Mengenal Teknologi Double Bellows: Standar Baru Kenyamanan dan Kesenyapan di Bordes Kereta Api KAI

Dalam beberapa tahun terakhir, PT Kereta Api Indonesia (Persero) terus melakukan lompatan teknologi guna meningkatkan standar kenyamanan perjalanan jarak jauh. Salah satu inovasi yang paling dirasakan perubahannya, namun jarang dibahas secara mendalam, adalah penggunaan teknologi Double Bellows pada area sambungan antar gerbong.

Komponen yang sering disebut sebagai “bordes” atau “akordeon” ini kini hadir dengan desain ganda yang jauh lebih kokoh dibandingkan versi konvensional. Teknologi ini menjadi bagian tak terpisahkan dari sarana New Generation yang bertujuan menghapus stigma area sambungan kereta yang bising, gelap, dan berangin.

Secara teknis, Double Bellows bekerja dengan sistem isolasi ganda yang menutup celah antar kereta secara total, baik dari sisi interior maupun eksterior. Jika pada teknologi lama sambungan hanya menggunakan satu lapis karet yang menyisakan celah udara, Double Bellows menggunakan material sintetis berkekuatan tinggi yang dirancang kedap suara dan kedap cuaca.

Teknologi ini berfungsi sebagai peredam getaran (vibrasi) yang timbul saat rangkaian kereta melewati tikungan tajam atau melaju dalam kecepatan tinggi di atas 100 km/jam. Dengan material yang lebih elastis namun kuat, sambungan ini mampu menahan tekanan udara luar sehingga suhu dingin dari AC di dalam kabin tetap terjaga dan tidak terbuang keluar.

Manfaat bagi penumpang sangatlah signifikan, terutama dalam aspek akustik dan keamanan. Penggunaan Double Bellows secara drastis menurunkan tingkat kebisingan (decibel) di area bordes hingga hampir setara dengan kesenyapan di dalam ruang kabin utama. Penumpang kini dapat berpindah antar gerbong dengan nyaman tanpa harus terganggu oleh suara deru rel atau angin kencang yang masuk melalui celah sambungan.

Ternyata, Bordes Merupakan Nama Seorang Meneer Belanda Lho!

Selain itu, desain lorong sambungan atau gangway yang menggunakan teknologi ini dibuat lebih lebar dan rata, sehingga meminimalisir risiko tersandung bagi penumpang yang membawa barang bawaan atau bagi petugas restorasi yang sedang melayani pesanan di sepanjang rangkaian.

Saat ini, PT KAI telah mengadopsi teknologi Double Bellows pada rangkaian-rangkaian unggulan mereka yang menggunakan sarana Stainless Steel New Generation. Beberapa kereta api (KA) yang sudah merasakan teknologi ini antara lain KA Taksaka (Gambir-Yogyakarta), KA Argo Dwipangga dan KA Argo Lawu (Gambir-Solo Balapan), serta KA Argo Bromo Anggrek (Gambir-Surabaya Pasarturi).

Kedepannya, KAI secara bertahap terus menambah armada baru melalui PT INKA untuk memastikan standar sambungan ini dapat dinikmati di lebih banyak rute komersial lainnya. Kehadiran Double Bellows membuktikan bahwa detail kecil di area sambungan memiliki peran besar dalam menciptakan pengalaman perjalanan yang lebih premium dan modern di Indonesia.

Jan Philip de Bordes – Pelopor Pembangunan Kereta Api di Wilayah Tropis (Indonesia)

Transformasi Hijau KAI: KRL Siap Garap Rute Jakarta-Cikampek dan Cigombong Gantikan Kereta Diesel

Layanan kereta api saat ini sudah berkembang pesat. Dari mulai pelayanan, kenyamanan, bahkan ketepatan waktu juga diperhitungkan. Ya, tentu saja untuk kembali kepada masyarakat sebagai pengguna setia dan prioritas utama. Pelayanan terhadap pengguna kereta api saat ini makin terus dikembangkan agar ke depannya terlihat hasil yang baik dalam kinerja PT Kereta Api Indonesia Persero (KAI).

Untuk itu pemerintah sedang mengembangkan teknologi maju dalam sektor pelayanan. Salah satunya adalah dengan mengubah sistim perkeretaapian pada jalur yang dipilih guna memenuhi kebutuhan masyarakat. Karena transportasi kereta api di mata masyarakat telah menjadi rutinitas tersendiri dalam melakukan aktivitas yang bisa ditempuh dengan praktis dan efisien.

Dari hal tersebut ke depannya PT KAI akan melakukan inovasi dalam mengubah layanan angkutan kereta api yaitu melakukan elektrifikasi di dua jalur strategis, seperti Jakarta – Cikampek dan Jakarta – Cigombong. Kepala Badan Pengaturan BUMN (BP BUMN) Dony Oskaria mematangkan rencana penggunaan kereta rel listrik (KRL) di dua jalur sekitar DKI Jakarta dan Jawa Barat.

Sebenarnya ke dua jalur yang dilayani tersebut sudah di jalankan srbagai kereta api Lokal Commuter Line yang masih ditarik lokomotif berbahan bakar diesel. Namun, ke depan akan diubah dengan KRL bertenaga listrik. Cara ini digadang-gadang untuk menghadirkan mobilitas yang efisien serta ramah lingkungan.

Jakarta – Cigombong merupakan jalur yang cukup strategis ke wilayah Sukabumi, Jawa Barat. Sementara itu, jalur Jakarta – Cikampek akan mendekatkan akses ke kawasan Karawang, Jawa Barat. Rencana tersebut turut dibahas optimalisasi kapasitas sarana dan prasarana khususnya di wilayah Jabodetabek, rencana replacement unit lokomotif, serta peremajaan dan modernisasi sarana dan teknologi.

Penguatan inovasi layanan dan penataan anak usaha, termasuk pengembangan angkutan barang melalui KAI Logistik dan kerja sama dengan INKA, juga menjadi bagian dari upaya mendorong efisiensi dan daya saing sektor perkeretaapian nasional. Transformasi tersebut harus dijalankan dengan tata kelola yang baik, mengedepankan transparansi, serta menjunjung tinggi prinsip akuntabilitas dalam setiap proses bisnis.

Namun, transformasi KAI tidak berhenti di infrastruktur saja. Pemerintah juga menyoroti penataan anak usaha, penguatan angkutan barang melalui KAI Logistik, hingga kerja sama dengan industri manufaktur kereta. Fokusnya adalah efisiensi dan daya saing, tapi dengan dampak langsung ke publik: layanan lebih cepat, aman, dan andal. Di sisi lain, elektrifikasi juga menjadi bagian dari target jangka panjang penurunan emisi di sektor transportasi.

Usianya Lebih dari Satu Abad, Stasiun Karawang Masih Terlihat Megah dan Makin Eksis

Jembatan Jalan Raya Pertama Rusia-Korea Utara Rampung, Siap Tampung 2.850 Penumpang Per Hari

Langkah besar dalam integrasi infrastruktur di perbatasan Asia Timur baru saja mencapai puncaknya. Rusia dan Korea Utara resmi merayakan penyambungan bagian terakhir dari jembatan jalan raya baru yang membentang di atas Sungai Tumen. Proyek bersejarah ini menjadi tonggak penting karena menghadirkan akses darat langsung untuk kendaraan bermotor (mobil dan bus) antara kedua negara untuk pertama kalinya dalam sejarah, melengkapi jalur kereta api yang sudah ada sebelumnya.

Pembangunan jembatan yang memiliki panjang total hampir 5 kilometer ini diselesaikan dalam waktu yang relatif singkat. Dimulai pada Maret 2025 dengan nilai investasi mencapai 100 juta dolar AS, pengerjaan konstruksi utama berhasil dirampungkan dalam waktu kurang dari satu tahun. Infrastruktur ini dirancang dengan kapasitas yang cukup besar untuk mendukung mobilitas kawasan, di mana jembatan ini diproyeksikan mampu menampung hingga 300 kendaraan dan melayani pergerakan sekitar 2.850 penumpang setiap harinya.

Secara operasional, arus lalu lintas jalan raya dijadwalkan akan mulai dibuka secara resmi pada Juni 2026. Kehadiran akses darat ini diyakini akan memberikan dorongan signifikan bagi perdagangan lintas batas, terutama untuk komoditas seperti batu bara, kayu, dan hasil laut. Selain aspek logistik, jembatan ini menjadi urat nadi strategis bagi pergerakan penumpang dan personel, sejalan dengan kemitraan strategis yang ditandatangani kedua negara pada tahun 2024 yang menuntut mobilitas yang lebih dinamis.

Korea Utara dan Rusia Bangun Jembatan Raksasa Sepanjang 4,6 Km

Bagi sektor transportasi, jembatan Khasan-Tumangang ini menghapus ketergantungan penuh pada moda kereta api yang selama ini memiliki keterbatasan fleksibilitas. Dengan adanya akses jalan raya, layanan bus antarnegara kini memungkinkan untuk dikembangkan, memberikan opsi moda transportasi yang lebih bervariasi bagi pelintas batas. Proyek ini tidak hanya sekadar menyambungkan daratan, tetapi juga memperkuat posisi Rusia dan Korea Utara dalam peta logistik regional yang lebih terintegrasi.

Menjelang pembukaannya pada musim panas mendatang, fokus saat ini beralih pada penyelesaian fasilitas pendukung di pos lintas batas kedua negara. Modernisasi sistem pemeriksaan imigrasi dan bea cukai sedang disiapkan untuk memastikan bahwa kapasitas 2.850 penumpang harian dapat terlayani dengan lancar dan aman. Jembatan ini kini berdiri sebagai simbol fisik dari penguatan hubungan bilateral yang semakin erat di ujung timur Benua Asia.

Jembatan Tumangang – Jembatan Kereta Penghubung Antara Rusia dan Korea Utara

Sambut Hari Kartini, Kereta Api Bima Pamerkan Lukisan Hasil Karya Erika Richardo

Hari Kartini tidak hanya menjadi momen seremonial, tetapi juga pengingat akan pentingnya kesetaraan gender, khususnya dalam bidang pendidikan dan peran perempuan di masyarakat. Peringatan ini identik dengan sosok Raden Ajeng Kartini yang dikenal sebagai pelopor emansipasi perempuan di Indonesia.

Biasanya peringatan tersebut diisi dengan kegiatan-kegiatan yang bertujuan untuk menghormati jasa-jasa Kartini dalam memperjuangkan kesetaraan hak perempuan, khususnya dalam memperoleh pendidikan yang layak di masa penjajahan.

Namun, ada hal yang berbeda dalam menyambut Hari Kartini oleh PT Kereta Api Indonesia Indonesia (Persero). Bisa terbilang unik karena telah mengundang sosok perempuan yang sangat berbakat dibidang lukisannya yang sangat populer dan viral.

Ya, KAI telah menjalin kerjasama dengan seorang influencer sekaligus pelukis muda bernama Erika Richardo. Ia kembali mencuri perhatian lewat karya uniknya. Untuk pertama kalinya, Erika mencoba melukis langsung di badan kereta sebagai bentuk perayaan Hari Kartini. Proyek ini menjadi salah satu pencapaian baru dalam perjalanan kariernya sebagai pelukis.

Dalam prosesnya, Erika mengungkap bahwa ide melukis di kereta sudah muncul sejak awal tahun 2026. Bersama tim, ia berusaha menjalin komunikasi dengan KAI hingga akhirnya mendapat kesempatan untuk merealisasikan proyek tersebut. Kereta yang dilukis bukanlah sembarangan. Erika mendapat bagian kereta makan dengan panjang sekitar 20 meter bernomor kode M1 0 24 06 miliki Depo Induk Jakarta Kota (JAKK).

Selain Erika bebas berekspresi dan berkarya lewat lukisannya yang bertema Hari Kartini, ia juga mendapat tantangan melukis dalam kurun waktu tiga hari. Perjalanan Erika di dunia seni memang terbilang unik. Selama beberapa tahun berkarya, ia telah melukis di berbagai media tak biasa, mulai dari bis hingga pesawat.

Dalam unggahan Instagram pada Kamis (16/4) mengatakan “Dari sekadar ide, akhirnya project lukis di kereta ini bisa benar-benar berjalan untuk Hari Kartini. Sekarang masih on progress, tapi already feeling so grateful for this journey. Hopefully the final piece will be something you all can connect with and love.”

Ia pun merasa sangat senang bisa berkolaborasi dengan KAI untuk merayakan hari Kartini. Saat ini hasil lukisan mahakarya Erika Richardo dirangkaian pada KA Bima dengan rute Gambir – Surabaya Gubeng.

Mengenal Eksotisme Layanan Kereta Tidur “Tempo Doeloe”, Gerbong Diimpor Langsung dari Jerman

Revolusi Perawatan Rel: Robot Otomatis ‘Trackbot’ Mulai Beroperasi di Belanda

Inovasi teknologi di dunia perkeretaapian kembali mencatatkan sejarah baru. Kali ini, Belanda mulai mengoperasikan “Trackbot”, sebuah robot otomatis yang dirancang khusus untuk memodernisasi infrastruktur kereta api, khususnya dalam instalasi sistem ERTMS (European Rail Traffic Management System).

Kehadiran teknologi robotik ini diharapkan dapat mempercepat digitalisasi perkeretaapian sekaligus meningkatkan efisiensi pemeliharaan jalur rel yang selama ini sangat bergantung pada tenaga manusia.

Tugas utama dari Trackbot adalah memasang balise ERTMS—perangkat elektronik yang diletakkan di antara bantalan rel untuk mengirimkan informasi posisi dan kecepatan ke kereta yang lewat. Secara tradisional, pemasangan ribuan balise di sepanjang jalur rel memerlukan banyak tenaga kerja, waktu yang lama, dan risiko keselamatan kerja yang tinggi karena dilakukan di area operasional.

Dengan Trackbot, proses pengeboran pada bantalan rel dan pemasangan perangkat tersebut dapat dilakukan secara otomatis dengan presisi tinggi. Robot ini bergerak di atas rel dan mampu bekerja secara mandiri, mengurangi kebutuhan personel di lapangan secara signifikan.

Penggunaan robot ini merupakan bagian dari ambisi besar Belanda untuk mengonversi seluruh jaringan kereta apinya ke standar ERTMS. Sistem manajemen lalu lintas digital ini memungkinkan kereta untuk melaju lebih rapat satu sama lain dengan tingkat keamanan yang lebih tinggi, sehingga secara otomatis meningkatkan kapasitas angkut penumpang tanpa harus membangun jalur rel baru yang mahal.

Manfaat utama dari penggunaan robot dalam proyek infrastruktur ini meliputi:

Presisi Tinggi: Pemasangan perangkat dilakukan dengan akurasi digital yang konsisten.

Keamanan Kerja: Mengurangi paparan risiko bagi pekerja lapangan di area lintasan kereta.

Efisiensi Waktu: Robot dapat bekerja dalam durasi yang lebih lama dan lebih cepat dibandingkan metode manual.

Keberhasilan pengoperasian Trackbot di Belanda memberikan gambaran tentang masa depan industri transportasi rel secara global. Digitalisasi bukan hanya soal sistem yang ada di dalam kabin masinis, tetapi juga tentang bagaimana infrastruktur fisik dibangun dan dirawat dengan bantuan otomatisasi.

Bagi para penumpang, teknologi “di balik layar” seperti Trackbot ini adalah jaminan bahwa perjalanan kereta api akan menjadi lebih andal, tepat waktu, dan memiliki frekuensi perjalanan yang lebih banyak di masa depan.

Mengenal Lebih Dalam Mesin Perawatan Rel Kereta, Si Kuning Yang Gemar “Patroli” di Malam Hari

Lebih dari Sekadar Gaya, Ini Alasan Mengapa Pramugari Mengenakan Topi Seragam

Jika Anda sering bepergian dengan pesawat, Anda pasti menyadari bahwa beberapa maskapai penerbangan dunia tetap mempertahankan penggunaan topi sebagai bagian dari seragam pramugari mereka. Sebut saja Emirates dengan topi merah ikoniknya atau Qatar Airways dengan gaya topi pelaut yang elegan.

Namun, pernahkah Anda bertanya-tanya mengapa aksesori ini begitu penting? Ternyata, penggunaan topi bukan sekadar urusan estetika atau tren fesyen semata, melainkan memiliki sejarah panjang dan fungsi strategis bagi identitas maskapai.

Pada masa awal penerbangan komersial di tahun 1930-an, seragam awak kabin sangat dipengaruhi oleh estetika militer dan maritim. Karena pilot selalu mengenakan topi sebagai simbol otoritas, pramugari pun mengikuti gaya tersebut untuk memberikan kesan disiplin dan terstruktur.

Emirates (Pinterest)

Menariknya, pramugari pertama di dunia, Ellen Church, sebenarnya adalah seorang perawat. Penggunaan topi pada masa itu juga terinspirasi dari seragam perawat yang melambangkan kepedulian dan keamanan, memberikan rasa tenang bagi penumpang yang saat itu masih merasa takut untuk terbang.

Ellen Church, Pramugari Pertama di Dunia yang Juga Punya Lisensi Pilot

Di industri penerbangan yang sangat kompetitif, seragam adalah alat pemasaran yang berjalan. Topi sering kali menjadi elemen yang paling mudah dikenali dari kejauhan.

Beberapa maskapai menggunakan topi untuk menonjolkan identitas budaya. Contohnya:

Emirates: Topi merah dengan kerudung putih yang memiliki tujuh lipatan, melambangkan tujuh emirat di Uni Emirat Arab (UEA).

Etihad Airways: Topi pillbox berwarna cokelat yang terinspirasi dari butiran pasir gurun dan gaya glamor bintang film tahun 1950-an.

Etihad Buka Rekrutmen untuk Ratusan Pilot, Termasuk Tawarkan Boyong Keluarga ke Abu Dhabi

Topi juga berfungsi sebagai indikator jabatan atau peringkat. Di beberapa maskapai, warna topi dapat membedakan antara pramugari biasa dengan pimpinan awak kabin (Cabin Service Director). Selain itu, dalam situasi darurat, topi membantu penumpang untuk segera mengenali siapa awak kru di tengah keramaian bandara atau kabin yang kacau. Hal ini memastikan bahwa bantuan dapat dicari dengan cepat melalui identifikasi visual yang jelas.

Mengenakan topi seragam bukanlah hal yang sembarangan. Terdapat aturan grooming yang sangat ketat, seperti jarak spesifik antara topi dengan alis mata yang harus diukur secara presisi. Biasanya, topi hanya dikenakan saat berada di bandara, saat proses boarding (naik pesawat), dan disembarking (turun pesawat). Topi umumnya dilepas saat pelayanan makanan di dalam kabin demi alasan praktis.

Namun, seiring dengan perkembangan zaman dan pergeseran nilai sosial menuju inklusivitas, banyak maskapai kini mulai melonggarkan aturan. Maskapai seperti Virgin Atlantic atau Alaska Airlines kini lebih fleksibel terhadap penggunaan aksesori seragam untuk mendukung kenyamanan staf tanpa memandang gender.

Bagi maskapai seperti Singapore Airlines, mereka memilih untuk tidak menggunakan topi dan tetap setia pada kain batik Sarong Kebaya sejak akhir 1960-an, menunjukkan bahwa keanggunan tidak selalu harus diwakili oleh topi.

Mein Schiff 4 dan Mein Schiff 5 Sukses Lintasi Selat Hormuz, Kapal Pesiar dari Qatar dan UEA Kini Menuju Eropa

Kabar gembira datang dari industri wisata pesiar di Timur Tengah. Di tengah dinamika kawasan yang sering kali menjadi perhatian, dua kapal pesiar mewah milik TUI Cruises, Mein Schiff 4 dan Mein Schiff 5, dilaporkan berhasil melintasi Selat Hormuz dengan aman dan lancar setelah menyelesaikan musim pelayarannya di Qatar dan Uni Emirat Arab (UEA).

Saat ini, kedua kapal tersebut tengah melanjutkan pelayaran panjang mereka menuju destinasi musim panas di Eropa. Keberhasilan transit Mein Schiff 4 dan Mein Schiff 5 ini menjadi sinyal positif bagi para traveler laut yang sempat merasa khawatir akan keberlangsungan rute pelayaran di Teluk Arab. Selat Hormuz sendiri merupakan jalur perairan strategis yang menghubungkan Teluk Persia dengan Teluk Oman dan Samudra Hindia.

Setelah meninggalkan pelabuhan utama di Doha dan Dubai, kedua kapal ini dijadwalkan menyusuri rute melalui Laut Merah dan Terusan Suez sebelum akhirnya memasuki perairan Mediterania. Keberhasilan ini menunjukkan koordinasi yang sangat baik antara operator kapal dengan otoritas maritim regional untuk memastikan standar keamanan dan keselamatan penumpang tetap berada di level tertinggi.

Bagi industri pariwisata, kelancaran rute ini sangat krusial. Kawasan Teluk kini semakin populer sebagai titik keberangkatan (homeport) untuk pelayaran jarak jauh menuju Eropa. Dengan amannya jalur Selat Hormuz bagi kapal-kapal besar seperti seri Mein Schiff, para pelancong kini bisa kembali merencanakan liburan impian mereka di atas hotel terapung menuju pelabuhan-pelabuhan eksotis di Mediterania tanpa rasa was-was.

Crown Iris, Kapal Pesiar Milik Israel Ternyata Punya Banyak Nama Sebelumnya

Akses Mudah Bagi Masyarakat Subang, Kini Stasiun Pegadenbaru Kian Meningkat dan Ramai dengan Penumpang Kereta Api

Satu lagi di wilayah Daerah Operasi (Daop) 3 Cirebon sebuah stasiun yang kini meningkat dengan volume penumpang yamg cukup ramai. Sebetulnya diantaranya stasiun besar di wilayah ini potensi penumpang yang turun maupun naik di stasiun besar sudah menjadi bukti bahwa sektor wisata dan akses menuju beberapa kawasan di wilayah Daop 3 ini terjangkau.

Salah satu stasiun yang saat ini mulai terlihat peningkatan adalah Stasiun Pegadenbaru. Ya, sekilas stasiun ini memang tak terlihat mencolok seperti stasiun lainnya yang paling digemari di wilayah Subang maupun Cirebon. Stasiun Pegadenbaru saat ini sudah disinggahi beberapa kereta api baik dari arah Jakarta maupun dari arah Surabaya.

Saat akhir pekan tiba sering menjadi waktu bagi banyak orang untuk melakukan aktivitas atau pergerakan di waktu luang. Seperti halnya di Kabupaten Subang, pergerakan itu kini semakin terasa dari satu titik yang dulu sempat sepi yaitu Stasiun Pegadenbaru.

Awalnya, stasiun ini sempat tidak melayani naik turun penumpang kereta api jarak jauh. Dalam beberapa tahun terakhir, suasananya berubah. Kini, Pegadenbaru kembali menjadi bagian dari aktivitas warga, tempat orang berangkat dan pulang dengan tujuan yang beragam.

Menurut Vice President Corporate Communication KAI Anne Purba menyampaikan bahwa perubahan ini terlihat dari pertumbuhan jumlah pelanggan yang terus meningkat. Antusiasme masyarakat yang terus tumbuh, Stasiun Pegadenbaru kembali digunakan sebagai titik keberangkatan dan kedatangan, seiring kebutuhan perjalanan yang semakin beragam.

Data menunjukkan pertumbuhan yang konsisten dari tahun ke tahun. Pada Januari hingga Maret 2022, penumpang naik tercatat 3.252 orang, meningkat menjadi 8.488 pada 2023, lalu 12.430 pada 2024, 12.847 pada 2025, hingga mencapai 16.110 penumpang pada Triwulan I 2026. Sedangkan untuk pergerakan penumpang yang turun juga mengikuti pola yang sama, dari 3.146 penumpang pada 2022 menjadi 8.422 pada 2023, 12.612 pada 2024, 14.142 pada 2025, dan mencapai 16.063 penumpang pada Triwulan I 2026.

Kenaikan ini terasa berarti dalam keseharian masyarakat. Akses yang semakin dekat mengubah cara orang merencanakan perjalanan. Penumpang yang sebelumnya harus menuju Stasiun Haurgeulis (Kabupaten Indramayu) atau Kota Bandung kini memiliki titik keberangkatan yang lebih dekat dari wilayahnya sendiri.

Saat ini, Stasiun Pegadenbaru melayani berbagai kereta api jarak jauh, di antaranya KA Gunungjati, KA Dharmawangsa Ekspres, KA Bengawan, KA Airlangga, KA Gaya Baru Malam Selatan, KA Matarmaja, KA Bangunkarta, KA Brantas, hingga KA Tawang Jaya Premium. Pilihan perjalanan yang semakin beragam memberi ruang bagi masyarakat untuk menyesuaikan perjalanan dengan kebutuhan yang berbeda-beda.

Kehadiran layanan ini juga membuka keterhubungan dengan berbagai potensi daerah. Ke arah selatan, kawasan Sari Ater menawarkan suasana pegunungan yang sejuk dengan akses yang semakin baik. Di sana, pengunjung dapat menikmati kuliner khas seperti etong bakar dan nanas Subang. Sementara di bagian utara, Pantai Pondok Bali menghadirkan pilihan perjalanan dengan nuansa pesisir.

Kini, Stasiun Pegadenbaru menjadi satu-satunya stasiun yang melayani naik turun penumpang di Kabupaten Subang. Dengan luas wilayah mencapai 2.051,76 kilometer persegi atau sekitar tiga kali lebih luas dibandingkan Provinsi DKI Jakarta, kebutuhan akan akses transportasi yang dekat dan terhubung menjadi semakin relevan.

Stasiun Jatibarang, Saksi Sejarah Tugu Presiden Soekarno

Tok! KA Sangkuriang Resmi Beroperasi 1 Mei 2026, Tarifnya Mulai dari Rp50.000

Akhirnya yang ditunggu-tunggu pun tiba. Ya, perjalanan kereta api baru segera di launching pada Jumat, 1 Mei 2026 mendatang. Adalah Kereta Api (KA) Sangkuriang yang merupakan kereta api dengan membuka rute terbaru yaitu Stasiun Bandung hingga Stasiun Ketapang pulang pergi. Tentu menjadi pengalaman tersendiri bagi masyarakat yang ingin langsung menempuh perjalanan hingga ke timur pulau Jawa tanpa harus transit.

Uniknya KA Sangkuriang ini melintas di jalur selatan Jawa dan melesat cepat tanpa singgah di stasiun-stasiun yang pada umumnya merupakan kota yang ramai penumpangnya. Sebanyak 24 stasiun pemberhentian KA Sangkuriang menempuh waktu hampir 17 jam. Untuk kecepatan maksimum, kereta api ini bisa melaju maksimal 110 km/jam. Tentu ada beberapa wilayah lain yang dibatasi kecepatannya hingga 80 km/jam.

Masyarakat bisa merasakan sensasi perjalanan KA Sangkuriamg bisa memilih tiga kelas yang tersedia, yaitu kelas ekonomi premium, kelas eksekutif, dan Suites Class Compartmemt. Walaupun akan dioperasikan perdana pada 1 Mei 2026, namun pemberangkatan awal KA Sangkuriang adalah dari Stasiun Bandung. Kemudian keesokan harinya tepat pada tanggal 2 Mei 2026 masyarakat bisa merasakan kereta api ini dari keberangkatan awal Stasiun Ketapang.

Saat ini masyarakat sudah bisa memesan KA Sangkuriang melalui aplikasi Access by KAI, laman kai.id, atau pun melalui loket-loket stasiun yang melayani pembelian tiket KA Sangkuriang. Adapun pemberhentian KA Sangkuriang dimulai dari Stasiun Bandung, Cipeundeuy, Tasikmalaya, Ciamis, Banjar, Kroya, Kutoarjo, Yogyakarta, Solo Balapan, Madiun, Caruban, Kertosono, Jombang, Mojokerto, Surabaya Gubeng, Sidoarjo, Bangil, Pasuruan, Probolinggo, Tanggul, Jember, Kalibaru, Banyuwangi Kota, dan berakhir di Ketapang.

Untuk harga tiket yang diberikan pada KA Sangkuriang adalah
• Kelas ekonomi premium: Rp50.000 – Rp500.000
• Kelas eksekutif: Rp75.000 – Rp750.000
• Suites Class Compartmemt: Rp1.500.000 – Rp2.500.000

Untuk mendapatkan harga promo dengan tarif terendah, penumpang bisa memesan 2 jam sebelum keberangkatan KA Sangkuriang. PT Kereta Api Indonesia Persero (KAI) juga memberikan tarif diskon sebesar 50% yang berlaku hingga 15 Juni 2026

Untuk jadwal stasiun pemberhentian KA Sangkuriang adalah sebagai berikut:

Menggunakan KA Sangkuriang menjadi solusi terbaik untuk perjalanan melintasi jalur selatan hingga ke wilayah timur Pulau Jawa. Kelebihan menggunakan KA Sangkuriang, penumpang tidak perlu transit atau berpindah kereta, karena lereta api ini terus melesat hingga di stasiun tujuan. Yuk, rencanakan perjalanan kalian menggunakan KA Sangkuriang untuk liburan wisata, kulineran bahkan sekadar menikmati perjalanan yang nyaman.

Dampak Ekonomi KA Kahuripan: Kereta Termurah yang Hidupkan Jalur Selatan Jawa

Canggih dan Futuristik, Inilah 5 Pesawat dengan Teknologi Paling Modern di Mata Pilot

Dalam dunia penerbangan, teknologi bukan sekadar soal mesin yang lebih bertenaga, melainkan bagaimana sistem di kokpit dapat membantu pilot mengambil keputusan dengan lebih cepat, aman, dan efisien. Dari layar sentuh yang intuitif hingga sistem fly-by-wire yang canggih, beberapa pesawat generasi terbaru telah menetapkan standar baru dalam inovasi.

Nah, berdasarkan ulasan para pakar dan pilot, berikut adalah lima pesawat yang dianggap paling maju secara teknologi saat ini:

1. Airbus A350: Standar Baru Kenyamanan Kokpit
Airbus A350 sering disebut sebagai “komputer terbang” karena integrasi sistemnya yang luar biasa. Pesawat ini dilengkapi dengan layar besar beresolusi tinggi dan sistem kontrol yang sangat ergonomis. Salah satu fitur unggulannya adalah Automatic Emergency Descent (AED), di mana pesawat dapat turun secara otomatis ke ketinggian aman jika terjadi dekompresi kabin dan pilot tidak merespons. Teknologi ini memberikan jaring pengaman ekstra yang sangat dihargai oleh para awak kokpit.

Canggih! Inilah Alasan Mengapa Kaca Kokpit Airbus A350 Disebut Mirip ‘Zorro’

2. Boeing 787 Dreamliner: Efisiensi Berbasis Elektrik
Dreamliner melakukan revolusi dengan mengganti sistem pneumatik tradisional dengan sistem elektrik yang lebih efisien. Bagi pilot, fitur paling ikonik dari 787 adalah Head-Up Display (HUD) ganda yang menjadi standar. HUD memungkinkan pilot melihat informasi navigasi penting tepat di depan mata tanpa harus menunduk melihat panel instrumen, yang sangat membantu terutama saat melakukan pendaratan dalam kondisi cuaca buruk atau visibilitas rendah.

Kenapa Boeing 787 Disebut Dreamliner? Begini Sejarahnya

3. Gulfstream G700: Inovasi di Kelas Jet Bisnis
Di segmen jet pribadi, Gulfstream G700 memimpin dengan Symmetry Flight Deck. Pesawat ini menggunakan active control sidesticks yang memberikan umpan balik taktil secara elektronik, sehingga pilot dapat “merasakan” tekanan pada kendali meski menggunakan sistem fly-by-wire. Selain itu, penggunaan layar sentuh yang masif di kokpit mengurangi penggunaan tombol fisik, membuat manajemen penerbangan menjadi jauh lebih sederhana dan rapi.

4. Airbus A220: Navigasi yang Sangat Intuitif
Meskipun ukurannya lebih kecil, Airbus A220 (sebelumnya Bombardier CSeries) memiliki kokpit yang jauh lebih modern daripada banyak pesawat berbadan lebar. Pesawat ini dirancang sejak awal dengan filosofi digital sepenuhnya. Antarmuka sistem navigasi dan manajemen penerbangannya sangat intuitif, menyerupai logika penggunaan smartphone, yang mempermudah transisi pilot dan mengurangi beban kerja selama fase kritis penerbangan.

5. Boeing 777X: Sayap Lipat dan Teknologi Terkini
Meskipun masih tergolong baru, 777X membawa inovasi unik berupa sayap yang dapat dilipat (folding wingtips)—teknologi pertama untuk penerbangan sipil. Dari sisi teknologi kokpit, 777X mengadopsi layar sentuh berukuran besar dari platform 787 namun dengan pembaruan pada perangkat lunak dan arsitektur sistem yang lebih responsif. Pesawat ini menggabungkan kekuatan struktur klasik Boeing dengan kecerdasan sistem digital masa depan.

Inovasi Kabin Boeing 777X: Jendela Redup Otomatis Jadi Standar Baru