Belakangan ini, bisnis pendeteksi kerusakan jalur kereta berbasis Artificial Intelligent (AI) tengah naik daun – salah satunya adalah Ardenna yang diketahui tengah mengembangkan teknologi yang mampu untuk mengidentifikasi kerusakan atau cacat dengan menggunakan perangkat lunak yang ditempelkan pada drone alias Unmanned Aerial Vehicle (UAV). Hadirnya teknologi semacam ini tentu membawa angin segar bagi perusahaan perkeretaapian, karena mereka dapat melakukan efisiensi SDM.
Baca Juga: Central Railways India Keluhkan Absennya Alat Pendeteksi Benda Asing di Rel
Seperti yang dikutp KabarPenumpang.com dari laman railway-technology.com (4/10/2018), teknologi ini dirancang untuk memastikan integritas jalur kereta api secara real-time, termasuk deteksi potensi penghalang, rel anjlok, hingga lintasan yang menekuk. Kendati hanya bertindak sebagai ‘mata’ yang dapat membantu perusahaan kereta api untuk melacak titik kerusakan pada rel, namun hal ini diprediksi ampuh dan lebih efisien.
Semisal perusahaan melihat ada kerusakan di jalur, mereka akan langsung mengutus petugas untuk terjun langsung ke lapangan dan segera memperbaiki hambatan tersebut. Jika ditinjau lebih dalam lagi, pengaplikasian teknologi ini juga akan secara signifikan meningkatkan keselamatan dan layanan secara keseluruhan.
“Kami senang menjadi perusahaan pertama yang mampu menunjukkan kemampuan untuk menanamkan kemampuan deteksi kerusakan pada jaringan rel kereta secara otomatis yang diintegrasikan dengan drone (UAV),” ungkap Direktur Pengembangan Bisnis Ardenna, David Patterson.
“Kami akan terus meningkatkan solusi Cloud dan desktop kami untuk sektor transportasi dan energi,” tandasnya.
Aplikasi ini dapat digunakan oleh operator kereta api untuk melakukan inspeksi rutin, serta menilai kondisi jalur kereta pasca bencana alam seperti banjir, tanah longsor, atau bahkan badai sekalipun.
Adapun cara kerja dari teknologi ini adalah kamera akan dipasang pada sebuah drone yang nantinya akan diterbangkan menyusuri rel kereta. Setelah kamera mendapatkan visual dari rel, gambar tersebut akan diproses oleh alogaritma perangkat lunak khusus yang berjalan pada modul NVIDIA Jetson TX2 embedded computing.
Baca Juga: Bertabur Bebatuan di Sisi Rel Kereta Api, Inilah Penjelasannya!
Setelah melewati tahap tersebut, sistem akan menghasilkan lansiran instan ketika ditemukan adanya anomali pada gambar yang ditangkap oleh kamera tadi.
“Kapabilitas dari teknologi ini hanya akan ditingkatkan karena daya komputasi atau peningkatan baterai drone sehingga bisa mengudara lebih lama,” ujar David yang seolah menyiratkan bahwa penggabungan teknologi semacam ini merupakan yang paling mutakhir dan sulit untuk disaingi.
Perkembangan teknologi dan semakin parahnya tingkat pencemaran udara yang terjadi belakangan ini seolah memaksa para pegiat bisnis transportasi untuk semakin inovatif menggabungkan dua poin tersebut. Di dunia perkeretaapian sendiri, teknologi kereta bertenaga hibrida tengah gencar-gencarnya dikembangkan – semata-mata demi menciptakan kualitas udara yang lebih baik karena kebanyakan dari kereta hibrida ini tidak lagi menggunakan tenaga diesel sebagai penggerak utama si ular besi.
Baca Juga: Gandeng Rolls-Royce, Porterbrook Uji Kereta Bertenaga Listrik Hibrida Pertama di Inggris
Dalam pagelaran InnoTrans 2018 yang diadakan pada 19 September kemarin, perusahaan asal Inggris yang membawahi sejumlah kereta penumpang dalam hal pengembangan MTU Hybrid PowerPacks, Porterbrook merilis blue print salah satu mahakaryanya yang dianggap mampu untuk menjawab tantangan dari para elit, HydroFlex.
Pada kesempatan tersebut, Porterbrook mengungkapkan bahwa HydorFlex baru saja dirakit dan siap untuk memasuki masa uji coba perdananya pada Musim Panas 2019 mendatang.
Sama seperti pendahulunya, HydroFlex akan tetap mempertahankan kemampuannya untuk beroperasi di atas rel listrik berdaya overhead 25kV, dan juga mampu untuk ‘mencerna’ bahan bakar hidrogen untukberjalan di rel non-listrik, tanpa memerlukan mesin diesel lagi.
Dikutip KabarPenumpang.com dari laman railengineer.uk (28/9/2018), dalam mengembangkan HydroFlex ini, Porterbrook bekerja sama dengan Birmingham Centre for Railway Research and Education (BCRRE).
BCRRE sendiri melaporkan bahwa mereka telah melakukan sejumlah penelitian mengenai potensi penerapan teknologi sel bahan bakar hidrogen untuk operasi perkeretaapian dan telah bekerja sama dengan sejumlah pegiat bisnis kereta api global untuk mengidentifikasi peluang potensial ini – untuk masa depan perkeretaapian yang lebih ramah lingkungan.
Baca Juga: Bagaimana Cara Kerja Lokomotif Diesel Elektrik? Cek Jawabannya di Sini!
Namun tetap saja, ini masih bersifat rencana pengadaan dengan segala pertimbangan yang sudah dihitung matang-matang. Sejumlah peneliti masih menemukan adanya kekurangan dari HydroFlex ini, seperti kurangnya pengereman regeneratif dapat menyebabkan sel bahan bakar yang lebih besar.
Jika untuk produksi massal, mungkin Porterbrook dan BCRRE akan segera mencari jalan keluar untuk masalah ini – ini baru blue print yang sifatnya masih sementara dan beragam improvisasi sewaku-waktu bisa saja terjadi.
Jika ditarik mundur ke belakang, HydroFlex merupakan jawaban dari tantangan yang pernah dilontarkan oleh Menteri Departemen Transportasi Inggris, Jo Johnson yang menantang industri kereta api untuk mengembangkan rencana dekarbonisasi, dengan tujuan menghapus kereta api diesel dari jaringan pada 2040.
Sebagai Flag Carrier Jepang, ternyata Japan Airlines punya cerita suram soal pemesanan pesawat terbang lho – pasalnya pada 30 September 1963, maskapai ini pernah memesan tiga unit pesawat berkecepatan suara, Concorde. Namun apesnya, tiga unit pesawat tercepat di dunia tersebut tidak pernah tiba di daratan Negeri Sakura. Mesti Anda baru tahu kan soal masalah ini?
Baca Juga: Ternyata, Qantas Airways Itu Merupakan Singkatan dari…
Kira-kira, ada fakta unik apalagi ya yang bisa digali dari maskapai berslogan “Fly Into Tomorrow” ini? Berikut KabarPenumpang.com himpun fakta-fakta unik dari Japan Airlines, dikutip dari laman gotravelyourway.com.
Maskapai Jepang Pertama yang Mendarat di Tiongkok
Sebagaimana yang kita ketahui bersama, Jepang dan Cina memiliki hubungan bilateral yang cukup complicated, dan publik dunia sempat dibuat terkejut dengan mendaratnya McDonnell Douglas berlivery Japan Airlines pada di Bandara Beijing pada 7 Maret 1980. Di tahun 2017 kemarin, tercatat sebanyak 13 rute penerbangan menuju Cina yang dilayani oleh Japan Airlines – seperti menuju Shanghai, Guangzhou, atau Shenzhen.
Pelanggan ‘Queen of the Skies’ Pertama di Asia
Tahun 1970 menjadi tahun yang bersejarah bagi Japan Airlines, pasalnya salah satu anggota dari aliansi maskapai Oneworld ini menerima Boeing 747 pertama di Asia. Japan Airlines juga diketahui sebagai salah satu pelanggan terbesar dan paling loyal terhadap armada berjuluk Queen of the Skies ini. Ada lebih dari 110 armada Boeing 747 dioperasikan oleh Japan Airlines – termasuk untuk layanan kargo.
Operator Boeing 767 Terbesar di Asia
Tidak hanya terbesar di Asia, namun Japan Airlines juga berhasil mencatatkan namanya sebagai maskapai nomor empat di dunia yang paling banyak mengoperasikan Boeing 767. Kurang lebih sekitar 40 armada Boeing 767-300ER yang digunakan Japan Airlines untuk mengoperasikan rute domestik dan juga internasionalnya.
Baca Juga: 5 Fakta Unik Tentang Qatar Airways yang Mungkin Baru Anda Tahu!Penerbangan Internasional Perdana Japan Airlines
2 Februari 1954 merupakan tonggak penting bagi sejarah perusahaan yang berbasis di Shinagawa, Tokyo, Jepang ini. Bermodalkan Douglas DC-6, Japan Airlines melakoni penerbangan internasional perdananya menuju San Francisco. Pada penerbangan tersebut, DC-6 berlivery Japan Airlines ini melakukan dua pemberhentian untuk mengisi bahan bakar – pertama di Wake Island dan satunya lagi di Honolulu.
Di tahun 1960, Japan Airlines lalu mengganti armada DC-6 dengan pesawat jet pertamanya, Douglas DC-8.
Revitalisasi Stasiun Tugu Yogyakarta mendapat dukungan dari Pemerintah Kota (Pemkot) Yogyakarta. Pasalnya adanya revitalisasi tersebut untuk membantu pengoperasian kereta Bandara Kulon Progo, New Yogyakarta Internasional Airport (NYIA). Pembenahan ini sendiri diharapkan akan mampu menampung hingga 14 ribu penumpang per harinya dibandingkan saat ini yang hanya menampung setengahnya yakni tujuh ribu penumpang.
Baca juga: Sepenggal Cerita dari Loko Coffee Shop Yogyakarta
Dirangkum KabarPenumpang.com dari berbagai laman sumber, Walikota Haryadi Suyuti usai menghadap Gubernur DIY Sri Sultan Hamengku Buwono X bersama direksi PT KAI mengungkapkan pemerintah Yogyakarta telah bersiap melakukan antisipasi dan lonjakan penumpang kereta saat bandara baru beroperasi nanti. Sehingga revitalisasi tersebut sangat diperlukan untuk mengantisipasi lonjakan penumpang itu.
“Revitalisasi nanti akan menambah kapasitas menjadi dua kali lipat dari tujuh ribu menjadi 14 ribu penumpang per hari,” ujar Haryadi.
Direktur Teknis PT KAI, Doddy Kurniawan, menambahkan pihaknya berupaya menambah kapasitas penumpang di stasiun Tugu. Sebab ke depan nanti jumlah penumpang akan bertambah banyak seiring beroperasinya kereta bandara.
Haryadi menyebutkan paparan pada pertemuan itu merupakan yang terakhir. Sehingga setelahnya akan ada pengembangan Stasiun Tugu dan pelaksanaan pengembangannya dijadwalkan tahun 2019 mendatang.
“Supaya tidak ketinggalan maka kami siapkan. Masak bandara sudah operasional, malah belum siap apa-apa,” ujarnya.
Meski begitu, Haryadi belum menyebutkan detail pembangunannya nanti akan seperti apa. Tetapi sisi selatan yang saat ini berupa trotoar akan dikembangkan untuk kereta api jarak jauh. Sedangkan sisi utara akan digunakan untuk kereta bandara baru.
“Saat ini pengembangannya akan seperti apa akan di konsep. Traffic dan pengamanannya nanti juga akan diatur supaya yang naik nyaman,” jelas Haryadi.
Baca juga: Atasi Dampak Pembangunan Bandara Baru Yogyakarta, Angkasa Pura I Buka Help Desk Bagi Warga
Kepala Dinas Perhubungan DIY, Sigit Sapto Raharjo menjelaskan, lima komponen yang membicarakan terkait penataan stasiun Tugu ini akan mempersiapkan adanya MoU untuk memulai pembangunan. Dia menyebutkan ada lahan seluas 14 hektar untuk pengembangan stasiun Tugu ini.
“Kalau dari kami terkait dengan traffic management. Harapannya, lalu lintasnya sinkron dengan jasa fasilitas parkir karena nanti ada pedestrian Malioboro agar tidak tambah mengganggu,” ujarnya.
Seorang pramugari harus terluka parah setelah terjatuh dari pintu pesawat yang parkir di landasan pacu Bandara Internasional Chhatrapati Shivaji, Mumbai. Insiden itu terjadi pada Senin (15/10/2018) saat pramugari tersebut mempersiapkan keberangkatan pesawat ke Delhi.
Baca juga: Pramugari Emirates Lompat dari Pesawat, Akhirnya Tewas Sehari Setelah Jalani PerawatanKabarPenumpang.com melansir dari laman bbc.com (15/10/2018), Harsha Lobo, pramugari yang terjatuh itu langsung dibawa ke rumah sakit Nanavati untuk mendapat perawatan. Dirinya menderita patah tulang dan cedera lainnya. Sebelum dilarikan ke rumah sakit, seorang dokter yang bertugas dibandara mendatanginya.
“Dia sadar dan berorientasi baik tetapi telah mengalami fraktur (terbuka) patah tulang kaki kanan bawah dan beberapa luka ringan,” ujar seorang pejabat maskapai.
Atas inside ini, pihak Air India melakukan penyelidikan atas insiden tersebut. Diketahui, Harsha jatuh dari pesawat Boeing 777 dengan nomor penerbangan AI 864 penerbangan dari Mumbai menuju ke Delhi.
Pekan lalu, sebuah pesawat Air India yang melakukan perjalanan dari kota Trichy di India selatan menuju ke Dubai mengalami kerusakan setelah menabrak tembok bandara saat lepas landas. Pesawat, yang membawa 130 penumpang dan enam anggota awak, dialihkan ke Mumbai, di mana pesawat itu mendarat dengan selamat.
Insiden itu terjadi berminggu-minggu setelah lebih dari 30 penumpang naik pesawat dari maskapai India Jet Airways harus menerima perawatan setelah pilot lupa untuk menyalakan saklar yang mengatur tekanan kabin. Pada Maret 2018 kemarin, seorang pramugari Emirates tewas setelah melompat dari pintu pesawat Boeing 777 yang terparkir di landasan pacu Bandara Internasional Entebbe Uganda.
Sebelum meninggal pramugari tersebut sempat dilarikan dirumah sakit untuk mendapat perawatan karena luka yang dideritanya cukup parah pada bagian kepala dan meninggal satu hari setelah sempat dirawat.
Insiden itu bahkan membuat keterlambatan keberangkatan pesawat dengan nomor penerbangan EK729 tersebut dari Entebbe menuju ke Dubai. Sebelum melompat, pramugari tersebut diketahu tengah berbincang dengan rekan kerjanya dan menjepit sebuah botol kaca di dagunya.
Baca juga: Capai Usia 102 Tahun, Delta Airlines Rayakan Ulang Tahun Pramugari Pertamanya!
“Kami bisa memastikan bahwa anggota awak kabin kami terjatuh dari pintu yang terbuka sembari menyiapkan pesawat untuk penumpang bisa naik dan berangkat dari Entebbe pada tanggal 14 Maret. Anggota kabin kami yang cedera tersebut dibawa ke rumah sakit terdekat. kami menyediakan semua dukungan dan perawatan yang mungkin bagi kru kami yang terkena dampak dan akan memperpanjang kerja sama kami dengan pihak berwenang untuk menyelidiki kasus ini,” ujar juru bicara Emirates.
Dari foto yang beredar di media sosial menunjukkan, wanita tersebut mengenakan seragam Emirates, terbaring telungkup di aspal dan aliran darah tersebar di sekitar kepalanya.
Dua orang wanita terbakar saat botol minuman mereka meledak di Stasiun Shinjuku Tokyo pada musim panas disebabkan oleh cairan pembersih yang dituang dalam wadah alumunium. Temuan ini mendorong peringatan dari seorang ahli bahwa detergen atau pembersih bisa berubah menjadi senjata mematikan bila tidak tahu cara penyimpanannya.
Baca juga: TSA Kembangkan Alat Pendeteksi Bom di Stasiun Kereta Bawah Tanah New YorkKabarPenumpang.com melansir dari laman asahi.com (10/10/2018), Departemen Kepolisian Metropolitan Tokyo pada 9 Oktober 2018 kemarin mengajukan dokumen kriminal kepada jaksa terhadap seorang pria berusia 30-an karena dicurigai menyebabkan luka fisik akibat kelalaian. Dia dicurigai melukai dua wanita termasuk seorang berusia 29 tahun yang menderita luka bakar ringan di wajah dan kakinya di salah satu stasiun East Japan Railway.
Diketahui ledakan tersebut terjadi pada 26 Agustus lalu ketika sebuah alumunium meledak setelah deterjen yang memiliki kandungan alkali menyebabkan penumpukan gas hidrogen di dalamnya. Pria itu diduga mengambil cairan pembersih industri dari sebuah wadah di restoran tempatnya bekerja dan menuangkannya ke dalam kaleng kopi dengan tujuan untuk membersihkan rantai sepedanya.
Memindahkan deterjen ke dalam wadah lain dilarang bila dari peraturan restoran. Rekaman kamera pengawasan membantu mengidentifikasi pria itu. Saat diamankan pria tersebut mengaku kepada pihak kepolisian bahwa dirinya tidak tahu bila deterjen bisa meledak karena reaksi kimia.
“Saya tidak tahu kalau terkena reaksi kimia deterjen bisa meledak, saya hanya khawatir itu tumpah,” ujar seorang polisi mengutip kata-kata pria itu.
Kejadian serupa terjadi di kereta yang berhenti di Stasiun Hongo-sanchome di Jalur Marunouchi Tokyo Metro Co di Bunkyo Ward ibukota pada Oktober 2012. Sebuah aluminium berisi cairan pembersih industri yang kuat dibawa oleh penumpang dan meledak di kereta api. Ledakan ini membuat delapan penumpang terkena luka bakar di wajah dan tangan mereka setelah cairan pecah dari kaleng.
Penumpang itu sedang dalam perjalanan pulang dari tempat kerja dengan kereta. Polisi mengajukan surat-surat kriminal kepada jaksa penuntut terhadap pria tersebut pada Agustus 2014 yang menuduhnya menyebabkan luka fisik karena kelalaian.
Menurut Katsuhiro Saito, seorang profesor emeritus fisika organik di Institut Teknologi Nagoya, larutan alkali seperti deterjen pencuci piring menyebabkan reaksi kimia ketika bersentuhan dengan aluminium. Ketika sebuah kaleng tertutup rapat dengan cairan seperti itu di dalamnya, itu akan menjadi penuh dengan gas hidrogen, membuat tekanan di dalam kaleng yang berpotensi menyebabkan ledakan.Baca
Baca juga:Bukan Toko Serba Ada, Tapi Stasiun di Jepang ini Memenuhi Semua Kebutuhan Anda!
“Reaksi juga dapat menghasilkan larutan alkali yang keluar dari kaleng bersama dengan gas hidrogen,” ujar Saito.
Saito juga memperingatkan bahwa orang-orang dapat menderita luka bakar karena terciprat dengan larutan alkalin dan mengatakan bahwa karena gas hidrogen sangat mudah terbakar maka dapat menyebabkan ledakan.
“Bahkan pembersih asam untuk toilet dan hal-hal lain juga bisa mengarah pada reaksi kimia yang sama,” kata Saito.
Apa rasanya jika harus merasakan penerbangan hampir 19 jam? Penerbangan tersebut baru saja dilakukan oleh maskapai Singapore Airlines (SIA) yang berangkat 10 menit sebelum tengah malam dari Bandara Changi menggunakan pesawat A350-900 ULR terbarunya dengan nomor penerbangan SQ22 dan menjadi penerbangan perdana untuk pesawat baru tersebut.
Baca juga: Terima Airbus A350-900ULR, Singapore Airlines Siap Terbang ke New Jersey Non-Stop
Pada penerbangan ini, pesawat bisa mengangkut 161 penumpang dengan pembagian 67 penumpang kelas bisnis dan 94 kelas ekonomi premium. Dilansir KabarPenumpang.com dari businesstimes.com.sg (13/10/201), penerbangan rute Singapura menuju New York tersebut menjadikannya yang terlama untuk saat ini.
Penumpang kelas bisnis akan diberikan makanan sebanyak dua kali dan pilihan waktu penyajian serta minuman. Mereka juga akan mendapatkan kursi yang bisa diubah menjadi tempat tidur. Sedangkan penumpang kelas ekonomi premium akan mendapat makanan tiga kali pada waktu yang ditentukan maskapai dengan minuman.
Tak hanya itu, penumpang juga dihadirkan dengan cahaya biru untuk membuat penumpang terjaga dan cahaya kuning untuk membuat ke keadaan mengantuk. Ini dihadirkan agar penumpang bisa menyesuaikan diri dengan zona waktu baru dan ketika bangun pagi di New York.
(businesstimes.com.sg)
“Formula ini bekerja paling baik dalam penerbangan non-stop karena Anda memiliki kebebasan 18 jam untuk merencanakan waktu Anda,” Campbell Wilson, wakil presiden senior penjualan dan pemasaran SIA.
SIA dalam hal penerbangan jarak jauh miliknya ini juga bekerjasama dengan spesialis kesehatan Canyon Ranch dimana penerbangan menawarkan pengalaman holistik lengkap baik makanan, kesehatan, suasana kabin, ketinggian dan tekanan bawah kabin yang membantu penumpang agar kulit tidak kering. Makanan pilihan pun bisa mendapatkan nasi ayam atau daging sapi rebus untuk makanan utama atau menu Canyon Ranch dari ceviche udang, babi cassoulet dan apel frangipane tart.
“Babi cassoulet biasanya berat, lemak rebus tetapi telah dipangkas menggunakan daging tanpa lemak dan minyak zaitun,” kata Richard Neo, manajer layanan penerbangan termasuk makanan dan minuman.
Neo mengatakan, hal yang menjadi tantangan di ketinggian adalah proses pemanasan makanan kembali di pesawat dan perubahan selera makan penumpang. Makanan ini juga tidak ada yang buruk untuk kelas ekonomi premium, tetapi jika penumpang menginginkan makanan dengan kondisi baik, gunakan rute yang lebih sehat.
Bila penumpang kelas bisnis bisa mengubah kursi mereka menjadi tempat tidur, penumpang di kelas ekonomi premium juga mendapatkan ruang kaku ekstra dan kepala bisa disenderkan dengan nyaman.
Baca juga: Jaga Kesehatan Penumpang di Penerbangan Jarak Jauh, Singapore Airlines Gandeng Canyon Ranch
“Saya membayar tiket di kelas ekonomi premium sehingga saya punya lebih banyak uang untuk dibelanjakan baik untuk penginapan atau barang-barang,” uajar Tilo Kruger salah seorang penumpang.
Jika Anda berencana untuk melakukan beberapa pekerjaan di penerbangan bisa menggunakan WiFi dan tetapi Anda juga dapat pergi berjam-jam tanpa terhubung. Atau rencanakan perjalanan Anda berikutnya untuk memanfaatkan harga promosi mulai dari S$6800 atau Rp75 juta untuk kelas bisnis dan S$2100 atau Rp23,2 juta untuk ekonomi premium.
Menikmati salah kota di ujung timur Pulau Jawa yakni Banyuwangi tak perlu susah untuk mengelilinginya. Sebab, kini telah ada lori wisata yang diluncurkan PT Kereta Api Indonesia (KAI) Daerah Operasional IX pada 20 Maret 2016 lalu. Lori ini sendiri di namakan Lori Wisata Kalibaru dan memiliki relasi Kalibaru hingga Garahan yang terdapat di Kabupaten Jember.
Baca juga:Lori, Si Kereta Tebu Yang Kini Sudah Beralih Fungsi
Jarak tempuh lori wisata tersebut sekitar 18 meter dan keberadaannya sebenarnya sudah lama ada tetapi promosi serta pengenalannya pada masyarakat belum begitu lancar hingga akhirnya kembali diresmikan. Dirangkum KabarPenumpang.com dari berbagai laman sumber, kebangkitan lori tersebut juga untuk membangkitkan wisata yang ada di Banyuwangi terkhusus Banyuwangi Barat. Pemerintah Kabupaten Banyuwangi sendiri mengakui kotanya lebih banyak dikenal dengan pantai dan air terjunnya, padahal masih banyak destinasi lain yang bisa dikunjungi.
Lori wisata setealh melalui Terowongan Mrawan (Phinemo)
Kehadiran lori membawa harapan lebih baik karena pelancong bisa menikmati lebih banyak pemandangan yang ditawarkan Banyuwangi seperti persawahan, perkebunan cokelat dan kopi. Tak hanya itu, dengan lori wisata, pemandangan asri yang membuat mata segar terbentang di sisi kanan dan kiri rel dan membawa pelancong melintasi perkebunan-perkebunan dengan ketinggan 4000 meter diatas permukaan laut.
Lori ini didesain sesederhana mungkin dengan jendela yang terbuka sehingga pelancong bisa merasakan udara sejuk dan segar serta bebas polusi kota. Melintas rel ini pun Gunung Raung dan Gunung Gumitir terlihat gagah berdiri dan menambah pemandangan mata pelancong.
Untuk mencapai Garahan, lori akan melintasi Terowongan Mrawan dengan panjang 690 meter yang letaknya di daerah Sidomulyo. Terowongan tersebut merupakan salah satu aset bangunan bersejarah milik PT KAI yang selesai di bangun tahun 1910 silam.
Baca juga: Rocky Mountaineer, Kereta Wisata yang Akan Bawa Anda Menempuh Perjalanan Romantis
Lori Wisata Kalibaru hingga saat ini hanya beroperasi pada akhir pekan saja yaitu Sabtu dan Minggu dari pagi hingga sore hari. Tiket untuk naik lori wisata ditawarkan paket dengan sewa Rp1,2 juta untuk kapasitas 12 orang, sehingga bila rombongan hanya perlu membayar Rp100 ribu per orangnya.
Karena lori wisata akan melalui terowongan dan jembatan, pelancong juga harus memiliki nyali yang sedikit lebih dari biasanya. Bawa bekal makanan dan minuman secukupnya, saat berselfie harus berhati-hati serta tak lupa patuhi perturan yang diberikan masinis.
Setelah serangkaian rencana tentang pengadaan moda otonom yang sempat beredar beberapa waktu yang lalu, kini Dubai diketahui telah mulai menguji coba kendaraan masa depan ini. Ya, moda yang digadang-gadang menjadi pertanda kemajuan teknologi di sektor transportasi darat ini pun telah bergabung dengan kendaraan konvensional lainnya di Dubai pada Minggu (14/10/2018) kemarin – tepatnya, uji coba layanan ini dilakukan pada perhelatan Gitex Technology Week 2018.
Baca Juga: Bukan Sekedar Isapan Jempol, Dubai Mulai Uji Coba Taksi Drone
Sebagaimana yang dihimpun KabarPenumpang.com dari berbagai laman sumber, moda otonom karya Roads and Transport Authority (RTA) Dubai yang menjadi salah satu daya tarik acara tersebut dijadwalkan akan diuji coba selama tiga bulan lamanya, terhitung sejak Minggu kemarin. RTA sendiri menargetkan kendaraan ini layaknya layanan rie-hailing – dimana moda otonom akan menjemput dan mengantar penumpang sesuai dengan informasi yang sudah dimasukkan terlebih dahulu sebelumnya.
“Sebut saja dari pusat perbelanjaan atau bioskop menuju rumah Anda,” tutur salah satu juru bicara dari RTA.
Adapun kendaraan yang mampu menampung empat penumpang ini dapat ‘melesat’ hingga kecepatan 32km/jam. Nantinya, di bangku depan, akan ada pengemudi tambahan yang ditugaskan untuk mengambil alih kendaraan semisal ada kejadian darurat yang harus ditangani oleh tenaga manusia – walaupun si pengemudi tambahan ini tidak mengambil peran ketika moda ini dipamerkan di Gitex Technology Week kemarin.
Dalam mengerjakan moda otonom ini, RTA mengambil dasar mobil Mercedes-Benz yang lalu ditambahkan sejumlah kamera sensor dan Light Detection and Ranging (LIDAR).
Dikutip dari laman sumber lain, Direktur Jenderal dan Ketua Dewan Direktur Eksekutif RTA, Mattar Al Tayer mengatakan bahwa kendaraan otonom ini akan beroperasi pada rute khusus di daerah Dubai Silicon Oasis.
Baca Juga: Soal Taksi Udara, Inilah Serangkaian ‘PR’ yang Kudu Diselesaikan Volocopter
Tidak muluk-muluk, Dubai menargetkan sekitar 25 persen setiap perjalanan moda transportasi di sana menjadi otonom pada tahun 2030 mendatang. Hal ini dicetuskan oleh Wakil Presiden Dubai, Seikh Mohammed bin Rashid yang pada tahun 2016 silam meluncurkan program Dubai Smart Self-Driving Vision.
Selain taksi otonom ini, Dubai juga diketahui tengah mengembangkan drone otonom sebagai pelengkap moda udara di sana.
Light Rail Transit (LRT) di Ottawa, Kanada telah merancang sistem konfederasi jalur senilai $2,1 miliar atau setara dengan Rp31,9 triliun. Dana sebesar ini dikucurkan agar kereta dapat beroperasi jika listrik mati dan salah satu fasilitas konversi daya sepanjang jalur 12 km tersebut rusak.
Baca juga: LRT Jakarta Fase I Diperkirakan Beroperasi Pada Januari 2019
Dalam surat elektronik atau email yang disampaikan oleh seorang petugas komunikasi kota Carly Wolff, direktur konstruksi O-Trains Steve Cripps mengatakan, LRT bisa terus berjalan meskipun salah satu konverter daya yang terkoneksi rusak.
“Dalam hal terjadi pemadaman listrik di stasiun tertentu, desain listrik stasiun memastikan bahwa tidak akan berdampak pada keselamatan penumpang atau efek buruk pada sistem fasilitas,” ujar Cripps yang dikutip KabarPenumpang.com dari laman ottawacitizen.com (24/9/2018).
Dia mengatakan, kereta di jalur LRT elektrifikasi tersebut akan terus berjalan dengan daya yang dikirimkan oleh sistem kawat atas dari serangkaian gardu traksi di sepanjang rel. Menurut Cripps, sistem catenary atas sendiri mendistribusikan daya DC dari gardu ke setiap kereta melalui pantograph.
Dimana pantograph ini sendiri merupakan perangkat yang dipasang di atap kendaraan dan memanfaatkan kekuatan dengan menghubungkan kawat overhead. Diketahui ada sembilan gardu daya traksi sepanjang koridor kereta api yang akan mengubah pasokan listrik lokal menjadi listrik umum untuk jalur LRT.
Cripps mengatakan, jika salah satu dari stasiun mengalami kehilangan tenaga, maka stasiun lain yang berdekatan mampu menyediakan listrik yang cukup untuk menjaga kereta bergerak. Sayangnya dalam email tersebut Cripps tidak mengatakan hal apa yang terjadi jika sembilan gardu listrik tersebut terkena dampak pemadaman listrik.
Tak hanya itu, stasiun LRT juga memiliki rencana penyimpanan daya jika ada masalah listrik. Ruang listrik utama di stasiun memiliki power supply yang tidak pernah terputus dan mirip dengan cadangan baterai. Sehingga untuk memastikan sistem komunikasi, perlindungan kebakaran, alarm kebakaran, lampu keluar darurat dan sistem ventilasi terowongan terus bekerja jika daya utama terputus. Ada tiga stasiun LRT di terowongan 2,5 kilometer, sehingga menjaga sistem darurat yang beroperasi selama kegagalan daya sangat penting.
Baca juga: Konstruksi LRT Ottawa Dilanda Banjir, Serikat Pekerja Khawatir Akan Keselamatan Pekerjanya
“Sebagai bagian dari kesiapsiagaan darurat dan kesiapan operasional, kami terus mengembangkan rencana kontinjensi komprehensif untuk berbagai skenario darurat bekerja sama dengan mitra layanan darurat kami, termasuk Ottawa Police Service, Ottawa Fire Services dan Ottawa Paramedic Services, untuk memastikan keselamatan dan keamanan dari semua pelanggan transit, pengguna jalan dan karyawan,” kata Cripps.
Angin keras pada hari Jumat memiliki potensi untuk menyebabkan kerusakan serius pada infrastruktur LRT yang masih dalam tahap pembangunan. Beberapa stasiun menampilkan panel kaca besar yang digunakan sebagai dinding struktur. Cripps menyampaikan kabar baik tidak ada kerusakan signifikan pada infrastruktur LRT selama badai. Konstruksi berlangsung sesuai jadwal. Tidak ada tanggal penyelesaian yang pasti untuk sistem LRT.