Emirates Airlines Siap Hadirkan Teknologi Biometric Path di Bandara Internasional Dubai
Salah satu maskapai terbaik di dunia saat ini, Emirates Airlines dikabarkan akan meluncurkan layanan ‘biometric path’ di hub-nya, Bandara Internasional Dubai. Tujuan dari peluncuran layanan ini adalah untuk memproses penumpang dengan lebih cepat menggunakan teknologi biometrik seperti facial dan eye recognition. Nantinya teknologi biometik ini akan berwujud seperti sebuah terowongan yang disebut Smart Tunnel.
Baca Juga: Identifikasi Biometrik di Bandara Canberra Mencapai Akurasi 94 Persen
Sebagaimana yang dilansir KabarPenumpang.com dari laman airport-technology.com (30/10/2018), sistem biometrik terbaru ini rencananya akan diuji coba dalam waktu dekat di Terminal 3 Bandara Internasional Dubai. Sebagai implementasinya, kelak penumpang hanya perlu berjalan menuju Smart Tunnel untuk mengurus segala keperluan pra penerbangan, seperti check-in hingga bagian keimigrasian.
Semua data biometrik yang berhasil ditangkap oleh teknologi ini akan disimpan bersama General Directorate of Residence and Foreigners Affairs (GDRFA), dan penumpang yang turut berpartisipasi dalam uji coba ini sebelumnya akan dimintai persetujuan.
“Inisiatif inovatif ini adalah hasil kerja sama dengan para pemangku kepentingan kami – terutama GDRFA yang telah berperan aktif dalam pengembangan program ini, membawa teknologi biometrik menuju kenyataan,” ujar Executive Vice-President dan Chief Operations Officer Emirates, Adel Al Redha.
“Peluncuran uji coba Smart Tunnel baru-baru ini oleh GDRFA adalah pencapaian besar dan jelas menunjukkan sifat unik dan kolaboratif dari inovasi di bandara Dubai. Semua sistem pada akhirnya akan dihubungkan satu sama lain sehingga menghasilkan layanan yang lebih baik bagi pelanggan kami dan perjalanan yang lebih bahagia baik ketika tiba, berangkat atau transit di Dubai,” tandasnya.
Baca Juga: Bandara Heathrow Siap Adopsi Teknologi Biometrik Pada Musim Panas 2019
Adel juga menambahkan bahwa realisasi teknologi biometrik ini sejalan dengan slogan perusahaan “Fly Better” yang diusung oleh Emirates. Lebih lanjut, setiap penumpang yang bersedia untuk turut serta dalam uji coba teknologi ini akan dimintai tanggapan oleh pihak Emirates guna mengetahui respon dari para penggunanya. “Kami menantikan tanggapan mereka,” kata Adel.
Kelak setelah uji coba internal yang kini tengah dilakukan oleh pihak Emirates dan GDRFA rampung, maka mereka siap untuk membawa teknologi ini langsung ke hadapan para penumpang.
Pengamat India: Kenapa Kecelakaan Pesawat Marak Terjadi di Indonesia?
Insiden hilangnya Lion Air dengan nomor penerbangan JT-610 pada Senin (29/10/2018) kemarin mendapat sorotan luar biasa dari publik. Pukulan keras dirasakan bukan hanya oleh pihak keluarga yang ditinggalkan para korban, melainkan dunia aviasi nasional pun mendapatkan pukulan telak sama rata. Alih-alih berduka atas insiden ini, sejumlah pertanyaan skeptis mulai muncul dari benak para pemerhati – kenapa banyak terjadi kecelakaan pesawat di Indonesia?
Baca Juga: Pesawat Canggih Boeing 737 Max 8 Lion Air Jatuh Perairan Tanjung Karawang, Ini Dia Spesifikasinya!
Mungkin masih lekat di ingatan Anda ketika Air Asia dengan nomor penerbangan QZ8501 yang tenggelam di Laut Jawa, tepatnya di dekat Selat Karimata pada 28 Desember 2014 silam. Pesawat ini terbang dari Surabaya menuju Singapura dan menewaskan 162 orang, yang terdiri dari 7 awak pesawat dan 155 penumpang. Ini hanya salah satu contoh dari sekian banyak kecelakaan yang terjadi di Indonesia – sebagai salah satu contoh pendukung pernyataan banyaknya kecelakaan di Indonesia.
Untuk menjawab pertanyaan di atas, KabarPenumpang.com mengutip analisa yang dirilis dalam media indiatoday.in (30/10/2018). Tidak dapat dipungkiri, sektor aviasi di Indonesia sangatlah berkembang pesat belakangan ini, dimana banyaknya maskapai berlabel Low Cost Carriers (LCC) menyajikan tiket harga miring yang memungkinkan setiap orang untuk mengudara. Semakin banyak permintaan mengudara, maka semakin banyak pula layanan yang tersedia.
Peningkatan frekuensi penerbangan ini berkorelasi dengan meningkatnya jam terbang dari para pilot – mengingat masih kurangnya jumlah pilot profesional yang mumpuni untuk melakukan penerbangan berjadwal. Stamina pilot yang secara stimultan tergerus menjadi salah satu faktor dari banyaknya kecelakaan pesawat di Indonesia.
Terlepas dari masalah human error tersebut, media asal India ini juga mengindikasikan kurangnya supervisi dari Pemerintah yang berdampak pada pemeliharaan di bawah standar. Akibatnya, beragam kerusakan minor kerap kali menghiasi log pilot pasca mendaratkan si burung besi. Sikap acuh tak acuh dari pihak yang terkait membuat kondisi ini semakin menjadi dan kecelakaan pesawat yang dilandaskan oleh kerusakan mesin semakin memanjangkan daftar kelam sektor aviasi nasional.
Baca Juga: ICAO: Aspek Keamanan Membaik, Indonesia Naik Ke Peringkat 55 Untuk Keselamatan Penerbangan
Namun satu yang patut digarisbawahi agar kejadian seperti ini tidak mengguratkan memori buruk bagi Anda yang sekiranya hendak mengudara dalam waktu dekat ini – pesawat terbang merupakan moda paling aman hingga saat ini. Sebagaimana studi yang dilakukan oleh Universitas Northwestern pada tahun 2001 silam, mereka membandingkan kecelakaan mobil dan pesawat.
Untuk setiap 1 miliar mil perjalanan dengan menggunakan mobil, ada 7,2 orang meninggal. Sementara dengan pembanding yang sama, pesawat hanya menetaskan angka 0,07 orang. Kendati kecelakaan Lion Air JT610 menorehkan trauma bagi sebagian orang, namun perjalanan via udara bukanlah satu hal yang ditakuti berlarut-larut.
Capai Okupasi 60 Persen, Luxury Sleeper Train PT KAI Terbukti Diminati Penumpang
Luxury Sleeper Train meluncur di rel pada 12 Juni 2018 kemarin saat musim mudik Lebaran 2018. Kehadiran sleeper train ini sendiri pertama kali dirangkaikan bersama KA Argo Bromo Anggrek dengan relasi Gambi-Surabaya Pasar Turi (PP).
Baca juga: Siap-Siap! PT KAI Akan Jual Tiket Sleepers Train 10 Juni Mendatang
Menjadi kelas tertinggi di kereta api yang dimiliki PT Kereta Api Indonesia (KAI), bagaimana dengan perkembangan luxury sleeper train? KabarPenumpang.com merangkum dari berbagai laman sumber, bahwa respon pelanggan KAI diklaim cukup bagus.
“Okupansi sleeper untuk sekarang sekitar 60 persen. Memang di kelas ini kita berikan penawaran luxury jadi memang butuh terus promosi,” ujar Vice President of Passenger Marketing PT Kereta Api Indonesia, R. Agus Dwinanto Budiadji.
Dia mengatakan, pengguna kereta kelas luxury sleeper train sendiri berasal dari kalangan tertentu. Ini dikarenakan harga yang ditawarkan yakni Rp900 ribu saat masih promo dan kenaikannya pun tidak terlalu dan juga sebanding dengan fasilitas yang diterima penumpang. Saat ini, Agus Dwinanto terus mempromosikan luxury sleeper train hanya saja pada KAI Expo 2018 pihaknya tidak memasukkan kelas ini dalam program promo.
Tidak dimasukkannya dalam program promo, Agus Dwinanto menambahkan, agar pihaknya bisa menjaga luxurynya. Untuk rangkaian luxury sleeper train saat ini selain di Argo Bromo Angger juga sudah mulai dalam rangkaian KA Gajayana yang beroperasi mulai September dan Oktober kemarin.
“Relasi Gambir ke Malang setiap hari Jumat dan Malang ke Gambir setiap hari Minggu dan ini masih uji coba pasar,” ujar VP Humas PT KAI Agus Komarudin kepada KabarPenumpang.com, Rabu (31/10/2018).
Baca juga: Kereta Sleeper Berada di Rangakaian KA Argo Bromo Anggrek, Ini Fasilitas Mewahnya
Agus menambahkan, saat ini masih menggunakan empat sleeper train dengan kapasitas 18 orang per keretanya. Tak hanya itu, pihaknya juga berharap agar awal tahun 2019 mendatang ada penambahan enam sleeper train lagi.
“KAI pesan enam slepeer train dengan kapasitas penumpang 26 orang yang akan dikirim dari PT INKA jika sudah rampung. Untuk pengoperasiannya sendiri karena hanya baru ada empat kereta, kita atur operasionalnya,” jelasnya.
Kerap Hilang, Jaket Pelampung di Kabin Harus Rutin Diperiksa Keberadaannya
Biasanya sebelum memulai penerbangan, awak kabin akan memeragakan penggunaan alat-alat keselamatan bagi penumpang dari seat belt, masker oksigen, jaket pelampung atau life vest, hingga pintu darurat. Kali ini yang akan dibahas ialah jaket pelampung keselamatan.
Baca juga: Meski Membosankan, Demo Keselamatan Penerbangan Jangan Dilupakan!
KabarPenumpang.com melansir dari laman express.co.uk (21/10/2018), seorang pilot yang tidak ingin disebutkan namanya mengungkapkan seberapa sering awak kabin memeriksa jaket pelampung yang ada di bawah kursi. Dia mengatakan, sebenarnya untuk pemeriksaan tersebut haruslah dilakukan secara rutin.
“Mereka diperiksa bahwa mereka berada di tempat setiap penerbangan. Pasti ada satu untuk setiap penumpang,” ujar pilot itu.
Hal ini dikarenakan pada tahun 2015 lalu, ada cerita yang cukup mengejutkan dimana jaket pelampung tersebut diambil oleh penumpang untuk dijadikan oleh-oleh. Wanita berusia 64 tahun tersebut dianggap mencuri jaket pelampung di penerbangan Cathay Pacific Airways dan dikenakan denda besar atas pelanggarannya.
Di pengadilan nenek itu mengklaim dirinya tidak tahu tindakan yang dilakukannya ilegal dan menginginkan sebuah suvenir. Diketahui, sebenarnya jaket pelampung sendiri merupakan alat keselamatan yang andal sehingga tidak rentan terhadap kesalahan. Jaket pelampung sebenarnya digunakan untuk pendaratan darurat di atas air.
Tetapi dalam kenyataannya, tabrakan mendadak membuat sebagian besar penumpang tidak punya waktu untuk mengenakan rompi keselamat itu. Setelah Keajaiban di Hudson, Dewan Keselamatan Transportasi Nasional menulis kepada Federal Aviation Administration pada tahun 2014. Laporan itu mengatakan: “Rompi pelampung tidak dapat diberikan dengan benar oleh mayoritas penumpang dalam keadaan darurat yang sebenarnya ketika rompi diperlukan.”
Tes laboratorium dan keadaan darurat dalam kehidupan nyata telah membuktikan bahwa penumpang jauh lebih mungkin mencoba melarikan diri daripada menemukan jaket pelampung di bawah tempat duduk mereka. Namun, jika ada peringatan terlebih dahulu adanya pendaratan air maka penumpang akan punya waktu.
Baca juga: Peragaan Alat Keselamatan Penerbangan, Masih Efektifkah?
Penumpang harus ingat untuk tidak mengembang jaket mereka di dalam kabin, seperti yang diperintahkan oleh awak kabin dalam demonstrasi keamanan. Salah satu alasannya adalah bahwa jaket yang digelembungkan akan membuat lebih sulit bagi penumpang untuk keluar melalui pintu dan menghalangi wisatawan lain.
Jaket pelampung bisa juga robek saat pelarian yang akan membuat jaketnya sia-sia. Alasan lain yang kurang diketahui adalah bahwa jaket itu bisa menyebabkan penumpang tenggelam jika pesawat terendam. Jika pesawat terisi dengan air, penumpang yang mengembang rompi mereka tidak akan dapat keluar dari pintu karena akan mengapung ke atas pesawat.
Masih Misterius, Penyidik Perancis Curigai Adanya Peran Entitas Ketiga di Insiden Hilangnya MH370
Masih misterius. Itulah frasa yang tepat untuk menggambarkan situasi terkini dari hilangnya pesawat Malaysia Airlines Flight MH370. Ya, pesawat yang dikabarkan hilang kontak sejak 8 Maret 2014 ini tengah berada dalam perjalanan dari Kuala Lumpur International Airport menuju Beijing Capital International Airport. Banyak spekulasi terkait hilangnya maskapai ini, namun satu hipotesa yang kini tengah ramai diperbincangkan oleh banyak pihak adalah hadirnya entitas ketiga yang berperan serta dalam hilangnya MH370.
Baca Juga: Penyidik Asal Australia Temukan Puing yang Dianggap Sebagai Serpihan Malaysia Airlines MH370!
Setelah pada pemberitaan sebelumnya yang berisikan pengakuan salah seorang penyidik asal Australia yang melihat ‘dugaan’ serpihan body dari Boeing 777-200ER yang digunakan oleh MH370, kini spekulasi hadirnya entitas ketiga sebagai peretas maskapai ini tengah ramai digunjingkan. Para peneliti yang berasal dari Perancislah yang pertama menelurkan spekulasi ini.
Sebagaimana yang dilansir KabarPenumpang.com dari laman express.co.uk (24/10/2018), salah satu anggota keluarga korban tragedi MH370, Ghyslain Wattrelos mengaku telah diberitahu tentang teori sensasional oleh salah satu penyidik, Gendarmerie Air Transport (GTA) – teori tentang entitas ketiga. Ghyslain mengaku GTA telah mengidentifikasi suspect yang disinyalir memiliki informasi dan/atau data yang berkenaan dengan manuver terakhir pesawat sebelum menghilang.
“GTA telah menyoroti ‘ketidakkonsistenan’ dalam penyelidikan resmi yang dilakukan oleh pihak berwenang Malaysia, serta keberadaan penumpang ‘ganjil’ yang latar belakangnya perlu diperiksa dengan cermat,” ujar Ghyslain.
“Kami kecewa dan sedikit marah ketika mendengar pernyataan tentang pemberhentian penyelidikan MH370, dan saya rasa sudah saatnya Amerika benar-benar bekerja sama dalam mengusut tuntas insiden ini,” tandasnya.
Ghyslain menambahkan, tim GTA kini tengah berusaha untuk menentukan apakah entitas ketiga ini telah menjual perangkat lunak yang mampu memprogram ulang atau bahkan meretas Satcom, yang berkomunikasi dengan satelit Inmarsat dari pesawat atau tidak. Sekira hipotesa ini terbukti (hilangnya MH370 karena diretas oleh entitas ketiga), maka semua pertanyaan terkait insiden ini akan terjawab sudah.
Baca Juga: Empat Tahun Pasca Hilangnya MH370, Malaysian Airlines Rilis Laporan Investigasi
“Entah mereka yang salah atau diretas, namun jejak penting insiden ini terletak pada data yang dipegang oleh Inmarsat,” kata Ghyslain.
Hingga saat ini, salah satu pihak yang masih aktif menyelidiki insiden hilangnya MH370 ini adalah Perancis.
Gunakan Sepatu Hak Tinggi, Wanita Paruh Baya Lakukan Gerakan Yoga di Kursi Pesawat
Penerbangan yang memakan waktu berjam-jam kerap kali membuat penumpang kehabisan akal akan melakukan apalagi didalam kabin. Tidur kemudian bangun lagi, membaca dan menikmati hiburan dari monitor di kursi mungkin dilakukan berulang kali.
Baca juga: Lagi Enak Makan Cemilan, Tiba-Tiba Seekor Anjing ‘Nimbrung’ di Celah Kursi Pesawat
Wajar jika kebosanan menghinggapi penumpang yang menggunakan penerbangan dengan waktu tempuh di atas dua jam. Bahkan membuat para pelancong yang berada di penerbangan lupa bahwa mereka duduk dan pergi bersama orang lain di dalam kabin tersebut.
KabarPenumpang.com melansir dari laman express.co.uk (29/10/2018), baru-baru ini seorang penumpang terkejut saat melihat seorang wanita paruh baya melakukan sesuatu yang aneh di depannya. Perilaku ini kemudian di-videokan selama penerbangan dimana sepasang kaki terlihat diatas kursi dan terangkat lurus dengan sepasang sepatu hak tinggi.
Wanita itu kemudian mengangkat kakinya ke belakang arah sandaran kepala sebelum meregangkan atau melebarkannya ke samping. Dia kemudian memegang telapak kakinya untuk meregangkannya lebih jauh sebelum kembali ke atas kepalanya.
Dalam video itu sayangnya tidak terlihat bagian tubuh atau kepala wanita tersebut, tetapi dari gerakannya membuktikan dia memiliki tubuh yang elastis dan fleksibel. Video ini kemudian di unggah di akun PassengerShaming dengan caption “Sangat bingung sekarang dengan wanita tua di depan saya.”
Bahkan banyak warganet yang mengomentarinya, “Sial! Dia fleksibel!”. Sedangkan warganet lainnya mengatakan, “Senang sekali kami tidak menemuinya dalam penerbangan kami dari London!”
“Setidaknya dia terus menggunakan sepatu itu,” ujar seorang warganet. Yang lainnya mengatakan, “Saya benar-benar perlu tahu, mengapa dia menggunakan sepatu di kakinya.”
Baca juga: Viral di Instagram, Wanita Ini Gunting Kuku Kaki di Kabin Pesawat
Bahkan kekonyolan seperti ini bukan sekali ditemukan dalam pesawat, beberapa kali bahkan penumpang melakukan tindakan kasar pada awak kabin pun sering tertangkap video. Beberapa lalu, seekor anjing tiba-tiba menyembulkan hidung dan mukanya di sela-sela kursi saat seorang pria di belakangnya tengah menikmati cemilan.
Adapula penumpang yang memotong kuku kaki hingga menjemur celana dalam di AC di dalam kabin. Mungkin bila dilihat ini semua seperti kekonyolan yang tak berarti, tetapi bagi beberapa penumpang, ini sebagai hiburan dan relaksasi mereka dalam kabin pesawat.
Bandara San Diego, Jadi Bandara di AS yang Paling Rentan Terserang Peretas WiFi Gratis
Pelancong biasanya banyak yang memanfaatkan WiFi gratis untuk menggantikan kuota data ponsel mereka. Sebab, biasanya nomor dari negara asal tidak ada sinyal sehingga pelancong memanfaatkan WiFi gratis tersebut. Apalagi bagi pebisnis yang sangat membutuhkan WiFi untuk mengirim pekerjaan mereka melalui email.
Baca juga: Pastikan Akses Free WiFi di Bandara Aman dari Peretasan, Tips Ini Layak Anda Perhatikan!
KabarPenumpang.com merangkum dari laman airport-technology.com (16/9/2018), perusahaan keamanan cyber, Coronet, awal tahun ini menerbitkan laporan peringkat bandara Amerika Serikat (AS) dimana penumpang kemungkinan besar bida diretas saat masuk melalui jaringan WiFi publik. Cybersecurity semakin diidentifikasi sebagai potensi bahaya terhadap infrastruktur bandara dan kesejahteraan staf, wisatawan dan pengunjung.
Mempertimbangkan penekanan yang ditempatkan pada prosedur keamanan fisik yang ketat di bandara saat ini, dapat menjadi kejutan betapa tidak siapnya banyak bandara profil tinggi sebenarnya ketika menyangkut perlindungan dunia maya terhadap sistem mereka sendiri dan perangkat penumpang. Penggunaan jaringan WiFi tidak aman adalah area lain di mana bandara mungkin membiarkan penjagaan mereka turun.
Coronet mengatakan ada 45 bandara tersibuk AS dimana penumpang kemungkinan besar menjadi sasaran serangan. Daftar teratasnya adalah Bandara Internasional San Diego yang dimana diidentifikasi 30 persen kemungkinan seorang penumpang terhubung ke jaringan berisiko menengah saat berada di bandara dan 11 persen lainnya berisiko ke jarangan lebih tinggi. Bahkan, ketika perusahaan sedang melakukan analisisnya, titik akses WiFi ‘kembar jahat’ yang disebut ‘#SANfreewifi’ beroperasi di bandara.
“Untuk mengidentifikasi bandara dengan risiko cyber terbesar, Coronet mengumpulkan data dari lebih dari 250.000 konsumen dan titik akhir perusahaan yang melakukan perjalanan melalui 45 bandara tersibuk di Amerika selama lima bulan. Coronet kemudian menganalisis data yang terdiri dari kerentanan perangkat dan risiko jaringan WiFi, yang ditangkap dari aplikasi perlindungan ancaman perusahaan.
Setelah analisis selesai, data digabungkan dan distandarisasi untuk menyusun Skor Ancaman Bandara. Semakin besar kerentanan untuk perangkat dan jaringan, semakin tinggi skor yang diberikan. Berdasarkan analisis, Coronet mengklasifikasikan skor apa pun di atas 6.5 sebagai eksposur yang tidak dapat diterima,” jelas pendiri Coronet dan CISO Dror Liwer.
Perusahaan mengidentifikasi tujuh bandara AS dengan skor indeks ancaman 6,5 atau lebih, dengan San Diego mencetak 10,0, maksimum yang tersedia. Tetapi hanya sepuluh dari 45 bandara yang mendapat skor lebih rendah dari 5,4, yang berarti sebagian besar sistem WiFi publik di bandara menimbulkan risiko yang signifikan terhadap perangkat penumpang. Meski menggunakan WiFi sangat nyaman, terhubung ke jaringan yang tidak dikenal dan memberikan kemudahan saaat masuk ke WiFi sangat rentan perangkat diretas.
“Masalahnya keamanan WiFi saat ini dirancang oleh para insinyur dan bukan cryptographers, dan saya khawatir mereka sangat cacat. Ada alat serangan yang tersedia untuk umum untuk teknik yang digunakan saat ini untuk mengamankan WiFi. Terus terang, apa pun yang tersedia saat ini bisa rusak,” kata PA Consulting.
Sementara tidak ada yang melekat pada jaringan bandara yang secara khusus membuat mereka rentan terhadap serangan, bandara itu sendiri telah diidentifikasi oleh banyak penyerang sebagai lokasi yang ideal untuk melakukan serangan. Mereka adalah lingkungan yang unik di mana Anda akan menemukan banyak sekali individu WiFi yang terhubung ke jaringan apa pun yang dapat mereka tangani, termasuk pebisnis dengan potensi intelijen sensitif di perangkat mereka, dan tempat di mana banyak orang akan secara alami menjadi pemalasan di laptop, tablet dan ponsel pintar, membuat aktivitas yang mencurigakan lebih mudah disembunyikan.
Bukan hanya pebisnis dengan data profil tinggi yang dipertaruhkan, siapa pun bisa mendapatkan detailnya dicuri. WiFi bandara tanpa jaminan bahkan menimbulkan risiko bagi personel pemerintah. Alexander berbicara secara khusus tentang negara-negara tertentu yang diketahui menggunakan metode yang mirip dengan jaringan WiFi yang dikompromikan untuk memantau orang-orang tertentu yang berkepentingan.
Baca juga: 20 Bandara Ini Dipercaya Punya Akses WiFi Terbaik di Dunia
Dalam hal cara melindungi perangkat dari jenis serangan ini, baik Liwer dan Alexander menawarkan saran yang sama kepada penumpang, memastikan sistem operasi pada semua perangkat yang menggunakan jaringan WiFi terbaru dan ditambal. Hal yang sama berlaku untuk semua browser dan aplikasi, membuat perangkat selalu terbaru mencegah 80 persen serangan.
Sementara beberapa bandara lebih siap dan terkonfigurasi daripada yang lain, dengan beberapa yang telah menyempurnakan proses cybersecurity yang dibangun ke dalam operasi pusat keamanan mereka, kerentanan bawaan WiFi publik berarti bandara itu sendiri, jika mereka menawarkan layanan seperti itu akan selalu terbuka menaikkan penumpang mereka ke risiko potensial. Tampaknya hingga sistem WiFi yang lebih aman berlaku, anggota masyarakat harus sangat cepat menjadi cukup cerdas untuk melindungi perangkat mereka sendiri.
Parkir Lima Menit di Bandara Bristol, Wanita Ini Harus Bayar Rp2,9 Juta dengan Koin!
Bayar parkir sampai Rp2,9 juta rupiah? Mungkin menjadi hal yang mengejutkan, apalagi hanya parkir dengan kurun waktu yang terbilang singkat seperti hitungan menit. Belum lama ini, seorang wanita Inggris terkejut saat akan membayar parkirnya di Bandara Bristol yang tiba-tiba dikenakan hingga £149 atau sekitar Rp2,9 juta.
Baca juga: Angkasa Pura II dan Telkomsel Hadirkan Airport ePayment
KabarPenumpang.com melansir dari laman khaleejtimes.com (29/10/2018), bahwa saat itu Susanne Willdig akan keluar dari parkiran dan bersiap membayar £1 atau Rp19.509 agar palang terangkat dan mobilnya keluar dari bandara. Namun, monitor pembayaran menuntut dirinya membayar £149 dan mesin tidak menerima kartu melainkan koin sejumlah itu untuk dibayarkan.
Seperti orang kebanyakan, dirinya tidak memiliki koin sebanyak £149 tersebut dan saat itu berada pula anaknya yang berusia dua tahun dan duduk dibelakang mobil.
“Saya mengambil foto mesin yang meminta £149 dalam bentuk koin. Saya tidak terlalu khawatir bahwa saya harus membayar karena itu jelas salah, tetapi anak saya yang berumur dua tahun tidak terlalu senang terjebak di sana,” Kata Willdig.
Ketika tidak ada respon dari tombol bantuan dan mobil dengan cepat mulai antre di belakangnya di pintu keluar, dia mencari bantuan dari seorang petugas polisi di tempat parkir.
“Dia mengirim radio, berbicara dengan kantor pusat mereka dan akhirnya mereka membiarkan saya keluar. Dia menganggap mesin itu tidak menyukai plat nomor saya, yang merupakan pelat standar jadi saya tidak yakin mengapa, itu tidak pernah terjadi sebelumnya,” kata Willdig.
Seorang juru bicara untuk Bandar Udara Bristol menyatakan bahwa masalahnya adalah dengan sistem kamera pengenalan plat nomor dan berkata, “Penumpang memiliki plat nomor standar non-Inggris (persegi tidak bujur) yang berarti sistem pengenalan plat nomor otomatis tidak bisa membaca pendaftaran dengan benar.”
Juru bicara itu menambahkan, Staf menjawab di interkom tetapi penumpang sudah keluar dari mobil dan berbicara kepada petugas polisi. Tim parkir mobil menaikkan penghalang bagi penumpang untuk keluar dari tempat parkir.
Tahun lalu, di Bandara Internasional Soekarno-Hatta juga mesin pencetak tiket bermasalah Hal ini membuat seorang pengemudi tidak mendapatkan tiketnya karena tergulung di mesin. Kemudian ini mebuat pengemudi itu yang harusnya hanya membayar Rp13 ribu menjadi membayar Rp213 ribu karena dikenakan sanksi denda kehilangan tiket. Karena kesalahan ini, PT Angkasa Pura II, memohon maaf pada pengemudi dan mengevaluasi standar operasional.
Baca juga: Moda Transportasi di Bandara Ngurah Rai dan Hasanuddin, Antara Fakta dan Harapan
“Berdasarkan hasil analisa rekaman kamera CCTV, mobil pengunjung tersebut masuk ke Terminal 1 pada Senin (18/12/2017) pukul 13.30.45 WIB dan keluar pada pukul 16.22.45 WIB. Seharusnya petugas memeriksa gulungan yang ada di dalam mesin pencetak tiket. Untuk mengantisipasi kejadian ini terulang, kami akan menambah petugas di area parkir,” Executive General Manager Kantor Cabang Utama Bandara Soekarno-Hatta, M Suriawan Wakan.
Menurut Wakan, untuk menghindari peristiwa serupa, PT Angkasa Pura Solusi telah melakukan perbaikan mesin parkir yang rusak tersebut. PT Angkasa Pura II (Persero) dalam hal ini juga akan meninjau proses, sarana dan prasarana serta besaran denda terkait sistem parkir di Bandara Soekarno-Hatta.
Bakal Isi Area Belanja di Stasiun MRT Jakarta, Inilah 15 Peritel yang Telah Terpilih
Guna meningkatkan pendapatan dan mengurangi beban subsidi, lumrah bila operator kereta menawarkan kemitraaan dengan peritel untuk mengisi (menyewa) area belanja di stasiun. Tidak hanya dilakukan oleh PT KAI, PT MRT Jakarta yang akan meresmikan layanannya pada Maret 2019 telah mempersiapkan kehadiran peritel di 13 stasiun sepanjang Lebak Bulus hingga Bunderan Hotel Indonesia.
Baca juga: Senilai Rp9,4 Triliun, Indonesia dan Jepang Lakukan MoU Peminjaman Dana Proyek MRT Fase II
Setelah dilakukan tahap pendaftaran dan berlanjut ke beauty contest, pada September 2018 lalu PT MRT Jakarta telah menetapkan nama-nama peritel yang terpilih untuk menjajakan produknya di area belanja stasiun. Dalam acara Forum Jurnalis dan Blogger hari ini (30/10) di kantor pusat PT MRT Jakarta, William Sabandar, Direktur Utama PT MRT Jakarta, menjelaskan bahwa ada tiga segmen ritel di stasiun MRT Jakarta, yaitu food and beverages, convenience store dan fashion and accsessories.
Nah, tentu sebagian dari Anda penasaran, merek-merek apa saja yang bakal hadir di stasiun MRT nantinya. Berikut paparan yang disampaikan pihak PT MRT Jakarta kepada media:
1. Food and Beverages
– Kafe Betawi
– Bakmie GM
– Starbuck
– AW
– Koi Café
– Aunty Ants
– Shihlin Taiwan Street Snack
2. Convenience Store
– Indomaret
– Lawson
– Alfamart
– Family Mart
– Mor store
3. Fashion and Accessories
– Century
– Daiso
– Kaizen
Baca juga: Tiga Gedung ini Akan Terkoneksi Langsung Dengan Stasiun MRT Jakarta
Di bulan Oktober ini, tahapan dilanjutkan dengan pemilihan POT, dimana PT MRT Jakarta akan menawarkan spot-spot unggulan kepada peritel. Selanjutnya pada November 2018 akan dilajutkan dengan penandatanganan kerjasama, dan di Desember 2018 dilakukan approval design and fit out. “Kami mengedepankan inovasi yang ditawarkan oleh peritel, karena berada di lingkungan khusus, peritel tidak boleh memasak dengan api, dan tidak boleh ada buangan air dari proses penjualan tersebut,” ujar William Sabandar.
Dianggap Pilot “Terlalu Besar,” Embraer 175 United Airlines “Return To Base” di Tengah Perjalanan Menuju Chattanooga
Setelah sekian lama ‘absen’ dari pemberitaan, kini nama United Airlines kembali mencuat ke permukaan. Bukan perkara pelayanan dari awak kabin atau ground crew yang tidak sepantasnya, tapi sekarang pilot dari maskapai asli Negeri Paman Sam inilah yang berulah.
Baca Juga: Viral! Pilot United Airlines Tidur di First Class dengan Seragam Ditanggalkan
Ketika Anda tengah dalam perjalanan menuju suatu destinasi, dan kemudian sebuah pengumuman menyebutkan bahwa pesawat tersebut harus melakukan Return To Base (RTB) hanya karena masalah yang tidak masuk akal, itulah yang mendasari hebohnya nama United beberapa waktu ke belakang ini.
Seperti yang dikutip KabarPenumpang.com dari laman usatoday.com (22/10/2018), United Flight 5277 rute Chicago – Chattanooga yang mengangkut 50 penumpang ini kembali mendarat di Bandara Internasional O’Hare, Chicago setelah kurang lebih melakoni setengah perjalanan. Apa yang mendasari pilot untuk melakukan RTB tersebut? “Karena ukuran pesawat yang terlalu besar untuk mendarat di Chattanooga,” ujar salah seorang penumpang maskapai tersebut, Jill Lohsen.
Sekira pesawat sudah mencapai perbatasan Kentucky, tiba-tiba flight announcement berbunyi dan sang pilot yang kala itu berbicara mengatakan, “Penerbangan United menuju Chattanooga tertunda karena keadaan yang tidak terduga… Ini merupakan situasi yang tidak biasa dan kami tengah berusaha untuk menyelesaikannya… Kami sangat menghargai waktu Anda dan kami memohon maaf atas ketidaknyamanan ini,” ujar sang pilot.
“Kami akan berbalik menuju Bandara Internasional O’Hare, Chicago,” tambah sang pilot yang diutarakan oleh seorang penumpang lain yang bernama Vince Fallon.
Kala itu, United Flight 5277 menggunakan armada Embraer 175 yang mampu menangkut penumpang maksimal 76 penumpang.
Jill Lohsen mengatakan bahwa alasan yang diutarakan oleh sang pilot tidak masuk akal, karena beberapa hari sebelum ia terbang bersama United, ia menggunakan maskapai Delta dengan armada yang sama (Embraer 175) menuju Chattanooga dan mereka melakukan pendaratan normal tanpa harus mengganti armada.
“Pihak maskapai enggan memberikan penjelasan lebih lanjut terkait insiden RTB ini, mereka hanya menjadwalkan kembali penerbangan kami menuju Chattanooga,” terang Jill Lohsen setibanya ia di Bandara Internasional O’Hare.
Baca Juga: Campur Biofuel dan Avtur, United Airlines Sukses Layani Penerbangan Trans-Atlantik Terlama!
Satu jam berselang setelah pesawat tersebut mendarat kembali di Chicago, para penumpang United Flight 5277 kembali mengudara dengan menggunakan armada Bombardier CRJ 200 yang menyediakan 50 bangku.
Alhasil, insiden yang terjadi pada 16 Oktober 2018 ini mengalami keterlambatan tiba di tujuan sekira tiga jam lamanya.
