Siap Implementasi di 2020, DB Regio Gandeng Siemens Dalam ‘Eksekusi’ Ideas Train

Setelah mengantongi beberapa konsep yang telah dikembangkan di bawah naungan proyek Ideenzug (Ideas Train), akhirnya Deutche Bahn (DB) Regio siap untuk mengimplementasikannya. Rute Muehlendorf – Muenchen dipilih DB Regio untuk pengoperasian komersialnya yang menurut rencana, akan mulai mengular pada tahun 2020 mendatang. Kelak, DB Regio hanya akan mengoperasikan dua atau tiga gerbong Ideas Train yang akan dipasang di layanan Express Regional. Baca Juga: Tanggapi Waktu Penumpang Yang ‘Terbuang,’ Deutsche Bahn Hadirkan Gym di Idea Train Sebagaimana yang dikutip KabarPenumpang.com dari laman railwaygazette.com (20/9/2018), layanan ini kelak akan dioperasikan oleh anak perusahaan DB, Suedostbayernbahn. Dalam pengembangan Ideas Train ini, pihak DB telah meneken kontrak dengan Siemens – dimana kontrak kerja sama tersebut ditandatangani langsung oleh Ketua Dewan Manajemen DB Regio Dr Joerg Sandvoss, Anggota Dewan Manajemen DB untuk Digitalisasi & Teknologi Dr Sabina Jeschke dan CEO Siemens Mobility CEO Sabrina Soussan. Seperti yang kita ketahui bersama, Siemens merupakan produsen kendaraan pertama yang bersinergi dengan DB dalam pengembangan proyek Ideenzug ini. Di luar kontrak kerja sama tersebut, Siemens secara terpisah juga telah menjalin beberapa kerja sama dengan perusahaan lain dalam pengembangan prototip Ideenzug – salah satunya adalah Polandia Taps. Diketahui Siemens bekerja sama dengan Polandia Taps dalam pengembangan desain kursi cerdas yan mencakup layar sentuh bagi penumpang untuk menonton film hingga memesan makanan atau minuman. Nantinya penumpang bisa menyesuaikan posisi duduk dan menyimpan pengaturan bangku tersebut di cloud Siemens Mindsphere. Ini memungkinkan penumpang untuk duduk di bangku dengan pengaturan yang sama seperti di kereta sebelumya. Baca Juga: BEAM: Solusi Penat Saat Perjalanan Kereta Jarak Jauh Tidak hanya itu, Siemens juga bekerja sama dengan perusahaan asal Israel, Silentium dalam mengembangkan teknologi kedap suara. Ya,sesuai dengan namanya, nantinya penumpang akan merasakan sensasi hening selama kereta berjalan. Modul ‘power napping’ akan menciptakan silence bubble di atas kepala penumpang yang fungsinya untuk meredam suara tadi selama berkendara menggunakan Ideenzug ini. Lalu bagaimana untuk mencegah perilaku aneh penumpang selama berkendara? Siemens sudah memperhitungkan semuanya, dan mengatakan bahwa mereka akan meningkatkan sistem CCTV yang ada – menghasilkan pengawasan cerdas berbentuk video terhadap area yang dipantau.

Nippon Express Canangkan Pengiriman Barang dengan Kereta dari Cina Menuju Eropa

Nippo Express, salah satu perusahaan logistik Jepang berencana menjalankan kereta barang antara Cina menuju Eropa. Hal ini karena di bawah inisiatif Belt dan infrastruktur jalanan Cina untuk meningkatkan komunikasi antara ujung timur dan barat Eurasia. Dari catatan, perjalanan dengan kereta kargo ini lebih mahal dibandingkan dengan transportasi laut, tetapi memakan waktu hanya 12-14 hari, sedangkan laut 40 hari. Baca juga: Dari London, Kereta Kargo East Wind Sampai di Yiwu Setelah 19 Hari! KabarPenumpang.com melansir laman globalconstructionreview.com (28/9/2018), Nippon Express berencana memulai layanannya setelah Tahun Baru Imlek pada Februari 2019 mendatang. Dimana pelayanan tersebut dimulai dengan satu atau dua perjalanan pulang pergi dalam sebulan. Kemudian jika berhasil layanan ini akan melakukan pengiriman mingguan atau tergantung permintaan. Nippon dalam pengirimannya akan melacak barang mereka dengan menggunakan GPS dan memonitor suhu lingkungan dalam perjalanan. Kereta untuk mengirimkan barang-barang tersebut akan disediakan oleh perusahaan kereta api Cina dan menghubungkan kota-kota pedalaman Cina seperti Wuhan, Chongqing dan Xian dengan kota-kota di Eropa pedalaman seperti Duisburg di Jerman. Langkah pengiriman barang ini sendiri sebagai tanggapan terhadap peningkatan volume barang yang bergerak di antara dua zona. Tak hanya itu, Nippon Express juga tengah menjajaki kolaborasi kedepannya dengan perusahaan logistik Cina dan berencana untuk bekerja sama dengan penyedia kereta api milik negara di Kazakhstan. Kereta dari Cina nantinya akan mengangkut barang-barang seperti suku cadang mobil, panel LCD dan mesin. Sedangkan komponen suku cadang mobil dan elektronik diangkut dari Eropa ke Cina. Pengiriman pesanan e-commerce seperti anggur dan susu formula juga tengah menjadi pertimbangan. Baca juga: Tempuh 12.000 Km, Jalur Sutera Kuno Dibuka Kembali dari Inggris Menuju Tiongkok Adanya dimensi geopolitik untuk layanan yang direncanakan, Cina dan Jepang saat ini mencari cara untuk berkolaborasi daripada bersaing di bidang pembangunan infrastruktur dan pertumbuhan perdagangan trans-Asia sedang dipicu oleh perang dingin komersial terhadap Cina yang diluncurkan oleh pemerintahan Trump. Sementara itu, perbaikan infrastruktur darat telah membawa timur dan barat lebih dekat bersama. Waktu yang diperlukan untuk menempuh 8.140 km antara Chongqing dan Duisburg di Jerman telah menurun dari 37 hari pada 2006 menjadi 16 hari pada tahun 2017, menurut laporan tahun ini oleh Centre for Strategic and International Studies (CSIS). Sekitar 35 kota di Cina kini memiliki jaringan kereta api dengan 34 kota di Eropa, CSIS menemukan, dan pangsa pasar kereta api dengan nilai pertumbuhan 144 persen di paruh pertama tahun 2017, dibandingkan dengan periode yang sama tahun 2016.

Bersiap Gelar 5G, Bandara Internasional Schipol Hadirkan Jaringan Seluler Indoor Terpadu

Bandara Internasional Schipol di Amsterdam bersama dengan beberapa operator seluler Belanda berkolaborasi untuk menghadirkan jaringan baru dalam ruangan. Baru-baru ini Royal Schipol Group menandatangani perjanjian dengan operator seluler KPN, T-Mobile dan VodafoneZiggo untuk bekerjasama dalam mengembangkan jaringan seluler dalam ruangan. Baca juga: Bantu Penumpang Bawa Barang Hingga ke Gerbang, KLM Hadirkan Robot Care-E KabarPenumpang.com melansir dari laman passengerterminaltoday.com (8/10/2018) bahwa, dengan pengembangan jaringan seluler ini sendiri untuk meningkatkan pengalaman penumpang dan staf yang juga pengguna ponsel. Jaringan ini sendiri sudah harus siap digunakan pada tahun 2020 mendatang dengan sistem lebih dari 30 instalasi antena di seluruh bandara untuk memastikan cakupan seluler yang terbaik. Sehingga selama dua tahun kedepan, jaringan Bandara Schipol dan operator akan menyebarkan jaringan bersama baru tersebut di semua ruangan keberangkatan dan kedatangan seperti lounge, gerbang, area stasun kereta api, Schipol Plaza dan area non publik seperti area penanganan bagasi. Jaringan baru ini juga cocok untuk jaringan seluler generasi baru yakni 5G. Tak hanya itu, jaringan untuk layanan darurat dan sistem radio yang digunakan di Bandara Schipol juga termasuk dalam salah satu rencana pengembangan tersebut. Vodafone ditunjuk untuk membangun infrastruktur dan kemudian membukanya ke penyedia lain. Mereka telah bekerja sama sebelumnya pada proyek serupa, seperti terowongan jalan baru di Maastricht atau jalur metro Amsterdam. Jaringan baru akan berarti mengakhiri jaringan dalam ruangan individu untuk operator. Baca juga: Di Bandara Schiphol, Calon Penumpang Bisa Pesan Makanan Online Yang Diantar via Kurir “Schiphol bercita-cita menjadi bandara digital terkemuka, dan ini termasuk memberikan pengalaman pengguna ponsel yang baik bagi jutaan penumpang dan ribuan karyawan kami. Kami senang bekerja dengan KPN, VodafoneZiggo, dan T-Mobile untuk menciptakan pengalaman penumpang digital yang lebih baik di bandara,” kata CFO Royal Schiphol Group Jabine van der Meijs. Pembuatan jaringan seluler multi-operator baru akan berarti akhir dari jaringan indoor individual yang dimiliki oleh masing-masing penyedia yang berbeda di Schiphol. Setelah jaringan baru berjalan, semua operator seluler akan menggunakan jaringan seluler yang sama di berbagai terminal dan gerbang Schiphol.

Door-To-Door Ticket Bisa Jadi Solusi Kemelut Pertiketan di Tanah Britania?

Tidak bisa dipungkiri, Inggris memang memiliki sistem pertiketan yang cukup carut marut. Banyaknya pilihan tiket yang dapat dipilih oleh para calon penumpang ini membuat para pelancong kebingungan untuk menentukan pilihan. Desakan dari berbagai pemangku kepentingan pun mulai bermunculan. Untuk mengatasinya, satu opsi yang dapat ditempuh oleh para penyedia jasa layanan transportasi adalah saling berkolaborasi dan mulai menyediakan door-to-door ticketing. Baca Juga: Di Inggris Anda Bisa Hemat Tiket Kereta Senilai Rp542 Ribu, Cukup dengan Singgah ke Gerai Starbucks! Dilansr KabarPenumpang.com dari laman railway-technology.com (8/10/2018), pada bulan Mei kemarin, Uber dan Virgin Trains baru saja mengumumkan kemitraannya yang dipercaya mampu mendorong antusiasme masyarakat untuk meninggalkan mobil mereka dan beralih menggunakan layanan ride-hailing dan kereta api. Kemitraan tersebut ditandai dengan para penumpang yang sudah bisa membeli tiket perjalanan door-to-door. Penyederhanaan – merupakan kunci penting dalam mengentaskan masalah banyaknya varian tiket yang bisa dibeli oleh calon penumpang. Kebutuhan untuk memperbarui sistem pertiketan di negara ini telah menjadi agenda untuk sementara waktu. Baru-baru ini, serikat pekerja kereta api Rail Delivery Group (RDG) dan pengawas penumpang Transport Focus telah resmi bergabung untuk memulai konsultasi tentang masalah ini. “Peraturan tarif kereta api saat ini sebagian besar tetap tidak berubah sejak diperkenalkan pada tahun 1995,” tutur kepala tarif dan dukungan ritel RDG Andy Wakeford. “Peraturan tarif kereta api juga gagal mengikuti perkembangan teknologi smartphone,” tandasnya. Di sisi lain, kepala kebijakan Transport Focus Mike Hewitson mengatakan bahwa masalahnya juga terletak pada kurangnya varian opsi sederhana yang hemat biaya dan sesuai untuk penumpang, terutama pelancong reguler. “Sebagian dari masalahnya adalah bahwa beberapa teknologi yang ada tidak menjelaskan perbedaan antara jenis tiket dengan sangat baik,” ungkap Mike. Baca Juga: Azuma Virgin, Kereta Cepat Ramah Lingkungan di Inggris, Mengular di 2018 Seiring dengan perkembangan jaman, kebutuhan penumpang pun berubah. Di sini, mau tidak mau industri transportasi yang mencakup bagian pertiketannya juga perlu menyesuaikan dengan pola kerja modern. Ambil contoh kereta api Italia, FS Italiae, misalnya, baru-baru ini meluncurkan aplikasi Nugo, yang memungkinkan pengguna untuk merencanakan perjalanan mereka di seluruh negeri dengan hanya menggunakan satu tiket yang mencakup semua moda yang diperlukan.

Akankah Jepang Jadi Pionir Tarif Taksi ‘Fluktuatif’ Berdasarkan Permintaan?

Kementerian Transportasi Jepang memulai uji coba penetapan tarif taksi yang fluktuatif berdasarkan permintaan di Tokyo pada bulan ini. Tiga perusahaan taksi turut mengambil bagian dalam uji coba ini, dimana tujuan utamanya adalah untuk membuat layanan ini menjadi lebih ramah pelanggan dan meningkatkan penumpang serta memungkinkan perusahaan taksi untuk menetapkan tarif secara fleksibel. Hal ini ditempuh Pemerintah setempat karena melihat adanya kemungkinan layanan ridesharing berkembang dan menjamur di Negeri Sakura. Baca Juga: ‘Ganti Persneling’, Uber Coba Peruntungan Jajal Bisnis Taksi di Jepang Seperti yang dikutip KabarPenumpang.com dari laman the-japan-news.com (7/10/2018), Pemerintah bertujuan untuk memelihara taksi sebagai moda transportasi di daerah setempat dengan meningkatkan layanan dan daya saing antar industri taksi domestik. Diluncurkan sejak 1 Oktober kemarin, adapun tiga perusahaan taksi yang turut serta dalam uji coba penetapan tarif ini adalah Nihon Kotsu, Daiwa Motor Transportation, dan Kokusai Motorcars. Skema tarif yang akan dikenakan pada Nihon Kotsu adalah penumpang akan dikenakan tarif sebesar ¥410 atau yang setara dengan Rp55.000 jika penumpang memesan layanan ini via aplikasi pada hari Minggu siang atau hari-hari off-peak lainnya. Lokasi penjemputannya pun masih terbatas, seperti di Minato Ward. Skema yang sama juga diterapkan pada Daiwa Motor Transportation dan Kokusai Motorcars, namun besaran yang harus dibayarkan penumpang berbeda – mulai dari ¥0 hingga ¥910 atau yang setara dengan Rp123.000. Tarif fleksibel seperti ini kerap kita temui di industri perhotelan dan maskapai penerbangan – dimana tarif akan naik selama periode sibuk. Hadirnya uji coba ini seolah menandakan bahwa industri taksi pun bisa menerapkan skema penetapan tarif seperti di hotel dan penerbangan. Bahkan tidak menutup kemungkinan juga Jepang akan menjadi pionir dalam penentuan tarif fleksibel seperti ini. Pada dasarnya, layanan ridesharing dianggap ilegal karena dinilai sebagai layanan tanpa izin. Isu lain yang semakin mendorong Pemerintah untuk mencari jalan keluar terbaik dari sektor transportasi Jepang adalah industri taksi yang semakin melemah di berbagai aspek. Baca Juga: Operator Taksi Jepang Buka Lowongan Jadi Pengemudi Asing, Tertarik? “Lebih dari separuh taksi yang beroperasi di Jepang tidak mengangkut penumpang. Sangat penting bagi kami untuk meningkatkan produktivitas industri tersebut,” ujar salah seorang sumber dari Kementerian Transportasi Jepang. Mereka berharap, skema penetapan tarif baru ini dapat membawa angin segar bagi industri taksi di Negeri Sakura.  

Dinilai Kurang Efisien, Akankah Airbus A380 Berjaya 20 Tahun Mendatang?

Terbang non-stop antar benua nampaknya sudah menjadi hal yang biasa di dunia aviasi belakangan ini. Pertimbangan demi pertimbangan terus dipikirkan matang-matang oleh para penyedia jasa layanan transportasi udara – termasuk produsen pesawat, salah satu poin yang muncul di urutan paling atas adalah soal efisiensi. Ketika sekira lebih dari satu dasawarsa yang lalu Airbus A380 digadang-gadang menjadi salah satu armada yang mampu melakukan penerbangan jarak jauh non-stop, lalu apa kabarnya sekarang? Baca Juga: Ternyata, Emirates Hanya Menggunakan Dua Jenis Pesawat! Perkembangan di sektor aviasi global merupakan suatu hal yang sangat dinamis. Jika dulu hanya ada beberapa armada berbadan super besar (salah satunya adalah Airbus A380) yang mampu mengudara ribuan kilometer non-stop, namun kini sudah banyak pesawat kembangan berbadan sedang yang mampu melakoni tugas layaknya Airbus A380. Akankah ini menjadi akhir dari kedigdayaan armada berjuluk superjumbo jet? Tentu ini semua bersinggungan dengan poin efisiensi seperti yang sudah disebutkan di atas. Seperti yang kita ketahui bersama, Airbus A380 merupakan pesawat dengan four-engine yang memiliki radius operasi hingga 15.100km dan mampu menangkut hingga 850 penumpang dengan konfigurasi satu kelas. Dengan daya angkut yang segitu besar, sudah bukan jadi rahasia lagi jika pihak maskapai harus memutar otak agar si superjumbo jet ini dapat mengudara dengan kapasitas penumpang penuh. Karena jika tidak, maka penerbangan tersebut akan menjadi tidak efisien atau bahkan lebih parahnya lagi pihak maskapai akan mengalami kerugian (penumpang sedikit, namun jumlah bahan bakar yang digunakan sama) – tidak menutupi biaya operasional. Sementara itu, munculah armada twin engine seperti Boeing 787 Dreamliner dan Airbus A350-900ULR (Ultra-Long Range) yang notabene memiliki ukuran body lebih kecil namun mampu mengemban tugas yang sama beratnya seperti Airbus A380. Diketahui, Airbus A350-900ULR ini mampu mengudara hingga 18.000km atau yang setara dengan 19 jam penerbangan non-stop. Dari perbandingan di atas saja, sudah sedikit terlihat bahwa para pegiat bisnis perjalanan udara akan lebih memilih Airbus A350-900ULR sebagai armada yang melakoni penerbangan jarak jauh non-stop ketimbang Airbus A380 – karena faktor efisiensi tadi. Namun sebagaimana yang dilansir KabarPenumpang.com dari laman forbes.com, International Air Transport Association (IATA) memprediksi akan ada 7,8 miliar penumpang yang melakukan perjalanan udara pada tahun 2036 mendatang. Angka tersebut hampir setara dengan dua kali lipat penumpang yang mengudara pada tahun 2017 (empat miliar penumpang). Prediksi IATA tersebut mengacu pada rataan pertumbuhan penumpang sebesar 3,6 persen setiap tahunnya. Baca Juga: Efisiensi Biaya Operasional Jadi Alasan Utama Anjloknya Permintaan Terhadap Airbus A380 “Sektor aviasi harus mempersiapkan pertumbuhan penumpang sebanyak dua kali lipat pada 20 tahun ke depan,” ujar CEO IATA, Alexandre de Juniac. Melihat statistik data dari IATA tersebut, mungkin beberapa dari Anda sudah bisa menyimpulkan hipotesa sementara: Apakah Airbus A380 sengaja diproduksi untuk memenuhi tuntutan penerbangan dalam 20 tahun ke depan?

EgyptAir Minta Maaf Terkait “Wawancara Palsu” Drew Barrymore di Majalah Penerbangan

Masakapai EgyptAir dari Mesir, baru-baru ini meminta maaf terkait artikel Drew Barrymore yang menjadi viral pekan lalu. Hal ini dikarenakan seperti wawancara palsu setelah seorang penumpang melihat keganjilan di majalah penerbangan maskapai tersebut. Baca juga: Fotonya Viral di Twitter Karena Keusilan, Perempuan Ini Buat Pelaku Jera KabarPenumpang.com melansir dari laman stepfeed.com (10/10/2018), penumpang tersebut melihat artikel feature di majalah Horus dan berbagi foto tersebut di akun Twitter miliknya. Hingga akhirnya foto tersebut di re-tweet oleh dua ribu pengunjung. Karena masalah ini viral, seorang juru bicara Barrymore mengatakan bahwa dia tidak berpartisipasi dalam wawancara dan timnya bekerja dengan tim public relation maskapai. Hal ini kemudian membuat pihak maskapai EgyptAir pada Senin (8/10/2018) mengeluarkan pernyataan permintaan maaf atas artikel tersebut. Pihak EgyptAir juga mengatakan, ini adalah tanggung jawab agensi iklan terkait potongan-potongan gambar yang diterbutkan di Horus. Bahkan Horus sendiri memiliki perjanjian dengan agen periklanan Al-Ahram yang mengedit artikel dan wawacara untuk maskapai penerbangan Mesir tersebut. Permasalahannya sebenarnya dengan tulisan “tidak stabil dalam hubungan sebagian besar hidupnya”, Barrymore “memutuskan untuk mengambil liburan sementara yang tanpa batas untuk kembali berperan sebagai seorang ibu untuk anak-anaknya”. Kutipan ini kemudian diterjemahkan dalam bahasa Inggris yang tidak sempurna. Pemimpin redaksi majalah Horus dan Kepala agensi iklan Al-Ahram yang menerbitkannya menulis sebuah surat pada hari Selasa (9/10/2018) yang menunjukkan masalah itu terletak saat menerjemahkan Bahasa Inggris ke Bahasa Arab. “Kami mohon maaf atas kesalahpahaman yang mungkin ditafsirkan sebagai pelanggaran terhadap artis populer,” tulis mereka. Baca juga: Tak Sadar Injak Tisu Saat Naiki Air Force One, Video Donald Trump Menjadi Viral Wartawan bernama Aida Takla pada tweetnya di 3 Oktober bahwa majalah mungkin telah mengedit bagiannya. Tetapi ini tidak meniadakan fakta bahwa wawancara dengan Drew Berrymore yang berlangsung dari New York adalah asli dan jauh dari palsu. Editor dan penerbit tidak secara langsung menjawab klaim wawancara telah dibuat tetapi mengatakan semua materi yang dikirim dalam bahasa asing diterjemahkan ke dalam bahasa Arab dan kemudian ke bahasa Inggris Adapun bagian dari artikel, yang mengatakan Barrymore “telah secara tidak sadar mencari perhatian dan perhatian dari seorang tokoh pria”, mereka mengatakan setiap pengantar seperti itu bisa menjadi “produk kreativitas editor pada kondisi yang tidak mengandung informasi yang bertentangan untuk kebenaran.” “Kami akan menyelidiki ini dengan memeriksa secara menyeluruh sumber-sumber penerjemah yang bergantung untuk menulis wawancara,” kata mereka.

Viral Video Anak Autis Masturbasi di Kereta, Ini Tanggapan Ahli!

Di zaman yang sudah serba mobile seperti sekarang ini, memviralkan sebuah kejadian dalam bentuk foto atau video bukanlah hal yang sulit untuk dilakukan. Hanya membutuhkan pasar yang tepat, maka sebuah kejadian dapat dengan mudah diviralkan. Sama seperti kejadian yang sempat viral pada 16 September kemarin, dimana seorang pengguna sosial media Facebook mengunggah video seorang anak autis di Singapura yang melakukan masturbasi di salah satu layanan SMRT. Baca Juga: Ternyata, Tidak Semua Anak Autis Benci Naik Kereta Bagi sebagian orang, mungkin video ini dianggap lucu – namun apa jadinya jika Anda merupakan salah satu anggota keluarga dari si objek tertawaan tersebut? Tentu sedih dan rasa kecewa terhadap perlakuan orang-orang yang memviralkan video tersebut merupakan hal wajar yang akan menimpa Anda, bukan? Dilansir KabarPenumpang.com dari laman todayonline.com (22/9/2018), salah seorang anggota keluarga dari anak autis tersebut pun angkat bicara soal dilema yang ia alami. “Anda baru saja menyakiti hati seorang Ibu … Masyarakat ini akan menjadi … tempat yang lebih baik jika kita bisa berhenti menilai dan mulai peduli, berhenti mencari untuk dipahami dan mulai mencoba untuk memahami,” tulis Bibi dari korban di laman Facebook. Menurutnya, pihak keluarga sangat terpukul atas video yang sudah dibagikan sebanyak 850 kali ini di media sosial Facebook – sebelum akhirnya pada 21 Septermber, video tersebut dihapus secara permanen. “Kami sangat sedih dan kecewa terhadap orang yang sudah mengabadikan dan menyebarkan tingkah dari keponakan kami ini,” tandas sang bibi yang ingin tetap anonim. Menurut salah satu konsultan kesehatan dari Autism Resource Center, Dr Lam Chee Meng, ada hal yang lebih baik untuk dilakukan jika bertemu dengan penyandang autis semacam ini – terlebih jika penyandang autis ini melakukan tindakan yang ‘cukup unik’. “Yang terbaik adalah melaporkan kepada staf transportasi umum, terutama jika Anda tidak yakin apakah orang itu memiliki kebutuhan khusus,” katanya. “Jika ada seseorang yang merekam kasus seperti ini, seharusnya rekaman tersebut bukan untuk disebarluaskan di media sosial, melainkan untuk diserahkan ke petugas penjaga agar mereka (petugas penjaga) bisa mendampinginya hingga akhir perjalanan,” tandas Dr Lam. Selain itu, edukasi seputar urusan seksual juga harus sedini mungkin diberikan kepada anak-anak – terutama kepada anak penyandang autis seperti dalam kasus ini. Baca Juga: Bawa Anak Autis Dalam Penerbangan? Ini Dia Tipsnya! “Tujuannya adalah untuk mengajari mereka untuk mengambil tanggung jawab pribadi terhadap kesehatan dan kesejahteraan mereka, dan bagian dari pelatihan mengajarkan mereka perbedaan antara perilaku yang boleh dilakukan di publik dan mana yang tidak,” Sebelumnya, telah beredar video di media sosial Facebook yang menunjukkan seorang pemuda berusia sekitar 20 tahunan tengah masturbasi di kereta MRT sambil memandangi seorang wanita yang berada di depannya.  

Jaringan Kereta Api Jepang; Modern Tapi Sistem Tiketnya Ribet!

Tidak ada yang bisa memungkiri bahwa Jepang merupakan negara dengan jaringan perkeretaapian terbaik di dunia. Selain kehadiran si kereta peluru Shinkansen yang mendunia, kereta api di Negeri Sakura ini juga terkenal akan ketepatan waktunya yang sangat akurat. Sampai-sampai, jaringan kereta api di Jepang sudah dianggap seperti tulang punggung di sektor transportasi. Tapi tahukah Anda bahwa ternyata Jepang memiliki sistem tiket kereta yang sangat-sangat rumit? Baca Juga: Istilah ‘Chikan’ Masuk Kamus Internasional Berkat Tingginya Angka Pelecehan Seksual di Kereta Jepang Ya, banyaknya operator yang berkecimpung di dalamnya membuat Anda harus ‘mempelajari’ terlebih dahulu rute yang sekiranya hendak Anda lalui. Pada dasarnya seperti ini, masing-masing operator kereta di Jepang memiliki dua komponen tarif, yaitu tarif dasar dan surcharge. Dikutip KabarPenumpang.com dari laman kaorinusantara.or.id, tarif dasar sendiri merupakan bea yang harus kita bayar sebelum menggunakan jasa layanan kereta apapun di Jepang – mulai dari komuter, kereta jarak jauh, hingga Shinkansen. Ambil contoh Tokyo Metro yang punya tarif dasar senilai 170 yen atau yang kurang lebih setara dengan Rp23.000 untuk 1 sampai 6km pertama. Masing-masing operator punya perhitungan tarif dasar yang berbeda-beda dan biaya progresifnya pun tidak sama. Lalu komponen kedua yang harus dibayar oleh penumpang adalah surcharge atau biaya tambahan. Namun bea ini hanya terdapat di kereta-kereta dengan kelas tinggi (ekspres) dan tidak banyak berhenti seperti kereta komuter. Nah, lagi-lagi tiap operator punya besaran surcharge yang berbeda-beda. Dari sini, tarif kembali di pecah – ada tiket bernomor, tiket tanpa nomor alias berdiri, dan tiket green car atau yang akrab disebut kelas bisnis. Berbeda dengan di Indonesia, di Shinkansen Jepang hampir tidak ada bedanya antara tiket bernomor dan tiket tidka bernomor. Jika Anda melihat ada bangku kosong sedangkan Anda memegang tiket tanpa nomor, Anda diperkenankan duduk. Semisal penuh, Anda dipersilakan untuk berdiri di bordes – satu hal yang sudah hilang dari budaya kereta api Indonesia. Baca Juga: Bukan Toko Serba Ada, Tapi Stasiun di Jepang ini Memenuhi Semua Kebutuhan Anda! Melihat penjelasan di atas, Anda jangan langsung panik dan akhirnya mengurungkan niat untuk menggunakan kereta api selama di Jepang. Bagi Anda yang pertama kali ke Jepang dan ingin menjajal si ular besi khas Negeri Para Samurai ini, ada baiknya Anda mengunduh aplikasi Navitime di platform Android dan iOS. Cara kerjanya cukup sederhana, cukup masukan destinasi awal dan akhir, lalu semua informasi terkait perjalanan tersebut akan tersaji untuk Anda – lengkap dengan besaran harga yang harus Anda bayarkan. Khusus bagi para Gaijin (pelancong), fitur dalam bahasa Inggris juga tersedia di dalam aplikasi ini.

Tiga Kali Dibatalkan MA, Kemenhub Lakukan Studi Banding untuk Revisi Aturan Taksi Online

Tiga kali sudah aturan taksi online dibatalkan oleh pihak Mahkamah Agung (MA). Ini lantaran peraturan yang diserahkan, belakangan mendapatkan respon negatif dan berbagai pihak termasuk dengan pengemudi taksi online. Sehingga pemerintah saat ini melakukan pengkajian soal taksi online yang baru agar tidak lagi dibatalkan oleh MA. Baca juga: Ruas Ganjil Genap Bakal Diperluas di Jabodetabek, Taksi Online Bisa Dapat Pengecualian, Asalkan… Dilansir KabarPenumpang.com dari laman detik.com (5/10/2018), menurut Direktur Jenderal Perhubungan Darat Kementerian Perhubungan Budi Setiyadi, pada dasarnya aturan baru harus dikeluarkan dalam tenggat waktu tiga bulan setelah putusan MA. Sebab, bila lebih dari waktu yang ditentukan maka aturan tersebut tidak akan berlaku. Sedangkan Kepala Sub Direktorat Angkutan Orang, Direktorat Jenderal Perhubungan Darat Kementerian Perhubungan, Syafrin Liputo mengatakan putusan MA keluar pada 20 September dan tenggat waktu yang ditetapkan adalah 21 Desember 2018. Sehingga aturan tersebut saat ini sedang diracik oleh Kementerian Perhubungan dan rencananya akan kembali didiskusikan dengan perwakilan pengemudi taksi online. Setelah itu, pada Desember awal atau pertengahan aturan tersebut bisa diselelsaikan agar diundangkan dan disosialisasikan. “Kita targetkan kemarin, jadi pada awal Desember atau paling lambat pertengahan Desember itu sudah ditetapkan dan diundangkan sehingga batas waktu 20 Desember tidak terlewati,” ujar Syafrin. Bahkan untuk membuat peraturan baru Kemenhub melakukan studi banding ke beberapa negara lain yang juga memiliki taksi online. Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi mengatakan, adanya studi banding untuk melihat implementasi taksi online di beberapa negara seperti Singapura dan Korea Selatan. “Pada dasarnya di Singapura itu segala persyaratannya lebih ketat ya. Dia harus tunduk pada peraturan dalam pemerintahannya. Dia harus punya lisensi, harus di KIR jumlahnya tertentu. Umur kendaraan ditertibkan, kalau Singapura itu luar biasa ketat. Sehingga membuat konsumen itu diuntungkan,” ujar Budi Karya. Dia menambahkan, aturan dan sistem taksi online di Korea Selatan tak kalah ketatnya. Sebab aturan dan sistem taksi online Korea Selatan dan Singapura hampir sama. Korea Selatan saat ini memiliki perusahaan startup yang mengelola taksi taksi online yang diambil pemerintah sehingga ada persaingan secara sehat baik swasta maupun pemerintah Korea Selatan. “Jadi kalau di Korea itu ada satu aplikator yang cukup legitimate akhirnya diakuisisi oleh pemerintah. Nah jadi saya pikir bagus untuk persaingan antara Grab nah di sini kan di dalam negeri Gojek dan Grab sudah bersaing,” jelas Budi Karya. Budi Karya menjelaskan, setelah melihat kondisi di beberapa negara seperti Singapura, Korea Selatan, pihaknya menyimpulkan harus segera memberikan peraturan untuk memayungi dan mengatur taksi online. “Kalau Korea itu lebih dulu ya dan dia memberanikan diri untuk meng-hire satu sisi itu yang di-endorse oleh pemerintah. Sehingga ada Grab dan transportasi punya pemerintah itu ada satu kompetisi. Sebenarnya di sini nggak perlu kompetisi karena ini kan mereka dua kan,” kata dia. Kemudian ia melanjutkan, di Singapura para operator begitu taat pada peraturan yang dibuat pemerintah. Termasuk untuk standar keamanan dan kualitas kendaraan yang tinggi. Bahkan dia menambahkan, Korea hampir sama dengan Singapura dimana pada dasarnya taksi online harus mengikuti aturan bisnis dan safety diperlukan. Baca juga: Optimalkan Keselamatan di Jalan Raya, Uji KIR Wajib Bagi Kendaraan Umum Budi Karya lebih lanjut menjelaskan mengenai kualitas dari kendaraan yang diatur di Negara Korea Selatan dan Singapura. Meski taksi online di beberapa negara tersebut menggunakan mobil pribadi dan ikut dalam uji kir. Namun, ketika peraturan mengenai uji kir diajukan ke MA ada beberapa pihak yang kurang setuju. “Nah ini kan, mau berusaha tapi mengklaim mobilnya punya sendiri, Ini nggak boleh. Sekarang yang bicara adalah satu hukum pasar, silahkan dia nggak pernah KIR, silahkan dia nggak perah cuci mobil, nanti masyarakat yang menilai bahwa mereka itu nggak layak,” tuturnya.