gerbong-gerbong MRT tersebut disulap layaknya sebuah Pusat Pertunjukan Seni Nasional. Salah seorang dari TRTC mengatakan bahwa enam kereta MRT di Taipei akan dikelompokkan menjadi tiga kategori, dimana setiap kategorinya mengangkat tema yang berbeda. Dua kereta akan didesain menyerupai National Theater, dua lagi menyerupai National Concert Hall, dan sisanya akan didesain layaknya perpustakaan budaya.

Sumber: Travel.taipei

Khusus untuk kereta yang mengambil nuansa National Theater dan National Concert Hall, lampu di dalam gerbong akan diredupkan. Ini bertujuan untuk menciptakan suasana serasa berada di dalam kedua bangunan yang seakan sudah menjadi identitas bagi Taipei sendiri. Tidak hanya meredupkan lampu, tapi gerbong tersebut juga akan dilengkapi dengan wallpaper tangga, kursi, hingga lampu gantung yang akan menguatkan nuansa tempat tersebut.

Hal lain yang juga menarik perhatian khalayak ramai terhadap perombakan desain sementara ini terletak pada gerbong pertama dan terakhir. Dimana di dua gerbong tersebut, lima deret kursi akan diubah menggunakan susunan empat kursi yang mensimulasikan kursi flanelet merah yang digunakan di ruang konser dan teater. Sungguh unik!

Sumber: Travel.taipei

Humas TRTC, Ling Chi-Yao mengatakan bahwa kemitraan yang mereka jalin dengan National Performing Arts Center akan memungkinkan perusahaan penyedia jasa tersebut menyajikan beragam ide tentang beberapa spot kota yang hampir setiap hari bersentuhan dengan para penumpang. “MRT Taipei bukan hanya sekedar sarana transportasi, namun telah menjadi bagian dari kehidupan warga negaranya,” ungkap Ling Chi-Yao.

Baca Juga: Bus Tanpa Awak Segera Beroperasi di Taiwan

Rencananya, enam kereta yang sudah didesain ulang ini akan mengular di sepanjang jalur Tamsui-Xinyi hingga tanggal 31 Januari 2018 mendatang. Kereta juga akan berhenti di Chianghi-Shek memorial Hall Station, dimana stasiun tersebut merupakan titik terdekat menuju National Theater dan National Concert Hall.

Ini bukanlah kali pertama kereta MRT di Taipei mengalami perubahan desain. Pada bulan Agustus 2017 kemarin, sebanyak enam gerbong disulap menggunakan tema olahraga, ada yang di desain menyerupai lanagan sepak bola, bisbol, basket, hingga kolam renang. Tujuan dari perubahan desain tersebut adalah dalam rangka mempromosikan 2017 Summer Universiade, dan berhasil mencuri perhatian dunia.

Toyota Lansir JPN Taxi, Prototipe Taksi dengan Bahan Bakar Hybrid

Toyota telah meluncurkan prototipe JPN Taxi pada Tokyo Motor Show 2017. Diketahui, taksi ini menggunakan gas alam cair (LPG). Pada taksi tersebut juga dilengkapi dengan peralatan keselamatan yang menjadi bagian besar dari model taksi baru ini dan akan segera masuk pada dealer-dealer di Jepang.

Baca juga: Oslo, Kota Dengan Tarif Taksi Termahal di Dunia, Jakarta Ada Diurutan Berapa Ya?

KabarPenumpang.com melansir dari laman newatlas.com (25/10/2017), JPN Taxi disebut-sebut memiliki beberapa fitur untuk kenyamanan pengendara dan ergonomi pengemudi. Lantai yang rendah dan datar memudahkan penumpang masuk dan keluar dari taksi.

Uniknya pintu taksi ini pada bagian kiri menggunakan pintu geser dan bagian kanan pintu seperti yang ada di mobil biasanya. Pintu sebelah kiri untuk memudahkan penumpang yang menggunakan kursi roda atau penyandang disabilitas.

Toyota juga memindahkan pilar da cermin samping pada JPN untuk meningkatkan visibilitas pengemudi. Di tempat pengemudi, dashboard di modifikasi dan telematika dipasang agar lebih mudah dan menjaga agar mata pengemudi tetap di jalan.

Tak hanya itu, setiap penumpang bisa melihat kecepatan kilometer pengemudi saat mengendarai JPN Taxi ini. Sebab meteran terintegrasi yang bisa dilihat semua orang dalam kendaraan.

JPN Taksi (Toyota)

JPN Taxi yang saat ini dipamerkan pada Tokyo Motor Show 2017,  terdiri dari level standar dan premium. Dimana masing-masing menawarkan jumlah perlengkapan yang berbeda dan keduanya akan memiliki pilihan LPG hybrid untuk drivetrain. Saat ini untuk mesin bahan bakar gas yang akan menggantikan bensin ataupun solar dengan penyimpanan LPN di bagian belakang kendaraan.

Mesin pembakaran dan komponen hybrid berada di bagian depan dan taksi di desain front wheel drive. Menggunakan JPN Taxi ini adalah insiatif Toyota untuk memudahkan penumpang mendapatkan informasi kemacetan lalu lintas dijalur tertentu yang juga bekerjasama dengan Hire-Taxi Associations of Japan.

Proyek ini sudah dimulai pada April 2017 kemarin dan akan diintegrasikan dalam aplikasi Navigasi Smartphone JPN TC. Informasi untuk aplikasi kemacetan lalu lintas dikumpulkan melalui kombinasi video mengemudi mengemudi dan data kendaraan dari 500 taksi yang saat ini beroperasi di wilayah metropolitan Tokyo.

Layanan di semua Taksi JPN yang memilihnya akan dimulai pada kuartal kedua tahun 2018. Ini akan beroperasi melalui modul komunikasi data yang sama seperti DCM, karena kebanyakan kendaraan Toyota terjual secara komersial sejak tahun 2005. Sistem baru ini adalah spesifik, tapi mungkin diluncurkan di bagian lain Jepang karena Toyota menganalisis data pemakaian.

Baca juga: Ketika Oversupply, Armada Taksi Blue Bird Nantinya Tawarkan Jasa Antar Barang

Informasi kemacetan lalu lintas dikumpulkan melalui kendaraan individu dan dikirim ke sistem cerdas buatan yang menganalisis data. Ini kemudian menghasilkan tidak hanya kondisi lalu lintas untuk segmen jalan raya, seperti sistem informasi lalu lintas generasi sekarang, namun juga jalur-spesifik termasuk kepadatan kendaraan, kecepatan rata-rata, konstruksi, penutupan sementara, dan sebagainya. Ini kemudian dikirim ke kendaraan lain dengan DCM, memperbarui lansiran navigasi mereka dengan yang terbaru.

Sah! Grab Kini Legal Jemput Penumpang dari Bandara Soekarno-Hatta

Bagi Anda yang baru tiba di Bandara Internasional Soekarno-Hatta (Soetta) dan hendak memesan layanan transportasi online GrabCar, kini baik Anda maupun pengemudi Grab tidak perlu lagi “kucing-kucingan” untuk menentukan titik temu. Ini dilandasi oleh kerja sama yang dilakukan oleh pihak Grab dengan Induk Koperasi Kepolisian Negara Republik Indonesia (Inkoppol) dengan untuk memberikan kemudahan bagi para penumpang yang hendak memesan Grab dari Bandara Soetta.

Baca Juga: Stiker “Taksi Bandara,” Apa Guna dan Manfaatnya Buat Penumpang?

Sebagaimana yang dihimpun KabarPenumpang.com dari berbagai sumber, nantinya para penumpang akan disediakan tujuh meeting point yang akan memudahkan untuk bertemu dengan pengemudi Grab yang telah di pesan. “Sebanyak tujuh titik penjemputan akan tersebar di tiga terminal yang ada di area Bandara Soetta,” ungkap Kepala Divtro Inkoppol, Irjen Mudji Waluyo dalam sebuah keterangan tertulis.

Tidak hanya melulu soal penumpang, Irjen Mudji Waluyo juga mengatakan bahwa tujuan utama kerja sama ini adalah menjadi badan hukum yang memfasilitasi layanan pemesanan moda transportasi berbasis online, seperti Grab. “Ini adalah contoh yang baik dan dapat menjadi tolak ukur bagi kehadiran layanan pemesanan transportasi berbasis online di lokasi-lokasi fasilitas umum di Indonesia,” imbuhnya.

Selain memesan layanan GrabCar, para pengguna aplikasi ini juga bisa menikmati fitur GrabNow melalui titik penjemputan yang berada di lokasi yang sama dengan antrian taksi konvensional bandara. Agar lebih mudah dikenali, kendaraan GrabCar telah dibekali stiker Inkoppol yang ditempel di bagian jendela belakang mobil.

Branch Communication Manager Kantor Cabang Utama Bandara Internasional Soekarno-Hatta, PT Angkasa Pura II, Dewando Prasetyo Nugroho menegaskan bahwa pihaknya akan menyediakan area khusus supir taksi online yang terdaftar di Inkoppol. Para pengemudi juga telah terdaftar menjadi anggota koperasi Inkoppol dan memiliki SIM A umum serta seragam khusus.

Dewando menambahkan, titik penjemputan resmi Grab tersedia tertanggal 23 Oktober 2017 di Terminal 1A, 1B, 1C, dan 2F Bandara Internasional Soekarno-Hatta. “Tiga lokasi penjemputan juga akan dibuka dalam waktu dekat di Terminal 2D, 2E, dan 3,” ujarnya.

Untuk tarif sendiri, penumpang akan dikenakan biaya tambahan yang terdiri dari tiga komponen. Secara keseluruhan, ada tiga komponen biaya, yaitu fare-nya itu sendiri, lalu biaya tol, kemudian biaya tiket sekitar Rp 7.500 sampai maksimal Rp 10.000,” kata Managing Director Grab Indonesia, Ridzki Kramadibrata.

Jika dulu sebelum kerja sama ini terjalin, penumpang masih ditagih Rp5.000 untuk biaya parkir. Namun kini biaya parkir tersebut sudah hilang berkat adanya kerja sama ini. “Kalau belum resmi dulu, pengemudinya kan masuk ke terminal, ketemu di area parkir, lalu penumpang harus bayar parkirnya Rp5.000. Saat sudah resmi sekarang tidak perlu lagi,” ungkap Ridzki.

Baca Juga: Singapore Airlines dan Grab Integrasikan Layanan Ridesharing di Satu Aplikasi

Di lain pihak, seteru abadi Grab, GoJek juga ada niatan untuk menjali kerja sama serupa dengan pihak bandara agar armadanya bisa leluasa menjemput penumpang di sana. “Ya pasti menyusul-lah,” tukas pendiri Gojek, Nadiem Makarim dikutip dari laman republika.com.

Walau sudah kalah start dengan rivalnya itu, Nadiem mengatakan hingga saat ini pihaknya sedang melakukan pengecekan terkait izin dan hal lain yang diperlukan ketika akan menyiapkan GoCar masuk ke Bandara Soekarno-Hatta. “Iya saya harus cek dulu, sepertinya sudah,” tuturnya.

Ada DC-9 Berlivery Klasik di Hanggar Garuda Maintenance Facility, Buat Apa Ya?

Tak semua orang memiliki kapasitas untuk masuk ke dalam sebuah hanggar, diperlukan sejumlah perijinan terlebih dahulu untuk masuk ke dalam rumah bagi pesawat tersebut. Layaknya sebuah garasi di rumah-rumah, hanggar pun memiliki peran yang hampir mirip. Tidak hanya sebagai tempat pesawat ‘beristirahat’, namun hanggar juga merupakan tempat bagi para ground crew melakukan pengecekkan hingga perbaikan pesawat. Bahkan tidak jarang juga beberapa hanggar dijadikan lokasi seremoni dari sebuah acara, seperti peluncuran pesawat terbaru dari suatu maskapai.

Baca Juga: DC-9 Garuda Indonesia, Andalan Penerbangan Jet Domestik Era 80-an

Nah, kesempatan mengunjungi hanggar milik Garuda Indonesia tidak disia-siakan oleh KabarPenumpang.com di PT Garuda Maintenance Facility (GMF). Dari beberapa pesawat komersial modern yang nampak di keempat hanggar GMF, ada satu pemandangan unik di hanggar 2 tepatnya di line 9. Terdapat sebuah pesawat Douglas DC-9 yang masih menggunakan livery lama yaitu cat dasar berwarna putih dengan garis merah memanjang dari ekor hingga kepala pesawat. Ya, pesawat twin engine ini ternyata di cat menggunakan logo klasik, yang digunakan Garuda Indonesia pada periode 1949 – 1969.

Sumber: airliners.net

Tentu pemandangan ini menjadi sebuah pertanyaan, mengingat DC-9 sudah pensiun setelah mengabdi kepada Garuda Indonesia selama 20 tahun, terhitung mulai dioperasikan sejak 1969. Apakah pesawat tersebut masih dioperasikan secara diam-diam? Tentu saja tidak. Menurut Senior Manager Public Relation Garuda Indonesia, Ikhsan Rosan, pesawat tersebut kini memang sudah tidak mengudara, tetapi masih digunakan oleh Garuda untuk kepentingan lain. “Itu digunakan untuk pelatihan calon mekanik,” ungkap Ikhsan.

Baca juga: Mengenal “Big Bunny,” Pesawat DC-9 Mewah Peninggalan Boss Playboy

Lebih lanjut, Ikhsan memaparkan bahwa jenis pesawat yang identik dengan tragedi pembajakan Woyla ini sering digunakan calon mekanik untuk mendalami mekanisme dan konfigurasi pesawat. “Seperti bongkar pasang bangku pesawat dan lain-lain,” imbuh Ikhsan. Ya, bagi para pecinta pesawat terbang, mungkin tidak asing lagi dengan DC-9. Kiprahnya di kedirgantaraan RI juga tidak bisa dipandang sebelah mata.

Khusus untuk Garuda sendiri, DC-9 pernah digunakan untuk menghubungkan kota-kota besar di Indonesia dan berjaya sebelum Boeing 737 masuk dan mengambil alih langit Nusantara. Pada masa itu, Garuda diketahui memiliki sekitar 25 unit DC-9.

Masuk AS Bakal Tambah ‘Berat,’ Lima Maskapai Diminta Wawancarai Calon Penumpang

Setelah insiden yang menimpa perjalanan Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo ke Amerika Serikat, kini untuk masuk ke Negeri Uwak Sam boleh jadi bakal tambah ‘berat.’ Disebutkan ada lima maskapai internasional yang diwajibkan oleh otoritas keamanan AS untuk memberlakukan sesi wawancara bagi setiap calon penumpang. Hal ini menyiratkan bahwa seorang calon penumpang yang telah memegang visa resmi belum tentu bisa diberangkatkan ke AS oleh maskapai yang bersangkutan.

Baca juga: Meski Visa Sudah Ditangan, Bukan Jaminan Bisa Masuk Ke Amerika Serikat, Lho!

Kelima maskapai yang dimaksud adalah Air France, Lufthansa, Cathay Pasific, Emirates dan Egyptair. Namun, isi draft pertanyaan untuk wawancara tidak dijelaskan seperti apa. KabarPenumpang.com merangkum dari laman dailymail.co.uk (25/10/2017), adanya wawancara ini dilakukan atas permintaan pejabat Amerika Serikat dan berlaku mulai 26 Oktober 2017 lalu.

Otoritas yang berperan dalam hal ini adalah US Customs and Border Protection, yang berada dibawah Department of Homeland Security. Diketahui, lembar pertanyaan tersebut diberikan oleh petugas maskapai untuk diisi setiap penumpang tujuan Amerika Serikat seperti akan melakukan sesi wawancara. Lokasi wawancaranya pun ditentukan oleh masing-masing maskapai.

Peraturan baru yang terbilang kontroversial ini diberlakukan setelah Trump melarang laptop masuk kabin pesawat beberapa waktu lalu untuk meminimalisir tindakan terorisme. Karena merupakan aturan baru dan butuh persiapan dalam pelaksanaan, Amerika Serikat memberikan waktu selama 120 hari untuk maskapai dalam mempersiapkan aturan baru ini.

Air France mengatakan akan memulai mewawancarai penumpang pada Kamis, 26 Oktober 2017 di bandara Orly Paris dan seminggu kemudian di bandara Charles de Gaulle. Sedangkan Emirates akan melakukan wawancaranya di konter check in bagi penumpang yang akan berangkat dari Dubai dan di ruang tunggu untuk penumpang transit dan transfer.

Melalui situs resminya, Cathay Pasific yang berbasis di Hong Kong mengatakan akan menangguhkan layanan drop bagasi sendiri dan penumpang tujuan Amerika akan diberikan pertanyaan singkat saat koper dilakukan pemeriksaan. Hal yang sama juga dilakukan pada penumpang yang tidak membawa koper dan dilakukan di ruang tunggu.

Maskapai asal Mesir Egyptair menyatakan bahwa aturan baru ini bisa mencakup penumpang dan barang bawaan mereka dengan prosedur ketat.

“Selain kontrol perangkat elektronik yang sudah diperkenalkan, pelancong ke Amerika Serikat mungkin juga menghadapi wawancara singkat saat check in, atau  di bagian pengecekan dokumen,” kata Lufthansa dalam sebuah pernyataan.

Baca juga: Departemen Keamanan Dalam Negeri AS Umumkan Langkah Keamanan Penerbangan Baru

Diluar kelima maskapai yang disebut, ada maskapai keenam yakni Royal Jordania akan memulai mewawancarai penumpang pada Januari 2018 mendatang. Maskapai ini memiliki penerbangan langsung dari Amman ke New York, Chicago dan Detroit. Sedangkan Etihad sendiri mengatakan, pemeriksaan dan operasionalnya masih normal. Dengan adanya peraturan baru yang dibuat Presiden Donald Trump ini memang telah mempengaruhi bisnis penerbangan global.

Hadirkan Seragam Mini, Qantas dan Emirates Harapkan Anak-Anak Cintai Profesi Awak Kabin

Bagi anak-anak banyak sekali cita-cita yang diimpikannya, mulai ingin menjadi dokter, perawat, polisi, tentara dan pastinya seragam-seragam profesi tersebut mudah untuk di temui dalam versi mininya. Namun, bagaimana bila anak Anda bercita-cita sebagai seorang awak kabin, seperti pilot dan pramugari misalnya? Ini sangat repot karena tidak banyak maskapai yang menjual seragam awak kabin.

Baca juga: 10 Seragam Pramugari Paling Ikonik di Dunia

Nah, keinginan anak-anak tersebut rupanyta berhasil ditangkap dengan jeli oleh maskapai milik Australia, Qantas Airlines yang menghadirkan seragam mini dan unik untuk penggemar awak kabin mereka. Desain yang dibuat sama persis dengan milik awak kabin Qantas dan dirangcang langsung oleh direktur mode kreatif maskapai Qantas, Martin Grant.

Seragam awak Kabin masakapai Qantas (Qantas)

KabarPenumpang.com melansir dari laman paddleyourownkanoo.com (25/10/2017), seragam awak kabin baik untuk pria dan wanita serta seragam pilot unisex sudah dirancang untuk anak laki-laki dan perempuan. Seragam mini ini sudah tersedia untuk pre order dan pengiriman pada Natal 2017 dengan kualitas terjamin.

Seragam awak kabin ini akan dihargai Qantas senilai AUD$59 atau Rp618.085,78. Seragam mini bisa dipesan melalui toko online resmi milik Qantas dan tersedia untuk anak usia 3-8 tahun. Qantas mengatakan, bahwa pembuatan seragam ini untuk menginspirasi pilot dan awak kabin generasi baru.

“Kami berharap rangkaian dress up ini akan membuat anak-anak dengan imajinasi mereka terbang dan merasakan keajaiban perjalanan di penerbangan,” ujar Olivia Wirth, chief customer officer at Qantas.

Dia mengatakan, banyak pilot dan awak kabin Qantas yang memilih karir dalam penerbangan setelah penerbangan pertama mereka dengan Qantas. Sehingga pihaknya menemukan cara untuk menciptakan pengalaman yang tak terlupakan dan menginspirasi generasi penerus pelanggan dan karyawan Qantas.

Pada seragam pilot detail yang ditampilkan adalah empat garis bordir emas untuk menandakan pangkat pilot. Topi pilot juga menampilkan raster Qantas yang ikonik untuk melengkapi penampilan pilot cilik nantinya. Bagi awak kabin perempuan seragamnya sebuah gaun dilengkapi dengan warna merah dan fuschia yang trendi.

Baca juga: Seragam Pramugari Garuda, Beda Warna, Beda Pula Arti dan Jabatannya

Diperkenalkannya seragam pilot dan awak kabin cilik dari Qantas, menambah deretan maskapai penerbangan di seluruh dunia yang menawarkan seragam mini untuk anak-anak. Qantas mengatakan bahwa pihaknya memperkenalkan pakaian tersebut sebagai bagian dari dorongan yang lebih luas untuk meningkatkan penawarannya bagi para pelancong muda. Seiring dengan semakin banyak barang dagangan yang tersedia untuk dibeli di toko Qantas, maskapai ini akan memperbaiki jangkauan saluran hiburan in flight untuk anak-anak dan meningkatkan paket aktivitas anak-anak yang diberikan di pesawat.

Maskapai ini mengatakan bahwa anak-anak sekarang merupakan salah satu segmen program frequent flyer Qantas yang paling cepat berkembang. Qantas bahkan mengklaim beberapa orang tua mendaftarkan anak mereka sejak mereka lahir. Tak hanya Qantas, tahun 2015 lalu maskapai Emirates yang berbasis di Dubai menjadi yang pertama menjual versi mini dari seragamnya yang ikonik tersebut.

Seragam awak kabin Emirates (Emirates)

Koleksi seragam mini ini tersedia untuk anak usia 3-8 tahun dan dapat di beli di gerai resmi milik Emirates di Terminal 3 Bandara Internasional Dubai, kantor pusat penerbangan Emirates atau toko online milik Emirates. Gadis-gadis akan berdandan dengan topi merah dan slayer yang dipakai awak kabin wanita. Sedangkan untuk anak laki-laki hanya memiliki pakaian pilot saja.

Lalu Garuda Indonesia, sebagai maskapai plat merah Indonesia kapan akan mengeluarkan seri mini seragam awak kabin? Padahal dengan sejarah yang panjang, Garuda Indonesia sudah layak menawarkan program serupa.

Chef Vindex Tengker, Sosok Dibalik Lezatnya Hidangan di Kabin Garuda Indonesia

Garuda Indonesia, maskapai plat merah yang baru saja dianugerahi penghargaan keempat kalinya sebagai maskapai bintang lima oleh Skytrax. Tidak melulu soal On-Time Performance dan pride ketika menaiki maskapai yang namanya diambil dari wahana tunggangan Dewa Wisnu dalam mitologi India kuno, tapi sisi lain yang menarik untuk dibahas adalah mengenai layanannya yang selalu prima.

Baca Juga: “Kearifan Lokal,” Kunci Sukses Garuda Indonesia Sabet Gelar Maskapai Bintang Lima

Sebut saja awak kabin yang selalu merunduk ketika berbicara dengan penumpang selama berada di dalam kabin, pengaplikasian beberapa kearifan lokal, hingga senyuman alami para awak kabin yang akhirnya meningkatkan pelayanan Garuda terhadap para penumpangnya. Ini pula yang mendorong Garuda kembali menyabet penghargaan World’s Best Cabin Crew untuk yang keempat kalinya, terhitung sejak 2014 silam. Namun, jangan lupakan satu faktor yang juga berperan serta dalam keberhasilan Garuda mempertahankan predikatnya itu, yaitu segi catering services.

ACS sendiri merupakan anak perusahaan Garuda Indonesia Group (GIG) yang menaungi dunia Food Services. Ketika KabarPenumpang.com menyambangi markas ACS di Bandara Soekarno Hatta, Cengkareng pada Rabu (25/20/2017), Executive Chef di ACS, Chef Vindex Tengker mengatakan bahwa penghargaan Best Cabin Crew yang diterima Garuda dari Skytrax tersebut tidak lepas dari kearifan budaya lokal orang Indonesia itu sendiri. “Kita bisa menang karena hospitality orang Indonesia, kalau yang polite kan banyak, tapi hospitality kita lebih kental,” ujar Chef Vindex.

Ia mengaku sudah mulai banyak penumpang Garuda yang puas dengan pelayanan ACS. “Kita lihat dari kepuasan pelanggan. Di Internal, kita ada Customer Survey Index (CSI) dimana dari situ terlihat bahwa penumpang menyukai, karena misalnya variasi makanan Indonesianya sudah banyak, dan banyak yang senang karena kami mengangkat makanan daerah,” imbuh Chef Vindex.

Poin tersebut tentu tidak bisa dipandang sebelah mata oleh pihak ACS, karena itu kepuasan penumpang merupakan sebuah pencapaian yang membanggakan bagi mereka. Ada yang unik di sini, dimana pihak ACS membuat sebuah terobosan, dimana mereka mengangkut makanan khas dari suatu daerah ke dalam penerbangan. “Sekarang, katakanlah Garuda hendak terbang dari Makassar menuju Jakarta, kami angkat makanan lokal khas Makassar, seperti pisang ijo dan lain-lain,” terang Chef yang pernah menjadi juri di salah satu ajang pencarian bakat di Indonesia.

Baca Juga: Mengenal SkyTeam, Aliansi Penerbangan Internasional Garuda Indonesia

Walaupun pengangkatan menu lokal belum bisa dilakukan menuju destinasi  tujuan (misalnya membawa pisang ijo dari Jakarta menuju Makassar), tapi inovasi pengangkatan menu lokal ke dalam kabin ini membawa keuntungan, bukan hanya bagi pihak ACS saja. “Kami juga menguatkan katering-katering lokal,” imbuhnya.

“Jika di dalam suatu penerbangan terdapat 10 menu, kami memasukkan dua hingga tiga menu lokal di dalamnya,” kata Chef Vindex. Pria kelahiran Jakarta, 24 November 1968 ini membocorkan salah satu menu yang paling banyak di pesan selama penerbangan. “Menurut demand yang kami terima, penumpang banyak yang pesan nasi kuning.” Tutupnya sembari tertawa.

Jelang Olimpiade 2020, Toyota Rilis Bus “SORA” Yang Super Ramah Lingkungan

Toyota, manufaktur otomotif asal Negeri Sakura, baru-baru ini meluncurkan sebuah konsep bus dengan sel berbahan bakar super ramah lingkungan yang disebut Sora. Bus tersebut rencananya akan diproduksi 2018 mendatang dengan lebih dari 100 yang akan digunakan di wilayah metropolitan Tokyo, khususnya menjelang Olimpiade dan Paralimpiade tahun 2020.

Baca juga: Perangi Polusi, Australia Selatan Manfaatkan Energi Terbarukan dari Hidrogen

KabarPenumpang.com melansir dari laman newatlas.com (20/10/2017), bahan bakar Sora yang akan digunakan Toyota pada bus tersebut merupakan kepanjangan dari Sky, Ocean, River dan Air atau unsur yang ada di bumi yang dipadukan oleh Toyota Fuel Cell System, dimana dikembangkan juga untuk kendaraan sel bahan bakar Mirai. Powertrain Sora ini terdiri atas dua tumpukan sel bahan bakar 114 kW dan motor penggerak ganda 113 kW dan torsi 355 Nm, masing-masing 152hp dan 262 lb-ft.

Tak hanya itu, pada bus ini juga akan terpasang baterai nikel-metal hibrida (NiMH) yang relatif kecil, kemudian juga ada 10 tangki hidrogen dengan kapasitas total 600 liter. Selain powertrain sebagai penggerak, bus dengan sel Sora ini juga mampu mengeluarkan tenaga saat keadaan darurat atau bencana dengan menawarkan output maksimum 9 kW dengan total pasokan 235 kW saat bahan bakar penuh.

Toyota Sora (Toyota)

Bus sel Sora ini dirancang dan mampu menampung penumpang sebanyak 79 orang dengan 22 bangku, satu supir dan sisa penumpangnya berdiri. Panjang bus ini 10,525 meter, lebar 2,49 meter dan tinggi 3,34 meter. Desain interiornya juga dibuat untuk memudahkan semua penumpang dan ramah untuk penyandang disabilitas.

Hal ini dikarenakan ada ada tempat duduk yang bisa di lipat pada bus Sora yang bisa memuat kereta bayi ataupun kursi roda. Untuk sokongan teknologinya, Toyota Sora dilengkapi pemantauan perferal, kontrol percepatan, kontrol pintu otomatis dan komunikasi kendaraan ke control station.

Baca juga: Peduli Lingkungan dan Manfaatkan Energi Terbarukan, Bandara Oslo Jadi Yang “Terhijau” di Dunia

Pemantauan periferal menggunakan delapan kamera yang ada di dalam dan diluar bus. Fungsi kamera digunakan untuk mendeteksi pejalan kaki, sepeda dan rintangan lainnya untuk mengingatkan pengemudi dengan citra video dan suara. Kontrol akselerasi akan hilang dari bus ini, karena tidak ada pergantian gigi yang dipasang pada Sora, alias bus memakai transmisi otomatis.

Nantinya jika bus ini sudah meluncur di jalanan, jarak antara halte dan pintu keluar adalah 3-6 cm dengan pintu otomatis. Tak hanya itu, pintu bus akan langsung menghadap ke halte dan memudahkan penumpang untuk naik atau turun apalagi pengguna kursi roda dan pembawa kereta bayi.

Toyota Sora akan menggunakan ITS Connect sebagai sistem komunikasinya dari kendaraan ke kendaraan dan kendaraan ke infrastruktur yang membantu mendukung agar bus dapat melaju dengan aman. Hal ini juga memungkinkan sinyal lalu lintas di persimpangan terlengkapi dengan sistem pengaturan berbasis sensor otomatis.