Cipendeuy, Stasiun Historis dengan Kuliner yang Laris Manis

Masuknya tiap kereta api di Stasiun Cipendeuy sudah menjadi kewajiban untuk berhenti guna pengecekan rangkaian agar keselamatan perjalanan bisa terjamin. Beberapa tahun yang lalu adanya insiden yang memilukan pada rangkaian kereta api yang sudah menjadi historisnya stasiun ini.

Berawal pada 23 Oktober 1995, KA Galuh rute Pasarsenen-Banjar berangkat dari Stasiun Bandung pada pukul 21.12 dan dihari yang sama ada rangkaian KA Kahuripan menyusul berangkat dari Stasiun Kiaracondong pada pukul 21.37 dengan masalah traksi lemah pada lokomotifnya.

Di Stasiun Cibatu KA Galuh tiba pada pukul 22.35. Rencananya KA Galuh akan digabung dengan KA Kahuripan dan melakukan perjalanan bersama dari Stasiun Cibatu menuju Stasiuj Banjar.

Pada saat proses penggandengan, lokomotif KA Galuh dengan rangkaian gabungan pun terjadi masalah pengereman. Namun tetap saja rangkaian tersebut diberangkatkan dari Stasiun Cibatu.

Pukul 00.03 rangkaian panjang tersebut yang semula berhenti di Stasiun Cipeundey untuk pemeriksaan rangkaian, malah melintas dan melewati Stasiun Cipeundeuy. Sontak petugas Pusat Pengendali Kereta Api (PPKA) pun menghubungi kedua lokomotif, namun tidak ada respon.

PPKA Stasiun Cirahayu melaporkan pada pukul 00.55 sembilan kereta dan dua lokomotif pun anjlok dan terguling di area Jembatan Trowek yang berlokasi 2 kilometer dari stasiun. Akibat Peristiwa Luarbiasa Hebat (PLH) Cirahayu ini beberapa kereta api dialihkan ke jalur lain bahkan ada yang dibatalkan.

Kereta Api Galuh dan Kereta Api Kahuripan yang anjlok dan terguling

Stasiun Kuliner Mumer Bagi Para Penumpang KA
Selain historis yang melegenda, Stasiun Cipeundey sangat terkenal dengan kulinernya yang mumer alias murah meriah. Berbagai jajanan seperti makanan ringan hingga nasi dan lauk pauk tersedia disini. Berbagai minuman dan aneka jus pun tersedia dengan harga yang relatif murah.

Meski kereta api berhenti di Stasiun Cipeundeuy hanya 10 menit, para penumpang tetap menikmati jajanan yang dibeli apalagi diarea tersebut memiliki panorama perbukitan indah dan hawanya yang sejuk.

Meskipun stasiun ini memiliki bangunannya yang sederhana, namun masyarakat bisa naik dan turun di Stasiun Cipeundey dan melayani tiket kereta api baik yang menghubungkan Jakarta/Bandung maupun Surabaya.

Cipeundeuy, Stasiun Sakti Semua KA Wajib Berhenti

Kapal Pinisi, Kapal Warisan Leluhur Asli Indonesia yang Diakui UNESCO

Siapa yang tidak kenal kapal Pinisi? Tampilannya yang kokoh, bentangan layar yang siap menerjang ganasnya hempasan angin laut hingga bentuknya yang sangat megah, membuat kapal Pinisi ini begitu mudah dikenali dan menjadi ikon nasional, khususnya Sulawesi Selatan. Terlebih lagi, keberadaan kapal Pinisi juga telah diakui dunia sebagai salah satu Warisan Budaya Takbenda Kemanusiaan oleh UNESCO pada Desember 2017 silam.

Baca juga: Pelabuhan Makassar Sabet Predikat Sebagai Pelabuhan Terpadat di 2024

SEJARAH
Dikisahkan pada abad ke-14, putra mahkota Kerajaan Luwu, Sawerigading membuat sebuah kapal untuk dirinya menuju Tiongkok guna meminang putri Tiongkok kala itu, We Cudai. Melansir dari berbagai sumber, kala itu Sawerigading membuat kapal Pinisi dari material pohon Welengreng atau pohon dewata yang dikenal kuat dan juga kokoh.

Sialnya, saat di perjalanan kembali menuju kampung halamannya, kapal tersebut terhantam badai dan pecah menjadi 3 bagian. Dengan bantuan masyarakat sekitar wilayah Ara, Tanah Beru dan Lemo-Lemo (tempat pecahan kapal tersebar), akhirnya terciptalah kembali sebuah kapal megah yang hingga kini dikenal dengan nama kapal Pinisi.

FUNGSI
Lain dulu, lain pula dengan sekarang. Kapal Pinisi yang dulu digunakan oleh masyarakat sebagai alat transportasi hingga moda pengangkut barang, kini sudah bergeser fungsi menjadi kapal wisata yang mewah. Ya, banyak tour operator di Indonesia yang menyediakan jasa tour menggunakan kapal pinisi dengan harga yang fantastis. Jadi tidak heran jika kapal Pinisi ini seolah naik level, dari yang sebelumnya sebagai moda transportasi angkut dan sekarang menjadi simbol prestis kaum-kaum elit yang hendak plesir.

DESAIN
Bisa dibilang, sebagian besar masyarakat Indonesia dapat dengan mudah mengetahui kapal Pinisi, mengingat bentuknya yang khas dengan desain memukau: memiliki dua tiang utama dan tujuh hingga delapan layar. Layarnya berbentuk segitiga dan terbuat dari kain.

JENIS

Kapal pinisi palari. Sumber: istimewa

Seperti halnya moda transportasi lain yang memiliki beberapa ‘model’, kapal Pinisi juga diketahui terdiri dari 2 jenis utama: kapal Pinisi Lambo yang memiliki ukuran lebih besar dan ditujukan untuk pelayaran jarak jauh, serta kapal Pinisi Palari dengan ukuran yang lebih kecil dan digunakan untuk pelayaran lokal.

FILOSOFI & KONSTRUKSI
Untuk membuat sebuah kapal Pinisi ternyata tidak boleh sembarangan lho! Ada beberapa ritual khusus dan upacara adat yang harus dilakukan terlebih dahulu sebelum membuat kapal ini. Konon, penentuan ‘hari baik’ juga menjadi salah satu syarat wajib yang harus diperhitungkan secara matang. Dengan mempertahankan kepercayaan seperti ini, maka makna mendalam dari proses perakitan kapal serta mewariskan tradisi akan terus terjaga.
Sementara untuk konstruksi, kapal pinisi tradisional diketahui dirakit tanpa menggunakan paku dengan bagian-bagian kapal diikat menggunakan tali dan pasak kayu.

NASIBMU KINI

ilustrasi kapal pinisi modern. Sumber: istimewa

Kendati sarat akan nilai-nilai tradisional dan historikal, rupanya kapal Pinisi ogah menyandang status kuno atau jadul. Berbagai upgrade disematkan pada kapal Pinisi dewasa ini, mulai dari interior yang lebih mewah, nyaman dan instagramable hingga dilengkapi dengan alat selam yang siap melengkapi keceriaan liburan.

Shanghai International Port – Pelabuhan Laut Penumpang Terbesar di Dunia

Cipeundeuy, Stasiun Sakti Semua KA Wajib Berhenti

Jalur kereta api lintas selatan selalu identik dengan pemandangan yang luar biasa indah. Banyak masyarakat pengguna kereta api paling senang dengan jalur ini. Bagaimana tidak, julukan Bumi Parahyangan memang sudah melekat oleh warga sekitar khususnya Bandung, Garut, Tasikmalaya dan sekitarnya.

Kereta api yang melintas dijalur selatan ini pun tak hanya memberikan pesona pemandangan yang indah, namun tetap harus waspada. Karena beberapa area yang terkenal dengan rawan bencana juga harus diperhatikan. Seperti halnya stasiun kereta api yang satu ini.

Stasiun ini berperan sangat penting bagi keamanan dan keselamatan perjalanan kereta api. Dengan ketinggian 772 meter diatas permukaan laut, inilah Stasiun Cipeundeuy.

Wajah Stasiun Cipeundeuy dengan berhentin KA Serayu

Stasiun yang terbilang ‘sakti’ ini ternyata sangat berperan penting untuk menjaga lancarnya perjalanan kereta api. Meski bangunannya kecil, stasiun yang berada di wilayah Daerah Operasi (Daop) 2 Bandung ini semua kereta api wajib berhenti dengan jeda waktu 10 menit.

Kewajiban berhenti kereta api di Stasiun Cipeundeuy ini ternyata wajib pengecekan kereta api pada rangka bawah kereta seperti roda dan bogie, sambungan antar kereta, dan pengecekan tekanan rem dari petugas pemeriksa kereta di stasiun ini.

Stasiun ini berada diketinggian yang siknifikan dan memiliki kemiringan jalur KA dari Stasiun Cipeundeuy ini. Misalnya saja dari Stasiun Cibatu–Stasiun Cipeundeuy–Stasiun Ciawi yang memiliki turunan gradien maksimal 25 per mil atau elevasi lintas turun 25 meter setiap 1000 meternya. Sementara dari arah sebaliknya, maka jalur ini akan memiliki kenaikan gradien maksimal 25 per mil atau elevasi lintas naik 25 meter setiap 1000 meternya. [MASEN]

Nagreg, Mengenal Stasiun Kereta Aktif Tertinggi Di Indonesia

Balai Yasa Tegal Luncurkan Kereta Makan Mewah dengan Suguhan Kuliner dari KAI Services

KAI terus menghadirkan pengalaman perjalanan yang lebih nyaman dan berkesan bagi para pelanggan. Salah satu inovasi yang dilakukan adalah kehadiran Kereta Makan (M1) berstandar premium, yang telah dikembangkan oleh Balai Yasa Tegal (BY TG) pada tahun 2024. Kereta makan ini dirancang dengan konsep mewah dan fungsional, menjadikannya sebagai ruang bersantap yang nyaman dan elegan di dalam kereta api.

Vice President Public Relations KAI Anne Purba menyatakan bahwa inovasi ini merupakan bagian dari upaya KAI dalam meningkatkan standar pelayanan kepada pelanggan. Saat ini kereta makan modifikasi BY Tegal hadir pada beberapa rangkaian KA seperti KA Argo Muria.

“Kereta Makan (M1) terbaru ini tidak hanya sekadar tempat makan, tetapi juga menjadi bagian dari upaya KAI menghadirkan pengalaman perjalanan yang lebih menyenangkan. Dengan desain interior mewah, fasilitas lengkap, dan suasana yang nyaman, kami ingin memberikan standar pelayanan yang lebih tinggi bagi para pelanggan,” ujar Anne.

Kereta Makan (M1) terbaru hadir dengan berbagai fasilitas unggulan yang dirancang untuk meningkatkan kenyamanan pelanggan, di antaranya kursi sofa premium yang lebih nyaman dibandingkan kursi standar, ruang makan yang lebih luas dengan tata letak ergonomis, tempat sholat bagi pelanggan yang ingin beribadah selama perjalanan serta interior mewah dengan pencahayaan yang lebih estetis.

Pada kereta makan, KAI melalui anak perusahaan KAI Services juga menghadirkan beragam menu makanan yang lebih beragam dan berkualitas. Anne menambahkan bahwa kehadiran Kereta Makan (M1) ini juga mendukung Standar Pelayanan Minimum (SPM) KAI, sehingga penumpang dapat menikmati layanan makanan dengan kenyamanan terbaik.

Sebagai penyedia layanan makanan dan minuman di dalam kereta api, KAI Services menghadirkan berbagai pilihan menu yang menggugah selera. Beberapa menu andalan yang dapat dinikmati pelanggan di Kereta Makan antara lain nasi goreng parahyangan, ayam geprek, nasi gudeg, rawon sapi, aneka kopi, wedang dan teh pilihan.

Gerbong Restorasi, Sajian Khas Restoran Yang Bergoyang

“Dengan berbagai pilihan makanan yang disajikan secara higienis dan berkualitas, pelanggan dapat menikmati hidangan lezat sepanjang perjalanan mereka. KAI melalui KAI Services juga turut mendukung gerakan ramah lingkungan dengan menerapkan penggunaan wooden cutlery atau peralatan makan kayu pada produk-produk makanan fresh food kuliner keret,” tambah Anne.

Anne mengatakan, Balai Yasa Tegal memainkan peran penting dalam pengembangan Kereta Makan (M1) terbaru ini. Sebagai pusat perawatan dan modifikasi sarana KAI, Balai Yasa Tegal telah berhasil menyelesaikan empat unit Kereta Makan Eksekutif pada tahun 2024.

“Dalam proses modifikasi ini, Balai Yasa Tegal memastikan bahwa setiap unit kereta makan memiliki standar keselamatan dan kenyamanan yang tinggi, serta menggunakan material berkualitas untuk mendukung pengalaman pelanggan yang lebih baik,” tukas Anne.

Inovasi Kereta Makan (M1) ini sejalan dengan misi KAI untuk terus menghadirkan transportasi massal yang nyaman, aman, dan berkelanjutan. KAI juga terus berinovasi dalam berbagai aspek pelayanan, termasuk digitalisasi layanan serta peningkatan fasilitas di stasiun.

Kereta Api Punya Menu Makanan Baru dan Dapur Sentralnya Ternyata Ada di Yogyakarta

Ramai Penumpang di Masa Jayanya, Mayasari Bakti 905 Lalui Jalur Perdagangan Jakarta

Kembali ke masa lalu, kadang mengingatkan Kembali dengan hal-hal unik seperti salah satunya angkutan umum. Dulu, naik bus atau kereta selalu ditemani oleh pengamen hingga pencopet.

Saat ini pengamen pun perlahan menghilang dari transportasi umum di Indonesia. Seperti bus Mayasari Reguler 905 jurusan Pulo Gadung – Kota. Bus ini melayani trayek (pulang pergi) pp dari Pulo Gadung menuju Terminal Kota.

Bus yang beroperasi di Jakarta era 80’an tersebut menjadi kunci perjuangan melawan panas, debu, dan pegal. Ini dikarenakan banyak penumpang yang tidak bisa masuk ke dalam bus, sehingga mereka harus bergelantungan dengan satu kaki yang berpijak.

Baca juga: Awak Mayasari Bakti Punya Panggilan Sayang ke Armadanya, Salah Satunya “Manohara”

Bukan hanya itu, jalan bus yang ugal-ugalan dan abai pada keselamatan, bikin penumpang deg-deg ser setiap menumpang pada 905. Bus ini tidak dilengkapi pendingin Udara dan merupakan bus besar.

Adapun pada masa jayanya, Mayasari Bakti 905 tersebut melewati berbagai daerah atau tempat yakni Terminal Pulo Gadung – Raya Bekasi – Pemuda – Pramuka – Salemba Raya – Kramat Raya – Senen Raya – DR. Wahidin -Gunung Sahari – Mangga Dua Raya – Pintu Besar Utara – Jl. Bank – Kali Besar Timur – Terminal Kota (PP).

Dikutip dari berbagai laman sumber, rute bus Mayasara Bakti 905 ini selalu ramai penumpang karena melalui jalur perdagangan seperti Senen, Mangga Dua dan Terminal Kota. Tidak seperti bus Transjakarta saat ini yang tarifnya flat, untuk ongkos bus Mayasari Bakti 905 penumpang akan membayar sesuai dengan tarif yang berlaku saat itu.

Biasanya ini juga menetukan dekat jauhnya Jarak penumpang dari berangkat hingga turun. Pada masa berjayanya, bus Mayasari Bakti ini sering rusak karena tawuran pelajar.

Bagaimana, masih mau nostalgia dengan rute bus lainnya?

“Penunjang Ekonomi” Bentuk Solidaritas Awak Mayasari Bakti

65 Tahun Berdiri, ‘Terminal Kemayoran’ Menjadi Terminal Tertua di Indonesia

Transportasi darat dalam memiliki sejarah Panjang di Indonesia. Selain kereta api, ada pula bus yang menjadi salah satu transportasi yang digunakan dalam masa penjajahan, pasca kemerdekaan hingga saat ini.

Seperti DAMRI yang ternyata merupakan salah satu perusahaan angkutan umum tertua di Indonesia. Tapi yang akan dibahas kali ini bukanlah tentang bus DAMRi, melainkan terminal tertua di Indonesia dan masih ada sangkut pautnya dengan perusahaan bus tersebut.

Ya, terminal bus tertua di Indonesia adalah Terminal milik DAMRI dan ada di Kemayoran, Jakarta Pusat. Tepatnya tahun 1960, terminal DAMRI Kemayoran berdiri dan beroperasi melayani rute busnya ke berbagai daerah di Indonesia.

Baca juga: Chennai Mofussil, Terminal Bus Terbesar dengan Kapasitas 2.000 Bus

Dikutip dari busdamri.com, awal mulanya Terminal Kemayoran dibangun sebagai pusat bus DAMRI yang menuju ke berbagai daerah di Pulau Jawa. Kini, terminal tersebut sudah berusia 65 tahun dan masih menjadi pusat Bus DAMRI di Jakarta.

Sebelum menjadi nama DAMRI, cikal bakal perusahaan tersebut bermula dari dua perusahaan Jepang yakni Jawa Unyu Zigyizha dan Jidousha Sokyoku yang beroperasi 82 tahun silam atau tepatnya pada 1943 pada masa pendudukan Jepang di Indonesia. Kemudian setelah Indonesia merdeka tahun 1945, kedua perusahaan tersebut berubah nama.

Jawa Unyu Zigyisha berubah menjadi menjadi Djawatan Pengangkoetan untuk angkutan barang. Sedangkan Jidousha Sokyoku berubah nama menjadi Djawatan Angkoetan Darat untuk angkutan penumpang.

Hingga Maklumat Menteri Perhubungan RI no.01/DAM/46 akhirnya keluar tanggal 25 November 1946 yang menyatakan kedua perusahaan dilebur jadi satu dan berubah nama menjadi “Djawatan Angkoetan Motor Repoeblik Indonesia”, disingkat DAMRI.

Untuk diketahui, selain melayani bus penumpang ke Bandara Soekarno-Hatta, bus DAMRI dari Terminal Kemayoran juga melayani rute ke Pulo Gebang (Cakung), Jatibarang, Cirebon, Tegal, Purwokerto, Purbalingga, Bobotsari Jawa Tengah. Selain itu Terminal bus Kemayoran juga ke Bandung, Cilacap, Pemalang, Semarang, Jogja dan Wonosobo.

Jejak Sejarah Stasiun Muntilan, Kini Berubah Jadi Terminal Bus Prajitno

AAA Travel Prediksi Ada Kenaikan Penumpang di 2025, Pertanda Kebangkitan Moda Laut di Seluruh Dunia?

Sebuah perusahaan travel asal Negeri Paman Sam memproyeksikan bahwa di tahun 2025, jumlah penumpang yang akan berlayar di tahun 2025 akan mengalami peningkatan dan akan jadi yang tertinggi dalam rentang waktu 9 tahun ke belakang – jika forecast tersebut berjalan sesuai rencana. Terkhusus setelah pandemi, sektor wisata pelayaran telah bangkit dengan capaian lebih dari 35 juta penumpang terhitung sejak tahun 2022 kemarin.

Baca Juga: Pelni Catat Kenaikan Jumlah Total Penumpang Sepanjang Tahun 2024, Tembus Angka 5 Juta!

Seperti yang dilansir dari laman newsroom.aaa.com, Vice President AAA Travel, Stacey Barber mengatakan bahwa apa yang terjadi di industri pelayaran dalam beberapa tahun ke belakang sangatlah menakjubkan. Tercatat pula, tidak sedikit penumpang yang menjadi ‘pelanggan tetap’ setelah pertama kali mereka berlayar.

“Menghabiskan liburan dengan berlayar menawarkan pengalaman menakjubkan untuk semua orang, berapa pun usia mereka. Wisatawan dapat fokus untuk bersenang-senang dan menciptakan kenangan seumur hidup bersama orang-orang terkasih.” Ujar Stacey.

Diketahui bahwa industri pelayaran mengalami dampak yang lebih parah ketimbang segmen perjalanan lainnya akibat pandemi di tahun 2020 silam. Namun kini industri pelayaran sudah bangkit – bahkan bukan hanya bangkit, tapi jauh melesat. Tercatat, di tahun 2020, jumlah penumpang yang melakukan pelayaran hanya berada di angka 2,7 juta penumpang dan turun ke angka 2,2 juta penumpang di tahun berikutnya.

Namun di tahun 2022, jumlah penumpang jauh melesat ke angka 11,9 juta penumpang. Angka tersebut semakin meningkat di tahun 2023, di mana AAA Travel mencatat 16,9 juta penumpang dan sedikit meningkat ke angka 18,2 juta penumpang di tahun 2024. AAA Travel sendiri ‘meramalkan’ bahwa jumlah penumpang di tahun 2025 akan berada di angka 19 juta penumpang atau naik sekitar 4,5%.

Diketahui juga bahwa kebanyakan wisatawan asal Amerika gemar mencari sinar matahari – mungkin ini sejalan dengan musim semi yang tiba setelah musim dingin yang terhitung sejak bulan Desember kemarin hingga Maret 2025. Dan sebanyak 72% penumpang Amerika Serikat menuju ke Karibia, menjadikannya tujuan paling populer sejauh ini.

Nah, ‘ramalan’ perusahaan Amerika tersebut ternyata berbanding lurus dengan meningkatnya jumlah penumpang moda air di Indonesia. Di awal 2025, PT. Pelni mencatatkan bahwa sepanjang 2024, ada sekitar 5.095.306 penumpang yang berlayar. Melihat tren yang sama-sama meningkat, apakah ini menjadi salah satu kebangkitan moda transportasi laut di seluruh dunia?

Inilah Ferry Yonakuni “Gero Fune” – Dijuluki Sebagai Kapal Muntah Pengocok Perut

SAS Luncurkan Seragam Baru untuk Awak Kabin, Ambil Inspirasi dari Christian Dior dan Calvin Klein

Maskapai penerbangan Skandinavia SAS yang bermarkas di Stockholm, Swedia, telah meluncurkan seragam baru yang bergaya untuk para awak kabin yang didasarkan desain lama sekaligus mencerminkan penampilan yang modern.

Seragam baru ini mengikuti perubahan terbaru maskapai pada kebijakan penampilannya, yang mempromosikan inklusivitas dan individualitas.

Awak SAS bertemu dan menyapa 30 juta penumpang setiap tahunnya dan biasanya menjadi perkenalan pertama dengan estetika Skandinavia bagi orang-orang yang bepergian ke negara-negara di Eropa utara.

Dengan awak dan basis pelanggan yang terus berkembang dan beragam, maskapai ini telah memperkenalkan seragam baru, yang merangkul fungsionalitas dan inovasi sekaligus tetap berhubungan dengan warisan perusahaan.

Mengapa SAS Airlines Jadi Maskapai Nasional Tiga Negara? Ini Jawabannya

Seragam baru ini akan diluncurkan untuk sekitar 9.000 awaknya. Desain ini dibuat di seluruh departemen maskapai untuk menampilkan tampilan yang modern, fungsional, inklusif, dan berkelanjutan yang sejalan dengan nilai-nilai maskapai

Seragam tersebut menampilkan beberapa fitur utama yang mewakili strategi desain. Menurut SAS, Silhouette terinspirasi oleh seragam sebelumnya yang dirancang oleh Christian Dior dan Calvin Klein. Seragam ini bertujuan untuk menciptakan tampilan yang tak lekang oleh waktu dan menyegarkan. Seragam baru ini mempromosikan inklusivitas dan individualitas dengan item netral, sepatu kets opsional, dan kelonggaran untuk tato dan tindik yang terlihat bagi anggota kru untuk menunjukkan kepribadian mereka.

SAS memilih bahan untuk seragam dengan mempertimbangkan keberlanjutan. Beberapa item yang ada akan digunakan kembali atau didaur ulang untuk meminimalkan limbah. Terakhir, seragam tersebut fungsional dan mudah beradaptasi, sehingga dapat digunakan untuk berbagai peran dan dalam kondisi cuaca yang berbeda.

Yang unik dari SAS, maskapai memiliki kebijakan yang berbeda terkait visibilitas tato. Beberapa maskapai mengizinkan anggota kru memiliki tato selama tato tersebut tidak terlihat saat mengenakan seragam, sementara maskapai lain tidak mengizinkan tato sama sekali. SAS bergabung dengan beberapa maskapai penerbangan, termasuk Virgin Atlantic, yang telah mengumumkan secara terbuka bahwa mereka melonggarkan aturan mereka terkait visibilitas tato pada awaknya.

Dianggap Unik, Virgin Atlantic Izinkan Tato Awak Kabin Dilihat Penumpang! Deretan Maskapai Ini Sudah Lebih Dulu

Bukan Sekadar Tanda, Simbol ‘Lingkaran’ Ini Sudah Sudah Melegenda di Gerbong Kereta Barang

Kereta api memang memiliki kecepatan yang berbeda-beda baik kereta angkutan penumpang maupun kereta barang. Dari kecepatan itulah kereta api berlaku dengan adanya batas kecepatan karena dilihat juga dari tonase tiap kereta/gerbong.

Seperti halnya rangkaian kereta angkutan barang yang saat ini memiliki tonase yang berbeda-beda. Namun, untuk saat ini rangkaia kereta api barang memiliki tonase berat maksimal 45 hingga 50 ton per gerbongnya.

Untuk mengetahui berat tonase dari kereta barang tersebut, bisa dilihat pada angka yang berada di kiri dan kanan tengah gerbong. Seperti contoh GD 42 14 144. Untuk GD singkatan dari Gerbong Datar, angka 42 yang berarti tonase 42 ton, abgka 14 merupakan tahun pembuatan 2014, dan 144 merupakan nomer urut pabrikan unit ke 144.

Lebih mudah untuk dibaca berapa berat tonase dari masing-masing gerbong saat ini. Namun, tidak untuk jaman era sebelum PT KAI alias jaman dimana sebuah simbol yang menempel digerbong mempunya arti yang sangat spesifik.

Simbol tersebut merupakan lingkaran yang menempel pada tiap-tiap gerbong yang menandakan arti dari gandar (roda) dan berat dari gerbong itu sendiri. Namun simbol berupa lingkaran itu saat ini masih digunakan dan tentu saja memiliki arti yang tak jauh berbeda.

Gerbong dengan simbol satu lingkaran berada didepan yang mengartikan bahwa berat 15 ton dan hanya memiliki 2 gandar

Pada era PJKA dan seterusnya, simbol lingkaran memiliki arti jika hanya 1 lingkaran saja yang berarti berat gerbong tersebut hanya 15 ton dan biasanya memiliki 1 gandar.

Kemudian simbol 2 lingkaran menyatu, yang berarti kapasitas muatan adalah 30 ton. Biasanya simbol ini bisa berarti memiliki 2 gandar pada gerbong tersebut.

Lalu ada simbol 3 lingkaran menyatu menandakan kapasitas muatan lebih dari 30 ton. Biasanya simbol ini digunakan untuk angkutan petikemas yang memiliki berat yang lebih besar dan memiliki 3 gandar. Namun simbol 3 lingkaran ini sudah jarang digunakan, mengingat PT Industri Kereta Api (INKA) sudah memproduksi rangkaian angkutan barang dengan kapasitas yang lebih besar walaupun hanya 2 gandar saja. [MASEN]

Gerbong GW dan YYW di Bekas Depo Lokomotif Jatinegara, Dulu Berjaya, Sekarang Tak Berharga

92 Tahun Lalu, Kapal Perang Belanda “De Zeven Provinciën” Diambil Alih Pemberontak di Lepas Pantai Sumatera

Tanggal 5 Februari 1933 menjadi sebuah tragedi yang cukup besar di lepas pantai Sumatera yang disebut dengan peristiwa Zeven Provinciën (Hr.Ms. De Zeven Provinciën). Pasalnya pada tanggal tersebut ada pemberontakan yang terjadi di atas kapal Angkatan Laut Kerajaan Belanda (Koninlijke Marine) HNLMS De Zeven Provinciën.

Baca juga: Kisruh Deportasi Yahudi dari Tanah Palestina, Kapal SS Patria di Bom dan Tenggelam di Pelabuhan Haifa

Penyebab pemberontakan adalah karena keputusan penurunan gaji pegawai pemerintah Hindia Belanda sebesar 17 persen yang diumumkan pada 1 Januari 1933. Penurunan gaji pegawai merupakan upaya pemerintah Hindia Belanda untuk mengurangi defisit anggaran belanja akibat depresi ekonomi yang melanda dunia pada saat itu.

Namun keputusan tersebut mendapat tantangan hebat dari semua pihak, baik pegawai berkebangsaan Eropa, Indonesia maupun Eurasia yang ada di pemerintahan Hindia Belanda. Pemberontakan di atas kapal Zeven Provincien tersebut di atasi dengan cara pengeboman kapal tersebut oleh pesawat udara angkatan laut Belanda.

Dihimpun KabarPenumpang.com dari berbagai laman sumber, sebab dan tujuan dari pemberontakan ini masih diperdebatkan, baik dalam opini publik dan sistem politik Hindia Belanda yang berlaku saat itu maupun di antara sejarahwan saat ini. Tanggal 4 Februari 1933, Untuk menenangkan situasi para perwira Belanda malah membuat blunder.

Mereka mengadakan pesta di kantin KNIL di Uleelheue, Aceh, dengan membuang duit sebesar 500 Gulden, dan menyediakan nona-nona Belanda untuk berdansa dengan para pelaut pribumi, tetapi pelaut Indonesia menolak hadir. Sekitar pukul 22.00 malam, peluit panjang berbunyi untuk menandai dimulainya pemberontakan.

Ketika itu, kapal sedang berlabuh di Pelabuhan Uleelheue, Banda Aceh dan para awak kapal melakukan pengambil-alihan kendali kapal dari tangan Belanda. Awak kapal keturunan Indonesia dipimpin oleh Paraja dan Gosal, sedangkan awak kapal Belanda dipimpin oleh Boshart dan Dooyeweerd.

Kelasi Paradja bertindak memegang komando, Kelasi Kelas Satu Kawilarang yang punya pengalaman di Eropa berfungsi sebagai navigator. Kelasi Rumambi berada di bagian komunikasi telepon, Hendrik sebagai pengatur bahan bakar, dan Kopral Gosal yang mengurusi bagian kesehatan.

Pada tanggal 5 Februari, pimpinan pemberontakan mengeluarkan siaran pers dalam tiga bahasa, yaitu Belanda, Inggris, dan Indonesia (Melayu), yang memberitahukan bahwa Kapal perang Hr.Ms. De Zeven Provincien sudah diambil-alih oleh mereka dan sedang bergerak ke Surabaya.

“Maksud kami adalah memprotes pemotongan gaji yang tidak adil dan menuntut agar rekan-rekan kami yang ditahan pada waktu berselang segera dibebaskan!” tulis pemberontak dalam siaran persnya.

Mendengar berita pemberontakan ini, pemerintah kolonial Hindia Belanda dibuat kalang-kabut. Gubernur Jenderal De Jonge memerintahkan kapal Hr.Ms. Aldebaren untuk mengejar dan begitu mendekat, Kawilarang yang bertugas di persenjataan, memberikan sinyal akan menembak jika kapal tersebut berani mendekat.

Kapal Aldebaren pun mundur dan berhenti mengejar. Namun, Belanda tidak berhenti dan mereka kembali mengirim kapal penyebar ranjau, Hr.Ms. Goudenleeuw, untuk melakukan pengejaran. Tetapi kapal ini tidak berani untuk terlalu mendekat.

Zeven Provinciën terus berlayar dan pada 5 Februari 1933 kapal sudah berada di Pulau Breueh, lalu 6 Februari 1933 berada di Pulau Simeulue, kemudian singgah di Sinabang pada 7 Februari 1933, dan akhirnya pada tanggal 10 Februari 1933 kapal De Zeven Provincien sudah sampai di Selat Sunda. Begitu memasuki Selat Sunda, kapal perang Hr.Ms. Java, dikawal dua kapal torpedo, Hr.Ms. Piet Hien dan Hr.Ms. Evetsen, langsung membayangi gerakan kapal tersebut.

Selain itu, untuk benar-benar melumpuhkan pemberontak, dikerahkan juga sebuah pesawat pembom Dornier. Komandan kapal Hr.Ms. Java, Van Dulm, mengirimkan telegram ultimatum kepada kapal De Zeven Provincien untuk segera menyerah. Tetapi Martin Paradja dan kawan-kawan menolak untuk menyerah.

Menteri Pertahanan Kerajaan Belanda, Laurentius Nicolaas Deckers, memberikan izin untuk melakukan penyerangan dengan pesawat militer. Kemudian pada hari Jumat, 10 Februari 1933, ada du bom yang dijatuhkan dan bom pertama tidak mengenai sasaran dan yang kedua jatuh ke geladak kapal.

Banyak korban karena bom ini baik yang tewas ataupun yang luka dan Kawilarang yang mengganti posisi Paradja sebagai pemimpin, akhirnya menyatakan menyerah dan meminta bantuan medis segera. Total 545 orang awak pribumi dan 81 awak Belanda ditahan, para pemberontak pribumi yang masih hidup dibawa dengan kapal Hr.Ms. Java dan pemberontak berkebangsaan Belanda dibawa dengan kapal Hr.Ms. Orion menuju Pulau Onrust.

Baca juga: 10 Kapal Misterius Ini Ditemukan Tanpa Awak

20 orang awak pribumi dan 3 awak Belanda juga dinyatakan tewas akibat serangan itu. Para pemberontak kapal De Zeven Provincien akhirnya ditahan di Pulau Onrust, di Kepulauan Seribu, lepas pantai Batavia.