Bentang Rel 1.435mm, Ternyata Telah Jadi Standar Sejak Zaman Romawi!

Siapa sih yang belum pernah naik kereta? Nampaknya setiap orang pernah berkendara menggunakan moda berjuluk si ular besi ini ya – entah untuk jarak dekat maupun jarak jauh sekalipun. Terlebih dewasa ini perkeretaapian di Indonesia sudah mengalami peningkatan kualitas yang cukup pesat dibanding awal tahun 2000-an kemarin. Wajar jika moda ini semakin digandrungi oleh banyak kalangan.

Baca Juga: Lebar Bentang Rel Menjadi Ciri Khas Jalur KRL Jabodetabek

Nah, ngomong-ngomong soal kereta, pernahkah terbesit di benak Anda, “Apakah setiap lebar rel di semua jaringan perkeretaapian dunia memiliki jarak yang sama?”. Jawabannya sederhana, tidak. Beberapa negara memiliki bentang relnya masing-masing, walaupun ada satu ukuran yang sudah diresmikan sebagai ukuran internasional, yaitu 1.435 mm.

Mengingat ada beberapa ragam bentang rel di dunia, bisa dibilang ukuran 1.435 mm ini merupakan median dari keseluruhan variasi tersebut. Sebut saja Jepang yang menggunakan ukuran bentang rel 1.067 mm atau yang biasa disebut narrow gauge – karena ukurannya yang lebih sempit ketimbang standar internasional tadi. Atau jaringan perkeretaapian Spanyol dan Portugal yang menggunakan ukuran bentang rel 1.668 mm atau yang biasa disebut board gauge karena ukurannya yang lebih lebar dari standar internasional tersebut.

Sekitar 60 persen negara-negara di dunia menerapkan bentang rel 1.435 mm untuk sektor perkeretaapiannya – termasuk Eropa, Amerika Utara, China, Australia, Timur Tengah, dan juga Indonesia. Jika diakumulasi secara keseluruhan, maka instalasi bentang rel 1.435 mm di seluruh dunia panjangnya mencapai kurang lebih 720.000 km!

Sebagaimana yang dilansir KabarPenumpang.com dari laman sankalpindia.net, ternyata penggunaan lebar rel 1.435 mm ini sudah turun temurun sejak jaman dulu kala. Sebelum ada kereta, orang-orang berkendara menggunakan gerobak yang ditarik oleh kuda – dan inilah yang menjadi cikal bakal dari penggunaan lebar rel 1.435 mm.

Mengapa harus 1.435mm? Karena gerbong kereta dibuat dengan menggunakan alat yang sama dengan pembuatan gerobak yang ditarik oleh kuda tadi. Selain kesamaan pada alat pembuatannya, kesamaan lain yang ditemukan adalah jarak yang ditempuh oleh keduanya pun sama. Jika bertanya mengapa panjang jalannya juga sama, mungkin kita harus mundur lebih jauh ke era Kekaisaran Romawi dimana ketika mereka membangun jalan pertama untuk kereta perang mereka yang ditarik oleh kuda, jarak antar roda yang mereka gunakan adalah 1.435 mm. Sungguh presisi!

Baca Juga: Ingin Menikmati Sensasi Kereta Cepat, Bentang Lebar Rel Harus Diganti

Jadi, kalau ada diantara Anda yang masih bertanya-tanya mengapa ukuran bentang rel itu 1.435 mm, maka jawabannya adalah sudah turunan dari awal pembuatannya, dan dari situ, para operator kereta di seluruh dunia pun menerapkan ukuran yang sama. Bagi negara-negara yang memiliki bentang rel berbeda dengan standar internasional, mungkin ada beberapa pertimbangan khusus, seperti biaya pembangunan rel, yang mengakibatkan berubahnya angka ukuran tersebut.

 

Sambut Oktoberfest, Lufthansa Hadirkan Tong Bir dalam Penerbangan

Oktoberfest di Munich, Jerman dimulai pada akhir pekan ini dan maskapai Lufthansa ikut ambil bagian di dalamnya. Mereka mengumumkan akan menghadirkan tong berisi bir dalam penerbangannya dari Singapura, New York dan Shanghai dengan tujuan ke Munich.

Baca juga: Lufthansa Hadirkan Makanan Astronot di Kelas Bisnis

KabarPenumpang.com melansir dari laman cntraveler.com (18/9/2018), sebenarnya Lufthansa sudah menyajikan bir yang baru dibuat untuk Oktoberfest sejak tahun 1960-an. Tetapi kali ini ada beberapa hal baru yang dibuat oleh Lufthansa untuk memeriahkan pesta dalam pesawat tersebut, yakni menghadirkan menu makanan seperti truffle, Arctic char dengan saus riesling, bavarian cream dan pistachio pesto.

Sayangnya ini semua hanya bisa nikmati oleh penumpang di kelas bisnis. Tak hanya itu kehadiran tong bir ini pun hanya ada pada tiga penerbangan yakni dari Munich ke Newark pada 19 September kemarin, dan dari Munich ke Singapura pada 25 September serta pada 6 Oktober mendatang dalam penerbangan Munich ke Shanghai.

Seragam yang digunakan awak kabin Lufthansa dan staf lounge Bandara Munich (Lufthansa Group)

Bir yang berada dalam tong dan terbang dengan ketinggian 32.808 kaki ini, menggunakan material khusus yang dirancang dengan katup untuk mengatur tekanan karbon dioksida sehingga tidak meledak. Untuk para pelancong pun, Lufthansa sendiri telah menyiapkan makanan tradisional untuk Oktoberfest tersebut.

Ada lebih dari 4.000 kg Leberkäse, lebih dari 38.000 pretzel, dan sekitar 750 kg sosis putih yang disajikan di 12 lounge di Terminal 2. Menu Oktoberfest di restoran Lounges Kelas Satu Lufthansa, yang akan didekorasi dengan sesuai, akan dimulai dengan sup Oktoberfest yang diikuti oleh bebek yang disajikan dalam gaya pedesaan.

Untuk hidangan penutup, akan ada pangsit aprikot dan prem dengan vanilla espuma. Senator dan Business Lounges akan menawarkan kepada tamu mereka sup gulai Andechser atau jamur dalam krim dengan pangsit. Tentunya kehadiran bir dengan lisensi di keran pun juga ada untuk melengkapi.

Baca juga: Bandara Munich Gandeng Lufthansa Hadirkan Robot Humanoid Untuk Bantu Penumpang

Selain itu dalam isi kotak pun terdapat makanan tradisional seperti pretzel gummies dalam bentuk gelas bir, minuman vitamin yang membantu pelancong mendapatkan rehidrasi setelah bir dipesawat dan kotak ini dibagikan pada pelancong yang mendarat di Terminal 2 Bandara Munich. Di Oktoberfest ini, para awak kabin dan penjaga di lounge menukar seragam mereka.

Dimana Dirndl dipakai oleh pramugari perempuan berwarna biru gelap dengan apron perak abu-abu dan rekan pria mereka akan mengenakan Lederhosen pendek, dengan rompi biru gelap yang terbuat dari bahan yang sama dengan Dirndl. Ini adalah tahun ketiga berjalan , dimana awak kabin berpakaian khas Bavaria saat Oktoberfest.

Terima Airbus A350-900ULR, Singapore Airlines Siap Terbang ke New Jersey Non-Stop

Belum lama ini, Singapore Airlines telah menerima pesanan pesawat Airbus A350-900ULR guna melayani rute penerbangan komersial non-stop terpanjang di dunia. Sesuai rencana, layanan yang menghubungkan Singapura dan Newark Liberty International Airport akan dibuka pada tanggal 11 Oktober mendatang. Penerbangan jarak jauh non-stop ini diperkirakan akan memakan waktu 19 jam perjalanan.

Baca Juga: Pilot Kedapatan Konsumsi Alkohol, Penerbangan Singapore Airlines dari Melbourne Terpaksa Batal

Dilansir KabarPenumpang.com dari laman cnbc.com (24/9/2018), jarak 9.537 mil atau yang setara dengan 15.348 km yang membentang antara Singapura dan New Jersey, Amerika Serikat ini akan ditempuh Singapore Airlines dengan menggunakan Airbus A350-900ULR (Ultra Long Range). Total, Flag Carrier Singapura ini memesan tujuh unit pesawat jenis ini – Dua akan digunakan untuk melayani penerbangan Singapura-New Jersey, sementara lima sisanya akan digunakan untuk menghubungkan Singapura-Los Angeles tertanggal 2 November.

Soal keandalan produknya ini, Airbus mengatakan waktu tempuh maksimum dari A350-900ULR adalah 20 jam atau jika dikonversikan ke satuan jarak menjadi 9.700 mil (15.610km).

Selain keandalan dari modanya sendiri, satu hal yang tidak boleh dilupakan ketika membahas soal penerbangan jarak jauh non-stop adalah soal kenyamanan kabin. Dapat Anda bayangkan semisal waktu tempuh 19jam tersebut harus Anda lalui dengan kondiisi kabin yang tidak nyaman? Tentu hal ini akan membuat impresi Anda menjadi buruk dan terkesan ogah untuk menggunakan layanan itu lagi.

Langit-langit yang lebih tinggi dibanding armada lainnya, ukuran jendela yang lebih besar, ruang kabin yang lebih senyap, hingga tata pencahayaan yang tidak terlalu terang merupakan sejumlah indikator dibalik pengurangan jet-lag yang dijanjikan pihak Airbus. Dengan kata lain, Airbus tetap memprioritaskan pengalaman dan keamanan penumpang selama mengudara bersama maskapai negeri tetangga tersebut.

Baca Juga: Miles KrisFlyer Singapore Airlines Naik Per 7 Desember 2017

Mengutip dari sumber lain, pihak Singapore Airlines sendiri menerima pesawat anyarnya ini pada 23 September kemarin. Menyoal konfigurasi bangku, pihak Airbus menuturkan A350-900ULR ini mampu menampung 170 bangku business class hingga 250 bangku kelas campuran. “Ini merupakan babak baru dalam penerbangan jarak jauh non-stop,” ujar CEO Airbus, Tom Enders.

PT Len Gandeng Thales Kembangkan Sistem Sinyal Kereta Api Indonesia

Jakarta memiliki pertumbuhan penduduk cukup pesat dan kini tengah menghadapi urbanisasi dimana per tahunnya tumbuh sebesar 3,7 persen. Dalam menghadapi pertumbuhan tersebut lalu lintas juga akan semakin padat dan Jakarta mulai berbenah dengan menyiapkan transportasi massal.

Baca juga: Lanjutkan Uji Coba Persinyalan, Ini Kali Pertama Kereta MRT Jakarta Masuki Terowongan

Merespon kian padatnya lalu lintas di jakarta, baru-baru ini Pemprov Jakarta dianggap berhasil mengendalikan lalu lintas yang biasanya padat menjadi sedikit lenggang saat Asian Games 2018 berlangsung belum lama ini. Dimana memberdayakan pengelolaan ganjil genap yang biasanya hanya di sekitaran Jalan Sudirman-Thamrin, menjadi di beberapa titik jalan utama lainnya.

Tak hanya itu, dengan ini pun ternyata emisi karbon di langit ibukota ikut berkurang meski belum terlalu baik. Berbenahnya Jakarta juga terlihat dengan kemajuan layanan kereta listrik (KRL) CommuterLine dan kehadiran Light Rail Transit (LRT) serta proyek Mass Rapid Transit (MRT) yang dalam tahap finalisasi. Nah, ketiga moda transportasi tersebut didukung dengan sistem persinyalan dalam pengoperasiannya.

Dan sebagai bentuk dukungan, BUMN PT Len Indonesia belum lama ini telah melakukan kerja sama dan menandatangani nota kesepahaman (MoU) dengan Thales untuk proyek pengembangan sistem sinyal (signalling) yang mutakhir bagi proyek-proyek kereta api di Indonesia. MoU tersebut merupakan perluasan kerja sama yang telah terjalin selama bertahun-tahun antara Thales dan PT Len, khususnya di sektor industri pertahanan.

Baca juga: Stasiun Gumilir Punya Sistem Sinyal Computer Based Interlocking Buatan Anak Bangsa

Selain pengembangan, pengiriman dan pemasangan sistem sinyal terpadu untuk pengelola MRT dan LRT lokal yang potensial, pendekatan pengembangan bersama ini akan mendukung Thales agar bisa terus meningkatkan keahlian para SDM Indonesia setempat melalui transfer teknologi dan membantu PT Len supaya bisa mewujudkan ambisinya untuk menghadirkan berbagai sistem berteknologi tinggi yang dikembangkan sendiri kepada dunia, serta menjadi pemain regional di sektor transportasi.

“Setelah bekerja sama dengan PT Len selama beberapa tahun dan menyadari kebutuhan Indonesia akan jaringan transportasi yang lebih baik, maka kami bertekad menjalin kemitraan dengan Indonesia sejalan dengan upaya mereka membangun infrastruktur transportasi masa depan,” tutur Erik-Jan Raatgerink, Country Director, Thales di Indonesia yang dikutip KabarPenumpang.com dari keterangan tertulisnya, Selasa (25/9/2018).

Via Online! Garuda Indonesia Berikan Harga Promo Kelas Bisnis Untuk Tujuan Seluruh Indonesia

Penyuka jalan-jalan atau bahasa kerennya traveler, biasanya akan mencari dan menggunakan moda transportasi pilihan yang terbaik. Tak hanya itu, karena menikmati liburan, pelancong juga mencari yang nyaman saat menuju ke destinasi pilihan.

Baca juga: Inilah Syarat Untuk Menjadi Awak Kabin Garuda Indonesia

Seringkali pelancong sendiri dihadapkan dengan promo-promo fantastis dan menggiurkan, terlebih jika harga yang diberikan murah meriah untuk perjalan pergi dan pulang dari kota asal ke tujuan ataupun sebaliknya. Sayangnya, meski harga murah, terkadang perjalanan Anda sebagai pelancong pun tidaklah nyaman selama perjalanan.

Ya, untuk merasakan kenikmatan dan kenyamanan, maskapai bintang lima Garuda Indonesia menghadirkan penawaran spesialnya. KabarPenumpang.com mewartakan, bahwa dengan promo tersebut pelancong bisa lebih irit untuk berkunjung ke destinasi yang sedang naik pamor di Indonesia dengan promo fantastis dari Garuda Indonesia.

Apa sih promonya? Ternyata Garuda Indonesia memberikan tarif tiket kelas bisnis ke tujuan lokal alias seluruh Indonesia dengan hanya membayar Rp630 ribu. Untuk mendapatkan promo ini, pelanggan saat memesan bisa langsung memasukkan kode promonya yakni FLYBISNIS. Jangan lupa ada hal penting untuk membeli tiket promo kelas bisnis ini, yakni hanya berlaku untuk kuota tiga hingga enam orang saja.

Tenang saja, promo ini berlaku bukan untuk sekali terbang ke tujuan tetapi untuk rute pergi dan pulang. Tiket kelas bisnis Garuda Indonesia ini bisa didaptkan baik melalui situs website maupun mobile aplikasi yang bisa di unduh di Playstore maupun di Apple Store.

Baca juga: Pertengahan 2019 Penumpang Kelas Bisnis Garuda Indonesia Bisa Lanjutkan Perjalanan via Helikopter

Untuk pembelian dengan kartu kredit dengan mitra bank yang ditentukan, pelancong akan mendapatkan nol persen cicilan. Promo fantastis dari Garuda Indonesia berlaku untuk periode pemesanan dan keberangkatan mulai 10 September hingga 17 Desember 2018 mendatang.

Tak hanya itu, setelah melakukan fase II Garuda Online Travel Fair (GOTF), sebentar lagi Garuda Indonesia Travel Fair (GATF) akan segera diselenggarakan. Penyelenggarannya pada 5-7 Oktober 2018 di mendatang di JCC, pada event ini, Garuda Indonesia bermitra dengan bank Mandiri. GATF ini sendiri biasanya memberikan promo yang lebih menarik dan pelancong yang ingin merasakan menggunakan maskapai bintang lima serta mendapat tiket murah.

Pilot Lupa Aktifkan Pengatur Tekanan Kabin, Jet Airways Terpaksa Return to Base

Tekanan udara pada kabin pesawat yang tengah mengudara tiba-tiba menurun bisa mengakibatkan hal fatal bagi penumpang. Sehingga penerbangan mau tak mau harus kembali atau mendarat darurat sebelum terjadi apa-apa pada penumpang maupun pesawat.

Baca juga: Muncul Bau Mirip Kaus Kaki Kotor di Kabin, Spirit Airlines Terpaksa Mendarat Darurat

Hal ini baru saja terjadi pada Jet Airways yang harus kembali ke Mumbai pada Kamis (20/9/2018) setelah puluhan penumpang mengeluh sakit pada telinga dan mengalami pendarahan dari hidung karena tekanan dalam kabin hilang. KabarPenumpang.com melansir dari laman mrt.com (20/9/2018), atas kejadian ini pihak maskapai Jet Airways dari sebuah pernyataannya mengatakan, bahwa penerbangan 9W697 tersebut mendarat secara normal di Mumbai setelah kehilangan tekanan udara.

Pesawat Boeing 737 tersebut mengangkut penumpang 166 dengan lima awak kabinnya. Setelah mendarat, bantuan medis langsung diberikan pada 30 penumpang yang mengalami pendarahan pada hidung. Selain itu delapan penumpang lainnya yang mengalami pendarahan di telinga dibawa ke rumah sakit untuk penanganan lebih lanjut.

Seorang penumpang bernama Darshak Hathi mengatakan, saat tekanan kabin hilang, masker oksigen turun untuk keadaan darurat tersebut. Dari situs pelacakan penerbangan Flightradar24, pesawat Jet Airways berhenti naik pada 11 ribu kaki atau 3350 meter sebelum akhirnya kembali ke Mumbai.

Hathi menambahkan, setelah lepas landas, pendingin udara kabin juga bermasalah. Ternyata diketahui, insiden tersebut terjadi setelah pilot melakukan kesalahan karena tidak menekan tombol yang mengatur tekanan udara di dalam kabin.

Baca juga: Jendela Bagian Dalam Pesawat Lepas, Tiga Penumpang Cidera dan Lainnya Panik

Sehingga membuat tekanan kabin berkurang serta kantung-kantung oksigen harus keluar dari langit-langit kabin. Lalit Gupta, pejabat senior Direktorat Jenderal Penerbangan Sipil (DGCA), kepada harian The Hindustan Times mengatakan, pilot lupa menyalakan sistem pengatur tekanan kabin.

DGCA menambahkan, kedua pilot maskapai itu langsung dinonaktifkan sambil menunggu hasil persidangan. Pesawat itu sendiri sebenarnya berangkat dari Mumbai dengan tujuan Jaipur salah satu kota wisata dan ibukota negara bagian Rajasthan.

India Bikin Jembatan Kereta Api Tertinggi (Lagi), Tapi Bukan Tertinggi di Dunia

Setelah Chenab, India kembali membuat jembatan kereta api tertinggi dan digadang-gadang akan selesai pada 2020 di Manipur. Jalur kereta tersebut nantinya akan melayani Jiribam menuju Imphal di Manipur. Pembangunan ini sendiri diumumkan oleh Chief Engineer proyek Sai Baba Ankala.

Baca juga: Chenab, Jadi Kondang Karena Ada Jembatan Kereta Tertinggi di Dunia

KabarPenumpang.com melansir dari laman thehansindia.com (25/9/2018), Ankala mengatakan, bahwa proyek tersebut didapatkan pada tahun 2008 lalu. Dimana proyek ini kemudian dinyatakan sebagai Proyek Nasional dengan biaya Rs13.809 crore atau sekitar Rp2,8 miliar.

Ankala juga menginformasikan bahwa tiga IIT yakni Kanpur, Roorkee dan Guwahati juga ikut terlibat dalam proyek Kereta Api India yang ambisius tersebut dengan mendukung teknis dan pemeriksaan bukti desain untuk membuat jembatan tersebut. Dia menejelaskan bahwa penyelarasan jalur kereta api Jiribam-Imphal sepanjang 111 km akan melewati perbukitan yang curam di wilayah Patkai.

Jalur ini juga akan melintasi sejumlah ngarai dalam dan beberapa sungai yang mengalir di dataran rendah. Karena pembangunan jembatan kereta ambisius ini mau tidak mau juga harus dibangun 52 terowongan dan 149 jembatan serta melintasi sepuluh stasiun untuk mempertahankan gradien yang cocok untuk layanan kereta api dengan operasi efisien.

Ankala menyoroti sebagai bagian dari proyek tersebut, mereka akan membangun jembatan khusus dengan pilar dengan ketinggian 141 meter dan menjadi yang tertinggi di dunia dari sudut pandang ketinggian pilar. “Jembatan ini juga terletak di zona seismik-v dan dalam pandangan ini kami mengambil semua tindakan pencegahan terutama spektrum desain khusus lokasi telah dikembangkan untuk memastikan stabilitas jembatan jangka panjang.”

Dia mengatakan jalur kereta api dan jembatan sedang dibangun meskipun beberapa ancaman dari militan yang beroperasi di daerah tersebut. Pengawasan jembatan melalui CCTV, kamera drone dan pemantauan jarak jauh oleh beberapa sensor juga dipertimbangkan untuk menjamin keamanan, tambahnya.

Baca juga: Cisomang, Serba-Serbi Jembatan Kereta Tertinggi di Indonesia

Ankala menyebutkan bahwa pemerintah India memperlakukan proyek ini secara strategis untuk memperkuat perdagangan dengan negara-negara ASEAN dan membantu operasi militer dan pengembangan pariwisata. Dia menyarankan para siswa bahwa teknik jembatan adalah subjek yang menantang jika benar-benar memahami aspek terkait. Dia juga mengundang mahasiswa teknik sipil untuk mengambil bagian proyek yang sedang berlangsung untuk laporan proyek mereka.

Untuk diketahui, jembatan yang akan ada di Manipur ini bukanlah yang tertinggi di dunia, melainkan jembatan Chenab yang juga berada di India dengan menghubungkan wilayah Jammu dan Kashmir. Jembatan Chenab sendiri memiliki ketinggian 359 meter ini, di klaim lebih tinggi 25 meter dibanding menara Eiffel di Paris, Perancis.

Rahasia Penerbangan: Sebaiknya Jangan Bertelanjang Kaki di Kabin

Dalam penerbangan dengan jarak antar kursi yang sempit tidak akan pernah membuat seorang penumpang nyaman. Bahkan hanya sekedar berselojor kaki untuk menghilangkan rasa pegal. Biasanya masalah seperti ini dirasakan para penumpang dengan penerbangan jarak jauh lebih dari empat jam.

Baca juga: Jangan Sembarang Buka Sepatu di Dalam Kabin Pesawat, Inilah Sebabnya!

KabarPenumpang.com melansir dari laman express.co.uk (23/9/2018), bahwa awak kabin telah mengungkapkan sesuatu yang memang seharusnya tidak pernah dilakukan seorang penumpang. Sebab, mereka mengetahui rahasia paling menjijikkan didalam kabin seperti sedikitnya air bersih, meletakkan kaki di dekat kursi penumpang depan dan lainnya.

Seorang awak kabin baru-baru ini memberikan beberapa saran praktis bagi penumpang. Saran ini merupakan hal yang baiknya tidak pernah dilakukan penumpang saat berada di dalam kabin. Bahkan dia mengatakan banyak yang mengabaikannya, salah satunya seperti berjalan di kabin tanpa alas kaki.

“Jangan berjalan di kabin tanpa alas kaki. Semua kotoran ada di sana,” ujar pramugari tersebut.

Dia mengatakan, seperti menyaksikan kecelakaan secara teratur baik di kursi maupun di toilet pesawat, dimana ada penumpang mimisan ataupun terluka. Penumpang memperingatkan awak kabin bisa membersihkan sebaik yang mereka bisa lakukan.

Sayangnya saat mendarat awak kabin tidak dapat sepenuhnya untuk melakukan hal tersebut. “Jelas ketika mendarat semua benar-benar dibersihkan, tetapi inflight sumber daya kami terbatas,” jelas awak kabin.

Sebenarnya dengan melepas alas kaki atau sepatu yang mereka kenakan, ini membuat masalah bagi pesawat dan pelancong sendiri dengan penyebaran kuman. Hal ini dikarenakan karpet kabin yang jarang dibersihkan.

Baca juga: Viral! Video Pria Gunting Kuku Kaki di Kabin Pesawat

Sebab, banyak penerbangan yang memiliki waktu turn-around sangat sedikit. Sehingga awak kabin hanya membersihkan yang perlu dibersihkan saja sebelum pesawat tersebut kembali untuk mengudara. Seorang pramugari pun bahkan memperingatkan penumpang untuk tetap mengenakan minimal kaus kaki mereka setiap saat.

“Kami menyuruh orang melepas sepatu mereka dan meletakkan kaki mereka di sekat, dinding antara kelas satu,” ujar Anette Long. Meskipun begitu Anette mengatakan, kaki pada umumnya tidak menjadi bagian kesenangan orang lain.

Bandara Internasional Hong Kong Hadirkan e-Security Gates

Bandara Internasional Hong Kong (HKIA) baru-baru ini meluncurkan gate e-Security di Terminal 1. Hadirnya gate e-Security sendiri untuk memvalidasi dokumen para pelacong yang akan berangkat sebelum menuju ruang tunggu pesawat.

Baca juga: Identifikasi Biometrik di Bandara Canberra Mencapai Akurasi 94 Persen

Dilansir KabarPenumpang.com dari laman airport-technology.com (21/9/2018), adanya pemasangan gate keamanan berbasis biometrik ini sendiri merupakan bagian dari inisiatif cerdas terbaru yang diluncurkan oleh Otoritas Bandara Hong Kong atau Airport Authority (AA) untuk meningkatkan pengalaman penumpang secara keseluruhan. Pada fase pertama ini, akan ada empat e-Security Gates di hall Keberangkatan Selatan di Terminal 1.

Sedangkan untuk lainnya akan dibuat secara bertahap, dimana rencananya 44 e-Security Gates akan dipasang pada kuartal pertama tahun 2019 mendatang. Adanya gate biometrik sendiri selain memvalidasi juga untuk mencapai waktu antrian mendekati nol untuk penumpang.

“Inisiatif cerdas baru ini akan mempercepat dan meningkatkan keakuratan proses pemeriksaan dokumen. Ini juga menandai langkah pertama dalam upaya kami untuk merampingkan penumpang naik di HKIA dengan menggunakan biometrik. Dalam waktu dekat, HKIA akan memperluas penggunaan biometrik dan pengenalan wajah untuk prosedur check in dan boarding dengan tujuan menggunakan wajah penumpang untuk verifikasi identitas selama perjalanan keberangkatan mereka di HKIA, memberikan pengalaman yang mulus bagi wisatawan,” ujar Airport Authority Hong Kong Smart Airport general manager Chris Au Young.

Nantinya dengan gate biometrik, penumpang berusia lebih dari 11 tahun dan memiliki dokumen perjalanan elektronik yang valid dapat menggunakan layanan baru tersebut. Sehingga tidak lagi perlu untuk melakukan pendaftarkan sebelumnya.

Baca juga: Gandeng Qantas Airways, Bandara Internasional Sydney Operasikan Fitur Face Recognition

Sebelum adanya gate e-Security ini, layanan keamanan bandara masih memeriksa dokumen perjalanan secara manual. Dimanan identitas penumpang sesuai dengan informasi yang ditampilkan pada tiket pesawat yang dimiliki.

Setelah gate pintar ini di pasang, perangkat pembaca dokumen dan kamera yang tertana di e-Security akan menggantikan prosedur manual tersebut. Sehingga layanan ini diatur untuk memungkinkan penumpang dalam memindai dokumen dan boarding pass mereka untuk verifikasi dengan teknologi pengenalan wajah. Proses dengan e-Security sendiri diperkirakan memakan waktu hanya 20 detik.

Go International, Go-Jek Rambah Vietnam Melalui Aplikasi Go-Viet!

Pionir layanan ride-hailing di Indonesia, Go-Jek baru-baru ini melebarkan sayap bisnisnya. Bukan di dalam negeri, melainkan perusahaan besotan Nadiem Makarim ini memilih Vietnam sebagai ‘ladang’ baru untuk mengeruk keuntungan. Dengan menggunakan nama Go-Viet, kini masyarakat di Hanoi dan sekitarnya sudah bisa menikmati layanan transportasi roda dua seperti Go-Bike dan layanan antar Go-Send.

Baca Juga: Google Gelontorkan Dana Fantastis Ke Gojek, Rp16 Triliun!

Sebagaimana yang dihimpun KabarPenumpang.com dari sejumlah laman sumber, Hanoi merupakan kota kedua layanan ini mengaspal di Vietnam, setelah layanan serupa penggunaannya masih terbatas di kota Ho Chi Minh saja. Layanan Go-Viet di Ho Chi Minh sendiri mulai beroperasi pada awal Agustus 2018 silam.

“Kami sangat bangga masyarakat Vietnam merespons positif kehadiran kami. Ini ditunjukkan dengan antusiasme yang cukup besar dalam memanfaatkan layanan Go-Viet sejak di kota Ho Chi Minh beberapa pekan lalu,” ungkap CEO dan Co-founder Go-Viet, Duc Nguyen, dalam keterengan resminya, dikutip dari laman Liputan6.com, Kamis (13/9/2018).

Kendati masuk ke dalam anak usaha dari Go-Jek, tapi Go-Viet memakai bendera bernama Go-Viet Trading Technology Co. Menurut Nadiem, tim lokal yang dibentuk Go-Jek memiliki hak untuk mengubah merek.

Nadiem Makarim (kiri) dan Presiden Joko Widodo (kanan) dalam acara peluncuran Go-Viet (13/9/2018). Sumber: Detik

Tidak hanya benderanya saja yang berubah, melainkan warna khas dari Go-Jek (hijau) juga diganti menjadi merah oleh Go-Viet. “Arti dari tim dan kemitraan lokal ini ialah untuk menerjemahkan konsep Go-Jek ke konteks lokal,” ujar Nadiem dikutip dari laman sumber lain. “Go-Jek membimbing mereka tentang apa yang telah kami pelajari untuk menjadi sukses, dan apa yang telah kami pelajari tetapi tidak berhasil di Indonesia,” tandasnya.

Di kubu seberang, pihak Go-Viet mengaku sangat bahagia dan bangga terhadap Go-Jek yang mendukung segala pengoperasian dari Go-Viet. Percampuran keahlian sangatlah ditonjolkan oleh kedua belah pihak. Di satu sisi Go-Jek memiliki platform teknologi kelas Wahid, sedangkan di sisi Go-Viet sendiri memiliki ilmu lebih mendalam soal pangsa pasar dan segala hal lainnya yang berkaitan dengan environment-nya.

“Go-Jek mendukung kami dengan platform teknologi kelas dunia, sementara kami – tim manajemen memanfaatkan pengetahuan yang mendalam mengenai pasar lokal, termasuk yang dibutuhkan konsumen dan mitra pengemudi. Sehingga, teknologi itu bisa dimanfaatkan untuk menghasilkan dampak yang paling besar,” jelas CEO dan Co-founder Go-Viet, Duc Nguyen.

“Kami sangat bangga masyarakat Vietnam merespons positif kehadiran kami. Ini ditunjukkan dengan antusiasme yang cukup besar dalam memanfaatkan layanan Go-Viet sejak di kota Ho Chi Minh beberapa pekan lalu,” tandas Duc.

Baca Juga: GoJek Rambah Empat Negara di Asia Tenggara

Terbukti, kurang dari dua bulan pengoperasian mereka di Ho Chi Minh, Go-Viet telah sukses mencuri 35 persen pasar ojol di sana. “Kami sangat senang Go-Viet sudah diunduh 1,5 juta kali hanya 6 minggu setelah soft launching. Saat ini Go-Viet punya pangsa pasar 35% di Ho Chi Minh setelah dua bulan peluncuran,” ujarnya.

Kendati berdiri di bawah satu payung, namun hingga saat ini aplikasi yang digunakan oleh Go-Jek dan Go-Viet masih berdiri terpisah. Nadiem menambahkan, tidak menutup kemungkinan jika suatu saat, aplikasi yang digunakan oleh kedua layanan ini akan menjadi satu. “Harapan saya bisa begitu ya (lintas aplikasi),” ujar Nadiem.