Bandara Hamburg Bergabung dengan Jaringan Internasional “Hydrogen Hub at Airport”

Bandara Hamburg telah menjadi bandara Jerman pertama dan anggota ke-12 dari jaringan internasional “Hydrogen Hub at Airport”, yang mempromosikan perluasan lebih lanjut infrastruktur hidrogen dalam penerbangan. Keanggotaan jaringan ini sudah mencakup anggota dari bandara, maskapai penerbangan, dan sektor energi di 11 negara termasuk Perancis, Amerika Serikat, Inggris, Singapura, Jepang, Korea Selatan, dan Selandia Baru.

Tujuan dari jaringan internasional ini adalah untuk meneliti, mengembangkan dan memperluas infrastruktur penggunaan hidrogen. “Kami menyambut Bandara Hamburg sebagai anggota “Hydrogen Hub at Airport” terbaru.

4 Tantangan Pesawat Berbahan Bakar Hidrogen, Nomor 1 Tak Terbayang

Keahlian Bandara Hamburg dalam Hidrogen akan menjadi aset yang sangat berharga dalam perjalanan Ekosistem ZEROe kami untuk membangun masa depan di mana penerbangan akan didukung oleh hidrogen yang terdekarbonisasi. Perjalanan untuk mempersiapkan infrastruktur bandara untuk mendukung hidrogen dan penerbangan rendah karbon dimulai dari kemitraan ini.

Meningkatnya keterlibatan bandara di seluruh dunia, termasuk Bandara Hamburg, dalam konsep “Hydrogen Hub at Airport” Airbus akan menjadi kunci untuk mengerahkan pesawat bertenaga hidrogen pada tahun 2035,” kata Karine Guénan, Wakil Presiden Ekosistem Hidrogen NOLe.

Diragukan Boeing, Bagimana Cara Airbus Bangun Tangki Hidrogen Kriogenik Pertamanya?

Penggunaan hidrogen untuk menggerakkan pesawat masa depan tidak hanya akan mengurangi emisi di udara secara signifikan, namun juga berkontribusi pada dekarbonisasi infrastruktur penerbangan di darat. Pada tahun 2020, Airbus meluncurkan program Hydrogen Hub at Airports untuk mendorong penelitian mengenai kebutuhan infrastruktur dan pengoperasian bandara rendah karbon di seluruh rantai kerja.

Tahun 2030 Singapore Airlines Group Tetapkan Sustainable Aviation Fuel 5 Persen dari Kebutuhan Bahan Bakar

Singapore Airlines (SIA) dan Scoot, dua maskapai yang tergabung dalam portofolio maskapai SIA Group, mengumumkan target mereka untuk mengganti 5% dari total kebutuhan bahan bakar mereka dengan bahan bakar penerbangan berkelanjutan (sustainable aviation fuel/SAF) di tahun 2030.

Bahan bakar berkelanjutan merupakan pendorong utama dalam usaha dekarbonisasi bagi industri penerbangan, dengan potensi untuk mengurangi emisi karbon hingga 80% dalam siklus hidup dibandingkan dengan bahan bakar jet konvensional. Hal ini membuat penggunaan bahan bakar berkelanjutan menjadi aspek penting bagi tujuan SIA Group dalam mencapai nol emisi karbon pada tahun 2050.

Mantap, Airbus A380 Sukses Terbang Pakai Bahan Bakar Minyak Goreng Bekas

Goh Choon Phong, Chief Executive Officer, Singapore Airlines, mengatakan, “Hal ini merupakan tonggak penting dalam perjalanan keberlanjutan SIA Group. Peningkatan penggunaan bahan bakar berkelanjutan akan menjadi pendorong utama dalam strategi dekarbonisasi kami, yang mencakup investasi berkelanjutan pada pesawat generasi baru dan efisiensi operasional yang lebih tinggi. Secara bersama, inisiatif ini akan membawa kami menuju pencapaian target nol karbon.

“Meskipun demikian, kami tidak dapat melakukannya sendiri. Kolaborasi yang lebih erat dengan para mitra dan pemangku kepentingan, baik yang berada di Singapura maupun di seluruh dunia, tetap diperlukan agar kita semua dapat mencapai target keberlanjutan secara bersama. Kami akan terus mencari peluang agar dapat bekerja sama dalam mendukung produksi dan penggunaan bahan bakar berkelanjutan yang lebih luas di industri penerbangan, serta berbagai inisiatif dekarbonisasi lainnya.”

Diskusi dengan para pemasok bahan bakar terkait dengan berbagai peluang untuk membeli bahan bakar penerbangan berkelanjutan terus berlangsung, dan hal lain yang lebih rinci akan diumumkan pada saat yang tepat.

Dalam beberapa tahun terakhir, SIA Group telah bekerja sama dengan para mitra, baik di Singapura maupun di seluruh dunia, untuk lebih memahami pertimbangan operasional dan komersial yang akan mendukung pasokan dan adopsi SAF yang lebih luas. Sebagai anggota International Advisory Panel (IAP) Singapura dalam mengembangkan rancangan (blueprint) hub udara berkelanjutan, SIA telah berperan aktif dalam pengembangan peta jalan dekarbonisasi untuk sektor penerbangan di Singapura.

SIA Group mendukung International Air Transport Association (IATA) dan pemangku kepentingan lainnya dalam upaya yang mereka lakukan dalam menyepakati prinsip-prinsip inti dari berbagai metode penghitungan SAF. Langkah ini akan meningkatkan kepercayaan para pemangku kepentingan bahwa pengurangan emisi yang dihasilkan dari penggunaan SAF dapat dilacak, ditelusuri, dan dapat dipertanggungjawabkan.

Pada tahun 2017, melalui kemitraan dengan Otoritas Penerbangan Sipil Singapura (CAAS), SIA mengoperasikan 12 penerbangan ramah lingkungan dari San Francisco menuju Singapura yang mengkombinasikan penggunaan SAF, pesawat hemat bahan bakar, dan operasi penerbangan yang dioptimalkan.

Garuda Indonesia Operasikan Penerbangan Komersial dengan Pesawat Berbahan Bakar Bioavtur

Pada tahun 2020, SIA menjalin kemitraan selama satu tahun dengan Bandara Swedavia di Stockholm untuk penggunaan campuran bahan bakar jet dan SAF melalui sistem hidran bahan bakar di bandara tersebut untuk penerbangan SIA antara Stockholm dan Moskow. Kemitraan ini meningkatkan pemahaman SIA Group tentang logistik dan pengadaan bahan bakar terbarukan.

Pada September 2023, SIA, CAAS, dan GenZero, menyelesaikan uji coba SAF selama 20 bulan. Dalam uji coba ini, 1.000 ton SAF bersih diimpor, dicampur di Singapura, dan diangkut melalui sistem hidran bahan bakar Bandara Changi pada penerbangan SIA dan Scoot.

Douglas DC-8: Lambang Supremasi Penerbangan Jarak Jauh Garuda Indonesia di Era 60/70-an

Satu era dengan Boeing 707, McDonnell Douglas Aircraft juga merilis pesawat penumpang jarak jauh dengan empat mesin Douglas DC-8. Desainnya pun tak berbeda jauh, bahkan kedua pesawat ini termasuk kelas narrow body, alias pesawat dengan satu lorong. Bila Garuda Indonesia tak lama mengoperasikan Boeing 707, maka DC-8 dioperasikan lumayan lama oleh maskapai plat merah ini, sebanyak 11 unit Douglas DC-8 tercatat pernah memperkuat Garuda Indonesia untuk melayani penerbangan ke Eropa dan Asia Timur.

Baca juga: Jejak Boeing 707 di Indonesia – Pernah Dioperasikan 4 Maskapai Hingga Jadi Pesawat Kepresidenan

Disarikan KabarPenumpang.com dari situs planespotters.net, disebutkan ada 11 unit DC-8 dalam berbagai seri yang dioperasikan Garuda Indonesia pada dekade 60 sampai 70-an. Unit pertama yang datang adalah Douglas DC-8 50 dengan nomer PK-GJD, pesawat yang tiba dengan logo Garuda Klasik ini diterima oleh Garuda Indonesia pada Juli 1966. Pesawat DC-8 pertama ini diberinama “Siliwangi.” Sedangkan unit terakhir yang diserahkan dilangsungkan pada tahun 1974.

Dirunut dari sejarah pembuatannya, DC-8 terbang perdana pada 30 Mei 1958. Sebagai maskapai pengguna pertamanya adalah United Airlines dan Delta Air Lines. Rentang produksi DC-8 berlangsung sejak 1958 sampai 1972, McDonnell Douglas Aircraft totalnya telah memproduksi 556 unit DC-8. Populasinya memah sangat jauh dibanding Boeing 707 yang berhasil diproduksi lebih dari seribu unit.

DC-8 PK-GJD Garuda Indonesia masih dengan logo klasik, tampak pesawat di Bandara Kai Tak, Hong Kong pada tahun 1967.

Penciptaan DC-8 terkait langsung dengan Boeing 707, Douglas terpacu untuk mengembangkan sebuah pesawat komersial bertenaga jet-nya sendiri karena takut kehilangan posisi pasar. Dimulai dengan sebuah Crash Program, Douglas berhasil menerbangkan DC-8 tiga tahun setelah program dimulai. Walau dari luar tampak sama dengan Boeing 707 dengan sebuah sayap terpasang-rendah tertekuk ke belakang dan empat mesin turbojet, DC-8 dilengkapi dengan inovasinya sendiri, termasuk fitur servisabilitas dan reliabilitas canggih. Model produksi awal semuanya mempunyai dimensi dan berat similar, tetapi berbeda dalam pemasangan mesin, membuat keuntungan untuk pengembangan secara cepat dalam teknik propulsi. Sebagai pesawat penumpang jarak jauh, DC-8 dapat menjelajah sejauh 3.445 km dengan kecepatan jelajah 967 km per jam.

DC-8 dan Soekarno
Meski saat itu Indonesia belum memiliki pesawat kepresidenan, tapi pada tahun 1959, Presiden RI Soekarno melakukan kunjungan kenegaraan ke Uni Soviet. Saat itu, pemerintah RI menyewa pesawat DC-8 dari maskapai Pan American World Airways (PanAm) AS. Kedatangan Soekarno dengan pesawat buatan AS ke Moskow, Rusia sempat menjadi permasalahan dan isu yang hangat, namun Soekarno tetap pada pendirian untuk terbang ke Uni Soviet dengan DC-8.

Baca juga: DC-10 30, Kenangan Pesawat Trijet Jarak Jauh di Era Keemasan Garuda Indonesia

DC-8 dan Kisah Pilu Jemaah Haji
Dalam catatan sejarah, ada dua musibah yang terkait DC-8 dan jemaah Haji Indonesia. Musibah pertama terjadi pada 4 Desember 1974, yakni pesawat MartinAir DC-8 yang disewa untuk jemaah haji Indonesia dari embarkasi Surabaya menuju Saudi Arabia. Pesawat buatan tahun 1968 milik Matin Air itu gagal mendarat di Bandara Badaranaike Kolombo dan jatuh di Maskeliya, Srilanka. Keperluan mendarat di Kolombo adalah untuk melakukan pengisian bahan bakar.

Dalam musibah penerbangan 138 tersebut, sebanyak 182 jamaah haji, tiga pramugari dan delapan awak pesawat dinyatakan tewas dan tidak bisa lagi dikenali. Sementara musibah kedua terjadi pada 15 November 1978, sebuah pesawat DC-8 milik Islandia yang disewa Garuda Indonesia untuk membawa jemaah haji asal Kalimantan Selatan dari Jeddah menuju Surabaya, gagal mendarat di Bandara Kolombo. Tragedi tersebut menewaskan 174 jamaah Haji, sedangkan 75 jamaah berhasil selamat. Sebuah keajaiban, ada 46 jamaah yang tak cedera sedikit pun.

Semenjak kedua musibah tersebut, Kolombo tak dijadikan lagi lokasi untuk transit pengisian bahan bakar, di era selanjutnya Garuda Indonesia mengadopsi pesawat jarak jauh dengan kemampuan jelakah lebih tinggi, seperti DC-10 dan Boeing 747-200.

Apakah Anda Melakukan Penerbangan Jarak Pendek atau Jarak Jauh? Ini Bedanya

Ketika Anda terbang dari Jakarta ke Ambon, mungkin bakal ada yang menanyakan, berapa lama Anda terbang? Pun begitu ketika Anda bepergian ke luar negeri, tak jarang ada yang menanyakan, apakah Anda ikut penerbangan jarak pendek atau jarak jauh?

5 Tips Agar Penumpang Pesawat Tidak Bosan dalam Penerbangan Jarak Jauh

Sejatinya tidak ada batasan pasti dalam hal jumlah jam yang menjadikan suatu penerbangan dianggap sebagai “penerbangan jarak jauh atau penerbangan pendek.” Pemahaman umum adalah bahwa penerbangan jarak jauh melibatkan perjalanan antara lokasi yang berjarak cukup jauh, melebihi jarak yang biasanya ditempuh dalam penerbangan kelas regional atau domestik. Namun, ada beberapa panduan umum yang dapat Anda gunakan sebagai acuan”

Penerbangan Jarak Pendek
Biasanya, penerbangan yang ditempuh dalam waktu kurang dari 3-4 jam dianggap sebagai penerbangan jarak pendek atau regional. Ini dapat mencakup penerbangan domestik dan beberapa penerbangan internasional di wilayah terdekat.

Penerbangan Jarak Menengah
Penerbangan dengan durasi sekitar 4 hingga 7 jam sering kali dianggap sebagai penerbangan jarak menengah. Ini mungkin mencakup penerbangan antarbenua atau beberapa penerbangan transatlantik.

Penerbangan Jarak Jauh
Penerbangan yang melebihi 7-8 jam dianggap sebagai penerbangan jarak jauh. Ini biasanya mencakup penerbangan antarbenua yang panjang atau penerbangan lintas samudra.

Ini Perbedaan Penerbangan Jarak Jauh dan Jarak Pendek dari Perspektif Pilot

Perlu diingat bahwa panduan ini bersifat umum, dan ada banyak faktor yang dapat memengaruhi klasifikasi suatu penerbangan, termasuk rute spesifik, jenis pesawat yang digunakan, dan peraturan maskapai. Beberapa penerbangan jarak menengah atau pendek, terutama yang menghubungkan wilayah dengan infrastruktur penerbangan terbatas, dapat dianggap sebagai penerbangan jarak jauh. Sebaliknya, beberapa penerbangan yang melewati wilayah besar dapat ditempuh dalam waktu relatif singkat dan masih dianggap sebagai penerbangan jarak jauh.

Dipelopori Lufthansa, Layanan In-Flight WiFi Kini Telah Berusia 20 Tahun

Tidak terasa, layanan internet di kabin pesawat udara atau kondang disebut in-flight WiFi sudah mencapai usia dua dekade. Maskapai penerbangan yang pertama kali menyediakan layanan in-flight WiFi di pesawat adalah Lufthansa, maskapai penerbangan asal Jerman.

Baca juga: Parade WiFi in The Sky, Inilah Profil Layanan WiFi Maskapai dengan Beragam Karakternya

Lufthansa memulai penerbangan komersial dengan layanan Wi-Fi pada bulan Desember 2003 untuk rute Frankfurt (Jerman) – Washington-Dulles (Amerika Serikat). Pada awalnya, layanan ini hanya tersedia di kelas bisnis, dan kemudian diperluas untuk mencakup kelas ekonomi.

Lufthansa menggunakan teknologi berbasis satelit untuk menyediakan layanan WiFi di pesawat mereka. Saat itu, Lufthansa menggunakan pesawat Boeing 747-400 untuk menyediakan layanan WiFi pertamanya di pesawat. Boeing 747-400 adalah pesawat jumbo jet dengan jangkauan yang panjang, dan pada masa itu, pesawat ini menjadi salah satu dari jenis pesawat utama dalam armada Lufthansa.

Keberhasilan implementasi ini mendorong maskapai penerbangan lain untuk mengadopsi dan memperluas layanan WiFi di pesawat mereka, dan ini menjadi tren industri yang semakin umum seiring waktu.

Pada tahun 2010-an, layanan in-flight WiFi semakin umum dan mulai diperluas ke kelas ekonomi. Pesawat-pesawat yang sering dilibatkan termasuk pesawat jarak jauh atau penerbangan lintas benua. Seiring dengan pesawat baru yang dirancang dengan teknologi terbaru, banyak maskapai meningkatkan kemampuan Wi-Fi di pesawat mereka. Beberapa maskapai bahkan menggantikan atau meningkatkan sistem WiFi mereka untuk menawarkan kecepatan yang lebih tinggi dan koneksi yang lebih stabil.

Baca juga: Pertama di Dunia, Cina Bakal Hadirkan Teknologi 5G di Penerbangan! Seperti Apa?

Layanan in-flight WiFi umumnya menggunakan teknologi seperti satelit atau gelombang radio untuk menyediakan koneksi internet ke pesawat. Perusahaan penerbangan terus mengembangkan dan meningkatkan layanan ini untuk memenuhi kebutuhan penumpang yang semakin bergantung pada konektivitas internet selama penerbangan.

Sambut Nataru 2024, Promo Tarif Baru LRT Jabodebek Jadi Rp3 – 10 Ribu, Headway 7-15 Menit

Direktorat Jenderal Perkeretaapian (DJKA) Kementerian Perhubungan menerapkan tarif promo LRT Jabodebek jelang masa libur Hari Raya Natal 2023 dan Tahun Baru 2024. Tarif terdekatnya menjadi Rp3 ribu dan terjauhnya Rp10 ribu pada Senin-Jumat di luar jam sibuk (peak hour) termasuk di weekend sampai libur nasional dan Rp20 ribu setiap hari Senin-Jumat di jam sibuk.

Baca juga: Berkurang Lagi, Kereta LRT Jabodebek yang Beroperasi Tinggal 8 Trainset

Tarif promo ini dikeluarkan melalui Keputusan Direktur Jenderal Perkeretaapian Nomor: KP-DJKA 266 Tahun 2023 tentang Perubahan Ketiga Atas Keputusan Direktur Jenderal Perkeretaapian Nomor KP-DJKA 147 Tahun 2023 tentang Tarif Promo Angkutan Orang dengan Kereta Api Ringan Terintegrasi di Wilayah Jakarta, Bogor, Depok, dan Bekasi untuk Melaksanakan Kewajiban Pelayanan Publik yang ditandatangani pada Kamis (30/11).

Direktur Jenderal Perkeretaapian, Risal Wasal menjelaskan bahwa promo tarif ini diberikan untuk mendorong masyarakat agar dapat memanfaatkan LRT Jabodebek dalam bepergian selama masa libur akhir tahun ini. “Mobilitas masyarakat pada masa libur kali ini diprediksi cukup tinggi sehingga kami berharap LRT Jabodebek ini dapat dimanfaatkan dengan maksimal untuk mengurangi kemacetan di jalan,” jelasnya.

Dengan adanya pemberlakuan tarif promo baru ini, maka masyarakat dapat menggunakan LRT Jabodebek dengan skema tarif sebagai berikut.

No Skema Tarif Periode Waktu Besaran Tarif
Tarif Kilometer Maksimal
1. Hari Kerja Senin s.d. Jum’at

Pada Jam Sibuk

(Peak Hour)

06.00 s.d 08.59 WIB

16.00 s.d 18.59 WIB

Rp 3.000,-

(1 km pertama) + Rp 700,- (tiap km selanjutnya)

Rp 20.000,-
2. Hari Kerja Senin s.d. Jum’at

di luar Jam Sibuk

(Off Peak Hour)

Awal jam operasi s.d 05.59

09.00 s.d 15.59 WIB

19.00 s.d akhir jam operasi

Rp 10.000,-
3. Hari Sabtu, Minggu, dan Libur Nasional Rp 10.000,-

Skema tarif promo ini akan diberlakukan mulai Jum’at, 1 Desember 2023. Selain memberlakukan tarif promo baru, Risal menyebutkan bahwa DJKA juga akan menambah rangkaian kereta LRT Jabodebek yang beroperasi menjadi 16 rangkaian dan 200 perjalanan dari sebelumnya 12 rangkaian dan 160 perjanalan per 1 Desember 2023 dan secara bertahap akan dilakukan penambahan hingga keseluruhan rangkaian (27 rangkaian) dioperasikan secara penuh.

Baca juga: Catat, Begini Cara Temukan Barang Tertinggal-Hilang di Stasiun-Kereta LRT Jabodebek

“Penambahan rangkaian ini dimaksudkan agar waktu tunggu (headway) dapat dipersingkat menjadi 7-15 menit sekaligus untuk mengantisipasi lonjakan penumpang selama musim libur ini,” sambungnya.

Risal berharap dengan diberlakukan tarif baru dan penambahan jumlah rangkaian ini, LRT Jabodebek dapat dijadikan moda transportasi andalan masyarakat selama berlibur, maupun untuk melakukan kegiatan sehari-hari. “Kami pastikan LRT Jabodebek siap melayani masyarakat dengan prima sehingga masyarakat dapat beralih menggunakan moda transportasi ini,” tutupnya.

SOAR, Solusi Bagi Anda yang Punya Trauma Perjalanan Udara

Mengudara dengan menggunakan pesawat dari satu pabrikan yang baru saja diterpa berbagai isu pasca dua kecelakaan beruntun memang tidaklah semudah membalikkan telapak tangan. Rasa takut untuk kembali mengudara seolah seperti hadir kembali bak momen pertama kali Anda terbang dengan menggunakan pesawat – atau bahkan lebih parah. Imajinasi tentang kerusakan sistem di tengah perjalanan hingga kecelakaan yang mungkin saja bisa menimpa perjalanan Anda menjadi sekelibat pikiran buruk yang mampir ke pikiran seketika Anda masuk ke ruang kabin.

Baca Juga: Mobile Game Ini “Ajarkan” Penumpang Hadapi Situasi Darurat Selama Mengudara

Terlebih ketika Anda merupakan seorang yang memiliki trauma tersendiri terhadap dunia penerbangan, tentu sajahal ini menjadi semakin tidak mudah untuk diatasi. KabarPenumpang.com mengutip dari laman npr.org (17/4/2019), Ben Kaminow merupakan orang yang tepat untuk mencontohkan deskripsi di atas – dimana Ben merupakan seorang yang memiliki trauma terhadap perjalanan udara sejak tahun 1993. Trauma yang dialami Ben ini dikarenakan pesawat yang kala itu ditumpanginya mendapatkan turbulensi yang cukup kuat, dan sejak saat itu ia menjadi trauma.

Ben sendiri lebih memilih untuk menghabiskan waktu yang lebih lama via jalur darat ketimbang harus terbang dengan menggunakan maskapai yang paling nyaman sekalipun.

Sadar bahwa traumanya ini hanya akan menyusahkan dirinya di masa yang akan datang, Ben mencari referensi hingga ia mendapatkan buku karangan Tom Bunn, eks pilot di United Airlines yang sekarang beralih profesi menjadi seorang terapis berlisensi.

SOAR, buku karangan Tom Bunn ini sebenarnya merupakan salah satu dari bundle yang dapat mengobati trauma seseorang terhadap perjalanan udara. Tidak hanya buku saja, SOAR juga memiliki bentuk lain berupa DVD hingga bimbingan konseling yang dapat dipilih oleh si penderita – tergantung dari tingkatan trauma yang menderunya.

Baca Juga: Terpecahkan! Beginilah Proses Pengambilan Gambar Ketika Pesawat Tengah Mengudara

Benar saja, setelah berpuluh tahun mengidap trauma perjalanan udara, Ben yang mencoba ‘terapi’dari SOAR ini berhasil mengalahkan trauma pada dirinya. Bagaimana tidak, Tom Bunn yang merupakan founder dari SOAR ini berani memberikan jaminan apabila trauma yang diidap oleh seseorang tidak kunjung pulih.

Wah, sepertinya ini merupakan ‘terapi’ yang tepat bagi Anda yang hingga kini masih takut untuk mengudara, ya!

 

Turbulesnsi Tak Hanya Terjadi di Pesawat, Tetapi Juga di Alam Semesta

Tidur saat berada di pesawat dan sembari mendengarkan lagu dari headphone menjadi salah satu yang bisa membuat sedikit nyaman. Namun saat menikmati hal tersebut tiba-tiba tanda gunakan sabuk pengaman menyala dan ketika itu ada goncangan yang cukup keras dan tiba-tiba hilang seketika.

Baca juga: Prediksi Potensi Turbulensi Secara Real-Time, IATA Luncurkan “Turbulence Aware”

Saat itu semua kembali tenang dan tanda menggunakan sabuk pengaman sudah dimatikan. Awak kabin kembali melayani penumpang. Ya, ini yang disebut dengan turbulensi. KabarPenumpang.com merangkum dari laman forbes.com (23/1/2019), turbulensi sendiri merupakan aspek kehidupan manusia sehari-hari.

Turbulensi sendiri muncul dari berbagai sumber dan akhirnya semua sama, jika inersia fluida atau jumlah kekuatan yang mengalir terlalu tinggi atau vikositasnya menjadi terlalu rendah, maka akan ada turbulensi. Bahkan bila gerakan fluida terlalu banyak dan tidak bisa mempertahankan aliran yang stabil, maka turbulensi juga akan terjadi.

Adanya turbulensi sendiri membuat fluida terpencar dan beberapa tambalan akan memiliki kepadatan yang lebih tinggi dan yang lain rendah. Sedangkan beberapa akan memiliki banyak tekanan dengan yang lainnya sedikit, bahkan akan bergerak cepat ataupun lambat.

Hal inilah yang menyebabkan pesawat bergetar di udara dan bergejolak. Sebab pesawat menembus kantong kecepatan angin, tekanan dan suhu yang sangat berbeda. Turbulensi sendiri bisa menjadi semakin besar. Gugusan galaksi adalah binatang yang sangat besar.

Mereka adalah rumah bagi seribu galaksi atau lebih yang semuanya padat, merentang jutaan tahun cahaya dari ujung ke ujung, dan mencatat dalam skala seribu kali lipat lebih besar daripada matahari. Meskipun cluster adalah rumah bagi seribu atau lebih galaksi, galaksi itu sendiri hanya merupakan persentase kecil dari massa gugusan.

Jauh melebihi galaksi adalah plasma tipis dan panas yang mengisi seluruh volume cluster. Plasma ini, yang disebut media intracluster, sangat tipis sehingga akan terdaftar sebagai ruang hampa udara di laboratorium Earthly, tetapi sangat panas sehingga bercahaya dengan sinar-X yang persisten.

Plasma ini juga bergetar seperti halnya cairan lain dalam kondisi seperti itu. Galaksi terus mengalir melewatinya. Mesin bertenaga yang disebut quasar meletuskan gelembung raksasa ke dalamnya. Kadang-kadang cluster bergabung, dan Anda bisa membayangkan apa yang terjadi setelah itu.

Turbulensi memainkan peran penting lainnya di dalam kluster galaksi. Semua benda besar di alam semesta adalah potret keseimbangan. Gravitasi selalu ingin menarik sesuatu, sementara kekuatan lain biasanya ingin mendorong sesuatu keluar. Ketika semua kekuatan ini seimbang, objek dapat bertahan selama jutaan atau bahkan milyaran tahun.

Baca juga: Peneliti Buktikan Bahwa Guncangan Akibat Turbulensi Bisa Diredam!

Dalam kasus kluster galaksi, turbulensi juga berperan: turbulensi membantu mencegah kluster galaksi agar tidak runtuh lebih jauh, mempertahankan volumenya.
Turbulensi adalah salah satu aspek fisika yang indah yang dapat Anda temukan pada skala kecil dan besar, mulai dari kopi hingga naik pesawat hingga hal-hal terbesar di alam semesta.

Crosswind, Terjangan Angin dari Samping, Juga Jadi Ancaman di Moda Darat

Angin yang bertiup kencang dengan kondisi lurus sejajar cenderung memudahkan pengendalian pesawat saat proses pendaratan. Namun lain halnya dengan angin yang berhembus kencang dan datang dari arah samping, inilah crosswind yang masih menjadi momok dalam dunia aviasi.

Baca juga: Melawan Lupa, Ini Dia 4 Pesawat Terkecil di Seantero Jagad

Crosswind merupakan hal yang paling dikhawatirkan setiap penerbang, baik saat akan lepas landas maupun mendarat. Sebab, arah datangnya angin yang tegak lurus sehigga menyebabkan objek bisa berpindah kearah angin tersebut bergerak. Angin yang bergerak lurus dari arah samping dan bisa mempengaruhi aerodinamika berbagai bentuk transportasi. Biasanya untuk menentukan komponen crosswind dalam sebuh penerbangan, para pilot sering merujuk pada nomograph dimana kecepatan sudut angin pilot dan komponen crosswind dibaca dari garis referensi.

Arah perjalanannya pun relatif terhadap angin bisa dari kanan atau kiri, atas atau bawah bahkan miring. Dalam penerbangan crosswind sendiri bisa membuat pendaratan dan lepas landas lebih sulit dibandingkan jika angin bertiup lurus ke arah landasan pacu. Permasalahan terbesarnya, jika crosswind cukup kuat, bisa merusak undercarriage pesawat saat mendarat.

Beberapa literatur menyebut bahwa crosswind adalah hal yang biasa terjadi dalam dunia penerbangan. Di Eropa atau Amerika angin yang berhembus disekitar bandara bukanlah angin sepoi-sepoi, melainkan angin yang berkecepatan tinggi dan berbahaya bagi pesawat. Angin bukan hanya berbahaya bagi pesawat kecil, sekelas pesawat jet berbadan lebar pun juga dapat terkena dampak crosswind.

Kelihaian pilot dalam mengendalikan pesawat menjadi taruhan, dalam tempo yang singkat, pilot harus mampu memtuskan, apakah terus melakukan upaya pendaratan, ataukan justru tancap ‘gas’ kembali menerbangkan pesawat untuk mencoba melakukan pendaratan ulang.

Meski dengungnya tak sepopuler di udara, fenomena crosswind juga terjadi di darat dan dialami oleh kendaraan roda empat dan roda dua. Contoh yang paling sederhana adalah crosswind yang kerap terjadi di tol Cipularang, dimana lokasinya banyak menyeberangi lembah dan membuat jalan tol ini cenderung lebih berangin. Terkadang angin di lokasi ini cukup kencang dan membuat mobil berpindah jalur karena stir oleng.

Banyak yang mengatakan bahwa Km 70 di tol Cipularang  sering terjadi kecelakaan karena hal mistis, padahal bukan karena itu, ini disebabkan posisi jalan dengan permukaan tanah cukup tinggi. Selain itu ditambah pengaruh turbulensi dari angin bawah tol menuju ke atas mirip dengan pesawat terbang. Tak hanya itu, sebenarnya saat Anda melewati Cipularang pada Km tersebut Anda tidak akan merasa sedang berjalan di atas jembatan setinggi 50-60 meter dari tanah. Sehingga ada kewajaran saat berada di ketinggian tersebut mobil yang dikendari diterjang angin.

Baca juga: Hadapi Petir, Es dan Angin Kencang, Pesawat Sejatinya Telah Dirancang Untuk Kondisi Ekstrim

Sebagai catatan,  ada beberapa kecelakaan yang terjadi pada penerbangan akibat crosswind, yakni Adam Air DHI 574 pada 1 Januari 2007 yang berangkat dari Bandara Juanda, Surabaya. Sesuai jadwal, pesawat seharusnya mendarat di di Bandara Hasanuddin, Makassar, pukul 14.25 WIB, sebelum melanjutkan ke penerbangan ke Manado. Pada pukul 14.06 WIB, pilot Adam Air menghubungi ATC Bandara Hasanuddin, Makassar. Ia mengabarkan pesawat terkena crosswind. Namun, pada pukul 14.07 WIB, Adam Air hilang dari pantauan radar sekitar 157,4 kilometer arah barat laut Makassar. Waktu itu pesawat berada dalam ketinggian 10,668 meter. Sampai batas akhir bahan bakar pesawat Adam Air pukul 17.00, keberadaan pesawat belum juga diketahui.

Keberadaan pesawat Adam Air baru menemukan titik terang setelah seminggu lebih dilakukan pencarian. Nelayan di pesisir Desa Bojo, Kabupaten Barru, pada 9 Januari 2007 menemukan puing-puin pesawat. Kotak hitam Adam Air baru ditemukan 28 Agustus 2007 di kedalaman 2000 meter di perairan Majene, Sulawesi Barat.

Dalam catatan KabarPenunpang.com, Fokker F-27 M400 Troopship TNI AU A-2703 yang jatuh menghantam hanggar PT Dirgantara Indonesia di Bandung pada 6 April 2009, juga diakibatkan oleh crosswind yang diduga datang dari arah utara, sementara pesawat datang dari arah timur. Akibatnya, pesawat terbawa ke arah kiri dan melebar dari jalur pendaratan dan kemudian menghantam hanggar Air Craft Service (AFC) milik PT DI di Bandara Husein Sastranegara.

Lampu di Kabin Pesawat ‘Mati’ Saat Turbulensi, Jangan Keburu Panik, Ini Tujuannya

Meski tak ada yang menginginkan, mengalami turbulensi menjadi sebuah risiko yang harus dihadapi oleh pengguna jasa penerbangan. Dalam kasus turbulensi yang hebat, lampu di kabin bisa saja mati, yang sepintas akan menciptakan ketakutan bagi para penumpang. Namun, perlu diketahui bahwa lamput dalam kondisi turbulensi memang kadang sengaja dimatikan. Dan rupanya itu ada alasa tersendiri.

Baca juga: Terjadi Turbulensi? Tetap Tenang dan Jangan Panik

Pemadam lampu kabin saat terjadi turbulensi di pesawat biasanya dilakukan untuk beberapa alasan, dan kebijakan ini dapat bervariasi antara maskapai penerbangan. Beberapa alasan umum untuk memadamkan lampu kabin selama turbulensi melibatkan pertimbangan keamanan, kenyamanan, dan komunikasi di dalam pesawat. Berikut beberapa alasan potensial:

1. Keamanan
Selama turbulensi, penumpang dan awak kabin diharapkan untuk tetap di kursi mereka dan menggunakan sabuk pengaman. Memadamkan lampu kabin dapat membantu penumpang melihat dengan lebih baik penerangan jalur evakuasi dan petunjuk keselamatan yang terletak di lantai pesawat.

2. Pencegahan Cedera
Dengan memadamkan lampu kabin, penumpang mungkin lebih memilih untuk duduk dengan tenang dan tidak mencoba bergerak bebas di sekitar kabin selama kondisi turbulensi, yang dapat membantu mencegah cedera akibat terjatuh atau benturan dengan objek lainnya.

3. Kenyamanan
Memadamkan lampu kabin dapat menciptakan atmosfer yang lebih tenang dan membantu penumpang tetap tenang selama turbulensi. Cahaya yang lebih lembut atau lampu darurat mungkin tetap menyala untuk memberikan penerangan minimal.

4. Kemampuan Awak Kabin
Selama turbulensi, awak kabin dapat lebih mudah melihat kondisi di kabin dan merespons dengan cepat terhadap kebutuhan penumpang atau situasi darurat tanpa hambatan cahaya yang terang.

5. Navigasi dan Pengawasan
Pemadam lampu kabin dapat membantu pilot melihat dengan lebih baik instrumen dan kontrol di kokpit, memudahkan navigasi dan pengawasan kondisi pesawat selama turbulensi.

Baca juga: Mau Naik Pesawat dengan Turbulensi Minimal, Sebaiknya Pilih Penerbangan di Malam Hari

Penting untuk dicatat bahwa kebijakan mengenai pemadam lampu kabin selama turbulensi dapat berbeda antara maskapai penerbangan dan mungkin berubah tergantung pada situasi dan kebijakan internal maskapai.

Awak kabin biasanya akan memberikan instruksi kepada penumpang selama kondisi turbulensi untuk menjaga keamanan dan kenyamanan selama penerbangan.