Garuda Indonesia Group Hadirkan WiFi Gratis Dalam Penerbangan Domestik

Siapa yang tak suka menggunakan internet apalagi bila mendapatkan sambungan WiFi gratis. Biasanya ini direbutkan oleh generasi milenial yang sedikit-sedikit update di media sosialnya untuk pamer tempat yang mereka kunjungi atau hanya sekedar membagikan foto makanan yang mereka makan. Nah, sebagai Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Garuda Indonesia Group juga menghadirkan layanan WiFi gratis ini kepada para pelanggan di dalam kabin pesawat.

Baca juga: ‘Cicil’ Pemasangan WiFi Onboard di Penerbangan Domestik, Qantas Targetkan Rampung di Akhir 2018

Fasilitas free inlight connectivity tersebut akan bisa dinikmati para penumpang Garuda Indonesia Group dalam penerbangan domestik mereka pada 2019 mendatang. Free inflight connectivity hadir dengan adanya kerja sama antara Garuda indonesia Group dengan PT Mahata Aero Teknologi. Sehingga nantinya pengguna maskapai Citilink ataupun Garuda Indonesia bisa menikmati layanan akses internet secara cuma-cuma alias gratis.

Direktur Utama Citilink Juliandra Nurtjahjo mengatakan untuk fasilitas WiFi ini, Garuda Indonesia Group akan melengkapi armadanya dengan layanan GX Aviation Sistem. Ini adalah produk milik Inmarsat Aviation yang memungkinkan penumpang untuk menjelajah internet dan berselancar di media sosial selama penerbangan. GX Aviation sendiri, dikatakan Juliandra adalah layanan konektivitas nirkabel global berkecepatan tinggi pertama dan satu-satunya di dunia yang dikirimkan melalui jaringan High-Throughput Satellites (HTS).

“Layanan konektivitas ini sepenuhnya dimiliki dan dioperasikan oleh Inmarsat yang bekerja sama dengan Lufthansa Technik sebagai penyedia perangkat keras, teknik, desain dan sertifikasi untuk proyek tersebut. Sedangkan Lufthansa System sebagai integrasi perangkat lunak,” ujar Juliandra yang ditemui di Kebon Sirih, Rabu (14/11/2018).

Juliandra menambahkan, layanan ini sejalan dengan komitmen Garuda Indonesia Group sebagai maskapai nasional yang terus berinovasi untuk memenuhi kebutuhan dan tuntutan penumpang di era digital.

“Pesaingan ketat dalam industri penerbangan saat ini kian menuntut kami untuk memiliki visi teknologi dan mengoptimalkan layanan yang modern dan mampu mempertahankan loyalitas pelanggan masa kini. Tidak hanya untuk memperkuat pasar yang sudah ada, tapi keberadaan inflight WiFi gratis ini juga untuk mengaktivasi pangsa pasar baru yang saat ini belum tersentuh misalnya para milenials yang sering bepergian,” tambah Juliandra.

Baca juga: AirAsia Hadirkan WiFi dalam Penerbangan Domestik dan Internasional

Tak hanya itu sebagai penyedia, Mahata melihat bahwa fasilitas penerbangan dalam negeri merupakan alat transportasi tercepat bagi penduduk yang tingga di berbagai pulau. Sehingga WiFi gratis ini akan menjadi awal baru untuk revolusi pengalaman penerbangan kedepannya.

“Mobile connectivity adalah hal vital untuk membuat setiap orang dapat bertukar informasi setiap waktu. Namun saat ini mobile Connectivity ini belum dapat dinikmati oleh banyak orang saat penerbangan. Ini adalah sebuah langkah besar yang dilakukan kami ersama dengan Citilink dan Garuda Indonesia,” jelas M Fitriansyah, Direktur Utama Mahata.

Setelah ISIS Tumbang, Kereta Api Baghdad – Falluja Kembali Mengular

Empat tahun lamanya kereta api dari Baghdad menuju Falluja vakum dan tak beroperasi akibat perang dengan ISIS. Namun, belum lama ini kereta di jalur sepanjang 50 km tersebut kembali beroperasi dan ratusan penumpang kini bisa kembali menunggangi kuda besi di kota tersebut.

Baca juga: Canangkan Pembangunan ‘Kereta Perdamaian,’ Israel Nantinya Akan Terhubung dengan Sejumlah Negara Teluk

Selama empat tahun masyarakat yang biasa menggunakan kereta mau tak mau harus menggunakan mobil dan bisa menghabiskan waktu yang lebih lama dalam perjalanannya. Mengularnya kembali kereta besi di jalur Baghdad-Falluja setelah memenangkan perang dan sudah dilakukan juga pengecekan seluruh lintasan bersih dari ranjau.

“Kereta itu menghemat aktu, berangkat dari Baghdad dan tiba pukul 8 pagi di tujuan sesuai dengan jadwal. Ini juga lebih murah daripada mobil yang sekali jalan bisa menghabiskan tiga ribu dinar Irak (US$3,50) untuk tiket,” ujar seorang penumpang Thamer Mohammed.

Dirangkum KabarPenumpang.com dari laman straitstimes.com (11/11/2018), dengan menggunakan kereta, maka masyarakat tak lagi perlu berhenti dan melakukan pengecekan di pos pemeriksaan serta terhindar dari kecelakaaan di jalanan. Kembali beroperasinya kereta ini, masyarakat yang juga para komuter melihatnya sebagai metafora untuk negara dimana keamanan telah cukup meningkat untuk memungkinkan jalur yang tidak terganggu melalui desa yang dikuasai selama bertahun-tahun oleh ISIS.

Meski begitu, kereta yang baru kembali mengular tersebut tidak bisa melaju dengan kecepatan tinggi dan tak melebihi 100 km per jam nya. Jendela-jendela kereta yang pecah karena anak-anak yang bermain melemparinya dengan batu saat melintas.

“Saya berharap layanan ini akan terus berjalan, tetapi dalam beberapa hari terakhir ada penundaan. Kadang-kadang kehabisan bahan bakar dalam perjalanan, atau mengalami kegagalan teknis,” ujar Mohammed lagi.

Seorang pejabat operator nasional Irak Railways Republik, Abdul Sittar Muhsin mengatakan, perusahaan kereta sangat membutuhkan dana untuk menjaga layanan tetap berjalan.

“Kami melakukan ini dengan uang perusahaan dan kami beroperasi pada kerugian,” ujar Muhsin.

Para pejabat kereta api berharap untuk memulihkan layanan sampai ke perbatasan Suriah. Jaringan rel Irak, yang dikembangkan selama periode mandat Inggris dan di bawah pemerintahan partai Baath pada 1960-an, digunakan untuk melakukan peregangan ke Istanbul dan Aleppo di Suriah melalui Mosul di Irak utara.

Baca juga: Ribuan Warga Turin Unjuk Rasa Dukung Hadirnya Kereta Berkecepatan Tinggi ke Lyon

Konflik dengan Iran pada 1980-an, sanksi PBB pada 1990-an dan kekerasan sejak itu telah menghancurkan sebagian besar jaringan lama, selain dari layanan reguler ke Basra dan sekarang Falluja. Rencana untuk melampaui Falluja mungkin ambisius dengan trek dikubur di pasir dan pasukan Irak telah diperkuat di perbatasan setelah serangan balik ISIS baru-baru ini di Suriah. Untuk saat ini, garis Falluja adalah langkah maju yang besar.

“Luar biasa, saya dapat secara teratur melihat anak saya sekarang yang menikahi seorang pria dari Fallujah. Saat ini, semuanya baik-baik saja,” kata seorang wanita.

 

Bandara Luxembourg Siap Adopsi Sistem Keamanan Baru nan Canggih

Interdisciplinary Centre for Security, Reliability and Trust (SnT) University of Luxembourg telah menguji sistem keamanan bandara berteknologi tinggi di Luxembourg Airport. Uji coba sistem ini diharapkan dapat menguji potensi lingkungan bandara tanpa pencarian acak dan antrean panjang. Tim ilmuwan, teknisi, dan staf bandara yang tergabung di dalam sebuah konsorsium bernama FLYSEC saling bekerja sama untuk menguji coba sistem end-to-end cerdas. Sistem ini diklaim mampu menganalisis perilaku penumpang di zona tertentu, riwayat perjalanan, hingga profil pemesanan.

Baca Juga: Rahasia di Bandara yang Tak Semua Diketahui Penumpang

Sebagaimana yang dilansir KabarPenumpang.com dari laman passengerterminaltoday.com (7/11/2018), dalam uji coba ini, tim memasang sensor di seluruh bandara guna melacak 100 sampel yang berperan sebagai penumpang dimana masing-masing penumpang memegang peranan berbeda layaknya skenario di bandara. Adapun tim membutuhkan waktu sekitar tiga tahun dalam mengembangkan sistem keamanan baru ini.

Di dalam sistem, smart kiosk akan memverifikasi dokumen perjalanan dan menggunakan data catatan nama penumpang guna mengidentifikasi profil pemesan. Pada bagian lain, sistem akan memberi tahu staf tentang tingkah penumpang yang mencurigakan di dalam bandara dengan menggunakan analisis pola pergerakan.

Seperti yang sudah disebutkan di atas, diharapkan penggunaan sistem keamanan cerdas semacam ni dapat memangkas antrean dan tindakan pengamanan yang mengganggu – dimana itu akan berimplikasi kepada ketidakpuasan penumpang di bandara.

“Karena analisis ini didasarkan pada data mentah dan mengabaikan hal-hal yang memicu kepada penggolongan SARA seperti warna kulit atau simbol agama – proses kami tidak hanya lebih efisien tetapi juga bisa dibilang lebih etis,” ujar salah seorang peneliti dari SnT, Aurel Machalek.

“Menurut kami, ini merupakan solusi teknis, karena kami tidak hanya mencampur-adukkan banyak teknologi dan data baru ke sektor keamanan bandara, tetapi juga peranan manusia dalam mengembangkannya. Semua semata-mata demi meningkatkan pengalaman bagi penumpang dan staf,” tandasnya.

Baca Juga: Ben Gurion, Bandara Paling Aman dengan Standar Keamanan Tertinggi di Dunia

Sedangkan di sisi lain, kepala keamanan Luxembourg Airport, Daniel Conrardy mengatakan sangat gembira FLYSEC dapat menguji coba dan bahkan meluncurkan layanan keamanan baru ini di Luxembourg Airport.

“Menjadi bandara kecil di salah satu negara terkecil di Eropa, saya bangga bahwa Luxembourg Airport dipilih untuk berpartisipasi dalam proyek FLYSEC yang menantang ini. Itu adalah pengalaman hebat bagi saya dan seluruh tim saya,” tutur Daniel.

 

Pelayanan Optimal dan Hiburan Melimpah, Pengalaman Naik Business Class Thai Airways

Bagi sebagaian orang, melakukan perjalanan udara selama lebih dari 10 jam itu merupakan hal yang membosankan. Selain tidak bisa berkomunikasi karena harus menyalakan airplane mode, tidak ada pekerjaan lain lagi yang dapat Anda lakukan selain mendengarkan musik, membaca buku, atau tidur semisal Anda pergi sendirian. Namun hal tersebut tidak akan Anda temui jika menggunakan layanan Thai Airways.

Baca Juga: Jadi Penumpang Business Class di Boeing 777 Garuda Indonesia, Inilah yang Anda Nikmati

Seorang pelancong asing asal Los Angeles hendak bertolak menuju wilayah Asia Tenggara – Bangkok secara tidak langsung mempromosikan pengalamannya ketika menggunakan layanan Business Class Thai Airways. Kira-kira, apa saja ya yang ia rasakan hingga berani mempromosikan layanan tersebut? Berikut KabarPenumpang.com himpun faktanya, dikutip dari laman travelingwiththejones.com.

Pelayanan Awak Kabin yang Prima
Awak kabin pria mengenakan setelan jas dan yang wanita mengenakan rok panjang merupakan dress code dari awak kabin Thai Airways. Balutan pakaian necis tadi dipadukan dengan pelayanan ramah tentu akan menjadi nilai tambah bagi flag carrier Thailand ini.

Kelas Royal Silk
Bisa dibilang, ini merupakan nama lain dari business class di Thai Airywas. Mengusung moto, “Membuat perjalanan Anda selembut sutera,” maskapai ini benar-benar menepati motonya tersebut.

Kursi yang Nyaman
Berbeda dengan bangku business class lain, di Thai Airways Anda akan disajikan dengan 15 tombol yang dapat mengatur kenyamanan duduk Anda selama penerbangan – belum lagi tombol yang akan memberikan Anda layanan pijat pada bagian punggung.

Pilihan Hiburan yang Berlimpah
Setiap bangku memiliki satu layar yang cukup besar yang memuat beragam film, program televisi, musik, permainan, dan juga peta.

Kamar Mandi yang Bersih
Mungkin Anda jarang menemukan pemandangan dimana sebuah toilet di dalam penerbangan jarak jauh tetap berada dalam keadaan bersih walaupun sudah setengah jalan. Tapi Anda akan mendapati kamar mandi di Thai Airways tetap bersih setiap saat. Apakah awak kabin yang membersihkannya?

Penganan yang Menggugah Selera
Di dalam penerbangan Thai Airways, Anda bisa memesan beragam makanan asli Thailand maupun makanan non-Thailand – tentunya dengan rasa yang membuat lidah Anda bergoyang.

Baca Juga: Boeing Tampilkan Konsep Kamar Mandi Mewah Pada Business Jet Class

Pencahayaan Kabin yang Pas
Tidak terlalu terang, juga tidak terlalu gelap. Para awak kabin akan mematikan penerangan ketika jam makan malam telah berakhir. Anda bisa beristirahat dengan nyenyak.

Permainan Warna
Didominasi oleh warna ungu dan pink, penggabungan kedua warna pada kompartemen di kabin akan menambah rileks perjalanan Anda.

 

Kolombo, Tahun 2024 Akan Punya Light Rail Transit

Kolombo sebentar lagi akan memiliki Light rail Transit (LRT) atau kereta ringan. Proyek ini sendiri studi kelayakannya dilakukan pada November 2017 kemarin oleh perusahaan Cina Seoyoung Engineering dan menyerahkannya kepada Pemerintah Sri Lanka pada Juni 2018.

Baca juga: Semarang Ternyata Sudah Lakukan Kajian Untuk Membangun LRT

Dilansir KabarPenumpang.com dari laman railway-technology.com (7/11/2018), sistem kereta api ringan ini diperkirakan menelan biaya $6 miliar yang disetujui Pemerintah Sri Lanka pada Oktober 2018. Proyek ini akan dibagi beberapa tahap dimana, tahap pertama diperkirakan menelan biaya $1,7 miliar yang akan dimulai tahun 2020 dan pengoperasiannya pada 2024 mendatang.

Proyek LRT ini akan dikembangkan dalam tujuh fase dimana fase pertama akan dibangun sepanjang 15,8 km yang terbentang antara wilayah Colombo Fort dan Malabe dan selanjutnya meluas ke wilayah Megapolis Barat. Jaringan kereta ini akan dibangun dengan ketinggian enam meter diatas tanah dan sepenuhnya dialiri listrik.

Fase pertama akan ada 16 stasiun yakni Taman TI, Malabe, Thalahena, kuil Lumbini, rumah sakit Nasional, Borella, Jalan Cotta, Rajagiriya, Welikada, Sethsiripaya, Battramulla, Palanthuna, Robert Gunawardana, Benteng Kolombo, Pusat Transportasi, dan St Joseph. Rolling stock atau rangkaian kereta ringan Kolombo akan ada empat kereta dalam satu rangkaian dan nantinya akan melaju dengan kecepatan maksimum 80 km per jam.

Kereta akan mampu menampung 800 penumpang baik berdiri atau duduk dalam empat gerbong. Gerbong kereta akan dilengkapi dengan pendingin udara, layar monitor yang akan menampilkan informasi pengumuman serta keadaan darurat kepada penumpang.

Sistem informasi penumpang onboard akan memberikan rincian tentang stasiun yang akan datang dengan membuat pengumuman melalui loudspeaker. Gerbong-gerbong kereta api akan dipasang dengan kamera pengawas keamanan untuk meningkatkan keamanan.

Pemerintah Sri Lanka akan melaksanakan proyek kereta api ringan dengan dukungan Pemerintah Jepang. Japan International Corporation Agency (JICA) telah setuju untuk menawarkan $1,7 miliar sebagai pinjaman untuk proyek atas nama Pemerintah Jepang. Jangka waktu pembayaran untuk pinjaman adalah 40 tahun dengan tenggang waktu 12 tahun.

Baca juga: Tak Kunjung ‘Dieksekusi’, Begini Nasib LRT Metro Kapsul Bandung

JICA juga menyediakan bantuan keuangan dan teknis untuk pengembangan proyek di bawah Ketentuan Khusus untuk Kemitraan Ekonomi (STEP), yang ditujukan untuk meningkatkan infrastruktur perkotaan dan fasilitas yang ada di Kolombo. Penutupan keuangan untuk tahap pertama proyek ini diantisipasi pada akhir 2018.

Proyek transit kereta ringan Colombo diharapkan dapat mengurangi kemacetan lalu lintas di kota Kolombo dan mendorong warga untuk menggunakan transportasi umum yang terjangkau dan lebih nyaman. Ini akan menawarkan pengalaman perjalanan bebas emisi kepada penumpang dan mengurangi jejak karbon negara.

Inilah Dampak Jika Anda Pindah Bangku dari Economy Class ke Business Class Secara Ilegal!

Bagi Anda yang sudah sering ‘mondar-mandir’ menggunakan pesawat, tentu sudah paham tentang pembagian kelas dalam penerbangan. Nah, pernah terpikirkah oleh Anda kira-kira apa yang bakal terjadi ketika meng-upgrade kelas di sebuah penerbangan tanpa menghubungi pihak maskapai terlebih dahulu? Bukankah selama penerbangan kita bebas pindah tempat duduk, kecuali ketika take off dan landing?

Baca Juga: Kreatif! Beginilah Cara Emirates Rangkul Penumpang yang Hendak ‘Seat Upgrade’

Sebelum mendapatkan jawabannya, kelas bisnis dalam sebuah penerbangan menawarkan fasilitas lebih ketimbang kelas ekonomi. Seiring dengan fasilitas yang lebih banyak, maka harga tiket di kelas bisnis pun akan lebih tinggi dari kelas ekonomi. Dengan tujuan menghemat, inilah yang pada akhirnya membimbing para penumpang untuk lebih memilih kelas ekonomi dibanding bisnis, toh waktu sampainya juga berbarengan.

Ya, kembali ke persoalan di atas, seorang awak kabin membocorkan kira-kira apa yang bakal terjadi ketika seorang penumpang ekonomi menghabiskan waktu perjalanan di bisnis. “Mungkin bagi sebagian penumpang, itu (pindah ke kelas yang lebih tinggi) merupakan halyang menyenangkan. Namun sebagai awak kabin, kami sama sekali tidak merasa itu merupakan hal yang lucu,” ujar salah satu cabin manager, Jay Roberts, dikutip KabarPenumpang.com dari laman express.co.uk (11/11/2018).

“Bangku-bangku di dalam penerbangan merupakan produk yang kami jual. Jadi ketika Anda berusaha duduk di bangku yang tidak semestinya, itu sama saja dengan mencuri,” imbuhnya singkat.

Duh, nampaknya upaya untuk duduk di kelas yang lebih tinggi dalam suatu penerbangan bukanlah hal yang bisa dianggap remeh dan merujuk pada pernyataan Jay tadi.

“Sembari Anda berjalan kembali ke bangku yang Anda sebenarnya, awak kabin akan berbicara dengan nada yang sangat keras sehingga semua penumpang di dalam kabin tahu bahwa Anda sedang dikawal dari kelas bisnis menuju kelas ekonomi bangku asli Anda,” jelas Jay mengenai konsekuensi yang sekiranya bakal Anda terima.

Baca Juga: Jadi Penumpang Business Class di Boeing 777 Garuda Indonesia, Inilah yang Anda Nikmati

Tidak berhenti sampai di situ, pihak maskapai juga akan memasukkan nama Anda ke dalam watch list pada penerbangan selanjutnya. “Bahkan di sebagian maskapai, mereka akan dikenakan biaya tambahan kepada si penumpang yang bersangkutan.” tutup Jay.

 

Kantongi Ijin, Bombardier Global 7500 Siap ‘Gerbak’ Sektor Aviasi Global

Terkenal dengan seri CRJ-nya, kini perusahaan pesawat yang bermarkas di Dorval, Quebec, Kanada, Bombardier siap untuk mulai memproduksi lebih banyak lagi varian pesawat jet yang digadang-gadang sebagai yang terbesar dan terbaru, Global 7500. Pernyataan tersebut dirilis pihak Bombardier setelah mengantongi izin dari Administrasi Penerbangan Federal Amerika Serikat dan disertifikasi oleh orotitas penerbangan Kanada pada bulan lalu.

Baca Juga: Bawa Kabur Bombardier Dash 8 Q400, Nasib Ground Crew Horizon Air Berakhir Nahas

Berbekal izin ini, maka Bombardier dapat mulai melakukan pengiriman terhadap para pelanggannya di seluruh dunia. Sebagaimana yang dikutip KabarPenumpang.com dari laman robbreport.com (10/11/2018), pesawat jet berkapasitas 19 bangku ini mendapat sorotan dari banyak pihak dalam kurun waktu satu tahun terakhir, seiringan dengan promosi besar-besaran yang dilakukan oleh Bombardier di seluruh dunia.

Melalui jet barunya ini, Bombardier seolah lebih berpihak pada pelanggan penerbangan jarak jauh (di atas 12 jam) yang sudah barang tentu akan dilanda oleh rasa bosan dan lelah. Terdapat empat zona kabin di dalam Bombardier Global 7500 yang dilengkapi dengan kontrol lingkungannya sendiri – menunjang kenyamanan dan privasi penumpang. ‘Menghemat’ dan ‘melestasikan’ energi penumpang merupakan fokus dari pengembangan Bombardier Global 7500. Itu artinya kenyamanan Anda selama mengudara akan berada di puncak tertinggi.

Sehubungan dengan kenyamanan tingkat tinggi yang ditawarkan kepada penumpang, Bombardier menyematkan sejumlah teknologi yang akan membuat Anda terhindar dari jetlag, seperti tombol pengatur suhu, hingga tempat duduk yang dapat diatur sesuai dengan tingkat kenyamanan Anda. Belum lagi eksistensi dari jendela berkuran besar yang akan memaksimalkan cahaya yang masuk ke dalam ruangan kabin dan menyajikan pemandangan terbaik untuk Anda.

Layaknya sebuah hotel berbintang, semua fasilitas yang dapat menunjang waktu beristirahat Anda dapat dijumpai di dalam Bombardier Global 7500. Mulai dari makanan, tempat bersantai, tempat tidur, hingga kamar mandi yang dilengkapi dengan shower, semuanya dapat Anda temui di dalam pesawat ini.

Baca Juga: Atasi Dampak Kebisingan di Bandara, Bombardier Rilis Jet C Series

Menilik ke ruang kokpit, teknologi fly-by-wire generasi terbaru siap membuat perjalanan Anda semakin nyaman. Pemberdayaan teknologi ini juga menjamin kontrol maksimum dan pengutamaan efisiensi di semua aspek penunjang penerbangan.

Menurut salah satu juru bicara dari Bombardier, pesawat ini sendiri mampu menempuh kecepatan hingga Mach 0,925 atau yang setara dengan 1.142km/jam. Untuk urusan harga, perusahaan membanderol pesawat ini dengan harga US$72,8 juta atau berkisar Rp1,07 triliun.

 

Bisa Dibuka Langsung Oleh Petugas Keamanan Bandara, Inilah Gembok Koper TSA

Sebagai negara Adikuasa, Amerika Serikat memiliki sejumlah aturan tambahan yang ditujukan untuk keseluruhan keamanan di negara berjuluk Negeri Paman Sam tersebut – tidak terkecuali di sektor kedirgantaraannya. Sebut saja agensi federal Transportation Security Administration (TSA) yang bertugas untuk menjaga keamanan di seluruh sektor transportasinya. Saking ketatnya, TSA sampai-sampai merilis gembok khusus berlabel lambang agensi federal tersebut.

Baca Juga: Bandara di AS Kian Ketat, TSA Wajibkan Pemeriksaan Terpisah Pada Perangkat Elektronik

Adalah gembok TSA, gembok khusus yang memiliki beragam jenis dan memiliki satu kunci master yang tidak bisa dimiliki oleh sembarang orang. Biasanya kunci master ini hanya dimiliki oleh pihak TSA di berbagai infrastruktur transportasi, seperti bandara dan stasiun. Nah, mungkin sebagian dari Anda bertanya-tanya, apa fungsi dari kunci master tersebut. Sebagai informasi tambahan, gembok TSA memiliki satu lubang kunci kecil untuk si kunci master tersebut – kebanyakan TSA menggunakan gembok kombinasi nomor, bukan gembok kunci biasa.

Sebagaimana yang dirangkum KabarPenumpang.com dari berbagai laman sumber, kunci master tersebut berfungsi agar petugas TSA dapat menginspeksi koper penumpang yang dicurigai membawa barang-barang berbahaya seperti senjata tajam, senjata api, bahan peledak, dan segala hal yang dapat berdampak pada perjalanan penumpang. Inspeksi koper dengan menggunakan kunci master ini semata-mata untuk alasan keamanan.

Untuk jenis dari master key-nya sendiri pun beragam. Anda bisa lihat ada tulisan TSA yang diikuti dengan deret tiga angka. Sederhananya seperti ini, di gembok A, Anda melihat kode TSA001, itu berarti petugas TSA membutuhkan kunci master TSA001 untuk membuka gembok tersebut, dan seterusnya.

Contoh Notice of Baggage Inspection. Sumber: Falando de Viagem

Nah, untuk menandai bahwa koper yang dicurigai tersebut sudah melewati tahap inspeksi sebelumnya, biasa petugas TSA akan melampirkan secarik kertas tertanda Notice of Baggage Inspection. Hal ini ditujukan agar penumpang tidak bingung semisal barang yang ada di dalam koper jadi berantakan atau berpindah posisi pasca inspeksi.

Lalu bagaimana semisal gembok yang Anda gunakan bukanlah gembok TSA – hanya gembok biasa? Tentu ini tidak jadi masalah bagi petugas TSA, karena mereka akan melakukan cara apupun sehingga mereka bisa menginspeksi tas yang mereka curigai – kembali, alasan keamanan menjadi latar belakang yang cukup kuat.

Memang, Anda tidak diwajibkan untuk menggunakan gembok TSA, namun disarankan.

Mungkin anda semua akan paranoid ketika petugas TSA membuka dan menginspeksi isi koper Anda. Nah, patut diketahui, para petugas TSA ini bekerja di bawah payung hukum, di mana jika mereka kedapatan ‘menguntit’ barang penumpang, maka mereka akan diperkarakan – petugas TSA bekerja di bawah pengawasan kamera CCTV yang cukup ketat, sehingga tidak ada celah bagi mereka untuk berbuat curang.

Baca Juga: Tangkal Aksi Teror di Bandara, Angkasa Pura Airports Gandeng TSA

Tapi tenang, Anda tidak perlu khawatir karena inspeksi via kunci master gembok TSA seperti ini hanya berlaku di Amerika Serikat saja, walaupun sempat beredar isu bahwa inspeksi semacam ini hendak diperluas di daerah Kanada dan sekitarnya.

 

Jadi Baiknya Sebagai Penumpang Pesawat Duduk di Kursi Mana?

Selama ini sebagai penumpang duduk dimanapun sepertinya tak masalah baik duduk di kursi dekat jendela, lorong ataupun di tengah. Namun, ternyata sebuah perusahaan riset CivicScience menemukan bahwa setiap penumpang memiliki ruang pribadinya sendiri di dalam kabin.

Baca juga: Gunakan Sepatu Hak Tinggi, Wanita Paruh Baya Lakukan Gerakan Yoga di Kursi Pesawat

Dilansir KabarPenumpang.com dari laman iol.co.za (30/10/2018), laporan yang didapatkan sebanyak 78 persen orang dewasa di Amerika Serikat setuju jika kursi di dekat jendela memiliki kontrol untuk keteduhan penumpang lainnya. Sedangkan 21 persen yang disurvei mengatakan kursi tengah memiliki hak untuk kedua lengan penumpang yang duduk di kursi tersebut dan 53 persen lainnya mengatakan tidak.

Ya, paling menarik dibahas adalah 21 persen yang berpikir kursi tengah memiliki hak untuk kedua tangan dan penjawabnya mayoritas laki-laki. Duduk di kursi tengah aturannya adalah berbagi sandaran tangan dan umumnya pengguna kursi tengah yang lebih minoritas menggunakannya.

Sebab bila duduk di kursi dekat lorong atau dekat jendela baiknya saat meletakkan tangan lihat dan berhati-hati saat memindahkan siku. Jawn Murray mengatakan, dimanapun penumpang duduk itu adalah milik sebaris itu dan tidak dapat menyimpan apapun di salah satu bagian selain tempat Anda.

“Jaket bisa diletakkan di bawah kaki penumpang dan tidak bijaksana jika mengisi ruang kompartemen yang terbatas dengan mantel tebal saat orang lain mencoba meletakkan tas mereka di situ. Ini juga berlaku pada sandaran tangan,” jelasnya.

Ruang kursi merupakan hak Anda dan bisa dikatakan ruang bersama. Memundurkan sandaran pun harus melihat orang yang duduk di belakang Anda dan mengucapkan permisi atau meminta izin adalah salah satu yang tepat.

Baca juga: Ponsel Terjatuh di Sela Kursi Pesawat, Sebaiknya Minta Awak Kabin untuk Mengambilnya!

Selain itu ruang kursi di hadapan penumpang adalah milik Anda dan dalam batas yang pas. Jika seorang penumpang membawa tas jinjing yang cukup besar dan melewati batas atau sampai ke tempat penumpang sebelah, baiknya berbicara terlebih dahulu sebelum tas itu menganggu penumpang lain.

Lain lagi dengan penumpang yang duduk di dekat jendela, Anda bisa menggunakan dan menguasai jendela itu untuk menikmati pemandangan dari dalam kabin pesawat. Namun jangan lupa saat matahari cukup cerah dan membuat penumpang lain silau pertimbangkan untuk menutupnya sedikit.

Terkendala Masalah Hydraulic, Maskapai Fly Jamaica Terpaksa Return to Base

Setidaknya enam penumpang mengalami cidera setelah armada Boeing 757 yang digunakan oleh maskapai Fly Jamaica melakukan pendaratan darurat pada Jumat (9/11/2018) kemarin. Pesawat tersebut dijadwalkan untuk melakukan penerbangan menuju Toronto, namun karena mengalami masalah pada bagian mesinnya, akhirnya sang pilot meminta ijin untuk melakukan Return to Base (RTB) di Guyana.

Baca Juga: Pilot Lupa Aktifkan Pengatur Tekanan Kabin, Jet Airways Terpaksa Return to Base

Seperti yang dirangkum KabarPenumpang.com dari sejumlah laman sumber, enam penumpang yang mengalami cidera tadi merupakan warga negara Kanada. Mereka mengalami cidera ketika pesawat dengan nomor penerbangan OJ256 ini melakukan RTB dan tergelincir di landas pacu Cheddi Jagan International Airport, Guyana.

“Kami dapat mengkonfirmasi bahwa penerbangan Fly Jamaica dengan nomor penerbangan OJ256 yang dijadwalkan terbang menuju Toronto telah kembali ke Georgetown dikarenakan masalah teknis dan mengalami kecelakaan saat mendarat,” tulis pihak maskapai dalam sebuah pernyataan tertulis.

Dalam kesempatan yang terpisah, salah seorang pejabat dari pihak maskapai mengatakan bahwa ada dua orang dari 128 penumpang yang dilarikan ke rumah sakit pasca pendaratan darurat tersebut – sebagai langkah pencegahan. Namun pihak Global Affairs beranggapan bahwa para penumpnag berkebangsaan Kanada tersebut diyakini tidak mengalami luka.

“Mereka telah di X-Ray, dan kini kami masih melakukan tindakan medis lebih lanjut,”

Para penumpang ini dilarikan Georgetown Public Hospital karena Diamond Diagnostic Hospital tidak bisa menampung semua korban tersebut.

Menteri Infrastruktur Publik, David Patterson mengatakan bahwa pesawat Fly Jamaica dengan nomor penerbangan OJ256 dijadwalkan untuk bertolak dari Georgetown, Guyana menuju Toronto pada pukul 02.00 dini hari waktu setempat. Pada awalnya, semua berjalan lancar – namun 20 menit setelah pesawat mengudara, sang pilot mengumumkan bahwa pesawat mengalami masalah pada bagian hydraulic dan meminta ijin kepada Cheddi Jagan International Airport untuk melakukan RTB.

Baca Juga: Dianggap Pilot “Terlalu Besar,” Embraer 175 United Airlines “Return To Base” di Tengah Perjalanan Menuju Chattanooga

David menambahkan, pesawat nahas ini berisikan 120 penumpang – dua diantaranya adalah balita, dan delapan awak penerbang. Hingga kini, belum dapat dipastikan berapa jumlah korban luka akibat insiden ini.

Selain mengalami masalah pada bagian hydraulic, pesawat rilisan Boeing ini juga ternyata mengalami masalah pada sistem pengereman – berimbas pada pesawat yang tergelincir keluardari landas pacu.