Menjadi salah satu tujuan wisata para pelancong dunia, Danau Toba yang berada di Sumatera Utara ini sudah bisa dissambangi dengan mudah. Dibukanya Bandara Silangit yang kini juga menjadi bandara internasional, pada 28 Oktober 2018 kemarin, baru saja didarati oleh pesawat AirAsia Malaysia.
Baca juga: Fotonya Viral di Facebook, Inilah Reaksi Pramugari Cantik AirAsia
Penerbangan perdana dari Bandara Internasional Kuala Lumpur ini tidak disambut dengan meriam air. Sebab saat itu Silangit tengah dilanda hujan sehingga meriam air alami yang didapat oleh AirAsia Malaysia tersebut.
Dilansir KabarPenumpang.com dari laman thestar.com.my (28/10/2018), pesawat AirAsia Malaysia dengan nomor penerbangan AK411 ini meninggalkan KLIA2 di Sepang dengan mengangkut 120 penumpang dan tiba di Bandara Internasional Silangit pukul 10.47 WIB. Penumpang saat tiba di ruang kedatangan bandara, disambut dengan ucapan selamat dan upacara sederhana di dalam ruangan.
AirAsia mengatakan, rute Malaysia-Silangit ini membuat pelancong bebas repot saat melakukan perjalanan mereka ke Danau Toba yang dihiasi pemandangan indah tersebut. CEO AirAsia Malaysia Riad Asmat mengatakan, Danau Toba salah satu dari sepuluh Bali Baru Indonesia. Sehingga dengan adanya penerbangan langsung ini, menjadi lebih mudah dan dekat.
“Rute baru adalah bagian dari komitmen kami untuk mendukung pemerintah Indonesia dalam mengembangkan 10 prioritas tujuan wisata, termasuk Danau Toba. Kami memahami Indonesia jauh lebih dari sekadar Bali, dan kami berkomitmen untuk mempromosikan banyak harta tersembunyi di negara ini,” ujar Riad.
Dengan menyediakan konektivitas udara ke Danau Toba, Riad menambahkan AirAsia juga berharap dapat berkontribusi pada ekonomi lokal melalui pariwisata, penciptaan lapangan kerja dan peluang bagi UKM dan komunitas. Selain itu, pihaknya dengan tim Green and Sustainabilitynya juga tengah mengembangkan destinasi Community Based Tourism (CBT) di wilayah Silangit.
“Mereka bekerja sama dengan Otoritas Pariwisata Danau Toba untuk mengidentifikasi lokasi,” jelas Riad.
Baca juga:Gandeng Google Cloud, AirAsia Siap ‘Bertransformasi’
Saat ini penerbangan AirAsia ada empat kali dalam seminggu dari Kuala Lumpur ke Silangit dengan nomor penerbangan AK411 yakni setiap Senin, Rabu, Jumat dan Minggu pukul 10.40 pagi dan AK412 dari Silangit ke Kuala Lumpur pukul 11.25 WIB di hari yang sama. Seorang pelancong asal Kanada, Jodi Davis mengatakan, rute baru ini membuatnya lebih mudah dan menghemat waktu untuk melakukan perjalanan ke Danau Toba.
“Saya di sini awal tahun lalu dan saya harus naik bus domestik selama lima jam untuk tiba di sini setelah tiba di Bandara Kualanamu (di Medan). Dengan penerbangan lanjutan ini, saya pasti akan kembali untuk menjelajahi tempat indah ini lagi,” ujar Davis
Dalam beberapa tahun ke depan, khususnya warga Bandung dan umumnya bagi para pelancong akan memiliki rute kereta api baru yang bakal mengkoneksikan dengan sejumlah destinasi wisata di Tanah Pasundan – salah satunya adalah Kawah Putih di Ciwidey. Ya, rencana reaktivasi jalur ini telah disetujui oleh sejumlah pihak, seperti PT KAI dan Gubernur Jawa Barat. Tentu saja kabar ini bak angin segar bagi para wisatawan yang kerap terjebak macet di jalur darat menuju salah satu spot wisata andalan di Jawa Barat ini.
Baca Juga: Kolaborasi dengan Pemprov, PT KAI Akan Reaktivasi Empat Jalur Kereta di Jawa Barat
Sebagaimana yang dilansir KabarPenumpang.com dari sejumlah laman sumber, Humas PT KAI Agus Komarudin mengatakan bahwa dengan menggunakan kereta api menuju Kawah Putih, maka wisatawan tidak akan lagi berjibaku dengan kemacetan. “Ke sana (Kawah Putih) itu berikut macetnya hampir sekitar 4,5 jam, kalau normal sih 3 jam lah,” tutur Agus, dikutip dari laman detik.com.
Sementara jika menggunakan kereta api, maka estimasi perjalanan dari Bandung menuju Kawah Putih tersebut bisa diminimalisir dengan selisih waktu yang cukup signifikan – tentu saja karena kereta api tidak kenal istilah macet. “Kalau dengan kereta ya sekitar, kira kira Bandung-Ciwidey paling kurang lebih 1,5 jam lah,” tandasnya.
Berkenaan dengan tarif, Agus menyebutkan bahwa ongkos yang dikenakan kepada para penumpang akan jauh lebih murah ketimbang mereka yang lebih memilih untuk tetap menggunakan kendaraan pribadi. Namun, ia masih belum bisa membocorkan besaran pasti tarif yang akan dikenakan kepada penumpang.
“Kalau ada kereta api kan masyarakat tentunya punya pilihan alternatif, apalagi kalau dengan kereta api tentunya bisa lebih murah ya, terjangkau lah,” papar Agus.
“Nanti ketentuan skemanya sih nanti tentunya dari pemerintah soal pentarifan ya. Cuma sih bisa PSO (Public Service Obligation), bisa kereta perintis. Yang nentukan nanti pemerintah soal tarif ya… Yang melihat berdasarkan daya beli masyarakat juga, bervariasi, tiap wilayah nggak sama. Paling rendah Rp 3.000 paling tinggi Rp 4.000,” tambahnya.
Sementara soal jalur, Pengamat Infrastruktur Harun Alrasyid mengatakan bahwa penggunaan jalur existing (jalur lama) akan lebih menghemat kocek otoritas terkait karena tidak perlu mengeluarkan biaya untuk pembebasan lahan.
“Yang pasti lebih murah lah, sebut saja lah 10-15-20%, kan mau kurangi lahannya, kurangi saja 15-20%,” ujar Harun.
Baca Juga: Reaktivasi Jalur Kereta Jawa Barat, Pertanda Peningkatan Sektor Pariwisata di Tanah Pasundan?
Alih-alih tidak keluar dana sama sekali untuk pembebasan lahan, otoritas pendanaan proyek ini akan tetap mengeluarkan dana untuk merelokasi penghuni bangunan-bangunan yang selama ini menjamur di sekitar rel.
“Gusur (bangunan liar di sekitar rel) sama beli (lahan) lain dong (biayanya). Harapannya gitu dong, masa yang nggak punya hak minta harga hak milik.” tutupnya.
Bagaimana bila saat berada di dalam bus dan disandera oleh seorang mabuk yang juga dalam pengobatan penyakit gangguan mental? Baru-baru ini di Bangkok, Thailand, seorang pria berusia 56 tahun dalam kondisi mabuk naik ke atas bus dari Bangkok menuju Ban Phaeng pada Sabtu (27/10/2018) pukul 8 malam waktu setempat di distrik Kham Moung Kalasin.
Baca juga: Terkait Aspek Keamanan, Bus Tingkat Lebih Cocok di Jalanan Dalam Kota
Pria itu merupakan mantan pengemudi taksi bangkok yang dilaporkan tengah menjalani pengobatan penyakit gangguan mental. Saat bus tiba di distrik Somdet yang berjalan menuju Muang, pria paruh baya itu menyandera seorang penumpang yang ada disebelahnya dan menodongkan ujung pisau. Pengemudi kemudian mengemudikan bus ke kantor polisi Somdet dan melaporkan ada penyanderaan dalam busnya.
Pelaku penyandera bus saat beraksi dengan pisaunya (The Star)KabarPenumpang.com melansir dari laman thestar.com.my (29/10/2018), pengemudi kemudian membiarkan inspektur polisi, Kolonel Thaweesak Raksasilpa dan petugas lainnya menangani penyanderaan penumpang tersebut. Selanjutnya dari negosiasi, pria mabuk itu setuju membebaskan 15 penumpang lainnya yang berada di dalam bus.
Pelaku penyanderaan menolak meninggalkan bus itu dan mengancam akan menusuk polisi yang berusaha membawanya keluar. Atas insiden ini, polisi meminta pengemudi bus untuk pergi ker rumah pria itu di Kham Moung agar keluarganya berbicara dan pisau yang dibawanya dilepaskan.
Sayang, hal itu juga gagal sehingga bus kembali ke kantor polisi pada Minggu pagi. Hingga akhirnya Gubernur Kalasin Kraisorn Kongchalard dan kepala polisi provinsi Mayjen Thinnarat Phetchpansri ikut bergabung dalam tim perundingan. Hasil perundingan tersebut, yakni untuk menundukkan pelaku dengan menggunakan batang logam setelah sebelumnya menggunakan lima tabung gas air mata.
Baca juga: Mengapa di Setiap Negara Membutuhkan Halte Bus?
Meski begitu, hal ini pun tidak membuahkan hasil dan pria itu tetap menolak turun dari bus serta mengacung-acungkan pisaunya dengan mengancam polisi. Polisi juga menggunakan tongkat berbentuk Y dan tongkat yang berkait untuk menaklukan pria tersebut dan mencegah polisi dan tersangkan cedera.
Diketahui, drama penyanderaan bus dan penumpang didalamnya ini terjadi selama sekitar 19 jam di knifepoint pada Sabtu malam di provinsi Kalasin dan berakhir pada Minggu (28/10/2018) sorenya.
Kejahatan seperti pencurian pecopetan kerap kali terjadi baik di kendaraan umum, stasiun, halte hingga terminal bus. Pencurian sendiri pelakunya pun tak hanya laki-laki, melainkan ada pula wanita. Bahkan tak tanggung-tanggung pencuri itu kerap kali melukai korbannya.
Baca juga: Dalam 5 Tahun, Kejahatan di Kereta Api India Meningkat Hingga 500 Persen!
Baru-baru ini di Stasiun Vikhroli di Mumbai, India, seorang pencuri wanita mengambil Mangalsutra dari seorang wanita lainnya. Setelah mencuri, pelaku kemudian melompat ke sisi seberang peron stasiun. Dilansir KabarPenumpang.com dari laman latestly.com (19/10/2018), pencuri wanita ini ternyata tertangkap rekaman kamera pengawas stasiun.
Dalam rekaman kamera pengawas, pencuri wanita itu terlihat melompat ke arah barat sisi seberang peron stasiun. Ini dilakukannya untuk melarikan diri dari lokasi agar tidak tertangkap oleh penumpang lainnya. Tetapi sayang, karena dirinya terekam dalam kamera pengawas stasiun, pencuri wanita itu akhirnya tertangkap setelah adanya laporan pencurian.
Diketahui pencuri itu bernama Sita Sonwani, dia sedang melakukan perjalanan dari CSMT menuju ke Kaylan Local. Kemudian saat kereta tiba di Stasiun Vikhroli wanita itu mengambil Mangalsutra dan melompat kabur. Mangalsutra merupakan barang berharga seorang wanita yang diberikan suaminya saat mereka menikah atau bisa dikatakan menjadi mas kawin pernikahan dan penting bagi seorang wanita India.
Dari kesaksian korban, pencuri wanita itu berdiri tepat dibelakang dirinya. Setelah pencurian itu, beberapa orang berusaha menangkapnya tetapi dia mengatakan dirinya kehilangan bayinya dan berhasil melarikan diri dari TKP.
Baca juga: Perkeretaapian India Bocorkan Cara Ampuh Tindak Lanjuti Aksi Kriminal
Kejadian pencurian ini menambah panjang daftar pencurian di kereta India. Diketahui, hingga Maret 2018 sebanyak 20.777 kasus telah dilaporkan baik itu pencurian perampokan bahkan pemerkosaan. Tahun 2017 sendiri, insieden pencurian meningkat dua kali lipat dan perampokan meningkat hingga 70 persen. Pemerkosaan meningkat dari 604 kasus di tahun 2016 menjadi 614 di tahun lalu, sedangkan laporan hingga Maret 2018 sudah ada 193 laporan.
Kenaikan kejahatan yang luar biasa tersebut membuat pemerintah mengumumkan akan memasang kamera pengawas (CCTV) di sejumlah gerbong kereta dan stasiun yang diidentifikasi tempat banyak terjadinya hal-hal tersebut. Pengamanan khusus dari Railway Protection Force (RPF) diusulkan untuk ditingkatkan dan anjing pelacak terlatih dihadirkan untuk menekan pelaku pembuat onar tersebut.
Meningkatnya tren pelancong untuk berwisata ke daerah-daerah yang jarang terjamah, membuat Wings Air membuka rute baru ke Mukomuko yang berada di Provinsi Bengkulu. Letaknya yang cukup jauh dari ibukota provinsi sebenarnya memiliki letak strategis karena berbatasan langsung dengan Kabupaten Kerinci, Jambi dan Kabupaten Pesisir Selatan di Sumatera Barat.
Baca juga: Wings Air, Akhirnya Buka Penerbangan ke Karimunjawa dari Semarang
Membuka rute baru ke Mukomuko, menjadikan Wings Air satu-satunya maskapai yang memiliki penerbangan di rute tersebut. Rute penerbangan ini akan dilayani dengan frekuensi terbang satu kali setiap hari pergi pulang (PP).
Corporate Communications Strategic Lion Air, Danang Mandala Prihantoro mengatakan, penerbangan perdana dari Bandara Fatmawati Soekarno, Bengkulu pukul 10.40 WIB dengan nomor penerbangan IW-1134 dan tiba di Bandara Mukomuko pukul 1120 WIB. Penerbangan sebaliknya dengan nomor IW-1135 berangkat pukul 11.40 WIB dari Mukomuko dan tiba di Bandara Fatmawati Soekarno pukul 12.20 WIB.
“Pembukaan jaringan terbaru dilayani dengan frekuensi terbang satu kali setiap hari pergi pulang (PP). Inaugural flight mencatatkan tingkat isian penumpang (load factor) 65 persen. Selanjutnya akan ditargetkan mengalami peningkatan lebih dari 80 persen,” ujar Danang melalui siaran pers yang diterima KabarPenumpang.com, Kamis (25/10/2018).
Danang mengatakan, Wings Air akan terus melakukan evaluasi pasar, jika segmen rute ini berada pada level positif, maka tidak menutup kemungkinan untuk menambah frekuensi atau membuka jaringan yang terhubung ke destinasi lain. Penerbangan akan menggunakan ART-72-500 dan 72-600.
“Perluasan jaringan tersebut menjadi bukti nyata dari langkah strategis Wings Air dalam menyediakan kemudahan akses melalui transportasi udara salah satunya yaitu menghubungkan wilayah setingkat kabupaten dengan kota yang tetap mengedepankan faktor keselamatan, keamanan dan kenyamanan. Kehadiran Wings Air di Mukomuko diharapkan mampu menjawab dari tingginya permintaan pengusaha, masyarakat dan wisatawan terkait kebutuhan penerbangan. Kami optimis, kesungguhan Wings Air untuk mengembangkan Bengkulu dengan didukung inisiasi maupun program dari berbagai pihak menjadi solusi terbaik sejalan mempermudah lalu lintas orang dan membantu percepatan distribusi barang ataupun logistik,” ujar Operations Director of Wings Air, Capt. Redi Irawan.
Baca juga: Punya ATR 72-600 Baru, Wings Air Punya Kini Punya 61 Armada
Penerbangan Wings Air dari Kota Bengkulu ke Mukomuko telah memberikan nilai lebih kepada kalangan pebisnis dan wisatawan, antara lain melengkapi moda angkutan yang sudah ada, alternatif baru bagi penduduk lokal dalam bepergian serta efektivitas perjalanan dengan durasi lebih efektif berkisar 30 menit dibandingkan waktu tempuh darat sekitar 6-7 jam (247 km). Tonggak penting ini sekaligus menghidupkan kembali suasana Mukomuko sebagai destinasi baru dalam menciptakan petualangan seru tak terlupakan.
Mukomuko ialah pintu masuk ke Bengkulu bagian utara, yang menyimpan sumber daya bisnis, jasa, perdagangan, argoindustri, industri kreatif, pariwisata dan lainnya sebagai kawasan ekonomi baru. Bagi pelancong, Kota Bengkulu dan sekitarnya sangat popular berjuluk Bumi Raflesia yang semakin terkenal sebagai salah satu spot instagenic.
Di era yang sudah serba maju seperti sekarang ini, peranan teknologi sangatlah vital di dalam kehidupan masyarakat sehari-hari – pun dengan sektor transportasi yang terus menunjukkan tanda-tanda transformasi signifikan. Ambil contoh Jepang yang sudah mengoperasikan Shinkansen, si ular besi super cepat sejak berpuluh tahun silam, kini muncul lagi ide untuk menghadirkan sebuah pod yang berjalan di dalam kenal sebagai Hyperloop. Lalu, apalagi?
Baca Juga: Mengenal Moda Berbasis Levitasi Magnetik (Maglev)? Ini Dia Serba-Serbinya!
Beberapa waktu ke belakang, kereta api berbasis teknologi magnetic levitation (maglev) mulai gencar diperbincangkan oleh sejumlah otoritas. Seperti biasa, Jepang memulai inisiatif untuk mengembangkan moda ini sehingga dapat menunjukkan kedigdayaannya di sektor transportasi – terutama kereta api.
Untuk diketahui bersama, kereta maglev merupakan sebuah moda yang melayang di atas rel akibat pemanfaatan medan magnet. Kereta maglev ini sendiri digadang-gadang mampu menembus kecepatan hingga 311mph atau yang setara dengan 500km/jam. Pemanfaatan gaya magnet pada kereta jenis ini akan berdampak pada minimnya gaya gesek yang ditimbulkan. Selain itu, kereta ini juga memanfaatkan gaya magnet tersebut sebagai pendorong.
Karena gaya gesek yang kecil dan daya dorong yang kuat, makanya kereta maglev mampu menembus kecepatan seperti yang sudah disebutkan di atas – bahkan pada tahun 2015 silam, uji coba kereta maglev di dekat Gunung Fuji Jepang mampu mencapai kecepatan 600km/jam!
Mengintip kesuksesan otoritas perkeretaapian Jepang, JR Central dalam mengoperasikan kereta maglev membuat banyak pihak berbondong-bondong untuk ‘meniru’ teknologi serupa dan menghadirkannya di negara mereka – salah satunya adalah Amerika.
Sebagaimana yang dikutip KabarPenumpang.com dari laman baltimoresun.com (25/10/2018), otoritas di Negeri Paman Sam tertarik untuk menghadirkan moda berbasis maglev ini di sana, tepatnya Northeast Corridor. Laman sumber menyebutkan, fase 1 pembangunan jaringan moda maglev di Amerika ini akan menghubungkan Washington dengan Baltimore yang terbentang sejauh 38,5mil (62km) dengan estimasi waktu hanya 15 menit saja.
Namun sama seperti di Indonesia, peranan oknum politik yang mencoba untuk membumbui pembangunan kereta ini pada akhirnya menuai kecaman dari kubu yang bertolak belakang dengannya. Selain itu, kesenjangan ekonomi yang juga terjadi di Negeri Paman Sam ini menjadi salah satu amunisi yang dilontarkan oleh kubu yang menolak pembangunan moda futuristik ini. Mereka berasumsi bahwa moda ini tidak akan membawa ‘poin plus’ bagi warga lokal.
Baca Juga: Whoosh! Inilah Lima Kereta Tercepat di Dunia, Proyek di Indonesia Ada di Peringkat Berapa Ya?
Terlepas dari semua polemik yang mewarnai rencana Pemerintah Amerika untuk menghadirkan moda maglev, mantan perwira angkatan laut AS yang melayani di dewan direksi kereta api, Torkel Patterson mengatakan, “Ini (rencana menghadirkan moda maglev) tidak melulu soal transportasi, tapi juga transformasi,”
Senin (29/10/2018) pagi menjadi momen yang akan selalu diingat oleh pihak Lion Air, pasalnya salah satu armadanya yang melayani penerbangan Jakarta – Pangkal Pinang mengalami lost contact dengan sejumlah menara pengawas. Menurut penuturan Badan SAR Nasional (Basarnas), Boeing 737 Max 8 nomor penerbangan JT-610 ini jatuh di lepas pantai di sebelah utara Bekasi, Jawa Barat – tepatnya di Tanjung Karawang.
Baca Juga: Lion Air Terima Boeing 737 Max 8 Pesanan Kesepuluh
Diketahui, pilot pesawat yang tengah mengangkut 178 penumpang ini sempat meminta izin petugas menara pengawas Bandara Internasional Soekarno-Hatta untuk melakukan Return To Base (RTB). Dikutip KabarPenumpang.com dari laman TribunNews.com, anak perusahaan PT Pertamina, Pertamina Hulu Energi Offshore North West Java (PHE ONWJ), memastikan ada pesawat Lion Air jatuh di dekat fasilitas mereka yang berada di lepas pantai utara Bekasi, Jawa Barat.
“Informasi dari lapangan, pesawat jatuh di lapangan Mike blok ONWJ, tapi masih jauh dari fasilitas anjungan kami,” kata VP Relations Pertamina Hulu Energi Ifki Sukarya. Ifki menjelaskan, informasi adanya pesawat jatuh diterima pukul 06.33 WIB.
Hingga berita ini diturunkan, sejumlah personil Basarnas masih melakukan pencarian di koordinat yang disangkakan.
Padahal, Boeing 737 MAX 8 merupakan armada paling baru di tubuh Lion Air sendiri. Seperti yang sudah pernah diberitakan sebelumnya, pada Rabu (15/8/2018) kemarin, pihak Lion menerima Boeing 737 MAX 8 kesepuluh yang didatangkan langsung dari Boeing Company, Amerika Serikat.
Menurut Corporate Communications Strategic Lion Air, Danang Mandala Prihantoro, armada teranyar ini akan memperkuat jaringan penerbangan yang saat ini sudah dijalani. Selain itu, tambah Danang, tujuan dibalik hadirnya armada ini adalah untuk melakukan revitalisasi armada di tubuh Lion Air.
Selain Lion Air, maskapai lain yang juga menggunakan armada ini adalah flag carrier Garuda Indonesia. Di penghujung tahun 2017 silam, Garuda kedatangan satu dari 50 armada Boeing 737 MAX 8 yang dipesan pada tahun 2014 lalu.
Menilik spesifikasinya, Boeing 737 MAX 8 meningkatkan kemampuan varian Boeing 737 Next Generation (NG) dengan daya jelajah terbang 340-570 mil laut lebih jauh, menjadi 3.500 mil laut (6.500 km). Tidak hanya itu, penggunaan bahan bakar pesawat ini juga diklaim lebih hemat 20 persen ketimbang seri-seri sebelumnya.
Baca Juga: Intip Kecanggihan dan Ruang Kabin Boeing 737 MAX 8 Garuda Indonesia
Pasokan tenaga Boeing 737 MAX 8 menggunakan mesin jenis terbaru, CFM LEAP 1B. Desain mesin ini disinyalir lebih senyap ketimbang mesin generasi sebelumnya, CFM56. Operating cost-nya juga diklaim 7 persen lebih hemat dibanding mesin CFM56 yang dipakai varian Boeing 737 NG. Untuk membuat kabin menjadi lebih senyap, polusi suara (noise) yang dihasilkan oleh mesin CFM LEAP-1B juga sudah diturunkan. Caranya, Boeing membuat desain penutup mesin bergerigi di bagian belakangnya.
Salah satu keunikan lain dari varian Boeing yang satu ini adalah desain winglet anyar yang diberi nama Scimitar Winglet. Winglet yang terlihat seperti dibelah menjadi dua bagian ini ditujukan untuk memecah turbulensi di ujung sayap. Daya hambat yang dihasilkan oleh turbulensi tadi mengakibatkan pesawat membutuhkan tenaga lebih, dimana ini berimplikasi pada penggunaan bahan bakar yang lebih boros.
Baru akan mulai beroperasi Maret 2019 mendatang, Mass Rapid Transit (MRT) Jakarta sudah dilirik oleh Pemerintah Tangerang Selatan, Banten. Permintaan penerusan jalur Selatan-Utara hingga ke Tangsel ini diminta langsung oleh Wali Kota Tangerang Selatan Airin Rachmi Diany.
Baca juga: MRT Jakarta Dilirik Tangerang Selatan Untuk Buka Jalur
Perpanjangan jalur ini sendiri sebenarnya sudah ada dalam Rencana Induk Transportasi Jakarta (RITJ) dimana bisa sampai ke Cikarang dan Balaraja untuk koridor Timur-Barat dan Tangsel untuk koridor Selatan. Adanya usulan ini, maka PT MRT Jakarta melakukan koordinasi dengan pemerintah pusat dan Badan Pengelola Transportasi Jabodetabek (BPTJ).
Saat ini pun BPTJ juga tengah menugaskan PT MRT Jakarta untuk melakukan feasibility study atau studi kelatakannya. Dalam RITJ, perpanjangan jalur dimulai dari staisun terakhir di Lebak Bulus hingga ke Pondok Cabe, Tangerang Selatan.
Adapun rute yang diusulkan oleh BPTJ yakni Lebak Bulus, Stasiun UMJ, Stasiun UIN Syarfi Hidayatullah, Stasiun Pasar Ciputat, Stasiun Pustekkom, Stasiun Pondok Cabe, Stasiun Pamulang Barat, Stasiun Pondok Benda, Stasiun Babakan, Stasiun Puspitek, Stasiun Rawa Buntu dan Tangerang Kota.
“Tapi Ibu Wali Kota (Tangsel) minta dibelokkan ke arah BSD atau Puspitek, sampai ke Rawa Buntu dan Tangerang Kota,” ujar Direktur Keuangan PT MRT Jakarta Tuhiyat yang dikutip KabarPenumpang.com dari detik.com (27/10/2018).
PT MRT Jakarta juga melakukan penyelesaian pra studi kelayakan untuk mengetahui seberapa layak jalur tersebut. Bahkan jalur-jalur yang tengah diuji kelayakanannya bisa berubah sampai pra studi selesai dilakukan pada akhir 2018 ini.
Kemudian, setelah semua selesai, penanggung jawab proyek kerja sama bisa dimumkan. Pembangunan MRT Jakarta yang diteruskan hingga ke Tangsel ini sendiri ternyata berbeda dengan fase I dan II. Sebab, pendanaan proyek ini rencanya akan menggandeng pihak swasta dengan skema kerja sama pemerintan dan badan usaha.
Baca juga: Modifikasi JPO TB Simatupang, PT MRT Jakarta Rekayasa Lalu Lintas Pada 28-29 Oktober!
Sebelumnya, Dikerktur PT MRT Jakarta, William Sabandar mengatakan, adanya rencana ini, pihak PT MRT Jakarta belum mendapatkan penugasan itu sendiri meski ide untuk membangun MRT samapi ke Tangerang Selatan sudah ada. Tetapi skema jelasnya seperti apa, William menambahkan, belum ada sampai saat ini.
Dalam pengembangan menuju Tangerang Selatan ini sendiri ada tiga tahapan yang harus dilalui untuk mengkaji pembangunan proyek MRT tersebut. Tahapan itu yakni studi pendahuluan, Visibilitas dan desain teknis yang didalamnya juga mencakup kejelasan terkait pendanaan.
“Saat ini, kita masih dalam tahap studi pendahuluan. Skema pembangunan bisa Kerja Pemerintah dan Badan Usaha (KPBU), public private partnership, atau sepenuhnya dari pemerintah. Namun skema yang biasanya ditawarkan adalah KPBU. Kami pun siap jika ditunjuk,” jelasnya.
Tentu Anda masih ingat dengan eks Direktur Utama Garuda Indonesia, Wiweko Soepono yang menginisiasi two-men cockpit, bukan? Ya, sistem kokpit yang saat ini digunakan oleh kebanyakan armada menghilangkan satu bangku yang semula digunakan untuk seorang flight engineer. Menurut Wiweko, peran seorang flight engineer tidak dibutuhkan lagi ketika era digitalisasi mulai merambah sektor aviasi global.
Baca Juga: Wiweko Soepono – Bapak ‘Two-Men Cockpit’ yang Sarat Pengalaman di Dunia Dirgantara
Namun, tahukah Anda tugas dan peran dari seorang flight engineer yang dulu sempat menemai perjalanan pilot dan co-pilot di dalam kokpit? Dilansir KabarPenumpang.com dari laman usatoday.com, bangku untuk seorang flight engineer di ruang kokpit hanya dapat Anda temui di pesawat-pesawat model lama – sebelum pesawat menggunakan sistem perkomputeran yang canggih seperti saat ini.
Secara khusus, seorang flight engineer akan memperhatikan sejumlah aspek yang dapat menunjang pengoperasian sebuah pesawat, mulai dari sistem kelistrikan, bahan bakar, pneumatik (segala hal yang berhubungan dengan udara), hingga sistem hidrolik.
Layaknya seorang pilot, tidak bisa sembarang orang mengisi salah satu posisi krusial di dunia penerbangan jaman dulu ini. Dibutuhkan serangkaian pelatihan guna mengasah keahlian dan keterampilannya dalam memahai seluk beluk pesawat.
Selain memperhatikan sejumlah aspek di atas, seorang flight engineer juga harus melakukan beberapa kroscek sebelum pesawat mengudara – dimana itu bertujuan untuk memastikan apakah armada yang bersangkutan layak untuk mengudara atau tidak.
Namun sekarang jaman sudah berubah, dimana perkembangan teknologi sudah ‘memakan banyak korban’. Sistem komputerisasi yang sudah semakin kompleks saat ini memungkinkan teknologi mengambil alih tugas dari seorang flight engineer.
Momen pergeseran ini terjadi manakala Wiweko Soepono menilai komputer sudah bisa menjalani tugas yang dilakukan oleh seorang flight engineer.Baca Juga: Ada Kisah Antara Wiweko Soepono dan Airbus A300B4 Garuda Indonesia
Di pesawat modern yang ada sekarang, tidak lagi ditemukan adanya bangku untuk seorang flight engineer di dalam ruang kokpit. Ini dikarenakan sistem komputer yang sudah bisa mengemban tugas yg sebelumnya dilakukan oleh flight engineer.
Jumlah trafik penumpang di 13 bandara yang dikelola PT Angkasa Pura I (AP I) terus mengalami peningkatan seiring dengan pengembangan yang terus dilakukan oleh perusahaan. Sejak awal 2018 hingga triwulan III 2018, terjadi peningkatan trafik penumpang sebesar 9persen dibanding periode yang sama pada 2017.
Baca juga: Wujudkan Smart Airport, Angkasa Pura I Gandeng SITA di Bandara Ngurah Rai
“Angkasa Pura I terus melakukan pengembangan bandara untuk memicu dan mengantisipasi potensi pertumbuhan penumpang tiap tahunnya. Pengembangan dilakukan juga untuk menjaga standar layanan kepada pengguna jasa bandara,” kata Direktur Utama AP I Faik Fahmi.
Hingga triwulan III 2018 ini, trafik penumpang di 13 bandara Angkasa Pura I dicatat mencapai 73,02 juta orang, naik sebesar 9 persen dibanding periode yang sama pada 2017 yang mencapai 66,9 juta orang. Trafik penumpang tertinggi terjadi di Bandara I Gusti Ngurah Rai Bali dengan jumlah penumpang sebanyak 17,7 juta orang atau berkontribusi sekitar 24,2 persen dari total trafik penumpang di bandara Angkasa Pura I selama periode tersebut.
Jumlah ini tumbuh 7,86 persen dibanding periode yang sama tahun lalu yang sebesar 16,4 juta orang. Trafik tertinggi kedua pada periode ini terjadi di Bandara Juanda Surabaya dengan total trafik sebesar 15,9 juta orang atau sekitar 21,7 persen dari total trafik bandara Angkasa Pura I.
Jumlah ini tumbuh 7,12 persen dibanding periode yang sama pada tahun lalu yang sebesar 14,8 juta orang. Sedangkan trafik tertinggi ketiga terjadi di Bandara Sultan Hasanuddin Makassar dengan total trafik 10,1 juta orang atau 13,8 persen dari total trafik.
Jumlah ini tumbuh 12,63 persen dibanding periode yang sama pada tahun lalu yang sebesar 9 juta orang. Pertumbuhan trafik penumpang tertinggi terjadi di Bandara Ahmad Yani Semarang dengan pertumbuhan sebesar 20,86 persen yaitu menjadi 3,89 juta orang dari 3,22 juta orang pada periode yang sama tahun lalu.
Pertumbuhan tertinggi kedua terjadi di Bandara Frans Kaisisepo Biak yaitu sebesar 19,27 persen menjadi 371.793 penumpang dari 311.722 penumpang pada periode yang sama 2017 lalu. Sementara itu, Bandara Pattimura Ambon mengalami pertumbuhan penumpang tertinggi ketiga dengan pertumbuhan 17,52 persen periode triwulan I hingga triwulan III 2018 ini menjadi 1,13 juta orang dari 964.545 orang pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Baca juga: PT Angkasa Pura I Lakukan Topping Off Terminal Apung Bandara Ahmad Yani
“Salah satu faktor utama yang membuat pertumbuhan trafik penumpang Bandara Jenderal Ahmad Yani Semarang sebagai yang tertinggi di antara bandara Angkasa Pura I lainnya adalah telah dioperasikannya Terminal Baru pada Juni lalu di mana terjadi peningkatan luasan dan kapasitas penumpang yang dapat menampung penumpang mencapai 6,9 juta orang per tahun. Peningkatan kapasitas bandara merupakan faktor utama untuk mendorong peningkatan trafik penumpang. Oleh karena itu, Angkasa Pura I terus menggenjot pengembangan bandara-bandara kelolaan,” ujar Faik Fahmi.
Untuk mengantisipasi dan mendorong potensi pertumbuhan trafik, AP I menargetkan dua proyek pengembangan bandara dapat mulai dioperasikan (minimum operation) pada 2019 mendatang. Kedua proyek pengembangan bandara tersebut yaitu Bandara Internasional Baru Yogyakarta (NYIA) yang ditargetkan dapat dioperasikan pada April 2019 dan Terminal Baru Bandara Syamsudin Noor Banjarmasin pada Oktober 2019.