Inilah Sejumlah Fakta Unik dari Flag Carrier Arab Saudi, Saudi Arabian Airlines!
Setelah membedah soal fakta-fakta unik yang terselip di dalam maskapai asal Negeri Sakura, Japan Airlines, kali ini saatnya kami untuk membahas tentang maskapai bermarkas di Jeddah, Saudi Arabian Airlines atau yang kerap disingkat Saudia. Maskapai yang tergabung di dalam aliansi penerbangan SkyTeam ini didirikan pada September 1945. Siapa sangka maskapai ini awalnya dioperasikan oleh operator asal Amerika bernama Trans World Airlines.
Baca Juga: Japan Airlines, Flag Carrier Jepang yang Jadi Pengguna Terbanyak Boeing 747 di Asia
Kira-kira, fakta unik apalagi yang tersaji dari maskapai yang memegang peranan penting terhadap kondisi perekonomian di Arab Saudi ini ya? Berikut KabarPenumpang.com suguhkan beberapa fakta unik lainnya dari maskapai Saudia dilansir dari laman lifeinsaudiarabia.net.
Asal Muasal Saudia
Besarnya nama Saudia saat ini tidak lepas dari peranan Amerika Serikat. Kembali ke tahun 1945, Presiden Amerika ke-32, Franklin Delano Roosevelt memberikan hadiah berupa pesawat McDonnell Douglas DC-3 kepada Raja Arab Saudi, King Abdul Aziz. Pesawat inilah yang menjadi cikal bakal dari lahirnya maskapai bernama Saudia.
‘Markas’ yang Berubah Jadi Pusat Perbelanjaan
Pada awal berdiri, Saudia menetapkan Bandara Kandara di Jeddah sebagai main base mereka. Namun seiring berjalannya waktu, bandara tersebut mulai tergerus perkembangan kota dan beralih fungsi menjadi pusat perbelanjaan dan wilayah pemukiman penduduk. Kini, Saudia memiliki tig hub sekaligus – King Abdulaziz International Airport, King Khalid International Airport, dan King Fahd International Airport.
Menjalankan Penerbangan Charter Sendiri
Berbeda dengan kebanyakan maskapai raksasa lain yang memilih untuk tidak mengoperasikan penerbangan charter sendiri, Saudia malah menempuh jalannya sendiri. Diketahui maskapai berslogan “Welcome to Yout World!” ini mengoperasikan penerbangan charternya sendiri dengan menggunakan armada Dassault Falcon 7X.
Pelayanan Katering yang Luar Biasa
Melalui Saudi Airlines Catering, siapa sangka maskapai ini memproduksi sekira 102.500 meals setiap harinya! Angka tersebut terus dipertahankan setiap harinya, hingga September 2015, Saudi Airlines Catering mampu menyanggupi produksi makanan untuk total 299 penerbangan yang mereka operasikan. Keren!
Baca Juga: 5 Fakta Unik Tentang Qatar Airways yang Mungkin Baru Anda Tahu!
Saudia dan Flyadeal
Jika Garuda Indonesia punya Citilink sebagai maskapai LCCnya, maka Saudia punya Flyadeal yang statusnya hampir mirip seperti Citilink. Flyadeal sendiri didirikan pada April 2016 dan memulai operasi perdananya pada 23 September 2017.
(lagi) Tiga Rangkaian Kereta MRT Jakarta Tiba di Pelabuhan Tanjung Priok
Akan menjadi wajah baru di transportasi massal ibukota, Mass Rapid Transit (MRT) Jakarta sangat ditunggu kehadirannya oleh masyarakat. Saat ini tiga rangkaiannya yang didatangkan dari Jepang sudah tiba di Pelabuhan Tanjung Priok pada Selasa (16/10/2018). Ketiganya akan mulai dibawa ke Depo Lebak Bulus, Jakarta Selatan secara bertahap.
Baca juga: Sempat Galau, Inilah Tarif Terjauh yang Diusulkan PT MRT Jakarta
Tiga rangkaian kereta ini adalah rangkaian kereta nomor K1 1 18 25–K1 1 18 30, nomor K1 1 18 31–K1 1 18 36, dan nomor K1 1 18 61–K1 1 18 66. Kehadiran tiga rangkaian kereta tersebut melengkapi enam rangkaian kereta lainnya dimana salah satunya menjadi sasaran vandalisme orang tak bertanggung jawab.
Corporate Secretary PT MRT Jakarta Tubagus Hikmatullah mengatakan, per hari ini terdapat sembulan rangkaian kereta MRT yang telah tiba di Jakarta. Tubagus menambahkan, kereta-kereta ini akan diangkut menuju Depo Lebak Bulus secara bertahap mulai Rabu (17/10/2018) hingga Selasa (23/10/2018) mendatang.
“Proses pengangkutan kereta akan dilakukan pada malam hari, terhitung hari ini, dengan enam kereta per pengiriman. Pada Selasa pekan depan diharapkan seluruh tiga rangkaian kereta tersebut tersedia di Depo Lebak Bulus dan siap menjalani rangkaian tes,” ujar Tubagus yang dikutip KabarPenumpang.com dari keterangan tertulis, Rabu (17/10/2018).
Hingga saat ini sudah ada sembilan rangkaian kereta yang tiba di Jakarta. Diharapkan pada Desember 2018 mendatang ke-16 rangkaian kereta sudah tiba dan tersedia di Depo Lebak Bulus. Tak hanya itu, nantinya setelah beroperasi, pihak MRT Jakarta juga berharap transportasi massal terbaru ini bisa memberikan manfaat seperti perbaikan kualitas udara, mengatasi kemacetan di ibukota hingga mengubah pola gaya hidup masyarakat dari kendaraan pribadi ke transportasi massal.
Baca juga: Terduga Pelaku Vandalisme MRT Jakarta Warga Negara Asing, Polisi Minta Bantuan Interpol
Kereta MRT Jakarta sendiri dalam satu rangkaiannya akan terdiri dari enam gerbong dan satu rangkaian akan bisa mengangkut sekitar 1950 orang dengan jarak antara rangkaian lima menit dalam jam sibuk dan sepuluh menit saat tidak sibuk.
Sebelumnya diketahui, salah satu kereta MRT Jakarta yang ada di Depo Lebak Bulus terkena vandalisme. Pelakunya diduga warga negara asing dan hingga saat ini pihak kepolisian tengah memburunya serta meminta bantuan interpol.
Aeroflot – Ternyata Jadi Maskapai dengan Jumlah Armada Terbesar di Dunia
Tahukah Anda maskapai mana yang pertama kali melakoni penerbangan internasional dengan menggunakan pesawat jet pertama di dunia? Ya, Aeroflot menggunakan Tupolev Tu-104 untuk melakoni penerbangan internasional dengan menggunakan pesawat jet pada 15 September 1956 dari Moskow menuju Irkutsk. Kala itu, Aeroflot sempat singgah di Omsk sebelum melanjutkan perjalanannya.
Baca Juga: Bermula Dari DC-9, Inilah Rentetan Fakta Unik Seputar Turkish Airlines
Wah, kira-kira ada fakta unik apalagi ya dari salah satu anggota aliansi penerbangan SkyTeam ini? Fasten your seatbelt, berikut KabarPenumpang.com rangkum fakta-fakta unik dari maskapai Aeroflot, dikutip dari laman gotravelyourway.com.
Maskapai Terbesar di Dunia
Terhitung pada Maret 2017, total 200 armada berlivery Aeroflot mengantarkan maskapai asal Rusia ini menjadi yang terbesar di dunia, mengalahkan American Airlines. Dikutip dari laman sumber lain, saat ini Aeroflot mengoperasikan sekitar 248 armada yang melayani 146 destinasi domestik maupun internasional.
Pernah Mengoperasikan Concorde
Ya, maskapai ini pernah memasukkan Tupolev Tu-144 ke dalam armadanya pada 1977 dengan rute penerbangan Moskow – Almaty, kota terbesar di Kazakhstan. Namun seiring dengan banyaknya insiden yang menimpa armada supersonik ini, akhirnya Aeroflot menghentikan pengoperasian dari TU-144 dan mengubahnya jadi pesawat kargo hingga tahun 1983.
Mesin Perang Sesungguhnya
Selama masa Perang Dunia ke-2 dan invasi Jerman pada tahun 1941 hingga 1945, Aeroflot mengantongi kurang lebih sekitar 1,6 juta misi kenegaraan dalam situasi darurat tersebut. Salah satu yang paling dikenang adalah ketika maskapai ini mengangkut sekira 1,5 juta tentara dan mendistribusikan sekitar 122,027 ton kargo selama masa-masa tersebut.
Baca Juga: Cathay Pacific Hong Kong, Ternyata Didirikan oleh Orang Australia dan Amerika
Mengoperasikan Armada Muda
Sebagai salah satu raksasa di sektor aviasi global, nama Aeroflot selalu muncul paling awal ketika ditanya maskapai mana yang mengoperasikan pesawat dengan rataan umur paling muda. Menurut laman sumber, rata-rata umur dari pesawat yang dioperasikan oleh maskapai Rusia ini adalah 4,1 tahun. Sebagai pembanding, maskapai raksasa asal Negeri Bavaria Lufthansa memiliki rataan umur armada 9,9 tahun dan American Airlines dengan rataan umur pesawat 10,4 tahun.
Anggota Parlemen Malaysia Canangkan Ganti Bus Pengumpan dengan Ride Hailing
Di Malaysia, munculnya isu tentang anggota Parlemen Tony Pua yang hendak menghapuskan layanan feeder bus atau bus pengumpan menuai beragam tanggapan dari masyarakat – ada yang setuju, namun tidak sedikit pula yang mengecam ide tersebut. Ide ini tengah dipertimbangkan oleh sejumlah pihak mengingat kemajuan teknologi di sektor transportasi – seperti hanya Grab, dinilai mampu untuk menangkut para komuter.
Baca Juga: Sering Tertukar, Ini Dia Perbedaan Antara Ride-Sharing dan Ride-Hailing
“Sekarang kami memiliki usaha baru, teknologi digital inovatif baru seperti Grab. Mengapa Anda harus menyediakan bus pengumpan jika Anda dapat bekerja sama dengan Grab?” tutur Tony Pua dikutip KabarPenumpang.com dari laman malaysiakini.com (16/10/2018).
“Mereka (Grab) benar-benar dapat melayani penumpang dengan door-to-door service yang harganya terbilang cukup murah ketimbang menggunakan bus pengumpan,” tandasnya.
Namun sayangnya ide tersebut dinilai oleh sejumlah golongan kurang tepat karena Tony Pua terkesan tidak memperhatikan after effect dari perombakan struktur transportasi ini. Selain itu, ide yang ditelurkan oleh Tony Pua ini justru bertolak belakang dengan jalan yang ditempuh oleh negara-negara lain, dimana mereka tengah berlomba-lomba untuk menghadirkan moda yang efisien dalam menurunkan volume kendaraan di jalanan.
Ambil contoh seperti ini, dibutuhkan 10 mobil jenis sedan untuk mengangkut misalnya 50 orang – sedangkan di sisi lain, hanya dibutuhkan satu bus pengumpan untuk mengangkut jumlah orang yang sama. Dari contoh sederhana ini saja, sudah terlihat bukan mana moda yang lebih efisien?
Sekarang seperti ini, semisal benar layanan bus pengumpan tadi dihapuskan, maka teror kemacetan siap mengintai di masa yang akan datang. Ini juga berimplikasi pada jumlah polusi udara yang semakin parah nantinya.
Baca Juga: Seberapa Perlu Layanan Ride-Sharing Merata di Berbagai Daerah?
Seperti yang kita ketahui bersama, layanan ride-hailing Grab dapat diakses melalui smartphone. Kasus lain muncul manakala kita menyadari adanya ‘diferensiasi’ ekonomi di masyarkat – tidak semua orang punya smartphone. Tentu saja dengan wacana penghapusan layanan bus pengumpan akan semakin menyulitkan masyarakat kurang mampu.
Jadi pada intinya adalah, masyarakat menolak ide Tony Pua yang menyebutkan akan mengganti layanan bus pengumpan dengan ride-hailing Grab.
Seperti di Indonesia, Proyek Kereta Cepat India Juga Tersandung Soal Pembebasan Lahan
Ternyata, tidak hanya proyek kereta peluru Indonesia saja yang ‘mandek’, India pun mengalami nasib yang hampir serupa. Kurang lebih satu tahun yang lalu, India secara resmi mulai menggarap kereta cepat yang menghubungkan Mumbai dengan pusat ekonomi di sana, Ahmedabad. Namun setahun berselang, kontraktor hanya mampu membebaskan lahan sekitar 0,9 hektar saja – dari 1.400 hektar lahan yang diperlukan. Inikah pertanda proyek kereta cepat India ini tidak akan berjalan mulus?
Baca Juga: Lintasi Hutan di Karawang, Pembebasan Lahan Kereta Cepat Jakarta-Bandung Optimis Tuntas Akhir Tahun
Sebagaimana yang dilansir KabarPenumpang.com dari laman bloomberg.com (17/10/2018), perkara pembebasan lahan juga mewarnai proyek pembangunan jaringan kereta cepat di India. Para petani yang lahannya digusur oleh kontraktor merasa tidak puas dengan kompensasi yang mereka dapatkan dan lebih memilih untuk enggan angkat kaki.
Ya, proyek kereta cepat ini akan jadi batu lompatan bagi Indian Railways, dimana operator kereta dan masyarakat India akan merasakan sebuah perubahan yang signifikan semasa 165 tahun Indian Railways berada di negara penghasil film Bollywood.
“Pembebasan lahan merupakan masalah yang sangat umum di India dan banyak proyek yang tertunda akibatnya,” ungkap Raghbendra Jha, seorang profesor ekonomi di Australian National University. “Saya telah melihat banyak contoh kasus seperti ini – yang berkaitan dengan pembebasan lahan,” tandasnya.
Jika ditelisik lebih dalam, semakin banyak protes yang berkembang di masyarakat, maka itu akan semakin mencoreng citra dari Perdana Menteri Narendra Modi,orang yang selama ini mengimplementasikan beragam proyek, khususnya di ruang lingkup kereta api.
Pada 22 November kemarin, sekelompok petani yang terdampak dari proyek ini mengajukan petisi ke Pengadilan Tinggi Gujarat. Mereka menuntut Pemerintah untuk mengambil sikap atas apa yang telah menimpanya. Selain itu, para petani ini juga mempertanyakan sikap Pemerintah yang seolah mengikhlaskan lahan pertanian di India untuk sebuah proyek yang dikerjakan oleh kemitraan publik dan swasta.
Baca Juga: Jalan di Tempat, Proyek Kereta Cepat Jakarta-Bandung (Masih) Terbelit Pembebasan Lahan
“Kami sudah berkomitmen untuk mengatasi masalah petani yang terkena dampak – akan kami pertimbangkan berbagai kemungkinan yang dapat ditempuh agar para petani mau membebaskan lahannya,” kata Dhananjay Kumar, juru bicara dari National High Speed Rail Corporation.
Jika sudah seperti ini, akankah National High Speed Rail Corporation bisa memenuhi target untuk mulai beroperasi pada Agustus 2022 mendatang?
Dari Mulai Petugas Sampai Porter di Stasiun Gandhi Nagar, Semuanya Adalah Wanita!
Kereta api di India memiliki stasiun dengan para petugasnya wanita baik itu penjaga loket, porter, kepala stasiun, masinis dan lainnya. Bahkan untuk memberikan kenyamanan dan keselamatan bagi para petugas, kereta India melengkapi stasiun dengan kamera pengawas dan pasukan polisi yang juga semuanya wanita.
Baca juga: Stasiun Gandhi Nagar Jaipur, Gunakan Seluruhnya Petugas Wanita!
KabarPenumpang.com merangkum dari devdiscourse.com (15/10/2018), seorang porter wanita bernama Chandra Kala melakukan tugasnya saat kereta datang untuk mencari penumpang yang membutuhkan bantuan mengangkut barang-barang mereka. Kala merupakan satu dari 40 wanita yang bekerja sebagi porter di Stasiun Gandhi Nagar.
“Sebelumnya saya dulu merasa sangat malu. Bagaimana harus berbicara dengan penumpang dan bagaimana saya bisa mengangkat koper? Semua terasa sangat aneh,” ujarnya.
Namun janda dua anak tersebut bekerja sebagai porter menggantikan suaminya yang telah meninggal dan mendapatkan penghasilan sekitar tiga ribu Rupee atau $40. Namun setelah melakukan pekerjaannya tersebut, Kala tak lagi malu, bahkan mulai menyukainya.
Sebab dirinya bekerja dimana stasiun tersebut memiliki petugas loket, kondektur, pejabat hingga petugas kebersihan yang semuanya wanita. Ini juga memberikan pandangan baru dan memberikan harapan sebuah negara dimana perlahan-lahan wanita mulai hilang dari tempat kerja.
Adanya inisiatif dari Stasiun Gandhi Nagar dengan memberdayakan perempuan sebagai tenaga kerjanya, membuat pejabat kereta api India Tarun Jain berencana meniru hal tersebut di stasiun lainnya. Jain mengatakan, setelah para wanita mengambil alih pekerjaan stasiun, Stasiun Nagar memiliki pendapatan yang cukup signifikan kenaikannya.
“Pendapatan telah meningkat secara substansial sejauh menyangkut pemeriksaan tiket. Mereka telah menangkap banyak orang tanpa tiket,” katanya.
Pada April lalu, petugas wanita menangkap 520 penumpang yang mencoba naik kereta tanpa tiket. Stasiun Nagar sendiri memperoleh pendapatan 133.595 Rupee atau setara sengan $1805 dari tiket yang dibeli penumpang-penumpang itu. Padahal tahun 2017 lalu, petugas pria menangkap 67 orang pada bulan yang sama dan hanya memperoleh penghasilan 11.645 Rupee.
“Perempuan menemukan kepercayaan diri untuk memasuki sektor yang didominasi laki-laki secara tradisional. Ini juga mengirimkan pesan positif kepada generasi muda ketika mereka mempertimbangkan pilihan karir,” ujar Aya Matsuura seorang spesialis gender di Organisasi Perburuhan Internasional Amerika Serikat.
Stasiun Gandhi Nagar yang berada ibu kota negara bagian Jaipur, setiap harinya dilewati 25 kereta dengan penumpang sebanyak tujuh ribu. Kebanyakan penumpang ini dari daerah pedesaan dan suku yang konservatif. Bahkan beberapa orang berpikir saat wanita mengambil alih stasiun memandang mereka dengan meminta ganti petugas pria seperti semula.
“Beberapa orang bereaksi dengan sangat marah. Kami tidak tahu bagaimana pekerjaan apa pun akan dilakukan di sini,” ujar Supervisor Reservasi, Neelam Sharma.
Namun, setelah beberapa bulan berlalu, Sharma mengatakan, para penumpang lain akhirnya senang dengan peningkatan di stasiun. Apalagi layanan lebih cepat, antrean sedikit, informasi dan kebersihan lebih baik.
“Sekarang orang-orang yang sama datang kepada kami dan sangat menghargai kami dan mengatakan hal-hal seperti, ‘Nyonya, kami benar-benar suka datang ke sini, pekerjaan kami diselesaikan lebih cepat’, dan, ‘Para pria tidak menjelaskan hal-hal kepada kami dengan benar.’ Penumpang cukup senang sekarang,” ujar Sharma.
Satya Narayan, pria berusia 61 tahun yang sudah biasa di stasiun sejak dia kecil, setuju. “Ada perbedaan malam dan siang di sini. Ketika orang-orang itu bekerja di sini, dulu ada banyak hooliganisme. Tapi sekarang para wanita mengurus segalanya.”
Anggota tim memuji keberhasilan ini dengan motivasi mereka untuk membuktikan diri mereka dalam apa yang biasanya dianggap sebagai benteng laki-laki.
“(Kami) memberikan upaya 100 persen kami. Duduk di belakang panel kontrol dengan garis-garis dan tombol berkode warna-kode yang mengirim sinyal ke kereta yang masuk untuk mencegah kecelakaan. Tapi itu tidak mudah sampai ke titik ini,” kata master stasiun Angel Stella.
Para wanita, yang sebagian besar dipindahkan dari stasiun-stasiun di kota-kota kecil, harus mengatasi keraguan dan ketakutan mereka sendiri menjalankan sebuah stasiun sendiri. Mereka harus bekerja dengan nyaman shift malam dan bekerja di posisi tanggung jawab yang secara tradisional dipegang oleh pria.
Stella menambahkan, itu juga tantangan bagi mereka yang tinggal bersama anak-anak atau mertua mereka untuk menyeimbangkan antara pekerjaan dan keluarga. Untuk memastikan kenyamanan dan keselamatan mereka, pihak berwenang melengkapi stasiun dengan kamera CCTV, mengerahkan pasukan polisi semua-wanita, memasang mesin penjual otomatis pembalut, dan membuat tempat penitipan anak sementara.
Baca juga: Indian Railways Canagkan Pembangunan Koridor Atas Kereta Api di Kerala
Karyawan wanita mengatakan mereka berharap dapat menginspirasi gadis-gadis muda yang melewati stasiun, dan memicu perubahan di antara orang-orang yang berpikir tempat wanita ada di rumah.
“Semua wanita harus maju dan berdiri bahu-membahu dengan pria, terutama dalam pekerjaan yang biasanya dilihat sebagai milik mereka,” kata Usha Mathur, atasan kepala pengawas dan ibu dua anak.
Toyota Motor Rengkuh 2 Visi Futuristik dalam Satu Proyek di Utara Tokyo
Toyota Motor kini mulai ikutan terjun ke dunia kendaraan otonom, dimana mereka diplot untuk meluncurkan proyek uji coba sistem transportasi yang berfokus pada kendaraan otonom. Tidak berjalan sendiri, perusahaan asal Jepang ini turut bekerja sama dengan Universitas Tsukuba dan pemerintah setempat. Diketahui, Toyota Motor menjadikan daerah di sebelah utara Tokyo sebagai medan uji coba kendaraan tersebut.
Baca Juga: Bus Otonom Apolong Baidu Level 4 Meluncur Secara Global di 2019
Dikutip KabarPenumpang.com dari laman asia.nikkei.com (8/10/2018), di bawah sistem otonom yang dikembangkan oleh Toyota, sebuah kendaraan single-seat akan menjemput penumpang dari rumah mereka dan mengantarkannya menuju halte bus terdekat. Di sana, penumpang akan ‘ditransfer’ menuju bus otonom yang siap membawa mereka berkelana menuju kota.
Agak sedikit unik memang konsep dari proyek yang tengah dijalani oleh Toyota Motor ini, namun adapun salah satu tujuan dari pengembangan proyek ini adalah untuk membantu mobilitas dari para lansia yang terisolasi dari dunia luar. Ya, jumlah lansia yang terisolasi ini semakin meningkat di Negeri Sakura pasca pemangkasan sejumlah rute moda transportasi di beberapa daerah.
Nantinya bus-bus otonom ini akan beroperasi di dalam kota, dengan rute yang paling jauh adalah menuju Stasiun Tokyo dan Bandara Narita. Sebenarnya, prioritas awal dari keseluruhan proyek ini adalah untuk menggunakan Artificial Intelligent (kecerdasan buatan) untuk memprediksi kemacetan lalu lintas di area tertentu.
Ibarat pepatah “Sekali merengkuh dayung, dua tiga puau terlampaui”, Toyota nampaknya akan menuai pujian di akhir periode uji coba. Pasalnya, selain digadang-gadang untuk mengentaskan masalah lansia yang terisolasi tersebut, Toyota juga sambil mengembangkan teknologi kecerdasan buatan untuk bus-bus otonomnya dalam menentukan rute tercepat dari daerah yang kerap dilanda kemacetan.
‘Eksperimen’ ini sendiri telah ditetapkan untuk diluncurkan pada fiskal 2019 dan berakhir pada fiskal 2022. Dalam rentang waktu tersebut, pihak Toyota dan semua otoritas terkait akan menguji kelayakan teknologi yang relevan dengan lalu lintas reguler.
Baca Juga: Coba Peruntungan, Sony Ciptakan Mobil Otonom Futuristik!
Tidak melulu soal modanya saja, proyek ini juga akan melibatkan produsen bahan bakar hidrogen dari sumber energi terbarukan untuk bus. Toyota juga akan memperhatikan soal pembangunan pipa untuk stasiun bahan bakar yang tahan bencana – sebagaimana yang kita ketahui bersama, Jepang merupakan negara yang memiliki frekuensi gempa paling tinggi di dunia.
Enggan tertinggal, beberapa perusahaan yang juga terkait dengan tema dari proyek ini mulai membuka obrolan – seperti NEC (perusahaan IT asal Jepang), dan Mitsubishi Electric.
Hantam Panel Penutup Eskalator, Penumpang SMRT Dilarikan ke Rumah Sakit. Lukanya Bikin Merinding!
Seorang penumpang SMRT terpaksa dilarikan ke rumah sakit karena luka yang cukup parah pasca menghantam sebuah panel penutup sisi eskalator di Stasiun MRT City Hall pada Jumat (14/9/2018). Diketahui, korban yang berjenis kelamin wanita bernama Ong Sook Ling mengalami patah tulang kering sebelah kiri pasca kejadian ini. Kala itu, Ny. Ong tengah dalam perjalanan kembali menuju ke kantor bersama suaminya, Kevin Ong setelah makan siang.
Baca Juga: Gas Freon di MRT Singapura Bocor, Gangguan Kesehatan Mengintai Penumpang
Kejadian ini bermula ketika sepasang suami istri ini tengah menuruni eskalator di Stasiun MRT City Hall sekitar pukul 13.00 waktu setempat. Ketika tengah menuruni tangga berjalan tersebut, Kevin mendengar suara seperti dua besi saling beradu yang dibarengi dengan suara teriakan dari sang istri.
“Saya mendengar suara melengking logam dan hal berikutnya yang saya tahu, kaki istri saya tersangkut di sebuah panel, dan eskalator terus bergerak,” ujar Kevin, dikutip KabarPenumpang.com dari laman todayonline.com (16/9/2018). Ketika kejadian, Kevin berada tepat di belakang sang istri.
Ujung panel penutup eskalator yang tajam mematahkan tulang kering Ny. Ong. “Ketika melihat luka yang dialami oleh istri saya, saya melihat sebuah luka menganga yang cukup besar dengan tulang yang patah dan darah yang mengalir. Saya berusaha untuk menenangkan istri saya sembari ia berusah untuk menahan aliran darah untuk mengurangi darah yang keluar dari lukanya itu,” jelas Kevin.
Setibanya di ujung eskalator, semua orang mengerubungi Ny. Ong dan beruntung, salah satu dari merek ada yang mengaku sebagai seorang suster. Tanpa berpikir panjang, wanita yang mengaku sebagai suster ini langsung meminta petugas SMRT untuk membawakannya Kotak P3K dan ia mulai melakukan pertolongan pertama pada Ny. Ong.
“Kami merasa beruntung ada seorang suster di antara orang yang berkerumun itu. Saya tidak sempat bertanya siapa namanya, padahal saya sangat ingin berterima kasih kepadanya,” jelas Kevin.
Setelah mendapat pertolongan pertama dari suster tersebut, Ny. Ong langsung dilarikan ke Mount Elizabeth Novena Hospital guna mendapatkan tindakan lebih lanjut. Menurut dokter yang menanganinya, ukuran luka Ny. Ong kurang lebih sekitar 8cm, dengan kedalaman 3 hingga 4cm.
Menanggapi insiden ini, pihak SMRT melalui Vice-President of Corporate Communications Margaret Teo membenarkan dan meminta maaf atas kejadian tersebut.
Baca Juga: Dua Pria Terlibat Duel Sengit di Gerbong SMRT, Kepolisian Masih Selidiki Penyebabnya
“Tim kami telah menghubungi pihak komuter melalui anggota keluarganya untuk memberikan bantuan sebaik yang kami bisa. Kami sangat menyesal atas kecelakaan itu dan berharap agar korban dapat lekas pulih,” ujar Margaret.
Ia menambahkan, bahwa korban dari panel penutup sisi eskalator ini tidah hanya Ny. Ong saja, melainkan ada satu korban lagi yang enggan dibeberkan detail luka yang dialaminya.
Strator Ride, Otoped Listrik Beroda Besar Siap Masuki Moda Alternatif Perkotaan
Selain sepeda motor, moda transportasi aleternatif yang kini tengah digandrungi oleh banyak orang adalah skuter listrik dengan roda yang besar – tidak berlaku di Indonesia yang tetap ‘mengagungkan’ sepeda motor. Di California, Amerika, seorang desainer produk sekaligus pemain skateboard Nathan Allen mulai mencoba untuk terjun ke bisnis moda transportasi alternatif yang kini tengah naik daun – dan sudah pasti ramah lingkungan.
Baca Juga: Renault EZ-Pro, Solusi Moda Pengantar Paket dari Masa Depan
Sebagaimana yang dikutip KabarPenumpang.com dari laman newatlas.com (16/10/2018), adalah Strator Ride, moda alternatif yang dirancang oleh Nathan Allen memiliki bentuk seperti otoped yang memiliki ban besar dan stang yang bentuknya mirip seperti huruf L terbalik. Nathan menggunakan kerangka tubular baja chromoly berlapis-lapis sebagai bahan utama dari Strator Ride.
Moda ini sendiri menggunakan rear motor hub 1.000watt yang dimana mampu membuat Strator Ride melaju hingga kecepatan 40 km per jam. Untuk masalah daya, Nathan menawarkan dua pilihan baterai yang dapat dipilih oleh calon pembeli – 10-Ah atau 20-Ah 48v. Makin tinggi kapasitas baterai, maka semakin jauh pula jarak tempuh dari Strator Ride (10-Ah 48v mampu menempuh jarak hingga 16km, sedangkan 20-Ah 48v mampu menempuh jarak hingga 32 km).
Moda seberat kurang lebih 41kg ini mampu menangkut penumpang dan barang bawaannya dengan berat hingga 118kg. Untuk sistem pengereman, Straror Ride menggunakan rem cakram hidrolik yang terletak pada roda depan. Fitur lain yang juga tersemat di stang Strator Ride ini selain rem tadi adalah indikator baterai, klakson, dan throttle arming.
Dari sekian banyak keuntungan dari menggunakan moda ini, satu hal yang tidak ditemukan adalah lampu untuk berjalan di malam hari. Nampaknya Anda harus melengkapi kekurangan dari moda ini dengan cara membeli lampu portable berdaya baterai untuk menjamin keselamatan Anda ketika berkendara – terutama ketika malam hari. Kendati pihak Strator menawarkan fitur lampu LED, namun itu ditawarkan secara terpisah, dimana Anda harus merogoh kocek lebih dalam untuk mendapatkan salah satu instrumen utama dalam sebuah moda transportasi.
Baca Juga: Mylo Electric Scooter, Moda Lipat Futuristik Mahakarya PIM Bicycles
Bagi Anda yang tertarik dengan moda ini, kiranya Anda harus bersabar karena perusahaan masih mengupayakan Strator Ride untuk masuk ke dalam salah satu subyek kampanye Kickstarter. Untuk rincian harga dan lain-lain, perusahaan masih enggan memberi bocoran lebih lanjut.
